Anda di halaman 1dari 63

SWAMEDIKASI

SWAMEDIKASI/PENGOBATAN SENDIRI /SELF-MEDICATION


DEFINISI : (salah satu dr Self-Care) Px menggunakan obat tanpa resep/konsultasi ke dokter untuk penyakit/ gejala yg ringan (obat bebas, bebas terbatas & OWA) Dalam beberapa kasus bisa diberikan KIE oleh farmasis Sakit flu/batuk ringan, sakit perut ringan, nafsu makan menurun ,nyeri, luka kecil dll
2

SYARAT OBAT SWAMEDIKASI


1. OBAT HRS AMAN, KUALITAS & EFEKTIF 2. OBAT YG DIGUNAKAN HRS PUNYA: INDIKASI, DOSIS, BTK SEDIAAN YG TEPAT 3.OBAT YG DISERAHKAN HRS DISERTAI INFORMASI YG JELAS & LENGKAP

FAKTOR MENINGKATNYA SWAMEDIKASI


* Perkembangan teknologi farmasi yg inovatif * Jenis/merek obat yang beredar >> * Telah diketahui/dikenal masyarakat luas * Berubahnya peraturan tentang obat/farmasi (SWITCH TO OTC) * Kesadaran masyarakat akan pentingnya arti sehat * Pengaruh informasi / iklan * Kemudahan mendapatkan obat * Mahalnya biaya kesehatan
4

DAMPAK POSITIF : * Pencegahan maupun pengobatan yang lebih dini * Biaya yang lebih terjangkau dan cepat

DAMPAK NEGATIF :

Dampak negatif ( drug misuse ) - ESO Pengobatan yg kurang rasional

Swamedikasi : Berdasar pengalamannya/keluarga Menggunakan obat OTC dari apotik atau toko obat Menggunakan sisa obat orang lain Menggunakan kopi resep

INDIKATOR SWAMEDIKASI DENGAN KESESUAIAN PENYAKIT RINGAN

LUCKY SLAMET, JCPT, 1997

SWAMEDIKASI YG AKAN DIBAHAS


OBAT ANALGETIKA (PENGHILANG NYERI / PAIN KILLER)

DEFINISI
Analgesia An : tidak algesia : nyeri/pain Obat analgetika adalah obat yang ditujukan untuk menghilangkan/mengatasi nyeri/rasa sakit Nyeri/pain : Suatu fenomena multifaktorial yang terdiri atas rangsangan sakit, intepretasi dan reaksi terhadap rangsangan tersebut
9

Jutaan orang partially/totalle disable pain Di Amerika biaya karena nyeri -- > 50 juta US $ 61% dari 217 Pasien rawat inap di RS- managemen nyeri rasio nyeri 7-10 50-75 % pasien pasca operasi nyeri berat 70% pasien nursing home-nyeri kronik mengeluh mengalami nyeri walau telah mendapat terapi, 22 % kondisi semakin buruk 53% dari 96 pasien pasca operasi nyeri sedang berat rasio nyeri 4-10 (RSUD Dr Soetomo, 2005) 10

EPIDEMIOLOG I

FARMASIS -Management nyeri adekuat ???


Perlu pemahaman yang baik tentang :
Klasifikasi Patofisiologi proses transmisi modulasi nyeri neurotrasmitter yang terlibat Faktor resiko dari pasien Obat aspek farmakodinamik, farmakokinetik, farmasetik dan lainnya Pharmaceutical Care Swamedikasi Obat OTC & OWA
11

Klasifikasi Nyeri

AKUT

KRONIS

Respons fisiologik normal dan dapat diramalkan terhadap rangsangan kimia, panas, atau mekanik yang berkait dengan pembedahan, trauma, and penyakit akut. Biasanya time limited. Pengatasan hilangkan causa

Suatu keadaan nyeri yang persisten dan penyebab nyeri tidak selalu dapat dihilangkan atau sulit diobati. Nyeri kronik dapat berkait dengan suatu kondisi medik atau penyakit yang sulit/ tidak dapat disembuhkan jangka lama.
12

Klasifikasi Nyeri
Nosisepsi Somatik Non Nosisepsi Neuropatik Simpatetik

Viseral

Nyeri Nosisepsi berasal dari rangsangan reseptor nyeri tertentu. Reseptor ini dapat merespons rangsangan panas, dingin, vibrasi, peregangan dan kimia yang dilepas oleh sel yang rusal.

Nyeri Non Nosisepsi berasal dari sistem syaraf perifer dan sentral. Pada nyeri ini reseptor spesifik tidak ada, nyeri dihasilkan oleh kerusakan sel syaraf.
13

STRUKTUR DAN LOKASI RESEPTOR PENGINDERA PADA KULIT DAN LAPISAN SUBMUKOSA

14

Patofisiologi Nyeri

15

16

NYERI RUJUKAN (REFERRED PAIN)

17

Factors influencing pain and pain perception

Anxiety
Anxiety Non cancer patologypathology

Fatigue

Cancer

Uncertainty The patient, their pain and pain perception

Adverse effect s of treatment

Comm. difficulty

Other emotions eg. Sadness, anger, guilt

Relationship difficulties
Past pain experience

Losses

18

KUANTIFIKASI NYERI
Numerical pain scale
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Visual analogue pain scale


No pain Worst Posisible pain

19

UPAYA PENANGANAN NYERI


NON FARMAKOLOGIK INTERVENSI PSIKOLOGIK Edukasi, hipnosis, modifikasi perilaku, terapi musik TENS (transcutaneous electrical nerve stimulation) SURGICAL NERVE TRANSECTION FARMAKOLOGIK ANALGESIK SENTRAL : OPIOID PERIFER : NSAID ANESTESI LOKAL Procain, lidokain, mepivacain, bupivacain, prilocain ADJUVANT
Antidepresan, antikonvulsan ,glukokortikoid, muscle relaxan dll.
20

21

ANALGETIKA OPIOID
RESEPTOR
Mu

FUNGSI
Analgesia Depresi pernafasan Euphoria Ketergantungan fisik Konstipasi Analgesia Sedasi Miosis Analgesia
22

Kappa

Delta

EQUIVALENTS DOSE Drug


Morphine Codeine Pethidine Fentanyl Diamorphine Hydromorphone Oxycodone

Dose
10 mg 100 mg 100 mg 100 ug 5 mg 1.3 mg 5 mg

Duration
3 - 4 hrs 3 4 hrs 1 2 hrs 15 30 mins 3 4 hrs 3 4 hrs 3 4 hrs
23

PERBANDINGAN FARMAKOLOGI NARKOTIK AGONIS


OBAT ANALGESIK ANTITUSIF RESP D SEDASI EMESIS KETG FISIK

Kodein Hidrokodon Hidromorphon Morphin Oksikodon Fentanil Meperidin Metadon Propoxyphen

+ + ++ ++ ++ ++ ++ ++ +

+++ +++ +++ +++ +++ + ++ -

+ + ++ ++ ++ + ++ ++ +

+ + ++ ++ + + +

+ + ++ ++ + + +

+ + ++ ++ ++ ++ + +

24

OBAT ANALGETIKA NONOPIOID YG OTC & OWA


OTC : ASETAMINOFEN, ASETOSAL, SALISILAMIDA, ETOKSIBEN -ZAMIDA, IBUPROFEN, METILSALISILAT, KAPSAISIN, MENTOL OWA: DIKLOFENAK, PIROKSIKAM, ASAM MEFENAMAT,ANTALGIN , GLAFENIN(SDH DITARIK), BENORILAT
25

Asetaminofen
Analgetika Tdk ada efek Menghambat COX antiinflamasi secara selektif di Toksisitas liver sistem syaraf pusat KOMBINASI : (ssp) KAFEIN (OBAT PUSING) Efek pada COX perifer rendah ANTIHISTAMIN +
SIMPATOMIMETIK (COMMON COLD + ANTITUSIF)
IBUPROFEN (ANALGESIK) 26

Asetaminofen Mekanisme kerja


Efek sentral pada tingkat spinal cord ( efek hambatan pada COX-1 atau COX-2 di perifer kecil) Efek antinosiseptif spinal dengan adanya asetaminofen di otak.* Efek di otak diperantarai oleh mekanisme opioida pada tingkat spinal cord.*

* Raffa et al., J. Pharm. Exp. Therap. 295: 291, 2000.


27

asetaminofen
(konjugasi) (oksidasi)

Metabolit non toksik (glukoronat, sulfat, merkapturat)

Metabolit toksik (imidokuinon) *

28

29

30

Phospholipids
Phospholipase A2

Arachidonic Acid
COX Lipoxygenase

Prostaglandins

Leukotrienes Prostacyclin

Thromboxanes

31

32

Asetosal
Dosis lazim 80 160 mg
325 1000 mg 325 mg 6 grams 6 10 grams 10 20 grams > 20 grams

Efek Antiplatelet
Analgesic, antipyretic Antiinflammatory, tinnitus Respiratory alkalosis Fever, dehydration, acidosis Shock, coma
33

34

35

36

Ulser

37

38

Selektivitas terhadap COX-1 dan COX-2


Sebagian besar NSAID (COX-1 > COX-2) Nabumeton dan Etodolak (COX-1 = COX-2) Celecoxib (Celebrex) and Rofecoxib (Vioxx) ( COX-2 > COX-1)
39

Rofecoxib (Vioxx)
Waktu paro ~ 17 jam
Metabolisme di liver Tdk mengandung atom sulfur DITARIK DARI PEREDARAN KRN ESO KE JANTUNG
40

41

ANALGETIKA AJUVAN
Antikonvulsan : karbamazepin, okskarbazepin, gabapentin, fenitoin Antidepresan : amitriptilin, desipramin, sertralin Anestesi lokal : lidokain HCl Antiemetika : metoklopramid Stimulansia : amfetamin Laksansia : laktulosa Neuroleptika/antipsikotik : haloperidol, flufenazin Antihistamin : hidroksizin Anticemas : alprazolam, lorazepam Muscle relaxant : diazepam dll : capsaicin, glukosamin 42

Adjuvant Analgesic Drugs


Work best for neuropathic pain Only partially effective Often limited by significant side effects in elderly persons
43

Kombinasi nonopioida-ajuvan
Asetaminofen 500 mg + kafein 50 mg sakit kepala/gigi, nyeri otot Asetaminofen + Ibuprofen, neuralgia Metampiron 500 mg + diazepam 2 mg/Klor diazepoksida sakit kepala, neuralgia, sakit pinggang, ketegangan
Metampiron 500 mg + Vit.B1 50 mg, B6 10 mg, B12 10 mcg + kafein 30 mg + klordiazepoksida 2,5 mg + diazepam 1 mg ketegangan, neuralgia, sakit empeduginjal, nyeri otot-sendi, dll
44

BENTUK SEDIAAN OTC & OWA


TABLET / KAPSUL(SALISILAMIDA, ASETO SAL, ASETAMINOFEN, IBUPROFEN, BENORILAT, METAMPIRON, DIKLOFENAK,, PIROKSIKAM) PUYER (ASETAMINOFEN, ASETOSAL) SIRUP / SUSPENSI/DROP (ASETAMINOFEN, IBUPROFEN, METAMPIRON) TOPIKAL (SALEP/KRIM/GEL/LOSIO) (KAPSAISIN, METILSALISILAT,DIKLOFE NAK, PIROKSIKAM, LIDOKAIN) 45

CONTOH PERESEPAN
R/Tramadol 40 mg Diazepam 2 mg Piroksikam 15 mg m.f.pulv da in caps no. X 3 dd I R/Proris 60 mg Mefinal 60 mg m.f. pulv dtd no.X 3 dd I R/Neurosanbe tb 0,6 lexotan 3 mg amitriptilin 10 mg m.f pulv da in caps no. XV 0-1-0 R/As. mefenamat 250 mg diazepam 1 mg amitriptilin 10 mg cafein 10 mg m.f pulv da in caps No.X 2 dd I
46

47

Herpes simplex

48

49

DM-gangrain-amputasi

50

51

OUTCOME TERAPI
nyeri vs efek samping (sedasi) Nyeri akut monitoring bbrp kali/hari Nyeri kronik monitoring hari-minggu Evaluasi frekuensi nyeri jenis obat, rute pemberian, dosis, kombinasi obat Px tdk sadar (koma) agitasi, nadi/tensi PCA Opioida e.s konstipasi intake cairan + makanan berserat + laksatif ? Antidepresan (benzodiazepin) + opioida depresi ssp
52

PRINSIP FARMAKOTERAPI-KIE
Menilai karakteristik nyeri : keluhan (sumber nyeri), status klinik, riwayat analgetika Memilih analgetika paling efektif dg e.s minimal Titrasi dosis durasi adekuat Regimentasi-aturan pakai nyeri akut-kronik Menilai efek samping opioida-konstipasi
53

-Opioida hindari sedasi >> titrasi dosis - Sesuaikan rute pemberian awal analgetika oral - Konversi ke jenis analgetika lain dosis ekuianalgetika dan titrasi - Jangan terapi plasebo nyeri psikogenik - Nyeri neuropati gunakan kombinasi ajuvan (antidepresan trisiklik+antikonvulsan+capsaicin) - Pendekatan obat-non obat - Makanan mengandung triptofan (keju) pemicu nyeri
54

Treatment Options
Pain Type Musculoskeletal Visceral Nerve Sympathetic Analgesic Regime Mild: Paracetamol +/- NSAID Moderate: Paracetamol + NSAID + Weak Opioid Severe: Paracetamol + NSAID + Strong Opioid Low dose TCA + Anti-epileptic (Consider Pain Clinic Referral)

55

MISUSE OTC ANALGETIKA


1.PERSEPSI YG SALAH BAHWA OTC SELALU AMAN 2.KURANGNYA PENGETAHUAN PX 3.TDK BISA BACA / MENGERTI LABEL DAN DOSIS YG TEPAT 4.SALAH SELF-DIAGNOSIS
56

57

58

59

Role of the pharmacist in the health care Self-medication


1.KOMUNIKATOR YG BAIK 2.SUPLIER OBAT YG BAIK 3.TRAINER DAN SUPERVISOR 4.KOLABOLATOR 5.PROMOTOR (WHO, 1998)
60

PHARMACEUTICAL CARE (KIE PD PX)


1.Drug name (generic and brand name) 2.Intended use and expected action 3.Route, dosage form, dosage, and administration schedule 4.Special directions for preparation 5.Special directions for administration 6.Precautions to be observed during administration 7.Common side effects that may be encountered; avoidance and action required if they occur 8.Techniques for self-monitoring of drug therapy 9.Proper storage 10.Potential drug-drug or drug-food interactions or other therapeutic contraindications 11.Prescription refill information (for prescription products) 12.Action to be taken in the event of a missed dose 13.Other information peculiar to the specific patient or drug

61

TIPS UNTUK UNTUK PASIEN PEMAKAI NSAID

62

63