Anda di halaman 1dari 75

BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN

A. Konsep Dasar 1. Manajemen Keperawatan Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Di dalam manajemen tersebut mencakup kegiatan POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) terhadap staf, sarana, dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Grant dan Massey, 1999 dalam Nursalam, 2008). Menurut Gillies (2005), manajemen didefinisikan sebagai sutu proses dalam menyelesaikan masalah pekerjaan melalui orang lain. Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara professional. Manajer keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang seefektif dan seefisien mungkin bagi individu, keluarga dan masyarakat. Seluruh aktivitas manajemen, kognitif, afektif dan psikomotor barada dalam satu atau lebih dari fungsi-fungsi utama yang bergerak mengarah pada satu tujuan. Sehingga selanjutnya, bagian akhir dalam proses Manajemen Keperawatan adalah perawatan yang efektif dan ekonomis bagi semua kelompok.

2. Fungsi Manajemen Manajemen keperawatan memiliki beberapa elemen utama berdasarkan fungsinya yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), staffing (kepegawaian), directing (pengarahan) dan controlling

( pengendalian/evaluasi). 2.1 Planning (Perencanaan) Fungsi perencanaan adalah fungsi terpenting dalam manajemen karena perencanaan merupakan tuntunan terhadap proses pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Menurut Swanburg (2000), planing adalah memutuskan seberapa luas akan dilakukan, bagaimana melakukannya dan siapa yang melakukannya. Didalam proses keperawatan perencanaan membantu untuk menjamin bahwa klien atau pasien akan menerima pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan serta pelayanan ini diberikan oleh pekerja keperawatan agar mendapat hasil yang memuaskan sesuai tujuan. 1. Tujuan perencanaan a. sasaran dan tujuan b. efektif c. d. Membantu dalam koping terhadap situasi krisis Efektif dalam hal biaya Agar penggunaan personel dan fasilitas yang tersedia Untuk menimbulkan keberhasilan dalam mencapai

e.

Membantu menurunkan elemen perubahan, karena

perencanaan berdasarkan masa lalu dan akan datang f. berubah 2. Tahapan dalam perencanaan a. Menetapkan tujuan b. Merumuskan keadaan sekarang c. Mengidentifikasi kemudahan dan hambatan d. Mengembangkan serangkaian kegiatan e. Jenis perencanaan : Perencanaan strategi Perencanaan yang sifatnya jangka panjang yang ditetapkan oleh pemimpin dan merupakan arahan umum suatu organisasi. Digunakan untuk mendapatkan dan mengembangkan pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien, juga digunakan untuk merevisi pelayanan yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan masa kini. Perencanaan operasional Menguraikan aktivitas dan prosedur yang akan digunakan serta menyusun jadwal waktu pencapaian tujuan, menentukan siapa orang-orang yang bertanggung jawab untuk setiap aktivitas dan prosedur serta Dapat digunakan untuk menemukan kebutuhan untuk

menggambarkan cara menyiapkan orang-orang untuk bekerja dan prosedur untuk mengevaluasi perawatan pasien.

3.

Manfaat perencanaan a. Membantu proses manajemen dalam menyesuaikan diri

dengan perubahan-perubahan lingkungan b. Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran

operasi lebih jelas c. d. pelaksanann e. f. Memudahkan koordinasi Membuat tujuan lebih khusus, lebih terperinci dan lebih Membantu penetapan tanggung jawab lebih tepat Memberikan cara pemberian perintah yang tepat untuk

mudah dipahami g. h. Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti Menghemat waktu dan dana

4.

Keuntungan perencanaan a. b. c. d. e. f. Meningkatkan peluang sukses Membutuhkan pemikiran analitas Mengarahkan orang ketindakan Memodifikasi gaya manajemen Fleksibilitas dalam pengambilan keputusan Meningkatkan keterlibatan anggota

5.

Kelemahan perencanaan

a.

Kemungkinan perkerjaan yang tercakup dalam perencaan

berlebihan pada konstribusi nyata b. c. d. Cenderung menunda kegiatan Terkadang kemungkinan membatasi inovasi dan inisiatif Kadang-kadang hasil yang lebih baik didapatkan oleh

penyelesaian situasional individual dan penanganan suatu masalah pada saat masalah itu terjadi e. Terdapat rencana yang diikuti oleh/atau dengan rencana

yang tiadak konsisten

2.2 Organizing (Pengorganisasian) Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan,

mengelompokkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, penetapan tugastugas dan wewenang seseorang, pendelegasian wewenang dalam rangka mencapai tujuan. Fungsi pengorganisasian merupakan alat untuk memadukan semua kegiatan yang beraspek personil, finansial, material dan tata cara dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Muninjaya, 1999) 1. Manfaat pengorganisasian, akan dapat diketahui: a. b. Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok Hubungan organisatoris antara orang-orang didalam

organisai tersebut melalui kegiatan yang dilakukannya c. d. Pendelegasian wewenang Pemanfaatan staff dan fasilitas fisik

2.

Tahapan dalam pengorganisasian a. Tujuan organisasi harus dipahami staf, tugas ini sudah

tertuang dalam fungsi manajemen b. Membagi habis pekerjaaan dalam bentuk kegiatan pokok

untuk mencapai tujuan c. Menggolongkan kegiatan pokok kedalam satuan-satuan

kegiatan yang praktis d. Menetapkan berbagai kewajiban yang harus dilakukan oleh

saff dan menyediakan fasilitas yang diperlukan e. f. Penugasan personil yang tepat dalam melaksanakan tugas Mendelegasikan wewenang

2.3 Staffing (Kepegawaian) Staffing adalah metodologi pengaturan saff, merupakan proses yang teratur, sistematis, berdasarkan rasional diterapkan untuk menentukan jumlah dan jenis personal suatu organisasi yang dibutuhkan dalam situasi tertentu (Aydelotte, dikutip oleh Swanburg, 2000) Komponen yang termasuk dalam fungsi staffing adalah: prinsip rekruitmen, seleksi, orientasi pegawai baru, penjadwalan tugas, dan klarisifikasi pasien. Komponen tersebut merupakan suatu proses yang mana nantinya

berhubungan dengan penjadwalan siklus waktu kerja bagi semua personel yang ada.

10

Terdapat beberapa langkah yang diambil untuk menentukan waktu kerja dan istirahat pegawai, yaitu: 1. Menganalisa jadwal kerja dan rutinitas unit 2. Memberikan waktu masuk dan libur pekerjaan 3. Memeriksa jadwal yang telah selesai 4. Menjamin persetujuan jadwal yang dianjurkan dari manajemen keperawatan 5. Memasang jadwal untuk memberitahu anggota staf 6. Memperbaiki dan memperbaharui jadwal tiap hari

2.4 Directing (pengarahan) Kepemimpinan adalah penggunaan proses komunikasi untuk

mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan dalam suatu kegiatan yang unik dan tertentu (La Monica, 1998). Didalam kepemimpinan selalu melibatkan semua elemen dalam sistem pelayanan kesehatan dan yang mempengaruhi elemen tersebut adalah seorang pemimpin. Menurut Kurt Lewin, terdapat beberapa macam gaya kepemimpinan, yaitu: 1. Autokratik membuat keputusan sendiri, mereka lebih mementingkan

Pemimpin

penyelesaian tugas

dari pada perhatian karyawan sehingga menimbulkan

permusuhan dan sifat agresif atau sama sekali apatis dan menghilangkan inisiatif

11

2.

Demokratis

Pemimpin melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan, mereka berorientasi pada bawahan. Kepemimpinan ini meningkatkan produktivitas dan kepuasan kerja. 3. Laissez faire

Pemimpin memberikan kebebasan dan segala serba boleh dan pantang memberikan bimbingan kepada staf. Hal ini dapat mengakibatkan produktivitas kerja rendah dan staf frustasi.

2.5 Controlling ( Pengendalian/evaluasi) Controlling adalah proses pemeriksaan apakah segala sesuatu yang terjadi sesuai dengan rencana yang telah disepakati, instruksi yang dikeluarkan, serta prinsip-prinsip yang ditetapkan, yang bertujuan untuk menunjukkan kekurangan dan kesalahan agar dapat diperbaiki dan tidak terjadi lagi (Fayol, 1949 dikutip Swanburg, 2002) Tugas seorang manajerial dalam usaha menjalankan dan mengembangkan fungsi pengawasan manajerial perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut: 1. Pengawasan yang dilakukan harus dimengerti oleh staf dan hasilnya mudah diukur.

12

2. Fungsi pengawasan merupakan kegiatan yang amat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi. 3. Standard untuk kerja yang akan diawasi perlu dijelaskan kepada semua staf, sehingga staf dapat lebih meningkatkan rasa tanggung jawab dan komitmen terhadap kegiatan program. 4. Kontrol sebagai pengukuran dan koreksi kinerja untuk meyakinkan bahwa sasaran dan kelengkapan rencana untuk mencapai tujuan telah tersedia, serta alat untuk memperbaiki kinerja. Terdapat 10 karekteristik suatu sistem kontrol yang baik: 1. Harus menunjukkan sifat dari aktifitas 2. Harus melaporkan kesalahan-kesalahan dengan segera 3. Harus memandang kedepan 4. Harus menunjukkan penerimaan pada titik krisis 5. Harus objektif 6. Harus fleksibel 7. Harus menunjukkan pola organisasi 8. Harus ekonomis 9. Harus mudah dimengerti 10. Harus menunjukkan tindakan perbaikan Ada 2 metode pengukuran yang digunakan untuk mengkaji pencapaian tujuan keperawatan, yaitu: 1. Analisa data

13

Kepala perawat melihat gerakan, tindakan dan prosedur yang tersusun dalam pedoman tertulis, jadwal, aturan, catatan, anggaran. Hanya ukuran fisik saja dan secara relatif beberapa alat digunakan untuk analisa tugas dalam keperawatan. 2. Kontrol kualitas

Kepala perawat dihadapkan pada pengukuran kualitas dan akibat-akibat dari pelayanan keperawatan. Manfaat pengawasan Apabila fungsi pengawasan dan pengendalian dapat dilaksanakan dengan tepat maka akan diperolah manfaat: 1. Dapat diketahui apakah suatu kegiatan atau program telah dilaksanakan sesuai dengan standar atau rencana kerja 2. Dapat diketahui adanya penyimpangan pada pengetahuan dan pengertian staf dalam melaksanakan tugas-tugasnya 3. Dapat diketahui apakah waktu dan sumber daya lainnya telah mencukupi kebutuhan dan telah digunakan secara benar 4. Dapat diketahui staf yang perlu diberikan penghargaan atau bentuk promosi dan latihan kerja.

3.

Standar Asuhan Keperawatan Standard praktek keperawatan telah dijabarkan oleh PPNI (dikutip

Nursalam, 2008), yang mengacu kepada tahapan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi.

14

Standar 1 : Pengkajian Keperawatan Pengumpulan data tentang status kesehatan klien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat dan berkesinambungan dan data dapat diperoleh, dikomunikasikan dan dicatat. Kriteri pengkajian meliputi: 1. Pengumpulan data dilakukan secara anamnese, observasi, pemeriksaan fisik serta dari pemeriksaan penunjang. 2. Sumber data adalah klien, keluarga dan orang yang terkait, tim kesehatan, rekam medis dan catatan lainnya. 3. Data yang dikumpulkan difokuskan untuk mengidentifikasi: a. b. c. d. e. f. Satus kesehatan masa lalu Status kesehatan saat ini Status biologis-psikologis-sosial-spiritual Respon terhadap terapi Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal Resiko tinggi masalah 4. Kelengkapan data dasar mengandung unsur LARB (Lengkap, Akurat, Relevan, dan Baru).

