Anda di halaman 1dari 17

1.

Motivasi
Pertanyaan yang dapat menggali aspek motivasi antara lain : 1. Mengapa anda memutuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan ini ? 2. Apa yang membuat anda menjadi tertarik dengan perusahaan ini ? 3. Tanggung jawab apa yang anda anggap penting dalam pekerjaan ? 4. Tantangan apa yang anda cari dalam pekerjaan ? 5. Sebutkan dua hal yang memotivasi anda dalam bekerja. 6. Apa yang dapat memotivasi anda dalam kehidupan pribadi anda ? 7. Apa yang dapat memotivasi anda dalam menyelesaikan tugas yang sulit ? 8. Apa yang dapat memotivasi anda agar menjadi sukses dalam pekerjaan ? 9. Apa alasan anda keluar dari perusahaan sebelumnya ? 10. Apa yang membuat anda keluar dari perusahaan sebelumnya ? 11. Selama perjalanan karir anda, posisi mana yang paling anda sukai ? 12. Mengapa anda ingin mengubah karir ? (bila yang bersangkutan berpindah profesi/karir) 13. Apa arti bekerja bagi anda ?
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

2. Ketahanan Terhadap Tekanan (Stres)


Pertanyaan yang dapat menggali aspek ketahanan terhadap tekanan/stres antara lain : 1. Apakah anda dapat bekerja di bawah tekanan ? 2. Pernahkan anda bekerja di bawah tekanan ? Ceritakan bagaimana anda menyikapinya? 3. Dalam lingkungan kerja seperti apa anda merasa nyaman ? (Terstruktur atau tidak ?) 4. Seandainya ada konsumen yang marah karena hal yang bukan dilakukan anda, bagaimana anda menyikapinya ? 5. Bagaimana anda menyikapi kritik yang diberikan kepada anda ? 6. Seandainya anda mendapatkan pekerjaan yang tidak anda harapkan, apa yang akan anda lakukan ? 7. Apa yang anda anggap sebagai hal yang berat untuk dilakukan dalam pekerjaan ? 8. Seandainya anda dihadapkan dengan dua tugas yang harus diselesaikan pada saat yang bersamaan, apa yang akan anda lakukan ? 9. Masalah terbesar apa yang pernah anda hadapi ? Bagaimana anda mengatasinya ?
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

3. Inisiatif
Pertanyaan yang dapat menggali aspek inisiatif antara lain : 1. Apa yang anda ketahui tentang perusahaan ini ? Dan darimana serta bagaimana anda mengetahuinya ?

2. Kriteria apa yang anda gunakan untuk mengevaluasi perusahaan yang anda harapkan menjadi tempat kerja anda ? 3. Ceritakan mengenai pendidikan dan pelatihan yang pernah anda ikuti. 4. Bagaimana anda mendapatkan pekerjaan selama ini ? (Apakah melalui iklan, referensi, dsb) - untuk yang sudah pernah bekerja.
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

4. Sikap kerja
Pertanyaan yang dapat menggali aspek sikap kerja antara lain : 1. Seandainya anda ditempatkan di cabang perusahaan yang jauh dari lokasi anda, bagaimana anda menyikapinya ? 2. Seandainya ada pengalihan tanggung jawab pada pekerjaan yang anda pegang, bagaimana anda menyikapinya ? 3. Ceritakan mengenai pengalaman kerja anda. (untuk yang sudah bekerja) 4. Apa tanggung jawab anda pada posisi tersebut ? (untuk yang sudah bekerja)
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

5. Kepercayaan Diri
Pertanyaan yang dapat menggali aspek kepercayaan diri antara lain : 1. Menurut anda, apa definisi/arti kesuksesan ? Dan seberapa besar pengaruhnya bagi anda ? 2. Menurut anda, apa definisi/arti kegagalan ? Dan seberapa besar pengaruhnya bagi anda ? 3. Jelaskan ukuran/standar kesuksesan bagi anda. 4. Pekerjaan apa yang telah anda selesaikan dengan sukses ? 5. Apa peran anda dalam kesuksesan tersebut ? 6. Bagaimana anda memandang diri sendiri saat ini ? Apakah sudah sukses ?
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

6. Kemampuan Berpikir Analitis


Termasuk di dalam kemampuan berpikir analitis adalah "Kemampuan Memecahkan Masalah" (problem solving) dan "Kemampuan Membuat Keputusan" (decision making). Pertanyaan yang dapat menggali aspek kemampuan berpikir analitis antara lain : 1. Masalah tersulit apa yang pernah anda alami ? Apa yang anda lakukan ? Bagaimana penyelesaiannya ? 2. Hambatan atau kendala apa yang ditemukan selama kuliah atau belajar ? Bagaimana cara mengatasinya ? 3. Ceritakan mengenai persoalan yang pernah anda pecahkan.

4. Ceritakan situasi dimana anda pernah memiliki masalah dengan pengambilan keputusan. 5. Ceritakan dimana anda harus membuat suatu keputusan. 6. Ceritakan bagaimana anda pernah memecahkan masalah yang sulit. 7. Ceritakan mengenai permasalahan yang paling sering anda hadapi dalam pekerjaan. 8. Apakah anda pernah menyelesaikan suatu permasalahan bersama-sama rekan ? Apa peran anda dalam menyelesaikan masalah tersebut ? 9. Apakah anda pernah diminta untuk menyelesaikan beberapa tugas dalam suatu waktu ? Apa yang anda lakukan ? 10. Bagaimana anda menyelesaikan suatu permasalahan yang muncul tiba-tiba ? 11. Bagaimana anda mengidentifikasikan kedatangan suatu masalah ? 12. Bagaimana anda membuat suatu keputusan penting ? 13. Bagaimana anda memecahkan masalah ? 14. Dalam situasi atau kondisi seperti apa, anda memiliki kemungkinan paling besar untuk berbuat kesalahan ? 15. Keputusan apa yang terasa sulit bagi anda ? Berikan Contohnya ! 16. Menurut anda, faktor apa yang paling menentukan suksesnya seseorang ? 17. Apa yang anda lakukan saat dihadapkan dengan pengambilan keputusan yang penting ? 18. Apa yang anda lakukan saat kesulitan atau tidak dapat memecahkan persoalan yang anda hadapi ? 19. Keputusan tersulit apa yang telah anda buat selama tiga tahun terakhir ? 20. Kapan anda memutuskan untuk berhenti berusaha memecahkan suatu persoalan yang sulit ?
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

