P. 1
1. Permen PU 45 Tahun 2007

1. Permen PU 45 Tahun 2007

|Views: 1,755|Likes:
Dipublikasikan oleh Rara Itu Julis

More info:

Published by: Rara Itu Julis on Jul 23, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2013

pdf

text

original

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM No.

45/PRT/M/2007 Tanggal 27 Desember 2007

PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA

DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

DIREKTORATAT JENDERAL CIPTA KARYA

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

PEDOMAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG NEGARA
Landasan Hukum
1. UU No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi 2. UU No. 28 tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung 3. UU No. 1 tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara 4. Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

5. Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
6. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

PEDOMAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG NEGARA
Landasan Hukum
1. Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum No. 10/KPTS/2000 Tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan dan Lingkungan 2. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 29/PRT/M/2006 Tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung 3. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 30/PRT/M/2006 Tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan 4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/MI2007 Tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan 5. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 45/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara

MATERI BANGUNAN GEDUNG NEGARA
A. PENGERTIAN B. ASAS PEMBANGUNAN BGN C. MAKSUD DAN TUJUAN D. LlNGKUP MATERI PEDOMAN A. KLASIFIKASI B. TIPE BANGUNAN RUMAH NEGARA

I. UMUM

II. PERSYARATAN BGN

C. STANDAR LUAS D. PERSYARATAN ADMINISTRATIF

E. PERSYARATAN TEKNIS

III. TAHAPAN PEMBANGUNAN BGN

A. PERSIAPAN B. PERENCANAAN TEKNIS KONSTRUKSI

C. PELAKSANAAN KONSTRUKSI
A. UMUM

IV. PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BGN

B. STANDAR HARGA SATUAN TERTINGGI C. KOMPONEN BIAYA PEMBANGUNAN D. PEMBIAYAAN KOMPONEN BANGUNAN

E. BIAYA PEKERJAAN NON-STANDAR

SASARAN DAN METODE PENDAFTARAN C.MATERI BANGUNAN GEDUNG NEGARA A. PENYELENGGARA PEMBANGUNAN B. PENDAFTARAN BGN A. TATA CARA PEMBANGUNAN BGN VI. PRODUK PENDAFTARAN VII. TERTENTU D PEMELIHARAAN/PERAWATAN BANGUNAN V. ORGANISASI DAN TATA LAKSANA C. TUJUAN PENDAFTARAN B. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS PEMBINAAN TEKNIS PENGAWASAN TEKNIS . PENYELENGGARAAN PEMB. PELAKSANAAN PENDAFTARAN D.

UMUM PENGERTIAN BANGUNAN GEDUNG adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat dan kedudukannya sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya BANGUNAN GEDUNG NEGARA adalah bangunan gedung untuk keperluan dinas yang menjadi/akan menjadi kekayaan milik negara dan diadakan dengan sumber pembiayaan yang berasal dari dana APBN dan/atau perolehan lainnya yang sah PENGADAAN adalah kegiatan pengadaan bangunan gedung baik melalui proses pembangunan pembelian hibah tukar menukar maupun kerjasama pemanfaatan bangun guna serah dan bangun serah guna .I.

PENGERTIAN PEMBANGUNAN adalah kegiatan mendirikan bangunan gedung yang diselenggarakan melalui tahap persiapan perencanaan teknis. Cipta Karya Dep. . perbaikan sebagian atau seluruhnya maupun perluasan bangunan gedung yang sudah ada. b. Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan. dan/atau lanjutan pembangunan bangunan gedung yang belum selesai. dan/atau perawatan (rehabilitasi renovasi restorasi) INSTANSI TEKNIS SETEMPAT Instansi Teknis setempat dimaksud adalah: a. Dinas Pekerjaan Umum/Dinas Teknis Provinsi yang bertanggung jawab dalam pembinaan bangunan gedung untuk wilayah provinsi di luar DKI Jakarta. PU untuk tingkat nasional dan wilayah DKI Jakarta. Ditjen. pelaksanaan konstruksi dan pengawasan konstruksi/manajemen konstruksi (MK) baik merupakan pembangunan baru.

PERSYARATAN .II.

E yang tidak bertingkat. • bangunan rumah dinas tipe C. • puskesmas. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA A. KLASIFIKASI BANGUNAN TINGKAT KOMPLEKSITAS BANGUNAN SEDERHANA adalah bangunan gedung negara dengan karakter sederhana serta memiliki kompleksitas dan teknologi sederhana Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama 10 (sepuluh) tahun • gedung kantor yang sudah ada disain prototipenya. • gedung pendidikan tingkat dasar tingkat lanjutan sd.II. atau gedung sd. D. 2 lantai. 2 lantai dengan luas sd. 500 m2. .

KLASIFIKASI BANGUNAN TINGKAT KOMPLEKSITAS BANGUNAN TIDAK SEDERHANA adalah bangunan gedung negara dengan karakter tidak sederhana serta memiliki kompleksitas dan/atau teknologi tidak sederhana Masa penjaminan kegagalan bangunannya adalah selama paling singkat 10 (sepuluh) tahun ● ● ● ● ● ● BG Kantor belum ada prototipe BG diatas 2 lantai/ >500 m2 Rumah Dinas Tipe A & B. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA A.II. atauC.D.&E bertingkat Rumah Sakit kelas A & B Universitas/Akademi .

dalam perencanaan dan pelaksanaannya memerlukan penyelesaian/teknologi khusus Jaminan kegagalan paling singkat 10 (sepuluh) tahun •Istana Negara/Wisma Negara •Instalasi Nuklir •Laboratorium •Bangunan Monumental .II. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA A. KLASIFIKASI BANGUNAN TINGKAT KOMPLEKSITAS BANGUNAN KHUSUS BGN yang memiliki penggunaan dan persyaratan khusus.

II. Kepala Bagian. Kepala Sub Direktorat. Ili/d. Dirjen. Kepala Sub Bidang Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) pegawai Negeri Sipil yang golongannya 111/0 s/d. IV /e. TIPE BANGUNAN RUMAH NEGARA Tipe Khusus 1) 2) 1) 2) 1) 2) 3) 1) 2) 3) 1) 2) 3) 1) 2) 3) Untuk Keperluan Pejabat/Golongan Menteri Kepala Lembaga Pemerintah Non-Departemen. Kepala Sub Seksi Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) Pegawai Negeri Sipil yang golongannya II/d ke bawah. Inspektur. A B C D E . Kakanwil. Kepala Bidang Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) pegawai Negeri Sipil yang golongannya IV /a s/d. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA B. Kepala Badan. Deputi. Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) Direktur. Asisten Deputi Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) pegawai Negeri Sipil yang golongannya IV /d dan IV/e. Kepala Biro. Kepala Seksi Kepala Sub Bagian. Irjen. Pejabat-pejabat yang jabatannya setingkat dengan 1) Sekjen. Kepala Lembaga Tinggi/Tertinggi Negara.

PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARAC C. STANDAR LUAS BANGUNAN GEDUNG NEGARA 1. RUMAH NEGARA Tipe Khusus A B C D E . klasifikasi sederhana rata-rata sebesar 9. klasifikasi tidak sederhana rata-rata sebesar 10 m2 per-personil. GEDUNG KANTOR a. c.II. kebutuhannya dihitung secara tersendiri (studi kebutuhan ruang) diluar luas ruangan untuk seluruh personil yang akan ditampung Luas Bangunan 400 m2 250 m2 120 m2 70 m2 50 m2 36 m2 Luas lahan 1 000 m2 600 m2 350 m2 200 m2 120 m2 100 m2 2. ruang-ruang khusus atau ruang pelayanan masyarakat. b.6 m2 per -personil.

DOKUMEN PEMBIAYAAN tersedianya anggaran untuk pembiayaan kegiatan dapat berupa DIPA atau dokumen lainnya yang dipersamakan dokumen pembiayaan sudah termasuk: a. biaya manajemen konstruksi/pengawasan konstruksi d. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA D. biaya pelaksanaan konstruksi fisik c. biaya perencanaan teknis b. biaya pengelolaan kegiatan . PERSYARATAN ADMINISTRATIF 1.II.

sebelum mendirikan bangunan gedung . PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA D. DOKUMEN PEMBIAYAAN 2. harus disertai perjanjian tertulis antara pemilik tanah dengan pemilik bangunan gedung. STATUS HAK ATAS TANAH Status hak atas tanah ini dapat berupa sertifikat atau bukti kepemilikan/hak atas tanah • hak milik • hak guna bangunan • hak guna usaha kepemilikannya dikuasai oleh pihak lain.II. PERSYARATAN ADMINISTRATIF 1.

PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA D. PERSYARATAN ADMINISTRATIF 1. DOKUMEN PEMBIAYAAN 2. • Sertifikat Laik Fungsi (SLF) atau keterangan kelaikan fungsi sejenis bagi daerah yang belum melakukan penyesuaian . STATUS HAK ATAS TANAH 3. PERIZINAN bangunan harus dilengkapi dengan dokumen perizinan • Izin Mendirikan Bangunan Gedung (IMB).II.

2. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA D. PERSYARATAN ADMINISTRATIF 1. DOKUMEN PEMBIAYAAN STATUS HAK ATAS TANAH PERIZINAN DOKUMEN PERENCANAAN adalah hasil dari proses perencanaan teknis.II. 3. atau yang berupa Disain Prototipe . 4. dibuat oleh • Penyedia Jasa Perencana Konstruksi • Tim Swakelola Perencanaan.

PERSYARATAN ADMINISTRATIF 1. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA D. 4. 2. DOKUMEN PEMBIAYAAN STATUS HAK ATAS TANAH PERIZINAN DOKUMEN PERENCANAAN DOKUMEN PEMBANGUNAN yang terdiri atas: • Dokumen Perencanaan • Izin Mendirikan Bangunan (IMB) • Dokumen Pelelangan • Dokumen Kontrak Kerja Konstruksi. 3. dan • Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sesuai ketentuan – As Built Drawings – hasil uji coba/test run operational – Surat Penjaminan atas Kegagalan Bangunan (dari penyedia jasa konstruksi) .II. 5.

PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN • • • • • • • • • • • Peruntukan lokasi Koefisien dasar bangunan (KDB) Koefisien lantai bangunan (KLB) Ketinggian bangunan Ketinggian langit-Iangit Jarak antar blok/massa bangunan Koefisien daerah hijau (KDH) Garis sempadan bangunan Wujud arsitektur Kelengkapan Sarana dan Prasarana Bangunan Keselamalan dan Kesehalan Kerja (K3). PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA E. serta Asuransi . PERSYARATAN TEKNIS 1.II.

PERSYARATAN TEKNIS 1. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA E.II. PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 2. PERSYARATAN BAHAN BANGUNAN • • • • • • Bahan penutup lantai Bahan dinding Bahan langit-Iangit Bahan penutup atap Bahan kosen dan daun pintu/jendela Bahan struktur .

PERSYARATAN BAHAN BANGUNAN 3. PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 2. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA E. PERSYARATAN TEKNIS 1. PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN • • • • • • Struktur pondasi Struktur lantai Struktur Kolom Struktur Atap Struktur Beton Pracetak Basemen .II.

3. 4.II. PERSYARATAN TEKNIS 1. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA E. PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN PERSYARATAN BAHAN BANGUNAN PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN PERSYARATAN UTILITAS BANGUNAN • Air minum • Pembuangan air kotor • Pembuangan Iimbah • Pembuangan sampah • Saluran air hujan • Sarana pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran • Instalasi listrik • Penerangan dan pencahayaan • Penghawaan dan pengkondisian udara • Sarana transportasi dalam bangunan gedung • Sarana komunikasi • Sistem Penangkal/proteksi petir • Instalasi gas • Kebisingan dan getaran • Aksesibilitas dan fasilitas bagi penyandang cacat dan yang berkebutuhan khusus . 2.

5. PERSYARATAN TEKNIS 1.II. 2. 4. PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN PERSYARATAN BAHAN BANGUNAN PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN PERSYARATAN UTILITAS BANGUNAN PERSYARATAN SARANA PENYELAMATAN • • • • • • Tangga Darurat Pintu darurat Pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah EXIT/KELUAR Koridor/selasar Sistem Peringatan Bahaya Fasilitas Penyelamatan . 3. PERSYARATAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA E.

