Anda di halaman 1dari 6

AJARAN ISLAM TENTANG TOLERANSI DAN KESETARAAN

Luqman Junaidi Gajah Tunggal 1-11-2011

Landasan Epistemologi Tentang Toleransi dan Kesetaraan


Sesuai dengan karakternya yang bersifat inklusif, Islam adalah agama yang menekankan pemeluknya untuk bersikap toleran kepada pemeluk agama lain. Surah al-Kafirun adalah landscape untuk membangun rasa toleransi dalam bingkai keindahan dan perdamaian: Katakan, Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." Surah Al-Hujurat ayat 13 adalah landasan spiritual bahwa semua manusia adalah sama dihadapan Tuhan: Wahai manusia, sungguh Kami menciptakanmu dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ragam dan Ruang Lingkup Toleransi dalam Beragama


Toleransi yang harus dikembangkan dalam beragama ada dua macam: [1] Toleransi internal. Toleransi antarsesama pemeluk agama Islam yang berbeda aliran. [2] dan toleransi eksternal. Toleransi penganut agama Islam dengan penganut agama lain. Ruang lingkup toleransi internal antarsesama kaum muslimin, pada titik-titik tertentu bisa meliputi hal-hal yang bersifat spiritual. Sementara ruang lingkup toleransi eksternal antar pemeluk agama yang beragam lebih pada masalah yang bersifat material, tidak bisa menyentuh persoalan spiritual. Toleransi dan kesetaraan ini harus dijadikan landasan dalam membangun komunikasi yang positif antarindividu dalam sebuah komunitas yang majemuk, supaya tercipta suasana yang kondusif. Dalam konteks ke-Indonesiaan di mana Islam menjadi kekuatan mayoritas, kaum Muslimin harus menyadari bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat (penebar kasih sayang) bagi semesta alam, bukan hanya kepada kaum muslimin saja. Rahmatan lil alamin bukan Rahmatan lil muslimin

Bentuk dan Contoh Toleransi Internal


Mengembangkan sikap tenggang rasa dan saling menghormati antarsesama pemeluk agama Islam, walaupun berbeda aliran. Misalnya, penganut sunni harus menghormari penganut syiah. Atau, pengikut ormas NU harus menghormati pengikut ormas Muhammadiyah. dll Tidak saling menyalahkan dan tidak berusaha untuk memaksakan aliran yang dianut kepada penganut agama lain. Misalnya, pengikut madzhab syafii tidak boleh menyalahkan penganut madzhab lain yang praktik ibadahnya berbeda. Kedepankan persamaan dalam hal-hal yang bersifat esensial, dan jauhi dialog seputar perbedaan yang bersifat pertikular.

Bentuk dan Contoh Toleransi Eksternal


Berusaha membangun persaudaraan yang indah dengan penganut agama lain atas dasar kemanusiaan. Bersikap sopan kepada penganut agama lain. Memberikan pertolongan ketika sedang dibutuhkan, serta tidak sungkan untuk meminta pertolongan jika memang memerlukan. Membina hubungan baik dan kerjasama yang saling menguntungkan. Misalnya, bekerja sama dalam bidang ekonomi, bisnis, dan lain sebagainya. Ketika periode Madinah, Rasulullah Saw. dan kaum Muslimin bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama Nasrani, Yahudi, Majusi, dan lain sebagainya.

Fakta Seputar Sikap Toleransi Generasi Muslim Klasik (Salafus Saleh)


Rasulullah dan para sahabat tidak pernah memaksa penganut agama lain untuk memeluk Islam, padahal ketika periode Madinah, kaum Muslimin merupakan komunitas yang paling kuat dibanding dengan komunitas agama lain. Khulafaur Rasyidin dan para penguasa Islam memperlakukan semua rakyatnya sama dan setara, baik yang beragama Islam ataupun tidak. Tidak ada pengecualian dan perlakuan istimewa. Sejumlah penguasa muslim klasik mempekerjakan orang-orang non-muslim di lingkungan istana mereka. Contohnya adalah akademi Bait Hikmah yang didirikan pada masa dinasti Abbasiyah. Pimpinan pusat studi ilmu pengetahuan yang sangat bergengsi ini adalah Hunain bin Ishaq yang beragama Kristen. Kaum muslimin tidak pernah ragu dan malu untuk belajar dan bekerja sama dengan pemeluk agama lain. Sebagai contoh, banyak cendekiawan dan ilmuwan klasik yang mengkaji, menerjemahkan, serta memberikan muatan Islami terhadap karya-karya para pemikir Yunani.