Anda di halaman 1dari 6

Theobroma cacao (L.

Regnum Divisi Anak Divisi Kelas Anak Kelas Bangsa Suku Marga Jenis

: Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledoneae : Dialypetalae : Malvales : Sterculiaceae : Theobroma : Theobroma cacao L.

Coklat (Theobroma cacao) merupakan salah satu tanaman hutan hujan tropis yang bentuk pohon, berasal dari Amerika Selatan. Daun kakao berbentuk bulat telur terbalik, memanjang, meruncing, memiliki panjang 10-40 cm dan lebar 5-20 cm. Bunganya terletak pada batang dan cabang-cabang yang lebih tua, berukuran kecil, hanya berdiameter 1-2 cm dengan kelopak warna pink. Polinasinya dibantu oleh serangga kecil Forcipomyia midges dari ordo dipteral. Buahnya lonjong seperti telur, panjangnya 15-30 cm, lebar 8-10 cm, dan berwarna kuning hingga jingga saat matang. Didalamnya ada 20-60 biji coklat, yang biasa disebut biji, tertutup pulp putih. Biji inilah yang mmenjadi bahan utama coklat, sedangkankan pulpnya oleh sebagian negara digunakan untuk jus. Setiap biji mengandung lemak coklat dengan kadar 40-50%. Senyawa kimia yang paling aktif adalah teobromin, suatu senyawa yang mirip kafein.

Tanaman kakao berbuah sepanjang tahun, namun masa berbuah yang paling utama adalah pada bulan September-Januari dan masa berbuah yang paling sedikit pada bulan Mei Juli. Tanaman kakao mulai berbuah kira-kira umur 4-5 tahun dan berbuah berturut-turut sampai umur 25 tahun. Tanaman kakao merupakan satu-satunya spesies dari genus Theobroma yang memiliki nilai komersial. BIjinya diolah menjadi produk makanan seperti coklat, bubuk kakao dan lemaknya diambil untuk dibuat mentega. Kulit buahnya dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak dan sebagai sumber pectin yang di bidang farmasi digunakan dalam pembuatan kapsul. Di bidang pangan, bisa digunakan sebagai pembentuk gel dalam pembuatan selai, jeli, dan kembang gula. Pulp dapat untuk jus kakao, bahan produksi gula, bahan pembuatan nata, bahan pembekuan biologi atau kimiawi pada lateks. Simplisia dari tanaman Theobroma cacao adalah teobroma semen. Buah kakao mempunyai bagian-bagian yaitu : kulit, plasenta, pulp, dan biji. Dalam satu buah kakao yang masak terdapat 3040 biji yang diselubungi pulp. Biji kakao terdiri atas 12.5% kulit biji; 0.8% lembaga dan 86.7% keping biji. Kandungan : Teobromin, pd buah 0,9-3%, pd kulit ari 0,19-2,98% Kofein, pd biji 0,05-0,36% selain itu minyak/mentega coklat Biji segar mengandung polifenol yang larut air (epikatekol, leukoantosianin & antosianin) 5-10% yang terdekomposisi selama pemrosesan kompleks berwarna (cocoa red) Tanin terkondensasi & senyawa atsiri (84 jenis)

struktur teobromin

Alkaloid yang terkandung dalam Theobroma cacao adalah alkaloid golongan purin, yaitu teobromin (paling banyak), kafein dan sedikit teofilin. Kandungan teobromin dalam biji kakao dipengaruhi oleh jenis, kematangan buah, dan proses fermentasi. Biji kakao jenis Forastero mengandung teobromin dengan kadar yang lebih tinggi daripada jenis Criollo. Pada biji sendiri

teobromin lebih banyak terdapat dalam keping biji dibandingkan dalam kulitnya. Teobromin mulai disintesis secara aktif selama tahap akhir pertumbuhan buah dan tahap awal pemasakannya. Bila biji mengalami fermentasi, maka pada hari pertama fermentasi terjadi kenaikan kandungan dalam keping biji dan penurunan dalam kulit biji. Pada hari selanjutnya ada penurunan kandungan teobromin dalam keping biji diikuti peningkatannya dalam kulit biji. Pada fermentasi hari keenam, kandungan teobromin dalam keping biji dan kulit biji relative sama. Teobromin, juga dikenal sebagai xanteose, adalah suatu alkaloid dengan rasa pahit yang ditemukan pada tanaman coklat dengan rumus molekul C7H8N4O2. Selain ditemukan dalam coklat, juga ditemukan dalam daun teh dan kola. Tergolong ke dalam kelas metilxantin bersama dengan teofilin dan kafein. Teobromin sedikit larut dalam air (330mg/L), berbentuk kristal, pahit, dan berwarna putih hingga tak berwarna. Teobromin pertama kali ditemukan pada tahun 1841 dalam biji kakao oleh seorang ahli kimia Rusia Alexander Woskresensky, namun pertama kali disintesa dari xantin oleh Hermann Emil Fischer. Teobromin dalam jumlah yang cukup besar juga terdapat pada : Theobroma bicolor, Ilex
paraguanensis, Camellia sinensis, Cola acuminate, Theobroma angustifolium, Guarana, dan Coffea arabica.

Teobromin ada di dalam tubuh meski tak ada asupan makanan yang mengandung teobromin karena teobromin dapat berasal dari metabolisme kafein pada manusia, yang dilakukan di hati menjadi 10% teobromin, 4% teofilin dan 80% paraxantin. Didalam hati, teobromin dimetabolisme menjadi xantin dan kemudian diubah menjadi asam metiluric. Penggunaan teobromin dalam pengobatan modern: Vasodilator Diuretic Stimulan jantung Seperti derivate xantin yang mengalami metilasi, teobromin merupakan : 1. Inhibitor non-selektif kompetitif fosfodiesterase, yang dapat meningkatkan cAMP intrasel, aktivasi PKA, menghambat TNF-alfa dan sintesa leukotrien, serta mengurangi inflamasi. 2. Antagonis non-selektif reseptor adenosine.

Sebagai

inhibitor

fosfodiesterase,

teobromin

berperan

dalam

mencegah

enzim

fosfodiesterase dari perubahan cAMP aktif menjadi bentuk tak aktif. cAMP bekerja sebagai second messenger pada banyak hormone dan neurotransmitter yang dikontrol oleh system metabolic seperti pemecahan glikogen. Jika inaktivasi cAMP dihambat, efek neurotransmitter atau hormone yang merangsang produksi cAMP menjadi lebih lama, yang berujung pada efek stimulant. Meskipun satu golongan, dengan kafein, efek teobromin tidaklah sekuat kafein pada system saraf pusat, tetapi efeknya pada jantung lebih kuat. Teobromin juga diidentifikasi sebagai senyawa yang berperan dalam reputasi coklat sebagai aprodisiak atau penenang. Karena teobromin bertindak sebagai stimulant miokardial juga vasodilator, akan terjadi peningkatan denyut jantung, namun tetap mendilatas pembuluh darah, menyebabkan penurunan tekanan darah. Teobromin beracun bagi hewan yang metabolism teobrominnya lamban, seperti anjing. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya keracunan teobromin dari 50 gr coklat pada anjing kecil dan 400 gr untuk anjing dengan badan yang normal. Hal tersebut juga terjadi pada kucing, meski kucing kurang menyukai makanan manis karena tidak memiliki reseptor rasa manis. Komplikasi akibat keracunan teobromin antara lain masalah pada pencernaa, dehidrasi, gelisah, dan laju jantung yang lambat. Tahap lanjutan keracunan teobromin dapat menyebabkan kejang dan kematian. ISOLASI TEOBROMIN DARI SERBUK KAKAO 1. Alat dan Bahan a. Alat Heating mantle Round flask 250 mL Gelas ukur Round flask 100 mL Cooler Batang pengaduk Alat filtrasi dengan corong Buchner Beaker glass 100 mL

b. Bahan Bubuk coklat 10 g Magnesium Oksida (MgO) 3 g Metanol 10 mL Metilena klorida 350 mL Dietil eter 65 mL Iodin (I2) 1 g Kalium Iodida (KI) 2 g Etanol 100 mL

2. Prosedur a. Siapkan campuran bubuk coklat (10 g), MgO (3 g) dalam air (20 mL) dan metanol (10 mL) dalam round flask (labu dengan bagian bawah berbentuk bulat) 250 mL. b. Aduk campuran dengan batang pengaduk dan panaskan dalam heating mantle hingga kering. Biasanya memakan waktu 1 jam. c. Setelah kering tambahkan 170 mL metilena klorida dan panaskan di bawah reflux selama 30 menit. d. Saring menggunakan corong pemisah Buchner. e. Keringkan larutan hasil pemisahan. f. Gerus hasil pengeringan dan masukkan dalam round flask, tambahkan 170 mL metilena klorida dan panaskan selama 30 menit. g. Saring lagi menggunakan corong pemisah Buchner. h. Keringkan kembali dengan MgSO4 i. j. Saring melalui corong yang diberi plug kapas untuk menyaring MgSO4 Pindahkan fraksi hasil ke dalam round flask lain yang bersih dan kering (round flask 100 mL) dan pekatkan hingga 10 mL k. Pindahkan ke dalam beaker dan cuci secara hati-hati dengan kloroform, dan masukkan juga ke dalam beaker. l. Tambahkan 45 mL eter dan biarkan terjadi proses kristalisasi untuk memperoleh kristal mikro. Kemudian cuci pada corong Buchner 5 kali dengan 10 mL eter. m. Hasilnya diperoleh 0.15 g teobromin. n. KLT 1) Menggunakan fase diam SiO2 dan fase gerak kloroform : methanol (9:1) 2) Noda teobromin visible pada sinar UV, tandai dengan pensil. 3) Rendam plat KLT dalam reagen yang terdiri dari I2 (1 g) KI (2 g) dalam EtOH (100

mL).
4) Setelah pengeringan, gunakan tang rendam plat dalam campuran HCl 25% dan

EtOH (1:1).
5) Noda teobromin akan berubah menjadi kebiruan.

ANALISA KUALITATIF DAN KUANTITATIF TEOBROMIN

Anda mungkin juga menyukai