7. Kemampuan Pencapaian Keberhasilan (Achievement)


Pertanyaan yang dapat menggali aspek kemampuan pencapaian keberhasilan antara lain : 1. Apakah anda senang mengerjakan pekerjaan/proyek yang sulit ? 2. Apakah anda mempunyai prestasi yang dibanggakan ? Ceritakan ! 3. Apakah anda memiliki inisiatif ? Bagaimana anda menunjukkan hal tersebut ? Ceritakan satu contoh inisiatif yang telah anda ambil. 4. Apakah anda pernah menyelesaikan persoalan yang sulit ? Atau yang sebelumnya anda pikir tidak dapat anda selesaikan ? 5. Bagaimana anda menunjukkan keinginan (willingness) untuk bekerja ? 6. Sebutkan prestasi yang pernah anda capai dalam pekerjaan atau masa kuliah/sekolah ! 7. Sebutkan lima pencapaian terbesar dalam hidup anda ! 8. Apa kegagalan terbesar yang pernah anda alami ? Kekecewaan apa yang anda alami ? 9. Bagaimana anda mengatasi perasaan tersebut ? Dan mengatasi kegagalan tersebut ? 10. Hal atau lingkungan seperti apa yang paling mendorong anda dalam bekerja ? 11. Menurut anda, apa tantangan terbesar dalam pekerjaan ?

12. Sebutkan bagian dari pekerjaan yang paling menantang dan yang paling tidak menantang. 13. Apakah anda termasuk orang yang berani dalam mengambil risiko ? 14. Berdasarkan pengalaman anda, ceritakan secara rinci dalam hal apa anda mengambil risiko untuk menyelesaikan suatu tugas ? 15. Mengapa anda mengambil risiko tersebut ? 16. Risiko apa yang anda hadapi saat mengajukan suatu usulan ? 17. Prestasi apa yang pernah anda dapatkan di sekolah yang tidak dapat anda lupakan ? 18. Prestasi apa yang pernah anda capai dalam bekerja yang mendapatkan penghargaan dari pimpinan atau perusahaan ? (baik penghargaan lisan ataupun penghargaan tertulis atau materi).
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

8. Aspirasi Diri
Pertanyaan yang dapat menggali aspek aspirasi diri antara lain : 1. Mata kuliah (mata pelajaran) apa yang paling anda senangi ? Mata kuliah (mata pelajaran) apa yang paling anda tidak senangi ? Kenapa ? 2. Apa cita-cita anda ketika lulus sekolah ? Ketika lulus kuliah ? 3. Apakah anda berniat melanjutkan sekolah ? Berniat melanjutkan kuliah ? 4. Menurut anda, apakah nilai anda merupakan indikasi terbaik untuk hasil akademik anda ? 5. Kenapa kami harus memilih anda ? 6. Bisakah anda menyebutkan lima kelebihan dan lima kekurangan anda ? 7. Bagaimana pendapat anda mengenai perusahaan ini ?
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

9. Kelemahan Diri
Pertanyaan yang dapat menggali aspek kelemahan diri antara lain : 1. Apakah anda telah mencapai semua target yang telah anda tetapkan ? Bila tidak, mengapa ? 2. Bagaimana anda mengatasi kegagalan dalam pencapaian target tersebut ? 3. Kelemahan apa yang muncul saat anda dihadapkan pada tugas yang sulit ?
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

10. Sosialisasi
Pertanyaan yang dapat menggali aspek sosialisasi antara lain : 1. Ceritakan kegiatan anda di waktu senggang. 2. Kegiatan apa yang anda ikuti di lingkungan anda ? 3. Seandainya anda menjadi anggota suatu organisasi, maka kegiatan apa dan peran apa yang akan anda lakukan dalam organisasi tersebut ?

4. Selain belajar, kegiatan apa saja yang anda ikuti saat masih kuliah atau sekolah ? Posisi apa yang anda pegang ?
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

11. Kemandirian
Pertanyaan yang dapat menggali aspek kemandirian antara lain : 1. Ceritakan keputusan-keputusan penting dalam hidup anda, yang anda anggap sebagai keputusan anda sendiri. Juga ceritakan keputusan penting yang anda anggap bukan keputusan anda sendiri. 2. Mengapa anda memilih jurusan .... ? 3. Dalam pengambilan suatu keputusan, siapa yang berpengaruh dalam diri anda ? 4. Dalam hal-hal apa saja orang-orang tersebut anda sertakan ?
Sumber : gilland-ganesha.com, buku "Sukses Mendapatkan Pekerjaan" - Anna T. Yuniarti, S.Psi.