15

Standard 2 : Diagnosa Keperawatan Perawat menganalisa data pengkajian untuk merumuskan diagnosa keperawatan, adapun kriteria proses pembuatan diagnosa adalah: 1.Proses diagnosa terdiri dari analisa, interprestasi data, identifikasi masalah, perumusan diagnosa 2.Diagnosa keperawatan terdiri dari masalah (P), penyebab (E), dan tanda/gejala (S), atau terdiri dari masalah dan penyebab (P,E) 3.Bekerjasama dengan klien dan petugas kesehatan lainnya untuk memvalidasi diagnosa keperawatan 4.Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa berdasarkan data tersebut

Standard 3 : Perencanaan Keperawatan Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan klien, kriteria perencanaan keperawatan meliputi: 1.Perencanaan terdiri dari penetapan masalah, tujuan dan rencana tindakan keperawatan 2.Bekerjasama dengan klien dalam menyusun rencana tindakan keperawatan 3.Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien 4.Mendokumentasikan rencana keperawatan

16

Standard 4 : Implementasi Keperawatan Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam proses asuhan keperawatan, keriteria implementasi meliputi: 1.Bekerjasama keperawatan 2.Kolaborasi dengan tim kesehatan lain 3.Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan klien 4.Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga mengenai konsep dan keterampilan asuhan diri, serta membantu klien memodofikasi lingkungan yang digunakan 5.Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan respon klien. dengan klien dalam melaksanakan tindakan

Standard 5 : Evaluasi Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan keperawatan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar dan perencanaan, adapun kriteria prosesnya adalah: 1.Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara komprehensif, tepat waktu dan terus menerus

17

2.Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukur kearah pencapaian tujuan 3.Memvalidasi dan menganalisa data baru dengan teman sejawat 4.Bekerjasama dengan klien dan keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan keperawatan 5.Mendokumentasikan hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan Melalui aplikasi standard asuhan keperawatan tersebut diatas diharapkan mutu pelayanan keperawatan akan menjadi lebih baik.

4. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan 4.1 Pengertian Dokumentasi Dokumentasi adalah tulisan, data penting dari semua intervensi yang tepat bagi klien dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi keperawatan (Taylor, 1993). Dokumentasi merupakan tulisan dan pencatatan suatu kegiatan/aktivitas tertentu secara sah/legal. Pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan penulisan dan pencatatan yang dilakukan oleh perawat tentang informasi kesehatan klien termasuk data pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi keperawatan (Carpenito, 2001). Dokumentasi keperawatan merupakan bukti otentik tentang respon klien dan perubahan yang terjadi dari tindakan yang dilakukan oleh perawat baik secara mandiri maupun kolaborasi yang merupakan bagian permanen dari rekam medik klien.

18

4.2 Tujuan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Sebagai dokumen rahasia yang mencatat semua pelayanan keperawatan klien, catatan tersebut dapat diartikan sebagai suatu catatan bisnis dan hukum yang mempunyai banyak manfaat dan penggunaan. Tujuan umum dari pendokumentasian adalah: a. Mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat kebutuhan klien, merencanakan, melaksanakan tindakan keperawatan dan

mengevaluasi tindakan b. Dokumentasi untuk penelitian, keuangan, hukum dan etika, hal ini juga menyediakan: a. Bukti kualitas asuhan keperawatan b. Bukti legal dokumentasi sebagai pertanggungjawaban kepada pasien c. Informasi terhadap perlindungan pasien d. Bukti aplikasi standar praktik keperawatan e. Sumber informasi stastik untuk standar dan riset keperawatan f. Pengurangan biaya informasi g. Sumber informasi untuk data yang harus dimasukan h. Komunikasi konsep resiko tindakan keperawatan i. Informasi untuk murid j. Persepsi hak pasien k. Dokumentasi untuk tenaga profesional dan tanggung jawab etik dan mempertahankan kerahasiaan informasi pasien

19

l. Suatu data keuangan yang sesuai m. Data perencanaan pelayanan kesehatan dimasa akan datang

4.3 Manfaat Dan Pentingnya Dokumentasi Dokumentasi keperawatan mempunyai makna yang penting bila dilihat dari berbagai aspek: 1. Hukum Semua catatan informasi tentang klien merupakan dokumentasi resmi dan bernilai hukum yang nantinya dapat menjadi barang bukti dipengadilan bila suatu saat dibutuhkan dan harus dibuka didepan publik. 2. Jaminan mutu (kualitas pelayanan) Pencatatan data yang akurat dan lengkap akan memberikan kemudahan bagi perawat dalam membuat suatu rencanan tindakan dan membantu menyelesaikan masalah pasien 3. Komunikasi Dokumentasi keadaan pasien merupakan alat perekam terhadap masalah yang berkaitan dengan pasien. 4. Keuangan Dokumentasi dapat bernilai keuangan karena berhubungan dengan pembiayaan keperawatan yang telah diberikan. 5. Pendidikan

20

Dokumentasi mengandung informasi yang dapat digunakan sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi keperawatan. 6. Penelitian Dokumentasi mengandung informasi yang dapat digunakan sebagai bahan riset dan penelitian dalam pengembangan profesi keperawatan. 7. Akreditasi Dengan dokumentasi dapat dilihat sejauh mana peran dan fungsi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dan nantinya dapat disimpulkan tingkat keberhasilan tindakan.

4.4 Metode Pendokumentasi Asuhan Keperawatan Ada beberapa tipe pendokumentasian yang digunakan dalam asuhan keperawatan, salah satu diantaranya adalah Problem Oriented Medical Record (POMR) yang dibuat oleh Lawrence Weed pada tahun 1960 (Taylor, Lillis, Le Mone, 1997). Metode pendokomentasian ini meliputi: data dasar, masalah kesehatan, rencana pelayanan/asuhan termasuk catatan perkembangan

kesehatan klien. Keuntungan dari metode pendokumentasian ini adalah lebih efektif, efisien dan terorganisasi dengan baik. a. Format pendokumentasian asuhan keperawatan Setelah melakukan asuhan keperwatan perawat harus melakukan tahapan berikutnya yaitu pendokumentasian asuhan keperawatan. Format

pendokumentasian ini terdiri dari: pengkajian, perencanaan, implementasi,

21

evaluasi, catatan perkembangan, informasi kesehatan pasien (24 jam) dalam tabel dan grafik, ringkasan perpindahan pasien, perencanaan pulang dan perawatan dirumah.

b. Panduan pendokumentasian asuhan keperawatan Dalam pendokumentasian asuhan keperawatan harus mengikuti ketentuan yang berlaku dan memenuhi prinsi-prinsip berikut: a) Content (isi) 1) dan relevan 2) interprestasi 3) Catat masalah pasien sesuai kondisi, tindakan yang Pencatatan data objektif dan bukan berdasarkan hasil Berisi informasi yang lengkap, sesuai fakta, aktual

dilakukan serta respon pasien 4) 5) secara legal 6) Dokumentasi hasil implementasi keperawatan Dokumentasi hasil visite dokter Dokumentasi data pasien sesuai standar yang berlaku

berdasarkan instruksi dokter dan tim kesehatan lain yang terlibat 7) Catat tanggal, waktu dan nama dokter/tim kesehatan

lain yang memberikan instruksi b) Waktu

22

Catat dan laporkan hasil tindakan keperawatan sesuai waktunya serta ikuti peraturan yang berlaku c) Format Buat format sesuai standar dan menggunakan tata bahasa yang baik dan benar yang dapat diterima semua pihak serta mempunyai susunan yang sistematis

d) Akuntabilitas 1) Setiap intervensi yang dilakukan perawat harus

dibubuhkan tanda tangan 2) 3) Cek setiap lembar pendokumentasian Lengkapi pendokumentasian pasien sebelum dikirim

sebagai medical record c. Potensial masalah dalam pendokumentasian a) Content (isi) pendokumentasian 1) 2) 3) 4) sangat umum 5) 6) Data tidak lengkap atau tidak konsisten Intervensi tidak sesuai dengan instruksi Tidak sesuai standard Tidak terkoordinasi dengan baik Tidak menunjukkan kebutuhan pasien Informasi pengkajian pasien/intervensi perawat

23

b)

Kesalahan dalam pendokumentasian 1) Tulisan tangan yang berbeda dan tidak terbaca dengan jelas 2) Tanggal, bulan dan jam tidak konsisten 3) Tidak ada tanda tangan perawat yang melakukan tindakan keperawatan 4) Merubah instruksi tanpa izin dan tidak melakukan prosedur yang benar

4.5 Format Dokumentasi Asuhan Keperawatan Carpenito (2000), menjelaskan urutan format untuk dokumentasi asuhan keperwatan yang terdiri dari : 1.Pengkajian. Pencatatan data pengkajian mengikuti prinsip tahapan pengkajian. Format sistematis, akurat dan valid sangat penting untuk membandingkan perubahan kesehatan pasien. 2.Perencanaan. Sesuai dengan standar perencanaan; identifikasi masalah, merumuskan diagnosa, menetapkan tujuan dan hasil yang diharapkan. 3.Implementasi. Adalah tindakan yang dilakukan terhadap pasien, baik tindakan keperawatan secara mandiri maupun tindakan kolaborasi. 4.Evaluasi. Dapat dilakukan pada setiap tahapan proses keperawatan; pengkajian, perencanaan dan implementasi.

24

5.Catatan perkembangan. Format bervariasi dan dapat disesuaikan dengan sistem yang ada. Prinsipnya adalah untuk menilai perkembangan status kesehatan pasien, apakah sesuai dengan tujuan dan hasil yang diharapkan. 6.Informasi kesehatan klien. Berbentuk dalam tabel dan grafik selama 24 jam antara lain kurva tanda-tanda vital, daftar pemberian obat, intake-output cairan. 7.Ringkasan perpindahan klien. Ringkasan tentang legalitas perpindahan pasien antar institusi rumah sakit, ringkasan format pelaporan meliputi lembaran data dasar demografi, orientasi ruangan dan laporan klinis. 8.Perencanaan pulang. Format mencakup personal data pasien, data kesehatan secara umum dan khusus, surat diizinkan pulang dari dokter yang merawat berikut ringkasan laporan klinis sesuai kondisi pasien, penyuluhan kesehatan. 9.Perawatan di rumah. Format pendokumentasian yang akan melanjutkan perawatan dirumah pasien bertujuan untuk memberikan

ringkasan/informasi perkembangan kesehatan pasien selama di RS, agar dokter/perawat/tim profesional lainnya yang terlibat melanjutkan

pengobatan/perawatan pasien di rumah.

5. Metode Asuhan Keperawatan Untuk memberikan asuhan keperawatan yang lazim dipakai meliputi metode kasus, metode fungsional, tim keperawatan, keperawatan primer dan sistem manajemen kasus (Kozier Erb, 1990 dikutip Priharjo R, 1996).

