DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DI SEKTOR INDUSTRI CPO TERHADAP KESEIMBANGAN PASAR MINYAK GORENG SAWIT DALAM NEGERI

OLEH WIDA KUSUMA WARDANI H14104036

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN

WIDA KUSUMA WARDANI. Dampak Kebijakan Perdagangan di Sektor Industri CPO terhadap Keseimbangan Pasar Minyak Goreng Sawit dalam Negeri. (dibimbing oleh DEDI BUDIMAN HAKIM). Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam perekonomian Indonesia, karena CPO merupakan komoditi ekspor andalan Indonesia. Indonesia merupakan negara produsen dan pengekspor kelapa sawit kedua terbesar setelah Malaysia sampai dengan tahun 2005. Di tahun 2006 Indonesia berhasil menjadi negara produsen minyak sawit nomor satu di dunia. Eksportir CPO akan melakukan ekspor secara besar-besaran apabila harga CPO internasional sedang meningkat secara tajam tanpa memikirkan pasokan dalam negeri. Hal ini akan berdampak pada industri turunan CPO yang didominasi oleh industri minyak goreng. Industri ini akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, sehingga produksinya akan menurun. Menyadari dampak tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan perdagangan di sektor industri CPO yang berupa pajak ekspor guna membatasi para eksportir CPO untuk tidak mengekspor CPO dalam jumlah yang berlebihan dan lebih memikirkan pasokan dalam negeri. Adanya pajak ekspor CPO akan mempengaruhi volume ekspor CPO, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi keseimbangan pasar industri hilirnya, yaitu industri minyak goreng sawit yang akan dicerminkan melalui harga minyak goreng sawit di pasar dalam negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor apakah yang mempengaruhi ekspor CPO dan keseimbangan pasar minyak goreng sawit di Indonesia dan menganalisis keterkaitan antar keduanya serta bagaimana dampak pajak ekspor di sektor industri CPO terhadap keseimbangan pasar dan harga minyak goreng sawit dalam negeri . Untuk tujuan tersebut, beberapa variabel yang diteliti adalah ekspor CPO, produksi CPO, luas areal kelapa sawit, harga ekspor CPO, harga CPO domestik, pendapatan nasional Indonesia, jumlah penduduk Indonesia, pajak ekspor CPO, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, harga dan produksi minyak goreng sawit dalam negeri, permintaan minyak goreng sawit dalam negeri, upah tenaga kerja di sektor industri, dummy krisis ekonomi, harga minyak goreng kelapa, impor minyak goreng sawit serta harga impor minyak goreng sawit. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang menggunakan data statistik tahunan dari tahun 1990-2006. Sumber data berasal dari Laporan Tahunan Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian dan Jurnal-jurnal Ekonomi serta instansi-instansi lain yang terkait dengan penelitian yang

dilakukan. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan software SAS 6.12 sedangkan analisis data menggunakan metode Two-Stage Least Square (2SLS). Hasil analisis memberikan kesimpulan bahwa model keterkaitan ekspor CPO dan pengaruh pajak ekspor CPO terhadap keseimbangan pasar minyak goreng sawit dalam negeri menghasilkan lima persamaan struktural dan tiga persamaan identitas. Penawaran ekspor CPO Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh harga riil ekspor CPO, nilai tukar riil, pajak ekspor CPO, produksi CPO domestik dan populasi Indonesia. Sedangkan lag ekspor CPO Indonesia tidak berpengaruh nyata terhadap ekspor CPO Indonesia. Penawaran minyak goreng sawit Indonesia berasal dari minyak goreng sawit yang diimpor dan minyak goreng sawit produksi Indonesia. Impor minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh harga riil impor minyak goreng sawit, permintaan minyak goreng domestik dan pendapatan nasional Indonesia, sedangkan nilai tukar riil dan lag impor minyak goreng tidak berpengaruh nyata. Produksi minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh luas areal kelapa sawit, produksi CPO domestik, dummy krisis ekonomi Indonesia dan lag produksi minyak goreng sawit. Sedangkan harga riil minyak goreng sawit domestik dan upah riil tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap produksi minyak goreng sawit Indonesia. Permintaan minyak goreng sawit Indonesia merupakan agregasi dari jumlah konsumsi minyak goreng sawit secara langsung dan konsumsi minyak goreng oleh industri pengguna minyak goreng sawit. Permintaan minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh harga riil minyak goreng sawit, harga riil minyak goreng kelapa, pendapatan per kapita dan lag permintaan minyak goreng sawit. Variabel-variabel yang mempengaruhi secara nyata harga minyak goreng sawit domestik adalah harga riil CPO domestik, harga riil minyak goreng kelapa dan dummy krisis ekonomi Indonesia. Validasi model dengan menggunakan kriteria statistics of fit, menunjukkan model layak untuk digunakan sebagai peramalan. Hasil simulasi menunjukkan peningkatan sepuluh persen pajak ekspor CPO akan mengakibatkan penurunan permintaan minyak goreng sawit, impor minyak goreng sawit dan volume ekspor CPO masing-masing sebesar 0,0017 persen, 0,0013 persen dan 0,9226 persen, serta diduga akan meningkatkan harga minyak goreng sawit sebesar 2,1470 persen dan produksi minyak goreng sawit sebesar 0,1433 persen. Berdasarkan hasil yang diperoleh, upaya yang dapat dilakukan pemerintah adalah perlu suatu adanya kebijakan alternatif selain pajak ekspor sebagai komplemen untuk mengatasi kelemahan dari penerapan pajak ekspor. Perlu juga adanya perhatian khusus dari pemerintah dalam hal senjang pengambilan keputusan pada penetapan pajak ekspor agar penyesuaiannya mengikuti pola perubahan harga CPO dunia yang fluktuatif. Penerapan operasi pasar yang selama ini dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga keseimbangan pasar minyak goreng dapat efektif jika infrastrukturnya dipersiapkan secara baik dengan koordinasi yang baik dari pemerintah pusat dan daerah untuk menjangkau kalangan yang benar-benar kurang mampu.

DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DI SEKTOR INDUSTRI CPO TERHADAP KESEIMBANGAN PASAR MINYAK GORENG SAWIT DALAM NEGERI Oleh WIDA KUSUMA WARDANI H14104036 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

Menyetujui. Ir. Dosen Pembimbing. 131 846 871 Mengetahui. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul : Wida Kusuma Wardani : H14104036 : Ilmu Ekonomi : Dampak Kebijakan Perdagangan di Sektor Industri CPO terhadap Keseimbangan Pasar Minyak Goreng Sawit dalam Negeri dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Rina Oktaviani. Institut Pertanian Bogor.D NIP. M. 131 846 872 Tanggal kelulusan : . Ph. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. Dedi Budiman Hakim. Dr.Ec NIP.

PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Juli 2008 Wida Kusuma Wardani H14104036 . Bogor.

Penulis menyelesaikan sekolah dasar di Sekolah Dasar Jati Mekar. dari pasangan Soeroso dan Tasmiyati. Pada tahun 2004 penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi. Penulis merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Selain itu. kemudian melanjutkan ke SLTP Negeri 246 Jakarta. . Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) dan Komisi Pelayanan Khusus (Kopelkhu). penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan. Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM). Setelah itu penulis melanjutkan pendidikan menengah umum di SMU Negeri 113 Jakarta dan lulus pada tahun 2004.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Wida Kusuma Wardani lahir pada tanggal 14 Agustus 1986 di Jakarta. penulis aktif sebagai pengurus organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Profesi dan Peminat Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (HIPOTESA). Selama menjadi mahasiswa.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan anugerah yang dilimpahkan-Nya sehingga penulis diberi kemudahan dan kekuatan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Dampak Kebijakan Perdagangan di Sektor Industri CPO terhadap Keseimbangan Pasar Minyak Goreng Sawit dalam Negeri”. Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan, perhatian dan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Untuk itu, ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada : 1. Kedua orang tua penulis yaitu Bapak Soeroso dan Ibu Tasmiyati atas doa dan dukungannya. Serta mas Ambar dan mas Fajar atas semangat dan keceriaannya untuk penulis agar dapat menyelesaikan skripsi ini secepatnya. 2. Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar dan penuh perhatian membimbing penulis dalam proses penyusunan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. 3. Dr. Ir. Sri Mulatsih, M.Sc. Agr selaku dosen penguji utama atas kesediaan serta arahan, saran, kritik dan perhatian yang diberikan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya. 4. Jaenal Effendi, S.Ag ., MA selaku dosen penguji komisi pendidikan atas kesediaan serta arahan, saran, kritik dan perhatian yang diberikan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya. 5. Sahabat penulis Deni, Liana, Tika, Rista, Ate, Rolas, Wike, Elsa, Epy dan Rima terima kasih atas doa, semangat dan dukungannya. 6. Teman-teman penulis, Septi, Niken, Lia, Rani, Della, Hana, Irma, Prima, Merlyn, Noorish, Titis, Tata, Dila, Dita, Eko, Arum, Tia, Hansen, Agus dan teman-teman Ilmu Ekonomi angkatan 41. Terima kasih atas masukan dan dukungannya.

7. Seluruh pihak yang telah membantu dalam proses penulisan skripsi ini dan tidak bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih atas bantuannya. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Juli 2008

Wida Kusuma Wardani H14104036

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................... i DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... ii DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... iii I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 5 1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................................... 7 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 7 1.5 Batasan Penelitian .................................................................................. 8 II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 9 2.1 Gambaran Umum Industri Kelapa Sawit Indonesia...................................... 9 2.1.1 Perkembangan Industri Kelapa Sawit di Indonesia .................... 10 2.1.2 Pengolahan Kelapa Sawit........................................................................... 12 2.1.3 Perkembangan Produksi Kelapa Sawit ...................................................... 13 2.1.4 Perkembangan Ekspor Kelapa Sawit ......................................................... 15 2.2 Gambaran Umum Industri Minyak Goreng Indonesia.................................. 17 2.2.1 Produksi dan Konsumsi Minyak Goreng Sawit Indonesia ........................ 18 2.3 Tinjauan Kebijakan Pemerintah Disektor Industri Minyak Sawit ................ 19 2.4 Studi Terdahulu ............................................................................................. 20 2.4.1 Penelitian Mengenai CPO ............................................................. 20 2.4.2 Penelitian Mengenai Minyak Goreng sawit dan Minyak Goreng Kelapa ................................................................................................... 21 2.4.3 Penelitian Mengenai Two-Stage Least Square(2SLS) ............................... 24 III. KERANGKA PEMIKIRAN ......................................................................... 26 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ........................................................................ 26 3.1.1 Teori Perdagangan Internasional.................................................. 26

.................................................2 Kerangka Pemikiran Operasional ...............4 Uji Heteroskedastisitas .............................6 Teori Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia ............................ 60 4................1...... 52 4.... 68 4....................................................................................................................................... 69 4............................. 41 3. 58 4....................7.......2 Metode Pengolahan dan Analisis Data ............. 70 ...........6 Model Lag yang Didistribusikan.................3 Teori Penawaran Ekspor CPO Indonesia ..................1.................. 56 4................................................................. 37 3........................................................................................1 Jenis dan Sumber Data . 52 4...........3 Produksi Minyak Goreng Sawit Indonesia .......................3... 45 3........3...............................2 Pengujian Hipotesis............. 66 4.1....................3........... 29 3......................................................2 Permintaan Impor Minyak Goreng Sawit Indonesia.........................1................7..........1...........7........ 48 IV.....................4 Hipotesis................ 70 4... 61 4............ 62 4............... METODOLOGI PENELITIAN ................................5 Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia ..7 Metode Two-Stage Least Square (TSLS) ....................3 Spesifikasi Model Simultan .....5 Teori Penawaran Minyak Goreng Sawit Indonesia ........ 32 3.................... 53 4.................. 46 3....7...........1................................................3......1 Penawaran Ekspor Minyak Sawit (CPO) Indonesia ........................................3.......7 Keseimbangan Penawaran dan Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia . 65 4.....8 Konsep Elastisitas .................................................3 Uji Autokorelas .......................................................7 Pengujian Model dan Hipotesis .......................................................4 Penawaran Minyak Goreng Sawit Indonesia ......................... 67 4...3...........7. 55 4................................... 60 4............................ 59 4.........................2 Teori Nilai Tukar...........................................................................................................................5 Identifikasi Model .........3................................6 Harga Minyak Goreng Sawit Indonesia ..........................................6 Pengukuran Elastisitas .................................. 66 4........................................... 33 3........................5 Uji Normalitas .......1...........4 Kebijakan Pajak Ekspor .......................................1 Uji Kesesuaian Model ........................................................7........................... 52 4..................................................................................................... 57 4.......................................3..................

......................................................................2 Hasil Validasi Model......................................................................1 Kesimpulan ...............1........................... 76 5.................................... 107 ...........7..................................1 Estimasi Parameter Model ................ 76 5.................7.........1.................................................. 91 5...................... 73 V. 95 VI............................................................ 100 6................. HASIL DAN PEMBAHASAN .............7 Validasi Model .... 94 5........................................3 Perubahan Pajak Ekspor CPO Sebesar 10 Persen .......8 Definisi Operasional............................2 Permintaan Impor Minyak Goreng Sawit Indonesia..................................... 88 5...............................................................................................4. 71 4.........................1 Penawaran Ekspor Minyak Sawit (CPO) Indonesia ................. 104 LAMPIRAN .1. 102 DAFTAR PUSTAKA ............4 Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia ............................................................................................................................2 Saran...................................................................1.......................................5 Harga Minyak Goreng Sawit Indonesia ......... 85 5..........................................................3 Produksi Minyak Goreng Sawit Indonesia ......................... 76 5.......... 81 5..........................................3 Simulasi Model Kebijakan ....1.............. 73 4...................... KESIMPULAN DAN SARAN ......................................... 100 6.....................................

....5 5................ 19 Pengujian Order Condition . 2 (000 Ton)..DAFTAR TABEL Nomor 1..........2 2................................................6 5................... 3 Produksi dan Konsumsi Minyak Goreng Sawit di Indonesia Tahun 2000-2005 ...... 95 Hasil Simulasi Kenaikan Pajak Ekspor Sebesar Sepuluh Persen........ 81 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Permintaan Impor Minyak Goreng Sawit Indonesia ..................................................................1 5..............................1 5............................................ 88 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia..... 64 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Penawaran Ekspor Minyak Sawit (CPO) Indonesia .................................2 5..........................................1 1.......................7 Volume Ekspor Negara Penghasil CPO Dunia 2001-2005 Halaman Produksi Negara Penghasil CPO Dunia 2001-2005 (000 Ton) ....... 91 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Harga Minyak Goreng Sawit Indonesia .......................................................................4 5....................... 99 .................. 94 Hasil Validasi Model Kebijakan Perdagangan di Sektor Industri CPO terhadap Keseimbangan Pasar Minyak Goreng Sawit Dalam Negeri ..........3 5.................1 4............................................................................................ 84 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Produksi Minyak Goreng Sawit Indonesia..........................

................................................... 29 3............ 44 3..............................................1 Perkembangan Produksi Kelapa Sawit Indonesia Halaman Tahun 2000-2006 ................... 15 3...... 51 3.........................................................1 Terjadinya Perdagangan Internasional ...... 31 3............5 Keseimbangan Minyak Goreng Sawit Akibat Adanya ..................2 Dampak Depresiasi Mata Uang Negara Eksportir pada Keseimbangan Perdagangan Internasional ...................................4 Efek Pajak Ekspor Terhadap Volume Ekspor ..........DAFTAR GAMBAR Nomor 2.................................2 Perkembangan Ekspor CPO Indonesia Tahun 2000-2006 .... 13 2.................... 35 3......................................................................................6 Diagram Alur Kerangka Pemikiran ............................. 41 Peningkatan Permintaan Minyak Goreng Sawit .........3 Persentase Volume Ekspor CPO Indonesia Menurut Negara Tujuan Tahun 2006 ..3 Dampak Pemberlakuan Pungutan Ekspor CPO terhadap Industri CPO ............................... 14 2............................................................

........ Hasil Estimasi Parameter pada Permintaan Impor Minyak Goreng Sawit Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6......................... 122 10.......................... 112 4........ 117 9..................... 114 6............................................ Hasil Estimasi Parameter pada Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6...............DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1....... Hasil Uji Autokorelasi.....12 ...12 ........ 108 2........... Kebijakan Pemerintah Pada Industri Kelapa Sawit Indonesia ......... Hasil Estimasi Parameter pada Produksi Minyak Goreng Sawit Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6. 123 .......... 110 3........... 115 7.........12 ... Hasil Estimasi Parameter pada Penawaran Ekspor CPO Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6....12 . Hasil Validasi Model Kebijakan Perdagangan dengan Menggunakan Program SAS 6..12 ............................... Data Riil Penelitian ..........................12 ..12 . 113 5...... Hasil Estimasi Parameter pada Harga Minyak Goreng Sawit Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6........ Heteroskedastisitas dan Normalitas pada Masing-masing dengan Menggunakan Program SAS 6..........12 ..... 116 8........ Hasil Simulasi Kenaikkan Pajak Ekspor sebesar 10 Persen dengan Menggunakan Program SAS 6.....................................

57 persen dengan total nilai ekspor sebesar US$ 7. kemudian produksinya menjadi bahan baku industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah di dalam negeri. sub sektor yang memberikan kontribusi terbesar dibandingkan sub sektor lainnya adalah sub sektor perkebunan.7 juta. Dan selama satu tahun. PENDAHULUAN 1. Salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap ekspor perkebunan Indonesia adalah kelapa sawit. Statistik Ekspor Indonesia 2006. sektor ini telah menghasilkan devisa senilai US$ 484. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan utama sumber minyak nabati yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia.8 persen dibanding tahun 2005. . Ekspor komoditas pertanian merupakan salah satu bagian penting dalam komposisi ekspor non migas. namun sejak tahun 1987 ekspor Indonesia didominasi oleh sektor non migas. ekspor sektor pertanian secara relatif meningkat sebesar 16.4 milyar (2004)1.2 milyar di tahun 2004. Selama periode Januari-Desember 2006.I. Total nilai ekspor produk pertanian selama lima tahun terakhir menunjukkan trend yang meningkat.1 Latar Belakang Perkembangan nilai ekspor Indonesia sampai tahun 1986 masih didominasi oleh ekspor migas. Dari total komoditas pertanian tersebut. yaitu dari US$ 3. yaitu sebesar 87. Pengembangan kelapa sawit memberikan manfaat dalam peningkatan pendapatan petani dan masyarakat. lalu untuk diekspor sebagai penghasil devisa (ekspor Crude Palm Oil 1 Badan Pusat Statistik.8 milyar di tahun 2000 menjadi US$ 8.

881 ribu ton2.1 Produksi Negara Penghasil CPO Dunia 2001-2005 (000 Ton) Negara Malaysia Indonesia Nigeria Thailand Columbia 2001 11. Pada data produksi dan volume ekspor tahun 2001 hingga 2005.000 ribu ton. sedangkan total produksi CPO Malaysia sebesar 15.396 770 625 548 2002 11.976 12.355 10.8 milyar) dan menyediakan kesempatan kerja diberbagai sub sistem (menyediakan kesempatan kerja bagi lebih dari 2 juta orang). terutama dengan adanya program energi alternatif biodiesel baik nasional maupun internasional.1 dan Tabel 1.326 790 668 632 2005 14.804 8. Produksi CPO (Crude Palm Oil) Indonesia pada tahun 2006 sebesar 16.909 9. 2 Indonesian Palm Oil Comission (IPOC). Di tahun 2006 Indonesia berhasil menjadi negara produsen minyak sawit nomor satu di dunia.441 785 640 527 2004 13. Tabel 1. Peranan Industri minyak sawit dan produk turunannya akan terus berkembang. 2006.2). terlihat bahwa Malaysia masih menempati peringkat pertama di dunia untuk produksi dan ekspor CPO (Tabel 1. Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2006.tahun 2006 bernilai US$ 4. Indonesia merupakan negara produsen dan pengekspor kelapa sawit kedua terbesar setelah Malaysia sampai dengan tahun 2005.620 800 680 661 Sumber : Badan Pusat Statistik.962 14.622 775 600 528 2003 13. .

Pada tahun 1998 total produksi minyak goreng Indonesia mencapai angka 5.575 8.903 328 224 90 2002 10.html=21711 Wayan R. Industri minyak goreng Indonesia dari tahun ke tahun semakin pesat perkembangannya. 2007. Mempertanyakan Efektivitas Pajak Ekspor dalam Mempercepat Pengembangan Industri Hilir Perkebunan. Hal ini diperlihatkan dengan meningkatnya angka produksi minyak goreng tiap tahunnya. Susila.401 10.886 6. Perkebunan kelapa sawit dengan hasilnya yang berupa TBS merupakan industri hulu dari industri CPO.9 juta ton pada tahun 2005. Peningkatan tersebut disebabkan oleh semakin bertambahnya permintaan akan minyak goreng itu sendiri.go.2 Volume Ekspor Negara Penghasil CPO Dunia 2001-2005 (000 Ton) Negara Malaysia Indonesia Papua New Guinea Singapura Columbia 2001 10.id/news.376 320 205 225 Sumber : Badan Pusat Statistik. minyak goreng asal kelapa sawit telah mendominasi pangsa konsumsi minyak goreng yang beberapa tahun lalu dipegang oleh kelapa3. Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2006. dimana lebih dari 76 persen penggunaan CPO oleh industri digunakan hanya untuk industri minyak goreng. 3 . Sejak beberapa tahun terakhir di Indonesia. sedangkan industri hilir utamanya adalah industri minyak goreng sawit.detail. Industri CPO membutuhkan input dari perkebunan kelapa sawit dalam bentuk Tandan Buah Segar (TBS).248 6.386 325 256 105 2004 12.9 juta ton dan untuk tahun selanjutnya produksi minyak goreng relatif meningkat hingga mencapai 11.334 324 220 85 2003 12.662 348 240 183 2005 13.618 4.bumn.Tabel 1. http://www.

2007). Ketika terjadi kenaikan harga CPO dunia. Peningkatan tersebut akibat adanya kenaikan kapasitas ekspor dari Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku yang lebih sering dipakai dalam proses produksi pabrik minyak goreng. Lonjakan harga CPO diindikasikan karena adanya peningkatan permintaan dunia yang tinggi dan tidak sebanding dengan produksi dan suplai CPO di pasar internasional (Direktorat Jenderal Perkebunan.3 ribu ton (US$ 3. Harga CPO dunia naik lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Volume impor pada tahun 1996 sebesar 3.9 persen per tahun.5 juta) pada tahun 2002.7 persen dan 23. 2003).9 ribu ton (US$ 8. Harga CPO dunia yang tinggi merupakan insentif yang besar bagi pengusaha CPO domestik untuk mengekspor CPO dan menghindarkan diri dari kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan CPO dalam negeri. Menyadari dampak negatif tersebut pemerintah menetapkan suatu kebijakan perdagangan yang berkaitan dengan industri CPO dan industri minyak . Hal ini menyebabkan terjadinya kelangkaan CPO untuk bahan baku industri minyak goreng sawit yang selanjutnya akan memicu ketidakseimbangan pasar minyak goreng sawit dalam negeri yang dicerminkan dengan kenaikan harga minyak goreng sawit domestik.Nilai dan volume impor minyak goreng sawit selama periode 1996-2002 meningkat rata-rata 565. Harga CPO pada Mei 2007 mencapai US$ 740 per ton dan diperkirakan akan terus naik hingga mendekati US$ 800 per ton. para produsen sawit akan lebih memilih memasarkan produknya di pasar internasional.7 juta) meningkat menjadi 14. Harga CPO di dalam negeri sangat ditentukan oleh harga CPO internasional. sehingga kekurangan tersebut ditutup dengan membuka keran impor minyak goreng (CIC.

Kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan CPO senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Kenyataannya. mengingat industri yang berbasis pada SDA lokal berpeluang untuk dapat menyerap tenaga kerja dan sebagai penghasil devisa dan diperkirakan pada tahun 2010 akan menjadi produsen CPO terbesar di dunia (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia). Laju ekspor yang tidak terkendali .2 Rumusan Masalah Indonesia yang memiliki potensi sebagai negara penghasil CPO terbesar di dunia.goreng. berupaya mengembangkan industri hilir. Lonjakan harga CPO dunia mengindikasikan adanya permintaan dunia yang tidak sebanding dengan produksi dan suplai CPO di pasar internasional. Salah satu kebijakan perdagangan yang ditetapkan pemerintah adalah kebijakan penetapan pajak ekspor CPO dengan harapan ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan CPO dalam negeri khususnya industri minyak goreng menjadi lebih terjamin dengan harga yang lebih murah. total produksi CPO Indonesia pada tahun 2006 telah melampaui Malaysia. Selama ini pemerintah telah mengeluarkan berbagai paket kebijakan bagi industri kelapa sawit yang dapat berdampak bagi industri hulu hingga hilir. Harga yang meningkat di pasaran internasional dapat menjadi insentif ekspor bagi pengusaha CPO domestik. tidak perlu menunggu sampai tahun 2010. 1. Kondisi permintaan dan penawaran domestik CPO dipengaruhi kekuatan permintaan dan penawaran di pasar internasional. sehingga Indonesia menjadi negara produsen CPO pertama di dunia. mengingat Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka.

sehingga industri minyak goreng sawit tidak mendapatkan pasokan bahan baku yang cukup. Tarif ekspor pada tahun 1997 diturunkan menjadi 2 persen sampai dengan 5 persen. . hingga kemudian naik menjadi 15 persen sampai dengan 40 persen. areal. hal ini merupakan perubahan ketujuh atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 92/PMK. Pada tahun 1991-1994 ekspor CPO dibebaskan. Pajak ekspor banyak diterapkan di negara berkembang dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan pemerintah dan menjamin ketersediaan produk di pasar domestik. Lalu melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 94/PMK. Sebaliknya. produksi dan pendapatan petani. Pada bulan Desember 2005. Tiga tahun kemudian ditetapkan tarif ekspor progresif yang mencapai 40 persen sampai dengan 50 persen bagi CPO dan produk olahannya. Besarnya tarif ekspor baru yang ditetapkan oleh pemerintah ini adalah sebesar 10 persen.02/2005. Pengembangan industri hilir CPO banyak mendapat insentif karena pemerintah akan mengembangkan mekanisme untuk mendorong berkembangnya industri hilir CPO yang dalam hal ini adalah industri minyak goreng. CPO dan produk turunannya. Adanya kebijakan perdagangan yang berupa pajak ekspor untuk CPO akan berdampak negatif pada industri hulunya yang dicerminkan oleh penurunan harga tingkat petani. industri hilir memperoleh beberapa manfaat seperti ketersediaan bahan baku yang lebih banyak dengan harga yang lebih rendah.011/2007 ditetapkan tarif pungutan ekspor baru atas kelapa sawit.5 persen dari tarif ekspor sebelumnya yaitu sebesar 3 persen sejak tahun 2001. pemerintah menetapkan kebijakan tarif ekspor sebesar 1.dapat mengakibatkan kurangnya pasokan CPO domestik.

4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi berbagai pihak yang berkepentingan. 1. maka permasalahan yang dianalisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Menganalisis dampak pajak ekspor di sektor industri CPO terhadap keseimbangan pasar dan harga minyak goreng sawit dalam negeri. Menganalisis keterkaitan ekspor CPO dengan keseimbangan pasar minyak goreng sawit dalam negeri.Mengingat pentingnya komoditas kelapa sawit dan minyak goreng sawit terhadap perekonomian Indonesia. Bagaimanakah keterkaitan ekspor CPO dengan keseimbangan pasar minyak goreng sawit dalam negeri ? 3. 2. 3. Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor CPO dan keseimbangan pasar minyak goreng sawit di Indonesia. maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi ekspor CPO dan keseimbangan pasar minyak goreng sawit di Indonesia ? 2. .3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah di atas. Bagaimana dampak pajak ekspor di sektor industri CPO terhadap keseimbangan pasar dan harga minyak goreng sawit dalam negeri ? 1.

. sebagai salah satu bahan rujukan dan bahan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya yang sejenis. 2. hasil penulisan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman tentang masalah-masalah yang dihadapi dan mampu memecahkan permasalahan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. kode SITC untuk minyak goreng sawit adalah 42229 sedangkan untuk industri minyak goreng sawit digunakan KLUI 5 digit yaitu 31154 dan 15144. Bagi penulis. Kemudian penelitian ini juga tidak membedakan antara minyak goreng sawit kemasan bermerek dengan minyak goreng sawit curah. Bagi pemerintah. 1. Data yang dipergunakan menjadi keterbatasan dalam penelitian ini. Kode HS untuk Crude Palm Oil adalah HS 151110000.1. Bagi peneliti selanjutnya.5 Batasan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebijakan perdagangan yaitu pajak ekspor di sektor industri CPO terhadap keseimbangan pasar minyak goreng sawit domestik. hasil penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dalam pengambilan keputusan terhadap kebijakan perdagangan disektor industri CPO dan industri minyak goreng sawit. 3.

Crude Palm Oil (CPO). Awal mulanya. menjadi salah satu komoditas perkebunan yang handal.II.1 Perkembangan Industri Kelapa Sawit di Indonesia Walaupun tanaman kelapa sawit bukan tanaman asli Indonesia. kelapa sawit hanya berperan sebagai tanaman hias langka di Kebun Raya Bogor dan sebagai tanaman penghias jalan atau pekarangan. barulah kelapa sawit dibudidayakan secara komersil (Satyawibawa dalam Mahisya. Zeven melaporkan bahwa fosil dari serbuk sari di Niger Delta sama dengan serbuk sari yang tumbuh saat ini.1 Gambaran Umum Industri Kelapa Sawit Indonesia 2. Awalnya masyarakat dunia tidak mengenal kelapa sawit kecuali Afrika dan daerah-daerah tropik. TINJAUAN PUSTAKA 2. Serbuk sari yang ditemukan tersebut menjadi bukti kuat bahwa kelapa sawit sudah dipelihara. pemerintah kolonial Belanda mendatangkan 4 batang bibit kelapa sawit dari Mauritius dan Amsterdam yang kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor. kelapa sawit dikenal sebagai tanaman domestik dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan akan minyak dan vitamin A . Selanjutnya hasil anakannya dipindahkan ke Deli. Tahun 1848. Sumatera Utara. Kelapa sawit berasal dari benua Afrika.1. Begitu pula Zeven. Mulai tahun 1911. namun tanaman ini dapat berkembang dengan baik dan produk olahannya. bukti tersebut diperkuat dengan adanya analisis fosil yang dilakukan oleh Fridel. Di Afrika. Fridel menemukan lemak dalam botol disebuah makam pada daerah Abyados yang diperkirakan adalah kelapa sawit. 2004).

cangkang (tempurung) dan tandan buah kosong kelapa sawit. sedangkan minyak yang kedua berasal dari inti kelapa sawit atau palm kernel oil (PKO). Minyak yang berasal dari daging buah (mesocarp) berwarna merah dikenal sebagai minyak kelapa sawit kasar atau crude palm oil (CPO). Minyak kelapa sawit juga mengandung beta karoten atau pro-vitamin A. antioksidan dan pro-vitamin E (tokoferol dan tokotrienol) yang sangat diperlukan dalam proses metabolisme dan untuk kesehatan tubuh manusia. Sejak awal abad ke-19 kelapa sawit mulai diperdagangkan karena masyarakat sudah banyak yang mengetahui manfaat dan kegunaannya. Sekarang ini kelapa sawit mulai banyak dibudidayakan ditiga daerah tropik ekuator. . Selain minyak. buah kelapa sawit juga menghasilkan bahan padatan berupa sabut. 2. yaitu Afrika. Asia Tenggara dan Amerika. bahan non makanan (oleochemical) dan bahan kosmetika dan farmasi.2 Pengolahan Kelapa Sawit Buah kelapa sawit dalam pengolahannya menghasilkan dua jenis minyak. makanan ternak dan bahan untuk industri. Kelapa sawit hanya digunakan oleh mereka yang mengetahui manfaatnya sedangkan yang lain mengabaikan atau sekedar membawanya saja.dalam susunan makanan.1. Bahan padatan ini dapat dimanfaatkan untuk sumber energi. Keunggulan minyak sawit dapat dilihat dari susunannya yang terdiri dari asam lemak tidak jenuh dan asam lemak jenuh. pupuk. Produk kelapa sawit dapat dikelompokkan dalam jenis bahan makanan (oleofood).

industri makanan ringan dan sebagainya. Pengolahan minyak sawit melalui proses hidrolisis menghasilkan asam lemak dan gliserin. Selain untuk industri bahan makanan dan non makanan. mentega (margarine). seperti amine alcohol dan metilester. kerosene atau gasoline. sebagian besar CPO difraksinasi sehingga menghasilkan fraksi olein (cair) dan fraksi stearin (padat). Sifat minyak kelapa sawit yang mudah diabsorbsi kulit. Bahan-bahan ini dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan cat dinding atau cat kayu. lilin. pembuatan plastik. Dan pada industri ringan dipakai sebagai bahan baku sabun. tinta cetak dan sebagainya. minyak diesel. bahan pengisi (adatif). deterjen. Minyak kelapa sawit pun digunakan oleh industri perak sebagai bahan flotasi pada pemisahan bijih tembaga dan cobalt. antara lain untuk industri penyamakan kulit agar menjadi lembut dan fleksibel. pasta gigi. lemak untuk masak (shortening). yang selanjutnya dapat diproses menjadi turunan-turunan asam lemak. banyak .Minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan pangan diperoleh melalui proses fraksinasi. rafinasi dan hidrogenasi. Fraksi olein digunakan untuk bahan pangan. Industri tekstil menggunakan minyak sawit sebagai pelumas yang tahan terhadap tekanan dan suhu yang tinggi. minyak kelapa sawit juga mempunyai potensi yang cukup besar untuk industri kosmetik dan industri farmasi. semir sepatu. sedangkan fraksi stearin untuk keperluan non pangan. tinta cetak. Minyak kelapa sawit sebagai bahan bukan pangan dapat digunakan untuk bahan industri ringan maupun berat. Umumnya. Bahan pangan dengan bahan naku olein antara lain : minyak goreng.

6 persen atau menjadi 12. 2.44 juta ton.3 Perkembangan Produksi Kelapa Sawit Perkembangan produksi kelapa sawit di Indonesia selama tujuh tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun berkisar antara 8.44 persen pada tahun 2006 sehingga menjadi sebesar 16. lipstik dan sebagainya.94 persen pada tahun 2001 menjadi sebesar 8.44-19.00 juta ton dan meningkat 19.51 persen pada tahun 2003 menjadi sebesar 10.33 juta ton.dipakai untuk pembuatan shampo. Pada tahun 2000 produksi kelapa sawit mencapai 7. Produksi kelapa sawit kembali mengalami peningkatan sekitar 9.1.61 persen. sedangkan pada tahun 2005 produksi kelapa sawit sebesar 14. krim. . minyak rambut.00 juta ton. sabun cair.62 juta ton dan meningkat 8.60 persen menjadi 9.62 juta ton yang berarti meningkat sekitar 18. Selanjutnya pada tahun 2002 meningkat lagi sebesar 14.1. Pada tahun 2004 produksi kelapa sawit meningkat sekitar 18. Perkembangan produksi kelapa sawit Indonesia tahun 2000-2006 disajikan pada Gambar 2.40 juta ton.94 persen.

Gambar 2.4 Perkembangan Ekspor Kelapa Sawit Produksi minyak sawit Indonesia sebagian besar dipasarkan ke mancanegara (diekspor) dan sisanya dipasarkan di dalam negeri.39 juta ton dengan nilai sebesar US$ 2. volume ekspor minyak sawit Indonesia meningkat sekitar 29.09 milyar dan US$ 1.08 milyar.45 milyar. Australia.1 Perkembangan Produksi Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2000-2006 2.1.18000000 16000000 Produksi CPO (Ton) 14000000 12000000 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 0 2000 2001 2002 2003 Tahun 2004 2005 2006 Sumber : Badan Pusat Statistik.11 dan 4.09 milyar dan pada tahun 2003 mengalami peningkatan lagi sebesar 0. Dan di tahun 2002.90 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 1. Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2006 (diolah).33 juta ton dengan nilai ekspor mencapai US$ 2.17 persen menjadi sebesar 6. Afrika. Perkembangan ekspor minyak sawit periode 2000-2006 cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2000 dan 2001 volume ekspor minyak sawit Indonesia masing-masing mencapai 4. Pangsa pasar untuk produk minyak sawit tersebut telah menjangkau kelima benua yakni Asia. Namun demikian Asia merupakan pangsa pasar yang paling utama. Pada tahun 2004 volume ekspor mengalami . Amerika dan Eropa.83 persen atau menjadi 6.

10 juta ton dengan nilai mencapai sebesar US$ 4.76 milyar. Pada tahun 2006 mengalami kenaikkan sebesar 16.61 persen atau menjadi 12.44 milyar.68 persen selama periode 2000-2006.38 juta ton dan nilai sebesar US$ 3.73-51.kenaikan yakni menjadi 8. Ekspor CPO Indonesia cenderung meningkat berkisar 1.82 milyar. Ekspor minyak sawit kembali mengalami peningkatan (19. 14000000 12000000 Ekspor CPO (Ton) 10000000 8000000 6000000 4000000 2000000 0 2000 2001 2002 2003 Tahun 2004 2005 2006 Sumber : Badan Pusat Statistik.89 juta ton atau sebesar 36.63 persen dan nilainya mencapai US$ 3.42 persen terhadap total volume ekspor CPO Indonesia dengan nilai sebesar US$ 738. Pada tahun 2006. peringkat kedua adalah Belanda dengan volume ekspor sebesar 0. Perkembangan ekspor CPO Indonesia tahun 20002006 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.2 Perkembangan Ekspor CPO Indonesia Tahun 2000-2006 CPO Indonesia diekspor ke berbagai negara tujuan. Gambar 2.83 juta ton atau . lima besar negara yang menjadi pengimpor CPO Indonesia berturut-turut yaitu India yang volume ekspornya mencapai 1. Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2006 (diolah).3 juta.79%) pada tahun 2005 dengan volume sebesar 10.66 juta ton atau meningkat 35.

sementara itu Malaysia dan Jerman berada di posisi keempat dan kelima.05 persen dan nilai ekspornya sebesar US$ 322. Ekspor CPO ke Malaysia pada tahun 2006 mencapai 0.49 juta ton dengan nilai ekspor US$ 185. Kemudian yang ketiga adalah Singapura dengan kontribusi 9. karena pengalaman yang .35 persen dengan nilai ekspor mencapai US$ 68.5 juta. Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2006 (diolah).47 juta ton atau sekitar 9.memiliki kontribusi 16. Gambar 2.17 juta ton atau 3.4 juta.2 Gambaran Umum Industri Minyak Goreng Indonesia Minyak goreng merupakan salah satu bahan makanan pokok yang dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.02 persen dengan nilai ekspor sebesar US$ 166 juta. Besarnya persentase volume ekspor CPO dari lima negara terbesar pengimpor CPO Indonesia tahun 2006 disajikan pada Gambar 2. 26% 37% India Belanda Malaysia Jerman 9% 3% 9% 16% Singapura Lainnya Sumber : Badan Pusat Statistik. baik yang berada di pedesaan maupun di perkotaan.41 persen atau volume ekspornya sebesar 0.9 juta. sedangkan untuk Jerman sebesar 0.3 di bawah ini. Oleh karena itu. minyak goreng dapat pula dikategorikan sebagai komoditas yang cukup strategis.3 Persentase Volume Ekspor CPO Indonesia Menurut Negara Tujuan Tahun 2000-2006 2.

kedelai dan kanola. . Rendahnya lemak jenuh dalam minyak sawit dikarenakan adanya proses pemanasan dan pengepresan dalam produksi minyak sawit. didominasi oleh jenis minyak goreng asal kelapa. Dibandingkan dengan minyak sawit. kacang-kacangan. Minyak goreng dari tumbuhan biasanya dihasilkan dari tanaman seperti kelapa. Minyak goreng merupakan minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya digunakan untuk menggoreng makanan.ada selama ini menunjukkan bahwa kelangkaan minyak goreng dapat menimbulkan dampak ekonomis dan politis yang cukup berarti bagi perekonomian nasional. Keunggulan lain yang dimiliki oleh minyak sawit dibandingkan minyak kelapa adalah harga minyak kelapa sawit lebih murah dan juga warnanya lebih jernih sehingga aman bagi kesehatan. minyak goreng asal kelapa tergeser oleh minyak goreng asal sawit. kelapa sawit. Semenjak semakin meningkatnya produksi kelapa sawit pada tahun 1970-an. jagung. Bagi masyarakat yang sudah paham pentingnya kesehatan mereka lebih memilih minyak goreng yang berbahan baku dari minyak kelapa sawit. biji-bijian. minyak kelapa mengandung lemak jenuh dalam jumlah tinggi dan diperkirakan sebagai penyebab penyakit jantung koroner. Minyak goreng yang dikonsumsi masyarakat pada masa sebelum orde baru dan sampai pada awal pembangunan jangka panjang (PJP) I.

Bukit Kapur grup dan Raja Garuda Mas. Sistem perdagangan minyak goreng saat itu dilakukan dalam bentuk minyak goreng curah. Sejalan dengan diperkenalkannya tanaman kelapa sawit sebagai salah satu tanaman perkebunan di Indonesia. Sinarmas grup (produsen Filma). Sistem pemasaran minyak goreng dilakukan sepenuhnya oleh perusahaan swasta. Hasil Karsa grup. Bakrie grup. Beberapa konglomerat yang terjun dalam bisnis perkebunan dan pengolahan kelapa sawit diantaranya adalah Salim grup (produsen Bimoli). Minyak kelapa sawit mendominasi penggunaannya sebagai bahan baku industri minyak goreng nasional. industri minyak goreng Indonesia dimulai dari skala rumah tangga dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari minyak kelapa. Budidaya kelapa sawit tidak tergantung musim tertentu.5 juta ton. dan selanjutnya mulailah bermunculan minyak goreng bermerek.Pada awal masa perkembangannya. lebih tahan hama dan dapat diusahakan dalam skala besar sehingga dapat mencapai skala ekonomi tertentu. Pangsa pasar produk minyak goreng saat ini diperebutkan oleh sekitar 120 produsen lokal yang masih aktif berproduksi dengan kapasitas produksi sebesar 8. Pergeseran posisi tersebut dikarenakan minyak sawit mentah yang berasal dari pohon kelapa sawit lebih mudah dibudidayakan. Kelompok di atas memiliki . Astra grup. Akan tetapi mengingat bahwa minyak goreng merupakan komoditas strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak. pemerintah selalu memantau perkembangan pemasarannya agar ketersediaan minyak goreng dipasar selalu tercukupi dengan harga yang relatif stabil. minyak kelapa mulai tergeser posisinya sebagai bahan baku minyak goreng oleh minyak kelapa sawit. Musi Mas grup.

Perkembangan produksi dan konsumsi minyak goreng sawit Indonesia disajikan pada Tabel 2. Sedangkan konsumsi per kapita minyak goreng di Indonesia mencapai 16.6 kilogram per kapita per tahun. dimana konsumsi minyak goreng terbesar adalah konsumsi langsung oleh masyarakat.28 persen per tahun. Konsumsi minyak goreng sawit yang relatif tinggi ini sejalan dengan beralihnya pola konsumsi masyarakat dari minyak goreng kelapa ke minyak goreng sawit serta tingginya laju pertumbuhan penduduk Indonesia. pengolahan CPO dan pabrik minyak goreng.1. 2. Rata-rata pertumbuhan produksi minyak goreng sawit di Indonesia selama periode 1999-2005 sebesar 10.1 Produksi dan Konsumsi Minyak Goreng Sawit Indonesia Pada Tabel 2. . yaitu sebesar 1.6 persen.5 kilogram per tahun dimana konsumsi per kapita khusus untuk minyak goreng sawit sebesar 14.industri terpadu mulai dari perkebunan sawit.2.1 terlihat bahwa perkembangan industri minyak goreng sawit pada enam tahun terakhir mengalami peningkatan sejalan dengan beralihnya pola konsumsi masyarakat dari minyak goreng kelapa ke minyak goreng sawit.

6 8. (3) pemupukan cadangan penyangga minyak sawit kasar dan (4) pelarangan ekspor.2 Sumber : Badan Pusat Statistik.2 10.97 14.2 3. 1996).03 Pertumbuhan (%) -1.950 7. Neraca Bahan Makanan dan Statistik Industri Besar dan Sedang Volume II 1999-2005 (diolah). (2) penetapan alokasi kebutuhan dalam negeri berupa pembatasan ekspor.28 14. Instrumen yang sangat populer dan banyak menimbulkan kontroversi antar pihak-pihak yang . Hal ini telah dilakukan sejak tahun 1978 (Lampiran 1).3 Tinjauan Kebijakan Pemerintah di Sektor Industri Minyak Sawit Kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan oleh pemerintah pada industri kelapa sawit tidak hanya dari sisi peningkatan produksi namun yang lebih kompleks pada sisi pengaturan tataniaga minyak sawit.3 11.1 Produksi dan Konsumsi Minyak Goreng Sawit di Indonesia Tahun 2000-2005 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Produksi (000 Ton) 6.76 13.5 4.955 11.6 1.938 Pertumbuhan (%) 11.110 10.660 9. 2.38 16.2 18.5 2. Beberapa instrumen kebijakan pemerintah yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah (1) penetapan pungutan ekspor.Tabel 2. dan (2) pengendalian pasokan minyak sawit kasar di dalam negeri melalui pembatasan ekspor untuk menjaga kestabilan harga minyak goreng (Amang.4 9.060 10.1 4.0 Konsumsi/Kap (Kg/Kap/Tahun) 13.72 15. Berbagai instrumen kebijakan telah diaplikasikan untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : (1) pengendalian laju inflasi dan mencegah penurunan pendapatan riil masyarakat.

1 Penelitian Mengenai CPO Penelitian Mahisya (2004). hal ini disebabkan karena deflasi nilai tukar rupiah yang semakin meningkat menyebabkan harga CPO Indonesia dipasar dunia akan dirasakan lebih murah oleh konsumen diluar negeri sehingga mereka meningkatkan permintaannya terhadap CPO Indonesia. 2.4 Studi Terdahulu 2. Penelitian tentang CPO juga dilakukan oleh Askadarimi (2007) mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan minyak sawit (CPO) Indonesia dengan menggunakan metode Two-Stage Least Squares (2SLS). menganalisa permintaan ekspor CPO Indonesia.4. Hasil penelitian Askadarimi menunjukkan bahwa produksi minyak sawit (CPO) Indonesia tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi luas areal kelapa . defisit ini terjadi pada pasar dunia yang juga memberikan imbas bagi pasar domestik suatu negara.berkepentingan adalah pajak ekspor (tax export) dan pelarangan ekspor (export ban). Sementara itu. Mahisya menyimpulkan bahwa perkembangan harga domestik memiliki pengaruh yang positif terhadap laju pertumbuhan ekspor. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan harga domestik suatu negara yang meningkat menandakan adanya defisit supply terhadap komoditi CPO. deflasi nilai tukar rupiah berhubungan positif dengan volume permintaan ekspor. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan Error Correction Model (ECM). karena adanya defisit suplai dari pasar dunia maka akan memicu harga CPO dunia meningkat dan berefek juga produsen CPO dalam negeri untuk melakukan ekspor untuk memenuhi kebutuhan CPO dunia.

Data yang digunakan pada penelitian tersebut adalah data sekunder dalam time series periode 1969-1993. model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model ekonometrika persamaan simultan yang diduga dengan metode pangkat dua terkecil tiga tahap atau Linear Three Stage Least Squares (LTSLS).4. sedangkan dalam jangka panjang kebijakan dari sisi produksi akan lebih efektif. Pengenaan pajak ekspor CPO untuk pengamanan pasokan domestik mestinya hanya menjadi kebijakan jangka pendek. dummy kebijakan perluasan areal kelapa sawit Indonesia dan luas areal kelapa sawit Indonesia tahun sebelumnya. disamping itu . sedangkan harga riil CPO domestik dan harga riil pupuk domestik tidak berpengaruh secara nyata.sawit dan produktivitas minyak sawit Indonesia. dummy kebijakan perluasan areal kelapa sawit dan produktivitas CPO Indonesia tahun sebelumnya berpengaruh nyata. Hasil estimasi menunjukkan bahwa luas areal produktif tidak responsif terhadap perubahan masing-masing peubah eksogen yang diperhitungkan dalam model.2 Penelitian Mengenai Minyak Goreng Sawit dan Minyak Goreng Kelapa Hasil kajian yang dilakukan oleh Suharyono (1996) mengkaji mengenai Analisis Dampak Kebijakan Ekonomi pada Komoditi Minyak Sawit dan Hasil Industri yang Menggunakan Bahan Baku Minyak Sawit di Indonesia. Persamaan luas areal kelapa sawit Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh harga riil CPO domestik. Pada persamaan produktivitas kelapa sawit Indonesia menunjukkan bahwa harga riil ekspor CPO. 2. harga riil karet domestik.

Peubah trend teknologi ternyata mampu memberikan pengaruh yang besar pada perubahan penawaran minyak goreng sawit domestik. Produksi minyak sawit domestik responsif terhadap permintaan minyak sawit dunia. dalam jangka panjang juga dipengaruhi oleh harga minyak goreng sawit dan harga minyak goreng kelapa. margarine dan sabun. Disamping itu produksi margarine dan sabun baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang juga responsif terhadap permintaan sabun. margarine dan sabun baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang responsif terhadap perubahan pendapatan nasional. Khusus untuk permintaan minyak goreng sawit. sedangkan produksi minyak goreng sawit domestik responsif terhadap teknologi dan permintaan minyak goreng sawit domestik. Namun demikian harga minyak sawit domestik hanya memberikan dampak yang besar pada penawaran penawaran minyak sawit domestik. Hal ini tidak terjadi pada penawaran minyak sawit domestik. Sedangkan harga ekspor minyak . Perubahan harga minyak sawit dunia dalam jangka panjang akan memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan harga ekspor minyak sawit Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang hubungan minyak goreng sawit dan minyak goreng kelapa dilihat dari sisi konsumen lebih cenderung bersifat substitusi. Permintaan minyak goreng sawit.produktivitas minyak sawit domestik hanya responsif terhadap perubahan harga ekspor. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan permintaan minyak sawit minyak sawit oleh industri minyak goreng sawit akan besar pengruhnya bagi permintaan minyak sawit domestik secara keseluruhan.

minyak goreng sawit. Selama kurun waktu 1969-1993 ternyata tidak terjadi perkembangan teknologi yang cukup berarti. Penelitian mengenai minyak goreng juga dilakukan oleh Ratri (2004) yang menganalisis permintaan dan dan penawaran minyak goreng kelapa di Indonesia dengan menggunakan metode persamaan simultan 2SLS. Hasil estimasi persamaan permintaan menunjukkan bahwa harga minyak goreng kelapa. Hasil estimasi dari penelitian Ratri menunjukkan bahwa persamaan penawaran menunjukkan bahwa harga minyak goreng kelapa. nilai tukar dan dummy kebijakan pembebasan ekspor berpengaruh nyata terhadap . (3) kebijakan peningkatan pendapatan nasional. harga minyak kelapa kasar dan stok tahun sebelumnya tidak berpengaruh nyata pada penawaran sedangkan upah dan trend berpengaruh nyata terhadap penawaran. margarine maupun sabun terhadap perubahan teknologi. total surplus konsumen domestik dan total surplus devisa. karena mampu meningkatkan total surplus produsen domestik. sedangkan hasil estimasi persamaan ekspor menunjukkan bahwa harga ekspor. baik minyak sawit. Hal ini terlihat dengan tidak responsifnya perubahan harga. Kebijakan ekonomi yang dinilai paling ideal. baik dalam pasar terkendali maupun yang bebas adalah (1) kebijakan penurunan tingkat bunga sebesar tiga persen dari tingkat bunga tertinggi. harga minyak goreng sawit. (2) kebijakan peningkatan harga pupuk sebesar lima puluh persen dari harga pupuk rata-rata dan. trend dan permintaan tahun sebelumnya berpengaruh nyata terhadap permintaan.sawit Indonesia ke pasar Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) ternyata memberikan pengaruh yang besar pada perubahan volume ekspor komoditi itu ke pasar MEE.

3 Penelitian Mengenai Two-Stage Least Square (2SLS) Jamaludin (2005) melakukan penelitian dengan menggunakan metode Two. upah tenaga kerja di sektor Industri.Stage Least Square (2SLS) untuk menganalisis dampak kebijakan perdagangan gandum-tepung terigu terhadap keseimbangan tepung terigu di Indonesia. jumlah impor gandum. permintaan dan ekspor tidak responsif dalam jangka pendek.4. Sedangkan untuk harga tepung terigu domestik secara nyata ditentukan oleh penawaran tepung terigu Indonesia dan trend waktu. 2. Semua variabel dalam persamaan penawaran. pendapatan nasional.ekspor. Dalam penelitiannya Ia menggunakan metode 2SLS dan metode Revealed Comparative Advantage (RCA) untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing industri semen Indonesia dan pengaruh daya saing . jumlah penduduk dan dummy kebijakan perdagangan impor gandum-tepung terigu. Permintaan tepung terigu ditentukan dan responsif terhadap harga tepung terigu domestik. Model yang dirumuskan oleh Jamaludin terdiri dari 7 persamaan yang di dalamnya terdiri dari persamaan identitas dan persamaan struktural. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa produksi tepung terigu Indonesia secara nyata dipengaruhi oleh variabel harga tepung terigu domestik. Seluruh jumlah variabel yang membangun berjumlah 29 variabel. Widayunita (2007) juga melakukan penelitian dengan menggunakan metode 2SLS untuk menganalisa daya saing industri semen Indonesia periode 1978-2005. dan bedakala produksi tepung terigu Indonesia.

Bentuk logaritma menunjukkan persentase perubahan variabel independent terhadap variabel dependent. efisiensi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa industri semen Indonesia memiliki tingkat daya saing yang kuat di pasar internasional. jumlah tenaga kerja. kecuali variabel-variabel yang sudah dalam bentuk persen. . Daya saing industri semen Indonesia berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Daya saing industri semen Indonesia dipengaruhi secara positif oleh produktivitas. produktivitas tenaga kerja dan dipengaruhi secara negatif oleh dummy krisis. nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Penelitian Pristia menggunakan dua persamaan struktural yang diestimasi dengan menggunakan persamaan simultan.terhadap penyerapan tenaga kerja. Kedua persamaan tersebut diubah kedalam bentuk double log. ekspor semen Indonesia.

Dalam arti sempit. Perdagangan internasional dalam arti luas merupakan alat penggerak bagi pertumbuhan sektor ekonomi di suatu negara. Seiring dengan terus meningkatnya taraf hidup dan kebutuhan masyarakat. baik aspek ekonomi maupun non-ekonomi. serta perubahan politik dunia.III. maka kehidupan suatu negara akan semakin terkait dengan perkembangan keadaan negara lain.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3. maka masing-masing negara harus mengkonsumsi hasil produksinya sendiri (Salvatore. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Apabila perdagangan internasional tidak ada. Menurut Halwani dalam Ervina (2005) negara-negara akan melakukan perdagangan bila mereka memperoleh manfaat atau keuntungan didalam perdagangan tersebut (gains from trade). Ada dua alasan mengapa hal ini . 1997). meningkatnya peran teknologi. komunikasi. sumberdaya. perdagangan internasional merupakan suatu proses yang timbul sehubungan dengan pertukaran komoditi antar negara.1.1 Teori Perdagangan Internasional Perdagangan atau pertukaran secara ekonomi dapat diartikan sebagai proses tukar-menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela. Perdagangan akan terjadi bila diantara pihak yang melakukan perdagangan mendapatkan manfaat atau keuntungan. Demikian pula halnya dengan perdagangan internasional. Karena dengan adanya perdagangan internasional akan berdampak cukup luas terhadap perekonomian suatu negara.

Berdasarkan asumsi tersebut. memperbesar penerimaan devisa bagi kegiatan pembangunan. dan mengimpor barang-barang yang menggunakan faktorfaktor produksi yang relatif langka dan mahal (Salvatore. HeckserOhlin menganggap bahwa suatu negara dicirikan oleh faktor bawaan yang berbeda. Di pihak lain. Secara teoritis. Dalam hal ini faktor produksi di negara A relatif berlimpah.terjadi yaitu karena setiap negara mempunyai keunggulan komparatif yang berbeda dan untuk tujuan skala ekonomis (economic of scale). Pada dasarnya beberapa faktor yang mendorong timbulnya perdagangan internasional suatu negara dengan negara lainnya bersumber dari keinginan memperluas pasaran komoditi ekspor. negara B terjadi kekurangan penawaran . Dalam teori mengenai timbulnya perdagangan internasional. adanya perbedaan penawaran dan permintaan antar negara. Struktur harga yang relatif rendah di negara A tersebut disebabkan adanya kelebihan penawaran (excess supply) yaitu produksi domestik yang melebihi konsumsi domestik. Dengan demikian negara A mempunyai kesempatan menjual kelebihan produksinya ke negara lain. dapat disimpulkan bahwa dengan fungsi produksi yang sama dan faktor bawaan yang berbeda antar negara. suatu negara (misal negara A) akan mengekspor suatu komoditi (misal CPO) ke negara lain (misal negara B) karena harga domestik di negara A lebih rendah jika dibandingkan dengan harga domestik di negara B. suatu negara cenderung untuk mengekspor komoditi yang menggunakan faktor produksi yang lebih banyak dan secara relatif murah. sedangkan fungsi produksi di semua negara adalah sama. serta akibat adanya perbedaan biaya relatif dalam menghasilkan komoditi tertentu. 1997).

1997). Sebelum terjadi perdagangan internasional. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya excess demand di negara B. Permintaan impor digambarkan oleh kurva Dw yang merupakan excess demand dari negara B. Di negara B keseimbangan terjadi pada titik Eb dengan dengan jumlah produksi sebesar Qb1 dan harga yang terjadi adalah sebesar P3. Keseimbangan di pasar dunia terjadi pada titik Ew yang menghasilkan harga dunia sebesar P2 dimana negara A mengekspor sebesar (Qa2-Qa3) yang sama jumlahnya dengan yang diimpor negara B (Qb2-Qb3) jumlah .1. Dalam hal ini negara B berkeinginan untuk membeli komoditi negara lain yang harganya relatif lebih murah. Harga di negara A (P1) lebih rendah daripada harga di negara B (P3). Produsen di negara A akan memproduksi lebih banyak dari tingkat konsumsi domestik untuk harga di atas P1. keseimbangan di negara A terjadi pada titik Ea dengan jumlah produksi sebesar Qa1 dan harga yang terjadi adalah P1. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya excess supply di negara A. maka dapat terjadi perdagangan antara kedua negara tersebut dimana negara A akan mengekspor komoditi CPO ke negara B (Salvatore. Penawaran ekspor pada pasar internasional digambarkan oleh kurva Sw yang merupakan excess supply dari negara A. Jika kemudian terjadi komunikasi antara negara A dan negara B. Kemudian terjadilah perdagangan antara negara A dan negara B. Secara grafis terjadinya perdagangan antara negara A dan negara B dapat dilihat pada Gambar 3. Sementara untuk harga di bawah P3.karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestik (excess demand) sehingga harga menjadi tinggi. negara B akan meminta lebih banyak dari tingkat produksi domestiknya.

Nilai tukar adalah harga mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam mata uang lain yang dapat dibeli dan dijual (Lipsey. 1997 Gambar 3.1 Terjadinya Perdagangan Internasional 3. Nilai tukar ini akan mempengaruhi kebijakan perdagangan antara masing-masing negara pengekspor dan pengimpor. Grafik A Pasar di negara A Untuk komoditi CPO Grafik B Hubungan perdagangan internasional untuk komoditi CPO Grafik C Pasar di Negara B untuk komoditi CPO P P P3 P2=Pw P1 Ea DA Qa2 Qa1 Qa3 Q Qw P Eb P3 P2 Dw A SB Ekspor P2=Pw P1 A SA B Sw Ew B Impor DB Q Qb2 Qb1 Qb3 Q Sumber : Salvatore. 1995). Peningkatan atau penurunan nilai mata uang domestik terhadap mata uang asing dapat mempengaruhi volume ekspor yang diperdagangkan.2Teori Nilai Tukar Kegiatan ekspor suatu komoditi yang terjadi di pasar internasional tidak terlepas dari masalah nilai tukar yang terjadi.ekspor dan impor tersebut ditunjukkan oleh volume perdagangan sebesar Qw pada pasar dunia. Bertambah mahal atau murahnya suatu komoditas .1.

Semula sebelum terjadinya penurunan nilai tukar. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa penurunan nilai tukar (depresiasi) menyebabkan tejadinya peningkatan volume ekspor. . Kondisi nilai tukar seperti terdepresiasinya Rupiah terhadap Dollar Amerika merupakan faktor yang dapat menyebabkan pergeseran kurva penawaran ke kanan. Penurunan nilai tukar yang terjadi menyebabkan terjadinya peningkatan output pada kurva IS. Pergeseran kurva supply dunia dari SW menjadi SW1 menyebabkan tingkat harga dunia yang terjadi lebih rendah dan volume perdagangan internasional meningkat dari 0Q menjadi 0Q1. Peningkatan output ini terjadi karena adanya peningkatan ekspor bersih sebagaimana ditunjukkan pada gambar perpotongan keynesian. Kondisi ini mengakibatkan kurva supply dunia mengalami pergeseran dengan titik awal yang sama. Apabila di negara A terjadi depresiasi nilai tukar yang terlihat pada penurunan nilai tukar dari e1 menjadi e2. Mekanisme pengaruh perubahan nilai tukar terhadap volume ekspor dapat dilihat pada Gambar 3. Terdepresiasinya Rupiah terhadap Dollar Amerika membuat harga CPO Indonesia relatif lebih murah sehingga mendorong terjadinya peningkatan jumlah penawaran ekspor. Negara pengimpor merespon perubahan harga ini dengan meningkatkan jumlah impornya. besarnya excess supply di negara A sebesar X1X2.ekspor di pasar internasional sangat ditentukan oleh nilai tukar mata uang suatu negara. Setelah terjadinya penurunan nilai tukar menyebabkan terjadinya peningkatan excess supply menjadi X3X4.2. Selanjutnya dapat dijelaskan pula bagaimana mekanisme peningkatan volume ekspor yang disebabkan penurunan nilai tukar pada gambar perdagangan internasional.

NX1 Pengeluaran aktual NX2 Y1 Y2 Pengeluaran E Kurs.2 Dampak Depresiasi Mata Uang Negara Eksportir pada Keseimbangan Perdagangan Internasional .Besarnya volume ekspor negara A setelah depresiasi nilai tukar (X3X4. 2003 Gambar 3.) sama dengan besarnya volume impor negara B (M3M4). e Kurs. e e1 e2 e1 e2 NX1 NX2 (Ekspor bersih) Y1 SW Y2 (Output) DB SB DA SA Pw SW1 DW X4 X1 X2 X3 0 Q Q1 Perdagangan Internasional M4 M1 M2 M3 Negara Pengekspor Negara Pengimpor Sumber : Mankiw.

3. tingkat teknologi. Beberapa faktor yang mempengaruhi penawaran suatu komoditas adalah harga komoditas yang bersangkutan. harga faktor produksi. ekspor suatu negara merupakan kelebihan penawaran domestik atau produksi barang atau jasa yang tidak dikonsumsi oleh konsumen dari negara yang bersangkutan atau tidak disimpan dalam bentuk stok (Kindleberger and Lindert. maka ekspor minyak sawit dapat didefinisikan sebagai berikut : Xt = Q – Ct + St Dimana : Xt = Jumlah ekspor pada tahun ke-t Qt = Jumlah produksi domestik pada tahun ke-t Ct = Jumlah konsumsi pada tahun ke-t St = Jumlah stok awal tahun ke-t Asumsi yang digunakan dalam (3. sehingga dapat diabaikan.1) adalah impor minyak sawit negara pengekspor relatif sangat kecil dibandingkan dengan jumlah produksinya. Mengingat besarnya tingkat produksi minyak sawit bila dibandingkan dengan permintaannya. (3. Berdasarkan pengertian lebih luas. Dengan pengertian ini. 1982).3 Teori Penawaran Ekspor CPO Indonesia Penawaran suatu komoditas merupakan jumlah komoditas yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumen dalam suatu pasar pada tingkat harga dan waktu tertentu.1) . pajak dan subsidi (Lipsey dkk.1. Konsumsi domestik negara produsen pada umumnya relatif stabil sehingga dapat diabaikan. 1995). maka walaupun terdapat stok di negara produsen diduga bukanlah berfungsi sebagai penyangga (buffer).

4 Kebijakan Pajak Ekspor Proses perdagangan internasional yang dilakukan oleh berbagai negara diwarnai dengan adanya hambatan-hambatan perdagangan yang dilakukan oleh suatu negara untuk tujuan tertentu seperti untuk meningkatkan kesejahteraan . XRt. Demikian juga harga minyak sawit negara produsen lain sebagai mitra dagang.namun merupakan sisa produksi pada akhir tahun yang tidak dapat disalurkan di pasar internasional. Xt = f (HXt. Xt-1) Dimana : HXt = HDIt = Qt = Harga ekspor minyak sawit pada tahun t Harga minyak sawit domestik pada tahun t Produksi pada tahun t Nilai tukar mata uang asing pada tahun t Faktor – faktor lain yang mempengaruhi ekspor tahun t Jumlah ekspor minyak sawit pada tahun t-1 (3.2) ERt = Vt = Xt-1 = 3. berbagai kebijakan pemerintah suatu negara atau kebijaksanaan internasional.1. Penawaran ekspor suatu negara juga dipengaruhi oleh tingkat bunga dan nilai tukar valuta asing di negara pengekspor dan di negara partner dagang negara pengekspor (Branson and Litvack dalam Imi. tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi keragaman ekspor suatu negara. Dengan demikian. 2007). Vt. Qt. maka fungsi penawaran ekspor minyak sawit suatu negara dalam bentuk dinamis dapat dirumuskan sebagai berikut . HDIt.

produk perikanan. produk kehutanan.nasional. minyak kelapa sawit. maka pemberlakuan hambatan tersebut akan berpengaruh pada harga komoditi perdagangan dunia. hal tersebut akan diikuti dengan peningkatan harga ekspor. kakao. kopi. Sementara itu. . yaitu pajak yang dikenakan untuk suatu komoditi yang diekspor ke negara lain. dampak pajak ekspor pada suatu negara yang tidak memiliki kekuatan pasar akan memperburuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial. jika negara yang memberlakukan hambatan perdagangan adalah negara kecil maka pemberlakuan hambatan tersebut hanya berpengaruh pada harga komoditi di negara tersebut. Salah satu bentuk hambatan perdagangan yang sering diterapkan di negara eksportir adalah kebijakan tarif ekspor. mineral. Piermartini dalam Fitri (2007) menjelaskan bahwa produk yang menjadi subjek untuk pajak ekspor biasanya merupakan produk pertanian seperti gula. Negara-negara dapat menghambat perdagangan luar negeri dengan membuat hambatan ekspor maupun impor. Efek pajak ekspor tergantung pada kekuatan pasar yang ada. Bagaimanapun apabila terjadi peningkatan perdagangan. dan sebagainya. produk logam dan produk kulit. volume perdagangan dan distribusi pendapatan. Hambatan perdagangan yang diterapkan oleh suatu negara dapat mempengaruhi harga suatu komoditi yang diperdagangkan. Apabila negara yang memberlakukan hambatan perdagangan adalah negara besar. Namun. Pelaksanaan pajak ekspor oleh negara yang memiliki kekuatan pasar akan lebih efektif dibandingkan dengan negara tanpa kekuatan pasar dalam hal mempengaruhi harga internasional.

Dengan harga tersebut. sehingga banyaknya CPO yang diekspor sebesar Q1Q2. jumlah CPO domestik yang ditawarkan sebanyak Q2 dan jumlah yang diminta perusahaan domestik sebanyak Q1. Dengan pengenaan tarif ekspor sebesar tiga persen maka kurva penawaran (Se) akan bergeser ke kiri atas menjadi Se1.Crude palm Oil (CPO) adalah salah satu komoditas ekspor perkebunan yang telah dikenakan pungutan ekspor. permintaan. Sejak Maret 2001 sampai dengan November 2005. Pada saat itu harga ekspor sebesar Pe1. ekspor CPO dikenakan tarif pungutan ekspor sebesar tiga persen. yaitu sebesar P0. . 2007 Gambar 3.3 Dampak Pemberlakuan Pungutan Ekspor CPO Terhadap Industri CPO Pada saat tidak dikenakan pajak ekspor maka harga ekspor akan sama dengan harga domestik. dalam Fitri.3. Pengaruh pajak ekspor terhadap harga. dan penawaran domestik dibandingkan dengan tidak dikenakan pungutan ekspor dapat dijelaskan pada Gambar 3. P P Se1 Se2 D P0 P2 P1 Sd Pe1 Pe2 Se De Q1 Q5 Q3 Q4 Q6 Q2 Q Ekspor CPO Q Industri CPO Sumber : Puteri et all.

Disisi lain. sehingga stabilitas harga minyak goreng sawit yang mencerminkan keseimbangan pasar minyak goreng sawit dalam negeri dapat terjaga. Pajak ekspor CPO sejak Desember 2005 diturunkan dari tiga persen menjadi 1. penurunan ekspor CPO ini berpengaruh terhadap industri hilirnya yaitu minyak goreng sawit.tetapi yang diterima eksportir sebesar P1.5 persen dapat digambarkan oleh pergeseran kurva penawaran ekspor dari Se1 menjadi Se2. Akibatnya jumlah CPO domestik yang ditawarkan meningkat dari Q6. Akibatnya jumlah CPO domestik yang ditawarkan sebesar Q4 sedangkan yang diminta oleh perusahaan domestik sebesar Q3.3. Dampak penurunan ini juga dapat dijelaskan pada Gambar 3. Hal ini menjadi daya tarik bagi para produsen CPO untuk lebih banyak lagi dalam mengekspor CPO. Hal ini akan berpengaruh pada kelangkaan bahan baku untuk industri minyak goreng sawit dalam negeri sehingga supply minyak goreng sawit menjadi berkurang yang akan memicu kenaikan harga minyak goreng sawit dalam negeri. Penurunan pajak ekspor dari tiga persen menjadi 1. karena industri tersebut akan lebih banyak menerima pasokan bahan baku. . maka harga ekspor turun dari Pe1 menjadi Pe2 dan harga yang diterima eksportir (produsen CPO) meningkat dari P1 menjadi P2. yang diminta turun dari Q3 menjadi Q5 dan yang diekspor meningkat dari Q3Q4 menjadi Q5Q6. yang lebih rendah dari P0. Dengan asumsi permintaan ekspor tetap. Hal ini berakibat jumlah yang diekspor berkurang menjadi Q3Q4 (lebih kecil dari Q1Q2).5 persen.

Bila .1. 3. maka semakin sedikit jumlah komoditi yang ditawarkan oleh para produsen/penjual. Teknologi (T) Bila terjadi perubahan atau peningkatan pada teknologi dalam proses produksi maka akan terjadi perubahan pada produksi yang cenderung meningkat. semakin banyak jumlah komoditi yang akan ditawarkan oleh para produsen/penjual. maka penawaran komoditi yang bersangkutan akan menurun. Harga komoditi itu sendiri (H) Harga komoditi itu sendiri mempunyai hubungan yang positif dengan jumlah yang ditawarkan. ceteris paribus. Sebaliknya semakin rendah harga suatu komoditi. Perubahan pada penawaran dapat terjadi karena adanya pengaruh dari beberapa faktor seperti : 1.5 Teori Penawaran Minyak Goreng Sawit Indonesia Penawaran adalah jumlah suatu barang dan jasa yang rela dan mampu dijual oleh para produsen dalam jangka waktu tertentu dan kondisi tertentu. Semakin tinggi harga suatu komoditi. Harga komoditi lain (HS) Berbagai komoditi dapat disubstitusi atau saling komplemen dalam produksi maupun dalam konsumsi. Jumlah produksi yang ditawarkan di pasar berasal dari produksi pada waktu tertentu dan persediaan (inventory) dari periode-periode sebelumnya. penurunan harga komoditi substitusi akan meningkatkan penawaran komoditi yang bersangkutan. Sebaliknya. 2.3. Jika harga komoditi substitusi meningkat.

