Anda di halaman 1dari 107

TEKNIK DAN A NALISA USAHA PEMBENIHAN UDAN G VANAME

DI PT CENTR AL PERTIWI BAHARI BREEDING OP ERATION

DES A SUAK, KECAMATAN SIDOMULYO,

LAMPUNG SELATAN

Oleh :

Willyarta Yudisti

NRP : 4408418277

LAMPUNG SELATAN Oleh : Willyarta Yudisti NRP : 4408418277 L APORAN USULAN PRAKTEK PRAKTEK INTEGRASI AKHIR
LAMPUNG SELATAN Oleh : Willyarta Yudisti NRP : 4408418277 L APORAN USULAN PRAKTEK PRAKTEK INTEGRASI AKHIR

L APORAN USULAN PRAKTEK PRAKTEK INTEGRASI AKHIR

: 4408418277 L APORAN USULAN PRAKTEK PRAKTEK INTEGRASI AKHIR PRO PROGRAM DIPLOMA 4 GRAM STUDI TEKNOLOGI

PRO

PROGRAM DIPLOMA 4 GRAM STUDI TEKNOLOGI AKUAKUL TUR

JURUSAN TEKN OLOGI PENGELOLAAN SUMBERDAY A PERAIRAN SEKOLAH TINGGI PERIKANAN

JAKARTA

2011

TEKNIK DAN A NALISA USAHA PEMBENIHAN UDAN G VANAME

DI PT CENTR AL PERTIWI BAHARI BREEDING OP ERATION

DES A SUAK, KECAMATAN SIDOMULYO,

LAMPUNG SELATAN

Oleh :

Na ma

: Willyarta Yudisti

NR P

: 4408418277

Pro gram studi

: Teknologi Akuakultur

LAPORAN PRAKTEK INTEGRASI

Sebagai Salah Satu Syarat

Un tuk Mengikuti Perkuliahan Semester VII

Pada Sekolah Tinggi Perikanan

Perkuliahan Semester VII Pada Sekolah Tinggi Perikanan PRO PROGRAM DIPLOMA 4 GRAM STUDI TEKNOLOGI AKUAKUL TUR

PRO

PROGRAM DIPLOMA 4 GRAM STUDI TEKNOLOGI AKUAKUL TUR

JURUSAN TEKN OLOGI PENGELOLAAN SUMBERDAY A PERAIRAN SEKOLAH TINGGI PERIKANAN

JAKARTA

2011

i

LEMBAR PENGESAHAN

Nama

:

Willyarta Yudisti

NRP

:

4408418277

Judul

:

Teknik dan Analisa Usaha Pembenihan Udang

Program Studi

:

Vaname (Litopenaeus vannamei) di PT Central Pertiwi Bahari Breeding Operation Desa Suak- Sidomulyo, Lampung Selatan Teknologi Akuakultur

Jurusan

:

Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Perairan

Jurusan : Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Perairan   Menyetujui : ( Dra. Hj Rachmatun Suyanto.)
 

Menyetujui :

( Dra. Hj Rachmatun Suyanto.) Pembimbing

(Amyda Suryati Panjaitan, A.Pi.) Pembimbing

 

Mengetahui :

(Sinung Rahardjo, S.Pi, M.Si) Ketua Jurusan

Tanggal Pengesahan : …… ………………

(Maria Goreti Eny K, S.St.Pi.M.MPi) Ketua Program Studi

ii

Kata Pengantar

Laporan pratek integrasi ini merupakan bentuk pertanggungjawaban atas

hasil pelaksanaan praktek integrasi yang dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2011

sampai dengan 3 Juli 2011.

Dengan

selesainya

laporan

praktek

integrasi

ini

tak

lupa

penulis

memanjatkan puji serta syukur kehadirat Allah swt. Judul dari Praktek Integrasi

ini adalah “Teknik dan Analisa Usaha Pembenihan Udang Vaname di PT

Central

Pertiwi

Bahari

Breeding

Sidomulyo Lampung Selatan”.

Operation

Desa

Suak

Kecamatan

Penulis menyadari bahwa di dalam penulisan laporan integrasi ini masih

terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima segala saran, pendapat

maupun kritik yang dapat memperbaiki untuk kesempurnaan isi laporan ini.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam rangka pengembangan

dan pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkesinambungan hingga masa

yang akan datang.

Jakarta,

Agustus 2011

Penulis

iii

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dra. Hj. Rachmatun Suyanto

dan Ibu Amyda Suryati Panjaitan, A.Pi. Selaku dosen pembimbing yang telah

memberikan bimbingan, arahan dan semangat dalam penyusunan laporan praktek

integrasi ini.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Yth:

1. Bapak Dr. Aef Permadi, S.Pi, M.Si selaku Ketua Sekolah Tinggi Perikanan

2. Bapak

Sinung

Rahardjo,

A.Pi,

M.Si

selaku

Ketua

Jurusan

Teknologi

Pengelolaan Sumberdaya Perairan.

3. Ibu

Maria Goreti

Eny K,

S.St.Pi,

M.MPi

selaku

Ketua Program

Studi

Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Perairan.

Dan kepada seluruh pihak terkait yang ikut membantu dalam penyelesaian laporan

praktek integrasi ini.

iv

DAFTAR ISI

 

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN

i

KATA PENGANTAR

 

ii

UCAPAN TERIMA KASIH

iii

DAFTAR ISI

 

iv

DAFTAR GAMBAR

vii

DAFTAR TABEL

viii

BAB 1 PENDAHULUAN

1

1.1.

Latar Belakang

1

1.1.

Tujuan

2

1.2.

Batasan Masalah

3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

4

2.1. Biologi Udang Vaname

4

 

2.1.1.

Klasifikasi dan Morfologi

4

2.1.1.

Habitat dan Penyebaran

5

2.1.2.

Siklus Hidup dan Reproduksi

5

2.1.3.

Pakan dan Kebiasaan Makan

6

2.1.4.

Pergantian Kulit (Molting)

7

2.1.5.

Perkawinan

8

2.1.6.

Maturasi

8

2.1.7.

Pemijahan dan Penetasan Telur

9

2.2. Pemilihan Lokasi Hatchery

10

2.3. Penyediaan Air Pemeliharaan

11

2.4. Pengelolaan Induk

12

 

2.4.1. Wadah Pemeliharaan Induk

12

2.4.2. Pengangkutan dan Aklimatisasi Induk

13

2.4.3. Manajemen Pemberian Pakan Induk

14

2.4.4. Manajemen Kualitas Air Pemeliharaan Induk

15

v

2.5.1. Persiapan Wadah Pemeliharaan Larva

15

2.5.2. Penebaran Nauplii

17

2.5.3. Pengelolaan Pakan

17

2.5.4. Perkembangan Larva

18

2.5.5. Kualitas Air

20

2.5.6. Hama dan Penyakit

22

2.5.7. Pencegahan Hama dan Penyakit

22

2.6. Kultur Pakan Alami

23

2.6.1. Kultur Fitoplankton

23

2.6.2. Penetasan Artemia

27

2.7. Panen dan Transportasi Benur

29

2.8. Analisa Usaha

30

2.8.1. Perkiraan Laba Rugi

31

2.8.2. Aliran Kas

31

2.8.3. Analisa Investasi

31

2.8.4. Break Even Point (BEP)

33

BAB 3 METODOLOGI

34

3.1. Waktu dan Tempat Praktek Integrasi

34

3.2. Alat dan Bahan

34

3.2.1. Alat

34

3.2.2. Bahan

35

3.3. Metode Kerja

36

3.3.1. Metode Pengumpulan Data

36

3.3.2. Metode Analisis Data

48

BAB 4 KEADAAN UMUM LOKASI

51

4.1. Lokasi

51

4.2. Sumber Daya Manusia dan Struktur Organisasi

52

4.3. Kapasitas Produksi dan Wilayah Pemasaran

53

4.4. Fasilitas

53

4.4.1. Maturation and Nauplii Production Departement (MNPD) 54

4.4.2. Fry Production Departement (FPD)

55

4.4.3. Departemen Pengelola Air (Water Departement)

55

4.4.4. Biofeed Departement

56

vi

4.5. Sumber Tenaga Listrik

57

4.6. Alur Produksi

57

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

59

5.1. Penyediaan Air Pemeliharaan

59

5.2. Pemeliharaan Induk

62

5.2.1. Persiapan Ruangan dan Media Pemeliharaan

62

5.2.2. Pematangan Induk

63

5.3. Produksi Nauplii

66

5.3.1. Persiapan Bak dan Media Penetasan

66

5.3.2. Pemilihan Induk Mating dan Penetasan Telur

67

5.3.3. Penampungan Nauplii

71

5.3.4. Sampling Kualitas dan Kuantitas Nauplii

73

5.3.5. Panen Nauplii dan Transportasi Nauplii

75

5.4. Produksi Benur

76

5.4.1. Persiapan Bak dan Media Pemeliharaan

76

5.4.2. Penebaran Nauplii

77

5.4.3. Pengamatan Perkembangan dan Kesehatan Larva

77

5.4.4. Pemberian Pakan

78

5.4.5. Manajemen Kualitas Air

80

5.4.6. Panen Benur

82

5.4.7. Pengemasan dan Transportasi Benur

82

5.5. Kultur Pakan Alami

83

5.5.1. Kultur Fitoplankton

84

5.5.2. Penetasan Artemia

85

5.6. Analisa Usaha

86

5.6.1. Perkiraan Laba Rugi

86

5.6.2. Aliran Kas

87

5.6.3. Analisa Investasi

88

5.6.4. Break Even Point (BEP)

91

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

93

6.1. Kesimpulan

93

6.2. Saran

93

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Lokasi PT Central Pertiwi Bahari Breeding Operation

