Anda di halaman 1dari 6

Menguak Dimensi SosioKultural di Balik Ritual Islam

Luqman Junaidi Gajah Tunggal 10-01-2012

Landasan Epistemik-Spiritual
Dalam Hadis qudsi Allah Swt. berfirman, Wahai hambahamba-Ku, dahulu Aku lapar dan kalian tidak memberiKu makanan. Dahulu Aku telanjang, dan kalian tidak memberi-Ku busana. Dahulu Aku sakit, dan kalian tidak memberi-Ku obat. Ya Allah, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makanan, pakaian, dan obat, padahal Engkau Penguasa alam semesta? Dahulu ada hambaKu yang lapar, telanjang dan sakit. Sekiranya kamu mendatangi merekamengenyangkan perut mereka yang lapar, menutup tubuh mereka yang telanjang, mengobati sakit merekakamu akan mendapatkan Aku di situ. Ketika Nabi Musa a.s. bertanya, Ya Allah, di mana aku harus mencari-Mu? Allah menjawab, Carilah Aku di tengah-tengah orang yang hatinya hancur.

SHALAT
Shalat jamaah sarat dengan nuansa sosial dan dapat memupuk rasa kebersamaan, solidaritas, dan kekompakan di antara kaum Muslimin. Makanya, dalam hadis diterangkan pahala shalat jamaah 27 kali lipat lebih banyak dibanding shalat sendirian. Bahkan, Nabi bersabda ingin membakar rumah orang-orang yang tidak shalat berjamaah. Adzan: Seruan universal yang berisi pemberitahuan bahwa waktu shalat telah tiba. Ikamah: Secara spesifik ditujukan kepada kaum Muslimin untuk segera melakukan shalat jamaah. Imam dan Makmum: Mencerminkan kebersamaan hierarkis, di mana pemimpin harus diikuti.

PUASA
Puasa merupakan ibadah yang berfungsi meningkatkan kepekaan sosial ats derita dan nestapa kaum papa. Oleh sebab itu, dalam selama menjalankan ibadah puasa, kaum Muslimin dilarang melakukan beragam tindakan tercela. Di akhir ibadah puasa, kepekaan sossial tersebut dituangkan dalam bentuk kewajiban membayar zakat fitrah. Zakat ini akan kurang bermakna seandainya diwajibkan dibayar di awal bulan Ramadhan. Pasalnya, pada awal bulan Ramadhan, kepekaan sosial belum mengkristal seperti di akhir bulan. Secara sosial, zakat fitrah merupakan manifestasi sikap empati yang diperoleh dari pemaknaan rasa lapar dan haus selama menunaikan ibadah puasa.

HAJI
Haji adalah satu-satunya ibadah wajib yang tingkat kewajibannya sangat relatif. Artinya, hanya berlaku bagi orang yang mampu saja. Itu pun yang wajib hanya sekali. Yang kedua kalinya, hukumnnya turun menjadi sunah. Sedangkan yang ketiga kalinya, bisa menjadi makruh atau bahkan haram jika di sekitar masih terdapat orang yang membutuhkan bantuan materi. Ibadah haji yang diterima adalah yang mabrur. Mabrur sendiri berasal dari kara barra-yubirru yang berarti baik. Jadi, ibadah haji yang diterima di sisi Allah adalah ibadah haji yang mampu mengubah perilaku pelakunya menjadi lebih baik dari sebelum naik haji. Ibadah haji memberikan gambaran jelas, betapa kaum Muslimin yang berbeda suku bangsa dan bahasa, sekte dan aliran, bisa bersatu padu di satu tempat dan waktu untuk melakukan ritual yang sama persis. Melintasi semua perbedaan. Ibadah haji mengangkat nilai kemanusiaan seorang hamba dan melebur semua status sosial yang disandang. Menghancurkan semua bentuk egoisme, dan memusnahkan seluruh sifat-sifat tak terpuji.

QURBAN
Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebahagian darinya dan (sebagian lagi) berikan untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS Al-Hajj [22]: 28) Secara teologis, qurban, merupakan salah satu ibadah yang untuk mendekatkan diri kepada Allah (hablum minallah). secara sosiologispsikologis, qurban merupakan ikhtiar mendekatkan diri kepada sesama manusia (hablum minannas). Pada dimensi spiritual, Qurban berfungsi untuk memperkokoh tauhid, mempertebal iman, dan meningkatkan takwa kepada Allah. Pada dimensi sosial, ibadah itu bertujuan meningkatkan solidaritas sosial, mentradisikan diri untuk berbagi, dan memupuk rasa tolong-menolong. Selain manifestasi kepatuhan hamba kepada Tuhan, perintah berqurban mengandung pesan untuk menebar kemaslahatan kepada pihak lain yang membutuhkan dan membebaskan orang-orang yang tidak mampu dari rantai kemiskinan yang membelenggunya. Kepedulian sosial dalam perspektif ini bernilai ibadah yang berimplikasi sosial sangat tinggi, dibanding dengan nilai ritualnya sendiri.