6. maka produksi yang ditawarkan akan meningkat. maka produsen akan cenderung mengurangi penggunaan faktor produksi sehingga produksi akan menurun. Turunnya hasil/produksi secara otomatis menyebabkan turunnya penawaran. Jika harga faktor produksi meningkat. Dengan demikian. Harga Input /Faktor-faktor produksi (HF) Apabila harga faktor produksi turun. Jumlah Produsen (PRD) Jika jumlah produsen bertambah. Sebaliknya. Tujuan Perusahaan (TP) Dalam teori ekonomi. perusahaan diasumsikan bertujuan untuk mencapai laba yang sebesar-besarnya.produksi meningkat karena perubahan teknologi berarti penawaran pun akan meningkat. penawaran komoditi tersebut akan berkurang. maka produsen akan menambah penggunaan faktor produksi sehingga produksi akan meningkat. Akan tetapi. terdapat juga perusahaan yang tidak berorientasi kepada maksimisasi laba sehingga perusahaan tersebut dapat meningkatkan ataupun menurunkan produksinya tanpa terlalu memperhitungkan laba atau rugi yang akan diperoleh perusahaan. Pajak dan Subsidi (Tx) Adanya pajak seperti pajak penjualan. 7. pemberian subsidi akan mengurangi ongkos produksi dan . 5. pajak penghasilan akan mengakibatkan kenaikan pada ongkos produksi sehingga mengurangi insentif untuk berproduksi. 4.

2002). Hubungan ini sesuai dengan teori produksi.3) Dalam penelitian ini. CPO akan diekspor secara bebas yakni sejumlah M1 pada tingkat harga dunia sebesar P1 dengan permintaan CPO (3. Tx) (3. hal ini menjadi insentif bagi para produsen CPO domestik untuk menjual CPO ke pasar internasional. TP. Harga CPO dunia (P1) berada di atas harga ekuilibrium. minyak goreng sawit merupakan hasil olahan dari CPO.meningkatkan keuntungan sehingga penawaran komoditi tersebut akan meningkat. HF. T. PRD. Hubungan antara CPO dan minyak goreng dalam fungsi produksi dapat dirumuskan sebagai berikut : QMG = f (HMG.4) . sehingga apabila jumlah CPO meningkat maka produksi minyak goreng sawit juga akan meningkat. faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran suatu komoditi dapat digambarkan dengan fungsi berikut: QS = f (H.4 menganalisis tentang permintaan dan penawaran CPO yang dipengaruhi pajak ekspor. Dari uraian di atas. HS. UP) Dimana : QMG = Jumlah minyak goreng sawit yang dihasilkan (ton) HMG = Harga minyak goreng sawit (Rp/ton) QCPO = Jumlah CPO yang digunakan untuk memproduksi minyak goreng sawit (ton) UP = Upah tenaga kerja (Rp/HOK) Gambar 3. Jika tidak ada pajak ekspor. dimana fungsi produksi merupakan hubungan matematik antara input dan outputnya (Nicholson. QCPO.

Sedangkan dengan adanya pajak ekspor. sehingga supply minyak goreng sawit Indonesia akan meningkat. Pengenaan pajak ekspor CPO sebesar T akan menurunkan harga CPO dunia. Penerapan kebijakan perdagangan pajak ekspor CPO akan berakibat pada pengurangan volume ekspor CPO sehingga dapat meningkatkan pasokan CPO untuk industri minyak goreng sawit domestik. sehingga jumlah CPO yang diekspor turun menjadi M2.sejumlah D1 dan penawaran CPO sejumlah S1. Penawaran minyak goreng sawit Indonesia berasal dari produksi minyak goreng sawit dan impor minyak goreng sawit. dengan harga yang baru perusahaan-perusahaan CPO dalam negeri akan mengurangi ekspornya karena biaya yang harus dikeluarkan akan semakin besar dengan adanya pajak ekspor tersebut dan penerimaan pendapatan melalui ekspor menjadi kurang menguntungkan. Mereka merespon dengan menurunkan jumlah ekspor CPO dari S2 ke S1. . jumlah CPO yang diminta menjadi bertambah dari D1 ke D2.

1. . Sebaliknya bila harga turun maka permintaan akan komoditi tersebut akan naik. Harga komoditi yang bersangkutan (H) Keadaan harga suatu komoditi mempengaruhi jumlah permintaan terhadap komoditi tersebut.6 Teori Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia Permintaan adalah jumlah barang yang mampu dibeli oleh para pembeli pada tempat atau waktu tertentu dengan harga yang berlaku pada saat itu. Faktorfaktor yang mempengaruhi permintaan adalah: 1. Hubungan harga dengan permintaan adalah hubungan yang negatif dengan asumsi faktor lain yang mempengaruhi jumlah permintaan dianggap tetap.4 Efek Pajak Ekspor Terhadap Volume Ekspor 3.P S0 T P1 P2 E D0 0 Q D1 D2 M2 M1 Sumber : Salvatore. 1997 S2 S1 Gambar 3. Bila harga naik maka permintaan akan komoditi tersebut akan turun.

5. HS. Tingkat Pendapatan (Y) Perubahan tingkat pendapatan akan mempengaruhi banyaknya komoditi yang dikonsumsi. 3. Harga komoditi lain (HS) Terjadinya perubahan pada suatu komoditi akan berpengaruh pada permintaan komoditi lain. Jumlah Penduduk (POP) Semakin banyak jumlah penduduk makin besar pula jumlah komoditi yang dikonsumsi dan permintaan terhadap komoditi tersebut akan semakin meningkat. Permintaan langsung merupakan permintaan masyarakat akan minyak . Keadaan ini terjadi bila kedua komoditi tersebut mempunyai hubungan apakah saling menggantikan (substitusi) atau saling melengkapi (komplemen). maka tidak akan berpengaruh. tingkat pendidikan atau lainnya.5) Dalam penelitian ini permintaan terhadap minyak goreng sawit secara garis besar dapat dibedakan atas permintaan langsung dan permintaan tidak langsung. POP. Selera dan pilihan konsumen terhadap suatu komoditi bukan saja dipengaruhi oleh struktur umur konsumen. S. tetapi juga karena faktor adat dan kebiasaan setempat. Y) (3. 4. Selera (S) Selera merupakan variabel yang mempengaruhi besar kecilnya permintaan. Bila tidak berhubungan. Permintaan terhadap suatu barang (QD) dapat digambarkan dengan fungsi berikut: QD = f (H. peningkatan pendapatan akan meningkatkan konsumsi.2. Secara teoritis.

Sehingga persamaan permintaan minyak goreng sawit tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : QDT = f (HMG.goreng sawit yang langsung diolah sendiri untuk dikonsumsi. HMK. sedangkan permintaan tidak langsung merupakan permintaan masyarakat akan minyak goreng sawit dalam bentuk olahan atau bahan baku untuk industri sedang maupun industri rumah tangga.6) . POP) Dimana : QDT = Jumlah minyak goreng sawit yang diminta/dikonsumsi (Kg) HMG = Harga minyak goreng sawit (Rp/kg) HMK = Harga minyak goreng kelapa (Rp/kg) Y POP = Pendapatan masyarakat (Rp) = Jumlah penduduk (jiwa) (3. Secara umum permintaan minyak goreng sawit dipengaruhi oleh harga minyak goreng sawit itu sendiri. Y. harga komoditi substitusi atau komplementer (dalam hal ini minyak goreng kelapa). pendapatan dan jumlah penduduk.

5). Gambar 3. Peningkatan pendapatan ini berakibat pada pergeseran kurva permintaan minyak goreng sawit dari D0 menjadi D1. 1995). sedangkan faktor yang lainnya mempunyai pengaruh terhadap pergeseran kurva permintaan (Lipsey. 1995.5 Keseimbangan Minyak Goreng Sawit Akibatnya Adanya Peningkatan Permintaan Minyak Goreng Sawit Faktor-faktor tersebut mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap fungsi permintaan. Misalnya saja faktor pendapatan masyarakat. sehingga keseimbanganpun berubah menjadi E1. Dimana jumlah minyak goreng sawit menjadi lebih besar yaitu sebesar Qmg1 dengan tingkat harga yang lebih tinggi yaitu sebesar Pmg1 (Gambar 3. . Harga minyak goreng sawit mempunyai pengaruh terhadap pergerakan sepanjang kurva permintaan.Pmg S Pmg1 Pmg0 E1 E0 D1 D0 Qmg0 Qmg1 Qmg Sumber : Lipsey. maka adanya peningkatan pendapatan masyarakat akan mengakibatkan peningkatan terhadap permintaan minyak goreng sawit.

karena pertimbangan kemungkinan adanya kesalahan dalam perumusan model. Alasan lain memilih metode 2SLS adalah : 1. karena terjadi korelasi antara error term dengan peubah endogen yang ada disisi kanan persamaan. dan Full Information Maximum Likelihood (FIML). Metode ini dapat menghindari estimasi yang bias dan dapat menghasilkan penduga yang konsisten. Three-Stage Least Squares (3SLS). kesalahan spesifikasi satu persamaan tidak tertransfer ke persamaan-persamaan lain.7 Metode Two-Stage Least Square (2SLS) Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menduga model persamaan dengan kondisi overidentified. walaupun penduga yang diperoleh kurang efisien dibandingkan dengan hasil estimasi 3SLS. tetapi koefisien yang diperoleh tidak efisien karena terdapat lebih dari satu informasi. yaitu Two-Stage Least Squares (2SLS). Metode yang dipilih. (2) Dengan metode Instrumental Variables (IV) masalah tersebut dapat diatasi dan menghasilkan koefisien yang tidak bias. 3.3. dan (3) Jika . Dengan menggunakan 2SLS. 2. serta tidak terlalu sensitif terhadap kesalahan spesifikasi Pilihan terhadap metode 2SLS dibandingkan dengan metode lainnya disebabkan oleh : (1) Penerapan sistem persamaan simultan dengan metode Ordinary Least Square (OLS) akan menghasilkan koefisien yang bias. Metode ini cocok untuk mengestimasi model persamaan simultan yang berada dalam kondisi overidentified. Metode ini cocok digunakan pada jumlah sampel pengamatan yang sedikit.1. Limited Information Maximum Likelihood (LIML).

yakni elastisitas permintaan terhadap harga. elastisitas permintaan terhadap pendapatan dan elastisitas permintaan silang. Elastisitas permintaan terhadap harga merupakan usuran besarnya respon jumlah yang diminta dari statu komoditi tertentu terhadap perubahan harga. permintaannya bersifat elastis.8 Konsep Elastisitas Konsep elastisitas sangat berguna dan banyak sekali diaplikasikan dalam ilmu ekonomi dalam kaitannya dengan permintaan dan penawaran. kesalahan spesifikasi dari satu persamaan akan merembet ke persamaan lain.1. Elastisitas didefinisikan sebagai bilangan positif dan dapat bervariasi dari nol sampai tak terhingga. Metode ini bekerja dengan kurang baik jika koefisien determinasi (R2) pada tahap pertama estimasi terlalu kecil (mendekati nol). Kelemahan metode 2SLS adalah diantaranya kurang efisien dibandingkan estimator 3SLS. Ini berarti bahwa persentase perubahan kuantitas lebih besar daripada persentase perubahan harga yang menyebabkannya. sehingga koefisien yang diperoleh dari semua persamaan akan bias. Ini berarti bahwa persentase perubahan kuantitas lebih kecil daripada persentase perubahan harga yang menyebabkannya. maka permintaannya bersifat inelastis. Jika bilangan elastisitasnya lebih besar daripada satu. Pada permintaan dikenal tiga konsep elastisitas yang penting. . Jika bilangan elastisitas lebih kecil daripada satu.menggunakan metode 3SLS (Three-Stage Least Square). 3.

Untuk kebanyakan jenis barang. Pada teori penawaran dua konsep elastisitas yang terpenting adalah elastisitas penawaran terhadap harga dan elastisitas penawaran silang. Elastisitas permintaan silang merupakan ukuran besarnya respon jumlah yang diminta dari suatu komoditi tertentu terhadap perubahan harga yang menyebabkannya dari beberapa komoditi lainnya. Elastisitas penawaran dalam ilmu ekonomi merupakan konsep yang penting. Barangbarang demikian disebut barang normal.Elastisitas permintaan terhadap pendapatan merupakan ukuran besarnya respon jumlah yang diminta dari suatu komoditi tertentu terhadap perubahan pendapatan. Elastisitas penawaran terhadap harga merupakan ukuran besarnya respon jumlah yang ditawarkan dari suatu komoditi tertentu terhadap perubahan harga. Sementara elastisitas penawaran silang merupakan ukuran besarnya respon jumlah yang ditawarkan dari suatu komoditi tertentu terhadap perubahan harga yang menyebabkannya dari beberapa komoditi lainnya. Apabila elastisitas harga silang . Istilah tersebut biasa digunakan untuk mendefinisikan komoditi yang merupakan barang substitusi antara satu barang dengan barang lainnya (elastisitas silang yang positif) dan komoditi yang bersifat komplemen antara barang satu dengan barang lainnya (elastisitas silang yang negatif). Barang-barang yang konsumsinya menurun sebagai respon terhadap kenaikan pendapatan memiliki elastisitas pendapatan yang negatif dan barang yang demikian disebut sebagai barang inferior. kenaikan pendapatan berakibat pada kenaikan permintaan dan elastisitas terhadap pendapatan akan positif.

Komponen sektor domestik meliputi konsumsi swasta. Sektor luar negeri atau yang lebih dikenal dengan perdagangan internasional adalah perdagangan yang menganalisa arus barang. dan pembayaran-pembayaran antara sebuah negara dan negara-negara lain di dunia. investasi. . Salah satu kebijakan yang diberlakukan disini adalah dengan mengenakan pajak ekspor pada komoditi penting yang diekspor oleh suatu negara.antara dua jenis komoditi adalah positif maka kedua komoditi tersebut adalah merupakan joint product. hal ini dilakukan untuk menjamin ketersediaan bahan baku untuk sektor industri hilirnya. Dalam perdagangan tersebut ada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan untuk melindungi sektor industri domestiknya. jasa. dan pengeluaran pemerintah.2 Kerangka Pemikiran Operasional Secara umum perekonomian dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu perekonomian sektor domestik dan sektor luar negeri. 3. Biasanya komoditi yang dikenakan pajak ekspor adalah komoditi hasil-hasil pertanian termasuk didalamnya komoditi hasil-hasil perkebunan. Fluktuasi dari kedua sektor tersebut akan berpengaruh pada sektor ekonomi secara keseluruhan. Sedangkan sektor luar negeri (internasional) meliputi ekspor-impor yang secara statistik tertuang dalam neraca perdagangan dan selanjutnya berpengaruh dalam neraca pembayaran. dan jika elastisitasnya negatif maka kedua komoditi tersebut adalah competiting product.

Berdasarkan uraian di atas. Industri ini akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan baku. Model terdiri dari tiga persamaan identitas dan lima persamaan struktural. yang secara tidak langsung akan mempengaruhi keseimbangan pasar industri hilirnya. Hal ini akan berdampak pada industri turunan CPO yang didominasi oleh industri minyak goreng. akan dianalisis pengaruh kebijakan perdagangan yang dalam hal ini adalah pajak ekspor CPO terhadap keseimbangan pasar minyak goreng sawit dalam negeri. karena CPO merupakan komoditi ekspor andalan Indonesia. hal ini akan mengakibatkan terjadinya kelangkaan minyak goreng sawit di pasar domestik yang disertai dengan kenaikan harga minyak goreng. Lebih jauh lagi. Eksportir CPO akan melakukan ekspor secara besar-besaran apabila harga CPO internasional sedang meningkat secara tajam tanpa memikirkan pasokan dalam negeri. pemerintah mengeluarkan kebijakan perdagangan di sektor industri CPO yang berupa pajak ekspor guna membatasi para eksportir CPO untuk tidak mengekspor CPO dalam jumlah yang berlebihan dan lebih memikirkan pasokan dalam negeri. Persamaan identitas mencakup . Adanya pajak ekspor CPO akan mempengaruhi volume ekspor CPO.CPO atau Crude Palm Oil merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian Indonesia. sehingga produksinya akan menurun. yaitu industri minyak goreng sawit yang akan dicerminkan melalui harga minyak goreng sawit di pasar dalam negeri. Menyadari dampak tersebut. Analisis ini akan dilakukan dengan menggunakan model persamaan simultan.

Sedangkan persamaan struktural terdiri dari model faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor CPO Indonesia. produksi minyak goreng sawit Indonesia.penawaran ekspor CPO Indonesia. Dari hasil analisis. Penulis membuat alur pemikiran yang digambarkan dalam Gambar 3. penawaran minyak goreng sawit Indonesia dan keseimbangan penawaran dan permintaan minyak goreng sawit Indonesia. permintaan minyak goreng sawit Indonesia dan harga minyak goreng sawit Indonesia. diharapkan akan diperoleh rekomendasi kebijakan perdagangan yang efektif untuk industri CPO dan industri minyak goreng sawit dalam negeri. . permintaan impor minyak goreng sawit Indonesia.6 untuk mempermudah pelaksanaan penelitian.

6 Diagram Alur Kerangka Pemikiran .12 Saran dan Rekomendasi Kebijakan Perdagangan Gambar 3.Ekonomi Terbuka Ekspor CPO Perdagangan Internasional Impor MGS Kebijakan Perdagangan (Pajak Ekspor CPO) Volume Ekspor CPO Produksi MGS Domestik Permintaan MGS Penawaran MGS Simulasi Kebijakan Harga MGS Model Persamaan Simultan SAS 6.

harga ekspor CPO. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data tentang antara lain : data ekspor CPO. METODOLOGI PENELITIAN 4. harga minyak goreng kelapa. permintaan minyak goreng sawit dalam negeri.2 Metode Pengolahan dan Analisis Data Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif dan metode kuantitatif.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang menggunakan data statistik tahunan dari tahun 1990-2006. Untuk gambaran perkembangan CPO di Indonesia dan pembahasan hasil pengolahan data dilakukan analisis secara deskriptif. upah tenaga kerja di sektor industri. Badan Pusat Statistik. jumlah penduduk Indonesia. harga dan produksi minyak goreng sawit dalam negeri. nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. harga CPO domestik. pajak ekspor CPO. Departemen Perdagangan. Sumber data berasal dari Laporan Tahunan Bank Indonesia. pendapatan nasional Indonesia. 4.IV. impor minyak goreng sawit serta harga impor minyak goreng sawit. luas areal kelapa sawit. produksi CPO. karena variabel-variabel yang digunakan untuk menganalisis dampak kebijakan perdagangan disektor industri . Departemen Pertanian dan Jurnal-jurnal Ekonomi serta instansi-instansi lain yang terkait dengan penelitian yang dilakukan. Departemen Perindustrian. Metode kuantitatif dengan pendekatan bentuk persamaan simultan.

4. 2. Model yang diperoleh akan dievaluasi berdasarkan teori-teori ekonomi yang ada. 1977). Suatu model dikatakan baik jika model tersebut memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut : 1.12.3 Spesifikasi Model Simultan Model merupakan suatu penjelas dari fenomena aktual sebagai suatu sistem atau proses. Kriteria Statistik Kriteria ini menyangkut uji statistik untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan dari variabel-variabel eksogen terhadap variabel . Unsur stokastik ini biasanya diabaikan dalam model ekonomi lainnya yang pada umumnya mengasumsikan adanya hubungan-hubungan secara deterministik (Koutsoyiannis. Salah satu model yang sering digunakan dalam menganalisis masalah ekonomi adalah model ekonometrika. Masing-masing persamaan dalam penelitian ini diduga dengan metode Two-Stage Least Square (2SLS) dengan menggunakan program SAS 6. Kriteria Ekonomi Kriteria ini ditentukan oleh dasar-dasar teori ekonomi dan berhubungan dengan tanda dan besar parameter dari hubungan ekonomi. Model ekonometrika adalah suatu model statistika yang menghubungkan peubah-peubah ekonomi dari suatu fenomena yang mencakup unsur stokastik.CPO terhadap keseimbangan pasar minyak goreng sawit dalam negeri tersebut saling berpengaruh.

Cov (ei. artinya nilai yang diharapkan bersyarat dari ei tergantung pada Xi tertentu adalah nol. sehingga hubungan sebab akibat antara variabel terikat dan variabel bebas merupakan hubungan satu arah. Cov (ei. kemampuan variabel eksogen dalam menjelaskan variasi atau keragaman variabel endogen. pendekatan ekonometrika dibedakan atas persamaan tunggal dan persamaan simultan. artinya gangguan ei dan ej tidak berkorelasi. 3. sehingga model ini tidak mungkin . Persamaan tunggal merupakan persamaan dimana variabel terikat (dependent variable). artinya gangguan ei dan varians yang menjelaskan X tidak berkorelasi. Kriteria Ekonometrik Kriteria ekonometrik didasari oleh asumsi-asumsi dari model regresi berganda sebagai berikut : E (ei) = 0 untuk setiap i.X2i) = Cov (ei. Var (ei) = δ2 untuk setiap i (asumsi homoskedastisitas). dinyatakan sebagai sebuah fungsi linier dari satu atau lebih variabel bebas (independent variable). artinya varians ei untuk setiap i (yaitu varians bersyarat untuk ei) adalah suatu angka konstan positif yang sama dengan δ2.endogen pada masing-masing persamaan.X3i) = 0.ej) = 0 untuk setiap i ≠ j (asumsi non autokorelasi). Sementara itu. Sedangkan persamaan simultan adalah suatu persamaan yang membentuk sistem persamaan yang menggambarkan ketergantungan diantara berbagai variabel dalam persamaan tersebut.

dan keseimbangan penawaran dan permintaan minyak goreng sawit di Indonesia. nilai tukar rupiah. pajak ekspor CPO Indonesia. Agar tujuan penelitian sesuai dengan yang ditentukan. maka model dispesifikasi dalam bentuk persamaan simultan yang yang terdiri dari lima persamaan struktural dan tiga persamaan identitas. harga minyak goreng sawit Indonesia. permintaan minyak goreng sawit Indonesia. produksi CPO Indonesia dan ekspor CPO Indonesia tahun sebelumnya. penawaran minyak goreng sawit Indonesia. Dalam penelitian ini. 4. sehingga persamaannya dapat ditulis : XCPO = QCPO – CCPO (4. faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor CPO Indonesia. sehingga penawaran ekspor CPO Indonesia dapat dirumuskan sebagai berikut : XCPOt = a0 + a1 HXCPOt + a2 XRRt + a3 PEt + a4 QCPOt + a5 POP + a6 XCPOt-1 + U1 (4.3. produksi minyak goreng sawit Indonesia. impor minyak goreng sawit Indonesia.1 Penawaran Ekspor Minyak Sawit (CPO) Indonesia Ekspor minyak sawit merupakan kelebihan penawaran minyak sawit domestik atau produksi minyak sawit yang tidak dikonsumsi oleh konsumen Indonesia.2) . perumusan model mencakup aspek penawaran ekspor CPO Indonesia.1) Faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi ekspor CPO Indonesia antara lain adalah harga riil ekspor CPO Indonesia.menaksir hanya pada satu persamaan dengan mengabaikan informasi yang ada pada persamaan-persamaan lainnya.

harga riil impor minyak goreng sawit.2 Permintaan Impor Minyak Goreng Sawit Indonesia Permintaan impor minyak goreng sawit Indonesia merupakan fungsi dari nilai tukar rupiah.Dimana : XCPOt HXCPOt XRRt = Ekspor minyak sawit (CPO) Indonesia pada tahun ke-t (ton) = Harga riil ekspor CPO Indonesia pada tahun ke-t (US$/ton) = Nilai tukar riil Rupiah terhadap Dollar Amerika pada tahun ke-t (Rp/US$) PEt QCPOt POP XCPOt-1 a0 ai U1 = Pajak ekspor CPO Indonesia pada tahun ke-t (%/tahun) = Produksi CPO domestik pada tahun ke-t (ton) = Jumlah penduduk Indonesia pada tahun ke-t (jiwa) = Lag ekspor minyak sawit (CPO) Indonesia (ton) = Intersep = Parameter yang diduga (i = 1. pendapatan nasional dan impor minyak goreng sawit tahun sebelumnya.3. permintaan minyak goreng domestik.2. a3. Persamaan permintaan impor minyak goreng sawit Indonesia dirumuskan sebagai berikut : . 0 < a6 < 1 4.3…) = Kesalahan Pengganggu (error term) Tanda parameter dugaan yang diharapkan : a1. a4 > 0 . a5< 0 . a2.

