Anda di halaman 1dari 7

DOPS PATOLOGI FORENSIK

Oleh : Sarly Puspita Ariesa 07/254061/KU/12403 Periode 27 Juni-23 Juli 2011 Dosen Pembimbing DOPS : dr. R. Soegandhi, Sp.F (K)

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK & MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

I.

KEMATIAN Didefinisikan sebagai henti permanen fungsi jantung, respirasi dan saraf/ neurologi. Dilihat dari caranya, kematian dibagi menjadi kematian wajar dan kematian tidak wajar.

KEMATIAN WAJAR Suatu kematian disebut wajar jika orang tersebut berada dalam perawatan seorang dokter, diagnosis penyakitnya telah diketahui dan kematiannya diduga karena penyakitnya tersebut (kematian klinis) atau akibat ketuaan dan tidak bermasalah dengan hukum. Pada kasus ini dokter yang memeriksa pasien terakhir kali atau dokter yang merawat dapat langsung memberikan surat keterangan kematian (formulir A) dan jenazahnya dapat langsung diserahkan pada keluarganya. Di Indonesia, dokter Puskesmas yang mendapat laporan kematian hendaknya memeriksa sendiri jenazah dengan pemeriksaan luar (tanpa surat permintaan visum dari polisi), berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik menentukan apakah kematiannya wajar atau tidak. Jika tidak ada tanda-tanda kekerasan atau keracunan serta kecurigaan lainnya, maka dapat diputuskan kematian adalah wajar. Kematian mendadak (sudden death) yang wajar dapat ditentukan dengan menelusuri riwayat korban, mulai dari riwayat pengobatan atau rekam medis, kronologis kejadian, dan lain-lain. Contoh : 1. Kematian akibat penyakit kardiovaskular : sudden cardiac death 2. Kematian akibat penyakit lepra 3. Kematian akibat Tuberculosis tulang 4. Kematian akibat Genetika : sindrom down, dan lain lain. KEMATIAN TIDAK WAJAR Setiap kematian yang terjadi akibat suatu peristiwa kekerasan atau keracunan termasuk kematian yang tidak wajar (kematian forensik). Cara kematian pada kematian tidak wajar adalah pembunuhan, bunuh diri dan kecelakaan. Pada kasus kematian tidak wajar, kasusnya hendaknya segera dilaporkan ke penyidik, sesuai dengan pasal 108 KUHAP. Adapun yang termasuk dalam kategori kasus yang harus dilaporkan ke penyidik adalah: 1. Kematian yang terjadi di dalam penjara. 2. Kematian terjadi bukan karena penyakit dan bukan karena hukuman mati, adanya penemuan mayat di mana penyebab dan informasi mengenai kematiannya tidak ada. 3. Keadaan kematiannya menunjukkan bahwa kemungkinan kematian akibat perbuatan melanggar hukum. 4. Orang tersebut melakukan bunuh diri atau situasi kematiannya mengindikasikan kematian akibat bunuh diri 5. Kematian yang terjadi tanpa kehadiran dokter 6. Kematian yang disaksikan dokter tetapi ia tidak dapat memastikan penyebab kematiannya.

