Affandi

Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu. Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya. Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu justru Affandi balik bertanya, Aliran apa itu?. Bahkan hingga saat tuanya, Affandi membutakan diri dengan teori-teori. Bahkan ia dikenal sebagai pelukis yang tidak suka membaca. Baginya, huruf-huruf yang kecil dan renik dianggapnya momok besar. Bahkan, dalam keseharian, ia sering mengatakan bahwa dirinya adalah pelukis kerbau, julukan yang diakunya karena dia merasa sebagai pelukis bodoh. Mungkin karena kerbau adalah binatang yang dianggap dungu dan bodoh. Sikap sang maestro yang tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran. Bahkan terhadap bidang yang dipilihnya, dia tidak overacting. Misalnya jawaban Affandi setiap kali ditanya kenapa dia melukis. Dengan enteng, dia menjawab, Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan. Bagi Affandi, melukis adalah bekerja. Dia melukis seperti orang lapar. Sampai pada kesan elitis soal sebutan pelukis, dia hanya ingin disebut sebagai tukang gambar. Lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis, ucapnya. Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dimakamkan tidak jauh dari museum yang didirikannya itu.

Bandung (sekarang Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung ) dan lulus pada tahun 1958. ia juga mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung dan Institut Kesenian Jakarta. Selain sebagai pelukis. Memasuki 1970 cenderung impresionis lewat cat air dan ekpresionis lewat cat miyak dan sering memasukkan unsur simbolis dalam lukisannya. Ia mulai memasuki pendidikan seni di Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar Fakultas Teknik Universitas Indonesia. selain juga lukisan figur-figur puitis yang terinspirasi ajaran Zen . Solo. Kemudian ia melanjutkan kuliah di Ohio State University hingga mendapat gelar master of art. Karakteristik karya Karya Srihadi Soedarsono memiliki proses yang panjang dan berkelanjutan.Srihadi S Pendidikan seni dan karier Pernah diangkat menjadi anggota Tentara Pelajar pada rentang tahun 1945 hingga 1946. Selanjutnya pada tahun 1946 hingga 1948 ia dipercaya menciptakan poster-poster untuk Balai Penerangan TNI. Terakhir karyanya muncul dalam bentuk simplifikasi dengan garis horison yang kuat. Pada tahun 1960 mulai menuju eksperimentasi pada bentuk abstrak lewat tempelan potongan kertas dan spontanitas warna. . yaitu geometris sintetik. Divisi X. Karya awal sangat dipengaruhi hasil pendidikan.

7 Mei 1935 – meninggal 7 Juli 2001 pada umur 66 tahun) adalah seorangpelukis “Neoklasik” Indonesia berasal dari Sungai Puar. Delsy melalui sekolah dasar dan menengah umum bahkan pendidikan agama Islam. Pameran tunggal Delsy di tahun 1985 di Balai Budaya dianggap sebagai peristiwa seni nasional karena gaya cat minyaknya selaras membawakan ilustrasinya yang telah terlebih dahulu dikenal. ia selalu menonjol dalam pelajaran seni lukis dan menjadi juara pertama pada setiap sayembara di sekolah sekolah di Sumatera Barat. wartawan masmedia dan penata artistik di berbagai banyak Film nasional. Sumatra Barat. Ilustrasinya banyak mendapat sambutan literature-literatur seni di Australia dan Perancis sebagai pembuat kartun di beberapa masmedia dan cover cover novel Indonesia serta di perfilman sebagai Art Director senior. Kalau perantau-perantau Minang umumnya cenderung mengadu nasib sebagai pedagang. Karyanya seperti Komik “Mawar Putih” tentang “Bajak Laut Aceh” dimuat di majalah “Aneka” telah membuat ia terkenal diseluruh Indonesia pada usia yang amat muda. Atas adanya kepastian itu Barulah ibunya mau melepas Delsy dan menginginkan anaknya tersebut menjadi “pelukis terkenal” seperti Raden Saleh dan Basuki Abdullah. Ia sebagai seorang Art Director Film sempat meraih penghargaan pada Festival Nasional dan Asia. Pelukis ini telah menampakkan bakat melukisnya sejak usia 5 tahun. Meskipun Delsy dikenal sebagai sosok seorang pelukis komik sejarah. Di waktu perang revolusi keluarganya memilih tinggal di Bukittinggi.Delsy S Delsy Syamsumar (lahir di Medan.illustrator. ekspresif dan ekstensial dan selalu mudah di ingat orang (pengamat Seni Rupa Agus Darmawan T.namun ia tidak meninggalkan kanvas dan cat minyak. Delsy sejak di SD sudah dibelikan cat minyak oleh ayahnya seorang yang pengukir Rumah Gadang. Namun sebenarnya kemampuan melukiskan ekpresi dan gerak tokoh-tokohnya yang komunikatif dengan pemandangan . dalam “Suara Pembaharuan”) Khas lukisan Delsy banyak dianggap terletak pada kemahirannya melukiskan wanita. Disanggarnya selain ia mendidik pelukis pelukis muda berbakat juga membimbing mereka menjadi tenaga perfilman handal (peraih Piala Film dan Sinetron). Pada usia 17 tahun Delsy telah mampu melukis komik sejarah dan karangannya sendiri yang ia kirim sendiri per pos ke majalah ibukota. maka berbeda dengan bocah Delsy ini yang di panggil ke Jakarta oleh penerbit dengan fasilitas cukup.