3…) = Kesalahan Pengganggu (error term) Tanda parameter dugaan yang diharapkan : b1. b3. dummy krisis ekonomi dan produksi minyak goreng sawit tahun sebelumnya. luas areal kelapa sawit. b2< 0 . produksi CPO domestik.IMMGt = b0 + b1 XRRt + b2 PIMMGt + b3 QDMGt+ b4 GDPt + b5 IMMGt-1 + U2 Dimana : IMMGt = Jumlah impor minyak goreng sawit Indonesia pada tahun ke-t (ton) (4. upah riil tenaga kerja di sektor industri.3 Produksi Minyak Goreng Sawit Indonesia Jumlah produksi minyak goreng sawit Indonesia ditentukan oleh harga riil minyak goreng sawit domestik. Secara matematis persamaan produksi minyak goreng sawit Indonesia dapat dirumuskan sebagai berikut : . b4 > 0 .2.3. CIF Rotterdam) GDP t = Pendapatan nasional Indonesia pada tahun ke-t (Rupiah) IMMGt-1 = Lag impor minyak goreng sawit Indonesia (ton) b0 bi U2 = Intersep = Parameter yang diduga (i = 1.3) PIMMGt = Harga riil impor minyak goreng sawit Indonesia pada tahun ke-t (US$/ton. 0 < b5 < 1 4.

c4.4 Penawaran Minyak Goreng Sawit Indonesia Penawaran minyak goreng sawit domestik merupakan penjumlahan antara jumlah impor minyak goreng sawit dengan produksi minyak goreng sawit Indonesia.c2. c5 < 0 . c3 > 0 . sehingga persamaannya dapat ditulis : QSMG = QMG + QIMMG Dimana : QSMG = Penawaran minyak goreng sawit Indonesia (4. dan D1 = 1 untuk tahun 1997-2006) LA UPR QMGt-1 c0 ci U3 = Luas areal kelapa sawit pada tahun ke-t (Ha) = Upah riil tenaga kerja di sektor industri pada tahun ke-t (Rp/HOK) = Lag produksi minyak goreng sawit Indonesia (ton) = Intersep = Parameter yang diduga (i = 1.3…) = Kesalahan Pengganggu (error term) Tanda parameter dugaan yang diharapkan : c1.5) .3.4) HMGDRt = Harga riil minyak goreng sawit domestik pada tahun ke-t (Rp/kg) DK = Dummy krisis ekonomi Indonesia (D1 = 0 untuk tahun 1990-1996. 0 < c6 < 1 4.QMGt = c0 + c1 HMGDRt + c2 LAt + c3 QCPOt + c4 DKt + c5 UPRt + c6 QMGt-1 + U3 Dimana : QMGt = Produksi minyak goreng sawit Indonesia (ton) (4.2.

0 < d4 < 1 .6) QDMGt-1 = Lag permintaan minyak goreng sawit Indonesia (ton) d0 di U4 = Intersep = Parameter yang diduga (i = 1.3. pendapatan per kapita dan jumlah permintaan minyak goreng sawit tahun sebelumnya. d1 < 0 . harga riil minyak goreng kelapa domestik sebagai substitusi minyak goreng sawit. d3 > 0 .4.5 Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia Faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi permintaan minyak goreng sawit Indonesia adalah harga riil minyak goreng sawit domestik. sehingga persamaan permintaan minyak goreng sawit dapat dirumuskan sebagai berikut : QDMGt = d0 + d1 HMGDRt + d2 HMKDt + d3 ICPKt + d4 QDMGt-1 + U4 Dimana : QDMGt = Jumlah permintaan minyak goreng sawit Indonesia pada tahun ke-t (ton) HMKDt = Harga riil minyak goreng kelapa sebagai substitusi minyak goreng sawit pada tahun ke-t (Rp/kg) ICPKt = Pendapatan per kapita Indonesia pada tahun ke-t (Rp/kap) (4.3…) = Kesalahan Pengganggu (error term) Tanda parameter dugaan yang diharapkan : d2.2.

sehingga harga minyak goreng sawit domestik dapat dirumuskan sebagai berikut : HMGDRt = e0 + e1 QSMGt + e2 HCPOt + e3 HMKD + e4 DK + e5 HMGDRt-1 + U5 Dimana : HMGDRt = Harga riil minyak goreng sawit Indonesia pada tahun ke-t (Rp/kg) QSMGt HCPO = Penawaran minyak goreng sawit Indonesia tahun ke-t (ton) = Harga riil CPO domestik tahun ke-t (Rp/kg ) (4. e4 > 0 . harga riil CPO domestik.6 Harga Minyak Goreng Sawit Indonesia Faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi harga minyak goreng sawit domestik antara lain adalah penawaran minyak goreng sawit Indonesia. harga riil minyak goreng kelapa. 0 < e5< 1 4.2.3.7 Keseimbangan Penawaran dan Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia Kondisi keseimbangan penawaran dan permintaan minyak goreng sawit Indonesia dicapai apabila jumlah minyak goreng sawit yang ditawarkan sama . e3. dummy krisis ekonomi dan harga minyak goreng sawit Indonesia tahun sebelumnya.7) HMGDRt-1 = Lag harga minyak goreng sawit Indonesia (Rp/kg) e0 ei U5 = Intersep = Parameter yang diduga (i = 1.3…) = Kesalahan Pengganggu (error term) Tanda parameter dugaan yang diharapkan : e2.3. e1 < 0 .4.

4. pajak ekspor CPO Indonesia dan jumlah penduduk Indonesia berpengaruh negatif. sedangkan nilai tukar riil Rupiah terhadap Dollar Amerika. Permintaan Impor Minyak Goreng Sawit Indonesia Diduga bahwa nilai tukar riil Rupiah terhadap Dollar Amerika.dengan jumlah minyak goreng sawit yang diminta. Hipotesis Mengacu pada perumusan masalah dan tujuan penelitian.8) 4. 3. Penawaran Ekspor Minyak Sawit (CPO) Indonesia Diduga bahwa harga riil ekspor CPO Indonesia dan produksi CPO domestik berpengaruh positif. sedangkan dummy krisis ekonomi Indonesia dan upah riil tenaga kerja di sektor industri berpengaruh negatif. . 2. luas areal kelapa sawit dan produksi CPO domestik berpengaruh positif. maka dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut : 1. sehingga persamaan identitas keseimbangan penawaran dan permintaan minyak goreng sawit dapat ditulis sebagai berikut : QSMGt = QDMGt (4. sedangkan harga riil minyak goreng sawit Indonesia berpengaruh negatif. permintaan minyak goreng sawit domestik dan pendapatan nasional Indonesia berpengaruh positif. Produksi Minyak Goreng Sawit Indonesia Diduga bahwa harga riil minyak goreng sawit domestik.

harga riil minyak goreng kelapa sebagai substitusi dari minyak goreng sawit dan dummy krisis ekonomi Indonesia berpengaruh positif. . Persamaan Underidentified Suatu persamaan dikatakan underidentified jika bentuk statistiknya tidak tunggal. sedangkan harga riil minyak goreng sawit Indonesia berpengaruh negatif. Harga Minyak Goreng Sawit Indonesia Diduga bahwa harga riil CPO domestik. 1978). 4. terdapat dua kemungkinan situasi dalam suatu identifikasi yaitu: 1.5 Identifikasi Model Yang dimaksud dengan masalah identifikasi adalah apakah taksiran angka dari parameter persamaan struktural dapat diperoleh dari koefisien bentuk tereduksi yang ditaksir (Gujarati. Suatu sistem dikatakan underidentified ketika satu atau lebih persamaan-persamaan yang ada dalam sistem tersebut underidentified sehingga tidak mungkin dilakukan pendugaan dari seluruh parameter yang ada dengan teknik ekonometrik manapun. sedangkan penawaran minyak goreng sawit Indonesia berpengaruh negatif. Dalam teori ekonometrika.4. Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia Diduga bahwa harga riil minyak goreng kelapa sebagai substitusi dari minyak goreng sawit dan pendapatan per kapita berpengaruh positif. 5.

Persamaan Identified Jika suatu persamaan memiliki bentuk statistik tunggal. maka persamaan tersebut dinyatakan teridentifikasi secara berlebih (overidentified). terdapat dua tahap yaitu: 1. sedangkan jika persamaan overidentified. maka persamaan tersebut tepat teridentifikasi (exactlyidentified). Langkah-langkah dalam order condition : 1) Bila (K-M) > (G-1). Dalam tahap identifikasi. Order Condition Order Condition adalah suatu kondisi yang perlu dari identifikasi-identifikasi yang bertujuan untuk mengetahui apakah persamaan-persamaan yang ada dapat diidentifikasi. maka salah satu metode yang dapat digunakan untuk pendugaan adalah Two-stages least square (2SLS). . maka metode yang sesuai untuk pendugaan adalah Indirect Least square (ILS) atau metode kuadat terkecil tak langsung. maka persamaan tersebut dapat diidentifikasi (Identified). yaitu peubah endogen dalam model. maka persamaan tersebut tidak teridentifikasi. yaitu variabel endogen dan eksogen. 3) Bila (K-M) < (G-1). dan persamaan tersebut bisa exactlyidentified. G = Total persamaan dalam model. M = Jumlah variabel eksogen yang terdapat dalam satu persamaan tertentu dalam model. 2) Bila (K-M) = (G-1).2. Dimana : K = Total variabel dalam model.

2. The Rank Condition of Identifiability The Rank Condition of Identifiability digunakan untuk mengidentifikasi persamaan yang setelah dilakukan uji Order condition (kondisi ordo) menghasilkan kesimpulan dapat diidentifikasi. Tabel 4. Model persamaan simultan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 5 persamaan struktural dan 3 persamaan identitas dengan total 24 variabel di dalam model yang terdiri dari 6 variabel endogen dan 18 variabel eksogen. . Berdasarkan rumus identifikasi model di atas.4 4.7 K 24 24 24 24 24 M 6 5 6 4 5 G 6 6 6 6 6 K-M 18 19 18 20 19 G-1 5 5 5 5 5 Identified Overidentified Overidentified Overidentified Overidentified Overidentified Hasil dari pengujian order condition menunjukkan bahwa kelima persamaan struktural dalam model adalah overidentified. yang selanjutnya dilihat apakah persamaan tersebut exactlyidentified (identifikasi tepat) atau overidentified (terlalu diidentifikasikan).2 4.3 4. setiap persamaan yang terdapat dalam penelitian ini termasuk dalam kategori overidentified.1 Pengujian Order Condition Persamaan 4.6 4. sehingga parameterparameter pada persamaan simultan diatas dapat diduga dengan menggunakan metode Two-Stage Least Square (2SLS).1. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.

Model autoregresif adalah suatu model jika dalam model regresi memasukkan satu atau lebih nilai masa lalu (lagged) dari variabel tidak bebas . Untuk alasan tersebut diatas. Ada tiga alasan utama terjadinya lag. 2. Alasan Psikologi Alasan ini disebabkan oleh kekuatan kebiasaan (kelembaman). Y beraksi terhadap X dengan suatu selang waktu. Alasan yang bersifat teknologi Jika harga modal dibandingkan dengan tenaga kerja relatif menurun yang menyebabkan penggantian untuk tenaga kerja secara ilmu ekonomi dimungkinkan. Hal ini tercermin dalam metodologi jangka pendek dan jangka panjang dalam ilmu ekonomi. penambahan modal tersebut memerlukan waktu (persiapan). Contohnya. Sangat sering. ketergantungan suatu variabel Y atas variabel X jarang bersifat seketika (Firdaus. mungkin karena proses perubahan melibatkan suatu kehilangan kegunaan (disutulity) yang segera. orang tidak mengubah kebiasaan konsumsi mereka dengan segera mengikuti penurunan harga atau peningkatan pendapatan. Alasan kelembagaan Misalkan kewajiban yang bersifat kontrak mungkin mencegah perusahaan untuk beralih dari satu sumber tenaga kerja atau bahan mentah yang lain.6 Model Lag yang Didistribusikan Dalam ilmu ekonomi. 2004). lag menempati peranan pokok dalam ilmu ekonomi. yaitu : 1. 3. Selang waktu itu disebut lag. Tentu saja.4.

Pengujian hipotesis secara statistik bertujuan untuk mengetahui nyata tidaknya pengaruh variabel yang dipilih terhadap variabelvariabel yang diteliti.. Uji simultan (Uji-F) digunakan untuk menguji secara bersama-sama apakah peubah-peubah eksogen dapat menjelaskan variasi peubah endogen. Koefisien determinasi (R2) adjusted dipergunakan untuk mengukur keragaman endogenous variable yang dapat diterangkan oleh predetermined variable. model persamaan linier dapat dituliskan sebagai berikut : Υt = β 1 + β 2 Υt −1 + β 3 Χ t + Vt atau Υt = β 1 + (1 − λ )Υt −1 + β 3 Χ t + Vt (4. Dengan asumsi dasar bahwa variabel yang menjelaskan dalam model regresi bersifat nonstokastik.diantara variabel yang menjelaskan.8) 4.7. = ai = 0 (tidak ada pengaruh nyata variabel-variabel dalam persamaan) .7 Pengujian Model dan Hipotesis 4. maka semakin layak suatu regresi untuk dijadikan sebagai alat peramal.1 Uji Kesesuaian Model Model yang dianalisis membutuhkan pengujian terhadap hipotesishipotesis yang dilakukan. Mekanisme yang digunakan untuk mengkaji hipotesis tersebut adalah sebagai berikut : H0 = a1 = a2 = a3 = a4 = . Semakin besar nilai R2 adjusted..

Mekanisme yang digunakan dalam menguji hipotesis masing-masing peubah penjelas adalah sebagai berikut : Hipotesis : . maka terima H0 yang berarti secara bersama-sama variabel yang digunakan tidak dapat menjelaskan secara nyata keragaman dari variabel endogen.7. .2 Pengujian Hipotesis Untuk melakukan pengujian secara statistik masing-masing peubah eksogen yang dipilih berpengaruh nyata atau tidak berpengaruh nyata terhadap peubah endogen. ai ≠ 0 (paling sedikit ada satu variabel eksogen yang berpengaruh nyata terhadap variabel endogen) Statistik uji yang digunakan dalam uji F : Fhitung = SSR /(k − 1) SSE /(n − k ) (4. 4. Jika Fhitung > Ftabel.9) Dimana : SSR = Jumlah kuadarat regresi SSE = Jumlah kuadrat sisa k n = jumlah parameter = jumlah pengamatan (sampel) Kemudian dilakukan pengujian dimana Fhitung dari hasil analisis dibandingkan dengan Ftabel. a4≠ 0 . Sedangkan jika Fhitung < Ftabel. a3 ≠ 0.H1 = a1 ≠ 0. digunakan uji statistik t. a2 ≠ 0... maka tolak H0 yang berarti minimal ada satu parameter dugaan yang tidak nol dan berpengaruh nyata terhadap keragaman variabel endogen.

Persamaan dalam penelitian ini menggunakan data time series yang mengandung lagged endogenous variabel. 4. dikarenakan di dalam persamaan yang diamati terdapat lagged endogenous variable. Namun. Statistik uji yang digunakan dalam uji t yaitu : thitung = bi / S (bi) Dimana : bi = koefisien parameter dugaan (4. maka uji d menjadi tidak valid. Uji d (Durbin Watson Statistic) sering digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi. maka suatu model akan semakin baik untuk dijadikan model pendugaan persamaan simultan.3 Uji Autokorelasi Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (time series) atau cross section.H0 = Perubahan suatu variabel eksogen secara individu tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan variabel endogen.7.10) S(bi) = standar deviasi parameter dugaan Kriteria uji : thitung < ttabel : Terima H0 thitung > ttabel : Tolak H0 Semakin banyak H0 yang ditolak. nilai d yang dihitung akan cenderung mendekati nilai 2 sehingga statistik d dari Durbin Watson sudah tidak valid lagi digunakan. Selain itu. H1 = Perubahan suatu variabel eksogen secara individu berpengaruh nyata terhadap perubahan variabel endogen. .

Oleh karena itu, digunakan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test, sebagai alternatif uji autokorelasi jika uji statistik d tidak berlaku pada suatu persamaan. Pengujian autokorelasi dengan Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test adalah sebagai berikut : Mt = α1 + α1Xt-1 + ...+ αkXtk + ρμt-1 Hipotesis : H0 : ρ = 0 H1 : ρ ≠ 0 Dengan kriteria uji sebagai berikut : Jika nilai (n-1)R2 > X21 (α), maka tolak H0 artinya bahwa persamaan tersebut mengandung masalah autokorelasi. (4.11)

4.7.4 Uji Heteroskedastisitas Salah satu asumsi yang penting dari pendugaan metode kuadrat terkecil adalah varian residual bersifat homoskedastisitas atau bersifat konstan. Heteroskedastisitas adalah suatu keadaan dimana asumsi di atas tidak tercapai. Dampak adanya heteroskedastisitas adalah tidak efisiennya proses estimasi, sementara hasil estimasinya sendiri tetap konsisten dan tidak bias. Dengan adanya masalah heteroskedastisitas, akan mengakibatkan hasil uji t dan F dapat menjadi tidak berguna, selain itu pengujian hipotesis menjadi tidak valid. Oleh karena itu dilakukan uji heteroskedastisitas dengan White Heteroskedasticity Test. Langkahlangkah pengujian adalah sebagai berikut : Yt = β1 + β2Xt1 + β3Xt2 + e Et2 = α1 + α 2Xt1 + α3Xt2 + α4Xt12 + α5Xt12 + α6Xt1Xt2 (4.12) (4.13)

Hipotesis : H0 : α 2 = α3 = α4 = α5 = α6 = 0 H1 : minimal salah satu α1 ≠ 0 Dengan kriteria uji sebagai berikut : Jika nilai nR2 > X2db (α), maka tolak H0 artinya bahwa persamaan tersebut mengandung masalah heteroskedastisitas.

4.7.5 Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk memeriksa apakah error term mendekati distribusi normal. Pada software SAS 6.12, uji normalitas diaplikasikan dengan melakukan deskriptif statistic test. Jika diperoleh nilai probabilitas Normality Test lebih besar dari taraf nyata yang digunakan, maka model simultan tidak mempunyai masalah normalitas atau error term terdistribusi normal. Hipotesis : H0 : error term terdistribusi normal H1 : error term tidak terdistribusi normal Penerimaan H0 menandakan error term terdistribusi normal. Jika nilai probabilitas Jarque-Bera lebih besar dari taraf nyata yang digunakan, maka persamaan tidak mengalami masalah normalitas.

4.7.6 Pengukuran Elastisitas Mengukur dan menjelaskan hingga seberapa jauh reaksi perubahan kuantitas terhadap perubahan harga dan variabel-variabel lainnya, digunakan

konsep yang disebut elastisitas (Lipsey, 1995). Secara umum nilai elastisitas dalam jangka pendek (short run) dapat dirumuskan sebagai berikut : Esr (Yt Xt) = a * Xt/Yt Dimana : Esr (Yt Xt) = elastisitas jangka pendek peubah endogen terhadap peubah-peubah eksogen a Xt Yt = koefisien dugaan dari peubah eksogen = rataan peubah-peubah eksogen = rataan peubah-peubah endogen (4.14)

Kriteria uji sebagai berikut : 1. Jika nilai elastisitas lebih dari satu (E>1), dikatakan elastis (responsive) karena perubahan satu persen variabel eksogen mengakibatkan perubahan variabel endogen lebih dari satu persen. 2. Jika nilai elastisitas antara nol dan satu (0<E<1), dikatakan inelastis (non responsive), karena perubahan satu persen variabel eksogen akan

mengakibatkan perubahan variabel endogen kurang dari satu persen. 3. Jika nilai elastisitas sama dengan nol (E=0), dikatakan inelastis sempurna. 4. Jika nilai elastisitas tak hingga (E= ~), dikatakan elastis sempurna. 5. Jika nilai elastisitas sama dengan satu (E=1), maka dikatakan unitary elastis.

4.7.7 Validasi Model Validasi model dilakukan untuk mengetahui apakah model cukup valid untuk membuat suatu simulasi kebijakan sehingga dapat menganalisis sejauh

5 Dimana : RMSE RMSPE U = Akar tengah kuadarat terkecil = Akar tengah kuadarat persen galaat = Koefisien ketidaksamaan Theil = Nilai dugaan model = Nilai aktual = Jumlah pengamatan dalam simulasi Yt s Yt a T Statistik RMSPE berguna untuk mengukur seberapa jauh nilai-nilai peubah endogen hasil pendugaan menyimpang dari alur-alur nilai-nilai aktualnya .5 Koefisien Ketidaksamaan Theil (U) = ⎡1 T s 2⎤ ⎢ T ∑ Yt ⎥ t =1 ⎣ ⎦ ( ) 0. Root Mean Square Percent Error (RMSPE). Kriteria-kriteria tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : ⎡ ⎢ RMSE = ⎢ ⎢ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ 1 T ⎥ T ∑ (Yt s − Yt a ) 2 ⎥ ⎥ t =1 ⎦ 0. dan Theil’s Inequality Cofficient (U). Simulasi kebijakan yang digunakan dalam penelitian ini berupa simulasi perubahan pajak ekspor CPO Indonesia.5 ⎡ ⎢ RMSPE = ⎢ ⎢ ⎢ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ 1 2⎥ s a T ⎛Y −Y ⎞ T ∑ ⎜ t a t × 100 ⎟ ⎥ ⎜ Y ⎟ ⎥ t =1 ⎝ t ⎠ ⎦ RMSE 0. Kriteria statistik yang sering digunakan untuk validasi penggunaan model ekonometrika adalah Root Mean Square Error (RMSE).5 T 2⎤ ⎡ + ⎢ 1 ∑ Yt a ⎥ ⎣ T t =1 ⎦ ( ) 0.mana model tersebut dapat merefleksikan dengan baik atau mewakili dunia nyata.

maka pendugaan model semakin baik.8 Definisi Operasional 1. Semakin kecil nilai RMSE. 4. Nilai U berkisar antara 0 dan 1. Pada dasarnya semakin kecil nilai RMSPE dan U-Theil’s dan makin besar nilai R2. Nilai statistik U bermanfaat untuk mengetahui kemampuan model untuk analisis simulasi historis maupun peramalan. Jika U = 0. Skenario dalam analisis dampak kebijakan perdagangan disektor industri CPO terhadap keseimbangan pasar minyak goreng sawit dalam negeri adalah dengan menggunakan kebijakan peningkatan pajak ekspor sebesar 10 persen. RMSPE.8 Simulasi Model Kebijakan Tujuan simulasi kebijakan adalah untuk mengetahui dampak kebijakan yang akan dilakukan terhadap peubah-peubah endogen. Ekspor minyak sawit (CPO) Indonesia merupakan jumlah total ekspor minyak sawit Indonesia di pasar internasional dan dinyatakan dalam satuan ton. 3.dalam ukuran relatif (persen). maka pendugaan model sempurna. Minyak sawit (CPO) merupakan hasil olahan dari buah segar kelapa sawit yang dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit. 4. dan U maka semakin baik pendugaan model. 2.7. dilihat dari nilai koefisien determinasinya (R2). Pajak atau pungutan ekspor merupakan pajak yang dikenakan setiap tahun terhadap produk ekspor tertentu. Untuk melihat keeratan arah (slope) antara aktual dengan hasil yang disimulasi. Produk-produk ekspor yang dikenakan .

Penawaran minyak goreng sawit Indonesia merupakan jumlah/total dari impor minyak goreng sawit dan produksi minyak goreng sawit Indonesia yang dinyatakan dalam ton. 5. 7. Harga riil CPO domestik merupakan harga CPO domestik setelah dideflasi (1993=100) dengan Indeks Harga Konsumen Indonesia dan dinyatakan dalam satuan Rupiah per kilogram. 4. 9. Pajak ekspor dinyatakan dalam persen per tahun. 8. kelapa dan lainlain. 6. . dinyatakan dalam satuan Rupiah per Dollar Amerika. Indeks harga perdagangan besar adalah indeks yang menggambarkan besarnya perubahan harga pada tingkat harga perdagangan besar/harga grosir dari komoditas-komoditas yang diperdagangkan di suatu negara.kebanyakan adalah produk perkebunan. Impor minyak goreng sawit Indonesia merupakan jumlah total impor minyak sawit yang dipasarkan di pasar dalam negeri dan dinyatakan dalam satuan ton. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika merupakan perbandingan dari perubahan mata uang Amerika terhadap mata uang Indonesia dan telah dideflasikan (1993=100) dengan IHK Indonesia. Permintaan minyak goreng sawit Indonesia merupakan agregasi dari jumlah konsumsi minyak goreng sawit secara langsung dan konsumsi minyak goreng sawit untuk industri pengguna minyak goreng sawit. Indeks harga konsumen adalah angka indeks yang menggambarkan besarnya perubahan harga pada tingkat konsumen dari komoditi yang dikonsumsi di suatu negara. 10. seperti kelapa sawit.

