Anda di halaman 1dari 27

CASE REPORT

I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Agama Tgl Pemeriksaan : Tn.Yayan Yanto : Laki-laki : 40 tahun : Kampung Sudimampir RT 04 RW 01 : Islam : 9 april 2012

Tempat Pemeriksaan : Poliklinik THT

II. ANAMNESIS Anamnesis : Autoanamnesis

Keluhan Utama Keluar cairan dari telinga kiri Riwayat Penyakit Sekarang Sejak 3 hari yang lalu pasien mengeluh keluarnya cairan berwarna bening dari telinga kiri yang terus menerus dan tidak terlalu banyak. Keluhan disertai dengan nyeri di telinga kiri, demam, nyeri kepala dan gangguan pendengaran.

3 minggu yang lalu pasien mengalami batuk pilek dan tidak datang ke dokter untuk mengobati penyakitnya dikarenakan kesibukan di kantor dan menganggap itu sakit yang ringan. 2 minggu yang lalu pasien merasakan telinganya terasa penuh dan nyeri, disertai gangguan pendengaran yang semakin parah dan demam. 1 minggu yang lalu pasien berenang dan semenjak saat itu pasien merasakan keluhan semakin berat. Pasien sudah pernah berobat ke dokter semenjak keluarnya cairan dari telinganya dan diberikan obat tetes telinga,tetapi keluhan tidak kunjung mereda sehingga pasien memutuskan untuk berobat ke dustira. Keluhan tidak disertai nyeri menelan dan rasa mengganjal di tenggorokan. Riwayat tidur mengorok disangkal pasien. Pasien baru pertama kali merasakan keluhan tersebut. Keluhan tidak disertai dengan rasa nyeri di tulang belakang telinga Keluhan tidak disertai dengan sakit kepala dan penurunan kesadaran Keluhan tidak didahului riwayat mengkorek-korek telinga, benturan pada telinga maupun kemasukan benda asing/ serangga. Keluhan tidak disertai gatal dan penurunan pendengaran Keluhan tidak disertai keluar cairan berwarna putih kekuningan yang berbau Riwayat alergi obat tidak ada

III. PEMERIKSAAN FISIK A.Status generalis Keadaan umum Kesadaran Kesan sakit Tanda vital : kompos mentis : sakit sedang : T : 110/70 mmHh N : 88 x/menit (Regular, equal, isi cukup) R : 20 x/menit S : 38,60 C Berat Badan Tinggi badan Kepala Mata : 60 Kg : 170 cm : simetris : Sklera ikterik -/Konjungtiva anemis -/Leher Toraks : lihat status lokalis : Bentuk dan gerak simetris Cor : Bunyi Jantung I dan II murni regular

Pulmo : VBS kanan = kiri, Ronchi -/-, Wheezing -/-

Abdomen

: Datar lembut. Bising Usus (+) normal, Nyeri tekan (-) Hepar : tidak teraba Lien : tidak teraba

Genitalia Ekstremitas Neurologis

: tidak dilakukan pemeriksaan : tidak ada kelainan : Refleks Fisiologis +/+ Refleks Patologis -/-

Pemeriksaan saraf cranial :

Nervus Cranial I : Dalam batas normal Nervus Cranial II : Dalam batas normal Nervus Cranial III : Dalam batas normal Nervus Cranial IV : Dalam batas normal Nervus Cranial V : Dalam batas normal Nervus Cranial VI: Dalam batas normal Nervus Cranial VII: Dalam batas normal Nervus Cranial VIII: Dalam batas normal Nervus Cranial IX : Dalam batas normal Nervus Cranial X: Dalam batas normal Nervus Cranial XI: Dalam batas normal Nervus Cranial XII: Dalam batas normal

B. Status lokalis 1) Telinga Kelainan Preaurikular Kelainan kongenital Radang dan tumor Trauma Aurikula Kelainan kongenital Radang dan tumor Trauma Retroaurikula Edema Hiperemis Nyeri tekan tragus Nyeri pergerakan aurikula Sikatriks Fistula Fluktuasi Canalis akustikus eksterna Kelainan kongenital Kulit (-) Tenang (-) Tenang Auris Dextra (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Auris Sinistra (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-)

Sekret Serumen Edema Jaringan granulasi Massa Kolesteatoma Membran timpani Warna Intak Reflek Cahaya

(-) (-) (-) (-) (-) (-) Hiperemis (-) (+) cone of light (+)

(+) (-) (-) (-) (-) (-) Hiperemis (-) (-) Cone of light (-)

Tes Pendengaran Tes Pendengaran Tes suara Auris Dextra Jarak 1 meter terdengar suara bisikan Rinne Weber Schwabah (+) (-) Sama dengan penderita Auris Sinistra Jarak 1 meter terdengar suara bicara normal (-) Lateralisasi ke telinga kiri Memanjang

Kesan : Tuli konduktif telinga kiri derajat ringan 2) Hidung Pemeriksaan Keadaan luar Rhinoskopi anterior Bentuk dan Ukuran Mukosa Sekret Concha inferior Dekstra Dalam batas normal Tenang (+) Hiperemis (-) Eutrophi Sinistra Dalam batas normal Tenang (+) Hiperemis (-) Eutrophi

Tidak ada deviasi Septum Polip/tumor + Pasase udara + -

Mukosa Rhinoskopi Posteior Sekret Koana Torus tubarius Fossa Rosenmuller Muara tuba Eustachius

Hiperemis (-) (-) Terbuka

Hiperemis (-) (-) Terbuka

Hiperemis (-) Hiperemis (-) , massa (-) Tertutup

Hiperemis (-) Hiperemis (-), massa (-) tertutup

Pemeriksaan Sinus Sinus Paranasal Transiluminasi : 4 4 4 4

3) Mulut, Tenggorokan dan laring Keterangan Mulut Mukosa mulut Lidah Pallatum molle Gigi geligi Hiperemis (-), tenang Gerakan ke segala arah Tenang
87654321 12345678 87654321 12345678

Uvula

Tenang, hiperemis (-), terletak ditengah

Halitosis Tonsil Mukosa Besar Kripta Detritus

(-)

Tenang T1-T1 Tidak melebar (-)

Faring

Mukosa Granula

tenang Tidak ada

Laring (Laringoskop Indirek)

Epiglotis Kartilago arytenoid Plika aryepilotis Plika vestibularis Plika vokalis Rima glottis Cincin trachea

Tenang Tenang +/+ Tenang +/+ Tenang +/+ Tenang +/+, gerak simetris Terbuka Ditengah

4) Maksilofacial Bentuk Parese n. Cranialis : simetris : tidak ada

5) Kelenjar Getah Bening Kelenjar getah bening : tidak teraba pembesaran

IV. RESUME Seorang laki-laki, 40 tahun datang ke Poliklinik THT RS. Dustira dengan keluhan utama Othore Dari anamnesis khusus didapatkan Sejak 3 hari yang lalu pasien mengeluh othore yang terus menerus dan tidak terlalu banyak. Keluhan disertai dengan othalgia, febris, chepalgia dan gangguan pendengaran. 3 minggu yang lalu pasien mengalami rhinofaringitis. 2 minggu yang lalu pasien merasakan othalgia, disertai gangguan pendengaran dan febris. 1 minggu yang lalu pasien berenang sehingga keluhan semakin berat. Pasien sudah pernah berobat ke dokter dan diberi obat tetes telinga. Riwayat Tonsilitis kronik tidak ada. Riwayat tidur mengorok tidak ada. Keluhan baru pertama kali dirasakan. Keluhan tidak disertai dengan Mastoiditis. Keluhan tidak disertai dengan Meningitis. 10

Keluhan tidak didahului Trauma pada telinga. Keluhan tidak disertai otitis eksterna. Riwayat othore tidak ada. Riwayat alergi obat tidak ada

III. PEMERIKSAAN FISIK A.Status generalis B. Status lokalis : dalam batas normal :

1) Auris dextra et sinistra Preaurikular Aurikula Retroaurikula Canalis akustikus eksterna Membran timpani Tes pendengaran : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Hiperemis -/-, Reflek cahaya +/-, perforasi -/+ : Tuli konduktif auris sinistra derajat ringan

2) Cavum nasi Bentuk dan Ukuran Rhinoskopi anterior : Dalam batas normal : mukosa hiperemis -/-

11

Sekret -/Concha nasalis inferior dekstra eutrophi Concha nasalis inferior dekstra eutrophi Rhinoskopi Posteior : Mukosa Sekret Koana Torus tubarius Fossa Rosenmuller : Hiperemis -/: -/: Terbuka +/+ : Hiperemis -/: Hiperemis -/-, massa -/: Tertutup +/+

Muara tuba Eustachius

Sinus Sinus Paranasal

: Dalam batas normal

3) Mulut, Tenggorokan dan laring Rongga Mulut Tonsil : Dalam batas normal : Mukosa Besar Kripta Detritus Faring : Mukosa Granula : Tenang : T1-T1 : tidak melebar : (-) : tenang : tidak ada

12

Laring (Laringoskop Indirek) 4) Maksilofacial 5) Kelenjar Getah Bening

: Dalam batas normal

: Dalam batas normal : KGB tidak teraba pembesaran

V. DIAGNOSA BANDING Otitis Media Akut Stadium Supurasi Auris Sinistra Otitis Eksterna Akut VI. DIAGNOSA KERJA Otitis Media Akut Stadium Supurasi Auris Sinistra VII. USUL PEMERIKSAAN 1. Pemeriksaan Lab darah : leukosit, hitung jenis leukosit 2. Kultur dan tes sensitivitas dari apus sekret telinga kiri

VIII. TERAPI Umum : 1. Menjaga agar telinga tidak kemasukan air (tutup bila mandi, tidak boleh berenang) 2. Tidak mengorek telinga 3. Kontrol teratur Khusus : Amoxicillin 500 mg + As. Clavulanat 125 mg 3x1 tablet selama 5 hari Pseudoefedrin HCl 30 mg 3x1 tablet Paracetamol 500 mg 3x1 tablet 13

IX. KONSELING

Kontrol jika obat habis. Minum obat secara teratur, terutama antibiotik harus dihabiskan. Bila sebelum obat habis terdapat keluhan lain, segera kontrol. Bila terdapat gejala batuk, pilek, dan radang tenggorokan segera diobati untuk mencegah terjadinya infeksi yang berkelanjutan pada telinga.

Telinga jangan banyak dimanipulasi misalnya dikorek-korek dengan cutton bud.

IX. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : ad bonam

14

BAB II OTITIS MEDIA AKUT 2.1 Definisi Otitis media akut adalah peradangan akut mukoperiosteum telinga bagian tengah. Infeksi ini termasuk mukosa cavum tympani, tube eustacius, antrum dan selsel udara tulang mastoid, karena ruangan ini berhubungan satu sama lain.1 2.2 Etiologi Otitis media akut (OMA) terjadi karena factor pertahanan tubuh terganggu. Sumbatan tuba eustachius merupakan factor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba eustachius terganggu, pencegahan invaginasi kuman ke dalam telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran nafas atas.2 Kuman penyebab utama OMA ialah bakteri piogenik, seperti Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris dan Pseodomonas aerogenosa. Hemofilis influenza sering ditemukan pada anak yang berusia di bawah 5 tahun.2

15

2.3 Patogenesis Otitis Media Akut Umumnya otitis media berasal dari nasofaring yang kemudian mengernai telinga tengah, kecuali pada kasus yang relative jarang, yang mendapatkan infeksi bakteri melalui trauma yang membocorkan membrane timpani. Stadium awal komplikasi ini dimulai dengan hiperemi dan edema pada mukosa tuba eustachius bagian faring, yang kemudian lumenya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa.3 Gangguan ventilasi telinga tengah ini disertai oleh terkumpulnya cairan eksudat dan transudat dalam telinga tengah, akibatnya telinga tengah menjadi sangat rentan tarhadap infeksi bakteri yang datang langsung dari nasofaring. Selanjutnya factor ketahanan tubuh penjamu dan virulensi bakteri akan menentukan progresifitas penyakit.3 Perjalanan otitis media akut pada umumnya melalui stadium berikut :3 1. Peradangan, 2. Supurasi, 3. Komplikasi, 4. Resolusi .

16

2.3.1 Stadium peradangan Stadium awal otitis media akut ditandai oleh hyperemia dan edem mukoperiosteum telinga tengah dan mastoid. Pada membrane tympani tampak corakan pembuluh darah sepanjang lengan maleus dan anulus. Kemudian terjadi eksudasi cairan serofibrinosa ke dalam telinga tengah. Jumlah cairan bertambah smpai mengisi kavum timpani dan mendesak membrane timpani.3 2.3.2 Stadium supurasi Bila penyakit berlanjut dan tidak dilakukan miringotomi, maka membrane tympani akan pecah sendiri, biasanya di kuadran anteroinferior, tetapi ada kalanya di setengah bagian posterior membrane tympani. Cairan yang keluar pada mulanya serosanguinosa, kemudian segera menjadi mukopurulen. Mukosa jelas menebal dan berwarna merah dengan corakan yang banyak neoapiler. Proses ini terjadi pada seluruh telinga tengah dan mastoid., sehingga menyumbat sel-sel mastoid yang kecilkecil. Mukosa yang menebal dapat menutup aditus dan antrum. 3 2.3.3 Stadium komplikasi Komplikasi utama mastoiditis dengan perluasan sekunder ke sinus venosus, meningen atau labirin timbul karena drainase yang tidak adekuat melewati aditus ad antrum akibat mukosa atik menebal. Akibatnya mastoid terisi oleh mukosa granuler yang edem serta sekrat mukopus yang mempunyai tekanan. Kemudian proses ini akan menyebabkan absorpsi dinding tulang mastoid yang tipis, meluas sepanjang alur 17

vena ke perifer dan merusak periosteum mastoid. Proses pada stadium awal bersifat refersibel, sedang yang lanjut memerlukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki drainase sebelum terjadi perlasan ke sinus ateral atau meningen.3 2.3.4 Stadium resolusi Pada stadium ini infeksi mereda dan terjadi penyembuhan telinga. Secret telinga segera kering. Penebalan mukosa dan edem akan berkurang perlahan-lahan, namun bila sudah embali normal maka pendengaran lambat laun akan kembali normal.3 2.4 Gejala klinis Gejala klinis yang timbul pada otitis media akut berbeda-beda tergantung dari stadium penyakit. 3

Gambar 1. Membrane tympani pada otitis media akut.

18

2.4.1 Stadium peradangan Pada mulanya timbul rasa penuh di telinga kemudian menungkat menjadi rasa nyeri di dalam telinga. Hal ini disertai dengan gejala toksis dan demam. Mula-mula gangguan pendengaran hanya ringan, tetapi dengan bertambahnya cairan yang terkumpul di telinga tengah, maka ketulian semakin berat.3 2.4.2 Stadium supurasi Setelah telinga mengeluarkan cairan, keluhan nyeri akan hilang karena penekanan pada membrane tympani hilang. Gejala toksemia dan demam mulai berkurang. Kini perubahan mukosa menyebabkan pendengaran jelas berkurang. Bila mukopustertahan di mastoid, akan terasa nyeri serta nyeri tekan di belakang telinga dan merupakan pertanda terhadap kesulitan lebih lanjut.3 2.4.3 Stadium komplikasi Dengan keluarnya cairan dari telinga, keluhan nyeri menghilang untuk sementara waktu, kemudian gejala ringan timbul kembali. Terjadi demam subfebris dan toksisitas yang disertai oleh rasa nyeri pada daerah mastoid. Hal ini dapat terjadi walaupun secret yang keluar dari telinga tengah sudah berkurang, sehingga menurut istilah orang awam sekretnya mengalir ke dalam yang merupakan tanda bahaya. Dalam hal ini istilah orang awam tersebut memang sesuai dengan kenyataan.3

19

Bila tidak diobati atau oleh infeksi yang virulen, penyakit dapat berlanjut ke daerah mastoid, meluas ke sinus lateralis, labirin, meningen atau otak. 3 Tanda klinis yang timbul pada stadium ini biasanya terdapat nyeri tekan dan penebalan periosteum kortes mastoid, kemudian berlanjut menjadi massa yang berfluktuasi bila terjadi abses subperiosteum.3 2.4.4 Stadium resolusi Perforasi membrane tympani yang kecil dapat cepat menyembuh, biasanya tanpa terbentuk jaringan parut, tetapi kadang2 terbentuk parut atrofi kecil. Ini merupakan titik lemah pada membrane tympani, dan sewaktu-waktu dapat bocor kembali bila infeksi terjadi lagi serta cepat mengeluarkan secret telinga, tetapi hanya disertai otalgia ringan.3 2.5 Pemeriksaan Otoskopi 2.5.1 Stadium peradangan Pada pemeriksaan tampak membrane tympani suram atau kebiruan dengan corakan pembuluh darah sepanjang legan maleus dan annulus. Bila penyakit berlanjut, membrane tympani mnebal dan merah. Pars tensa menggembung dan bagianbagiannya tidak jelas. Hal ini menunjukkan bahwa membrane tympani terancam perforasi.3

20

2.5.2 Pemeriksaan Otoskopi Stadium supurasi Pada pemeriksaan tampak secret mukoprulen yang sering berpulsasi, keluar melalui perforasi pada pars tensa membrane tympani. Bila dapat terlihat tampak mukosa menebal, berwarna merah dan lembut seperti beludru. Pada perforasi yang keci mungkin tampak mukosa yang edem menonjol keluar melalui lubang perforasi dan secret keluar dari tengahnya, hal ini disebut perforasi putting susu.3 Gambaran radiologik otitis media supuratif akut stadium 1 dan 2 menunjukkan sistem sel mastoid berselubung karena terkumpulnya secret dan edem mukosa. Tidak terdapat perubahan yang detrukif.3 2.5.3 Stadium kompikasi Pada pemeriksaan otoskopi tampak dinding posterosuperior liang telinga menggantung (sagging). Gambaran mebran tympani tidak jelas berbeda dengan sebelumnya. Gambaran radiologis saat ini menunjukkan sel-sel mastoid yang berselubung dan terlihat penipisan (rarefaction) serta batas-batas sel mastoid menghilang.3 2.5.4 Stadium resolusi Penimbunan sedikit cairan steril dapat tetap ada dalam beberapa tahun dalam daerah coalescent di rongga mastoid tanpa menimbulkan gejala. Hal ini kadangkadang dapat terlihat secara radiologik sebagai area radiolusen yang terisolasi.3

21

2.6 Terapi 2.6.1 Stadium peradangan Pada stadium awal, diberikan antibiotic dengan segera dan adekuat. Mengingat efek samping berupa hipersensitivitas, maka penisilin dan sulfonamida sekarang ini digunakan lebih hati-hati, walaupun efektivitasnya terhadap infeksi ini lebih dari 90%. Antibiotic berspetrum luas, seperti tetrasiklin dapat dipergunakan dengan risiko komplikasi yang lebih kecil. Kloramfenikol, streptomisin dan kanamisin digunakan hanya bila keselamatan jiwa terancam, mengingat efek samping agranulositosis dari kloramfenikol serta ototoksisitas dari kedua obat lainnya. Pada anak penisilin sintetik merupakan obat pilihan karena sensitive untuk hemofilus influenza.3 Obat tambahan selain antibiotic adalahdekongestan baik oral maupun nasal. Ini perlu unuk membebaskan sumbatan pada tuba eustachius dan memungkinkan drainase melalui tuba. Tindakan perasat Valsava akan mempercepat resolusi karena cairan diganti udara.3 Pasien dianjurkan untuk istirahat baring, dan diberi antibiotic dan penghangat local, agar dapat beristirahat lebih baik.3 Miringotomi dilakukan bila eksudat terkumpul dan menekan, maka membrane tympani tampak menonjol, hal ini merupakan indikasi untuk meakukan tindakan miringotomi. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengontrol drainase melaui insisi 22

yang akan menyembuh dengan jaringan perut minimal. Untuk ini dipakai dengan ujung pisau yang kecil dan panjang dan dibuat insisi melengkung di bagian inferior membrane tympani di bawah lengan maleus. Kepala harus dijaga agar tidak bengkak mendadak pada waktu malakukan insisi dan sering dibutuhkan narcosis umum pada anak kecil. Ujung pisau hanya masuk sedikit ke teling tengah dan jangan sampai menyentuh mukosa di bawahnya yang sangat sensitif. Insisi harus cukup panjang untuk mendapatkan drainase yang baik dan dilakukan aspirasi cairan dari telinga tengah penghisap yang halus.3 Dipasang tampon pada liang telinga untuk menyerap cairan yang keluar dan diganti 3-4 kali sehari.3 2.6.2 Stadium supurasi Pada waktu didapati secret perlu dilakukan pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas untuk menentukan antibiotic yang paling tept. Karena pemeriksan ini memerlukan waktu sekurang-kurangnya 25-48 jam, maka terapu segera diberikan dengan antibiotic berspektrum luas yang dapat diganti bila terdapat kuman yang tidak sesuai.3 Dengan adanya secret, antibiotiktopikal dapat diberikan untu mengobati mukosa telinga tengah dan melindungi kulit liang teinga dari otitis eksterna sekunder.3

23

Perawatan umum seperti istirahat baring, peberian dekongestan, dan inflasi dapat diberikan seperti yang telah diberikan diatas.3 2.6.3 Stadium komplikasi Bila sebelumnya tidak diberi terapi, pada stadium ini penyembuhan masih bisa terjadi, pada beberapa kasus, dengan peberian antibiotic. Bila pasien sebelumnya sudah diobati maka penderita harus dirawat untuk pengawasan yang ketat, karena keadaan ini merupakan stadium lanjut dan tindakan pembedahan mungkin sanagat diperlukan.3 Pada stadium ini biasanya perlu dilakukan operai mastoid untuk drainase abses. Dilakukan mastoidektomi sederhana. Untunglah pembedahan ini jarang berlanjut sampai stadium ini, berkat diagnosis dan terapi dini. Namun di beberapa daerah dan pada kasus-kasus terlantar, prosedur ini masih sering perlu dikerjakan.3 Untuk menentukan indikasi pembedahan, pemeriksaan radiologis sangat berguna. Harus dibedakan gambaran perselubungan pada astoid yang ditimbulkan oleh penebalan mukosa atau penumpukan cairan, yang terlihat dari gambaran hancurnya septum-septum serta terbentuknya abses. Demam dan terapi yang gagal merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan dengan segera.3

24

2.6.4 Stadium resolusi Terapi pada stdium resolusi tidak begitu penting, selain pemberian roboransia serta perlu pengawasan yang cermat agar proses penyembuhan dapat berlangsung tanpa gangguan. Bila penyembuhan tidak terjadi dalam 10-14 hari, menandakan adanya infeksi persisten di hidung dan tenggorok.3 Terapi harus ditujukan untuk mencegah berulangnya otitis media akut. Untuk itu pasien aik anak ataupun dewasa perlu diberi tahu pentingnya mempertahankan aerasi telinga tengah. Diinstruksikan kepada pasien agar melakukan perasat Valsava, bila dirasakan telinga penuh atau tertutup. Hal ini penting, terutama bila ada infeksi saluran nafas atas.3 Hidung dan nasofaring harus dievaluasi denganteliti, untuk mencari factor penyebab, yang harus dihilangkan agar kekambuhan otitis media dapat dihindari. Untuk ini termask pemeriksaan radiologok sinus paranasal dan pemeriksaan ansofaringuntuk melihat adenoid. Tindakan adenoidektomi parlu dikerjakan bila terdapat adenoid yang besar dan terinfeksi.3 Pasien dianjurkan untuk segera datang berobat bila ada tanda-tanda dini infeksi yang berat.3

25

BAB III PENUTUP Otitis media akut adalah peradangan akut mukoperiosteum telinga bagian tengah. Kuman penyebab utama OMA ialah bakteri piogenik, seperti Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris dan Pseodomonas aerogenosa. Umumnya otitis media berasal dari nasofaring yang kemudian mengernai telinga tengah, kecuali pada kasus yang relative jarang, yang mendapatkan infeksi bakteri melalui trauma yang membocorkan membrane timpani. Perjalanan otitis media pada umumnya melalui stadium berikut : 1. Peradangan, 2. Supurasi, 3. Komplikasi, 4. Resolusi . Gejala klinis yang timimbulkan dan penatalaksanaan pada OMA berbedabeda sesuai dengan stadium penyakit.

26

DAFTAR PUSTAKA 1. Helmi. Otitis Media Supuratif Kronis. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2005. 37-8. 2. Djafar, A. Zainul., Helmi., Restuti, D., Ratna. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2007. 66-7. 3. Ballenger ,J.J. Penyakit Telinga,Hidung,Tenggorok,Kepala dan Leher. Edisi 13 jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara.1994.

27