Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut faham ulama sufi bahwa secara fitrah – semenjak dilahirkan – manusia
telah dibekali sebuah kesadaran bahwa dirinya memiliki Tuhan. Oleh karena itu, ada
ulama yang berpendapat, sekalipun seseorang dilahirkan dalam keadaan primitif, tanpa
mengenal agama, namun hati nuraninya cenderung mengakui bahwa jagad raya termasuk
dirinya itu di bawah sang Penguasa. Ia yakin di balik kekuatan ada kekuatan asal. Di
balik penciptaan ada yang menciptakan lebih awal.1
Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi
orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang
dia menyaksikannya”. (Q.S. Qaaf: 37).2

Mengenal Allah (ma’rifat Allah), adalah pokok dasar agama, dalam arti ia
merupakan sentral agama Islam secara menyeluruh (integral). Tanpa ma’rifat ini, semua
amal dalam ajaran islam pada hakikatnya tidak ada harganya sama sekali.3 Apabila
dampak positif ma’rifatullah diketahui, pastilah orang-orang akan berlomba mengenal
Allah lebih jauh. Demikian pula bagi orang yang beriman, semangatnya untuk
meningkatkan ma’rifah akan semakin menyala. Akan tetapi karena Allah itu bersifat
ghaib dan tidak terjangkau oleh indera kita, upaya untuk lebih jauh mengenalnya tidak
dapat dilakukan hanya mengandalkan pengamatan inderawi. Karena keghaiban,
kesempurnaan, dan keagungan-Nya itulah, kita hanya dapat mengenali melalui ayat-ayat-
Nya.4

1
Syekh Ibnu Jabr ar-Rummi. 2007. Mendaki Tangga Ma’rifat. Mitrapress, hlm. 23.
2
Departemen Agama RI. 1998. AlQuran dan Terjemahannya. Jakarta: CV. Toha Putra Semarang, hlm. 854
3
Sa’id Hawwa. 2005. Allah – Keberadaan, Kekuasaan, dan Asma-Nya. Jakarta: PT Rineka Cipta, hlm. 7.
4
Jasiman, Lc. Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah, hlm. 52.

1
Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.(Q.S. Ali
‘Imran: 190).1

1.2 Tujuan
Tujuan makalah ini adalah:
Mengetahui dan memahami tentang pengertian mengenal Allah, sifat dan asma
jalan menuju Allah serta arti mengenal Allah dan hikmahnya yang akan dijelaskan pada
bab pembahasan.

BAB II
PEMBAHASAN
1
Departemen Agama. AlQuran dan Terjemahannya, hlm. 109.

2
2.1. Pengertian Mengenal Allah (Ma’rifatullah)
2.1.1 Pengertian Mengenal Allah (Ma’rifatullah) Secara Etimologi (Bahasa)
Menurut kamus umum bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwadarminta,
mengenal berasal dari kata kenal, tahu, ingat, mengetahui dan kata Allah berarti Roh
Yang Mahasempurna yang menciptakan alam semesta; - azzawajallah.1 Kemudian
menurut kamus bahasa Arab yang disusun oleh Asad M. Alkalali, mengenal berasal dari
kata ‘arafa, ya’rifu dan Allah berasal dari kata Allāh.2 Sedangkan menurut kamus bahasa
Inggris Indonesia yang disusun oleh John M. Echols dan Hasan Shadily, mengenal
berasal dari kata know (simple present tense), knew (simple past tense), known (past
participle) dan Allah yaitu God yang berarti Tuhan (yang Maha Esa).3
2.2.2 Pengertian Mengenal Allah (Ma’rifatullah) Secara Terminologi (Istilah)
Adapun pengertian mengenal Allah (ma’rifatullah) secara terminologi (istilah)
yaitu:
a. Menurut Syekh Ibnu Jabr ar-Rummi yaitu suatu pengetahuan (ilmu) yang
didasarkan atas keyakinan yang penuh terhadap ‘sesuatu’ hingga tidak ada lagi
keraguan di dalam hati. Maksud ‘sesuatu’ adalah Allah.4
b. Menurut Imam Al-Ghazali, mengenal Allah yaitu ilmu (mengetahui) wujud Allah
Ta’ala, qidam (dahulu tanpa permulaan) Nya, sesungguhnya Dia bukan jauhar
(materi), bukan jisim (tubuh), bukan ‘ardh (sifat dari jauhar), sesungguhnya Dia
Maha Suci, tidak tertentu dengan arah dan tidak menetap pada suatu tempat,
sesungguhnya Dia melihat dan sesungguhnya Dia itu adalah Esa.5
c. Menurut Hasbi Ash Shiddieqy yaitu mengenal Allah Tuhan seru sekalian alam
dengan jalan memperhatikan segala makhluk-Nya dan memperhatikan segala
jenis kejadian alam ini.6

2.2. Sifat dan Asma Jalan Menuju Allah

1
W.J.S Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm. 478 dan 32.
2
Asad M. Alkalali. Kamus Indonesia-Arab, hlm. 252 dan 14.
3
John M. Echols dan Hassan Shadily. Kamus Inggris-Indonesia, hlm. 344 dan 274.
4
Syekh Ibnu Jabr ar-Rummi. 2007. Mendaki Tangga Ma’rifat, hlm. 269.
5
Imam Al-Ghazali. Ihya’ Ulumiddin, hlm. 104
6
Hasbi Ash Shiddieqy. Al Islam., hlm. 104.

3
Menurut Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, sifat dan asma jalan
menuju Allah merupakan Tauhid Asma’ wa sifat. Tauhid Asma’ wa sifat yaitu beriman
kepada nama-nama Allah, tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil.1 Berdasarkan
firman Allah:

Artinya: “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu
sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula),
dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang
serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”.2

Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan
bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan
disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diri-Nya dan dengan nama dan
sifat yang disampaikan oleh Rasul-Nya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak
boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah itu
sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada Rasul-
Nya.3

2.2.1. Sifat-sifat Allah


Allah SWT memiliki 20 sifat wajib(Sifat kesempurnaan yang pasti dimiliki oleh
ALLAH SWT) dan 20 sifat mustahil (Sifat yang mustahil dimiliki ALLAH SWT) serta
satu sifat jaiz (wewenang).
Dua puluh sifat wajib dan dua puluh sifat mustahil tersebut, adalah:

1
Dr. Shalih bin Fauzan. Kitab Tauhid 1., hlm. 97.
2
Departemen Agama. AlQuran dan Terjemahannya., hlm. 784.
3
Ibid., hlm. 97-98.

4
1. Allah itu Wujud (ada), mustahil ‘Adam (tiada). “Allah lah yang
menciptakan Iangit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. (QS.
As Sajdah: 4).
2. Allah itu Qidam (paling awal), mustahil Huduts (ada yang mendahului).
“Dialah yang Awal dan Yang Akhir. Yang Zhahir (Yang nyata adanya
karena banyak buktinya) dan yang Batin (yang tak dapat digambarkan
hikmat Dzat-Nya oleh akal).” (QS. Al Hadid: 3).
3. Allah itu Baqo (kekal/abadi/tidak pernah berakhir), mustahil Fana
(berakhir). “Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran
dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 27).
4. Allah itu Mukholafatu lil hawaditsi (berbeda dengan semua mahluk/segala
sesuatu), mustahil Mumatsalatu lil hawaditsi (ada yang menyamai).
Ditegaskan dalam Al Qur’an, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan
Dia.” (QS. Asy Syuro: 11).
5. Allah itu Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri), mustahil Ihtiyaju lighoirihi
(membutuhkan yang lain). “sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya
(tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al Ankabut: 6).
6. Allah itu Wahdaniyat (Esa/Tunggal), mustahil Ta’adud (terbilang).
“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.” (QS.Al Ikhlas: 1).
7. Allah itu Qudrat (Kuasa), mustahil ‘Ajzun (lemah). “Sesungguhnya Allah
berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqoroh: 20).
8. Allah itu Irodat (berkehendak), mustahil Karohah (terpaksa).
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia
kehendaki.” (QS. Hud: 107).
9. Allah itu Ilmu (maha mengetahui), mustahil ]ahlun (bodoh). “Dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.An Nisa’: 176).
10. Allah itu Hayat (hidup), mustahil Mautun (mati).
11. Allah itu Sama’ (Maha mendengar), mustahil Shomamun (tuli). “Dan
Allah Maha Mendengar serta Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqoroh: 256).
12. Allah itu Bashor (Maha Melihat), mustahil ‘Ama (buta). “Dan Allah Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hujurat: 18).

5
13. Allah itu Kalam (berfirman), mustahil Bakamun (bisu). “Dan Allah telah
berbicara kepada (Nabi) Musa dengan langsung.” (QS. An Nisa: 164).
14. Allah itu Qodiron (Dzat Yang Maha Berkuasa), mustahil Kaunuhu ‘ajiyan
(Dzat yang lemah). “Sesungguhnya Alllah berkuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al Baqoroh: 20).
15. Allah itu Muridan (Dzat Yang Maha Berkehendak), mustahil Kaunuhu
kariban (Dzat yang terpaksa). “Sesungguhnya Tuhanmu Maha
Melaksanakan apa yang Dia kehendaki.” (QS. l1/Hud: 107).
16. Allah itu Aliman (Dzat Yang Maha Mengetahui), mustahil Kaunuhu
jahilan (Dzat yang bodoh). “Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu.” (QS.
4/An Nisa’: 176).
17. Allah itu Hayyan (Dzat Yang Hidup), mustahil Mayyitan (Dzat yang mati).
“Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati.”
(QS. Al Furqon: 58).
18. Allah itu Sami’an (Dzat Yang Maha Mendengar), mustahil Kaunuhu
ashomma (Dzat yang tuli). “Allah Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui.” [QS. Al Baqoroh: 256).
19. Allah itu Bashiron (Dzat Yang Maha Melihat), mustahil Kaunuhu 'ama
(Dzat Yang buta). "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al Hujurat: 18).
20. Allah itu Mutakalliman (Dzat yang berfirman), mustahil Kaunuhu abkama
(Dzat yang bisu). "Dan Allah telah berbicara kepada (Nabi) Musa dengan
langsung." [QS. An Nisa': 164).

Sifat ]aiz (wewenang) Allah SWT adalah tarku likuli mumkinin au fi’luhu. (Allah
SWT berwewenang menciptakan sesuatu atau tidak).

Sifat-sifat Allah SWT. tersebut diatas, dikelompokkan empat, yaitu:

1. Sifat Nafsiah (kedirian), yakni sifat yang pertama.


2. Siaft Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang membedakan Allah SWT dengan Dzat-dzat
lain, seperti sifat nomor 2,3,4 dan 6.

6
3. Sifat Ma’ani, yakni sifat-sifat abstrak seperti sifat nomor : 7,8,9,10,11,12 dan 13.
4. Sifat Ma’nawiyah, yakni sifat-sifat berikutnya atau sifat-sifat yang tergantung
pada ma’ ani

2.2.2. Asma Allah


Allah SWT berfirman:

Artinya: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari
kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.1(Q.S. Al A’raaf: 180)

Dari Abu Huraira R.A.: Nabi saw. bersabda: "Allah itu memiliki sembilan puluh
sembilan nama yang bagus. Barang siapa yang mampu menghafalnya, maka dia akan
masuk syurga. Sesungguhnya Allah itu ganjil (esa) dan Dia menyukai [bilangan] yang
ganjil." (Sahih Bukhari).
Sebagian makna asma-ul husna:
Al-Quddus, adalah Yang bersih dari segala cacat. As-Salam, selamat dari segala
cacat atau Pemberi keamanan terhadap hamba-Nya. Al-Mu’min, Yang dibenarkan janji-
Nya bagi makhluk-Nya, dan yang memberikan keamanan dari siksa-Nya. Al-Muhaimin,
Yang Menguasai dan Yang Mengatur, atau Yang menyaksikan dan mengetahui segalanya.
Al-Ajiz, Yang memaksa dan mengalahkan. Al-Jabbar, Yang berjalan segala perintah-Nya.
Al-Mutakabbir, Yang mengungguli dari sifat makhluk, Yang independent karena sifat
kebesaran-Nya. Al-Bari, Yang mencipta, sifat ini terhadap hamba yang memiliki nyawa
lebih nampak. Misalnya, pencipta manusia serta langit dan bumi. Al-Muqit, Yang
mengetahui dan mengerti. Al-Hasib, Yang mencukupi hamba-Nya. Al-Muhshi, yang
menghitung segala sesuatu ilmu-Nya, dengan jaminan tak ada satupun yang tertinggal.