51

Gambar 2. Struktur Organisasi Perusahaan

53

Gambar 3. Ruangan Dalam Maturation and Nauplii Production Departement

55

Gambar 4. Bagan Alur Produksi Perusahaan

58

Gambar 5. Injeksi Kaporit Menggunakan Dosing

60

Gambar 6. Sand Filter I dan II

61

Gambar 7. Penampang Insang pada Induk Mati

65

Gambar 8. Induk Matang dan Mating

68

Gambar 9. Penomoran pada Bak Penetasan

69

Gambar 10. Perbedaan Telur Fertil (a) dan Non Fertil (b)

71

Gambar 11. Penomoran Bak Penampungan Nauplii

72

Gambar 12. Grafik pH Air Bak C25 Selama Pemeliharaan

81

Gambar 13. Grafik Kadar TAN pada Bak C25

81

Gambar 14. Grafik Kadar Amonia pada Bak C25

82

Gambar 15. Pakan Alami yang Digunakan Selama Praktek

83

Gambar 16. Hatching Rate Artemia pada Beberapa Wakru Setelah Kultur

85

Gambar 17. Grafik BEP Produksi dan Harga Benur

91

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Stadia Perkembangan Larva Litopenaeus vannamei

18

Tabel 2. Komposisi Pupuk Kultur Alga Skala Masal

25

Tabel 3. Komposisi Pupuk Alga Skala Intermediate

26

Tabel 4. Komposisi Pupuk Alga Murni (Guilard f/2 Medium)

26

Tabel 5. Alat yang Digunakan Selama Praktek

34

Tabel 6. Daftar Bahan yang Digunakan Selama Praktek

35

Tabel 7. Klasifikasi Karyawan Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan

52

Tabel 8. Contoh Pemberian Pakan pada Bak C25

79

Tabel 9. Daftar Bunga dan Angsuran SetiapTahun

86

Tabel 10. Proyeksi Laba Rugi Selama 6 Tahun

87

Tabel 11. Aliran Kas Usaha Selama 6 Tahun

87

Tabel 12. Kas Masuk Bersih dan Akumulasi Kas Bersih

88

1

1.1. Latar Belakang

BAB 1

PENDAHULUAN

Budidaya udang di Indonesia mulai berkembang pesat sejak tahun 1980 –

an. Pada awalnya jenis udang yang dibudidayakan di Indonesia adalah udang

windu (Penaeus monodon) yang merupakan udang asli Indonesia. Namun, karena

serangan virus di tambak sejak tahun 1990 yang dikenal dengan sebutan WSSV

(White Spot Syndrom Virus), produksi udang windu mengalami penurunan. Oleh

karena itu, pada tahun 2001 Menteri Kelautan dan Perikanan mengintroduksi

induk udang vaname (Litopenaeus vannamei) asal Amerika Selatan dan Hawai

untuk meningkatkan kembali produksi udang nasional.

Udang yang habitat aslinya di pantai dan laut Amerika Latin, seperti

Meksiko dan Peurtrico ini telah diimpor oleh berbagai negara di Asia seperti Cina,

Thailand, India, Bangladesh, Malaysia, dan Vietnam. Daya tariknya terletak pada

ketahanannya terhadap penyakit dan tingkat produktifitas yang dapat dicapai.

Udang ini memiliki beberapa keunggulan

antara lain dalam hal kebutuhan

kandungan protein yang relatif rendah, tumbuh cepat, toleran terhadap suhu air

dan oksigen terlarut yang relatif rendah, dan mampu memanfaatkan seluruh

kolom air dibanding udang windu. Selain itu, udang ini dapat matang gonad di

tambak (Cholik dkk, 2005).

Udang termasuk komoditas utama selain rumput laut yang diprogramkan

dalam revitalisasi perikanan budidaya nasional. Teknologi budidaya udang telah

banyak dikuasai dan berkembang dalam masyarakat. Peluang pasar udang untuk

2

ekspor serta serapan pasar luar negeri tinggi. Akan tetapi, potensi serapan pasar

dalam negeri belum terkelola dengan maksimal.

Semenjak budidaya udang vaname mendapat legalitas dari pemerintah,

kebutuhan induk vaname dalam negeri pun mengalami peningkatan. Hal ini untuk

memenuhi

kebutuhan

benur

yang

terus

menerus

meningkat.

Benur

yang

diharapkan di pasar adalah benur yang berkualitas sehingga dapat menghasilkan

udang

yang

berkualitas

juga.

Dalam

memproduksi

benur

yang

berkualitas

diperlukan menajemen dan pengelolaan induk yang baik dari segi genetik, nutrisi,

maupun lingkungan hidupnya. Melalui kegiatan pembenihan yang baik dan sesuai

dengan kaidah yang ditetapkan, diharapkan dapat menghasilkan benur yang baik

sesuai dengan permintaan pasar.

Seluruh usaha pembenihan tidak lepas dari persoalan biaya. Suatu usaha

tidak akan terlaksana apabila tidak ada sumber biaya yang mencukupi. Sehingga

sebelum melakukan suatu usaha, suatu analisa keuangan sangat dibutuhkan untuk

mengetahui kelayakan usaha tersebut.

Berdasarkan

latar

belakang

di

atas,

maka

penulis

tertarik

untuk

mempelajari teknik dan analisa usaha pembenihan udang vaname. Oleh karena

itu, dalam pelaksanaan praktek integrasi ini penulis mengambil judul “Teknik

dan Analisa Usaha Pembenihan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di

PT Central Pertiwi Bahari Breeding Operation di Desa Suak – Sidomulyo

Lampung Selatan”.

1.1.

Tujuan

a. Mengkaji

penerapan teknik pembenihan udang vaname dari awal sampai

akhir produksi.

3

 

b.

Mempelajari analisa usaha pembenihan udang vaname.

1.2.

Batasan Masalah

Dalam praktek integrasi ini penulis membatasi masalah pada

 

1)

Teknik pembenihan udang vaname yang meliputi pemeliharaan induk,

 

penetasan telur, pemeliharaan larva, pemberian pakan alami dan pakan

buatan, pengamatan kualitas air, serta pemanenan benur.

 

2)

Analisa usaha pembenihan udang vaname yang meliputi proyeksi laba

rugi, aliran kas, payback period, Net Present Value (NPV), Internal Rate

of Return, BC Ratio, dan Break Even Point.

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Biologi Udang Vaname

2.1.1.

Klasifikasi dan Morfologi

Wyban

dan

Sweeney (1991) menggolongkan

klasifikasi sebagai berikut:

Phylum

: Arthropoda

Class

: Crustacea

Subclass

: Malacostraca

Seri

: Eumalacostraca

Superordo

: Eucarida

Ordo

: Decapoda

Subordo

: Dendrobrachiata

Infraordo

: Peneaeidea

Superfamily

: Penaeoidea

Family

: Penaeidae

Genus

: Penaeus

Subgenus

: Litopenaeus

Species

: Litopenaeus vannamei

udang vaname dalam

Udang vaname merupakan kelas krustasea dan termasuk kedalam ordo

dekapoda bersama udang, lobster, dan kepiting. Sesuai dengan namanya, hewan

ini memiliki 10 kaki dan memiliki karapas yang berkembang baik yang menutupi

kepala

dan

dada

yang

menyatu.

Udang

vaname

termasuk

kedalam

famili

penaeidae. Udang penaeid berbeda dengan ordo dekapoda lainnya, karena udang

5

ini menetas pertama kali menjadi stadia nauplius, dan induk betina melepaskan

dan membiarkan telurnya menetas begitu saja dalam air. Udang ini juga memiliki

rostrum yang bergerigi (Wyban dan Sweeney, 1991).

2.1.1. Habitat dan Penyebaran

Litopenaeus vannamei merupakan udang asli yang hidup di pesisir

pasifik Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan yang memiliki perairan

dengan suhu umumnya tetap 20 0 C sepanjang tahun. Udang vaname ini telah

banyak tersebar ke seluruh dunia karena teknik budidaya yang relatif mudah

(Wyban dan Sweeney, 1991).

2.1.2. Siklus Hidup dan Reproduksi

Litopenaeus

vannamei

merupakan

hewan

katadromus,

yaitu

udang

dewasa berada di laut lepas sedangkan larva dan yuana bermigrasi menuju

perairan pantai. Pada habitat aslinya, udang menjadi dewasa secara seksual,

kawin, dan melepaskan telur di laut lepas yang memiliki kedalaman air sekitar 70

meter di perairan Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah pada

suhu 26-28 0 C. Air laut memiliki salinitas sekitar 35 ppt. Telur udang vaname

menetas dan larva berkembang pada perairan ini dan bersifat planktonis. Post

larva udang vaname bergerak menuju perairan pantai dan hidup di dasar perairan

estuari yang dangkal (Wyban dan Sweeney, 1991).

Perairan estuari yang dangkal memiliki parameter kualitas air yang lebih

bervariasi daripada kondisi di perairan laut lepas dan kaya akan nutrisi. Setelah

beberapa

bulan

hidup

di

perairan

estuari,

udang

dewasa

kembali

menuju

lingkungan laut lepas tempat pematangan gonad, perkawinan, dan pelepasan telur

terjadi

menjelaskan

bahwa

setelah

menetas

udang

penaeid

bermetamorfosis

6

melalui tiga stadia utama, yaitu nauplius, zoea, dan mysis. Masing-masing stadia

tersebut dapat dibagi lagi menjadi beberapa sub stadia yang memiliki perbedaan

morfologi nyata dengan transisi yang ditandai dengan molting. Telur udang

vaname menetas menjadi nauplii + 14-16 jam setelah fertilisasi terjadi. Nauplii

berganti kulit satu kali setiap 7 jam. Jumlah pergantian kulit pada stadia nauplius

ini adalah lima kali. Tiga puluh enam jam setelah menetas, nauplii telah melewati

seluruh sub stadianya dan bermetamorfosis menjadi stadia zoea. Udang vaname

umumnya melakukan perjalanan ke lepas pantai untuk melakukan perkawinan.

Proses perkawinan udang vaname meliputi pemindahan spermatophore dari

udang jantan ke udang betina. Peneluran berlangsung pada perairan yang lebih

dalam. Telur yang dilepaskan mengalami fertilisasi secara eksternal di dalam air

(Wyban dan Sweeney, 1991).

2.1.3. Pakan dan Kebiasaan Makan

Udang paneus umumnya cenderung bersifat omnivora maupun pemakan

detritus. Berdasarkan pengujian, diketahui bahwa isi pencernaan udang vaname

terdiri

dari

krustasea

kecil,

amphipoda,

dan

polychaeta.

Udang

vaname

merupakan hewan nocturnal sehingga sepanjang hari hewan ini tinggal pada

substrat dan tidak mencari makan. Kegiatan makan dilakukan malam hari atau

ketika suasana redup (Wyban dan Sweeney,1991).

Udang vaname membutuhkan pakan dengan kandungan protein yang

lebih rendah dibandingkan dengan udang windu. Kandungan protein dalam pakan

udang vaname yang baik adalah 35 %. Sedangkan untuk udang windu, pakan

paling tidak harus memiliki kandungan protein 45 % (Subaidah dan Pramudjo,

7

2008). Pakan yang mengandung ikan dan cumi-cumi akan memacu pertumbuhan

(Wyban dan Sweeney, 1991).

2.1.4. Pergantian Kulit (Molting)

Pertumbuhan pada udang dan semua arthropoda tergantung kepada dua

faktor yaitu frekuensi molting dan kecepatan tumbuh (seberapa tumbuh udang

tersebut setiap telah melakukan molting) karena tubuh udang ditutupi oleh karapas

yang keras. Udang harus melepaskan karapas yang lama dan mengganti dengan

yang baru untuk tumbuh. Selama molting, terjadi keretakan dalam kutikula antara

karapas.

Melalui

bagian

inilah

melepaskan

cangkang

lamanya

chepalothorax

melalui

suatu

dan

abdomen

lecutan

keras

keluar.

Udang

oleh

ekornya.

Cangkang baru tersebut mula-mula lunak namun kemudian mengeras dalam

jangka waktu sesuai dengan ukuran udang. Udang berukuran kecil mengeras

dalam beberapa jam, tetapi udang berukuran besar bisa memakan waktu satu

sampai dua hari. Frekuensi molting juga berhubungan dengan ukuran udang.

Interval waktu molting bertambah seiiring dengan pertambahan ukuran udang.

Molting terjadi setiap 30-40 jam (dalam suhu 28 0 C) pada stadia larva. Benur

berbobot 1-5 gram melakukan molting setiap 4-6 hari tetapi benur yang berbobot

lebih dari 15 gram molting setiap 2 minggu. Kondisi lingkungan dan nutrisi juga

mempengaruhi frekuensi molting. Suhu yang tinggi meningkatkan frekuensi

molting. Penyerapan oksigen oleh tubuh tidak efisien selama molting terjadi.

Udang yang mati ketika molting umumnya mengalami hypoxia. Molting ini

biasanya mengindikasikan tingkat stres udang (Wyban dan Sweeney, 1991).

8

2.1.5. Perkawinan

Yano dkk, 1988 dalam Wyban dan Sweeney (1991) menjelaskan bahwa

perilaku kawin udang vaname umumnya terjadi sesaat sebelum dan sesudah

matahari terbenam. Biasanya perkawinan berlangsung 3 sampai 16 detik dan

dapat dibedakan menjadi 4 tahap yaitu:

1)

Approaching, penjantan mendekati betina dari belakang dengan berenang di

dasar perairan

 

2)

Crawling, pejantan merayap sehingga posisi kepala berada di bawah ekor

betina

3)

Chasing,

pejantan

mengejar

dari

bawah

dan

selalu

mengikuti

setiap

perubahan arah betina. Betina matang telur mengeluarkan pheromon dengan

melepasnya

dalam

air

atau

melalui

kontak

fisik

sehingga

merangsang

pejantan untuk melakukan pengejaran

 

4)

Mating, induk jantan memutar sisi ventralnya ke atas kemudian memegang

induk

betina

dengan

kaki

jalannya.

Posisi

bagian

ventral

yang

saling

berhadapan

ini

berlangsung

1-2

detik

sewaktu

jatan

mengeluarkan

spermatophore yang lengket dari petasmanya. Spermatophore ini dilekatkan

ke thellicum betina setelah proses perkawinan selesai.

2.1.6. Maturasi

Maturasi berarti proses perkembangan telur (oogenesis) dalam ovarium

induk betina. Sistem reproduksi betina Litopenaeus vannamei terdiri dari sepasang

ovari, oviduk, saluran genital, dan sebuah thellicum. Telur (oogonia) diproduksi

secara mitosis oleh jaringan epitelium germinal sepanjang masa subur betina.

Oogonia selanjutnya melakukan meiosis, berdiferensiasi menjadi oocyte, dan

9

kemudian diselimuti oleh sel follicle. Oocyte (telur) yang dihasilkan kemudian

menyerap bahan kuning telur

dari darah induknya melalui sel follicle tersebut.

Komponen utama kuning telur adalah lipoglycoprotein, yang disebut Lipovitellin.

Sumber kuning telur, yang hanya ditemukan pada hemolymph betina matang

gonad, umumnya dipercaya berasal dari hepatopankreas. Organ reproduksi utama

jantan adalah testis, vas deferens, petasma, dan appendix masculina. Sperma

udang tidak memiliki flagel, dengan sebuah nucleus yang kental. Bagian utama

sperma matang adalah kepala, tudung, base, dan spike. Selama melewati vas

deferens sperma bergabung menjadi cairan kental dan terkumpul dalam sebuah

spermatophore berkitin (Wyban dan Sweeney, 1991).

2.1.7. Pemijahan dan Penetasan Telur

Penetasan terjadi setelah induk betina mengeluarkan telur yang sudah

matang. Proses ini umumnya berlangsung selama 2 menit. Induk betina berenang

lambat kedepan, pada bagian tengah kolom air, dan dalam banyak kasus telur

dilepaskan

seluruhnya.

Ketika

telur

dikeluarkan,

induk

betina

langsung

mencampurkan

telur

dengan

sperma

menggunakan

hentakan

kaki

jalannya.

Fertilisasi berlangsung ketika material genetik sperma dan telur bersatu (Wyban

dan Sweeney, 1991).

Sebuah rangkaian proses reaksi sel terjadi ketika sperma melekat pada

permukaan telur sampai dengan penggabungan telur-sperma. Sekitar 20 sel

sperma

melekat

pada

sebuah

sel

telur

tunggal.

Sperma

dan

telur

tersebut

kemudian

mengalami

rangkaian

proses

perubahan

biokimia

yang

akhirnya

menghasilkan gabungan antara telur dan satu sel sperma terentu. Proses ini

10

berlangsung selama 11 menit pada suhu 28 0 C (Clark dkk, 1984 dalam Wyban dan

Sweeney, 1991).

Udang vaname biasanya melepaskan telur pada malam hari, dalam

jangka waktu beberapa jam setelah perkawinan. Perhatian khusus perlu dilakukan

untuk mengontrol reproduksi udang vaname dalam suasana gelap. Udang tersebut

harus dibiarkan sendiri agar perkawinan alami terjadi, tetapi induk betina yang

telah kawin segera ditangkap dan ditransfer menuju bak peneluran (Wyban dan

Sweeney, 1991).

2.2. Pemilihan Lokasi Hatchery

Suyanto dan Panjaitan (1985) menjelaskan bahwa lokasi hatchery yang

baik adalah berada di tepi pantai dengan tujuan untuk memudahkan penyediaan

air laut bagi kegiatan operasional hatchery. Lokasi hatchery juga harus berada

jauh dari pencemaran lingkungan, baik itu pencemaran limbah industri maupun

pencemaran limbah rumah tangga.

Djunaidah

dkk

(2002)

menjelaskan

bahwa

persyaratan

lokasi

unit

pembenihan udang untuk menunjang aspek teknis, ekonomis, dan kekuatan

konstruksi antara lain sebagai berikut:

a. Area pembenihan harus dekat dengan pantai, dengan dasar perairan tidak

berlumpur,

air

laut

jernih

dan

tidak

tercemar,

salinitas

29-34

ppt,

pH 7,5-8,5, alkalinitas 33-60 ppm, bahan organik < 10 ppm.

b. Tanah dasar untuk bangunan harus stabil, untuk menjaga daya tahan

bangunan

c. Letak

strategis,

pemasarannya

mudah

dijangkau

untuk

kelancaran

operasional

dan

11

 

d.

Tersedia sumber tenaga listrik 24 jam, dari PLN atau generator

 

e.

Sumber

air

tawar

cukup,

bersalinitas

maksimal

10

ppt

dan

 

kesadahan 50-500 ppm

 

2.3.

Penyediaan Air Pemeliharaan

 

Air laut yang disediakan dalam hatchery digunakan untuk pemeliharaan

induk, pemeliharaan larva, dan kultur pakan alami. Air laut mengalami proses

filtrasi mekanik yang terdiri dari lapisan pasir dan kerikil yang tersusun dari

ukuran yang semakin kecil ke arah pengeluaran. Penyaringan ini dilakukan untuk

membersihkan air dari kotoran dan organisme laut yang tidak dikehendaki. Unit

filtrasi

bisa

diletakan

terpisah

ataupun

menyatu

dengan

bagian

reservoir.

Reservoir paling tidak harus dapat menampung 30-50% air dari total maksimal

konsumsi air laut per hari (Suyanto dan Panjaitan, 1985).

Moretti dkk (1999) menyatakan bahwa air laut yang digunakan harus

terbebas dari patogen dan polutan. Air laut diolah untuk menghilangkan padatan

terlarut, kontaminan, organisme, dan meningkatkan parameter kualitas air agar

sesuai untuk pertumbuhan biota yang dipelihara. Pengolahan air tersebut meliputi

filtrasi

mekanik,

sterilisasi

ultraviolet,

dan

klorinasi.

Perlakuan

tambahan

dilakukan untuk media pemeliharaan mikroalga.

Perlakuan tersebut adalah

sterilisasi autoclave, sterilisasi uap kering, dan pengkayaan media.

Sterilisasi dilakukan untuk menjamin agar tidak ada mikroorganisme

yang

terbawa

kedalam

media

pemeliharaan.

Metode

sterilisasi

yang

umum

dilakukan adalah dengan menggunakan ultra violet, klorinasi, autoclave, dan

oven. Sinar ultra violet memiliki panjang gelombang 265 nm (gelombang pendek

UV atau UV-C) memiliki efek membunuh kuman yang kuat karena dapat

12

merusak rantai DNA. Sinar ini berasal dari uap lampu merkuri yang dioperasikan

pada

tekanan

tertentu.

Efek

sterilisasi

sinar

UV

ini

tergantung

oleh

daya,

kejernihan air laut yang disterilisasi, jenis dan kuantitas mikroorganisme, derajat

pemurnian yang dibutuhkan, waktu kontak, dan suhu. Intensitas UV sedikitnya 40

mJ/cm 2 dapat membunuh 99% dari semua organisme yang tak diinginkan (Moretti

dkk, 1999).

Metode sterilisasi lainnya adalah klorinasi. Klorin aktif adalah agen

pengoksidasi yang kuat. Tersedia dalam bentuk larutan pemutih (NaOCl) dan

serbuk pemutih (CaOCl 2 ). Persentase klorin aktif pada senyawa kimia tersebut

berturut-turut yaitu 5-15% dan 60-70%. Dosis akhir yang umum digunakan untuk

sterilisasi air laut adalah 5 – 10 ppm berupa klorin aktif. Waktu kontak antara air

dan klorin paling tidak harus mencapai satu jam. Setelah itu semua residu klorin

dinetralisir menggunakan Na-thiosulfat (Na 2 S 2 O 3 ) (Moretti dkk, 1999).

2.4.

Pengelolaan Induk

2.4.1.

Wadah Pemeliharaan Induk

Untuk

memproduksi

nauplii

udang

vaname

dibutuhkan

wadah

pemeliharaan

induk

berupa

bak-bak

yang

digunakan

untuk

wadah

penampungan/karantina, pematangan dan perkawinan, serta bak pemijahan dan

penetasan (Subaidah dan Pramudjo, 2008).

Bak penampungan/karantina berfungsi untuk menampung induk yang

baru datang, diadaptasi, dan dilakukan pengecekkan penyakit. Bentuk bak bulat,

oval, atau empat persegi panjang, bersudut tumpul dengan luas dasar minimal 20

m 2 , dengan ketinggian bak minimal 1 m dan kedalaman air minimal 0,6 m. Warna

dasar bak cerah dan warna dinding bak gelap, atau warna keseluruhannya cerah.

13

Bak dapat terbuat dari semen, fiber glass, atau plastik

2008).

(Subaidah dan Pramudjo,

Subaidah dan Pramudjo (2008) menjelaskan bahwa bak pematangan dan

perkawinan berfungsi untuk pematangan gonad induk. Setelah induk matang

gonad dilakukan perkawinan pada bak yang sama. Bentuk bak bulat, oval, atau

empat persegi panjang, bersudut tumpul dengan luas dasar bak paling tidak 20 m 2 ,

ketinggian bak minimal 1 m. Kedalaman air minimal 0,6 m. Padat tebar pada bak

pematangan adalah 8 ekor/m 2 .

Bak pemijahan dan penetasan berfungsi untuk memijahkan induk yang

telah matang gonad. Bak dapat berbentuk bulat, oval, maupun empat persegi

panjang dengan sudut tumpul. Kedalaman air minimal 0,6 m serta luas dasar bak

minimal 2 m 2 . Bak pemijahan ada yag berfungsi sebagai bak penetasan bila telur

tidak dicuci (Subaidah dan Pramudjo, 2008).

2.4.2. Pengangkutan dan Aklimatisasi Induk

Menurut

Kokarkin

dkk

(1986),

pengangkutan

calon

induk

dapat

dibedakan

menjadi

dua

sistem

yaitu

pengangkutan

sistem

terbuka

dan

pengangkutan sistem tertutup. Sistem pengangkutan ini dipilih berdasarkan jarak

tempuh perjalanan.

Pengangkutan sistem tertutup dapat digunakan untuk lama pengangkutan

yang

lebih

lama

dibandingkan

dengan

pengangkutan

sistem

terbuka.

Pengangkutan

sistem

tertutup

ini

menggunakan

kantong

plastik

tebal

yang

diberikan

air

media

dan

penambahan

oksigen.

Kepadatan

efektif

menurut

Kokarkin dkk (1986) adalah 2 ekor untuk setiap 10 liter media air laut. Lama

pengangkutan yang disarankan adalah 6 jam perjalanan.

14

Menurut Kokarkin dkk (1986), saat aklimatisasi calon induk dapat

diberikan desinfektan yang bersifat bakterisida, fungisida, dan bahan lain yang

dapat mengeliminir penyakit yang bisa terbawa oleh calon induk.

2.4.3. Manajemen Pemberian Pakan Induk

Pakan untuk induk sangat menentukan kesehatan dan kemampuan induk

untuk memproduksi telur. Pakan yang baik akan disukai oleh udang dan tidak

mudah menurunkan kualitas air media pemeliharaan. Pakan segar merupakan

pakan yang paling cocok untuk induk udang. Jenis pakan yang umum digunakan

sebagai pakan induk adalah cumi, kepiting, udang kecil, dan kerang (Kokarkin

dan Sumartono, 1990).

Cumi-cumi disediakan dalam bentuk potongan-potongan beku setelah

sebelumnya dibersihkan dari kulit dan isi perut. Sedangkan kepiting, udang kecil,

dan

kerang

diberikan

dalam

keadaan

baru

dipotong-potong

(segar)

tanpa

pembekuan. Ketepatan penentuan dosis dan frekuensi pemberian pakan induk erat

kaitannya dengan mudah menurunnya kualitas air dan efisiensi dalam penanganan

induk secara ekonomis. Induk udang dalam satu hari rata-rata membutuhkan

pakan sebanyak 5-20% dari berat tubuhnya. Dosis pakan yang terlalu banyak

menyebabkan air mengental, berbuih, dan berwarna keputih-putihan. Frekuensi

pemberian pakan sebanyak 3-5 kali sehari menunjukkan hasil yang memuaskan

pada produktifitas induk (Kokarkin dan Sumartono, 1990).

Wyban dan Sweeney (1991) menjelaskan bahwa pakan induk diberikan

empat kali dalam sehari. Pakan yang digunakan dapat berupa cacing darah dan

cumi

beku.

Cacing

darah

diberikan

setelah

dilelehkan

terlebih

dahulu

dan

dipotong-potong

menjadi

berukuran

panjang

3

inch.

Cumi

beku

15

dipotong-potong seperti dadu dengan ukuran kurang lebih ¼ Inch 3 . Perlakuan

pakan seperti ini dapat mengurangi kekeruhan dalam air. Pemberian pakan

dilakukan dengan cara menebar secara merata di sepanjang dinding bak. Dosis

pakan yang diberikan lebih baik menggunakan metode satiasi daripada dengan

cara menghitung kebutuhan pakan berdasarkan bobot induk.

2.4.4. Manajemen Kualitas Air Pemeliharaan Induk

Air sebagai media hidup induk udang harus mendapat perhatian khusus

karena air merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan

pematangan

gonad,

oleh

karena

itu

dari

segi

kualitas

dan

kuantitas

harus

terpenuhi.

Air

yang

digunakan

harus

betul-betul

bersih

dan

steril.

Sistem

pengaturan air dalam bak pemeliharaan dibuat sirkulasi. Pada sistem pemeliharaan

induk, air media pemeliharaan dipasang pompa sirkulasi ukuran 1 inch dan

dialirkan secara terus-menerus selama pemeliharaan berlangsung, kecuali pada

saat sampling. Untuk menghindari penumpukan kotoran di dasar bak, maka perlu

dibersihkan setiap pagi hari. Suhu air harus selalu dipantau dan diusahakan berada

pada kisaran 27-28 0 C (Djunaidah, 2002).

Pembersihan dasar bak dilakukan dengan cara di sipon. Kegiatan ini

dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan dengan menggunakan selang 1

inch. Selang ukuran ini cukup untuk menyipon sisa molting, udang mati, pakan,

dan lain – lain tanpa mengakibatkan penyumbatan (Wyban dan Sweeney 1991).

2.5.

Pemeliharaan Larva

2.5.1.

Persiapan Wadah Pemeliharaan Larva

Bak pemeliharaan larva dilapisi dengan cat U-poxy berwarna biru muda

dan dilengkapi pipa saluran udara, instalasi air laut, instalasi alga, dan saluran

16

pengeluaran yang dilengkapi saringan sirkulasi dan pipa goyang serta terpal

sebagai

penutup

bak

agar

suhu

stabil

selama

proses

pemeliharaan

larva.

Kemiringan bak 2-5%, hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam pengeringan.

Sistem aerasi pada bak pemeliharaan menggunakan aerasi gantung dengan jarak

antar titik 40 cm dan jarak dari dasar 5 cm agar sisa pakan dan kotoran tidak

teraduk (Subaidah dan Pramudjo, 2008).

Pencucian bak dilakukan dengan menggunakan kaporit 60% sebanyak

100 ppm yang dicampur deterjen 5 ppm dan dilarutkan dalam air tawar pada

wadah berupa ember. Pencucian bak dilakukan dengan menggunakan scoring pad

dan

dibilas

menggunakan

air

tawar,

kemudian

dikeringkan

selama

2

hari.

(Subaidah dan Pramudjo, 2008). Kokarkin dan Sumartono (1990) menerangkan

bahwa pengeringan mutlak dilakukan untuk memutus daur hidup berbagai jenis

penyakit. Sinar matahari diketahui memiliki beraneka ragam gelombang cahaya

dan salah satu di antaranya adalah ultra violet sehingga dapat dikatakan bahwa

sinar matahari merupakan desinfektan alami.

Bak pemeliharaan yang pernah digunakan sebagai wadah pemeliharaan

larva yang terkena penyakit pada siklus sebelumnya direndam dengan air tawar

serta ditambahkan kaporit 60%, dosis 100 ppm, dan PK 1 ppm selama dua hari

kemudian air dibuang dan dicuci menggunakan kaporit 100 ppm (Subaidah dan

Pramudjo, 2008). Lay (1971) dalam Boyd (1988) menjelaskan bahwa PK dapat

mengoksidasi bahan organik dan anorganik serta membunuh bakteri dengan cara

mengurangi kadar COD dan BOD dalam air.

Pengisian air laut ke dalam bak pemeliharaan menggunakan filter bag.

Air

laut

langsung

ditransfer

dari

tandon

yang

sebelumnya

telah

dilakukan

17

penyaringan dengan menggunakan sand filter dan disinari UV dan ditampung

dalam bak tandon tertutup rapat serta dilakukan pemompaan ke tower yang

dilengkapi UV juga untuk dialirkan ke bak-bak pemeliharaan larva (Subaidah dan

Pramudjo, 2008).

2.5.2. Penebaran Nauplii

Menurut Subaidah dan Pramudjo (2008) penebaran nauplii sebaiknya

dilakukan

pada

pagi

atau

sore

hari.

Hal

ini

bertujuan

untuk

menghindari

perubahan suhu yang terlalu tinggi. Aklimatisasi dilakukan sebelum penebaran.

Aklimatisasi dilakukan terutama terhadap suhu dan salinitas selama 30 menit.

Apabila bak penetasan berdekatan dengan bak pemeliharaan, proses pemindahan

dapat dilakukan dengan menggunakan ember plastik (Lim dkk, 1989).

Nauplii yang ditebar adalah nauplii muda (N3-N4) yang bertujuan untuk

menekan gangguan proses metamorfosis sekecil mungkin dari stadia nauplius ke

stadia zoea 1 karena dalam pemeliharan udang vaname sering dikenal istilah zoea

syndrom atau zoea lemah. Elovaara (2001) dalam Subaidah dan Pramudjo (2008)

memberikan keterangan bahwa saat mengalami zoea syndrom, larva kelihatan

lemah dan tubuh kotor sehingga dapat meneyebabkan kematian sampai 90%.

2.5.3. Pengelolaan Pakan

Jenis pakan yang digunakan pada larva udang vaname (Litopenaeus

vannamei) adalah pakan alami dan pakan buatan. Masing-masing pakan tersebut

diberikan dengan jumlah dan frekuensi tertentu sesuai dengan stadia larva. Jenis

pakan alami yang dikultur adalah Chaetoceros ceratos dan Artemia salina.

Pemberian Chaetoseros ceratos dilakukan saat sub stadia zoea 1 sampai mysis 3.

Pemberian artemia dimulai sejak sub stadia mysis 3 sampai dengan PL 10. Pakan

18

buatan juga diberikan pada larva untuk mencegah terjadinya kekurangan pakan

selama pemeliharaan larva (Subaidah dan Pramudjo, 2008).

2.5.4. Perkembangan Larva

Uraian

perkembangan

larva

udang

vaname

dijelaskan dalam Tabel 1. berikut

(Litopenaeus

vannamei)

Tabel 1. Stadia Perkembangan Larva Litopenaeus vannamei

No

Stadia

Karakteristik

1

Nauplius 1

- Panjang tubuh 0,4 mm, tidak termasuk furcal spine

 

- Lebar tubuh 0,2 mm pada bagian terlebar

- Dua ujung furcal spine melengkung ke dalam

- Badan berbentuk cembung (convex)

- Ada 3 terminal setae yang panjang pada exopoda antena ke-2 (3 pada sisi lateral/samping dan 2 pada sisi terminal/ujung)

- Exopoda ini akan menambah setae setiap kali molting, sebagai indikator berubahnya sub stadia

2

Nauplius 2

- Panjang tubuh 0,45 mm

 

- Lebar tubuh 0,2 mm pada bagian terlebar

- Dua ujung furcal spine melengkung ke luar

- Tubuh berbentuk cekung (concave)

- Ada 3 terminal setae pada antena ke-1(1 panjang, 1 sedang, dan 1 pendek)

- Ada 6 setae pada exopoda antena ke-2 (3 panjang pada sisi terminal, dan 1 pendek pada terminal), endopoda

pada antena ke-2 mempunyai 2 terminal setae yang panjang

- Terdapat setula pada setae yang panjang, tetapi setula ini sukar dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran kurang dari 40 x

3

Nauplius 3

- Panjang tubuh 0,49 mm

- Lebar tubuh 0,2 mm pada bagian terlebar

- Dua proses furcal spine masing – masing menjadi 3 spine

- Pada antena ke-1 ada terminal setae (2 panjang dan 1 pendek) serta terdapat bekas segmentasi yang sukar dilihat pada pangkal antena ke-1

- Pada antena ke-2, exopoda memiliki 7 setae (3 panjang lateral, 3 panjang terminal, dan 1 pendek terminal)

- Endopoda pada antena k-2 memiliki 8 terminal setae yang panjang

19

Lanjutan Tabel 1.

No

Stadia

Karakteristik

4

Nauplius 4

- Panjang tubuh 0,55 mm

 

- Lebar tubuh 0,2 mm

- Masing – masing proses memiliki 5 spine

- Exopoda memiliki 8 setae (4 panjang lateral, 2 panjang terminal, 1 sedang, terminal, 1 pendek terminal)

- Segmentasi appendage sudah mulai tampak, meskipun sukar dilihat secara jelas

- Maxila dan maxiliped (bagian dari mulut) juga mulai tampak tetapi sukar dilihat secara jelas

5

Nauplius 5

- Panjang tubuh 0,61 mm

 

- Lebar tubuh 0,2 mm

- Masing – masing proses furcal memiliki 7 spine

- Terdapat perbedaan yang nyata pada setae antara antena ke-1 dan ke-2

- Tubuh lebih ramping

- Swollen (struktur seperti tombol dapat dilihat di pangkal mandibula)

- Dari sisi dorsal batas perkembangan karapas dapat dilihat di bawah kutikula

6

Zoea 1

- Panjang tubuh : + 1mm

 

- Lebar tubuh : 0,49 mm pada bagian terlebar

- Bentuk tubuh: perubahan yang sangat nyata dari N5. Tubuh sudah dapat dibedakan antara chepalothorax dan abdomen dengan mata telanjang

- Mata : sudah ada tetapi tidak berada pada karapas

7

Zoea 2

- Panjang tubuh : + 1,9 mm

 

- Mata : mulai bertangkai, teletak di atas karapas

- Rostrum tampak seperti duri di antara kedua mata

8

Zoea 3

- Panjang tubuh: + 2,7 mm

 

- Biramous uropoda mulai terbentuk

- Duri muncul pada abdominal somites (segmen)

9

Mysis 1

- Panjang tubuh: + 3,4 mm

 

- Bentuk tubuh: bentuk dan struktur tubuh mirip udang

 

dewasa

 

- Pleopoda: pleopoda mulai berkembang pada segmen ke lima abdomen

- Telson dan uropoda mulai terbentuk

10

Mysis 2

- Panjang tubuh : + 4 mm

 

-

Pleopoda mulai tampak memanjang tetapi belum bersegmen

11

Mysis 3

- Panjang tubuh: + 4,4 mm

 

- Pleopoda memanjang dan bersegmen

- Duri dorsal telah tampak pada rostrum

12

PL

- Bentuk sudah seperti udang dewasa

Sumber: Wyban dan Sweeney (1991); Tabb dkk (1972) dalam (Wyban dan Sweeney

(1991)

20

Perubahan

sub

Sweeney, 1991).

2.5.5. Kualitas Air

A. Suhu

stadia

nauplius

masing-masing

7

jam

(Wyban

dan

Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, dan biologi

badan air. Organisme akuatik memiliki kisaran tertentu (batas atas dan batas

bawah)

yang

menjadi

suhu

optimum

untuk

keberlangsungan

hidup

dan

pertumbuhannya. Sebagai contoh, algae dari filum chlorophyta dan diatom akan

tumbuh dengan baik pada kisaran suhu berturut-turut 30-35 0 C dan 20-30 0 C

sedangkan filum Cyanophyta lebih dapat bertoleransi terhadap kisaran suhu yang

lebih tinggi dibandingkan dengan keduanya (Effendi, 2003). Cholik dkk (2005)

menjelaskan

bahwa

suhu

juga

berpengaruh

terhadap

kualitas

dihasilkan oleh induk jantan udang vaname.

B. Salinitas

sperma

yang

Salinitas adalah konsentrasi total ion yang terdapat di perairan (Boyd,

1988 dalam Cholik dkk, 2005). Cholik dkk (2005) juga menambahkan bahwa

salinitas menggambarkan padatan total di dalam air, setelah semua karbonat

dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh klorida,

dan semua bahan organik telah dioksidasi. Salinitas dinyatakan dalam satuan g/kg

atau ppt (part per thausand). Wyban dan Sweeney (1991) menyatakan bahwa

udang vaname hidup pada perairan bersalinitas 35 ppt pada habitat aslinya.

C. Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut merupakan parameter kualitas air paling penting bagi

kehidupan organisme air. Oksigen terlarut dalam air pada konsentrasi tertentu

21

dapat diserap oleh haemosianin dalam pembuluh darah lamella udang akibat

perbedaan tekanan parsial. Oksigen yang diserap kemudian dimanfaatkan dalam

proses metabolisme. Pada konsentrasi oksigen rendah (< 50% konsentrasi jenuh)

tekanan parsial oksigen dalam air tidak cukup tinggi untuk memungkinkan

penetrasi oksigen kedalam lamella sehingga mengakibatkan udang bisa mati

lemas (Ahmad, 1991). Djunaidah dkk (2002) menyebutkan bahwa kadar DO air

yang baik minimal sebanyak 4 ppm.

D. pH

Posseince of Hydrogen (pH) adalah cerminan derajat kemasaman yang

diukur dari jumlah ion hidrogen yang menggunakan rumus umum pH= - log (H + ).

Air murni terdiri dari ion H + dan ion OH - dalam jumlah yang berimbang hingga

pH air murni adalah 7. Semakin banyak ion OH - dalam suatu larutan, maka

semakin rendah konsentrasi ion H + dan semakin tinggi nilai pH, larutan demikian

disebut dengan larutan alkalis. Dalam keadan sebaliknya disebut larutan asam

(Ahmad, 1991).

Nilai pH terletak antara 1-14 dengan angka 7 sebagai nilai netral. Air laut

umumnya bersifat alkalis dengan pH lebih dari 7 karena banyak mengandung

garam bersifat alkalis. pH yang baik bagi udang adalah berada pada kisaran 7-9

(Ahmad, 1991).

E. Amonia

Ahmad (1991) menjelaskan bahwa sumber utama amoniak adalah bahan

organik baik dalam bentuk sisa pakan, kotoran udang, maupun dalam bentuk

plankton dan bahan organik tersuspensi. Pembusukan bahan organik terutama

yang mengandung banyak protein menghasilkan amonium dan amonia. Bila

22

proses lanjutan dari pembusukan (nitrifikasi) tidak berlangsung lancar, maka

terjadi penumpukkan NH 3 yang membahayakan udang.

Perhitungan kadar amonia umumnya bersama sama dengan penghitungan

amonium sebab amonia dan amonium sulit dipisahkan karena selalu dalam

kondisi

kesinambungan.

Hasil

perhitungan

dikenal

dengan

sebutan

Total

Ammonia Nitrogen (TAN). Konsentrasi TAN yang aman adalah < 0,5 ppm,

sementara kandungan amonia sebaiknya < 0,1 ppm (Ahmad, 1991).

Persentase amonia dari TAN dipengaruhi oleh suhu dan pH air. Semakin

tinggi pH dan suhu, maka persentase amonia juga semakin tinggi. Boyd (1979)

dalam Ahmad (1991) memberikan contoh bahwa pada pH 8 dan suhu 26 0 C

persentase NH 3 hanya 5,71%, sedangkan pada pH 9 dan suhu 30 0 C mencapai

44,84%. Proses perubahan NH 4 + menjadi NH 3 dilanjutkan dalam proses nitrifikasi

(Ahmad, 1991).

2.5.6. Hama dan Penyakit

Hama biasanya merupakan jenis organisme yang dapat mengakibatkan

kerugian bagi budidaya. Penyakit pada udang sering dijumpai pada udang berusia

muda, baik periode larva maupun post larva. Proses timbulnya suatu penyakit

sangat bergantung pada keadaan lingkungan. Penyakit pada pembenihan udang

diantaranya adalah

yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan

(Subaidah dan Pramudjo, 2008).

2.5.7. Pencegahan Hama dan Penyakit

parasit

Pengelolaan kesehatan udang adalah kegiatan operasional yang bertujuan

untuk mencegah terjadinya penyakit. Aktifitas pencegahan penyakit hanya dapat

dicapai melalui pengelolaan yang terintegrasi dari mulai penyediaan kualitas

23

lingkungan budidaya yang baik, memberi nutrisi yang cukup dalam hal kualitas

dan kuantitasnya sehingga status kesehatan biota selalu prima, dan menjaga

sanitasi lingkungan. Tanpa memberikan keseimbangan di antara ketiga aspek

tersebut, maka upaya pencegahan tidak dapat dicapai. Hal tersebut terjadi karena

kenyataannya biota selalu hidup bersama patogen yang setiap saat berpotensi

menyebabkan penyakit. Budidaya udang yang menerapkan tenologi sterilisasi

sekalipun tidak mampu untuk mengeliminasi seluruh patogen potensial dari

lingkungan budidaya (Subaidah dan Pramudjo, 2008).

Subaidah dan Pramudjo (2008) menjelaskan pengendalian penyakit melalui proses

skrining induk, pengelolaan kualitas air, dan penggunaan bahan pengendali

penyakit

yang

aman.

Skrining

induk

dilakukan

untuk

mencegah

terjadinya

transmisi penyakit secara vertikal dari induk kepada larva. Pengelolaan kualitas

air

bertujuan

agar

media

pemeliharaan

biota

tetap

optimal

sehingga

dapat

mencegah munculnya penyakit dalam media pemeliharaan. Penggunaan bahan

pengendali penyakit berupa antibiotik dikurangi dan diganti dengan penggunaan

imunostimulan dan aplikasi probiotik.

2.6.

Kultur Pakan Alami

2.6.1.

Kultur Fitoplankton

A. Manajemen Kultur Fitoplankton Murni

Subaidah

dan

Pramudjo

(2008)

menjelaskan

bahwa

dalam

upaya

menyediakan

persediaan

pakan

alami

(alga),

perlu

adanya

manajemen

dan

fasilitas pada suatu tempat laboratorium yang diupayakan agar kultur alga tetap

terjaga kemurniannya. Manajemen alga murni dibagi menjadi 5 tahapan/kategori

yaitu kultur pada media tabung reaksi (20 ml), botol (1 L), karboy (20L),

24

akuarium (100L), dan fiberglass 1 m 3 . Untuk persediaan, alga murni dikultur

dalam media agar ataupun media cair yang dapat disimpan dalam waktu yang

lama pada suhu dingin. Persediaan dalam media cair menggunakan media dalam

tabung reaksi bervolume 10 ml yang diberi pupuk tanpa aerasi, tetapi harus

dilakukan pengadukan setiap hari. Biakan murni ini diletakan pada rak kultur

dengan pencahayaan lampu TL. Stok murni ini dapat disimpan dalam lemari es

dan dapat bertahan sampai satu bulan.

Berhasil

atau

tidaknya

usaha

kultur

murni

berkaitan

erat

dengan

persyaratan-persayaratan teknis yang harus dipenuhi antara lain masalah biologi,

fisika, dan kimia untuk kelangsungan hidup spesies itu sendiri. Namun secara

umum dapat dibuat batasan-batasan umum untuk keberhasilan kultur murni

misalnya

diatom

membutuhkan

unsur

silikat,

(Subaidah dan Pramudjo, 2008).

B. Kultur Semi Masal

sedangkan

alga

hijau

tidak

Kultur skala semi masal dimulai dari volume kultur 100-1000 liter yang

diletakkan di luar laboratorium. Pupuk yang digunakan adalah pupuk teknis. Bibit

yang digunakan berasal dari kultur murni yang sudah mencapai kepadatan 2 juta

sel/ml.

Pemanenan

dilakukan

setelah

5-7

hari

ketika kepadatan

dalam

bak

mencapai 5-7 juta sel/ml (Subaidah dan Pramudjo, 2008).

C. Kegiatan Kultur Masal

Kegiatan ini dilakukan di tempat terbuka dengan volume bak 4 m 3

sampai 30 m 3 . Sinar matahari yang masuk sangat diperlukan untuk proses

fotosintesis. Inokulasi bibit dilakukan sebanyak 20 % dari volume total. Umur

25

kultur masal ini umumnya maksimal 4 hari bersamaan dengan habisnya pupuk di

dalam media kultur alga (Subaidah dan Parmudjo, 2008).

D. Pupuk Kultur Alga

Kelangsungan hidup kultur fitoplankton berkaitan erat dengan terjaganya

suatu kondisi bebas kontaminan yang menjadi penyebab kegagalan kultur baik itu

kontaminan yang berasal dari spesies lain, bakteri, protozoa, maupun jamur.

Untuk itu upaya sterilisasi perlu dilakukan (Subaidah dan Pramudjo, 2008).

Tumbuh pesatnya fitoplankton juga behubungan dengan faktor nutrisi

yang ada di lingkungannya. Secara umum fitoplankton membutuhkan nutrisi yang

tergolong sebagai unsur makro dan mikro. Unsur makro meliputi kebutuhan akan

nitrat dan posfat sebagai dasar nutrien utama disamping unsur – unsur mikro trace

element seperti Fe, Mo, Cu, Zn, dan Co. Vitamin B1, B12, dan biotin merupakan

mikronutrien lain yang juga diperlukan. Faktor kimia yang juga dapat menjadi

fator pembatas adalah salinitas, pH, dan CO 2 (Subaidah dan Pramudjo, 2008).

Komposisi pupuk untuk setiap skala kultur pakan alami fitoplankton bagi

udang vaname dapat dilihat pada Tabel 2. sampai dengan Tabel 4.

Tabel 2. Komposisi Pupuk Kultur Alga Skala Masal

Kandungan

Jumlah

A. KNO 3 Na H 2 PO 4

 

3.750 gram

250 gram

B. Na 2 SiO 3

300 gram

C. FeCl 3 .6H EDTA

2 O

157,5 gram

217,5 gram

Unsur mikro

50 gram

D. Larutan campuran vitamin

50 ml

Ket :

1. Larutan A, B, C, D diencerkan dalam akuades steril 10 liter

2. Bahan kimia yang digunakan adalah bahan teknis

3. Dosis pemakaian 1 ml/liter

Sumber: Subaidah dan Pramudjo (2008)

26

Tabel 3. Komposisi Pupuk Alga Skala Intermediate

Kandungan

Jumlah

A. KNO 3

75

gram

NaH 2 PO 4 .H 2 O

5

gram

B. Na

2 SiO 3 .9H 2 O

30 gram

C. Na 2 EDTA (Na 2 C 10 H 14 O 8 N 2 .H 2 O) FeCl 3 .6H 2 O Unsur mikro

4,36 gram

3,15 gram

1

ml

D. Campuran vitamin

Ket :

5 ml

1. Semua bahan kimia yang digunakan adalah kimia teknis

2. Larutan A,B,C,D masing – masing dilarutkan dalam akuades steril

3. Dosis pemakaian 1 ml/liter

Sumber: Subaidah dan Pramudjo (2008)

Tabel 4. Komposisi Pupuk Alga Murni (Guilard f/2 Medium)

Kandungan

Jumlah

Solution A NaNO 3 NaH 2 PO 4 .H 2 O Solution B Na 2 SiO 3 .9H 2 O Solution C Na 2 EDTA FeCl 3 .6H 2 O Stok E

 

75

gram

5

gram

30 gram

4,36 gram

3,15 gram

1

ml

Lanjutan Tabel 4.

Kandungan

Jumlah

Solution D

Stok F

5 ml

Stok E

CoCl

2

.6H

2 O

10

gram

CoCl

4

.5H

2 O

9,8 gram

MnCl 2 .4H 2 O

180 gram

NaMoO 4 .2H 2 O

6,3 gram

ZnSO 4 .7H 2 O

22

gram

Stok F Thiamin HCl

20

gram

Vit H (Biotin)

0,1 gram

Vit B12

0,1 gram

Ket:

1. Masing – masing solution dan stok dilarutkan dalam akuades

2. Kecuali solution D dan stok F, semua pupuk diautocalve

3. Semua bahan kimia menggunakan bahan Pro Analyse

4. Dosis pemakaian 1 ml/Liter

Sumber: Subaidah dan Pramudjo (2008)

27

2.6.2. Penetasan Artemia

Artemia (brine shrimp) diberikan pada larva sejak sub stadia akhir

zoea 3. Artemia ini tersedia dalam bentuk kista kering yang masih dapat bertahan

berbulan-bulan. Kista artemia akan menetas menjadi artemia ketika kista tersebut

dihidrasi kembali. Seperti halnya udang, artemia juga mangalami molting secara

periodik.

Artemia tumbuh

cepat

sehingga ukuran

atau

umur artemia

harus

disesuaikan dengan ukuran udang agar mudah untuk dimangsa oleh udang. Proses

penetasan artemia meliputi tahapan hidrasi, dekapsulasi, inkubasi, dan pemanenan

(Wyban dan Sweeney 1991).

A.

Hidrasi

Untuk menetaskan telur artemia yang telah kering (kadar air kurang dari

10%) yang embrionya dalam keadaan dorman, perlu melakukan perendaman

terlebih dahulu. Telur-telur artemia yang sedang dalam proses perendaman akan

menyerap sejumlah air hingga tampak menggembung. Apabila kadar airnya baru

mencapai 10-30%, masih belum terjadi metabolisme. Metabolisme mulai terjadi

jika kadar air telah mencapai 30-65%, tetapi metabolisme ini akan berhenti bila

kadar air tidak bertambah lagi. Metabolisme yang aktif akan dimulai apabila kadar

air

melebihi

65%.

Artemia

membutuhkan

kadar

air

sampai

140%

untuk

melangsungkan metabolisme sampai terjadi penetasan (Mudjiman, 1989).

 

Proses

penyerapan

air

kedalam

telur

tersebut

berlangsung

secara

hipoosmotik, yaitu tekanan osmotik di dalam telur lebih rendah dibanding dengan

tekanan osmotik lingkungan luarnya. Proses ini akan berlangsung lebih baik

apabila telur direndam dalam air tawar. Untuk menggembungkan telur kering

menjadi bulat sempurna membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sumber energi untuk

28

melangsungkan metabolisme artemia menggunakan makanan cadangan yang

berupa trehalose yang akan dipecah menjadi glikogen dan gliserol. Glikogen

dapat

menghasilkan

tenaga,

sedangkan

gliserol

osmotik dalam telur (Mudjiman, 1989).

akan

meningkatkan

tekanan

Moretti (1999) menambahkan bahwa tahap hidrasi merupakan tahap

yang penting karena pelepasan korion hanya dapat terjadi ketika kista berbentuk

bulat.

