Anda di halaman 1dari 14

HIPERTENSI A. Definisi Hipertensi adalah penyakit kardiovaskular yang umum yang berarti kenaikan tekanan darah secara persisten.

Pasien hipertensi memiliki tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan darah diastolik > 90 mmHg, atau keduanya. Krisis hipertensi (tekanan darah lebih besar dari 180/120 mmHg) dapat dikategorikan ke dalam hypertensive emergency (kenaikan tekanan darah yang ekstrim dengan kerusakan organ akut atau progresif) atau hypertensive urgency (kenaikan tekanan darah yang parah tanpa kerusakan organ akut atau progresif). Menurut American Society of Hypertension (ASH), pengertian hipertensi adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskular yang progresif, sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan. Berikut tabel klasifikasi tekanan darah : Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Klasifikasi Normal Prehipertensi Hipertensi tahap 1 Hipertensi tahap 2 Tekanan Sistolik (mmHg) < 120 120 139 140 159 160 Dan Atau Atau Atau Tekanan Diastolik (mmHg) < 80 80 89 90 99 100

B. Patofisiologi Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di torak dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan vasokonstriktor. Individu

dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bias terjadi. Pada saat bersamaan dimana system simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, mengakibatnkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, saat vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

C. Algoritme

Pilihan Terapi Obat Awal

Tanpa compelling indication

Dengan compelling indication

Tingkat 1 (sistol 140-159 atau diastol 90-99)

Tingkat 2 (sistol > 160 atau diastol >100

Diuretik thiazida dapat pula dipertimbangkan, ACE inhibitor, ARB, -bloker,

Kombinasi 2 macam obat biasanya diuretik thiazida dan ACE inhibitor/ARB atau

Obat pilihan sesuai dengan compelling indication dan anti hipertensi lain jika diperlukan

D. Mekanisme obat a. Diuretik Diuretik menurunkan tekanan darah terutama dengan cara mendeplesikan simpanan natrium tubuh. Awalnya, diuretik menurunkan tekanan darah dengan menurunkan volume darah dan curah jantung, tahanan vaskuler perifer. Penurunan tekanan darah dapat terlihat dengan terjadinya diuresis. Diuresis menyebabkan penurunan volume plasma dan stroke volume yang akan menurunkan curah jantung dan akhirnya menurunkan tekanan darah. Obat-obat diuretik yang digunakan dalam terapi hiper obat hipertensi yaitu : diuretik golongan tiazid, diuretik kuat, dan diuretik hemat kalium kalium. Obat-Obat Pilihan: A. Golongan Tiazid 1. Bendroflazid/bendroflumetazid ( Corzide ) Indikasi: edema, hipertensi :

Kontra indikasi: hipokalemia yang refraktur, hiponatremia, hiperkalsemia, , gangguan ginjal dan hati yang berat, hiperurikemia yang simptomatik, penyakit adison.

Bentuk sediaan obat: tablet Dosis: edema dosis awal 5-10 mg sehari atau berselang sehari pada pagi hari; dosis pemeliharaan 5-10 mg 1-3 kali semingguHipertensi, 2,5 mg pada pagi hari

Efek samping:hipotensi postural dan gangguan saluran cerna yang ringan; impotensi (reversibel bila obat dihentikan); hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia, hiperkalsemia, alkalosis hipokloremanik, hiperurisemia, pirai, hiperglikemia, dan peningkatan kadar kolesterol plasma; jarang terjadi ruam kulit, fotosensitivitas, ganggan darah (termasuk neutropenia dan trombositopenia, bila diberikan pada masa kehamilan akhir); pankreatitis, kolestasis intrahepatik dan reaksi hipersensitivitas.

Peringatan : dapat menyebabkan hipokalemia, memperburuk diabetes dan pirai; mungkin memperburuk SLE ( eritema lupus sistemik ); usia lanjut; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal yang berat;porfiria.

2. Chlortalidone ( Hygroton, Tenoret 50, Tenoretic ) Indikasi : edema, hipertensi, diabetes insipidus Peringatan,Kontra indikasi, dan efek samping: lihat pada Bendrofluazid Dosis : edema, dosis awal 50 mg pada pagi hari atau 100-200 mg selang sehari, kurangi untuk pemeliharaan jika mungkin.Hipertensi, 25 mg; jika perlu ditingkatkan sampai 50 mg pada pagi hari Bentuk sediaan obat: tablet

3. hidroklorotiazid Indikasi: edema, hipertensi Peringatan,Kontra indikasi, dan efek samping: lihat pada Bendrofluazid Dosis : edema, dosis awal 12,5-25 mg, kurangi untuk pemeliharaan jika mungkin; untuk pasien dengan edema yang berat dosis awalnya 75 mg sehariHipertensi, dosis awal 12,5 mg sehari; jika perlu ditingkatkan sampai 25 mg pada pagi hari Bentuk sediaan obat: tablet.

B. Diuretik kuat 1. Furosemide ( Lasix, uresix, impugan ) Indikasi: edema pada jantung, hipertensi Kontra indikasi: gangguan ginjal dan hati yang berat. Bentuk sediaan obat: tablet, injeksi, infus Dosis: oral , dewasa 20-40 mg pada pagi hari, anak 1-3 mg/kg bb; Injeksi, dewasa dosis awal 20-50 mg im, anak 0,5-1,5mg/kg sampai dosis maksimal sehari 20 mg; infus IV disesuaikan dengan keadaan pasien Efek samping: Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi seperti ruam kulit Peringatan : dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; memperburuk diabetes mellitus; perbesaran prostat; porfiria. C. Diuretik hemat kalium 1. Amilorid HCL ( Amiloride, puritrid, lorinid ) Indikasi: edema, hipertensi, konservasi kalium dengan kalium dan tiazid Kontra indikasi: gangguan ginjal, hiperkalemia. Bentuk sediaan obat: tablet Dosis: dosis tunggal, dosis awal 10 mg sehari atau 5 mg dua kali sehari maksimal 20 mg sehari. Kombinasi dengan diuretik lain 5-10 mg sehari Efek samping: Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi seperti ruam kulit, bingung, hiponatremia. Peringatan : dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; memperburuk diabetes mellitus; usia lanjut. 2. Spironolakton ( Spirolactone, Letonal, Sotacor, Carpiaton ) Indikasi: edema, hipertensi Kontra indikasi: gangguan ginjal, hiperkalemia, hipernatremia, kehamilan dan menyusui, penyakit adison. Bentuk sediaan obat: tablet Dosis: 100-200 mg sehari, jika perlu tingkatkan sampai 400 mg; anak, dosis awal 3 mg/kg dalam dosis terbagi.

Efek samping: Gangguan saluran cerna dan kadang-kadang reaksi alergi s eperti ruam kulit, sakit kepala, bingung, hiponatremia, hiperkalemia,

hepatotoksisita, impotensi. Peringatan : dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia; kehamilan dan menyusui; gangguan hati dan ginjal; usia lanjut.

b. ACE Inibitor ACE inhibitor memiliki mekanisme aksi menghambat sistem renin-angiotensinaldosteron dengan menghambat perubahan Angiotensin I menjadi Angiotensin II sehingga menyebabkan vasodilatasi dan mengurangi retensi sodium dengan mengurangi sekresi aldosteron. Oleh karena ACE juga terlibat dalam degradasi bradikinin maka ACE inhibitor menyebabkan peningkatan bradikinin, suatu vasodilator kuat dan menstimulus pelepasan prostaglandin dan nitric oxide. Peningkatan bradikinin meningkatkan efek penurunan tekanan darah dari ACE inhibitor, tetapi juga bertanggungjawab terhadap efek samping berupa batuk kering. ACE inhibitor mengurangi mortalitas hampir 20% pada pasien dengan gagal jantung yang simtomatik dan telah terbukti mencegah pasien harus dirawat di rumah sakit (hospitalization), meningkatkan ketahanan tubuh dalam beraktivitas, dan mengurangi gejala. ACE inhibitor harus diberikan pertama kali dalam dosis yang rendah untuk menghindari resiko hipotensi dan ketidakmampuan ginjal. Fungsi ginjal dan serum potassium harus diawasi dalam 1-2 minggu setelah terapi dilaksanakan terutama setelah dilakukan peningkatan dosis. Salah satu obat yang tergolong dalam ACE inhibitor adalah Captopril yang merupakan ACE inhibitor pertama yang digunakan secara klinis. 1. Nama Generik : Captopril 2. Nama Dagang : Acepress : Tab 12,5mg, 25mg Capoten : Tab 12,5mg, 25mg Captensin : Tab 12,5mg, 25mg Captopril Hexpharm : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg Casipril : Tab 12,5mg, 25mg Dexacap : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Farmoten : Tab 12,5mg, 25mg Forten : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg Locap : Tab 25mg Lotensin : Kapl 12,5mg, 25mg Metopril : Tab salut selaput 12,5mg, 25mg; Kapl salut selaput 50mg Otoryl : Tab 25mg Praten : Kapl 12,5mg Scantensin : Tab 12,5mg, 25mg Tenofax : Tab 12,5mg, 25mg Tensicap : Tab 12,5mg, 25mg Tensobon : Tab 25mg

3. Indikasi : Hipertensi esensial (ringan sampai sedang) dan hipertensi yang parah. Hipertensi berkaitan dengan gangguan ginjal (renal hypertension). Diabetic nephropathy dan albuminuria. Gagal jantung (Congestive Heart Failure). Postmyocardial infarction Terapi pada krisis scleroderma renal. Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap ACE inhibitor. Kehamilan. Wanita menyusui. Angioneurotic edema yang berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor sebelumnya. Penyempitan arteri pada salah satu atau kedua ginjal.

4. Bentuk sediaan : Tablet, Tablet salut selaput, Kaplet, Kaplet salut selaput. 5. Dosis dan aturan pakai captopril pada pasien hipertensi dengan gagal jantung : 6. Dosis inisial : 6,25-12,5mg 2-3 kali/hari dan diberikan dengan pengawasan yang tepat. Dosis ini perlu ditingkatkan secara bertingkat sampai tercapai target dosis. 7. Target dosis : 50mg 3 kali/hari (150mg sehari)

8. Aturan pakai : captopril diberikan 3 kali sehari dan pada saat perut kosong yaitu setengah jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Hal ini dikarenakan absorbsi captopril akan berkurang 30%-40% apabila diberikan bersamaan dengan makanan. 9. Efek samping : Batuk kering Hipotensi Pusing Disfungsi ginjal Hiperkalemia Angioedema Ruam kulit Takikardi Proteinuria Resiko khusus : Wanita hamil. Captopril tidak disarankan untuk digunakan pada wanita yang sedang hamil karena dapat menembus plasenta dan dapat mengakibatkan teratogenik. Hal ini juga dapat menyebabkan kematian janin. Morbiditas fetal berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor pada seluruh masa trisemester kehamilan. Captopril beresiko pada kehamilan yaitu pada level C (semester pertama) dan D (semester kedua dan ketiga). Wanita menyusui. Captopril tidak direkomendasikan untuk wanita yang sedang menyusui karena bentuk awal captopril dapat menembus masuk dalam ASI sekitar 1% dari konsentrasi plasma. Akan tetapi tidak diketahui apakah metabolit dari captopril juga dapat menembus masuk dalam ASI. Penyakit ginjal. Penggunaan captopril (ACE inhibitor) pada pasien dengan gangguan ginjal akan memperparah kerusakan ginjal karena hampir 85% diekskresikan lewat ginjal (hampir 45% dalam bentuk yang tidak berubah) sehingga akan memperparah kerja ginjal dan meningkatkan resiko neutropenia. Apabila captopril digunakan pada pasien

dengan gangguan ginjal maka perlu dilakukan penyesuaian dosis dimana berfungsi untuk menurunkan klirens kreatininnya.

c.

Beta-blocker (Misal : propanolol, bisoprolol) Merupakan obat utama pada penderita hipertensi ringan sampai moderat dengan penyakit jantung koroner atau dengan aritmia. Bekerja dengan menghambat reseptor 1 di otak, ginjal dan neuron adrenergik perifer, di mana 1 merupakan reseptor yang bertanggung jawab untuk menstimulasi produksi katekolamin yang akan menstimulasi produksi renin. Dengan berkurangnya produksi renin, maka cardiac output akan berkurang yang disertai dengan turunnya tekanan darah.

d. Alfa-blocker (Misal : Doxazosin, Prazosin). Bekerja dengan menghambat reseptor 1 di pembuluh darah sehingga terjadi dilatasi arteriol dan vena. Dilatasi arteriol akan menurunkan resistensi perifer.

e.

Calcium channel blocker (Cth: Nifedipin, Amlodipin). Bekerja dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam otot polos pembuluh darah sehingga mengurangi tahanan perifer. Merupakan antihipertensi yang dapat bekerja pula sebagai obat angina dan antiaritmia, sehingga merupakan obat utama bagi penderita hipertensi yang juga penderita angina.

Contoh resep R/ Captopril mg 25 tab No. XXI S 3 dd tab I_____________ R/ Hidroklorotiazid mg 25 tab No. VI S 1 dd tab I mane__________ Pro : Tn. S (45th)

MIGREN

A. Definisi Sakit kepala migren merupakan salah satu bentuk sakit kepala yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah. Sakit kepala migren disebabkan oleh terjadinya suatu kombinasi antara vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan dilepaskannya suatu zat kimia dari serat serat saraf yang menyelimuti pembuluh darah tersebut. Saat migren menyerang, arteri temporal (arteri yang berjalan disekitar pelipis) akan melebar. Pelebaran ini akan menyebabkan terjadinya peregangan pada serat saraf disekitar arteri sehingga merangsang serat saraf ini melepaskan zat kimia. Zat ini akan menyebabkan terjadinya peradangan, dan rasa sakit yang luar biasa.

B. Patofisiologi Penyebab migren belum diketahui dengan pasti, walaupun dikelnal beberapa teori. Migren jarang sekali diakibatkan oleh penyakit organis seperti tumor atau cedera kepala. Namun sudah dipastikan bahwa migren adalah suatu gangguan sirkulasi darah, yang menimbulkan vasodilatasi dan penyaluran darah berlebhan ke selaput otak dengan efek nyeri hebat di sebelah kepala. Terdapat sejumlah teori tentang terjadinya migren, yang terpenting adalah teori neovaskuler dan teori agregasi trombosit.

C. Algoritme

D. Mekanisme obat Ergotamin menstimulir maupun memblokir reseptor alfa adrenergik dan serotoniergik.

Memiliki daya vasokonstriksi kuat terhadap arteri otak dan perifer berdasarkan daya anti serotoninnya (blokade 5HT1). Berkat saifat vasokonstriktifnya, ergotamin banyak digunakan sebagai obat khas terhadap serangan migren. Biasanya dikombinasikan dengan kafein dan obat anti mual. Ergotamin juga digunakan pada sakit kepala cluster. Resopsi dari usus tidak teratur dan sangat bervariasi, dengan BA hanya l.k. 2%, maka sebaiknya digunakan sebagai injeksi i.m. atau secara rektal (BA 1-5%) dan sub lingual. Kafein

