Anda di halaman 1dari 29

Laporan kasus

SEORANG PEREMPUAN USIA 22 TAHUN DENGAN APPENDICITIS AKUT

Oleh : Hari Subagiyo 2051210005

Pembimbing : dr. Farida Rusnianah. MARS dr. Erna Sulistyowati, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK PUBLIC HEALTH FAKULTAS KEDOKTERAN UNISMA / PKM BANTUR MALANG 2012 KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA
1

Nama Kepala Keluarga : Tn. A Alamat lengkap Bentuk Keluarga : Desa Bantur, Rt. 18 Rw.05 : Nuclear Family

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Dalam Satu Rumah

No 1 2. 3 4

Nama Tn. A Ny.S

Status Suami (KK) Istri

L/P L P L P

Umur 44 Th 36 Th 25 Th 22 Th

Pendidikan SMP SMP SMA Mahasiswa

Pekerjaan Wiraswasta Wiraswasta -

Pasien PKM T T T Y

Ket -

Sdr. P Anak ke 1 Nn. S Anak ke 2

Susp. Appendicitis akut

Sumber : Data Primer,

BAB I STATUS PASIEN

A. Nama

IDENTITAS PENDERITA : Nn. S


2

Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat Status Perkawinan Suku Tanggal Periksa B. ANAMNESA

: 22 tahun : Perempuan :: Mahasiswa : Islam : Desa Bantur, Rt. 18 Rw.05 : belum menikah : Jawa : 6 juni 2012

1. Keluhan utama : nyeri perut bagian kanan bawah 2. Riwayat penyakit sekarang :

Penderita datang ke balai pengobatan PKM bantur dengan keluhan nyeri perut sebelah kanan bawah sejak 5 hari. Awalnya nyeri timbul di ulu hati, kemudian menjalar ke sebelah kanan bawah. Semakin lama nyeri yang dirasakan semakin bertambah apalagi jika ditekan dan dibuat bergerak serta berkurang saat pasien berbaring terlentang dan kaki di tekuk. Pasien juga merasakan mual dan juga mengeluhkan muntah. Muntah sebanyak 3x/hari. BAK tidak ada masalah, menstruasi tidak ada masalah, dan juga tidak mengalami keputihan. 3. Riwayat penyakit Dahulu Riwayat sakit serupa Riwayat mondok Riwayat diabetes Riwayat penyakit jantung 4. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat keluarga sakit serupa Riwayat diabetes Riwayat penyakit jantung Riwayat hipertensi : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal
3

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

5. Riwayat kebiasaan Riwayat olahraga 6. Riwayat sosial ekonomi Penghasilan keluarga relatif cukup. Penghasilan didapat dari ayah, ibu yang bekerja Wiraswasta. Pasien adalah seorang Perempuan berumur 22 tahun, seorang anak ke dua dari 2 saudara. Pasien masih berstatus mahasiswa, saat ini pasien tinggal di rumah dengan orang tua dan kakaknya yaitu Sdr.A. Saat ini kebutuhan sehari-hari penderita ditanggung oleh ayah dan ibunya.
7. Riwayat Gizi :

: disangkal

Riwayat pengisian waktu luang : jalan-jalan

Pasien biasa makan 3x sehari dengan nasi, lauk-pauk ayam, telur, terkadang dengan tahu dan tempe. Pasien tidak suka makan sayur. Makan buah-buahan juga jarang. Pasien lebih suka mengkonsumsi teh dibanding minum air putih. C. E4V5M6) T Nadi RR Suhu BB TB 2. Kulit Warna : Kepala : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-) Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah dicabut, : 120/70 mmHg : 86 x/menit, regular, isi tegangan cukup : 20 x/ menit, kedalaman cukup, reguler : 36,3 0C peraksila : 54 kg : 155 cm PEMERIKSAAN FISIK : tampak lemah, compos mentis (GCS
1. Keadaan umum

atrofi m. temporalis(-), makula (-), papula (-), nodula (-), kelainan mimik wajah/bells palsy (-) 3. Kepala Bentuk Normocephal, luka (-), makula (-), papula (-), nodul (-), bells palsy (-).

4. Mata konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil isokor (3mm/3mm) 5. Hidung Napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung (-/-) 6. Mulut Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi lidah hiperemis (-), tremor (-) 7. Telinga Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping telinga dalam batas normal 8. Tenggorok Uvula di tengah, faring hiperemis (-), tonsil T1 - T1, pharing hiperemis (-) 9. Leher Bentuk normocolli, limfonodi tidak membesar, glandula thyroid tidak membesar. 10. Thoraks Bentuk Cor Inspeksi Palpasi Perkusi : iktus kordis tidak tampak : iktus kordis teraba di SIC V LMCS, tidak kuat angkat : : SIC II Linea parasternalis Sinistra : SIC IV Linea Mid clavicularis sinistra : SIC II Linea parasternalis Dextra : SIC IV Linea parasternalis Dextra : normochest, retraksi (-/-)

Batas kiri atas Batas kiri bawah Batas kanan atas Batas kanan bawah

Batas jantung kesan tidak melebar Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-) Pulmo Inspeksi Palpasi : : pengembangan dada kanan = kiri : fremitus raba sulit dievaluasi
5

Perkusi

: sonor di seluruh lapang paru

Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-) 11. Abdomen Inspeksi Perkusi Palpasi teraba 12. Ekstremitas Akral Dingin Oedem : dinding perut sejajar dengan dinding dada : timpani : defans musculer, NT (+) di area mcburney, hepar dan lien tidak Auskultasi : bising usus (+) N

13. Tes Lokalis > Rovsing sign (+) > Psoas sign (+) D. RESUME

> Obturator sign (+) > Rebound fenomena (+)

Nn.S, umur 22 Th, datang ke balai pengobatan PKM bantur dengan keluhan nyeri perut sebelah kanan bawah sejak 4 hari. Awal nyeri timbul di ulu hati, lalu menjalar ke sebelah kanan bawah. Semakin lama nyeri yang dirasakan semakin bertambah apalagi jika ditekan dan dibuat bergerak serta berkurang saat berbaring terlentang dan kaki ditekuk. Mual (+), muntah (+), Muntah sebanyak 3x/hari. Pemeriksaan fisik didapatkan KU: tampak lemah, CM, Tanda vital: T: 120/70 mmHg, Nadi: 80 x/menit, RR: 20 x/menit, Suhu: 36,3 0C. abdomen: Palpasi : defans musculer, Nyeri Tekan (+) dibagian mc burney, Rovsing sign (+), Psoas sign (+), Obturator sign (+), Rebound fenomena (+). E. PATIENT CENTERED DIAGNOSIS Nn.S (22 th) dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sudah 4 hari, mual (+) muntah (+). Anggota keluarga sangat peduli dengan kondisi pasien. 1. Diagnosis Biologis Suspek Appendicitis Akut 2. Diagnosis Psikologis
6

Kondisi psikologis keluarga baik 3. Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya Kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit Appendicitis. F. PENATALAKSANAAN
1. Non Medika mentosa

Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakitnya yang diderita Minum cairan adekuat untuk membantu pasase makanan Cefotaxime 3 x 1mg Inj. Ranitidin 3x1 amp Rujuk Pro. Appendectomy PLANNING DIAGNOSIS DL USG PROGNOSIS ad Malam

2. Medikamentosa

G. H.

BAB II IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA A. FUNGSI HOLISTIK 1. Fungsi Biologis. Keluarga terdiri dari Ayah (Tn.A, 44 th), Ibu (Ny.S 36 th), kakak (Sdr.P 25 Th) dan pasien (Nn.S, 22 th).
7

2.

Fungsi Psikologis. Penderita tinggal bersama ayah, ibu dan kakaknya di rumah. Nn.S adalah anak kedua dari dua saudara yang bekerja sebagai wiraswasta. Hubungan Nn.S dan keluarga cukup terjalin dengan baik dan saling memperhatikan. Hal ini terbukti pada saat pasien pergi berobat, pasien ditemani ibu dan kakak pasien.

3.

Fungsi Sosial Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga Nn.S hanya sebagai anggota masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Dalam kehidupan sosial Nn.S kurang berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, dikarenakan sibuk dengan kegiatan di kampus.

4.

Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan ayah dan ibu pasien, yang bekerja sebagai wiraswasta. Kesimpulan : Fungsi holistik keluarga Nn.S umur 22 tahun dengan Appendicitis akut dengan fungsi psikologis dan fungsi sosial ekonomi cukup baik.

B.

FUNGSI FISIOLOGIS Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga yang lain. APGAR score meliputi: 1. Adaptation Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang lain. 2. Partnership Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut. 3. Growth
8

Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut. 4. Affection Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga. 5. Resolve Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.

Skoring :
Hampir selalu Kadang kadang

Kriteria nilai APGAR : : 2 poin : 1 poin : 0 poin 6-7 8 - 10 : baik : sedang <5 : buruk

Hampir tak pernah


APGAR Score Nn. S

Sering Kadang Jarang/tidak /selalu -kadang A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Adaptation : Saat Nn.S sedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan keluarga Score : 2 Partnership : Pekerjaan Nn.S sebagai mahasiswa tidak menyebabkan hambatan dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga. Score : 2 Growth : Nn.S jarang berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, karena kesibukan kuliahnya.. Score : 1 Affection : Nn.S jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara langsung. Score : 1 Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga kurang.

APGAR Sdri. N Terhadap Keluarga

19

Score : 1 APGAR Score Tn.A Sering /selalu A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Sumber : Data Primer, 16 APGAR Terhadap Keluarga Kadang -kadang Jarang/tidak

Adaptation : Saat Tn.A sedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan Tn.A dengan keluarga. Score : 2 Partnership : Pekerjaan Tn.A sebagai Wiraswasta tidak menyebabkan hambatan dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga. Score : 2 Growth : Tn.A sering berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, meskipun Tn.A bekerja hingga sore hari. Score : 2 Affection : Tn.A jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara langsung. Score : 1 Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga cukup. Score : 2 APGAR Score Ny.S

20

Sering /selalu A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Sumber : Data Primer,

APGAR Sdr. D Terhadap Keluarga

Kadang -kadang

Jarang/tidak

Adaptation : Saat Ny.S sedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan Ny.S dengan keluarga. Score : 2 Partnership : Pekerjaan Ny.S sebagai wiraswasta tidak menyebabkan hambatan dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga. Score : 2 Growth : Ny.S sering berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, meskipun Ny.S bekerja hingga sore hari. Score : 2 Affection : Ny.S jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara langsung. Score : 1 Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga cukup. Score : 2

21

APGAR Score Sdr.P Sering /selalu A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Sumber : Data Primer, 16 April 2007 Untuk sdr. P APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut : Adaptation : Saat sdr. P sedang memiliki masalah biasanya tidak ditanggung sendiri dan bisa berbagi dengan keluarga karena kedekatan sdr.P dengan keluarga. Score : 2 Partnership : Pekerjaan sdr.P sebagai wiraswasta tidak menyebabkan hambatan dalam berbagi masalah yang dihadapi sehari-hari dengan keluarga. Score : 2 Growth : sdr.P jarang berkumpul dengan keluarga dan berkomunikasi, karena sdr.P bekerja hingga sore hari. Score : 1 Affection : sdr.P jarang mengekspresikan perhatian terhadap keluarga secara langsung. Score : 1 Resolve : Waktu yang tersedia untuk berkumpul dengan keluarga kurang. Score : 1 APGAR score keluarga Nn.S = (7+9+9+7) : 4 = 8 Kesimpulan : Fungsi fisiologis keluarga Nn.S adalah baik. APGAR Sdri. N Terhadap Keluarga Kadang -kadang Jarang/tidak

22

C. FUNGSI PATOLOGIS Fungsi patologis dinilai dengan menggunakan SCREEM score dengan rincian sebagai berikut : PATHOLOGY Nn.S kurang berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, dapat dilihat pada pergaulan mereka yang masih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Religius Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga dalam ketaatannya dalam beribadah. Ekonomi Penghasilan keluarga yang relatif stabil Edukasi Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini cukup, dimana Nn.S berpendidikan sampai perguruan tinggi, ayah dan ibu lulusan SMP dan kakak lulusan SMA Medical Pengetahuan Keluarga ini tentang penyakit Nn.S kurang Sumber : Data Primer, 16 April 2007 Keluarga Nn.S mempunyai fungsi patologis di bidang Sosial dan medical.
2.1 POLA INTERAKSI KELUARGA

SUMBER Sosial

KET + _

_ _ _

Diagram 1. Pola interaksi keluarga Ny.P


Tn. A, 47 th Tn. A, 47 th

Nn.S, 22 th

Sdr. P, 28 th

Kesimpulan : Hubungan antara Nn.S dengan keluarga baik

23

D.

GENOGRAM KELUARGA : Nuclear Family

Fungsi genetik dinilai dari genogram keluarga Alamat lengkap Bentuk Keluarga :

Diagram 1. Genogram Keluarga Tn. K

Ny. S

Sdr.A

Nn. S

Kesimpulan: Riwayat appendicitis supuratif akut tidak ditemukan pada anggota keluarga lainnya.

24

BAB III IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN 3.1 Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga
3.1.1 Faktor Perilaku Keluarga

Nn.S adalah seorang perempuan mengeluh nyeri perut bagian kanan bawah sejak 4 hari. Ayah, ibu dan kakaknya belum banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan khususnya bahaya yang ditimbulkan oleh appendicitis akut. Anggota keluarga Nn.S sangat memperhatikan kesehatan Nn.S hal ini terlihat saat pasien dating ditemani ibu dan kakaknya. Saat anggota keluarga sakit biasanya pertama berobat ke bidan setempat, setelah dirasa belum ada perubahan maka akan berobat ke puskesmas. 3.1.2 Faktor Non Perilaku Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga berkecukupan. Sumber penghasilan berasal dari ayah dan ibunya. Rumah yang dihuni keluarga ini cukup memadai, karena cukup memenuhi standar kesehatan. Pencahayaan ruangan cukup, ventilasi cukup, fasilitas WC dan kamar mandi yang cukup bersih. Dapur memiliki akses udara yang bebas dan pencahayaannya cukup. Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi oleh keluarga ini jika sakit adalah bidan. Diagram 3. Faktor Perilaku dan Non Perilaku
Keluarga Nn.S Sikap: Keluarga cukup memperhatikan kesehatan pasien Pelayanan Kesehatan: Jika sakit Nn.S berobat ke bidan

Lingkungan: Keluarga cukup memahami pentingnya kebersihan lingkungan terhadap kesehatan pasien

Pengetahuan : Keluarga kurang mengetahui penyakit pasien 25

3.2 Identifikasi Lingkungan Rumah


3.2.1 Lingkungan Luar Rumah

Rumah Nn.S mempunyai halaman,dibagian rumah dan samping bersebelahan dengan rumah tetangganya dan dibelakang mempunyai pekarangan yang tidak dirawat. Keluarga pasien tidak memiliki hewan ternak. Gambar 1. Depan Rumah Gambar 2. Samping Rumah Gambar 3. Belakang Rumah
3.2.2 Lingkungan Dalam Rumah

Dinding rumah terbuat dari batako sedangkan lantai rumah terbuat dari semen yang dilapisi keramik. Rumah tersebut terdiri dari 8 ruangan yaitu satu ruang tamu, satu ruang santai keluarga, empat kamar tidur, satu dapur gabung ruang makan, dan satu kamar mandi. Rumah ini mempunyai tiga pintu untuk keluar masuk pada pintu depan, samping dan pintu dapur, serta beberapa jendela kaca dibagian depan rumah dan kamar. Ventilasi udara dan pencahayaan cukup baik.

26

BAB IV DAFTAR MASALAH 4.1 MASALAH MEDIS : Appendicitis supuratif akut 4.2 MASALAH NON MEDIS : Tingkat pengetahuan keluarga Nn.S tentang kesehatan kurang. 4.3 PERMASALAHAN PASIEN Diagram 5. Permasalahan Nn.S
Nn.S 22 th Appendicitis akut Tingkat pengetahuan keluarga Nn.S tentang

4.4 MATRIKULASI MASALAH Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. (Azrul, 1996) Tabel 7. Matrikulasi masalah No 1. Daftar Masalah P Tingkat pengetahuan 5 keluarga Nn.S tentang kesehatan kurang Keterangan : I : Importancy (pentingnya masalah) P : Prevalence (besarnya masalah) S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah) SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah) T : Technology (teknologi yang tersedia) R : Resources (sumber daya yang tersedia) Mn : Man (tenaga yang tersedia) Mo : Money (sarana yang tersedia) Ma : Material (pentingnya masalah) Kriteria penilaian : I S 5 T SB 4 2 Mn 4 R Mo Ma 3 4 Jumlah IxTxR 9.600

27

1 2 3 4 5

: tidak penting : agak penting : cukup penting : penting : sangat penting

4.5 PRIORITAS MASALAH Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah keluarga Nn.S adalah sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan keluarga Nn.S tentang kesehatan kurang.

Kesimpulan : Prioritas masalah yang diambil adalah tingkat pengetahuan keluarga Nn.S tentang kesehatan kurang, sehingga mempengaruhi kondisi kesehatannya.

28

BAB V TINJAUAN PUSTAKA

5.1 Definisi Apendisitis akut adalah suatu radang yang timbul secara mendadak pada apendik dan merupakan salah satu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui. Apendisitis akut dicetuskan oleh berbagai faktor yang dapat menimbulkan penyumbatan, diantaranya hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks dan cacing ascaris. 5.2 Anatomi Appendix merupakan organ berbentuk cacing, panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm) dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi, appendix berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kea rah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, dibelakang kolon asendens, atau ditepi lateral kolon asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n. Vagus yang mengikuti a.mesenterika superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari n.torakalis X. oleh karena itu, nyeri visceral pada apendisitis bermula di sekitar umbilicus. Perdarahan apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan arteri kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami gangrene.

29

5.3 Fisiologi Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir kedalam sekum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis apendisitis. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh. 5.4Etiologi Apendisitis akut merupakan infeksi bacteria. Berbagai hal berperan sebagai factor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan factor yang diajukan sebagai factor pencetus disamping hyperplasia jaringan limf, fekalit (feses keras), tumor apendiks, dan cacing askariasis dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosaapendiks karena parasit seperti E. hystolitica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut. 5.5 Patofisiologi Patologi apendisitis dapat dimulai dimukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Usaha pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus atau adneksa sehingga terbentuk masa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrate apendiks. Didalamnya dapat terjadi proses nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.

30

Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut yang akan menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai mengalami eksaserbasi akut. 5.6 Gejala Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat celcius. Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut. 1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal. 2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare). Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya.

31

Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas. 1. Pada anak-anak Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan. Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntah- muntah dan anak menjadi lemah dan letargik. Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi. 2. Pada orang tua berusia lanjut Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi. 3. Pada wanita Gejala apendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan. Gambaran klinis apendisitis akut Tanda awal nyeri mulai di epigastrium atau region umbilikalis disertai mual dan anoreksia Nyeri pindah ke kanan bawah menunjukkan tanda rangsangan peritoneum local dititik McBurney Nyeri tekan Nyeri lepas Defans muskuler

Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung

32

Nyeri kanan bawah pada tekanan kiri (rovsing sign) Nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg sign) Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak, seperti bernafas dalam, berjalan, batuk, mengedan

5.7 Penatalaksanaan Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendiktomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang baik. Penundaan tindakan bedah sambil pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Apendiktomi bisa dilakukan secara terbuka atau pun dengan cara laporoskopi. Pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak perlu diberikan antibiotik, kecuali pada apendisitis gangrenosa atau apendisitis perforata. Apendiktomi dapat dilakukan secara terbuka ataupun dengan cara laparoskopi. Bila apendiktomi terbuka, incise McBurney paling banyak dipilih oleh ahli bedah. TEKNIK APENDIKTOMI McBurney 1. Pasien berbaring terlentang dalam anastesi umum ataupun regional. Kemudian dilakukan tindakan asepsis dan antisepsis pada daerah perut kanan bawah. 2. Dibuat sayatan menurut Mc Burney sepanjang kurang lebih 10 cm (gambar 40.1.a) dan otot-otot dinding perut dibelah secara tumpul menurut arah serabutnya, berturut-turut m. oblikus abdominis eksternus, m. abdominis internus, m. transverses abdominis, sampai akhirnya tampak peritoneum (gambar 40.1.b).

3. Peritoneum disayat sehingga cukup lebar untuk eksplorasi (gambar 40.2.a) 4. Sekum beserta apendiks diluksasi keluar (gambar 40.2.b)
33

5. Mesoapendiks dibebaskan dann dipotong dari apendiks secara biasa, dari puncak kea rah basis (gambar 40.3.a dan 40.3.b) 6. Semua perdarahan dirawat.

7. Disiapkan tabac sac mengelilingi basis apendiks dengan sutra, basis apendiks kemudian

dijahit dengan catgut (gambar 40.4.a) 8. Dilakukan pemotongan apendiks apical dari jahitan tersebut (gambar 40.4.b)

9. Puntung apendiks diolesi betadine

34

10. Jahitan tabac sac disimpulkan dan puntung dikuburkan dalam simpul tersebut. Mesoapendiks diikat dengan sutra (gambar 40.5.a dan 40.5.b) 11. Dilakukan pemeriksaan terhadap rongga peritoneum dan alat-alat didalamnya, semua perdarahan dirawat. 12. Sekum dikembalikan ke abdomen.

13. Sebelum ditutup, peritoneum dijepit dengan minimal 4 klem dan didekatkan untuk

memudahkan penutupannya. Peritoneum ini dijahit jelujur dengan chromic catgut dan otototot dikembalikan (gambar 40.6)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


35

6.1 Kesimpulan Diagnosis Holistik : Nn.S 22 tahun, dengan Appendicitis akut dengan hubungan antar anggota keluarga cukup baik. Dapat dilihat dari ayah, ibu dan kakak pasien yang sangat memperhatikan kesehatan pasien. 1. Segi Biologis Appendicitis supuratif akut 2. Segi Psikologis Penderita tinggal bersama ayah, ibu dan kakaknya di rumah. Nn.S adalah seorang mahasiswa. Hubungan Nn.S dan keluarga cukup terjalin dengan baik dan saling memperhatikan, walaupun Nn.S, ayah, ibu dan kakaknya kesehariannya memiliki kesibukan masing-masing, tetapi selalu berkomunikasi setiap hari. Hal ini terbukti pada saat pasien memeriksakan diri ibu dan kakak pasien setia menemani pasien. 3. Segi Sosial Ekonomi dan Budaya a. Status ekonomi mencukupi kebutuhan b. Penyakit Nn.S mengganggu aktifitas sehari-hari. c.Kondisi lingkungan dan rumah yang cukup memenuhi standar kesehatan. d. Kurang berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. 6.2 SARAN 1. Promotif Nn. S dan keluarga perlu diberikan penjelasan mengenai appendicitis akut dan pengelolaan pasca bedah. 2. 3. Preventif Kuratif Mengatur pola makan sehat (tinggi serat) dan olahraga teratur. Keluarga harus mengingatkan Nn. S untuk teratur kontrol untuk evaluasi pasca bedah. 4. Rehabilitatif

36

Penderita dianjurkan untuk tetap aktif sesuai kemampuan dalam kegiatan masyarakat untuk mengurangi stres dan mengembalikan kepercayaan diri penderita.

37

DAFTAR PUSTAKA

1. Grace, Pierce. A., Neil R. Borley., At a Glance, Edisi 3. Erlangga, Jakarta, 2007, hlm.106107. 2. Mansjoer, A., Suprohaita., Wardani, W.I., Setiowulan, W., editor., Bedah Digestif, dalam Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga, Jilid 2, Cetakan Kelima. Media Aesculapius, Jakarta, 2005, hlm. 307-313. 3. Mittal, V.K., Goliath, J., Sabir, M., Patel, R., Richards, B.F., Alkalay, I., ReMine, S., Edwards,M., Advantages of Focused Helical Computed Tomographic Scanning With Rectal Contrast Only vs Triple Contrast in the Diagnosis of Clinically Uncertain Acute Appendicitis, Archives of Surgery, http://archsurg.amaassn.org/cgi/content/full/139/5/495, Mei 2004, 139(5): 495-500
4. Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed: Ke-6.

Jakarta: EGC. 5. Reksoprodjo, dkk. 2005. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara,Tangerang, hlm 115-118. 6. Sjamsuhidajat, R., Jong, W.D., editor., Usus Halus, Apendiks, Kolon, Dan Anorektum, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. EGC, Jakarta, 2005,hlm.639-645. 7. Simpson, J., Humes, D. J., Acute Appendicitis, BMJ, http://www.bmj.com/cgi/content/full/333/7567/530, 9 September 2006, 333: 530-536. 8. Zeller, J.L., Burke, A.E., Glass, R.M., Acute Appendicitis, JAMA, http://jama.amaassn.org/cgi/reprint/298/4/482, 15 Juli 2007, 298(4): 482.

38