1
Departemen Agama. AlQuran dan Terjemahannya, hlm. 252.

7
Al-Barr, Yang sayang terhadap hamba-Nya dengan kebaikan dan kelembutan-Nya. Al-
Muqsith, Yang adil dalam hokum-Nya. Ar-Rasyid, Yang menunjukkan makhluk-Nya
pada kebaikan-Nya. Ash-Shabur, Yang tidak tergesa-gesa untuk menyiksa orang-orang
ahli maksiat.1

2.3. Arti Mengenal Allah dan Hikmahnya


2.3.1. Arti Mengenal Allah
Mengenal Allah Tuhan seru sekalian alam. Jalan untuk mengnal Allah, ialah
dengan memperhatikan segala makhluk-Nya dan memperhatikan segala jenis kejadian
alam ini. Sesungguhnya segala yang diciptakan Allah, semuanya menunjukkan akan
“adanya Allah”. Untuk mengenal Allah, maka dia telah menganugrahkan akal pikiran.
Akal dan pikiran itu adalah alat yang penting untuk mengenal Allah, Zat Yang Maha
Suci, Zat yang tiada bersekutu dan tiada yang serupa.2
Karena yang kita kenali adalah Pencipta semesta alam yang telah menguasai
manusia dan menyiapkan untuknya segala kebutuhan di langit dan di bumi ; menciptakan
malaikat penjaga yang selalu setia menjalankan tugas melindungi manusia; menciptakan
hewan, tumbuhan, dan makhluk-makhluk lain yang kesemuanya ditundukkan untuk
manusia; serta yang mendengar pengaduan hamba-Nya saat ia menghadapi kesulitan lalu
menyelesaikan persoalannya dengan arif dan bijaksana.3

2.3.2. Hikmah Mengenal Allah


Mengutip karya Dr. Shalih bin Fauzan, ada beberapa hikmah mengenal Allah, yaitu :
1. jika seseorang mengetahui asma’ dan sifat-Nya, juga mengetahui madlul ( arti
dan maksudnya) secara benar, maka yang demikian itu akan memperkenalkannya
dengan Rabb-nya beserta keagungan-Nya. Sehingga ia tunduk dan khusyu,
kepada-Nya, takut dan mengharapkan-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat-
Nya.4
2. jika kita mengetahui bahwa Rabb-Nya sangat dahsyat adzab-Nya, Dia bisa
murka, Maha Kuat, Mahaperkasa dan Mahakuasa melakukan apa saja yang Dia
1
Jum’ah Amin Abdul Aziz. Pemikiran Hasan Al-Banna dalam Akidah dan Hadist., hlm. 45-46.
2
Hasbi Ash Shiddieqy. Al Islam., hlm. 104.
3
Jasiman, Lc. Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah, hlm. 50
4
Dr. Shalih bin Fauzan. Kitab Tauhid I., hlm. 135

8
kehendaki, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala
sesuatu yang tidak satupun terlepas dari ilmu-Nya, maka hal itu akan
membuatnya bermuraqabah (merasa diawasi Allah), takut dan menjauhi maksiat
terhadap-Nya.1
3. jika kita mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha
Kaya, Maha Mulia, senang pada taubat hamba-Nya, mengampuni dosa dan
menerima taubat orang yang bertaubat, maka hal itu akan membawanya kepada
taubat dan istighfar, juga membuatnya bersangka baik kepada Rabb-nya dan
tidak akan berputus asa dari Rahmat-Nya.2

1
Opcit., hlm. 136
2

9
DAFTAR PUSTAKA

Ar-Rummi, Ibnu Jabr.2007. Mendaki Tangga Ma’rifat. Mitrapress.


Departemen Agama RI. 1998. AlQuran dan Terjemahannya. Jakarta: CV. Toha Putra
Semarang.
Jasiman, Lc. 2005. Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah. Solo: Auliya Press.
W.J.S Poerwadarminta. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai
Pustaka.
Asad M. Alkalali. 1987. Kamus Indonesia-Arab. Jakarta: Bulan Bintang.
John M. Echols dan Hassan Shadily. 2003. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia.
Al-Ghazali, Imam. 1994. Ihya’ Ulumiddin.
Al-Ghazali, Imam. 1994. Ihya’ Ulumiddin. Terjemahan oleh Drs. H. Moh Zuhri. 2003.
Semarang: CV. Asy Syifa.
Aziz, Abdul. 2004. Pemikiran Hasan Al-Banna dalam Akidah dan Hadist. Terjemahan
oleh Syofiyullah Mukhlas. 2004. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Fauzan, bin Shalih Dr. 2001. Kitab Tauhid I. Terjemahan oleh Agus Hasan Bashori, Lc.
2001. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
http://umroh-haji.net/muslimindonesia/iman/mengenal-allah-swt/sifat-sifat-allah-swt/
http://safeourlife.info/en/component/content/article/60-sifat-sifat-allah

10
11