Macam-macam kematian tidak wajar (kematian forensik) : KEMATIAN KRIMINAL Merupakan salah satu jenis kematian tidak wajar, cara kematian pada kematian kriminal berupa kasus pembunuhan (homicide), bunuh diri (suicide), kejahatan seksual. Contoh : 1. Kematian akibat perdarahan hebat karena luka tembak di dada dengan cara kematian dibunuh (seseorang melakukan penembakan pada korban tersebut) atau bunuh diri (korban sendiri yang melakukan penembakan). 2. Kematian akibat gantung diri. 3. Kematian akibat kejahatan seksual (sexual offencese) yang mengakibatkan korban luka-luka, luka berat atau kematian (pasal 288 KUHP), pemerkosaan (pasal 285 KUHP). 4. Kematian akibat keracunan KEMATIAN MENDADAK Kematian yang merupakan peristiwa tidak terduga, bisa terjadi saat korban melakukan perjalanan, aktivitas, tidur, duduk, dan lain-lain. Dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. KEMATIAN MISTIS Kematian korban dengan peristiwa (kronologis) dan keberadaan jenazah yang tidak diketahui. Hal ini perlu dilakukan pemeriksaan atau olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan seksama, dan bila jenazah ditemukan perlu melakukan Pemeriksaan Luar dan Pemeriksaan Dalam (PLPD) serta Pemeriksaan Laboratorium atau penunjang lainnya untuk mengetahui sebab, mekanisme dan cara kematian. KEMATIAN KASUS GELANDANGAN Kematian pada korban yang tidak memiliki tempat tinggal dan identitas yang tidak jelas.

II.

SAAT KEMATIAN Memperkirakan saat kematian mempunyai kepentingan pada proses penyidikan, sehingga penyidik lebih terarah dan selektif melakukan pemeriksaan tersangka pelaku tindak pidana sehingga diketahui sebab kematian korban. Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari kematian serta perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Dalam tanatologi dikenal berbagai istilah mati, yaitu : 1. Mati somatis (mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan, yang menetap (irreversible). Secara klinis tidak ditemukan refleksrefleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara nafas tidak terdengar pada auskultasi. 2. Mati suri (suspended animation apparent death) adalah terhentinya tiga sistem kehidupan (sistem saraf,jantung,dan respirasi) yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih (EKG,EEG,mesin ventilator) masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Contoh : kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam. 3. Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap

organ atau jaringan tidak bersamaan (Otak dan jaringan saraf lainnya akan hilang fungsi setelah 5 menit dari saat terjadi kematian somatis, Otot hilang fungsi setelah 4 jam). Pengetahuan ini penting dalam transplantasi organ. Contoh : Kornea dapat dimanfaatkan untuk transplantasi bila jaringan kornea diambil dalam jangka waktu 6 jam setelah seseorang dinyatakan mati somatis. 4. Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat. 5. Mati otak (mati batang otak) adalah bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan. Tanda Kematian dibedakan menjadi : 1. Primer (tidak pasti) : berhentinya fungsi pernafasan, jantung dan otak. Dimana saat kematian ditentukan berdasarkan saat otak berhenti berfungsi. Pada saat itulah jika diperiksa dengan pemeriksaan penunjang seperti elektroensefalografi (EEG) diperoleh garis yang datar. 2. Sekunder (pasti) : meliputi; lebam mayat, kaku mayat, pembusukan.

1. 2. 3. 4.

LEBAM MAYAT Disebut juga Hipostatis, Post mortem staining, Livor Mortis, Vibises, dan Suggilation. terjadi akibat terkumpulnya darah pada jaringan kulit dan subkutan disertai pelebaran pembuluh kapiler pada bagian tubuh yang letaknya rendah atau bagian tubuh yang tergantung. Keadaan ini memberi gambaran berupa warna ungu kemerahan (livide). Karena terjadi secara pasif maka pada tempat dengan penekanan, tertekan juga pembuluh darah, di daerah tersebut tidak ditemukan lebam mayat. Lebam mayat pada awalnya berupa bercak. Dalam waktu sekitar 6 jam, bercak ini semakin meluas yang pada akhirnya akan membuat warna kulit menjadi gelap. Lebam mayat mulai tampak sekitar 30 menit setelah kematian somatis dan intensitas maksimal 8-12 jam postmortal. Contoh : Kematian karena asfiksia, lebam mayat berwarna merah terang (karena suhu rendah yang mempengaruhi kuva dissosiasi oksi-Hb) Pada keracunan karbon monoksida dan asam hidrosianida, lebam mayat berwarna merah terang atau merah jambu cherry red (kadar HbO2 dalam vena tetap tinggi). Pada keracunan kalium klorat, lebam mayat berwarna coklat-kebiruan (metHb yang berwarna coklat serta adanya sianosis). Pada keracunan fosfor, lebam mayat berwarna biru gelap. KAKU MAYAT (Rigor Mortis) Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer. Keadaan ini berlangsung setelah terjadinya kematian tingkat sel, dimana aktivitas listrik otot tidak ada lagi. Otot menjadi kaku. Fenomena kaku mayat ini pertama sekali terjadi pada otot-otot mata, bagian belakang leher,rahang bawah, wajah, bagian depan leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir pada otot tungkai. Urutan ini sesuai dengan jumlah serabut