12. Kepemimpinan
Pertanyaan yang dapat menggali aspek kepemimpinan antara lain : 1. Sebutkan kepribadian yang anda miliki yang mencerminkan kemampuan memimpin. 2. Menurut anda, kualitas apa yang dibutuhkan seorang pemimpin ? 3. Apa yang paling menjadi tantangan bagi seorang pemimpin ? 4. Bagaimana cara anda mendelegasikan suatu tanggung jawab ? 5. Apakah anda membutuhka pengawas dalam bekerja ? 6. Bagaimana cara anda membuat suatu rencana kerja ? 7. Bagaimana cara anda memberikan teguran atau mendisiplinkan bawahan anda ? 8. Seandainya ada bawahan anda yang melanggar aturan perusahaan, bagaimana anda menghadapinya ? 9. Atasan seperti apa yang anda harapkan ? 10. Seandainya anda kelebihan beban kerja, apa yang akan anda lakukan ? 11. Bagaimana cara anda untuk memotivasi sesorang ? 12. Atasan seperti apa yang menurut anda sulit untuk diajak kerja sama ? 13. Bawahan seperti apa yang menurut anda sulit untuk diajak kerja sama ? 14. Atasan seperti apa yang menurut anda tidak adil ? 15. Seandainya anda membuat suatu kebijakan, kemudian bawahan anda banyak yang menentangnya, bagaimana anda mengatasinya ?

Saran-Saran Menghadapi Wawancara

Bagi anda yang dipanggil untuk menjalani wawancara kerja, sebaiknya anda memperhatikan beberapa saran di bawah ini.

Pastikan anda sudah tahu tempat wawancara. Disarankan beberapa hari sebelum wawancara, anda sudah mengetahui tempatnya, bahkan sudah melihat tempatnya. Jika tidak diberitahu terlebih dulu jenis pakaian apa yang harus dipakai, maka gunakan pakaian yang bersifat formal, bersih dan rapi. Baca kembali surat lamaran, CV anda, dan surat panggilan wawancara tersebut. Jangan lupa untuk membawa surat-surat atau dokumen-dokumen tersebut serta peralatan tulis saat wawancara. Mempersiapkan diri menjawab berbagai pertanyaan yang mungkin diajukan pewawancara. Sebaiknya anda berlatih bersama rekan untuk mengantisipasi semua kemungkinan pertanyaan yang akan dilontarkan pewawancara, sehingga pertanyaan apa pun yang diajukan dapat dijawab dengan memuaskan. Anda dapat menggunakan "daftar/contoh pertanyaan umum" (silakan klik) pada situs ini untuk berlatih menjawabnya bersama rekan anda. Sebelum berangkat ke tempat wawancara, berdoalah terlebih dulu sesuai keyakinan anda. Usahakan untuk tiba sepuluh menit lebih awal, jika terpaksa terlambat karena ada gangguan di perjalanan segera beritahu perusahaan (pewawancara). Namun usahakan jangan terlambat, karena banyak perusahaan yang langsung menganggap anda gagal bila terlambat. Sapa satpam atau resepsionis yang anda temui dengan ramah. Jika harus mengisi formulir, isilah dengan lengkap dan rapi. Ucapkan salam (selamat pagi/siang/sore) kepada para pewawancara dan jika harus berjabat-tangan, jabatlah dengan erat (tidak terlalu keras namun tidak lemas). Tetaplah berdiri sampai anda dipersilakan untuk duduk. Duduk dengan posisi yang tegak dan seimbang. Persiapkan surat lamaran, CV anda, dan surat panggilan wawancara. Ingat dengan baik nama pewawancara. Lakukan kontak mata dengan pewawancara. Tetap fokus pada pertanyaan yang diajukan pewawancara. Tunjukkan antusiasme dan ketertarikan anda pada jabatan yang dilamar dan pada perusahaan. Gunakan bahasa formal, bukan prokem atau bahasa gaul; kecuali anda diwawancarai untuk mampu menggunakan bahasa tersebut. Tampilkan hal-hal positif yang pernah anda raih. Tunjukkan energi dan rasa percaya diri yang tinggi, namun jangan berkesan sombong atau takabur. Banyak yang gagal hanya lantaran berkesan sombong, takabur, atau sok tahu. Tunjukkan apa yang bisa anda perbuat untuk perusahaan bukan apa yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada anda. Jelaskan serinci mungkin hal-hal yang ditanyakan oleh pewawancara. Ajukan beberapa pertanyaan bermutu di seputar pekerjaan anda dan bisnis perusahaan secara umum. Berbicara dengan cukup keras sehingga suara jelas terdengar oleh pewawancara.

Akhiri wawancara dengan menanyakan apa yang harus anda lakukan selanjutnya. Ucapkan banyak terima kasih kepada pewawancara atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada anda.
Sumber : gilland-ganesha.com, hanyawanita.com

Persiapan Menghadapi Wawancara


Wawancara adalah bagian dari proses penerimaan karyawan mempunyai berbagai tujuan. Ada yang dimaksudkan untuk lebih mengetahui keterampilan teknis yang dimiliki pelamar, mengetahui kepribadian pelamar, atau mengetahui kemampuan pelamar menangani berbagai hal. Wawancara biasanya dilakukan untuk melengkapi hasil tes tertulis. Hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari tes tertulis akan digali melalui proses wawancara. Dalam hal ini, anda dituntut untuk berusaha menguasai diri anda sendiri (khususnya kelebihan dan kelemahan anda). Juga berusaha menguasai bidang pekerjaan yang anda lamar. Cari Informasi Sebanyak Mungkin dan Berlatihlah Jika anda telah sampai pada tahap wawancara, sebenarnya secara kualitas, anda telah memenuhi persyaratan untuk diterima di perusahaan tersebut. Namun anda dapat gagal hanya karena kurang mengetahui tentang perusahaan tempat anda melamar. Untuk itu, sebaiknya anda juga berusaha mengetahuinya, dengan mencari informasi sebanyakbanyaknya mengenai kebiasaan di perusahaan tersebut. Tidak ada salahnya anda bertanya kepada resepsionis, satpam, atau tukang parkir sekalipun untuk mengetahui kebiasaankebiasaan di tempat tersebut. Pewawancara mana pun kurang menyukai orang yang terlalu tertutup. Usahakan memberikan informasi sejelas-jelasnya mengenai apa yang ditanyakan oleh pewawancara. Jangan pasif, sebaiknya usahakan aktif memberi informasi. Jangan mengesankan anda menyembunyikan sesuatu, namun anda juga jangan terlalu berlebihan dan menyampaikan hal-hal yang tidak relevan. Tetaplah tenang dan mengatakan yang sebenarnya. Uahakan jawaban anda selalu mengindikasikan karakter yang kuat, ulet, dan bersemangat, karena perusahaan mana pun selalu menyukai orang demikian. Sebaiknya anda berlatih bersama rekan untuk mengantisipasi semua kemungkinan pertanyaan yang akan dilontarkan pewawancara, sehingga pertanyaan apa pun yang diajukan dapat dijawab dengan memuaskan. Anda dapat menggunakan "daftar/contoh pertanyaan umum" (silakan klik) pada situs ini untuk berlatih menjawabnya bersama rekan anda. Berbagai Kondisi Ada kalanya wawancara juga dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan anda menghadapi dan menangani berbagai situasi. Untuk yang jenis ini, anda mungkin

menghadapi pewawancara yang akan mendiamkan anda begitu saja selama 5-10 menit sebelum memulai percakapan. Mungkin juga ia akan berpura-pura tidak peduli dan membaca koran ketika anda masuk, atau ia akan mengajukan bantahan-bantahan yang tidak masuk akal terhadap setiap jawaban anda, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol tentang keluarga anda, dan banyak trik lain. Menghadapi kondisi begini, prinsip utama yang harus anda pegang adalah anda benarbenar menginginkan pekerjaan tersebut, sehingga apa pun yang terjadi anda akan menghadapinya dengan baik. Jika anda dicuekin, tetaplah bersikap sopan. Katakan "Saya tertarik dengan pekerjaan ini dan bermaksud menjelaskan kepada Bapak/Ibu mengapa anda harus mempertimbangkan saya untuk posisi ini." Jangan sampai terpengaruh dengan sikap pewawancara yang mungkin tampak aneh. Usahakan tetap tenang dan berpikir positif. Tanamkan dalam benak anda bahwa hal ini hanyalah bagian dari proses yang wajar sehingga anda tidak perlu merasa sakit hati atau kecewa.
Sumber : gilland-ganesha.com, GloriaNet

Cara Berpakaian Yang Baik Dalam Wawancara


Berpakaian yang "baik" dalam wawancara memang tidak dapat digeneralisasikan karena setiap perusahaan memiliki kebiasaan-kebiasaan/budaya perusahaan yang berbeda. Namun, ada beberapa tips yang dapat diingat, antara lain: Cari informasi terlebih dahulu tentang perusahaan dan Bapak/Ibu yang akan mewawancarai anda. Beberapa perusahaan memiliki peraturan atau "kebiasaan" berpakaian secara formal, tetapi ada juga yang semi formal, atau bahkan ada yang bebas. Hal ini penting, agar anda tidak dilihat sebagai "orang aneh', disesuaikan dengan posisi yang akan dilamar. Bagi pelamar pria disarankan menggunakan kemeja lengan panjang dan berdasi, tidak perlu menggunakan jas. Berpakaian rapi dan bersih, tidak kusut. Hal ini memberi kesan bahwa anda menghargai wawancara ini. Berpakaian dengan warna yang tidak terlalu menyolok (misalkan mengkilap, ngejreng). Bagi pelamar wanita berpakaian yang tidak terlalu ketat (rok bawah, kancing baju atasan). Berpakaian dengan desain yang simpel (tidak telalu banyak pernik-pernik, toh ini bukan acara pesta). Tidak berlebihan dalam menggunakan wewangian dan perhiasan.
Sumber : Kompas Cyber Media

Pengaruh Kontak Mata dan Suara dalam Wawancara


Dalam wawancara, faktor diluar "isi" seringkali dapat mempengaruhi keberhasilan suatu wawancara. Mulai dari penampilan, sampai cara berbicara. Seorang pewawancara yang berpengalaman akan merasakan sebagian karakter yang diwawancara dari sinar matanya. Tidak perlu dengan memelototi, atau dengan sinar mata syahdu, melainkan tataplah secara wajar kepada pewawancara.

Intinya, bahwa melalui tatapan anda selama wawancara haruslah menandakan : 1. Apakah anda cukup percaya diri; 2. Apakah anda berpikir positif terhadap proses komunikasi dalam wawancara tersebut; 3. Apakah anda jujur dengan isi komunikasi anda; 4. Apakah anda tampil "jujur" sesuai dengan kepribadian anda yang sebenarnya, tidak dibuat-buat. Intonasi akan memperlihatkan apakah anda seorang yang percaya diri atau tidak. Tidak perlu dengan cara mengatur suara seperti seorang pemain sinetron, tetapi cukuplah bahwa anda dapat menggunakan intonasi yang menarik minat lawan bicara untuk terus berkomunikasi. Usahakan tidak memberi nada agresif, atau nada "menutup" diri. Gunakanlah intonasi yang mewakili dengan isi pesan anda. Volume, warna, dan irama memang harus diatur dengan baik, tetapi bukan harus menjadi orang yang tampil bukan sebagai dirinya sendiri.
Sumber : gilland-ganesha.com, Kompas Cyber Media

Sopankah Menanyakan Hasil Wawancara ?


Panggilan wawancara kerja merupakan saat yang paling menyenangkan bagi pencari kerja. Karena panggilan tersebut merupakan langkah awal untuk meniti pekerjaan yang diidamkan. Tak heran jika test wawancara atau test interview menimbulkan banyak harapan di dalam diri pencari kerja. Bayangan mendapatkan pekerjaan yang bagus, gaji yang cukup dan teman-teman kerja yang menyenangkan seakan sudah di pelupuk mata. Tetapi seringkali terjadi harapan tinggallah harapan, panggilan selanjutnya ternyata hanya tinggal penantian dan impian. Dering telepon atau surat panggilan selanjutnya, tak kunjung tiba. Anda pun jadi penasaran dan diliputi berbagai pertanyaan, apakah akan ada panggilan lagi atau memang hasil wawancara Anda tidak diproses. Tak jarang harapan yang tadinya berkobar mendadak padam. Memang, pada beberapa perusahaan memerlukan waktu yang agak lama bahkan ada yang membutuhkan waktu sampai satu bulan untuk memproses kelanjutan test wawancara. Nah, kalau Anda menghadapi situasi demikian, agar tidak penasaran, Anda dapat menanyakan kepastian kepada perusahaan tersebut melalui telepon. Anda dapat bertanya setelah melewati waktu dua minggu dari waktu wawancara. Tanyakan langsung pada divisi HRD atau orang yang mewawancarai Anda. Jangan merasa ragu dan takut untuk menanyakan hal ini, karena bertanya merupakan hak Anda. Lagi pula, menanyakan kepastian kabar dan kelanjutan proses lamaran Anda dalam waktu dua minggu atau lebih setelah wawancara adalah hal yang etis dan cukup sopan. Perusahaan pun pasti maklum atas pertanyaan Anda. Untuk itu usai wawancara, ada baiknya Anda menanyakan siapa dan nomor telepon yang dapat dihubungi untuk menanyakan hasil wawancara Anda. Jika pihak perusahaan menjawab bahwa hasil test Anda tersimpan dalam database dan sewaktu-waktu diperlukan Anda akan dipanggil lagi, berarti jawaban sesungguhnya lamaran Anda tidak diproses lebih lanjut. Jawaban seperti itu biasanya merupakan

penolakan secara halus setidaknya untuk saat itu. Bisa jadi, suatu saat jika ada kualifikasi yang cocok, Anda akan dipanggil lagi. Namun dengan jawaban seperti itu Anda jangan lantas terus menanti tanpa berusaha lagi. Buatlah lamaran lain sebanyak-banyaknya. Sebaliknya kalau jawaban perusahaan memberi kepastian, misalnya,"Anda memang memenuhi kualifikasi kami dan dengan pertanyaan Anda, kami sekaligus memanggil Anda pada tanggal...", berarti kemungkinan besar Anda akan diterima. Mungkin saat itu pihak perusahaan belum sempat menghubungi Anda lebih lanjut dikarenakan adanya kepentingan lain. Hidup ini memang penuh dengan kemungkinan. Untuk itu Anda jangan berhenti berusaha untuk mendapatkan kemungkinan yang terbaik. Sehingga kemungkinan itu akan menjelma menjadi suatu 'kepastian' yang menggembirakan.

2.1 Filosofi Mengajar


Nampaknya sudah sangat sering saya terlibat dalam penerimaan dosen di sebuah universitas mulai tahun 1999. Setiap kali saya termasuk dalam tim yang melakukan wawancara kepada calon dosen, salah satu pertanyaan yang selalu saya ajukan adalah: mengapa memilih menjadi dosen? Pertanyaan favorit saya. Beragam jawaban saya dapatkan. Mulai dari yang sangat filosofis sampai dengan yang terkesan asal dan baru dipikirkan ketika mendapatkan pertanyaan yang saya sampaikan. Beberapa jawaban filosofis yang saya sangat senang mendengarnya adalah keinginan untuk berbagi ilmu dan mendapatkan tempat untuk terus belajar. Ada banyak alasan mengapa orang yang dengan sadar ingin berbagi ilmu. Pertama, ilmu yang dibagikan tidak akan pernah berkurang. Berbeda dengan harta yang setiap kali kita ambil dan berikan kepada orang lain, secara lahiriah akan berkurang. Bahkan dengan berbagi ilmu di kampus, ilmu kita dapat bertambah dengan sangat signifikan. Ada dua alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Pertama, karena sebelum mengajar, sebagai dosen, kita harus belajar, mengembangkan pengetahuan; dan kedua, tidak jarang mahasiswa jauh lebih pintar daripada yang kita duga, dan melalui diskusi di kelas, dosen pun dapat belajar sangat banyak dari mahasiswa. Kedua, berbagi ilmu adalah investasi masa depan: investasi akhirat. Bukankah, menurut ajaran agama, salah satu amal yang terus mengalirkan pahala ketika pelakunya sudah meninggal adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat akan terus mempunyai dampak kepada pribadi yang mempunyai ilmu dan lingkungan sekitarnya. Dampak positif inilah yang membuat berbagi ilmu adalah sebuah amal jariyah, amal yang mengalir pahalanya.

Ketiga, sebuah kebahagiaan yang tiada tara ketika mengetahui mantan mahasiswa kita menjadi orang sukses atau memahami sesuatu dan kita mempunyai andil di dalamnya. Seorang mantan mahasiswa saya pernah menulis pesan dalam dinding Facebook saya, Tanpa Anda, saya sama sekali tidak mengerti pemrograman. Anda-lah yang membuat saya paham akan inti informatika via Algoritma dan Pemrograman I semester pendek 2006. Sebuah komentar dari mantan mahasiswa hampir sepuluh tahun yang lalu dalam blog saya: Ingat sekali, waktu kuis Algoritma dan Pemrograman I & II siapa yang dapat nilai sempurna dikasih uang. Bahkan saya sendiri pun sudah lupa kalau pada tahun 2006 saya pernah mengajar Algoritma dan Pemrograman, dan lupa pernah menyemangati mahasiswa dengan uang untuk makan siang di kampus. Sangat mungkin apa yang kita ajarkan adalah sesuatu yang biasa atau sudah seharusnya kita lakukan. Tetapi, bagi mahasiswa seringkali menjadi sesuatu yang luar biasa. Nanum demikian, pada prinsipnya hal tersebut bukanlah tujuan mengajar. Ungkapan langsung mantan mahasiswa adalah hanya efek samping. Guru sekolah dasar (SD) saya pernah bertanya kepada saya ketika saya hampir lulus pada tahun 1986. Sebuah pertanyaan yang sangat mungkin tidak bisa jawab pada saat berusia 12 tahun. Pada saat ini, Pak Suratman, nama guru saya tersebut mengatakan kepada saya, Kamu harus menjadi doktor!. Ungkapan yang pada saat itu saya belum tahu benar apa artinya. Kemudian sebuah pertanyaan lain diajukan dalam kesempatan berbeda: apa beda guru SD dan dosen? Beliau menjawab sendiri. Kalau seseorang sukses, seringkali yang dihubungi pertama kali adalah dosennya, dan jarang sekali guru SD-nya. Padahal kita tahu, dari guru SD-lah kita belajar calistung pertama kali: membaca, menulis, dan berhitung. Alhamdulillah, ketika buku ini ditulis, takdir Allah membawa saya ke dalam proses mewujudkan doa dari Pak Suratman untuk menjadi seorang doktor. Semua filosofi di atas bersifat internal. Filosofi eksternal yang mendasari seseorang memilih menjadi pengajar juga sangat beragam. Pertama, menjadi pengajar telah membuka pintu untuk berkontribusi terhadap proses pencerdasan anak bangsa. Idealisme ini nampaknya bisa jadi mulai tertelan zaman. Sebagai warga negara yang baik, tentu amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang telah dirumuskan dengan sangat apik dengan visi jauh ke depan para pendiri bangsa perlu disimak ulang. Dengan manjadi pengajar, kita telah menjadikan diri kita terlibat dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa. Kedua, sebagai dampaknya, dengan menjadi pengajar, kiat pun telah berandil dalam membentuk manusia yang lebih merdeka, manusia yang terbebaskan. Untuk inilah Nabi Muhammad diutus, sebagai sang pembebas, the liberator (Engineer, 1990). Nabi telah diutus untuk membebaskan manusia dari paham atau ideologi yang membelenggunya untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaannya. Nilai-nilai kemanusiaan telah tergadaikan kepada tuhan yang tidak berhak mendapatkannya. Mungkin Anda akan mengaitkan ini dengan ide besar yang dibawa oleh Paulo Freire (1985), cendekiawan Brazil yang mengembangkan teori pedagogik kritis. Baginya, pendidikan harusnya membebaskan. Bukunya yang berjudul Pedagogy of the Oppressed

telah memberikan warna baru dalam dunia pendidikan. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul Pendidikan untuk Kaum Tertindas. Kondisi masyarakat pada saat itu dianggap tidak adil, dan Freire membagi masyarakat ke dalam dua kelompok yang saling berhadapan: kaum penindas (the oppressor) dan kaum tertindas (the oppressed). Anda mungkin juga mengaitkan folosofi eksternal dengan pendidikan yang membebaskan dengan ide-ide besar Ivan Illich (1972). Illich memberikan kritik yang sangat tajam untuk lembaga sekolah yang gagal dalam proses pendidikan, karena anak didik (termasuk mahasiswa dalam konteks pendidikan tinggi) tidak menjadi terbebaskan. Salah satu konsep penting yang ditawarkan sebagai solusi adalah pembentukan learning web, jejaring pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memacu motivasi menjadi self-learner dan menjadikan pengajar sebagai motivator dan guide. Dalam konteks kekinian, ide besar Illich dapat diterjemahkan dengan membuka pintu seluas-luasnya ke untuk mengakses materi pembelajaran di luar kurikulum yang sangat dibatasi kredit semester dan waktu pertemuan. Teknologi informasi sangat membantu dalam hal ini. Anda mungkin ingin menambahkan filosofi atau alasan eksternal lain menjadi seorang pengajar.

2.2 Posisi Pengajar


Menjadi dosen atau pengajar, tentu saja termasuk guru dalam semua tingkatan mendapatkan posisi yang sangat terhormat. Dalam hirarki kemuliaan akademik, menjadi pengajar mendapatkan posisi pertama. Nabi Muhammad pernah berkata, Kun aliman, au mutaalliman, au mustamian, au muhibban, wa la takun khomisan, fatahlik!. Jadilah kamu pengajar, atau pembelajar, atau pendengar, atau pencinta, dan jangan jadi (golongan) yang kelima, maka kamu akan rusak. Menjadi pengajar adalah pilihan pertama menurut anjuran Nabi. Tentu saja konteks AlHadits ini tidak hanya pada lembaga pendidikan formal di mana menjadi pengajar adalah sebuah pilihan profesi. Pada saat Nabi, nampaknya belum ada lembaga pendidikan formal. Lembaga pendidikan yang terekam pada saat itu adalah rumahnya Al-Arqom (Darul Arqom), di mana Nabi sering bertemu dengan sahabat dan berbagi wahyu yang diterimanya. Dalam konteks ini, setiap orang, siapapun dia, dapat menjadi pengajar. Nabi Muhammad pernah berpesan, Ballighu anni walau ayatan, sampaikan dariku meskipun hanya satu ayat. Secara implisit, pesan ini meminta kita untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain, meskipun sedikit: menjadi pengajar.

Jika kita belum mampu menjadi pengajar, kata Nabi, jadilah pembelajar. Orang dengan rasa ingin tahu tinggi dan selalu haus ilmu. Dalam banyak kesempatan sebagai terekam dalam Al-Hadits, posisi pembelajar sangat dihargai. Beberapa teks Al-Hadits berikut dapat menguatkan klaim ini: Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimah Tuntutlah ilmu, mulai dari ayunan, sampai liang lahat! Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China! Belajar bukan pekerjaan ringan. Perlu komitmen dan ketekunan. Tanpanya, aktivitas belajar akan menjadi sangat berat. Suatu saat dalam sebuah perjalanan ke Eropa saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu. Si Ibu tersebut dengan rombongan lain akan berwisata ke beberapa negara di Eropa. Meskipun baru kenal sebentar, si Ibu bercerita cukup banyak. Ketika tahu kalau saya seorang dosen, dan sedang menengok anak dan istri yang sedang belajar, dia berkomentar pendek, Apa tidak capek belajar terus? Saya selesai S1 saja sudah merasa capek, ungkapannya sangat serius, tanpa bermaksud melecehkan. Memang profesinya adalah pengusaha, dan saya yakin dia tetap belajar banyak meskipun tidak duduk di bangku lembaga pendidikan formal. Belajar dapat dilakukan di mana saja, dengan modal utama rasa ingin tahu (curiosity). Tanpa rasa ingin tahu, atau bahkan sudah disibukkan dengan ide-ide sendiri tanpa keinginan mendengarkan dari orang lain, belajar nampaknya sulit dilakukan. Dalam sebuat cerita Zen, Guru Nan-in mempunyai seorang tamu yang ingin belejar tentang Zen. Si tamu bukannya mendengarkan Nan-in, tetapi malah banyak berbicara tentang ideidenya sendiri. Sesaat kemudian, Nan-in menghidangkan teh. Nan-in menuangkan teh ke cangkir si tamu sampai penuh, dan tetap menuang sampai tumpah. Akhirnya, si tamu menyela, Tidakkah Guru lihat kalau cangkirnya sudah penuh?. Cangkirnya sudah tidak muat lagi, lanjutnya. Benar, kata Guru Nan-in, dan akhirnya berhenti menuang. Seperti sebuah cangkir, Anda sudah terisi dengan ide-ide sendiri. Bagaimana Anda mengharapkan saya untuk dapat memberimu Zen sampai Anda memberikan kepada saya cangkir kosong? Jika karena suatu keadaan kita tidak atau belum bisa menjadi pengajar atau pembelajar, pilihan ketiga adalah menjadi pendengar. Mendengar adalah sebuah pilihan sadar yang harus diikuti dengan kemauan meluangkan pikiran untuk dapat meningkatkan kualitas diri. Mendengar bukan hanya aktivitas ketika tidak mendapatkan giliran berbicara. Mendengar dengan baik tidak dapat dilakukan jika pikiran penuh. Mendengar dalam konteks ini adalah yang terkait dengan aktivitas menuntut ilmu, bukan mendengarkan yang bersifat rekreasional, seperti mendengarkan musik melalui iPod kesayangan.

Jika masih saja tidak bisa? Masih ada pilihan keempat, jadilah pencinta[1]. Pencinta pengajar, pembelajar, dan pendengar ilmu. Nampaknya karena itulah, banyak orang-orang yang desa saya sangat senang berkunjung ke ulama atau kiai. Selain mereka suka mendengarkan nasihat, mereka ada pada pencinta ilmu. Mereka merasa nyaman dapat bertemu dengan para ulama dan kiai yang dengan tulus menyebarkan ilmu kepada para santrinya. Tetapi, Nabi mengingatkan, jadi menjadi golongan kelima. Orang yang tidak termasuk pengajar, pembelajar, pendengar, dan pencinta. Kita bisa berikan daftar golongan ini, termasuk pembenci ilmu, pembenci pengajar, pembenci pembelajar, pembenci pendengar, dan pembenci pencinta ilmu. Kelompok air-headed yang kepalanya berisi udara, alias tidak mengetahui apa-apa karena pilihannya untuk tidak mau repot berpikir, dan mencibir kekhusyukan para pencari ilmu, dan cenderung hedonis nampaknya juga masuk dalam kelompok ini. Naubillahi min dzalik.

Sudah bukan rahasia lagi kalau interview atau wawancara pekerjaan merupakan hal paling kritikal untuk mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan. Karena itu, tentu Anda tahu bahwa Anda harus mempersiapkan diri Anda seprima mungkin, baik fisik dan mental. Ketok kali ini akan memberi Anda tips untuk menghadapi delapan belas pertanyaan yang paling umum dan tersulit dalam sebuah wawancara pekerjaan. 1. Beritahukan kami tentang diri Anda? Biasanya ini merupakan pertanyaan pembuka, karena itu jangan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menjawabnya. Berikan jawaban yang menjawab empat subjek: tahun-tahun terakhir, pendidikan, sejarah kerja, dan pengalaman karir terakhir. 2. Apa yang Anda ketahui tentang kami? Ketika pertanyaan ini dikeluarkan, anda diharapkan mampu mendiskusikan produk atau pelayanan, pendapatan, reputasi, pandangan masyarakat, trget, permasalahan, gaya managemen, orang-orang di dalamnya, sejarah, dan filosofi perusahaan. Berikan jawaban yang memberitahu pewawancara bahwa Anda meluangkan waktu mencari tahu tentang perusahaan tersebut, namun jangan beraksi seperti Anda tahu segalanya tentang perusahaan tersebut, tunjukan keinginan mempelajari lebih banyak tentang perusahaan tersebut, dan jangan memberikan jawaban negatif seperti Saya tahu perusahaan anda mengalami

problema-problema, itu alasan saya disini. Tekankan keunggulan perusahaan dan minat Anda terhadap hal tersebut. 3. Apa yang dapat Anda berikan pada kami (yang orang lain tidak bisa beri)? Sebutkan prestasi-prestasi dan jenjang karir yang Anda telah capai. Sebutkan kemampuan dan hal-hal yang menarik perhatian Anda, gabungkan dengan sejarah Anda mencapai halhal itu. Sebutkan kemampuan Anda menentukan prioritas, mengidentifikasi masalah, dan 4. Apa yang paling menarik menurut Anda dari pekerjaan ini? Dan apa yang paling tidak menarik? Sebutkan tiga sampai empat faktor menarik dari pekerjaan yang anda hendak ambil dan satu hal kecil sebagai faktor yang kurang menarik. 5. Mengapa kami harus merekrut Anda? Pertanyaan ini saam seperti pertanyaan nomor empat, sebutkan saja kemampuankemampuan Anda yang mampu mendukung perusahaan tersebut. 6. Apa yang Anda cari di dalam sebuah pekerjaan? Berikan jawaban yang berkisar pada oportunitas di dalam organisasi. Beritahukan pewawancara kalau Anda ingin memberikan kontribusi dan dikenali. Hindari jawaban yang mempersoalkan kestabilan keuangan pribadi. 7. Menurut Anda, apa definisi dari posisi yang Anda inginkan? Berikan jawaban yang singkat dan berkisar tentang tugas dan kewajiban. Pastikan Anda mengerti posisi tersebut sebelum Anda hendak menjawab. 8. Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk memberikan kontribusi berarti bagi kami? Beri jawaban yang realistik. Beritahukan pewawancara bahwa walaupun Anda akan berusaha mengatasi segala harapan dan tantangan dari hari pertama, Anda membutuhkan sekitar enam bulan untuk benar-benar mengerti organisasi perusahaan dan kebutuhannya. 9. Berapa lama Anda akan bersama kami? Beritahukan pewawancara bahwa Anda tertarik berkarir bersama perusahaan tersebut namun Anda ingin tetap tertantang untuk mencapai target bersama. 10. Dari resume Anda, kami rasa Anda terlalu berpengalaman untuk posisi ini. Bagaimana pendapat Anda?

Ini pertanyaan jebakan. Anda diharapkan untuk tetap rendah hati namun percaya diri dengan kemampuan Anda. Cara terbaik menanganinya adalah menjawab bahwa Anda butuh mengenal perusahaan lebih jauh sebelum dapat dengan efisien bekerja di tingkat yang lebih tinggi. 11. Kenapa Anda meninggalkan pekerjaan Anda yang sebelumnya? Anda sebaiknya menjawab pertanyaan ini dengan jujur namun singkat dan jelas termasuk jika hal tersebut karena Anda dipecat. Namun yang perlu diperhatikan, Anda sebaiknya jangan menyebutkan konflik pribadi. Perlu Anda perhitungkan bahwa pewawancara mungkin akan bertanya banyak soal masalah ini, jangan sampai Anda terbawa emosi. 12. Apa yang Anda rasakan ketika harus meninggalkan pekerjaan Anda? Beritahu pewawancara bahwa Anda merasa khawatir namun jangan terkesan panik. Katakan bahwa Anda siap menerima segala resiko demi mendapatkan pekerjaan yang cocok untuk Anda. Jangan menunjukan bahwa Anda lebih mementingkan kestabilan keuangan. 13. Pada pekerjaan Anda sebelumnya, apa yang berkenan dengan Anda? Dan apa yang tidak berkenan? Berhati-hatilah dalam menjawab pertanyaan ini dan kemukakan hal-hal positif. Deskripsikan lebih banyak hal yang Anda sukai daripada yang Anda tidak sukai. Jangan menyebutkan masalah pribadi. Jika Anda membuat pekerjaan sebelumnya terkesan buruk, pewawancara akan bertanya-tanya mengapa Anda berada disana. Hal ini jelas mengurangi profesionalisme Anda. 14. Apa pendapat Anda tentang bos Anda sebelumnya? Ini juga pertanyaan yang harus Anda jawab dengan hati-hati. Sebisa mungkin jawablah pertanyaan ini dengan positif karena calon bos Anda akan merasa Anda akan membicarakan hal-hal buruk tentang dia seperti apa yang telah Anda lakukan terhadap bos yang terdahulu. 15. Mengapa Anda tidak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di usia Anda? Lagi-lagi ini bisa menjadi pertanyaan jebakan. Beritahukan pewawancara bahwa inilah alasan Anda mencari lowongan pekerjaan di perusahaan tersebut. Jangan bersikap defensif. 16. Berapa gaji yang Anda minta? Ini pertanyaan yang mengiurkan, namun pastikan Anda menyebutkan angka kisaran yang Anda yakin merupakan gaji yang pantas atau bertanya pada pewawancara berapa kisaran pada pekerjaan sejenis. Jika Anda diberi pertanyaan ini dari awal wawancara, sebaiknya Anda mengelaknya dengan mengatakan Anda ingin tahu seberapa banyak tanggung jawab

yang akan Anda pegang di perusahaan tersebut. Tekankan bahwa Anda lebih mementingkan pekerjaannya namun jangan menjual standar Anda. 17. Apa target jangka panjang Anda? Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda lagi-lagi diharuskan meneliti perusahaan tersebut dan mengetahui rencana dan/atau target mereka lalu memberikan jawaban yang singkron dengan milik perusahaan. 18. Seberapa sukses yang Anda rasa telah capai? Berikan jawaban yang positif dan percaya diri, namun jangan memberikan jawaban yang berlebih. Jangan membuat pewawancara merasa Anda seorang yang suka membesarbesarkan sesuatu. sumber: ketok dot com dan portalhr. ( tidak ada pengeditan murni copy)