III. TAHAPAN PEMBANGUNAN .

Tahapan Pembangunan BGN PERATURAN DAERAH TENTANG BANGUNAN SKRK IMB SLF IH PERENCANAAN PERSIAPAN PELELANGAN PELAKSANAAN PENDAFTARAN PEMANFAATAN PENGHAPUSAN PERATURAN. PEDOMAN. STANDAR TEKNIS .

PENYUSUNAN PROGRAM DAN PEMBIAYAAN • • • • • • Penyusunan program kebutuhan ruang dan fasilitas bangunan kebutuhan luas ruang bangunan prasarana dan sarana bangunan gedung kebutuhan lahan bangunan menyusun jadwal pelaksanaan pembangunan kebutuhan pembiayaan pembangunan 1) biaya pelaksanaan konstruksi fisik: 2) biaya perencanaan teknis konstruksi: 3) biaya manajemen konstruksi atau pengawasan konstruksi. . 4) biaya pengelolaan kegiatan. PERSIAPAN 1.TAHAPAN PEMBANGUNAN A.

TAHAPAN PEMBANGUNAN A. PENYUSUNAN PROGRAM DAN PEMBIAYAAN 2. PERSIAPAN KEGIATAN • Pembentukan Organisasi Pengelola Kegiatan dan • Pembentukan Panitia Pengadaan Barang dan Jasa • Penyusunan Kerangka Acuan Kerja PROSES PENGADAAN JASA KONSULTAN . PERSIAPAN 1.

. untuk Papua.Konsultan Perencana dapat merangkap Konsultan Pengawas. untuk :  pekerjaan dengan klasifikasi penyedia jasa kelas kecil.  pekerjaan dengan klasifikasi konsultan klas sedang.

. dan atau bangunan dengan luas total diatas 5.000 m2.Penggunaan Konsultan Manajemen Konstruksi:      Bangunan bertingkat diatas 4(empat) lantai. dan atau pembangunan yang dilaksanakan secara bertahap. tidak dapat selesai dalam 1(satu) tahun anggaran. dan atau pembangunan yang melibatkan lebih dari satu konsultan perencana atau kontraktor. dan atau bangunan khusus.

laporan perhitungan mekanikal dan elektrikal. laporan perhitungan struktur laporan penyelidikan tanah (soil test). laporan tata Iingkungan.TAHAPAN PEMBANGUNAN B. laporan perhitungan IT (Informasi & Teknologi). Laporan akhir tahap perencanaan. PERENCANAAN TEKNIS KONSTRUKSI Dokumen rencana teknis bangunan • • • • • • • • • • Gambar Rencana Teknis Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) Rencana Anggaran Biaya (Engineering Estimate) Daftar Volume Pekerjaan (Bill of Quantity) laporan arsitektur. meliputi: PROSES PENGADAAN KONTRAKTOR PELAKSANA .

pemeriksaan pekerjaan. • berita acara perubahan pekerjaan. laporan akhir manajemen konstruksi/ pengawasan laporan akhir pengawasan berkala. pekerjaan tambah/kurang serah terima I dan II. meliputi • Gambar sesuai dengan pelaksanaan (as built drawings). PELAKSANAAN KONSTRUKSI Dokumen hasil Pelaksanaan Konstruksi. bulanan selama pelaksanaan konstruksi fisik. • laporan harian. petunjuk pengoperasian dan perawatan peralatan dan perlengkapan mekanikal-elektrikal bangunan . dan berita acara lain foto-foto dokumentasi pada setiap tahapan kemajuan pelaksanaan konstruksi fisik • manual pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung. mingguan. • Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). • kontrak kerja pelaksanaan konstruksi fisik.TAHAPAN PEMBANGUNAN C. pekerjaan pengawasan beserta perubahan/addendum.

IV. PEMBIAYAAN .

Pembiayaan Pembangunan BGN: Biaya Pembangunan BGN:   Biaya Pekerjaan Standar Biaya Pekerjaan Non Standar Standar Harga Satuan Tertinggi per M2:    Standar Harga BGN Klasifikasi Sederhana dan Tidak Sederhana Standar Harga Bangunan Rumah Negara Ditetapkan oleh Bupati/Walikota secara berkala/tahun berdasarkan spesifikasi teknis dan klasifikasi BGN Biaya Biaya Biaya Biaya Konstruksi Fisik Perancangan Pengawasan/Manajemen Konstruksi Pengelolaan Proyek Komponen Biaya Pembangunan:     .

