Anda di halaman 1dari 13

KELOMPOK 5 PITRI MEISETYANI UTOMO TRI HERI CAHYANTORO YUNI KURNIA SARI

PENDAHULUAN

Senyawa ini memiliki nama kimia -methylphenethylamine merupakan suatu senyawa yang telah digunakan secara terapetik untuk mengatasi obesitas, attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan narkolepsi. Amfetamin dan derivatnya yaitu MA (metamfetamin) dan MDMA (methylene-dioxy-meth-amfetamine), termasuk kedalam golongan psikotropika golongan 2 dan 1 yang memiliki efek stimulansia kuat. Nama-nama pasaran ( street name ) Speed, Bennies, Dexies, Uppers, Meth, Doe, Crystal, Ice. Kemasan fisik Kapsul, tablet, cairan. Contoh-contoh stimulan jenis amfetamin ialah amfetamin (Benzedrine), dextroamfetamin (Dexedrine), methamfetamin (Methedrine, Desoxyn) dan phenmetrazine (Preludin). Lain-lain jenis bahan yang menyerupai amfetamin dari segi kesannya termasuk diethypropion, pehetermine dan ephedrine.

SEJARAH

Amfetamin pertama kali disintesis pada akhir tahun 1920-an dan diperkenalkan pada praktik kedokteran pada tahun 1936. Dextroamfetamin adalah kelompok anggota utama walaupun banyak amfetamin lainnya dan amfetamin pengganti seperti metamfetamin, penmetrazin, dam metil penidat yang diperkenalkan berikutnya. Penggunaan amfetamin dalam klinik diperkenalkan pertama kali pada awal tahun 1930-an. Pada akhir dekade ini perhatian dikhususkan pada ketergantungan amfetamin, dan pada tahun 1938 untuk pertama kalinya dilaporkan psikosis yang ditimbulkan karena penggunaan amfetamin. Meskipun demikian pada tahun 1932 dan 1946 hampir tiga dari dua belas klinikal yang menggunakan amfetamin mengusulkan dan mencobanya dalam profesi medis, dan beberapa amfetamin dapat digunakan secara nasal inhalan sampai pada akhir tahun 1971.

SEJARAH

Penyalahgunaan amfetamin dimulai pada tahun 1940-an dimana zat kimia yang terdapat dalam jumlah besar sebagai inhaler digunakan untuk dekongestan hidung. Salah satu pola dari penyalahgunaan amfetamin disebut lari, yaitu pengulangan pemberian injeksi intravena yang dilakukan sendiri untuk mendapatkan serangan (suatu reaksi seperti orgasme) diikuti dengan rasa kesiapsiagaan mental dan euforia yang kuat. Pola dari penyalahgunaan amfetamin telah berkembang dimana metamfetamin berbentuk kristal (ice) diisap, dirokok sehingga menghantarkan bolus ke otak, menyerupai dengan pemberian secara intravena. Karena masa kerja metamfetamin jauh lebih lama, intoksikasi dapat bertahan selama beberapa jam setelah merokok satu kali. Segara setelah perang dunia II, di Jepang ditemukan suatu epidemi dari penyalahgunaan dan ketergantungan metamfetamin intravena, tapi sampai akhir 1960an di Amerika Serikat terdapat suatu ketidakyakinan bahwa amfetamin atau sejenisnya dapat menyebabkan ketergantungan. Bagaimanapun, karena perkembangan atas perhatian terhadap penyalahgunaan dan pemakaian yang berlebihan dari amfetamin dan sejenisnya, maka regulasinya di bawah kontrol dari Food and Drug Adminstration (FDA) pada pertengahan 1960-an. Disamping kontrol dalam jumlah obat, kontrol terhadap penyelundupan atau produksi yang illegal pada laboratorium secara diam-diam terus ditingkatkan. Terdapat obat yang cukup untuk menyebabkan suatu epidemi penyalahgunaan amfetamin dan metamfetamin pada akhir 1960-an. Epidemi ini membuat jelas potensial toksisitas dari amfetamin, terutama yang digunakan secara intravena, termasuk istilah speed freaks dan speed kills . setelah dekade berikutnya kontrol dalam produksi amfetamin yang dilegalkan semakin diperketat. Meskipun demikian penyalahgunaan amfetamin dan obat yang mirip amfetamin di Amerika Serikat tetap ada, kebanyakan disuplai oleh laboratorium gelap.

MEKANISME KERJA

Amfetamin merupakan obat perangsang susunan syaraf pusat (CNS stimulant ). Dalam bidang kedokteran digunakan untuk mengobati narkolepsi, kegemukan dan gangguan hiperaktif dengan kesulitan konsentrasi. Amfetamin meningkatkan pelepasan katekolamin yang mengakibatkan jumlah neurotransmiter golongan monoamine (dopamin, norepinefrin, dan serotonin) dari saraf pra-sinapsis meningkat. Sehingga neurotransmiter tetap berada dalam sinaps dengan konsentrasi lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari biasanya. Semua sistem saraf akan berpengaruh terhadap perangsangan yang diberikan. Menggunakan amfetamin dapat menyebabkan otak untuk menghasilkan tingkat dopamin yang lebih tinggi. Jumlah dopamin yang berlebih di dalam otak akan menghasilkan perasaan euforia dan kesenangan yang biasa dikenal sebagai high.

MEKANISME KERJA

Amfetamin akan memberikan efek langsung yang bekerja dalam waktu 15 sampai 30 menit. Apabila dihisap (snort) maka akan menimbulkan yang lebih cepat (5 hingga 10 menit). Apabila disuntikkan akan memberikan efek yang seketika dan langsung. Efek klinis amfetamin akan muncul dalam waktu 2-4 jam setelah penggunaan. Senyawa ini memiliki waktu paruh 4-24 jam dan dieksresikan melalui urin sebanyak 30% dalam bentuk metabolit. Metabolit amfetamin terdiri dari p-hidroksiamfetamin, phidroksinorepedrin, dan penilaseton. Setelah konsumsi metamfetamin, di dalam urine akan ditemukan amfetamin dan metamfetamin 30% dari dosis amfetamin/metamfetamin yang dikonsumsi dikeluarkan dalam bentuk utuh (unchanged) melaui urine, berdasarkan pH urine : pH asam ekskresi unchanged bisa sampai 70% pH basa/alkali hanya 1% Amfetamin/metamfetamin bisa terdeteksi dalam 2-7 jam setelah penggunaan dan akan tetap terdeteksi 2-4 hari setelah penggunaan terakhir.

DIAGNOSIS

Penggunaan amfetamin atau obat yang mirip amfetamin dapat dideteksi melalui skrining obat pada sample urine. Hal yang terpenting dalam pemeriksaan urine adalah mudahnya prosedur yang harus dilakukan. Keterbatasan dalam metode ini bahwa kebanyakan obat yang disalahgunakan hanya terdeteksi kadar maksimumnya dalam urine hanya beberapa hari dan untuk kokain mungkin hanya kurang dari 24 jam. Sebaliknya, banyak obat berada pada rambut untuk waktu yang lama. Walaupun metode analisis rambut memiliki kelebihan obat dapat terdeteksi selama rambut bertumbuh, tetapi jarang digunakan dalam klinik. Laporan dari pasien sendiri tentang penggunaan obat, terutama didukung dengan hasil tes laboratorium (tes urine) biasanya lebih tepat, tetapi riwayat pasien mungkin tidak sesuai, contohnya pada pasien dengan status psikotik. Oleh karena itu tes harus selalu diindikasikan, walaupun mugkin banyak masalah penolakan. Jika hasil positif telah ditegakkan pada seorang pasien dengan suatu kelainan psikiatrik, hal ini penting untuk tidak menggunakan obat ini lagi untuk mengurangi penyebab penyakitnya. Cara mendeteksi : dalam urine : dengan pemeriksaan rapid dengan stik amfetamine, misal : - stick buatan dos ni Rocha, - stik buatan Oncoprobe - stik utk amfetamin dari lainnya dalam darah : dengan KLT ( kromatografi Lapisan Tipis / KLT ).

GEJALA KLINIS

Efek amfetamin hampir mirip seperti adrenalin namun mempunyai efek kerja yang lebih lama. Obat ini bekerja dengan cara yang mirip dengan kokain dimana akan membuat penggunanya merasa energik. Amfetamin bekerja dengan cara seperti adrenalin, yaitu sebuah hormon yang diproduksi secara alami dalam tubuh manusia. Zat ini di kalangan pengguna napza dikenal sebagai upper yang mana dapat menurunkan nafsu makan dan akan menyebabkan pengguna tidak mempunyai rasa lelah.

PENYALAHGUNAAN

Tergantung dari dosis, cara pemakaian, dan pola penggunaan, ketergantunan amfetamin memiliki bermacam efek pada kemampuan kerja dan berakibat keracunan. Dengan dosis oral yang relatif kecil, perilaku mungkin masih dalam batas yang normal dan ketergantungan dimanifestasi hanya dengan kelemahan tubuh dan gejala depresi. Dengan dosis yang lebih tinggi, selain usaha untuk memperoleh obat, selalu ditemukan juga hiperaktivitas, kurang istirahat, buxism, banyak bicara, iritabilitas dan dan sifat yang mudah tersinggung, penurunan waktu tidur, dan penurunan selera makan yang selalu disertai dengan penurunan berat badan.

PENYALAHGUNAAN
Fisik Jantung berdebar-debar Medriasis Tekanan darah naik Keringat banyak dan kedinginan Mual, muntah Gerakan otot tidak terkendali Psikis Agitasi psikomotor Harga diri meningkat Banyak bicara Kewasdaan meningkat Halusinasi penglihatan dan rasa gembira/elasi, sering lepas kendali dan melakukan tindakan asusila, karena amphetamin menghilangkan hambatan impuls seksual, terlibat pesta seksual Tingkah laku maladaptif (perkelahian, ggn daya nilai realitas, ggn fungsi sosial, dan pekerjaan)

GEJALA PUTUZ OBAT


Hal ini disebabkan oleh stimulator-stimulator tersebut mengaktivasi reserve powers yang ada di dalam tubuh manusia dan ketika efek yang ditimbulkan oleh amfetamin melemah, tubuh memberikan signal bahwa tubuh membutuhkan senyawa-senyawa itu lagi. Berdasarkan ICD10 (The International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems), kelainan mental dan tingkah laku yang disebabkan oleh amfetamin diklasifikasikan ke dalam golongan F15. Amfetamin menyebabkan ketergantungan psikologis. Perubahan afek/mood (murung, sedih, tidak dapat merasakan senang dan keinginan bunuh diri) Lelah, letih, lesu, tidak berdaya, kehilangan semangat Gangguan tidur (insomnia) Mimpi berlebihan sehingga mengganggu tidur

PENYALAHGUNAAN
Efek jangka pendek dari amfetamin: Meningkatkan suhu tubuh Kerusakan sistem kardiovaskular Paranoia Meningkatkan denyut jantung Meningkatkan tekanan darah Menjadi hiperaktif Mengurangi rasa kantuk Menurunkan nafsu makan Euforia Mulut kering Dilatasi pupil Mual Sakit kepala Perubahan perilaku seksual Tremor

PENYALAHGUNAAN

Penyalahgunaan amfetamin dalam kurun waktu yang cukup lama atau dengan dosis yang tinggi dapat mengakibatkan timbul banyak masalah diantaranya: Psychosis (pikiran menjadi tidak nyata, jauh dari realitas) Kelainan psikologis dan tingkah laku Pusing-pusing Perubahan mood atau mental Kesulitan bernapas Kekurangan nutrisi Gangguan jiwa Efek pada sistem saraf pusat: dalam keadaan keracunan akut, pengguna amfetamin pada umumnya merasakan euforia, keresahan, agitasi, dan cemas berlebihan. Kira-kira 5 12% pengguna mengalami halusinasi, keinginan untuk bunuh diri, dan kebingungan. Sebanyak 3% pengguna amfetamin mengalami kejang-kejang.