CIF Rotterdam dan dinyatakan dalam satuan Dollar Amerika per ton. 12. 13. Upah riil tenaga kerja di sektor industri adalah upah tenaga kerja di sektor industri yang dideflasi (1993=100) dengan Indeks Harga Konsumen Indonesia dan dinyatakan dalam satuan Rupiah per HOK. 16. Harga riil ekspor minyak sawit merupakan harga ekspor minyak sawit Indonesia yang dideflasikan (1993=100) dengan Indeks Harga Perdagangan Besar dan dinyatakan dalam satuan Dollar Amerika per ton. Harga riil minyak goreng kelapa merupakan harga minyak goreng kelapa domestik setelah dideflasi (1993=100) dengan Indeks Harga Konsumen dan dinyatakan dalam satuan Rupiah per kilogram. .11. Harga riil minyak goreng sawit merupakan harga minyak goreng sawit domestik setelah dideflasi (1993=100) dengan Indeks Harga Konsumen dan dinyatakan dalam satuan Rupiah per kilogram. Harga riil impor minyak goreng merupakan harga impor minyak goreng setelah dideflasi (2000=100) dengan Price Index. 15.

pendugaan dan pengujian model ekonomi dengan kriteria statistik menunjukkan hasil yang memuaskan karena sebagian besar parameter-parameter dari setiap persamaan memberikan tanda yang sesuai dengan teori dan hipotesis.1. 5. begitu juga dengan uji normalitas pada setiap persamaan. Masalah autokorelasi dan heteroskedastisitas tidak ditemukan dalam persamaan. 2000). permintaan impor dan produksi minyak goreng sawit Indonesia maupun permintaan dan harga minyak goreng sawit Indonesia.1 Estimasi Parameter Model Berdasarkan hasil estimasi model secara keseluruhan. Nilai Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test yang lebih besar daripada taraf nyata yang digunakan menunjukkan tidak terdapat masalah autokorelasi dalam persamaan (Gujarati. Masalah heteroskedastisitas juga tidak ditemukan dalam persamaan karena nilai White Heteroskedasticity Test lebih besar daripada taraf nyata yang digunakan.1 Penawaran Ekspor Minyak Sawit (CPO) Indonesia Nilai koefisien determinasi pada persamaan penawaran ekspor minyak sawit (CPO) Indonesia bernilai 0. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada pembahasan di bawah ini. Masalah autokorelasi dapat dilihat pada uji autokorelasi yang menyajikan nilai Breusch- Godfrey Serial Correlation LM Test.9940 artinya persamaan penawaran ekspor CPO Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel-variabel yang terdapat dalam model .V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5. baik dalam penawaran ekspor CPO Indonesia.

tetapi yang . Variabel nilai tukar riil berpengaruh nyata pada penawaran ekspor CPO Indonesia. Tanda parameter estimasi yang diperoleh tidak sesuai dengan parameter yang diharapkan.0040 juta ton. maka peningkatan harga riil ekspor CPO sebesar 1 persen diduga akan meningkatkan ekspor CPO sebesar 0.27 dalam jangka pendek.1602 lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu sebesar 15 persen atau 0. pajak ekspor CPO. produksi CPO domestik. Penawaran ekspor CPO Indonesia dipengaruhi oleh harga riil ekspor CPO. dengan asumsi jika faktor-faktor lain dianggap konstan (ceteris paribus). Ekspor CPO Indonesia tidak responsif terhadap perubahan harga riil ekspor yang diperlihatkan oleh nilai elastisitas sebesar 0.40 persen dan sisanya sebesar 0. jumlah penduduk Indonesia dan lag ekspor CPO (Tabel 5.1). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan harga riil ekspor CPO tidak akan memberikan dampak perubahan yang terlalu besar terhadap peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia.27 persen. Variabel harga riil ekspor CPO Indonesia memberikan pengaruh yang nyata pada taraf 5 persen terhadap ekspor CPO Indonesia dengan koefisien dugaan bertanda positif sesuai dengan parameter yang diharapkan dan bernilai 0. maka ekspor akan meningkat.60 persen dijelaskan oleh variabel lain yang terdapat diluar model. Nilai Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar 0.tersebut sebesar 99. Secara teori ekonomi apabila terjadi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika.15 sehingga tidak terdapat masalah autokorelasi. nilai tukar riil.0040. artinya apabila harga riil ekspor CPO meningkat sebesar 1 US$/ton maka akan mengakibatkan peningkatan penawaran ekspor CPO sebesar 0.

dengan asumsi jika faktor-faktor lain dianggap konstan (ceteris paribus). Hal tersebut terus berlangsung sampai dengan tahun 1994 dimana peningkatan volume ekspor yang cukup besar yang mengakibatkan kurangnya pasokan minyak sawit dalam negeri membuat pemerintah untuk menetapkan pajak ekspor CPO yang berkisar antara 40 persen sampai dengan 50 persen. maka peningkatan produksi CPO sebesar 1 persen diduga akan meningkatkan ekspor CPO sebesar 1. artinya jika produksi CPO domestik meningkat sebesar 1 juta ton maka akan mengakibatkan peningkatan penawaran ekspor CPO sebesar 1. Produksi CPO domestik berpengaruh nyata pada taraf 1 persen terhadap ekspor CPO Indonesia dengan koefisien dugaan bertanda positif sesuai dengan parameter yang diharapkan dan bernilai 1.0354. pelarangan ekspor.80.17 persen karena adanya kebijakan pembebasan pajak ekspor yang dilakukan oleh pemerintah. . Pada saat terjadi apresiasi nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika ditahun 1991.80. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan produksi CPO Indonesia sebagian besarnya diperuntukkan bagi ekspor. Dengan adanya kebijakan pemerintah pada industri kelapa sawit yang berupa kebijakan tataniaga minyak sawit seperti pembebasan ekspor.terjadi adalah sebaliknya.0354 juta ton. patokan harga ekspor dan pajak ekspor menyebabkan jumlah CPO yang diekspor menjadi fluktuatif. Volume ekspor CPO Indonesia responsif terhadap perubahan produksi CPO domestik dalam jangka pendek dan mempunyai nilai elastisitas sebesar 1. jumlah ekspor CPO Indonesia justru mengalami peningkatan sebesar 43.

sehingga mereka mengurangi jumlah CPO yang diekspor. maka penerimaan yang akan diperoleh para eksportir CPO akan berkurang dibandingkan jika tidak diberlakukan PE CPO.026 juta ton. Kebijakan dari pemerintah terhadap penerapan PE dapat dikatakan berhasil. artinya jika pemerintah menaikkan PE CPO sebesar 1 persen.091 persen.091.026. Tanda negatif menunjukkan hubungan yang berlawanan antara ekspor CPO dan PE dengan nilai 0. dengan asumsi jika faktorfaktor lain dianggap konstan (ceteris paribus). Pernyataan ini kembali dibuktikan dengan perhitungan pada elastisitas PE CPO Indonesia terhadap ekspor CPO Indonesia dalam jangka pendek yang bernilai -0. maka volume ekspor CPO Indonesia diduga akan mengalami penurunan sebesar 0. Hal ini dikarenakan kebutuhan CPO sebagai bahan baku industri minyak goreng sawit domestik akan semakin meningkat seiring dengan semakin bertambahnya konsumsi minyak goreng sawit karena peningkatan jumlah penduduk Indonesia. salah satunya industri minyak goreng.Tentunya. Lag ekspor CPO Indonesia berpengaruh positif terhadap ekspor CPO Indonesia tahun analisis dan ini telah sesuai dengan parameter yang diharapkan. orientasi yang lebih dari industri CPO terhadap peluang ekspor dapat mengganggu kestabilan industri pengolahan kelapa sawit domestik. Variabel populasi Indonesia berpengaruh negatif dan nyata terhadap ekspor CPO Indonesia pada taraf 10 persen dan tanda yang diperoleh sesuai dengan parameter yang diharapkan. maka peningkatan PE sebesar 1 persen dalam jangka pendek diduga akan menurunkan ekspor CPO sebesar 0. Hal ini dikarenakan dengan adanya PE. .

Adanya kebijakan perdagangan yang dikeluarkan oleh pemerintah di sektor industri CPO menyebabkan volume CPO yang diekspor menjadi fluktuatif setiap tahunnya.8155 juta ton dan meningkat menjadi 1.2650 juta ton ditahun 1995. karena pada tahun 1994 pemerintah mulai memberlakukan kembali pajak ekspor antara 40 persen hingga 50 persen yang mengakibatkan penurunan ekspor CPO dari sebesar 1. namun sebagai instrumen agar ekspor yang terjadi tidak melupakan kebutuhan pasokan CPO domestik. Kebijakan pengendalian ekspor yang dilakukan pemerintah agar ditetapkan bukan untuk menghambat industri untuk melakukan ekspor. hal ini menjadi indikasi bahwa memang ekspor CPO akan terus meningkat setiap tahunnya dimana kondisi Indonesia yang begitu berlimpah akan komoditas CPO.1 menunjukkan bahwa variabel yang mempunyai nilai elastisitas yang lebih responsif adalah variabel produksi CPO domestik.1677 juta ton ditahun 1991 karena adanya keputusan pemerintah mengenai paket kebijakan deregulasi yang berupa pembebasan sistem tataniaga minyak sawit dan pajak ekspor. sehingga lag ekspor CPO tidak berpengaruh nyata terhadap ekspor CPO Indonesia tahun analisis. Hal ini dikarenakan adanya PE CPO yang ditetapkan oleh pemerintah.6312 juta ton ditahun 1994 menjadi 1.Variabel lag ini tidak berpengaruh nyata terhadap ekspor CPO Indonesia tahun analisis. Jumlah ekspor CPO Indonesia tahun 1990 sebesar 0. Dari hasil perhitungan elastisitas pada Tabel 5. Akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. .

15 sehingga tidak terdapat masalah autokorelasi.Tabel 5.25 Nilai tukar riil (XRR) 0.003953 *0.59 Prob (F value) = <.55 persen dijelaskan oleh variabel lain yang terdapat diluar model.45 persen dan sisanya sebesar 28.000355 ***0. Pendek (Esr) Koefisien 7.1.091 Produksi CPO domestik (QCPO) 1.964767 0.2 Permintaan Impor Minyak Goreng Sawit Indonesia Nilai koefisien determinasi pada persamaan permintaan impor minyak goreng sawit Indonesia bernilai 0.0001 Sumber : Lampiran 3.0045 -0.1562 lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu sebesar 15 persen atau 0. Permintaan impor minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi oleh .80 Populasi Indonesia (POP) -0.02590 *0.1 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Penawaran Ekspor Minyak Sawit (CPO) Indonesia Variabel Parameter Estimasi Probabilitas Elastisitas Jk.7145 artinya persamaan permintaan impor minyak goreng sawit Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel-variabel yang terdapat dalam model tersebut sebesar 71.1243 Pajak ekspor CPO (PE) -0.0167 0.0006 1.9940 F value = 246. Keterangan : *** Nyata pada taraf 15 % ** Nyata pada taraf 10 % * Nyata pada taraf 5 % 5.035426 *0.1945 Harga riil ekspor CPO (HXCPO) 0.060552 0. Nilai Breusch- Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar 0.0767 Lag ekspor CPO (XCPO(-1)) 0.065287 **0.7753 R2 = 0.

Parameter yang diperoleh tidak sesuai dengan hipotesis. namun perkembangannya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan bahwa impor minyak goreng lebih diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Adanya peningkatan harga riil impor minyak goreng pada tahun 1996 sebesar 0. permintaan minyak goreng domestik. sehingga mendorong bagi negara yang bersangkutan untuk melakukan impor.9 periode 1990-2006 adalah sebesar . yakni hanya sebesar 74.18 ribu ton per tahun. sehingga tidak dipengruhi oleh nilai tukar. Hal ini disebabkan karena apresiasi nilai tukar yang terjadi pada suatu negara akan menyebabkan harga-harga barang di negara lain relatif lebih murah. pendapatan nasional dan lag impor minyak goreng sawit Indonesia. harga riil impor minyak goreng. hal ini mengindikasikan bahwa harga riil impor minyak goreng tidak mempengaruhi importir untuk melakukan impor minyak goreng dari negara lain. Ratarata perkembangan impor minyak goreng 55. Impor minyak goreng sawit memang masih relatif kecil.nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.87 persen per tahun. maka jumlah yang diimpor semakin besar. Harga riil impor minyak goreng berpengaruh negatif dan nyata pada taraf 5 persen. Variabel nilai tukar tidak berpengaruh nyata terhadap impor minyak goreng. dimana ketika terjadi apresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar.009 persen justru diikuti oleh impor minyak goreng yang meningkat sebesar 56. Nilai tukar berpengaruh positif terhadap impor minyak goreng sawit Indonesia dan tanda yang diperoleh sesuai dengan hipotesis.

Pernyataan di atas dibuktikan dengan hasil estimasi parameter pada variabel permintaan minyak goreng sawit Indonesia yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap impor minyak goreng Indonesia pada taraf 5 persen.persen.0092 persen. Impor minyak goreng Indonesia tidak responsif terhadap perubahan pendapatan nasional Indonesia dalam jangka pendek dan mempunyai nilai elastisitas sebesar 0. Pendapatan nasional Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap impor minyak goreng Indonesia. maka peningkatan pendapatan nasional sebesar 1 persen diduga akan meningkatkan impor minyak goreng Indonesia sebesar 0.0092. Impor minyak goreng sawit tahun sebelumnya tidak berpengaruh nyata terhadap impor minyak goreng sawit pada tahun analisis. Impor minyak goreng Indonesia tidak responsif terhadap perubahan permintaan minyak goreng sawit Indonesia dalam jangka pendek dan mempunyai nilai elastisitas sebesar 0. Permintaan minyak goreng sawit yang semakin meningkat akan menyebabkan impor minyak goreng juga semakin meningkat. Hal ini dikarenakan konsumsi minyak goreng sawit Indonesia yang tinggi yaitu sebesar 14.0085 persen. dengan asumsi jika faktor-faktor lain dianggap konstan (ceteris paribus). dengan asumsi jika faktor-faktor lain dianggap konstan (ceteris paribus). Besarnya impor . Koefisien yang diperoleh juga bertanda negatif dan tidak sesuai dengan hipotesis.9 kilogram per kapita per tahun.0085. maka peningkatan permintaan minyak goreng sawit domestik sebesar 1 persen diduga akan meningkatkan impor minyak goreng sebesar 0. Tanda parameter yang diperoleh telah sesuai dengan hipotesis sebelumnya.

variabel yang mempunyai nilai elastisitas yang lebih responsif adalah variabel permintaan minyak goreng domestik.minyak goreng sawit disesuaikan dengan kebutuhan akan permintaan minyak goreng dalam negeri. apabila pemerintah ingin mengatasi permasalahan impor minyak goreng yang semakin lama semakin bertambah. lebih baik pemerintah membuat suatu kebijakan untuk mengamankan pasokan minyak goreng dalam negeri baik untuk permintaan langsung bagi masyarakat umum maupun permintaan tidak langsung oleh industri pengguna minyak goreng sawit. . sehingga jumlah impor minyak goreng tahun sebelumnya tidak mempengaruhi jumlah impor minyak goreng pada tahun analisis. Jika dilihat dari nilai elastisitas pada persamaan permintaan impor minyak goreng sawit Indonesia (Tabel 5.2). Artinya.

0085 Lag Impor MG (IMMG(-1)) -0.9982 artinya persamaan produksi minyak goreng sawit Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel-variabel yang terdapat dalam model tersebut sebesar 99.0090 Permintaan MG (QDMG) 0.89 0. Nilai Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar 0.00045219 *0.17 *0. luas areal kelapa sawit.019515 0.0091 Nilai Tukar (XRR) 0.2783 lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu sebesar 15 persen atau 0.1.003281 Prob (F value) = 0. Produksi minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi harga riil minyak goreng sawit domestik.254952 *0.3 Produksi Minyak Goreng Sawit Indonesia Nilai koefisien determinasi pada persamaan produksi minyak goreng sawit Indonesia bernilai 0. upah riil tenaga kerja dan lag produksi minyak goreng sawit. Keterangan : * Nyata pada taraf 5 % 5.7145 F value = 5.0082 0. .82 persen dan sisanya sebesar 0.2 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Permintaan Impor Minyak Goreng Sawit Indonesia Variabel Parameter Estimasi Probabilitas Elastisitas Jk.0014837 Sumber : Lampiran 4.4384 Harga Riil Impor (PIMMG) 1364.15 sehingga tidak terdapat masalah autokorelasi.0546 0. Pendek (Esr) Koefisien -604938. produksi CPO domestik.0092 Pendapatan Nasional (GDP) 0.18 persen dijelaskan oleh variabel lain yang terdapat diluar model.Tabel 5. dummy krisis ekonomi.028656 0.8826 R2 = 0.

Akibatnya.42 juta Ha per tahun. Jika dilihat dari nilai elastisitasnya. sehingga jumlah minyak goreng yang diproduksi juga bertambah. sehingga harga dan ketersediannya terjamin dan terjangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dibuktikan dari hasil estimasi pada persamaan produksi minyak goreng bahwa luas areal kelapa sawit berpengaruh positif dan nyata pada taraf 5 persen terhadap produksi minyak goreng sawit. hal ini dikarenakan minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan strategis masyarakat Indonesia. Hal ini sesuai dengan parameter yang diharapkan. dimana penetapan harga dan kuantitasnya akan selalu mendapat perhatian dari pemerintah.35. adanya peningkatan pada harga minyak goreng tidak berpengaruh terhadap produksi minyak goreng. Dengan asumsi jika faktor-faktor lain dianggap konstan (ceteris paribus). bahwa adanya peningkatan pada harga minyak goreng sawit merupakan insentif bagi para produsen minyak goreng untuk memproduksi lebih banyak lagi produk keluarannya. yaitu sebesar 0. Dengan laju peningkatan luas areal kelapa sawit sekitar 3. hal ini sesuai dengan hipotesis dimana adanya peningkatan luas areal kelapa sawit akan meningkatkan jumlah CPO yang diproduksi sebagai bahan baku dari industri minyak goreng sawit.Harga riil minyak goreng sawit domestik berpengaruh positif terhadap produksi minyak goreng sawit. Variabel harga minyak goreng sawit domestik tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi minyak goreng sawit pada taraf 15 persen. produksi minyak goreng sebagai industri hilir dari industri minyak sawit juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu sebesar 11.15 persen per tahun. produksi minyak goreng tidak responsif terhadap perubahan luas areal kelapa sawit dalam jangka pendeknya. maka peningkatan luas .

32 artinya kenaikan jumlah produksi CPO domestik sebesar 1 persen dalam jangka pendek diduga akan meningkatkan jumlah produksi minyak goreng sebesar 0.35 persen. Hal ini dikarenakan industri minyak goreng sawit adalah industri yang bersifat padat modal. Nilai elastisitas produksi CPO domestik dalam jangka pendek bernilai 0. hal ini dibuktikan dari hasil estimasi pada variabel produksi CPO domestik yang berpengaruh positif dan nyata pada taraf 5 persen. sehingga adanya peningkatan luas areal kelapa sawit akan meningkatkan jumlah CPO yang diproduksi dan selanjutnya akan meningkatkan jumlah produksi minyak goreng sawit. Upah riil tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap produksi minyak goreng sawit.32 persen. hal ini telah sesuai dengan hipotesis dimana adanya kenaikan dari biaya produksi akan membuat produsen untuk mengurangi jumlah produksinya. Biaya-biaya produksi yang dikeluarkan lebih banyak digunakan untuk . Kebanyakan dari produsen minyak goreng memiliki industri terpadu mulai dari perkebunan sawit.areal kelapa sawit sebesar 1 persen dalam jangka pendek diduga akan meningkatkan produksi minyak goreng sebesar 0. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sekitar tahun 1997 membuat produsen minyak goreng sawit mengurangi jumlah produksinya karena mahalnya biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam proses produksi. Variabel ini tidak berpengaruh nyata terhadap produksi minyak goreng. Dummy krisis Indonesia berpengaruh nyata terhadap produksi minyak goreng sawit pada taraf 5 persen dengan koefisien dugaan bertanda negatif sesuai dengan parameter yang diharapkan. pengolahan CPO dan pabrik minyak goreng.

maka produksi minyak goreng sawit tahun analisis juga akan meningkat. sehingga produksi CPO domestik dapat ditingkatkan untuk industri pengolahan CPO domestik seperti industri minyak goreng. apabila lag produksi minyak goreng sawit meningkat. lebih baik pemerintah membuat suatu kebijakan yang mendukung adanya perluasan areal dan peningkatan produktivitas kelapa sawit.3 di bawah juga menunjukkan bahwa apabila pemerintah ingin mengatasi permasalahn kurangnya ketersediaan minyak goreng di pasaran. Variabel lag produksi minyak goreng sawit berpengaruh positif dan nyata terhadap produksi minyak goreng sawit tahun analisis. Tanda parameter yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.perawatan dan perbaikan mesin-mesin dalam proses produksi. . sehingga upah tenaga kerja tidak mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil produsen minyak goreng dalam proses produksinya. Dari perhitungan nilai elastisitas pada Tabel 5.

32 Dummy krisis ekonomi (DK) -797.8213 Lag produksi minyak goreng sawit (QMG(-1)) 0.8446 lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu sebesar 15 persen atau 0.35 (LA) Produksi CPO (QCPO) 296.656801 0.1.4 Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia Nilai koefisien determinasi pada persamaan permintaan minyak goreng sawit Indonesia bernilai 0.0335 Upah riil (UPR) -0.1083 R2 = 0.222 Prob (F value) = 0.436665 *0.390933 **0.8905 Harga riil minyak goreng sawit domestik 0. Nilai Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar 0. Permintaan minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi harga riil minyak goreng .Tabel 5. Pendek (Esr) Koefisien -146.187798 0.603047 *0.00932414 0.0308 0.940763 *0.9736 artinya persamaan produksi minyak goreng sawit Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel-variabel yang terdapat dalam model tersebut sebesar 97.3 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Produksi Minyak Goreng Sawit Indonesia Variabel Parameter Estimasi Probabilitas Elastisitas Jk.2469 (HMGDR) Luas areal kelapa sawit 685.9982 F value = 841.0001 Sumber : Lampiran 5.64 persen dijelaskan oleh variabel lain yang terdapat diluar model.15 sehingga tidak terdapat masalah autokorelasi. Keterangan : ** Nyata pada taraf 10 % * Nyata pada taraf 5 % 5.0460 0.36 persen dan sisanya sebesar 2.

ketika ada peningkatan harga pada komoditi minyak goreng sawit.19 artinya adanya peningkatan harga minyak goreng kelapa domestik sebesar 1 persen dalam jangka pendek diduga akan meningkatkan jumlah permintaan minyak goreng sawit sebesar 0. maka masyarakat dan industri pengguna industri minyak goreng akan mengurangi jumlah konsumsinya atau jumlah permintaannya. Adanya kenaikan pada harga minyak goreng kelapa menyebabkan permintaan akan minyak goreng sawit semakin meningkat karena beralihnya konsumsi masyarakat dan industri pengguna minyak goreng kelapa ke minyak goreng sawit.5).23 artinya adanya peningkatan harga minyak goreng sawit domestik sebesar 1 persen dalam jangka pendek diduga akan menurunkan jumlah permintaan minyak goreng sawit sebesar 0. Artinya. Harga riil minyak goreng sawit domestik mempunyai koefisien dugaan bertanda negatif sesuai dengan parameter yang diharapkan dan berpengaruh nyata pada taraf 5 persen terhadap permintaan minyak goreng sawit.sawit domestik. Nilai elastisitas harga riil minyak goreng sawit domestik dalam jangka pendek bernilai -0.19 persen. Nilai elastisitas harga riil minyak goreng kelapa domestik dalam jangka pendek bernilai 0. harga riil minyak goreng kelapa. hal ini dikarenakan minyak goreng kelapa merupakan substitusi dari minyak goreng sawit. Variabel pendapatan per kapita Indonesia berpengaruh nyata pada taraf 5 persen terhadap permintaan minyak goreng sawit Indonesia dengan koefisien . pendapatan per kapita dan lag permintaan minyak goreng sawit Indonesia (Tabel 5.23 persen. Harga riil minyak goreng kelapa mempunyai pengaruh yang nyata dengan koefisien dugaan bertanda positif sesuai dengan parameter yang diharapkan.

dugaan bertanda positif sesuai dengan parameter yang diharapkan. Tanda parameter yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan.57 persen. Nilai elastisitas dari variabel-variabel pada persamaan permintaan minyak goreng sawit Indonesia mengindikasikan bahwa jika tidak ada usaha pemerintah untuk mengintroduksi produk substitusi minyak goreng sawit dan peningkatan ketersediaan minyak goreng. maka permintaan minyak goreng sawit tahun analisis juga akan meningkat.57. apabila lag permintaan minyak goreng sawit meningkat. Kecenderungan konsumen yang rentan akan isu-isu yang berkembang dan keputusan ekonomi di masa lalu akan mempengaruhi perilaku pembelian mereka. Nilai elastisitas pendapatan per kapita dalam jangka pendek bernilai 1. Variabel lag permintaan minyak goreng sawit berpengaruh signifikan terhadap permintaan minyak goreng sawit tahun analisis. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi minyak goreng sawit semakin meningkat dengan meningkatnya pendapatan seseorang dan jumlah penduduk Indonesia. maka variabel-variabel tersebut dalam jangka panjang akan memberikan respon perubahan yang cukup besar terhadap permintaan minyak goreng sawit. maka kenaikan pendapatan per kapita sebesar 1 persen dalam jangka pendek diduga akan meningkatkan permintaan minyak goreng sawit sebesar 1. Dengan asumsi jika faktor-faktor lain dianggap konstan (ceteris paribus). .