Pembiayaan Pembangunan BGN: Pembiayaan Bangunan tertentu:    Pembangunan > 1 tahun anggaran Bangunan dengan Desain Prototipe Bangunan dengan Desain Berulang Prosentase Komponen Biaya Pembangunan: Diperhitungkan dari Biaya Konstruksi Fisik  Bangunan Sederhana  Bangunan Tidak sederhana  Bangunan Khusus Biaya Pekerjaan Non-Standar   Dihitung berdasarkan rincian volume kebutuhan nyata dan harga pasar yang wajar. Besarnya biaya perencanaan. dihitung berdasarkan billing-rate . dengan terlebih dahulu berkonsultasi kepada instansi Teknis PU. manajemen konstruksi/pengawasan.

dan dapat berpedoman pada : Jenis pekerjaan Alat Pengkondisian Udara Elevator/Escalator Tata Suara (Sound System) Telepon dan PABX Instalasi IT (Informasi & Teknologi) Elektrikal (termasuk genset) Sistem Proteksi Kebakaran Sistem Penangkal Petir Khusus Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Interior (termasuk furniture) Gas Pembakaran Gas Medis Pencegahan Bahaya Rayap Pondasi dalam Fasilitas penyandang cacat & kebutuhan khusus Sarana/Prasarana Lingkungan Basement (per m2) Peningkatan Mutu *) Prosentase 10-20% dari X 8-12% dari X 3-6% dari X 3-6% dari X 6-11 % dari X 7-12% dari X 7-12% dari X 2-5% dari X 2-4% dari X 15-25% dari X 1-2% dari X 2-4% dari X 1-3% dari X 7-12% dari X 3-8% dari X 3-8% dari X 120% dari Y 15-30% dari Z .Pembiayaan Pekerjaan Non-Standar Besarnya biaya tertinggi pekerjaan non-standar maksimum sebesar 150% dari biaya pekerjaan standar.

TATA CARA PENYELENGGARAAN .V.

PEMBINA TEKNIS Pembina Teknis penyelenggaraan pembangunan bangunan gedung adalah Menteri Pekerjaan Umum Dan Instansi Teknis setempat . PENYELENGGARA PEMBANGUNAN BGN 1. PENGUNA ANGGARAN adalah Kementerian/lembaga atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dapat melimpahkan pelaksanaan penyelenggaraan pembangunannya kepada Instansi Teknis setempat 2.V. TATA CARA PENYELENGGARAAN A.

bentuk Kontrak Lumpsum/Lumpsum Fixed Price Contract. ORGANISASI DAN TATA LAKSANA 1. Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi b. TATA CARA PENYELENGGARAAN B. PENGELOLA KEGIATAN 2. Penyedia Jasa Perencanaan Konstruksi c. HUBUNGAN KERJA PENYEDIA JASA KONSTRUKSI DENGAN KEPALA SATUAN KERJA/PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN a. hubungan kerja diwujudkan dalam bentuk kontrak b. Penyedia Jasa Pelaksanaan Konstruksi 3.V. daftar volume dan harga (bills of quantity /BQ ) bersifat tidak mengikat . Kontrak Lumpsum. c. PENYEDIA JASA KONSTRUKSI a. Penyedia Jasa Pengawasan Konstruksi d.

PEMBANGUNAN LEBIH DARI SATU TAHUN ANGGARAN a. Penyedia jasa perencanaan dapat ditunjuk langsung. dan seterusnya sebesar 50% terhadap komponen biaya perencanaan. TATA CARA PENYELENGGARAAN C. kegiatan multiyear’s project diusulkan mendapatkan persetujuan multi-years contract sebelum pelaksanaan kegiatan 2. Untuk efektivitas dan efisiensi pelaksanaan. PEMBANGUNAN DENGAN DESAIN PROTOTIPE . PEMBANGUNAN DENGAN DISAIN BERULANG adalah penggunaan secara berulang terhadap disain yang sudah ada yang dibuat oleh penyedia jasa perencanaan yang sama Biaya perencanaan untuk disain berulang : 1) Pengulangan pertama 100% 2) Pengulangan kedua 65% 3) Pengulangan ketiga.V. Biaya perencanaan yang dihemat dapat langsung ditambahkan kedalam biaya konstruksi fisik 3. Tahun pertama penyusunan seluruh dokumen perencanaan b. PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN TERTENTU 1.

