Anda di halaman 1dari 6

DIMENSI HUMANISME DI BALIK HUKUM ISLAM

Luqman Junaidi Gajah Tunggal 20-12-2011

Persepsi Umum Terhadap Hukum Islam

Banyak orang yang merasa skeptis terhadap hukum Islam. Menganggap hukum Islam tidak humanis, terlalu kejam, bahkan cenderung melanggar HAM. Dalam konteks global, kritik terhadap negaranegara yang menerapkan hukum Islam secara an sich semakin lama semakin gencar. Dalam konteks lokal ke-Indonesia-an, kritik terhadap daerah yang menerapkan hukum Islam masih terus terjadi.

Contoh Kasus

Human Right Watch (HRW), lembaga internasional pemantauan HAM yang berkedudukan di New York merilis sebuah laporan tentang peningkatan pelanggaran HAM di Aceh. Menurut lembaga independen ini, meskipun indeks pelanggaran HAM akibat konflik menurun drastis, tapi kekerasan yang didasarkan implementasi agama, dalam hal ini Syariat malah meningkat di tahun 2010. Dari hasil penelitian ini mereka mendesak kepada Presiden, MA, dan DPRD Aceh untuk membatalkan Qanun No. 14/2003 tentang khalwat atau perbuatan bersunyi-sunyian dua orang lain jenis tanpa perkawinan dan mengamandemen Qanun No. 11/2002 tentang syarat busana Islami. Menurut HRW kedua hukum ini dianggap tidak adil bagi perempuan, penduduk desa, dan masyarakat miskin.

Pijakan Hukum Islam


Hukum Islam berbeda dari hukum positif. Hukum Islam berasal dari atas (Tuhan), bukan berasal dari proses interaksi di bawah (masyarakat). Makanya, para ulama fikih, sepakat mendefinisikan hukum Islam sebagai Kalam Tuhan yang berkaitan dengan

perbuatan mukallaf (orang yang sudah dewasa dan berakal).


Dalam hukum Islam, hakim adalah Allah. Sedangkan dalam hukum positif, hakimnya adalah manusia. Masalahnya adalah bagaimana mengetahui hukum itu, apakah dengan jalan syara` (wahyu yang disampaikan pada Rasul) atau melalui proses penalaran akal. Jelasnya, hukum Islam itu berasal dari "atas" dan dari luar kemanusiaan kita.

Tujuan Hukum Islam


Mengapa hukum Islam yang berasal dari "atas" itu lahir dan dibebankan (taklif) kepada manusia? Para ulama telah membahas maksud atau tujuan pensyariatan hukum Islam; atau dikenal dengan term maqsidusy syar`ah. Hukum Islam itu dibuat untuk mewujudkan kemaslahatan manusia baik jangka pendek maupun jangka panjang, demi untuk menarik manfaat ataupun menolak bahaya dan kerusakan (Jalbul maslih wa daf`ud darar wal fasd). Karena dibuat oleh Tuhan untuk kepentingan manusia, maka tentu hukum Islam memiliki nilai rahmat bagi manusia. Karena secara teologis, Tuhan tidak memiliki motif apa-apa terhadap manusia.

Menuju Fikih yang Humanis

Setiap ketentuan yang telah digariskan Tuhan dipahami bukan sebagai beban kepada manusia tapi sebagai kebutuhan manusia. Ketentuan dalam nash harus dipahami sebagai standard yang harus selalu dirujuk dalam rangka proses menuju Ilahi, bukan sebagai standard yang harus dan apa adanya diterapkan tanpa peduli dengan kondisi kita. Penghargaan diberikan bukan karena melakukan teks nash semata, tetapi pada proses melaksanakan ketentuan tersebut.