Anda di halaman 1dari 29

Prof. Dr. Bambang Herianto, M.Si Dr. Ria Wikantari, M.

Eng

Mukhlishah Sam / P320021005

Menurut Turan dalam buku Vernacular Architecture, arsitektur vernacular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berjangkar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material local serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi. . browsing, 14 Desember 2011.

http://de-arch.blogspot.com/2008/10/arsitektur-vernakular-tin

Romo Mangunwijaya dalam buku Wastu Citra, arsitektur vernacular adalah pengejawentahan yang jujur dari tata cara kehidupan masyarakat dan merupakan cerminan sejarah dari suatu tempat.

Paul Oliver dalam bukunya Ensiklopedia Arsitektur Vernakular menjabarkan bahwa arsitektur vernakular konteks dengan lingkungan sumber daya setempat yang dibangun oleh suatu masyarakat dengan menggunakan teknologi sederhana untuk memenuhi kebutuhan karakterisitik yang mengakomodasi nilai ekonomi dan tatanan budaya masyarakat dari masyarakat tersebut. , browsing, 14 Desember 2011.

http://www.scribd.com/doc/45304439/ARSITEKTUR-VER

KAIDAH UTAMA PERANCANGAN


Melalui proses pengalaman (empirical) bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar akan perlindungan/naungan (shelter), termasuk didalamnya proses mencoba dan memperbaiki (trials dan error), sampai pada kaidah karya rancang yang dianggap telah memenuhi kebutuhan fisiologi dasar, sehingga kemudian dibakukan dan selanjutnya diikuti sebagai pedoman dasar, dengan elemen inti (core) yang pada umumnya tetap, sedangkan variasi dimungkinkan pada elemen rancangan yang bukan inti. Bahan ajar, Wikantari/Vernakular-2 Kasus.

Rumah yang akan menjadi objek penelitian arsitektur vernakular bugis, terletak dijalan Jl. Abd Rasyid Dg. Lurang BTN Gowa Sarana Indah Blok D1 no 16, Sungguminasa-Gowa. Prof. Dr. H. Samiang Katu, M.Ag., adalah pemilik dari rumah yang akan dijadikan objek penelitian, bekerja sebagai Dosen di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

SKALA BANGUNAN
Hampir sebagain besar arsitektur vernakular yang ada di Indonesia menggunakan skala manusiawi, dalam proses perancangannya. Begitu pula pada arsitektur vernakular bugis. Manusiawi, sebagai hasil dari pengukuran dimensi antropometrik, berdasarkan ukuran tubuh dan elemen tubuh manusia yaitu, penghuni (figur kepala keluarga, figur ibu). Bahan ajar, Wikantari/Vernakular-2 Kasus.

Dalam pandangan kosmologis Bugis, rumah tradisional mereka adalah 'mikro kosmos' dan juga merupakan refleksi dari 'makro kosmos' dan 'wujud manusia'. Tradisi Bugis menganggap bahwa Jagad Raya (makro kosmos) bersusun tiga, yaitu Boting langi (dunia atas), Ale-kawa (dunia tengah), dan Buri-liung (dunia bawah).

Sumber: http://www.ATRIUM-merahitam- ARSITEKTUR-RUMAH-ADAT-BUGIS,-SULAWESISELATAN.html

Rakkeang: loteng di atas badan rumah merupakan simbol 'dunia atas', tempat bersemayam Sange-Serri (Dewi Padi). Ruangan ini digunakan khusus untuk menyimpan padi. Watang-pola (badan rumah) simbol 'dunia tengah'. Ruangan ini merupakan tempat tinggal. Terdiri atas tiga daerah, yaitu: (a) Ruang Depan: untuk menerima tamu, tempat tidur tamu, dan tempat acara adat dan keluarga; (b) Ruang Tengah: untuk ruang tidur kepala keluarga, isteri dan anak-anak yang belum dewasa, tempat bersalin, dan ruang makan keluarga; (c) Ruang Dalam: untuk ruang tidur anak gadis dan nenek-kakek. Ada bilik tidur untuk puteri, ruang yang paling aman dan terlindung dibanding ruang luar dan ruang tengah

. Awa-bola: kolong rumah tidak berdinding, simbol 'dunia bawah'. Tempat menaruh alat pertanian, kuda atau kerbau, atau tempat menenun kain sarung, bercanda, dan anak-anak bermain. Ukuran panjang, lebar dan tinggi rumah ditentukan berdasarkan ukuran anggota tubuh tinggi badan depa dan siku suamiisteri pemilik rumah. Dengan demikian, proporsi bentuk rumah merupakan refleksi kesatuan wujud fisik suamiisteri pemilik rumah.

GAYA BANGUNAN
Pandangan kosmogoni orang bugis ini dengan apa yang disebut konsep Sulapaq Eppaq Wola Suji (Segi Empat Belah Ketupat). Konsep Sulapaq Eppaq adalah filsafat tertinggi orang bugis yang menjadi seluruh wujud kebudayaan dan sosialnya.

Pada kasus kali ini, mencoba mengangkat konsep Sulapaq Eppaq Wola Suji (Segi Empat Belah Ketupat), pada rumah tinggal. Ini terlihat pada bentuk denah yang mencoba menselarasakan antara konsep rumah bugis dengan kondisi lahan yang telah ada.

Penggunaan tipa laja pada bangunan ini, menambah kesan bahwa bangunan ini adalah rumah bugis.

Tipa laja pada teras rumah.

Tipa laja pada ruangan tambahan

Pada bagian bawah teras terdapat rongga yang difungsikan sebagai gudang penyimpanan balok sisa hasil bangunan. Pada rumah bugis bagian ini dinamakan awa bola yang difungsikan sebagai tempat peliharaan hewan ataupun tempat menyimpan kendaraan.

Awa bola yang difungsikan sebagai tempat penyimanan balok , sisa hasil bangunan.

MATERIAL
Material yang digunakan pada bangunan rumah tinggal ini adalah kayu, kramik dan dinding bata. Penggunaan kayu, dapat dilihat pada lantai ruang tamu dan lantai 2 disetiap ruangan. Selain pada lantai, penggunaan relling dan tangga yang ada di dalam rumah pada bangunan ini juga dari material kayu.

Tangga

Relling

Lantai

TEKNOLOGI KONSTRUKSI
Ada hal yang menarik dari teknologi konstruksi rumah bugis. Pada penyambungan balok induk dengan balok anak tidak menggunakan paku atau pun baut pada konstruksi penyambungannya. Yang digunakan untuk mrnyambung adalah pasak atau sisa kayu yang digunakan untuk merapatkan sambungan.

FINISHING
Finishing pada rumah bugis tidak sama dengan finishing rumah yang terbuat dari dinding bata atau pun dinding masif. Rumah bugis, menggunakan papan (kayu) yang diatur secara rapi membentuk dinding bangunan. Setelah dinding kayu terpasang, barulah dinding kayu di cat, biasanya menggunakan oli terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya lapuk pada dinding kayu. Setelah oli yang dilumuri pada dinding kayu, barulah dinding kayu siap di cat menggunakan vernis. Ini di maksudkan agar warna alami dari dinding kayu tetap ada.

PROSES PEMBANGUNAN
Awalnya rumah ini, 2 rumah kopel yang diratakan dan dibangun kembali, yang pemilik rumah berusaha menciptakan rumah bugis. Karena pemilik rumah ini adalah orang bugis. Ini adalah denah rumah setelah pembangunan awalnya.

R U A N G A N

4 2 1 1

9 6 8

6 7

12 1 1

11

1 2

1 0

10

15 13

14

14 15 13

18

1 8

1 7

17

1 6

16

Pada tahun 2010 rumah ini mengalami pertembahan jumlah ruangan pada lantai dua. Ini karena kebutuhan ruang untuk penghuni.

Penambahan Ruang

22

19

20

22 21

21

19
20

EKSISTENSI BANGUNAN
Pada akhirnya rumah yang dijadikan objek penelitian telah samapi pada titik yang sangat esensial. Dimana rumah ini, sudah lebih dalam mengadopsi arsitektur vernakular bugis. Mulai dari bentuk bangunan sampai pada unsur-unsur estetika yang terkandung didalamnya. Jikalau rumah ini akan direnovasi, mungkin hanya pada bagian belakang rumah saja. Itu pun pada bagian atap rumah. Sebab, jika diadakan renovasi pada bagian depan rumah, identitas dari bentuk rumah vernakuler bugis akan terhapus, akibat dari renovasi yang dilakukan.

FAKTOR PENENTU
Ada beberapa faktor penentu dalam pembentukan rumah bugis, tetapi yang paling dominan dari faktor tersebut adalah faktor sosial-budaya. Ini tercermin dari, bentuk rumah. Dalam membangun rumah bugis, berdasarkan tingkat sosial si pemilik rumah. Sedangkan untuk penentuan tata ruang rumah bugis, didasarkan dari isi penghuni rumah.