6347 lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu sebesar 15 persen atau 0.Tabel 5.5403 artinya persamaan produksi minyak goreng sawit Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel-variabel yang terdapat dalam model tersebut sebesar 54.3347 Prob(F value) = 0.15 sehingga tidak terdapat masalah autokorelasi. harga riil minyak goreng kelapa.0144 1.422148 *0. dummy krisis ekonomi dan lag harga minyak goreng sawit (Tabel 5. harga riil CPO domestik.137087 *0.5 Harga Minyak Goreng Sawit Indonesia Nilai koefisien determinasi pada persamaan produksi minyak goreng sawit Indonesia bernilai 0.17 Harga riil minyak goreng kelapa (HMKD) 0.5). Pendek (Esr) Koefisien -2070. Keterangan : *** Nyata pada taraf 15 % * Nyata pada taraf 5 % 5.1.19 Pendapatan/kap (ICPK) 0.9736 F value = 116.689786 *0.0004 R2 = 0.4 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia Variabel Parameter Estimasi Probabilitas Elastisitas Jk.03 persen dan sisanya sebesar 45. Harga riil minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi oleh penawaran minyak goreng sawit.0332 Harga riil minyak goreng sawit (HMGDR) -0.97 persen dijelaskan oleh variabel lain yang terdapat diluar model. Nilai Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar 0.0001 Sumber : Lampiran 6.10 Lag permintaan MG (QDMG(-1)) 0.1226 0.431732 ***0.0441 -0. .861915 0.

Penetapan harga minimum dan maksimum patut untuk dicoba selain PE.Hubungan yang negatif antara harga dan penawaran minyak goreng sawit domestik telah memenuhi logika ekonomi yang telah ditetapkan sebelumnya. Harga minimum digunakan ketika harga . Kebijakan pemerintah dalam stabilisasi harga minyak goreng lebih baik difokuskan pada stabilisasi harga CPO domestik. Variabel penawaran minyak goreng tidak signifikan terhadap harga minyak goreng sawit. pemerintah akan mengeluarkan berbagai kebijakan pengendalian jika terjadi kemelut dari sisi ekonomi maupun ketersediaan produk tersebut. hal ini disebabkan oleh karakteristik dari minyak goreng sawit itu sendiri. dimana komoditas ini telah menjadi konsumsi pokok bagi masyarakat maupun industri pengguna minyak goreng sawit di Indonesia dan dapat menyebabkan keresahan sosial jika terjadi gejolak. Hubungan yang positif dan sesuai dengan hipotesis yang telah ditetapkan juga ditunjukkan dari hasil estimasi harga riil CPO domestik terhadap harga riil minyak goreng sawit. Oleh karena itu. Ketika harga input meningkat. Nilai elastisitas harga riil CPO domestik dalam jangka pendek bernilai 0. sehingga solusi menaikan harga keluaran merupakan alternatif yang logis bagi para pelaku industri.68 artinya adanya peningkatan harga CPO domestik sebesar 1 persen dalam jangka pendek diduga akan meningkatkan harga riil minyak goreng sawit sebesar 0. agar harga dan ketersediannya selalu terjamin dan terjangkau. Ketika penawaran suatu barang meningkat maka harga dari barang tersebut akan turun. porsi biaya yang ditanggung industri akan semakin besar. Variabel harga CPO domestik ini berpengaruh signifikan terhadap harga minyak goreng sawit Indonesia.68 persen.

Harga riil minyak goreng kelapa mempunyai koefisien dugaan bertanda positif sesuai dengan parameter yang diharapkan. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 yang ditandai dengan kenaikan harga sejumlah barang-barang pokok ternyata berpengaruh pada harga minyak goreng sawit. Apabila lag harga minyak goreng sawit meningkat. adanya peningkatan dalam harga minyak goreng kelapa akan mendorong para konsumen pengguna minyak goreng kelapa untuk beralih ke minyak goreng sawit. Artinya. Variabel ini berpengaruh nyata terhadap harga minyak goreng sawit Indonesia pada taraf 10 persen. Hal ini dilakukan agar kondisi harga CPO domestik pada tingkat dimana industri CPO diuntungkan dan begitu juga industri pengolahan CPO. Lag harga minyak goreng sawit tidak berpengaruh nyata terhadap harga minyak goreng sawit dengan koefisien dugaan bertanda negatif yang tidak sesuai dengan parameter yang diharapkan. maka harga minyak goreng sawit tahun analisis belum tentu akan meningkat. sehingga membuat permintaan akan minyak goreng sawit semakin meningkat dan selanjutnya harga minyak goreng sawit juga akan mengalami kenaikan. sehingga harga minyak goreng sawit tahun sebelumnya tidak berpengaruh terhadap harga minyak goreng . Hal ini disebabkan intervensi pemerintah dalam penentuan harga minyak goreng sering berubah dari waktu ke waktu. Dummy krisis Indonesia berpengaruh nyata terhadap harga minyak goreng sawit pada taraf 10 persen dengan koefisien dugaan bertanda positif sesuai dengan parameter yang diharapkan.CPO domestik sangat rendah dibanding harga internasional dan harga maksimum pada kondisi sebaliknya.

Keterangan : *** Nyata pada taraf 15 % ** Nyata pada taraf 10 % 5.459150 ***0.68 Harga riil minyak goreng kelapa (HMKD) -2. Pengendalian ini pada dasarnya bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi mengingat pentingnya peranan minyak goreng sawit dalam perekonomian.417950 **0.116881 0.0814 Lag harga minyak goreng sawit -0. Pada penelitian ini. Salah satu intervensi pemerintah dalam hal harga minyak goreng sawit adalah dengan menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan adanya Program Stabilisasi Harga minyak goreng (PSH).1208 0. Tabel 5.sawit pada tahun analisis.2192 Harga riil CPO domestik (HCPO) 2. Intervensi pemerintah dalam penentuan harga minyak goreng sawit ini terutama terjadi ditingkat pabrik.8968 (HMGD(-1)) R2 F value = 0.141 0. validasi model menggunakan kriteria Root Mean Square Percent Error (RMSPE) dan Ststistic U-Theil. terlebih dahulu dilakukan validasi model.0100 Penawaran minyak goreng sawit (QSMG) -0.969 **0. Keakuratan model melalui .2 Hasil Validasi Model Sebelum melakukan simulasi model.049384 0.5 Hasil Estimasi Parameter dan Elastisitas pada Harga Minyak Goreng Sawit Indonesia Variabel Parameter Estimasi Probabilitas Elastisitas Jk.350661 Prob(F value) = 0.0117162 Sumber : Lampiran 7.5403 = 2.0623 Dummy krisis ekonomi (DK) 1243. Pendek (Esr) Koefisien 4303.

00 0.7 di bawah ini menunjukkan hasil simulasi berdasarkan peningkatan pajak ekspor CPO sebesar sepuluh persen. sedangkan nilai Dist (UD) dan Covar (UC) juga mendekati nilai idealnya satu.0242 U-Theil Sumber : Lampiran 9.79 0.1030 0.00 0. Tabel 5.02 0.00 1.21 0.00 0.3633 Bias (UM) 0. 0.00 Reg (UR) 0.0939 0. Hasil validasi selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.00 Dist (UD) 1.99 0.9226 persen. 5.99 0.99 0.00 Covar (UC) 0.00 0.nilai statistics of fit menghasilkan nilai RMSPE lebih kecil dari 23 persen.7877 5.00 0.00 Var (US) 0. nilai prediksi dapat mengikuti kecenderungan data historisnya dengan tingkat kesalahan 23 persen pada persamaan QDMG. yang mengindikasikan bahwa simulasi model mengikuti data aktualnya dengan baik.4842 2. Begitu juga dengan nilai U-Theil mendekati nol.1536 0.01 0. Reg (UR) dan Var (US) mendekati nilai idealnya yaitu nol.6. serta . impor minyak goreng sawit dan volume ekspor CPO masing-masing sebesar 0.93 1.1994 22.0379 0.01 0. Peningkatan pajak ekspor CPO sebesar sepuluh persen diduga akan mengakibatkan penurunan permintaan minyak goreng sawit.00 0.01 0.07 0.5164 16. Artinya.00 0.3 Perubahan Pajak Ekspor CPO Sebesar Sepuluh Persen Tabel 5.0013 persen dan 0.98 1. Bias (UM).00 0.6 Hasil Validasi Model Kebijakan Perdagangan di Sektor Industri CPO terhadap Keseimbangan Pasar Minyak Goreng Sawit Dalam Negeri Kesalahan Peubah HMGDR QDMG QMG IMMG XCPO RMS % Error 15.0017 persen.

. sehingga ketersediaan minyak goreng untuk permintaan domestik tidak tercukupi dan pada akhirnya harga dari minyak goreng sawit ini melonjak. Kedua.diduga akan meningkatkan harga minyak goreng sawit sebesar 2. penjelasan versi kedua lebih masuk akal. Pertama.1433 persen. ketika harga CPO dunia meningkat akan menimbulkan kecenderungan bagi industri CPO untuk mengekspor. ada dua versi yang dapat menjelaskan hal tersebut.1470 persen dan produksi minyak goreng sawit sebesar 0. Jika dilihat dari hasil simulasi yang telah dilakukan. sehingga hal ini mengindikasikan bahwa tidak adanya kekurangan pasokan CPO domestik walaupun ekspor sedang tinggi-tingginya. Dampak dari hal tersebut adalah produksi minyak goreng sawit menjadi berkurang. naiknya harga minyak goreng sawit adalah karena adanya kenaikan harga minyak nabati dunia termasuk CPO. Adanya lonjakan harga minyak goreng sawit adalah karena adanya kenaikkan harga minyak nabati dunia. Karena dari hasil simulasi. volume ekspor CPO yang terlalu tinggi berakibat pada pasokan CPO untuk industri minyak goreng sawit menjadi berkurang. Karena itu. sehingga permintaan akan minyak goreng sawit mengalami penurunan dengan meningkatnya harga minyak goreng sawit. ketika ekspor mencapai posisi tertinggi sehingga terjadi gejolak pada harga minyak goreng. produksi minyak goreng tidak mengalami penurunan dan justru mengalami kenaikan. Secara ekonomi. Adanya kebijakan kenaikkan PE sebesar sepuluh persen diduga akan menurunkan permintaan minyak goreng sawit dan meningkatkan harga minyak goreng sawit.

hal ini dimungkinkan karena kebutuhan akan minyak goreng sawit dapat dipenuhi dari produksi minyak goreng dalam negeri. adanya kebijakan kenaikan PE akan menurunkan pendapatan yang diterima oleh petani kelapa sawit. Dengan pajak ekspor CPO yang semakin tinggi. Melemahkan posisi daya saing Indonesia di pasar dunia. Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Askadarimi (2007).Untuk ekspor CPO sendiri diduga akan mengalami penurunan ketika PE ditingkatkan sebesar sepuluh persen. Adanya dampak multiflier dari kenaikan harga minyak goreng sawit juga akan mengakibatkan jumlah produksi minyak goreng semakin meningkat. 3. PE yang tinggi akan memicu kegitan penyelundupan. ekspor CPO legal memang semakin berkurang. Hal ini ditandai dengan hilangnya potensi pasar ekspor Indonesia ketika permintaan CPO dunia sedang tinggi-tingginya. adanya kebijakan kenaikan PE akan berimplikasi pada : 1. Dimana harga minyak goreng yang tinggi menjadi insentif bagi para produsen minyak goreng untuk meningkatkan jumlah outputnya. para produsen CPO akan mengurangi jumlah ekspornya karena semakin berkurangnya penerimaan yang mereka peroleh. Kenaikan PE juga akan menurunkan impor minyak goreng sawit. Dengan adanya peningkatan PE. Dari hasil simulasi di atas. Ketersediaan CPO untuk industri minyak goreng sawit akan semakin bertambah dengan adanya pengurangan ekspor CPO. 2. . serta kekhawatiran akan berpindahnya pembeli ke negara kompetitor (Malaysia).

penyelundupan CPO ke luar negeri melonjak drastis. .93 juta ton dan turun menjadi 2. 4. sehingga para produsen CPO lebih memilih menjual CPO ke pasar internasional dengan cara ilegal. Subsidi ini penting agar harga minyak goreng dapat ditekan dengan disubsidinya biaya input oleh pemerintah. 5. ekspor CPO Indonesia yang terdaftar pada periode Juli-September 2006 mencapai 2. Oil World mencatat. hal ini dikarenakan produsen CPO lebih tertarik dengan harga CPO dunia yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga CPO domestik. meningkat dibandingkan tahun 2007 periode JanuariSeptember yang hanya 660 ribu ton.namun ekspor CPO ilegal atau penyelundupan CPO semakin tinggi. adanya PE akan memberikan sedikit jaminan tersedianya input untuk proses pengolahan dan bagi pemerintah dapat menjadi alternatif penerimaan bukan pajak.18 juta ton pada periode yang sama di tahun 2007. Bagi pihak industri minyak goreng. Selama Januari sampai dengan Februari 2008. penurunan itu terjadi akibat adanya ekspor CPO yang tidak terdaftar karena adanya penetapan pajak ekspor yang semakin tinggi. Oil World memperkirakan penyelundupan CPO mencapai 400 ribu ton. Pemerintah diharapkan untuk lebih memfokuskan pada kebijakan pengendalian harga minyak goreng dengan memberikan subsidi kepada industri atas kenaikan harga CPO.

3126 9.Tabel 5.400 60.1470 -0.9226 . Nilai Dasar Predicted Mean 3.0017 0.4528 4.3137 Skenario Simulasi PE naik 10 % %∆ Predicted Mean 3.0013 -0.473 60.2739 2.7 Hasil Simulasi Kenaikkan Pajak Ekspor Sebesar Sepuluh Persen Variabel Harga riil minyak goreng sawit (HMGDR) permintaan minyak goreng sawit (QDMG) produksi minyak goreng sawit (QMG) Impor minyak goreng sawit (IMMG) Ekspor minyak sawit (XCPO) Sumber : Lampiran 10.1433 -0.787 15.4530 4.773 15.3136 9.

penawaran minyak goreng sawit Indonesia dan keseimbangan penawaran dan permintaan minyak goreng sawit Indonesia. permintaan impor minyak goreng sawit Indonesia. Variabel yang mempunyai nilai elastisitas yang lebih responsif adalah produksi CPO domestik. Persamaan identitas mencakup penawaran ekspor CPO Indonesia. produksi minyak goreng sawit Indonesia.80 persen. 3.1 1. dimana peningkatan produksi CPO sebesar 1 persen diduga akan meningkatkan ekspor CPO sebesar 1. permintaan minyak goreng sawit Indonesia dan harga minyak goreng sawit Indonesia. Penawaran minyak goreng sawit Indonesia berasal dari minyak goreng sawit yang diimpor dan minyak goreng sawit produksi Indonesia. Sedangkan lag ekspor CPO Indonesia tidak berpengaruh nyata terhadap ekspor CPO Indonesia. Kesimpulan Model keterkaitan ekspor CPO dan pengaruh pajak ekspor CPO terhadap keseimbangan pasar minyak goreng sawit dalam negeri menghasilkan lima persamaan struktural dan tiga persamaan identitas. pajak ekspor CPO. Penawaran ekspor CPO Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh harga riil ekspor CPO. Impor minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh harga riil impor . Sedangkan persamaan struktural terdiri dari model faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor CPO Indonesia. 2. produksi CPO domestik dan populasi Indonesia. KESIMPULAN DAN SARAN 6.VI. nilai tukar riil.

Permintaan minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh harga riil minyak .0092 persen dalam jangka pendek. Permintaan minyak goreng sawit Indonesia merupakan agregasi dari jumlah konsumsi minyak goreng sawit secara langsung dan konsumsi minyak goreng oleh industri pengguna minyak goreng sawit. 4. Nilai elastisitas pada persamaan impor minyak goreng semakin tidak elastis dalam jangka panjang. Produksi minyak goreng sawit Indonesia dipengaruhi secara nyata oleh luas areal kelapa sawit. Variabel yang mempunyai nilai elastisitas yang lebih responsif adalah permintaan minyak goreng domestik dengan nilai elastisitas sebesar 0. maka peningkatan permintaan minyak goreng sawit domestik sebesar 1 persen diduga akan meningkatkan impor minyak goreng sebesar 0.minyak goreng sawit. Sedangkan harga riil minyak goreng sawit domestik dan upah riil tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap produksi minyak goreng sawit Indonesia. Dengan asumsi jika faktor-faktor lain dianggap konstan (ceteris paribus). 5. produksi CPO domestik. dummy krisis ekonomi Indonesia dan lag produksi minyak goreng sawit.35 persen. dengan asumsi jika faktor-faktor lain dianggap konstan (ceteris paribus). permintaan minyak goreng domestik dan pendapatan nasional Indonesia.35. Nilai elastisitas jangka pendek dari variabel luas areal kelapa sawit sebesar 0. maka peningkatan luas areal kelapa sawit sebesar 1 persen dalam jangka pendek diduga akan meningkatkan produksi minyak goreng sebesar 0. sedangkan nilai tukar riil dan lag impor minyak goreng tidak berpengaruh nyata.0092 dalam jangka pendek.

1433 persen. Variabel-variabel yang mempengaruhi secara nyata harga minyak goreng sawit domestik adalah harga riil CPO domestik. harga riil minyak goreng kelapa. 0.68 artinya adanya peningkatan harga CPO domestik sebesar 1 persen dalam jangka pendek diduga akan meningkatkan harga riil minyak goreng sawit sebesar 0.1470 persen dan produksi minyak goreng sawit sebesar 0. 6. impor minyak goreng sawit dan volume ekspor CPO masing-masing sebesar 0. Hasil simulasi menunjukkan peningkatan sepuluh persen pajak ekspor CPO akan mengakibatkan penurunan permintaan minyak goreng sawit. serta diduga akan meningkatkan harga minyak goreng sawit sebesar 2.0013 persen dan 0. 7.0017 persen.68 persen. Perlu juga adanya perhatian khusus dari pemerintah . menunjukkan model layak untuk digunakan sebagai peramalan. untuk itu diperlukan adanya kebijakan alternatif selain pajak ekspor sebagai komplemen untuk mengatasi kelemahan dari penerapan pajak ekspor.goreng sawit. Nilai elastisitas harga riil CPO domestik dalam jangka pendek bernilai 0. harga riil minyak goreng kelapa dan dummy krisis ekonomi Indonesia. 6. pendapatan per kapita dan lag permintaan minyak goreng sawit. Validasi model dengan menggunakan kriteria statistics of fit.9226 persen.2 Saran 1. Adanya kenaikkan pajak ekspor CPO justru berdampak negatif bagi para produsen dan petani sawit karena menurunkan pangsa pasar dan daya saing Indonesia di pasar dunia.

3. . Untuk penelitian selanjutnya perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai variabel-variabel yang lebih relevan yang berkaitan dengan harga minyak goreng sawit domestik. 2. Penerapan operasi pasar yang selama ini dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga keseimbangan pasar minyak goreng dapat efektif jika infrastrukturnya dipersiapkan secara baik dengan koordinasi yang baik dari pemerintah pusat dan daerah untuk menjangkau kalangan yang benar-benar kurang mampu. Perlu juga dilakukan penelitian tentang kebijakan pengendalian mana yang paling efisien yang dapat dipilih oleh pemerintah dalam mengatasi masalah keseimbangan pasar dan harga minyak goreng tetapi tidak mengorbankan potensi ekspor CPO Indonesia yang cukup menarik ketika harga CPO dunia sedang tinggi.dalam hal senjang pengambilan keputusan pada penetapan pajak ekspor agar penyesuaiannya mengikuti pola perubahan harga CPO dunia yang fluktuatif.

DAFTAR PUSTAKA Ardana, I. K. 2004. Struktur Produksi dan Peranan Minyak Goreng dalam Perekonomian Indonesia [tesis]. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Askadarimi, I. 2007. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perdagangan Minyak Sawit (CPO) Indonesia [skripsi]. Program Studi Ekonomi dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Badan Pusat Statistik. 1990-2006. Harga Perdagangan Besar Sektor Industri. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ______. 1990-2006. Indeks Harga Konsumen Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ______. 1990-2006. Indeks Harga Perdagangan Besar Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ______. 1990-2006. Indeks Harga Pedagang Besar Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ______. 1990-2006. Statistik Impor Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ______. 1990-2006. Statistik Industri Besar dan Sedang Volume II dan III. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ______. 2006. Statistik Kelapa Sawit Indonesia Tahun 1990-2006. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ______. 1990-2006. 1990-2006. Statistik Ekspor Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ______. 1990-2006. Statistical Year Book of Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta. ______. 1990-2006. Neraca Bahan Makanan. Badan Pusat Statistik, Jakarta. Bank Indonesia. 1990-2006. Laporan Tahunan Bank Indonesia. Bank Indonesia, Jakarta Corinthian Indopharma Corpora. 2003. Studi tentang Pemasaran Minyak Goreng di Indonesia. Jakarta.

Deliarnov. 1995. Pengantar Ekonomi Makro. UI Press, Jakarta. Departemen Perindustrian. 1990-2006. Perkembangan Impor Komoditi Indonesia Menurut KLUI 5 Digit. Departemen Perindustrian, Jakarta. Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). 2007. Road Map Kelapa Sawit. Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta. Djaenudin, D. R. 2000. Analisis Pasar Minyak Goreng Domestik : Dampak Kebijakan Pemerintah dan Kemungkinan Pemberlakuan Liberalisasi Perdagangan [tesis]. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Firdaus, M. 2004. Ekonometrika Suatu Pendekatan Aplikatif. Bumi Aksara, Jakarta. Gujarati, D. 1978. Ekonometrika Dasar. Zain dan Sumarno [penerjemah]. Erlangga, Jakarta.

Indonesian Palm Oil Comission (IPOC). 2007. Indonesian Palm Oil Statistics 2006. Indonesian Palm Oil Comission (IPOC), Jakarta.
Jamaludin, J. 2005. Dampak Kebijakan Perdagangan Gandum-Tepung Terigu terhadap Keseimbangan Tepung Terigu di Indonesia [skripsi]. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kindleberger, C. P. dan P. H. Lindert. 1995. Ekonomi Internasional [terjemahan]. Edisi Keempat. Erlangga, Jakarta. Koutsoyiannis, A. 1977. Theory of Econometrics : Second Edition. Harper & Row Publishers, Inc. Barnes & Nobles Import Division, New York. Lipsey, R. 1995. Pengantar Mikroekonomi. Binarupa Aksara, Jakarta. Mahisya, F. 2004. Analisis Permintaan Ekspor CPO Indonesia : Suatu Pendekatan Error Correction Model [skripsi]. Departemen Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Mankiw, G. 2003. Teori Makroekonomi. Erlangga, Jakarta. Margaretha, E. 2005. Dampak Liberalisasi Perdagangan Disektor Industri Tekstil Terhadap Neraca Perdagangan Indonesia [skripsi]. Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Nicholson, W. 1991. Teori Mikroekonomi. Binarupa Aksara, Jakarta.