otot yang paling sedikit. Akibat kaku mayat ini seluruh mayat menjadi kaku, otot memendek dan persendian pada mayat akan terlihat dalam posisi sedikit fleksi. Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortal dan mencapai puncaknya setelah 10-12 jam posmortal. Keadaan ini berlangsung selama 24-48 jam pada musim dingin dan 18-36 jam pada musim panas. Lalu menghilang setelah 24 jam sesuai urutan terjadinya. Penyebab: Otot tetap dalam keadaan hidrasi oleh karena adanya ATP. Jika tidak ada oksigen, maka ATP akan terurai dan akhirnya habis, sehingga menyebabkan penumpukan asam laktat dan penggabungan aktinomiosin (protein otot) maka kelenturan dan kemampuan kontraksi menghilang sehingga otot menjadi kaku dan tidak dapat kontraksi. PEMBUSUKAN (Decomposition) Keadaan dimana bahan-bahan organik tubuh mengalami dekomposisi baik disebabkan karena aktivitas bakteri, maupun karena autolisis. Bakteri normal dalam tubuh (utamanya dari usus besar) segera menginvasi jaringan, darah adalah media paling baik untuk perkembangan dan pertumbuhan bakteri. Bila kematian seseorang disebabkan karena penyakit infeksi maka pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan tanpa pengaruh bakteri karena enzim yang berasal dari sel dilepaskan setelah terjadi kematian. Proses pembusukan dipercepat dengan adanya panas, suhu lingkungan >20C (tropis), pembusukan dapat dilihat dalam 24 jam. Tanda awal adalah perubahan warna. Pertama kali tampak pada fossa iliaka kanan dan kiri berupa warna hijau kekuningan, disebabkan oleh perubahan hemoglobin menjadi sulfmethemoglobin. Perubahan warna ini juga tampak pada seluruh abdomen, bagian depan genitalia eksterna, dada, wajah dan leher. Dengan semakin berlalunya waktu maka warnanya menjadi semakin ungu. Jangka waktu mulai terjadinya perubahan warna ini adalah 6-12 jam pada musim panas dan 1-3 hari pada musin dingin. Perubahan warna tersebut juga diikuti dengan pembengkakan mayat. Otot sfingter mengalami relaksasi sehingga urin dan faeses keluar. Lidah juga terjulur. Bibir menebal, mulut membuka dan busa kemerahan bisa terlihat keluar dari rongga mulut. Mayat berbau tidak enak disebabkan oleh adanya gas pembusukan. Gas ini bisa terkumpul pada suatu rongga sehingga mayat menjadi tidak mirip dengan korban sewaktu masih hidup. Gas ini selanjutnya juga bisa membentuk lepuhan kulit (blister). PENURUNAN SUHU TUBUH Penurunan suhu tubuh (algor mortis) terjadi setelah kematian dan berlanjut sampai tercapai keadaan dimana suhu mayat sama dengan lingkungan. Panas dilepaskan permukaan tubuh secara radiasi melalui lapisan-lapisan yang tidak homogen secara bertingkat sehingga jam-jam pertama setelah terjadi kematian somatis penurunan suhu berlangsung lambat. Menurut Sympson (Inggris), menyatakan bahwa dalam keadaan biasa tubuh yang tertutup pakaian mengalami penurunan temperatur 2,50 F setiap jam pada enam jam pertama dan 1,6-2 0 F pada enam jam berikutnya, maka dalam 12 jam suhu tubuh akan sama dengan suhu sekitarnya. Pengukuran suhu mayat dilakukan memakai termometer di rektum, organ hati atau otak bila dilakukan pemeriksaan dalam.

