Anda di halaman 1dari 19

1

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang endemis dengan berbagai penyakit infeksi. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki paling sedikit satu penyakit infeksi yang dapat menjadi wabah setiap saat. Oleh karena itu, setiap dokter di Indonesia wajib mengerti mengenai penanganan penyakit-penyakit infeksi yang sering dijumpai di masyarakat, dimana setiap dokter harus mampu menangani penyakit tersebut hingga tuntas. Filariasis limfatik merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih banyak ditemukan di Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini menjadi endemis di 321 daerah di Indonesia. menimbulkan kematian, berujung pada kematian. Dalam makalah ini, penulis akan membahas mengenai filariasis limfatik mulai dari etiologi hingga pada pencegahan, sekilas tentang edema yang juga merupakan salah satu manifestasi klinis dari filariasis, dan secara singkat tentang Tropical Pulmonary Eosinophilia. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar para pembaca dapat memahami mengenai konsep penyakit filariasis limfatik serta penanganannya. Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan jenis penelitian berupa tinjauan pustaka. Metode analisis yang digunakan antara lain dengan mencari dari buku dan tulisan yang adekuat untuk dijadikan referensi, berdiskusi dengan teman dan mengambil dari keterangan pakar yang berkompeten di bidang ini. Penyakit ini sendiri tidak akan tapi pada keadaan yang berat penyakit ini dapat

mengakibatkan infeksi sekunder sehingga pasien dapat mengalami sepsis yang

ISI

1. TEMA BLOK Blok Elective Infection: Filariasis Limfatik


2. FASILITATOR : dr. Yoan Carolina Panggabean

3. DATA PELAKSANAAN
A. B. C. D.

Tanggal Tutorial Pemicu ke-1 Pukul Ruangan 4. PEMICU

: 1 November 2010 dan 4 November 2010 : 10.30-13.00 WIB : Ruang Tutorial 3 (Gedung Baru)

Seorang perempuan, berusia 35 tahun, tinggal di daerah Langkat datang ke Poliklinik Penyakit Dalam RS Adam Malik dengan keluhan bengkak pada kaki sebelah kiri mulai dari pangkal paha sampai mata kaki. Hal ini dialami sejak 2 bulan yang lalu, awalnya berupa pembengkakan pada mata kaki kiri, teraba keras dan nyeri. Keluhan lain adalah batuk dan sesak nafas dan sudah mendapat pengobatan tetapi tidak sembuh. Ada beberapa orang di sekitar tempat tinggal pasien yang mempunyai keluhan yang sama. Pada pemeriksaan fisik diperoleh: kesadaran kompos mentis. Tekanan darah 120/70 mmHg, hiperemis (+), denyut nadi 90x/menit, frekuensi nafas 28x/menit. Pada ekstremitas inferior sinistra diperoleh non pitting oedem (+), dan makula hiperpigmentasi (+). wheezing pada kedua lapangan paru. 5. MORE INFO Laboratorium: nyeri tekan (+),

Pada auskultasi terdengar

Hb 10,8 g/dL; Leukosit 9530/mm3; Ht 36,8%; Trombosit 423.000/mm3. Hitung jenis: eosinofil 20%, basofil 4%, neutrofil batang 40%, neutrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit. Diperoleh parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung ekor runcing dan tidak berinti, dan selubung tubuh transparan. 6. TUJUAN PEMBELAJARAN

A. Memahami definisi pitting oedem dan non pitting oedem. B. Memahami definisi dan etiologi flariasis. C. Memahami epidemiologi filariasis limfatik. D. Memahami patofisiologi filariasis limfatik. E. Memahami manifestasi klinis filariasis limfatik. F. Memahami diagnosis dan diagnosis banding G. Memahami manajemen terapi H. Memahami komplikasi, prognosis, dan pencegahan filariasis limfatik. I. Memahami patologi dan gejala klinis Tropical Pulmonary Eosinophilia. J. Memahami diagnosis Tropical Pulmonary Eosinophilia

7.

PERTANYAAN YANG MUNCUL DALAM CURAH PENDAPAT


A.

Bagaimanakah

definisi,

etiologi,

epidemiologi,

patofisiologi,

manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, manajemen terapi, komplikasi, prognosis, dan pencegahan filariasis limfatik?
B.

Bagaimanakah patologi, gejala klinis, diagnosis, diagnosis banding, Bagaimana definisi, etiologi, serta patogenesis edema?

dan pengobatan Tropical Pulmonary Eosinophilia ( Occult Filariasis)?


C.

8.

JAWABAN ATAS PERTANYAAN

A. FILARIASIS A.1. Definisi Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria
yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening.

A.2. Etiologi Etiologi dari filaris limfatik adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. A.3. Epidemiologi Pada tahun 2008 dilaporkan terdapat 11.699 kasus filariasis di Indonesia. Tiga propinsi dengan jumlah kasus terbanyak berturut-turut adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Berikut ini adalah data kasus filariasis di Sumatera Utara pada tahun 2007:

A.4. Daur Hidup dan Morfologi A.4.1. Wuchereria bancrofti Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan kelenjar limfe; bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. Cacing betina berukuran 65-100 mm x 0,25 mm dan yang jantan 40 mm x 0,1 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung dengan ukuran 250-300 mikron x 7-8 mikron. Mikrofilaria hidup di dalam darah dan terdapat di aliran darah tapi pada waktu-waktu tertentu saja, jadi mempunyai periodisitas. Pada umumnya, mikrofilaria W. Bancrofti bersifat periodisitas nokturna, artinya mikrofilaria hanya terdapat di dalam darah tepi pada waktu malam. Pada siang hari, mikrofilaria terdapat di kapiler alat dalam (paru, jantung, ginjal, dan sebagainya). Di daerah perkotaan, Aedes. parasit ini ditularkan oleh nyamuk Culex Masa quinquefasciatus. Di pedesaan, vektornya berupa nyamuk Anopheles atau nyamuk Daur hidup parasit ini memerlukan waktu sangat panjang. pertumbuhan parasit di dalam nyamuk kurang lebih dua minggu. Pada manusia, masa pertumbuhan tersebut belum diketahui secara pasti, tetapi diduga kurang lebih 7 bulan. Mikrofilaria yang terisap oleh nyamuk, menembus dinding lambung dan Dalam waktu kurang lebih melepaskan sarungnya di dalam lambung,

bersarang di antara otot-otot toraks. Mula-mula parasit ini memendek, bentuknya menyerupai sosis dan disebut larva stadium I. seminggu, larva ini bertukar kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang, disebut larva stadium II. Pada hari kesepuluh dan selanjutnya, larva bertukar kulit sekali lagi, tumbuh makin panjang dan lebih kurus, disebut larva stadium III. Gerak larva stadium III sangat aktif. Bentuk ini bermigrasi, mula-mula ke rongga abdomen kemudian ke kepala dan alat tusuk nyamuk. Bila nyamuk yang mempunyai larva stadium III (bentuk infektif) menggigit manusia, maka larva tersebut secara aktif masuk melalui luka tusuk ke dalam tubuh hospes dan bersarang di saluran limfe setempat. Di dalam tubuh hospes, larva mengalami dua kali pergantian kulit, tumbuh menjadi larva stadium IV, lalu stadium V atau cacing dewasa. A.4.2. Brugia malayi dan Brugia timori

Cacing dewasa jantan dan betina hidup di pembuluh limfe. Bentuknya halus seperti benang dan berwarna putih susu. Cacing betina berukuran 55 mm x 0,16 mm (B.malayi), 21-39 mm x 0,1 mm (B.timori) dan yang jantan 22-23 mm x 0,09 mm (B.malayi), 13-23 mm x 0,08 mm (B.timori). Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung. mikron x 7 mikron. Periodisitas mikrofilaria B. malayi adalah periodik nokturna, subperiodik nokturna atau non periodik, sedangkan mikrofilaria B. timori mempunyai sifat periodik nokturna. B. malayi yang hidup pada manusia ditularkan pleh nyamuk Anopheles barbirostris dan yang hidup pada manusia dan hewan ditularkan oleh nyamuk Mansonia. B. timori ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris. Daur hidup kedua parasit ini cukup panjang, tetapi lebih pendek daripada W. bancrofti. Masa pertumbuhannya di dalam nyamuk kurang lebih 10 hari dan pada manusia kurang lebih 3 bulan. Di dalam tubuh nyamuk kedua parasit ini juga mengalami dua kali pergantian kulit, berkembang dari larva stadium satu menjadi larva stadium II dan III, menyerupai perkembangan parasit W. bancrofti. Di dalam tubuh manusia perkembangan kedua parasit tersebut juga sama dengan perkembangan W. bancrofti. A.5. Patologi dan Patogenesis Perubahan patologi utama disebabkan oleh kerusakan pembuluh getah bening akibat inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa, bukan oleh mikrofilaria. Cacing dewasa hidup di pembuluh getah bening aferen atau sinus kelenjar getah bening dan menyebabkan pelebaran pembuluh getah bening dan penebalan dinding pembuluh. Infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan makrofag di dalam dan di sekitar pembuluh getah bening yang mengalami inflamasi bersama dengan proliferasi sel endotel dan jaringan penunjang, menyebabkan berliku-likunya sistem limfatik dan kerusakan atau inkompetensi katup pembuluh getah bening. Limfadema dan perubahan kronik akibat statis bersama dengan edema keras terjadi pada kulit yang mendasarinya. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat filariasis ini disebabkan oleh efek langsung dari cacing ini dan oleh respon imun Ukuran mikrofilaria B. Malayi adalah 200-260 mikron x 8 mikron dan B. Timori 280-310

pejamu terhadap parasit.

Respon imun ini dipercaya menyebabkan proses

granulomatosa dan proliferasi yang menyebabkan obstruksi total pembuluh getah bening. Diduga bahwa pembuluh-pembuluh tersebut tetap paten selama cacing tetap hidup dan bahwa kematian cacing tersebut menyebabkan reaksi granulomatosa dan fibrosis. Dengan demikian terjadilah obstruksi limfatik dan penurunan fungsi limfatik. A.6. Gejala Klinis Manifestasi dini penyakit ini adalah peradangan,, sedangkan bila sudah lanjut akan menimbulkan gejala obstruktif. Mikrofilaria yang tampak dalam darah pada stadium akut akan menimbulkan peradangan yang nyata, seperti limfangitis, limfadenitis, funikulitis, epididimitis dan orkitis. Adakalanya tidak menimbulkan gejala sama sekali terutama bagi penduduk yang sejak kecil sudah berdiam di daerah endemik. Gejala peradangan tersebut sering timbul setelah bekerja berat dan dapat berlangsung antara beberapa hari hingga beberapa minggu (2-3 minggu).. Gejala dari limfadenitis adalah nyeri lokal, keras di daerah kelenjar limfe yang terkena dan biasanya disertai demam, sakit kepala dan badan, muntah-muntah, lesu dan tidak nafsu makan. Stadium akut ini lambta laun akan beralih ke stadium menahun dengan gejala-gejala hidrokel, kiluria, limfedema, dan elephantiasis.
Limfedema terbagi dalam 7 stadium menggambarkan akan tanda hilang tidaknya bengkak, ada tidaknya lipatan kulit, ada tidaknya nodul (benjolan), mossy foot (gambaran seperti lumut) serta adanya hambatan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Penentuan stadium ini penting bagi petugas kesehatan untuk memberikan perawatan dan penyuluhan yang tepat kepada penderita. Penentuan stadium limfedema mengikuti kriteria sebagai berikut : 1. Penentuan stadium limfedema terpisah antara anggota tubuh bagian kiri dan kanan, lengan dan tungkai. 2. Penentuan stadium limfedema lengan (atas, bawah) atau tungkai (atas, bawah) dalam satu sisi, dibuat dalam satu stadium limfedema. 3. Penentuan stadium limfedema berpihak pada tanda stadium yang terberat. 4. Penentuan stadium limfedema dibuat 30 hari setelah serangan akut sembuh. 5. Penentuan stadium limfedema dibuat sebelum dan sesudah pengobatan dan

penatalaksanaan kasus.

No. 1.

Gejala Bengkak di kaki

Stadium 1 Menghilang waktu bangun tidur pagi Tidak ada

Stadium 2 Menetap

Stadium 3 Menetap

Stadium 4 Menetap

Stadium 5 Menetap, meluas

Stadium 6 Menetap, meluas

Stadium 7 Menetap, meluas

2.

Lipatan di kulit

Tidak ada

Dangkal

Dangkal

Dalam, kadang dangkal Kadangkadang Tidak ada Tidak

Dangkal, dalam Kadangkadang Ada Tidak

Dangkal, dalam Kadangkadang Kadangkadang Ya

3. 4. 5.

Nodul Mossy lessions Hambata n berat

Tidak ada Tidak ada Tidak

Tidak ada Tidak ada Tidak

Tidak ada Tidak ada Tidak

Ada Tidak ada Tidak

A.7. Diagnosis A.7.1. Diagnosis parasitologi 1. Deteksi parasit yaitu menemukan mikrofilaria di dalam darah, cairan hidrokel atau cairan kiluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal dan teknik konsentrasi Knott, membran filtrasi. Pengambilan darah harus dilakukan pada malam hari (setelah pukul 20.00) mengingat periodisitas mikrofilaria umumnya nokturna. Pada pemeriksaan histopatologi, kadang-kadang potongan cacing dewasa dapat dijumpai di saluran dan kelenjar limfe dari jaringan yang dicurigai sebagai tumor.
2. Teknik biologi molekuler dapat digunakakn untuk mendeteksi parasit

melalui DNA parasit dengan menggunakan reaksi rantai polimerase (Polymerase Chain Reaction/PCR).

A.7.2. Radiodiagnosis
1. Pemeriksaan dengan USG pada skrotum dan kelenjar getah bening

inguinal pasien akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak. Pemeriksaan ini hanya dapat digunakan untuk infeksi filaria oleh W. Bancrofti. 2. Pemeriksaan limfosintigrafi menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada penderita yang asimptomatik mikrofilaremia. A.7.3. Diagnosis imunologi Deteksi antigen dengan immunochromatographic test (ICT) yang menggunakan antibodi monoklonal telah dikembangkan untuk mendeteksi antigen W. Bancrofti dalam sirkulasi darah.Hasil tes positif menunjukkan adanya infeksi aktif walaupun mikrofilaria tidak ditemukan dalam darah. Deteksi antibodi dengan menggunakan antigen rekombinan telah dikembangkan untuk mendeteksi antibodi subklas IgG4 A.8. Manajemen Terapi A.8.1. Perawatan Umum 1. Istirahat di tempat tidur, pindah tempat ke daerah yang dingin akan mengurangi derajat serangan akut 2. Antibiotik dapat diberikan untuk infeksi sekunder dan abses. 3. Pengikatan di daerah pembendungan akan mengurangi edema . A.8.2. Pengobatan spesifik 1. Pengobatan infeksi Hingga saat ini, WHO menetapkan Dietilcarbamazine (DEC) sebagai satusatunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Pengobatan dilakukan dengan pemberian DEC 6 mg/kgBB/hari selama 12 hari. Pengobatan ini dapat diulang 1 hingga 6 bulan kemudian bila perlu, atau DEC selama 2 hari per bulan (6-8 mg/kgBB/hari).

10

Obat lain yang dapat digunakan adalah Ivermektin. Albendazol bersifat makrofilarisidal untuk W. Bancrofti dengan pemberian setiap hari selama 2-3 minggu. 2. Pengobatan Penyakit Hidrokel besar yang tidak mengalami regresi spontan sesudah terapi adekuat harus dioperasi dengan tujuan drainase cairan dan pembebasan tunika vaginalis yang terjebak untuk melancarkan aliran limfe. Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah: 1. Hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah. 2. Indikasi kosmetik 3. Hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Pada ekstremitas yang terkena, dilakukan: a. pencucian dengan sabun dan air dua kali per hari b. menaikkan tungkai yang terkena pada malam hari c. ekstremitas digerakkan teratur untuk melancarkan aliran d. menjaga kebersihan kuku e. memakai alas kaki f. mengobati luka kecil dengan krim antiseptik atau antibiotik. Terapi bedah dipertimbangkan apabila terapi non bedah tidak memberikan hasil yang memuaskan. Beberapa terapi bedah yang dapat dilakukan antara lain adalah limfangioplasti, prosedur jembatan limfe, transposisi flap omentum, eksisi radikal dan graft kulit, anastomosis pembuluh limfe tepi ke dalam, dan bedah mikrolimfatik. Untuk kiluria, diberikan terapi nutrisi rendah lemak, tinggi protein, dengan asupan cairan tinggi dan dapat diberikan suplemem tambahan dengan trigliserida rantai sedang (medium-chain triglycerides). A.9. Pencegahan

11

A.9.1. Pencegahan massal. Kontrol penyakit pada populasi adalah melalui kontrol vektor (nyamuk). Namun hal ini terbukti tidak efektif mengingat panjangnya masa hidup parasit (4-8 tahun). Pada pengobatan massal (program pengandalian filariasis) pemberian DEC dosis standar tidak dianjurkan lagi mengingat efek sampingnya. Untuk itu, DEC diberikan dengan dosis lebih rendah (6 mg/kgBB), dengan jangka waktu pemberian yang lebih lama untuk mencapai dosis total yang sama misalnya dalam bentuk garam DEC 0,2-0,4% selama 9-12 bulan. Atau pemberian obat dilakukan seminggu sekali, atau dosis tunggal setiap 6 bulan atau 1 tahun. A.9.2. Pencegahan individu Kontak dengan nyamuk terinfeksi dapat dikurangi melalui penggunaan obat oles anti nyamuk, kelambu atau intektisida. A.9.3. Strategi WHO untuk membasmi filariasis limfatik. Strategi Global Programme to Eliminate Lymphatic Filariasis memiliki komponen: 1. Menghentikan penyebaran infeksi. Untuk interupsi transmisi, daerah endemik filaria harus diketahui, kemudian program pengobatan massal diterapkan untuk populasi beresiko. Di banyak negara, program dilakukan dengan memberikan dosis tunggal 2 obat bersamaan 1 kali per tahun. Obat yang diberikan adalah Albendazole dan DEC atau Ivermektin. Dosis ini harus diberikan selama 4-6 tahun. Alternatif lain adalah penggunaan garam fortifikasi dengan DEC selama 1 tahun. 2. Meringankan beban penderita, diperlukan edukasi untuk meningkatkan kewaspadaan pada pasien yang mengalami infeksi. Dengan edukasi ini diharapkan akan meningkatkan higiene lokal sehingga mencegah episode inflamasi akut. A.10. Prognosis Pada kasus-kasus dini dan sedang, prognosis baik terutama bila pasien pindah dari daerah endemik. Pengawasan daerah endemik tersebut dapat dilakukan

12

dengan pemberian obat, serta pemberantasan vektornya. Pada kasus-kasus lanjut terutama dengan edema tungkai, prognosis lebih buruk. B. TROPICAL PULMONARY EOSINOPHILIA (TPE)/OCCULT FILARIASIS B.1. Definisi TPE adalah penyakit filariasis limfatik, penderita. B.2. Patologi dan Gejala Klinis Mikrofilaria dihancurkan oleh zat anti dalam tubuh hospes akibat hipersensitivitas terhadap antigrn mikrofilaria. Gejala penyakit ini ditandai dengan hipereosinofilia, peningkatan kadar antibodi IgE dan antifilaria IgG4, kelainan klinis yang menahun berupa pembengkakan kelenjar limfe dan gejala asma bronkial. Hipereosinofilia merupakan salah satu tanda utama dan gejala ini seringkali merupakan petunjuk ke arah etiologi penyakit tersebut. Jumlah leukosit biasanya ikut meningkat akibat meningkatnya jumlah sel eosinofil dalam darah. Kelenjar yang paling sering terkena adalah kelenjar limfe inguinal. Kadang-kadang dapat pula terkena kelenjar limfe leher, lipat siku atau kelenjar limfe di tempat lain. Mungkin pula terdapat pembesaran kelenjar limfe di seluruh tubuh, menyerupai penyakit Hodgkin. Bila paru terkena maka gejala klinis dapat berupa batuk dan sesak nafas, terutama pada waktu malam, dengan dahak yang kental dan mukopurulen. Foto rontgen paru biasanya memperlihatkan garis-garis yang berlebihan pada kedua hilus dan bercak-bercak halus terutama di lapangan paru bawah. Gejala lain dapat berupa demam subfebril, pembesaran limpa dan hati. Mikrofilaria tidak dijumpai di dalam darah, tetapi mikrofilaria atau sisa-sisanya dapat ditemukan di jaringan kelenjar limfe, paru, limpa, dan hati. Pada jaringan tersebut terdapat benjolan-benjolan kecil berwarna kuning kelabu dengan penampang 1-2 mm, terdiri dari infiltrasi sel eosinofil yang dikenal dengan nama yang disebabkan oleh penghancuran mikrofilaria dalam jumlah yang berlebihan oelh sistem kekebalan

13

Meyers Kouwenaar. mikrofilaria. B.3. Diagnosis

Di dalam benda-benda inilah dapat ditemukan sisa-sisa

Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis, hipereosinofilia, peningkatan kadar IgE yang tinggi, peningkattan zat anti terhadap mikrofilaria dan gambaran rontgen paru. Konfirmasi diagnosis tersebut adalah dengan menemukan benda Meyers Kouwenaar pada sediaan biopsi, atau dengan melihat perbaikan gejala setelah pengobatan dengan DEC. B.4. Diagnosis Banding Asma, Lofflers syndrome, allergic bronchopulmonary aspergillosis, allergic granulomatosis with angiitis (Churg-Strauss syndrome), vaskulitides sistemik (periarteritis nodosa dan Wegeners granulomatosis), chronic eosiniphilic pneumonia, dan sindrome hipereosinofilia idiopatik. B.5. Manajemen Terapi Obat pilihan adalah DEC dengan dosis 6 mg/kgBB/hari selama 21-28 hari. Pada stadium dini penderita dapat disembuhkan dengan parameter darah dapat pulih kembali sampai kadar yang hampir normal. Pada stadium klinik lanjut, seringkali terdapat fibrosis dalam paru dan dalam keadaan tersebut, fungsi paru mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya. Penderita TPE memberikan respon yang rendah pada pengobatan bronkodilator dan steroid.

C. EDEMA C.1. Definisi Edema adalah penumpukan cairan interstisial secara abnormal dalam jumlah besar. C.2. Etiologi dan Patogenesis

14

ULASAN
1.

Dalam pleno pakar, salah satu peserta pleno/mahasiswa bertanya kepada

pakar mengenai obat apa yang cocok diberikan pada ibu hamil jika kena filariasis. Pakar menjelaskan bahwa semua obat filariasis tidak aman diberikan pada wanita hamil, kecuali DEC. Hal ini tidak ada dibahas dalam diskusi kelompok tutorial B-3.
2.

Dalam pleno salah satu peserta pleno/mahasiswa bertanya kepada pakar

mengenai terapi DEC, apakah aman jika diberikan tunggal atau harus dikombinasi

15

dengan Ivermectin.

Pakar menjelaskan bahwa DEC paling baik jika

dikombinasikan dengan Albendazol, dan pengobatan juga bisa dilakukan dengan kombinasi Ivermectin dan Albendazol.Pemebrian tunggal tidak seampuh pemberian obat kombinasi. Hal ini tidak ada dibahas dalam diskusi kelompok tutorial B-3.
3.

Dalam pleno pakar salah satu peserta pleno/mahasiswa bertanya kepada

pakar mengenai terapi asma pada pasien dalam kasus. Pakar menjelaskan bahwa untuk asma dapat diberikan bronkodilator. Dari buku Parasitologi Kedokteran FK UI, penulis membaca bahwa pada penderita TPE, pengobatan bronkodilator dan steroid akan memberikan respon yang rendah.
4.

Dalam pleno pakar salah satu peserta pleno/mahasiswa bertanya kepada

pakar mengenai indikasi pengobatan massal. Pakar menjelaskan bahwa pengobatan dilakukan jika pada suatu daerah dilakukan pemeriksaan, didapati mikrofilaria positif pada sekurang-kurangnya 1% dari total penduduk. Hal ini tidak ada dibahas dalam diskusi kelompok tutorial B-3.

KESIMPULAN Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan yang ada, pasien mengalami filariais limfatik Tropical Pulmonary Eosinophilia oleh karena Wuchereria bancrofti.

16

DAFTAR PUSTAKA [1] Braunwald E., Joseph L., 2008. Edema. Dalam: Fauci A., S., ., dkk. Harrison s Principles of Internal Medicine. 17th Ed. McGraw-Hill Companies, Inc, United States of America: 231-236 [2] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Klinis Filariasis. Ditjen PP &PL, Jakarta, 2006.

17

[3] Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Diperoleh dari: http://the-manuals.com/profil-kesehatanindonesia 2008-manual/ [Diakses 11 March 2010]. [4] Dinas Kesehatan RI Propinsi Sumatera Utara, 2007. Profil Dinkes Kab/Kota Propinsi Sumatera Utara Tahun 2007 Diperoleh dari: www.pdfqueen.com/.../profil-kesehatan-sumatera-utara-tahun-2008/ [Diakses 11 Maret 2010]. [5] Djuandi Y., Partono F., 2008. Occult Filariasis. Dalam: Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. . Balai Penerbit FKUI, Jakarta: 42-43. [6] Ganong W. F., 2002. Dinamika Aliran Darah dan limfe: Sirkulasi Limfe dan Volume cairan Interstisial. Dalam: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 20. Penerbit EGC, Jakarta: 567-569. [7] Nutman T. B., Weller P. F., 2005. Filarial and Related Infections. Dalam: Kasper D. L., dkk. Harrison s Principles of Internal Medicine. 16th Ed. McGraw-Hill Companies, Inc., United States of America: 1260-1266. [8] Pohan H. T., 2006. Filariasis. Dalam Dusoyo AW, Setiyohadi B, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3. Edisi 2. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 1767-1772. [9] Supali, T., Kurniawan A., Partono F., 2008. Wuchereria bancrofti. Dalam: Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. . Balai Penerbit FKUI, Jakarta: 32-38. [10] ____________________________________. Brugia Malayi dan Brugia Timori. Dalam: Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. . Balai Penerbit FKUI, Jakarta: 38-40.

18

19