Anda di halaman 1dari 317

IDENTIFIKASI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini membawa kesejahteraan bagi umat manusia di segala bidang kehidupan tetapi juga menimbulkan akibat yang tidak diharapkan. Salah satu akibat yang tidak diharapkan tersebut adalah meningkatnya kuantitas maupun kualitas mengenai cara atau teknik pelaksanaan tindak pidana, khusunya yang berkaitan dengan upaya pelaku tindak pidana dalam usaha meniadakan sarana bukti, sehingga tidak jarang dijumpai kesulitan bagi para petugas hukum untuk mengetahui identitas korban. Dalam proses penyidikan suatu tindak pidana, mengetahui identitas korban merupakan hal yang sangat penting. Dengan mengetahui identitas korban merupakan sebagai langkah awal penyidikan sehingga dapat dilakukan langkahlangkah selanjutnya. Apabila identitas korban tidak dapat diketahui, maka sebenarnya penyidikan menjadi tidak mungkin dilakukan. Selanjutnya apabila penyidikan tidak sampai menemukan identitasnya identitas korban, maka dapat dihindari adanya kekeliruan dalam proses peradilan yang dapat berakibat fatal. Selain itu mengetaui identitas korban untuk berbagai kehidupan sosial misalnya asuransi, pembagian dan penentuan ahli waris, akte kelahiran, pernikahan dan sebagainya keterangan identitas mempunyai arti penting pula, yaitu untuk

mengetahui bahwa keterangan itu benar-benar keterangan yang dimaksud untuk memperoleh yang menjadi haknya maupun untuk memenuhi kewajibannya.2,3 Bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak dan tidak terencana atau secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola kehidupan normal atau kerusakan ekosistem sehingga diperlukan tindakan darurat dan menyelamatkan korban yaitu manusia beserta

lingkungannya. Bencana yang terjadi secara akut atau mendadak dapat berupa rusaknya rumah serta bangunan, rusaknya saluran air, terputusnya aliran listrik, jalan raya, bencana akibat tindakan manusia, dan lain sebagainya. Sedangkan bencana yang terjadi secara perlahan-lahan atau slow onset disaster, misalnya perubahan kehidupan masyarakat akibat menurunnya kemampuan memperoleh kebutuhan pokok, atau akibat dari kekeringan yang berkepanjangan, kebakaran hutan dengan akibat asap atau haze yang menimbulkan masalah kesehatan. Dalam ilmu kedokteran forensik dikenal pemeriksaan identifikasi yang merupakan bagian tugas yang mempunyai arti cukup penting. Identifikasi adalah suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Disitulah semua, identifikasi mempunyai arti penting baik ditinjau dari segi untuk kepentingan forensik maupun non-forensik.

Makalah ini bertujuan membahas berbagai hal mengenai identifikasi forensik ataupun identifkasi secara umum meliputi: pengertian, arti penting, macam-macam pemeriksaan dan cara atau metode serta sistem identifikasi. Halhal demikian diperlukan untuk memperoleh pemahaman pemahaman dalam penanganan dan pemeriksaan identifikasi yang komprehensif.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dalam penulisan referat ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah pengertian dari identifikasi forensik? 2. Apa saja dasar - dasar dari pemeriksaan pada identifikasi forensik? 3. Metode apa yang dipakai dalam identifikasi forensik? 4. Ada berapa jenis pemeriksaan identifikasi foresik? 5. Menyadari betapa pentingnya peran dokter dalam proses identifikasi forensik?

C. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ialah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pengertian dari identifikasi forensik. 2. Untuk mengetahui pemeriksaan apa saja yang dilakukan pada identifikasi forensik. 3. Mampu memahami berbagai jenis pemeriksaan identifikasi.

4. Sebagai persyaratan ujian pada kepaniteraan klinik ilmu kedokteran forensik dan medikolegal.

D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Mahasiswa Sebagai bekal dalam menjalani profesi sebagai dokter muda.

2. Bagi Institusi Pendidikan Mengerti maksud dan tujuan dalam melakukan identifikasi forensik. Sebagai media pengabdian masyarakat terutama kasus-kasus yang berkembang di masyarakat khususnya dalam bidang Kedokteran Forensik dan Medikolegal. 3. Bagi Pengadilan Pentingnya identifikasi forensik bagi penyelesaian perkara pidana.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Identifikasi Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi juga diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.1,2 Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah yang rusak, membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan masal, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta potongan tubuh manusia atau kerangka.Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan orangtua nya.Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif.1 Dengan diketahuinya jati diri korban, penyidik akan lebih mudah membuat satu daftar dari orang-orang yang patut dicurigai. Daftar tersebut akan lebih diperkecil lagi bila diketahui saat kematian korban serta alat yang dipakai oleh tersangka pelaku kejahatan.3 B. Metode Identifikasi

Dalam pelayanan identifikasi forensik berbagai macam pemeriksaan dapat digunakan sebagai sarana identifikasi. Berdasarkan penyelenggaraan penanganan pemeriksaannya, maka sarana-sarana identifikasi dapat

dikelompokkan: 1,2,3 1. Sarana identifikasi konvensional, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang biasanya sudah dapat diselenggarakan penanganannya oleh pihak polisi penyidik antara lain: a. Metode visual, dengan memperhatikan dengan cermat atas korban, terutama wajahnya oleh pihak keluarga atau rekan dekatnya,maka jati diri korban dapat diketahui. Walaupun metoda ini sederhana, untuk mendapat hasil yang diharapkan perlu diketahui bahwa metode ini baru dapat dilakukan bila keadaan tubuh dan terutama wajah korban masih dalam keadaan baik dan belum terjadi pembusukan yang lanjut. Selain itu perlu diperhatikan faktor psikologis, emosi serta latar belakang pendidikan; oleh karena faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Juga perlu diingat bahwa manusia itu mudah terpengaruh oleh sugesti, khususnya dari pihak penyidik. b. Perhiasan, anting-antign, kalung, gelang serta cincin yang ada pada tubuh korba, khususnya bila pada perhisan itu terdapat initial nama seseorang yang biasanya terdapat pada bagian dalam dari gelang atau cincin; akan membantu dokter atau pihak penyidik didalam menentukan identitas korban. Mengingat kepentingan tersebut maka penyimpanan dari perhisan haruslah dilakukan dengan baik.

c. Dokumen, kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, paspor, kartu golongan darah, tanda pembayaran dan lain sebagainya yang ditemukan dalam dompet atau tas korban dapat menunjukkan jati diri korban. Khusus pada kecelakaan masal, perlu diingat akan kebiasaan seseorang di dalam menaruh dompet atau tasnya. Pada pria dompet biasanya terdapat dalam saku baju atau celana, sedangkan pada wanita tas biasanya dipegang; sehingga pada kecelakaan masal tas seseorang dapat terlempar dan sampai pada orang lain yang bukan pemiliknya, jika hal ini tidak diperhatikan kekeliruan identitas dapat terjadi, khususnya bila kondisi korban sudah busuk atau rusak. d. Jari, dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang sama,walaupun kedua orang tersebut kembar satu telur. Atas dasar ini, sidik jari merupakan sarana yang terpenting khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui jati diri seseorang, oleh karena selain kekhususannya, juga mudah dilakukan secara masal dan murah pembiayaanya. Walaupun pemeriksaan sidik jari tidak dilakukan dokter, dokter masih mempunyai kewajiban, yaitu untuk menganbilkan (mencetak) sidik jari, khususnya sidik jari pada korban yang tewas dan keadaan mayatnya telah membusuk. Teknik pengembangan sidik jari pada jari telah mengelupas dan memasangnya pada jari yang sesuai pada jari pemeriksa, baru kemudian dilakukan pengambilan sidik jari, merupakan prosedur yang harus dikatahui dokter.

2. Sarana identifikasi medis, yaitu berbagai macam pemeriksaan identifikasi yang diselenggarakan penanganannya oleh pihak medis, yaitu apabila pihak polisi penyidik tidak dapat menggunakan sarana identidikasi konvensional atau kurang memperoleh hasil identifikasi yang meyakinkan, antara lain: a. Pemeriksaan ciri-ciri tubuh yang spesifik maupun yang non-spesifik secara medis melalui pemeriksaan luar dan dalam pada waktu otopsi. Beberapa ciri yang spesifik, misalnya cacat bibir sumbing atau celah palatum, bekas luka ata operasi luar (sikatrik atau keloid), hiperpigmentasi daerah kulit tertentu, tahi lalat, tato, bekas fraktur atau adanya pin pada bekas operasi tulang atau juga hilangnya bagian tubuh tertentu dan lain-lain. Beberapa contoh ciri non-spesifik antara lain misalnya tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit, warna serta bentuk rambut dan mata, bentuk-bentuk hidung, bibir dan sebagainya. b. Pemeriksaan ciri-ciri gigi melalui pemeriksaan odontologis. c. Pemeriksaan ciri-ciri badan atau rangka melalui pemeriksaan antropologis, antroposkopi dan antropometri. d. Pemeriksaan golongan darah berbagai sistem: ABO, Rhesus, MN, Keel, Duffy, HLA dan sebagainya. e. Pemeriksaan ciri-ciri biologi molekuler sidik DNA dan lain-lain Dikenal ada dua metode melakukan identifikasi yaitu secara komparatif (membandingkan) dan secara rekonstruksi. Yang dimaksud dengan identifikasi membandingkan data adalah identifikasi yang dilakukan dengan cara membandingkan antara data ciri hasil pemeriksaan hasil orang tak dikenal dengan

data ciri orang yang hilang yang diperkirakan yang pernah dibuat sebelumnya. Pada penerapan penanganan identifikasi kasus korban jenasah tidak dikenal, maka kedua data ciri yang dibandingkan tersebut adalah data post mortem dan data ante mortem. Data ante mortem yang baik adalah berupa medical record dan dental record.1,4,5 Identifikasi dengan cara membandingkan data ini berpeluang menentukan identitas sampai pada tingkat individual, yaitu dapat menunjukan siapa jenasah yang tidak dikenal tersebut. Hal ini karena pada identifikasi dengan cara membandingkan data, hasilnya hanya ada dua alternatif: identifikasi positif atau negatif. Identifikasi positif, yaitu apabila kedua data yang dibandingkan adalah sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa jenasah yang tidak dikenali itu adalah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan. Identifikasi negatif yaitu apabila data yang dibandingkan tidak sama, sehingga dengan demikian belum dapat ditentukan siapa jenasah tak dienal tersebut. Untuk itu masih harus dicarikan data pembanding antemortem dari orang hilang lain yang diperkirakan lagi. Untuk dapat melakukan identifikasi dengan cara membandingkan data, diperlukan syarat yang tidak mudah, yaitu harus tersedianya data ante mortem berupa medical atau dental record yang lengkap dan akurat serta up-to-date, memenuhi kriteria untuk dapat dibandingkan dengan data post mortemnya. Apabila tidak dapat dipenuhi syarat tersebut, maka identifikasi dengan cara membandingkan tidak dapat diterapkan.1,4,5 Apabila identifikasi dengan cara membandingkan data tidak dapat diterapkan, bukan berarti kita tidak dapat mengidentifikasi. Apabila demikian

10

halnya, kita masih dapat mencoba mengidentifikasi dengan cara merekonstruksi data hasil pemeriksaan post-mortem ke dalam perkiraan-perkiraan mengenai jenis kelamin, umur, ras, tinggi dan bentuk serta ciri-ciri spesifik badan. Sebagai contoh: 4,6,7 a. Dengan mengamati lebar-sempitnya tulang panggul terhadap kriteria dan ukuran laki-laki dan perempuan, dapat diperkirakan jenis kelaminnya. b. Dengan mengamai interdigitasi dutura-sutura tengkorak dan pola waktu erupsi gigi, dapat diperkirakan umurnya. Pada kasus infantisid dengan mengukur tinggi badan (kepala-tumit atau kepala-tulang ekor) dapat diperkirakan umur bayi dalam bulan. c. Dengan formula matematis, dapat diperhitungkan perkiraan tinggi badan individu dari ukuran barang bukti tulang-tulang panjangnya. d. Dengan perhitungan indeks-indeks dan modulus kefalometri atau kraniometri, dapat diperhitungkan perkiraan ras dan bentuk muka individu. e. Dengan ciri-ciri yang spesifik, dapat menuntun kepada siapa individu yang memilikinya. Meskipun identifikasi cara rekonstruksi ini tidak sampai menghasilkan dapat menentukan identitas sampai pada tingkat individual, namun demikian perkiraan-perkiraan identitas yang dihasilkan dapat mempersempit dan

memberikan arah penyidikan. Terhadap pola permasalahan kasusnya, dikenal ada tiga macam sistem identifikasi, yaitu : 1 1. Identifikasi sistem terbuka adalah identifikasi pada kasus yang terbuka kepada siapapun dimaksudkan sebagai si korban tidak dikenal. Pola permasalahan

11

kasusnya biasanya : kriminal, korban tunggal, sulit diperoleh data antemortem, identifikasinya biasanya dilakukan dengan cara rekonstruksi, contoh: identifikasi korban pembunuhan tidak dikenal. 2. Identifikasi sistem tertutup adalah identifikasi pada kasus yang jumlah dan daftar korban tak dikenalnya sudah diketahui. Pola permasalahan kasus biasanya: non-kriminal, korban massal, dimungkinkan diperoleh data ante mortem, identifikasi dapat dilakukan dengan cara membandingkan data, contoh: identifikasi korban kecelakaan pesawat terbang menabrak gunung. 3. Identifikasi sistem semi terbuka atau semi tertutup adalah identifikasi pada suatu kasus yang sebagian korban tidak dikenalnya sudah diketahui dan sebagian lainnya belum diketahui sama sekali atau belum diektahui tetapi sudah tertentu, contoh: identifikasi korban kecelakaan pesawat terbang di Malioboro (semi terbuka) atau di suatu perumahan (semi tertutup).

C. Dasar-Dasar Identifikasi Forensik Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur identifikasi jenasah adalah : 3 a) Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam KUHAP pasal 133 : 1. Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang di duga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan

12

permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. 2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 3. Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. b) Undang-Undang Kesehatan Pasal 79 1. Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam UU No 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 2. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang : a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan. b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan. c. Meminta keteragan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha. d. Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain. e. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti.

13

f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan. g. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti sehubungan dengan tindak pidana di bidang kesehatan. 3. Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan menurut UU No 8 tahun 1981 tentang HAP.

D. Jenis-Jenis Pemeriksaan Identifikasi Forensik Menentukan identitas atau jati diri atas seorang korban tindak pidana yang berakibat fatal,relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan penentuan jati diri tersangka pelaku kejahatan. Hal tersebut oleh karena pada penentuan jati diri tersangka pelaku kejahatan semata-mata didasarkan pada penentuan secara visuil, yang sudah tentu banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga hasil yang dicapai tidak memenuhi harapan.3 Dari sembilan metoda identifikasi yang dikenal, hanya metoda penentuan jati diri dengan sidik jari (daktiloskopi) yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter, melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian. Delapan metoda yang lain, yaitu: metode visual, pakaian, perhiasan, dokumen, medis, gigi, serologi dan metode eksklusi. Dengan diketahuinya jati diri korban, pihak penyidik dapat melakukan penyidikan untuk mengungkap kasus menjadi lebih terarah; oleh karena secara kriminologis pada umumnya ada hubungan antara pelaku dengan korbannya. Daftar tersebut akan lebih diperkecil lagi bila diketahui saat kematian korban serta alat yang dipakai oleh tersangka pelaku kejahatan.3

14

Gambar 1. Jenis-Jenis Sidik Jari

Walaupun ada sembilan metoda identifikasi yang kita kenal, maka di dalam prakteknya untuk menentukan jati diri tidak semua metode dikerjakan; melainkan cukup minimal dua metoda saja: identifikasi primer dari pakaian; identifikasi konfirmatif dari gigi.3

E. Objek Identifikasi Seperti yang sudah diseutkan di muka bahwa objek identifikasi dapat berupa orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Identifikasi terhadap orang tak dikenal yang masih hidup meliputi: 8

15

1.

Penampilan umum (general appearance), yaitu tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, umur, warna kulit, rambut dan mata. Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan tingi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya. Tabel 1. Perbedaan Umur Jenis Kelamin Pria Dan Wanita Pria Panggul Posture Payudara Jakun Striae Lebih kecil dari bahu Besar Jarang berkembang Menonjol Tidak ada Tebal, tumbuh melebar Rambut pubis pusar Rambut Ada di wajah, dada Testis, prostate, vesikula Kelamin dalam seminalis Lebih besar, berat dan Tengkorak tebal Proporsi perut Paha Lebih kecil Bentuk silinder Lebih besar Bentuk kerucut Lebih kecil, ringan dan tipis Ovarium,tuba fallopi, vagina Tidak ada Lurus, hanya di mons veneris Wanita Lebih lebar dari bahu Kecil Berkembang Tidak menonjol Ada, payudara dan bokong

2. 3.

Pakaian Sidik jari

16

4. 5. 6. 7.

Jaringan parut Tato Kondisi mental Antropometri Tugas melakukan identifikasi pada orang hidup tersebut menjadi tugas

pihak kepolisian. Dalam hal-hal tertentu dapat dimintakan bantuan dokter, misalnya pada kasus pemalsuan identitas di bidang keimigrasian atau kasus penyamaran oleh pelaku kejahatan.8 Sedangkan identifikasi terhadap orang yang sudah meninggal dunia dapat dilakukan terhadap:8 1. Jenazah yang masih baru dan utuh 2. Jenazah yang sudah membusuk dan utuh 3. Bagian-bagian dari tubuh jenazah Cara melakukan identifikasi pada jenazah yang masih baru dan utuh oleh pihak kepolisian seperti yang dilakukan terhadap orang hidup. Adapun halhal yang ditemukan di dalam otopsi oleh dokter (misalnya penyakit, cacat tubuh, bekas operasi atau bekas trauma) dapat digabungkan dengan hasil pemeriksaan pihak kepolisian.8 Pada jenazah utuh yang sudah membusuk mungkin dapat diketahui jenis kelamin, tinggi badan dan umurnya. Tetapi jika tingkat pembusukannya sudah sangat lanjut mungkin sisa pakaian, perhiasan, jaringan parut, tatto atau kecacatan fisik akan bermanfaat bagi kepentingan identifikasi. Sedangkan

17

identifikasi yang lebih akurat dapat dilakukan dengan memanfaatkan gigi geliginya. Sebagaimana diketahui bahwa gigi merupakan bagian tubuh manusia yang paling tahan terhadap pembusukan, kebakaran dan reaksi kimia.8 Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sebagai berikut : 5,8 1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan yang ekstrim. 2. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi. 3. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi (dental record) dan data radiologis. 4. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis, dan morfologis, yang mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu. 5. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan penelitian bahwa gigi manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar. 6. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400C. 7. Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang terbunuh dan direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan giginya masih utuh.

18

Gambar 2 : Identifikasi Gigi pada Jenazah Pada gambar diatas menunjukkan bahwa gigi tetap dalam keadaan utuh pada suhu yang tinggi, walaupun tubuh telah rusak, tetapi gigi masih dapat diidentifikasi. Batasan dari forensik odontologi terdiri dari identifikasi dari mayat yang tidak dikenal melalui gigi, rahang dan kraniofasial. 5,8 1. Penentuan umur dari gigi. 2. Pemeriksaan jejas gigit (bite-mark). 3. Penentuan ras dari gigi. 4. Analisis dari trauma oro-fasial yang berhubungan dengan tindakan kekerasan. 5. Dental jurisprudence berupa keterangan saksi ahli. 6. Peranan pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam identifikasi personal. Jika yang ditemukan bukan jenazah yang utuh, melainkan sisa-sisa tubuh manusia maka pertama-tama yang perlu dilakukan adalah menentukan apakah sisa-sisa itu benar-benar berasal dari tubuh manusia. Jika benar maka tindakan selanjutnya adalah menentukan jenis kelamin, umur, tinggi badan dan sebagainya. Seringkali bagian-bagian dari tubuh manusia ditemukan di berbagai tempat yang terpisah sehingga timbul pertanyaan apakah bagian-bagian itu berasal

19

dari individu yang sama. Guna memastikannya diperlukan pemeriksaan DNA atau precipitin test.8

F. Bantuan Dokter Pada Proses Identifikasi Bantuan yang dapat diberikan oleh dokter pada proses identifikasi meliputi:8 1. Menentukan manusia atau bukan Jika ditemukan tulang-tulang maka kadang-kadang tulang dari beberapa binatang tertentu mirip tulang manusia. Cakar dari beruang misalnya, hampir mirip bentuknya dengan tangan manusia. Dengan pemeriksaan yang teliti akan dapat dibedakan apakah tulang yang ditemukan berasal dari manusia atau binatang. Yang agak sulit adalah jka ditemukan itu berupa tulang yang tak khas (undentifiable bones) atau jaringan lunak. Dalam hal ini pemeriksaan yang diperlukan untuk dapat menentukan manusia atau binatang adalah pemeriksaan imunologik (precipitin test). 2. Menentukan jenis kelamin Pada korban atau pada mayat yang sudah membusuk dimana penentuan jenis kelamin tidak mungkin dilakukan dengan pemeriksaan luar maka penentuan jenis kelamin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pada: a. Jaringan lunak tertentu:

20

Uterus dan prostat merupakan jaringan lunak yang lebih tahan terhadap pembusukan dan dapat digunaan untuk menentukan jenis kelamin. Dari jaringan lunak juga dapat dilakukan pemeriksaan sex chromatin untuk menetukan jenis kelamin, terutama jaringan kulit dan tulang rawan. Metode ini juga berguna bagi penentuan jenis kelamin pada mayat yang terpotong-potong. b. Tulang-tulang tertentu Pada orang dewasa, beberapa tulang tertentu bentuknya berbeda antara lakilaki dan wanita. Tulang-tulang itu antara lain tengkorak, pelvis, tulang panjang, rahang dan gigi. Tabel 2 Perbandingan Tengkorak laki-laki dan wanita Tengkorak Dahi Tepi orbita Orbital Tonjolan mastoid Rigi (muscle-ridges) Laki-laki Rendah Lebih menonjol Persegi empat Besar Kasar(nyata) Wanita Tinggi Kurang menonjol Bulat Kecil Halus

Tabel 3 Perbandingan Pelvis Laki-laki dan Wanita Pelvis Bentuk Arcus pubis Laki-laki Sempit dan panjang < 90 derajat Wanita Lebar dan pendek >90 derajat

21

Foramen ischiadica Incisura ischiadica Os sacrum

Oval Lebih dalam Kurang lebar

Segitiga Lebih dangkal Lebih lebar

Tulang panjang pada laki-laki lebih masive (terutama disekitar sendi) dan rigi perlekatan otot lebih nyata. Bentuk rahang dan gigi antara laki-laki dan wanita juga berbeda sehingga dapat dimanfaatan untuk kepentingan identifikasi jenis kelamin. Rahang pada laki-laki umumnya seperti huruf V sdangkan pada wanita seperti huruf U. Gigi dan akar gigi permanen pada laki-laki lebih besar dari pada wanita. 3. Menentukan umur Tulang manusia dan gigi juga dapat memberikan informasi penting bagi perkiraan umur manusia. Namun signifikan dari pemeriksaan tulang bergantung pada besarnya penyebaran kelompok umur sehingga perlu dikelompokan secra terpisah menjadi kelompok fetus, neonatus, anak-anak, adolescen dan dewasa. Pada fetus dan neonatus, perkiran didasarkan pada inti penulangan yang dapat dilihat melalui pemeriksaan ronsenologik atau otopsi. Oleh para ahli telah disusun tabel pembentuan inti penulangan dari berbagai tulang, mulai dari kehidupan intrauterin sampai pada kehidupan di luar kandungan. Pada anak-anak dan adolesen sampai umur 20 tahun, yang paling berguna bagi penentuan umur adalah penutupan epifise. Seperti diketahui bahwa penutupan epifise juga mengikuti uruta kronologi. Memang tingkat ketelitiannya rendah sehingga perlu dikombinasi dengan pemeriksaan lain.

22

Pada kelompok dewasa (yaitu sesudah berumur 20 tahun), perkiraan umur dengan menggunakan tulang menjadi lebih sulit. Beberapa petunjuk yang dapat dipakai antara lain, penutupan sutura, perubahan sudut rahang dan adanya proses penyakit. Penentuan umur dengan menganalisis jaringan yang akan tumbuh menjadi gigi pada bayi di dalam kandungan mempunyai derajat kecermatan yang tinggi. Sesudah dilahirkan penentuan umur dapat dilakukan dengan mendasarkan pad mineralisasi, pembentukan mahkota gigi, erupsi gigi dan resobsi apicalis. Dengan menggunakan formula matematik, Gustafson telah menyusun rumus yang dapat digunakan untuk membantu menentukan umur melalui pemeriksaan gigi. 4. Menentukan tinggi badan Salah satu informasi penting yang dapat digunakan untuk melacak identitas seseorang adalah informasi tentang tinggi badan. Oleh sebab itu pada pemeriksaan jenazah yang tak diketahui identitasnya perlu diperiksa tinggi badannya. Memang tidak mudah mendapatkan tinggi badan yang tepat dari pemeriksaan yang dilakukan sesudah mati, meskipun yang diperiksa itu jenazah yang utuh. Perlu diketahui bahwa ukuran orang yang sudah mati biasanya sedikit lebih panjang (sekitar 2,5 cm) dari pada tinggi badan waktu hidup. Jika yang diperiksa jenazah yang tidak utuh maka penentuan tinggi badan dapat dilakukan dengan menggunakan tulng-tulang panjang. Hanya dengan sepotong tulang panjang yang utuh umur pemiliknya dapat diperkirakan, tetapi hasil yang lebih akurat dapat diperoleh jika tersedia beberapa jenis dari tulang

23

panjang. Untuk kepentingan perhitungan tersebut ada banyak rumus yang dapat dipakai dan salah satunya adalah rumus Karl Pearson.

G. Identitas Personal Jika identifikasi terhadap jenazah tak dikenal dilakukan dengan menggunakan data pembanding maka identitas personalnya akan dapat dikenali. Data pembanding tersebut ialah contoh sidik jari, medical record gigi geligi serta contoh DNA. Kehandalan sidik jari (fingerprint) sebagai sarana identifikasi personal disebabkan karena hampir tak pernah ditemukan dua orang dengan sidik jari yang sama, bahkan pada orang kembar sekalipun. Secara teoritis, kemungkinan terjadinya dua orang dengan sidik jari sama adalah sebesar sepersepuluh ribu bilyun. Selain itu sidik jari tak mengalami perubahan karena umur. Oleh sebab itu sidik jari yang diambil beberapa tahun sebelumnya masih dapat dipakai sebagai pembanding.3,8 Jika kulit jari sudah keriput maka pengambilan sidik jari dapat dilkukan sesudah jaringan dibwah kulit disuntik lebih dahulu dengan cairan parafin, formalin atau air. Sedang pada mayat yang epidermisnya sudah mengelupas, pengambilan sidik jari dapat dilakukan dengan hati-hati dan berulang-ulang mengingat gambaran sidik jari pada dermis tidak sejelas gambaran sidik jari pada epidermis.3,8 Dalam hal sidik jari tidak mungkin lagi diambil maka pemeriksaan gigi-geligi menjadi penting. Pada peristiwa kecelakaan pesawat terbang misalnya,

24

dimana daftar manifes penumpang diketahui, identifikasi positif akan mudah dilakukan dengan membandingkan hasil pemeriksaan itu dengan file dari semua penumpang.3,8 BAB III PENUTUP

Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi juga diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui identitas seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan. Dikenal ada tiga macam sistem identifikasi, yaitu identifikasi sistem terbuka, identifikasi sistem tertutup dan identifikasi sistem semi terbuka atau semi tertutup. Dari sembilan metoda identifikasi yang dikenal, hanya metoda penentuan jati diri dengan sidik jari (daktiloskopi) yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter, melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian. Delapan metoda yang lain, yaitu: metode visual, pakaian, perhiasan, dokumen, medis, gigi, serologi dan metode eksklusi.

25

DAFTAR PUSTAKA

1.

Anonymous. Identifikasi dalam Minds Forensic 1th Edition. Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat,Banjarmasin 2012 Gani, M.Husni, dr. DSF. Ilmu Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, Indonesia 2002 Idries, Abdul Munim. Identifikasi dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Binarupa Aksara, Jakarta. 1997. Kusuma, Soekry Erfan. Identifikasi Medikolegal dalam Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,Surabaya 2007 Launtz, LL. Handbook For Dental Identification. JB Lippincott Company, Philadelphia and Toronto 1973. Reichs, KJ. Forensic Osteology Advances In The Identification of Human Remain Charles C Thomas Publisher, Springfield Illinois USA 1986. Krogman WM and Iscan MY. The Human Skeleton In Forensic Medicine.Charles C Thomas Publisher, Springfield Illinois, USA 1985. Dahlan,Sofwan. Identifikasi dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang 2000

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

26

BALISTIK

27

BAB I PENDAHULUAN

Di dalam menghadapi kasus kriminal, pemakaian senjata api sebagai alat yang dimaksudkan untuk melukai atau mematikan seseorang, maka dokter sebagai orang yang melakukan pemeriksaan, khususnya atas diri korban, perlu secara hatihati, cermat dan teliti dalam menafsirkan hasil yang didapatnya.1 Di dalam dunia kriminal, senjata api yang biasa dipergunakan adalah senjata genggam beralur, sedangkan senjata api dengan laras panjang dan senjata yang biasa dipakai untuk olahraga berburu yang larasnya tidak beralur jarang dipakai untuk maksud kriminal.2 Senjata genggam yang banyak dipergunakan untuk maksud kriminal dapat dibagi dalam dua kelompok, dimana dasar pembagian berikut adalah arah perputaran alur yang terdapat dalam laras senjata yaitu senjata api dengan alur ke kiri yang dikenal dengan senjata api tipe COLT dan senjata api dengan alur ke kanan yang dikenal dengan senjata api tipe Smith & Wesson (tipe SW).1,3 Jenis senjata api yang digunakan dapat diketahui dari anak peluru yang terdapat pada tubuh korban, yaitu adanya goresan dan alur yang memutar kearah kanan atau kiri bila dilihat dari bagian basis anak peluru.1 Luka tembak merupakan penyebab kematian akibat kejahatan yang paling umum di Amerika Serikat. Luka tembak paling umum dijumpai sebagai penyebab kematian adalah akibat pembunuhan dan di beberapa daerah bagiannya adalah akibat bunuh diri. Di Amerika Serikat pertahunnya diperkirakan terdapat sekitar 70.000 jiwa korban luka tembak dengan kasus kematian sekitar 30.000 jiwa.

28

Biaya medis, legal, dan emosional akibat kejahatan tersebut menjadi suatu beban berat bagi rumah sakit, sistem peradilan, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Evaluasi mengenai luka tersebut memerlukan latihan khusus dan keahlian baik oleh seorang dokter yang menangani bagian kegawatdaruratan korban luka tembak maupun para ahli patologi dan forensik.1,3,4 Untuk dapat menjalankan tugas dan fungsi sebagai pemeriksa, maka dokter harus menjelaskan berbagai hal, diantaranya apakah luka tersebut memang luka tembak, yang mana luka tembak masuk dan yang mana yang keluar, jenis senjata yang dipakai, jarak tembak, arah tembakan, perkiraan posisi korban sewaktu ditembak, berapa kali korban ditembak, dan luka tembak mana yang menyebabkan kematian.1 Dalam memberikan pendapat atau kesimpulan dalam visum et repertum, tidak dibenarkan menggunakan istilah pistol atau revolver karena perkataan pistol mengandung pengertian bahwa senjatanya termasuk otomatis atau semi otomatis, sedangkan revolver berarti anak peluru berada dalam silinder yang akan memutar jika tembakan dilepaskan. Oleh karena dokter tidak melihat peristiwa penembakannya, maka yang akan disampaikan adalah; senjata api kaliber 0,38 dengan alur ke kiri dan sebagainya.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Arti Klinis Luka Tembak

29

Dalam praktek banyak terdapat hal tentang luka tembak masuk pada tubuh manusia. Seperti kita ketahui kulit terdiri dari lapisan epidermis, dermis dan subkutis. Jika dilihat dari elastisitasnya, epidermis kurang elastis bila dibandingkan dengan dermis. Bila sebutir peluru menembus tubuh, maka cacat pada epidermis lebih luas dari pada dermis. Diameter luka pada epidermis kurang lebih sama dengan diameter anak peluru, sedangkan diameter luka pada dermis lebih kecil. Keadaan tersebut dikenal sebagai kelim memar (contusio ring).2,4

II.2. Klasifikasi Senjata Api Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil peledakan mesiu, dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya.1 Proyektil yang dilepaskan dari suatu tembakan dapat tunggal, dapat pula tunggal berurutan secara otomatis maupun dalam jumlah tertentu bersama sama.1Senjataapi dapat dikelompokan menjadi: A. Berdasarkan Panjang Laras: 1. Laras pendek.3 Revolver, Mempunyai metal drum (tempat penyimpanan 6 peluru) yang berputar (revolve) setiap kali trigger ditarik dan menempatkan peluru baru pada posisi siap untuk di tembakkan. Pistol, peluru disimpan dalam sebuah silinder yang diputar dengan menarik picunya.

30

Gambar 2.1. Senjata api laras pendek

2. Laras panjang3 Senjata ini berkekuatan tinggi dengandaya tembak sampai 3000 m, mempergunakan peluru yang lebihpanjang. Dibagi menjadi dua yaitu: Senapan tabur : Senapan tabur dirancang untuk dapat memuntahkan butirbutir tabur ganda lewat larasnya, sedangkan senapan dirancang untuk memuntahkan peluru tunggal lewat larasnya, moncong senapan halus dan tidak terdapat rifling. Senapan untuk menyerang: Senapan ini mengisi pelurunya sendiri,

mampu melakukan tembakan otomatis sepenuhnya, mempunyai kapasitas magasin yang besar dan dilengkapi ruang ledak untuk peluru senapan dengan kekuatan sedang (peluru dengan kekuatan sedang antara peluru senapan standard dan peluru pistol).4

31

Gambar 2.2. Senjata api laras panjang

B. Berdasarkan Alur Laras 1. Laras beralur (Rifled bore) Agar anak peluru dapat berjalan stabil dalam lintasannya, permukaan dalam laras dibuat beralur spiral dengan diameter yang sedikit lebih kecil dari diameter anak peluru, sehingga anak peluru yang didorong oleh ledakan mesiu, saat melalui laras, dipaksa bergerak maju sambil berputar sesuai porosnya, dan ini akan memperoleh gaya sentripetal sehingga anak peluru tetap dalam posisi ujung depannya di depan dalam lintasannya setelah lepas laras menuju sasaran. Alur laras ini dibagi menjadi dua yaitu, arah putaran ke kiri (COLT) dan arah putaran ke kanan (Smith and Wesson).3,4

Gambar 2.3. Senjata api beralur

2. Laras tak beralur atau laras licin (Smooth bore)

32

Senjata api jenis ini dapat melontarkan anak peluru dalam jumlah banyak pada satu kali tembakan. Contohnya adalah shot gun.4,5

II.3. Mekanisme Luka Tembak Pada luka tembak terjadi efek perlambatan yang disebabkan pada trauma mekanik seperti pukulan, tusukan, atau tendangan, hal ini terjadi akibat adanya transfer energi dari luar menuju jaringan. Kerusakan yang terjadi pada jaringan tergantung pada absorpsi energi kinetiknya, yang juga akan menghamburkan panas, suara serta gangguan mekanik yang lainya.2,4 Energi kinetik ini akan mengakibatkan daya dorong peluru ke suatu jaringan sehingga terjadi laserasi, kerusakan sekunder terjadi bila terdapat ruptur pembuluh darah atau struktur lainnya dan terjadi luka yang sedikit lebih besar dari diameter peluru. Jika kecepatan melebihi kecepatan udara, lintasan dari peluru yang menembus jaringan akan terjadi gelombang tekanan yang mengkompresi jika terjadi pada jaringan seperti otak, hati ataupun otot akan mengakibatkan kerusakan dengan adanya zona-zona disekitar luka.4 Dengan adanya lesatan peluru dengan kecepatan tinggi akan membentuk rongga disebabkan gerakan sentrifugal pada peluru sampai keluar dari jaringan dan diameter rongga ini lebih besar dari diameter peluru, dan rongga ini akan mengecil sesaat setelah peluru berhenti, dengan ukuran luka tetap sama. Organ dengan konsistensi yang padat tingkat kerusakan lebih tinggi daripada organ berongga. Efek luka juga berhubungan dengan gaya gravitasi. Pada pemeriksaan harus dipikirkan adanya kerusakan sekunder seperti infark atau infeksi.4,6

33

Gambar 2.4. Mekanisme luka tembak

II.4. Klasifikasi Luka Tembak Pada klasifikasi luka tembak yang diperlukan adalah jarak tembak atau jarak antara moncong senjata dengan targetnya yaitu tubuh korban. Berdasarkan ciriciri yang khas pada setiap tembakan yang dilepaskan dari berbagai jarak, maka perkiraan jarak tembak dapat diketahui, dengan demikian dapat dibuat klasifikasinya. Klasifikasi yang dimaksud antara lain :1,3 A. Luka Tembak Masuk 1. Luka tembak masuk tempel (contact wounds) a. Terjadi bila moncong senjata ditekan pada tubuh korban dan ditembakkan. Bila tekanan pada tubuh erat disebut hard contact, sedangkan yang tidak erat disebut soft contact. b. Umumnya luka berbentuk bundar yang dikelilingi kelim lecet yang sama lebarnya pada setiap bagian.

34

c. Di sekeliling luka tampak daerah yang bewarna merah atau merah coklat, yang menggambarkan bentuk dari moncong senjata, ini disebut jejas laras. d. Rambut dan kulit di sekitar luka dapat hangus terbakar. e. Saluran luka akan bewarna hitam yang disebabkan oleh butir-butir mesiu, jelaga dan minyak pelumas. f. Tepi luka dapat bewarna merah, oleh karena terbentuknya COHb. g. Bentuk luka tembak tempel sangat dipengaruhi oleh keadaan / densitas jaringan yang berada di bawahnya, dengan demikian dapat dibedakan : Luka tembak tempel di daerah dahi Luka tembak tempel di daerah pelipis Luka tembak tempel di daerah perut h. Luka tembak tempel di daerah dahi mempunyai ciri : Luka berbentuk bintang: Bentuk bintang tersebut disebabkan oleh tenaga tembakan yang diteruskan ke segala arah, fragmen-fragmen tulang yang terbentuk turut terdorong keluar dan menimbulkan robekan-robekan baru yang dimulai dari pinggir luka dan menyebar secara radier. Terdapat jejak laras i. Luka tembak tempel di daerah pelipis mempunyai ciri : Luka berbentuk bundar Terdapat jejas laras j. Luka tembak tempel di daerah perut mempunyai ciri : Luka berbentuk bundar Kemungkinan besar tidak terdapat jejas laras

35

Gambar 2.5. Luka tembak tempel ,3

2. Luka tembak masuk jarak dekat (close range wounds) Pengertian jarak dekat bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh korban sekitar 50 cm (24 inci) sampai 15 cm. Ciri dari luka tembak ini adalah:3,4 a. Luka berbentuk bundar atau oval tergantung sudut masuknya peluru, dengan di sekitarnya terdapat bintik-bintik hitam (kelim tato) dan atau jelaga (kelim jelaga). b. Di sekitar luka dapat ditemukan daerah yang bewarna merah atau hangus terbakar. c. Bila terdapat kelim tato, berarti jarak antara moncong senjata dengan korban sekitar 60 cm (50-60 cm), yaitu untuk senjata genggam. d. Bila terdapat pula kelim jelaga, jaraknya sekitar 30 cm (25-30 cm). e. Bila terdapat juga kelim api, maka jarak antara moncong senjata dengan korban sekitar 15 cm.

36

Gambar 2.6. Luka Tembak Jarak Dekat

3. Luka tembak masuk jarak jauh (long range wound)1, 2,3 Luka tembak jarak jauh adalah luka tembak dimana jarak antara moncong senjata dengan korban diatas 50 cm, atau diluar jarak tempuh atau jangkauan butir-butir mesiu. a. Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh korban di luar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau terbakar sebagian. b. Luka berbentuk bundar atau oval dengan disertai adanya kelim lecet. c. Bila senjata sering dirawat (diberi minyak) maka pada kelim lecet dapat dilihat pengotoran bewarna hitam berminyak, jadi ada kelim kesat atau kelim lemak.

37

Gambar 2.7. Luka Tembak Jarak Jauh

B. Luka Tembak Keluar Jika peluru yang ditembakan dari senjata api mengenai tubuh korban dan kekuatannya masih cukup untuk menembus dan keluar pada bagian tubuh lainnya, maka luka tembak dimana peluru meninggalkan tubuh itu disebut luka tembak keluar. Bilamana peluru yang masuk ke dalam tubuh korban tidak terbentur pada tulang, maka saluran luka yang terbentuk yang menghubungkan luka tembak masuk dan luka tembak keluar dapat menunjukkan arah datangnya peluru yang dapat disesuaikan dengan arah tembakan.1 Luka tembak keluar mempunyai ciri khusus yang sekaligus sebagai perbedaan pokok dengan luka tembak masuk. Ciri tersebut adalah tidak adanya kelim lecet pada luka tembak keluar, dengan tidak adanya kelim lecet, kelimkelim lainnya juga tentu tidak ditemukan.1,3 Ciri lain dari luka tembak keluar yang dapat dikatakan agak khas, oleh karena hampir semua luka tembak keluar memiliki ciri ini, adalah luka tembak keluar pada umumnya lebih besar dari luka tembak masuk.1,3

38

Gambar 2.8. Luka tembak keluar

Adapun faktor faktor yang menyebabkan luka tembak keluar lebih besar dari luka tembak masuk adalah :1 Perubahan luas peluru, oleh karena terjadi deformitas sewaktu peluru berada dalam tubuh dan membentur tulang. Peluru sewaktu berada dalam tubuh mengalami perubahan gerak, misalnya karena terbentur bagian tubuh yang keras, peluru bergerak berputar dari ujung ke ujung (end to end), keadaan ini disebut tumbling. Pergerakan peluru yang lurus menjadi tidak beraturan, disebut yawing. Peluru pecah menjadi beberapa fragmen. Fragmen-fragmen ini menyebabkan luka tembak keluar menjadi lebih besar. Bila peluru mengenai tulang dan fragmen tulang tersebut turut terbawa keluar, maka fragmen tulang tersebut akan membuat robekan tambahan sehingga akan memperbesar luka tembak keluarnya. Pada beberapa keadaan luka tembak keluar lebih kecil dari luka tembak masuk, hal ini disebabkan :1

39

Kecepatan atau velocity peluru sewaktu akan menembus keluar berkurang, sehingga kerusakannya (lubang luka tembak keluar) akan lebih kecil, perlu diketahui bahwa kemampuan peluru untuk dapat menimbulkan kerusakan berhubungan langsung dengan ukuran peluru dan velocity. Adanya benda menahan atau menekan kulit pada daerah dimana peluru akan keluar yang berarti menghambat kecepatan peluru, luka tembak keluar akan lebih kecil bila dibandingkan dengan luka tembak masuk. Beberapa variasi luka tembak keluar 1 Luka tembak keluar sebagian (partial exit wound), hal ini dimungkinkan oleh karena tenaga peluru tersebut hampir habis atau ada penghalang yang menekan pada tempat dimana peluru akan keluar, dengan demikian luka dapat hanya berbentuk celah dan tidak jarang peluru tampak menonjol sedikit pada celah tersebut. Jumlah luka tembak keluar lebih banyak dari jumlah peluru yang ditembakkan, ini dimungkinkan karena : o Peluru pecah dan masing-masing pecahan membuat sendiri luka tembak keluar. o Peluru menyebabkan ada tulang yang patah dan tulang tersebut terdorong keluar pada tempat yang berbeda dengan tempat keluarnya peluru. o Dua peluru masuk ke dalam tubuh melalui satu luka tembak masuk (tandem bullet injury), dan di dalam tubuh ke dua peluru tersebut berpisah dan keluar melalui tempat yang berbeda. II.5. Efek Luka Tembak

40

Pada saat seseorang melepaskan tembakan dan kebetulan mengenai sasaran yaitu tubuh korban, maka pada tubuh korban tersebut akan didapatkan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai unsur atau komponen yang keluar dari laras senjata api tersebut.1,3 Adapun komponen atau unsur-unsur yang keluar pada setiap penembakan adalah:1,4 anak peluru butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar asap atau jelaga api partikel logam Bila senjata yang dipergunakan sering diberi minyak pelumas, maka minyak yang melekat pada anak peluru dapat terbawa dan melekat pada luka. Bila penembakan dilakukan dengan posisi moncong senjata menempel dengan erat pada tubuh korban, maka akan terdapat jejas laras. Selain itu bila senjata yang dipakai termasuk senjata yang tidak beralur (smooth bore), maka komponen yang keluar adalah anak peluru dalam satu kesatuan atau tersebar dalam bentuk pellet, tutup dari peluru itu sendiri juga dapat menimbulkan kelainan dalam bentuk luka.1,4 Komponen atau unsur-unsur yang keluar pada setiap peristiwa penembakan akan menimbulkan kelainan pada tubuh korban sebagai berikut:1,3,4 1) Akibat anak peluru (bullet effect): luka terbuka. Luka terbuka yang terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: Kecepatan Posisi peluru pada saat masuk ke dalam tubuh

41

Bentuk dan ukuran peluru Densitas jaringan tubuh di mana peluru masuk Peluru yang mempunyai kecepatan tinggi (high velocity), akan menimbulkan luka yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan peluru yang kecepatannya lebih rendah (low velocity). Kerusakan jaringan tubuh akan lebih berat bila peluru mengenai bagian tubuh yang densitasnya lebih besar. Pada organ tubuh yang berongga seperti jantung dan kandung kencing, bila terkena tembakan dan kedua organ tersebut sedang terisi penuh (jantung dalam fase diastole), maka kerusakan yang terjadi akan lebih hebat bila dibandingkan dengan jantung dalam fase sistole dan kandung kencing yang kosong; hal tersebut disebabkan karena adanya penyebaran tekanan hidrostatik ke seluruh bagian. Mekanisme terbentuknya luka dan kelim lecet akibat anak peluru: a. Pada saat peluru mengenai kulit, kulit akan teregang b. Bila kekuatan anak peluru lebih besar dari kulit maka akan terjadi robekan c. Oleh karena terjadi gerakan rotasi dari peluru (pada senjata yang beralur atau rifle bore), terjadi gesekan antara badan peluru dengan tepi robekan sehingga terjadi kelim lecet (abrasion ring) d. Oleh karena tenaga penetrasi peluru dan gerakan rotasi akan diteruskan ke segala arah, maka sewaktu anak peluru berada dan melintas dalam tubuh akan terbentuk lubang yang lebih besar dari diameter peluru

42

e. Bila peluru telah meninggalkan tubuh atau keluar, lubang atau robekan yang terjadi akan mengecil kembali, hal ini dimungkinkan oleh adanya elastisitas dari jaringan f. Bila peluru masuk ke dalam tubuh secara tegak lurus maka kelim lecet yang terbentuk akan sama lebarnya pada setiap arah g. Peluru yang masuk secara membentuk sudut atau serong akan dapat diketahui dari bentuk kelim lecet h. Kelim lecet paling lebar merupakan petunjuk bahwa peluru masuk dari arah tersebut i. Pada senjata yang dirawat baik, maka pada klim lecet akan dijumpai pewarnaan kehitaman akibat minyak pelumas, hal ini disebut kelim kesat atau kelim lemak (grease ring/ grease mark) j. Bila peluru masuk pada daerah di mana densitasnya rendah, maka bentuk luka yang terjadi adalah bentuk bundar, bila jaringan di bawahnya mempunyai densitas besar seperti tulang, maka sebagian tenaga dari peluru disertai pula dengan gas yang terbentuk akan memantul dan mengangkat kulit di atasnya, sehingga robekan yang tejadi menjadi tidak beraturan atau berbentuk bintang k. Perkiraan diameter anak peluru merupakan penjumlahan antara diameter lubang luka ditambah dengan lebar kelim lecet yang tegak lurus dengan arah masuknya peluru l. Peluru yang hanya menyerempet tubuh korban akan menimbulkan robekan dangkal, disebut bullet slap atau bullet graze

43

m. Bila peluru menyebabkan luka terbuka dimana luka tembak masuk bersatu dengan luka tembak keluar, luka yang terbentuk disebut gutter wound

2) Akibat butir-butir mesiu (gunpowder effect): tattoo, stipling a. Butir butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar akan masuk ke dalam kulit b. Daerah di mana butir-butir mesiu tersebut masuk akan tampak berbintikbintik hitam dan bercampur dengan perdarahan c. Oleh karena penetrasi butir mesiu tadi cukup dalam, maka bintik-bintik hitam tersebut tidak dapat dihapus dengan kain dari luar d. Jangkauan butir-butir mesiu untuk senjata genggam berkisar sekitar 60 cm e. Black powder adalah butir mesiu yang komposisinya terdiri dari nitrit, tiosianat, tiosulfat, kalium karbonat, kalium sulfat, kalium sulfida, sedangkan smoke less powder terdiri dari nitrit dan selulosa nitrat yang dicampur dengan karbon dan gravid 3) Akibat asap (smoke effect): jelaga a. Oleh karena setiap proses pembakaran itu tidak sempurna, maka terbentuk asap atau jelaga b. Jelaga yang berasal dari black powder komposisinya CO2 (50%) nitrogen 35%, CO 10%, hydrogen sulfide 3%, hydrogen 2 % serta sedikit oksigen dan methane c. Smoke less powder akan menghasilkan asap yang jauh lebih sedikit d. Jangkauan jelaga untuk senjata genggam berkisar sekitar 30 cm

44

e. Oleh karena jelaga itu ringan, jelaga hanya menempel pada permukaan kulit, sehingga bila dihapus akan menghilang. 4) Akibat api (flame effect): luka bakar a. Terbakarnya butir-butir mesiu akan menghasilkan api serta gas panas yang akan mengakibatkan kulit akan tampak hangus terbakar (scorching, charring) b. Jika tembakan terjadi pada daerah yang berambut, maka rambut akan terbakar c. Jarak tempuh api serta gas panas untuk senjata genggam sekitar 15 cm, sedangkan untuk senjata yang kalibernya lebih kecil, jaraknya sekitar 7,5 cm

5) Akibat partikel logam (metal effect): fouling a. Oleh karena diameter peluru lebih besar dari diameter laras, maka sewaktu peluru bergulir pada laras yang beralur akan terjadi pelepasan partikel logam sebagai akibat pergesekan tersebut b. Partikel atau fragmen logam tersebut akan menimbulkan luka lecet atau luka terbuka dangkal yang kecil-kecil pada tubuh korban c. Partikel tersebut dapat masuk ke dalam kulit atau tertahan pada pakaian korban. 6) Akibat moncong senjata (muzzle effect): jejas laras

45

a. Jejas laras dapat terjadi pada luka tembak tempel, baik luka tembak tempel yang erat (hard contact) maupun yang hanya sebagian menempel (soft contact) b. Jejas laras dapat terjadi bila moncong senjata ditempelkan pada bagian tubuh, dimana di bawahnya ada bagian yang keras (tulang) c. Jejas laras terjadi oleh karena adanya tenaga yang terpantul oleh tulang dan mengangkat kulit sehingga terjadi benturan yang cukup kuat antara kulit dan moncong senjata d. Jejas laras dapat pula terjadi jika si penembak memukulkan moncong senjatanya dengan cukup keras pada tubuh korban, akan tetapi hal ini jarang terjadi e. Pada hard contact, jejas laras tampak jelas mengelilingi lubang luka, sedangkan pada soft contact, jejas laras sebetulnya luka lecet tekan tersebut akan tampak sebagian sebagai garis lengkung f. Bila pada hard contact tidak akan dijumpai kelim jelaga atau kelim tato, oleh karena tertutup rapat oleh laras senjata, maka pada soft contact jelaga dan butir mesiu ada yang keluar melalui celah antara moncong senjata dan kulit, sehingga terdapat adanya kelim jelaga dan kelim tato. 7) Pengaruh pakaian pada luka tembak masuk 1,5 Jika tembakan mengenai tubuh korban yang ditutup pakaian, dan pakaiannya cukup tebal, maka dapat terjadi: Asap, butir-butir mesiu dan api dapat tertahan pakaian Fragmen atau partikel logam dapat tertahan oleh pakaian

46

Serat-serat pakaian dapat terbawa oleh peluru dan masuk ke dalam lubang luka tembak

II.6. Deskripsi Luka Tembak Kepentingan medikolegal deskripsi yang adekuat dari luka senjata api bergantung pada besarnya potensi seorang korban meninggal. Jika korban masih hidup, deskripsi singkat dan tidak terlalu detail. Dokter mempunyai tanggung jawab yang utama luka, untuk memberikan penatalaksanaan dan mengeksplorasi, gawat darurat. dan

Membersihkan

membuka

debridement

menutupnya, kemudian membalut adalah bagian penting dari merawat pasien bagi dokter. Penggambaran luka secara detail akan dilakukan nanti, setelah semua kondisi gawat darurat dapat disingkirkan. Oleh karena singkatnya waktu yang dimiliki untuk mempelajari medikolegal, seringkali dokter merasa tidak mempunyai kewajiban untuk mendeskripskan luka secara detail. Deskripsi luka yang minimal untuk pasien hidup terdiri dari : Lokasi luka, ukuran dan bentuk defek, lingkaran abrasi, lipatan kulit yang utuh dan robek, bubuk hitam sisa tembakan (jika ada), tato (jika ada), dan bagian yang ditembus/dilewati.1,2,4 Penatalaksanaan luka, termasuk debridement, penjahitan, pengguntingan rambut, pembalutan, drainase, dan operasi perluasan luka. Pada korban mati, tidak ada tuntutan dalam mengatasi gawat darurat. Meskipun demikian, tubuhnya dapat saja sudah mengalami perubahan akibat penanganan gawat darurat dari pihak lain. Sebagai tambahan, tubuh bisa berubah akibat perlakuan orang-orang yang mempersiapkan tubuhnya untuk dikirimkan

47

kepada pihak yang bertanggung jawab untuk menerimanya. Di lain pihak, tubuh mungkin sudah dibersihkan, bahkan sudah disiapkan untuk penguburan, luka sudah ditutup dengan lilin atau material lain. Penting untuk mengetahui siapa dan apa yang telah dikerjakannya terhadap tubuh korban, untuk mengetahui gambaran luka. a. Jarak Tembakan Efek gas, bubuk mesiu, dan anak peluru terhadap target dapat digunakan dalam keilmuan forensik untuk memperkirakan jarak target dari tembakan dilepaskan. Perkiraan tersebut memiliki kepentingan sebagai berikut : untuk membuktikan atau menyangkal tuntutan; untuk menyatakan atau menyingkirkan

kemungkinan bunuh diri; membantu menilai ciri alami luka akibat kecelakaan. Meski kisaran jarak tembak tidak dapat dinilai dengan ketajaman absolut, luka tembak dapat diklasifikasikan sebagai luka tembak jarak dekat, sedang, dan jauh. 1,2,4 b. Arah Tembakan Luka tembak yang tepat akan membentuk lubang yang sirkuler serta perubahan warna pada kulit, jika sudut penembakan olique akan mengakibatkan luka tembak berbentuk ellips, panjang luka dihubungkan dengan pengurangan sudut tembak. Senapan akan memproduksi lebih sedikit kotoran, kecuali jika jarak dekat. Petunjuk ini berguna untuk pembanding dengan shotgun. Luka tembak yang disebabkan shotgun dengan sudut olique akan membentuk luka seperti anak tangga. Jaringan juga berperan serta dalam perubahan gambaran luka karena adanya kontraksi otot.

48

II.7. Cara Pengukuran Jarak Tembak Dalam Visum Et Repertum Bila pada korban terdapat luka tembak masuk dan tampak jelas adanya jejas laras, kelim api, kelim jelaga atau kelim tato, maka perkiraan penentuan jarak tembak tidak sulit. Kesulitan timbul bila tidak ada kelim-kelim tersebut selain kelim lecet.1 Bila terdapat kelim jelaga, berarti korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 30 cm, kelim tato berarti korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 60 cm dan seterusnya. Sedangkan kelim api menunjukan bahwa korban ditembak dari jarak yang sangat dekat sekali, yaitu maksimal 15 cm.

II.8. Pemeriksaan Khusus Pada Luka Tembak Masuk Pada beberapa keadaan, pemeriksaan terhadap luka tembak masuk, sering dipersulit oleh adanya pengotoran oleh darah, sehingga pemeriksaan tidak dapat dilakukan dengan baik.1 Untuk menghadapi penyulit pada pemeriksaan tersebut dapat dilakukan prosedur sebagai berikut:1 Luka tembak dibersihkan dengan hydrogen-peroxide 3% Setelah 2-3 menit luka tersebut dicuci dengan air, untuk membersihkan busa yang terjadi dan membersihkan darah. Dengan pemberian hydrogen-peroxide tadi, luka tembak akan bersih dan tampak jelas, sehingga deskripsi luka dapat dilakukan dengan akurat. Selain secara makroskopik, dapat juga dengan pemeriksaan khusus: pemeriksaan mikroskopik, pemeriksaan kimiawi, dan pemeriksaan radiologik.1 a) Pemeriksaan Mikroskopik 1,6

49

Perubahan yang tampak diakibatkan oleh dua faktor, yaitu: trauma mekanik dan termis, pada luka tembak tempel dan luka tembak jarak dekat perubahan mikroskopis yang terjadi adalah: Kompresi epitel, disekitar luka tampak epitel yang normal dan yang mengalami kompresi, elongasi, dan menjadi pipihnya sel-sel epidermal serta elongasi dari inti sel Distorsi dari sel epidermis di tepi luka yang dapat bercampur dengan butirbutir mesiu Epitel mengalami nekrosis koagulatif, epitel sembab, vakuolisasi sel-sel basal Akibat panas, jaringan kolagen menyatu dengan pewarnaan HE, akan lebih banyak mengambil warna biru (basophilic staining) Tampak perdarahan yang masih baru dalam epidermis (kelainan ini paling dominan, dan adanya butir-butir mesiu) Sel-sel pada dermis intinya mengerut, vakuolisasi dan piknotik Butir-butir mesiu tampak sebagai benda tidak beraturan, berwarna hitam atau hitam kecoklatan Pada luka tembak tempel hard contact, permukaan kulit sekitar luka tidak terdapat butir-butir mesiu atau hanya sedikit sekali; butir-butir mesiu akan tampak banyak pada lapisan bawahnya, khususnys di sepanjang tepi saluran luka Pada luka tembak tempel soft contact, butir-butir mesiu terdapat pada kulit dan jaringan di bawah kulit

50

Pada luka tembak jarak dekat, butir-butir mesiu terutama terdapat pada permukaan kulit, hanya sedikit yang ada pada lapisan-lapisan kulit. b) Pemeriksaan Kimiawi 1 Pada black gun powder dapat ditemukan kalium, karbon, nitrit, nitrat, sulfas, sulfat, karbonat, tiosianat dan tiosulfat Pada smokeless gun powder dapat ditemukan nitrit, dan selulosa-nitrat Pada senjata api yang modern, ditemukan timah, barium, antimony, dan merkuri Unsur-unsur kimia yang berasal dari laras senjata dan dari peluru sendiri dapat ditemukan timah, antimon, nikel, tembaga, bismuth, perak, dan thalium Pemeriksaan atas unsur-unsur tersebut dapat dilakukan terhadap pakaian, di dalam atau di sekitar luka Pada pelaku penembakan, unsur-unsur tersebut dapat dideteksi pada tangan yang menggenggam senjata c) Pemeriksaan dengan Sinar-X 1 Pemeriksaan radiologik ini umumnya untuk memudahkan dalam mengetahui letak peluru dalam tubuh korban. Pada tandem bullet injury dapat ditemukan dua peluru walaupun luka tembak masuknya hanya satu. Bila pada tubuh korban tampak banyak pellet tersebar, maka dapat dipastikan bahwa korban ditembak dengan senjata jenis shotgun, yang tidak beralur, dimana dalam satu peluru terdiri dari berpuluh pellet.

51

Bila pada tubuh korban tampak satu peluru, maka korban ditembak oleh senjata api jenis rifled. Pada keadaan dimana tubuh korban telah membusuk lanjut atau telah rusak, sehingga pemeriksaan sulit, maka dengan pemeriksaan radiologik ini akan dengan mudah menentukan kasusnya, yaitu dengan ditemukannya anak peluru pada foto rontgen d) Pemeriksaan baju pada korban luka tembak1,2 Pemeriksaan korban luka tembak tidak lengkap tanpa pemeriksaan defek baju yang dibuat oleh peluru. Pada tempat yang sesuai dengan luka tembak masuk1,5 Serat-serat pakaian akan terdorong ke dalam. Bila ditembakan dari jarak dekat atau jarak sangat dekat, dapat terlihat pengotoran bewarna hitam yang disebabkan oleh butir-butir mesiu yang tidak terbakar dan akibat jelaga yang menempel pada pakaian. Bila senjata dirawat dengan baik maka di tepi dan di bagian pakaian yang robek terdapat pengotoran oleh minyak pelumas yang berwarna kehitaman. Pada tempat yang sesuai dengan luka tembak keluar1,5 Serat-serat pakaian akan terdorong keluar. Di pinggir atau di sekitar robekan mungkin didapatkan pengotoran oleh darah, atau jaringan tubuh korban yang hancur dan terbawa keluar. Seperti otak atau serpihan tulang. Tepi lubang pada pakaian tampak terangkat, hal ini menunjukkan bahwa peluru keluar melalui lubang tersebut.

52

BAB III KESIMPULAN

Luka tembak merupakan suatu cedera pada tubuh yang diakibatkan oleh senjata api. Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil peledakan mesiu, dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya. Berdasarkan panjang larasnya, senjata api ini dikelompokan menjadi senjata api laras pendak dan senjata api laras panjang, sedangkan berdasarkan alur pada laras, senjata api dikelompokan menjadi senjata api baralur dan senjata api tanpa alur. Pada luka tembak terjadi robekan dan kerusakan jaringan yang diakibatkan daya dorong peluru dalam menembus jaringan. Luka tembak dikelompokan menjadi luka tembak masuk dan luka tembak keluar, namun pada klasifikasi ini yang tidak kalah penting adalah jarak tembakan yaitu luka tembus masuk tempel,luka tembus masuk jarak dekat maupun luka tembus masuk jarak jauh. Penentuan jarak ini juga dapat menentukan efek dari tembakan. Efek dari tembakan ini diakibatkan oleh komponen peluru yang mengenai tubuh yaitu anak peluru, mesiu, asap jelaga, api dan partikel logam Pendeskripsian luka tembak dilakukan demi kepentingan medikolegal. Deskripsi luka ini mencakup lokasi luka, ukuran dan bentuk luka, lingkaran abrasi, lipatan kulit yang utuh dan robek, bubuk hitam sisa tembakan (jika ada),

53

dan bagian tubuh yang ditembus. Selain dekripsi luka, kita juga harus menentukan jarak tembakan dan arah tembakan. Penentuan jarak tembakan ini dapat dilihat dari adanya jejas laras, kelim api, kelim jelaga, atau kelim tato. Pemeriksaan khusus pada luka tembak masuk seperti pemeriksaa nmikroskopik, kimiawi,sinar x mungkin diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA

54

1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997; p.131-168. 2. Hueske E. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks, Practice and Resource. 2006. 3. Abdussalam. Forensik. Jakarta: Restu Agung, 2006; p. 41-43. 4. Hueske E. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks, Practice and Resource. 2006. 5. Indah PS, Lely, Irene, Elena, Luh S. Gunshot wound[online]. [cited 2011 Februari 20]. http://www.freewebs.com/gunshot_wound/luka tembak pada tulang.htm. 6. Anonim. Forensic Pathology, Second Edition. USA: Oxford University Press, 1996; p.243-273.

55

TRAUMATOLOGI

BAB 1 PENDAHULUAN

56

Seorang dokter dalam kesehariannya tidak lepas dari adanya kasus yang berhubungan dengan tindak kekerasan, sehingga dokter sebagai orang yang melakukan pemeriksaan, khususnya atas diri korban, perlu secara hati-hati, cermat dan teliti dalam menafsirkan hasil yang didapatnya. Data di beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa jumlah kasus perlukaan dan keracunan pada unit gawat darurat mencapai 50-70%. Dibandingkan dengan kasus pembunuhan dan perkosaan, kasus penganiayaan yang mengakibatkan luka merupakan jenis yang paling sering terjadi, dan oleh karenanya penyidik perlu meminta Visum et Repertum kepada dokter sebagai alat bukti di depan pengadilan.
1

Selain melakukan pengobatan terhadap korban dokter juga perlu untuk membantu penyidik untuk mengungkap pelaku tindak kekerasan tersebut. Makalah ini dibuat untuk membahas mengenai traumatologi didalam bidang forensik sehingga diharapkan dapar membantu pembaca mengenai traumatologi di dalam bidang forensik.

57

BAB 2 PEMBAHASAN

A. Definisi Di dalam ilmu kedokteran forensik traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera dalam hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan pengertian luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. 2,3 Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah gangguan kontinuitas dari jaringan tubuh seperti kulit, membran mukosa, kornea, dan sebagainya. Dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecederaan. 2,3,4

B. Klasifikasi ,2,3,4,5 O Berdasarkan sifat dan penyebabnya, trauma dapat dibedakan atas kekerasan yang bersifat : 1. Mekanik a. Benda tumpul b. Benda tajam c. Tembakan senjata api 2. Fisika

58

a. Suhu b. Listrik dan petir c. Perubahan tekanan udara d. Akustik e. Radiasi 3. Kimia a. Asam kuat b. Basa kuat O Berdasarkan etiologi luka dapat dikelompokkan: 1. Luka mekanik. 2. Luka termis. 3. Luka kimiawi. 4. Luka listrik. O Berdasarkan derajat kualifikasi luka dapat dikelompokkan: 1. Luka ringan. 2. Luka sedang. 3. Luka berat. O Berdasarkan bentuknya luka dapat dikelompokkan: 1. Teratur 1.a Luka bulat 1.b Luka lonjong 1.c Luka segitiga, dan lain-lain 2. Tidak teratur

59

2.a Luka robek 2.b Luka lecet 2.c Luka memar, dan lain-lain O Luka mekanik juga dapat dikelompokkan: 1. Luka memar (kontusio). 2. Luka lecet (abrasio). 3. Luka sayat (vulnus scissum). 4. Luka robek (vulnus laceratum). 5. Luka tusuk (vulnus punctum). 6. Luka tembak (vulnus sclopetorum). 7. Luka-luka yang mengenai struktur organ dalam tanpa kerusakan pada Permukaan kulit/ tubuh 8. Luka bakar (combustio) dan luka akibat air mendidih ataupun uap panas. 9. Luka-luka yang disebabkan oleh aliran listrik (kilat). O Berdasarkan waktu kematian terjadinya luka dapat dikelompokkan: 1. Ante-mortem 2. Post- mortem O Berdasarkan aspek medikolegal luka dapat dikelompokkan: 1. Perbuatan sendiri (bunuh diri). 2. Perbuatan orang lain (pembunuhan). 3. Kecelakaan. 4. Luka tangkis. 5.Dibuat (fabricated)

60

C. Trauma Benda Tumpul Trauma atau luka mekanik terjadi karena alat atau senjata dalam berbagai bentuk, baik secara alami atau dibuat manusia. Senjata atau alat yang dibuat manusia seperti kampak, pisau, panah, martil dan lain-lain. Bila ditelusuri, bendabenda ini telah ada sejak zaman pra sejarah dalam usaha manusia mempertahankan hidup sampai dengan pembuatan senjata-senjata masa kini seperti senjata api, bom dan senjata penghancur lainnya. Akibat pada tubuh dapat dibedakan dari penyebabnya. Benda tumpul yang sering mengakibatkan luka antara lain adalah batu, besi, sepatu, tinju, lantai, jalan dan lain-lain. Adapun definisi dari benda tumpul itu sendiri adalah :

Tidak bermata tajam Konsistensi keras / kenyal Permukaan halus / kasar Kekerasan tumpul dapat terjadi karena 2 sebab yaitu alat atau senjata yang

mengenai atau melukai orang yang relatif tidak bergerak dan yang lain orang bergerak ke arah objek atau alat yang tidak bergerak. Luka karena kererasan tumpul dapat berbentuk salah satu atau kombinasi dari luka memar, luka lecet, luka robek, patah tulang atau luka tekan. 1. Luka Akibat Trauma Tumpul2,6,7 Variasi mekanisme terjadinya trauma tumpul adalah: 1. Benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam. 2. Korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam.

61

Sekilas nampak sama dalam hasil lukanya namun jika diperhatikan lebih lanjut terdapat perbedaan hasil pada kedua mekanisme itu. Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan kerusakan yang disebabkan objek atau alat, daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka yakni: a. Abrasi b. Laserasi c. Kontusio d. Fraktur e. Kompresi a. Abrasi (Luka Lecet) Abrasi per definisi adalah pengelupasan kulit. Dapat terjadi superfisial jika hanya epidermis saja yang terkena, lebih dalam ke lapisan bawah kulit (dermis)atau lebih dalam lagi sampai ke jaringan lunak bawah kulit. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari lapisan epidermis pembuluh darah dapat terkena sehingga terjadi perdarahan. Arah dari pengelupasan dapat ditentukan dengan pemeriksaan luka. Dua tanda yang dapat digunakan. Tanda yang pertama adalah arah dimana epidermis bergulung, tanda yang kedua adalah hubungan kedalaman pada luka yang menandakan ketidakteraturan benda yang mengenainya. Efek lanjut dari abrasi sangat jarang terjadi. Infeksi dapat terjadi pada abrasi yang luas. b. Kontusio Superfisial (Luka Memear). Kata lazim yang digunakan adalah memar, terjadi karena tekanan yang besar dalam waktu yang singkat. Penekanan ini menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil dan dapat menimbulkan perdarahan pada jaringan bawah

62

kulit atau organ dibawahnya. Pada orang dengan kulit berwarna memar sulit dilihat sehingga lebih mudah terlihat dari nyeri tekan yang ditimbulkannya. Perubahan warna pada memar berhubungan dengan waktu lamanya luka, namun waktu tersebut bervariasi tergantung jenis luka dan individu yang terkena. Tidak ada standart pasti untuk menentukan lamanya luka dari warna yang terlihat secara pemeriksaan fisik. Efek samping yang terjadi pada luka memar antara lain terjadinya penurunan darah dalam sirkulasi yang disebabkan memar yang luas dan masif sehingga dapat menyebabkan syok, penurunan kesadaran, bahkan kematian. Yang kedua adalah terjadinya agregasi darah di bawah kulit yang akan mengganggu aliran balik vena pada organ yang terkena sehingga dapat menyebabkan ganggren dan kematian jaringan. Yang ketiga, memar dapat menjadi tempat media berkembang biak kuman. Kematian jaringan dengan kekurangan atau ketiadaaan aliran darah sirkulasi menyebabkan saturasi oksigen menjadi rendah sehingga kuman anaerob dapat hidup, kuman tersering adalah golongan clostridium yang dapat memproduksi gas gangren.

c. Kontusio pada organ dan jaringan dalam. Semua organ dapat terjadi kontusio. Kontusio pada tiap organ memiliki karakteristik yang berbeda. Pada organ vital seperti jantung dan otak jika terjadi kontusio dapat menyebabkan kelainan fungsi dan bahkan kematian. d. Laserasi (Luka Robek).

63

Suatu pukulan yang mengenai bagian kecil area kulit dapat menyebabkan kontusio dari jaringan subkutan, seperti pinggiran balok kayu, ujung dari pipa, permukaan benda tersebut cukup lancip untuk menyebabkan sobekan pada kulit yang menyebabkan laserasi. Laserasi disebabkan oleh benda yang permukaannya runcing tetapi tidak begitu tajam sehingga merobek kulit dan jaringan bawah kulit dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan bawah kulit. Tepi dari laserasi ireguler dan kasar, disekitarnya terdapat luka lecet yang diakibatkan oleh bagian yang lebih rata dari benda tersebut yang mengalami indentasi.

Gambar 2.3.1.1. Luka Robek Laserasi dapat menyebabkan perdarahan hebat. Sebuah laserasi kecil tanpa adanya robekan arteri dapat menyebabkan akibat yang fatal bila perdarahan terjadi terus menerus. Laserasi yang multipel yang mengenai jaringan kutis dan sub kutis dapat menyebabkan perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan sampai dengan kematian. Adanya diskontinuitas kulit atau membran mukosa dapat menyebabkan kuman yang berasal dari permukaan luka maupun dari sekitar kulit yang luka masuk ke dalam jaringan. Port de entree tersebut tetap ada sampai dengan terjadinya penyembuhan luka yang sempurna.

64

Bila luka terjadi dekat persendian maka akan terasa nyeri, khususnya pada saat sendi tersebut di gerakkan ke arah laserasi tersebut sehingga dapat menyebabkan disfungsi dari sendi tersebut. Benturan yang terjadi pada jaringan bawah kulit yang memiliki jaringan lemak dapat menyebabkan emboli lemak pada paru atau sirkulasi sistemik. Laserasi juga dapat terjadi pada organ akibat dari tekanan yang kuat dari suatu pukulan seperi pada organ jantung, aorta, hati dan limpa. Hal yang harus diwaspadai dari laserasi organ yaitu robekan yang komplit yang dapat terjadi dalam jangka waktu lama setelah trauma yang dapat menyebabkan perdarahan hebat. e. Kombinasi dari luka lecet, memar dan laserasi. Luka leceet, memar dan laserasi dapat terjadi bersamaan. Benda yang sama dapat menyebabkan memar pada pukulan pertama, laserasi pada pukulan selanjutnya dan lecet pada pukulan selanjutnya. Tetapi ketiga jenis luka tersebut dapat terjadi bersamaan pada satu pukulan. f. Fraktur Fraktur adalah suatu diskontinuitas tulang. Istilah fraktur pada bedah hanya memiliki sedikit makna pada ilmu forensik. Pada bedah, fraktur dibagi menjadi fraktur sederhana dan komplit atau terbuka.Terjadinya fraktur selain disebabkan suatu trauma juga dipengaruhi beberapa faktor seperti komposisi tulang tersebut. Perdarahan merupakan salah satu komplikasi dari fraktur. Bila perdarahan sub periosteum terjadi dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan disfungsi organ

65

tersebut. Apabila terjadi robekan pembuluh darah kecil dapat menyebabkan darah terbendung disekitar jaringan lunak yang menyebabkan pembengkakan dan aliran darah balik dapat berkurang. Apabila terjadi robekan pada arteri yang besar terjadi kehilangan darah yang banyak dan dapat menyebabkan pasien shok sampai meninggal. Shok yang terjadi pada pasien fraktur tidaklah selalu sebanding dengan fraktur yang dialaminya. Selain itu juga dapat terjadi emboli lemak pada paru dan jaringan lain. Gejala pada emboli lemak di sereberal dapat terjadi 2-4 hari setelah terjadinya fraktur dan dapat menyebabkan kematian. Gejala pada emboli lemak di paru berupa distres pernafasan dapat terjadi 14-16 jam setelah terjadinya fraktur yang juga dapat menyebabkan kematian. Emboli sumsum tulan atau lemak merupakan tanda antemortem dari sebuah fraktur. Fraktur linier yang terjadi pada tulang tengkorak tanpa adanya fraktur depresi tidaklah begitu berat kecuali terdapat robekan pembuluh darah yang dapat membuat hematom ekstra dural, sehingga diperlukan depresi tulang secepatnya. Apabila ujung tulang mengenai otak dapat merusak otak tersebut, sehingga dapat terjadi penurunan kesadaran, kejang, koma hingga kematian. g. Kompresi Kompresi yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek lokal maupun sistemik yaitu asfiksia traumatik sehingga dapat terjadi kematiaan akibat tidak terjadi pertukaran udara. h. Perdarahan

66

Perdarahan dapat muncul setelah terjadi kontusio, laserasi, fraktur, dan kompresi. Kehilangan 1/10 volume darah tidak menyebabkan gangguan yang bermakna. Kehilangan volume darah dapat menyebabkan pingsan meskipun dalam kondisi berbaring. Kehilangan volume darah dan mendadak dapat menyebabkan syok yang berakhir pada kematian. Kecepatan perdarahan yang terjadi tergantung pada ukuran dari pembuluh darah yang terpotong dan jenis perlukaan yang mengakibatkan terjadinya perdarahan. Pada arteri besar yang terpotong, akan terjadi perdarahan banyak yang sulit dikontrol oleh tubuh sendiri.Apabila luka pada arteri besar berupa sayatan, seperti luka yang disebabkan oleh pisau, perdarahan akan berlangsung lambat dan mungkin intermiten. Luka pada arteri besar yang disebabkan oleh tembakan akan mengakibatkan luka yang sulit untuk dihentikan oleh mekanisme penghentian darah dari dinding pembuluh darah sendiri. Hal ini sesuai dengan prinsip yang telah diketahui, yaitu perdarahan yang berasal dari arteri lebih berisiko dibandingkan perdarahan yang berasal dari vena. Hipertensi dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan cepat apabila terjadi perlukaan pada arteri. Adanya gangguan pembekuan darah juga dapat menyebabkan perdarahan yang lama. Kondisi ini terdapat pada orang-orang dengan penyakit hemofili dan gangguan pembekuan darah, serta orang-orang yang mendapat terapi

antikoagulan. Pecandu alcohol biasanya tidak memiliki mekanisme pembekuan darah yang normal, sehingga cenderung memiliki perdarahan yang berisiko.

67

Investigasi terhadap kematian yang diakibatkan oleh perdarahan memerlukan pemeriksaan lengkap seluruh tubuh untuk mencari penyakit atau kondisi lain yang turut berperan dalam menciptakan atau memperberat situasi perdarahan. Klasifikasi luka akibat benda tumpul menurut jaringan atau organ yang terkena adalah sebagai berikut : 1. Kulit 1. Luka Lecet 2. Luka Memar 3. Luka Robek

Gambar 2.3.1.2. Luka Memar 2. Kepala 1. Tengkorak 2. Jaringan Otak 3. Leher dan Tulang Belakang

68

4. Dada 1. Tulang 2. Organ dalam dada 5. Perut 1. Organ Parenchym 2. Organ berongga 6. Anggota Gerak 2. Kekerasan benda tumpul pada kulit dan jaringan bawah kulit a. Luka Lecet (Abrasion) Adalah luka akibat kekerasan benda yang memiliki permukaan yang kasar sehingga sebagian atau seluruh lapisan epidermis hilang.. Contohnya :

Benda kasar : terseret di jalan aspal Tali tampar : gantung diri Benda runcing : duri, kuku Meninggalkan bekas : ban mobil

Ciri luka lecet : 1. Sebagian/seluruh epitel hilang 2. Permukaan tertutup exudasi yang akan mengering (krusta) 3. Timbul reaksi radang (Sel PMN) 4. Biasanya pada penyembuhan tidak meninggalkan jaringan parut Memperkirakan umur luka lecet:

Hari ke 1 3 : warna coklat kemerahan

69

Hari ke 4 6 : warna pelan-pelan menjadi gelap dan lebih suram Hari ke 7 14 : pembentukan epidermis baru Beberapa minggu : terjadi penyembuhan lengkap

Perbedaan luka lecet ante motem dan post mortem ANTE MORTEM 1. Coklat kemerahan 2. Terdapat sisa sisa-sisa epitel 1. Tanda intravital (+) 2. Sembarang tempat POST MORTEM 1. Kekuningan 2. Epidermis terpisah sempurna dari dermis 3. Tanda intravital (-) 4. Pada daerah yang ada penonjolan tulang

b. Luka Memar (Contusion) Adalah kerusakan jaringan subkutan dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya, kulit tidak perlu rusak, menjadi bengkak, berwarna merah kebiruan. Memperkirakan umur luka memar :

Hari ke 1 : terjadi pembengkakan warna merah kebiruan Hari ke 2 3 : warna biru kehitaman Hari ke 4 6 : biru kehijauancoklat > 1 minggu-4 minggu : menghilang / sembuh

70

Perbedaan Luka Memar dan Lebam mayat Luka Memar 1. Di sembarang tempat 2. Pembengkakan (+) 3. Tanda Intravital (+) 4. Ditekan tidak menghilang 5. Diiris : tidak menghilang Lebam mayat 1. Bagian tubuh yang terendah 2. Pembengkakan (-) 3. Tanda Intravital (-) 4. Ditekan Menghilang 5. Diiris : dibersihkan dengan kapas menjadi bersih

c. Luka Robek, Retak, Koyak (Laceration) Adalah kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit yang mudah terjadi pada kulit yang ada tulang di bawahnya dan biasanya pada penyembuhan meninggalkan jaringan parut Kekerasan Benda Tumpul Pada Kepala 1. Kulit

Luka Lecet Luka Memar Luka Robek

2. Tengkorak

Fraktur Basis Cranii Fraktur Calvaria

3. Otak

Contusio Cerebri

71

Laceratio Cerebri Oedema Cerebri Commotio Cerebri

4. Selaput Otak

Epidural Haemorrhage Sub dural Haemorrhage Sub arachnoid Haemorrhage

Kekerasan Benda Tumpul Pada Leher Berakibat :


Patah tulang leher Robek pembuluh darah, otot, oesophagus, trachea/larynx Kerusakan syaraf

Kekerasan Benda Tumpul Pada Dada Berakibat :


Patah os costae, sternum, scapula, clavicula Robek organ jantung, paru, pericardium

Kekerasan Benda Tumpul Pada Perut Berakibat :


Patah os pubis, os sacrum, symphysiolysis, Luxatio sendi sacro iliaca Robek organ hepar, lien, ginjal. Pankreas, adrenal, lambung, usus, kandung seni

Kekerasan Benda Tumpul Pada Vertebra Dapat berakibat :

72

Fraktura, dislokasi os vertebrae

Dapat karena : 1. Trauma langsung 2. Tidak langsung karena tarikan / tekukan Kekerasan benda Tumpul Pada Anggota Gerak Berakibat :

Patah tulang, dislokasi sendi Robek otot, P.darah, kerusakan saraf

D. Trauma Benda Tajam Disebabkan oleh benda-benda tajam : - Bisa untuk mengiris - Berujung runcing - Bisa untuk menusuk Luka akibat persentuhan dengan benda tajam , yaitu: Putusnya atau rusaknya continuitas jaringan karena trauma akibat alat/senjata yang bermata tajam dan atau berujung runcing. Ciri Luka Akibat Benda Tajam: o Tepi luka rata o Sudut luka tajam o Rambut ikut terpotong o Jembatan jaringan ( - ) o Memar/lecet di sekitarnya ( - )

73

Cara melukis luka hendaknya ditentukan : 1. Lokalisasi : a. ordinat b. aksis 2. Ukuran 3. Jumlah luka 4. Bentuk luka 5. Benda asing 6. Terjadinya intravital/post mortal 7. Luka tersebut menyebabkan kematian/tidak 8. Cara kejadian luka:kecelakaan/bunuh diri/pembunuhan Sebab Kematian Luka Akibat Benda Tajam : 1. Sebab langsung: - Perdarahan - Kerusakan organ vital - Emboli udara - Aspirasi darah 2. Sepsis / infeksi 3 Macam Luka Akibat Benda Tajam: o Luka Iris (Incisied Wound) o Luka Tusuk (Stab Wound) o Luka Bacok (Chop Wound)

74

1. Luka Iris Luka karena alat yang tepinya tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan kekuatan relativ ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit.

Gambar 2.3.2.1. Luka Iris pada Leher Ciri luka iris : o Pinggir luka rata

o Sudut luka tajam o Rambut ikut terpotong o Jembatan jaringan ( - )

o Biasanya mengenai kulit, otot, pembuluh darah, tidak sampai tulang Cara Kematian : o Bunuh diri ( tersering ) o Pembunuhan o Kecelakaan Luka Iris harus dibedakan dengan luka retak Luka retak , yaitu :

75

Luka yang terjadi pada daerah tubuh yang ada tulang di bawah kulitnya (misalnya : kepala/dahi) dan luka ini terjadi akibat kekerasan dengan benda tumpul yang mempunyai pinggiran (misalnya: tepi meja) Luka Iris pada bunuh diri: - Lokalisasi luka pada daerah tubuh yang dapat dicapai korban sendiri. o leher

o pergelangan tangan o lekuk siku, lekuk lutut o pelipatan paha

- Ditemukan Luka Iris Percobaan - Tidak ditemukan Luka Tangkisan - Pakaian disingkirkan dahulu/tidak ikut robek Luka Iris pada pembunuhan : Sebenarnya sukar membunuh seseorang dengan irisan, kecuali kalau fisik korban jauh lebih lemah dari pelaku atau korban dalam keadaan/dibuat tidak berdaya Luka di sembarang tempat, juga pada daerah tubuh yang tidak mungkin dicapai tangan korban sendiri Ditemukan luka tangkisan/tanda perlawanan Pakaian ikut koyak akibat senjata tajam tsb

76

2. Luka Tusuk Batasan : Luka akibat alat yang berujung runcing dan bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong pada permukaan tubuh. Contoh: Belati, bayonet, keris

Gambar 2.3.2.2a. Luka Tusuk

Gambar 2.3.2.2b. Pisau yang digunakan

Ciri Luka Tusuk (misalnya senjata pisau / bayonet) : Tepi luka rata Dalam luka lebih besar dari panjang luka Sudut luka tajam Sisi tumpul pisau menyebabkan sudut luka kurang tajam Sering ada memar / echymosis di sekitarnya

77

3.

Luka Bacok Luka akibat benda atau alat yang berat dengan mata tajam atau agak

tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan disertai tenaga yang cukup besar. Contoh : pedang, clurit, kapak, baling-baling kapal. Ciri-ciri luka bacok: Luka biasanya besar Pinggir luka rata Sudut luka tajam Hampir selalu menimbulkan kerusakan pada tulang, dapat memutuskan bagian tubuh yang terkena bacokan Kadang-kadang pada tepi luka terdapat memar, abrasi

E. Pemeriksaan Forensik terhadap Luka Dalam hal pemeriksaan terhadap luka-luka pada korban kita harus hati-hati sekali berhubungan karena keterangan yang jelas akan dapat membantu kalangan penyidik dan penegak hukum lainnya untuk mengungkapkan keadaan sebenarnya. Oleh karena itu di dalam pemeriksaan korban kita harus memperhatikan halhal sebagai berikut: 1. Jumlah luka

2. Lokalisasi luka 3. Arah luka 4. Ukuran luka (panjang, lebar, dalamnya).

78

5. Bersih dan kotornya luka 6. Luka baru atau luka lama 7. Luka antemortem atau post mortem 8. Sifat luka dan bentuknya 9. Letak dan posisi senjata 10. Adanya darah atau benda asing pada senjata 11. Letak dan sifat darah pada korban dan pada pakaian serta situasi tempat sekitar kejadian 12. Tanda perlawanan yang dapat dilihat dari pakaian ataupun tubuh dan situasi tempat kejadian Mengenai lokalisasi harus disebut sehubungan dengan daerah-daerah yang berdekatan misalnya terhadap garis tengah tubuh, pusat, papila mamae, dan lain-lain. Pemeriksaan lebih dalam harus dilakukan untuk mengetahui apakah organ-organ dalam ikut tertusuk atau tidak dan harus dicatat jumlah darah yang terdapat di dalam rongga-rongga tubuh. Ukuran yang tepat (dalam sentimeter) harus ditentukan dan tidak boleh ukuran kira-kira saja.

79

BAB 3 KESIMPULAN

Traumatologi forensik adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan pengertian luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. Trauma dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat dan penyebab kecederaan (trauma), etiologi luka, derajat kualifikasi luka, bentuk luka, waktu kematian terjadinya luka, dan aspek medikolegal luka. Dalam hal pemeriksaan terhadap luka-luka pada korban kita harus hatihati sekali berhubungan karena keterangan yang jelas akan dapat membantu kalangan penyidik dan penegak hukum lainnya untuk mengungkapkan keadaan sebenarnya. Oleh karena itu di dalam pemeriksaan korban kita harus memperhatikan hal-hal seperti jumlah luka, lokalisasi luka, arah luka, ukuran luka (panjang, lebar, dalamnya), bersih dan kotornya luka, luka baru atau luka lama, luka antemortem atau post mortem, sifat luka dan bentuknya, letak dan posisi senjata, adanya darah atau benda asing pada senjata, letak dan sifat darah pada korban dan pada pakaian serta situasi tempat sekitar kejadian, Tanda perlawanan yang dapat dilihat dari pakaian ataupun tubuh dan situasi tempat kejadian.

80

DAFTAR PUSTAKA

1. Afandi D. Visum et Repertum perlukaan : aspek medikolegal dan penentuan derajat luka. Maj Kedokt Indon 2010; 60( 4) : 188-95 2. Idries AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara. 3. Amir, Amri. 2010. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. Medan: Ramadhan. 4. Budiyanto, A. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. Jakarta:Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 5. James, Jason Payne at all.2005. Encylopedia of Forensic and Legal Medicine. First Edition. London: Elsevier. 6. Satyo, Alfed C. 2004. Traumatologi, edisi II (revisi) cetakan III. Medan: UPT Penerbitan dan percetkan Universitas Sumatera Utara. 7. Anonim. 2002. Romans Forensic. Edisi 20. Diterjemahkan oleh Syaulia Andirezeki. Pdf . 8. Satyo, Alfed C. 2006. Aspek Medikolgal Luka. Jakarta: Majalah Kedokteran Nusantara. 9. Chadha, P. Vijay.1995. Ilmu Forensik dan Toksikologi. Edisi kelima. Jakarta: Widya Medika. 10. Wully, W. Traumatologi Forensik diunduh dari: www.google.com. diakses 1 Juni 2011.

81

ASFIKSIA

82

BAB I PENDAHULUAN

Asfiksia adalah kumpulan dari berbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal. Gangguan tersebut dapat disebabkan karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan dan gangguan yang diakibatkan karena terhentinya sirkulasi. Gangguan ini akan menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah berkurang yang disertai dengan peningkatan kadar karbondioksida. Keadaan ini jika terus dibiarkan dapat menyebabkan terjadinya kematian.1,2 Asfiksia merupakan mekanisme kematian terbanyak yang ditemukan dalam kasus kedokteran forensik. Asfiksia yang diakibatkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan disebut asfiksia mekanik. Asfiksia jenis inilah yang paling sering dijumpai dalam kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Mengetahui gambaran asfiksia, khususnya pada postmortem serta keadaan apa saja yang dapat menyebabkan asfiksia, khususnya asfiksia mekanik mempunyai arti penting terutama dikaitkan dengan proses penyidikan.1 Dalam penyidikan untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban yang diduga karena peristiwa tindak pidana, seorang penyidik berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Seorang dokter sebagaimana pasal 179 KUHAP

83

wajib memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan di bidang keahliannya demi keadilan. Untuk itu, sudah selayaknya seorang dokter perlu mengetahui dengan seksama perihal ilmu forensik, salah satunya asfiksia.1 Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengertian asfiksia, jenis-jenis asfiksia serta pemeriksaan tanda-tanda asfiksia pada keadaan postmortem.

84

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

H. Definisi Asfiksia Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O2) dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan jaringan tubuh akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru dengan karbon dioksida dalam darah kapiler paruparu. Kekurangan oksigen disebut hipoksia dan kelebihan karbon dioksida disebut hiperkapnia.1 Asfiksia merupakan istilah yang sering digunakan untuk menyatakan berhentinya respirasi yang efektif (cessation of effective respiration) atau ketiadaan kembang kempis (absence of pulsation). Namun pengertian asfiksia dan anoksia (atau lebih tepatnya hipoksia) sering dicampuradukkan. Oleh sebab itu, sebelum dipahami lebih dulu tentang anoksia.3 Anoksia adalah suatu keadaan di mana tubuh sangat kekurangan oksigen, yang berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 4 golongan, yaitu:1,2 1. Anoksia anoksik (anoxic anoxia), yaitu keadaan anoksia yang disebabkan karena oksigen tidak dapat mencapai darah sebagai akibat kurangnya oksigen yang masuk paru-paru.

85

2. Anoksia anemik (anaemic anoxia), yaitu keadaan anoksia yang disebabkan karena darah tidak dapat menyerap oksigen, seperti pada keracunan karbon monoksida. 3. Anoksia stagnan (stagnant anoxia), yaitu keadaan anoksia yang disebabkan karena darah tidak mampu membawa oksigen ke jaringan, seperti pada heart failure atau embolism. 4. Anoksia histotoksik (histotoxic anoxia), yaitu keadaan anoksia yang disebabkan karena jaringan tidak mampu menyerap oksigen, seperti pada keracunan sianida. Ketiga jenis anoksia yang terakhir (yaitu anoksia anemik, stagnan dan histotoksik) disebabkan oleh penyakit atau keracunan, sedang anoksia yang pertama (yaitu anoksia anoksik) disebabkan kekurangan oksigen atau obstruksi mekanik pada jalan nafas. Yang disebut asfiksia sebenarnya adalah anoksia anoksik, atau sering juga disebut asfiksia mekanik (mechanical asphyxia).1 Hipoksia dapat diberi batasan sebagai suatu keadaan dimana sel gagal untuk dapat melangsungkan metabolisme secara efisien. Dahulu untuk keadaan ini disebut anoksia, yang setelah dipelajari ternyata pemakaian istilah anoksia tersebut tidak tepat.2 Dalam kenyataan sehari-hari hipoksia ternyata merupakan gabungan dari empat kelompok, dimana masing-masing kelompok tersebut memang mempunyai ciri tersendiri, walaupun ciri atau mekanisme yang terjadi pada masing-masing kelompok akan menghasilkan keadaan atau akibat yang sama bagi tubuh. Kelompok tersebut adalah: 2 86

1. Hipoksik-hipoksia; dalam keadaan ini oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi darah. 2. Anemik-hipoksia; dimana darah yang tersedia tidak dapat membawa oksigen yang cukup untuk metabolisme dalam jaringan. 3. Stagnan-hipoksia; dimana oleh karena sesuatu keadaan terjadi kegagalan sirkulasi. 4. Histotoksik-hipoksia; suatu keadaan dimana oksigen yang terdapat dalam, oleh karena sesuatu hal, oksigen tersebut tidak dapat dipergunakan oleh jaringan. Dibagi ke dalam 4 kelompok, yaitu: a. Histotoksik-hipoksia ekstra-seluler; enzim pernafasan jaringan menderita keracunan misalnya pada keracunan sianida dan pada keracunan CO. b. Histotoksik-hipoksia periseluler; oksigen tidak dapat masuk ke dalam sel oleh karena terjadi penurunan permeabilitas membran sel, misalnya pada keracunan eter atau keracunan kloroform. c. Substrate histotoxic-hypoxia; dalam keadaan ini bahan makanan untuk metabolisme yang efisien tidak cukup tersedia. d. Metabolite histotoxic-hypoxia; dalam keadaan ini hasil akhir (end product) dari pernafasan seluler tidak dapat dieliminer, sehingga metabolisme berikutnya tidak dapat berlangsung, misalnya pada keadaan uremia dan keracunan gas CO2.

I.

Etiologi Asfiksia Dari segi etiologi, asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut:3

87

1. Penyebab Alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti laryngitis difteri, tumor laring, asma bronkiale, atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru, pneumonia, COPD. 2. Trauma mekanik, yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang mengakibatkan emboli, pneumotoraks bilateral, sumbatan atau halangan pada saluran napas dan sebagainya. Emboli terbagi atas 2 macam, yaitu emboli lemak dan emboli udara. Emboli lemak disebabkan oleh fraktur tulang panjang. Emboli udara disebabkan oleh terbukanya vena jugularis akibat luka. 3. Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan, misalnya barbiturate, narkotika.

J.