III. PATOLOGI FORENSIK Contoh Kesimpulan : Kasus Perdarahan Internal (V et R No.80/2010) Kecelakaan Lalu Lintas 1. Jenazah laki-laki dewasa yang tiga puluh tahun dengan panjang badan seratus tujuh puluh sentimeter dengan berat badan enam puluh lima kilogram, golongan darah B dan kandungan alkohol dalam darah empat puluh delapan miligram persen 2. Didapatkan retak tulang dasar tengkorak dan perdarahan di bawah selaput otak. 3. Didapatkan tanda-tanda kekerasan dengan benda tumpul pada kepala dan benda tajam pada mata kiri 4. Poin 2 diduga sebagai penyebab kematian 5. Saat kematian diperkirakan antara12-24 jam dari saat pemeriksaan Kasus Kejahatan Seksual (V et R No.81/2010) 1. Pada perempuan dewasa yang berumur dua puluh lima tahun didapatkan adanya luka-luka lecet dan memar akibat kekerasan tumpul serta robekan baru pada selaput dara pada lokasi pukul lima sesuai dengan arah jarum jam. 2. Didapatkan adanya sel mani yang masih bergerak di dalam liang senggama, serta adanya alkohol dalam darah dengan kadar 50 mg% 3. Persetubuhan dengan kekerasan pada perempuan ini baru terjadi,yaitu kurang dari 5 jam yang lalu dari saat pemeriksaan IV. IDENTIFIKASI Merupakan suatu metoda/cara untuk mengenali identitas/jati diri. Macam-macam identifikasi : 1. Identifikasi PerSe Mengumpulkan data dan fakta 2. Re-identifikasi Identifikasi ulang, mengumpulkan data dan fakta lalu diuji silang (cross check) dengan data yang ada di negara. Pemeriksaan identifikasi jenazah, antara lain : 1. Metoda visual : memperhatikan cermat wajah korban oleh keluarga. Diperngaruhi emosi dan sugesti dari penyidik. 2. Pakaian : Pencatatan teliti pakaian, bahan yang dipakai, model serta tulisan (merek pakaian, penjahit,laundry, atau inisial nama) 3. Perhiasan : anting-anting, kalung, gelang, serta cincin pada tubuh korban. 4. Dokumen : Kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, paspor, kartu golongan darah dan kartu identitas lainnya yang ditemukan di dompet atau tas korban. 5. Medis : pemeriksaan fisik keseluruhan; bentuk tubuh, tinggi dan berat badan, warna tirai mata, cacat tubuh bawaan bila ada, jaringan parut bekas operasi, gambar tatto, radiologi. 6. Gigi-geligi : bentuk gigi dan rahang 7. Serologi : golongan darah dari tubuh korban, bercak darah di pakaian korban. 8. Eksklusi : dipakai pada kecelakaan massal (tabrakan,kecelakaan pesawat,kereta api), daftar penumpang dapat dijadikan alat bantu bila ada seseorang yang belum teridentifikasi. 9. DNA 10. Antropologi

Sumber : 1. Atmadja, D.S., 2004. Tatacara dan Pelayanan Pemeriksaan serta Pengawetan Jenazah pada Kematian Wajar. 2. DiMaio, V.J., 2001. Forensic Pathology 2nd edition. CRC Press. USA. 3. Idries, A.M., 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi I. Binarupa Aksara.Jakarta. 4. Tim Kedokteran Forensik dan Mediolegal.2011. Pedoman Penyusunan Visum et Repertum. FK UGM

Anda mungkin juga menyukai