25

5.1 Metode kasus Disebut juga sebagai perawatan total (total care) yang merupakan metode paling awal. Pada metiode ini seorang perawat bertanggung jawab untuk memberikan perawatan pada sejumlah pasien dalam waktu 8-12 jam setiap shif. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda pada setiap pergantian shift, metode ini banyak dipakai pada keadaan kurang tenaga perawat. Jalan keluarnya adalah dengan merekrut tenaga perawat yang baru. 5.2 Metode fungsional Sistem tugas mengacu pada ilmu manajemen dalam bidang administrasi bisnis yang berfokus pada tugas yang harus diselesaikan. Perawat dengan pendidikan kurang akan melakukan tindakan yang lebih ringan dibandingkan dengan perawat profesional. Dalam model ini dibutuhkan pembagian tugas (job description), prosedur, kebijakan dan alur komunikasi yang jelas. Metode ini cukup ekonomis dan efisien serta mengarahkan pemusatan pengendalian. Kelemahan dari metode ini adalah munculnya fragmentasi keperawatan dimana pasien menerima perawatan dari berbagai kategori tenaga keperawatan
Kepala Ruangan

Perawat : Pengobatan

Perawat : Merawat

Perawat : Pengobatan

Perawat : Merawat

Pasien/klien

26

Skema 1: Sistem pemberian asuhan keperawatan Fungsional Sumber : DEPKES, (2002). StandarTenaga Keperawatan di Rumah Sakit, cet 1. Direktorat Pelayanan Keperawatan Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan. Jakarta: Depkes RI. 5.3 Metode tim Metode ini dirancang oleh Elanor Lambertson pada tahun 1950-an yang digunakan untuk mengatasi fragmentasi dari metode orientasi pada tugas dan memenuhi peningkatan tuntutan kebutuhan perawat profesional yang muncul karena kemajuan teknologi kesehatan dan perawatan. Tim keperawatan terdiri dari perawat profesional (registered nursing), perawat praktis yang mendapat izin serta pembantu perawat. Tim bertanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan kepada sejumlah pasien selama 8-12 jam. Metode ini lebih menekankan segi manusiawi pasien dan para perawat anggota dimotivasi untuk belajar. Hal pokok yang harus ada adalah konfrensi tim yang dipimpin ketua tim, rencana asuhan keperawatan dan keterampilan kepemimpinan. Tujuan metode keperawatan tim adalah untuk memberikan perawatan yang berpusat pada pasien. Perawatan ini memberikan pengawasan efektif dari memperkenalkan semua personel adalah media untuk memenuhi upaya kooperatif antara pemimpin dan anggota tim. Melalui pengawasan ketua tim nantinya dapat mengidentifikasi tujuan asuhan keperawatan, mengindentifikasi kebutuhan anggota tim, memfokuskan pada pemenuhan tujuan dan kebutuhan,

27

membimbing anggota tim untuk membantu menyusun dan memenuhi standart asuhan keperawatan. Walaupun metode tim keperawatan telah berjalan secara efektif, mungkin pasien masih menerima fragmentasi pemberian asuhan keperawatan jika ketua tim tidak dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan pasien, keterbatasan tenaga dan keahlian dapat menyebabkan kebutuhan pasien tidak terpenuhi.

Kepala Ruangan

Ketua Tim

Ketua Tim

Ketua Tim

Staf Perawat

Staf Perawat

Staf Perawat

Pasien / klien

Pasien / klien

Pasien / klien

Skema 2: Sistem pemberian asuhan keperawatan Team nursing . Sumber : Swanburg R. C. (2000). Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Untuk Perawat Klinis. Jakarta: EGC 5.4 Keperawatan Primer

28

Metode ini merupakan sistem dimana perawat bertanggung jawab selama 24 jam sehari, 7 hari / minggu. Ini merupakan metode yang memberikan perawatan secara komprehensif, individual dan konsisten. Metode keperawatan primer membutuhkan pengetahuan keperawatan dan keterampilan manajemen. Perawat primer mempunyai tugas mengkaji dan membuat prioritas setiap kebutuhan pasien, mengidentifikasi diagnosa keperawatan, mengembangkan rencana keperawatan, dan mengevaluasi keefektifan keperawatan. Sementara perawat yang lain memberikan tindakan keperawatan, perawat primer mengkoordinasikan keperawatan dan menginformasikan tentang kesehatan klien kepada perawat atau tenaga kesehatan lainnya. Keperawatan primer melibatkan semua aspek peran profesional termasuk pendidikan kesehatan, advokasi, pembuatan keputusan dan kesinambungan perawatan. Perawat primer merupakan manajer garis terdepan bagi perawatan pasien dengan akuntabilitas dan tanggung jawab yang menyertainya.

Dokter

Kepala Ruangan

Sarana / RS

Perawat Primer

Pasien / Klien

Perawat Pelaksana Sore

Perawat Pelaksana Malam

Perawat Pelaksana Jika diperlukan ( cadangan )

29

Skema 3: Sistem pemberian asuhan keperawatan Primary Nursing . Sumber : Giliies, D. A. (2005). Manajemen Keperawatan: Suatu Pendekatan Sistem, ed. 2. Chicago, Illiones: W.B Saunders Company. 5.5 Sistem manajemen kasus. Ini merupakan sistem pelayanan keperawatan yang lebih baru dimana para manajer kasus (case manager) bertanggung jawab terhadap muatan kasus pasien selama dirawat. Para manajer dapat terkait dengan muatan kasus dalam beberapa cara seperti : 1) 2) unit-unit. 3) Metode ini Dengan mengadakan diagnosa mempertahankan filsafat keperawatan primer dan Dengan dokter dan pasien tertentu Dengan pasien secara geografis berada dalam satu unit atau

membutuhkan seorang sarjana keperawatan atau perawat dengan pendidikan tingkat master untuk mengimplementasikan praktek keperawatan dengan budget yang tinggi.

Kepala Ruangan

Staf Perawat

Staf Perawat

Staf Perawat

Pasien / Klien

Pasien / Klien

Pasien / Klien

30

Skema 4: Sistem pemberian asuhan keperawatan Manajemen Kasus Sumber : Swanburg R. C. (2000). Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Untuk Perawat Klinis. Jakarta: EGC
5.6

Modifikasi : MAKP Tim-Primer (MAKP Modular) Pada model MAKP Tim digunakan secara kombinasi dari kedua sistem.

Menurut Ratna S. Sudarsono (2000, dikutip Nursalam, 2008) penetapan sistem model MAKP ini didasarkan pada beberapa alasan : 1) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena perawat

primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan atau setara. 2) Keperawatan Tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung

jawab asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim. 3) Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas

asuhan keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada primer. Disamping itu, karena saat ini perawat yang ada di RS sebagian besar adalah lulusan SPK, maka akan mendapat bimbingan dari perawat primer/ketua tim tentang asuhan keperawatan. Untuk ruang model MAKP ini diperlukan 26 perawat. Dengan menggunakan model modifikasi keperawatan primer ini diperlukan 4 (empat) orang perawat primer (PP) dengan kualifikasi Ners, di samping seorang kepala perawat asosiasi terdiri atas lulusan D3 Keperawatan (3 orang) dan SPK (18 orang). Pengelompokan Tim pada setiap shift jaga terlihat pada gambar di bawah.
Kepala Ruang

31

PP1

PP2

PP3

PP4

PA PA

PA PA

PA PA

PA PA

PA

PA

PA

PA

7-8 Pasien

7-8 Pasien

7-8 Pasien

7-8 Pasien

Skema 5: Sistem pemberian asuhan keperawatan model modular (Jadwal diatur Pagi, Sore, Malam dan Libur/Cuti) Sumber : Giliies, D. A. (2005). Manajemen Keperawatan: Suatu Pendekatan Sistem, ed. 2. Chicago, Illiones: W.B Saunders Company. B. Analisa Ruang Rawat 1. Pengkajian Pengkajian sistem manajemen di Ruangan XXI penyakit dalam pria dilakukan dengan analisa situasi ruangan pada tanggal 31 Mei - 4 Juni 2011. Pengkajian dilakukan melalui metode: Wawancara yang dilakukan dengan kepala ruangan, ketua tim dan beberapa perawat pelaksana.
Observasi dilakukan oleh mahasiswa PBLK pada shift pagi, yaitu observasi

situasi dan kondisi ruangan, pelayanan asuhan keperawatan, penyediaan

32

sarana dan prasarana, sistem kerja, dan komunikasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.
Penyebaran kuesioner, kuesioner disebarkan pada tanggal 16 Juni 2011

kepada 8 orang perawat, yang terdiri dari kepala ruangan, ketua tim keperawatan XXI, dan beberapa orang perawat pelaksana serta kepada

pasien yang berada diruangan XXI (12 orang pasien dan keluarga) dengan kriteria minimal 3 hari rawat untuk kuesioner kepuasan. Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan tabulasi dan analisa data. Gambaran hasil analisa situasi ruangan di ruangan XXI dideskripsikan. 1.1 MAN Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan mahasiswa PBLK di ruangan XXI didapatkan kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) berdasarkan kualitas dan kuantitas antara lain:

a. Penghitungan kebutuhan tenaga perawat Tabel 1. Jumlah Tenaga Keperawatan di Ruangan XXI No JABATAN PENDIDIKAN JUMLAH 1. Kepala Ruangan S1 Keperawatan 1 orang 2. Ketua Tim I dan II S1 Keperawatan 2 orang 3. Perawat Pelaksana S1 Keperawatan 2 orang D3 Keperawatan 10 orang SPK 1 orang PKC 3 orang Di ruang XXI yang berpendidikan Sarjana Keperawatan sebanyak 5 orang. Sedangkan yang berpendidikan Diploma Keperawatan sebanyak 10

orang dan yang masih memiliki pendidikan SPK sebanyak 1 orang yang saat ini

33

sedang melanjutkan pendidikannya dibidang keperawatan, LCPK sebanyak 3 orang. Tabel 2. Nama Staf Pegawai Keperawatan di Ruang XXI No Nama NIP Pangkat 1. Ns.Nurlianna br.Karo,S.Kep 140152295 Kepala Ruangan 2. Arfi yanti ,S.Kep.Ns 198207092005022001 Waka Ruangan 3. Marliana Sianturi,SPK 140223099 Perawat Pelaksana 4. Hotmauli, AMK 140207453 Perawat Pelaksana 5. Normawaty,LPCK 140176390 Perawat Pelaksana 6. Diarni,S.Kep.Ns 198206232010012018 Ketua Tim 7. Deswita,S.Kep.Ns 19841214010012021 Ketua Tim 8. Rina,S.Kep.Ns 198505312010012021 Perawat Pelaksana 9. Rasta,SPK 140156927 Perawat Pelaksana 10. Aryadi,PKC 140373066 Perawat Pelaksana 11. Jenni Tabita,AMK 197906262010012016 Perawat Pelaksana 12. Peringeten,AMK Honor Perawat Pelaksana 13. Endang,AMK Honor Perawat Pelaksana 14. Hairul Solin,AMK Honor Perawat Pelaksana 15. Sanur,AMK Honor Perawat Pelaksana 16. Erni Safitri Honor Perawat Pelaksana 17. Fadilla,AMK Honor Perawat Pelaksana 18. Susi,AMK Honor Perawat Pelaksana 19. Mangasi,AMK Honor Perawat Pelaksana 20. Elly Hotmida/gizi 140269114 Bagian gizi 21. Lasma 140124616 PRT 22. Umi kalsum 140130240 PRT 23. Sorin Sitorus TU b. Beban Kerja dan Kebutuhan Tenaga Analisis beban kerja berdasarkan tingkat ketergantungan pasien di ruangan XXI dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian ketergantungan pasien menurut Orem yaitu Total, Parsial, dan Minimal Care (Nursalam, 2003). Menurut Douglas, tingkat ketergantungan pasien dibagi menjadi 3 kategori yaitu: perawatan minimal membutuhkan waktu perawatan 1-2 jam/24 jam, perawatan parsial membutuhkan waktu perawatan 3-4 jam/24 jam, dan perawatan total membutuhkan waktu 5-6 jam/24 jam.

34

Data pengkajian 30 hari tentang beban kerja mulai bulan April sampai bulan Mei 2011 didapatkan rata-rata kondisi tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan tenaga perawat menurut Douglas yaitu Shift pagi 7 perawat, Shift sore 4 perawat, Shift malam 2 perawat. 1) Douglas

Tabel 3. Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan berdasarkan tingkat ketergantungan pasien Tingkat ketergantungan Pagi Sore Malam pasien Minimal Care 5 5 x 0,17 = 0,85 5 x 0,14= 0,7 5 x 0,10 = 0,5 Partial Care 15 15 x 0,27= 4,05 15 x 0,15 = 2,25 15 x 0,07=1,05 Total Care 10 10 x 0,36= 3,6 10 x 0,30 = 3 10 x 0,20 = 2 Jumlah 8,5 = 9 5,95 = 6 3,55 = 4 Dapat disimpulakan dari tabel diatas kebutuhan tenaga perawat per shifnya yaitu : 1. Pagi 9 orang perawat 2. Sore 6 orang perawat 3. Malam 4 orang perawat Total 19 orang perawat Faktor libur dan cuti = 25 % x 19 = 4,75 = 5 perawat Jumlah perawat = P+S+M+L+1 Karu = 9+6+4+5+1 = 25 orang perawat 2) DEPKES Dari hasil perhitungan menurut DEPKES Jumlah jam rawatan Jumlah tenaga perawat yang diperlukan =

35

Jam kerja efektif/shift Faktor koreksi Jumlah hari minggu/tahun + cuti + hari besar Loss day = perawat Jumlah hari kerja efektif x Jumlah

Non keperawatan = 25% = Tenaga yang tersedia + loss day x 25% Maka jumlah kebutuhan perawat = Tenaga yang tersedia + Faktor koreksi

Rumus Dep. Kes RI (2002) Dari hasil perhitungan menurut rumus Dep. Kes RI: a. Klasifikasi pasien (pasien penyakit dalam) Rata-rata pasien penyakit dalam pria perhari = 30 orang

Jumlah jam perawatan /pasien

= 30 x 3,5 = 105 jam

Jumlah jam perawatan perhari = 105 = 15 perawat Jam efektif perhari 7

Selanjutnya ditambah faktor koreksi, sebagai berikut: Jumlah hari libur (Loss Day), yaitu: = Jumlah hari minggu/tahun+ cuti+ hari libur x jumlah perawat Jam hari kerja efektif

36

= 52+12+14 x 15 286

= 4,09 orang

Pekerjaan Non Keperawatan (25%) Jumlah tenaga perawat + Loss Day x 25% = 15 + 4,09 x 25% = 4,77 Maka jumlah kebutuhan perawat, yaitu: Jumlah perawat yang tersedia + faktor koreksi = 15 + (4,09 + 4,77) =23,86 = 24 orang perawat Jadi total kebutuhan perawat di ruangan XXI penyakit dalam pria adalah 24 orang perawat

c. BOR Pasien Penghitungan BOR dilakukan berdasarkan jumlah pasien dan rata-rata jumlah tempat tidur. Berdasarkan hasil pengkajian pada April-Mei 2011 didapatkan gambaran kapasitas tempat tidur di ruangan XXI pada saat Praktik Belajar Lapangan Komprehensip (PBLK) keperawatan sebesar 100%. Rata rata pasien perhari BOR = Jumlah tempat tidur 30 BOR = 30 d. Ketenagaan perawat x 100% = 100 % x 100%

37

Perekrutan tenaga kerja keperawatan di Ruang XXI dilakukan melalui seleksi Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil yang dilakukan DepKes pusat. Kepala ruangan memberitahu kepada KAPOKJA mengenai kekurangan tenaga kerja di Ruang XXI kemudian KAPOKJA melaporkan kepada Waka Instalasi dan diteruskan kepada Kepala Instalasi kemudian ke bidang keperawatan. Ruang XXI memiliki 19 orang tenaga perawat yang terdiri dari :
1)

1 orang Kepala Ruangan sekaligus CI 1 orang wakil Kepala Ruangan 2 orang Kepala Tim 15 orang perawat pelaksana 2 orang ahli gizi 1 orang TU Jenjang pendidikan tenaga keperawatan di Ruang XXI yaitu terdiri dari 5 orang perawat S1, 10 orang perawat D3, 1 orang perawat SPK, dan 3 orang LCPK. Pelatihan yang pernah diadakan yaitu pelatihan mengenai penyakit DM, Tb Paru, pemberian Insulin, manajemen keperawatan dan PPGD, namun pelatihan tersebut tidak dilakukan secara berkala. Dan selama ini masih ada perawat yang mengerjakan pekerjaan non keperawatan yaitu bagian farmasi dan administrasi. Hal ini menyebabkan berkurangnya tenaga perawat yang seharusnya memberikan tindakan asuhan keperawatan. Tetapi hal ini dapat teratasi dengan adanya penambahan tenaga perawat diluar pegawai (mahasiswa yang sedang berdinas di Ruang XXI).

2) 3)
4) 5)

6)

38

Pendistribusian tenaga keperawatan yang ada di ruangan XXI berdasarkan dinas pada tanggal 30 Juni 2011 sebagai berikut:
- Pagi - Sore - Malam - Libur - Cuti

: 6 orang : 3 orang : 3 orang : 5 orang : 2 orang

Pembagian jam kerja untuk: Dinas pagi Dians sore : jam 08.00 14.30 : jam 14.30 20.30

Dinas malam : jam 20.30 08.30

e. Kepemimpinan Kepala Ruangan Dari hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 4 Juni 2011 kepada kepala ruangan dan perawat pelaksana diruangan XXI tentang sikap kepala ruangan dalam menjadi pemimpin dan menyelesaikan masalah di ruangan XXI RSU.Dr.Pirngadi Medan. Dari hasil pengkajian dan wawancara diperoleh bahwa gaya kepemimpinan kepala ruangan XXI adalah gaya kepemimpinan demokrasi. Dan dari hasil kuisioner yang dibagikan kepada 8 orang perawat diperoleh data bahwa 100% merasa puas

f. Kepuasan kerja perawat

39

Dari hasil kuisioner kepuasan perawat terhadap pekerjaan yang dibagikan kepada 8 orang perawat yang bekerja di ruang XXI didapatkan data bahwa responden menjawab merasa puas 75% dan 25 % cukup puas.

g. Kepuasan pasien terhadap jasa pelayanan medis dan perawat Dari hasil penyebaran kuisioner yang dilakukan pada tanggal 30 Mei sampai 4 Juni 2011 terhadap 12 pasien didapatkan data bahwa pasien mengatakan merasa puas terhadap pelayanan perawat sebesar 6,67%, 80% cukup puas, dan 13,33 % tidak puas.

1.2 METODE Ruangan XXI memiliki visi, misi, motto dan falsafah ruangan sendiri. sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan kesehatan. Adapun visi, misi, motto, dan falsafah keperawatan ruang XXI adalah sebagai berikut: Visi Keperawatan Mewujudkan pelayanan dan asuhan keperawatan yang cepat, tepat dan akurat . Misi Keperawatan
1.

Memberikan

pelayanan dan asuhan keperawatan yang paripurna,

bermutu dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat 2. Membuat diagnosa untuk mencapai drajat kesehatan yang optimal melalui kegiatan pelayanan asuhan keperawatan yang bermutu

40

3.

Melaksanakan bimbingan dan asuhan keperawatan untuk menghasilkan SDM keperawatan yang profesional dengan penggunakan logistik keperawatan secara efisien dan efektif

Motto Pelayanan Keperawatan Dalam melaksanakan pelayanan dan asuhan keperawatan harus bersikap: 1. 2. 3. Sapa dengan senyuman Sentuh dengan kasih sayang Rawat dengan ketulusan

Ruangan XXI memiliki standar asuhan keperawatan yang disesuaikan dengan standar RSU.Dr.Pirngadi Medan. Standar asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Format pengkajian berbentuk isian yang diisi sesuai dengan keadaan pasien. Sedangkan untuk diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi dibuat dalam tabel rekam medis keperawatan. Disamping format asuhan keperawatan dan rekam medis terdapat format catatan keperawatan yang digunakan untuk mendokumentasikan setiap tindakan yang dilakukan oleh perawat setiap hari terhadap setiap pasien. Struktur Organisasi Ruangan XXI Kepala Ruangan Nurlianna Br Karo, S.Kep,Ns

Wakil Kepala Ruangan Arfi Yanti, S.Kep,Ns

41

Kepala Tim I Ns. Deswita H.Saragih, S.Kep

Kepala Tim II Ns. Diarni Sitohang, S.Kep

Kamar I Bed 1-15 1. Marlina 2. Hotmauli 3. Rasta 4. Endang 5. Peringuan 6. Erni 7. Fadillah

Kamar II Bed 16-30 1. Normawaty 2. Jeni 3. Ariadi 4. Sanur 5. Chairul 6. Susi 7. Mangasi

Skema 6. Struktur Organisasi Ruangan XXI

Struktur organisasi di ruangan XXI dipimpin oleh seorang Kepala Ruangan dan dibagi dalam dua grup yang masing-masing diketuai oleh kepala grup atau ketua tim. Dimana jumlah anggota tim I sebanyak 7 orang dan jumlah anggota tim II sebanyak 7 orang. Metode penugasan yang digunakan di XXI adalah metode penugasan tim. Dimana satu tim menanggungjawabi satu ruangan yaitu tim satu menangungjawabi kamar I, dan tim dua menanggungjawabi kamar II.

42

Menurut kepala ruangan XXI metode Tim ini efektif karena metode ini memudahkan pelaksanaan kerja perawat sesuai dengan bagian yang telah ditentukan pada setiap tim. Selain itu, metode tim ini juga memudahkan kepala ruangan untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja staffnya. Namun, metode tim ini belum berjalan murni karena masih ada perawat yang bertugas secara fungsional yaitu TL (Tugas Luar), obat dan penanggung jawab alat. Ketetapan yang digunakan dalam penentuan ketua tim dan perawat pelaksana adalah berdasarkan kemampuan, tanggung jawab, disiplin, SK dan pendidikan. Kepala Ruangan Persyaratan : 1. 2. 3. 4. 5. S 1 Keperawatan dengan pengalaman kerja 2 3 tahun D III Keperawatan dengan pengalaman kerja 4 8 tahun Memiliki kemampuan memimpin Mempunyai sertifikat pelatihan kepemimpinan Berwibawa sehat jasmani dan rohani

Kedudukan Kepala ruangan adalah seorang perawat profesional secara teknis fungsional bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Keperawatan melalui perawat pengawas keperawatan, secara operasional bertanggung jawab kepada Kepala Instalasi.

43

Tugas Pokok Membantu pelaksanaan bimbingan Asuhan Keperawatan, penerapan etika keperawatan serta mengelola kegiatan Asuhan Keperawatan di ruangan. Uraian Tugas 1. Mengatur pelaksanaan kegiatan Asuhan Keperawatan

yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan klien/anggota keluarga. 2. 3. Mengatur penempatan tenaga keperawatan di ruangan. Mengatur penggunaan dan pemeliharaan logistik

keperawatan selalu siap pakai. 4. Memberi pengarahan dan motivasi kepada ketua

group/tim dan pelaksanaan agar melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, etis dan profesional. 5.

Melaksanakan program orientasi kepada : Tenaga baru Siswa/mahasiswa Klien/anggota keluarga baru Mendampingi dokter/supervisor selama kunjungan visite.

6.

7. penempatannya

Mengelompokkan ruangan menurut

klien/anggota tingkat

keluarga kelamin

menurut untuk

jenis

mempermudah Asuhan Keperawatan. 8. Menciptakan, memelihara suasana kerja yang baik antar

petugas, klien/anggota keluarga/keluarga sehingga memberi ketenangan.

44

9.

Mengadakan pertemuan berkala tenaga keperawatan

minimal 2 kali perhari untuk membicarakan pelaksanaan kegiatan di ruangan. 10.


Memeriksa dan meniliti : Pengisian daftar permintaan makanan Pengisian sensus harian Pengisian buku register Pengisian rekam medik Mengawasi dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan

11. 5 tahapan :

Pengkajian keperawatan Diagnosa keperawatan Perencanaan keperawatan Pelaksanaan keperawatan Evaluasi keperawatan Pertemuan secara rutin dengan pelaksana keperawatan. Membuat laporan pelaksanaan kegiatan di ruangan.

12. 13.

Kepala Group/ Tim Persyaratan 1. S 1 Keperawatan dengan pengalaman kerja 1 2 tahun

45

2. D III Keperawatan dengan pengalaman kerja 3 5 tahun 3. Memiliki kemampuan memimpin 4. Berwibawa dan sehat Kedudukan Perawat ketua group/tim adalah seorang perawat profesional dalam melaksanakan tugas, bertanggung jawab kepada kepala ruangan. Tugas Pokok Melaksanakan asuhan keperawatan kepada klien/anggota keluarga sesuai standard profesi serta menggunakan dan memelihara logistik keperawatan secara efektif dan efisien. Uraian Tugas 1. Bersama anggota group/tim melaksanakan Asuhan Keperawatan sesuai standar. 2. Bersama anggota group/tim mengadakan serah terima tugas dengan group/tim (group petugas ganti) mengawasi :

Kondisi pasien Logistik keperawatan Administrasi rekam medik Pelayanan pemeriksaan penunjang Kolaborasi program pengobatan

3. Melanjutkan tugas-tugas yang belum dapat diselesaikan oleh group sebelumnya. 4. Merundingkan pembagian tugas dengan anggota groupnya.

46

5. Menyiapkan perlengkapan untuk pelayanan dan visite dokter. 6. Mendampingi dokter visite, pengobatan dokter. 7. Membantu pelaksanaan rujukan. 8. Melakukan orientasi terhadap klien/anggota keluarga keluarga baru mengenai :

mencatat dan melaksanakan program

Tata tertib ruangan rumah sakit

Perawat yang bertugas 9. 10.


Menyiapkan orientasi pulang dan memberi penyuluhan kesehatan. Memelihara kebersihan ruang rawat dengan : Mengatur tugas cleaning service Mengatur tugas peserta didik Mengatur tata tertib ruangan yang

ditujukan kepada semua petugas, peserta didik dan pengunjung ruangan 11. 12. Membantu kepala ruangan membimbing peserta didik keperawatan. Membantu kepala ruangan untuk menilai mutu pelayanan asuhan keperawatan serta tenaga keperawatan.
13.

Menulis

laporan

tim

mengenai

klien/

anggota

keluarga

dan

lingkungannya.

Perawat Pelaksana Uraian Tugas

47

1. Melakukan Asuhan Keperawatan sesuai standar. 2. Mengadakan serah terima dengan group/tim lain (group petugas ganti) mengenai :

Kondisi pasien Logistik keperawatan Administrasi rekam medik Pelayanan pemeriksaan penunjang Kolaborasi program pengobatan.

3. Melanjutkan tugas-tugas yang belum dapat diselesaikan oleh group sebelumnya. 4. Merundingkan pembagian tugas dengan groupnya. 5. Menyiapkan perlengkapan untuk pelayanan dan visite dokter. 6. Mendampingi dokter visit, mencatat dan melaksanakan program pengobatan dokter. 7. Membantu pelaksanaan rujukan. 8. Melakukan orientasi terhadap klien/anggota keluarga/keluarga baru mengenai :

Tata tertib ruangan/rumah sakit Perawat yang bertugas

9. Menyiapkan klien/anggota keluarga pulang dan memberikan penyuluhan kesehatan.

10. Memelihara kebersihan ruang rawat dengan:

48

Mengatur tugas cleaning service Mengatur tugas peserta didik Mengatur tata tertib ruangan yang ditujukan kepada semua petugas, peserta didik dan pengunjung ruangan.

11. Membantu kepala ruangan membimbing peserta didik keperawatan. 12. Membantu kepala ruangan untuk menilai mutu pelayanan asuhan keperawatan serta tenaga keperawatan.
13. Menulis laporan tim/group mengenai kondisi klien/anggota keluarga dan

lingkungannya. 14. Memberikan penyuluhan kesehatan kepada klien/anggota

keluarga/keluarga 15. Menjelaskan tata tertib rumah sakit, hak dan kewajiban klien/anggota keluarga Ruangan XXI memiliki alur pendelegasian tugas sebagai berikut: Kepala Ruangan

Kepala Tim

Kepala Tim

Perawat Pelaksana Skema 7. Alur Pendelegasian Tugas Berdasarkan hasil pengkajian melalui wawancara dengan Kepala Ruangan, sistem pendelegasian tugas keperawatan di ruangan XXI dilaksanakan sesuai metode penugasan tim, dimana pendelegasian dilakukan dari Kepala

49

Ruangan kepada Ketua Tim dan selanjutnya Ketua Tim mendelegasikan kepada Perawat Pelaksana yang dianggap lebih berpengalaman dan senior di dalam timnya. Apabila salah satu Ketua Tim berhalangan dalam melaksanakan tugasnya, pendelegasian tugas diberikan kepada Ketua Tim lainnya. Pengaturan jadwal perawat yang izin/cuti dilakukan dengan sistem undi (penarikan nomor) yang dilakukan setiap awal tahun. Jumlah hari izin/cuti ditetapkan sebanyak 6 hari. Jadwal pada hari libur, perawat yang berdinas hanya sebagian dan diatur oleh kepala ruangan. Sedangkan jadwal dinas perawat yang tugas belajar disesuaikan dengan jadwal belajar perawat tersebut. Ruangan XXI memiliki jam dinas pegawai dengan batasan jam kerja dan memiliki penanggung jawab pada setiap shift. Selain itu, juga terdapat kebijakan untuk mencapai kedisiplinan kerja yang telah disepakati bersama, yaitu dengan memberikan sanksi berupa peringatan atau nasehat jika terlambat masuk dinas. Masalah yang biasa terjadi di ruangan XXI adalah ketidakoptimalan kerja perawat dalam menerapkan asuhan keperawatan secara menyeluruh kepeda pasien yang disebabkan oleh beben kerja yang tinggi. Selain itu, jika terdapat konflik dalam ruangan, Kepala Ruangan beserta staf-stafnya mendiskusikan masalah tersebut dan segera diselesaikan. Kepala Ruangan berperan sebagai supervisor. Supervisi dilakukan oleh kepala ruangan setiap paginya setelah pembacaan buku rawatan. Monitoring terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan dilakukan oleh kepala ruangan dengan tidak berkesinambungan.

50

Ruangan XXI tidak memiliki pengklasifikasian pasien yang ditempatkan di ruangan sesuai sub bagiannya sehingga semua pasien dengan diagnosa berbeda disatukan dalam ruangan yang sama. Ruangan XXI memberikan pelayanan kepada pasien Askes, Jamkesmas, dan Umum. Ruang XXI memiliki ketetapan berkunjung untuk keluarga pasien, yaitu: jam 12.00-13.00 WIB dan 17.00-20.00 WIB. Namun berdasarkan observasi, penetapan jam berkunjung belum terlaksana secara maksimal karena masih didapati adanya keluarga pasien yang berkunjung di luar jam yang ditentukan. Hal ini akan berpengaruh pada kebutuhan istirahat pasien.

1.3 MATERIAL Pengadaan barang logistik di ruangan XXI ditanggungjawabi oleh seorang perawat pelaksana. Barang logistik yang dibutuhkan akan disampaikan kepada kepala ruangan lalu dilaporkan kepada instalasi. Jika persediaan habis, maka penanggungjawab peralatan akan mendaftarkannya dan melaporkan kepada kepala ruangan. Waktu untuk permintaan logistik dilakukan saat barang logistik diperlukan, tanpa ada ketetapan waktu yang rutin. Pemeriksaan kelengkapan peralatan, seperti peralatan ganti perban dilakukan setiap kali pergantian shift dan ditanggungjawabi oleh perawat penanggungjawab. Perawat penanggungjawab barang logistik dijadwalkan selalu shift pagi, sehingga tanggung jawab barang logistik dialihkan kepada perawat pelaksana shift pagi dan shift malam. Ada beberapa barang logistik yang tidak

51

diperiksa pada pergantian shift seperti alat tenun namun hannya dilakukan sekali sehari pada pagi hari. Barang logistik yang digunakan untuk melakukan asuhan keperawatan langsung diawasi oleh penanggung jawab. Beberapa peralatan, yang telah digunakan dibersihkan oleh perawat yang menggunakan, kemudian diserahkan kepada penanggungjawab alat. Berdasarkan data peralatan logistik yang ada di ruangan menunjukkan masih ada barang yang tidak memenuhi kebutuhan idealnya seperti alat-alat untuk perawatan luka yang jumlahnya masih kurang. Ruangan XXI sudah memiliki pembuangan sampah medis, kotak nald dan non medis tetapi belum maksimal digunakan karena terlihat bahwa pencampuran dari sampah medis dan non medis. Ruangan XXI memiliki 2 ruangan dengan pembagian setiap kamar/ruangan memiliki kapasitas 15 bed. Namun, ruangan belum memiliki ruangan khusus atau ruangan isolasi untuk pasien HIV/AIDS. Ruangan juga belum menyediakn kotak saran yang dapat dimanfaatkan sebagai masukan bagi ruangan yang bisa diisi oleh semua pihak guna meningkatkan mutu pelayanan di ruang XXI.