V. Kerusakan berat 3. PEMELIHARAAN/PERAWATAN BGN 1. Kerusakan sedang c. UMUR BANGUNAN DAN PENYUSUTAN Umur bangunan permanen diperhitungkan 50 tahun penyusutan adalah sebesar 2% per tahun nilai sisa (salvage value) sebesar 20% penyusutan bangunan semi permanen sebesar 4% per tahun penyusutan bangunan Darurat sebesar 10% per tahun 2. Perawatan kerusakan berat maximum 65% 4. Perawatan kerusakan sedang maximum 45% c. PEMELIHARAAN BANGUNAN Pemeliharaan per-m2/tahun BGN sebesar 2% dari harga standar per-m2 tertinggi yang berlaku . PERAWATAN BANGUNAN a. Kerusakan ringan b. TATA CARA PENYELENGGARAAN D. Perawatan kerusakan ringan maximum 30% b. KERUSAKAN BANGUNAN a.

2. Menyusun perhitungan kebutuhan biaya pemeliharaan dan perawatan. Mengetahui besarnya pemasukan keuangan kepada negara dari hasil sewa. 4.VI. dan perawatan bangunan gedung dan rumah negara. 3. dan penghapusan gedung dan rumah negara. Mengetahui secara tepat dan rinci jumlah aset negara yang berupa gedung dan rumah negara. TUJUAN PENDAFTARAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA 1. Menyusun program kebutuhan pembangunan. 6. Mengetahui status kepemilikan dan penggunaan gedung dan rumah negara. 5. pemeliharaan. . penjualan. Terwujudnya tertib pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara. PENDAFTARAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA A.

2. PENDAFTARAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA B. kepala kantor/satuan kerja kepada Departemen Pekerjaan Umum cq. SASARAN DAN METODE PENDAFTARAN BGN 1. . Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya. BUMN dan/atau APBD. METODE PENDAFTARAN Pendaftaran bangunan gedung negara diselenggarakan dengan cara pendaftaran oleh Kementerian / Lembaga cq. SASARAN PENDAFTARAN Sasaran pendaftaran bangunan gedung negara adalah semua bangunan gedung yang dikelola oleh setiap Kementerian/Lembaga yang diadakan dengan sumber pembiayaan yang berasal dari APBN.VI. BUMD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah (bantuan luar negeri tukar menukar atau hibah) yang menjadi aset negara.

Lampiran *): 1) 2) 3) 4) 5) 6) Foto kopi Dokumen Pembiayaan/DIPA (otorisasi pembiayaan). As built drawings (gambar sesuai yang dilaksa nakan). samping. Surat permohonan pendaftaran bangunan gedung dan rumah negara. Foto kopi sertifikat atau bukti kepemilikan/ hak atas tanah. e. b. belakang. Foto kopi Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Gambar legger dan situasi. . f. Daftar inventaris bangunan gedung dan rumah negara. PENDAFTARAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA C. PELAKSANAAN PENDAFTARAN BGN Kelengkapan Pendaftaran Bangunan Gedung Negara: a. Photo bangunan (tampak depan.VI. d. c. Berita Acara Serah Terima I da n II. dan persfektif). Kartu legger bangunan gedung dan rumah negara. Kontrak atau Perjanjian Pemborongan.

VI. selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam perencanaan anggaran pemeliharaan dan perawatan . PENDAFTARAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA D. PRODUK PENDAFTARAN BGN Produk pendaftaran bangunan gedung dan rumah negara bagi pemilik bangunan berupa Surat Keterangan Bukti Pendaftaran Bangunan Gedung Negara (SKBPBGN) dengan penetapan Huruf Daftar Nomor (HDNo).

Jakarta 12110 Telp (021) 724 4040 . 20 .Kebayoran Baru .Fac (021) 7251058 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM .TERIMA KASIH DIREKTORAT PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN DIREKTORATAT JENDERAL CIPTA KARYA Jalan Pattimura No.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->