Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PAPER CHAIR SITE TEACHING

Novi Sagita Rizky 112080029

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG 2012

Cara Pemeriksaan Pesien

Perawatan yang tepat dimulai dengan diagnosis yang tepat. Diagnosis yang tepat memerlukan ilmu pengetahuan penyakit serta gejala-gejalanya, ketrampilan untuk melakukan cara menguji yang tepat dan seni menyatakan impresi, fakta dan pengalaman ke dalam pengertian. Pemeriksaan rutin harus dilakukan oleh klinisi untuk menghindari informasi yang tidak relevan dan mencegah kesalahan akibat kelalaian dalam pemeriksaan klinis. Rangkaian pemeriksaan harus dicatat dalam kartu pasien dan harus dijadikan sebagai petunjuk untuk melakukan kebiasaan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan pasien secara garis besar meliputi: 1. Pemeriksaan Subjektif a. Keluhan Utama Adalah symptom subjektif atau masalah yang diutarakan pasien dengan kata katanya sendiri yang berhubungan dengan kondisi yg membuat pasien pergi ke dokter. Harus dicatat dalam istilah yg digunakan pasien. Catatlah apabila apabila pasien tidak memiliki keluhan utama atau tidak menyadari adanya penyakit tetapi pergi ke dokter.

b. Sacred seven Lokasi keluhan Onset dan kronologi Kuantitas keluhan Kualitas keluhan Faktor yang memperberat Faktor yang memperingan Analisis sistem yang menyertai keluhan utama (keluhan penyerta)

c. Fundamental four Riwayat Penyakit Sekarang

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Sosial Ekonomi

2. Pemeriksaan Obyektif a. Pemeriksaan Ekstraoral Pemeriksaan pada kelapa, wajah, kulit, mata, hidung, bibir, muskuloskeletal, kelenjar ludah, limfe dan TMJ

b. Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan obyektif dilakukan dengan pengujian dan observasi secara baik yaitu sebagai berikut : Pemeriksaan visual dan taktil (inspeksi) Pemeriksaan ini merupakan uji klinis paling sederhana yang didasarkan pada penglihatan dan perabaan. Pemeriksaan visual dan traktil pada jaringan keras dan lunak yang mengandalkan pada pemeriksaan three Cs : color, contour, consistency. Pemeriksaan menggunakan mata, jari - jari tangan, eksplorer dan prob (probe) periodontal. Sondasi Berfungsi untuk pemeriksaan pada lubang gigi untuk memeriksa: Kedalaman karies kedalaman email = karies superfisial, kedalaman dentin = karies media, apabila terasa linu sudah mencapai karies profunda Perkusi Tes ini digunakan untuk mengevaluasi status periodonsium sekitar gigi dan apikal gigi. Gigi diberi pukulan cepat dan tidak keras, mula-mula dengan jari dengan intensitas rendah, kemudian intensitasnya ditingkatkan dengan menggunakan ujung tangkai instrumen. Tes ini pertama dilakukan pada gigi sebelahnya yang dikeluhkan lalu pada Vitalitas gigi menilai gigi dari respon terhadap rangsangan.

gigi yang dikeluhkan. Suatu respon sensitif yang berbeda dari gigi yang di sebelahnya, menunjukkan adanya periodontitis. Palapasi Tes ini dilakukan dengan ujung jari menggunakan tekanan ringan untuk memeriksa konsistensi jaringan dan respon rasa sakit Tes mobilitas Tes ini digunakan untuk mengevaluasi integritas attachment apparatus di sekeliling gigi. Tes terdiri dari menggerakkan gigi ke arah lateral dalam soketnya dengan menggunakan jari, atau lebih diutamakan menggunakan tangkai dua instrumen. Tujuannya untuk menentukan apakah gigi terikat kuat atau longgar pada alveolusnya. Uji pulpa dengan metode uji listrik, uji termal (panas dan dingin), uji anastetik dan uji kavitas Tes termal digunakan untuk tes sensitivitas, tetapi tidak sama dan digunakan untuk alasan diagnostik yang berbeda. Respon dingin menujukkan pulpa masih vital tanpa memperhatikan apakah pulpa itu normal atau abnormal. Respon abnormal terhadap panas biasanya menunjukkan adanya gangguan pulpa atau periapikal yang memerlukan perawatan endodontik Radiografik Radiografik adalah salah satu alat klinis yang paling penting untuk membuat diagnosis. Radiografik memungkinkan pemeriksaan visual struktur mulut yang tidak mungkin dapat dilihat dengan mata telanjang.

Cara Interpretasi Rontgen

Radiologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan substansi radioaktif, pancaran sinar serta diagnosis dan perawatan dengan menggunakan sinar rontgen atau ultrasound. Foto radiografi merupakan gambaran dari struktur 3 dimensi yang digambarkan dalam bentuk 2 dimensi. Interpretasi Radiogram a. Gambaran umum radiograf Perhatikan perkembangan usia Perhatikan posisi garis dan kepadatan dari bayangan anatomi yang normal termasuk perkembangan gigi b. Periksa setiap gigi pada radiograf 1. Mahkota Adanya karies Adanya restorasi

2. Akar Panjang akar Morfologi Ukuran dan bentuk akar

3. Jaringan apikal Integritas, kontinuitas, dan ketebalan dari : Gambaran garis radiolusen dari rongga ligamen periodontal Gambaran garis radiopak dari lamina dura

4. Jaringan periodontal Lebar ligamen periodontal Adanya resopsi vertikal atau horizontal

Adanya deposit kalkulus

Interpretasi radiogram periapikal haruslah mengikuti pripsip berikut : 1. Yang utama dalam mendiagnosis kelainan dari suatu gigi adalah harus diperhatikan apakah gigi tersebut vital atau nonvital. Sebagai contoh, apabila gambaran dari periapikal gigi yang nonvital menunjukkan adanya radiolusen haruslah diperhatikan dengan cermat karena menggambarkan suatu keadaan yang harus dirawat. 2. Kadang-kadang pengetesan dengan tester pulpa gigi tersebut nonvital akan tetapi pada pemeriksaan klinis tidak terlihat adanya karies, ternyata jaringan pulpanya nekrotik ini kemungkinan disebabkan oleh trauma. 3. Lokasi, durasi, ukuran dari lesi, apakah terjadi pada penderita yang lanjut usia atau yang masih muda dan jenis kelamin dari penderita perlu dalam mendiagnosis periapikal gigi tersebut. Sebagai contoh, mieloma yang multipel lebih sering terjadi pada penderita yang berumur lanjut dan kista traumatik lebih sering terjadi pada penderita yang masih muda. 4. Apakah ada simtom neurologis, sebagai contoh apakah ada parastesi sakit dan paralesis yang kemungkinan merupakan tanda suatu keganasan ataukah karena suatu trauma pada bagian tersebut. Kerusakan kortikal tulang apakah kerusakannya berlangsung cepat atau lambat karena dapat diduga lesi tersebut tanda keganasan atau inflamasi biasa. 5. Pada lesi periapikal yang radiolusen, aspirasi dari isi bagian tersebut perlu pada diagnosis, karena dengan membedakan isi lesi tersebut maka dapat dibedakan apakah kelainan tersebut kista atau bukan. 6. Apakah adanya lesi tersebut menyebabkan gelaja sistemik ataukah tidak, karena penting untuk menentukan diagnosis banding dengan penyakit lain. Sebagai contoh adalah gambaran radiopak yang multipel pada rahang yang disebut enostosis multipel yang harus dibedakan dengan kondensing osteitis.

Daftar pustaka : Grossman, dkk, 1995, Ilmu Endodontik dalam Praktek, Jakarta : EGC Whaites, eric, 2002, Essential of Dental Radiography and Radiology Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut, 2005, BEM FK UNDIP