Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

Epiphysiolisis
Oleh : Harmas Yulia Fara Hylda 201020401011177

Pembimbing : dr. Agus Adiantono Sp. OT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG SMF BEDAH RS MUHAMMADIYAH LAMONGAN 2011

BAB I

PENDAHULUAN Fraktur adalah deformitas atau diskontinuitas dari tulang oleh tenaga yang melebihi kekuatan tulang (Schwartz, 2000), Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontunuitas jaringann tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur dikenal dengan istilah patah tulang, biasanya disebabkan karena trauma atau tenaga fisik. Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang, dan jaringa lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi lengkap atau tidak. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah. Akibat trauma pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengaan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut dengan patah tulang terbuka. Patah tulang yang didedak sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi (Sjamsuhidayat, 2005). Fraktur pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa karena adanya perbedaan anatomi, biomekanik serta fisiologi tulang. Anatomi pada anak-anak terdapat lempeng epifisis yang merupkan tulang rawan pertumbuhan. Periostium sangat tebal dan kuat dan menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa (Rasjad, 2007). Fraktur pada anak-anak sering ditemukan karena tulang relatif ramping dan juga kurang pengawasan. Beberapa fraktur pada anak-anak seperti retak, fraktur garis rambut, fraktur buckle, fraktur green stick merupakan fraktur yang tidak berat, tetapi ada fraktur seperti fraktur intra arttikuler atau fraktur epifisial merupakan fraktur yang akan berakibat jelek dikemudian hari (Rasjad, 2007).

BAB II STATUS PASIEN 2.1 Identitas Pasien Nama Umur Nomor ID/Reg Jenis kelamin Pekerjaan Alamat Tanggal masuk Jam masuk KU RPS : An. Ahmad Alif Arif Sampurno : 12 tahun 4 bulan 20 hari : 01.91.79 :L : pelajar : PriyosoWetan RT 01 RW 02 Priyoso Karangbinangun Lamongan : 13 Oktober 2011 : 17.10 WIB : nyeri kaki kanan : An. Laki-laki 12 tahun datang dengan keluhan nyeri kaki kanan dan sulit untuk digerakkan. Pasien habis kecelakaan sepeda tadi SMRS, karena di dorong temannya. Pasien masih ingat kejadian saat kecelakaan. Pasien tidak ada benturan kepala, tidak pusing, tidak muntah, tidak keluar darah dari hidung maupun telinga. Pasien hanya mengeluhkan perih dan ada luka di lengan kiri. Sedangkan kaki kanannya terlihat bengkak, terasa nyeri sekali dan sulit untuk digerakkan karena benturan di kakinya. RPD RPK Rpsos ::: Makan dan minum teratur, lingkungan rumah bersih.

2.2 Anamnesis Pasien

2.3 Pemeriksaan Fisik Pasien Keadaan Umum : Lemah Kesadaran GCS Vital sign : Komposmentis : 456 : Tekanan Darah : - mmHg

Nadi Suhu RR Kepala/ leher Thorak Paru

: 102x/ mnt : 36,5oC : 20 x/menit

: Inspeksi: anemia -, ikterus -, sianosis -, dispsneu -, mata cowong -, penafasan cuping hidung -,KGB -, JVP : Simetris +, Retraksi : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Pergerakan dinding dada simetris : pergerakkan dinding dada simetris, krepitasi : Sonor : Suara nafas vesikuler/vesikuler Rh -/-, Wh -/: ictus cordis (-), voussure cardiac (-) : ictus cordis tidak kuat angkat, thrill/fremissment (-) Perkusi Auskultasi : Normal : S1S2 Tunggal, Murmur -, gallop lien : Flat : Supel, nyeri tekan epigastrium -, hepar dan tidak teraba, undulasi (-) Perkusi : thympani Auskultasi : BU + N.

Jantung

: Inspeksi Palpasi

Abdomen

: Inspeksi Palpasi

Extermitas Status lokalis Regio Brachii Regio cruris

: Hangat, kering, merah, edema + : : : vull app shoulder sinistra post hecting look : deformitas (+), hematom (+) cruris dextra Feel : kalor (+), nyeri tekan (+), krepitasi (+),pulsasi arteri Normal Move : functio laesa (+), dorso flexi (-), plantar flexi (-), abduksi (-), adduksi (-)

2.4 Pemeriksaan Penunjang Pasien

2.4.1 Laboratorium

: Diffcount 1/2/75/14/8 Hematokrit 36,8% Hemoglobin 12,5 mg/dl LED 8/19 Lekosit 22.300 Trombosit 401.000 GDA 110 Bleeding Time 125 Clothing Time 820

2.4.2 Pemeriksaan Foto Rx Cruris

2.5 Diagnosis 2.6 Prognosis

: Ephypiolisis : Baik jika segera ditangani :

2.7 Penatalaksanaan saat di IGD Inj. Metamizole 3x1 Inj. Ceftriaxone 2x1 Inj. ATS 1x1 amp

IVFD Asering 1500 cc/24 jam

2.8 SOAP Pasien

14 Oktober 2011, 07.20 WIB Subjective , muntah Objective Vital sign : : Tekanan darah Nadi Suhu RR Kepala/leher Thorax Cor Abdomen Ekstremitas Assesment Planing diagnose Planning therapy JVP normal : Simetris + retraksi : S1S2 normal : flat, supel, nyeri tekan (-), timpani, bising normal, Met (-) : Hangat, kering, dan merah. : post ORIF e.c ephypiolisis : : IVFD Ringer laktat 1000 cc/24 jam Inj. Cefotaxim 3x1 Inj. Metamizole 3x1 gr 15. Oktober 2011, 07.45 WIB. Subjective Objective Kesadaran GCS Vital sign : Nyeri kaki bekas jahitan operasi, terlihat bengkak, mual : : Komposmentis : 456 : Tekanan darah : - mmHg (-), muntah (-), pusing (-) Keadaan umum : Cukup Status lokalis : region cruris pasang spalk, oedem (+),pulsasi arteri Normal usus (+) Pulmo : vesikuler +/+ Rh -/- Wh -/:- mmHg : 96x/menit : 36,6oC : 20x/menit Keadaan umum : Cukup : Nyeri kaki bekas jahitan operasi, terlihat bengkak pusing

: Anemis -, ikterik -, sianosis -, dispneu

Nadi Suhu RR Kepala/leher Thorax Cor Abdomen Ekstremitas Assesment Planing diagnose Planning therapy JVP normal

: 90x/menit : 37,7oC : 20x/menit

: Anemis -, ikterik -, sianosis -, dispneu : Simetris + retraksi : S1S2 normal : flat, supel, nyeri tekan (-), timpani, bising normal, Met (-) : Hangat, kering, dan merah. : post ORIF e.c ephypiolisis : foto ulang ankle : IVFD Ringer laktat 1000 cc/24 jam Inj. Cefotaxim 3x1 Inj. Metamizole 3x1 gr usus (+)

Pulmo : vesikuler +/+ Rh -/- Wh -/-

Status lokalis : region cruris pasang spalk, oedem (+),pulsasi arteri Normal

16 Oktober 2011, 07.30 WIB. Subjective Objective Kesadaran GCS Vital sign : Nyeri kaki, dan terasa panas bekas jahitan operasi, : : Komposmentis : 456 : Tekanan darah Nadi Suhu RR Kepala/leher Thorax JVP normal : Simetris + retraksi : - mmHg : 110x/menit : 38oC : 20x/menit terlihat bengkak, mual (-), muntah (-), pusing (-) Keadaan umum : Cukup

: Anemis -, ikterik -, sianosis -, dispneu

Cor Abdomen Ekstremitas Assesment Planing diagnose Planning therapy

: S1S2 normal : flat, supel, nyeri tekan (-), timpani, bising normal, Met (-) : Hangat, kering, dan merah. : post ORIF e.c ephypiolisis : foto ulang ankle : IVFD Ringer laktat 1000 cc/24 jam Inj. Cefotaxim 3x1 Inj. Metamizole 3x1 gr Oral : Dansera 2x1 usus (+)

Pulmo : vesikuler +/+ Rh -/- Wh -/-

Status lokalis : region cruris pasang spalk, oedem (+),pulsasi arteri Normal

17 oktober 2011 jam 08.00 Subjective Objective Kesadaran GCS Vital sign : Nyeri kaki bekas jahitan operasi, terlihat bengkak, mual : : Komposmentis : 456 : Tekanan darah Nadi Suhu RR Kepala/leher Thorax Cor Abdomen Ekstremitas JVP normal : Simetris + retraksi : S1S2 normal : flat, supel, nyeri tekan (-), timpani, bising normal, Met (-) : Hangat, kering, dan merah. usus (+) Pulmo : vesikuler +/+ Rh -/- Wh -/: - mmHg : 100x/menit : 38,5oC : 20x/menit (-), muntah (-), pusing (-) Keadaan umum : Cukup

: Anemis -, ikterik -, sianosis -, dispneu

Status lokalis : region cruris pasang spalk, oedem (+), pulsasi arteri Normal Assesment Planing diagnose Planning therapy : post ORIF e.c ephypiolisis : DL ulang : IVFD Ringer laktat 1000 cc/24 jam Inj. Cefotaxim 3x1 Inj. Metamizole 3x1 gr Oral : Dansera 2x1 18 oktober 2011 07.30 Subjective Objective Kesadaran GCS Vital sign : Nyeri kaki bekas jahitan operasi, terlihat bengkak, mual : : Komposmentis : 456 : Tekanan darah Nadi Suhu RR Hasil DL Ulang : : - mmHg : 98x/menit : 37,5oC : 20x/menit (-), muntah (-), pusing (-) Keadaan umum : Cukup

Diffcount 3/0/64/23/10 Hematokrit 29,1% Hemoglobin 10,2 mg/dl LED 55/81 Lekosit 8.500 Trombosit 345.000

Kepala/leher Thorax Cor

: Anemis -, ikterik -, sianosis -, dispneu JVP normal : Simetris + retraksi : S1S2 normal

Pulmo : vesikuler +/+ Rh -/- Wh -/-

Abdomen Ekstremitas Assesment Planing diagnose Planning therapy

: flat, supel, nyeri tekan (-), timpani, bising normal, Met (-) : Hangat, kering, dan merah. : post ORIF e.c ephypiolisis : foto ulang ankle : KRS Paracetamol 3x1tab Cefadroxcil syrup 3x cth

usus (+)

Status lokalis : region cruris pasang spalk, oedem (+), pulsasi arteri Normal

10

BAB III PEMBAHASAN An. Laki-laki 12 tahun datang dengan keluhan nyeri kaki kanan dan sulit untuk digerakkan. Pasien habis kecelakaan sepeda tadi SMRS, karena di dorong temannya. Pasien masih ingat kejadian saat kecelakaan. Pasien tidak ada benturan kepala, tidak pusing, tidak muntah, tidak keluar darah dari hidung maupun telinga. Pasien hanya mengeluhkan perih dan ada luka di lengan kiri. Sedangkan kaki kanannya terlihat bengkak, terasa nyeri sekali dan sulit untuk digerakkan karena benturan di kakinya. Nyeri pada kaki ini dikarenakan adanya efek mekanis yang menyebabkan hilangnya kontinuitas jaringan, sehingga timbulnya mobilitas yang bersifat patologis dan hilangnya fungsi tulang sebagai organ penyangga. Sehingga menimbulkan rasa nyeri yang sangat (Perren, 2000). Kaki yang sulit digerakkan yang dialami pasien bisa disebabkan karena fraktur pada daerah cruris. Fraktur adalah deformitas atau diskontinuitas dari tulang oleh tenaga yang melebihi kekuatan tulang (Schwartz, 2000). Pada pasien ini mengalami fraktur traumatik dikarenakan sesuai dengan penyebabnya yaitu karena trauma yang tiba-tiba. Klasifikasi fraktur dibedakan berdasarkan etiologinya, klinis, radiologis. Kalau berdasarkan etiologis fraktur dibedakan menjadi fraktur traumatik, fraktur patologis, fraktur stress. Berdasarkan klinis fraktur dibedakan menjadi fraktur tertutup (simple fracture), fraktur terbuka (compound fracture), dan fraktur dengan komplikasi (complicated fractute). Berdasarkan radiologisnya fraktur dibedakan berdasarkan atas lokalisasinya, konfigurasi, ekstensi dan menurut hubungan antar fregmen dengan fregmen lainnya (Rasjad, 2007).

11

. Gambar 3.1 : Klasifikasi fraktur menurut lokalisasi (Rasjad, 2007). A. fraktur diafisis B. fraktur metafisis C.Dislokasi dan fraktur D. Fraktur Intra-artikuler

Gambar 3.2 : Klasifikasi fraktur sesuai konfigurasi

Gambar 3.3 : Klasifikasi Fraktur Berdasarkan hubungan antar fregmen tulang A. Bersampingan B. Angulasi C. Rotasi D. Distraksi E. Over-riding F. Impaksi

12

Pasien ini berumur 12 tahun dan masih tergolong anak-anak. Fraktur pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa karena adanya perbedaan anatomi, biomekanik serta fisiologi tulang. Anatomi pada anak-anak terdapat lempeng epifisis yang merupkan tulang rawan pertumbuhan. Periostium sangat tebal dan kuat dan menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa (Rasjad, 2007). Perbedaan 1. biomekanik terdiri atas biomekanik tulang, lempeng pertumbuhan dan periostium. Biomekanik tulang Tulang anak-anak sangat porous, koerteks berlubang-lubang, dan sangat mudah dipotong oleh karena kanalis haversian menduduki sebagian bear tulang. Faktor ini menyebabkan tulang anaak-anak dapat menerima toleransi yang besar terhadap deformasi tulang dibandingkan orang dewasa, sedangkan pada orang dewasa sangat kompak dan mudah mengalami tegangan, tahanan dan tekanan sehingga tidak dapat menahan kompresi (Rasjad, 2007).
2. Biomekanik lempeng pertumbuhan

Lempeng pertumbuhan merupakan tulang rawan yang melekat erat pada metafisis yang bagian luarnya diliputi oleh periosteum sedang bagian dalamnya oleh prosesus mamilaris. Untuk memisahkan metafisis dan epifisis diperlukan kekuatan yang besar. Tulang rawan epifisis mempunyai kosistensi seperti karet yang keras. 3. Biomekanik periostium Periosteum pada anak-anak sangat kuat dan tebal dan tidak mudah mengalami robekan dibandingkan orang dewasa. Perbedaan fisiologis pada anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodeling yang lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa. Pada anak juga terdapat jenis fraktur yang khusus seprti fraktur epifisis dan fraktur lempeng epifisis.

13

Fraktur Epifisis Fraktur epifisis merupakan suatu fraktur tersendiri dan dibagi dalam ; fraktur avulsi akibat tarikan ligament, fraktur kompressi yang bersifat komunitif fraktur osteokondral (bergeser). Fraktur Epifisis jarang terjadi tanpa disertai dengan fraktur lempeng epifisis

Gambar 3.4 : beberapa Gambaran fraktur epifisis A. Avulsi B. Kompresi C. Osteokondral 1. Fraktur avulsi akibat tarikan ligament Fraktur avulsi akibat tarikan ligament terutama terjadi pada spina tibia, stiloid ulna dan basis falangs. Fragmen tulang masih mempunyai cukup vaskularisasi dan biasanya tidak mengalami nekrosis avaskuler. Bila terjadi fraktur bergeser, maka jarang terjadi union karena pembentukan kalus dihambat oleh jaringan sinovia. Fraktur bergeser juga menghambat gerakan dan juga menyebabkan sendi menjadi tidak stabil. 2. fraktur kompressi yang bersifat komunitif fraktur komunitif jarang terjadi karena lempeng epifisi berfungsi sebagai shock absorbser pada tulang.
3. Fraktur osteokondral (bergeser).

Fraktur osteokondral sering ditemukan pada distal femur, patella atau kaput radius. Fraktur bergeser akan menyebabkan gagguan menyerupai benda asing dalam sendi. Fregmen yang besar sebaliknya dikembalikan dan yang keci dapat dilakukan eksisi.

14

Fraktur Lempeng epifisis Lempeng epifisis merupakan suatu diskus tulang rawan yang terletak diantara epifisis dan metafisis. Fraktur lempeng epifisis merupakan 1/3 dari seluruh fraktur pada anak-anak. Pembuluh darah epifisis masuk di dalam permukaan epifisis dan apabila ada kerusakan pembuluh darah maka akan terjadi gangguan pertumbuhan. Pembuluh darah epifisis biasanya tidak mengalami kerusakan pada saat trauma tetapi pada epifisis femur proksimal dan epifisis radius proksimal pembuluh darah berjalan sepanjang leher tulang yang dimaksud dan melintang pada lempeng epifisis di perifer, sehingga pada kedua tempat ini apabila terjadi pemisahan epifisis juga akan menimbulkan kerusakan vaskularisasi yang menimbuulkan nekrosis avaskuler. Tulang rawan lempeng epifisis lebih lemah daripada tulang. Daerah yang paling lemah dari lempeng epifisis adalah zona transformasi tulang rawan pada daerah hipertrofi dimana biasanya terjadi garis fraktur. Secara klinis kita harus mencurigai adanya fraktur lempeng epifisis pada seorang anak dengan fraktur pada tulang panjang di daerah ujung tulang pada dislokasi sendi serta robekan ligamen. Diagnosis dapat ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan rontgen dengan dua proyeksi dan membandingkannya dengan anggota gerak yang sehat. Banyak klasifikasi fraktur lempeng epifisis antara lain menurut salter-harris, Poland, Aitken, Weber, Rang, Ogend. Klasifikasi menurut Salter-Harris yang paling mudah dan praktis serta memenuhi syarat untuk terapi dan prognosis.

15

Tipe A

Tipe B

Tipe C

Tipe D

Gambar 3.5 : Klasifikasi fraktur lempeng epifisis menurut Poland Tipe A : separasi lengkap Tipe B : separasi tidak lengkap dengan fraktur diafisis Tipe C : separasi tidak lengkap disertai fraktur epifisis Tipe D : separasi lengkap disertai fraktur epifisis

Gambar 3.6 : klasifikasi fraktur lempeng epifisis menurut Salter-Harris

16

Klasifikasi menurut Salter-Harris merupakan klasifikasi yang dianut dan dibagi dalam lima tipe : Tipe I Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur pada tulang. Sel-sel pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat pada epifisis. Fraktur ini terjadi oleh karena adanya shearing force dan sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada anak-anak yang lebih muda. Pengobatan dengan reduksi tertutup mudah oleh karena masih ada perlekatan periostium yang utuh dan intak. Prognosis biasanya baik bila dioperasi dengan cepat.

Gambar 3.7 : Klasifikasi Salter-Harris tipe I Pada tipe I reduksi tertutup tidak sulit karena perlekatan periosteal utuh disekitar lingkarannya dan kemudian dibebat dengan erat selama 5-6 minggu. Prognosis untuk masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh suplai darah pada epiphysis Tipe II Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan. Garis fraktur melalui sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga yang disebut tanda Thurston-Holland. Sel-sel pertumbuhan pada lempeng epifisis juga masih melekat. Trauma yang menghasilkan jenis fraktur ini biasanya terjadi karena trauma shearing force dan membengkok dan umumnya terjadi pada anak-anak yang lebih tua. Periostium mengalami robekan pada daerah konveks tetapi tetap utuh pada daerah konkaf. Pengobatan dengan reposisi

17

secepatnya tidak begitu sulit kecuali bila reposisi terlambat harus dilakukan tindakan operasi. Prognosis biasanya baik, tergantung kerusakan pembuluh darah.

Gambar 3.7 : Klasifikasi Salter-Harris tipe II Pada tipe II reduksi tertutup relatif mudah didapatkan begitu juga dengan perawatannya karena engsel periosteal utuh dan potongan metaphysis terlindung selama reduksi. Prognosis selama perkembangan yang sempurna dengan suplai darah pada epifisis umunya baik Tipe III Fraktur lempeng epifisis tipe III merupakan fraktur intra-artikuler. Garis fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian sepanjang garis lempeng epifisis. Jenis fraktur ini intra-artikuler dan biasanya ditemukan pada epifisis tibia distal. Oleh karena fraktur ini bersifat intra-artikuler dan diperlukan reduksi yang akurat maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka dan fiksasi interna dengan mempergunakan pin yang halus.

18

Gambar 3.7 : Klasifikasi Salter-Harris tipe III Membutuhkan reduksi anatomis yang sempurna. Kalau tidak dapat direduksi dengan tepat dengan manipulasi tertutup, reduksi terbuka biasanya dibutuhkan segera untuk mengembalikan permukaan sambungan normal yang sempurna. Tungkai kemudian dibebat selama 4-6 minggu . Prognosis untuk pertumbuhan adalah suplai darah yang baik yang diberikan pada bagian epifisis yang terpisah. Tipe IV Fraktur tipe ini juga merupakan intra-artikuler yang melalui permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan lempeng epifisis dan berlanjut pada sebagian metafisis. Jenis fraktur ini misalnya fraktur kondilus lateralis humeri pada anak-anak. Pengobatan dengan operasi terbuka dan fiksasi interna karena fraktur tidak stabil akibat tarikan otot. Prognosis jelek bila reduksi tidak dilakukan dengan baik.

Gambar 3.7 : Klasifikasi Salter-Harris tipe IV

19

Reduksi terbuka dan fiksasi internal dengan kawat Kirschner. Penanganan tidak hanya untuk mengembalikan permukaan sambungan normal tetapi juga untuk mendapatkan pengembalian posisi piringan epifiseal. Prognosis untuk pertumbuhan pada tipe IV ini jelek kecuali jika reduksi sempurna dicapai dan terjaga. Tipe V Fraktur tipe V merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang diteruskan pada lempeng epifisis. Biasanya terjadi pada daerah sendi penopang badan yaitu sendi pergelangan kaki dan sendi lutut. Diagnosis sulit karena secara radiologic tidak dapat dilihat. Prognosis jelek karena dapat terjadi kerusakan sebagaian atau seluruh lempeng pertumbuhan.

Gambar 3.7 : Klasifikasi Salter-Harris tipe V Diagnosis fraktur tipe V sulit untuk dilakukan karena epiphysis tersebut biasanya tidak tergeser. Beban ringan harus diabaikan paling tidak tiga minggu dengan harapan untuk menjaga tekanan selanjutnya pada epifiseal. Prognosis fraktur tipe V kurang diperhatikan karena gangguan pertumbuhan hampir tidak terlihat Prognosis fraktur epifisis sebanyak 85% trauma lempeng epifisis tidak mengalami gangguan dalam pertumbuhan. Sisanya 15% akan mengalami gangguan dalam pertumbuhan. Ada beberapa factor yang peting dalam perkiraan prognosis yaitu :

20

1. Jenis fraktur, fraktur tipe I, II, III mempunyai prognosis yang baik, fraktur tipe IV prognosisnya tergantung dari tindakan pengobatan dan tipe V prognosisnya jelek tergantung kerusakan awal lempeng epifisis 2. Umur waktu terjadinya trauma, apabila trauma terjadi pada umur yang lebih muda maka prognosisnya lebih jelek disbanding bila terajdi pada umur yang lebih tua. 3. Vaskularisasi pada epifisis, apabila terjadi kerusakan vaskularisasi epifisis, maka prognosisnya lebih jelek.
4. Metode reduksi, reduksi yang dilakukan dengan tidak hati-hati

akan menimbulkan kerusakan yang lebih hebat pada lempeng epifisis. 5. Jenis trauma apakah trauma terbuka atau tertutup. Pada trauma terbuka kemungkinan terjadi infeksi akan menyebabkan fusi dini dari epifisis. 6. Waktu terjadinya trauma, hal ini penting karena penundaan tindakan akan menyebabkan kesulitan dalam reduksi dan gangguan pertumbuhan yang terjadi akan lebih hebat. Dalam kasus ini pada pemeriksaan fisik status lokalis ditemukan :
Look Feel

: deformitas (+), hematom (+) cruris dextra : kalor (+), nyeri tekan (+), krepitasi (+), : functio laesa (+), dorso flexi (-), plantar flexi (-), abduksi (-), adduksi (-)

Move

Ini menunjukkan bahwa Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan eksremitas. Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan

21

tangan, teraba adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera. Sedangkan nyeri ditimbulkan karena trauma jaringan lunak termasuk periosteum dan endosteum. Nyeri akan bertambah bila ada gerakan pada fraktur dan disertai spasme otot disertai dengan pembengkakan yang progresif di tempat yang tertutup. Pada pemeriksaan laboratotium didapatkan hasil Diffcount 1/2/75/14/8, Hematokrit 36,8%, Hemoglobin 12,5 mg/dl, LED 8/19, Lekosit 22.300, Trombosit 401.000, GDA 110, Bleeding Time 125, Clothing Time 820. Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hb, hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED)dan leukosit meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca dan P meengikat di dalam darah. Pada pemeriksaan foto Rx cruris didapatkan hasil seperti dibawah ini

Hal ini menunjukkan bahwa fraktur yang terjadi adalah Epifisiolisis klasifikasi Salter-Harris tipe II yang ditujukan seperti gambar dibawah ini

22

Untuk penanganan di IGD dan untuk persiapan operasi diberikan terapi IVFD Asering 1500 cc/24 jam, Inj. Metamizole 3xI, Inj. Ceftriaxone 2x1, Inj. ATS 1x1 amp. Setelah itu rencanakan operasi untuk pemasangan Open Reduction Internal Fixation(ORIF. Penanganan untuk fraktur epifisis tipe II adalah reduksi tertutup relatif mudah didapatkan begitu juga dengan perawatannya karena engsel periosteal utuh dan potongan metaphysis terlindung selama reduksi. Setelah reduksi dari fraktur epifisis tipe I,II, III akan terjadi osifikas endkondral pada daerah metafisis lempeng pertuumbuhan dan dalam 23 minggu osifikasi endokondral ini telah mengalami penyembuhan. Sedangkan tipe IV dan V mengalami penyembuhan seperti pada fraktur daerah tulang kanselosa. Prognosis selama perkembangan yang sempurna dengan suplai darah pada epifisis umunya baik.

BAB IV

23

KESIMPULAN Telah dilaporkan kasus fraktur epiphysiolisis An.A umur 12 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis keluhan nyeri kaki kanan dan sulit untuk digerakkan setelah kecelakaan. Kemudian pada pemeriksaan fisik didapatakan deformitas (+), hematom (+) pada cruris dextra 1/3 distal. Pada pemeriksaan penunjang radiologi foto polos cruris dextra didapatkan hasil ephipyolisis tipe II. Terapi yang diberikan sebelum operasi adalah pemberian analgesik dan antibiotic setelah itu dilakukan pemasangan ORIF.

DAFTAR PUSTAKA

24

Apley G., Solomon L., 1993, apleys System of Orthopedies and Fractures, 7th edition: 432 438, Butterworth-Heinemann Ltd., Oxford De Jong W., Sjamsuhidajat R., 2004, Patah tulang dan dislokasi, Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi : 1140, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, Hal:840-844 Mostofi Seyed , 2006, Fracture Classification Clinical Practice, Springer : London. Moore W., 2003, http//www. eMedicine - Salter-Harris Fractures Article,.htm National Institutes of Health, 2001, http//www. Epiphyseal Plate Injury Questions and Answers About Growth Plate Injuries. htm Nugroho E., 1995, Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley, ED. 7, hal 281-282, Widya Medika, Indonesia Perren Stephan, 2000, Biology and Biomechanics in fracture management, in AO Principles Of Fracture Management, Stuttgart : New York Rasjad, Chairuddin. 2007. Fraktur dan Dislokasi Pada Anak. Dalam Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 3. Jakarta : Yarsif Wattampone. Hal: 355-378. Schwartz, 2000, Ortopedi Dalam Intisari prinsip-prinsip Ilmu bedah, Edisi 6, EGC, Jakarta, Hal : 657-664.

25