1. 4 MONEY Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan XXI, didapatkan bahwa sumber keuangan XXI diperoleh dan diatur oleh pihak rumah sakit. Pihak rumah sakit menetapkan 60% dari hasil pendapatan dipergunakan untuk biaya

52

akomodasi dan peralatan yang dibutuhkan rumah sakit, dan 40% dipergunakan untuk kesejahteraan seluruh pegawai. Sistem pembayaran di ruangan XXI ada 3 yaitu Jamkesmas, Medan sehat, Pemprovsu, Madani, Dinas sosial dan umum. Pembayaran Medan sehat, Pemprovsu, Madani, Dinas sosial dan Jamkesmas didahulukan oleh pihak rumah sakit, dan setelah pasien pulang segala bukti layanan akan diclaim oleh pihak rumah sakit ke pihak Medan sehat, Pemprovsu, Madani, Dinas sosial maupun Jamkesmas. Sedangkan pembayaran umum langsung di selesaikan dengan pihak tata usaha ruangan. Setiap bulannya pegawai memperoleh gaji yang telah diatur oleh pihak rumah sakit baik gaji pokok sesuai golongan dan insentif.

53

2. Analisa Situasi 2.1 Analisa SWOT ANALISA SWOT RUANG XXI PENYAKIT DALAM PRIA 2011 RSU. Dr. PIRNGADI MEDAN A. PLANNING 1. MAN Strenght (Kekuatan)

Weakness (Kelemahan)

(Opportunity (Kesempatan) Karu memberikan kesempatan pada perawatnya untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi Rekruitmen tenaga perawat ruang XXI melalui seleksi dari pemerintah kota (Pemko) dan kebijakan anggaran rumah sakit. Perawat diberikan kesempatan oleh pihak RS untuk mendapatkan pelatihan di bidang keperawatan maupun non

Memiliki tenaga keperawatan yang terdiri dari S1 Keperawatan 5 orang dan D3 Keperawatan 10 orang Kepala ruangan XXI seorang perawat senior dengan pendidikan S1 Keperawatan Memiliki 1 orang ahli gizi dan 1 orang administrasi Kepala ruangan ikut terlibat dalam rapat rutin dan khusus di RSPM Kepala ruangan ikut terlibat dalam penempatan tenaga perawat di ruang XXI Kepala ruangan dan perawat pelaksana rutin mengadakan rapat

Masih terdapat tenaga perawat dengan jenjang pendidikan SPK, PKC dan yaitu sebanyak 4 orang. Perawat pelaksana belum mendapatkan pelatihan khusus sesuai dengan kasus penyakit dalam Belum melakukan penghitungan jumlah perawat sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien.

Threatened (Ancaman) -

54

diakhir bulan Perawat ruangan XXI pernah mendapat pelatihan manajemen keuangan dan manajemen keperawatan, PPGD, perawatan pada penyakit DM dan TB paru serta pelatihan penggunaan computer 2. METODA

Perawat senior berpendidikan Keperawatan

bukan D3

keperawatan seperti melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

Strenght (Kekuatan) Memiliki standar asuhan keperawatan Memiliki dokumentasi jumlah pasien dan kasus pasien yang dirawat Memakai metode Tim dalam menjalankan asuhan keperawatan di ruangan

Weakness (Kelemahan) Ruangan belum memiliki asuhan keperawatan dalam bentuk checklist Metode Tim yang diterapkan belum berjalan secara optimal karena belum jelasnya pembagian tugas dan beban kerja perawat yang tinggi

(Opportunity (Kesempatan) Memiliki kesempatan untuk membuat Visi, Misi dan Motto Memiliki kesempatan menyusun dokumentasi keperawatan dalam bentuk checklist agar beban kerja perawat dapat lebih ringan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan

Threatened (Ancaman) Era globalisasi yang menuntut pelayanan keperawatan lebih berkualitas

55

3.

MATERIAL Weakness (Kelemahan) Peralatan medis seperti pispot di ruangan XXI sangat terbatas Anggota keluarga yang menjaga pasien belum menggunakan tanda pengenal Keterbatasan jumlah alat tenun mempengaruhi kenyamanan pasien Lemari pasien 25 % dalam kondisi rusak

Strenght (Kekuatan) Sudah memiliki ruangan diagnostik sebagai tempat penyimpanan peralatan medis yang dapat mempermudah perawat untuk melihat barang yang rusak, hilang atau habis Sudah memiliki tempat tidur sebanyak 30 buah dengan kondisi baik Sudah memiliki kursi jaga bagi keluarga sesuai dengan jumlah tempat tidur pasien Sudah memiliki fasilitas kamar mandi sesuai dengan jumlah ruang rawat Sudah memiliki standar IVFD sebanyak 30 buah sesuai dengan jumlah tempat tidur Sudah memiliki set ganti verban yang lengkap yang diamprah setiap minggu. Memiliki 2 kursi roda layak pakai untuk pasien

(Opportunity (Kesempatan) Sudah memiliki kesempatan untuk mendapatkan bantuan peralatan medis yang baru sesuai dengan kebutuhan yang diamprah setiap bulan Sudah mendapatkan kesempatan untuk merenovasi ruang XXI sesuai anggaran APBD

Threatened (Ancaman) Fasilitas ruangan yang minim dan tidak terawat dapat mempengaruhi kepuasan pasien Adanya proyek pembangunan renovasi ruangan XXI dapat menimbulkan kecelakaan bagi siapa saja yang berada disekitar ruangan XXI

56

4.

MONEY Weakness (Kelemahan) (Opportunity (Kesempatan) Bantuan/jaminan pembayaran oleh PT ASKES dan JamKesMas untuk klien yang dirawat Threatened (Ancaman) Jumlah jasa yang dibayar lebih rendah dari pelayanan yang diberikan dapat menurunkan kualitas kerja.

Strenght (Kekuatan) Pembayaran jasa pelayanan umum, ASKES dan JamKesMas langsung melalui transaksi di SIRS RSPM sesuai dengan rincian tindakan yang dikirim dari ruang XXI Kepala dan perawat pelaksanan tidak perlu mengetahui rincian jumlah nilai yang dikembalikan ke ruang XXI sebagai jasa pelayanan yang telah diberikan karena sudah ada tugas dari pihak administrasi rumah sakit yang mengatur hal tersebut

B. ORGANIZING

57

1.

MAN

Strenght (Kekuatan) Memiliki dua Katim dalam menjalankan asuhan keperawatannya Perawat bertanggungjawab untuk tugas luar demi memenuhi kebutuhan pelayanan keperawatan bagi pesan ruang XXI Perawat senior bertanggungjawab terhadap pendokumentasian Askep Perawat ruangan XXI memiliki organisasi kesejahteraan (STM)

Weakness (Kelemahan) Tugas Katim masih belum berjalan secara optimal karena masih kurangnnya tenaga perawat di ruang XXI sehingga Katim masih dinas shift Terbatasnya tenaga perawat di ruang XXI mempengaruhi pelayanan untuk tugas luar sehingga pelayanan kurang berjalan lancar. Perawat ruangan masih melakukan pekerjaan administrasi pada sore, malam dan hari libur karena tidak adanya petugas administrasi yang bertugas

(Opportunity (Kesempatan) Adanya mahasiswa Kedokteran, Akper dan S1 Keperawatan yang dapat membantu pelayanan asuhan keperawatan bagi pasien di ruang XXI

Threatened (Ancaman) Anggapan masyarakat bahwa ruang XXI merupakan bagian dari RSPM yang merupakan RS Pendidikan, menjadikan pasien sebagai bahan praktek

2. METODA

58

Strenght (Kekuatan) Ruangan XXI memiliki struktur organisasi Adanya uraian tugas yang jelas untuk kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana dengan metode penugasan yang dilakukan yaitu metode tim. Pendelegasian tugas diberikan kepada perawat senior

Weakness (Kelemahan) Pelaksanaan dari uraian tugas belum berjalan optimal yang dilakukan oleh Katim dan Perawat Pelaksana Jadwal dinas dibuat Karu belum berdasarkan tingkat ketergantungan pasien

Opportunity (Kesempatan) Metode Modular dapat diterapkan di ruang XXI karena telah ada S1 keperawatan sebanyak 8 orang

Threatened (Ancaman) Tidak diterapkannya secara serius Metoda yang telah dibentuk dapat mempengaruhi beban kerja perawat ruang XXI

3.MATERIAL

Strenght (Kekuatan) Sudah memiliki 2 ruang rawat inap dengan 30 tempat tidur pasien Sudah memiliki tempat pembuangan sampah yang terpisah untuk sampah infeksi dan non infeksi Memiliki komputer untuk mengelola sistem keungan dan registrasi pasien rawatan Memiliki alat komunikasi

Weakness (Kelemahan) -

Opportunity (Kesempatan) Adanya alat-alat penunjang seperti tensimeter, stetoskop, EKG dan termometer yang disediakan oleh ruang XXI untuk kebutuhan pasien

Threatened (Ancaman) Adanya persaingan mutu pelayanan antar Rumah Sakit

59

yang dapat digunakan untuk menunjang pelayanan keperawatan Memiliki 1 ruang nurse station untuk mengontrol dan mengendalikn semua kegitan pelayanan

4. MONEY

Strenght (Kekuatan) Sistem keuangan ruang XXI dikelola oleh SIRS (Sistem Informasi Rumah Sakit) Ruangan XXI tidak terlibat dalam pengelolaan keuangan karena sudah ada petugas dari rumah sakit yang menangani hal tersebut.

Weakness (Kelemahan)

Opportunity (Kesempatan) Dengan adanya pelatihan komputer dan keuangan bagi perawat XXI, perawat dapat memantau keuangan masuk yang dilakukan SIRS

Threatened (Ancaman) Tidak sesuainya data dengan jumlah jasa yang diterima dapat mempengaruhi kepuasan kerja perawat ruang XXI

C. ACTUATING

60

1. MAN

Strenght (Kekuatan) Karu memiliki sifat kepemimpinan yang dapat memahami kondisi staf Karu memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis dalam memimpin ruangan dan bersikap kekeluargaan. Kepala ruangan memberikan motivasi kerja bagi perawatnya dengan mendiskusikan setiap permasalahan yang ada Hasil kuisioner yang disebarkan kepada 8 perawat tentang sikap kepemimipinan dari kepala ruangan didapat 100 % menyatakan sikap kepemimpinan kepala ruangan baik

Weakness (Kelemahan) -

Opportunity (Kesempatan) Kepala ruangan XXI berkesempatan untuk ikut pelatihan kepemimpinan

Threatened (Ancaman)

2. METODA

61

Strenght (Kekuatan) Kepala ruangan pernah mengikuti pelatihan manajemen bangsal Ruangan XXI berkolaborasi dan koordinasi dengan tim kesehatan lain

Weakness (Kelemahan) -

Opportunity (Kesempatan) Kepala ruangan XXI dapat menerapkan gaya kepemimipinan yang tepat bagi ruang XXI

Threatened (Ancaman) Adanya tuntutan dari perawat ruang XXI untuk memiliki pemimpin yang lebih baik

3. MATERIAL Strenght (Kekuatan) Terdapat ruangan khusus bagi kepala ruangan XXI untuk menjalankn aktivitasnya sebagai pemimipin Weakness (Kelemahan) Opportunity (Kesempatan) Adanya pembangunan renovasi dan rehabilitasi ruangan XXI Threatened (Ancaman) -

4. MONEY 62

Strenght (kekuatan) Ruangan XXI memiliki sistem budgeting yang diatur langsung oleh Rumah Sakit baik untuk pelayanan maupun untuk pendanaan kesehatan bagi petugas kesehatan. D. CONTROLLING 1. MAN Strenght (kekuatan) Kepala Ruangan melakukan supervisi langsung Adanya reward berupa pujian dari kepala perawat yang melakukan tugas dengan baik Terdapat sanksi yang diberikan oleh Karu kepada staf/ pegawai yang melakukan pelanggaran dalam memberikan asuhan keperawatan Hasil kuesioner tingkat kepuasan kerja perawat di ruang XXI menyatakan puas sebanyak 75%

Weakness (Kelemahan) -

Opportunity (Kesempatan) -

Threatened (Ancaman) -.