seperti wakil-wakil presiden Indonesia. Bersama dengan Abdullah Surio Subroto (1879-1941) (ayah Basuki Abdullah) dan Pirngadie (1875-1936). Wakidi adalah satu di antara tiga pelukis naturalistik Indonesia yang terkemuka di zamannya. Sebagai guru melukis. Terlalu lama mendalami dunia film yang bertema legenda sejarah mendorong kreativitas Delsy di dalam banyak lukisan yang bertemakan legenda dan sejarah. Kereta Api terakhir Yogyakarta. sehingga Wakidi tidak pernah mengadakan pameran lukisannya.karyanya. Karya-karyanya banyak dikoleksi oleh istana kepresidenan dan sejumlah tokoh penting. Christina Maria Tiahahu (cergam) dan beberapa lukisan yang menggambarkan Heroisme Cut Mutia. Affandi. Sumatra Barat. antara lain “Saur Sepuh”. termasuk di dalamnya merekam sejarah perjuangan bangsa Indonesia disekitar tahun 1945. 1889/1890–Sumatra Barat. Pada tahun 1992 ia juga sempat melakukan pameran bersama dengan Basuki Abdullah. Namun dalam melukiskan wanita.) ternama Indonesia yang di Gedung Kesenian Jakarta(Taman Ismail Mardzuki). Lee Man Fong dsb. hampir semuanya dikoleksi orang. Dan pada pameran-pameran bersama di Balai Budayasaat pra reformasi. Lukisan karyanya pernah tercatat sebagai lukisan termahal yang terjual pada Pameran bersama pelukis-pelukis (Basuki Abdullah. Gedung Kesenian Jakarta. pengamat karyanya itu mengambil kesimpulan bahwa anatomi wanita-wanita dalam kanvas Delsy bagai menemukan “medan yang tepat dan kuat” menangkap daya hidup. Karya beliau antara lain: Sentot Alibasya Prawiradirdja (cergam). Wakidi mulai melukis sejak usia 10 tahun. 1979) adalah seorang pelukis Indonesia yang lukisannya banyak mengandung corak Mooi Indie (Hindia molek). Dapur Umum dan karya terakhirnya ditahun 2000 “Gelar Perang Sentot Alibasya Prawiradirdja" cukup kolosal Wakidi Wakidi (Palembang. Pameran tunggal Delsy pernah diadakan di Hotel Indonesia. lukisan-lukisan Delsy selalu mencatat rekor sebagai lukisan yang paling banyak diminati para kolektor lukisan. Sepasang mata bola. Gadjah Mada (Cergam). Bung Hatta dan Adam Malik . karena mungkin kehidupannya sebagai orang film mempengaruhinya. Bukittinggi. Wakidi sempat belajar dengan seorang pelukis Belanda bernama van Dick di Kweekschool. Meskipun banyak berkarya. Komposisi penuangan karya-karyanya apik dan enak dipandang bagaikan sudut pengambilan gambar lewat kamera. Dunia film telah membenamkan Delsy cukup lama dalam kreatifitasnya dan puncaknya menjadi Art director di beberapa film legenda Indonesia. Sudut pandang lukisan Delsy kadang-kadang filmis.

Mandailing Julu. Soedarso dan Hendra Gunawan . Semasa di Yogyakarta ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia dan dekat dengan tokoh-tokoh dalam dunia seni lukis lainnya seperti Affandi. Banyak karyanya yang menggambarkan kehidupandesa dan kegiatan para warganya. Tapanuli Selatan. 2 Februari 1927 – meninggal 1 Desember 1986 pada umur 59 tahun) adalah seorang pelukis Indonesia. Ia hijrah dari Medan dan menetap di Yogyakarta sampai akhir hayatnya. Batara Lubis adalah anak dari Radja Djunjungan Lubis sekaligus keponakan laki-laki dari Basjrah Lubis.Batara Lubis Batara Lubis (lahir di Hutagodang. Statusnya sebagai keturunan dari Radja-Radja Hutanagodang Mandailing Julu memberikan pengaruh terhadap gaya lukisannya dengan warna-warna yang kontras dan unik pada zamannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful