Anda di halaman 1dari 13

1 Demam Berdarah 1.

Etiologi Dengue adalah sebuah infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk, ditemukan di daerah tropis dan subtropis dan sekarang di daerah-daerah terpencil. Dengue disebabkan oleh 4 macam virus yang berbeda (tipe 1-4) yang berhubungan sangat erat secara antifen. Manusia adalah organisme sasaran yang paling kuat. Penyembuhan dari infeksi membutuhkan kekebalan seumur hidup melawan serotype tapi hanya memberikan perlindungan sebagian dan sementara melawan infeksi yang berikut oleh 3 virus yang lainnya. Sudah didapati bahwa infeksi yang berikut akan meningkatkan resiko penyakit yang lebih serius pada DHF. (Chaturvedi UC, 2004). Penyakit demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong Arbovirus (Arthropoda Borne Virus) dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, terutama menyerang anak remaja dan dewasa dan sering kali menyebabkan kematian bagi penderita (Effendi C, 1995). Penyakit DBD adalah penyakit akut dengan ciri-ciri demam manifestasi pendarahan, dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian, puncak kasus DBD terjadi pada musim hujan yaitu bulan Desember sampai dengan bulan Maret (Mansjoer, 2001). PATOGENESIS Virus merupakan mikroorganisme yang hanya dapat hidup di dalam sel hidup, maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia sebagai pejamu (host) terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan pejamu, penyakit akan sembuh sempurna dan timbul antibodi atau perjalanan penyakit menjadi makin berat dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Patogenesis DBD masih merupakan masalah yang kontroversi. Dua teori yang umum dipakai dalam menjelaskan patogenesis infeksi dengue adalah hipotesis infeksi sekunder (secondary heterologous infection theory) dan hipotesis immune enhancement. 1. Teori infeksi sekunder Diajukan oleh Suvatte, 1977 sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berbeda, respon antibodi anamnestik pasien akan terpicu, menyebabkan proliferasi dan transformasi limfosit dan menghasilkan titer tinggi IgG anti dengue. Karena bertempat di limfosit, proliferasi limfosit juga menyebabkan tingginya angka replikasi virus dengue. Hal ini mengakibatkan terbentuknya kompleks virus-antibodi yang selanjutnya mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya cairan ke ekstravaskular. Hal ini terbukti dengan peningkatan kadar hematokrit, penurunan natrium dan terdapatnya cairan dalam rongga serosa.7,8 2. Teori immune enhancement Secara tidak langsung bahwa mereka yang terkena infeksi kedua oleh virus heterolog mempunyai risiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD berat. Antibodi heterolog yang telah ada akan mengenali virus lain kemudian membentuk kompleks antigen-antibodi yang berikatan dengan Fc reseptor dari membran leukosit terutama makrofag. Sebagai tanggapan dari proses ini, akan terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok.7,8 Teori lain yang dapat menjelaskan tentang patogenesis DBD, antara lain: 1. Teori antigen antibody Virus dengue merupakan antigen yang akan bereaksi dengan antibody membentuk kompleks antigen-antibodi yang akan mengaktivasi komplemen, aktivasi ini akan menghasilkan anafilatoksin C3a dan C5a yang mempunyai kemampuan menstimulasi

2 sel mast untuk melepaskan histamine. C3a dan C5a merupakan mediator yang vasoaktif dan prokoagulan sehingga menimbulkan peningkatan permeabilitas kapiler- kebocoran plasma- perdarahan- syok hipovolemik. 2. Teori Infection enhancing antibody Antigen dengue lebih banyak didapat pada sel makrofag yang tinggal menetap di jaringan. Pada kejadian ini antibody non netralisir melekat pada permukaan sel makrofag yang beredar dan tidakmelekat pada makrofag yang menetap. Makrofag yang dilekati antibody non netralisir akan memiliki sifat opsonisasi, internalisasi, dan akhirnya mudah terinfeksi yang akan menjadi aktif dan melepaskan sitokin yang vasoaktif (IL-1, IL-6, TNF alpha) yang akan mengakibatkan kebocoran plasma. 3. Peran Limfosit Infeksi virus yang masuk di makrofag akan mendapat tanggapan sel T limfosit CD8, kemudian limfosit T akan teraktivasisebagai sel sitolitik yang akan menghancurkan semua sel yang mengandung virus. 4. Teori Apoptosis Adanya infeksi virus DEN, limfosit T yang terativasi menunjukkan ekspresi T dalam kadar tinggi. Limfosit T mengisyaratkan enzim protease (enzim fragmentin) yang menginduksi apoptosis sel target. MANIFESTASI KLINIS Infeksi virus dengue mengakibatkan manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik, penyakit paling ringan (mild undifferentiated febrile illness), demam dengue, demam berdarah dengue, sampai sindrom syok dengue. Walaupun secara epidemiologi infeksi ringan lebih banyak, tetapi pada awal penyakit hampir tidak mungkin membedakan infeksi ringan atau berat. Biasanya ditandai dengan demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali, dan kegagalan sirkulasi. Demam dengue pada bayi dan anak berupa demam ringan disertai timbulnya ruam makulopapular. Pada anak besar dan dewasa dikenal sindrom trias dengue berupa demam tinggi mendadak, nyeri pada anggota badan (kepala, bola mata, punggung, dan sendi), dan timbul ruam makulopapular. Tanda lain menyerupai demam dengue, yaitu anoreksia, muntah, dan nyeri. (kapsel) Gejala demam berdarah dengue yang dialami biasanya juga mengalami beberapa fase, antara lain: 1. Fase pertama demam mendadak, malaise, muntah, nyeri kepala, anoreksia. 2. Pada fase kedua, yaitu ekstremitas dingin, lembab, badan panas, muka merah, keringat banyak, gelisah, iritabel, nyeri epigastrik, petekie tersebar pada dahi dan tungkai, ekimosis spontan, mudah memar pada tempat pengambilan darah vena, hepatomegali. Epistaksis dan perdarahan gusi, perdarahan saluran cerna hebat (biasanya timbul setelah renjatan yang tidak teratasi). Sesudah 24-36 jam masa kritis, konvalesen cukup cepat pada anak yang sembuh. Kelainan hematologis yang paling sering selama syok klinis adalah kenaikan hematokrit 20%, trombositopneia, leukositosis ringan, waktu perdarahan memanjang, dan kadar protrombin menurun sedang.

3 PENEGAKAN DIAGNOSIS 1. Anamnesis Pada anamnesis didapatkan gejala klinis infeksi dengue sebagai berikut13: Demam tinggi mendadak berlangsung terus-menerus (kadang bersifat bifasik) selama 2-7 hari. Nyeri kepala Nyeri belakang mata Nyeri otot (mialgia) atau nyeri sendi (atralgia) Ruam Mual, muntah Manifestasi perdarahan (epistaksis, muntah atau berak darah dan perdarahan gusi). 2. Pemeriksaan fisik Tergantung derajat penyakitnya, pada pemeriksaan fisik infeksi dengue didapatkan13: Pemeriksaan Rumple leede positif Perdarahan kulit (petekie, ekimosis, purpura) Perdarahan mukosa (epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena) Hepatomegali Tanda-tanda kebocoran plasma : efusi pleura, asites 3. Pemeriksaan Penunjang a. darah rutin Hematokrit: Peningkatan nilai hematokrit atau hemokonsentrasi selalu dijumpai pada DBD, merupakan indikator yang peka akan terjadinya perembasan plasma, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan Ht secara berkala. Pada umumya penuruan trombosit mendahului peningkatan hematokrit. Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit 20% atau lebih (misalnya dari 35% menjadi 42%), mencerminkan peningkatan permeabilitas kapiler dan perembesan plasma. Perlu mendapat perhatian, bahwa nilai hematokrit dipengaruhi oleh penggantian cairan atau perdarahan Hemokonsentrasi ditentukan dengan criteria sebagai berikut: Tabel 1. Peningkatan hematokrit >20% sesuai umur dan jenis kelamin. Umur Rentang nilai (%) Rerata (%) 2 minggu 42-66 50 3 bulan 31-41 36 6 bulan-6 tahun 33-42 37 7 tahun-12 tahun 34-40 38 Dewasa Laki-laki 42-52 47 Perempeuan 37-47 42 Penurunan hematokrit > 20% setelah pemberian cairan. Trombosit : jumlah trombosit biasanya masih normal pada 3 hari pertama, trombositopeni dengan jumlah trombosit <100.000/l ditemukan pada hari ketiga sampai hari kedelapan sakit terjadi sebelum atau bersamaan dengan perubahan nilai hematokrit.

4 b. Serologi Untuk membuktikan etiologi DBD, dapat dilakukan uji diagnostik melalui pemeriksaan isolasi virus, pemeriksaan serologi atau biologi molekular. Di antara tiga jenis uji etiologi, yang dianggap sebagai baku emas adalah metode isolasi virus. Namun, metode ini membutuhkan tenaga laboratorium yang ahli, waktu yang lama (lebih dari 12 minggu), serta biaya yang relatif mahal. Oleh karena keterbatasan ini, seringkali yang dipilih adalah metode diagnosis molekuler dengan deteksi materi genetik virus melalui pemeriksaan reverse transcriptionpolymerase chain reaction (RT-PCR). Pemeriksaan RT-PCR memberikan hasil yang lebih sensitif dan lebih cepat bila dibandingkan dengan isolasi virus, tapi pemeriksaan ini juga relatif mahal serta mudah mengalami kontaminasi yang dapat menyebabkan timbulnya hasil positif semu. Pemeriksaan yang saat ini banyak digunakan adalah pemeriksaan serologi, yaitu dengan mendeteksi IgM dan IgG-anti dengue. Imunoserologi berupa IgM terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3 dan menghilang setelah 60-90 hari. Pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke 14, sedangkan pada infeksi sekunder dapat terdeteksi mulai hari ke 2.11 Salah satu metode pemeriksaan terbaru yang sedang berkembang adalah pemeriksaan antigen spesifik virus Dengue, yaitu antigen nonstructural protein 1 (NS1). Antigen NS1 diekspresikan di permukaan sel yang terinfeksi virus Dengue. Masih terdapat perbedaan dalam berbagai literatur mengenai berapa lama antigen NS1 dapat terdeteksi dalam darah. Sebuah kepustakaan mencatat dengan metode ELISA, antigen NS1 dapat terdeteksi dalam kadar tinggi sejak hari pertama sampai hari ke 12 demam pada infeksi primer Dengue atau sampai hari ke 5 pada infeksi sekunder Dengue. Pemeriksaan antigen NS1 dengan metode ELISA juga dikatakan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (88,7% dan 100%). Oleh karena berbagai keunggulan tersebut, WHO menyebutkan pemeriksaan deteksi antigen NS1 sebagai uji dini terbaik untuk pelayanan primer.11 c. Radiologi Pemeriksaan radiologis (foto toraks PA tegak dan lateral dekubitus kanan) dapat dilakukan untuk melihat ada tidaknya efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan dan pada keadaan perembesan plasma hebat, efusi dapat ditemukan pada kedua hemitoraks. Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan USG.9
Berdasarkan kriteria WHO 1997, diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal ini

terpenuhi:9,10 Klinis 1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik. 2. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie, ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena 3. Pembesaran hati 4. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba, penyempitan tekanan nadi (< 20 mmhg), hipotensi sampai tidak terukur, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, CRT >2 detik, pasien tampak gelisah. Laboratorium 5. Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml). 6. Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma sbb: Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai umur dan jenis kelamin.

5 Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya. Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites, hipoproteinemia, hiponatremia. Dua kriteria klinis pertama ditambah satu dari kriteria laboratorium serta dikonfirmasi secara uji serologic hemaglutinasi cukup untuk menegakkan diagnosis kerja DBD. DERAJAD DBD Terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD (WHO, 1997), yaitu:9,10 Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji torniquet. Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan perdaran lain. Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut kulit dingin dan lembab, tampak gelisah. Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur. 2. Pengendalian Vektor Demam Berdarah Saat ini metode pengendalian ataupun pencegahan dengue dan DHF adalah memerangi vektor (nyamuk pembawa penyakit). Aedes aegypti berkembang biak paling utama di wadahwadah yang dibuat manusia seperti tempayan, drum-drum logam dan bak-bak beton, yang digunakan untuk penyimpanan air di rumah, sama juga dengan wadah plastik makanan yang sudah dibuang, ban-ban mobil bekas, dan barang-barang lain yang bisa mengumpulkan air hujan. Nyamuk bisa juga berkembang biak secara meluas di lingkungan alam bebas, seperti lubang pohon, dan axil daun. Pada tahun yang baru-baru saja, Aedes albopictus, pengantar dengue kedua sudah terlihat di Amerika Serikat, di beberapa bagian Amerika Latin, dan negara-negara Karibia, di beberapa bagian Eropa, dan di satu negara Afrika. Penyebaran geografis yang cepat dari spesis ini telah dihubungkan dengan perdagangan international dalam menggunakan ban mobil. Dengue terus menjadi satu tantangan global oleh karena asal usul DHF tidak sepenuhnya diketahui, tidak ada harapan yang cepat dari vaksin, dan ukuran pengendalian vektor adalah tidak cukup. Wabah penyebaran luas dari DHF selama 2003 memperkuat akan keyakinan bahwa DHF telah datang ke negara ini dan akan terus menyebar ke daerah baru kecuali ukuran-ukuran pengendalian vektor dipendekkan pada keadaan memerangi (Chaturvedi UC, 2004). Metodologi penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) ialah penyakit demam akut terutama terjadi pada anak-anak yang disertai dengan manifestasi pendarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan dapat menyebabkan kematian DBD merupakan penyakit baru. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan kemungkinan juga oleh Aedes albopictus. Pathogenesis penyakit DBD sendiri belum diketahui dengan pasti, salah satu hypotesa yang dikemukakan adalah : The Two Infection Hypothesis yaitu DBD dapat terjadi apabila seseorang mendapat infeksi untuk kedua kalinya atau lebih dengan jenis virus yang berlainan. Tetapi hipotesa ini sekarang mulai diragukan kebenarannya dengan dilaporkannya penderita-penderita DBD dengan shock di beberapa negara antara lain Indonesia, Thailand dan Filipina yang secara terologik dibuktikan bahwa penderita tersebut menderita infeksi primer. Seperti telah diuraikan di atas Aedes aegypti merupakan salah satu vektor yang utama dari penyakit demam berdarah.

6 Aedes aegypti yang merupakan spesies nyamuk yang kecil berwarna gelap yang diketahui dari adanya garis putih keperakan yang tajam dengan bentuk lyre pada thoraknya dan adanya gelang putih pada bagian pangkal kaki adalah nyamuk yang potensial bagi penularan penyakit demam berdarah. Symes menjelaskan bahwa Aedes aegypti merupakan salah satu vektor paling penting dari penyakit demam berdarah dan bahwa menjadi vektor utama penyakit tersebut pada tempat dimana dilaporkan adanya kasus (Iskandar, 1985). 3. Tempat Berkembang Biak Nyamuk Telah kita ketahui bahwa tempat berkembang biak nyamuk adalah genangan-genangan air, pemilihan tempat peletakan telur yang kemudian akan menetas menjadi jentik dilakukan oleh nyamuk betina dewasa. Pemilihan tempat yang disenangi dari berbagai macam tempat perkembangbiakan hampir dilakukan secara turun temurun oleh seleksi alam (Dit.Jen PPM dan PLP, 1987). Perkembangbiakan dari telur hingga kepompong berada dalam air dan berlangsung di tempat perindukan. Tempat-tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti adalah penampungan air atau genangan air yang tidak berhubungan dengan tanah, misalnya : 1. Bak mandi, gentong, drum, bak penampungan air. 2. Genangan air pada ban bekas, kaleng-kaleng bekas plastik-plastik, accu, bekas botolbotol pecah, ruas-ruas pagar/ potongan bambu, vas bunga, tempat minum burung, perangkap semut dan lain-lain (Ditjen PPM & PLP, 1990). Macam-macam tempat perindukan nyamuk Aedes Aegypti yang sering ditemukan : a. Tempat Penyimpanan/ Penampungan Air (TPA). Tangkai air, bak besar, bak mandi, bak air, tahang, drum, tempayan, ember, paso, jambangan. b. Bukan Tempat Penyimpanan/ Penampungan Air (Non TPA). Barang-barang bekas seperti : kaleng bekas, ban bekas, botol bekas, pecahan piring, pecahan gelas, pecahan mangkok, bekas aquarium, bekas kolam ikan dari semen, bekas TPA, bekas tempat pengaduk semen. c. Saluran air seperti : talang, saluran air hujan, got semen, saluran wc, lubang kran, bak meter. d. Alamiah seperti : potongan bambu, tempurung kelapa, pelepah daun pisang, keladi, bakung, daun yang jatuh, kulit keong, lubang pada batu, jenis tumbuhan kantong semar (Ditjen PPM dan PLP, 1990). 4. Mekanisme Penularan Aedes aegypti dianggap sebagai pengantar (pembawa) yang paling efektif, aslinya berasal dari hutan Afrika dan ditemukan diantara 30 derajat lintang utara dan 20 derajat lintang selatan. Nyamuk betina makan sepanjang hari dengan puncak aktivitasnya di pagi hari dan sore hari. Sesudah makan dari seseorang yang terkena virus, nyamuk bisa menularkan virus secara langsung dengan mengganti sasaran atau sesudah 8 sampai 10 hari selama waktu pertumbuhan virus di kelenjar ludah nyamuk yang terinfeksi kemudian akan tetap sanggup menjadi pengantar sepanjang hidupnya penularan transovarian dari virus dengue didokumentasikan dan telur-telur Aedes aegypti sangat bertahan desiccation (pengawetan melalui proses pengeringan) dan bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama (Chaturvedi UC, 2004). Seorang penderita DBD dalam darahnya mengandung virus dengue, virus ini sudah mulai terdapat di dalam darah penderita satu atau dua hari sebelum demam dan menetap selama empat sampai tujuh hari. Masa ini merupakan sumber penularan bila penderita tersebut digigit oleh nyamuk Aedes aegypti, maka virus dalam darah penderita tadi akan ikut masuk ke dalam lambung nyamuk, kemudian virus ini akan memperbanyak diri dan tersebar ke dalam kelenjar liurnya.

7 Setelah 3-10 hari mengisap darah, nyamuk Aedes aegypti itu siap untuk menularkan pada orang lain. Nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus dengue tetap bisa menularkan virus dengue sepanjang hidupnya biasanya nyamuk Aedes aegypti betina pada jam 10-15 siang. Di waktu sore hari kira-kira pada jam 15.00 sampai 17.00 petang (Iskandar, 1985). 5. Faktor-Faktor Yang Terkait Dalam Penularan DBD Pada Manusia Dalam penularan DBD dipengaruhi antara lain oleh : a. Kepadatan penduduk lebih padat mudah untuk terjadi penularan DBD oleh karena jarak terbang nyamuk diperkirakan 40 - 100 meter. b. Mobilitas penduduk memudahkan penularan dari satu tempat ke tempat lain. c. Kualitas perumahan, jarak antara rumah, pencahayaan, bentuk rumah, bahan bangunan akan mempengaruhi penularan, bila disuatu rumah ada nyamuk penularannya maka akan menularkan penyakit di orang yang tinggal di rumah tersebut, di rumah sekitarnya yang berada dalam jarak terbang nyamuk dan orangorang yang berkunjung di rumah itu. d. Pendidikan akan mempengaruhi cara berpikir dalam penerimaan penyuluhan dan cara pemberantasan yang dilakukan. e. Penghasilan akan mempengaruhi kunjungan untuk berobat ke Puskesmas atau ke rumah sakit (Ditjen PPM dan PLP, 1990). 6. Pencegahan dan Pemberantasan Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan cara memutuskan mata rantai siklus hidup nyamuk pada fase nyamuk dewasa dan fase larva (hidup di air). Menurut Effendy C, 1995 usaha yang dapat dilakukan oleh keluarga yaitu: Memelihara lingkungan tetap bersih dan cukup matahari. Melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yaitu : Menutup dan menguras tempat penampungan air setiap minggu agar jentik nyamuk Aedes aegypti tidak berkembang biak. Membakar, mengubur kaleng bekas, botol bekas, tempurung dan sampah lain yang dapat digenangi air sehingga tidak menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti. Rapikan halaman dan jangan biarkan semak-semak dan halaman tak terurus. Bersihkan bak mandi setiap minggu dengan disikat. Tidak membiarkan kain-kain atau baju-baju tergantung. Lakukan penyemprotan nyamuk (bila memang diperlukan) Sebagaimana penyakit menular yang lain maka cara mencegah dan memberantas demam berdarah ialah dengan memutuskan rantai penularan. Untuk demam berdarah dan penyakit lain yang ditularkan oleh vektor (nyamuk) maka pencegahan/pemberantasan dilakukan dengan memutuskan rantai penularan. Penularan dengue pada saat ini hanya bisa dikurangi melalui pengontrolan nyamuk. Pekerjaan ini mungkin kelihatannya sebuah hal sederhana dari pengobatan ataupun pembersihan wadah-wadah yang tertutup. Kampanye-kampanye dari penurunan sumber nyamuk (wadah) telah menjadi sangat sukses tapi susah untuk diteruskan, sebagian besar karena mereka (nyamuk) pekerja yang intensif (ulet), membutuhkan disiplin dan kepintaran, dan juga terganggu karena hasil yang berkurang. Penekanan ini telah diubah pertama kali kedalam organochloride dan kemudian pada organophosphorus larvicides, dan target penyemprotan aerosol pada nyamuk dewasa dan kebanyakan dipapaki pada luar ruangan sebagai konsentrasi volume rendah ultra (ULV). Aerosol pada prinsipnya direkomendasikan bagi pengendalian darurat selama epidermis, sebagai bagian dari sebuah usaha penghapusan vaktor yang berintegrasi, termasuk penanganan lingkungan, mengurangi sumber dan larvicides. Meskipun demikian, penggunaan rutin aerosol sebagai satu tanggapan yang prinsipil bahkan sebelum dan sesudah, wabah telah menyebar luas. Hal ini sangat disesalkan,

a. b.

8 karena anehnya aerosol UVL sangat terbatas. Untuk itu tidak ada contoh yang bagus yang didokumentasikan dari gangguan wabah dengue melalui cara pengobatan ULV di luar ruangan. Pengobatan di dalam ruangan kelihatannya lebih efektif tapi merupakan pekerjaan intensif dan memaksakan (Chaturvedi UC, 2004). 7. Cara Memberantas Vektor Pemberantasan vektor dapat dilakukan dengan dua cara : Pemberantasan dengan insektisida Insektisida yang lazim di pakai dalam program pemberantasan demam berdarah ialah : Malathion untuk membunuh nyamuk dewasa / adultisida. Malathion digunakan dengan cara pengasapan (Thermal Fogging) atau pengabutan (Cold Fogging = Ultra Law Volume/ULV). Dalam pemberantasan vektor demam berdarah, cara penyemprotan pada dinding-dinding (residual spraying) tidak dapat digunakan karena Aedes Aegypti tidak suka hidup di dinding. Melainkan pada benda-benda yang tergantung seperti kelambu, pakaian yang tergantung. Pengasapan bukan langkah terbaik. Cara ini hanya efektif untuk 2-3 hari. Setelah disemprot, dua atau tiga hari kemudian nyamuk datang lagi. Pemberantasan tanpa menggunakan insektisida Cara pemberantasan vektor tanpa insektisida dikenal sebagai pembersihan sarang nyamuk (PSN). Menurut Rachmat, 1988 cara ini dilakukan dengan membersihkan/meniadakan sarang-sarang nyamuk dengan cara : Menguras bak mandi dan tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali (perkembangan telur menjadi nyamuk : 7-10 hari). Menutup rapat tempat penampungan air. Membersihkan pekarangan/ halaman rumah dari kaleng-kelang bekas, botol-botol pecah dan lain-lain sebagainya sehingga tidak menjadi sarang nyamuk (Depkes RI, 1987). Isolasi penderita di mana Semua penderita DBD di isolasikan agar tidak digigit nyamuk sehingga tidak terjadi penularan pada orang lain yaitu dengan memasukkan dalam kelambu atau ruangan yang tidak ada nyamuk. Isolasi penderita ini sulit dilaksanakan karena virus dengue sudah berada di darah penderita sebelum ada panas. Mencegah gigitan nyamuk pada orang orang sehat yaitu dengan memakai kelambu kalau tidur, memakai obat nyamuk kalau duduk dalam ruangan atau memakai kawat kasa yang tak dapat dimasuki nyamuk. 8. Kegiatan Pemberantasan Vektor Dalam Program Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Kegiatan Pemberantasan Vektor Dalam Program Pemberantasan DBD dilakukan dengan : Penanggulangan Focus i. Focus adalah rumah pasien demam berdarah dan sekitarnya dalam diameter 100 meter serta sekolahnya (jika pasien murid sekolah). ii. Kegiatan penanggulangan fokus terdiri dari penyuluhan, pengasapan dan PSN serta abatisasi bila perlu kegiatan PSN dilaksanakan oleh masyarakat sendiri atau masing-masing keluarga (Depkes RI, 1987). Abatisasi Massal i. Abatisasi massal adalah penaburan pasir temepehos (abate) keadaan tempat-tempat penampungan air wilayah yang endemis demam berdarah atau daerah yang terjangkit wabah demam berdarah. ii. Setelah ditabur abate, jangan dikuras sebab dapat membekas/ membunuh jentik 2 sampai 3 bulan. iii. Cara menggunakan abate :

a.

b.

a.

b.

9 1) Taksirlah berapa liter air isi tempat penampungan air yang akan dibubuhi abate. 2) Untuk penampungan air yang berbentuk bak (misalnya bak mandi), isinya dapat diukur dengan : panjang x lebar x dalam (mengukur dapat dipakai penggaris/ mistar). 3) Untuk tempat penampungan air yang tidak berbentuk bak, isiannya dapat ditaksir dengan menggunakan jergen ember atau kaleng yang telah diketahui isinya contoh : sebuah tempayan isiannya ditaksir 100 liter. 4) Hitung abate yang diperlukan untuk masing-masing penampungan air 1 gram abate untuk 10 liter air. Jadi untuk 100 liter air di tempayan seperti contoh diatas, diperlukan abate sebanyak 100/10 x 1 gram = 10 gram. Untuk menakar abate dipergunakan sendok makan peres berisi 10 gr abate. Masukkan abate kedalam tempat penampungan air, seperti : bak mandi, drum, tempayan dan lain-lain sesuai dengan takaran. Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN) Sasaran : 1. Sekolah dan gedung-gedung 2. tempat-tempat umum dari institusi, seperti hotel, restoran, tempat-tempat ibadah, pasar, kantor, gedung bioskop dan lain-lain. 3. tempat-tempat pemukiman. Penyuluhan Pada dasarnya usaha pencegahan dan pemberantasan demam berdarah dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan cara melakukan PSN secara teratur dan berkesinambungan. Penyuluhan DBD merupakan suatu kegiatan yang sangat penting sebab dengan penyuluhan yang intensif dapat menimbulkan dan meningkatkan peran serta individu, kelompok, dan masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan demam berdarah dengue (Depkes RI, 1987). 9. Penyelidikan Epidemiologi Penyelidikan Epidemiologi adalah upayapencarian penderita/ tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk (vektor) di rumah penderita/ tersangka dalam radius sekurang-kurangnya 100meter (di rumah penderita dan 20 rumah sekitarnya) serta tempat-tempat umumyang diperkirakan menjadi sumber penularan.Adapun langkah-langkah penyelidikan epidemiologi adalah sebagai berikut: 1. Mencatat idetitas penderita/ tersangka DBD pada form HasilPenyelidikan Epidemiologi Penderita Demam Berdarah Dengue. 2. Menyiapkan peralatan Penyelidikan Epidemiologi (tensimeter, senter,form PE dan abate) 3. Sebelumnya datang ke Kades atau RT/RW di wilayah penderita DBDdan melaporkan bahwa akan dilaksanakan PE 4. M e n c a r i t e r s a n g k a D B D y a n g l a l i n d e n g a n c a r a m en a n y a k a n a d a tidaknya penderita panas dalam kurun waktu 3 minggu sebelumnya. Bilaada, dilakukan uji Rumple Leeds dan menganjurkan untuk pemeriksaandarah (trombosit) 5. Mencari penderita tambahan dalam periode 3 minggu terakhir dengangejala panas 2-7 hari tanpa sebab yang jelas, penderita dengan tanda DBD( d e n g a n t a n d a p e r d a r a h a n a t a u R L + ) , d a n p en d e r i t a m e n i n g g a l d e n g a n tanda DBD

c.

d.

10 6. Memeriksa jentik nyamuk di tempat penampungan air di dalam dan diluar rumah (radius 20 rumah sekitar kasus atau radius 100 meter dari rumahp en d e r i t a ) juga di tempatyang diduga sebagai sumber penularan D B D kemudian menetukan House Index (HI) 7. Hasil pemeriksaan jentik dicatat dalam form Hasil Penyelidikan Epidemiologi Penderita Demam Berdarah Dengue. Selanjtnya hasil PE dianalisis untuk menentukan jenis tindakan penanggulangan masalah DBD. Penyuluhan dilakukan bersamaan dengan PSN. Penyelidikan epidemiologi dilaksanakan apabila ada laporan kasus yang terjadi. Sedangkan penyelidikan yang berkala atau PJB (Pemantauan Jentik Berkala), dilakukan secara rutin dalam rentang waktu tertentu, tanpa harus ada kasus. Jika didapatkan kasus tambahan penderita DBD atau panas mendadak yang lain 3 orang dan house index > 5 %maka dapat dilakukan Fogging Telah dikenal beberapa indikator untuk menentukan tingkat penularan penyakit DBD dengan mengukur telur, jentik, pupa dan nyamuk dewasa yang dihubungkan dengan kasus DBD di daerah endemis tinggi, daerah endemis rendah dan daerah bebas DBD. Indikatorindikator tersebut antara lain adalah Container Index (CI); House Index (HI); Bretaeau Index (BI),kepadatan telur, pupa, nyamuk, dll (Boesri,dkk., 1999). Dari banyak indikator tersebut, House Index merupakan cara yang dianggap paling mudah dilaksanakan di lapangan. Metode ini adalah dengan menghitung persen rumah yang positif tanpa memandang jenis kontainer dari jumlah rumah yang diperiksa. Selama ini dalam survei entomologi DBD pada umumnya yang diamati adalah container (tempat penampungan air) yang berada di dalam maupun di luar rumah selain sumur. Hal ini dikarenakan sumur diperkirakan airnya selalu berganti dan permukaan air yang cukup jauh dari jangkuan terbang nyamuk Aedes.

DBD DERAJAT I ATAU II TANPA PENINGKATAN HEMATOKRIT 11

Pasien masih dapat minum

Pasien tidak dapat minum, muntah terus-menerus. Pasang infuse NaCl 0,9%: dekstrosa 5% (1:3), tetesan rumatan sesuai

Beri minum banyak 1-2 liter/hari atau 1sd makan tiap 5 menit. (Jenis minuman: air putih, the oralit).

DBD DERAJAT manis, sirup, jus buah, susu, II dengan peningkatan Ht 20% berat badan.

Cairan awal Periksa Hb, Ht, At tiap 6Bia suhu>38,5oC beri paracetamol. 12 jam. RL/ NaCl 0,9% atau RL,D5/NaCl Bila kejang beri obat antikonvulsi 0,9%+D5, 6-7 ml/kgBB/jam Monitor tanda vital/ nilai Ht dan Trombosit tiap 6 jam

Perbaikan

Tidak ada perbaikan Ht naik dan atau trombosit turun Gelisah Distress pernafasan Frekuensi nadi naik Ht tetap tinggi/naik Dieresis kurang/ tidak ada

Monitor gejala klinis dan laboratorium. Tidak gelisah Perhatikan tanda syok Palpasi hati setiap hari Nadi kuat Ukur dieresis setiap hari Tekanan darah stabil Awasi perdarahan Periksa Diuresistrombosit tiap 6-12 jam Hb, Ht, cukup (1ml/KgBB/jam) Ht turun 2 kali pemeriksaan Tanda vital memburuk Perbaikan klinismeningkat Ht dan laboratoris

Infuse ganti ringer laktat

Tetesan dikurangi pulang

Tetesan dinaikkan 10-15 ml/KgBB/jam

Tetesan dinaikkan bertahap Perbaikan Gambar5ml/kgBB/jam 1. Penatalaksanaan DBD Derajat I atau II tanpa Peningkatan Hematokrit
Evaluasi 15 menit

Perbaikan Sesuaikan tetesan 3ml/kgBB/jam IVFD stop pada 24-48 jam Bila tanda vital/Ht stabil , dieresis cukup

Tanda vital tidak stabil

Distress pernafasan Ht naik Tek. nadi <20mmHg Koloid 20-30 ml/kgBB

Hb/HT turun

Transfuse darah segar 10ml/kgBB

Perbaikan

12

DBD DERAJAT III dan IV

Oksigenasi 2-4 L/menit Penggantian volum plasma segera (cairan kristaloid isotonis) Ringer laktat/NaCl 0,9% 20 ml/KgBB secepatnya (bolus dalam 30 menit) Evaluasi 30 menit, apakah syok teratasi? Pantau tanda vital tiap 10 menit Catat balans cairan selama pemberian cairan intravena

Syok teratasi

Syok tidak teratasi

Kesadaran membaik Nadi teraba kuat Tek nadi >20mmHg Tidak sesak nafas/sianosis Ekstremitas hangat Dieresis cukup 1 ml/KgBB/jam Cairan dan tetesan disesuaikan 10 ml/KgBB/jam Evaluasi ketat Tanda vital Tanda perdarahan Dieresis

Kesadaran menurun Nadi lembut tidak teraba Tek. Nadi <20mmHg Distress pernafasan/sianosis Kulit dingin,lembab Ekstremitas dingin] Periksa kadar gula darah

Lanjutkan cairan 20 ml/KgBB/jam Tambahkan koloid plasma dekstran/FPP 10-20 (Maks 30) ml/KgBB/jam Koreksi asidosis evaluasi 1 jam

Hb, Ht, trombosit Gambar 2. Penatalaksanaan DBD Derajat II dengan Peningkatan Hematokrit 20%
Syok teratasi Syok belum teratasi

Stabil dalam 24 jam/Ht<40 Tetesan 5ml/KgBB/jam Tetesan 3 ml/KgBB/jam Infuse stop tidak melebihi 48 jam setelah syok teratasi Transfuse darah segar 10 ml/kgBB diulang sesuai kebutuhan Ht turun Ht tetap tinggi/ naik Koloid 20 ml/kgBB

13