Weakness (Kelemahan) -

Opportunity (Kesempatan) Berdasarkan hasil kuesioner yang disebarkan kepada pasien untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien/keluarga terhadap asuhan keperawatan ruang XXI kepada 12 orang keluarga pasien, didapat hasil 13,33 % tidak puas, 80% cukup puas dan 6,67% puas

Threatened (Ancaman) Perawat yang tidak disiplin dan lalai dalam bekerja dapat dipindahkan keruangan lain atau mendapat sanksi PHK bagi tenaga honorer.

63

Penilaian yang diberikan oleh kepala ruangan dilakukan secara objektif.

2. METODE Strenght (kekuatan) Kepala ruangan melakukan supervisi terhadap pasien, perawat pelaksana dan mahasiswa yang sedang praktek di ruangan XXI Kepala ruangan melakukan supervisi pendokumentasian asuhan keperawatan melalui ketua grup setiap hari Supervisi dilakukan oleh kepala ruangan, dan pihak rumah sakit dalam setiap shift sehingga mutu pelayanan dapat berjalan secara optimal Weakness (Kelemahan) Opportunity (Kesempatan) Standar kerja perawat ruang XXI dapat diterapkan sehingga perawat dapat lebih meningkatkan rasa tanggung jawab dan komitmen terhadap kegiatan program Metode infeksi Nasokomial dapat diterapkan diruang XXI Threatened (Ancaman) Angka infeksi diruang XXI dapat meningkat bila tidak diawasi dengan serius

64

3. MATERIAL Strenght (kekuatan) Logistik ruang XXI memiliki staf yang diberi tanggung jawab Penyediaaan bahan habis pakai dan obat di ruang XXI menjadi tnggung jawab bersama walaupun telah dikelolah oleh staf yang bertanggung jawab Supervisi dilakukan oleh kepala ruangan dan pihak rumah sakit (MENKO) dalam setiap shift sehingga mutu pelayanan sudah berjalan secara optimal Sudah ada laporan tentang pelaksanaan supervisi di ruangan 4. MONEY

Weakness (Kelemahan) -

Opportunity (Kesempatan) -

Threatened (Ancaman) -

Strenght (kekuatan) Pembagian jasa pelayanan sudah jelas dan sesuai sesuai dengan pelayanan yang telah diberikan oleh perawat

Weakness (Kelemahan) -

Opportunity (Kesempatan) -

Threatened (Ancaman) -

65

2.2 Analisa Pelaksanaan Standard Asuhan Keperawatan Sasaran pelayanan kesehatan di ruang XXI adalah klien-klien dengan kasus penyakit dalam. Ruang XXI memiliki stnadar asuhan keperawatan terhadap 10 jenis penyakit (CKD, Hepatitis, DHF, DM, Hipertensi, Sirosis Hepatis, Gastroentritis, HIV/AIDS PSMBA, Anemia) dengan mengacu pada format Doengoes (2005, yang disusun tahun 2006 meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Berdasarkan hasil pengkajian, pelaksanaan standar asuhan keperawatan tidak dapat terlaksana secara masksimal. Sementara jumlah klien per hari rata-rata 30 orang dan jumlah kebutuhan perawat ruang XXI penyakit dalam pria berdasarkan rumus Douglas adalah 25 orang sementara jumlah perawat yang tersedia adalah 19 orang. Hal ini terlihat adanya kekurangan tenaga perawat sehingga kebutuhan klien tidak terpenuhi secara maksimal akibat sistem pembuatan jadwal dinas yang tidak tepat. Selain itu sistem pendokumentasian pelaksaan asuhan keperawatan juga tidak berjalan dengan baik. Hal ini terkait dengan banyaknya tugas-tugas non keperawatan yang dilakukan perawat pelaksana.

3.

Rumusan Masalah

66

Dari hasil pengkajian yang diperoleh oleh praktikan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : a. Jumlah tenaga kerja masih kurang. Jumlah perawat di Ruang XXI 19 orang, menurut Douglas jumlah perawat yang dibutuhkan seharusnya 25 orang sedangkan menurut Depkes 24 orang b.
c.

Pelatihan informal belum optimal dijalankan di Rumah Sakit Dari 12 orang pasien dan keluarga diperoleh hasil responden merasa puas sebanyak 80%, tidak puas 13.33% dan sangat tidak puas 6.67%.

d.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Karu pendokumentasian Asuhan Keperawatan belum optimal dilakukan karena beban kerja perawat yang tinggi.

e.

Format dokumentasi askep masih belum lengkap seperti format pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, dan evaluasi.

f.Pelaksanaan Discharge Planning oleh perawat kepada pasien belum dilakukan secara optimal hal ini dikarenakan oleh beben kerja peraat yang tinggi g. h. Apresiasi terhadap tenaga kerja yang berprestasi belum optimal Pelatihan yang dilaksanakan belum secara berkala

i. Jumlah peralatan dengan jumlah pasien tidak sebanding


j. Tindak

lanjut pemenuhan kebutuhan logistik oleh pihak rumah sakit

berlangsung lama k. Jumlah alat tenun dengan pasien tidak sebanding

l. Tidak tersedianya anggaran bagi perawat untuk melanjutkan pendidikan

67

4. Rencana Penyelesaian Masalah 4.1 Intervensi Tidak Langsung Praktikan melakukan diskusi dengan Kepala Ruangan mengenai

permasalahan yang tidak dapat di intervensi langsung oleh mahasiswa. 1). Man a. Menambah jumlah tenaga kerja yang ada di ruangan XXI sesuai dengan perhitungan tenaga kerja DEPKES RI b. Bekerjasama dengan institusi tertentu seperti institusi pendidikan untuk melakukan seminar maupun pelatihan pada bidang manajemen keperawatan dan manajemen pelayanana klinis c. Memperbaiki kinerja perawat untuk meningkatkan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan 2). Material a. Menambah jumlah peralatan yang ada di ruangan XXI seperti peralatan pemeriksaan sistem persarafan seperti pen light, tounge spatel, peralatan kebutuhan dasar seperti peralatan oral hygiene, personal hygiene, perineal hygienen dan alat perawatan luka DM. b. Ruangan menetapkan waktu secara berkala untuk memeperbaharui peralatan yang ada 3) Money Menyediakan anggaran bagi perawat untuk melanjutkan pendidikan

68

4.2 Intervensi Langsung Berdasarkan rumusan dan prioritas masalah yang didapat, maka mahasiswa menawarkan alternative penyelesaian masalah yang ada disesuaikan dengan kondisi ruangan antara lain: No Masalah 1. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Rencana Tindakan TanggalPelaksanaan standar Membuat dokumentasi 4 Juli 2011 belum standar keperawatan asuhan tentang

diterapkan secara optimal 2. Pendidikan Kesehatan

penyakit Sirosis Hepatis belum Melakukan pendidikan 25 Juni 2011 kesehatan pada pasien dan keluarga tentang 21 Juni 2011

terlaksana secara optimal

3.

Belum

adanya

penyakit Sirosis Hepatis Standar Membuat SOP tentang

Operasional Prosedur (SOP) di - Pemasangan NGT ruang XXI Penyakit Dalam Pria

5. Implementasi Implementasi yang telah dilakukan oleh mahasiswa selama Praktek Belajar Lapangan Komprehensif yaitu:

69

5.1.

Mahasiswa telah menyiapakan format pengkajian penyakit dalam, Standar Asuhan Keperawatan sistem cheklist berdasarkan NIC (Nursing

Intervention Classification) dan NOC (Nursing Outcome Classification), Format Discharge Planning yang selanjutkan diserahkan kepada kepala ruangan pada tanggal 09 Juli 2011 untuk digunakan di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria.
5.2.

Mahasiswa telah melakukan Pendidikan Kesehatan tentang Sirosis Hepatis yaitu penyakit Sirosis Hepatis, Nutrisi (Diet) pada Sirosis Hepatis dan Tips memperbaiki integritas jaringan serta menerapkan evidence based berupa Terapi pijat (massage), Range of Motion (ROM) pasif dan aktif pada kaki untuk mengatasi edema tungkai bawah, Mahasiswa telah membuat SOP tentang pemasangan Naso gastric Tube (NGT).

5.3.

Mahasiswa telah membuat media pendidikan kesehatan berupa poster mini tentang Sirosis Hepatis..

6. Evaluasi 6.1. Format pengkajian penyakit dalam sistem chek list, Standar Asuhan Keperawatan system checklist berdasarkan NIC dan NOC dan Format

70

Discharge Planning sudah diselesaikan dan sudah disosialisasikan kepada Kepala Ruang XXI tanggal 09 Juli 2011. Kemudian dijelaskan kepada Kepala Ruang XXI tentang cara penggunaan format pengkajian, Standar Asuhan Keperawatan dan Discharge Plannning sistem chek list. Kepala Ruang XXI mengatakan bahwa format pengkajian sistem chek list belum dapat dilaksanakan karena masih disosialisasikan kepada pihak Rumah Sakit disamping itu biaya untuk menggadakan format pengkajian juga menjadi suatu masalah dan juga sedang diusulkan kepada pihak rumah sakit. 6.2. Pemberian pendidikan kesehatan kepada pasien kelolaan sudah diberikan oleh mahasiswa. Pendidikan kesehatan yang diberikan sangat bermanfaat bagi pasien dan keluarganya. 6.3. Standar Operasional Prosedur yang dibuat oleh mahasiswa sudah disosialisasikan kepada Ruang XXI pada tanggal 25 Juni 2011 dan Format SOP sudah dilaksanakan di ruang XXI. 6.4. Format pemantauan pemasangan NGT, pada pasien sirosis hepatis belum digunakan secara maksimal karena Ruang XXI tidak memiliki biaya untuk memperbanyak format tersebut. 6.5. Media pendidikan kesehatan berupa poster mini sudah diserahkan kepada Kepala Ruang XXI pada tanggal 09 Juli 2011 C. Pembahasan 1. Analisa Kesenjangan Teori dan Penyelesaian yang telah Dilakukan Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan oleh mahasiswa profesi pada Praktek Belajar Lapangan komprehensif mula pada tanggal pada tanggal 13 Juni -

71

09 Juli 2011 di ruangan XXI Penyakit Dalam Pria RSU dr.Pirngadi Medan, terdapat beberapa masalah. Setelah dianalisa maka mahasiswa memutuskan ada tiga masalah terkait dengan sistem manajemen yang dapat di intervensi oleh mahasiswa. Setelah di intervensi kelompok mengevaluasi kinerja dan membandingkan kembali dengan konsep teoritis yang ada dan bagaimana pencapaian kelompok. Adapun gambaran masalah fungsi manajemen yang di intervensi mahasiswa dan kinerja kelompok adalah sebagai berikut: 1.1 Pendokumentasian Asuhan Keperawatan belum dilaksanakan secara optimal hal ini dikarenakan kurangnya tenaga perawat dan tingginya beban kerja perawat hal ini ditandai dengan jumlah keseluruhan adalah 23 orang yang mencakup Karu, Katim, dan Perawat Pelaksana, bagian Gizi dan TU serta belum optimalnya metode tim. Dokumentasi merupakan tulisan dan pencatatan suatu kegiatan/aktivitas tertentu secara sah/legal. Pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan penulisan dan pencatatan yang dilakukan oleh perawat tentang informasi kesehatan klien termasuk data pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi keperawatan (Carpenito, 2001). Menurut teori manajemen modern, sebuah ruangan rawat inap tidak hanya memiliki tenaga keperawatan harus memiliki tenaga non keperawatan seperti petugas kebersihan, petugas farmasi, petugas GAKIN, petugas administrasi dan pembantu perawat (Gillies, 2005). Menurut Douglas perawat yang dibutuhkan sebanyak 25 orang sehingga jika dibandingkan dengan jumlah perawat di ruangan XXI Penyakit Dalam Pria belum mencukupi karena jumlah perawat yang bertugas di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria adalah 19 orang. Dari hasil pengkajian dan observasi yang dilakukan selama 4 minggu disimpulkan bahwa tenaga yang tersedia

72

masih kurang karena jumlah pasien yang dirawat tidak sesuai dengan jumlah tenaga perawat yang tersedia dan banyaknya tugas non keperawatan yang harus dilakukan oleh perawat selain tugas keperawatan yang harus dilakukan. Ruang XXI Penyakit Dalam Pria RSU dr.Pirngadi Medan telah menggunakan metode tim dalam memberikan asuhan pelayanan kepada pasien, namun dalam pelaksanaannya belum murni diterapkan, dimana masih ada tugastugas non keperawatan yang dilimpahkan kepada perawat ruangan seperti perawat yang khusus sebagai tugas luar, petugas peralatan, mengurus administrasi pasien, mengurus resep pasien. Tetapi karena RSU dr. Pirngadi Medan merupakan salah satu Rumah Sakit pendidikan, maka kekurangan tenaga perawat di ruang XXI Penyakit Dalam Pria teratasi sedikit oleh bantuan mahasiswa yang sedang praktek, karena jika dirata-ratakan kurang lebih ada 10 orang mahasiswa yang dinas di satu ruangan dimana mahasiswa dapat membantu tugas-tugas perawat pelaksana di ruangan. Metode tim bertujuan memberikan pelayanan perawatan yang berpusat pada pasien melalui pengawasan ketua tim yang akan mengidentifikasi tujuan asuhan keperawatan, mengidentifikasi kebutuhan anggota tim, memfokuskan kepada pemenuhan tujuan dan kebutuhan, membimbing anggota tim untuk membantu menyusun dan memenuhi standard asuhan keperawatan. Beban kerja perawat yang tinggi akibat tenaga keperawatan yang kurang mengakibatkan tidak optimalnya pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang XXI Penyakit Dalam Pria. Format pengkajian dan asuhan keperawatan pasien masih menggunakan system tulis sehingga menambah beban kerja perawat, untuk itu kelompok sudah menawarkan format pengkajian dan asuhan keperawatan sistem

73

checklist berdasarkan standar NIC (Nursing Intervention Classification) dan NOC (Nursing Outcome Classification), namun berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruang format yang ditawarkan kelompok belum bisa digunakan. Hal ini dikarenakan kurangnya biaya operasional untuk memperbanyak format tersebut. Tetapi Kepala Ruang mengatakan akan mengajukan format yang diberikan kepada pihak rumah sakit untuk ditindaklanjuti.

1.2

Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada menggunakan media yang jelas, hanya secara lisan saja.

pasien

belum

Pendidikan kesehatan adalah salah satu bentuk implementasi keperawatan yang mutlak dilakukan baik untuk diagnosa kurang pengetahuan maupun untuk diagnosa keperawatan lainnya dan untuk semua tindakan keperawatan, diagnostik, terapi medis, hak dan kewajiban pasien/ keluarga maupun peraturan ruangan atau Rumah Sakit (Notoatmodjo, 2001). Pendidikan kesehatan di ruang XXI Penyakit Dalam Pria sudah dilakukan secara lisan sewaktu pasien baru masuk dan hendak pulang, tetapi belum diberikan secara terstruktur dengan menggunakan media, karena keterbatasan waktu, tingginya beban kerja dan kurangnya jumlah tenaga perawat. Pendidikan kesesehatan yang ditujukan bagi pasien dan keluarga merupakan promosi kesehatan yang dikembangkan di Rumah Sakit dalam rangka membantu pasien dan keluarganya agar mereka dapat mengatasi masalah kesehatannya, khususnya mempercepat kesembuhan dari penyakitnya

(Notoatmodjo, 2005). Oleh karena itu Pendidikan kesehatan sangat penting untuk mendukung pengobatan pasien dan membantu proses penyembuhan pasien.

74

Implementasi yang telah dilakukan mahasiswa terhadap masalah ini adalah membuat penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarga, tentang sirosis hepatis yaitu pendidikan kesehatan tentang penyakit sirosis hepatis, nutrisi untuk pasien sirosis hepatis, dan tips untuk mengatsi edema pada pasien sirosis hepatis, serta menyediakan media pendidikan kesehatan berupa poster mini, booklet dan leaflet. Hal ini mendapat sambutan yang baik dari keluarga pasien. Berdasarkan pernyataan pasien dan keluarga bahwa pendidikan kesehatan yang telah diberikan membantu mereka memahami penyakit yang diderita dan cara mengatur asupan nutrisi dan memahami cara merawat pasien baik di rumah sakit maupun di rumah setelah pasien berobat jalan.

1.3

Standar Operasional Prosedur dalam melakukan tindakan keperawatan belum dilakukan secara optimal Standar operasional prosedur perlu diterapkan dalam melakukan tindakan

keperawatan yang komprehensif kepada pasien, sehingga setiap tindakan yang dilakukan dapat terlaksana dengan pedoman yang sudah dibakukan. Berdasarkan hasil observasi mahasiswa selama menjalani Praktik Belajar Lapangan

Komprehensif di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria tindakan keperawatan yang dilakukan belum sesuai dengan standar operasional prosedur seperti pemasangan Naso Gastric Tube (NGT). Hal ini dikarenakan kurangnya peralatan dan bahan logistik serta beban kerja perawat yang tinggi di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria 2. Kesimpulan dan Saran 2.1 Kesimpulam

75

Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan oleh mahasiswa Praktek Belajar Lapangan Komprehensif Fakultas Keperawatan USU di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria RSU dr. Pirngadi Medan tanggal 13 Juni 09 Juli 2011, mahasiswa menemukan masalah yaitu: a. Man 1. Pendokumentasian asuhan keperawatan di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria belum dilaksanakan secara optimal hal ini dikarenakan kurangnya jumlah tenaga perawat, hal ini ditandai dengan jumlah keseluruhan perawat 19 orang yang mencakup Karu, Katim, Perawat Pelaksana dan bagian Non Keperawatan yaitu bagian Gizi dan T.U. Sedangkan dari hasil perhitungan kebutuhan tenaga perawat menurut Douglas jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan adalah 25 orang, sehingga Ruang XXI Penyakit Dalam Pria kekurangan 6 tenaga perawat, sehingga beban kerja perawat di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria cukup tinggi. 2. Pendidikan Kesehatan belum dilakukan secara terstruktur oleh perawat ruangan karena beban kerja yang tinggi. 3. Standar operasional prosedur dalam melakukan tindakan keperawatan belum diterapkan secara optimal.

b. Methode Ruangan memiliki alur pendelegasian tugas yang jelas dengan metode penugasan tim. Namun berdasarkan hasil observasi masih dijumpai pembagian

76

tugas secara fungsional misalnya : Tugas Luar (TL) kepada satu orang untuk semua pasien. c. Material
1.

Keterbatasan alat-alat perawatan luka yang dibutuhkan oleh pasien, sehingga meningkatkan resiko terjadinya infeksi nosokomial.

2.

Pemanfaatan sarana diupayakan seoptimal mungkin, seperti papan nama pasien dan struktur organisasi telah terpasang. Dari 6 masalah yang telah dikaji mahasiswa, setelah dianalisa lebih lanjut

dan dikonsultasikan dengan pembimbing, ada 3 masalah yang dapat di intervensi oleh mahasiswa yaitu: 1. Pendokumentasian asuhan keperawatan yang belum dilaksanakan secara optimal hal ini dikarenakan kurangnya tenaga perawat dan format pendokumentasian asuhan keperawatan masih menggunakan system tulis.
2. Pendidikan kesehatan belum dilakukan secara terstruktur oleh perawat

ruangan karena beban kerja yang tinggi. 3. Standar operasional prosedur dalam melakukan tindakan keperawatan belum diterapkan secara optimal Setelah melakukan prioritas masalah yang akan diintervensi oleh mahasiswa, mahasiswa kemudian menetapkan rencana tindakan untuk masalah prioritas, rencana tindakan yang telah dilakukan adalah: 1. Membuat format pengkajian dan standar asuhan keperawatan system checklist berdasarkan NIC dan NOC.

77

2. Memberikan penyuluhan pendidikan kesehatan tentang penyakit

Sirosis hepatis, Nutrisi (diet) pada pasien Sirosis hepatis dan cara mengatsi edema pada pasien sirosis hepatis serta membuat media pendidikan kesehatan berupa poster mini yang ditinggalkan di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria agar dapat digunakan oleh perawat untuk memberikan pendidikan kesehatan.
3. Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) yaitu NGT

2.2 Saran 1. Pihak Rumah Sakit a. Adanya penambahan tenaga perawat di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria untuk meningkatkan mutu pelayanan di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria RSU dr. Pirngadi Medan juga peningkatan pendidikan bagi perawat pelaksana. b. Adanya penambahan kebutuhan logistik di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria untuk mencapai pelayanan yang optimal.

2. Pihak Ruang XXI Penyakit Dalam Pria


a. Mengaktifkan mahasiswa yang dinas di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria

untuk membantu kekurangan tenaga perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.

78

b. Menggunakan format pendokumentasian asuhan keperawatan yang ditawarkan untuk mengurangi beban kerja perawat.
c. Mengadakan Pendidikan Kesehatan secara rutin dan terjadwal terhadap

klien dan anggota keluarga dalam rangka mengoptimalkan mutu asuhan keperawatan yang diberikan.

3. Mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan PBLK di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria a. Mengidentifikasi lebih lanjut analisa situasional ruang rawat XXI Penyakit Dalam Pria b. Mengkaji kembali pendokumentasian asuhan keperawatan sistem checklist berdasarkan NIC dan NOC dan melihat apakah sudah memberi dampak pada ruangan dan perawat. c. Menggunakan standar operasional prosedur dalam melakukan tindakan keperawatan di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria d. Mengadakan penelitian terkait kasus yang ada di Ruang XXI Penyakit Dalam Pria.

79