Anda di halaman 1dari 11

1.

Bagaimana virus menginsersi ke hepatosit (Oya)

2. Jalur signal pertumbuhan sel kanker dan sel normal Growth inhibitor: sel normal ditangkap reseptor, dihasilkan keadaan tubuh yang konstan. Pada sel kanker, tidak ada respon untuk signal shg keadaan tubuh tidak konstan Signal apoktosis dan supresor tumor: P53 memicu sel untuk mati secara terprogram. Pada sel normal, p53 berikatan dengan DNA dan menstimulasi gen lain untuk memproduksi protein yg bernama p21. Lalu p21 berinteraksi dgn protein yang memicu pembelahan sel (cdk2), sel tidak bisa membelah diri lebih lanjut. Pada sel kanker, p53 terkena mutasi, p53 tidak bisa berikatan dengan DNA secara efektif dan menyebabkan p21 tidak tersedia untuk bertindak sebagai stop

signal untuk pembelahan sel. Akhirnya, pembelahan sel menjadi tidak terkendali dan membuat tumor. The six hallmark of cancer ( 6 Karakter sel kanker) (Pecorino, 2005) adalah sebagai berikut ini : 1. Growth signal autonomy: Sel normal memerlukan sinyal eksternal untuk pertumbuhan dan pembelahannya Sel kanker mampu memproduksi growth factors dan growth factor receptors sendiri. Dalam proliferasinya sel kanker tidak tergantung pada sinyal pertumbuhan normal. Mutasi yang dimilikinya memungkinkan sel kanker untuk memperpendek Growth Factor pathways . 2. Evasion Growth inhibitory signals : Sel normal merespon sinyal penghambatan pertumbuhan untuk mencapai homeostasis. Jadi ada waktu tertentu bagi sel normal untuk proliferasi dan istirahat. Sel kanker tidak mengenal dan tidak merespon sinyal penghambatan pertumbuhan. Keadaan ini banyak disebabkan adanya mutasi pada beberapa gen (protoonkogen) pada sel kanker. 3. Evasion of Apoptosis Signals : Sel normal akan dikurangi jumlahnya dengan mekanisme apoptosis, bila ada kerusakan DNA yang tidak bisa lagi direparasi.

Sel kanker tidak peka terhadap sinyal apoptosis (padahal sel kanker membawa acumulative DNA error yang sifatnya irreversible) Kegagalan sel kanker dalam merespon sinyal apoptosis lebih disebabkan karena mutasinya gen-gen regulator apoptosis dan gen-gen sinyal apoptosis. 4. Unlimited replicative potential : Sel normal mengenal dan mampu menghentikan pembelahan selnya bila sudah mencapai jumlah tertentu dan mencapai pendewasaan. Pengitungan jumlah sel ini ditentukan oleh pemendekan telomere pada kromosom yang akan berlangsung setiap ada replikasi DNA. Sel kanker memiliki mekanisme tertentu untuk tetap menjaga telomere tetap panjang, hingga memungkinkan untuk tetap membelah diri. Kecacatan dalam regulasi pemendekan telomere inilah yang memungkinkan sel kanker memiliki unlimited replicative potential.

Gambar 1 : Perbandingan relatif panjang telomer pada sel normal, sel kanker, germ cell, dan stem cell (Kumar, Abbas & Foustro, 2005)

Gambar 2. Respon seluler terhadap pemendekan telomer. Gambar menunjukan respon sel normal yang memiliki kemampuan intact dengan cell-cycle checkpoints dan sel kehilangan kemampuan intact dengan cell-cycle checkpoints (Vong & Collins , Lancet 362 :983, 2003 cit Kumar, Abbas & Foustro, 2005) 5. Angiogenesis (formation of blood vessels) : Sel normal memiliki ketergantungan terhadap pembuluh darah untuk mendapatkan suplay oksigen dan nutrient yang diperlukan untuk hidup. Namun, arsitektur pembuluh darah sel normal lebih seherhana atau konstan sampai dengan sel itu dewasa. Sel kanker mampu menginduksi angiogenesis, yaitu pertumbuhan pembuluh darah baru di sekitar jaringan kanker. Pembentukan pembuluh darah baru ini diperlukan untuk survival sel kanker dan ekspansi ke bagian lain dari tubuh (metastase).

Kecacatan pada pengaturan keseimbangan induser angiogenik dan inhibitornya dapat mengaktifkan angiogenic switch. 6. Invasion and metastasis : Normal sel memiki kepatuhan untuk tidak berpindah ke lokasi lain di dalam tubuh. Perpindahan sel kanker dari lokasi primernya ke lokasi sekunder atau tertiernya merupakan faktor utama adanya kematian yang disebabkan karena kanker Mutasi memungkinkan peningkatan aktivitas ensim-ensim yang terlibat invasi sel kanker (MMPs) Mutasi juga memungkinkan berkurangnya atau hilangnya adesi antar sel oleh molekul-molekul adisi sel, meningkatnya attachment, degragasi dan migrasi ( gambar 1 dan 2 berikut ini )

Gambar 3 . Hilangnya intercellular junctions (adesi antar sel / antar molekul adesi) dan meningkatnya daya attachment sel kanker ke membrana basalis memacu invasi dan metastase (Kumar, Abbas & Foustro, 2005)

Gambar 4 . meningkatnya kemampuan degradasi matriks ekstra seluler memacu migrasi , invasi dan metastase (Kumar, Abbas & Foustro, 2005)

Gambar 5. Proses metastase sel kanker , dimulai dari transformasi clonal, metastasic sub clone, intravasasi sampai dengan pertumbuhan jaringantumor di daerah yang baru. (Kumar, Abbas & Foustro, 2005) Pada percobaan in vitro , perbedaan karakter antara sel normal dan kanker adalah sebagai berikut :

Sel normal akan tumbuh sebagai selapis sel (monolayer) jika dibiakan dalam petridish, semua ini karena adanya kepekaan terhadap contact inhibition dengan sel-sel tetangganya (bila sel normal sudah menyentuh sel tetangganya maka pertumbuhannya akan berhenti). Transformed cells (sel kanker) memiliki fenotipe sebagai berikut : o Tumbuh terus tanpa mengenal contact inhibitory signals, tumbuh menumpuk ke atas bukan sebgai monolayer. o Dapat tumbuh dalam kondisi minim serum (serum / FBS (fetal bovine seru) berisi banyak Growth factor, sel kanker mampu memenuhi kebutuhan Growth factors sendiri. o Morfologi sel kanker lebih membulat dengan inti yang relatif lebih besar (karena aktif membelah)

3. Enzim2 yg meningkat dlm darah bagian dari tes fungsi hati: ALT (alanin aminotransferase), juga dikenal sebagai SGPT (serum glutamik piruvik transaminase) AST (aspartat aminotransferase), juga dikenal sebagai SGOT (serum glutamik oksaloasetik transaminase) Fosfatase alkali GGT (gamma-glutamil transpeptidase,

atau gamma GT) Bilirubin Albumin

Lembaran Informasi (LI) 120 menunjukkan nilai normal atau nilai rujukan untuk semua tes tersebut. Harus ditekankan bahwa nilai ini berbeda tergantung pada alat yang dipakai di laboratorium yang melakukan tes serta cara penggunaannya. Laporan laboratorium yang kita terima setelah melakukan tes menunjukkan nilai normal yang berlaku. Sebagai contoh, batas atas nilai normal (BANN) untuk AST dapat berkisar dari 35 hingga 50, dan berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Jadi bila kita ingin dapat komentar mengenai hasil tes, sebaiknya kita menyebut baik hasil tes maupun nilai normal. Selain itu, hasil tes juga dapat berubah tergantung pada jam berapa darah diambil. Sebaiknya contoh darah kita diambil pada jam yang sama setiap kali kita dites fungsi hati, dan juga selalu pada laboratorium yang sama. Enzim Hati ALT adalah lebih spesifik untuk kerusakan hati. ALT adalah enzim yang dibuat dalam sel hati (hepatosit), jadi lebih spesifik untuk penyakit hati dibandingkan dengan enzim lain. Biasanya peningkata ALT terjadi bila ada kerusakan pada selaput sel hati. Setiap jenis peradangan hati dapat menyebabkan peningkatan pada ALT. Peradangan pada hati dapat disebabkan oleh hepatitis virus, beberapa obat, penggunaan alkohol, dan penyakit pada saluran cairan empedu. AST adalah enzim mitokondria yang juga ditemukan dalam jantung, ginjal dan otak. Jadi tes ini kurang spesifik untuk penyakit hati. Dalam beberapa kasus peradangan hati, peningkatan ALT dan AST akan serupa.

Fosfatase alkali meningkat pada berbagai jenis penyakit hati, tetapi peningkatan ini juga dapat terjadi berhubungan dengan penyakit tidak terkait dengan hati. Fosfatase alkali sebetulnya adalah suatu kumpulan enzim yang serupa, yang dibuat dalam saluran cairan empedu dan selaput dalam hati, tetapi juga ditemukan dalam banyak jaringan lain. Peningkatan fosfatase alkali dapat terjadi bila saluran cairan empedu dihambat karena alasan apa pun. Di antara yang lain,peningkatan pada fosfatase alkali dapat terjadi terkait dengan sirosis dan kanker hati. GGT sering meningkat pada orang yang memakai alkohol atau zat lain yang beracun pada hati secara berlebihan. Enzim ini dibuat dalam banyak jaringan selain hati. Serupa dengan fosfatase alkali, GGT dapat meningkat dalam darah pasien dengan penyakit saluran cairan empedu. Namun tes GGT sangat peka, dan tingkat GGT dapat tinggi berhubungan dengan hampir semua penyakit hati, bahkan juga pada orang yang sehat. GGT juga dibuat sebagai reaksi pada beberapa obat dan zat,termasuk alkohol, jadi peningkatan GGT kadang kala (tetapi tidak selalu) dapat menunjukkan penggunaan alkohol. Penggunaan pemanis sintetis sebagai pengganti gula, seumpamanya dalam diet soda,dapat meningkatkan GGT.

4. Protein yg disintesis di hati Albumin - 25 % of all protein production in the liver a1-globulins

a. High (HDL) and very high-density (VHDL) lipoproteins - including cholesterol b. Glycoproteins c. Haptoglobulins d. Mucoproteins

a2 - globulins

e. Ceruloplasmin f. Glycoprotein g. Macroglobulin h. Plasminogen i. Prothrombin

b-globulins

j. Low (LDL) and very low-density (VLD) lipoproteins k. Transferrin

Blood clotting factors*

l. Factors I, II, V, VII, VIII, IX, and X

*Vitamin K is needed for some factors to be synthesized

5. Protein abnormal yang merupakan petanda karsinoma hati


Just MahaSiswa

10

AFP. Merupakan protein yang diproduksi pada organ hati dan kantung kuning telur pada janin. Kadar AFP menurun pada manusia setelah kelahiran dan tidak punya fungsi pada tubuh orang dewasa. Kadarnya kurang dari 40mikrogram/lt (pria&wanita). Namun kadar AFP tersebut dapat bervariasi sedikit tergantung dimana pasien melakukan pemeriksaan laboratorium.

Just MahaSiswa

11