meningkatkan resopsinya (oral dan rektal) dan memperkuat efeknya. PP nya 98%, plasma t1/2 nya panjang sekali, sampai 21 jam, sehingga dapat menyebabkan kumulasi. Ekskresi berupa metabolit terutama melalui empedu dan tinja. Efek sampingnya berupa mual, muntah, dan sakit kepala mirip gejala migren. Akibat kumulasi dapat timbul efek toksik, seperti kejang otot kaki, kelumpuhan, vasospasme dengan jari-jari tangan menjadi dingin, akhirnya terjadi gangren. Oleh karena itu, ergotamin tidak diberikan pada penderita penyakit jantung dan hipertensi. Wanita hamil tidak boleh diberikan obat ini, mengingat efek oksitosiknya. Dosis : oral/rektal 3-4 dd 1mg,maksimal 4 mg perserangan dan 8 mg seminggu. DHE(dihydroergotamine) alkaloid cocok untuk migren berat, tersedia obat parenteral dan semprot hidung mempunyai efek oxytocic dan vasokonstriksi perifer sehingga tidak diberikan untuk jangka panjang. Triptans Untuk migren sedang sampai berat atau migren ringan sampai sedang yang tidak respon terhadap analgesik atau NSAIDs. Metoklopramid 10 mg berfungsi menghalau mual dan meniadakan terhambatnya peristaltik yang biasanya menyertai serangan migren. Sifat ini memperbaiki resopsi obat anti nyeri yang diminum setengah jam berikutnya. Aspirin digunakan sebagai obat analgetik. Aspirin merupakan jenis obat NSAID. Obat NSAID mengurangi nyeri dengan cara mengobati reaksi inflamasi yang menyebabkan terjadinya nyeri. Obat ini disebut non steroid karena memang berbeda dari obat steroid walaupun sama sama mempunyai efek mencegah terjadinya reaksi inflamasi. Pasien yang sedang menjalani pengobatan dengan obat pengencer darah seperti warfarin, tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi NSAID tanpa pengawasan dokter sebab pasien ini mempunyai resiko perdarahan. Obat NSAID juga tidak boleh diberikan pada pasien dengan gejala maag atau gangguan lambung sebab NSAID akan memperparah keadaanya. Hindari pemberian obat NSAID pada pasien dengan penyakit hati sebab obat NSAID akan menganggu pula fungsi ginjalnya. Bila fungsi ginjal terganggu maka akan menambah kerusakan hati yang terjadi.

Obat preventif berdasarkan pertimbangan kondisi penderita. : - B-blokers, menurunkan frekuensi serangan Kontra indikasi penderita asthma, diabetes mellitus, penyakit vaskuler perifer, heart block, ibu hamil.

- Calcium-channel blockers, efeknya agak lambat sampai beberapa bulan mengurangi frekuensi serangan +50%. Kontra indikasi: ibu hamil, hipertensi, aritmia dan congestive heart failure - Serotonin receptor antagonists, (pizotifen) efektif mengurangi frekuensi sampai 50%-64%, efek sampingnya lesu, berat badan meningkat - Methysergide, untuk profilaksis serangan berat, yang tidak respon terhadap obat-obat abortif Kontra indikasinya : hipertensi, kelainan liver, ginjal, paru, jantung, kehamilan, tromboflebitis. Efek samping : mual, kaku otot, batuk, halusinasi. Pemakaiannya tidak lebih dari 6 bulan. - Tricyclic Amitriptiline dosisnya 25mg tiap malam sampai 50mg. Nortriptiline efek anticholinergik ngantuknya lebih rendah. Kontra indikasinya kelainan liver, ginjal, paru, jantung, glaukoma, hipertensi - Anti-epileptics drugs Sodium valproate, Valproic acid efektif. Efek sampingnya mual, tremor, alopecia. Topiramate terbukti baik 50% penderita dengan dosis 2 x 100mg/hari mengurangi serangan + 26,3%. Efek samping astenia, tremor, pusing, ataksia, berat badan menurun. Gabapentin dengan dosis 900-2400 mg/hari menurunkan frekuensi serangan 46%
R/ Ergotamin tab mg 1 no. V S 1 dd tab 1

R/ Metoklopramid tab mg 10 No. XV S 3 dd tab I h ac

R/ Aspirin tab mg 500 mg No XV S 3dd tab I

Pro : Nn. S (26 tahun)