Anda di halaman 1dari 7

RELASI KESALEHAN SPIRITUAL DENGAN KESALEHAN SOSIAL

Luqman Junaidi Gajah Tunggal 24-01-2012

Sketsa Ideal Relasi Spiritual dan Sosial


Islam adalah agama universal yang menekankan umatnya untuk memiliki multi talenta dalam segala bidang. Muslim sejati adalah sosok yang mampu memadukan keluhuran ruhani dengan keluhuran perilaku. Orang yang pandai menjalin hubungan vertikal (Hablum Minalllah) harus juga cerdas dalam membina hubungan horizontal (Hablum Minannas) Kedua hubungan ini tidak bisa dipisahkan, karena manusia merupakan wakil Tuhan di muka bumi. Jadi, berlaku baik kepada orang lain berarti berlaku baik kepada wakil-Nya.

Relasi Simetris Antara Spiritualitas dan Kearifan Sosial


Fakta yang tak terbantahkan adalah, jumlah ayat-ayat yang berkaitan dengan realitas sosial dalam Al-Quran, jauh lebih banyak dari ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum ibadah. Dalam Al-Quran, Tuhan sering menggunakan kata ganti N (kita) untuk Diri-Nya. Artinya, Tuhan sendiri berusaha untuk menyadarkan manusia, bahwa dalam proses pengaturan alam raya, Dia melibatkan manusia. Ayat-ayat itu sarat dengan muatan sosial yang jauh dari nuansa egois. Walaupun tidak ada perbandingan yang akurat, namun bisa dipastikan bahwa jumlah hadis yang berbicara masalah realitas sosial, sangat banyak, bahkan mungkin lebih banyak dari hadis yang mengulas masalah ritual.

Fenomena Keretakan Relasi Spiritual dan Sosial


Secara faktual terjadi banyak penyimpangan dalam realitas keseharian. Banyak orang yang secara spiritual terlihat saleh, tapi ternyata secara sosial tidak berperilaku baik. Kasus-kasus seperti ini sejatinya bukan hal baru dan sering terjadi dalam sejarah perjalanan agama Islam: Dari klasik hingga modern. Fenomena keretakan hubungan antara keluhuran spiritual dan keluhuran budi pekerti ini menunjukkan adanya kesalahan dalam memahami dan mempraktikkan agama Islam. Kesalahan dalam memahami agama Islam dalam konteks ini akan melahirkan pribadi yang bias. Muslim musiman dan Mukmin mukiman. Bukan Muslim sejati dan Mukmin hakiki.

Fenomena Kamuflase
Jika melihat orang yang saleh secara spiritual tapi tidak secara sosial, berarti ada 2 kemungkinan. [1] Kita tertipu dengan penampilan lahiriah seseorang. [2] Orang itu sengaja menipu kita karena memiliki motif tertentu dengan mencitrakan dirinya sebagai orang saleh Jika kemungkinan pertama yang benar, berarti benar juga ajaran Islam yang menyatakan bahwa Allah melihat hati, bukan melihat penampilan lahiriah. Tapi jika kemungkinan kedua yang benar, berarti orang itu telah menjadikan agama sebagai sarana untuk mencapai tujuan duniawi.

Contoh Kasus
Klasik Banyak ahli ibadah yang memilih untuk hidup asktetis. Tidak mau ikut campur dalam seluruh hiruk-pikuk kehidupan duniawi. Tidak mau bekerja, dan hanya sibuk beribadah. Sering dijumpai kaum sufi yang memilih menepi untuk menyendiri dan menyepi. Menghindari pergaulan sosial dengan segenap dinamikanya Modern Banyak orang yang dianggap paham agama yang malah memutarbalikkan hukum dan norma-norma agama. Banyak ustad, kiya, atau ulama yang melakukan tindakan tidak terpuji.

Cara Memperbaiki Diri


Karena lahir dari kesalahan dalam memahami ajaran Islam, maka keretakan relasi pritual ini hanya bisa diperbaiki jika ada kesediaan untuk memahami kembali nilai-nilai ajaran Islam yang bersifat luhur dan tidak parsial. Jika dipahami secara saksama, semua orang akan sampai pada kesimpulan yang sama tentang ajaran agama Islam. Bahwa Islam bukan hanya agama di rumah ibadah saja, tapi juga agama yang eksis di alam raya. Nabi Muhammad adalah manusia paling tahu cara beribadah dengan benar. Ternyata dalam hidup keseharian beliau adalah sosok yang pandai bergaul dan membina hubungan baik dengan semua orang Sebelum diangkat menjadi nabi, Muhammad adalah sosok yang terkenal memiliki kepribadian mulia di tengah-tengah masyarakat.