Nurdiyani, F. 2007. Analisis Permintaan dan Penawaran Industri Minyak Goreng Kelapa di Indonesia [skripsi]. Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Ratri, C. D. 2004. Analisis Dampak Rencana Penerapan Pungutan Ekspor Kakao Terhadap Integrasi Pasar Kakao Indonesia [skripsi]. Program Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Salvatore, D. 1997. Ekonomi Internasional. Erlangga, Jakarta. Sitepu R. Karo-karo, Bonar M. Sinaga. 2006. Aplikasi Model Ekonometrika : Estimasi, Simulasi, dan Peramalan Menggunakan Program SAS. Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sugema I, M Fadhil Hasan, Aviliani, Usman H, Sugiyono. 2007. Strategi Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit. INDEF, Jakarta. Suharyono. 1996. Analisis Dampak Kebijakan Ekonomi pada Komoditi Minyak Sawit dab Hasil Industri yang Menggunakan Bahan Baku Minyak Sawit di Indonesia [tesis]. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sumaryanto dan Marcellus, R. 1996. Sistem Agribisnis dan Peranan Minyak Goreng dalam Perekonomian Nasional. hal. 37-88. Dalam : Amang, Beddu, Pantjar Simatupang dan Anas Rachma, (Eds.). Ekonomi Minyak Goreng di Indonesia. IPB Press. Bogor. Widayunita, P. 2007. Analisis Daya Saing Industri Semen Indonesia Periode 1978-2005 [skripsi]. Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Winarno, W. W. 2007. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EViews. YKPN, Jogjakarta.

LAMPIRAN .

Kebijakan Pemerintah Pada Industri Kelapa Sawit Indonesia Tanggal 11 Des’78 16 Des’78 Surat Keputusan SK Menteri Perdagangan dan Koperasi No. baik untuk PMA. Penetapan minyak goreng sawit ke dalam daftar negatif investasi. Tarif bea tambahan (20%) dihapuskan. . Penetapan pajak ekspor tambahan (PET) untuk RBD-PO dan Olein 30% dan RBD Olein 28%. Penurunan pajak ekspor CPO dan produk turunannya dari sekitar 10%-12% menjadi 2%5% secara ad-volerem.18%. Pembebasan sistem tataniaga kelapa sawit dan pajak ekspor CPO. 275/KPB/XII/78 SK Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 764/Kpts/UM/12/1978 No. dan non PMA/PMDN.Lampiran 1. Pajak ekspor minyak sawit dan produk sejenis sebesar 37. 252/M/SK/12/1978 No. 300/KMK. 456/MPP/Kep/12/1997 17 Des’97 Pengaturan alokasi atau jatah untuk kebutuhan dalam negeri beserta harganya Pemberlakuan lisensi dari Departemen Perdagangan untuk ekspor. 47/KMK/001/84 Paket Kebijakan Deregulasi Hal Pengaturan tataniaga minyak sawit untuk tujuan ekspor Pengaturan tataniaga minyak sawit untuk kebutuhan dalam negeri dan juga untuk tujuan ekspor 11 Jan’79 23 Jan’83 1984 1986 3 Juni’91 1992 Paket Deregulasi 31 Agst’94 4 Juli’97 SK Menteri Keuangan No. Jika dibutuhkan impor diperbolehkan dengan bea masuk 5%. 439/KMK. Menteri Perindustrian.017/1994 SK Menteri Keuangan No.01/1997 SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. Penetapan pajak ekspor CPO bervariasi 40%-50%. Investasi diizinkan jika terpadu dengan pengembangan perkebunan sawit (penyediaan bahan baku 65%). Menteri Perdagangan dan Koperasi : No. PMDN. 001/Dagri/Kp/79 SK 17/Dagri/Kp/I/83 SK 22/Dagri/Kp/I/83 SK Menteri Perdagangan No. Pembebasan Pajak Ekspor minyak sawit.268/KP/XII/78 SK Bersama tiga menteri Menteri Pertanian.

Penurunan PE CPO menjadi 3%. HPE ditetapkan setiap bulan oleh Dirjen Perdagangan Luar Negeri.go. 622/KMK. Pengaturan pengolahan CPO. 420/DJPDN/XI/1997 SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Hal Penetapan alokasi/kuota 80% dari produksi untuk pasokan dalam negeri. 189/KMK. Penurunan PE CPO menjadi 5%. 30/KMK. pengaturan pembayaran minyak goreng secara cash flow.010/2005 Peraturan Pemerintah No. 21/M-Dag/Per/5/2006 29 Jan’99 3 Juni’99 21 Juli’99 12 Sept’00 2001 2005 10 Sept’05 29 Mar’06 8 Mei’06 Sumber : http://www. 130/KMK.01/1999 SK Menteri Keuangan No. HPE berlaku satu bulan mulai 10 Mei-9 Juni 2006. Kenaikan PE (CPO : 40% menjadi 60% dan RBD Olein 35% menjadi 55%).id .07/1998 SK Menteri Keuangan No.071/2001 SK Menteri Keuangan No. Pelarangan ekspor sawit produksi PTPN.017/1999 SK Menteri Keuangan No. 35 SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.deperin. 360/KMK. Pajak Ekspor CPO 1. 17/M-Dag/Per/3/2006 SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 7 Juli’98 SK Menteri Keuangan No. Penurunan PE CPO dari 60% menjadi 40%. yaitu US $ 358/MT. 334/KMK. pembatalan (outstanding contract). 66/KMK. 387/KMK. Penentuan Harga Patokan Ekspor (HPE) mengacu pada harga minyak sawit dunia. Penurunan PE CPO dari 30% menjadi 10%.5%.017/2000 SK Menteri Keuangan No.Tanggal 19 Des’97 24 Des’97 22 April’98 Surat Keputusan SK Menteri Keuangan No. Penurunan PE CPO dari 40% menjadi 30%.01/1997 SK Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. Pelarangan ekspor.017/1999 SK Menteri Keuangan No.

8 134.14 146.16 2276.28 3249.228 3394.622345 10.903218 6.62 2118 2018.75 164.44 146.7839 195.94 1476.01 26677.68 3207.9401 186.6 188.30 94.0 413.47 93.4 338.88 2569.1 112.76 103.930415 6.87 1887.48 100.98 154.94 2830.12 1941.5249 198.08 29440.49 2880.376200 12.25 PI (2000=100) 106.90 152.6 176.6758 201.5448 189.619830 16.6751 192.82 2226.19 18779 17031.33 2842.5 327.3 135.61 LA (Ha) 1126677 1310996 1464686 1613187 1804149 2024986 2249514 2922296 3560196 3901802 4158077 4713435 5067058 5283557 5447562 5641721 5824566 .41 2383.65 26051.455590 7.632012 1.02 4061.48 15391.58 28319.05 2303.9 474.479670 4.53 15533.53 1701.898658 5.386409 8.396472 9.333708 6.0427 186.0 186.65 GDP HK’93 (Milyar Rupiah) 959550 1019354 1085199 1155694 1242834 1344995 1450149 1518305 1317868 1329436 1394845 1442985 1505216 1579559 1656826 1750656 1846655 UPR (Rp/HOK) 27923.661647 10.11 2699.74 3027 3169 3357 3546 4108.266250 3.33 15591.671957 2.12 98.83 156.2478 182.2 165.298987 4.9 430.657600 3.631203 1.326419 14.00 69.7128 195.31 2013.1 159.08 QCPO (Juta Ton) 2.101000 HXCPO (US $/Ton) 303.44 2206.39 16483.167689 1.7033 202.02 128.04 142.61 1785.Lampiran 2.03 26233.04 2917.83 98.47 75.265024 1.98 18175.2 299.8688 222.7074 214.0723 218.110027 4.3741 217.030272 1.967589 1.25 QMG (000 Ton) 2413 2658 3266 3421 4008 4480 4899 5385 5902 6250 6950 7660 9060 10110 10955 11938 12921 IMMG (000 Ton) 27 39 310 158 130 72 113 100 27 9 24 20 52 26 45 51 58 QSMG (000 Ton) 2440 2697 3576 3579 4138 4552 5012 5485 5929 6259 6974 7680 9112 10136 11000 11989 12979 POP (Juta Jiwa) 179.000000 XRR (Rp/US $) 2403.5378 204.58 21500. Data Riil Penelitian Tahun 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 XCPO (Juta Ton) 0.421449 4.28 3068.815580 1.53 141.04 2202.29 27308.40 2505.440834 12.008062 4.448508 5.192 QDMG (000 Ton) 1573.479278 3.73 15507.99 30478.4 481.1033 201.000508 8.18 2300.412612 2.

2 HMGDR (Rp/Kg) 1827.5161 443.25 356.02 112.43 1186 1232.06 2566.14 122.27 1074.91 1128.333 HMKD (Rp/Kg) 1154.697 7642. diolah.6 7998.88 94.62 3118.77 380.12 694 904.39 140.54 3078.27 86.25 264.17 1132.31 445.55 1661.5383 443. Deptan.7 126.123 6539. Deperin dan Depdag 1990-2006.66 3694.14 908.272 7416.92 796.31 278.264 7153.05 3422.23 1291.262 6552.3 921.061 6491.1 100 109.23 244.5 443.998 7425.69 1171.204 5572. CIF Rotterdam : Harga riil minyak goreng sawit : Upah riil : Luas areal kelapa sawit : Harga riil CPO domestic .064 6195.07 280.71 100 107.1 324.91 754.83 1284.5422 443.61 1581.236 7632.6543 DK 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 ICPK (000 Rp/Kap) 5353.4867 443.5013 443.35 249. Keterangan : XCPO : Ekspor CPO HXCPO : Harga riil Ekspor CPO QCPO : Produksi CPO XRR : Nilai tukar QMG : Produksi minyak goreng GDP : Pendapatan nasional ICPK : Pendapatan/kap HMKD : Harga riil minyak goreng kelapa PIMMG : Harga riil impor minyak goreng DK : Dummy krisis ekonomi IMMG QSMG POP QDMG PI HMGDR UPR LA HCPO : Impor minyak goreng : Penawaran minyak goreng : Populasi : PermintaanMinyakgoreng : Price index.92 3091.93 PIMMG (US$/ton) 443.12 231.29 1100.72 268.2 1108.03 867.4484 443.4806 443.85 Sumber : BPS.23 3520.8 910.897 7149.078 IHPB (1993=100) 79.HCPO (Rp/Kg) 674.83 104.56 7368.3 1029.00 104.31 1413.74 2112.34 1025.31 631.29 254.61 259.4981 443.4977 443.98 3680.18 1700.73 1168.436 6979.5048 443.27 403.67 239.59 3418.21 246.5317 443.31 2519.4 867.3 3631.26 118.47 895.4743 443.064 5833.4497 443.3 1014.82 91.27 3917.03 3360.39 1045.5115 443.43 799.96 5478.15 360.12 IHK (1993=100) 79.5193 443.48 503.91 1205.08 3779.655 8311.

7753 .681348 0.000355 -0.12 22:20 Monday. July 14.22313 R-Square Adj R-SQ 0.060552 5.695 -3.28052 Mean Square 31.294 Variable DF Prob > INTERCEP HXCPO XRR PE QCPO POP LAGXCPO 1 1 1 1 1 1 1 7.025899 1.0006 0.12582 Source Model Error C Total DF 6 9 15 F Value 246.14818 1.035426 -0.964767 0.200860 0.31351 8. 0. Hasil Estimasi Parameter pada Penawaran Ekspor CPO Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6.Lampiran 3.9940 0.999 0.402 2.003953 0.1945 0.032666 0.000209 0.006892 0.35471 4.1243 0. 1997 The SAS System 1 SYSLIN Procedure Two-Stage Least Squares Estimation Model: SEXPORT Dependent variable: XCPO Analysis of Variance Sum of Squares 186.13234 187.588 Prob>F 0.001348 0.0045 0.155 -1.0767 0.205803 0.02470 0.0167 0.758 5.932 1.9899 Parameter Estimates Parameter Estimate Standard Error T for H0: Parameter=0 |T| 1.V.0001 Root MSE Dep Mean C.065287 0.

75000 12207.0082 0.31252 85421.0546 0.0090 0.5718 Parameter Estimates Parameter Estimate -604938.02655 R-Square Adj R-SQ 0.228 0.254952 0. Hasil Estimasi Parameter pada Permintaan Impor Minyak Goreng Sawit Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6.12 22:20 Monday.0091 0.8826 . 49.019515 1364.12500 64. July 14.228 3.000208 0.077568 0.Lampiran 4. 1997 The SAS System SYSLIN Procedure Two-Stage Least Squares Estimation Model: DIMPORT Dependent variable: IMMG Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square 2 Source Prob>F Model 0.43780 24384.00045219 -0.0014837 Error C Total DF F Value 5 10 15 61037.43125 5.48756 2438.89 0.7145 0.189214 T for H0: Parameter=0 -3.000000 0.807 3.166822 0.151 Variable INTERCEP XRR PIMMG QDMG GDP LAGIMMG DF 1 1 1 1 1 1 Prob>|T| 0.003281 Root MSE Dep Mean C.564790 0.38047 77.V.028656 Standard Error 187432.287 2.024180 422.176 -0.4384 0.

940763 296.187798 685.43750 2.0001 Error C Total DF F Value 6 9 15 158567696.12 22:20 Monday.16000 158850441.238 2.463 31416.8213 0.040087 0.603047 -797.557 2. Hasil Estimasi Parameter pada Produksi Minyak Goreng Sawit Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6.436665 -0.9970 Parameter Estimates Parameter Estimate -146.9982 0.219313 T for H0: Parameter=0 -0.212579 128.233 1.313 -2.0308 0.Lampiran 5.94 26427949.58134 R-Square Adj R-SQ 0. July 14.00932414 0.78 282745.1083 . 1997 3 The SAS System SYSLIN Procedure Two-Stage Least Squares Estimation Model: PRODUCE Dependent variable: QMG Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square Source Prob>F Model 0.191885 0.24596 6866.656801 0.151634 268.0460 0.506 -0.12889 841. 177.783 Variable INTERCEP HMGDR LA QCPO DK UPR LAGQMG DF 1 1 1 1 1 1 1 Prob > |T| 0.V.0335 0.222 Root MSE Dep Mean C.208859 318.390933 Standard Error 1035.142 1.2469 0.451907 0.8905 0.

673 2.25295 2732.1226 0.9685 Parameter Estimates Parameter Estimate -2070.3347 R-Square Adj R-SQ 0.V.0001 Error C Total DF F Value 4 11 15 Root MSE Dep Mean C.0152 14460.12 22:20 Monday.145392 0.77196 116.49156 6888224.9736 0. 6729156.5522 120. July 14. Hasil Estimasi Parameter pada Permintaan Minyak Goreng Sawit Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6.904 4.0607 159068.75438 4.0332 0.689786 Standard Error 850.861915 -0.842772 0.422148 0.Lampiran 6.258135 0.272 1.934 Variable INTERCEP HMGDR HMKD ICPK LAGQDMG DF 1 1 1 1 1 Prob > |T| 0.137087 0. 1997 4 The SAS System SYSLIN Procedure Two-Stage Least Squares Estimation Model: DMINYAK Dependent variable: QDMG Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square Source Prob>F Model 0.060333 0.431732 0.0441 0.0004 .139807 T for H0: Parameter=0 -2.40043 1682289.434 -2.0144 0.

0100 0.0814 0.049384 Standard Error 1358.459150 -2.968554 -0.417950 1243.311 1.450211 1.72726 2.0117162 Error C Total DF F Value 5 10 15 4524042.0963 620.168 -1. July 14.098 -0.141208 -0.3104 Parameter Estimates Parameter Estimate 4303.8236 3849167. 1997 5 The SAS System SYSLIN Procedure Two-Stage Least Squares Estimation Model: HARGA Dependent variable: HMGDR Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square Source Prob>F Model 0.350661 Root MSE Dep Mean C.41658 3399.Lampiran 7.371212 T for H0: Parameter=0 3.5403 0.25092 904808.248058 593.12 22:20 Monday.133 Variable INTERCEP QSMG HCPO HMKD DK LAGHMGDR 1 1 1 1 1 1 DF Prob>|T| 0.2726 8373210.443115 0.696 -1.56472 384916.116881 2.37081 18.2192 0.V.057321 0.8968 .089164 1. R-Square Adj R-SQ 0.0623 0.937 2.1208 0. Hasil Estimasi Parameter pada Harga Minyak Goreng Sawit Indonesia dengan Menggunakan Program SAS 6.

XRR.5063 1. LAGXCPO Autocorrelation Test Equation XCPO Lag Statistic Value 1. Heteroskedastisitas dan Normalitas pada Masing-masing dengan Menggunakan Program SAS 6.3431 0.8129 0.149 Prob 0.Lampiran 8.3821 Cross of all vars 0.240 Prob 0.30 QCPO.35471 0.00 5.973 3. POP. Hasil Uji Autokorelasi.12582 0.744 4. PE.1602 0.6395 0.2458 1 Godfrey's AR 2 Godfrey's AR 3 Godfrey's AR Normality Test Equation XCPO System Test Statistic Shapiro-Wilk W Mardia Skewness Mardia Kurtosis Henze-Zirkler T Value 0.13234 0.1538 0. 15 6 0.8102 .9940 Heteroscedasticity Test Equation Variables XCPO Test Statistic DF Prob White's Test Breusch-Pagan 16.056 -0.960 0.12 The SAS System MODEL Procedure 2SLS Estimation Nonlinear 2SLS Summary of Residual Errors DF DF Model Error Equation R-Sq XCPO 0.950 0.9899 SSE MSE Root MSE R-Square Adj 7 9 1. HXCPO.

00 15 5.9086 SSE MSE Root MSE R-Square Adj 5 11 119558 10868. PIMMG. Autocorrelation Test Equation IMMG Lag 1 2 3 Statistic Godfrey's AR Godfrey's AR Godfrey's AR Value 11.04 11.16 Prob 0.5317 0.2169 1.5679 Normality Test Equation IMMG System Test Statistic Shapiro-Wilk W Mardia Skewness Mardia Kurtosis Henze-Zirkler T Value 0.77 4 LAGIMMG 0.9 104.3257 . July 14. XRR.25412 0.81 12.3821 Cross of all vars 0.22:20 Monday. GDP.2107 0.6125 0. 1997 14 The SAS System MODEL Procedure 2SLS Estimation Nonlinear 2SLS Summary of Residual Errors DF Model DF Error Equation R-Sq IMMG 0.9396 Heteroscedasticity Test Equation Variables IMMG Test Statistic DF Prob White's Test Breusch-Pagan 16.922 0.2065 0.625 2.864 4.101 Prob 0.7145 0.

9 168.175 2.9973 SSE MSE Root MSE R-Square Adj 6 10 285339 28533.7258 0.8178 0.0112 .3271 0. UPR.91972 0.9982 Heteroscedasticity Test Equation Variables QMG Test Statistic DF Prob White's Test Breusch-Pagan 16. LAGQMG Autocorrelation Test Equation QMG Lag 1 2 3 Statistic Godfrey's AR Godfrey's AR Godfrey's AR Value 1.350 -2.235 7.077 -0. 1997 19 The SAS System MODEL Procedure 2SLS Estimation Nonlinear 2SLS Summary of Residual Errors DF Model DF Error Equation R-Sq QMG 0.2783 0.00 7. QCPO. July 14. LA.971 0.7812 0.540 Prob 0.22:20 Monday.63 15 5 0.540 Prob 0.1779 1.3821 Cross of all vars 0.0565 Normality Test Equation QMG System Test Statistic Shapiro-Wilk W Mardia Skewness Mardia Kurtosis Henze-Zirkler T Value 0. DK.

7001 0.302 2.8446 0.133 Prob 0. Autocorrelation Test Equation QDMG Lag 1 2 3 Statistic Godfrey's AR Godfrey's AR Godfrey's AR Value 0.3193 0. HMKD.2 336.1922 Normality Test Equation QDMG System Test Statistic Shapiro-Wilk W Mardia Skewness Mardia Kurtosis Henze-Zirkler T Value 0.22:20 Monday.736 Prob 0.2110 0.713 4.845 3.7536 SSE MSE Root MSE R-Square Adj 4 12 1357898 113158.339 2.38989 0.8029 Heteroscedasticity Test Equation Variables QDMG LAGQDMG Test Statistic DF Prob White's Test Breusch-Pagan 16.5692 0. ICPK.00 4.2329 . July 14.3134 0.2037 Cross of all vars 1. 1997 24 The SAS System MODEL Procedure 2SLS Estimation Nonlinear 2SLS Summary of Residual Errors DF Model DF Error Equation R-Sq QDMG 0.60 14 3 0.038 0.

July 14.5787 0.244 1.4011 0. DK.0733 Cross of all vars 1.211 Prob 0.3821 0.8328 .6 640.3698 0.6347 0.8852 0. HCPO.4612 Heteroscedasticity Test Equation Variables HMGDR Test Statistic DF Prob White's Test Breusch-Pagan 16. HMKD.555 0.43471 0.55 15 4 0.22:20 Monday.6531 Normality Test Equation HMGDR System Test Statistic Shapiro-Wilk W Mardia Skewness Mardia Kurtosis Henze-Zirkler T Value 0.123 0. LAGHMGDR Autocorrelation Test Equation HMGDR Lag 1 2 3 Statistic Godfrey's AR Godfrey's AR Godfrey's AR Value 0.804 0.00 8.945 0.2652 SSE MSE Root MSE R-Square Adj 5 11 4511723 410156.628 Prob 0. 1997 29 The SAS System MODEL Procedure 2SLS Estimation Nonlinear 2SLS Summary of Residual Errors DF DF Model Error Equation R-Sq HMGDR 0.

Lampiran 9.4141 600403 2906 154453 0.64 25.1009 0.08035 22546 41.5335 Predicted Mean 3.4579739 0.155 3.4638 3.8133 607782 3306 156367 0.158 48. Hasil Validasi Model Kebijakan Perdagangan dengan Menggunakan Program SAS 6.400 60.2330 Mean Abs % Error 9.1250 4.787 15. 1997 138 The SAS System SIMNLIN Procedure Simultaneous Simulation Descriptive Statistics Actual Variable HMGDR QDMG QMG IMMG XCPO Nobs 16 16 16 16 16 N 16 16 16 16 16 Mean 3399 2733 6866 77.5227 Statistics of Fit Mean Error 0.4842 2.9940 358. July 9.0446 418187 0.3633 Variable HMGDR QDMG QMG IMMG XCPO N 16 16 16 16 16 R-Square 0.3137 Std 6.487942 98.04459 418187 11. 1997 137 The SAS System SIMNLIN Procedure Simultaneous Simulation Solution Summary Dataset Option DATA= Variables Solved Dataset WIDA 5 Solution Method NEWTON CONVERGE= 1E-8 Maximum CC 2.4530 4.1994 22. July 9.3136 9.05769 RMS Error RMS % Error 15.5164 16.5109 Mean Abs Error 305.8671 22546 41.4334 600403 2906 154453 0.0033E-16 Maximum Iterations 1 Total Iterations 16 Average Iterations 1 Observations Processed Read 17 Solved 16 Failed 1 Variables Solved For: HMGDR QDMG QMG IMMG XCPO 15:28 Wednesday.3135 Std 747.7877 5.000173 Mean % Error 0.7540 0.2660 .12 15:28 Wednesday.6540 3254 75.858039 0.1372 677.

000 0.4638 3.0000 77.998 -.07077 0.7870 15.6540 3254.0000 6866.99 0.0939 0.956 0.000 0.93 1. 1997 118 The SAS System SIMNLIN Procedure Simultaneous Simulation Descriptive Statistics Actual Variable HMGDR QDMG QMG IMMG XCPO Nobs 16 16 16 16 16 N 16 16 16 16 16 Mean 3399.44506E10 0.000 0.0000 75.1536 0.000 0.1032 21.2739 Std 7.156000 3. July 9.0483 0.997 0.0379 0.5335 Predicted Mean 3.580000 25.000 1.000 0.00 HMGDR QDMG QMG IMMG XCPO 16 16 16 16 16 128747 3.79 0.71824 0.0242 Lampiran 10.02 0.07 0.1030 0.000 0.000 0.1250 4.98 1.000 0.0000 2733.01 0.00 0.3135 Std 747.063563 98.21 0.Theil Forecast Error Statistics MSE Decomposition Proportions Variable N MSE Inequality Coef U1 U Corr Bias Reg Dist Var Covar (R) (UM) (UR) (UD) (US) (UC) 0.000 0.2600 0.000 1.12 15:28 Wednesday.1372 677.99 0.000 0.3126 9.4528 4.4376 14.01 0.01 0.4730 60.159000 48.436 0.69398E11 10930387 2.547900 .99 0. Hasil Simulasi Kenaikkan Pajak Ekspor sebesar 10 Persen dengan Menggunakan Program SAS 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful