Anda di halaman 1dari 28

PENGARUH TINGKAT PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN TERHADAP MANAJEMEN LABA DENGAN KUALITAS AUDIT SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

PUBLIKASI ILMIAH
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Magister

Oleh: NOVI KURNIAWATI 0920203026

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI PASCASARJANA FAKULTAS EKONOMI & BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

ABSTRAK Novi Kurniawati (Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya) Sutrisno (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya) Grahita Chandrarin (Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka) Novi Kurniawati: Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, 04 November 1979. Pengaruh Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Terhadap Manajemen Laba Dengan Kualitas Audit Sebagai Variabel Pemoderasi. Ketua Pembimbing: Sutrisno, Komisi Pembimbing: Grahita Chandrarin. Penelitian ini menguji pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan terhadap manajemen laba dengan kualitas audit sebagai variabel pemoderasi. Manajemen laba dalam penelitian ini diukur dengan akrual diskresioner. Pengujian dilakukan pada 72 perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2008-2009. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi moderasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan laporan keuangan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Namun, penelitian ini tidak dapat memberikan bukti bahwa kualitas audit bisa memoderasi hubungan antara tingkat pengungkapan laporan keuangan dan manajemen laba. Ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa perusahaan yang semakin tinggi tingkat pengungkapan laporan keuangannya akan semakin menekan terjadinya perilaku oportunistik manajemen. Kata Kunci: Tingkat pengungkapan laporan keuangan, manajemen laba, kualitas audit

ABSTRACT Novi Kurniawati (Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya) Sutrisno (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya) Grahita Chandrarin (Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka) Novi Kurniawati, Postgraduate Economics and Business Faculty of Brawijaya University, November 4th, 1979. The Effect of Disclosure to Earnings Management by Audit Quality as Moderating Variable. Supervisor: Sutrisno, co-supervisor: Grahita Chandrarin. This research examines the effect of disclosure to earnings management by audit quality as a moderating variable. Earnings management in this research were measured by discretionary accruals. The examination was held in 72 manufacturing companies that go public in Indonesia Stock Exchange during 2008-2009. Data analysis technique used in this research is moderated regression analysis (MRA). The results of this research indicate that disclosure negatively affect earnings management. However, this research can not provide evidence that audit quality may moderate the relationship between disclosure and earnings management. The size of the company as a control variable has positive influence on earnings management. The research findings indicate that companies with higher disclosure level will further suppress the occurrence of opportunistic behavior of management.

Keywords: Disclosure, earnings management, audit quality

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan terhadap manajemen laba. Manajemen laba merupakan salah satu topik yang sangat menarik perhatian peneliti. Deteksi atas kemungkinan dilakukannya manajemen laba dalam laporan keuangan diteliti melalui penggunaan akrual. Peran akrual sebagai ukuran ringkas kinerja perusahaan menjadi pertanyaan penting dalam riset akuntansi. Laba akrual dipandang sebagai ukuran kinerja perusahaan yang lebih superior daripada aliran kas karena akrual mengurangi masalah waktu dan ketidakcocokan (mismatching) yang melekat dalam pengukuran aliran kas (Dechow, 1994). Walaupun demikian, karena adanya fleksibilitas GAAP, akuntansi akrual menjadi subjek kebijakan manajerial. Adanya ketidaksepakatan (misalignment) antara manajer dan pemegang saham mendorong manajer untuk menggunakan fleksibilitas yang diberikan oleh GAAP untuk mengatur laba secara oportunistik yang menyebabkan distorsi atas laba yang dilaporkan (Watts dan Zimmerman, 1986: 165-181). Banyak variabel yang dapat mempengaruhi manajemen laba antara lain; asimetri informasi (Richardson, 2000) yang menunjukkan bahwa ketika asimetri informasi tinggi, stakeholders tidak memiliki sumber daya yang cukup, insentif, atau akses atas informasi yang relevan untuk memonitor tindakan manajer, dimana hal ini memberikan kesempatan atas praktek manajemen laba. Selain itu asimetri informasi juga merupakan suatu kondisi yang diperlukan dalam manajemen laba (Dye, 1988; Trueman dan Titman, 1988); leverage (Lobo dan Zhou, 2001) yang menunjukkan bahwa total utang perusahaan (leverage ) yang diukur melalui debt to equity ratio juga berpengaruh pada manajemen laba; ukuran perusahaan (Lobo dan Zhou, 2001; DeFond dan Park, 1997) yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dapat mempengaruhi manajemen laba dimana perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang lebih kompleks sehingga

pada tingkat pengungkapan laporan keuangan. Hal ini dikarenakan laporan keuangan yang merupakan bentuk pertangungjawaban pihak manajemen adalah salah satu sumber informasi yang dapat digunakan untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Manajemen dapat meningkatkan nilai perusahaan melalui pengungkapan informasi tambahan dalam memungkinkan laporan keuangan, peningkatan pengungkapan laporan keuangan akan dilakukannya mengurangi asimetri informasi sehingga manajemen laba. peluang manajemen untuk melakukan manajemen laba semakin kecil. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan Penelitian laporan keuangan dan manajemen laba ini memiliki hubungan yang negatif sejalan memfokuskan dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Lobo dan Zhou (2001); Siregar dan Bachtiar (2003) serta (Halim et al., 2005). Perusahaan yang melakukan manajemen laba akan mengungkapkan lebih sedikit informasi dalam laporan keuangan agar tindakannya tidak mudah terdeteksi Beberapa skandal keuangan yang terjadi di perusahaan publik berkaitan dengan manipulasi laporan keuangan antara lain oleh PT Lippo Tbk dan PT Kimia Farma Tbk pada tahun 2001 (Boediono, 2005). Pengauditan merupakan sarana bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan (stakeholders) untuk memverifikasi validitas laporan keuangan yang dibuat manajemen. Laporan keuangan auditan tersebut dapat dipercaya kualitasnya apabila audit atas laporan keuangan tersebut dilakukan oleh auditor yang berkualitas tinggi. Auditor yang berkualitas tinggi diyakini mempunyai kemampuan untuk mencegah praktek perekayasaan laba yang mungkin dilakukan manajemen dan ketika hal itu terdeteksi maka auditor akan mengeluarkan pendapat selain pendapat wajar tanpa perkecualian (unqualified opinion) dalam laporan audit mereka (Isnugrahadi, 2009).

Penelitian yang menguji faktor kualitas auditor dengan manajemen laba telah cukup banyak dilakukan. Becker et al., (1998) membuktikan bahwa pada perusahaan dengan kualitas auditor yang tinggi (Big 6) manajemen laba lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan dengan kualitas auditor yang rendah (non Big 6). Penelitian ini didukung dengan hasil penelitian Meutia (2004) yang menyatakan bahwa auditor berkualitas tinggi dapat mengurangi kecenderungan manajemen untuk melakukan manajemen laba. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Piot dan Janin (2005) yang menyatakan bahwa perusahaan yang diaudit Big 5 tidak terbukti bisa mengurangi manajemen laba. Selain itu kualitas auditor yang tinggi juga akan mempengaruhi perusahaan untuk lebih mengungkapkan laporan keuangannya secara luas hal ini dibuktikan dari hasil penelitian Lee et al., (1999) yang menyatakan bahwa auditor yang berkualitas lebih tinggi akan mempengaruhi perusahaan untuk semakin meningkatkan tingkat pengungkapan laporan keuangan. Begitu pula penelitianpenelitian lainnya seperti yang dilakukan oleh Subroto (2003) dan Bernardi (2009) yang menemukan bahwa variabel kualitas kantor akuntan publik berpengaruh positif terhadap variasi luas pengungkapan laporan tahunan yang dilakukan oleh perusahaan. Berbeda dengan penelitianpenelitian sebelumnya yang menempatkan variabel kualitas auditor sebagai variabel

independen, pada penelitian ini variabel kualitas auditor ditempatkan sebagai variabel pemoderasi dalam hubungan antara tingkat pengungkapan laporan keuangan dan manajemen laba. Berkembangnya tuntutan bagi perusahaan untuk lebih luas mengungkapkan informasi perusahaan sehingga bisa memudahkan bagi para pemakai laporan keuangan untuk menilai kinerja perusahaan serta untuk menghindari adanya perilaku oportunistik yang dilakukan oleh manajemen inilah yang kemudian memotivasi peneliti untuk meneliti tentang tingkat pengungkapan laporan keuangan dan manajemen laba. Selain itu, hasil penelitian yang beragam tentang pengaruh kualitas audit dengan manajemen laba serta adanya penelitian yang mengungkapkan bahwa kualitas audit mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan keuangan yang mendorong peneliti untuk menguji apakah kualitas audit bisa memoderasi pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan dengan manajemen laba. 1.2 Rumusan Masalah 1Apakah tingkat pengungkapan laporan keuangan berpengaruh terhadap manajemen laba? 2Apakah kualitas audit dapat memoderasi pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan terhadap manajemen laba? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Menguji pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan terhadap manajemen laba,

2. Menguji pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan terhadap manajemen laba dengan dimoderasi oleh kualitas audit. 1.4 Kontribusi Penelitian 1.4.1 Kontribusi Teoritis 1.Bagi peneliti berikutnya, penelitian ini diharapkan bisa dijadikan referensi untuk riset yang akan datang. 2.Bagi civitas akademika, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan memberikan sumbangan konseptual dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan untuk perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan. 3.Bagi pengembangan ilmu akuntansi, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya materi pembelajaran terkait dengan tingkat pengungkapan laporan keuangan, manajemen laba serta kualitas audit. 1.4.2 Kontribusi Praktis 1Bagi akademisi, sebagai materi proses pembelajaran dibidang akuntansi keuangan dan diwajibkan pasar modal berkaitan dengan tingkat pengungkapan laporan keuangan, manajemen kepada laba dan kualitas audit. perusahaan 2Bagi peneliti, sebagai salah satu acuan dalam pengembangan penelitian selanjutnya. sehingga 3Bagi investor, diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu masukan dapat dalam pengambilan keputusan investasi saham, terutama dalam menilai kualitas laba meningkatkan yang dilaporkan dalam laporan keuangan. transparansi 4Bagi pengelola pasar modal, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan tambahan dan dalam pengambilan keputusan mengenai sejauh mana pengungkapan yang diharuskan akuntabilitas bagi para emiten dengan mempertimbangkan asas biaya dan manfaat yang ditimbulkan. perusahaan. 5. Bagi manajemen perusahaan, sebagai bahan pertimbangan bagi pihak manajemen mengenai pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengungkapan laporan keuangan. 1.4.3 Kontribusi Kebijakan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris yang bisa dijadikan sebagai masukan bagi pembuat kebijakan atau regulasi (Bapepam dan IAI) untuk menilai apakah perlu menambah, mengembangkan atau mengubah kebijakan tentang pengungkapan yang II. TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Manajemen Laba Manajemen laba merupakan tindakan manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi dari suatu standard tertentu dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan dan atau nilai pasar perusahaan (Scott, 1997: 368). Manajemen laba dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu good side earnings management dan bad side earnings management. Berdasarkan sudut pandang good side earnings management, manajemen laba dapat dilihat dari dua perspektif yaitu perspektif kontraktual dan perspektif pelaporan keuangan. Sementara bad side earnings management terjadi saat manajer menggunakan GAAP untuk melakukan manajemen laba yang terlalu jauh dengan berperilaku oportunistik terhadap kontrak yang ada, sehingga dapat merugikan perusahaan dalam jangka panjang (Handajani et al., 2009). Peneliti dalam penelitian ini lebih memandang manajemen laba dari sudut pandang bad side earning management. Pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian dalam perusahaan bersamaan dengan asimetri informasi di dalam perusahaan semakin memperluas kemungkinan tindakan oportunistik oleh manajer yang mempunyai tujuan berbeda dengan stakeholders, dan setiap pihak ingin memaksimalkan kepentingannya sendiri. Manajemen laba akan meningkatkan biaya agensi, karena manajer menjaga kepentingannya dengan menerbitkan laporan keuangan yang tidak menunjukkan gambaran ekonomi perusahaan secara akurat, sehingga shareholders atau stakeholders lainnya tidak dapat membuat keputusan investasi yang optimal.

Teori keagenan (agency theory) mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer sebagai agen dan pemilik (dalam hal ini adalah pemegang saham). Jensen dan Meckling (1976) menggambarkan hubungan agensi dimana terdapat kontrak yang menjadi landasan satu pihak (principal/pemilik) mempekerjakan pihak lain (agent) untuk mengelola perusahaan atas nama perusahaan. Menurut Scott (2009: 7-8) terdapat dua jenis asimetri informasi, yaitu; adverse selection dan moral hazard. Penelitian ini memfokuskan pada akrual diskresioner karena akrual diskresioner memungkinkan manajer memberikan informasi privat dan meningkatkan kemampuan laba untuk mencerminkan nilai ekonomis perusahaan. Pada saat yang sama, akrual diskresioner sendiri memungkinkan manajer untuk terlibat dalam pelaporan yang oportunistik untuk memaksimalkan kemakmuran manajer sendiri. Auditor meningkatkan kredibilitas pelaporan akrual diskresioner dengan meminimalkan noise dalam akrual diskresioner yang dilaporkan dan oleh karena itu meningkatkan nilai informasi akrual diskresioner. 2.1.2 Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Wolk et al., (2008: 281-282) mendefiniskan tingkat pengungkapan sebagai berikut Disclosure is concerned with information in both the financial statements and supplementary communications including footnote, poststatement events, managements discussion and analysis of operations for the forth coming year, financial and operating forecasts, the summary of significant accounting policies and additional financial statements covering segmental disclosure and extensions beyond historical costs. Atas dasar definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa tingkat pengungkapan laporan keuangan merupakan informasi yang ada di dalam laporan keuangan maupun komunikasi pelengkap yang mencakup catatan kaki, peristiwa setelah pelaporan, analisis manajemen tentang operasi yang akan datang, peramalan keuangan dan operasi, serta laporan keuangan tambahan. Jenis pengungkapan dalam hubungannya dengan persyaratan yang ditetapkan standar ada dua, yaitu: pengungkapan wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure). Pengungkapan wajib merupakan pengungkapan informasi yang diharuskan oleh peraturan yang berlaku, dalam hal ini adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Pengungkapan sukarela merupakan pilihan bebas manajemen perusahaan untuk memberikan informasi akuntansi dan informasi lainnya yang dipandang relevan sebagai dasar untuk membuat keputusan oleh para pemakai laporan tahunan (Suripto dan Baridwan, 1999). Melalui pengungkapan sukarela diharapkan para pemakai laporan akan semakin lengkap informasinya dalam memahami kegiatan operasional perusahaan publik, serta dengan adanya pengungkapan sukarela semakin menunjukkan ketransparan keadaan perusahaan (Prayogi, 2003).

Menurut Sunarto (2003), kualitas pengungkapan laporan keuangan dihitung berdasarkan indeks pengungkapan laporan keuangan. Tingkat pengungkapan laporan keuangan dalam penelitian ini didasarkan atas indeks pengungkapan yang dideskripsikan oleh Benardi (2009). Indeks pengungkapan yang digunakan didasarkan atas informasi yang tersedia dalam laporan tahunan (annual report). Di Indonesia, pengungkapan dalam laporan keuangan baik yang bersifat wajib maupun sukarela telah diatur dalam PSAK No.1. Selain itu, pemerintah melalui Bapepam juga mengatur mengenai pengungkapan informasi dalam laporan tahunan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Tuanakota (1983: 221) menyebutkan tiga macam pengungkapan (disclosure), yaitu: pengungkapan cukup (adequate disclosure), pengungkapan wajar (fair disclosure), pengungkapan penuh (full disclosure). Pengungkapan yang tepat mengenai informasi yang penting bagi para investor dan pihak lainnya hendaknya bersifat; cukup, wajar dan penuh. Penelitian-penelitian empiris berkaitan dengan pengungkapan telah banyak dilakukan di Indonesia antara lain Suripto dan Baridwan (1999),

mengembangkan dua dimensional definisi kualitas audit. Pertama, harus bisa mendeteksi salah saji material, dan kedua salah saji material harus dilaporkan. DeAngelo (1981) menteorikan bahwa KAP (Kantor Akuntan Publik) yang lebih besar melakukan audit lebih baik karena

mereka mempunyai reputasi yang lebih baik. KAP yang lebih besar mempunyai sumber daya manusia lebih banyak, dan mereka bisa memperoleh karyawan yang lebih terampil. Auditor Big 5 seringkali dihubungkan dengan audit berkualitas tinggi daripada auditor non Big 5. Auditing merupakan bentuk monitoring yang digunakan oleh perusahaan untuk menurunkan biaya keagenan (agency cost) perusahaan dengan pemegang hutang (bondholder) dan pemegang saham (Jensen dan Meckling, 1976; Watts dan Zimmerman, 1986: 312). Nilai auditing timbul karena auditing menurunkan pelaporan yang salah (misreporting) atas informasi akuntansi. Proksi yang paling sering digunakan untuk kualitas audit adalah variabel dummy untuk anggota KAP Big 5 dan non Big 5, beberapa penelitian telah mendukung surogasi ini (Palmrose, 1988; Francis dan Wilson, 1988; Subiyantoro DeFond, 1992; DeFond dan Jiambalvo, 1991, 1993; Davidson dan Neu, 1993). (1997), 2.1.4 Ukuran Perusahaan Naim dan Ukuran yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan, antara lain total penjualan, Rakhman (2000), Fitriany aktiva. rata-rata tingkat penjualan, dan total (2001). Pada umumnya perusahaan besar memiliki total aktiva yang besar pula sehingga dapat menarik investor untuk menanamkan 2.1.3 modalnya pada perusahaan tersebut dan akhirnya saham tersebut mampu bertahan pada harga Kualitas Audit yang tinggi (Wijaya, 2009). Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa terdapat hubungan positif antara ukuran perusahaan dengan manajemen laba (Lobo dan Zhou, 2001; DeFond dan Park, 1997) dimana perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang lebih kompleks DeAngelo sehingga memungkinkan dilakukannya manajemen laba. Field et al., (2001) menemukan bahwa ukuran perusahaan dan leverage secara signifikan mempengaruhi (1981) perubahan metode akuntansi. Dengan kata lain ukuran perusahaan dan leverage mempengaruhi perilaku manajemen laba.

Pengaruh ukuran perusahaan terhadap pengungkapan juga banyak ditemukan dibeberapa penelitian. Penelitian-penelitian yang menunjukkan pengaruh ukuran perusahaan terhadap pengungkapan diantaranya adalah hasil penelitian Wallace dan Naser (1995), Ahmed dan Courtis (1999), dan Fitriany (2001). 2.2 Pengembangan Hipotesis 2.2.1 Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan dan Manajemen Laba Asimetri informasi yang terjadi antara manajer dengan pemegang saham sebagai pengguna laporan keuangan menyebabkan pemegang saham tidak dapat mengamati seluruh kinerja dan prospek perusahaan secara sempurna. Pada saat situasi dimana pemegang saham memiliki informasi yang lebih sedikit dari manajer, manajer dapat memanfaatkan fleksibilitas yang dimilikinya untuk melakukan manajemen laba. Tingkat pengungkapan yang semakin mendekati pengungkapan penuh (full disclosure) akan mengurangi asimetri informasi yang terjadi antara manajer dan pengguna laporan keuangan. Sementara asimetri informasi merupakan kondisi yang dibutuhkan (necessary condition) untuk dilakukannya manajemen laba (Trueman dan Titman, 1988). Glosten dan Milgrom (1985) mengatakan bahwa peningkatan informasi dalam pengungkapan laporan keuangan akan menurunkan asimetri informasi. Dengan demikian, peningkatan pengungkapan menyebabkan fleksibilitas manajer untuk melakukan manajemen laba akan berkurang karena berkurangnya asimetri informasi antara manajemen dengan pemegang saham dan pengguna laporan keuangan lainnya. Beberapa penelitian pernah dilakukan tentang hubungan tingkat pengungkapan dan manajemen laba yaitu antara lain; Lobo dan Zhou (2001) yang menemukan bukti bahwa tingkat pengungkapan berkorelasi negatif dengan manajemen laba. Perusahaan yang tingkat pengungkapannya rendah cenderung lebih banyak melakukan pengelolaan laba dan perusahaan yang melakukan manajemen laba cenderung memiliki kualitas pengungkapan yang rendah. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Siregar dan Bachtiar (2003) yang menemukan bukti bahwa manajemen laba dan tingkat pengungkapan memiliki hubungan yang negatif. Halim et al., (2005) menemukan bahwa manajemen laba berpengaruh signifikan positif pada tingkat pengungkapan laporan keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak manajer melakukan manajemen laba, maka kemungkinan manajer mengungkapkan lebih banyak informasi dalam laporan keuangan semakin tinggi sejalan dengan perspektif efficient earnings management, dan tingkat pengungkapan berpengaruh signifikan negatif pada manajemen laba sejalan dengan perspektif opportunistic earnings management. Pembahasan ini menghasilkan hipotesis penelitian pertama yaitu: H1: Tingkat pengungkapan laporan keuangan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. 2.2.2 Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan, Manajemen Laba dan Kualitas Audit Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada pemegang saham khususnya dan calon investor pada umumnya. Laporan keuangan memberikan informasi yang berguna kepada para pengguna laporan keuangan pada umumnya untuk pembuatan keputusan.

Auditing mengurangi asimetri informasi yang ada antara manajemen dan stakeholders perusahaan dengan memungkinkan pihak di luar perusahaan untuk memverifikasi validitas laporan keuangan. Efektifitas auditing dan kemampuannya untuk mencegah manajemen laba diharapkan akan bervariasi dengan kualitas auditor. Kualitas audit biasanya dikaitkan dengan ukuran auditor yaitu Big dan non Big. Auditor Big dianggap memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor non Big. Auditor yang diklasifikasikan sebagai Big juga dianggap akan lebih mampu membatasi praktek manajemen laba dibandingkan dengan auditor non Big. Hal ini dibuktikan oleh penelitiannya DeAngelo (1981) yang menganalisis hubungan antara kualitas audit dan ukuran auditor. Hasil penelitian menyatakan bahwa auditor besar (Bigaudit) lebih berkualitas dibanding dengan auditor ukuran kecil (non-Big audit). Kecakapan profesional auditor ukuran besar lebih memiliki kemampuan teknikal untuk menemukan pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya dibandingkan dengan auditor ukuran kecil. Beberapa penelitian dilakukan untuk menguji apakah ada pengaruh antara kualitas auditor dengan luas pengungkapan yaitu antara lain; Lee et al., (1999) dan Hughes (1986) yang menemukan bahwa semakin tinggi kualitas auditor maka akan meningkatkan tingkat pengungkapan laporan keuangan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Subroto (2003) dan Benardi (2009) yang menyatakan bahwa ukuran KAP (auditor) berpengaruh positif terhadap variasi luas pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan. Becker et al., (1998) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kualitas audit dan manajemen laba. Auditor diharapkan dapat membatasi dan mengurangkan praktik manajemen laba serta membantu untuk meningkatkan kepercayaan pemegang saham dan pengguna laporan keuangan. Penelitian yang menguji hubungan kualitas audit dengan manajemen laba banyak dilakukan, antara lain; Krishnan (2002) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara stock return dan discretionary accrual yang lebih besar untuk perusahaan yang diaudit Big 6 dari perusahaan yang diaudit non Big 6. Ebrahim (2001) menyatakan bahwa kualitas audit mempunyai hubungan negatif dengan manajemen laba. Hal ini sejalan dengan penelitian Meutia (2004) yang menemukan bahwa terdapat hubungan negatif antara kualitas audit dengan absolute discretionary accrual, dimana KAP Big 5 lebih berkualitas dalam mendeteksi berlakunya manajemen laba di dalam suatu perusahaan. Pembahasan ini menghasilkan hipotesis kedua yaitu: H2: Semakin tinggi tingkat pengungkapan laporan keuangan akan semakin menurunkan manajemen laba, khususnya jika diaudit oleh auditor yang memiliki kualitas yang tinggi. III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian penjelasan (explanatory). Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang merupakan penelitian dengan penekanan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel-variabel penelitian secara angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik (Indriantoro dan Supomo, 2002: 12).

Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan Manufaktur yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia selama periode 2008 sampai 2009. Perusahaan Manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tahun 2008 sampai 2009 sebanyak 135 perusahaan. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling method, dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 72 perusahaan yang terdiri dari 31 perusahaan yang diaudit oleh KAP Big 4 dan 41 perusahaan yang diaudit oleh KAP non Big 4. Jadi jumlah data terobservasi diperoleh sebanyak 144 observasi. 3.3 Metode Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari Indonesia Stock Exchange (IDX), Fact Book tahun 2010, situs resmi BEI (www.idx.co.id) dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi dimana metode dokumentasi memuat kejadian masa lalu (Indriantoro dan Supomo, 2002: 147) dan studi literatur. 3.4 Definisi Konseptual dan Operasional Variabel Variabel dependen dalam penelitian ini adalah manajemen laba. Variabel independen penelitian adalah tingkat pengungkapan laporan keuangan, variabel moderasi penelitian adalah kualitas audit, dan variabel kontrolnya adalah ukuran perusahaan. Berikut ini adalah uraian dari variabelvariabel tersebut di atas. 3.4.1 Manajemen Laba Manajemen laba merupakan tindakan manajemen untuk menggunakan judgment dalam pelaporan keuangan dan dalam prosedur transaksi dengan tujuan untuk mempengaruhi kontraktual atau menyesatkan pihak stakeholders dalam pengambilan keputusan mengenai kinerja ekonomi perusahaan (Healy dan Wahlen, 1999). Manajemen laba dapat diukur melalui discretionary accruals (DACC) yang dihitung dengan cara menselisihkan

3.2

total accruals (TACC) dan nondiscretionary accruals (NDACC). Discretionary accruals dihitung dengan menggunakan model Modified Jones. Model Modified Jones yang merupakan perkembangan dari model Jones dapat mendeteksi manajemen laba lebih baik dibandingkan dengan model-model lainnya sejalan dengan hasil penelitian Dechow et al., (1995). Model perhitungan sebagai berikut: TACCit = EBXTit OCFit ...............(1) TACCit/Ai,t-1 = 1(1/A i,t1)+2((REVit-RECit)/A i,t-1)+3(PPEit/ A i,t-1) + it............(2) Berdasarkan persamaan regresi (2) di atas, NDACC dapat dihitung dengan memasukkan kembali koefisienkoefisien hasil regres ke dalam persamaan (3). NDACCit = 1(1/A i,t-1)+2 ((REVitRECit)/A i,t-1)+3 (PPEit/ A i,t-1) ..............(3) DACCit = (TACCit/Ai,t-1) NDACCit.(4) Keterangan : OCFit :Operating Cash Flow perusahaan i pada periode t NDACCit :Nondiscretionary accruals perusahaan i pada periode t DACCit :Discretionary accruals perusahaan i pada periode t A i,t-1 : Total assets perusahaan i TACCit :Total pada periode t-1 Accruals REVit perusahaan: Revenue perusahaan i pada periode t i pada periode t EBXTit :Earnings Before Extraordinary items perusahaan

i pada

periode t

RECit : Receivable perusahaan i pada periode t PPEit : Property, plant and equipment perusahaan i pada periode t : Error term 3.4.2 Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Tingkat pengungkapan laporan keuangan merupakan pengungkapan laporan tahunan yang terdiri atas pengungkapan keuangan dan bukan keuangan (Benardi, 2009). Untuk mengukur tingkat pengungkapan laporan keuangan dapat diproksikan dengan indeks pengungkapan. Daftar item pengungkapan yang digunakan dalam penelitian ini secara umum merujuk pada penelitian Wallace et al., (1994), Meek et al., (1995), Fitriany (2001) dan Subiyantoro (1997) seperti yang digunakan oleh Benardi (2009), dimana peraturan skoring indeks pengungkapan adalah sebagai berikut. 1Pemberian skor untuk setiap item pengungkapan dilakukan secara dikotomi, dimana item yang diungkapkan diberi nilai satu sementara jika item tersebut tidak diungkapkan diberi nilai nol. Dalam pemberian skor ini tidak ada pembobotan atas item pengungkapan. 2Skor yang diperoleh tiap perusahaan dijumlahkan untuk mendapatkan skor total. 3Penghitungan indeks pengungkapan (IP) tiap perusahaan dilakukan dengan cara membagi skor total tiap perusahaan dengan skor total yang diharapkan. 3.4.3 Kualitas Audit Kualitas audit didefinisikan sebagai kemungkinan bahwa auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran dalam sistem akuntansi klien (DeAngelo, 1981). Kualitas audit diproksikan dengan ukuran KAP, yaitu KAP besar (Big 4) dan KAP kecil (non Big 4). KAP yang berafiliasi dengan Big 4 yang sebelumnya disebut dengan Big 8, kemudian berubah menjadi Big 6 dan selanjutnya berubah lagi menjadi Big 5 mempunyai auditor yang berpengalaman dan berkualitas sehingga memungkinkan mereka bekerja lebih baik. Kualitas audit diukur dengan menggunakan variabel dummy dengan nilai 1 untuk auditor yang berkualitas tinggi (Big 4) dan nilai 0 untuk auditor yang berkualitas rendah (non Big 4). 3.4.4 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan ukuran

yang menggambarkan skala perusahaan pada periode tertentu. Besaran perusahaan atau skala perusahaan adalah ukuran perusahaan yang ditentukan dari jumlah total aset yang dimiliki perusahaan (Mpaata dan Sartono, 1997).

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diproksikan dengan log natural total aktiva. Total aktiva digunakan karena menunjukkan besarnya sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan, kemampuan memasuki pasar modal dan memperoleh penilaian kredit yang besar (Benardi, 2009). 3.5 Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah moderated regression analysis (MRA). MRA menggunakan pendekatan analitik yang mempertahankan integritas sampel dan memberikan dasar untuk mengontrol pengaruh variabel moderator (Ghozali, 2009: 203). Teknik ini dipilih karena penelitian ini dirancang untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan dimoderasi oleh variabel pemoderasi. Model teknik analisis tersebut dapat digambarkan pada skema sebagai berikut.

Berdasarkan kerangka model

.... (5) kondisi yang menunjukkan satu atau lebih variabel independen terdapat korelasi dengan variabel independen lainnya. Dengan demikian dalam multikolinearitas terdapat korelasi yang sempurna atau pasti diantara beberapa variabel independen di dalam model regresi. Adanya multikolinearitas dapat dilihat dari tolerance value atau nilai variance, Variance Inflation Factor (VIF). Batas dari nilai tolerance adalah 0,01 dan batas VIF adalah 10. Apabila nilai tolerance dibawah 0,01 atau nilai VIF diatas 10 maka terjadi multikolinearitas. 3. Uji Autokorelasi Uji autokoreIasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antar kesalahan penganggu (residual) pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan penganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Gangguan autokorelasi dapat dilihat dengan menggunakan uji Durbin Watson (Ghozali, 2009: 79). Apabila nilai DW lebih besar dari batas atas (du) dan kurang dari 4 du, maka dapat disimpulkan tidak terdapat autokorelasi.

analisis maka persamaan regresi penelitian adalah sebagai berikut. MLt = 0 + 1 IP + AUDIT t + 3 SIZE + 4 IP*AUDIT t + Keterangan: MLt : Manajemen laba pada tahun t yang diukur dengan diskresioner akrual IPt : Indeks pengungkapan pada tahun t. AUDIT t : Auditor, dengan nilai 1 jika KAP Big 4 dan 0 jika KAP non Big 4 SIZEt : Log natural total aset IP*AUDIT t

keuangan dengan kualitas audit, NDAC dan :Menunjukkan DAAC ditentukan dengan menggunakan crossinteraksi sectional modified Jones (1991) Model.

: Error term antara 3.5.1 Statistik Deskriptif indeks Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang pengungkapan dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar laporan deviasi, nilai maksimum dan nilai minimum. 3.5.2 Uji Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik digunakan untuk menguji apakah persamaan regresi yang telah ditentukan merupakan persamaan yang dapat menghasilkan estimasi yang tidak bias. Uji asumsi klasik ini terdiri dari: 1. Uji Normalitas Uji normalitas data digunakan dengan tujuan untuk mengetahui bahwa penaksir yang digunakan dalam model analisis tidak bias dan konsisten dimana dengan meningkatnya ukuran sampel secara tidak terbatas, penaksir mengarah ke (converage) nilai populasi yang sebenarnya. Model regresi yang baik adalah distribusi datanya normal atau mendekati normal. Uji normalitas data menggunakan analisis grafik dan uji statistik Kolmogorov Smirnov. 2. Uji Multikolinearitas Multikolinearitas adalah suatu ......................................

4. Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas merupakan suatu varian pengganggu yang tidak mempunyai varian yang sama untuk setiap observasi, sehingga mengakibatkan penaksiran regresi yang tidak efisien. Salah satu cara untuk menguji adanya heteroskedatesitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik plot Scatterplot antara variabel terikat dengan residualnya. Apabila pola pada grafik yang ditunjukkan dengan titiktitik membentuk suatu pola tertentu maka telah terjadi heteroskedatesitas dan sebaliknya apabila titik-titik grafik tidak membentuk suatu pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedatisitas. 3.5.3 Pengujian Hipotesis Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menafsir nilai aktual dapat diukur dari goodness of fit. Secara statistik, goodness of fit setidaknya dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F dan nilai statistik t (Ghozali, 2002: 83). 1. Koefisien Determinasi (R ) Koefisien determinasi (R ) bertujuan mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi antara satu dan nol. 2. Uji Keberartian Model (Uji statistik F) Uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Untuk menguji apakah semua parameter dalam model merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen digunakan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha). H0 : 1 = 2 = = k = 0 (artinya semua variabel independen bukan merupakan penjelas terhadap variabel dependen). Ha : 1 2 k 0 (artinya semua variabel independen merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen). Kriteria pengambilan keputusan dilakukan dengan membandingkan nilai statistik F dengan tingkat signifikansi p (nilai p), dengan tingkat signifikansi yang ditetapkan sebesar 5%. Jika nilai statistik F mempunyai nilai probabilitas (p) lebih kecil dari tingkat signifikansi = 5%, maka H0 ditolak dan Ha diterima;
2 2

dalam hal ini menyatakan bahwa semua variabel independen merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. 3. Uji Koefisien Regresi (Uji statistik t) Uji statistik t digunakan untuk menguji signifikansi konstanta setiap variabel independen. Apabila tingkat signifikansi yang diperoleh (p-value) lebih kecil dari 0,05 maka Ho dapat ditolak atau dengan = 5% variabel independen tersebut berhubungan secara statistis terhadap variabel dependennya. Pengujian koefisien regresi masing masing variabel: Ho : i = 0 (suatu variabel independen bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen). Ha : i 0 (suatu variabel independen merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen). Kriteria pengambilan keputusan dilakukan dengan membandingkan nilai probabilitas statistik t (nilai p) dengan tingkat signifikansi yang ditetapkan sebesar 5%. Jika nilai probabilitas statistik t lebih kecil dari tingkat signifikansi 5%, maka H0 ditolak dan Ha diterima, dan hal ini menyatakan bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen.

3.5.4

Pengujian terhadap Problem Endogeneity Pengujian terhadap problem endogeneity ini dilakukan karena dikhawatirkan variabel independen bisa berubah posisi menjadi variabel dependen dan sebaliknya karena adanya hubungan sebab akibat. Untuk memastikan bahwa dalam penelitian ini tidak terjadi problem endogeneity yaitu tingkat pengungkapan laporan keuangan yang merupakan variabel independen bisa berada diposisi sebagai variabel dependen maka peneliti akan me-lag-kan 1 tahun indeks pengungkapan laporan keuangan dari tahun observasi, sehingga dapat diketahui bahwa tingkat pengungkapan laporan keuangan memang benar dan konsisten sebagai variabel independen pada tahun pengamatan tersebut. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian Obyek penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2009. Jumlah perusahaan Manufaktur yang secara berturut-turut terdaftar di BEI tahun 2008-2009 adalah sebanyak 135 perusahaan. Berdasarkan hasil dari purposive sampling method yang dilakukan maka diperoleh jumlah sampel sebanyak 72 perusahaan, dimana 31 perusahaan diaudit oleh KAP Big 4 dan 41 perusahaan diaudit KAP non Big 4, sehingga data terobservasi yang diperoleh selama 2 tahun pengamatan sebanyak 144 observasi. Adapun rincian nama-nama perusahaan yang dijadikan sampel dapat di lihat pada lampiran 2. 4.2 Statistik Deskriptif Data penelitian menggunakan

empat terdiri dari 3 variabel numerik dan 1 variabel kategori un yaitu kualitas audit. Pengukuran statistik mum deskriptif dalam rata penelitian ini untuk variabel numerik Standar berupa nilai minimum Manajemen -0,2729 dan maksimum, nilai ratarata serta 0,2298 deviasi standar.-0,0021 Tabel 4.1a menyajikan statistik deskriptif 0,09126 variabel numerik untuk Laba yaitu manajemen laba, tingkat pengungkapan laporan keuangan dan ukuran perusahaan yang berupa nilai minimum dan maksimum, nilai rata-rata serta deviasi standar. Tingkat 0,29 Tabel 4.1a Hasil Uji Statistik 0,66 Deskriptif 0,4360
0,08232 Pengungkapa

Variabel Minim Maksi variabel, Ratayang Deviasi

Sumber: Lampiran 3

Pada tabel 4.1a di atas menjelaskan bahwa variabel manajemen laba (ML), memiliki nilai n -0,2729 minimum sebesarLaporan dan nilai maksimum sebesar 0,2298, sedangkan nilai rata-rata sebesar -0,0021 yang berart bahwai nilai ratarata dari seluruh sampel penelitian adalah sebesar -0,0021 dengan deviasi standar Keuangan sebesar 0,09126. Adapun deskripsi sepuluh perusahaan yang Variabel tingkat pengungkapan laporan keuangan (IP), memiliki nilai minimum sebesar 0,29 dan nilai maksimum 0,66. Hal ini berarti Ukuran nilai indeks pengungkapan terendah dari 4,73 sampel penelitian 7,95 adalah sebesar 0,29 dan 5,9514 nilai indeks pengungkapan tertinggi sebesar 0,59199 Perusahaan 0,66. Nilai rata-rata secara keseluruhan sebesar 0,4360, hal ini berarti rata-rata indeks pengungkapan sampel penelitian sebesar 0,4360 dengan deviasi standar sebesar 0,08232. Tabel 4.1b menyajikan statistik deskriptif untuk variabel kategori yaitu kualitas audit untuk mengetahui distribusi frekuensinya.

Tabel 4.1b Gambar 4.4 Hasil Uji Statistik Deskriptif P-P Plot Untuk Memeriksa Variabel Kategori Frekue Persenta Distribusi Normal Data Residual nsi se Normal P-P Plot of Regression Standardized
Residual

Kualitas Non Big 4 82 56,9 Audit Big 4 62 43,1

Dependent Variable: ML

(AUDIT) Sumber: Lampiran 3

1.0

0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 Tabel 4.1b di atas menjelaskan bahwa variabel kualitas audit (AUDIT), dari 144 pengamatan, terdapat 82 atau 56,9% dari auditor non Big 4, dan Expected
0.8

Cum Prob 0.6 0.4

sisanya 62 pengamatan atau 43,1% dari auditor Big 4. Hasil ini mengindikasikan bahwa sebagian besar perusahaan sampel (56,9%) tidak menggunakan auditor dengan kualitas yang tinggi untuk mengaudit laporan keuangannya.

menguji apakah dalam sebuah model regresi, 4.3 nilai Hasil Pengujian Asumsi Klasik residual mempunyai distribusi data normal atau tidak. Model regresi yang baik 4.3.1 memiliki nilai residual Uji Normalitas yang berdistribusi normal atau mendekati normal. Apabila ada Uji normalitas bertujuan datanya data yang terletak jauh dari sebaranuntuk maka data tersebut dikatakan tidak normal (tidak berdistribusi normal), dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut. a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. b. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
0.2 0.0 Observed

terjadinya korelasi diantara data pengamatan. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai uji Durbin Watson sebesar 1,850. Suatu persamaan regresi dikatakan telah memenuhi asumsi tidak terjadi autokorelasi bila nilai Uji Durbin-Watson (DW) mendekati dua atau berada diantara dU dan (4 - dU). Nilai statistik Durbin-Watson dU dengan n = 144 dan k = 4 adalah sebesar 1,785 sehingga nilai (4-dU) adalah 2,215. Nilai dL adalah 1,710 sehingga nilai (4-dL) adalah 2,29. Hasil DW = 1,850 berada pada Variabel kisaran dU hingga (4-dU) jadi dapat VIF disimpulkan Tolerance terdapat autokorelasi tidak Asumsi pada data pengamatan.

Multikolinearitas IP

Cum Prob

Tidak terjadi 3,081 0,325 multikolinearitas AUDIT

Dari Gambar 4.4 di atas dapat dilihat bahwa asumsi normalitas telah terpenuhi, sebaran data memiliki pola berbentuk garis lurus di sekitar garis diagonal.

4.3.2 Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) dalam persamaan regresi. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Dengan melihat Variance Inflation Factor, apabila nilai VIF > 10 maka menunjukkan adanya multikolinearitas dan apabila nilai VIF <10 maka tidak terjadi multikolinearitas. Tabel 4.2 Hasil Uji Multikolinearitas

Tidak terjadi 1,600 0,625 multikolinearitas Size (Log)

Tidak terjadi 1,553 0,644 multikolinearitas IP*AUDIT

Tidak terjadi 2,833 0,353 multikolinearitas

Sumber: Lampiran 4

4.3.3 Uji Autokorelasi Autokorelasi didefinisikan sebagai

4.3.4 Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas berguna untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas nilai prediksi variabel dependen dengan nilai residualnya. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang pengungkapan teratur (bergelombang, melebar laporan kemudian menyempit), maka keuangan mengindikasikan telah terjadi berpengaruh heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola negatif terhadap yang jelas, serta titik-titik menyebar di manajemen laba. sumbu atas dan di bawah angka 0 pada Y secara acak, maka tidak terjadi heteroskedastisitas atau model homoskedastisitas. Gambar 4.5 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Scatterplot Dependent Variable: ML
Regression Standardized Residual 3

-1

-2

-3 -3-2-101 2

Berdasarkan grafik scatterplot gambar 4.5 nampak bahwa titik-titik tersebar di atas dan di bawah nol pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model. 4.4 Uji Ketepatan Model dan Koefisien Determinasi 1. Pengujian Ketepatan Model Regression Uji Standardized Predicted Value model dilakukan dengan menggunakan uji statistik F. Hasil uji F seperti yang terlihat pada lampiran 4 menunjukkan bahwa, nilai F statistik sebesar 7,277 adalah signifikan dengan nilai p sebesar 0,000 (signifikan pada =5%). Hal ini berarti bahwa semua variabel independen yang meliputi tingkat pengungkapan laporan keuangan (IP), kualitas audit (AUDIT) dan ukuran perusahaan (SIZE) merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel manajemen laba. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model regresi dapat digunakan untuk memprediksi manajemen laba. 2. Pengujian Koefisien Determinasi

Pengujian koefisien determinasi (R ) bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Berdasarkan hasil pengujian statistik seperti yang terlihat pada lampiran 4 dapat diketahui bahwa nilai R Square adalah sebesar 0,173 atau 17,3%, sementara nilai Adjusted R Square adalah 0,149 atau 14,9%. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen laba dipengaruhi oleh ketiga variabel bebas yaitu; tingkat pengungkapan laporan keuangan, kualitas audit dan ukuran perusahaan sebesar 14,9% sedangkan sisanya yaitu 85,1% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model. 4.5 Hasil Pengujian dan Pembahasan Hipotesis 4.5.1 Pengaruh Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Terhadap Manajemen Laba Hipotesis pertama menyatakan bahwa tingkat pengungkapan laporan keuangan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Berdasarkan hasil uji regresi pada tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan laporan keuangan memiliki nilai p sebesar 0,007 (signifikan secara statistik pada =5%), nilai t sebesar -2,755 ,dan nilai koefisien regresi sebesar -0,413 (negatif). Koefisien IP sebesar -0,413 menyatakan bahwa setiap penambahan pengungkapan laporan keuangan sebesar 1% (0,01) akan menurunkan manajemen laba sebesar (0,01x-0,413=-0,0413). Koefisien yang negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengungkapan laporan keuangan maka manajemen laba semakin rendah. Oleh karena itu dapat dinyatakan, bahwa pengaruh tingkat
2

Hasil ini mengindikasikan bahwa pada saat perusahaan menambah informasi yang diungkapkan dalam laporan keuangan secara sukarela maka asimetri informasi antara pembuat dan pemakai laporan keuangan berkurang sehingga dapat menekan terjadinya manajemen laba. Perusahaan dengan tingkat pengungkapan yang rendah cenderung akan melakukan manajemen laba. Jadi hipotesis pertama diterima.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lobo dan Zhou (2001) dimana itu tingkat pengungkapan negatif laporan terhadap keuangan berpengaruh

manajemen laba. Di Indonesia hasil penelitian ini juga memperkuat hasil penelitian yang dilakukan Siregar dan Bachtiar (2003) dan Halim et al., (2005) yang menyatakan laporan bahwa tingkat pengungkapan keuangan

berpengaruh negatif terhadap manajemen laba sejalan dengan perspektif opportunistic earnings management.

4.5.2 Pengaruh Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Terhadap Manajemen Laba dengan Kualitas Audit Sebagai Variabel Pemoderasi Hipotesis kedua menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pengungkapan laporan keuangan akan semakin menurunkan manajemen laba, khususnya jika diaudit oleh auditor yang memiliki kualitas yang tinggi. Tabel 4.3 menunjukkan hasil regresi untuk melihat pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan terhadap manajemen laba dengan kualitas audit sebagai variabel pemoderasi. Hasil regresi menunjukkan bahwa kualitas audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Hal ini terlihat dari besarnya nilai t untuk variabel kualitas audit sebesar -2,545 dan nilai koefisien regresi sebesar -0,046 (negatif) dengan signifikansi 0,012 (signifikan secara statistik pada =5%). Variabel interaksi antara tingkat pengungkapan laporan keuangan dengan kualitas audit secara statistik tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini terlihat dari hasil uji regresi yang menunjukkan bahwa variabel interaksi antara tingkat pengungkapan laporan keuangan dengan kualitas audit memiliki nilai t sebesar 0,753, nilai koefisien regresi 0,013 dan nilai p sebesar 0,453 (tidak signifikan secara statistik pada =5%). Jadi hipotesis kedua ditolak. Variabel interaksi antara tingkat pengungkapan laporan keuangan dengan kualitas audit tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Hasil ini menarik karena meskipun secara parsial kualitas audit itu mempunyai pengaruh signifikan negatif terhadap manajemen laba sejalan dengan hasil penelitian Becker et al., (1998), Ebrahim (2001), Krishnan(2003) dan Meutia (2004) yang menyatakan

bahwa KAP Big 4 lebih berkualitas dalam mendeteksi berlakunya manajemen laba di dalam suatu perusahaan namun hasil interaksi antara tingkat pengungkapan laporan keuangan dengan kualitas audit ternyata tidak signifikan berpengaruh terhadap hubungan antara tingkat pengungkapan laporan keuangan dengan manajemen laba. Tingkat pengungkapan laporan keuangan antara perusahaan yang diaudit oleh auditor yang berkualitas tinggi dengan yang tidak diaudit dengan auditor berkualitas tinggi ternyata tidak ada perbedaan yang signifikan sehingga dapat mempengaruhi manajemen untuk tidak melakukan manajemen laba. Hasil ini dapat dilihat secara lebih detail melalui grafik yang terdapat pada lampiran 4, dimana dalam grafik tersebut dapat terlihat bahwasanya kualitas audit tidak terbukti dapat memperkuat ataupun memperlemah pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan terhadap manajemen laba.

4.6 Hasil Pengujian Problem Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu antara lain jika Endogeneity dilihat dari kegunaan pengauditan itu sendiri yang salah satunya adalah untuk mengurangi asimetri informasi yang ada Pengujian ternyata tidak terhadap mempengaruhi dapat adanya manajemen untuk tidak melakukan manajemen laba, hal ini disebabkan karena pengauditan itu sendiri memang tidak ditujukan untuk mendeteksi manajemen laba akan tetapi untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan. Selain itu, adanya faktor lain yang cukup berperan adalah rendahnya tuntutan litigasi yang dihadapi oleh KAP membuat pengawasan yang dilakukan oleh KAP menjadi semakin tidak maksimal. Hasil penelitian Piot dan Janin (2005) mengungkapkan bahwa perusahaan yang diaudit big 4 tidak mengalami penurunan manajemen laba karena rendahnya tuntutan litigasi yang dihadapi oleh KAP, hal ini mengindikasikan bahwa apabila risiko tuntutan litigasi tinggi maka auditor akan meningkatkan kewaspadaan terkait kemungkinan adanya perekayasaan laba pada laporan keuangan yang disusun manajemen. Faktor lain yang juga cukup berperan adalah adanya hubungan saling ketergantungan antara manajemen dan KAP (Isnugrahadi, 2009). Manajemen membutuhkan KAP untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan yang disusunnya, sedangkan KAP yang biasanya dipilih oleh manajemen atas persetujuan komite audit membutuhkan perusahaan sebagai problem endogeneity ini dilakukan untuk menyakinkan peneliti bahwa hasil penelitian ini tidak bias, dimana posisi variabel independen dan juga variabel dependen dalam penelitian ini benar-benar konsisten menjadi variabel independen dan dependen dalam tahun pengamatan. Hal ini terbukti dari hasil pengujian yang dilakukan terhadap problem endogeneity dengan me-lagkan 1 tahun variabel independennya yaitu tingkat pengungkapan laporan keuangan. Berdasarkan hasil uji statistik pada lampiran 5 di dapatkan hasil bahwa tingkat pengungkapan laporan keuangan konsisten berpengaruh signifikan negatif terhadap manajemen laba sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi problem endogeneity. 4.7 Implikasi Hasil Penelitian Berdasarkan analisis dan

sumber pendapatan atas jasa pengauditan laporan keuangan perusahaan. Kondisi ini membuat pengawasan yang dilakukan auditor terhadap perusahaan (manajemen) menjadi tidak maksimal. 4.5.3 Hasil Pengujian dan Pembahasan Variabel Kontrol Penelitian ini menggunakan variabel kontrol ukuran perusahaan (SIZE). Berdasarkan hasil pengujian terhadap variabel kontrol dihasilkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan positif secara statistik antara ukuran perusahaan dan manajemen laba. Hal ini terbukti dari hasil uji regresi seperti yang dapat dilihat pada tabel 4.3 yang menunjukkan bahwa nilai p ukuran perusahaan sebesar 0,043 (signifikan pada =5%), nilai t sebesar 2,038 serta nilai koefisien regresi sebesar 0,030 (positif). Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin besar perusahaan, semakin kompleks operasionalnya dan semakin banyak kesempatan bagi manajer untuk melakukan manajemen laba melalui dasar akrual. Penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Moses (1987), Michelson et al., (1995), Lobo dan Zhou (2001) serta Defond dan Park (1997), yang menemukan bahwa perusahaanperusahaan besar memiliki insentif yang lebih besar untuk merubah pendapatan dibandingkan dengan perusahaanperusahaan kecil, dimana perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang lebih kompleks sehingga memungkinkan dilakukannya manajemen laba. pembahasan hasil penelitan, penelitian ini secara umum mendukung teori keagenan (agency theory). Tingginya tuntutan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan yang diungkapkan oleh pihak manajer terhadap pihak-pihak yang membutuhkan informasi perusahaan ini adalah untuk mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang dapat merugikan perusahaan dan juga pengguna laporan keuangan, misalnya saja dengan melakukan manajemen laba yang dilandasi oleh sifat oportunistik dari pihak manajer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika manajer menggungkapkan informasi yang relatif tinggi maka tindakan manajemen laba akan

cenderung semakin kecil, hal ini juga berarti bahwa jika perusahaan itu mengungkapkan sedikit informasi maka manajemen labanya akan semakin tinggi. Hal inilah yang mengindikasikan betapa pentingnya pengungkapan yang mendekati full disclosure yang dibutuhkan oleh pihakpihak yang membutuhkan informasi perusahaan untuk mencegah terjadinya asimetri informasi yang kemudian akan memancing terjadinya manajemen laba. Hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa keterlibatan profesi akuntan juga mempunyai peran yang penting. Kualitas audit yang biasanya diklasifikasikan terhadap Big 4 dan non Big 4 merupakan satu ukuran yang cukup penting dalam menilai validitas informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Implikasi lain dari penelitian ini bagi pengatur ataupun pembuat standar akuntansi adalah semakin minimum pengungkapan yang diwajibkan untuk perusahaan dapat memainkan peran yang penting atas kemampuan perusahaan untuk melakukan manajemen laba. Oleh karena itu, hasil penelitian ini mendukung upaya Bapepam untuk memberikan prasyarat tingkat pengungkapan yang lebih ketat pada perusahaan yang menjual sahamnya di bursa. Bapepam memberikan prasyaratan yang lebih banyak bagi perusahaan yang ingin menjual sahamnya di bursa saham. Semakin lengkap dan luas tingkat pengungkapan akan memberikan efek berkurangnya fleksibilitas manajer untuk melakukan manajemen laba. Selain itu dengan membatasi diskresi pada standar akuntansi keuangan akan meningkatkan tingkat keinformatifan dari laba, karena hal ini dapat membatasi manajemen laba sehingga V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Penelitian ini menguji pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan terhadap manajemen laba dengan kualitas audit sebagai variabel pemoderasi. Studi ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan Manufaktur yang go public di Indonesia selama periode 2008-2009. Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa tingkat pengungkapan laporan keuangan berpengaruh negatif terhadap manajemen

laba. Semakin tinggi tingkat pengungkapan laporan keuangan maka semakin menekan tindakan manajemen laba. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Lobo dan Zhou (2001), Siregar dan Bachtiar (2003) serta Halim et al., (2005), yang menyatakan bahwa tingkat pengungkapan laporan keuangan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba sejalan dengan perspektif opportunistic earnings managment.

dapat meningkatkan tingkat komparabilitas laporan keuangan perusahaan.

Hasil lain dari penelitian ini mengungkapkan bahwa interaksi antara tingkat pengungkapan laporan keuangan dengan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini berarti kualitas audit tidak dapat berfungsi sebagai variabel yang memoderasi pengaruh tingkat pengungkapan laporan keuangan terhadap manajemen laba. Walaupun secara parsial kualitas audit itu berpengaruh signifikan negatif terhadap manajemen laba. Hal ini disebabkan antara lain karena pengauditan itu sendiri memang tidak ditujukan untuk mendeteksi manajemen laba akan tetapi untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan. Rendahnya tuntutan litigasi yang dihadapi oleh KAP membuat pengawasan yang dilakukan oleh KAP menjadi semakin tidak maksimal. Selain itu, faktor lain yang juga cukup berperan adalah adanya hubungan saling ketergantungan antara manajemen dan KAP sehingga kondisi ini membuat pengawasan yang dilakukan auditor terhadap perusahaan (manajemen) menjadi tidak maksimal. Ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol dalam penelitian ini juga berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Penelitian ini mendukung hasil penelitian Moses (1987), Michelson et al., (1995), Lobo dan Zhou (2001) serta Defond dan Park (1997), yang menemukan bahwa perusahaan-perusahaan besar memiliki insentif yang lebih besar untuk merubah pendapatan dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan kecil, dimana perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang lebih kompleks sehingga memungkinkan dilakukannya manajemen laba. 5.2 Saran-saran 1.Pemerintah melalui Bapepam dapat memperketat peraturan mengenai standar minimum yang harus diungkapkan oleh pihak perusahaan untuk meningkatkan kebermanfaatan informasi sehingga dapat mencegah perilaku yang dapat merugikan perusahaan dan pihak lain dalam jangka panjang. 2.Perusahaan lebih meningkatkan transparansi dan akuntabilitas melalui pengungkapan laporan keuangan yang semakin tinggi sehingga diharapkan dapat mencegah perilaku oportunistik yang dilakukan oleh manajer serta meningkatkan kepercayaan investor

terhadap perusahaan. 3.Kantor akuntan publik dapat meningkatkan kualitas auditornya untuk menjadi auditor yang independen dan dapat menghasilkan audit yang berkualitas serta dapat mendeteksi dan melaporkan salah saji material dalam laporan keuangan perusahaan. 5.3 Keterbatasan Penelitian Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini yang nantinya dapat memberikan arah bagi penelitian selanjutnya, yaitu sebagai berikut.

1Sampel yang diambil dalam penelitian ini hanya pada perusahaan industri Manufaktur, sehingga hasil penelitian ini hanya dapat untuk generalisasi perusahaan pada sektor Manufaktur saja tidak bisa digeneralisasi untuk semua perusahaan yang listing di BEI, hal ini disebabkan adanya perbedaan karakteristik pelaporan keuangan antara perusahaan sektor Manufaktur dan non Manufaktur khususnya perusahaan sektor finansial. 2Penelitian ini hanya mengukur kualitas audit dengan proksi ukuran KAP saja tidak menggunakan ukuran yang lain. 3Penelitian ini hanya menggunakan Jones modified model untuk menghitung akrual diskresioner sebagai proksi dari manajemen laba. 4Skor indeks pengungkapan dinilai oleh peneliti berdasarkan interpretasi terhadap informasi laporan tahunan perusahaan sampel, sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan penilaian antar perusahaan karena penafsiran peneliti yang subyektif. 5Implikasi Untuk Penelitian Selanjutnya Keterbatasan dalam penelitian ini dapat memberi arah bagi pengembangan penelitian selanjutnya. 1Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah sampel perusahaan tidak hanya pada perusahaan Manufaktur saja namun juga pada perusahaan nonManufaktur sehingga dapat lebih mendukung generalisasi. 2Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan pengukuran kualitas audit menggunakan proksi variabel yang lain dengan menggunakan data primer, misalkan kesesuaian pemeriksaan dengan standar auditing, keterlibatan pimpinan audit terhadap pemeriksaan audit, pelaksanaan pekerjaan lapangan dengan tepat. 1Peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan proksi manajemen laba yang berbeda untuk mengetahui sensivitas hasil pengujian, seperti earnings smoothing, earnings losses dan decreases avoidance. 2Peneliti selanjutnya dapat mengurangi masalah subyektifitas dalam penilaian skor indeks pengungkapan dengan melibatkan beberapa peneliti dalam menilai laporan tahunan suatu perusahaan sampel. Selanjutnya peneliti dapat menggunakan skor rata-rata pengungkapan dalam pengukuran tingkat pengungkapan yang diperoleh dengan cara melibatkan beberapa peneliti tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Ahmed, K dan J. K. Courtis. 1999. Associations Between Corporate Characteristics and Disclosure Levels in Annual Reports: A MetaAnalysis. British Accounting Review, 31: 35-61. Aitken, M., C. Hooper dan J. Pickering. 1997. Determinants of Voluntary Disclosure of Segment Information: A Re-examination of The Role of Diversification Strategy. Accounting and Finance, 37: 89-109. Albrecth, W. D dan F. M. Richardson. 1990. Income Smoothing by Economy Sector. Journal of Business Finance and Accounting, 17 (5): 713-730. Becker, C., M. DeFond, J. Jiambalvo dan K. Subramanyam. 1998. The Effect of Audit Quality on Earnings Management.

Contemporary Accounting Research, 15 (Spring): 1-24. Benardi, M. 2009. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Luas Pengungkapan dan Implikasinya Terhadap Asimetri Informasi (Studi Pada PerusahaanPerusahaan Sektor Manufaktur Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia). Unpublished Tesis S2, Malang: Universitas Brawijaya. Beattie, V., S. Brown., D. Erwers., B. John., S. Manson., D. Thomas, dan M. Turner. 1994. Extraordinary Items and Income Smoothing: A Positive Accounting Approach. Journal Business & Accounting, 21 (6): 791811. Bloomfield, R. J dan J. Wilks. 2000. Disclosure Effects in The Laboratory: Liquidity, Depth and The Cost of Capital. The Accounting Review, 75 (1):13-41. Boediono, G. S. B. 2005. Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba dengan Menggunakan Analisis Jalur. Solo: Simposium Nasional Akuntansi 8: 172-194. Botosan, C. A. 1997. Disclosure Level and The Cost Of Equity Capital. The Accounting Review,72 (3): 323-349. Cahan, S. F. 1992. The Effect of Antitrust investigations on Discretionary Accruals: A Refined Test of the Political-Cost Hypothesis. The Accounting Review, 67 (1): 77-95.

Size, Stock Market Listing and Industry Type on Disclosure in The Annual Reports of Japanese Listed Corporations. Accounting and Business Research, 22 (87): 229237. Chow, C. W dan A. Wong-Boren. 1987. Voluntary Financial Disclosure by Mexican Corporation. The Accounting Review, (July): 533 540. Creswell, A. T., J. R. Francis dan S. L. Taylor. 1995. Auditor Brand Name Reputations and Industry Specialization. Journal of Accounting and Economic, 20: 297-322. Davidson, R. A dan D. Neu. 1993. A Note on the Association Between Audit Firm Size and Audit Quality. Contemporary Accounting Research, 9 (Spring): 479-488. DeAngelo, L. 1981. Auditor Size and Audit Quality. Journal of Accounting and Economics, 3 (3):183-199. Dechow, P. M., R .G. Sloan dan A. P. Sweeney. 1995. Detecting Earnings Management. The Accounting Review, 70: 193-225. . 1994. Accounting Earnings and Cash Flows as Measures of Firm Performance: The Role of Accounting Accruals. Journal of Accounting and Economics, 18: 342. DeFond, M dan C. Park. 1997. Smoothing income in Anticipation of Future Earnings.

22

Cooke, T. E. 1992. The Impact of

Journal of Accounting and Economic, 23 (July): 115-139. dan J. Jiambalvo. 1993. Factors Related to Auditor-Client Disagreements Over

. 1992. The Association Between Changes in Client Firm Agency Costs and Auditor Switching. Auditing: A Journal of Practice and Theory, 11 (1): 16-31. Income-Increasing Methods. dan J. Jiambalvo. 1991. Incidence and Circumstances of Accounting Errors. The Contemporary Accounting Review, 66 (July): 643-655. Accounting Research, 9: 411-431. Departemen Keuangan RI, Bapepam. 2006. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor Kep-134/BL/2006 tentang Kewajiban penyampaian Laporan Tahunan Bagi Emiten atau Perusahaan Publik. _________. 2002. Surat Edaran Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor No.SE02/PM/2002 tentang Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Oleh Emiten atau Perusahaan Publik Industri Manufaktur. ________. 2000. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor Kep-06/PM/2000 tentang Perubahan Peraturan Nomor VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan. Dempsey, S. J., H. G. Hunt III dan N. W. Schroeder. 1993. Earning Management and Corporate Ownership Structure: An Examination of Extraordinary Item Reporting. Journal of Business Finance & Accounting, 20 (4): 479-500. Diomond, W. D dan R. E. Verrecchia. 1991. Disclousure, Liquidity, and The Cost of Capital. The Journal of Finance, 46 (4):13251359. Dopuch, N dan D. Simunic. 1982. Competition in Auditing: An Assessment. Paper Presented at Symposium on Auditing Research IV, University of Illinois at UrbanaChampaign. Dye, R. 1988. Earnings Management in an Overlapping Generations Model. Journal of Accounting Research, 26 (Autumn): 195-235. Ebrahim, A. 2001. Auditing Quality, Auditor Tenure, Client Importance, and Earnings Management: An additional Evidence. Auditing Conference Paper. Elliot, R. K dan P. D. Jacobson. 1994. Costs and Benefits of Business Information Disclosure. Accounting Horizons, 8(4): 80-96 Field, T. D., T. Z. Lys dan L. Vincent. 2001. Empirical Research on Accounting Choice. Journal of Accountinng and Economics, 31: 255-307. Fitriany. 2001. Signifikansi Perbedaan Tingkat Kelengkapan Wajib dan Sukarela pada Laporan Keuangan Perusahaan Publik yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Bandung: Simposium Nasional Akuntansi IV: 133-153.

Francis, J dan E. Wilson. 1988. Auditor Changes: A Joint Test of Theories Relating to Agency Costs and Auditor Differentiation. The Accounting Review, 63 (October): 663-682. Ghozali, I. 2009. Ekonometrika: Teori, Konsep dan Aplikasi dengan SPSS 17. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. . 2002. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Glosten, L dan P. Milgrom. 1985. Bid, Ask and Transaction Prices in a Specialist Market with Heteogeneouly Informed Traders. Journal of Financial Economics, 26 (March): 71-100. Gumanti, T. A. 2001. Earning Management dalam Penawaran Saham Perdana di BEJ. Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 4 (2): 165-183. Halim, J., C. Meiden dan R. L. Tobing. Manufaktur yang Termasuk dalam LQ-45. Solo: Simposium Nasional Akuntansi VIII: 117-135. Handajani, L., Sutrisno dan G. Chandrarin. 2009. The Effect of Earnings Management and Corporate Governance Mechanism to Corporate Social Responsibility Disclosure: An Empirical Study at Public Companies in Indonesia Stock Exchange. The Indonesian Journal of Accounting Research, 12 (3): 233-248. Healy, P. M dan K. G. Palepu. 2000. A Review of The Empirical Disclosure Literature. Working Paper. Prepared for The 2000 JAE Conference. dan J. Wahlen. 1999. A Review of The Earnings Management Literature and Its 2005. Implications for Standard Setting. Accounting Horizons, 13 (4): 365-383. Pengaruh Manajemen . 1985. The Effect of Bonus Schemes on Accounting Decisions. Journal of Laba Accounting and Economics, 7: 85-107. Pada Tingkat Hughes, P. 1986. Signaling by Direct Disclosure Under Asymmetric Information. Pengungkapan Journal of AccountingLaporan and Economics, 8: 119 Keuangan 142. Pada Perusahaan Imhoff, E dan J. Thomas. 1994. Accounting Quality, In Asset Valuation. The Center for Economic and Management Research. The University of Oklahoma: 25-53. Indriantoro, N dan B. Supomo. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE. Isnugrahadi, I. 2009. Pengaruh Kecakapan Managerial Terhadap Managemen Laba Dengan Kualitas Auditor Sebagai Variabel Pemoderasi. Unpublished Tesis S2, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Jensen, M dan W. Meckling. 1976. Theory of the Firm: Managerial Behaviour, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, 3: 305-360. Kinney, W dan R. Martin. 1994. Does Auditing Reduce Bias in Financial Reporting? A Review of AuditRelated Adjustment studies. Auditing: A Journal of Practise and Theory, 13: 149-156. Krishnan, G. 2002. Audit Quality and The Pricing of Discretionary Accruals. Auditing: A Journal of Practice and Theory, 22 (1): 109126 Koeswantoyo. 2009. Analisis VariabelVariabel Yang Berpengaruh Terhadap Manajemen Laba (Studi Pada Perusahaan Consumer Goods Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia). Unpublished Tesis S2, Malang: Universitas Brawijaya. 377. Lang, M. H dan R. J. Lundholm. 1996. Corporate Disclosure Policy and Analyst Behavior. The Accounting Review, 71 (4): 467 492. Lee, B. B dan B. Choi. 2002. Company Size, Auditor Type and Earnings Management. Journal of Forensic Accounting, 3: 27-50. Lee, P., D. Stokes dan T. Walter. 1999. The Association between Audit Quality, Accounting Disclosures and Firm-Specific Risk: Evidence from The Australian IPO Market. Social Science Research Network Electronic Paper Collection. Lobo, G. J dan J. Zhou. 2001. Disclosure Quality And Earnings Management. Social Science Research Network Electronic Paper Collection. Mardiyah, A. A. 2002. Pengaruh Informasi Asimetri dan Disclosure terhadap Cost of Capital. Jurnal Riset Akuntansi

Indonesia, 5 (2): 229-256. Meek, G. K., B. R. Clare dan S. J. Gray. 1995. Factors Influencing Voluntary Annual Report Disclosures by U.S., U.K., and Continental European Multinational Corporisons. Journal of International Business Studies, 26 (Third Quater): 555 572. Meutia, I. 2004. Pengaruh Independensi Auditor Terhadap Manajemen Laba Untuk KAP Big 5 dan Non Big 5. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 7 (3): 333-350. Michelson, S. E., J. J. Wagner dan C. W. Wootton. 1995. A Market Based Analysis of Income Smoothing. Journal of Business Finance and Accounting, 22 (8): 1179-1193. Moses, D. O. 1987. Income Smoothing and Incentives: Empirical Using Accounting Changes. The Accounting Review, 72 (2): 259

Mpaata, K. A dan A. Sartono. 1997. Factor Determining Price-Earning (P/E) Ratio. Kelola, 15 (6): 133-150. Naim, A dan F. Rakhman. 2000. Analisis Hubungan antara Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan dengan Struktur Modal dan Tipe Kepemilikan Perusahaan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 15 (1).

Palmrose, Z. 1988. An Analysis of Auditor Litigation and Audit Service Quality. The Accounting Review, 63: 55-73. Piot, C dan R. Janin. 2005. Audit Quality and Earnings Management in France. Social Science Research Network Electronic Paper Collection. Prayogi. 2003. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Luas Pengungkapan Sukarela laporan Keuangan Tahunan Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Unpublished Tesis S2, Semarang: Universitas Diponegoro. Richardson, V. J. 2000. Information Asymmetry And Earnings Management: Some Evidence. Review of Quantitative Finance and Accounting, 5 (4): 325-347. Sanjaya, I. P. S. 2008. Auditor Eksternal, Komite Audit, dan Manajemen Laba. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 11 (1): 97-116. Scott, W. R. 2009. Financial Accounting Theory 5 edition. Canada: Pearson Prentice Hall.
th

Subiyantoro, E. 1997. Hubungan antara Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan dengan Karakteristik Perusahaan Publik di Indonesia. Unpublished Tesis S2, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Subroto, B. 2003. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Kepada Ketentuan Pengungkapan Wajib oleh Perusahaan Publik dan Implikasinya terhadap Kepercayaan Para Investor di Pasar Modal. Unpublished Desertasi S3, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Sugiyono. 1999. Metode Penelitian. Bandung: Penerbit Alfabeta. Sunarto. 2003. Corporate Governance dan Kinerja Saham. Fokus Ekonomi, 2 (3): 240-257. Suripto, B dan Z. Baridwan. 1999. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Luas Pengungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan. Malang: Simposium Nasional Akuntansi II. Teoh, S. dan T. Wong. 1993. Perceived Auditor Quality and Earnings Response Coefficient. The Accounting Review, 68: 346-367. Trueman, B dan S. Titman. 1988. An Explanation for Accounting Income Smoothing. Journal of Accounting Research, 26 (3): 127 139. Tuanakotta, T. M. 1983. Teori Akuntansi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

. 1997. Financial Accounting Theory. Canada: Pearson Prentice Hall. Siregar, S. V dan Y. Bachtiar. 2003. Hubungan Antara Manajemen Laba Dengan Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan.Surabaya: Simposium Nasional Akuntansi VI: 328-349.

26

Wallace, R.S.O dan K. Naser. 1995. Firm-Specific Determinants of the Comprehensiveness of Mandatory Disclosure in the Corporate Annual Reports of Firms Listed on the Stock Exchange of Hongkong. Journal of Accounting and Public Policy, 11 (2): 311-368. Watts, R. L. dan J. L. Zimmerman. 1986. Positive Accounting Theory, USA: Prentice-Hall Inc. Welker, M. 1995. Disclosure Policy, Information Asymmetry, and Liquidity in Equity Markets. Contemporary Accounting Research, 11 (Spring): 801-827. Wijaya, I. 2009. Pengaruh Firm Size dan Capital Structure terhadap Prospek Saham Perusahaan. Jurnal Organisasi dan Manajemen, 2 (1): 21-30. Wolk, H. I., J. L. Dodd dan J. J. Rozycki. 2008. Accounting Theory: Conceptual Issues in Political and Economic Environment, 7 edition. Los Angeles. SAGE Publication Inc.
th
.. .. .. ....
...... ..