Stadium Asfiksia Asfiksia terbagi atas beberapa stadium, yaitu antara lain:4

1. Stadium Dispneu Defisiensi oksigen pada sel-sel darah merah dan akumulasi karbondioksida dalam plasma akan merangsang pusat pernafasan di medulla. Hal ini akan mengakibatkan gerak pernafasan yang cepat dan kuat, peningkatan denyut nadi dan sianosis terutama dapat diamati pada wajah dan tangan. Pada fase dispneu asfiksia ini berlangsung kira-kira 4 menit. 2. Stadium Konvulsi Pertama adalah kejang klonik, setelah itu kejang tonik, terakhir terjadi spasme opistotonik. Kesadaran mulai hilang, pupil menjadi lebar dan denyut jantung

88

menjadi lambat serta tekanan darah turun. Hal ini terjadi dimungkinkan karena meningkatnya kerusakan dari nukleus-nukleus pada otak karena defisensi oksigen. Fase konvulsi asfiksia terjadi kira-kira 2 menit. 3. Stadium Apneu Depresi pusat pernafasan semakin dalam sehingga pernafasan menjadi semakin lemah dan dapat berhenti. Timbullah keadaan tidak sadar dan keluarnya cairan sperma secara tidak disadari (involunter). Dapat juga terjadi keluarnya urine dan faeces secara tidak disadari walaupun jarang. Hal ini terjadi karena terjadi relaksasi sfingter. Fase apneu asfiksia berlangsung kirakira 1 menit. 4. Stadium final Pada stadium ini terjadi kelumpuhan pernafasan secara lengkap. Setelah beberapa kontraksi otomatis dari otot-otot aksesoris pernafasan dileher, kemudian pernafasan berhenti. Jantung mungkin masih berdenyut setelah beberapa waktu setelah respirasi berhenti. K. Tanda-tanda Asfiksia Pada jenazah yang meninggal dunia akibat asfiksia akan dapat ditemukan tanda-tanda umum sebagai berikut:1,2 1. Sianosis Kurangnya oksigen akan menyebabkan darah menjadi lebih encer dan lebih gelap. Warna kulit dan mukosa terlihat lebih gelap, demikian juga lebam mayat. Perlu diketahui bahwa pada setiap proses kematian pada akhirnya akan

89

terjadi juga keadaan anoksia jaringan. Oleh sebab itu, keadaan sianosis dalam berbagai tingkat dapat juga terjadi pada kematian yang tidak disebabkan karena asfiksia. Dengan kata lain keadaan sianosis bukan merupakan tanda yang khas pada asfiksia. 2. Kongesti vena (venous congestion) Kongesti yang terjadi di paru-paru pada kematian karena asfiksia bukan merupakan tanda yang khas. Kongesti yang khas yaitu kongesti sistemik yang terjadi di kulit dan organ selain paru-paru. Sebagai akibat dari kongesti vena ini akan terlihat adanya bintik-bintik perdarahan (petechial haemorrhages atau sering juga disebut Tardieu Spot). Bintik-bintik perdarahan ini lebih mudah terjadi pada jaringan longgar, seperti misalnya jaringan bawah kelopak mata. Penekanan pada vena di leher (misalnya akibat strangulasi) akan menyebabkan timbulnya bintik-bintik perdarahan pada mata dan muka. Bintik-bintik perdarahan ini lebih mudah dilihat pada organ yang memiliki membran transparan; seperti misalnya pleura, perikardium atau kelenjar timus. Pada asfiksia yang hebat bintik-bintik perdarahan dapat terlihat pada faring atau laring. 3. Edema Kekurangan oksigen yang berlangsung lama akan mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah kapiler sehingga permeabilitasnya meningkat. Keadaan ini akan menyebabkan timbulnya edema, terutama edema paru-paru. Pada strangulasi juga dapat terlihat adanya edema pada muka, lidah, dan faring.

90

Karena asfiksia merupakan mekanisme kematian, maka secara menyeluruh untuk semua kasus akan ditemukan tanda-tanda umum yang hampir sama, yaitu:1,2 Pada pemeriksaan luar: Muka dan ujung-ujung ekstremitas sianotik (warna biru keunguan) yang disebabkan tubuh mayat lebih membutuhkan HbCO2 daripada HbO2.

Gambar 2.1. Ujung-ujung jari yang sianotik pada kasus asfiksia Tardieu's spot pada konjungtiva bulbi dan palpebra. Tardieu's spot merupakan bintik-bintik perdarahan (petekie) akibat pelebaran kapiler darah setempat.

Gambar 2.2. Tardieus spot pada konjungtiva palpebrae

91

Lebam mayat cepat timbul, luas, dan lebih gelap karena terhambatnya pembekuan darah dan meningkatnya fragilitas/ permeabilitas kapiler. Hal ini akibat meningkatnya kadar CO2 sehingga darah dalam keadaan lebih cair. Lebam mayat lebih gelap karena meningkatnya kadar HbCO2.

Gambar 2.3. Lebam mayat pada asfiksia Busa halus keluar dari hidung dan mulut. Busa halus ini disebabkan adanya fenomena kocokan pada pernapasan kuat.

Pada pemeriksaan dalam: 1. Organ dalam tubuh lebih gelap & lebih berat akibat kongesti / bendungan alat tubuh dan sianotik. 2. Darah termasuk dalam jantung berwarna gelap dan lebih cair. 3. Tardieu's spot pada pielum ginjal, pleura, perikard, galea apponeurotika, laring, kelenjar timus dan kelenjar tiroid. 4. Busa halus di saluran pernapasan. 5. Edema paru. 92

6. Kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan seperti fraktur laring, fraktur tulang lidah dan resapan darah pada luka.

L. Asfiksia Mekanik Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernafasan terhalang memasuki saluran pernafasan oleh berbagai kekerasan (yang bersifat mekanik), misalnya:1,2 1. Penutupan lubang saluran pernafasan bagian atas: Pembekapan (smothering) Penyumbatan (gagging dan choking) 2. Penekanan dinding saluran pernafasan: Penjeratan (strangulation) Pencekikan (manual strangulation) Gantung (hanging) 3. External pressure of the chest yaitu penekanan dinding dada dari luar. 4. Drowning (tenggelam) yaitu saluran napas terisi air. 5. Inhalation of suffocating gases. Karena mekanisme kematian pada kasus tenggelam bukan murni disebabkan oleh asfiksia, mraka ada sementara ahli yang tidak lagi memasukkan tenggelam ke dalam kelompok asfiksia mekanik, tetapi dibicarakan sendiri. Berikut akan dibahas beberapa kasus asfiksia mekanik.

93

1. Penggantungan (Hanging/ Strangulation by suspension) Penggantungan merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada leher akibat adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban. Dengan demikian berarti alat penjerat sifatnya pasif, sedangkan berat badan sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi pada leher. Kasus gantung hampir sama dengan penjeratan. Perbedaannya terdapat pada asal tenaga yang dibutuhkan untuk memperkecil lingkararan jerat. Kematian karena penggantungan pada umumnya bunuh diri.1,2 Penggantungan dibagi menjadi:1,2 Accidental Hanging; penggantungan yang tidak disengaja ini dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu yang terjadi sewaktu bermain atau bekerja dan sewaktu melampiaskan nafsu seksual yang menyimpang (auto-erotic hanging) Homicidial Hanging; pembunuhan dengan metode menggantung

korbannya relatif jarang dijumpai, cara ini baru dapat dilakukan bila korbannya anak-anak atau orang dewasa yang kondisinya lemah, baik lemah oleh karena menderita penyakit, di bawah pengaruh obat bius, alkohol atau korban yang sedang tidur. Pembunuhan dengan cara penggantungan sulit untuk dilakukan oleh seorang pelaku.

94

Gambar 2.4. Gambaran penggantungan Mekanisme pada penggantungan yaitu saluran udara tertutup karena pangkal lidah terdorong ke atas belakang, kearah dinding posterior pharynk. Pallatum molle dan uvula terdorong ke atas, menekan epiglotis sehingga menutup lubang larynk. Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban penggantungan terjadi akibat pecahnya vena dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena asfiksia. Lidah korban penggantungan bisa terjulur, bisa juga tidak terjulur. Lidah terjulur apabila letak jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea. Lidah tidak terjulur apabila letaknya berada diatas kartilago tiroidea.1 Alat penggantung yang dapat digunakan pada kasus penggantungan yaitu:1 Alat penggantung dengan permukaan yang luas (misalnya sarung) dapat menyebabkan tekanan hanya pada permukaan saja, sehingga yang terjepit hanya vena (vena jugularis) sehingga muka bengkak dan kebiruan, kongesti vena, mata menonjol karena bendungan. 95

Alat penggantung dengan permukaan yang kecil (misalnya tali jemuran) menyebabkan tekanan besar ke dalam, selain vena, arteri juga terjepit sehingga wajah pucat , mata tidak menonjol. Alur jeratan pada leher korban penggantungan (hanging) berbentuk lingkaran (V shape). Alur jeratan yang simetris/ tipikal pada leher korban penggantungan menunjukkan letak simpul jeratan berada dibelakang leher korban. Alur jeratan yang asimetris/ atipikal menunjukkan letak simpul di samping leher. Alur jerat berupa luka lecet atau luka memar dengan ciri-ciri sebagai berikut:1 Alur jeratan pucat. Tepi alur jerat coklat kemerahan. Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan. Ada 8 hal yang perlu kita lakukan pada pemeriksaan tempat kejadian, yaitu:1,2 Memastikan korban apakah masih hidup atau telah mati. Mencari bukti yang menunjukkan cara kematian. Memperhatikan jenis simpul tali gantungan. Mengukur jarak antara ujung kaki korban dengan lantai. Memperhatikan letak korban di tempat kejadian. Cara menurunkan korban. Mengamankan bekas serabut tali. Memperhatikan bahan penggantung.

96

Ada 3 bukti yang bisa menunjukkan kepada kita tentang cara kematian korban, yaitu:1 Ada tidaknya alat penumpu korban, misalnya bangku dan sebagainya. Arah serabut tali penggantung. Distribusi lebam mayat. Deskripsi leher korban penggantungan yang penting kita berikan antara lain:1 Lokasi luka Lokasi luka pada leher korban penggantungan dapat berada di depan, samping dan belakang leher. Luka yang berada di depan leher kita ukur dari dagu atau manubrium sterni korban. Luka yang berada di samping leher kita ukur dari garis batas rambut korban. Luka yang berada di belakang leher kita ukur dari daun telinga atau bahu korban. Jenis luka Jenis luka korban penggantungan terdiri atas luka lecet, luka tekan dan luka memar. Penting juga kita mendeskripsikan mengenai warna, lebar, perabaan dan keadaan sekitar luka. Anggota gerak korban penggantungan dapat kita temukan adanya lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai. Lokasi simpul jeratan (belakang dan samping leher). Jenis simpul jeratan (simpul hidup dan simpul mati).

97

Penting juga kita ketahui ada tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut. Dubur korban penggantungan (hanging) dapat mengeluarkan feses. Alat kelamin korban dapat mengeluarkan mani, urin, dan darah (sisa haid). Pengeluaran urin pada korban penggantungan disebabkan kontraksi otot polos pada stadium konvulsi atau puncak asfiksia. Lebam mayat dapat kita temukan pada genitalia eksterna korban.1 Penyebab kematian paling sering dari penggantungan adalah obstruksi aliran darah servikal. Berat kepala manusia itu sendiri sekitar 4,5 kg, berat ini sendiri mengalokasi dari tekanan konstriksi itu sendiri. Hal penting lainnya dari penyebab kematian mungkin dari stimulasi nervus vagus dan lebih khusus lagi, bertanggung jawab pada refleks dari nervus karotis. Tekanan pada nervus vagus telah digunakan untuk tujuan terapeutik pada akhir abad ini. Pada kasus disritmia kardi, refleks henti jantung atau takikardi bisa di stimulasi oleh tekanan jari atau pemijatan pada sinus karotid dari satu atau dua sisi secara umum, kontraksi jantung mulai lagi tapi pada beberapa kasus yang komplit, hasilnya henti jantung tetap terjadi.1 Hubungan antara nervus laringeal superior dan nervus vagus dapat menimbulkan stimulasi yang intens pada awalnya, kemudian menjadi stimulasi yang simultan pada akhirnya, hasilnya menyebabkan perlambatan yang fatal pada refleks jantung. Hal ini juga bertahan khususnya pada kasuskasus trauma laringeal. Fraktur pada tulang rusuk dan pada dasar tengkorak biasanya jarang terobservasi pada kasus kematian dengan menggantung diri

98

dan jikapun ada, umumnya hanya kasus jatuh dari ketinggian tertentu sebagai penggantungan yudisial.1

2. Penjeratan (Strangulation by ligature) Jerat adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena berat badan korban.1,2 Mekanisme jeratan yaitu tertutupnya jalan nafas akibat larynk yang tertekan ke belakang ke arah dinding pharynk sehingga lumen tertutup oleh karena mendapat tekanan dari samping dan dari depan. Tekanan dari depan akan menutup jalan nafas, sedangkan dari samping akan menutup pembuluh darah di samping leher, biasanya hanya vena yang tertutup. Karena tekanan tidak sekeras penggantungan sehingga muka tidak sianotik. Tekanan pada vena jugularis dan tekanan tidak komplit pada arteri carotis menyebabkan perdarah kecil-kecil pada wajah, konjungtiva, scalp, dan fascia m.temporalis. kemungkinan dapat terjadi pula vagal refleks.1,2 Alat yang biasanya dipakai dapat berupa sapu tangan, handuk, tali, kaos kaki, dasi, stagen, selendang, ikat pinggang, kabel listrik dan lain-lain.1 Ciri-ciri dari suatu kasus penjeratan antara lain:1 Kekuatan jerat pada ujung tali jerat, sedangkan pada gantungan kekuatan karena berat badan Jejas penjeratan bersifat horisontal bersilangan di atas dan di bawah Adanya tanda asfiksia 99

Kausa mati menyerupai gantung diri Pemeriksaan lokal menyerupai gantung diri hanya bedanya pada penjeratan, jejeas bersifat horizontal Pembunuhan pada kasus jeratan dapat kita jumpai pada kejadian infanticide dengan menggunakan tali pusat, psikopat yang saling menjerat, dan hukuman mati (zaman dahulu).1 Kecelakaan pada kasus jeratan dapat juga kita temukan pada bayi yang terjerat oleh tali pakaian, orang yang bersenda gurau dan pemabuk. Vagal reflex menjadi penyebab kematian pada orang yang bersenda gurau.1 Bunuh diri pada kasus jeratan dilakukan dengan cara melilitkan tali secara berulang dimana satu ujung difiksasi dan ujung lainnya ditarik. Antara jeratan dan leher mereka masukkan tongkat lalu mereka memutar tongkat tersebut.1 Pemeriksaan tempat kejadian pada kasus jeratan kita lakukan secara rutin sebagaimana pada kasus yang lain. Kita hendaknya memperhatikan jeratan pada leher korban dan cara melepaskan jeratan dari leher korban. Ada 5 hal yang penting kita perhatikan pada kasus jeratan, antara lain:1 Arah jerat mendatar/ horisontal. Lokasi jeratan lebih rendah daripada kasus penggantungan. Jenis simpul penjerat. Bahan penjerat misalnya tali, kaus kaki, dasi, serbet, serbet, dan lain-lain. Pada kasus pembunuhan biasanya kita tidak menemukan alat yang digunakan untuk menjerat.

100

Pemeriksaan autopsi pada kasus jeratan mirip kasus penggantungan kecuali pada:1 Distribusi lebam mayat yang berbeda. Alur jeratan mendatar/ horisontal. Lokasi jeratan lebih rendah.

3. Pencekikan (Manual Strangulation/ Throttling) Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah.1 Mekanisme pencekikan yaitu tertutupnya jalan nafas dengan satu atau dua tangan menekan leher sehingga menekan sisi-sisi larynx dan menutup glotis. Bila tangan ditekan pada bagian depan larynx akan menutup lumen dengan menyempitkan diameter anteropostrior. Bisa juga pangkal lidah terdorong ke belakang atas (seperti pada hanging) dan glotis tertutup. Pada pemeriksaan rekonstruksi sukar dilakukan karena tekanan pada leher sebentar dan juga karena elastisitas jaringan leher.1 Ada 3 cara melakukan pencekikan, yaitu:1 Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban. Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.

101

Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban. Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka ini disebut mugging. Ada 3 hal yang penting kita perhatikan pada pemeriksaan luar dari autopsi kasus pencekikan, antara lain:1 Tanda asfiksia. Tanda kekerasan pada leher (penting). Tanda kekerasan pada tempat lain. Ada 2 tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari, yaitu:1 Bekas kuku. Bantalan jari. Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark, yaitu luka lecet yang berbentuk semilunar/ bulan sabit. Kadang-kadang kita dapat menemukan sidik jari pelaku. Perhatikan pula tangan yang digunakan pelaku, apakah tangan kanan (right handed) ataukah tangan kiri (left handed). Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku (susunan bekas kuku) juga tak luput dari perhatian kita. Tanda kekerasan pada tempat lain dapat kita temukan di bibir, lidah, hidung, dan lain-lain. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan perlawanan.1,2

102

Gambar 2.5. Bekas kuku pada kasus pencekikan Ada 4 hal yang penting kita cari pada pemeriksaan dalam autopsi bagian leher korban pada kasus pencekikan, yaitu:1 Perdarahan atau resapan darah. Fraktur. Memar atau robekan membran hipotiroidea. Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. Perdarahan atau resapan darah dapat kita cari pada otot, kelenjar tiroid, kelenjar ludah, dan mukosa & submukosa pharing atau laring. Fraktur yang paling sering kita temukan pada os hyoid. Fraktur lain pada kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea.

103

4. Asfiksia Traumatik Asfiksia traumatik (external pressure of the chest) adalah terhalangnya udara untuk masuk dan keluar dari paru-paru akibat terhentinya gerak napas yang disebabkan adanya suatu tekanan dari luar pada dada korban, yaitu:1 penekanan rongga dada, rongga perut, diafragma penekanan dari luar misalnya desak-desakan O2 kurang asfiksia Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada korban kasus asfiksia traumatik, yaitu:1 Terjepit antara lantai dengan elevator, antara 2 kendaraan, atau antara dinding dengan kendaraan yang mundur. Tertimbun runtuhan benda atau bangunan, pasir, atau batubara. Berdesakan di pintu sempit akibat panik. Ada 2 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi korban kasus asfiksia traumatik, yaitu:1 Mencari tanda kekerasan di dada. Menemukan tanda asfiksia. 5. Suffocation Obstruksi jalan nafas sehingga menghalangi masuknya udara kedalam paru-paru yang mengakibatkan terjadinya asfiksia. Terbagi atas pembekapan (smothering), chocking, dan gagging.

104

Pembekapan (smothering) Pembekapan adalah suatu suffocation dimana lubang luar jalan napas yaitu hidung dan mulut tertutup secara mekanis oleh benda padat atau partikelpartikel kecil.1,2 Ada 3 cara kematian pada kasus pembekapan, yaitu:1 o Kecelakaan (paling sering) o Pembunuhan o Bunuh diri Ada 3 cara kecelakaan pada kematian kasus pembekapan, yaitu:1 o Tertimbun tanah longsor atau salju. o Alkoholisme. o Bayi tertutup selimut atau payudara ibu. Ada 3 cara pembunuhan pada kasus pembekapan, yaitu: 1 o Hidung dan mulut diplester. o Bantal ditekan ke wajah. o Serbet atau dasi dimasukkan ke dalam mulut. Ada 3 cara bunuh diri pada kasus pembekapan, yaitu: 1 o Menggunakan plester atau kantong plastik. o Bantal yang diikatkan ke kepala. o Menggunakan dasi atau serbet. Ada 3 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus pembekapan, yaitu: 1

105

o Mencari penyebab kematian. o Menemukan tanda-tanda asfiksia. o Menemukan edema paru, hiperaerasi dan sianosis pada kematian yang lambat. Ada 3 hal penting yang kita cari untuk menemukan penyebab kematian pada kasus pembekapan, yaitu: 1 o Jika kita menemukan bantal, cari apakah ada tanda-tanda kekerasan. o Cari ada tidaknya trauma tumpul di sekitar hidung dan mulut. o Mencari ada tidaknya kain, handuk, dasi, serbet, atau pasir dalam rongga mulut. Burking merupakan kombinasi antara pembekapan (smothering) dengan external pressure on the chest/ traumatic asphyxia. Pelaku melakukan burking dengan cara terlebih dahulu melumpuhkan korban lalu menelentangkan korban dan pelaku duduk di atas dada korban (traumatic asphyxia). Satu tangan pelaku menutup hidung atau mulut korban (smothering) sedangkan tangan yang lain menekan rahang ke atas.1 Tersedak (chocking) Tersedak adalah suatu suffocation dimana ada benda padat yang masuk dan menyumbat lumen jalan udara, yang memiliki ciri yaitu:1 o Oleh karena benda asing o tanda asfiksia jelas o awalnya batuk keras asfiksia mati

106

Ada 2 cara kematian pada kasus tersedak, yaitu: 1 o Kecelakaan (paling sering) o Pembunuhan (kasus infanticide) Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada kasus tersedak, yaitu: 1 o Gangguan refleks batuk pada alkoholisme. o Pada bayi atau anak kecil yang gemar memasukkan benda asing ke dalam mulutnya. o Tonsilektomi, aspirasi, dan kain kasa yang tertinggal pada anestesi eter.

Gambar 2.6. Gambaran tersedak (chocking)

107

Ada 4 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan autopsi kasus tersedak, yaitu:1 o Mencari bahan penyebab dalam saluran pernapasan. Juga kadangkadang ada tanda kekerasan di mulut korban. o Menemukan tanda asfiksia. o Mencari tanda-tanda edema paru, hiperaerasi dan atelektasis pada kematian lambat. o Tersedak dapat terjadi sebagai komplikasi dari bronkopneumonia dan abses. Gagging Pada perampokan ada kalanya korban setelah diikat agar tidak mudah berteriak mulut disumbat dengan kain yang diikat dari mulut ke belakang kepala (gagging). Dalam hal ini palatum molle tertekan pada pharynk.1

6. Tenggelam (Drowning) Tenggelam adalah suatu suffocation dimana jalan napas terhalang oleh air/ cairan sehingga terhisap masuk ke jalan napas sampai alveoli paru-paru. Tenggelam merupakan kematian karena asfiksia akibat masuknya air atau cairan lainnya. Beberapa kematian karena tenggelam kadang tidak hanya disebabkan oleh asfiksia tetapi juga karena hipotermia. Paparan seseorang terhadap suhu air dibawah 20oC (68oF) akan menghasilkan kematian dari hipotermia setelah terpapar beberapa jam. Paparan terhadap suhu air yang mendekati 0oC (32oF) akan menghasilkan kematian dalam beberapa menit.1,5

108

Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan posisi mayat, yaitu:1 Submerse drowning; mati tenggelam dengan posisi sebagian tubuh mayat masuk ke dalam air, seperti bagian kepala mayat. Immerse drowning; mati tenggelam dengan posisi seluruh tubuh mayat masuk ke dalam air. Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan penyebabnya, yaitu:1,2 Dry drowning; mati tenggelam dengan inhalasi sedikit air. Ada 2 penyebab kematian pada kasus dry drowning, yaitu spasme laring (menimbulkan asfiksia) dan vagal reflex/ cardiac arrest/ kolaps sirkulasi. Wet drowning; mati tenggelam dengan inhalasi banyak air. Ada 3 penyebab kematian pada kasus wet drowning, yaitu asfiksia, fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar dan edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut). Mekanisme kematian pada tenggelam pada umumnya adalah asfiksia, mekanisme kematian yang dapat juga terjadi pada tenggelam adalah karena inhibisi vagal, dan spasme larynx. Adanya mekanisme kematian yang berbeda-beda pada tenggelam, akan memberi warna pada pemeriksaan mayat dan pemeriksaan laboratorium, dengan kata lain kelainan yang didapatkan pada kasus tenggelam tergantung dari mekanisme kematiannya.1,2 Terendam dalam medium cair mengakibatkan kematian dengan berbagai mekanisme. Kebanyakan kematian individual terjadi akibat dari terhirupnya cairan (wet drowning), menghasilkan gangguan pernapasan dan selanjutnya hipoksia serebri. Sebagian, diperkirakan sekitar 15-20%, tidak menghirup 109

cairan (dry drowning). Kemungkinan lain, kematian dapat tertunda setelah episode near drowning. Kematian biasanya terjadi akibat ensefalopati hipoksia atau perubahan-perubahan sekunder dalam paru-paru. Pada beberapa kasus, khususnya dimana keadaan terapung dipertahankan secara buatan, kematian terjadi akibat hipotermia.1,2 Sekitar 15-20% kematian akibat tenggelam merupakan dry drowning dimana tidak terdapat inhalasi cairan yang banyak. Salah satu usulan adalah bahwa masuknya air secara tiba-tiba kedalam mulut dan tenggorok menghasilkan laringospasme yang hebat dengan akibat asfiksia. Kemungkinan lain, provokasi serupa dapat merangsang jalur saraf sensoris simpatis ke derajat tertentu dimana terdapat inhibisi reflex vagal pada jantung dan asystolic cardiac arrest. Cara kematian lain menyebutkan dimana terdapat suatu sistem yang menghubungkan spasme arteri koronaria dengan pendinginan tiba-tiba pada kulit.1,2 Seorang perenang yang mahir sekalipun dapat menjadi lemah secara bertahap sebagai hasil dari hipotermia dan tenggelam. Tubuh yang terendam menghangatkan cairan yang bersentuhan dengannya, dan dengan segera yang berdekatan dengan permukaan tubuh. Air menyerap panas sekitar 25 kali lebih cepat daripada udara. Terdapat tiga fase klinis dari hipotermia yang dimulai dengan fase eksitatorik dimana menggigil berhubungan dengan kebingungan mental, fase adinamik dimana terdapat kekakuan otot dan sedikit penurunan kesadaran, dan fase paralitik yang dicirikan oleh keadaan tidak sadar yang menuntun kepada aritmia jantung dan kematian. Fase-fase ini memiliki 110

hubungan penting terhadap resusitasi pada korban near drowning, sebagian besar karena fase paralitik dapat menirukan keadaan mati.1 Mekanisme tenggelam ada 3 macam, yaitu:1,5 Beberapa korban sesaat bersentuhan dengan air yang dingin terutama leher atau jatuh secara horizontal ia mengalami vagal refleks. Korban saat menghirup air, air masuk ke laring menyebabkan laringeal spasme. Mekanisme kematian karena asfiksia. Pada korban ditemukan tanda-tanda asfiksia tetapi tanda-tanda tenggelam pada organ dalam tidak ada karena air tidak masuk. Korban saat masuk ke dalam air ia akan berusaha untuk mencapai permukaan sehingga menjadi panik dan terhirup air, batuk dan berusaha untuk ekspirasi. Karena kebutuhan oksigen maka ia akan lebih banyak menghirup air. Lama-lama korban akan sianotik dan tidak sadar. Selama tidak sadar, korban akan terus bernafas dan akhirnya paru tidak dapat berfungsi sehingga pernafasan berhenti. Proses ini berlangsung 3-5 menit, kadang-kadang 10 menit. Pada orang tenggelam, tubuh korban dapat beberapa kali berubah posisi, umumnya korban akan tiga kali tenggelam, ini dapat dijelaskan sebagai berikut:1,2 Pada waktu pertama kali orang terjun ke air oleh karena gravitasi ia akan terbenam untuk pertama kalinya.

111

Oleh karena berat jenis tubuh lebih kecil dari berat jenis air, korban akan timbul, dan berusaha untuk bernafas mengambil udara, akan tetapi oleh karena tidak bisa berenang, air akan masuk tertelan dan terinhalasi, sehingga berat jenis badan sekarang menjadi lebih besar dari berat jenis air, dengan demikian ia akan tenggelam untuk kedua kalinya. Sewaktu berada pada dasar sungai, laut atau danau, proses pembusukan akan berlangsung dan terbentuk gas pembusukan. Waktu yang dibutuhkan agar pembentukan gas pembusukan dapat mengapungkan tubuh korban adalah sekitar 7-14 hari. Pada waktu tubuh mengapung oleh karena terbentuknya gas pembusukan, tubuh dapat pecah terkena benda-benda disekitarnya, digigit binatang atau oleh karena pembusukan itu sendiri, dengan demikian gas pembusukan akan keluar, tubuh korban terbenam untuk ketiga kalinya dan yang terakhir Penyebab mati tenggelam yang termasuk undeterminated yaitu sulit kita ketahui cara kematian korban karena mayatnya sudah membusuk dalam air. Ada 2 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian pembunuhan pada kasus mati tenggelam, yaitu:1 Biasanya tangan korban diikat yang tidak mungkin dilakukan oleh korban. Kadang-kadang dapat kita temukan tanda-tanda kekerasan sebelum korban ditenggelamkan. Ada 4 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian bunuh diri pada kasus mati tenggelam, yaitu:1

112

Biasanya korban meninggalkan perlengkapannya. Kita dapat temukan suicide note. Kedua tangan/ kaki korban diikat yang mungkin dilakukan sendiri oleh korban. Kadang-kadang tubuh korban diikatkan bahan pemberat.

113

Tabel 2.1 Perbedaan tenggelam pada air tawar dengan air asin

Perbedaan Tempat Air laut Paru paru besar dan berat Basah Bentuk besar kadang overlapping Ungu biru dan permukaan licin Krepitasi tidak ada Busa sedikit dan banyak cairan Air Tawar Paru-paru besar dan ringan Relatif ringan Bentuk biasa Merah pucat dan emfisematous Krepitasi ada Busa banyak

Dikeluarkan dari torak akan mendatad Dikeluarkan dari toraks tapi kempes dan ditekan akan menjadi cekung Mati dalam 5-10 menit, 20 ml/kgBB Darah: 1. BJ 1,0595 -1,0600 2. Hipertonik Mati dalam 5 menit, 40 ml.kgBB Darah: 1. BJ 1,055 2. hipotonik

3. hemokonsentrasi dan edema 3. hemodilusi/hemolisis paru 4. hipokalemia 5. hipernatremia 6. hiperklorida Resusitasi lebih mudah Tranfusi dengan plasma Resusitasi aktif Tranfusi dengan PRC 4. hiperkalemia 5. hiponatremia 6. hipoklorida

Ada 7 tanda intravitalitas mati tenggelam, yaitu:1 Cadaveric spasme. Perdarahan pada liang telinga tengah mayat.

114

Benda air (rumput, lumpur, dan sebagainya) dapat kita temukan dalam saluran pencernaan dan saluran pernapasan mayat. Ada bercak Paltauf di permukaan paru-paru mayat. Berat jenis darah pada jantung kanan berbeda dengan jantung kiri. Ada diatome pada paru-paru atau sumsum tulang mayat. Tanda asfiksia tidak jelas, mungkin ada Tardieu's spot di pleura mayat. Pada kasus mati tenggelam (drowning), dapat kita temukan tanda-tanda adanya kekerasan berupa luka lecet pada belakang kepala, siku, lutut, jari-jari tangan, atau ujung kaki mayat.1 Ada 4 macam pemeriksaan khusus pada kasus mati tenggelam, yaitu:1,2 Percobaan getah paru (lonset proef). Pemeriksaan diatome (destruction test). Penentuan berat jenis (BD) plasma. Pemeriksaan kimia darah (gettler test). Adanya cadaveric spasme dan tes getah paru (lonset proef) positif menunjukkan bahwa korban masih hidup saat berada dalam air.1 Kegunaan melakukan percobaan paru yaitu mencari benda asing (pasir, lumpur, tumbuhan, telur cacing) dalam getah paru-paru mayat. Syarat melakukannya adalah paru-paru mayat harus segar/ belum membusuk.1 Cara melakukan percobaan getah paru yaitu permukaan paru-paru dikerok (2-3 kali) dengan menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris permukaan paru-paru. Kemudian teteskan diatas objek gelas. Syarat sediaan harus sedikit

115

mengandung eritrosit. Evaluasi sediaan yaitu pasir berbentuk kristal, persegi dan lebih besar dari eritrosit. Lumpur amorph lebih besar daripada pasir, tanaman air dan telur cacing. Ada 3 kemungkinan dari hasil percobaan getah paru, yaitu:1 Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain. Hasilnya positif dan ada sebab kematian lain. Hasilnya negatif. Jika hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita interpretasikan bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya positif dan ada sebab kematian lain maka ada 2 kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu korban mati karena tenggelam atau korban mati karena sebab lain. Jika hasilnya negatif maka ada 3 kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu:1 Korban mati dahulu sebelum tenggelam. Korban tenggelam dalam air jernih. Korban mati karena vagal reflex / spasme larynx. Jika hasilnya negatif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita simpulkan bahwa tidak ada hal hal yang menyangkal bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya negatif dan ada sebab kematian lain maka kemungkinan korban telah mati sebelum korban dimasukkan ke dalam air.1 Kegunaan melakukan pemeriksaan diatome adalah mencari ada tidaknya diatome dalam paru-paru mayat. Diatome merupakan ganggang bersel satu dengan dinding dari silikat. Syaratnya paru-paru harus masih dalam keadaan

116

segar, yang diperiksa bagian kanan perifer paru-paru, dan jenis diatome harus sama dengan diatome di perairan tersebut.1,2 Cara melakukan pemeriksaan diatome yaitu ambil jaringan paru-paru bagian perifer (100 gr) lalu masukkan ke dalam gelas ukur dan tambahkan H2SO4. Biarkan selama 12 jam kemudian panaskan sampai hancur membubur & berwarna hitam. Teteskan HNO3 sampai warna putih lalu sentrifus hingga terdapat endapan hitam. Endapan kemudian diambil menggunakan pipet lalu teteskan diatas objek gelas. Interpretasi pemeriksaan diatome yaitu bentuk atau besarnya bervariasi dengan dinding sel bersel 2 dan ada struktur bergaris di tengah sel.1 Positif palsu pada pencari pasir dan pada orang dengan batuk kronis. Untuk hepar atau lien, tidak akurat karena dapat positif palsu akibat hematogen dari penyerapan abnnormal gastrointestinal.1 Penentuan Berat Jenis (BD) Plasma Penentuan berat jenis (BD) plasma bertujuan untuk mengetahui adanya hemodilusi pada air tawar atau adanya hemokonsentrasi pada air laut dengan menggunakan CuSO4. Normal 1,059 (1,0595-1,0600); air tawar 1,055; air laut 1,065. Interpretasinya ditemukan darah pada larutan CuSO4 yang telah diketahui berat jenisnya.1 Pemeriksaan kimia darah (gettler test) bertujuan untuk memeriksa kadar NaCl dan Kalium. Interpretasinya adalah korban yang mati tenggelam dalam air tawar, mengandung Cl lebih rendah pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na menurun dan kadar K meningkat dalam plasma. Korban

117

yang mati tenggelam dalam air laut, mengandung Cl lebih tinggi pada jantung kiri daripada jantung kanan. Kadar Na meningkat dan kadar K sedikit meningkat dalam plasma.1 Pada pemeriksaan histopatologi dapat kita temukan adanya bintik perdarahan di sekitar bronkioli yang disebut Partoff spot.1

7. Inhalation of Suffocating Gasses Inhalation of suffocating gasses adalah suatu keadaan dimana korban menghisap gas tertentu dalam jumlah berlebihan sehingga kebutuhan O2 tidak terpenuhi. Ciri-cirinya yaitu:1 kekurangan O2 di suatu tempat/ daerah sekitarnya (daerah tambang) tanda asfiksia tanda intoksikasi CO2 tanda trauma seperti kejatuhan batu Ada 3 cara kematian pada korban kasus inhalation of suffocating gasses, yaitu menghisap gas CO, CO2, H2S. Gas CO banyak pada kebakaran hebat. Gas CO2 banyak pada sumur tua dan gudang bawah tanah. Gas H2S pada tempat penyamakan kulit.1

118

BAB III PENUTUP Asfiksia adalah kumpulan dari berbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal. Asfiksia merupakan istilah yang sering digunakan untuk menyatakan berhentinya respirasi yang efektif (cessation of effective respiration) atau ketiadaan kembang kempis (absence of pulsation). Asfiksia merupakan mekanisme kematian terbanyak yang ditemukan dalam kasus kedokteran forensik. Asfiksia yang diakibatkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran pernafasan disebut asfiksia mekanik. Asfiksia jenis inilah yang paling sering dijumpai dalam kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia. Jenis asfiksia mekanik antara lain yaitu: a. Penutupan lubang saluran pernafasan bagian atas: Pembekapan (smothering) Penyumbatan (gagging dan choking) b. Penekanan dinding saluran pernafasan: Penjeratan (strangulation) Pencekikan (manual strangulation) Gantung (hanging) c. External pressure of the chest yaitu penekanan dinding dada dari luar. d. Drawning (tenggelam) yaitu saluran napas terisi air. e. Inhalation of suffocating gases.

119

DAFTAR PUSTAKA

1. Hasymi MA, Ayunazhari I, Dina NF, Sari DO, Suminarti. Pocket Book of Medical Forensic: Minds Forensic First Edition. Banjarmasin: Laboratorium Forensik RSUD Ulin Banjarmasin, 2012. 2. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta Barat: Binarupa Aksara, 1997. 3. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman bagi Dokter dan Penegak Hukum. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2008. 4. Apuranto H, Hoediyanto. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Edisi Ketiga. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Airlangga, 2007. 5. James SH, Nordby JJ. Forensic Science: An Introduction to Scientific and Investigative Techniques Second Edition. United States: CRC Press, 2005.

120

TANATOLOGI

121

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati; meliputi pengertian (definisi), cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya.1 Dalam ilmu tanatologi akan dipelajari mengenai penentuan kematian, perubahan-perubahan sesudah mati, saat kematian, dan kegunaan tanatologi. Penentuan kematian dilakukan berdasarkan konsep mati otak dan mati batang otak, yang ditandai dengan tidak berespon terhadap semua rangsangan, tidak sadarnya pasien, hilangnya reflex pupil, hilangnya reflex kornea, tidak ada reflex menelan, tidak ada reflex vestibulokoklearis dan tidak adanya pernafasan spontan.1 Ada beberapa perubahan yang terjadi pada saat manusia mengalami kematian, yaitu perubahan pada kulit muka, relaksasi otot, perubahan pada mata, penurunan suhu tubuh, lebam jenazah, dan kaku jenazah. Perubahan yang terjadi pada muka yaitu berubahnya warna wajah menjadi lebih pucat, akan tetapi pada jenazah yang mengalami kematian karena keracunan gas CO (karbon monooksida), perubahan warna kulit muka menjadi pucat terjadi lebih lambat. Pada saat mati sampai beberapa saat sesudahnya, otot-otot polos akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Pada orang yang sudah mati pandangan matanya terlihat kosong, reflek cahaya dan reflek kornea menjadi

122

negative. Vena-vena pada retina akan mengalami kerusakan dalam waktu 10 detik sesudah mati. Jika sesudah kematiannya keadaan mata tetap terbuka maka lapisan kornea yang paling luar akan mengalami kekeringan. Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium sekitarnya. Penurunan ini disebabkan oleh adanya proses radiasi, konduksi, dan pancaran panas.1 Untuk menentukan saat kematian dapat dilihat dari perubahan pada mata, lambung, kuku, rambut, cairan serebrospinal, dan adanya reaksi supravital. Pada mata kita dapat melihat perubahan warna menjadi lebih keruh, pada lambung kita bisa melihat waktu pengosongan lambung meski tidak memberikan banyak arti, pada rambut kita dapat mengukur saat kematian dilihat dari pertambahan panjang rambut, begitu pula yang dapat kita liat pada kuku. Pada cairan serebrospinal saat kematian dapat dilihat dari kadar nitrogen yang menurun setelah 10 jam kematian, sedangkan reaksi supravital yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup.1,2,3 2. Tujuan Kegunaan ilmu tanatologi yaitu untuk menentukan cara kematian, sebab kematian, saat kematian, dan diagnosis kematian. Oleh sebab itu dibuatlah makalah tentang tanatologi.

123

3. Manfaat Manfaat dari tinjauan kepustakaan ini yaitu untuk memberikan informasi mengenai thanatologi, definisi kematian, perubahan yang terjadi setelah kematian dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut dan menerapkan tanatologi pada pemecahan kasus.

124

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Tanatologi berasal dari dua buah kata, yaitu thanatos yang berarti mati dan logos yang berarti ilmu. Jadi arti sesungguhnya dari tanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati; meliputi pengertian (definisi), cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya.1,2 Sebelum membahas definisi mati perlu dipahami lebih dahulu bahwa manusia menurut ilmu kedokteran memiliki dua dimensi, yaitu sebagai individu dan sebagai kumpulan dari berbagai macam sel. Oleh sebab itu kematian manusia juga dapat dilihat dari kedua dimensi tadi, dengan catatan bahwa kematian sel (cellular death) akibat ketiadaan oksigen baru akan terjadi setelah kematian manusia sebagai individu (somatic death).1,3,4 Mati individu itu sendiri sebetulnya dapat didefinisikan secara sederhana sebagai berhentinya kehidupan secara permanen (permanent cessation of life). Hanya saja, untuk dapat memahami definisi tersebut perlu dipahami lebih dahulu tentang hidup. Mengenai hal ini nampaknya para ahli sependapat jika hidup didefinisikan sebagai berfungsinya berbagai organ vital (paru-paru, jantung, dan otak) sebagai satu kesatuan yang utuh, yang ditandai oleh adanya konsumsi oksigen. Dengan definisi hidup seperti itu maka definisi mati dapat diperjelas lagi menjadi berhentinya secara permanen fungsi berbagai organ-organ vital (paru-

125

paru, jantung, dan otak) sebagai satu kesatuan yang utuh, yang ditandai oleh berhentinya konsumsi oksigen.1,3 Akibat berhentinya konsumsi oksigen ke seluruh jaringan tubuh maka satu demi satu sel yang merupakan elemen hidup terkecil pembentuk manusia akan mengalami kematian pula. Dimulai dari sel-sel yang paling rendah daya tahannya terhadap ketiadaan oksigen.1,2,3 Selain kematian individu dan kematian sel, ada satu lagi istilah yang perlu dipahami yaitu mati suri (appearent death). Pengertian yang sebenarnya dari mati suri adalah suatu keadaan dimana proses vital turun ke tingkat yang paling minimal untuk mempertahankan kehidupan, sehingga tanda-tanda klinisnya tampak seperti sudah mati. Dengan perlatan yang sederhana maka tanda-tanda kehidupan tidak dapat dideteksi, walaupun sebenarnya yang bersangkutan masih dalam keadaan hidup. Keadaan ini sering ditemukan pada orang yang mengalami acute heart failure, tenggelam, kedinginan, anestesi yang terlalu dalam, sengatan listrik, atau sambaran petir.1,2,3 Dengan pertolongan yang cepat dan tepat atau kadang-kadang secara spontan kondisinya dapat pulih kembali seperti sebelumnya. Oleh orang awam, kembalinya ke kondisi normal secara spontan ini sering disalahartikan sebagai hidup kembali. Namun harus diyakini bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat hidup kembali sesudah mati.1,2 B. Penentuan Kematian Untuk dapat menentukan kematian seseorang sebagai individu (somatic death), diperlukan kriteria diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik

126

yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Kriteria diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Kriteria diagnostik pertama yang disusun oleh para ahli di bidang kedokteran adalah yang dirumuskan berdasarkan konsep permanent cessation of heart and respiration death. Namun dengan ditemukannya respirator (alat napas buatan) yang dapat mempertahankan fungsi paru-paru dan jantung maka criteria tradisional tidak dapat dilakukan terhadap pasien-pasien yang menggunakan alat itu. Karena itulah disusun Kriteria diagnostik baru yang berdasarkan pada konsep brain death is death. Terakhir konsep diagnostik ini diperbaiki lagi menjadi brain stem death is death.1,3,4 Perbaikan ini berangkat dari pemikiran bahwa:1 1. Mustahil dapat mendiagnosis brain death dengan memeriksa seluruh fungsi otak dalam keadaan koma, mengingat fungsi tertentu otak (melihat, mencium, mendengar, fungsi serebeler dann beberapa fungsi kortek) hanya dapat diperiksa dalam keadaan komposmentis. 2. Proses brain death tidak terjadi secara serentak, tetapi bertahap mengingat resistensi yang berbeda-beda dari berbagai bagian otak terhadap ketiadaan oksigen. Dalam hal ini brain stem (batang otak) merupakan bagian yang paling tahan dibandingan kortek dan thalamus. 3. Brain stem merupakan bagian dari otak yang mengatur fungsi vital, terutama pernafasan.

127

Berdasarkan konsep tersebut, tidak kurang dari 30 buah set kriteria diagnostik telah disusun, namun kriteria yang paling banyak digunakan para dokter adalah kriteria diagnostik seperti dibawah ini, yaitu:1 1. Hilangnya semua respon terhadap sekitarnya (respon terhadap

komando/perintah, taktil, dan sebagainya). 2. Tidak ada gerakan otot serta postur, dengan catatan pasien tidak sedang berada dibawah pengaruh obat-obatan curare. 3. Tidak ada reflex pupil 4. Tidak ada reflex kornea 5. Tidak ada respon motorik dari saraf cranial terhadap rangsangan. 6. Tidak ada reflex menelan atau batuk ketika tuba endotrakeal didorong kedalam. 7. Tidak ada reflex vestibulookularis terhadap rangsangan air es yang dimasukkan ke dalam lubang telinga. 8. Tidak ada nafas spontan ketika respirator dilepas untuk waktu yang cukup lama walaupun pCO2 sudah melampaui nilai ambang rangsangan nafas (50 torr). Tes klinik tersebut diatas baru boleh dilakukan paling cepat 6 jam setelah onset koma serta apneu dan harus diulangi lagi paling cepat sesudah 2 jam dari tes yang pertama. Sedangkan tes konfirmasi dengan EEG atau angiografi hanya dilakukan kalau tes klinik memberikan hasil yang meragukan atau jika ada kekhawatiran akan adanya tuntutan dikemudian hari.1,3

128

Dengan adanya kriteria baru itu tidak berarti kriteria tradisional diagnostik tidak berlaku lagi. Kriteria tradisional tetap diperlukan bagi penentuan kematian pada kasus-kasus biasa, sedang kriteria baru hanya berlaku bagi kasus-kasus luar biasa (misalnya keracunan, sengatan listrik, gangguan metabolism, hipotermi, atau pasien-pasien yang dipersiapkan menjadi donor cadaver).1,3 Kriteria tradisional itu sendiri sebetulnya didasarkan pada konsep permanent cessation of heart beating and respiration death. Dikatakan berhenti secara permanen (permanent cessation) jika fungsi jantung dan paru-paru terhenti sekitar 10menit. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa sel-sel otak akan mengalami kerusakan irreversible jika tidak mendapatkan suplai oksigen selama 10 menit. Di daerah yang suhunya dingin ketahanannya dapat mencapai 1 jam atau lebih.1,3 Secara terotiris, diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung dan paru-paru sudah berhenti selama 10 menit, namun dalam prakteknya sering kali terjadi kesalahan diagnosis sehingga diperlukan konfirmasi dengan cara mengamati selama waktu tertentu. Kebiasaan yang berlaku di Indonesia adalah mengamati selama 2 jam. Jika waktu tersebut telah terlewati, sedang tanda-tanda kehidupan tidak juga muncul barulah yang bersangkutan dapat dinyatakan mati berdasarkan kriteria diagnostik tradisional.1,3,5 Untuk menentukan apakah paru-paru sudah berhenti bernafas perlu dilakukan pemeriksaan:1,3 1. Auskultasi

129

Tes ini perlu dilakukan secara hati-hari dan lama. Kalau perlu dilakukan juga auskultasi pada daerah laring. 2. Tes winslow Yaitu dengan meletakkan gelas berisi air di atas perut atau dadanya. Bila permukaan air bergoyang berarti masih ada gerakan nafas. 3. Tes cermin Yaitu dengan meletakkan kaca cermin di depan mulut dan hidung. Bila basah berarti masih bernafas 4. Tes bulu burung Yaitu dengan meletakkan bulu burung di depan hidung. Bila bergetar berarti masih bernafas. Untuk menentukan jantung masih berfungsi perlu dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:1,3 1. Auskultasi Auskultasi dilakukan di daerah prekordial selama 10 menit terus menerus 2. Tes magnus Yaitu dengan mengikat jari tangan sedemikian rupa sehingga hanya aliran darah vena saja yang terhenti. Bila bendungan berwarna sianotik berarti masih ada sirkulasi. 3. Tes icard Yaitu dengan cara menyuntikkan larutan dari campuran 1 gram zat fluorescein dan 1 gram natrium bicarbonas didalam 8 ml air secara

130

subkutan. Bila terjadi perubahan warna kuning kehijauan berarti masih ada sirkulasi darah. 4. Icisi arteria radialis Bila terpaksa dapat dilakukan pengirisan pada arteria radialis. Bila keluar darah secara pulsasif berarti masih ada sirkulasi darah. C. Perubahan-Perubahan Sesudah Mati Jika seseorang meninggal dunia maka pada tubuhnya akan mengalami berbagai perubahan, antara lain:1,3 1. Perubahan kulit muka Akibat berhentinya sirkulasi darah maka darah yang berada pada kapiler dan venula dibawah kulit muka akan mengalir ke bagian yang lebih rendah sehingga warna raut muka Nampak menjadi lebih pucat. Pada mayat dari orang yang mati akibat kekurangan oksigen atau keracunan zat-zat tertentu (misalnya karbon monoksida), warna semula dari raut muka akan bertahan lama dan tidak cepat menjadi pucat. 2. Relaksasi otot Pada saat mati sampai beberapa saat sesudahnya, otot-otot polos akan mengalami relaksasi sebagai akibat dari hilangnya tonus. Relaksasi pada stadium itu disebut relaksasi primer. Akibatnya rahang bawah akan melorot menyebabkan mulut terbuka, dada kolap dan bila tidak ada yang menyangga anggota tubuh akan jatuh kebawah. Relaksasi yang terjadi pada otot-otot muka akan mengesankan lebih muda dari umur yang sebenarnya, sedang relaksasi otot polos akan

131

mengakibatkan iris dan sfingter ani dilatasi. Oleh sebab itu jika ditemukan dilatasi pada anus, harus hati-hati untuk menyimpulkan sebagai akibat hubungan seks per ani.1 Sesudah relaksasi primer akan terjadi kaku mayat dan selanjutnya akan terjadi relaksasi lagi. Relaksasi terakhir ini disebut relaksasi sekunder.1 3. Perubahan pada mata Pada orang yang sudah mati pandangan matanya terlihat kosong, reflek cahaya dan reflek kornea menjadi negative. Vena-vena pada retina akan mengalami kerusakan dalam waktu 10 detik sesudah mati. Jika sesudah kematiannya keadaan mata tetap terbuka maka lapisan kornea yang paling luar akan mengalami kekeringan. Dalam waktu 10 sampai 12 jam sesudah mati kelopak mata, baik terbuka atau tertutup, akan berubah menjadi putih dan keruh. Perubahan lain yang terjadi ialah penurunan tekanan bola mata dan naikknya kadar potassium pada cairan mata.3 4. Penurunan suhu tubuh Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium sekitarnya. Penurunan ini disebabkan oleh adanya proses radiasi, konduksi, dan pancaran panas.3 Pada jam-jam pertama penurunannya sangat lambat karena masih adanya produksi panas dari proses glikogenolisis, tetapi sesudah itu

132

penurunan menjadi lebih cepat dan pada akhirnya menjadi lebih lambat kembali. Kalau proses penurunan tersebut digambarkan dalam bentuk grafik maka gambarannya akan seperti sigmoid atau huruf S terbalik. Jika rata-rata maka penurunan suhu tersebut antara 0,9 sampai 1 derajat Celsius atau sekitar 1,5 Farenheit setiap jam, dengan catatan penurunan suhu dimulai dari 37 derajat celcius atau 98,4 derajat Farenheit. Pengukuran dilakukan per rectal dengan menggunakan thermometer kiimia yang panjang (long chemical thermomether).1,3 Penurunan suhu tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:1 a. Suhu tubuh pada saat mati Suhu tubuh yang tinggi pada saat mati, seperti misalnya pada penderita infeksi atau perdarahan otak, akan mengakibatkan tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat. Sedangkan penderita dengan hipotermia tingkat penurunannya akan menjadi sebaliknya. b. Suhu medium Semakin rendah suhu medium tempat tubuh mayat berada akan semakin cepat tingkat penurunannya. Dengan kata lain semakin besar perbedaan suhu medium dengan suhu tubuh mayat, semakin besar tingkat penurunannya. c. Keadaan udara disekitarnya

133

Pada udara yang lembab, tingkat penurunannya suhu menjadi lebih besar. Hal ini disebabkan karena udara yang lembab merupakan konduktor yang baik. Pada udara yang terus berhembus (angin), tingkat penurunannya juga semakin cepat. d. Jenis medium Pada medium air, tingkat penurunan suhu menjadi lebih cepat sebab air merupakan konduktor yang baik. e. Keadaan tubuh mayat Pada mayat bayi, tingkat penurunan suhu lebih cepat dibanding mayat orang dewasa. Hal ini disebabkan karena pada bayi, luas permukaan tubuhnya relatip lebih besar. Pada mayat yang tubuhnya kurus, tingkat penurunannnya juga lebih cepat dibandingkan mayat yang tubuhnya gemuk. f. Pakaian mayat Semakin tipis pakaian yang dipakai, semakin cepat tingkat penurunannya. Perlu diketahui bahwa estimasi saat kematian dengan memanfaatkan penurunan suhu mayat hanya bisa dilakukan pada kematian kurang dari 12 jam. Berbagai rumus kecepatan penurunan suhu tubuh pasca mati ditemukan sebagai hasil dari penelitian di negara barat, namun ternyata sukar dipakai dalam praktek karena faktor-faktor yang berpengaruh berbeda pada setiap kasus, lokasi, cuaca dan iklim.1

134

Meskipun demikian dapat dikemukakan di sini formula Marshal dan Hoare (1962) yang dibuat dari hasil penelitian terhadpa mayat telenjang dengan suhu lingkungan 15,5 derajat Celcius, yaitu penurunan suhu dengan kecepatan 0,55 derajat Celsius tiap jam pada 3 jam pertama paska mati, 1,1 derajat Celsius tiap jam pada 6 jam berikutnya, dan kira-kira 0,8 derajat Celsius tiap jam pada periode selanjutnya. Kecepatan penurunan suhu ini menurun hingga 60% bila mayat berpakaian. Penggunaan formula ini harus dilakukan dengan hati-hati mengingat suhu lingkungan di Indonesia biasanya lebih tinggi. Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk memperkirakan saat mati melalui pengukuran suhu tubuh pada lingkungan yang menetap di tempat kejadian perkara (TKP). Caranya adalah dengan melakukan 4-5 kali penentuan suhu rektal dengan interval waktu yang sama (minimal 15 menit). Suhu lingkungan diukur dan di anggap konstan karena faktor-faktor lingkungan dibuat menetap, sedangkan suhu saat mati dianggap 37 derajat Celsius bila tidak ada penyakit demam. Penelitian membuktikan bahwa perubahan suhu lingkungan kurang dari 2 derajat Celsius tidak mengakibatkan perubahan yang bermakna. Dari angka-angka di atas, dengan menggunakan rumus atau grafik dapat ditentukan waktu antara saat mati dan saat pemeriksaan. Saat ini, telah tersedia program komputer guna perhitungan saat mati dengan cara ini.1,3 5. Lebam mayat

135

Nama lain dari lebam mayat ialah livor mortis, post mortum lividity, post mortum suggilation, post mortum hypostasis atau vibices.1,3

Terjadinya karena adanya gaya gravitasi yang menyebabkan darah mengumpul pada bagian-bagian tubuh terendah. Mula-mula darah mengumpul pada vena-vena besar dan kemudian pada cabangcabangnya sehingga mengakibatkan perubahan warna kulit menjadi merah kebiruan. Pada awalnya warna tersebut hanya berupa bercak setempat-setempat yang kemudian berubah menjadi lebih lebar dan merata pada bagian tubuh terendah. Kadang-kadang cabang dari vena pecah sehingga terlihat bintik-bintik perdarahan yang disebut Tardius spot.1,3 Timbulnya lebam mayat antara 1 sampai 2 jam setelah mati. Pada orang yang menderita anemia atau perdarahan timbulnya lebam mayat menjadi lebih lama, sedang pada orang yang mati akibat sakit lama timbulnya lebam mayat menjadi lebih cepat.1,3,5 Lokalisasinya pada bagian yang terendah dari tubuh mayat, kecuali pada daerah-daerah yang tertekan. Pada posisi terlentang, lebam mayat

136

akan dapat ditemukan pada leher bagian belakang, punggung, bokong, dan fleksor dari anggota bawah. Kadang-kadang ditemukan juga lebam mayat paradoksal yang terletak pada leher bagian depan, bahu dan dada sebelah atas. Pada posisi tengkurap lebam mayat dapat ditemukan pada dahi, pipi, dagu, dada, perut, dan bagian ekstensor dari anggota bawah. Kadang-kadang ditemukan darah keluar dari hidungnya, disebabkan pecahnya pembuluh darah hidung akibat stagnansi hebat pada daerah tersebut. Pada posisi menggantung lebam mayat ditemukan pada ujung-ujung dari anggota badan dan alat kelamin lakilaki.1,3 Lebam mayat juga dapat ditemukan pada organ-organ dalam, sehingga perlu dibedakan pada proses patologik. Lebam mayat pada paru-paru misalnya, perlu dibedakan dengan proses perdarahan atau pneumonia.1 Setelah 4 jam, kapiler-kapiler akan mengalami kerusakan dan butir-butir darah merah juga akan rusak. Pigmen-pigmen dari pecahan darah merah akan keluar dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di sekitarnya sehingga menyebabkan warna lebam mayam pada daerah tersebut akan menetap serta tidak hilang jika ditekan dengan ujung jari atau jika posisi mayat dibalik. Jika pembalikan posisi dilakukan sesudah 12 jam dari kematiannya maka lebam mayat baru tidak akan timbul pada posisi terendah karena darah sudah mengalami koagulasi.1

137

Warna lebam mayat biasanya merah kebiruan. Pada keracunan karbon monoksida (CO) lebam mayat berwarna merah cerah (cherry red), pada keracunan potassium chlorate berwatna coklat dan pada kematian karena asfiksia berwarna lebih gelap.1 6. Kaku mayat Kaku mayat yang sering disebut rigor mortis atau post mortum rigidity terjadi akibat proses biokimiawi, yaitu pemecahan ATP menjadi ADP. Selama masih ada P berenersi tinggi dari pemecahan glikogen otot maka ADP masih dapat diresintese menjadi ATP kembali. Jika persediaan glikogen oto habis maka resintese tidak terjadi sehingga terjadi penumpukan ADP yang akan menyebabkan otot menjadi kaku.1 Berdasarkan teori tersebut maka kaku mayat akan terjadi lebih awal pada otot-otot kecil, karena pada otot-otot yang kecil persendian glikogen sedikit. Otot-otot yang kecil itu antara lain otot-otot yang terdapat pada muka; misalnya otot palpebra, otot rahang dan sebagainya. Sesudah itu kaku mayat terjadi pada leher, anggota atas, dada, perut dan terakhir anggota bawah.1

138

Lebih kurang 6 jam sesudah mati, kaku mayat akan mulai terlihat dan lebih kurang 6 jam kemudian seluruh tubuh akan menjadi kaku. Kekakuan tersebut akan berlangsung selama 36 sampai 48 jam. Sesudah itu, tubuh mayat akan mengalami relaksasi kembali sebagai akibat dari proses degenerasi dan pembusukan. Relaksasi yang terjadi sesudah mayat mengalami kaku mayat disebut relaksasi sekunder.1 Urutan terjadinya relaksasi sekunder seperti urutan terjadinya kaku mayat; yaitu dimulai dari otot-otot pada daerah muka, leher, anggota atas, dada, perut dan terakhir anggota bawah.1 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kaku mayat antara lain:1,3 a. Persediaan glikogen Pada mayat dari orang yang sebelum meninggalnya banyak makan makanan yang mengandung karbohidrat maka kaku mayat akan timbul lebih lambat. Pada mayat dengan gizi jelek, kaku mayat akan timbul lebih cepat. b. Kegiatan otot Pada orang yang melakukan aktifitas yang berlebihan sebelum kematiannya, kaku mayatnya akan menjadi lebih cepat. c. Suhu udara sekitarnya Pada udara yang suhunya tinggi kaku mayat terjadi lebih cepat dan berlangsung lebih singkat, sedang pada suhu rendah terjad lebih lambat dan berlangsung lebih lama. Pada suhu 10 derajat Celcius di bawah nol

139

kaku mayat tidak terjadi, sedang kekakuan yang terlihat disebabkan karena adanya freezing atau cold stiffening. d. Umur Pada anak-anak timbulnya kaku mayat lebih cepat daripada orang dewasa. Kekakuan pada tubuh jenazah akibat rigor mortis perlu dibedakan dengan kekakuan akibat proses lainnya, seperti misalnya: a. Cadaveric spasme atau instantaneous rigor Kekakuan yang terjadi di sini disebabkan oleh kekakuan serombongan otot akibat ketegangan jiwa atau ketakutan sebelum kematiannya. Keadaan seperti ini sering ditemukan pada orang yang melakukan bunuh diri, orang-orang yang mengalami kecelakaan atau yang megalami ketakutan yang sangat ketika akan dibunuh. Dalam perang Vietnam ditemukan mayat tentara Amerika dengan cadaveric spasme.

Cadaveric spasme ini sebetulnya merupakan proses intravital, tidak dapat direkayasa dan akan hilang berkenaan dengan terjadinya proses pembusukan. 140

b. Heat stiffening Pada mayat yang terbakar, akan mengalami kekakuan otot yang disebabkan karena proses koagulasi protein. Untuk membedakannya dengan kekakuan akibat rigor mortis tidaklah sulit, sebab pada heat stiffening pengaruh panas pada daerah kulit akan terlihat jelas. c. Freezing Kekakuan yang terjadi di sini disebabkan oleh pembekuan cairan di sendi atau di dalam sel-sel otot atau jaringan interstisiil. Pada perabaan terasa dingin dan bila digerakkan terasa adanya krepitasi. Freezing yang terjadi di dalam tengkorak dapat menyebabkan sutura pada tulang tengkorak lepas karena adanya desakan es dari dalam. Jika mayat diletakkan pada suhu tinggi akan terjadi pelemasan otot. 7. Pembusukan atau Modifikasinya Pembusukan yang terjadi pada tubuh mayat disebabkan oleh proses otolisa dan aktifitas mikroorganisme.1 Proses otolisa terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan oleh sel-sel yang sudah mati. Mula-mula yang terkena ialah nukleoprotein yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya. Seterusnya dinding sel akan mengalami kehancuran dan akibatnya jaringan akan menjadi lunak atau mencair.1

141

Proses otolisa ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme dan oleh sebab itu pada mayat yang bebas hama, misalnya mayat bayi dalam kandungan, proses otolisa tetap berlangsung.1 Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat dan dengan sendirinya akan memperlambat otolisa, sedang pada suhu yang panas proses otolisa juga akan mengalami hambatan disebabkan rusaknya enzim oleh panas tersebut.1,3 Mengenai mikroorganisme penyebab pembusukan, yang paling utama adalah oleh kuman Clostridium Welchii yang biasanya ada pada usus besar. Karena pada orang yang sudah mati semua sistem pertahanan tubuh hilang maka kuman-kuman pembusuk tersebut dapat leluasa memasuki pembuluh darah dan menggunakan darah sebagai media untuk berkembang biak. Kuman itu akan menyebabkan hemolisa, pencairan bekuan-bekuan darah yang terjadi sebelum atau sesudah mati, pencairan trombus atau emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gasgas pembusukan. Proses tersebut mulai tampak lebih kurang 48 jam sesudah mati.1

142

Tanda-tanda yang dapat dilihat pada mayat yang mengalami pembusukan ialah:1 a. Warna kehijauan pada dinding perut sebelah kanan bawah. Perubahan warna ini disebabkan adanya reaksi antara H2S (dari gas pembusukan yang terjadi di usus besar) dengan Hb menjadi Sulf-Met-Hb. Perubahan ini merupakan tanda pembusukan yang paling dini. b. Pelebaran pembuluh darah vena superfisial. Pelebaran pembuluh darah ini disebabkan oleh desakan gas pembusukan yang ada di dalamnya sehingga pembuluh darah tersebut serta cabang-cabangnya nampak lebih jelas, seperti pohon gundul (arborescent pattern atau arborescent mark) c. Muka membengkak d. Perut mengembung akibat timbunan gas pembusukan e. Skrotum laki-laki atau vulva membengkak f. Kulit terlihat gelembung atau melepuh g. Cairan darah keluar dari lubang hidung dan mulut h. Bola mata menjadi lunak i. Lidah dan bola mata menonjol akibat desakan gas pembusukan j. Dinding perut atau dada pecah akibat tekanan gas k. Kuku dan rambut lepas l. Organ-organ dalam membusuk dan kemudian hancur. Organ dalam yang paling cepat membusuk ialah otak, hati, lambung, usus halus, limpa, rahim wanita hamil atau nifas. Organ yang lambat membusuk

143

ialah esofagus, jantung, paru-paru, diafragma, ginjal dan kandung kencing. Organ yang paling lambat mengalami pembusukan ialah kelenjar prostat pada laki-laki dan rahim wanita yang tidak sedang hamil atau nifas. Jika kedua organ tersebut masih dapat dikenali pada pemeriksaan mayat tak dikenal yang sudah dalam keadaan membusuk maka hal ini akan sangat berguna bagi kepentingan identifikasi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembusukan antara lain:1 a. Faktor luar, yaitu: 1. Mikroorganisme Pada mayat bayi yang baru dilahirkan atau mayat yang tidak berpakaian proses pembusukkannya akan terhambat. Proses

pembusukan yang lambat juga akan dialami oleh mayat yang dikuburkan di dalam tanah yang sangat padat. 2. Suhu disekitar mayat Proses pembusukan yang paling optimal terjadi pada suhu 70-100 derajat Fahrenheit. Pada suhu di bawah 50 derajat Fahrenheit atau di atas 100 derajat Fahrenheit, proses pembusukan menjadi lebih lambat akibat terhambatnya pertumbuhan mikroorganisme. 3. Kelembaban udara Seperti diketahui bahwa proses pembusukan diperlukan kelembababn udara. Oleh karena itu semakin tinggi kelembaban semakin cepat pembusukannya.

144

4. Medium dimana mayat berada Pembusukan pada medium udara terjadi lebih cepat dibandingkan pada medium air lebih cepat dibandingkan pada medium tanah. b. Faktor dalam, yaitu:1 1. Umur Pada mayat dari orang-orang tua, proses pembusukannya lebih lambat disebabkan lemak tubuhnya relatif lebih sedikit. Pembusukan yang lambat juga terjadi pada mayat bayi yang baru lahir dan belum pernah diberi makan, sebab pada mayat tersebut belum kemasukkan kumankuman pembusuk. 2. Sebab kematian Mayat dari orang yang mati mendadak lebih lambat proses pembusukkannya daripada yang mati karena penyakit kronis. Demikian juga mayat dari orang yang mati karena keracuna khronis dari zat asam karbol, arsen, antimo dan zink klorida. 3. Keadaan mayat Proses pembusukan yang cepat terjadi pada tubuh mayat yang gemuk, edematus, luka-luka atau mayat wanita yang mati sesudah melahirkan. Sedang proses pembusukan yang lambat terjadi pada mayat yang ketika hidupnya mengalami dehidradsi. Pada keadaan tertentu, tanda-tanda pembusukan seperti yang disebutkan di atas tidak dijumpai. Yang ditemukan adalah modifikasinya, yaitu mumifikasi atau saponifikasi (adipocere).1

145

Mumifikasi dapat terjadi kalau keadaan disekitar mayat kering, kelembabannya rendah, suhunya tinggi dan tidak ada kontaminasi dengan bakteri.1 Terjadinya beberapa bulan setelah mati, dengan tanda-tanda sebagai berikut:1 - Mayat menjadi kecil - Kering - Mengkerut atau melisut - Warna coklat kehitaman - Kulit merekat erat dengan tulang di bawahnya - Tidak berbau - Keadaan anatominya masih utuh Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada di dalam suasana hangat, lembab, dan basah. Terjadi karena proses hidrolisis dari lemak menjadi asam lemak. Selanjutnya asam lemak jenuh dan kemudian bereaksi dengan alkali menjadi sabun yang tak larut.1,3 Terjadinya saponifikasi memerlukan waktu beberapa bulan dan dapat terjadi pada setiap jaringan tubuh yang berlemak, dengan tandatanda sebagai berikut:1 - Warna keputihan - Bau tengik seperti bau minyak kelapa

146

Jika pada mayat terjadi proses saponifikasi atau mumifikasi maka hal itu dapat dimanfaatkan guna kepentingan identifikasi ataupun pemeriksaan luka-luka, meskipun terjadinya kematian sudah lama. 8. Perubahan-Perubahan pada Darah Sesudah mati akan terjadi penurunan pH darah sebagai akibat dari penumpukan CO2 saat-saat akhir kehidupannya, glikogenolisis dan glikolisis. Penurunan pH juga dapat disebabkan oleh penumpukan asam laktat, pemecahan asam amino dan pemecahan asam lemak. Setelah 24 jam dari saat kematiannya, keadaan darah mulai berubah menjadi basa sebagai akibat dari pemecahan protein secara enzimatik. Pemecahan ini juga akan menyebabkan kenaikan non protein nitrogen. Proses proteolisis juga akan menyebabkan kenaikan ureum. Mengenai kadar gula darah, akan mengalami penurunan yang cepat sesudah mati. Tetapi kadar dekstrose darah pada vena cava inferior akan mengalami kenaikan sebagai akibat pemecahan glikogen di dalam hati. Kenaikan kadar dekstrose ini akan merembes sampai ke jantung sebelah kanan. Kadar dekstrose darah di tempat lain tidak mengalami kenaikan mengingat paru-paru merupakan barikade yang cukup baik terhadap perembesan. 9. Kematian Sel (cellulare Death/Moleculare Death) Jika seseorang sebagai individu telah meninggal dunia maka sel-sel yang membentuk tubuhnya akan tetap hidup secara sendiri-sendiri, meskipun sel-sel itu tidak mendapatkan supply oksigen.

147

Ketahanan hidup sel tanpa oksigen ini berbeda-beda, seperti tersebut di bawah ini: - Sel-sel usus mampu hidup sampai 2 jam sesudah mati. Dalam periode ini peristaltik usus sering dijumpai. - Sel-sel otot tertentu mampu hidup 3 jam sesudah mati. Dalam periode tersebut otot yang bersangkutan masih dapat mengalami kontraksi jika dirangsang dengan listrik. - Sel-sel jantung tidak segera mati dan masih dapat berdenyut secara lemah dn tidak sempurna. - Otot pupil masih dapat melebar jika diberi obat atropin. - Spermatozoa mampu hidup selama beberapa jam sesudah mati.

D. Perkiraan Saat Kematian Selain perubahan pada mayat tersebut di atas, beberapa perubahan lain dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati.1 1. Perubahan pada mata. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri-kanan kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberpa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi kornea (taches noires scletiques). Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis. Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan air, tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat dihilangkan dengan

148

tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam paska mati. Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi keruh kira-kira 10-12 jam paska mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas. Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat dan tepinya tidak tajam lagi. Selama 2 jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah skitar diskus menjadi kuning. Warna kuning juga tampak disekitar makula yang menjadi lebih gelap. Pada saat itu pola vaskuler koroid yang tampak sebagai bercak-bercak dengan latar belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira 3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat. Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluhpembuluh besar yang mengalami segmentasi yang dapat ilihat dengan latar belakang kuning kelabu. Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur, pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat

149

dikenali dengan adanya konvergensi beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja yang tampak berwarna coklat gelap. 2. Perubahan dalam lambung Kecepatan pengosongan lambung sangat berfariasi, sehingga tidak dapat digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat mati. Namun, keadaan lambung dan isinya dapat membantu dalam membuat keputusan. Ditemukannya makanan tertentu (pisang, kulit tomat, biji-bijian) menandakan bahwa korban setelah meninggal telah makan makanan tersebut. 3. Perubahan rambut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm per hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian. Cara ini hanya dapat dipergunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir dia mencukur. 4. Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan hal rambut tersebut di atas pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0,1 mm per hari dapat dipergunakan untuk memperkirkan saat kematian bila dapat diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku. 5. Perubahan dalam cairan serebro spinal. Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam, kadar nitrogen non protein kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam,

150

kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam. 6. Dalam cairan vitreus. Terjadi peningkatan kadar kalium yang cukup akurat untuk memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pasca mati. 7. Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisis darah pasca mati tidak memebrikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya. Perubahan tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta ganggun permeabilitas dari sel yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses kematian dapat menimbulkan perubahan dalam darah bahkan sebelum kematian itu terjadi. Hingga saat ini belum ditemukan perubahan dalam darah yang dapat digunakan untuk memperkirakan saat mati dengan lebih tepat. 8. Reaksi supravital. Yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Beberapa uji dapat dilakukan terhadap mayat yang masih segar, misalnya rangsang listrik masih dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90120 menit pasca mati dan mengakibatkan sekresi kelenjar keringat sampai 60-90 menit pasca mati, sedangkan trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati. E. Kegunaan Tanatologi Kegunaan tanatologi dalam bidang forensik adalah sebagai berikut:1,3 1. Untuk Diagnosis Kematian

151

Sebetulnya menentukan kematian seseorang tidaklah sulit sehingga orang awam (termasuk penegak hukum) dapat melakukannya, tetapi juga tidak selalu gampang sehingga kadang-kadang dokter pun dapat melakukan kesalahan. Oleh karena itu ilmu ini perlu dipahami sungguh-sungguh agar tidak terjadi kesalahan dalam menegakkan diagnosis kematian.1 Tanatologi juga perlu dipelajari oleh penegak hukum sebab dalam pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) tidak tertutup kemungkinan menemukan korban yang ada kemungkinan masih dalam keadaan hidup meskipun terlihat tidak bergerak seperti mati.1 Dalam situasi seperti ini penentuan kematian dapat dilakukan dengan menggunakan tanda-tanda pasti kematian, antara lain:1 Lebam mayat Kaku mayat Pembusukan Jika tanda-tanda pasti kematian tidak ditemukan maka korban harus dianggap masih dalam keadaan hidup sehingga perlu mendapat pertolongan (misalnya dengan melakukan pernafasan bantuan) sampai menunjukkan tandatanda kehidupan atau sampai munculnya tanda pasti kematian yang paling awal, yaitu lebam mayat.1,3 2. Untuk Penentuan Saat Kematian Sehubungan dengan alibi seseorang, pemeriksaan forensik untuk menentukan saat kematian korban menjadi sangat penting sebab dapat tidaknya seseorang diperhitungkan sebagai pelaku pembunuhan tergantung dari

152

keberadaannya ketika tindak pidana itu terjadi. Tidaklah logis seseorang dituduh membunuh jika pada saat dilakukannya tindak pidana berada di tempat yang sangat jauh.1,3 Perubahan eksternal maupun internal yang terjadi pada tubuh seseorang yang sudah meninggal dunia dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk memperkirakan saat terjadinya kematian meskipun sebetulnya range dari variasi terjadinya perubahan-perubahan itu sangat luas.1,3

Perubahan-perubahan yang dapat dijadikan bahan kajian tersebut terdiri atas: a. Perubahan eksternal, antara lain:1 Penurunan suhu Lebam mayat Kaku mayat Pembusukan Timbulnya larva

b. Perubahan internal, antara lain:1 Kenaikan potasium pada cairan bola mata Kenaikan non protein nitrogen dalam darah Kenaikan ureum darah Penurunan kadar gula darah Kenaikan kadar dekstrose pada vena cava inferior

153

3. Untuk Perkiraan Sebab Kematian (Cause of Death) Perubahan tak lazim yang ditemukan pada tubuh mayat sering dapat memberi petunjuk tentang sebab kematiannya.1 a. Perubahan warna lebam mayat menjadi:1 Merah cerah (cherry-red) memberi petunjuk keracunan carbon monoksida (CO) Coklat memberi petunjuk keracunan Potasium Chlorate Lebih gelap, memberi petunjuk kekurangan oksigen

b. Keluarnya urine, faeces atau vomitus memebri petunjuk ada relaksasi sphincter akibat kerusakan otak, anoksia atau kejang-kejang. 4. Untuk Perkiraan Cara Kematian (Manner of Death) Perubahan yang terjadi pada tubuh mayat juga dapat memberi petunjuk cara kematiannya. Distribusi lebam mayat misalnya, dapat memberi petunjuk apakah yang bersangkutan mati karena bunuh diri atau pembunuhan.1 Pada mayat dari orang yang mati akibat gantung diri (bunuh diri dengan cara menggantung) biasanya didapati lebam mayat pada ujung kaki, ujung tangan atau alat kelamin laki-laki. Jika disamping itu juga ditemukan lebam mayat di tempat lain maka hal itu dapat dipakai sebagai petunjuk cara kematiannya karena akibat pembunuhan.1

154

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan Tanatologi berasal dari dua buah kata, yaitu thanatos yang berarti mati dan logos yang berarti ilmu. Jadi arti sesungguhnya dari tanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati; meliputi pengertian (definisi), cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya. Ilmu tanatologi mempelajari mengenai penentuan kematian, perubahanperubahan sesudah mati, saat kematian, dan kegunaan tanatologi. Penentuan kematian dilakukan berdasarkan konsep mati otak dan mati batang otak, yang ditandai dengan tidak berespon terhadap semua rangsangan, tidak sadarnya pasien, hilangnya reflex pupil, hilangnya reflex kornea, tidak ada reflex menelan, tidak ada reflex vestibulokoklearis dan tidak adanya pernafasan spontan. 2. Saran Thanatologi merupakan hal yang penting bagi kedokteran forensik karena untuk membantu menentukan cara kematian, sebab kematian, saat kematian, dan diagnosis kematian. Oleh sebab itu perlu pelajaran lebih dalam lagi tentang ilmu ini dan saling melengkapi terhadap ilmu-ilmu yang telah ada.

155

DAFTAR PUSTAKA

1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa Aksara, 1997; p.131-168. 2. Hueske E. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks, Practice and Resource. 2006. 3. Abdussalam. Forensik. Jakarta: Restu Agung, 2006; p. 41-43. 4. Hueske E. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory Handbooks, Practice and Resource. 2006. 5. Anonim. Forensic Pathology, Second Edition. USA: Oxford University Press, 1996; p.243-273.

156

KEMATIAN MENDADAK

BAB I PENDAHULUAN

157

Banyak kematian dari kasus yang wajar terjadinya tak dapat diramalkan sebelumnya, mendadak atau merupakan kematian tak ada yang melihat. Kematian mendadak sering terjadi dan didapatkan pada orang yang sebelumnya tampak dalam keadaan yang sehat.1 Kematian Mendadak yang disebabkan oleh penyakit, seringkali mendatangkan kecurigaan baik bagi penyidik maupun masyarakat umum, khususnya bila kematian tersebut menimpa orang yang cukup dikenal oleh masyarakat, kematian di hotel, cottage, atau motel.2 Definisi WHO untuk kematian mendadak adalah kematian yang terjadi pada 24 jam sejak gejala-gejala timbul, namun pada kasus-kasus forensik, sebagian besar kematian terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik sejak gejala pertama timbul. Kematian mendadak tidak selalu tidak diduga, dankemtian yang tak diduga tidak selalu terjadi mendadak, namun amat sering keduanya ada bersamaan pada suatu kasus.3,4 Hasil otopsi yang pernah dilaporkan selama lebih dari lima setengah tahun (1973-1943), pada Office Chief Medical Examiner, New York, didapatkan 2030 kasus kematian mendadak karena sebab yang wajar, yang dianalisis oleh Helpern dan Rapson. Dari hasil tersebut nama penyakit system kardiovaskuler merupakan penyebab kematian mendadak yang menduduki peringkat pertama sebesar 44,9%, lalu sistim pernapasan sebesar 23,1%, sistim saraf (otak dan selaput otak) sebesar 17,9%, sistim pencernaan dan urogenital sebesar 9,7%, dan sebab-sebab lainnya sebesar 4,4%.1,2 Makalah ini dibuat untuk membahas mengenai kematian

mendadak didalam bidang forensik sehingga diharapkan dapar membantu pembaca mengenai kematian mendadak di dalam bidang forensik.

158

159

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN KEMATIAN MENDADAK Kematian mendadak dapat berupa:1 1. Kematian seketika (Instantaneous death) Contoh: Seorang yang dalam keadaan sehat bertamu ke rumah temannya, baru duduk beberapa menit kemudian orang tersebut langsung

meninggal. 2. Kematian tak terduga (Unexpected death) Contoh: Seorang yang hanya mengeluh sakit perut dikira gastritis biasa, sehingga ia bekerja seperti biasa, kemudian orang tersebut langsung meninggal di tempat kerja.

3. Kematian tanpa saksi atau sebab kematian yang tidak jelas (Unwitness death) Contoh: Seorang yang hidup sendiri tanpa teman di sebuah rumah, kemudian dengan orang tersebut ditemukan sudah dalam keadaan meninggal sebab kematian tidak diketahui dengan jelas.

Pada kasus kematian mendadak, korban biasanya tidak meninggal seketika atau segera, tetapi sering korban meninggal dalam beberapa menit sampai lebih dari 24 jam setelah menderita sakit. Pada kasus kematian medadak harus dipikirkan kemungkinan penyakit, kekerasan, keracunan, yang kadang-kadang sulit dibedakan. Contohnya:1

160

1. Orang yang meninggal karena varices esophagus yang pecah, oleh karena sirosis hepatis, etiologinya dapat : wajar oleh karena hepatitis infection, chronic alkoholisme, racun. 2. Orang yang meninggal oleh karena apoflexi cerebri ternyata juga ditemukan trauma kepala. Orang tersebut dapat mengalami apoflexi cerebri kemudian jatuh sehingga mengalami trauma kepala atau orang tersebut mengalami trauma kepala lebih dulu kemudian tekanan darah naik dan mengalami apoplexia cerebri. Contoh-contoh lain kasus kematian mendadak antara lain:1 1. Seorang pria, 28 tahun ditemukan meninggal dalam mobilnya. Pada otopsi ditemukan adanya perdarahan cerebral yang luas. Juga ditemukian gross emfisema bersamaan bronchiectasis bilateral dan cor pulmonale. Perbesaran arteri dan cabang-cabangnya menunjukkan adanya perubahan degenerasi dan obstruksi parsial oleh thrombus. Tidak ditemukan adanya bukti baik secara klinik maupun patologi adanya hipertensi kronik. 2. Seorang pria, 85 tahun ditemukan meninggal di kamar hotel. Pada otopsi telah ditemukan adanya intrapericardial hemorrhage yang ditimbulkan karena rupture pada aorta tepat di atas katub. Pada kepala ditemukan perdarahan intracerebral massif, hal ini menandakan adanya perdarahan pada dua tempat secara bersamaan. Terdapat bukti adanya kardiomiopati hipertensif derajat sedang, Pada pemeriksaan histologist bukti adanya menunjukkan perubahan pembuluh darah, hipertensi ringan dan tidak ada tanda-tanda hipertensi maligna.

161

3. Seorang Indian mengeluh nyeri abdomen dan dokter bedah memutuskan untuk melakukan laparotomi. Kemudian 15 menit sebelum dianestesi, pasien memuntahkan seekor cacing dan tiba-tiba meninggal di meja operasi. Pada otopsi ditemukan adanya investasi massif strongyloides stercoralis pada usus halus, dan juga pada paru. Ada sedikit keraguan tentang nyeri abdomen menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing tadi dan larva pada paru yang menyebabkan edema paru. Anestesi inhalsi nampaknya dapat bereaksi sebagai iritan pada nematode. Seharusnya apda pasien yang menderita infeksi oleh nematode harus diterapi dahulu sebelum dilakukan prosedur anestesi. 4. Kematian mendadak pernah dilaporkan pada seorang wanita, 68 tahun yang mati mendadak di rumah dalam posisi terduduk. Dari hasil otopsi ditemukan kista larynx pada kelenjar bsekretorik di atas pita suara, yang menyebabkan sumbatan glottis dan menyebabkan asfiksia. 5. Kasus yang lain antara lain:1 Atlit yang sehat, tiba-tiba dalam pertandingannya jatuh dan meninggal Bayi digendong ibunya lalu tiba-tiba meninggal Seorang sedang bermain tenis, tiba-tiba meninggal di lapangan Laki-laki umur 53 tahun, meninggal dipelukan wanita 18 tahun Seorang sopir ditemukan meninggal di dalam mobilnya Seorang pejabat ditemukan meninggal di dalam ruang kerjanya Seorang pembantu RT, sedang melihat TV tiba-tiba jatuh dan meninggal dunia.

162

Cara menangani kematian mendadak:1 1. Keterangan dari korban dikumpulkan baik dari keluarga, teman-teman, polisi dan saksi-saksi yang meliputi : a. Usia b. Penyakit yang pernah diderita c. Kesehatan akhir-akhir ini, apa telah berobat dan dimana serta bagaimana hasil laboratoriumnya. d. Tingkah laku yang aneh. 2. Hal ikhwal sekitar kematian, apakah ada hal-hal yang mencurigakan, misalnya: a. Makan soto kemudian meninggal b. Habis bertengkar dengan seseorang kemudian meninggal c. Apakah pernah kedatangan tamu 3. Keadaan sekitar korban bagaimana. a. Teratur atau berantakan b. Kamar terkunci dari dalam atau tidak c. Apakah ditemukan barang-barang yang mencurigakan 4. Apakah korban tersebut diasuransikan. 5. Pada pemeriksaan luar, apakah ditemukan tanda-tanda kekerasan atau hal-hal lain yang mencurigakan. Dari hasil pemeriksaan korban tersebut, maka kemungkinannya adalah:1

163

1. Korban meninggal secara wajar, dan sebab kematian jelas misalnya; coronary heart disease, maka selanjutnya diberi surat kematian untuk dimakamkan. 2. Sebab kematian tidak jelas, maka keluarga atau dokter lapor ke polisi kemudian polisi meminta visum et repertum. Setelah SPVR datang maka korban diotopsi untuk menenrukan sebab kematian. 3. Korban meninggal secara tidak wajar, misalnya ditemukan adanya tndatanda kekerasan, maka keluarga atau dokter lapor ke polisi. 4. Korban diduga meninggal secara wajar, misalnya CVA tetapi juga ditemukan tanda-tanda kekerasan, maka keluarga atau dokter lapor polisi.

B. PREVALENSI KEMATIAN MENDADAK Kematian mendadak terjadi empat kali lebih sering pada laki-laki dibandingkan pada perempuan. Penyakit pada jantung dan pembuluh darah menduduki urutan pertama dalam penyebab kematian mendadak, dan sesuai dengan kecenderungan kematian kematian mendadak pada laki-laki yang lebih besar, penyakit jantung dan pembuluh darah juga memiliki kecenderungan serupa. Penyakit jantung dan pembuluh darah secara umum menyerang lakilaki lebih sering dibanding perempuan dengan perbandingan 7 :1 sebelum menopause, dan menjadi 1 : 1 setelah perempuan menopause. Di Indonesia,seperti yang dilaporkan Badan Litbang Departemen Kesehatan RI,

164

persentase kematian akibat penyakit ini meningkat dari 5,9% (1975) menjadi 9,1% (1981), 16,0% (1986) dan 19,0% (1995).5,6 Tahun 1997 -2003 di Jepang dilakukan penelitian pada 1446 kematian pada kecelakaan lalu lintasdan dari autopsi pada korban kecelakaan lalu lintas di Dokkyo University dikonfirmasikan bahwa 130kasus dari 1446 kasus tadi penyebab kematiannya digolongkan dalam kematian mendadak, bukankarena trauma akibat kecelakaan lalu lintas.7

C. PENYEBAB KEMATIAN MENDADAK 1. SISTEM KARDIOVASKULER Kematian mendadak yang terkait sistim kardiovaskuler merupakan kasus terbanyak (44,0% dari 2030 kasus otopsi kematian mendadak). Kematian mendadak yang berkaitan dengan sistim kardiovaskuler yaitu : penyakit oklusi arteri koroner, lesi pada miokard, katub jantung, endokardium dan pericardium, penyakit jantung congenital, lesi pada aorta.1,2 1.a. Kelompok penyakit oklusi arteri koroner terdiri dari:1 a. Arterioskelorosis koroner yang progresif, di mana terjadi penyempitanj atau penyumbatan dari lumen , berhubungan atau

tidak dengan kerusakan miokard seperti fibrosis atau infark lama/baru. b. Arteriosklerosis koroner yang diakibatkaan oleh thrombosis arteri koroner baik baru maupun lama. Infark miokard, fibrosis miokard,

165

aneurisma ventrikuler, rupture dari miokard atau aneurisma yang mengakibatkan kematian perdarahan intraperikard dan tamponade jantung. c. Emboli arteri koroner (jarang), yang berasal dari thrombus atau ateroma, atau pada katub aorta, yang dapat menyebabkan mendadak.

plaque kematian d.

Stenosis ostium arteri koroner yang berhubungan dengan aortitis kronis.

sifilis e.

Arteriosklerosis koroner dengan perdarahan pada plaque ateroma melintasi lumen dan dapat menyebabkan thrombosis, ateroma lunak yang dapat menyebabkan terjadinya

yang

rupture plaque thrombosis. f.

Ruptur aneurisma dissecting secara spontan dengan penekanan arteri koroner.

lumen g. 1.b.

Anomali arteri koroner (jarang). Lesi pada miokard, katub jantung, endokardium dan

pericardium:1 a. Miokarditis toksik akut atau subakut yang menyertai difteri, infeksi dan trichimosis. Manifestasi klinis dari miokarditis akut dapat menyebabkan kegagalan jantung kongestif sampai terjadi kematian mendadak. Secara gross penampakan jantung bisa normal, pucat dan dilatasi ruang jantung. b. Tuberkulosis atau sifilis miokard (jarang)

166

c. d.

Fibrosis miokard yang menyertai miokarditis Infark miokard dengan atau tanpa fibrosis atau aneurisma, oklusi koroner, rupture muskulus papillare yang infark

arteri e.

Ruptur spontan dari infark miokard atau aneurisme dengan hemoperikardium

f. g.

Ruptur spontan dari fatty heart Hipertrofi ventrikel kiri akibat hipertensi arterial karena penyakit ginjal

h.

Hipertrofi ventrikel kiri yang berhubungan dengan penyakit katub aorta, khususnya stenosis aorta.

i.

Kor pulmonal : hipertrofi ventrikel kanan yang berhubungan penyakit paru menahun seperti pneumoconiosis atau

dengan emfisema j. k. l.

Hipertrofi jantuing yang berhubungan dengan hipertiroid Endokarditis bacterial akut atau subakut Stenosis katub mitral, post rheumatic

m. Stenois aorta, post rheumatic atau aortitis sifilis n. o. Insufisiensi aorta, post rheumatic atau aortitis sifilis Trombosis mural pada aurikula atau ventrikel dengan emboli, ball valve thrombus di aurikula kiri yang menutup orifisium menyebabkan stenosis katub mitral, atau thrombus pada yang berhubungan dengan infark miokard atau mengakibatkan emboli arteri cerebral.

seperti atau

ventrikel kiri fibrosis yang

167

p.

Perikarditis : sepsis, rheumatic atau tuberculosis.

1.c. Lesi pada aorta, terdiri dari:1 a. Ruptur spontan pada ascending aorta (non sifilis) dengan

perdarahan intrapericard dan tamponade jantung, rupture yang lengkap atau tidak lengkap dengan pembentukan aneurisma dissecting dan menyusul rupture aorta ke dalam perikard, tapi biasanya ke dalam ruang pleura, rupture spontan aorta yang biasanya berhubungan

dengan coartation aorta sering disertai dengan hipertensi. b. Aortitis sifilis yang mengakibatkan stenoisi ostium arteri koroner, insufisiensi aorta dengan hipertrofi ventrikel kiri, aneurisma aorta, single atau multiple, dengan rupture spontan dan perdarahan ruang perikard, ruang pleura, bronkus, esophagus, keluar melewati dinding dengan c. dada, secara subkutan ke leher menyebabkan asfiksis penekanan pada trakea.

Aneurisma aorta abdominalis akibat aterosklerosis, rupture dan perdarahan ke dalam jaringan retroperitoneal.

d. e.

Trombosis oklusi aorta abdominalis akibat aterosklerosis. Trombosis mural pada plaque ateromatus dengan emboli dan infark mesenterika.

2. SISTEM PERNAFASAN Menurut Gonzales et al, laporan tahun 1973 menyatakan kematian tak terduga yang diakibatkan kelainan system pernapasan mencapai 23,1%

168

dari seluruh kasus kematian tak terduga. Dari sekian banyak tersebut, dapat dikelompokkan menjadi 4 garis besar yaitu:1,2 a. Asfiksia :1 Asma bronchial Emboli paru Laringitis difteri Oedema laryngeal akut pada infeksi atau neoplasma faring/laring.

b. Perdarahan saluran saluran napas :1 Tuberkulosis paru dengan kavitas Neoplasma bronkus Bronkiektasis Abses paru Pneumothorax : Ruptur spontan pada tuberculosis kaverne Ruptur pada bulla emfisematus

c. Infeksi paru :1 Lobar pneumoni Tuberkulosis Bronkiektasis Abses paru Kiste parasitic Schistostomiasis

169

3. SISTEM SARAF PUSAT Kematian dari sistem organ ini (otak dan selaput otak) menmcapai 17,9% dari kematian mendadak yang ditemukan pada otopsi. Adapun penyakit-penyakit dari organ ini yang menimbulkan kematian mendadak antara lain :1,2 a. Perdarahan serebral spontan Perdarahan ini mnyebabkan kematian tak terduga tertinggi mencapai 9,4% dari kasus otopsi. Perdarahan terjadi biasanya di daerah basal ganglia karena pecahnya arteri lentikulostriata dan biasanya penyakit yang mendasari adalah aterosklerosis cerebral atau hiperetensi. Kematian biasanya tidak terjadi seketika tapi biasanya diawali pada keadaan koma sampai diagnosis dapat ditegakkan. Perdarahan ini lebih sering menyerang umur pertengahan atau lebih tua. Secara klinis perdarahan intrasererbral spontan sering dikelirukan dengan perdarahan intracranial berhubungan dengan trauma atau tanda-tanda kekerasan.1 b. Perdarahan spontan pons dan serebellum Perdarahan ini terjadi biasanya akibat pecahnya aneurisma pada arteri sereberal tapi hal ini sering tak dapat dibuktikan. Beberapa perdarahan pontin menghasilkan hiperpireksis atau peningkatan suhu tubuh, pupil menjadi miosis dan kondis seperti ini sering dikelirukan dengan keracunan akibat morfin.1

170

Dari hasil otopsi perdarahan pons ini tidak dapat terlihat karena pons tidak dapat dibuka. Perdarahan ini dapat menyebabkan kematian yang cepat karena terjadi penekanan pada batang otak.1 c. Perdarahan subaraknoid Perdarahan ini biasanya penting sebagai penyebab kematian mendadak dan tak terduga. Perdarahan ini mencapai 4,7% dari total kasus yang diotopsi dan merupakan 29% dari kelompok kasus penyakit otak dan selaput otak.1 Penyebab kematian dari kasus bini adalah pecahnya aneurisma pada arteri serbral, lebih sering terjadi pada cabang-cabang sirkulus willisi.1 d. Perdarahan serebral multiple Perdarahan serebral yang berakibat fatal, kadang-kadang

merupakan perdarahan yang multiple. Perdarahan seperti ini sering didapat pada seseorang yang menderita leukemia kronis.1 e. Perdarahan pachy-meningitis interna Perdarahan ini berkembang cepat dan prograsif sehingga penyebab kematian adalah akibat penekanan serebral. f. Trombosis dan emboli serebral Walau thrombosis tidak begitu umum mengakibatkan kematian mendadak, namun thrombosis ini sering terjadi pada seseorang yang menderita aterosklerosis serebral, dan komplikasi penyakit yang lain yang dapat menyebabkan kematian mendadak.. Kasus ini terjadi biasanya

171

bertahap dan penderita biasanya mengetahui akibat dari penyakitnya. Trombosis serebral biasanya mengenai serebral media, basiler atau arteri vertebral. Trombosis serebral spontan dan infark serebral tidak sulit ditemukan pada otopsi. Selama otopsi berlangsung harus hati-hati agar thrombus dalam aurikula atau ventrikel jantung atau dalam aorta ascending dan cabang-cabangnya dapat ditemukan. Trombus juga bisa menyumbat arteri di otak, yang berasal dari thrombosis di ventrikel kiri.1 g. Kista koloid dan parasit Penekanan serebral yang lama dan tersembunyi dapat diakibatkan karena infeksi yang lama, seperti cyscercus cellulose yang membendung cairan serebro spinal (CSF) pada ventrikel IV, di mana akibat yang timbul mirip dengan penekanan akibat terjadinya pembuntuan foramen munro.1 h. Intrakranial neoplasma Tumor pada kepala, pembesarannya terjadi secara perlahan-lahan sehingga menimbulkan gejala yang tidak khas, tiba-tiba berakibat fatal akibat penekanan serebral. Jenis yang tersering adalah glioma primer, meningioma pada duramater yang menyebabkan penekanan penekanan pada permukaan otak.1 Kadang-kadang proses metastase pada otak menyebabkan

kematian tak terduga, di mana tumor primernya berada jauh seperti tumor bronkus atau chorio-epitelioma. Pada otopsi sering ditemukan glioma pada kedua lobus frontal yang menyebabkan penekanan yang fatal.1

172

i. Abses otak, polioensefalitis dan meningitis Abses otak yang sering akibat komplikasi dari otitis media kronik dan mastoiditis dapat berkembang menjadi lebih parah dan dapat menyebabkan kematian dengan cepat akibat penekanan pada serebral. Polioensefalitis akut dan ensefalitis juga sering menyebabkan kematian mendadak. Kasus-kasus lain yang menyebabkan kematian tak terduga adalah leptomeningitis supurativa dan sepsis meningokokus fulminan.1 j. Infeksi sifilis Sifilis leptomeningitis kronik ditandai dengan infiltrasi sel radang dalam selaput piaaraknoid yang terlihat jelas di bawah permukaan pons dan sekitar sirkulus wilisi.1

4. SISTEM PENCERNAAN Menurut Gonzales, 1954 dilaporkan sistem pencernaan merupakan 9,7% dari kasus kematian yang tidak terduga. Yang menyebabkan kematian mendadak yaitu:1 a. Perdarahan gastro intestinal tract:1 Karsinoma lidah Karsinoma esophagus

b. Perdarahan intra abdominal:1 Rupture spontan dari carcinoma liver Ruptur pada kehamilan ectopic Ruptur spontan dari pembesaran lien (malaria, thypoid fever)

173

Varices esophagus

c. Shock:1 Obstruksi dari usus : volvulus, intususception, hernia incarserata Acut pancreatitis Batu dalam saluran empedu Kista ovarium atau fibromyoma uteri yang terpuntir

d. Peritonitis:1 Ruptur intestine Perforasi peptic ulcer dari stomach atau duodenum Perforasi carcinoma intestine

5. SISTEM UROGENITAL Kelainan pada urogenital jarang menyebabkan kematian

mendadak. Dari sebuah laporan di New York, disebutkan sekitar 1,9% akibat kelainan saluran kencing dan 1,3% akibat kelainan genital. Kematian mendadak karena sistim ini lebih sering terjadi pada wanita disbanding laki-laki. Kelainan UG tract yang bisa menyebabkan kematian mendadak antara lain:1,2 a. Kehamilan ekstra uterin yang mengalami rupture sehingga menyebabkan perdarahan intraperitoneal yang massif. b. Ruptur uterus, miofibroma subserosa, solution plasenta, abortus yang menyebabkan perdarahan massif.

174

c. Miofibroma yang besar yang menyebabkan emboli paru karena statis thrombosis vena pelvis. d. Karsinoma vulva yang mengenai pembuluh darah femoralis yang menyebabkan perdarahan massif. e. Toksemia gravidarum (eclamtic toxemia) yang terjadi dengan cepat dan tanpa gejala pada akhir kehamilan, terutama bila disertai konvulsi yang hebat. f. Ruptur spontan kandung kencing yang bisa terjadi pada striktur uretra, hipertrofi prostat yang menyebabkan obstruksi, kelemahan dinding kandung kencing karena kanker. Kematian mendadak pada kelainan ini pada umumnya karena peritonitis atau syok. g. Kelainan-kelainan yang terjadi pada ginjal seperti nefritis, nefrolitiasis, TBC ginjal, kanker ginjal, hidronefrosis biasanya karena terjadinya uremia.

6. SEBAB-SEBAB LAIN Kematian kematian mendadak dapat juga diakibatkan karena sebab lain yaitu sekitar 4,4% beberapa keadaan atau kelainan tersebut antara lain:1 a. Addisons disease, yang disebabkan karena kerusakan kelenjar adrenal, gejal seperti keracunan makanana atau bahan kimia. b. Kelainan darah, seperti leukemia, hemophilia bisa

menyebabkan kematian mendadak karena komplikasi yang

175

ditimbulkan, misalnya perdarahan pada otak, edem paru, hipertrofi jantung yang menyebabkan gagal jantung. c. Kelainan metabolic, misalnya diabetes mellitus yang

mengalami koma asidosis, hiperinsulinisme karena tumor Langerhans, hemokromatosis yang menyebabkan fibrosis pada otak, jantung yang bisa menyebabkan gagal jantung. d. Status limfatikus, mekanisme terjadinya belum jelas, menurut sjemer: disebabkan oleh reaksi anafilaksis karena sensitisasi pusat neurotic germinal dari kelenjar yang mengalami hiperplasi dan pelepasan nucleoprotein yang bisa terjadi spontan amupun karena faktor-faktor dari luar seperti antitoksin, tenggelam dalam air dingin.

7. ANAK-ANAK1 a. Congenital anomalies b. Infectious disease c. Convultion dengan asphyxia d. Deficiency disease : Rickets e. Crib death syndrome (cot death)

D. CORONARY ARTERY DISEASE

176

Arteriosclerosis arteri coronaria merupakan sebaba kematian terbanyak dari penyekit cardio vascular system (67%). Arteri coronaria atau cabangnya dapat buntu total atau buntu sebagian sehingga jumlah darah yang menuju myocardium tidak cukup sehingga korban dapat meninggal mendadak. Berapa % pembuntuan arteri coronaria untuk dapat menyebabkan kematian belum ada data yang pasti. Umur lebih kurang 40 tahun, kadangkadang cepat, juga pada dewasa muda.1 Arteriosclerosis arteri coronaria ada 2 macam :1 1. Tanpa thrombus : 75% Yang menyebabkan darah pada myocardium tidak cukup ialah penyempitan lumen atau penutupan total dari salah satu atau kedua cabang arteri coronaria. Pada otopsi ditemukan :1 a. Myocardial fibrosis : 50% b. Fibrosis tidak ditemukan : 45% c. Myocardial infarction : 4% 2. Dengan thrombus : 25% Kadang-kadang pada sclerosis yang sudah lanjut ditemukan thrombus yang lama dan subintimal hemorrhage. Pada otopsi ditemukan : a. Myocardial infarction : 75% yang dapat disertai fibrosis (50%) atau tanpa disertai fibrosis (50%) b. Tidak ditemukan kelainan. Kadang-kadang pada kasus arteriosclerosis yang berat ditemukan gejala-gejala angina pectoris tanpa ditemukan kelainan-kelaian pada otot-

177

otot jantung, tetapi kadang-kadang myocardium mengalami infarct dan denyut jantung berhenti. Keadaan-keadaan yang mempengaruhi

terjadinya myocardial infarction : a. Kegiatan fisik b. Rangsangan emosi Keadaan-keadaan tersebut menyebabkan terjadinya beban

myocardium bertambah, sedangkan arteri coronaria sendiri karena sudah menyempit, maka tidak dapat menambah permintaan tersebut.

E. SPONTANEOUS APOLEXY)

CEREBRAL

HEMORRHAGE

(CEREBRAL

Umur lebih kurang 40 tahun. Cerebral apoplexy biasanya didahului oleh cerebral arteriosclerosis dan arterial hypertension yang kemudian diikuti pecahnya lenticulostriate artery. Lokalisasi perdarahan paling sering basal ganglia, jarang pada pons dan cerebellum. Korban biasanya tidak meninggal dengan tiba-tiba tetapi didahului koma sebelum meninggal.1 Perdarahan intra cerebral, harus dibedakan antara spontan dan traumatik :1 No. 1. 2. 3. Pembeda Lokalisasi Trauma kepala Hypertensi Spontaneous hemorrhage Basal ganglia Tidak ada Ada Traumatic hemorrhage Di semua tempat Ada Tidak ada

178

Perlu diperhatikan adanya trauma pada kepala dapat menyebabkan korban yang menderita hypertensi, tekanan darah tambah meningkat sehingga dapat menimbulkan spontaneous cerebral hemorrhage. Harus dibedakan: adanya trauma menyebabkan tensi naik yang menyebabkan cerebral apoplexy atau karena korban tensinya naik sehingga jatuh karena cerebral apoplexy.1

F. SPONTANEOUS SUBARACHNOID HEMORRHAGE Umur paling muda yang terkena spontaneous subarachnoid hemorrhage disebabkan oleh karena rupture aneurysma cerebral artery sebenarnya congenital, memang dinding artery sudah lemah, dan dengan bertambahnya umur maka aneurysma makin berkembang.Spontaneous subarachnoid hemorrhage harus dibedakan dengan traumatic subarachnoid hemorrhage yaitu :1 No. 1. 2. 3. Pembeda Trauma kepala Ruptur Aneurysma Perdarahan Spontaneous hemorrhage Tidak ada Ada Diffuse Traumatic hemorrhage Ada Tidak ada Tergantung trauma

Oleh karena perdarahan diffuse, maka akumulasi darah yang cepat di bawah permukaan otak dan meluas sepanjang fissure of Sylvius dank e dalam cistern magna dan ventrikel IV. Korban meninggal dengan cepat oleh karena pusat-pusat vital di medulla tertekan.

179

G. SPONTANEOUS SUBDURAL HEMORRHAGE Keadaan ini terjadi secara :1 1. Spontan subarachnoid hemorrhage menjadi besar dan merobek arachnoid hingga subdural terisi darah, kadang-kadang sulit dibedakan dengan traumatic subdural hemorrhage. 2. Rupture dari aneurysma arteri carotis interna, menimbulkan subdural hemorrhage tanpa subarachnoid hemorrhage. Adapun perbedaan antara spontan hemmorage dan traumatic adalah sebagai berikut :1 No. 1. 2. 3. Pembeda Trauma kepala Aneurysma Rupture sinuses Spontaneous hemorrage Traumatic hemorrhage Tidak ada Ada Ada Tidak ada Aneurysma a. carotis interna Perforating veins, venous sinuses

H. STATUS LYMPHATICUS Ada 2 pendapat :1 1. Pada otopsi korban dewasa muda dan anak-anak yang meninggal mendadak tidak ditemukan kelainan-kalainan adanya anatomi limfa yang yang

menyebabkan

kematian,

kecuali

kelenjar

membesar. Maka menurut pendapat pertama tersebut, sebab kematian korban adalah Status lymfatikus. 2. Status lymfatikus merupakan variasi morfologis yang normal, bukan merupakan kelainan pathologis yang menyebabkan kematian, tetapi

180

sarjana yang mempunyai pendapat kedua tersebut meskipun sudah melakukan penyelidikan yang intensif juga tidak ditemukan sebab kematian yang lain. Kesimpulan : Status Lymfatikus masih dianggap sebagai salah sebab kematian. Mekanisme terjadinya kematian mendadak pada status lymfatikus belum jelas. Menurut sjmmers, dapat sebagian hasil anaphylaction reaction oleh karena :1 Sensitisasi oleh necrotic germinal centers dari kelenjar yang hyperplastic. Pelepasan nucleoprotein. Kejadian tersebut dapat terjadi spontan atau karena faktor-faktor dari luar antara lain: injeksi antitoxin, tusuk jarum, menyelam ke dalam air dingin. Pemeriksaan luar:1 a. Perkembangan individu normal b. Pertumbuhan badan normal c. Thorax ramping d. Otot-otot kaki bulat e. Kulit bersih dan licin f. Pada laki-laki : kumis, janggut, rambut ketiak dan rambut pubis sedikit (seperti pada wanita) Pemeriksaan dalam:1

181

a. Thymus membesar dan hyperplasia yang semestinya umur 30 tahun sudah hilang b. Kelenjar lymfa dari spleen, GI tract, tonsil, lidah dan lymfonodes dari mesenterium hyperplasia c. Cardiovascular system hypoplasia : jantung kecil, aorta mengecil dan lumennya menyempit, arteri terutama di otak dindingnya menipis dan menyempit d. Adrenal glands tipis dan hypoplastic e. Alat kelamin perkembangannya terlambat

I. CRIB DEATH SYNDROME (COT DEATH) = SUDDEN DEATH SYNDROME Crib death syndrome ialah kematian mendadak pada bayi yang khas di dahului sakit ringan antara lain : pilek, batuk, gangguan saluran pencernaan makanan ringan, kemudian tiba-tiba jatuh ke dalam keadaan cukup berat dan diakhiri dengan kematian.1 Etiologi : 6 bulan pertama (2-4 bulan) Kelamin : laki-laki lebih sering daripada wanita Sering didapatkan pada golongan social ekonomi rendah, dapat oleh karena bayi kurang terawatt, bayi premature, orang tua muda, family besar, kehamilan kembar, dll.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi :1 1. Suffocation dengan pakaian tidur, bantal

182

2. Status thymolymfaticus 3. Bacterial infection 4. Hypogamma globulinemia 5. Metabolic disorders 6. Anaphylactic shock Gejala-gejala yang mendahului antara lain :1 40% tanpa gejala yang mendahului 40% didahului gejala infeksi saluran pernapasan 20% didahului gejala gangguan saluran pencernaan.

Kelainan pathologis :1 1. Paru-paru : lebih berat, warna permukaan berbintik-bintik atau berwarna agak ungu, konsistensi agak keras pada daerah yang tidak berwarna, kongesti dan edema ringan dari jaringan paru 2. Bintik-bintik perdarahan pada permukaan paru, jantung, kelnjar thymus 3. Pada bokong didapatkan rash 4. Mikroskopik : paru-paru kongestif, patchy edema,alveoli kolaps, dinding alveoli menebal dengan infiltrasi limfosit, netrofil dan monosit. Alveolar kadang-kadang terisi makrofag 5. Kultur darah : (-), lung tissue culture : (-) atau ada kuma pathogen.

J. TINDAKAN PADA KASUS KEMATIAN MENDADAK

183

Setiap kematian mendadak harus diperlakukan sebagai kematian yang tidak wajar, sebelum dapat dibuktikan bahwa tidak ada bukti-bukti yang mendukungnya. Dengan demikian dalam penyelidikan kedokteran forensik pada kematian mendadak atau terlihat seperti wajar, alasan yang sangat penting dalam otopsi adalah menentukan apakah terdapat tindak kejahatan. Dari sudut kedokteran forensik, tujuan utama pemeriksaan kasus kematian mendadak adalah menentukan cara kematian korban.1 Pemeriksaan kasus kematian mendadak perlu beberapa alasan anatara lain :1 1. Menentukan adakah peran tindak kejahatan pada kasus tersebut 2. Kalim pada asuransi 3. Menentukan apakah kematian tersebut karena penyakit akibat industry atau merupakan kecelakaan belaka, terutama pada pekerja industry. 4. Adakah faktor keracunan yang berperan 5. Mendeteksi epidemiologi penyakit untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Pada kasus kematian yang terjadi seketika atau tidak terduga, khususnya bila tak ada tanda-tanda penyakit sebelumnya dan kemungkinan sangat kecil, untuk menetukan penyebabnya hanya ada satu cara yaitu dilakukannya pemeriksaan otopsi pada jenazah, bila perlu dilengkapi dengan pemeriksaan tambahan lain seperti pemeriksaan toksikologi. Hal ini sangat penting untuk menentukan apakah termasuk kematian mendadak yang wajar. Adapun kepentingan otopsi antara lain :1

184

1. Untuk keluarga korban, dapat menjelaskan sebab kematian 2. Untuk kepentingan umum, melindungi yang lain agar dapat terhindar dari penyebab kematian yang sama. Penentuan kasus kematian adalah berdasarkan proses interpretasi yang meliputi :1 1. Perubahan patologi anatomi, bakteriologi dan kimia 2. Pemilihan lesi yang fatal pada korban. Pada kasus kematian mendadak yang sering kita hadapi, tindakan yang mampu dilakukan pada kematian mendadak adalah :1 1. Semua keterangan almarhum dikumpulkan baik dari keluarga, teman, polisis, atau saksi-saksi, yang meliputi : usia, penyakit yang pernah diderita, pernah berobat di mana, hasil pemeriksaan laboratorium, tingkah laku yang aneh, dll 2. Keadaan korban dan sekitar korban saat ditemukan, pakaian yang ditemukan, tanda-tanda kekerasan atau luka, posisi tubuh,

temperature, lebam mayat, situasi TKP rapi atau berantakan, adanya barang-barang mencurigakan 3. Keadaan sebelum korban meninggal 4. Bila sebab kematian tidak pasti, sarankan kepada keluarga untuk melapor kepada polisi, jika polisi tidak meminta visum et repertum dapat diberi surat kematian 5. Dalam mengisi formulir B, pada sebab kematian bila tidak diketahui sebab kematiannya ditulis tidak diketahui atau mati mendadak

185

6. Bila dilakukan pemeriksaan dalam, buat preparat histopatologi bagian organ-organ tertentu diperiksa dan pemeriksaan toksikologi 7. Sebaiknya jangan menandatangani surat kematian tanpa memeriksa korban, jangan menyentuh apapun terutama yang dipakai sebagai barang bukti. Dari hasil pemeriksaan kemungkinan :1 1. Korban meninggal secara wajr dan sebab kematian jelas, misalnya coronay heart disease, maka diberi surat kematian dan dikuburkan 2. Sebab kematian tidak jelas, keluarga/dokter lapor ke polisi, kemudian polisi minta visum et repertum, setelah SPVR dating maka korban diotopsi untuk menetukan sebab kem,kmatian korban 3. Korban meninggal secara tidak wajar, misalnya ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan, maka keluarga atau dokter lapor ke polisi 4. Korban diduga meninggal secara wajar, misalnya CVA tetapi juga ditemukan tanda-tanda kekerasan, maka keluarga atau dokter lapor ke polisi

186

BAB III PENUTUP

Kematian mendadak meliputi kematian seketika, kematian tak terduga dan kematian tanpa saksi atau sebab kematian yang tidak jelas. Penyebab kematian mendadak dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut sistem dalam tubuh, di mana kelompok penyakit sistem kardiovaskuler, sistem pernapasan, sistem saraf, sistem pencernaan, sistem saluran kencing, sistem genital dan sebab lain. Kematian mendadak dalam aspek forensik selalu dianggap tidak wajar sampai dibuktikan merupakan kematian wajar. Untuk menetukan sebab kematian, perlu dilakukan otopsi dan dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang lainnya. Dengan demikian dalam penyelidikan kedokteran forensik pada kematian mendadak, alasan yang sangat penting dilaksanakannya otopsi adalah menentukan apakah terdapat tindak kejahatan. Dari sudut kedokteran forensik, tujuan utama pemeriksaan kasus kematian mendadak adalah menentukan cara kematian korban.

187

DAFTAR PUSTAKA

1. Mutahal, Hariadi A. 2007. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Edisi Ketiga. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2. Idries AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Jakarta: Binarupa Aksara. 3. Knight B. 1997. Simpsons Forensic Medicine. Eleventh Edition. New York: Arnold. 4. Di Maio DJ, Di Maio VJM. 2000. Forensic Pathology. Florida: CRC Press. 5. Gonzales TA, Vance M, Helpern M, Umberger CJ. 1954. Legal Medicine. Pathology and toxicology. 2nd edition.New York: Appleton century croft. 6. Kusmana D. 2003. Kasiat teh dan kesehatan jantung. Jakarta : FKUI. 7. Motozawa Y, Yokoyama T, Hitosugi M, et all. Analysis of sudden natural deaths while driving withforensic autopsy findings. Available from : http: www-nrd.nhtsa.dot.gov/pdf/nrd-01/esv/esv19/05-0112-W.pdf.

188

AUTOPSI

BAB I

189

PENDAHULUAN

E. Latar Belakang Ilmu kedokteran forensik adalah salah satu cabang spesialistik ilmu kedokteran yang memanfaatkan ilmu kedokteran untuk membantu penegakan hukum dan pemecahan masalah-masalah di bidang hukum. Ruang lingkup ilmu kedokteran forensik berkembang dari waktu ke waktu. Dari semula hanya pada kematian korban kejahatan, kematian tak diharapkan dan tak diduga, mayat tak dikenal, hingga para korban kejahatan yang masih hidup, atau bahkan kerangka, jaringan dan bahan biologis yang diduga berasal dari manusia. Jenis perkaranya pun meluas dari pembunuhan, penganiayaan, kejahatan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, child abuse and neglect, perselisihan pada perceraian, fraud dan abuse pada perasuransian, hingga ke pelanggaran hak asasi manusia.1 Seorang dokter umum atau dokter forensik yang diminta untuk melakukan autopsi demi kepentingan peradilan sudah seyogiyanya dapat membuat diagnosis yang tepat.2 Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari

hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.3

190

Pemeriksaan autopsi forensik harus dilakukan untuk memperoleh sebab kematian yang pasti, yang kemudian dapat membawa ke kesimpulan tentang cara kematiannya apakah terdapat unsur kesengajaan. Pemeriksaan forensik juga dapat digunakan untuk memastikan identitas korban apabila identitas korban memang menjadi isu utama. Pemeriksaan autopsi dan identifikasi seringkali masih dapat dilakukan dan memberikan hasil meskipun peristiwa telah lama terjadi atau korban telah dimakamkan. Pemeriksaan forensik terhadap tempat kejadian perkara juga dapat membantu mengungkap peristiwa yang melatar-belakangi kematian seseorang.1

F. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dalam penulisan referat ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 6. Apakah pengertian dari autopsi? 7. Ada berapa jenis autopsi? 8. Apa saja persiapan sebelum otopsi? 9. Teknik apa yang dipakai dalam autopsi? 10. 11. 12. 13. Bagaimana tata laksana autopsi? Apa saja peralatan yang digunakan dalam autopsi? Ada berapa cara autopsi? Bagaimana perawatan mayat setelah autopsi?

G. Tujuan Penulisan

191

5. Mengetahui pengertian dari autopsi. 6. Mengetahui jenis-jenis autopsi. 7. Mengetahui dan memahami persiapan sebelum autopsi. 8. Mengetahui dan memahami teknik autopsi. 9. Mengetahui dan memahami tata laksana autopsi. 10. Mengetahui peralatan yang digunakan dalam autopsi. 11. Mengetahui dan memahami cara autopsi. 12. Mengetahui perawatan jenazahyat setelah autopsi. 13. Sebagai persyaratan ujian pada kepaniteraan klinik ilmu kedokteran forensik dan medikolegal.

H. Manfaat Penulisan 6. Bagi Mahasiswa Sebagai bekal dalam menjalani profesi sebagai dokter muda.

7. Bagi Institusi Pendidikan Mengerti maksud dan tujuan dalam autopsi. Sebagai media pengabdian masyarakat terutama kasus-kasus yang berkembang di masyarakat khususnya dalam bidang Kedokteran Forensik dan Medikolegal. 8. Bagi Pengadilan Pentingnya autopsi bagi penyelesaian perkara pidana.

192

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

M. Definisi Autopsi Autopsi berasal dari kata Auto = sendiri dan Opsis = melihat. Yang dimaksudkan dengan autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, meliputi

193

pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari

hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian. Jika pada pemeriksaan ditemukan beberapa jenis kelainan bersama-sama, maka dilakukan penentuan kelainan mana yang turut mempunyai andil dalam terjadinya kematian tersebut.3 N. Jenis-jenis Autopsi Berdasarkan tujuannya dikenal tiga jenis Autopsi, yaitu Autopsi Anatomi, Autopsi Klinik dan Autopsi Forensik/Autopsi Mediko-Legal.3,4 Otopsi anatomik adalah otopsi yang dilakukan untuk kepentingan pendidikkan, yaitu untuk mempelajari susunan tubuh manusia, yang normal. Pelaksanaan otopsi jenis ini diatur di dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Th.1981 tentang bedah jenazah.4,5 Otopsi klinik adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara

pembedahan terhadap mayat untuk mengetahui dengan pasti penyakit atau kelainan yang menjadi sebab kematian dan untuk penilaian hasil usaha pemulihan kesehatan.4 Untuk Autopsi klinik ini mutlak diperlukan izin dari keluarga

terdekat mayat yang bersangkutan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, yang terbaik adalah melakukan Autopsi klinik lengkap, meliputi pembukaan rongga tengkorak, dada dan perut/panggul, serta melakukan pemeriksaan terhadap seluruh alat-alat dalam/rongga.3

194

Namun bila pihak keluarga berkeberataan untuk dilakukannya Autopsi klinik lengkap, masih dapat diusahakan untuk melakukan Autopsi klinik parsial, yaitu yang terbatas pada satu atau dua rongga badan tertentu. Apabila ini masih ditolak, kiranya dapat diusahakan suatu needle necropsy terhadap organ tubuh tertentu, untuk kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologik.
3

Pelaksanaan otopsi ini

di atur dalam Peraturan Pemerintah No.18 Th. 1981, yang pada prinsipnya baru boleh dilakukan sesudah ada izin dari kelurga terdekat atau jika sesudah 2 hari tidak ada keluarga yang mengurusnya.5 Autopsi forensik atau Autopsi mediko-legal dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarkan peraturan undang-undang, dengan tujuan:3 a. Membantu dalam hal penentuan identitas mayat. b. Menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara kematian serta memperkirakan saat kematian. c. Mengumpulkan serta mengenali benda-benda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab serta identitas pelaku kejahatan. d. Membuat laporan tertulis yang obyektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum. e. Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam penentuan identitas serta penentuan terhadap orang yang bersalah. Untuk melakukan Autopsi forensik ini, diperlukan suatu Surat Permintaan Pemeriksaan/Pembuatan visum et repertum dari yang berwenang, dalam hal ini pihak penyidik. Izin keluarga tidak diperlukan, bahkan apabila ada seseorang yang

195

menghalang-halangi dilakukannya autopsy forensik, yang bersangkutan dapat dituntut berdasarkan undang-undang yang berlaku.3 Dalam melakukan Autopsi forensik, mutlak diperlukan pemeriksaan yang lengkap, meliputi pemeriksaan tubuh bagian luar, pembukaan rongga tengkorak, rongga dada dan rongga perut/panggul. Seringkali perlu pula dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya, antara lain pemeriksaan toksikologi forensik, histopatologi forensik, serologi forensik dan sebagainya. Pemeriksaan yang tidak lengkap, yaitu autopsi parsial atau needle necropsy dalam rangka pemeriskaan ini tidak dapat dipertanggunga jawabkan, karena tidak akan dapat mencapai tujuantujuan tersebut di atas.3 Autopsi forensik harus dilakukan oleh dokter, dan ini tidak dapat diwakilkan kepada mantri atau perawat.3 Baik dalam melakukan Autopsi klinik maupun Autopsi forensik, ketelitian yang maksimal harus diusahakan. Kelainan yang betapa kecil pun harus dicatat, Autopsi sendiri harus dilakukan sidini mungkin, karena dengan lewatnya waktu, pada tubuh mayat dapat terjadi perubahan yang mungkin akan menimbulkan kesulitan dalam menginterpretasikan kelainan yang ditemukan.3 O. Persiapan sebelum Autopsi Sebelum Autopsi dimulai, beberapa hal perlu mendapat perhatian: 3 a. Apakah surat-surat yang berkaitan dengan Autopsi yang akan dilakukan telah lengkap.

196

Dalam hal Autopsi klinik, perhatian apakah surat izin Autopsi klinik telah ditandatangani oleh keluarga terdekat dan yang bersangkutan. Perhatikan pula jenis Autopsi yang diizinkan oleh pihak keluarga tersebut. Dalam hal autopsi forensik, perhatikan apakah Surat Permintaan

Pemeriksaan/pembuatan Visum et Repertum telah ditandatangani oleh pihak penyidik yang berwenang. Untuk Autopsi forensik, mutlak dilakukan pemeriksaan lengkap yang meliputi pembukaan seluruh rongga tubuh dan pemeriksaan seluruh organ. b. Apakah mayat yang akan di-autopsi benar-benar adalah mayat yang dimaksudkan dalam surat yang bersangkutan. Dalam hal Autopsi forensik, maka perhatikanlah apakah terhadap mayat yang akan diperiksa telah dilakukan identifikasi oleh pihak yang berwenang, berupa penyegelan dengan label Polisi ini memuat antara lain nama, alamat, tanggal kematian, tempat kematian dan sebagainya yang harus diteliti apakah sesuai dengan data-data yang tertera dalam Surat Permintaan Pemeriksaan. c. Kumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap mungkin. Pada kasus-kasus Autopsi klinik status riwayat penyakit dan pengobatan dapat member petunjuk arah pemeriksaan yang akan dilakukan. Pada kasus-kasus Autopsi forensik, informasi mengenai kejadian yang mendahului kematian, keadaan pada Tempat Kejadian Perkara (TKP) dapat memberi petunjuk bagi pemeriksaan, serta dapat membantu menentukan jenis pemeriksaan khusus yang mungkin diperlukan.

197

Kurang atau tidak terdapatnya keterangan-keterangan tersebut di atas dapat mengakibatkan terlewat atau hilangnya bukti-bukti yang penting, misalnya saja tidak diambilnya cairan empedu, padahal korban kemudian ternyata adalah seorang pecandu narkotika. d. Periksalah apakah alat-alat yang diperlukan telah tersedia. Untuk melakukan autopsi yang baik, tidaklah diperlukan alat-alat yang mewah, namun tersedianya beberapa alat tambahan kiranya perlu mendapat perhatian yang cukup. Adakah telah tersedia botol-botol terisi larutan formalin yang diperlukan untuk pengawetan jaringan bagi pemeriksaan histopatologik? Adakah botol-botol atau tabung-tabung reaksi untuk pengambilan darah, isi lambung atau jaringan untuk pemeriksaan toksikologik?.3 P. Teknik Autopsi Hampir setiap Bagian Ilmu Kedokteran Forensik atau Bagian Patologi Anatomi mempunyai teknik autopsi sendiri-sendiri, namun pada umumnya teknik autopsi masing-masing hanya berbeda sedikit/ merupakan modifikasi dari 4 teknik autopsi dasar. Perbedaan terutama dalam hal pengangkatan keluar organ baik dalam hal urutan pengangkatan maupun jumlah/ kelompok organ yang dikeluarkan pada satu saat, serta bidang pengirisan pada organ yang diperiksa.6 Teknik Virchow Teknik ini mungkin merupakan teknik autposi yang tertua. Setelah dilakukan pembukaan rongga tubuh, organ-organ dikeluarkan satu persatu dan langsung diperiksa. Dengan demikian kelainan-kelainan yang terdapat pada 198

masing-masing organ dapat segera dilihat, namun hubungan anatomik antar beberapa organ yang tergolong dalam satu sistem menjadi hilang. Dengan demikian, teknik ini kurang baik bila digunakan pada autopsi forensik, terutama pada kasus penembakan dengan senjata pai dan penusukan dengan senjata tajam, yang perlu dilakukan penentuan saluran luka, arah, serta dalamnya penetrasi yang terjadi.6 Teknik Rokitansky Setelah rongga tubuh dibuka, organ dilihat dan diperiksa dengan melakukan beberapa irisian in situ, baru kemudian seluruh organ-organ tersebut dikeluarkan dalam kumpulan-kumpulan organ (en-bloc). Teknik ini jarang dipakai karena tidak menunjukkan keunggulan yang nyata atas teknik lainnya. Teknik ini pun tidak baik digunakan untuk autopsi forensik.6 Teknik Letulle Setelah rongga dibuka, organ leher, dada, diafragma, dan perut dikeluarkan sekaligus (en mase). Kepala diletakkan di atas meja dengan permukaan posterior menghadap meja ke atas. Pleksus coeliacus dan kelenjar para aorta diperiksa. Aorta dibuka sampai arkus aorta dan Aa. Renales kanan dan kiri dibuka serta diperiksa.6 Aorta diputus di atas muara A. renalis. Rektum dipisahkan dari sigmoid. Organ urogenital dipisahkan dari organ lain. Bagian proksimal jejunum diikat pada dua tempat dan kemudian diputsu antara dua ikatan tersebut dan usus dapat dilepaskan. Esophagus dilepaskan dari trakea, tetapi hubungannya dengan

199

lambung dipertahankan. Vena cava inferior serta aorta diputus di atas diafragma dan demikian organ leher dan dada dapat dilepas dari organ perut.6 Dengan pengangkatan organ-organ di tubuh secara en mase ini, hubungan antar organ tetap dipertahankan setelah seluruh organ dikeluarkan dari tubuh. Kerugian teknik ini adalah sukar dilakukan tanpa pembantu, serta agak sukar dalam penanganan karena panjangnya kumpulan organ-organ yang dikeluarkan sekaligus.6 Teknik Ghon Setelah rongga tubuh dibuka, organ leher dan dada, organ pencernaan bersama hati dan limpa, organ urogenital diangkat keluar sebagai 3 kumpulan organ (bloc).6 Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI menggunakan teknik autopsi yang merupakan modifikasi dari teknik Letulle. Organ tersebut dikeluarkan en masse tetapi dalam 2 kumpulan. Organ leher dan dada sebagai satu kumpulan organ perut dan urogenital mulai dari perbatasan duodenojejunal sampai perbatasan rektosigmoid.3 Dahulu sebelum menggunakan teknik modifikasi tersebut di atas, di Bagian IKF FKUI digunakan teknik Ghon, namun ternyata para calon dokter mengalami kesukaran dalam menemukan kelenjar suprarenal. Dengan teknik yang digunakan dewasa ini kesulitan tersebut dapat diatasi.3 Dokter yang melakukan autopsi hendaknya menggunakan teknik yang paling dikuasainya. Bagi mereka yang jarang melakukan autopsi, hendaknya lebih erat

200

berpegang/berpedoman pada teknik autopsi yang dipelajari semasa pendidikannya di fakultas kedokteran.3 Q. Tata laksana Autopsi Pelaksanaan autopsi forensik diatur didalam KUHAP, yang pada prinsipnya autopsi baru boleh dilakukan jika ada surat permintaan tertulis dari penyidik dan setelah kelurga diberi tahu serta telah memahaminya atau setelah 2 hari dalam hal keluarga tidak menyetujui autopsi atau keluarga tidak ditemukan.5 Sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 134 KUHAP bahwa penyidik yang meminta autopsi mempunyai kewajiban untuk member tahukan

keinginannya kepada keluarga. Dalam hal keluarga merasa keberatan maka penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujun autopsi. Apabila dalam waktu 2 hari tidak ada tanggapan apapun (perubahan sikap) dari keluarga atau keluarga tidak ditemukan maka autopsi segera dilaksanakan.5 Dari pasal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk keperluan autopsi forensik tidak diperlukan izin keluarga seperti pada autopsi klinik atau anatomik. Keluarga hanya punya untuk diberitahu dan tanggung jawab memberitahu itu berada di pundak penyidik. Demi praktisnya, tugas memberitahu itu sering diambil alih oleh dokter karena kebanyakan langsung datang ke rumah sakit.Dalam menjelaskan kepada keluarga perlu diingatkan adanya sanksi pidana bagi siapa saja yang menghalang-halangi pelaksanaan autopsi, yaitu dihukum berdasarkan Pasal 222 KUHP.5 R. Peralatan Autopsi

201

Untuk melakukan suatu autopsi yang baik.sebenarnya tidak diperlukan alat yang mewah, cukup dengan alat yang sederhana saja. Berikut ini alat yang dipergunakan tersebut.3 1. Kamar autopsi Guna kamar autopsi adalah agar dokter yang melakukan pemeriksaan jenazah dapat melakukan tugasnya dengan tenang, tidak terganggu oleh orang yang tidak berkepentingan atau yang ingin sekedar menonton saja. Untuk keperluan ini tidak diperlukan suatu kamar khusus bila keadaan setempat tidak memungkinkan. Cukup digunakan salah satu sudut kamar jenazah misalnya, asal terdapat penerangan yang cukup. Bahkan bedeng darurat yang didirikan di lapangan dekat dengan penggalian kubur pun dapat digunakan. 2. Meja autopsi Untuk meja autopsi pun, bila keadaan tidak memungkinkan, tidak perlu menggunakan meja autopsi khusus yang stainless steel. Bila perlu dapat digunakan kereta dorong mayat, atau meja darurat yang terbuat dari beberapa helai papan saja. Yang perlu dipikirkan dalam hal meja autopsi adalah adanya tempat penampungan darah yang keluar waktu dilakukannya autopsi serta adanya air yang diperlukan untuk melakukan pencucian bila perlu. 3. Peralatan autopsi Yang diperlukan adalah pisau yang dapat digunakan untuk memotong kulit serta organ dalam dan otak, gunting serta pinset bergigi untuk

202

melaksanakan pemeriksaan alat dalam tubuh. Disamping itu diperlukan juga sebuah gergaji yang dapat digunakan untuk menggergaji tulang tengkorak. Untuk keperluan perawatan mayat setelah selesai autopsi. Sediakan sebuah jarum jahit serta benang kasar untuk merapikan kembali mayat yang telah diautopsi. Peralatan tambahan yang diperlukan adalah gelas ukur untuk mengukur volume cairan/ darah yang ditemukan pada autopsi serta semprit berikut jarum untk pengambilan darah. 4. Peralatan untuk pemeriksaan tambahan Perlu disediakan beberapa buah botol kecil yang terisi formalin 10% atau alcohol 70-80% untuk keperluan pengambilan jaringan guna pemeriksaan histopatologik, serta beberapa botol yang lebih besar untuk pengambilan bahan guna pemeriksaan toksikologi, yang berisi bahan pemgawet yang sesuai. 5. Peralatan tulis dan tofografi Sediakan kertas atau formulir-formulir isian yang dipergunakan untuk mencatat segala hasil pemeriksaan. Bila mungkin, sediakan pula peralatan memotret yang dapat digunakan untuk pemotretan kelainankelainan untuk keperluan dokumntasi atau identifikasi.

203

Gambar 1. peralatan autopsi.3 S. Cara Autopsi Pada pemeriksaan tubuh mayat sebelah luar, untuk kepentingan forensik, pemeriksaan kepentingan forensik, pemeriksaan harus dilakukan dengan cermat, meliputi segala sesuatu yang terlihat, tercium, maupun teraba, baik terhadap benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu dan lain-lain, juga terhadap tubuh mayat itu sendiri.3 Agar pemeriksaan dapat terlaksana secermat mungkin, pemeriksaan harus mengikuti suatu sistematika yang telah ditentukan. Dibagian IKF FKUI, sistematika pemeriksaan adalah:3 1. Label mayat Mayat yang dikirim untuk pemeriksaan kedokteran forensik seharusnya diberi label dari pihak kepolisian, biasanya merupakan sehelai karton yang

204

diikatkan pada ibu jari mayat serta dilakukan penyegelan pada tali pengikat label tersebut, untuk menjamin keaslian dari benda bukti. Label mayat ini harus digunting pada tali pengikatnya, serta disimpan bersama berkas pemeriksaan. Perlu dicatat warna dan bahan label tersebut. Dicatat pula apakah ada materai atau segel pada label ini, yang biasanya terbuat dari lak berwarna merah dengan cap dari kantor kepolisian yang mengirim mayat. Isi dari label mayat ini juga dicatat selengkapnya. Adalah kebiasaan baik, bila dokter pemeriksa dapat meminta keluarga terdekat dari mayat untuk sekali lagi melakukan pengenalan/pemastian identitas. Disamping label mayat dari kepolisian, pada mayat dapat pula ditemukan label identifikasi dari Instalasi Kamar Jenazah Rumah Sakit. Label ini adalah untuk kepentingan identifikasi di Kamar Jenazah agar mayat tidak tertukar saat diambil oleh keluarga. Label dari Rumah Sakit ini harus tetap ada pada tubuh mayat. 2. Tutup mayat Mayat sering kali dikirim pada pemeriksaan dalam keadaan ditutupi oleh sesuatu. Catatlah warna/bahan , warna serta corok dari penutup ini. Bila terdapat pengotoran pada penutup, catat pula letak pengotoran serta jenis/bahan pengotoran tersebut. 3. Bungkus mayat Mayat kadang-kadang dikirimkan pada pemeriksa dalam keadaan terbugkus. Bungkus mayat ini harus dicatat jenis/bahannya, warna, corak

205

serta adanya bahan yang mengotori. Dicatat pula tali pengikatnya bila ada, baik mengenai jenis/bahan tali tersebut, maupun cara pengikatan serta letak ikatan tersebut. 4. Pakaian Pakaian mayat dicatat dengan teliti, mulai dari pakaian dikenakan pada bagian tubuh sebelah atas sampai tubuh sebelah bawah, dari lapisan yang terluar sampai dengan lapisan yang terdalam. Pencatatan meliputi: bahan, warna dasar, warna dan corak/motif dari tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk/penjahit, cap binatu, monogram/inisial serta tambalan atau tisikan bila ada. Biila terdapat pengotoran atau robekan pada pakaian, maka ini juga harus dicatat dengan teliti,\ dengan mengukur letaknya dengan tepat menggunakan koordinat, serta ukuran dari pengotoran dan atau robekan yang ditemukan. Pakaian dari korban yang mati akibat kekerasan atau yang belum dikenal, sebaiknya disimpan untuk barang bukti. Bila ditemukan saku pada pakaian, maka saku ini harus diperiksa dan dicatat isinya dengan teliti pula. 5. Perhiasan Perhiasan yang dipakai mayat harus dicatat pula dengan teliti. Pencatatan meliputin jenis perhiasan, bahan, warna, merk, bentuk serta ukuran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut. 6. Benda disamping mayat

206

Bersamaan dengan pengiriman mayat, kadangkala disetakan pula pengiriman benda di samping mayat, misalnya bungkusan atau tas. Terhadap benda di samping mayat inipun dilakukan pencatatan yang teliti dan lengkap. 7. Tanda Kematian Di samping untuk pemastian bahwa korban yang dikirimkan untuk pemeriksaan benar-benar telah mati, pencatatan tanda kematian ini berguna pula untuk penentuan saat kematian. Agar pencatatan terhadap tanda kematian ini bermanfaat, jangan lupa mencatat waktu/saat dilakukannya pemeriksaan terhadap kematian ini: a. Lebam mayat Terhadap lebam mayat, dilakukan pencatatan letak/distribusi lebam, adanya bagian tertentu di daerah lebam mayat yang justru tidak menunjukkan lebam (karena tertekan pakaian, terbaring di atas benda keras dan lain-lain). Warna dari lebam mayat serta intensitas lebam mayat (masih hilang pada penekanan, sedikit menghilang atau sudah tidak menghilang sama sekali. b. Kaku mayat Catat distribusi kaku mayat serta distribusi kekakuan pada beberapa sendi (daerah dagu/tengkuk, lengan atas, siku, pangkal paha, sendi lutut) dengan menentukan apakah mudah atau sukar dilawan.

207

Apabila ditemukan adanya kadaverik (cadaveric spasm) maka ini harus dicatat sebaik-baiknya, karena spasme kadaverik petunjuk apa yang sedang dilakukan oleh korban saat terjadi kematian. c. Suhu tubuh mayat Sekalipun perkiraan saat kematian menggunakan criteria penurunan suhu tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan, namun pencatatan suhu tubuh mayat kadang dapat masih membantu dalam hal perkiraan saat kematian. Pengukuran suhu mayat dilakukan dengan menggunakan thermometer rectal. Jangan lupa juga melakukan pencatatan suhu ruangan pada sat yang sama. d. Pembusukan Tanda pembusukan yang pertama tampak berupa kulit perrut sebelah kanan bawah yang berwarna kehijau-hijauan. Kadang-kadang mayat diterima dalam keadaan pembusukan yang lebih lanjut, merupakan mayat dengan kulit ari yang terelupas, terdapat gambaran pembuluh darah superficial yang melebar berwarna biru-hitam, ataupun tubuh yang telah mengalami penggembungan akibat pembusukan lanjut. e. Lain-lain Cara perubuhan tanatologik lain yang mungkin ditemukan, misalnya mummifikasi atau adipocere. 8. Identifikasi umum

208

Catat tanda umum yang menunjukkan identitas mayat, seperti: jenis kelamin, bangsa atau ras, umur, warna kulit, keadaan gizi, tinggi dan berat badan, keadaan zakar yang disirkumsisi, adanya striae albicantes pada dinding perut. 9. Identifikasi khusus Catat segala sesuatu yang dapat digunakan untuk penentuan identitas secara khusus. a. Rajah/tattoo Tentukan letak, bentuk, warna, serta tulisan tattoo yang ditemukan. Bila perlu buatlah dokumentasi foto. b. Jaringan parut Catat seteliti mungkin jaringan parut yang ditemukan, baik yang timbul akibat penyembuhan luka maupun yang terjadi sebagai akibat tindakan bedah. c. Kapalan (callus) Dengan mencatat distribusi callus, kadangkala dapat diperoleh keterangan yang berharga mengenai pekerjaan mayat yang diperiksa semasa hidupnya. Pada pekerja/buruh pikul, akan ditemukan kapalan (callus) pada daerah bahu, pada pekerja kasar lainnya akan ditemukan kapalan pada telapak tangan atau kaki. d. Kelainan pada kulit Adanya kutil, angioma, bercak hiper atau hipopigmentasi, eksema dan kelainan lain sering kali dapat membantu dalam penentuan identitas.

209

e. Anomali dan cacat pada tubuh Kelainan anatomis berupa anomali atau deformitas akibat penyakit atau kekerasan perlu dicatat dengan seksama. Tidak tercatatnya ciriciri yang disebut diatas dapat sangat merugikan karena dapat menyebabkan diragukannya hasil pemeriksaan terhadap mayat secara keseluruhan. (bagaimana dapat mempercayai hasil pemeriksaan secara keseluruhan, sedangkan adanya jari lebih pada ibu jari tangan kanan korban saja tidak dilihat/dicatat oleh si pemeriksa). 10. Pemeriksaan rambut. Pemeriksaan terhadap rambut dimaksudkan untuk membantu identifikasi. Pencatatan dilakukan terhadap distribusi, warna keadaan tumbuh serta sifat dari rambut tersebut baik dalam hal halus atau lurus ikalnya. Bila pada tubuh mayat ditemukan rambut yang mempunyai sifat yang berlainan dari rambut mayat, rambut-rambut ini haris diambil. Disimpan dan diberi label, untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan bila ternyata diperlukan di kemudian hari. 11. Pemeriksaan mata Periksa apakah kelopak mata terbuka atau tertutup. Pada kelopak mata, diperhatikan pula akan adanya tanda-tanda kekerasan serta kelainan lain yang ditimbulkan oleh penyakit dan sebagainya. Periksa pula keadaan selaput lendir kelopak mata, bagaimana warnanya, adakah pembuluh darah yang melebar, adakah bintik perdarahan atau bercak perdarahan.

210

Terhadap bola mata, dilakukan pula pemeriksaan terhadapa kemungkinan terdapatnya tanda kekerasan, kelainan seperti ptysis bulbi, pemakaian mata palsu dan sebagainya. Perhatikan pula keadaan selaput lendir bola mata akan adanya pelebaran pembuluh darah, bintik perdarahan atau kelainan lain terhadap kornea (selaput bening mata) ditentukan apakah jernih, adakah kelainan, baik fisiologik (arcus senelis) maupun patologik (leucoma). Iris (tirai mata) dicatat warnanya untuk membantu identifikasi. Catat pula kelainan yang mungkin ditemukan. Perhatikan pupil (teleng mata) dan catat ukurannya. Apakah sama pada mata yang kanan dan yang kiri. Bila terdapat kelainan pada lensa mata, ini pun harus dicatat. 12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung. Pemeriksaan meliputi pencatatan terhadap bentuk dari daun telinga dan hidung, terutama pada mayat dengan bentuk yang luar biasa karena hal ini mungkin dapat membantudalam identifikasi. Catat pula kelainan serta tanda kekerasan yang ditemukan. Periksa apakah dari lubang telinga dan hidung keluar cairan/darah. 13. Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut Pemeriksaan meliputi bibir, lidah, rongga mulut serta gigi geligi. Catat kelainan atau tanda kekerasan yang ditemukan. Periksa dengan teliti keadaan rongga mulut akan kemungkinan terdapatnya benda asing (pada kasus penyumbatan misalnya).

211

Terhadap gigi geligi, pencatatan harus dilakukan selengkap-lengkapnya meliputi jumlah gigi yang terdapat, gigi geligi yang hilang/patah/mendapat tambalan/bungkus logam, gigi palsu, kelainan letak, perwarnaan (staining) dan sebagainya. Data gigi geligi merupakan alat yang sangat berguna untuk identifikasi bila terdapat data pembanding. Perlu diingat bahwa gigi geligi adalah bagian tubuh yang paling keras dan tahan terhadap kekerasan. 14. Pemeriksaaan alat kelamin dan lubang pelepasan Kelainan atau tanda kekerasan yang ditemukan harus mendapat perhatian dan dicatat selengkapnya. Pada mayat laki-laki, catat apakah alat kelamin mengalami sirkumsisi. Cara kelainan bawaan yang mungkin ditemukan (epispadia, hypospadia phymosis dan lain-lain), adanya manik-manik yang ditanam dibawah kulit, juga keluarnya cairan dari lubang kemaluan serta kelainan yang ditimbulkan oleh penyakit atau sebab lain. Pada dugaan telah terjadinya suatu persetubuhan beberapa saat sebelumnya, dapat diambil preparat tekan menggunakan kaca obyek yang ditekankan pada daerah glans atau corona glandis yang kemudian dapat dilakukan pemeriksaan terhadap adanya sel epitel vagina menggunakan teknik laboratorium tertentu.padan mayat wanita, periksa pada keadaan selaput dara dan komisura posterior akan kemungkinan adanya tanda kekerasan. Pada kasus dengan persangkaan telah melakukan persetubuhan beberapa saat sebelumnya,

212

jangan lupa dilakukan pemeriksaan laboratoriumn terhadap cairan/sekret liang senggama. Lubang pelepasan perlu pula mendapat perhatiaan. Pada mayat yang sering mendapat perlakuan sodomi, mungkin ditemukan anus berbentuk corong yang selaput lendirnya sebagian berubah menjadi lapisan bertanduk dan hilangnya rugae. 15. Lain-lain Perlu diperhatikan akan kemungkinan terdapatnya a. Tanda perbendungan, ikterus, warna kebiruan pada kuku, ujung-ujung jari (pada sianosis) atau adanya edema(sembab). b. Bekas pengobatan berupa bekas kerokan, tracheotomi, suntikan, pungsi lumbal, dan lain-lain. c. Terdapatnya bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh, kepingan atau serpihan cat, pecahan kaca, lumuran aspal dan lain-lain. 16. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka Pada pemeriksaan terhadap tanda kekerasan/luka yang ditemukan, perlu dilakukan pencatatan yang teliti dan obyektif terhadap a. Letak luka Pertama tama sebutkan regio anatomis luka yang ditemukan, dengan juga mencatat letaknya yang tepat menggunakan koordinat terhadap garis/titik anatomis terdekat. b. Jenis luka

213

Tentukan jenis luka, apakah merupakan luka lecet, luka memar, atau luka terbuka c. Bentuk luka Sebutkan bentuk luka yang ditemukan. Pada luka yang terbuka sebutkan pula bentuk luka setelah luka dirapatkan. d. Arah luka Dicatat arah luka, apakah melintang, membujur atau miring e. Tepi luka Perhatikan tepi luka apakah rata, teratur, atau berbentuk tidak beraturan. f. Sudut luka Pada luka terbuka, perhatikan apakah sudut luka merupakan sudut runcing, membulat atau bentuk lain g. Dasar luka Perhatikan dasar luka, jaringan bawah kulit atau otot, atau bahkan merupakan rongga badan. h. Sekitar luka Perhatikan adanya pengototran, terdapatnya luka/tanda kekerasan lain di sekitar luka. i. Ukuran luka Luka diukur dengan teliti. Pada luka terbuka, ukuran luka diukur juga setelah luka yang bersangkutan dirapatkan. j. Saluran luka

214

Penentuan saluran luka dilakuakn in situ. Tentukan perjalanan luka serta panjang luka. Penentuan ini baru dapat ditentukan pada saat dilakukan pembedahan mayat. k. Lain-lain Pada luka lecet jenis serut, pemeriksaan teliti terhadap permukaan luka terhadap pola penumpukan kulit ari yang terserut dapat mengungkapkan arah kekerasan yang menyebabkan luka tersebut. 17. Pemeriksaan terhadap patah tulang Tentukan letak patah tulang yang ditemukan serta catat sifat/jenis masingmasing patah tulang yang terdapat. PEMBEDAHAN MAYAT Pengeluaran Alat Tubuh Mayat yang akan dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan (diganjal) dengan sepotong balok kecil. Dengan demikian, kepala akan berada dalam keadaan flexi maksimal dan daerah leher tampak jelas.3 Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai bawah dagu, diteruskan ke arah umbilikus dan melingkari umbilikus di sisi kiri dan seterusnya kembali mengikuti garis pertengahan badan samapai di daerah simfisis pubis. 3 Pada daerah leher, insisi hanya mencapai kedalaman setebal kulit saja. Pada daerah dada, insisi kulit sampai kedalaman mencapai permukaan depan

215

tulang dada (sternum) sedangkan mulai daerah epigastrium, sampai menembus ke dalam rongga perut. 3 Insisi bentuk huruf I di atas merupakan insisi yang paling ideal untuk suatu pemeriksaan bedah mayat forensik. Pada keadaan tertentu, bila tidak mengganggu kepentingan pemeriksaan, atas indikasi kosmetik dapat dipertimbangkan insisi kulit berbentuk huruf Y, yang dimulai pada kedua puncak bahu. Insisi pada daerah dada sebelah kanan dan kiri dipertemukan di garis pertengahan kira-kira setinggi incisura jugularis. Dengan inisis berbentuk huruf Y, maka pengeluaran alat-alat leher menjadi lebih sukar. 3 Insisi pada dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan membuat irisan pendek yang menembus sampai peritoneum. Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri yang dimasukkan kedalam lubang insisi ini, maka dinding perut dapat ditarik/diangkat ke atas. Pisau diselipkan diantara dua jari tersebut dan insisi dapat diteruskan sampai simfisis pubis. Di samping berfungsi sebagai pengangkat dinding perut, kedua jari tangan kiri tersebut berfungsi juga sebagai pemandu (guide) untuk pisau, serta melindungi alat-alat dalam rongga perut dari kemungkinan teriris pisau. 3

216

Gambar 2. Jenis insisi pada autopsi Dengan memegang dinding perut bagian atas dan memuntir dinding perut tersebut ke arah luar (dilakukan ibu jari di sebelah dalam/sisi peritoneum dan 4 jari lainnya di sebelah luar/sisi kulit), dinding dada dilepaskan dengan memulai irisan pada otot-otot sepanjang arcus costae. Pelepasan dinding dada dilakukan terus ke arah dada bagian atas sampai daerah tulang selangka dan ke samping garis ketiak depan. Pengirisan terhadap otot dilakukan dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (blade) yang tegak lurus terhadap otot. Dengan demikian, 217

dinding dada telah dibebaskan dari otot-otot pectorales, dan kelainan yang ditemukan dapat dicatat dengan teliti. 3 Kelaianan pada dinding dada dapat merupakan resapan darah, patah tulang maupun luka terbuka. Kulit daerah leher yang berada dibawahnya. Perhatikan akan adanya tanda kekerasan maupun kelainan-kelainan lainnya. 3 Pada dinding perut, diperhatikan keadaan lemak bawah kulit serta otot-otot dinding perut, catat tebal masing-masing serta luka-luka bila terdapat. 3 Rongga perut diperiksa dengan mula-mula memperhatikan keadaan alatalat perut secara umum. Bagaimana penyebaran itrai usus (omentum), apakah menutupi seluruh usus-usus kecil, ataukan mengumpul pada satu tempat akibat adanya kelainan setempat. Periksalah keadaan usus-usus, adakah kelainan volvulus, intususepsi, infark, tanda-tanda kekerasan lainnya. Bila mayat telah mengalami operasi sebelumnya, perhatikan pula bagian/alat-alat perut yang mengalami penjahitan, reseksi, atau tindakan lainnya. Perhatikan adakah cairan dalam rongga perut, dan bila terdapat cairan, catat sifat dari cairan tersebut serous, purulen, darah atau cairan keruh. Dinding perut sebelah dalam diperhatikan keadaan selaput lendirnya. Pada selaput lendir yang normal, tampak licin dan halus berwarna kelabu mengkilat. Pada kelainan peritonitis, akan tampak selaput lendir yang tidak rata, keruh dengan fibrin yang melekat. 3 Tentukan pula sekat rongga badan (diafragma), dengan membandingkan tinggi diafragma terhadap iga di garis pertengahan selangka (midclavicular line).

218

Gambar 3. Autopsi pada rongga dada Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat setengah sampai datu sentimeter medial dari batas rawan tulang masing-masing iga. Dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (knife blade) yang diletakkan tegak lurus, rawan iga dipotong mulai dari iga ke 2 terus ke arah kaudal. Pemotongan ini dapat dilakukan dengan mudah pada mayat yang masih muda karena bagian rawan belum mengalami penulangan. Dengan tangan kanan memegang pisau dan telapak tangan kiri menekan punggung pisau, pisau

219

digerakkan memotong rawan iga-iga tersebut mulai dari iga kedua sampai daerah arcus costae. Lakukan hal yang sama pada sisi tubuh yang lain. 3 Iga pertama dipotong dengan meneruskan irisan pada iga kedua ke arah kraniolateral, dengan demikian, irisan dihindarkan dari mengenai manubrium sterni yang keras. Setelah rawan iga pertama terpotong, pisau dapat diteruskan ke arah medial menyusuri tepi bawah tulang selangka untuk mencapai sendi antara tulang selangka dan tulang dada (articulatio sternoclavicularis) dan

memotongnya. Bila ini telah dilakukan pada kedua sisi, maka bagian depan dinding dada telah dapat dilepaskan. 3 Perhatikan pertama-tama letak paru terhadap kedua jantung. Biasanya dengan mencatat bagian kandung jantung yang nampak antara kedua tepi paruparu. Kandung jantung yang tampak hanya 1 jari di antara paru-paru menunjukkan keadaan pengembangan paru yang berlebih (pada edema paru atau emfisema paru). 3 Dengan tangan, paru dapat ditarik ke arah medial dan rongga dada dapat diperiksa, apakah terdapat cairan, darah, atau lainnya. 3 Kandung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan mengikuti bentuk huruf Y terbalik. Perhatikan apakah rongga kandung jantung terisi oleh cairan atau darah. Periksa pulaakan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada permukaan depan jantung sendiri. 3

220

Gambar 4. Autopsi pada daerah dada Pada dugaan adanya thrombosis a.pulmonalis, permukaan depan bilik jantung kanan diiris memanjang dengan septum jantung kurang lebih 1 cm lateral dari septum. Irisan ini kemudian diperpanjang dengan gunting kearah a.pulmonalis. Periksa pula akan adanya kelenjar kacangan (thymus) yang terletak disebelah atas dinding depan kandung jantung. 3 Untuk pemeriksaan lebih lanjut, alat-alat leher akan dikeluarkan bersamasama dengan alat rongga dada, sedangkan usus halus mulai dari jejunum sampai

221

rektum dilepaskan tersendiri dan kemudian alat rongga perut dikeluarkan bersama alat dalam rongga panggul. 3 Pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan insersi otototot dasar mulut pada tulang rahang bawah. Irisan dimulai tepat dibawah dagu, menembus rongga mulut dari bawah. Insisi diperlebar kearah kanan maupun kearah kiri. Lidah ditarik kearah bawah sehingga dapat dikeluarkan melalui tempat bekas irisan. Perhatikan keadaan rongga mulut dan catat kelainan yang mungkin terdapat, antara lain adanya benda asing dalam rongga mulut, palatum mole, untuk mencatat kelainan yang ditemukan Pallatum mole kemudian diiris sepanjang perlekatan dengan pallatum durum yang kemudian diteruskan kearah lateral kanan dan kiri, sampai ke permukaan depan dari tulang belakang dan sedikit menarik alat-alat leher kearah depan bawah. Seluruh alat leher dapat dilepaskan dari perlekatannya. 3 Lakukan pemotongan terhadap pembuluh serta saraf yang berjalan di belakang tulang selangka dengan terlebih dahulu menggenggam pembuluhpembuluh dan saraf tersebut. Lepaskan perlekatan antara paru-paru dengan dinding rongga dada, bila perlu secara tajam. Dengan tangan kanan memegang lidah dan dua jari tangan kiri yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri hilus paru, alat rongga dada diarah kaudal sampai keluar dan rongga paru. 3 Lepaskan esophagus bagian kaudal dari jaringan ikat sekitarnya dan buatlah dua ikatan di atas diafragma. 3

222

Esophagus digunting di antara kedua ikatan tersebut di atas. Tangan kiri kini digunakan untuk menggenggam bagian bawah alat rongga dada tepat di atas diafragma dan lakukan pengirisan terhadap genggaman tersebut. Dengan demikian, alat leher bersama alat rongga dada dapat dikeluarkan seluruhnya. 3 Usus-usus dilepaskan dengan pertama-tama melakukan dua ikatan pada awal jejunum, dekat dengan tempat menembusnya duodenum dari arah retroperitoneal. Secara topografis, bagian duodenum ini terletak kaudal terhadap colon transversum, kira-kira di garis pertengahan selangka. Pengguntingan dilakukan diantara dua ikatan yang dibuat, agar isi duodenum tidak tercecer. Dengan tangan kiri memegang pada ujung distal dan mengangkatnya maka mesenterium yang melekatkan usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat pada usus. Pengirisan dilakukan dengan pisau organ yang bidang pisaunya (knife blade) diletakkan tegak lurus pada usus dan digerakkan maju mundur seperti gerakan menggergaji. Pengirisan seperti itu dilakukan sepanjang usus halus sampai daerah ileum terminalis. Pada daerah coecum pengirisan dilakukan terhadap mesokolon, dengan meotong mesokolon pada bagian lateral dan kolon ascenden pada daerah ini. Pemotongan harus dilakukan dengan hatihati, lapis demi lapis agar tidak teriris ginjal kanan serta duodenum pars retroperitonealis. 3 Pada daerah kolon transversum, lepaskan perlekatan antara kolon dengan lambung. Mesokolon kembali diiris di sebelah lateral dari kolon descenden dengan memisahkannya juga dari limpa dan ginjal kiri. Kolon sigmoid dapat

223

dilepaskan dari dinding rongga perut dengan memotong mesokolon di bagian belakangnya. 3 Rektum dipegang dengan tangan kanan, mulai dari bagian distal dan mengurutnya kearah proksimal, agar isi rektum dipindahkan kearah kolon sigmoid dan rektum dapat diikat dengan dua ikatan, kemudian diputuskan di antara dua ikatan tersebut. Setelah dilakukan pelepasan usus halus dan usus besar, dapat dilakukan pemeriksaan sepanjang usus tersebut untuk melakukan kelainan, baik yang diakibatkan oleh kekerasan berupa luka, akibat penyakit dalam bentuk ulkus atau kelainan lainnya. Untuk melepaskan rongga perut dan panggul, pengirisan dimulai dengan memotong diafragma dekat pada insersinya pada dinding rongga badan. Pengirisan diteruskan kearah bawah, sebelah kanan dan kiri, lateral dari masingmasing ginjal sampai memotong arteri iliaca communis. 3 Alat rongga panggul dilepas dengan terlebih dahulu melpas peritoneum di daeerah simfisis (alat rongga panggul terletak retroperitoneal). Kandung kencing serta alat lain dapat dipegang dalam tangan kiri sampai kearah belakang bersamasama rektum. Pemotong melintang dilakukan dengan patokan setinggi kelenjar prostat pada mayat laki-laki dan setinggi sepertiga proksimal vagina pada mayat perempuan. Alat rongga panggul ini kemudian dilepaskan seluruhnya dari perlekatan dengan sekitarnya dan dapat diangkat bersama-sama dengan alat rongga perut yang telah dilepaskan terlebih dahulu. 3

224

Pemeriksaan pada kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala, dimulai dari prosessus mastiodeus, melingkari kepala kearah puncak kepala (vertex) dan berakhir pada prosessus mastoideus sisi lain. Pada mayat yang lebat rambut kepalanya, sebaiknya sebelum dilakukan pengirisan pada kulit kepala, dilakukan terlebih dahulu penyisiran pada rambut sehingga terjadi garis belahan rambut sepanjang kulit kepala yang akan diiris tersebut. Pengirisan dibuat sampai pisau mencapai periosteum. Kulit kepala kemudian dilepas, kearah depan sampai kurang lebih 1-2 sentimeter sampai sejauh protuberentia occipitalis externa. Perhatikan dan catat kelainan yang terdapat, baik pada permukaan dalam kulit kepala maupun permukaan luar tulang tengkorak. Kelainan yang biasa ditemukan adalah tanda kekerasan, baik merupakan resapan darah maupun garis retak/patah tulang. Untuk membuka rongga tengkorak, melingkar di daerah frontal sejarak kurang lebih 2 sentimeter di atas daun telinga. Pada daeerah temporal ini, penggergajian dilakukan melingkar kearah belakang, k.1.2 sentimeter sebelah atass protuberentia occipitalis externa, dengan penggergajian yang membentuk sudut k.1 120 derajat dari garis penggergajian terdahulu. Hal ini dilakukan agar setelah selesai pemeriksaan, atap tengkorak dapat terpasang kembali tanpa tergelincir/tergeser. Agar penggergajian tidak merusak jaringan otak, penggergajian harus dilakukan hati-hati dan dihentikan setelah terasa tebal tulang tengkorak telah terlampaui. Atap tengkorak selanjutnya dilepas dengan menggunakan pahat berbentuk T (T-chise) dengan jalan mendongkel pada garis penggergajian. 3

225

Gambar 5. Autopsi pada kepala Setelah atap tengkorak dilepaskan, pertama-tama lakukan penciuman terhadap bau yang keluar sebab pada beberapa jenis keracunan dapat tercium bau yang khas. 3 Kemudian perhatikan adanya kelainan baik pada permukaan dalam atap tengkorak maupun pada durameter yang kini tampak. Kelainan dapat berupa luka pada durameter, perdarahan epidural atau kelainan lain. Durameter kemudian digunting mengikuti garis penggergajia, dan daerah subdural dapat diperiksa akan adanya perdarahan, penggumpalan nanah dan sebagainya. 3 Otak dikeluarkan dengan pertama-tama memasukkan dua jari tangan kiri di garis pertengahan daerah frontal, antara bagian otak dan tulang tengkorak. Dengan sedikit menekan bagian frontal akan tampak falk cerebri yang dapat dipotong atau digunting sampai dasar tengkorak. Kedua jari tangan kiri tersebut kemudian dapat sedikit mengangkat bagian frontal dan memperlihatkan

226

nn.olfactorius, nn.opticus, yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak. Pemotongan lebih lanjut dapat dilakukan pada aa. Carotis interna yang memasuki otak, serta saraf-saraf otak yang keluar pada dasar otak. Dengan memiringkan kepala mayat kesalah satu sisi, serta jari-jari tangan kiri sedikit menarik/mengangkat bagian pelipis (temporal) sisi yang lain, tentorium cerebella akan jelas tampak dan mudah dipotong dimulai dari foramen magnum ke arah lateral menyusuri tepi belakang tulang karang otak (os petrosum). Potong pula saraf-saraf otak yang keluar pada dasar otak. Dengan cara yang sama, tentorium cerebella sisi lainnnya juga dipotong. Perlu diperhatikan bahwa bila tentorium cerebelli ini tidak dipotong, otak kecil niscaya akan tertinggal dalam rongga tengkorak. 3 Dengan tangan kiri menyanggah daerah bagian occipital. Dua jari tangan kanan dapat ditempatkan di sisi kanan dan kiri batang otak yang telah terpotong untuk kemudian menarik bagian bawah otak ini dengan gerakkan

memutar/meluksir sehingga keluar dari rongga tengkorak. 3 Pemeriksaan Organ/Alat Dalam Pemeriksaan organ/alat tubuh biasanya dimulai dari lidah, esophagus, trachea dan seterusnya sampai meliputi seluruh alat tubuh. Otak biasanya diperiksa terakhir. 3 1. Lidah Pada lidah, perhatikan permukaan lidah, adakah kelainan bekas gigitan, baik yang baru maupun yang lama. Pengirisan lidah sebaiknya tidak

227

sampai teriris utuh, agar setelah selesai autopsy, mayat masih tampak berlidah utuh. 2. Tonsil Perhatikan penampang tonsil, adakah selaput, gambaran infeksi, nanah dan sebagainya 3. Kelenjar gondok Untuk melihat kelenjar gondok dengan baik, otot-otot terlebih dahulu dilepaskan dariperlekatannya di sebelah belakang. Setelah otot leher ini terangkat, maka kelenjar gondok akan terlihat jelas dan dapat dilepaskan dari perlekatannya pada rawan gondok dan trachea. 4. Kerongkongan (oesophagus) Oesophagus dibuka dengan jalan menggunting sepanjanng dinding belakang. Perhatikan adanya benda-benda asing, keadaan selaput lendir serta kelainan yang mungkin ditemukan (misalnya striktura, varices). 5. Batang tenggorok (trachea) Pemeriksaan dimulai pada mulut atas batang tenggorokan, dimulai dari epiglotis. Perhatikan adanya edema, benda asing, perdarahan dan kelainan lainnya. Perhatikan pula pita suara dan kotak suara. Pembukaan trachea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang (bagian jaringan ikat pada cincin trachea) sampai mencapai cabang broncus kanan dan kiri. Perhatikan adanya benda asing, busa, darah, serta selaput lendirnya.

228

6. Tulang lidah (os hyoid), rawan gondok (cartilage thyroidea), dan rawan cincin (cartilago cricoidea) Tulang lidah kadang-kadang ditemukan patah unilateral pada kasus pencekikan. Perhatikan adanya patang tulang, resapan darah. Rawan gondok dan rawan cincin seringkali juga menunjukkan resapan darah pada kasus kekerasan pada daerah leher (pencekikan, penjeratan, gantung). 7. Arteria carotis interna Arteri carotis comunis interna biasanya tertinggal melekat pada permukaan depan ruas tulang leher. Bila kekerasan pada leher mengenai arteri ini, kadang-kadang ditemukan kerusakan pada intima disamping terdapatnya resapan darah. 8. Kelenjar kacangan (Thynus) Kelenjar kacangan terdapat melekat di sebelah atas kandung jantung. Pada permukaannya perhatikan akan adanya perdarahan berbintik serta kemungkinanan adanya kelainan lain. 9. Paru-paru Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. Tentukan permukaan paru-paru. Pada paru yang mengalami emphysema, dapat ditemukan cekungan bekas penekanan iga. Perhatikan warnanya. Serta bintik perdarahan, bercak perdarahan akibat aspirasi darah ke dalam alveoli (tampak pada permukaan paru sebagai bercak berwarna merah-hitam dengan batas tegas), resapan darah, luka, bulla, dan sebagainya.

229

Perabaan paru yang normal terasa seperti meraba spon/karet busa. Pada paru dengan proses peradangan, perabaan dapat menjadi padat atau keras. Pada penampang paru ditentukan warnanya serta dicatat kelainan yang mungkin ditemukan. 10. Jantung Perhatikan besarnya jantung, bandingkan dengan kepalan tinju kanan mayat. Perhatikan akan adanya resapan darah, luka atau bintik-bintik perdarahan. Pada autopsi jantung, ikuti sitematika pemotongan dinding jantung yang dilakukan dengan mengikuti aliran darah di dalam jantung.

Gambar 6. Autopsi jantung3 Pertama-tama jantung diletakkan dengan permukaan ventral menghadap ke atas. Posisi in dipertahankan terus sampai autopsi jantung

230

selesai. Vena cava superior dan inferior dibuka dengan jalan menggunting dinding belakang vena-vena tersebut. Dengan gunting buka pula aurikel kanan. Perhatikan akan adanya kelainan baik pada aurikel akanan maupun atrium kanan. Dengan pisau panjang, masuki bilik jantung kanan sampai ujung pisau menembus apeks di sisi kanan septum dengan mata pisau mengarah ke lateral. Tebal dinding bilik kanan diukur dengan terlebih dahulu membuat irisan tegak lurus pada dinding belakang bilik kanan ini, 1 sentimeter di bawah katup. Irisan pada dinding bilik depan kanan dilakukan menggunakan gunting. Mulai dari apex. Menyusuri septum pada jarak setengah sentimeter, ke arah atas menggunting dinding depan arteria pulmonalis dan memotong katup semilunaris pulmonal. Katup diukur lingkarannya dan keadaan katup semilunaris pulmonal. Katup diukur lingkarannya dan keadaan daun katupnya dinilai. Pembukaan serambi dan bilik kiri dimulai dengan pengguntingan dinding belakang vv.pulmonales, yang disusul dengan pembukaan aurikel kiri. Dengan pisau panjang, apeks jantung sebelah kiri dari septum ditusuk. Lalu diiris ke arah lateral sehingga biliki kiri terbuka. Lakukan pengukuran lingkaran katup mitral serta penilaian terhadap keadaan katup. Tebal otot jantung sebelah kiri diukur pada irisan tegak yang dibuat 1 sentimeter di sebelah bawah katup pada dinding belakang. Dengan gunting dinding

231

depan bilik kiri dipotong menyusuri septum pada jarak sentimeter, terus ke arah atas. Membuka juga dinding depan aorta dan memotong katup semilunaris, aorta. Lingkaran katup diukur dan daun katup dinilai. Pada daerah katup semilunaris aorta dapat ditemukan dua muara aa.Coronaria, kiri dan kanan. Untuk memeriksa keadaan a.koronaria sama sekali tidak boleh menggunakan sonde. Karena ini akan dapat mendorong thrombus yang mungkin terdapat. Pemeriksaan nadi jantung ini dilakukan dengan membuat irisan melintang sepanjang jalannya pembuluh darah A. Coronaria kiri berjalan di sisi depan septum dan a. Coronaria kanan keluar dari dinding pangkal aorta ke arah belakang. Pada penampang irisan diperhatikan tebal dinding arteri. Kedaan lumen serta kemungkinan terdapatnya thrombus. 3 Septum jantung dibelah untuk melihat kelainan otot, baik merupakan kelainan yang bersifat degeneratif maupun kelainan bawaan. Nilai pengukuran pada jantung normal orang dewasa adalah sebagai berikut; ukuran jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat. Berat sekitar 300 gram. Ukuran lingkaran katup serambi bilik kanan sekitar 11 sentimeter, yang kiri sekitar 9,5 sentimeter. Lingkaran katup pulmonal sekitar 7 sentimeter dan aorta sekitar 6,5 sentimeter. Tebal otot bilik kanan 3 sampai 5 milimeter sedangkan kiri sekitar 14 milimeter. 3 11. Aorta thoracalis

232

Pengguntingan

pada

dinding

belakang

aorta

thoracalis

dapat

memperlihatkan permukaan dalam aorta. Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur, ateroma atau pembentukan aneurisma. Kadangkadang pada aorta dapat ditemukan tanda-tanda kekerasan merupakan resapan darah atau luka. Pada kasus kematian bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari tempat tinggi. Bila korban mendarat dengan kedua kaki terlebih dahulu. Seringkali ditemukan robekan melintang pada aorta thoracalis. 12. Aorta abdominalis Bloc organ perut dan panggul diletakkan diatas meja potong dengan permukaan belakang menghadap ke atas. Aorta abdominalis digunting dinding belakangnya mulai dari tempat pemotongan aa.iliaca comunis kanan dan kiri. Perhatikan dinding aorta terhadap adanya penimbunan, pekapuran, atau atheroma. Perhatikan pula muara dari pembuluh nadi yang keluar dari aorta abdominalis ini, terutama muara aa.renalis kanan dan kiri dibuka sampai memasuki ginjal. Perhatikan apakah terdapat kelainan pada dinding pembuluh darah yang mungkin merupakan dasar dideritanya hipertensi renal bagi yang bersangkutan. 13. Anak ginjal (glandula suprarenalis) Anak ginjal kanan terletak dibagian mediokranial dari kutub atas ginjal kanan, tertutup oleh jaringan lemak, berada antara permukaan belakang hati dan permukaan bawah diafragma. Anak ginjal kemudian dibebaskan

233

dari jaringn sekitarnya dan diperiksa terhadap kemungkinan adanya kelainan ukuran, resapan darah dan sebagainya. Anak ginjal kiri terletak dibagian medio-kranial kiri kutub atas ginjal kiri, juga tertutup dalam jaringan lemak, terletak antara ekor kelenjar liur perut (pankreas) dan diafragma. Pada anak ginjal yang normal, pengguntingan anak ginjal akan memberikan penampang dengan bagian korteks dan medula yang tampak jelas. 14. Ginjal, ureter, dan kandung kencing Adanya trauma yang mengenai daerah ginjal seringkali menyebabkan resapan darah pada capsula. Dengan melakukan pengirisan di bagian lateral kapsula, ginjal dapat dilepaskan. Pada ginjal yang mengalami peradangan, simpai ginjal mungkin akan melekat erat dan sulit dilepaskan. Setelah simpai ginjal dilepaskan, lakukan terlebih dahulu pemeriksaan terhadap permukaan ginjal. Adakah kelainan berupa resapan darah, luka-luka ataupun kista-kista retensi. Pada penampang ginjal, perhatikan gambaran korteks dan medula spinalis. Juga perhatikan pelvis renis akan kemungkinan terdapatnya batu ginjal, tanda peradangan, nanah dan sebagainya. Ureter dibuka dengan meneruskan pembukaan pada pelvis renalis, terus mencapai vesika urinaria. Perhatikan kemungkinan terdapatnya batu, ukuran penampang, isi saluran serta keadaan mukosa.

234

Kandung kencing dibuka dengan jalan menggunting dinding depannya mengikuti bentuk huruf T. Perhatikan isi serta selaput lendirnya. 15. Hati dan kandung empedu Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati, yang pada keadaan biasa menunjukkan permukaan yang rata dan licin, berwarna merah-coklat. Kadangkala pada permukaan hati dapat ditemukan kelainan berupa jaringan ikat, kista kecil, permukaan yan berbenjol-benjol, bahkan abses. Pada perabaan, hati normal memberikan perabaan yang kenyal. Tepi hati biasanya tajam. Hati yang normal menunjukkan penampang yang jelas gambaran hatinya. Pada hati yang telah lama mengalami perbendungan dapat ditemukan gambaran hati pula. Kandung empedu diperiksa ukurannya serta diraba akan kemungkinan terdapatnya batu empedu. Untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu, untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu, dapat dilakukan pemeriksaan dengan jalan menekan kandung empedu ini sambil memperhatikan muaranya pada duodenum (papilla vateri). Bila tampak cairan coklat-hijau keluar dari muara tersebut, ini menandakan saluran empedu tidak tersumbat. Limpa dan kelenjar getah bening Limpa dilepaskan dari sekitarnya. Limpa yang normal menunjukkan permukaan yan berkeriput, berwarna ungu dengan perabaan lunak kenyal. Buatlah irisan penampang limpa, limpa normal mempunyai gambaran limpa yang jelas, berwarna coklat-merah dan bila dikikis dengan

235

punggung pisau, akan ikut jaringan penampang limpa. Jangan lupa mencatat ukuran dan berat limpa. Catat pula bila ditemukan kelenjar getah bening regional yang membesar. 16. Lambung, usus halus dan usus besar Lambung dibuka dengan gunting curvatura mayor. Perhatikan isi lambung dan simpan dalam botol atau kantong plastik bersih bila isi lambung ingin diperlukan untuk pemeriksaan toksikologik atau pemeriksaan laboratorik lainnya. Selaput lendir lambung diperiksa terhadap kemungkinan adanya erosi, ulserasi, perdarahan/resapan darah. Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan terdapatnya kelainan bersifat ulseratif, polip dan lain-lain. 17. Kelenjar liur perut (pancreas) Pertama-tama lepaskan lebih dahulu kelenjar liur perut ini dari sekitarnya. Kelenjar liur perut yang normal menunjukkan waran kelabu agak kekuningan, dengan permukaan yang berbelah-belah dan perabaan yang kenyal. Perhatikan ukuran dan beratnya. Cata bila ada kelainan. 18. Otak besar, otak kecil, dan batang otak. Perhatikan permukaan luar dari otak dan cacat kelainan yang ditemukan. Adakah perdarahan subdural, perdarahan subarakhnoid, kontusio jaringan otak atau kadangkala bahkan sampai terjadi laserasi.

236

Gambar 7. Irisan otak besar Pada oedema cerebri, girus otak akan tampak mendasar dan sulkus tampak menyempit. Perhatikan pula klemungkinan terdapatnya tanda penekanan yang menyebabkan sebagian permukaan otak menjadi datar. Pada daerah ventrak otak, perhatikan keadaan sirkulus Willisi. Nilai keadaan pembuluh darah pada sirkulus, adakah penebalan dinding akibat kelainan ateroma, adakah penipisan dinding akibat aneurysma, adakah perdarahan. Bila terdapat perdarahan hebat, usahakn agar dapat ditemukan sumber perdarahan tersebut. Perhatikan pula bentuk serebelum. Pada keadaan peningkatan tekanan intrakranial akibat edema serebri misalnya, dapat terjadi herniasi serebllum ke arah foramen magnum, sehingga bagian bawah serebellum tampak menonjol. Pisahkan otak kecil dan otak besar dengan melakukan pemotongan pada pedunculus serebri kanan dan kiri. Otak kecil ini kemudian dipisahkan 237

juga dari batang otak dengan melakukan pemotongan pada pedunculus serebelli. Otak besar diletakkan dengan bagian ventral menghadap pemeriksa. Lakukan pemotongan otak besar secara koronal/melintang, perhatikan penampang irisan. Tempa pemotongan haruslah sedemikian rupa sehingga struktur penting dalam otak besar dapat diperiksa dengan teliti. Kelainan yang dapat ditemukan pada penampang otak besar antara lain adalah : perdarahan pada korteks akibat contusio cerebri, perdarahan berbintik pad substansi putih akibat emboli, keracunan barbiturat serta keadaan lain yang menimbulkan hipoksia jaringan otak. Infark jaringan otak, baik yang bilateral maupun yang unilateral akibat gangguan perdarahan oleh arteri, abses otak, perdarahn intracerebral akibat pecahnya a.lenticulostriata dan sebagainya. Otak kecil diperiksa penampangnya dengan membuat sautu irisan melintang, catatlah kelainan perdarahan, perlunakan dan sebagainya yang mungkin ditemukan. Batang otak diiris melintang mulai daerah pons, medulla oblongata sampai ke bagian proksimal medulla spinalis. Perhatikan kemungkinan adanya perdarahan. Adanya perdarahan di daerah batang otak biasanya mematikan. 19. Alat kelamin dalam (genitalia interna) Pada mayat laki-laki, testis dapat dikeluarkan dari scrotum melalui rongga perut. Jadi tidak dibuat irisan baru pada scrotum. Perhatikan ukuran,

238

konsistensinya serta kemungkinan ada resapan darah. perhatikan pula bentuk dan ukuran epididimis. Kelenjar prostat diperhatikan ukuran dan konsistensinya. Pada mayat wanita, perhatikan bentuk serta ukuran kedua indung telur, saluran telur dan uterus sendiri. Pada uterus diperhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan, resapan darah ataupun lukan akibat tindakan abortus provokatus. Uterus dibuka dengan membuat irisan berbentuk huruf T pada dinding depan melalui saluran serviks serta muara kedua saluran telus pada fundus uteri. Perhatikan keadaan selaput lendir uterus, tebal dinding, isi rongga rahim serta kemungkinan terdapatnya kelainan lain. 20. Timbang dan catatlah berat masing-masing alat/organ Sebelum mengembalikan organ-organ (yang telah diperiksa secara makroskopis) kembali ke dalam tubuh mayat, pertimbangkan terlebih dahulu kemungkinanan diperlukannya organ guna pemeriksaan

histopatologik. Potongan jaringan untuk pemeriksaan histopatologik diambil dengan dengan tebal maksimal 5 mm. Usahakan mengambil bagian organ di daerah perbatasan antara bagian yang normal dan yang mengalami kelainan. Potongan ini kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi cairan fiksasi yang dapat merupakan larutan formalin 10% (=larutan

239

formaldehida 4%) atau alkohol 90-96%, dengan jumlah cairan fiksasi sekitar 20-30 kali volume potongan jaringan yanng diambil. Jumlah organ yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi disesuaikan dengan kasus yang dihadapi serta ketentuan laboratorium pemeriksa. Sedapat mungkin setiap jenis organ ditaruh dalam botol tersendiri. Bila diperlukan pengawetan, agar digunakan alkohol 90%. Pada pengiriman bahan untuk pemeriksaan toksikologik, contoh bahan pengawet agar juga turut dikirimkan di samping keterangan klinik dan hasil sementera autopsi atas kasus tersebut. T. Perawatan jenazah setelah Autopsi Setelah autopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan kembali ke dalam organ tubuh. Lidah dikembalikan ke dalamrongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan ke dalam rongga tengkorak.Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka rongga dada.3 Jahitlah kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat, mulai dari bawah sampai ke daerah simfisis.Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan menjahit otot temporalis, baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi.Bersihkanlah tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali kepada pihak keluarga.3

240

BAB III KESIMPULAN

Dari makalah ini dapat ditarik beberapa kesimpulan: 1. Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian 2. Berdasarkan tujuannya dikenal tiga jenis Autopsi, yaitu Autopsi Anatomi, Autopsi Klinik dan Autopsi Forensik/Autopsi Mediko-Legal. 3. Terdapat empat teknik dala autopsi yaitu teknik Virchow, teknik Rokitansky, teknik Letulle, teknik Ghon. 4. autopsi forensik tidak diperlukan izin keluarga seperti pada autopsi klinik atau anatomik. Bagi siapa saja yang menghalang-halangi pelaksanaan autopsi, yaitu dihukum berdasarkan Pasal 222 KUHP.

241

DAFTAR PUSTAKA

1. Sampurna B. Peran Ilmu Forensik dalam kasus-kasus Asuransi. 2008. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences. 2008; 1 (1):17-20 2. Budiyanto, Arif. Dkk. Ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 1997. Hal:1-8 3. Staf Kedokteran forensik FK UI. Teknik autopsi forensik. cetakan ke 3. Jakarta: Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran UI. 1996. Hal:1-54 4. Apuranto A, Hoeiyanto. Buku ajar ilmu kedokteran forensik & medikolegal edisi ketiga. Surabaya. Bagian ilmu kedokteran forensik &medikolegal fakultas kedokteran universitas airlangga. 2007. Hal: 208-252 5. Dahlan S. Ilmu kedokteran forensik pedoman bagi dokter dan penegak hukum. cetakan ke 6. badan penerbit universitas diponegoro semarang. 2008. Hal 177-183 6. Hasymi MA, Ayunazhari I, Nanda FD, Sari DO, Suminarti. Minds Forensic 1th edition. Banjarmasin: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Lambungmangkurat. 2012. Hal: 146-147

242

TOKSIKOLOGI FORENSIK

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan, dapat dibagi dalam dua

kelompok, yang pertama bertujuan untuk mencari penyebab kematian, misalnya kematian akibat keracunan morfin, sianida, karbon monoksida, keracunan insektisida, dan lain sebagainya, dan kelompok yang kedua dimana sebenarnya 243

yang terbanyak kasusnya, akan tetapi belum banyak disadari adalah untuk mengetahui mengapa suatu peristiwa, misalnya peristiwa pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan pesawat udara dan perkosaan dapat terjadi. Dengan demikian, tujuan yang kedua bermaksud untuk membuat suatu rekaan rekonstruksi atas peristiwa yang terjadi. Bila pada tujuan pertama dari pemeriksaan atas diri korban diharapkan dapat ditemukan reaksi atau obat dalam dosis yang mematikan, maka tidaklah demikian pada yang kedua, dimana disini yang perlu dibuktikan atau dicari korelasinya adalah sampai sejauh mana reaksi obat tersebut berperan dalam memungkinkan terjadinya berbagai peristiwa tadi. Dalam ilmu kedokteran kehakiman, keracunan dikenal sebagai salah satu penyebab kematian yang cukup banyak sehingga keberadaannya tidak dapat diabaikan. Jumlah maupun jenis reaksi pun semakin bertambah, apalagi dengan makin banyaknya macam-macam zat pembasmi hama. Selain karena faktor murni kecelakaan, racun yang semakin banyak jumlah dan jenisnya ini dapat disalahgunakan untuk tindakan-tindakan kriminal. Walaupun tindakan meracuni seseorang itu dapat dikenakan hukuman, tapi baik di dalam kitab UndangUndang Hukum Pidana maupun di dalam Hukum Acara Pidana (RIB) tidak dijelaskan batasan dari keracunan tersebut, sehingga banyak dipakai batasanbatasan racun menurut beberapa ahli, untuk tindakan kriminal ini, adanya racun harus dibuktikan demi tegaknya hukum. Arsenic, As, banyak digunakan sebagai bahan campuran obat pembasmi tikus (rodentisida). Arsen juga banyak digunakan dalam masyarakat sebagai hasil

244

industri, misalnya sebagai bahan pengawet, bahan cat, insektisida, herbisida, campuran dalam pupuk, maupun mencemari lingkungan masyarakat karena dampak dari industri. Arsen juga digunakan dalam bidang pengobatan. Dalam hal ini digunakan arsen jenis tertentu dan dalam dosis tertentu pula, seperti neosalveran untuk pengobatan penyakit sifilis, frambusia (sampar / patek), sebagai salah satu campuran dalam tonikum, dan obat-obat lainnya seperti solarson, optarson, arsentriferrol, liquor arsenicallis, dan lain-lain. Senyawaan arsen lainnya ialah Arsine, AsH3 (arsenicum lekas uap), Arsen Trioxide (As2O3), Arsen putih, As2S2, As2S3. Karena sifat beracunnya, mudahnya didapat serta mudahnya digunakan oleh masyarakat, maka wajarlah jika ada yang menyalahgunakannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan hukum, misalnya pada kasus pembunuhan, yang bisa dilakukan secara langsung maupun perlahan-lahan dengan gejala yang tidak jelas. Dalam menghadapi kasus yang demikian, maka peranan kedokteran kehakiman sangatlah penting dalam menentukan apakah korban benar-benar meninggal karena arsen, atau sebab lain. Selain dengan pemeriksaan otopsi, dokter juga bekerja sama dengan bagian toksikologi dalam menentukan adanya arsen dan jumlahnya yang ada pada korban. Pada orang-orang sehat, juga bisa ditemukan arsen, misalnya pada orang yang minum tonikum yang mengandung arsen. Oleh karena itu dalam menentukan sebab kematian karena arsen, selain ditemukannya arsen dalam jaringan atau organ, juga harus dapat ditentukan kuantitas dari arsen yang ada dalam jaringan atau organ tersebut. Dan yang tak kalah pentingnya, walaupun mungkin tidak begitu banyak terjadi, keracunan arsen

245

dapat berupa kontaminasi lingkungan dari zat-zat atau benda hasilan atau yang mengandung arsen. Makalah ini bertujuan membahas berbagai hal mengenai toksikologi forensik ataupun toksikologi secara umum meliputi: pengertian, arti penting, macam-macam pemeriksaan racun dan analisa toksikologi. Hal-hal demikian diperlukan untuk memperoleh pemahaman pemahaman dalam penanganan dan pemeriksaan toksikologi yang komprehensif.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Racun Pengertian racun Menurut Taylor, racun adalah suatu zat yang dalam jumlah relatif kecil (bukan minimal), yang jika masuk atau mengenai tubuh seseorang akan menyebabkan timbulnya reaksi kimiawi (efek kimia) yang besar yang dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian. Menurut Gradwohl racun adalah substansi yang tanpa kekuatan mekanis, yang bila mengenai tubuh seorang (atau masuk), akan menyebabkan gangguan fungsi tubuh, kerugian, bahkan kematian.

246

Sehingga jika dua definisi di atas digabungkan, racun adalah substansi kimia, yang dalam jumlah relatif kecil, tetapi dengan dosis toksis, bila masuk atau mengenai tubuh, tanpa kekuatan mekanis, tetapi hanya dengan kekuatan daya kimianya, akan menimbulkan efek yang besar, yang dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian.

Jalan masuk Racun dapat masuk ke dalam tubuh seseorang melalui beberapa cara: 1. Melalui mulut (peroral / ingesti). 2. Melalui saluran pernafasan (inhalasi) 3. Melalui suntikan (parenteral, injeksi) 4. Melalui kulit yang sehat / intak atau kulit yang sakit. 5. Melalui dubur atau vagina (perektal atau pervaginal) (Idris, 1985)

Klasifikasi racun Racun dapat digolongkan sebagai berikut: I. Pestisida A. Insektisida 1. Organoklorin a. Derivat Chlorinethane: DDT b. Derivat Cyclodiene : Thiodane, Endrim, Dieldrine, Chlordan,

Aldrin, Heptachlor, toxapene. c. Derivat Hexachlorcyclohexan : Lindan, myrex.

247

2. Organofosfat: DFP, TEPP, Parathion, Diazinon, Fenthoin, Malathion. 3. Carbamat: Carbaryl, Aldicarb, Propaxur, Mobam. B. Herbisida 1. Chloropheoxy 2. Ikatan Dinitrophenal 3. Ikatan Karbonat: Prepham, Barbave 4. Ikatan Urea 5. Ikatan Triasine: Atrazine 6. Amide: Propanil 7. Bipyridye C. Fungisida 1. Caplan 2. Felpet 3. Pentachlorphenal 4. Hexachlorphenal D. Rodentisida 1. Warfarin 2. Red Squill 3. Norbomide 4. Sodium Fluoroacetate dan Fluoroacetamide 5. Aepha Naphthyl Thiourea 6. Strychnine 7. Pyriminil

248

8. Anorganik: Zinc Phosfat Thallium Sulfat Phosfor Barium Carbamat Al. Phosfat Arsen Trioxyde II. Bahan Industri III. Bahan untuk rumah tangga IV. Bahan obat-obatan V. Racun (tanaman dan hewan)

Berdasarkan sumber dan tempat dimana racun-racun tersebut mudah didapat, maka racun dapat dibagi menjadi lima golongan, yaitu: 1. Racun-racun yang banyak terdapat dalam rumah tangga. Misalnya: desinfektan, deterjen, insektisida, dan sebagainya. 2. Racun-racun yang banyak digunakan dalam lapangan pertanian, perkebunan. Misalnya: pestisida, herbisida. 3. Racun-racun yang banyak dipakai dalam dunia kedokteran / pengobatan. Misalnya: sedatif hipnotis, analgetika, obat penenang, anti depresan, dsb. 4. Racun-racun yang banyak dipakai dalam industri / laboratorium. Misalnya: asam dan basa kuat, logam berat, dsb. 5. Racun-racun yang terdapat di alam bebas.

249

Misalnya: opium ganja, racun singkong, racun jamur serta binatang.

Mekanisme kerja racun 1. Racun yang bekerja secara setempat (lokal) Misalnya: Racun bersifat korosif: lisol, asam dan basa kuat. Racun bersifat iritan: arsen, HgCl2. Racun bersifat anastetik: kokain, asam karbol.

Racun-racun yang bekerja secara setempat ini, biasanya akan menimbulkan sensasi nyeri yang hebat, disertai dengan peradangan, bahkan kematian yang dapat disebabkan oleh syok akibat nyerinya tersebut atau karena peradangan sebagai kelanjutan dari perforasi yang terjadi pada saluran pencernaan. 2. Racun yang bekerja secara umum (sistemik) Walaupun kerjanya secara sistemik, racun-racun dalam golongan ini biasanya memiliki akibat / afinitas pada salah satu sistem atau organ tubuh yang lebih besar bila dibandingkan dengan sistem atau organ tubuh lainnya. Misalnya: Narkotik, barbiturate, dan alkohol terutama berpengaruh pada susunan syaraf pusat. Digitalis, asam oksalat terutama berpengaruh terhadap jantung. Strychine terutama berpengaruh terhadap sumsum tulang belakang.

250

CO, dan HCN terutama berpengaruh terhadap darah dan enzim pernafasan. Cantharides dan HgCl2 terutama berpengaruh terhadap ginjal. Insektisida golongan hidrokarbon yang di-chlor-kan dan phosphorus terutama berpengaruh terhadap hati. 3. Racun yang bekerja secara setempat dan secara umum Misalnya: Asam oksalat Asam karbol Selain menimbulkan rasa nyeri (efek lokal) juga akan menimbulkan depresi pada susunan syaraf pusat (efek sistemik). Hal ini dimungkinkan karena sebagian dari asam karbol tersebut akan diserap dan berpengaruh terhadap otak (Nawawi, 1989). Arsen Garam Pb

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja racun 1. Cara pemberian Setiap racun baru akan menimbulkan efek yang maksimal pada tubuh jika cara pemberiannya tepat. Misalnya jika racun-racun yang berbentuk gas tentu akan memberikan efek maksimal bila masuknya ke dalam tubuh secara inhalasi. Jika racun tersebut masuk ke dalam tubuh secara ingesti tentu tidak akan menimbulkan akibat yang sama hebatnya walaupun dosis yang masuk ke dalam tubuh sama besarnya.

251

Berdasarkan cara pemberian, maka umumnya racun akan paling cepat bekerja pada tubuh jika masuk secara inhalasi, kemudian secara injeksi (i.v, i.m, dan s.c), ingesti, absorbsi melalui mukosa, dan yang paling lambat jika racun tersebut masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang sehat. 2. Keadaan tubuh a. Umur Pada umumnya anak-anak dan orang tua lebih sensitif terhadap racun bila dibandingkan dengan orang dewasa. Tetapi pada beberapa jenis racun seperti barbiturate dan belladonna, justru anak-anak akan lebih tahan. b. Kesehatan Pada orang-orang yang menderita penyakit hati atau penyakit ginjal, biasanya akan lebih mudah keracunan bila dibandingkan dengan orang sehat, walaupun racun yang masuk ke dalam tubuhnya belum mencapai dosis toksis. Hal ini dapat dimengerti karena pada orang-orang tersebut, proses detoksikasi tidak berjalan dengan baik, demikian pula halnya dengan ekskresinya. Pada mereka yang menderita penyakit yang disertai dengan peningkatan suhu atau penyakit pada saluran pencernaan, maka penyerapan racun pada umumnya jelek, sehingga jika pada penderita tersebut terjadi kematian, kita tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa kematian penderita disebabkan oleh racun. Dan sebaliknya pula kita tidak boleh tergesa-gesa menentukan sebab kematian seseorang karena penyakit tanpa melakukan penelitian yang teliti, misalnya pada kasus keracunan arsen (tipe gastrointestinal) dimana disini gejala keracunannya mirip dengan gejala gastroenteritis yang lumrah dijumpai.

252

c. Kebiasaan Faktor ini berpengaruh dalam hal besarnya dosis racun yang dapat menimbulkan gejala-gejala keracunan atau kematian, yaitu karena terjadinya toleransi. Tetapi perlu diingat bahwa toleransi itu tidak selamanya menetap. Menurunnya toleransi sering terjadi misalnya pada pencandu narkotik, yang dalam beberapa waktu tidak menggunakan narkotik lagi. Menurunnya toleransi inilah yang dapat menerangkan mengapa pada para pencandu tersebut bisa terjadi kematian, walaupun dosis yang digunakan sama besarnya. d. Hipersensitif (alergi idiosinkrasi) Banyak preparat seperti vitamin B1, penisilin, streptomisin dan preparatpreparat yang mengandung yodium menyebabkan kematian, karena sikorban sangat rentan terhadap preparat-preparat tersebut. Dari segi ilmu kehakiman, keadaan tersebut tidak boleh dilupakan, kita harus menentukan apakah kematian korban memang benar disebabkan oleh karena hipersensitif dan harus ditentukan pula apakah pemberian preparat-preparat mempunyai indikasi. Ada tidaknya indikasi pemberi preparat tersebut dapat mempengaruhi berat-ringannya hukuman yang akan dikenakan pada pemberi preparat tersebut.

3. Racunnya sendiri a. Dosis Besar-kecilnya dosis racun akan menentukan berat-ringannya akibat yang ditimbulkan. Dalam hal ini tidak boleh dilupakan akan adanya faktor toleransi,

253

dan intoleransi individual. Pada intoleransi, gejala keracunan akan tampak walaupun racun yang masuk ke dalam tubuh belum mencapai level toksik. Keadaan intoleransi tersebut dapat bersifat bawaan / kongenital atau intoleransi yang didapat setelah seseorang menderita penyakit yang mengakibatkan gangguan pada organ yang berfungsi melakukan detoksifikasi dan ekskresi. b. Konsentrasi

Untuk racun-racun yang kerjanya dalam tubuh secara lokal misalnya zat-zat korosif, konsentrasi lebih penting bila dibandingkan dengan dosis total. Keadaan tersebut berbeda dengan racun yang bekerja secara sistemik, dimana dalam hal ini dosislah yang berperan dalam menentukan berat-ringannya akibat yang ditimbulkan oleh racun tersebut. c. Bentuk dan kombinasi fisik

Racun yang berbentuk cair tentunya akan lebih cepat menimbulkan efek bila dibandingkan dengan yang berbentuk padat. Seseorang yang menelan racun dalam keadaan lambung kosong, tentu akan lebih cepat keracunan bila dibandingkan dengan orang yang menelan racun dalam keadaan lambungnya berisi makanan. d. Adiksi dan sinergisme

Barbiturate, misalnya jika diberikan bersama-sama dengan alkohol, morfin, atau CO, dapat menyebabkan kematian, walaupun dosis barbiturate yang diberikan jauh di bawah dosis letal. Dari segi hukum kedokteran kehakiman, kemungkinan-kemungkinan terjadinya hal seperti itu tidak boleh dilupakan, terutama jika menghadapi kasus dimana kadar racun yang ditemukan rendah sekali, dan dalam hal demikian harus dicari kemungkinan adanya racun lain yang

254

mempunyai sifat aditif (sinergitik dengan racun yang ditemukan), sebelum kita tiba pada kesimpulan bahwa kematian korban disebabkan karena reaksi anafilaksi yang fatal atau karena adanya intoleransi. e. Susunan kimia

Ada beberapa zat yang jika diberikan dalam susunan kimia tertentu tidak akan menimbulkan gejala keracunan, tetapi bila diberikan secara tersendiri terjadi hal yang sebaliknya. f. Antagonisme

Kadang-kadang dijumpai kasus dimana seseorang memakan lebih dari satu macam racun, tetapi tidak mengakibatkan apa-apa, oleh karena reaksi-reaksi tersebut saling menetralisir satu sama lain. Dalam klinik adanya sifat antagonis ini dimanfaatkan untuk pengobatan, misalnya nalorfin dan kaloxone yang dipakai untuk mengatasi depresi pernafasan dan oedema paru-paru yang terjadi pada keracunan akut obat-obatan golongan narkotik. (Idris, 1985)

Kriteria diagnosis kasus keracunan 1. Anamnesa yang menyatakan bahwa korban benar-benar kontak dengan racun (secara injeksi, inhalasi, ingesti, absorbsi, melalui kulit atau mukosa). Pada umumnya anamnesa tidak dapat dijadikan pegangan sepenuhnya sebagai kriteria diagnostik, misalnya pada kasus bunuh diri keluarga korban tentunya tidak akan memberikan keterangan yang benar, bahkan

255

malah cenderung untuk menyembunyikannya, karena kejadian tersebut merupakan aib bagi pihak keluarga korban. 2. Tanda dan gejala-gejala yang sesuai dengan tanda / gejala keracunan zat yang diduga. Adanya tanda / gejala klinis biasanya hanya terdapat pada kasus yang bersifat darurat dan pada prakteknya lebih sering kita terima kasus-kasus tanpa disertai dengan data-data klinis tentang kemungkinan kematian karena kematian sehingga harus dipikirkan terutama pada kasus yang mati mendadak, non traumatik yang sebelumnya dalam keadaan sehat. 3. Secara analisa kimia dapat dibuktikan adanya racun di dalam sisa makanan / obat / zat yang masuk ke dalam tubuh korban. Kita selamanya tidak boleh percaya bahwa sisa sewaktu zat yang digunakan korban itu adalah racun (walaupun ada etiketnya) sebelum dapat dibuktikan secara analisa kimia, kemungkinan-kemungkinan seperti tertukar atau disembunyikannya barang bukti, atau si korban menelan semua racun kriteria ini tentunya tidak dapat dipakai. 4. Ditemukannya kelainan-kelainan pada tubuh korban, baik secara makroskopik atau mikroskopik yang sesuai dengan kelainan yang diakibatkan oleh racun yang bersangkutan. Bedah mayat (otopsi) mutlak harus dilakukan pada setiap kasus keracunan, selain untuk menentukan jenis-jenis racun penyebab kematian, juga penting untuk menyingkirkan kemungkinan lain sebagai penyebab kematian. Otopsi menjadi lebih penting pada kasus yang telah mendapat

256

perawatan sebelumnya, dimana pada kasus-kasus seperti ini kita tidak akan menemukan racun atau metabolitnya, tetapi yang dapat ditemukan adalah kelainan-kelainan pada organ yang bersangkutan. 5. Secara analisa kimia dapat ditemukan adanya racun atau metabolitnya di dalam tubuh / jaringan / cairan tubuh korban secara sistemik. Pemeriksaan toksikologi (analisa kimia) mutlak harus dilakukan. Tanpa pemeriksaan tersebut, visum et repertum yang dibuat dapat dikatakan tidak memiliki arti dalam hal penentuan sebab kematian. Sehubungan dengan pemeriksaan toksikologis ini, kita tidak boleh terpaku pada dosis letal sesuatu zat, mengingat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kerja racun. Penentuan ada tidaknya racun harus dibuktikan secara sistematik, diagnosa kematian karena racun tidak dapat ditegakkan misalnya hanya berdasar pada ditemukannya racun dalam lambung korban. Dari kelima kriteria diagnostik dalam menentukan sebab kematian pada kasus-kasus keracunan seperti tersebut di atas, maka kriteria keempat dan kelima merupakan kriteria yang terpenting dan tidak boleh dilupakan.

Analitikal Toksikologi Analitikal toksikologi merupakan pemeriksaan laboratorium berfungsi untuk: 1. Analisa tentang adanya racun. 2. Analisa tentang adanya logam berat yang berbahaya. 3. Analisa tentang adanya asam sianida, fosfor dan arsen. yang

257

4. Analisa tentang adanya pestisida baik golongan organochlorin maupun organophospat. 5. Analisa tentang adanya obat-obatan misalnya: transquilizer, barbiturate, narkotika, ganja, dan lain sebagainya. Analitikal toksikologi meliputi isolasi, deteksi, dan penentuan jumlah zat yang bukan merupakan komponen normal dalam material biologis yang didapatkan dalam otopsi. Guna toksikologi adalah menolong menentukan sebab kematian. Kadang-kadang material didapatkan dari pasien yang masih hidup, misalnya darah, rambut, potongan kuku atau jaringan hasil biopsi. Hasil toksikologi disini membantu dalam menentukan kasus-kasus yang diduga keracunan. Pada pengiriman material untuk analitikal toksikologi, diharapkan dokter mengirimkan material sebanyak mungkin, dengan demikian akan memudahkan pemeriksaan dan hasilnya akan lebih sempurna. Jaringan tubuh masing-masing memiliki afinitas yang berbeda terhadap racun-racun tertentu, misalnya:

Jaringan otak adalah material yang paling baik untuk pemeriksaan racunracun organis, baik yang mudah menguap maupun yang tidak mudah menguap.

Hepar dan ginjal adalah material yang paling baik untuk menentukan keracunan logam berat yang akut.

258

Darah dan urin adalah material yang paling baik untuk analisa zat organik non volatile, misalnya obat sulfa, barbiturate, salisilat dan morfin.

Darah, tulang, kuku, dan rambut merupakan material yang baik untuk pemeriksaan keracunan logam yang bersifat kronis. Untuk racun yang efeknya sistemik, harus dapat ditemukan dalam darah

atau organ parenkim ataupun urin. Bila hanya ditemukan dalam lambung saja maka belum cukup untuk menentukan keracunan zat tersebut. Penemuan racunracun yang efeknya sistemik dalam lambung hanyalah merupakan penuntun bagi seorang analis toksikologi untuk memeriksa darah, organ, dan urin ke arah racun yang dijumpai dalam lambung tadi. Untuk racun-racun yang efeknya lokal, maka penentuan dalam lambung sudah cukup untuk dapat dibuat diagnosa.

B. Arsen Sejarah Sebenarnya arsen sudah dikenal sejak dulu dari sulfide-sulfidenya, dan ahli kimia dari Yunani mendapatkan arsen putih dengan membakar salah satu diantaranya. Pada abad ke XVI, buruh-buruh tambang dariSaxony menjadi

kebingungan dan tak menentu ketika mereka mencium bau smaltite, Co As2, karena zat tersebut mengeluarkan asap arsen yang beracun, dan zat tersebut tak menghasilkan perak walaupun zat tersebut nampak seperti perak putih metalik.

259

Para petambang tadi mengira bahwa terdapatkobold atau goblin dalam biji tambang tersebut, yang menyebabkan kebingungan yang tak layak. Dan hal ini merupakan asal kata Cobalt. Pengertian tentang senyawa arsen sudah dimulai sejak tahun 1733, ketika Brandt memperlihatkan bahwa arsen putih merupakan oksidasi dari elemen arsen. Pada tahun 1956, dalam De Re Metallica, Agricolas menggambarkan efek dari arsenical-cobalt, yang saat itu disebut Cadmia. Dimana dikatakan zat tersebut dapat merusak kulit tangan pekerja, dan dia kemudian mengharuskan pemakaian sarung tangan panjang pada pekerja-pekerja yang menanganinya. Warangan, yang merupakan salah satu bentuk arsen in organik yang merupakan bentuk logam berat yang sangat beracun yang banyak digunakan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki wesi aji. Sebagai salah satu tradisi, setiap kali mereka menyucikan wesi aji, mereka mengoleskan warangan padanya. Senyawa arsen in organik yang melebihi golongan racun lainnya, telah digunakan untuk tujuan-tujuan pembunuhan. Pelaku pembunuhan memberi racun pada korban dalam suatu dosis fatal. Pada sejarah pembunuhan dengan menggunakan arsen sering terjadi pada pembunuhan masal, dimana sejumlah orang diracuni oleh seorang individu. Pada masa lalu, karena arsen ini (yaitu arsen trioxide) memiliki aroma yang kurang mencolok, maka akan memudahkannya untuk disembunyikan ke dalam makanan atau minuman dengan tujuan untuk melakukan sesuatu tindak kejahatan yang tersembunyi.

260

Dalam beberapa perihal pembunuhan, preparat yang mengandung senyawa arsen ada yang dimasukkan ke dalam anus, uretra, ataupun vagina. Kadang terjadi dimana preparat arsen dimasukkan ke dalam vagina dengan maksud pengguguran, tetapi malah berakibat kematian. Dalam Office of The Chief Medical Examiner (Kantor Pemeriksaan Obat), pembunuhan dengan senyawa arsen termasuk jarang terjadi. Diantara tahun 1918-1951 tercatat 13 kali kejadian. Peracunan yang dilakukan dengan tujuan bunuh diri, terjadi lebih sering, dan biasanya akibat dari racun tikus atau Paris-Green. Dia antara tahun 19181951, kematian karena bunuh diri dengan senyawa arsen inorganic tercatat sejumlah 145 orang. Masalah peracunan yang tak disengaja dan hanya secara kebetulan akibat dari arsen inorganik agak umum terjadi. Di New York pada interval antara tahun 1918-1951 ada 114 kasus fatal dari tipe ini. Namun sekarang cara pembunuhan dengan arsen seperti itu sudah tidak begitu terkenal. Beberapa pengadilan di Amerika Serikat bahkan memakai apoteker / ahli obat untuk mencatat semua penjualan yang mengandung senyawa arsen.

Kegunaan Pada suatu saat logam-logam berat menempati tempat-tempat yang menonjol dalam pengobatan. Disamping juga merupakan penyebab-penyebab keracunan yang penting. Kecuali emas, pemakaian pengobatan dari logam-logam

261

telah dikemukan dimana-dimana. Arsen sudah diketahui sebagai bahan untuk pengobatan oleh orang-orang Yunani dan Roma zaman dulu. Diantaranya digunakan sebagai parasitisida untuk protozoa, misalnya trypanosomiasis, spirochaeta, yaros, demam kambuhan, amoubiasis, vaginitis trichomonal; dan arsen terutama digunakan untuk mengobati filariasis pada anjing. Memang dasar-dasar dari banyak konsep-konsep modern tentang kemoterapi berasal dari kerja awal Ehrlich dengan arsen-arsen organic. Derivatederivat arsen yang terkenal ialah salversan neoarsphenanime (mapharsan, arsenoxide). Bagaimanapun sekarang medical interest terhadap logam-logam berat telah menurun tajam, oleh karena penggantian dengan obat-obat antimikrobial alam dan sintetik yang mujarab dan aman, serta untuk ukuran kesehatan masyarakat dan higiene pencegahan dapat mengatasi masalah keracunan dari pemakaian industri-industri mereka. Namun perhatian lingkungan, telah turut membantu untuk suatu kejutan dari penelitian yang aktif dan berkelanjutan, dan sebagai literatur dalam toksikologi logam berat. Ditemukannya penisilin menyisihkan arsen sebagai obat anti lues, dan juga obat-obat baru lain yang hampir sama halnya dalam menurunkan penggunaan senyawaan arsen organik yang lain. Pada pengobatan manusia sekarang, arsen-arsen yang masih dipakai hanya untuk pengobatan beberapa penyakit tropis. Terutama masih dipakai pada penyakit-penyakit hewan.

262

Untuk masa-masa mendatang, di Amerika Serikat dan juga di negaranegara lain, imbas dari arsen pada kesehatan, akan lebih banyak yang berasal dari industri dan lingkungan daripada yang berasal dari pemakaian obat-obatan. Tinjauan yang menarik dari segi biologis toksikologi dan lingkungan tentang arsen telah ditulis antara lain: - Valce dan Dialoni - Buchanan - Schraeder - Frost - Lisella & Co. Workers 1972 Salah satu campuran yang paling penting adalah arsen triokside atau arsenious okside, As2O3, dengan kata lain arsen putih yang banyak digunakan sebagai bahan utama racun tikus dan kadang-kadang dikelirukan dengan asam arsenium. Ini terjadi dalam bentuk bubuk putih atau kristal oktahedral yang tidak mempunyai rasa. Arsenic trioxide beracun dan ditemukan pada beberapa pemberantasan tikus. Beberapa obat yang sering digunakan seperti cairan acidi arsenasi dan Fowlers solution mengandung arsen trioxide. Dosis letal (yang mematikan) dari keracunan arsenic tergantung pada senyawaannya. Keracunan fatal oleh arsen trioxide adalah 0,2 0,3 gram bagi orang dewasa. Campuran arsen yang beracun dalam bentuk lain yaitu trichloride, triyodide, sodium arsenate, pada Pearsons solution, Scheeles green atau Copper arsenite, Paris green, Realgar, atau arsenic sulfide, Donovans solution, (masing1960 1962 1966 1967

263

masing 1 % merkuri yodide dan arsenic yodide), Clemens solution (potassium arsenat pada bromidi) dan pigmen-pigmen yang serupa Brunwick green, Vienna merah dan mineral biru dimana terdapat sejumlah arsen dalam bentuk lain. Arsen dalam beberapa campuran arsen organic lain juga toksis. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa penggunaan arsen dalam pengobatan sudah sangat jarang, hanya terbatas pada hewan. Di Indonesia, terutama pada masa pembangunan ini arsen banyak digunakan untuk / pada pabrik-pabrik, alat-alat kesenian, pertanian, pertanian dan perkebunan yang kadang-kadang menyebabkan keracunan, misalnya: 1. Arsenicus acid / white arsenic

Bentuk kristal putih transparan, ada yang afogne seperti enamel, rasa sedikit pahit.

Banyak dipakai untuk: pada peternakan untuk membersihkan bulubulu domba (campuran bentuk sulfur atau cairan ter), racun tikus.

2. Persenyawaan Na dan K, liquor arsenicals (Fowlers sol)

Fly water merupakan campuran dari 1 bagian larutan arsenic sodium dengan 2 bagian gula dalam 20 bagian air. Kertas yang diberi larutan ini disebut Fly Paper atau Kertas lalat.

Banyak dipakai untuk: membersihkan semak-semak, pengawetan kayu (membunuh serangga / preservatives).

3. Perseny arsenic / arsenic pigment dengan tembaga

Antara lain copper arsenic, scheele green, emerald green (aceto arsenite of copper)

264

Banyak dipakai untuk: membuat pigmen-pigmen hijau pada kertas hiasan (dekorasi), bahan-bahan cat.

4. Asam arsenic dan persenyewaan arsenic K dan Na

Banyak dipakai untuk: pada pabrik untuk membuat magenta, rasa nilin, warna-warna aniline, jenis-jenis tinta cetak.

5. Sulfida dari arsenic


Antara lain jenis realgar, orpiment (yellow arsenic sulfide). Banyak dipakai untuk: Orpiment digunakan untuk membuat lukisan-lukisan, cat kertas, warna pada mainan anak-anak, bahan perontok rambut; Orpiment ini bila dicampur dengan linae (jeruk) dapat digunakan untuk penyamakan kulit (menghilangkan wol dari kulit)

6. Arsenic Chloride

Larutan arsenic dalam asam hidroklorida mengandung 1 % arsenioz acid yang sangat beracun.

7. Arsin (AsH3, Arsen uretted hydrogen)

Berbentuk gas yang sangat beracun, menyebabkan hemolisa kematian yang dapat bersifat mendadak, gas tidak berwarna berbau bawang. Banyak terbentuk dalam proses produksi hydrogen, karena proses produksi persenyawaan gas arsenic dengan bantuan Hn.

8. Arsen dengan Pb

Banyak dipakai untuk: membuat peluru / mimis.

265

Klasifikasi Arsen Sifat-sifat kimia dan fisika arsen As Simbol 3 216 (Publikasi Lexicon)

266

Nomor atom

74,91 (Publikasi Hervey B. Elkins PhD)

Berat Atom 3,5 814 Berat jenis (bentuk kristal hitam)

5,7 g/cc

Valensi 61 Titik lebur

C / 149

C / 113

Titik sublimasi

615

Senyawa-senyawa berbahaya Senyawa-senyawa tak berbahaya

AsH3; As2O3; AsCl3, arsenites; arsenates Arsenic; As2S3

Efek berbahaya (kronik)

Ulserasi kulit, kerusakan bagian hidung

Derajat

Serius

M.A.C.

0,25 mg/m3 udara (untuk As3O3 1 mg / 1

267

liter urin.

Penilaian

1. Analisa urin 2. Analisa udara 3. Analisa rambut dan kuku

Sumber-sumber alam

Tanah; air; bir; tembakau

Arsen sendiri sebagai unsur tidak digunakan. Elemen arsen adalah metal, berwarna hitam, sering digunakan bersama timah yang digunakan dalam pabrik, kadang-kadang ditemukan dalam bentuk metal murni, dimana bentuk alamiahnya tersebut tidak toksik. Campuran tersebut tersebut bagaimanapun juga dapat beracun dan sebagian darinya terkontaminasi dengan bahan tambang, arang dan batu bara. Jejak arsen didapat pada minyak, air dan tumbuh-tumbuhan. Sebagian kecil terdapat sebagai campuran kimia yang digunakan sebagai industri, misalnya mineral arsen, mineral alkali dan metal seperti besi, seng dan timah. Arsenik merupakan salah satu unsur yang ada di dalam tanah, sehingga perlu diketahui jika menghadapi kasus dimana korban telah dikubur. Contohnya tanah disekitar tubuh korban; yaitu di atas, bawah, dan di sekitar tubuh korban harus diambil guna dilakukan pemeriksaan toksikologis. Tindakan tersebut selayaknya diambil untuk mencegah timbulnya interpretasi yang keliru.

268

Air dapat mengandung arsenic sebagai akibat kontaminasi dari sisa-sisa pembuangan pabrik / industri. Dalam proses pembuatan bir, arsenic dapat terbentuk, yaitu sewaktu membuat glukosa untuk dijadikan bir. Arsenic juga ditemukan dalam jumlah yang cukup tinggi di dalam kerang, oleh sebab itu orang-orang yang mempunyai kebiasaan makan kerang, ekskresi arsenic dalam urin cukup tinggi, sama halnya dengan mereka yang keracunan arsenic kronis. Arsen dalam tabel periodik tidak termasuk golongan logam, tetapi karena mempunyai sifat mirip logam, maka dimasukkan ke dalam golongan metalloid. Yang dimaksud logam berat ialah: 1. Logam yang mempunyai sifat membentuk garam dengan asam. 2. Logam yang mempunyai berat molekul antara 59-232. 3. Logam yang dapat bereaksi dengan ligond (pengikat berupa gugus atom, ion, atau molekul yang memiliki kesanggupan untuk menjadi donor pasangan dalam satu atau lebih ikatan koordinat [coordinate bound]). Arsen digolongkan ke dalam persenyawaan organic dan in organic; pembagian ini sebagian untuk memudahkan penggolongan kimia. Arsen in organik berbeda dengan arsen organik dalam beberapa hal yang penting dalam farmakologi. Hampir semua arsen in organik dapat dianggap sebagai garam asam meta arsenit (HAsO2). Arsen yang sering digunakan untuk insektisida, racun tikus, dan herbisida adalah karbason (4-ureidobenzen-asam arsenat), glikobiarsol, drokarbil, dan oksofenarsin. Arsen trioksida (AsO3) sering disebut Arsenous acid yang

269

merupakan anhidrid dari asam meta arsenous (HAsO2). Hampir semua trivalent arsen in organik dapat dianggap sebagai garam-garam dari asam meta arsenous. Potassium arsenat adalah salah satu pemakaian untuk segala macam pengobatan. Sodium arsenites calcium arsenite copper acete Cupie aceto arsenite dipakai terutama sebagai insektisida, rodentisida, fungisida, dan herbasida. Arsen trichlorid sekali-sekali dipakai sebagai pengganti potassium arsenat. Senyawa-senyawa arsen dari Pb, calcium, dan sodium; masih dipakai dalam formula lama insektisida, yang terkadang merupakan kepentingan dalam hal toksikologinya. Misalnya yang berasal dari arsen pentoxide, dipakai sebagai herbisida dan defoliant. Cocodyl dan sodium sodium cocodilate Na; digolongkan sebagai asam in organik, karena bentuk aktifnya adalah asam arsenikus, dimana kebanyakan cocodyl yang masuk dalam badan dikonversikan. Arsine adalah gas beracun yang menyebabkan keracunan-keracunan industri yang sering terjadi. Dimethyl arsine, dimethyl arsenic acid, dan methyl arsenic acid, sebagaimana garam-garam sodium dan amoniumnya, muncul sebagai bentuk biotik kontaminan lingkungan; dan juga dipakai sebagai herbisida. Arsen organic yang terbanyak / terpenting adalah derivat dari benzene arsenic acid. Ada tiga derivate pentavalen yang digunakan dalam pengobatan; carbosone (4-urcide benzene arsenic acid), tryparsonide (sodium N-Carbomyl methyl p-amine benzene arsenat) dan glicobiarsol. Benzene arsenic adalah golongan ikatan arsenic karbon dan invivo yang betul-betul tidak dirubah menjadi asam in organik.

270

Ada atau tidak adanya berbagai substituent pada cincin benzene tidak hanya menandai kelarutan dari obat, tetapi juga kemampuan penetrasinya pada membran sel, baik pada organisme parasit maupun pada inang. Pemilihannya dapat dicapai dengan penggantian grup-grup yang tepat. Arsen-arsen organik tanpa grup polar tinggi larut dalam lemak dan siap menembus kulit; beberapa senyawa biasanya mempunyai aksi nesicant. Tanpa memperhatikan apakah suatu arsen mengenai tubuh sebagai arsen trivalent atau pentavalen; semua keracunan berat dan aksi mikrobial dapat dihubungkan dengan bentuk trivalent. Beberapa arsen pentavalen, dikurangi sebagai in vivo, diubah menjadi bentuk aktif trivalent, yaitu suatu arsen ozide. Bagaimanapun redok aqnilibia; penguapan oksidasi in vivo, dan arsen trivalent dioksidasi pelan-pelan dalam tubuh menjadi pentavalen arsenic. Toksisitas yang rendah dan pengembalian yang tinggi dari arsen pentavalen di dalam urin dan ekskreta menandakan bahwa sangat kecil reduksi yang berlangsung. Arsen-arsen organik pentavalen semuanya menunjukkan sifat anion dalam cairan tubuh. Dan dalam hal menembus sel-sel inang / pejamu tidaklah sesiap jika dibandingkan dengan sel-sel dari parasit yang rentan / peka. Dan ini menunjukkan efek terapi yang lebih tinggi dari bentuk trivalent. Arsen, seperti telah disebut di muka adalah racun klasik dari pembunuhan dan bunuh diri, tapi tak kurang pentingnya untuk toksikologi industri. Efek kronis dari arsen trioxide dan dapat diduga debu-debu arsen lain, terutama terdiri dari luka pada membran mukosa dan kulit. Menurut Harsen, ulkus

271

dan perforasi septum hidung tak jarang dapat dijumpai pada pekerja-pekerja arsen. Pentingnya arsen sebagai penyebab kanker masih diragukan. Tapi kejadian abnormal dari kanker eksterna dan saluran pernafasan pada kelompok pekerjapekerja yang terkena debu arsenic oxide telah dilaporkan. Banyak senyawa-senyawa arsen organic yang sangat toksik. Lewisite Ch Cl = Ch As Cl2 merupakan satu diantara gas-gas yang digunakan dalam kimia yang merupakan suatu vesicant yang kuat dan dephenyl chloro arsino, dipenylamine chloro arsine, serta dipenyl cyano arsine merupakan jenis senyawa yang sangat iritan. Konsentrasi kecil dapat mengakibatkan muntah-muntah. Cairan arsen triklorid juga vesicant dan sangat toksik bila menyentuh kulit.

Arsine: As H3.* Berat molekul : 77,9 * Titik didih * Efek berbahaya * Derajat * M.A.C. : -35 : Perubahan-perubahan darah, kerusakan hepar. : Serius, fatal. : 0,05 p.p.m. 0,5 mg As / liter urin. * Penilaian : - Analisis udara - Analisis urin

272

Arsine merupakan gas tidak berwarna, berbau bawang, dan sangat beracun. Arsine telah diperagakan terjadi dari campuran Ca hydride dan metal oxida yang ada dimana penderita bekerja, pada konsentrasi rata-rata 0,5 ppm. Besarnya bahaya arsine terletak terutama pada penguapan selektifnya daripada toksisitasnya, lain dari pada itu mungkin saja. Demikian suatu debu dari senyawa incet terdiri dari 0,1 % arsen tidak akan menyebabkan keracunan yang sama. Tapi bila zat tersebut menyebabkan proses reduksi kimia atau elektrolit, arsen mungkin menguap hampir seluruhnya seperti arsine, dan suatu konsentrasi yang berbahaya bisa dihasilkan dari material yang relatif kecil.

1. Arsen In Organik Bentuk arsen in organik ini sifatnya sangat beracun dan paling sering digunakan karena sifatnya tersebut. Campuran ini, lebih banyak digunakan untuk pembunuhan dimana racun diberikan dalam dosis besar atau pemberian dosis kecil tetapi berulang-ulang, supaya dapat menimbulkan gejala-gejala seperti sakit biasa. Dahulu pembunuhan pada sejumlah manusia dengan racun tunggal, paling banyak menggunakan jenis arsen ini. Cara pemberiannya dengan cara dicampur pada makanan atau minuman. Tetapi cara pembunuhan seperti ini sudah jarang dilakukan lagi, karena racun ini mudah diketahui dan dicurigai secara langsung sebagai tindakan kriminal. Pada sebagian kecil kasus pembunuhan dengan preparat yang mengandung arsen dimasukkan lewat rektum, vagina, dan uretra

273

serta kematiannya serupa dengan yang diakibatkan oleh obat secara injeksi. Secara pervaginam dapat untuk menginduksi abortus. Kasus-kasus bunuh diri menggunakan racun lebih sering dan biasanya menggunakan racun tikus atau Paris Green. Kecelakaan akibat racun in organik sering terjadi. Sebagian kasus yang diperiksa tersebut ditenggarai menggunakan jenis racun tikus, atau semprotan untuk tanaman (makan buah-buahan, sayuran dimana berasal dari daerah yang disemprot), untuk pengawet kertas atau untuk kain, kertas dinding (karena mengandung arsen yang kemudian menjadi partikel debu dalam rumah) dan untuk campuran warna. Campuran arsen juga ditemukan pada minuman, air, bir, kopi, obat-obatan, mineral, gas, dan produk batu bara. Penggunaan obat dalam bentuk campuran arsen harus diperhatikan karena bahayanya; apakah itu diberikan secara internal ataupun secara topikal seperti lotion, salf, atau bedak untuk luka, tumor, atau kerusakan pada kulit yang lain. Gejala keracunan kadang disebabkan oleh absorbsi obat. Pada beberapa contoh kasus, arsenic trioxide sering dikelirukan dengan bubuk putih yang lain. Senyawa in organik, hanya mempunyai kemampuan kecil untuk mematikan jaringan tubuh, tapi tetap meracuni protoplasma sel tubuh, yang selama berada dalam sirkulasi darah dan jika terjadi kontak dengan sel hidup dapat menyebabkan perubahan-perubahan degeneratif. Pada umumnya aksi dari iritasi lokal tidak diketahui, tidak begitu jelas, tapi setelah diabsorbsi, akan terus ke aliran darah menuju bagian-bagian organ tubuh hingga timbul efek-efek pada kapiler.

274

Intensitas dari toksemia tergantung dari jumlah obat dan kecepatan absorbsi obat yang diberikan. Jika racun dalam bentuk cairan akan cepat diabsorbsi, tetapi jika diberikan dalam bentuk yang padat akan diabsorbsi lebih lambat. Racun ini akan diabsorbsi dan ditimbun dalam jaringan hepar dan organ lain untuk beberapa hari, dan akan dieliminasi melalui ginjal dan traktus gastrointestinal.

2. Arsen Organik Preparat arsen organik banyak dibuat, sebagian besar diantaranya merupakan senyawa sintetis. Senyawaan organik, termasuk diantaranya merupakan golongan alifatik dan aromatik, yang mengandung baik trivalent maupun pentavalen arsenic. Bersifat kurang toksis apabila dibandingkan dengan bentuk in organik, mungkin disebabkan karena absorbsinya yang lebih lambat. Bila masuk ke dalam tubuh, akan terurai secara perlahan-lahan dan biasanya tidak menyebabkan kerusakan / kesulitan-kesulitan yang serius, namun kadang-kadang bila karena sesuatu hal, dapat mempercepat absorbsinya sehingga dapat menimbulkan efek toksis yang lebih berat. Beberapa bentuk dari trivalen digunakan pada pengobatan tripanosomiasis dan spirochaeta misalnya pada demam kambuhan sifilis. Bentuk arsen ini ditimbun dalam berbagai organ, khususnya pada hati dan arsen jenis ini

275

menghilang secara bertahap. Hal ini menyebabkan efeknya terhadap parasit (durasinya) arsen menjadi panjang. Arsen pentavalen organik tidak seefisien arsen trivalent, dan jika digunakan untuk obat bisa berbahaya. Arsen trivalent organik yang paling penting adalah derivat dari Arsphenamine (Salvarsan atau 606, formula silver

HCL.NH2.C6H3As=AsC6H3.OH.

NH2HCL.2H2O)

diantaranya

arsphenamine, sulfarshphenamine, bismarsen (bismuth arsphenamine sulfonate) dan neoarsphenamine (mapharsen, arseoxide, dasar dari kelompok arsphenamine). Bentuk di atas semuanya efisien dalam pengobatan spirochaeta dan penyakit protoza. Diberikan secara intra vena dalam larutan sekali dengan dosis 0,3-0,6 gram, kecuali silver arsphenamine diberikan dengan dosis lebih kecil. Sekitar tahun 1954, pengobatan berkembang dengan pemberian dosis yang lebih besar, dengan berbagai cara, misalnya intra vena perdrop lambat, intravena perdrip cepat, dan pemberian dengan spuit injeksi. Pemberian marphasen yang dikombinasi dengan bismuth atau vaksin typoid, dengan hasil pengobatan yang lebih baik. Pemberian arsen trivalent sebagai pencegahan tidak menimbulkan kerugian, tapi dalam kasus yang jarang dapat menimbulkan kematian. Kadang-kadang pasien mati dengan gejala kolaps seluruh tubuh sesudah pemberian dosis tunggal dengan injeksi. Pada otopsi, sedikit memperlihatkan gejala khas, hal ini mungkin disebabkan karena reaksi hipersensitivitas.

276

Pada kasus lain, kematian terjadi akibat keracunan kronik oleh pemecahan / disosiasi arsen organik dari preparat arsphenamine dalam tubuh, dan efek ini memerlukan waktu beberapa hari sampai beberapa minggu untuk berkembang. Satu gejala yang paling mencolok adalah dermatitis exfoliativa pada seluruh tubuh, khas dengan adanya skuama epidermis dan infiltrasi leukosit di sekelilingnya dan pada korium. Pada kasus yang lain, terjadi asphenamine enchephaloragi dan pasien meninggal setelah koma, dan dari otopsi memperlihatkan petichae dan perdarahan yang difus dan dapat juga terjadi perdarahan pada pons. Diatesa hemorrhagi juga terjadi pada jaringan subserosa khususnya pada mesenterium, intestinum tenue, dan otot jantung. Kadang granulositopenia atau anemia aplastik, atau berkembang menjadi trombosis umum dapat terjadi. Efek berikutnya berlangsung proses degenerasi berat yang terjadi pada parenkim organ dan hati yang bisa saja terlibat, akhirnya terjadi kematian mendadak (akut) atau subakutyellow atrofi dengan sakit kuning. Pada kasus dimana korban dapat diselamatkan, dapat terlihat bercak fibrosis pada parenkim hepar dan hepatitis kronik akibat proses degeneratif yang lama. Jika pemberian tidak hati-hati, dan keluar dari vena, dapat menyebabkan tormbosis. Pemberian BAL pada komplikasi akibat arsen organik grup salvarsan misalnya dermatosis, dermatitis exfoliativa, perdarahan otak, sakit kuning, akan memberikan hasil yang baik.

277

Arsen organik pentavalen termasuk sodium cacodilate, (CH3)2AsO.ONa, arrhenal, arsacetin, acetarsone tryparsamide dan lainnya, pada dosis toksis akan menimbulkan efek subakut atau kronik. Tryparsamide punya efek lain yang dapat menyebabkan amblyopia.

FARMAKOKINETIKA Absorbsi Senyawa-senyawa arsen yang larut dalam air diabsorbsi dari semua selaput lendir dan secara pemberian parenteral. Absorbsi senyawa arsen yang sukar larut dalam air misalnya As2O3 yang sangat tergantung pada kehalusan dari bagian-bagiannya (fineness of subdivision). Dalam obat pembasmian tanaman pengganggu (herbicides), terutama As2O3 terbagi dengan agak kasar. Walaupun senyawa arsen yang pentavalen lebih banyak mengalami imitasi daripada senyawa yang trivalent, namun senyawa arsen in organik yang pentavalen diabsorbsi lebih baik daripada yang trivalent, namun karena mereka kurang bereaksi dengan isi usus dan mukosa senyawa arsen organik yang trivalent adalah juga sedikit diarbsorpsi dari saluran gastro intestinal, kecuali melarsopral. Bagaimanapun juga zat-zat tersebut dihancurkan di dalam usus dan darinya dihasilkan senyawa arsen in organik yang siap diabsorbsi senyawa arsen yang pentavalen diabsorbsi dengan variasi yang luas carbarsone dan melarsopral

278

absorbsinya cukup pada pemberian peroral dalam pengobatan penyakit infeksi yang sesuai. Carbarsone cukup banyak yang tidak diabsorbsi sehingga efektif untuk melawan parasit dalam usus. Triparsamide sedikit diabsorbsi dari saluran pencernaan. Absorbsi melalui kulit merupakan fungsi dari pelarut lipid. Secara umum senyawa arsen trivalent diabsorbsi lebih baik dari pada yang pentavalen. Di Amerika Serikat, masukan harian untuk senyawa arsen sangat bervariasi, tapi rata-ratanya 1 mg perhari dan beban untuk tubuh orang dewasa normal biasanya 14-21 mg (II-927). Pembicaraan di atas kiranya akan menjadi lengkap bila dikaitkan dengan hal-hal sebagai berikut: 1. Absorbsi melalui saluran pencernaan biasanya terjadi pada usaha bunuh diri. Pembunuhan dan keracunan anak-anak dapat terjadi karena mereka tertarik akan warna atau rasa enak suatu obat, sehingga menyebabkan keracunan karena overdosis. Saluran pencernaan masih merupakan lingkungan luar (milious externa), sehingga adanya zat-zat beracun di dalam saluran pencernaan tidak akan mengakibatkan keracunan hanya racun-racun yang bersifat kanotik atau korosif yang dapat merusak selaput lendir usus, yang selanjutnya bisa terjadi perforasi, peritonitis, yang akhirnya dapat menyebabkan kematian. Pada umumnya zat beracun lebih mudah menyebabkan keracunan jika diberikan pada perut kosong karena lebih cepat diabsorbsi. Juga pada umumnya bentuk non ion akan lebih mudah diabsorbsi daripada bentuk ion, serta ph dapat mempengaruhi difusi zat beracun melalui membran epitel usus. Selain ph,

279

konstante dinosiasi (p Ka) berpengaruh atas bentuk non ion dan bentuk ion, menurut persamaan Handecson Hasselbach: Untuk asam: P Ka ph = log (bentuk non ion) bentuk ion Untuk basa : P Ka ph = log (bentuk ion)

(bentuk non ion) 2. Absorbsi melalui kulit dipengaruhi oleh beberapa hal: Stratum corneum merupakan therato limiting basic sehingga bila lapisan

ini rusak atau jika integritas kulit terganggu, maka absorbsi akan dipermudah. Spesies pada hewan. Beberapa zat kimia dapat merubah kulit sehingga lebih permeabel

terhadap zat kimia lain. Sifat-sifat psikokimia. Zat-zat yang larut dalam lipid kurang mudah diabsorbsi kulit jika

dibandingkan dengan zat-zat yang larut dalam air. Zat-zat kimia yang berbentuk non ion lebih mudah diabsorbsi daripada

yang berbentuk ion. 3. Ph, ukuran molekul, temperatur dan vaskularisasi juga ikut menentukan. Sebagian dari zat-zat beracun yang masuk melalui pernafasan terabsorbsi

melalui selaput lendir di bagian tracheo-bronchial, non pharynx dan oropharynx serta sebagian dari zat-zat tadi tertelan dan masuk ke dalam alat pencernaan. Partikel-partikel sebesar 5 mikrometer atau lebih tetap berada di dalam nasopharynx (bernafas melalui mulut), dan yang berukuran 2-5 mikron bisa

280

sampai ke dalam bagian tracheo-bronchial, yang kemudian oleh lendir dan silia dapat dibersihkan dengan atau tanpa perantaraan batuk. Partikel-partikel sebesar 1 mikrometer atau kurang dapat masuk ke alveoli dimana partikel-partikel itu dapat diabsorbsi masuk ke dalam darah. Distribusi Setelah zat beracun memasuki plasma darah, baik dengan perantaraan absorbsi maupun langsung melalui intravena, maka zat tersebut dapat terdistribusi ke seluruh bagian tubuh. Kecepatan distribusi ditentukan oleh banyaknya vaskularisasi, mudahnya zat itu memasuki pembuluh kapiler dan menembus membran sel jaringan, serta adanya afinitas jaringan terhadap zat tersebut. Konsentrasi zat beracun ini di dalam darah setelah beberapa waktu tertentu maka dari sini tergantung pada volume distribusinya (Vd); makin besar Vd-nya, makin kecil konsentrasi zat beracun tersebut berada di dalam darah (X). Penimbunan senyawa arsen terutama di dalam hepar, ren, dinding saluran pencernaan, limpa dan paru-paru. Dalam jumlah kecil terdapat pada otot dan jaringan syaraf. Dan selain itu juga terdapat dalam rambut dan kuku, dimana disini mulai terdapat 2 minggu sesudah pemberian dan dapat tinggal sampai 1 tahun. Pada keratin banyak terdapat gugus salf hydril, demikian juga pada jaringan tulang yang dapat menetap untuk selama-lamanya (II).

Biotransformasi (II)

281

Biotransformasi dari senyawa arsen hanya sedikit sekali diketahui. Dari studi pada hewan percobaan nampak kemungkinan senyawa arsen yang trivalent sedikit demi sedikit diubah kearah bentuk pentavalen, dan keduanya sebagiansebagian diubah ke arah methyl arsenator.

Ekskresi Sebagian dari suatu dosis senyawa arsen trivalent yang diabsorbsi akan diekskresikan secara lambat melalui urin setelah pemberian secara parenteral yang dimulai dalam waku 2-8 jam. Namun hal ini dapat bertahan sampai 10 hari untuk eliminasi dari arsen secara komplit setelah pemberian dosis tunggal dan dapat sampai 20 hari pada pemberian berulang. Ekskresi yang lambat ini merupakan dasar untuk terjadinya keracunan arsen yang kumulatif. Arsenate dan bentuk pentavalen yang lain pada tubuh manusia sangat cepat diekskresi, dan oleh sebab itu maka sangat kecil kemungkinannya untuk menjadi keracunan yang bersifat kumulatif, kecuali pemberian dengan dosis yang sangat tinggi dalam periode waktu tertentu. Lisella dkk. (1972), telah mengkalkulasi bahwa pada pemberian arsen pentavalen secara terus-menerus pada dosis maksimal yang diperkenankan di dalam makanan, udara, dan air, maka akan memerlukan waktu 30 tahun untuk terjadinya penimbunan beban toksis bagi badan. Sejalan dengan kenyataan bahwa senyawa arsen trivalent adalah mungkin untuk diekskresikan di dalam jaringan dan bentuk pentavalen cepat diekskresi,

282

maka arsenate diabsorbsi pada bagian proksimal dari tubulus kontortus renir dan diekskresikan sebagai arsenite (Ginsbing, 1965). (II) Senyawa arsenite dapat menembus placental barcick dan telah ditemukan pada janin yang meninggal (sugoctal, 1969). Kira-kira 45 % dari senyawa arsen yang dihisap ketika merokok diekskresikan melalui urin dan kurang lebih 2,5 % melalui feses (Holland et all, 1959). Pada pemberian BAL (dimecarpol), maka ekskresi melalui urin sangat jelas menanjak tanpa adanya kerusakan pada alat ekskresi. Bila pemberian BAL tepat, maka akan dapat menekan sebagian besar tanda dan gejala keracunan akut (Woody and Kometani, 1948).

Mekanisme keracunan Mekanisme kerja toksik yang utama dari senyawa arsen ialah dengan menghambat kerja enzim sulfihidril. Senyawa arsen organik yang trivalent misalnya phenyl arsen oxide lebih poten dalam hal menghambat kerja enzim sulfihidril daripada arsenites in organik. Arsenoxide sebagai senyawa antara yang aktif (active intermurate) tidak dapat bereaksi dengan kelompok-kelompok kimia yang lain, kecuali sulfihidril. Consparasid arsen arsen misalnya aesphenamine dan senyawa arsen yang pentavalen harus dikonversi menjadi arsenoxide atau arsenit terlebih dahulu sebelum dapat bereaksi, kecuali dikloroarsen yang dapat bereaksi langsung. Formulasi yang umum dan komplit dari reaksi arsenoxide (arsenite) dengan gugus sulfihidril dari protein adalah sebagai berikut: S-PR

283

R As = O + 2 Hs PR O-H

R + As

+ H-

S-PR Dimana R adalah gugus kimia, dan PR adalah protein. Inertivasi dari enymen sulfihifdril yang esensial mungkin merupakan langkah pertama ke arah kerusakan sel. Di antara senyawa arsen, klorvinilkloroarsen (lewisite) mempunyai daya inhibisi yang terkuat. Ion arsenat dapat bekerja sebagai uncouplers pada fosforilasi oksidatif, karena itu pembentukan ATP terganggu. Sistem oksidasi piruvat dan sejumlah besar enzim lain adalah rawan terhadap senyawa arsen. Peranan dari interaksi antara senyawa arsen dengan thiocic (x liporc) acid, suatu bagian esensial dari reaksi dekarboksilasi piruvat menjadi perhatian utama, lebih dari reaksi dengan sulfihidril dari dua molekul yang berbeda seperti dilukiskan pada formula di atas senyawa arsen yang dapat bereaksi dengan kedua gugus sulfihidril dari thiocic acid untuk membentuk cincin bersegi enam, yaitu suatu cincin yang lebih stabil daripada monocyclic thio arsenites. Pembentukan cincin menunjukkan kemanjuran dimercaprol dalam pengobatan keracunan arsen. Arsine (AsH3) bergabung dengan hemoglobin dan dioksidasi menjadi campuran (compound) hemolitik dan tidak menunjukkan aksi dengan menghambat enzim sulfihidril.

Efek lokal

284

Senyawa arsen baik organik maupun in organik dapat menembus epitel dan menyebabkan nekrosis dan pengelupasan. Campuran yang larut dalam air, daya toksis lokalnya sangat lemah; triparsamide dan senyawa organik pentavalen yang pada umumnya diberikan secara intramuskular tidak menyebabkan iritasi lokal. Zat ini larut dalam air dan cepat diabsorbsi. Dermatitis kontak dan konjungtivitis yang non alergika sering terjadi di antara para perkerja yang terpapar terhadap debu yang mengandung senyawa arsen. Menghisap udara yang mengandung arsen secara terus-menerus dapat menyebabkan perforasi septum nasi.

Efek sistemik Efek pada peredaran darah Senyawa arsen dosis kecil in organik menyebabkan vasodilatasi ringan. Dosis besar menimbulkan efek pada sistem sirkulasi. Perlukaan dapat terjadi pada semua anyaman kapiler, tapi yang sering terjadi di daerah splanchnicus. Sebagai hasilnya adalah transudasi dari plasma dan penurunan darah yang tajam, selanjutnya terjadi kerusakan arteri dan myocard serta tekanan darah turun sampai terjadi syok. Gambaran EKG yang abnormal tetap terjadi sampai satu bulan sesudah penyembuhan dari intoksikasi akuta. Senyawa arsen organ trivalent terutama mengenai kapiler, tekanan pembuluh darah (resistant vessels), dan tentang jantung, pengaruhnya sama dengan arsen in organik.

285

Pada dosis terapeutik obat, efek pada sirkulasi bervariasi dengan jarang terjadi reaksi seperti syok angioneurotik yang segera mengikuti pemberian tryparsamide. Hal ini terjadi mengikuti pemberian senyawa arsenic sejenis dengan sifat simpatomimetik yang secara efektif meninggikan tekanan darah selama suatu krisis; dimana hal tersebut tidak terjadi selama syok oleh karena senyawa arsen in organik. Krisis ini terjadi disebabkan oleh karena flocylasi plasma protein. Arteriosclerosis perifer (clackfoot disease0 dapat disebabkan oleh pemasukan senyawa arsen in organic secara kronis (Heydoen, 1970). Tractus gastrointestinal Dosis kecil senyawa arsen in organik terutama yang trivalent menyebabkan splanchnic hyperemia. Transudasi plasma pada kapiler sebagai akibat pada dosis besar membentuk vesikula di bawah mukosa gastrointestinal. Vesikula tadi akhirnya pecah, fragmen epitel terlepas, lalu plasma tercurah ke dalam lumen, yang kemudian akan membeku. Jaringan yang rusak dan aksi cathartic dari meningkatnya cairan dalam lumen menyebabkan naiknya peristaltik dan keluarnya tinja yang karateristiknya seperti air beras. Protiforens epitel yang normal ditekan, yang menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Segera sesudah itu feses menjadi berdarah, muntah seringkali terjadi, dan muntahan mungkin mengandung darah. Stomatitis mungkin juga terjadi, serangan gastrointestinal mungkin terjadi dengan sedikit demi sedikit sehingga kemungkinan cara cuman arsenic mungkin diabaikan. Sindrom nausea, vomiting, diare, sakit kepala dan malaise merupakan tipe reaksi yang sering terjadi sebagai akibat pemberian injeksi senyawa arsen organik.

286

Reaksi ini tidak segera terjadi, tetapi terjadi dalam waktu 4-12 jam sesudah injeksi dan berlangsung selama beberapa jam sampai hitungan hari. Hal ini disebabkan oleh intoksikasi oleh bagian senyawa arsenic yang aktif dari obat tersebut. Insidensi tertinggi terjadi setelah pemberian senyawa arsen trivalent dan paling rendah setelah pemberian senyawa arsen pentavalen; misalnya

tryparsamide. Over dosis yang sangat besar dari senyawa arsen organik efeknya sama dengan pemberian senyawa arsen in organik. Tractus urinarius Aksi dari senyawa arsen pada kapiler ginjal, tubuler dan glomeruli dapat menyebabkan kerusakan ren yang hebat. Efek pertama pada glomeruli, pembuluh darah mengalami dilatasi sehingga memungkinkan hilangnya protein dan kemudian terjadi pembengkakan untuk mengisi glomerulair. Variasi tingkatan dari nekrosis tubuler dan degenerasi terjadi, urin berkurang dan berisi protein, eritrosis dan carts. Sejumlah carts, albuminuria ringan dan darah pada urin sedikit meninggi, sering terjadi setelah pemberian senyawa arsen organik dengan dosis terapeutik namun efek ini hanya bersifat sementara. Kerusakan ginjal akut yang jarang terjadi akibat arsen organik adalah idiosyncrasi. Kulit Pemberian senyawa arsen in organik dengan dosis rendah dan secara kronis akan menyebabkan vasodilatasi kulit dan milk and corce complexion. Penggunaan senyawa arsenic yang berkepanjangan juga menyebabkan

287

hiperkeratosis dan hiperpigmentasi, yag akhirnya aksi ini menuju ke arah atrofi dan degenerasi serta mungkin juga ke arah kanker. Erupsi pada kulit umumnya terjadi setelah pengobatan dengan senyawa arsen in organik. Senyawa arsen trivalent yang sistemik mengganggu dengan respon peradangan pada kulit dan dapat menyebabkan terjadinya pyoderma. Hal tersebut juga mengganggu penyembuhan luka pada kulit dan jaringan lain. Insidensi dermatitis pada penggunaan senyawa arsen organik pentavalen adalah rendah dan reaksinya biasanya ringan. Luka bisa lokal atau menyeluruh dalam distribusinya.

Sistem syaraf pusat (SSP) Pada penggunaan secara kronis atau terpapar dengan senyawa arsen in organik (namun jarang pada senyawa arsen organik) dapat menyebabkan neuritis periferal. Pada kasus yang berat, sumsum tulang belakang bisa terkena juga. Pada pemberian senyawa arsen in organik dengan dosis toksis secara akuta, hampir 5 % akan menunjukkan depresi sentral tanpa gejala-gejala gastrointestinal. Dari arsen yang masih digunakan oleh manusia, tryparsamide tapi bukan carborsone atau glico biarzol menyebabkan insidensi yang tinggi dalah hal efek pada SSP, bila digunakan dengan dosis terapeutik. Efek ini biasanya visual. Ensefalopati dapat ditimbulkan pada penggunaan: Senyawa arsen organik trivalent misalnya: melarsoprol (paling umum sebagai rekasi toksik). Senyawa arsen organik pentavalen, glico biorsal pada dosis klinis (tapi jarang).

288

Overdosis carbarsone. Gejalanya termasuk sakit kepala yang berat, konvulsi dan koma. Gejalagejala sebelumnya terlihat pada cairan serebro spinal jumlah sel dan protein bertambah. Kerusakan pada otak terutama yang berasal dari vasculair dan terjadi pada massa putih dan abu-abu, gejalanya berupa perdarahan nekrosis dengan focus yang multipel dan simetris. Perlu ditambahkan pada pemberian dimecaprol ialah pengobatan sedatif, anti konvulsan dan tindakan untuk mengurangi oedem otak, yang mana antara lain dapat dengan memberi mannitol hipertonik atau larutan ureum.

Darah Senyawa arsen in organik mengganggu sum-sum tulang dan mengubah komposisi sel-sel darah. Vaskularisasi pada sumsum tulang bertambah. Pada dosis sedang menyebabkan pengurangan eritrosit dan pada dosis besar menyebabkan perubahan morfologis sel-sel darah dengan tampak adanya megalocytes dan microscytes. Senyawa arsen in organik juga menekan produksi leukosit. Beberapa efek kronis pada adarah dapat disebabkan oleh karena terganggunya absorbsi asam folat. Arsenite juga mengganggu syntore parpyrine (Van Togeran et all, 1965). Gangguan pada darah dan sumsum tulang yang ditimbulkan oleh senyawa arsen in organic merupakan masalah yang benar-benar serius, tapi untungnya jarang terjadi. Sejumlah kasus agranulasitosis disebabkan oleh glico biornd yang mana telah dilaporkan pernah terjadi.

289

Hati Senyawa arsen in organik dan sejumlah yang organik, terutama toksis terhadap lever dan menimbulkan infiltrasi lemak, nekrosis sentralis dan chirossis triparsamide yang dapat merusak kapur pada dosis terapeutik. Kerusakan bisa sedang atau berat; menyebabkan acute yellow athrophybahkan kematian. Kerusakan pada umumnya mengenai parenkim hepar, tetapi pada beberapa kasus memberikan gambaran klinis yang menyerupai aclusi saluran empedu secara umum yang disebabkan oleh pericholangitis dan thrombus empron pada cabang saluran empedu yang paling halus.

Metabolisme Aksi toksis yang mula-mula dari senyawa arsen organik menimbulkan oedema tersembunyi disebabkan oleh kerusakan kapiler. Pada kerusakan arsen eliminasi nitrogen bertambah oleh karena degenerasi jaringan yang terjadi pada banyak organ. Percobaan untuk mendemonstrasikan aksi tonik dari senyawa arsen pada hewan percobaan menunjukkan bahwa elemen ini tidak berguna pada pertumbuhan dan perkembangan.

Simptomatologi Keracunan akut:

290

1. Gejala biasanya timbul - 1 jam sesudah masuknya obat, tapi mungkin terlambat sampai beberapa jam, terutama bila arsen masuk bersama makanan. 2. Rasa manis metalik, bau bawang putih pada nafas dan feses. 3. Penyempitan pada tenggorokan dan kesukaran menelan. Rasa seperti terbakar dan sakit kolik pada aerophagus ventriculus dan usus. 4. Muntah dan diare dan ekskretanya air beras seperti pada kolera dan kemudian feses berdarah. 5. Dehidrasi dengan rasa haus yang sangat dan kram otot. 6. Sianosis, pols lemah, dan anggota badan menjadi dingin. 7. Vertigo, sakit kepala bagian depan. Pada beberapa kasus (tipe serebral) vertigo stupor, delirium dan mania dapat terjadi tanpa gejala gastro intestinal yang menonjol. 8. Syncope, koma, kadang-kadang konvulsi, paralisis umum dan kematian. 9. Bila fase akut bisa sembuh, maka neuritis perifer yang termasuk syaraf sensoris dan motoris tidak jarang terserang. 10. Berbagai erupsi pada kulit, lebih sering terjadi pada keracunan kronis. 11. Pada saat penyembuhan, kelemahan dan diare akan tetap ada sampai beberapa minggu dan kadang-kadang sindrom sukar dibedakan dengan keracunan kronis.

Keracunan kronis

291

Terdapat manifestasi sebagai berikut, mulai dari anoreksia, gangguan pencernaan yang ringan, sedikit demam, pucat, lemah, peradangan catarrhal pada hidung, tenggorokan, konjungtiva dan laring seperti pada infeksi coryza; stomatitis dan salivasi juga sering terjadi. Gangguan kulit dapat berupa eritrema, eczema, pigmentasi (arsenic melanosis), keratosis (terutama pada telapak tangan dan kaki), bersisik dan desquamasi, kuku rapuh, rambut dan kuku rontok dan oedema subkutan yang lokal. Gejala kerusakan ginjal timbul, pembesaran hepar dengan ikterus dan kadang-kadang dengan pruritus dan dapat menjadi sirosis dan asites. Komplikasi jantung (fibrilasi ventrikular dan kardiak akut) pernah dilaporkan walau jarang. Kadang-kadang ada reaksi kehilangan protein pada diskrasia darah enteropathy yang hebat, akibat dari deposit semua elemen seluler dari sum-sum tulang. Kejadian ini mungkin berhubungan dengan metabolisme folic acid. Pada keracunan yang lanjut, maka gejala syaraf menonjol yaitu encephalopaties dan neuritis perifer lebih umum terjadi. Mula-mula yang terkena syaraf sensorius hingga timbul parestesia, hipertesia dan sakit, namun kemudian muncul paralisa, atrofi otot, biasanya pada kaki. Kemungkinan akan menonjol distribusi kehilangan perasaan yang disebut Glove and Stocking. Dalam hal simptomatologi ini, lebih khas pada keracunan arsen in organik, yaitu ada empat tipe dan gejala keracunan yang terjadi: 1. Bentuk paralisis akut

292

Akibat pemberian arsen in organik dalam jumlah besar dan cepat masuk ke dalam sirkulasi. Manifestasi dari bentuk ini ialah kolaps sirkulatori dengan tekanan darah rendah, nadi yang cepat dan lemah, pernafasan sukar dan dangkal, sesak nafas, semicommatore atau stupor dan kadang-kadang konvulsi. Pasien tidak menunjukkan gejala gastrointestinal (kalaupun ada berupa muntah-berak, nyeri perut). Gejalanya timbul mendadak. Penderita dapat meninggal sebelum 24 jam. Gejala di atas disebabkan oleh penekanan syaraf pusat oleh senyawa arsen dosis tinggi terutama pada medulla oblongata. 2. Tipe gastro intestinal Tipe ini lebih umum terjadi dan gejala-gejala yang khas ditimbulkan oleh karena perlukaan / lesi pada ventrikulus, usus, dan organ-organ yang parenkimateous. Segera setelah masuknya senyawa arsen, terjadi muntah yang berlangsung selama 1 atau 2 jam kemudian diikuti dengan diare. Perbedaan gejala-gejala klinik yang menonjol, bervariasi pada tiaptiap kasus. Pada beberapa kasus diare berat adalah gejala yang paling menonjol, sedangkan pada pasien lain adalah mual, muntah, rasa panas dan terbakar, sakit dan kram pada abdomen yang menjadi keluhan utama. Pada pasien yang lain lagi dapat menderita gatal / serak pada tenggorokan, sensasi haus yang sangat, mulut terasa kering. Kombinasi dari gejalagejala tersebut bisa terjadi.

293

Muntah bisa terjadi terus-menerus dan muntahannya nampak seperti air beras dan terkadang berisi lendir darah dan cairan empedu. Diare mungkin hebat dan feses mungkin berdarah atau seperti air beras sama dengan feses pada cholera asiatica. Pada kasus yang lebih jelas terdapat muka yang livid, sianosis, merasa gelisah, kulit dingin lembab, kram pada lengan, betis, delirium, albuminuri, urin yang berkurang dan dehidrasi oleh karena muntah yang terus-menerus dan diare. Hal ini bermakna pada kasus muntah dapat terjadi setelah makan arsen bebas, dan ini menimbulkan keragu-raguan berhubung dengan adanya arsen sesudah diabsorbsi yang telah dikeluarkan kembali ke dalam lambung. Kematian terjadi dalam beberapa jam atau hitungan hari. Bila pasien dapat bertahan terhadap serangan maka akan terjadi pemulihan. Penanganan pada keracunan akut adalah dengan mengeluarkan lambung dengan tube dan mencuci dengan air hangat dan susu. Emetic mustart 1 bagian dan garam 6 bagian, pada air dengan jumlah banyak lebih berarti. Antidotum spesifik - 1 ons tincture dari ferri chloride dengan air dan ditambahkan magnesium Castor oil dapat diberikan untuk

membersihkan usus. Kantor farmasi dan kimia di Asosiasi Kesehatan Amerika (American Medical Ascociation) menganjurkan pemberian BAL (British Anti Lewisite 2,3 dimercaptopropanol) secepatnya. Ini akan mengambil arsen dari jaringan dan menyebabkannya cepat diekskresi.

294

BAL diberikan intramuskuler pada 10 % larut minyak tiap 4 jam dengan dosis 5 mg/kg BB sampai gejala keracunan hilang. Hasil Otopsi Lesi yang berupa nekrosa mempunyai tingkatan yang sangat bervariasi. Pada kematian yang terjadi dalam beberapa jam karena kolapsnya sirkulasi, membran mukosa lambung dan usus dapat tidak memperlihatkan perubahan yang bermakna. Lambung dapat kosong atau berisi lendir, atau sejumlah cairan kemerahan. Kadang-kadang pada lipatan membran mukosa lambung terdapat kristal oktahedral dari As trioxide atau bercak Paris Green, atau deposit kekuningan dari As sulfide yang terbentuk oleh kombinasi kimiawi antara arsen dengan hydrogen sulfat dalam lambung. Pada kasus lain, mukosa lambung merah kongesti dan edema, sementara itu tampak garis gelap karena korosi pada lipatan, berbentuk karet atau bentuk pemanggang besi pada tempat korosi oleh racun. Lambung dapat berisi lendir warna gelap yang bercampur darah. Pada tahap awal usus tidak menunjukkan perubahan yang berarti, meskipun arsen diperkirakan sudah sampai jaringan. Selanjutnya pada tahapan menyerang tubuh lebih lanjut, lesi meluas. Dinding lambung dan usus dapat bengkak dan kelihatan edema dan kongesti pada lapisan sub-mukosa, dan biasanya berwarna merah kecoklatan dengan perdarahan bagian dalam sub-mukosa dengan berbagai ukuran di sana-sini. Pada suatu kasus, terdapat pseudomembran warna

295

abu-abu kekuningan pada jejunum bagian atas. Pada beberapa bagian usus dapat berwarna kuning akibat penimbunan arsenic sulfide. Usus dapat berisi sejumlah besar cairan mirip cucian beras, atau dapat kosong dan berisi lender darah. Perluasan lesi sangat bervariasi., kadang lamban, dan sebagian usus mengalami inflamasi, bahkan kadang seluruh

gastrointestinal terlibat. Mulut, faring dan esophagus kadang memperlihatkan proses yang sama, hanya intensitasnya lebih rendah. Pada kulit kadang terbentuk bulla pada bagian yang terkena racun, edema pada muka dan sekitar mata pernah dilaporkan bahkan sampai terjadi perdarahan atau purulen. Inflamasi lambung dan usus sebagian besar akibat ekskresi As melalui membran mukosa dan efek lambung secara langsung mengenai pembuluh darah sub-mukosa, dan yang lebih jarang korosif langsung pada dinding usus. Pada beberapa kasus, pemberian arsen in organik pada ulkus kulit atau pada kulit yang utuh, akan diikuti dengan gejala gastrointestinal, meskipun pemberian tidak melalui mulut. Pemeriksaan mikroskopik pada lesi yang meliputi mulut dan usus pada keracunan arsen, memperlihatkan perdarahan pembuluh darah kecil sub-mukosa yang berisi sel darah merah dan sel leukosit plimorfonuklear, disertai bengkak dan membesarnya endothelium, jaringan ekstravaskuler (pada sub-mukosa) edema dan juga mengandung sel darah merah dan leukosit polimorfonuklear.

296

Pada korban yang mampu bertahan hidup selama beberapa hari, terjadi perubahan pada parenkim dan degenerasi lemak pada jantung, hepar, dan ginjal dengan warna suram, abu-abu kemerahan, abu-abu kekuningan. Obat akan ditimbun dalam hepar, parenkim sel akan menjadi bengkak dan ikterik, dan jaringan tubuh akan memperlihatkan berbagai tingkatan dari ikterik hepatogenous. Sesudah racun menjadi subakut atau kronik, akan terjadi komplikasi atrofi kuning akut. Perdarahan atau purpura dengan ukuran yang berbedabeda dapat terjadi pada jaringan subserosa atau pada jaringan longgar seperti mesenterium, jaringan retroperitoneal, epikardium, preaortae, dan lain-lain. Jaringan subendokardial, khususnya pada permukaan septum

ventrikel kiri dapat terlihat bercak kecil menyala seperti perdarahan atau perdarahan yang luas. Lesi ini dapat berubah menjadi perlemakan atau terjadi perubahan degenerasi lain pada endothelium kapiler dan dengan mikroskopik dapat terlihat infiltrasi polimorfonuklear yang jelas pada daerah perdarahan. Pada suatu kasus keracunan arsen akut, pemeriksaan kelenjar adrenal pada bagian korteks mengalami nekrosis disertai dengan infiltrasi leukosit. Jika arsen diberikan dalam bentuk padat dan kematian terjadi pada stadium awal, sebagian besar arsen diketemukan dalam lambung. Jika perjalanan penyakitnya lebih panjang, jumlah arsen dalam lambung berkurang. Seseudah diserap, racun disebar ke organ-organ dan terbanyak

297

ditimbun di hepar, lien, ren, dan jaringan lain dalam beberapa minggu, secara bertahap dikeluarkan lewat urin dan feses. Hepar biasanya mengandung lebih banyak ketimbang organ lainnya, akan tetapi jumlahnya sangat bervariasi sehingga sukar untuk menentukan jumlah minimal dalam jaringan yang menyebabkan kematian. Adanya sejumlah besar arsen dalam organ akan memungkinkan lambatnya pembusukan mayat. Bukti yang nyata perihal jumlah arsen dalam organ akan tergantung pada jenis kasusnya. Meskipun demikian, riwayat penyakit dan penemuan pada otopsi sangat mengarahkan keracunan karena obat ini, memperhitungkan jumlah tiap menitnya harus hati-hati, banyak jumlah arsen yang ada dalam tubuh merupakan akibat pengobatan. Jika analisa kimia hanya terbatas pada luar tubuh atau hanya ada arsen dalam lambung, usus, tetapi organ lain seperti hati, ginjal, dan otak tidak, maka kesimpulan sebab kematian tidak bisa dibuat. Pada penanganan lain jika terasa sejumlah arsen ditemukan pada jaringan-jaringan dan organ lain dalam tubuh, khususnya pada hubungannya dengan bentuk tanda klinis dan lesi patologis, hasilnya akan signifikan adanya aksi absorbsi dan toksis antemortem. Pada kasus akut organ, yang paling baik untuk pemeriksaan adalah lambung dan isinya, hati, ginjal, dan otak. Pada beberapa kasus ini, isi usus dan urin dapat berharga.

298

Pada otopsi bongkar jenazah, tanah di sekitarnya, cairan di sekitar peti dan sebagian dari peti seharusnya diambil untuk di tes adanya arsen untuk membatasi kontaminasi yang mungkin terjadi. 3. Tipe subakut Tipe ini terjadi pada pemberian senyawa arsen dalam dosis kecil, berulang-ulang, dan dalam interval tertentu. Atau pada pemberian dosis tunggal yang besar yang tidak menyebabkan kematian dalam waktu cepat namun tinggal di dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan selama waktu ekskresinya yang lambat. Korban tetap hidup selama beberapa minggu atau sampai beberapa bulan. Beberapa dapat berkembang menjadi keracunan hepar yang degeneratif, yang melanjut menjadi acute / subacute yellow atrophy dan diikuti oleh icterus toxic yang berat. Perdarahan multipel dapat terjadi pada lapisan subserosa atau pada jaringan longgar di daerah areola. Tractus intro intestinal mungkin mengalami radang kronis dengan diare yang terus-menerus, kram dan dehidrasi. Ginjal dapat menunjukkan inflamasi, nefrosis dengan albuminuria dan urin berdarah. Erupsi pada kulit, daerah yang eczematous dan keratosis timbul di beberapa tempat. Pasien kehilangan berat badan, menjadi kurus dan lemah, sakit yang serius, dan akhirnya meninggal. 4. Tipe kronis

299

Dapat terjadi akibat perkembangan pada sejumlah kasus, sesudah gejala akut menghilang dan ini dapat menunjukkan sejumlah manifestasi yang berbeda-beda. Pada suatu tipe neuritis kronis dapat timbul dengan degenerasi serabut syaraf yang dimulai dari daerah perifer berlanjut ke arah pusat. Lesi ini ditandai dengan paralise otot tangan dan kaki, anastesia gangguan pertumbuhan seperti atrofi otot, rambut dan kuku rontok. Pada beberapa kasus gastritis kronis dapat diamati dengan anoreksia, nausea dan diare. Kelemahan yang progresif, coryza, keratosis pada telapak tangan dan kaki, kelopak mata yang oedematous, mata yang menonjol, kehilangan berat badan, anemia, pucat, penurunan daya tahan tubuh secara umum dan sakitsakitan dapat terjadi. Sindrom ini dapat ditimbulkan intoksikasi dari senyawa volatil yang dihasilkan oleh jamur padawall papers yang mengandung senyawa arsen atau dengan paparan terhadap asap industri, atau dengan menelan secara terus-menerus dalam jumlah kecil di dalam makanan, atau absorbsi oleh kulit secara terus-menerus dari cat / pewarnaan baju. Bentuk keracunan akut dapat tidak didahului gejala akut. Tipe kronis dari keracunan ini tidak didahului oleh gejala akut dan nampak kronis. Di India, Sirian dan Austria biasa diberikan sebagai obat-obatan, 2 gram arsenic trioxide tiap minggu. Dan ada beberapa kasus dengan pemberian dosis besar tidak menimbulkan efek toksis. Hal ini dapat diterangkan dengan teori peningkatan eliminasi atau penurunan absorbsi.

300

Sedang laporan lain melaporkan terjadinya efek toksis pada pemberian arsen. Pemeriksaan toksikologi pada kasus subakut atau kronik dapat diperlihatkan hanya sedikit jumlah arsen yang di dapat dalam tubuh. Meskipun jarang, pemeriksaan toksikologi postmortem didapatkan hasil negatif. Misalnya pada keracunan kronis dengan komplikasi jaundice berat dan beberapa lesi perdarahan dengan pemeriksaan toksikologi ketika masih hidup pada urin dapat ditemukan adanya arsen, tapi pada saat otopsi tak bisa dideteksi pada organ-organ yang rusak. Pada kasus yang berlanjut, keracunan logam dapat ditimbun pada tulang, kulit, dan rambut yang terjadi lambat, dan sebagian dari rambut, kulit dan tulang tadi dapat dipergunakan untuk pemeriksaaan kimiawi sebaik organ yang dimaksud. Arsine (Hidrogen Arsine, arsiniuretted hydrogen AsH3), merupakan gas tak berwarna, yang berbau sangat busuk. Contoh ekstrim keracunan tersebut jika hidrogen bersenyawa dengan arsen trivalent pada tes Marsh. Kasus keracunan bisa terjadi di laboratorium kimia, industri pabrik, dimana logam mencair dan terbentuk asam dan hidrogen dalam jumlah besar. Sejumlah logam dan bahan kimia yang mengandung As dari proses tersebut menghasilkan arseniuretted hydrogen. Beberapa penulis

menyebutkan timbulnya gas ini dalam kapal selam yang berasal dari lapisan baterai. Gejala keracunan dapat terjadi sangat cepat sesudah menghisap gas, atau dapat timbul setelah beberapa jam berlalu. Korban menjadi sakit atau

301

tak berdaya dan mengeluh lemas, pusing, sakit kepala, sakit perut, mual, dan muntah. Arsen dapat menyerang syaraf pusat dan mengakibatkan nekrose dan kelumpuhan. Akibat penting dari gas ini adalah menyebabkan hemolise darah merah, hemoglobinuria, dan jaundice. Umumnya muncul kurang lebih 4 jam sesudah menghisap gas. Kerusakan eritrosit dapat menginduksi anemia berat. Kematian terjadi pada 36 % kasus karena kolaps jantung yang diperberat edema paru atau seperti typoid disertai delirium. Keracunan arsine kronis terjadi karena menghirup secara berulangulang. Gejalanya terutama multipel neuritis. Penanganan awal dengan memindahkan korban dari daerah beracun dan pemberian O2. Transfusi dapat diberikan untuk menangani anemianya. Istirahat merupakan pengobatan simptomatis. Hasil otopsi: Pada otopsi ditemukan semua jaringan kekuningan, perubahan degeneratif pada hati yang meluas ke lien, dengan deposit pada parenkim, toksik pada ginjal dan pada paru. Pemeriksaan toksikologi dari arsine pada tubuh sama dengan campuran arsenic trioxide yang teroksidasi dalam jaringan. Pada keracunan akut, paru dan otak sangat baik untuk bahan analisa.

302

Laboratorium Prosedur pemeriksaan toksikologi a. Reinsch Test Reinsch tes merupakan suatu cara untuk memancing logam-logam dari campuran dengan mempergunakan: Logam Cu untuk memancing logam As dan Hg. Logam Fe untuk memancing logam Cu.

Cara Kerja: Mempersiapkan logam Cu yang akan dipakai.

Logam Cu sebelum dipakai dibersihkan terlebih dahulu dengan jalan membakar logam Cu tersebut dengan api benzene sampai membara, kemudian dimasukkan dalam HNO3 pekat lebih kurang 10 menit, lalu dimasukkan ke dalam HCl 10 % lebih kurang 10 menit, kemudian dicuci dengan air mengalir lalu dikeringkan dengan kertas saring, masukkan ke dalam alkohol selama 10 menit kemudian dimasukkan ke dalam eter untuk membebaskannya dari lemak-lemak, dan logam Cu siap dipakai. Memancing logam dari sampel

Dengan mempergunakan logam Cu yang telah kita persiapkan. Sampel sebanyak 10 gram dikeringkan dengan waterbath, lalu dihaluskan. Masukkan bubuk sampel tadi ke dalam tabung Erlenmeyer 125 cc, kemudian tambahkan 5 cc HCl pekat lalu ditambah aquadest sebanyak 10 cc. Langkah selanjutnya, masukkan logam Cu (ikat dulu dengan benang supaya nanti mengambilnya mudah, tapi

303

benangnya jangan ikut tercelup) lalu dipanaskan selama 1 jam. Sesudah itu logam diambil dan dicuci dengan air mengalir, kemudian keringkan. Periksa pada logam CU tersebut apakah terdapat noda-noda atau perubahan warna yang menunjukkan adanya logam yang berhasil dipancing, yaitu As atau Hg. Berikut ini cara kerja yang lebih sistematis: 1. Membuat spiral kawat tembaga dengan diameter 0,88 mm (BWG 20), dengan melingkarkan pada sebatang pensil sebanyak 14 kali, dengan menyisakan bagian yang lurus sepanjang 10 cm, sebagai pegangan. 2. Organ dengan berat 10 gram, misalnya isi lambung, masukkan ke dalam water bath, sampai kering, gerus sampai lumat. 3. Tepung BB dimasukkan dalam labu ehrlenmeyer 125 cc, tambahkan 5 cc HCl pekat, lalu tambahkan aquadest 10 cc. 4. Spiral Cu tadi dicuci dengan asam nitrat pekat, lalu bersihkan dengan air yang mengalir, kemudian dengan alkohol, lalu dengan eter. 5. 6. 7. Masukkan kawat spiral tadi ke dalam campuran. Panasi labu erlenmeyer tadi dengan waterbath selama 1 jam. Spiral diangkat; bersihkan dengan air mengalir untuk menghilangkan material BB yang melekat. Telitilah kalau masih ada sisa material BB yang melekat pada spiral tersebut. Dengan warna abu-abu dari Cu5As2, selain arsen; maka Sb, Bi, Ag, Hg, Se, Te, dan sulfiden akan membentuk deposit (kerak) pada spiral Cu tersebut.

304

8.

Spiral Cu tadi dimasukkan dalam tabung sublimasi, dipanasi, kemudian arsennya akan bereaksi dengan udara membentuk As2O3 dan membentuk kristal oktahedral dan tetrahedral pada bagian yang dingin. Dapat ditambahkan bahwa pada waktu disublimasikan, yang menguap ada 3 macam logam, yaitu: As, Sb dan Hg.

9. 10.

Sensitivitas: 250 mikrogram As dalam 50 cc cairan. Reaksi ini dapat diteruskan dengan reaksi lain, seperti tersebut di bawah ini.

b. Marsh Test Sifat: Spesifik untuk arsen. Harus dilakukan di almari asam. Dasar: Senyawa arsen diredusir oleh H naccent senyawa

AsH3 dipanaskan dipanaskan As + gas hidrogen. Reaksinya: As2O3 + 12 Zn + 12 H2SO4 4 AsH3 + 12 ZnSO4+ 4 H2O

H3AsO4 + 4 Zn + 4 H2SO4 -

AsH3 + 4 ZnSO4 + H2O As4 + 6 H2

AsH3 --------------------------

Cara kerja: Alat Marsh disiapkan, lengkap dengan butir-butir Zn dan H2SO4 yang

bebas dari As. Ujung tabung pemanas yang bebas disambung dengan pipa karet,

305

sedangkan ujung yang lain dimasukkan ke dalam larutan AgNO3 3 %. Gunanya untuk: 1. 2. Menghilangkan udara dalam labu Erlenmeyer agar tidak terjadi letusan. Mengetahui bahwa alat Marsh itu termasuknya reagennya bebas As. Bila

ada As, akan terjadi endapan hitam pada larutan AgNO3: 6 AgNO3 + 3 H2O + AsH3 H3AsO3 + 6 HNO2 (reaksi Hofmann)

Biarkan alat ini selama jam, kalaupun terjadi endapan pada larutan

AgNO3, harus diulangi lagi dengan alat-alat yang lebih bersih. Jika larutan AgNO3 tetap jernih, setelah jam, pipa karet dilepas, zat yang

akan diperiksa dimasukkan dalam alat Marsh, lewat corong pengisi dan pada bagian pipa yang menjepit dari pipa Marsh, dibalut dengan kasa tembaga. Dan dipanasi dengan Bunsen brander sampai memijar. Jika zat yang diperiksa mengandung As, akan terjadi cermin pada bagian

pipa setelah pemanasan. Kepekaan: 1/50 mg. Bila untuk membuat hidrogen digunakan elektrolise, dengan kepekaan 1/200 mg (4 gamma). Kepekaan yang lebih kecil lagi tidak perlu, sebab As pada jumlah yang kecil tidak toksis. Membedakan As dan Sb: Sb, bila diperiksa dengan alat Marsh, juga akan membentuk cermin, yang mudah dibedakan dengan As. 1. Cermin As terjadi di pipa Marsh sesudah pemanasan. Cermin Sb terjadi

sesudah dan sebelum pemanasan (lihat gambar).

306

2.

Bila tabung Marsh diambil dan dialiri udara sambil dipanasi sedikit, maka

cermin As akan menjadi As2O3 yang menguap dan dibawa aliran udara dan menyublim di bagian ujung sepit dari pipa Marsh, kemudian membentuk kristal yang tetra atau oktahedrat, sedang Sb membentuk sublimasi yang amorph dan dapat dilihat dengan mikroskop. 3. Bila cermin tadi adalah As, maka dapat larut dalam NaClO, sedang Sb 1 H3AsO3 + NaCl.

tidak larut. Reaksinya: 2 As + NaClO + 3 H2O 4.

Bila dalam tabung Marsh dialirkan gas H2S, maka baik As maupun Sb-nya

akan membentuk sulfidenya. Sulfide arsen yang berwarna kuning mudah menguap, dan akan menyublim di tabung yang dingin, sedangkan sulfide Sb-nya pada pemanasan tidak menguap, namun tetap tinggal di tempatnya dan berwarna kemerahan. 5. Bila dialiri gas HCl, sulfide Asnya tetap saja, sedang sulfide Sb akan

berubah menjadi chloride yang larut dalam air.

c. Metoda Gutzeit Indikator: AgNO3 kristal Larutan AgNO3 1 % Prinsip : Senyawa As direduksi oleh H2 (hasil reaksi Zn dengan H2SO4 4N) menjadi AsH3 yang berbentuk gas. Kegunaan Pb asetat untuk mengikat gas H2S yang terjadi. Sedangkan AgNO3 berfungsi sebagai indikator, bila ada As maka akan

307

terjadi senyawa AsH3 yang bila bereaksi dengan AgNO3 akan berwarna kuning dalam keadaan panas dan berwarna hitam dalam keadaan dingin. Reaksi:

Zn + H2SO4 ------- ZnSO4 + H2

As + H2 ------- AsH3

AsH3 + 6 AgNO3 ------- AsAg3.3 AgNO3 + 3 HNO3 (berwarna kuning bila panas) Dalam keadaan dingin akan berubah menjadi hitam karena dalam

udara ada H2O AsAg3.3 AgNO3 + 3 H2O ------- H3AsO + 6 Ag (hitam) + 3 HNO3 c. Sanger Black Test (modifikasi Gutzeit) Prinsip: As diubah dahulu menjadi AsH3, seperti pada percobaan Marsh. Indikator: inilah letak perbedaan reaksi Gutzeit dengan Sanger Black, dimana disini dipakai HgCl2 atau HgBr2. Percobaan ini dapat dipakai untuk menentukan As secara semikuantitatif. Percobaan ini kurang spesifik, namun cukup mudah dilakukan dan

ketidakspesifikannya mudah diatasi. Cara kerja: Gunakan alat Sanger Black atau alat Gutzeit yang dimodifikasi. Sampel yang akan diperiksa mula-mula harus ditimbang atau diukur

volumenya (ini untuk kuantitatif). Untuk mengetes kemurnian reagens dan kebersihan alatnya, dilakukan

testing dahulu, jadi dilakukan percobaan tanpa sampel.

308

Dalam labu Erlenmeyer, masukkan butiran Zn yang telah direndam dalam

larutan CuSO4 5% selama 5 menit. Lalu tambahkan H2SO4 4 N sebanyak 20 cc atau lebih. Pasanglah prop (gabus penutup) yang terbuat dari karet yang sudah

dipasangi cerobongnya yang berisi kertas saring / kapas yang telah diinfiltrir dengan Pb asetat, yang gunanya untuk menangkap H2S yang timbul yang dapat mengganggu jalannya pemeriksaan. Pada ujung cerobong dipasangi pipa kaca yang diisi dengan kertas saring

ukuran lebar 1 mm dan telah diinfiltrir dengan sublimate. Biarkan alat ini demikian selama 30 menit. Jika kertas sublimate tetap putih, berarti reagensia dan alatnya bebas dari

As, maka sediaan sampel tadi dapat dimasukkan. Ditunggu sampai terjadi perubahan warna pada kertas sublimate dan

lamanya menunggu sampai perubahan warna tadi konstan (tidak bertambah panjang lagi). Bila warna yang terjadi sudah tidak bertambah panjang lagi, berarti As

dalam labu sudah habis. Penentuan jumlah As yang ada ialah dengan cara dibandingkan dengan

panjangnya bagian yang berubah warnanya itu dengan standart yang telah dibuat terlebih dahulu dengan berbagai macam kadar. Cara membuat standard sama saja, hanya jumlah As-nya sudah diketahui lebih dahulu. Inilah sebabnya disebut semikuantitatif karena hanya membandingkan dengan standart. Reaksi yang terjadi (pada kertas sublimate):

309

AsH3 + 3 HgCl2 ------- 3 HCl + As(HgCl)3 ----- kuning 2 As(HgCl)3 + AsH3 ------- 3AsH(HgCl)2 ----- oranye AsH(HgCl)2 + AsH3 ------- 6 HCl + As2Hg3 ----- coklat Warna-warna yang terjadi: Kertas sublimate yang mula-mula putih bila terkena gas AsH3 akan berubah menjadi kuning terlebih dahulu, lalu di bawahnya timbul warna oranye, coklat, dan akhirnya hitam. Jadi bagian yang paling banyak terkena gas AsH3akan berwarna hitam, yang paling sedikit akan berwarna kuning.

Bahan-bahan untuk pemeriksaan: Kertas sublimate; adalah kertas saring yang telah direndam dalam larutan

sublimate 5 % dalam alkohol selama 5 menit, dan dikeringkan pada temperatur kamar, setelah itu tepinya dibuang lalu dipotong dengan ukuran 1 x 80 mm. Kertas / kapas Pb asetat; adalah kertas saring atau kapas yang telah

direndam dalam larutan Pb asetat 5 % selama 5 menit, lalu dikeringkan pada temperatur kamar. Jika dalam sampel, As-nya terlalu banyak, kertas sublimate yang

panjangnya 8 cm tersebut seluruhnya akan berubah warna menjadi hitam, maka percobaan ini harus diulangi lagi dengan sampel yang baru dengan cara mengencerkan sampelnya menjadi separuhnya, misalnya dengan hanya memasukkan separuh dari sampel yang ada. Yang menganggu pemeriksaan: Sb dan P.

310

Jika sampelnya diperkirakan tercampur dengan Sb atau fosfor, maka sebelum dilakukan percobaan modifikasi Gutzeit, terlebih dahulu dilakukan percobaan Reinch, lalu kawat tembaga yang telah dipakai tadi diperiksa secara modifikasi Gutzeit. Yang ikut terpancing pada kawat Cu adalah As dan Sb, sedang P-nya tidak ikut terpancing. Dan setelah percobaan modifikasi gutzeit ini selesai, maka kertas sublimate diuji dengan HCl, sehingga bila ada Sb-nya, warna hitam yang ditimbulkan oleh adanya Sb tadi akan hilang oleh uap HCl. Material untuk keperluan analisisl: 1. 2. 3. Isi lambung. Air bekas pembilas lambung (gastric lavage), ~ 100 ml/cc. Urin, ~ 100 ml/cc. Rambut, dibagi menjadi 3: ujung, tengah, pangkal; yang dipisahkan dalam

3 botol dan masing-masing diberi label 4. 5. 6. 7. 8. Kuku Tulang Kulit Hepar, liver functietest untuk mengetahui kerusakan hepar. Darah, untuk keperluan pemeriksaan albumin, pemeriksaan hematuri, dan

analisis kadar arsen, juga Hb, leukosit, eritrosit, hitung jenis (differential count), terutama perubahan eosinofil. Jumlah sampel adalah sebanyak mungkin yang dapat diambil, sebab lebih baik bersisa dan dapat dikembalikan daripada kurang. Pemeriksaan toksikologi untuk arsen harus dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif; pemeriksaan kualitatif saja tidak berarti sebab dapat pula ditemukan arsen dalam jaringan pada orang yang

311

suka minum tonikum yang mengandung As (misalnya Arseen triferol) dan orang tersebut malah sehat.

Hasil pemeriksaan: 1. Pada keracunan akut : terdapat darah dan protein. : terutama pada kasus-kasus yang fatal; konsentrasi arsen 0,1 1,5

- Air seni - Darah mg/100 gr. 2.

Pada keracunan kronis

- Rambut, kuku, air seni, dan feses: terdapat zat arsen - Darah : anemia dengan neutrophilic leucophenia.

Pengobatan 1. Bilas lambung / gastric lavage dengan 2 3 liter air dan diikuti dengan

pemberian 1 gelas susu atau colodial ferric hydroxide (persediaan yang masih baru) atau berikan 1% larutan sodium thiosulfat atau larutan B.A.L. (dimercaprol). 2. Salino cathartic (obat pencahar) dengan 15-30 gram sodium sulfat

dilarutkan dalam air. 3. Pemberian BAL (dimercaprol) dalam bentuk larutan 10 % dosis menurut

kebutuhan yang diperlukan, intermuskuler sedini mungkin. Pada keracunan berat dapat diberikan dosis tunggal 5 mg/kg berat badan dengan interval 4 jam selama 24 jam. Sesudah itu dosis dapat diturunkan dan intervalnya diperpanjang. Karena

312

pengobatan dengan dimercoprol relatif tidak berbahaya (meski begitu tetap harus diperhatikan gejala-gejala keracunan oleh B.A.L.), maka pengobatan jangka pendek (6 dosis: 2,5 mg/kg BB dengan interval 4 jam) dapat diberikan pada penderita yang dicurigai keracunan arsen. 4. Untuk menghilangkan dehidrasi, berikan cairan intravenous (suntikan /

infuse) untuk menjaga keseimbangan cairan-cairan elektrolit dalam darah. 5. 6. Hcl morfin mungkin diperlukan untuk mengontrol rasa sakit pada perut. Pada keadaan syok yang serius, selain memberikan cairan elektrolit,

transfuse darah dan pemberian oksigen diperlukan. Pertolongan / pengobatan dengan pembilasan lambung, salin cathartic (pencahar) hanya dilakukan terhadap keracunan akut yang pada umumnya keracunan melalui saluran pencernaan. Pada keracunan kronik, baik oleh karena senyawa arsen yang organik maupun yang in organik, pemberian dimercoprol pada umumnya efektif. Perbaikan gejala kronis terjadi 1-3 hari dan masa pemulihan antara 1-3 minggu tergantung dari organ atau sistem yang mengalami kerusakan. Bagaimanapun juga bila kerusakan darah sudah bersifat ireversibel seperti anemia aplastik, ensefalopati yang lanjut dan kebanyakan kasus dengan ikterus, maka penyingkiran arsen dari sistem ini adalah sedikit dapat membantu. Keracunan kronis harus diobati dengan dimercoprol jangka panjang. Eksaserbasi yang timbul sesudah terapi kenalan diperlukan pengobatan ulangan.

Glukokortikoid diperlukan bila timbul dermatitis ataupun konjungtivitis.

313

Pencegahan 1. Menghilangkan sumber bahaya yaitu dengan mensubstitusi dengan bahan-

bahan lain yang tidak beracun bila memungkinkan. 2. Mengasingkan sumber bahaya, yaitu dengan melokalisasi pekerjaan-

pekerjaan yang menggunakan bahan arsen. 3. Hindarkan pengisapan debu yang mengandung senyawaan arsen, uap

AsH3, atau dengan mengurangi kadarnya, misalnya dengan menekan jumlah debu arsen di udara sehingga menjadi 0,2 mg permeter kutub udara atau di atasnya. 4. Hindarkan dari makanan yang terkontaminasi oleh debu-debu senyawaan

arsenic. 5. Hindarkan kontak dengan bahan-bahan As dengan jalan mengusahakan

alat bantu perlindungan personal, misalnya masker, sarung tangan dan sebagainya. 6. menjaga kebersihan pribadi, mandi setelah jam kerja di tempat yang

berhubungan dengan bahan-bahan As, mencuci tangan sebelum makan. 7. Pencegahan selanjutnya ditujukan kepada keadaan lingkungan kerja

(persyaratan keselematan dan kesehatan kerja yang diwajibkan) misalnya dengan jalan memberi pendidikan / penyuluhan kesehatan dengan tujuan agar karyawan / ti mengerti akan bahaya keracunan arsen dan tahu cara pencegahannya serta sadar untuk menjalankannya.

314

BAB III PENUTUP

Toksikologi adalah subyek bahasan yang luas, yang kebanyakan berhubungan dengan alam, kejadian, gejala, biokimia, tindakan dan terapi terhadap berbagai jenis racun. Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan, dapat dibagi dalam dua kelompok, yang pertama bertujuan untuk mencari penyebab kematian, misalnya kematian akibat keracunan morfin, sianida, karbon monoksida, keracunan insektisida, dan lain sebagainya, dan kelompok yang kedua dimana sebenarnya yang terbanyak kasusnya, akan tetapi belum banyak disadari adalah untuk mengetahui mengapa suatu peristiwa, misalnya peristiwa pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan pesawat udara dan perkosaan dapat terjadi. Dengan demikian, tujuan yang kedua bermaksud untuk membuat suatu rekaan rekonstruksi atas peristiwa yang terjadi. Dalam ilmu kedokteran kehakiman, keracunan dikenal sebagai salah satu penyebab kematian yang cukup banyak sehingga keberadaannya tidak dapat diabaikan. Pada orang-orang sehat, juga bisa ditemukan arsen, misalnya pada orang yang minum tonikum yang mengandung arsen. Oleh karena itu dalam menentukan sebab kematian karena arsen, selain ditemukannya arsen dalam jaringan atau organ, juga harus dapat ditentukan kuantitas dari arsen yang ada dalam jaringan atau organ tersebut.

315

DAFTAR PUSTAKA

1. Adiwisastra, A. Keracunan, Sumber, Bahaya serta Penanggulangannya. 2. Andarwendah, Sumardi, 1982, Keracunan Arsen, Program Pendidikan Pasca Sarjana Hyperkes, FK-UGM. 3. Bagian Farmakologi FKUI, 1980, Farmakologi dan Terapi, PT Intermasa, Jakarta 4. Elkins, Hervey B. Ph.D., The Chemistry of Industrial Toxicology, 1960, John Wiley B. Sous Inc., New York, Chapenan & Hall, Lanbon, USA. 5. Gonzales, Vance, Helper, 1979, Legal Medicine Pathology and Toxicology, 6. Hadikusumo, Nawawi, dr. , 1997, DSPF, Ilmu Kedokteran Forensik, IKF III, FK UGM UMY. 7. Idries, A.M., et all, 1985, Ilmu Kedokteran Kehakiman, PT. Gunung Agung, Jakarta. 8. Nawawi, R. HSC Gen83, Peranan Pemeriksaan Kimia / Toksikologi dalam Pengadaan Visum et Repertum. 9. Kamdari, Siti HSC Gen83, Analytical Toxicology. 10. Robert & Gasselin. M.D. Ph.D, et all, 1979, Clinical Toxicology of Commercial Products Acute Poisoning, The Williams & Wilkins Co., Baltimore. 11. Sutrisno, Bram, dr, Hand Out Toxicology Industry, 1982,Yogyakarta.

316

12. Tedeschy, Cokert, Tedeschi. Forensic Medicine, A Study in Trauma and Enviromental hazards, Volume II. 13. Thienes, Clinton H. M.D. Ph.D, Thomas Y. Haley Ph.D, 1972, Clinical Toxicology, Heurg kimpton Publishers London, Great Britain.

317