Anda di halaman 1dari 3

Mapala UI Muda Terus dan selalu bergairah

Rabu(23/5)lalu,secretariat Mapala Universitas Indonesia ramai. Banyak yang hadir di tempat yang biasa
digunakan anak Mapala UI untuk diskusi,rapat,merencanakan kegiatan,merencanakan ekspedisi maupun sekedar nongkrong sambil tertawa-tawa. Sore itu akan ada evaluasi dari Opersai SAR Sukhoi yang diikuti olah Mapala UI selama kurang-lebih sepuluh hari. Sore itu hadir banyak sekali anggota-anggota lama Mapala UI, sebagai informasi, Mapala UI menggunakan nomor M-UI sebagai informasi,angkatan berapa dia diterima masuk sebagai anggota Mapala dan dari situ juga dapat dilihat bahwa sudah seberapa berumur dia. Nah,hari itu hadir anggotaanggota yang dapat disebut berumur seperti rekan Soe Hok Gie,Nessy Luntungan,Rafiq Pontoh dan banyak lagi. Biasanya nomor-nomor mereka masih belasan atau paling banyak puluhan. Mereka adalah angkatan-angkatan awal sebelum adanya proses Badan Khusus Pelantikan yang dilaksanakan dua tahun sekali untuk menerima anggota baru. Senior-senior yang biasa di Mapala UI disebut Toku ini, masih memiliki ikatan yang kuat dengan organisasi. Sebagai contoh, ketika SAR sukhoi kemarin,Mapala UI dapat turun ke lapangan juga karena bantuan dari toku-toku ini. Bahkan Nessy Luntungan sampai menyumbangkan logistik ke posko Cimalati yang berlokasi di Desa Pasawahan,Kecamatan Cicurug,Kabupaten Sukabumi. Sumbangan ini dikirimkan bersama dengan tim keempat yang diirimkan oleh Mapala UI ke lokasi jatuhnya pesawat,di Gunung Salak,yang terletak diantara Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Bantuan dikirimkan bersama kami,pada hari Senin,14 Mei 2012 ke Pos Cimalatikata Agung Rudiarto, Mahasiswa FHUI,salah seorang relawan yang berangkat pada hari itu. Ikatan senior-yunior inilah yang membuat Mapala UI unik, yang membuat Mapala UI mampu bertahan sejak didirikan olah Soe-Hok Gie pada tahun 1964. Di Mapala UI, tidak ada istilah batasan usia,setiap orang bebas memanggil nama masing masing anggota tanpa perlu sapaan kak,pak,bu dan lain sebagainya. Mentoknya, paling Mbak atau Bang, padahal yang disebut mbak atau bang itu rentang usianya bisa puluhan tahun. Namun hal itu justru memperlihatkan keakraban diantara anggota. Mapala UI ini adalah organisasi yang unik,hal ini dikarenakan ikatan senior-yunior yang kuat. Di Mapala, bahkan saya pun dapat langsung dipanggil Gumilar saja. Dan itu sebuah hal yang biasa ungkap Prof.Dr.Der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri pada acara Penghargaan UI kepada Mapala UI pada hari Rabu,23 Mei 2012 lalu di aula Kirti,Gedung Rektorat,Kampus UI Depok.

Gumilar adalah salah seorang Anggota Kehormatan Mapala UI dengan nomor MK-777-UI yang dilantik pada bulan November 2009 lalu di Sungai Citarik. Gumilar juga menyatakan kebanggaannya pada organisasi ini pada acara itu. Selain itu, jaringan informasi di Mapala UI terbilang cukup bagus,hal ini dapat dikatakan demikian karena banyaknya senior yang akan segera turun tangan ketika organisasi membutuhkannya. Sistem informasi yang paling sederhana adalah mailling list yang dimiliki Mapala UI. Hanya melalui media ini saja, banyak senior yang telah turun tangan untuk membantu. Contohnya SAR Sukhoi kemarin,selain membantu pendanaan,ada juga yang membantu pada bidang operasional. Arianto Toegiyo, yang biasa diapanggil Anto Gabuk ini,meminjamkan mobilnya untuk transportasi selama SAR Sukhoi ini. Momen ke depan yang akan diselenggarakan oleh Mapala UI adalah BKP 2012,yang akan dilaksanakan hanya dalam waktu tiga bulan. Ketua BKP tahun 2012 ini, bukanlah anak-anak baru angkatan 2000-an, namun anggota lama dengan nomor M-229-UI yang bernama Setyo Ramadi, akrab disapa Bang Setyo. Bang Setyo,sejak menjadi ketua BKP,telah menjadi salah satu motor organisasi,Ia menggerakkan temantemannya untuk membantu proses BKP yang ada sejak tahun 1980-an ini. BKP tahun ini tergolong unik,hal ini dikarenakan hanya dilaksanakan dalam kurun waktu yang singkat,yaitu 3 bulan saja dan dilaksanakan pada saat libur panjang semester. Nantinya, BKP ini akan diisi dengan kegiatan yang dibagi dalam tiga tahap yaitu tahap satu yang isinya adalah praktek berarung jeram,panjat tebing dan telusur gua. Tahap dua akan diisi dengan kegiatan sosial yang akan dilaksanakan di Kali Ciliwung. Tahap tiga akan dimeriahkan dengan perjalanan panjang di pegunungan daerah Jawa Barat dan ditutup dengan pelantikan. Hanya tiga bulan, jauh berbeda dengan angkatan lalu yang menghabiskan 13 bulan untuk merekrut anggota baru. hal ini terjadi dikarenakan Mapala UI tidak akan bertahan jika saklek dengan tradisi BKP 2 tahun-an. Mapala UI juga harus menyesuaikan dengan kondisi mahasiswa saat ini yang hanya kuliah 4-5 tahunkata Mohammad Izmatullah,ketua Mapala UI. Dalam prosesi BKP ini,toku-toku tadi tentu saja akan membantu sebisa mungkin. Bantuan moril,materiil dan banyak lagi,mereka berikan untuk adik-adik di Mapala tanpa pamrih. Contohnya adalah Makky Ananda,salah seorang senior yang telah membantu BKP dengan menyumbangkan sejumlah peralatan panjat tebing seperti tali,helm dan harness. sejatinya yang membuat mereka mau membantu dan bersusah payah adalah karena mereka mempunyai perasaan memiliki terhadap organisasi yang telah membesarkan merekapapar Setyo Ramadi di sela-sela rapat BKP di Rakata,Blok M pada Kamis,10 Mei 2012 lalu. Dan pada hari Rabu,29 Mei, akan dilaksanakan acara Mapala UI Memanggil sebuah acara yang bisa dibilng sebelum BKP Lebih lanjut lagi,Setyo mengungkapkan bahwa dari BKP inilah,senior-senior yang telah sukses itu berasal, sehingga mereka pasti akan membantu ketika organisasi membutuhkan. Contoh lain adalah, pembina

untuk Badan Pengurus adalah Agam Napitupulu (M-183-UI). Agam adalah salah seorang petinggi di salah satu bank besar di negeri ini,sehingga kemampuannya tidak diragukan lagi,dalam berorganisasi. Sejatinya Mapala UI adalah organisasi yang selalu muda dan bergairah,penuh inovasi dalam berkarya. Hal ini tak lepas dari pernyataan pendiri Mapala sendiri Soe Hok Gie. Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung