Anda di halaman 1dari 10

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Kolaborasi Guru SMK dengan Mahasiswa UNJ dalam Penyelesaian Skripsi

Bambang Dharmaputra
Dosen Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika PTK merupakan penelitian yang dikembangkan guru di kelas dalam upaya memperbaiki hasil belajar siswa mereka. Salah satu karakteristik PTK adalah kolaborasi teman sejawat dalam penelitian tersebut sehingga hasil yang diperoleh akan berdampak pada implementasinya. Mahasiswa UNJ yang dituntut pada akhir studinya untuk menulis skripsi dapat menerapkan PTK sewaktu magang mengajar di SMK i saat PPL dengan berkolaborasi guru pamong, dosen pembimbing, dan teman sejawat lainnya di lapangan. Kata kunci: penelitian guru, karakteristik PTK, mitra PTK, skripsi mahasiswa UNJ

Kritik yang sering diungkapkan masyarakat tentang guru adalah lemahnya profesionalitas guru dalam bidangnya. Hal ini tampak tidak ada kemandirian guru, dan selalu menunggu petunjuk dari atas serta tidak ada inovasi pembelajaran yang muncul dari mereka. Apalagi dalam sistem lama, di mana sentralisasi pendidikan dari pusat sangat kental, sehingga hampir tidak ada ruang bagi guru untuk menyampaikan ide-ide pembelajaran yang berasal dari temuan di kelas atau bengkel kerja mereka. Di sisi lain, penelitian yang diakui sebagai karya ilmiah terbatas dan kurang menganggap jenis penelitian tertentu dengan alasan tidak ilmiah. Akhirnya penelitian pun menjadi momok bagi angka kredit guru dan pasrah tidak meneliti saja karena merasa tidak mampu. Apalagi, tuntutan penelitian baru muncul di jenjang tinggi karier guru (golongan IV), sehingga tak heran kebanyakan guru pun cepat mencapai golongan IV/a tetapi selanjutnya berhenti di tempat. Upaya memperbaiki kemampuan guru dalam penelitian, maka ajang penelitian pun perlu digeser ke hal-hal yang paling sering dihadapi guru, yakni kegiatan pembelajaran di kelas. Sebagamana dikatakan Rochiati Wiraatmadja (2005:29) hal ini dapat mengembalikan rasa percaya diri dan harga diri guru karena pemahamannya akan profesi semakin meningkat melalui penelitian tindakan kelas. Semakin tinggi pemahaman guru akan kelasnya, maka

semakin tinggi kepercayaan guru akan prefosionalisme keguruannya. Semakin tinggi profesionalisme keguruannya, maka semakin tinggi penghargaan masyarakat kepadanya karena guru mampu menunjukkan keahlian dalam memperbaiki pembelajaran di kelasnya. Mahasiswa calon guru dari LPTK tentu dituntut kemampuan tersebut, baik selama pendidikan maupun setelah menjadi alumni dan bekerja sebagai guru di SMK Tulisan ini menawarkan kerjasama antara LPTK dengan SMK dalam memberi kesempatan mahasiswa melakukan PTK sewaktu mereka PPL di sekolah latihannya. Alasan pentingnya guru melakukan penelitan tindakan kelas Rochiati Wiraatmadja (2005:11) yang mengutip pendapat Hopkins dan lainnya, mengartikan PTK sebagai penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantive guru untuk memahami apa yang terjadi (di kelasnya) sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan (mengajarnya). Mengutip pendapat Kemmis (1983), maka ini merupakan penelitian reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu (termasuk pendidikan). Tujuannya agar meningkat kan rasionalitas dan keadilan (a) kegiatan pendidikan yang dilakukan, (b) pemahaman yang mendalam tentang pelaksanaan kegiatan tersebut, dan (c)

PTK & Kolaborasi Guru SMK dng Mahasiswa UNJ dalam Penyelesaian Skripsi (Bambang Dharmaputra) 1

melihat kemungkinan penerapan situasi perbaikan yang diperoleh mereka. Sedangkan I.G.A.K. Wardani mendefinisi kan PTK sebagai penelitian yang dilakukan guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (2006: 1.4). Pada intinya PTK itu menuntut berfikir reflektif dan melakukan tindakan perbaikan seorang guru dalam kelas yang diajarnya. Dengan demikian, guru yang melakukan PTK akan melakukan perbaikan dalam cara mengajarnya berdasarkan temuan dan renungannya, dan bukan menurut atasan atau teman sejawatnya. Lebih lanjut Raka Joni, Kardiawarman, dan Hadisubroto (1998) sebagaimana ditulis I.G.A.K Wardani (2006:1.11) adalah tidak seluruhnya benar anggapan bahwa hasil penelitian pendidikan akan dimanfaatkan para guru di lapangan. Penelitian pendidikan yang umumnya dilakukan para pakar atau peneliti LPTK sering kali kurang dihayati guru, meskipun penelitian itu dilakukan di kelas. Akibatnya para guru yang menjadi objek penelitian tidak terlibat dalam pembentukan pengetahuan dari hasil penelitian tersebut. Jurnal penelitian yang diharapkan dapat menjadi media guru dengan para pakar jarang diterima mereka. Andaikata jurnal tersebut diterima, maka hal itu terlalu lama, sehingga ada kemungkinan guru pun telah lupa dengan penelitian yang mereka menjadi objeknya. Apalagi para guru yang tidak terlibat, mungkin saja temuan penelitian tersebut menjadi asing dan kurang berdampak bagi profesi mereka di kelas. Karakteristik PTK Upaya guru untuk memahami situasi kelasnya dan melakukan perbaikan berdasarkan hasil refleksi atau renungan yang mendalam merupakan ciri dari penelitian kualitatif. Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang lebih menekan
2

kan pada generalisasi yang lebih luas dari temuan penelitiannya dan memperoleh kebenaran hakiki serta universal, maka penelitian kualitatif menekankan keba likannya. Sebagaimana yang diung kapkan Egon G. Guba dalam memberi
pengantar buku Action Research karya Ernie T Stranger (1996) bahwa ada tiga hal yang perlu diamati di masa mendatang. Dia

berharap semua penelitian yang mengacu pada penelitian kemanusian dapat memperlihatkan tiga karakteristik, yakni desentralisasi, deregulasi, dan kooperatif dalam perlakuannya. Dengan desentralisasi, dimaknai adanya perubahan upaya dari mengeneralisasi kebenaran ke arah penekan baru pada konteks lokal. Deregulasi, diartikan adanya gerakan keluar dari aturan konvensional yang kaku berdasarkan aturan main penelitian, seperti melebihlebihkan validitas, reliabilitas, objektivitas, dan generalisasi. Sedangkan kooperatif dalam perlakuannya, diartikan cara peneliti yang tidak dengan fungsional membedakan antara peneliti dan yang diteliti (subjek dalam bahasa konventional). Mereka semua dinyatakan sebagai partisipan, dan semuanya sederajat dalam menentukan pertanyaanpertanyaan apa yang akan diajukan, informasi apa saja yang akan dianalisis, dan bagaimana kesimpulan dan tindakan yang diambil. Seorang yang melakukan PTK hendaknya ia memahami bahwa siswa, teman peneliti, dan lainnya adalah mitra dalam meneliti. Oleh sebab itu, ia perlu memahami situasi yang timbul dalam pelaksanaan penelitian dan mengambil tindakan yang tepat setelah melakukan refleksi. Tentunya ini berbeda dengan penelitian kuantitatif, di mana peneliti cukup mengambil data melalui instrumen yang valid dan realibel, kemudian menafsirkan data tersebut di luar proses penelitiannya. Tidak diperlukan refleksi dan diskusi untuk memperbaiki tindakan nya selama meneliti. Mungkin saja, peneliti akan mengemukakan temuan dan

Pevote, Vol.2, No. 2, April 2007 : 1-10

diskusi serta saran, tetapi ini hanya dilaku kan dalam laporan dan tidak langsung ke mitra penelitiannya. Oleh sebab itu, guru yang umumnya menjadi objek penelitian, tidak merasa perlu merubah cara mengajar nya walaupun ia tahu akan temuan penelitian tersebut. Upaya guru memahami situasi kelas dan mengambil tindakan yang tepat dalam memperbaiki pembelajaran di kelasnya memerlukan langkah-langkah penelitian yang terancang dengan baik. Walaupun berbagai model dapat diajukan dalam hal ini, tetapi penulis hanya membatasi hal yang pokok saja. Model yang digunakan diambil dari buku Ernest T Stringer yang menekankan bahwa rutinitas penelitian tindakan (termasuk PTK) terdiri dari tiga tahapan, yakni look, think, dan act.

2. Think (berfikir) Setelah masalah yang akan Anda diteliti menjadi jelas sehingga Anda mampu untuk menindaklanjuti, maka mulailah berfikir bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut. Di sini peneliti akan mengajukan hipotesis kerja yang akan ditindaklanjuti waktu penelitian. Galilah dan analisis apa yang menjadi masalah Anda (hipotesis). Kemudian tafsirkan dan jelaskan mengapa hal itu terjadi seperti itu dan bukan seharusnya (teoretik) agar dapat dilakukan tindakan perbaikan. Di sini Anda perlu melihat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dari silabus yang telah Anda susun di KTSP SMK Anda. RPP yang Anda kembangkan harus rinci agar dapat diamati mitra Anda sewaktu pembelajaran itu dilaksanakan. Ini skenario sajian di mana penelitian tindakan akan berlangsung. Diskusikan dengan mitra Anda, apa-apa yang harus terjadi baik di sisi Anda sebagai guru maupun siswa yang menerima perlakuan Anda. Mintalah masukan untuk memper baiki RPP Anda sebelum pelaksanan penelitian dilakukan. Persiapkan seluruh sarana dan prasarana yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan. Janganlah melakukan tindakan di lapangan sebelum semua persiapan berjalan lancar. Konfirmasikan lagi dengan mitra Anda apa yang mereka harus amati dan upayakan kehadirannya tidak mengganggu pelaksanaan penelitian. 3. Act (Tindakan) Setelah semua persiapan dari sisi sarana dan prasarana pembelajaran penelitian yang akan Anda lakukan maupun mitra Anda sebagai pengamat telah siap, maka tindakan pun dapat dilakukan. Lakukanlah proses belajar mengajar sebagaimana biasa, dan terangkan kepada siswa ada Bapak/Ibu guru lain yang berada di kelas kita. Beliau itu akan mengamati kita, dan janganlah para siswa merasa terganggu serta bertindaklah sewajarnya seperti tidak ada mereka.

1. Look (Amati) Sebelum penelitian dilakukan, maka seorang peneliti harus terlebih dahulu mengamati keadaan kelas yang akan ditelitinya. Guru harus mengumpulkan segala informasi (data) yang berkaitan dengan masalah yang akan ditelitinya. Janganlah ia tergesa-gesa untuk meneliti sebelum jelas bagi dirinya sendiri dan mitra peneliti tentang apa yang akan dilakukan. Hal ini akan nampak dari si peneliti mampu merumuskan masalahnya, dan menjelaskan tentang keadaan kelas yang dihadapi untuk diteliti. Diskusikan hal ini dengan mitra peneliti Anda, sehingga mereka pun mempunyai pemahaman yang sama terhadap masalah yang akan diteliti.

PTK & Kolaborasi Guru SMK dng Mahasiswa UNJ dalam Penyelesaian Skripsi (Bambang Dharmaputra) 3

Setelah semuanya dipahami oleh siswa, lakukan rencana Anda sesuai RPP yang telah disepakati dengan mitra pengamat. Mengajarlah sesuai skenario yang telah disepakati agar dapat teramati oleh mitra Anda. Jika dalam proses belajar mengajar ternyata Anda harus keluar dari skenario yang disepakati, lakukan saja agar ini dapat dicatat oleh pengamat Anda. Mitra Anda bukanlah atasan, sehingga janganlah gugup jika keluar dari skenario. Ingat yang diamati bukan hanya Anda, tetapi siswa, suasana, dan hal apa pun yang akan mempengaruhi hasil belajar perlu diamati oleh mitra Anda. Waktu pembelajaran di kelas tidak boleh dipotong atau diperpan jang oleh alasan apa pun. Demikian pula pengamat pun tidak boleh keluar-masuk walaupun sudah bosan mengamati. Mitra Anda harus mencatat apa saja yang terjadi sewaktu tindakan kelas itu dilakukan berdasarkan data pengamatan. Siklus PTK selanjutnya Setelah Anda menyelesaikan kegiatan mengajar, maka selesailah satu siklus kegiatan PTK. Hendaknya difahami bahwa satu siklus tidak selalu satu kali pertemuan mengajar, tetapi dapat saja lebih. Misalkan yang diambil sebagai satu siklus adalah satu pencapaian kompetensi dasar dalam silabus. Anda dan mitra perlu berkumpul dan mendiskusikan hasil yang telah dilakukan. Lakukan ini sesegera mungkin dan jangan menunda-nunda pertemuan. Paling tidak, satu hari setelah siklus pertama selesai, maka Anda harus berkumpul dan mendiskusikan dengan mitra Anda. Berikan kesempatan mitra Anda untuk menyampaikan hasil pengamatan sewaktu Anda mengajar. Berdasarkan data pengamatan dibanding kan dengan skenario yang telah disepakati bersama, maka mitra akan memberi masukan kepada Anda secara kritis. Ingatkan kepada mitra Anda janganlah memberi masukan sekedar basa-basi atau menjelek-jelekan. Jelaskan alasan Anda terhadap kritik yang mereka ajukan dan tanyakan masalah yang Anda ragukan
4

kepada mereka. Diskusi ini harus menghasilkan masukan untuk perbaikan siklus berikutnya. Jadi siklus berikut akan berulang dari amati, fikirkan, dan tindakan. Bedanya pada siklus berikutnya, pengamatan itu adalah hasil diskusi yang memperjelas perbaikan apa yang harus diambil oleh peneliti. Berfikir atau perencanaan berikutnya adalah rancangan Anda dalam memperbaiki tindakan pembelajaran yang harus dilakukan. Ingat, jangan Anda mengubah materi kurikulum yang disepakati dengan sekolah. Yang perlu dilakukan perbaikan adalah rencana yang akan dilakukan, baik menyangkut sarana dan prasarana belajar mengajar atau pun skenario pembelajaran yang disepakati dengan mitra Anda. Jika semua telah diperbaiki, buatlah catatan lapangan tentang pelaksanaan siklus pertama dan diskusi dengan mitra Anda. Demikian pula catatan lapangan ini, hendaknya memuat catatan renungan Anda tentang PTK yang sedang dilakukan. Catatan lapangan inilah yang menjadi dokumen penelitian, sehingga harus tersimpan rapih dan dianalisis lebih lanjut pada saat Anda akan menyusun laporan penelitian. Sulit dibayangkan jika PTK hanya terjadi dari satu siklus saja, karena tidak mungkin masalah Anda terpecahkan dengan satu kali tindakan kelas. Ini akan membutuh kan waktu perenungan Anda dan diskusi dengan mitra, sebelum kesimpulan penelitian itu dapat dilakukan. Pengalaman penulis di lapangan, setidak nya PTK ini memerlukan waktu dua setengah bulan untuk dapat menyimpul kan hasilnya. Selama penelitian berlangsung, maka Anda harus mulai mencicil penyusunan laporan tentatif. Janganlah Anda menunda pelaporan sampai proses penelitian selesai. Lakukan sesegera mungkin dan lakukan revisi terus menerus sampai Anda puas dengan hasil penelitian ini.

Pevote, Vol.2, No. 2, April 2007 : 1-10

Mitra Penelitian Salah satu karakteristik PTK adalah kolaboratif dan partisipatif, di mana penelitian ini tidak dilakukan individual tetapi harus bekerja sama dalam bentuk kemitraan dengan ciri adanya partisipasi dari anggotanya. Anggota penelitian Anda bukan sekedar peserta tetapi mitra yang akan menentukan keberhasilan dari PTK. Mitra Anda dapat saja guru, pengawas, maupun kepala sekolah atau siapa saja yang dapat berpartisipasi penuh pada penelitian Anda. Sebagai ketua peneliti, maka sebaiknya Anda lah yang mengajar kelas Anda, dan jangan diberikan ke mitra Anda mengajar di kelas Anda bergiliran. Para siswa akan menghadapi masalah psikologis kalau berganti-ganti guru untuk pelajaran yang sama. Anggota peneliti Anda bertugas melakukan pengamatan, memberi masukan, dan teman diskusi dalam membahas hasil tindakan dan isuisu yang berkembang saat penelitian berlangsung. Hal yang ingin dicari dalam PTK adalah temuan perbaikan pembelajaran yang diperoleh dari data lapangan penelitian, dan bukan sekedar wacana teoretik yang belum teruji kehandalannya. Derajat temuan itu sendiri akan sangat ditentukan dari kredibilitas para peneliti, dan materi temuan itu sendiri. Dengan adanya kolaborasi teman sejawat yang berbobot, maka ini dapat meningkatkan temuan itu sendiri. Namun yang tak kalah penting, justru terletak dari bobot materi temuan nya apakah berguna bagi peningkatan pembelajaran teman sejawat guru lainnya. Oleh sebab itu, mempublikasikan hasil temuan PTK ke pihak luar lewat Jurnal Penelitian menjadi penting dalam menginformasikan temuannya ke para guru lainnya sebagai pengguna penelitian tersebut. PTK di SMK. Salah satu hal yang mencolok antara pembelajaran di SMK dan di SMU terletak di praktik kerja. Praktik kerja di SMK bukan sekedar pengujian kebenaran teoretik, tetapi yang terpenting

pembentukkan watak pekerja melalui kegiatan pembelajaran praktik bidang keahliannya. Sebagai calon pekerja baik di industri maupun lapangan kerja lainnya, maka ukuran utamanya apakah SMK telah mempersiapkan watak pekerja dan kemampuan kerja siswanya sebagaimana diminta DUDI selama ini. Jadi PTK di SMK tidak semata-mata dilakukan di kelas teori tetapi mungkin justru yang terpenting terjadi di bengkel praktik sekolah. Materi yang menjadi tema PTK akan terus berkembang sesuai minat dan perhatian guru terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas teori atau bengkel kerja mereka. Teori di kelas dan praktik di bengkel kerja merupakan makna komprehensif dan bukan terpisahpisah dalam pembentukan watak pekerja dan bidang keahliannya. Masalah pembelajaran di SMK dapat saja diteliti dari berbagai pendekatan. Misalnya, pengaruh musik klasik dalam meningkatkan pembelajaran praktik siswa mungkin menarik guru untuk ditelitinya. Hal ini dapat saja dilakukan secara penelitian konvensional atau PTK sesuai minat peneliti itu sendiri. Bagi guru yang berminat dengan pendekatan konven ional, maka akan terfikir bagaimana menguji hipotesis bahwa siswa yang ber praktik dengan iringan musik klasik akan lebih baik dari siswa yang tidak diiringi musik klasik. Untuk itu tentunya, ia akan menguji dua kelas yang satu berpraktik dengan iringan musik dan lainnya tidak. Kemudian diberikan perlakuan praktik yang sama (kecuali iringan musik klasik) dan dinilai hasilnya. Jika kelas dengan iringan musik klasik lebih baik prestasi dari yang tidak, maka hipotesis penelitiannya diterima. Tentunya menjadi wajar kalau peneliti menyarankan praktik yang baik jika diiringi musik klasik. Namun demikian bagi guru yang berminat meneliti secara PTK, maka motif utamanya bukan karena adanya pendapat ahli tentang musik klasik, tetapi kegelisahan dirinya tentang prestasi

PTK & Kolaborasi Guru SMK dng Mahasiswa UNJ dalam Penyelesaian Skripsi (Bambang Dharmaputra) 5

belajar praktik siswa selama ini kurang memuaskan. Kegelisahan ini membawa guru untuk mencari cara mengatasinya, dan ia menemukan tulisan tentang pengaruh musik klasik dalam belajar. Selanjutnya ia berdiskusi dengan rekan sejawatnya tentang musik klasik untuk diimplementasikan dalam memperbaiki pembelajaran praktik di kelasnya. Ia pun meminta teman guru tersebut untuk berkolaborasi mengamati perilaku belajar siswanya dan memberi masukan kepada dirinya tentang pelaksanaan pembelajaran yang telah dirubah dalam PTK.Setelah tindakan pembelajaran selesai dilakukan, maka ia kembali berdiskusi dengan teman guru tersebut dan merenungkan apa yang dilakukan itu telah menghasilkan perbaikan hasil belajar siswanya. Langkah perbaikan maupun pengayaan berikutnya pun dilakukannya di kelas, dan hasil pembelajaran yang telah diberikan didiskusikan dengan teman guru dan direnungkan langkah perbaikan berikutnya.Siklus pembelajaran itu pun berulang sampai akhirnya peneliti puas dan yakin akan tindakan pembelajaran yang dilakukan. Misalnya, dia yakin bahwa iringan musik klasik di saat praktik di bengkel kerja berhasil guna yang tinggi. Namun itu pun hanya cocok pada kegiatan praktik tertentu, dan tak dapat digeneralisasi ke semua jenis praktik. Sekilas, mungkin kita berfikir bahwa tidak ada beda antara pendekatan kuanti tatif dengan PTK, karena hasil sama menunjukkan bahwa iringan musik klasik di saat praktik dapat meningkatkan hasil belajar praktik. Tetapi jika dilihat dari sisi guru tentu berbeda, yakni dalam PTK guru menjadi bertambah keyakinan akan tindakannya dan ini akan meningkatkan profesionalisme guru tersebut. Demikian pula teman guru yang diajak berkolabo rasi akan terpengaruh untuk memperbaiki pembelajarannya, karena secara emosio nal dan kritis terlibat penuh dalam penelitian temannya itu. Oleh sebab itu, banyak ahli pendidikan berkeyakinan dengan PTK akan dapat meningkatkan
6

profesionalisme guru yang sekarang dianggap telah tergerus dalam kehidupan pekerjaan guru. Hasil penelitian guru tersebut, sebaiknya dipublikasikan lewat Jurnal Pendidikan guru sehingga hasilnya dapat dimanfaat kan ke guru lainnya. Dengan cara ini, maka kehidupan profesionalisme dapat tumbuh dengan baik dan sehat. Dampak bagi masyarakat akan nampak dari unjuk kerja para guru semakin profesional dan para anak didik yang dihasilkan sekolah semakin diterima masyarakat. Tentu PTK tidak serta merta akan menjadi obat mujarab yang dapat memperbaiki keadaan pendidikan kita, dan ini tentunya akan berpulang ke para guru itu sendiri menanggapi pembaharuan yang ditawar kan ini. Skripsi Mahasiswa LPTK dan Kehidupan Profesionalisme Guru Mahasiswa LPTK (seperti FT UNJ) tentu dipersiapkan sebagai tenaga kepen didikan sesuai jurusan yang ada. Jadi sebagai calon guru yang kelak mengajar di sekolah-sekolah, maka wajar jika konsumen (sekolah) menuntut mutu dan profesionalisme dari guru yang dihasilkan LPTK. Pertanyaan yang sering mengusik hati dan fikiran, adalah apakah skripsi yang dibuat mahasiswa LPTK memang beranjak dari masalah tugasnya kelak di sekolah atau keluar dari tujuan didirikan LPTK oleh pemerintah. Dengan alasan bahwa guru yang baik adalah guru yang menguasai bidang keahliannya, dan baru kemudian ahli dalam mengajarkannya membuat banyak skripsi S1 bergeser mendalami bidang keahliannya dan bukan tugas keguruannya. Akibatnya, skripsi yang dibuat para mahasiswa tidak begitu bermanfaat bagi sekolah, dan hanya menjadi syarat lulusnya sarjana. Begitu mereka menjadi guru, maka banyak pengalaman belajar di LPTK dilupakan saja, dan para alumni masuk ke rutinitas tugas guru. Akhirnya, masyara kat dan sekolah pun mengeluh akan kompetensi yang diberikan di LPTK baik

Pevote, Vol.2, No. 2, April 2007 : 1-10

materi bidang keahliannya maupun perilaku sebagai guru yang profesional mengecewakan. Dari sisi mahasiswa pun, pendalaman bidang keahliannya merepotkan karena sewaktu PPL sering berbeda dengan apa yang didalami waktu kuliah. Para mahasiswa pun terpaksa belajar sendiri mata diklat yang diberikan sekolah, dan perhatian pada tugas guru di luar mengajar menjadi berkurang. Padahal PPL itu adalah proses pemagangan calon guru paripurna, dan bukan sekedar persyaratan lulus jadi sarjana pendidikan. Waktu PPL menjadi kurang dimanfaatkan mahasiswa dalam mematangkan tugasnya sebagai guru kelak. Tugasnya kelak terletak pada sikap profesional dalam mengajar dan berinteraksi sesama guru serta siswa untuk menghasilkan lulusan yang dituntut masyarakat. Tentu sebagai calon guru, ia adalah anak bawang dalam pandangan para seniornya (guru pamong) dan bukan mitra sejajar. Untuk menggeser citra ini, maka PTK dapat dijadikan sarana pembinaan profesi baik mahasiswa sebagai calon guru maupun guru pamong sebagai senior mereka. Karakteristik PTK yang kolaboratif dan partisipatif, dapat membawa mahasiswa calon guru bermitra sejajar dengan guru pamongnya sebagai senior dan pemangku mata diklat di sekolah. Jadi melalui PTK inilah skripsi mahasiswa dibuat dengan berkolaborasi bersama guru pamong untuk berparti sipasi memperbaiki pembelajaran di SMK. Kenyataannya, mahasiswa lah yang berfungsi sebagai guru di saat PPL, dan guru pamong dapat berfungsi sebagai mitranya. Jadi, dia pun layak melakukan PTK yang berkolaborasi dengan guru pamongnya. Sesuai dengan karakteristik PTK, maka sebelum tindakan dilakukan harus dilakukan pengamatan kelas. Jadi sebelum PPL mahasiswa wajib melakukan survai ke sekolah, dan berdiskusi dengan calon guru pamongnya, serta berkonsultasi dengan dosen yang

akan menjadi pembimbing mahasiswa tersebut.

skripsi

Jika PTK ini dapat berjalan, setidaknya akan ada dua keuntungan yang diperoleh baik bagi mahasiswa maupun sekolah tempat PPL nya. Pertama, bagi mahasiswa akan dapat menyelesaikan skripsi tepat waktu, sehingga dapat memotong masa studinya secara terhormat. Banyak laporan bahwa rata-rata penyelesaian studi mahasiswa FT UNJ terlalu lama, yakni mendekati masa kedaluwarsa (7 tahun). Akibatnya, mahasiswa yang tidak dapat menyelesaikan skripsinya di masa lalu, terpaksa mengambil jalur komprehensif untuk menyelamatkan drop out. Tentu dengan PTK, mahasiswa akan selesai penelitian pada saat PPL dan setelah itu dapat mengajukan ujian skripsinya ke jurusan. Jika PPL terlaksana (paling lambat) semester 7, maka pada semester 8 mahasiswa sudah dapat menyelesaikan skripsinya dan ujian. Dengan demikian, masa studi mahasiswa dapat tepat waktu selesai dengan terhormat, dan sesuai pula dengan keahlian sebagai pendidik di SMK. Kedua, dengan penelitian yang terfokus di SMK, maka pembinaan profesi sebagai guru akan lebih terarah. Apalagi, PTK saat ini terus didorong pemerintah, dan bahkan Balitbangdiknas menyebutnya sebagai KTK-TBK (Kaji Tindak Kelas Terintegrasi Berbasis Kompetensi) dalam upaya meningkatkan profesionalitas guru. Di sisi sekolah atau guru SMK, maka ia akan mendapat masukan tentang kele mahan pembelajaran dan perbaikan mata diklatnya yang dilakukan bersama mahasiswa. Karena guru terlibat aktif sebagai mitra mahasiswa dalam PTK, maka masukan itu pasti diperhatikan dan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran nya. Kedua, hasil penelitian di mana dia menjadi anggota peneliti, dapat diproses menjadi angka kredit guru. Apalagi, jika hasil penelitian bersama mahasiswa itu dapat masuk ke Jurnal Penelitian, tentu akan berdampak besar bagi angka kredit

PTK & Kolaborasi Guru SMK dng Mahasiswa UNJ dalam Penyelesaian Skripsi (Bambang Dharmaputra) 7

guru. Ketiga, guru pun mendapat pengalaman menangani PTK dan ia dapat melakukannya bersama guru lain untuk periode berikutnya. Dengan demikian, iklim penelitian pun akan tumbuh di sekolah dan tentunya akan berdampak pada profesionalitas para guru. PTK bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Suharsimi (2007) mengemukakan bahwa penelitian tindakan itu harus dilihat dari tugas guru, kepala sekolah, dan pengawas di lapangan. Seorang guru yang kesehariannya menangani masalah pembelajaran di kelas, tentu cocok untuk melakukan PTK. Tetapi bagi kepala sekolah yang tugas utamanya membenahi situasi dan iklim sekolah, disarankan untuk melakukan penelitian tindakan yang yang bukan di kelas. Misalnya meneliti untuk meningkatkan efektivitas perpus takaan sekolah, laboratorium, program bimbingan dan konseling, dan masalah lain yang ada dilingkup sekolahnya. Demikian pula pengawas yang tidak mempunyai kelas, tetapi menangani banyak sekolah, maka penelitian tindakan yang dilakukan berkait dengan tugasnya. Misalnya penelitian tindakan hal-hal yang berkait dengan peningkatan mutu sekolah yang dibinanya. Kesemuanya, baik guru, kepala sekolah, maupun pengawas perlu melakukan penelitian tindakan demi meningkatkan mutu bidang tugasnya masing-masing. Upaya mendorong PTK di sekolah terus diupayakan pemerintah. Karakteristik kolaboratif partisipatif, mengakibatkan PTK berpeluang untuk membantu guru. Misalnya, model penelitian tindakan yang diajukan oleh Suharsimi untuk satu siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi akan banyak membantu guru. Walaupun dalam kenyataannya di saat guru mengajar dan mitranya mengamati, yang berarti ini terjadi pada waktu bersamaan, tetapi tetap dibedakan untuk membedakan tugas guru
8

pelaksana dan guru lain yang mengamati. Jadi intinya sangat disarankan agar PTK ini bersifat kolaboratif partisipatif. Peneli tian tindakan berkolaborasai yang (1) menyusun perencanaan bersama-sama, (2) saling bergantian mengamati proses waktu pelaksanaan, (3) saling mengikuti teman waktu refleksi, (4) menyusun laporan sendiri-sendiri, (5) dilaporkan dengan judul yang sama, dijelaskan model yang dilaksanakan dalam kolaborasi. Apabila benar, masing-masing laporan mendapat nilai 4,0 (jadi nilai 4,0 tidak dibagi 2) Proposal Penelitian Tindakan Perlunya proposal ibarat peta bagi pengembara untuk menelusuri perjalanan baru yang akan dilakukan. Tanpa peta, maka pengembara dapat tersesat atau setidak nya mengalami kesulitan dan terus bertanya-tanya tentang tempat yang akan dicapai. Demikian pula dengan perlunya proposal, yakni akan memandu si peneliti melakukan penelitian yang baik. Model proposal penelitian memang tidak ada yang baku, dan ini tergantung kepada pemberi tugas. Misalnya, untuk PTK saja ada beberapa model yang dituntut oleh pemberi tugas penelitian. Misalnya Dirjen Dikti Direktorat Ketenagaan berbeda dengan Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabadian Masyarakat. Namun jika dilihat dengan seksama, maka ini pun tidak terlalu berbeda secara hakiki. Model yang diajukan ini umumnya berasal dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang diberikan ke para dosen, dan jika para guru diajak itu pun hanya sebagai kontributor dan bukan peneliti utama. Di sisi lain, kebutuhan penelitian tindakan ini umumnya lebih diperlukan oleh para guru, kepala sekolah, dan pengawas dibandingkan para dosen. Oleh sebab itu banyak dari para guru, kepala sekolah, dan pengawas yang bertanya bagaimana sebenarnya penelitian tindakan itu harus dilakukan.

Pevote, Vol.2, No. 2, April 2007 : 1-10

Format PTK atau tepatnya penelitian tindakan bagi para guru, kepala sekolah, dan pengawas memang ada diberbagai buku dan mungkin ini dapat diacu mereka. Salah satu model proposal penelitian tindakan yang diajukan, misalnya diambil dari kerangka proposal yang diajukan oleh Suharsimi sebagai berikut: Judul Penelitian Peneliti I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Sasaran Tindakan C. Rumusan Masalah D. Tujuan Penelitian E. Manfaat Hasil Penelitian II. III. KAJIAN PUSTAKA METODOLOGI PENELITIAN 1. Setting penelitian 2. Sasaran penelitian 3. Rencana tindakan 4. Data dan cara pengambilannya 5. Analisis data Sedangkan jika mengacu pada Dirjen Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan edisi 2006 memberi panduan usulan penelitian sebagai berikut: Sampul Usulan Penelitian Halaman Pengesahan A. Judul Penelitian B. Mata Pelajaran dan Bidang Kajian C. Pendahuluan D. Rumusan Masalah dan Pemecahannya. E. Tujuan Penelitian F. Manfaat Hasil Penelitian G. Kajian Pustaka H. Prosedur Penelitian

I. Jadwal Penelitian J. Biaya Penelitian K. Personalia Penelitian L. Daftar Pustaka M. Lampiran Lampiran 1. Instrumen Penelitian 2. Curriculum Vitae semua peneliti 3. Surat Keterangan Ketua Lembaga Penelitian 4. Surat Keterangan Dekan Ajakan Berkolaborasi FT UNJ sebagai LPTK yang berkewajiban menghasilkan guru SMK, tentu harus sejalan dengan kebijakan pemerintah. Berdasarkan Undang Undang Guru dan Dosen tahun 2005 yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah No 10 tahun 2006, serta terakhir Keputusan Menteri Pendidikan No. 057/O/ 2007 terus menuntut profesionalisme guru yang semakin tinggi. PTK yang diyakini dapat meningkatkan sikap profesional guru perlu didorong keberadaannya di SMK oleh LPTK yang menjadi almamaternya. Oleh sebab itu, wajarlah jika ajakan kolaborasi antara FT UNJ dengan SMK diajukan di sini. Untuk itu, pertama dapat dilakukan dengan ikut serta para guru dalam PTK mahasiswa yang ber PPL di sekolah, dan selanjutnya membudayakan PTK di kalangan guru. Sudah menjadi kewajiban LPTK untuk berkolaborasi dan membantu sekolah, baik pemikiran maupun tenaga pengajarnya. Di sini pula, FT UNJ mengajak para guru SMK menulis dalam Jurnal Pevote untuk berbagi hasil PTK nya ke semua guru SMK. Jika ini mendapat tanggapan temanteman guru SMK, tentu harapan meningkat nya sikap profesional kita akan terwujud dan penghargaan masyarakat kepada profesi guru pun akan meningkat pula.

PTK & Kolaborasi Guru SMK dng Mahasiswa UNJ dalam Penyelesaian Skripsi (Bambang Dharmaputra) 9

Rujukan Pustaka Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan. 2006. Pedoman Penyusunan Usulan dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) I.G.A.K. Wardani, Kuswaya Wihardit, Noehi Nasution. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka Rochiati Wiriaatmadja. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas : Untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia dengan PT Remaja Rosdakarya. Stringer, R. Ernest. 1996. Action Research: Handbook for Practitioners. New Delhi: Sage Publication Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Penerbit Bina Aksara Suwarsih Madya. 1994. Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta : Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta

10

Pevote, Vol.2, No. 2, April 2007 : 1-10