Kapadatan

kista

maksimal

untuk

melakukan

proses

hidrasi

adalah

200 g/liter pada suhu air antara 20-25 0 C. Selama proses hidrasi aerasi diberikan

dengan cukup kuat untuk menjaga kista tetap teraduk. Kista dikumpulkan dengan

menggunakan saringan dan harus langsung dilanjutkan dengan tahap berikutnya

yaitu dekapsulasi.

B.

Inkubasi

Inkubasi dilakukan segera setelah proses hidrasi dan dekapsulasi. Kista

artemia akan bermetabolisme terus sampai dengan cangkangnya pecah. Tahapan

ini

disebut

tahapan

pecah

cangkang

(emergence

I

atau

E-I).

Waktu

yang

dibutuhkan untuk mencapai tahap E-I ini sekitar 15 jam. Pada tahapan ini proses

beralih menjadi hiperosmotik, yaitu tekanan osmotik dalam kista lebih tinggi

dibandingkan lingkungannya. Terjadinya pemecahan cangkang merupakan proses

yang dibantu oleh kegiatan enzim penetasan yang hanya dapat bekerja pada

keadaan pH air lebih dari 8 (Mudjiman, 1989). Moretti dkk (1999) menyarankan

penggunaan NaHCO 3 dengan dosis 1 gram/liter untuk mencapai pH tersebut.

Enzim tersebut keluar bersamaan dengan pecahnya kista dan dapat

membantu proses pemecahan cangkang-cangkang yang lain sehingga proses

penetasan akan lebih baik bila kista berdekatan. Moretti dkk (1999) menyarankan

29

kepadatan kista saat inkubasi adalah 2 gram/liter. Kegiatan enzim penetasan dapat

terhambat

jika

air

(Mudjiman, 1989)

penetasannya

mengandung

ion

besi,

dan

ion

tembaga

Embrio yang masih terbungkus dalam selaput penetasan keluar dari

cangkang saat inkubasi telah berlangsung 17 jam, bentuk visual seperti payung,

maka disebut dengan tingkat payung (emergence II atau E-II). Embrio tersebut

terus tumbuh dan akhirnya menetas menjadi nauplius pada waktu sekitar 19 jam

(Mudjiman, 1989).

C. Pemanenan Artemia

Wyban dan Sweeney (1991) menyebutkan bahwa waktu pemanenan

yang baik adalah ketika inkubasi telah berlangsung selama 17-22 jam. Artemia

akan telah mencapai instar I sebanyak 50% saat inkubasi mencapai 24 jam

sehingga kualitas nutrisi menjadi lebih rendah. Pemanenan dilakukan dengan

mematikan aerasi dan menyinari bagian bawah bak penetasan dengan lampu 60

watt paling tidak selama 30 menit. Nauplii artemia akan mendekati cahaya karena

bersifat fototaksis positif. Selanjutnya artemia ditampung dengan menggunakan

saringan 100 mikron dan dicuci menggunakan air bersih untuk menghilangkan

kotoran dan bakteri. Mudjiman (1989) menambahkan bahwa tujuan pencucian ini

adalah untuk menghilangkan kandungan gliserol yang dapat digunakan oleh

bakteri untuk tumbuh dan berkembang.

2.7. Panen dan Transportasi Benur

Pemanenan benur dilakukan pada saat stadia PL 10 atau ukuran PL telah

mencapai 1 cm dan yang telah memenuhi kriteria-kriteria benur yang siap

dipanen. Pemanenan benur dimulai dengan menurunkan volume air sampai

30

dengan ketinggian air mencapai 30 cm (Subaidah dan Pramudjo, 1999; Djunaidah

dkk,

tanpa

tahun).

Setelah

mencapai

ketinggian

air

tersebut,

pipa

saringan

sirkulasi larva dibuka dan air dari saluran pengeluaran ditampung menggunakan

hapa.

Larva

yang

tertampung

di

dalam

hapa

dipindahkan

ketempat

lain

menggunakan serokan (Subaidah dan Pramudjo, 1999).

Djunaidah dkk (2002) menjelaskan bahwa benur yang berada dalam hapa

diserok dan dimasukkan kedalam tampungan dengan suhu air 24 0 C, setelah

semua benih masuk kedalam bak penampungan bisa dilakukan penakaran dan

pengemasan untuk transportasi.

Untuk perjalanan jarak dekat (< 6 jam) air media transportasi dibuat

dengan suhu 22 0 C. Setiap kantong dengan volume air 8 liter bisa diisi sekitar

5.000 ekor benur dengan volume oksigen bervolume 12 liter. Suhu yang lebih

dingin (17 0 C) dan kepadatan per kantong lebih rendah (3.000 ekor) diterapkan

pada transportasi jarak jauh dengan waktu tempuh lebih dari 6 jam. Proses

pemasukkan

kantong

berisi

benur

kedalam

styrofoam

perlu

dilakukan

agar

kondisi suhu terjaga serta penambahan batu terbungkus plastik juga dilakukan

untuk mempertahankan suhu agar tidak cepat naik (Djunaidah dkk, 2002)

2.8. Analisa Usaha

Tujuan menganalisis aspek keuangan adalah untuk menentukan rencana

investasi

melalui

perhitungan

biaya

dan

manfaat

yang

diharapkan,

dengan

membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan dana,

biaya modal, kemampuan proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalam

waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan dapat berkembang

terus (Umar, 2005).

31

Studi kelayakan terhadap aspek keuangan bertujuan untuk menganalisis

prakiraan aliran kas yang terjadi. Pada umumnya ada empat metode yang biasa

dipertimbangkan untuk penilaian aliran kas dari suatu investasi yaitu paybac

period, net present value, internal rate of return, dan profitability index, serta

analisa break even point (Umar, 2005).

2.8.1. Perkiraan Laba Rugi

Perkiraan laba rugi adalah bagian laporan keuangan sebagai salah satu perangkat

analisis keuangan berbentuk tabel yang memperkirakan seluruh pendapatan dan

seluruh

biaya

beserta

selisihnya

sehingga

dapat

mengetahui

apakah

usaha

mengalami laba atau rugi. Perhitungan laba rugi dilakukan paling tidak sampai

dengan kewajiban kredit selesai. Prakiraan laba rugi umumnya terdiri dari jumlah

produksi, hasil penjualan, nilai sisa, biaya produksi, laba operasi, biaya lain – lain,

laba sebelum bunga, laba sebelum pajak, dan laba bersih.

2.8.2. Aliran Kas

Umar (2005) menjelaskan bahwa perubahan kas (cash flow statement)

disusun untuk menunjukkan perubahan kas selama satu periode tertentu serta

memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukkan dari

mana sumber – sumber kas dan penggunaan – penggunaannya.

2.8.3. Analisa Investasi

Payback period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup

kembali pengeluaran investasi awal dengan menggunakan aliran kas. Perhitungan

payback period adalah dengan membandingkan antara nilai invetasi awal dengan

aliran kas masuk nya. Nilai yang dihasilkan memiliki satuan waktu. Selanjutnya

nilai rasio tersebut dibandingkan dengan maximum payback period atau rencana

32

umur usaha (Umar, 2005). Jika payback period < umur usaha, maka dikatakan

investasi dapat diterima.

A. Internal Rate of Return

Metode ini digunakan untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan

nilai dari arus kas yang akan datang, atau penerimaan kas, dengan mengeluarkan

investasi awal. Teknisnya yaitu dengan menggunakan metode coba – coba yaitu,

menghitung nilai sekarang dari suatu arus kas investasi dengan menggunakan

suku bunga yang wajar. Suku bunga ditetapkan sampai dengan nilai sekarang

(present value) = nilai investasi. Kriteria penilaian dilakukan bila IRR yang

didapat lebih besar dari rate of return yang ditentukan, maka investasi dapat

diterima (Umar, 2005).

B. Net Present Value

Umar (2005) mengatakan bahwa NPV adalah selisih antara present value

dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan – penerimaan kas bersih di

masa yang akan datang. Kriteria penilaian NPV adalah sebagai berikut:

NPV > 0, maka usulan usaha diterima

NPV < 0, maka usulan proyek ditolak

NPV = 0, maka dikatakan bahwa nilai usaha tetap walaupun usulan usaha

diterima maupun ditolak.

C. Profitability Indeks atau Benefit Cost Ratio

Pemakaian metode ini adalah dengan menghitung perbandingan antara

nilai sekarang dari rencana penerimaan – penerimaan kas bersih yang akan datang

dari investasi yang telah dilaksanakan. Usaha dikatakan layak apabila Profitability

Index > 1 (Umar, 2005).

33

2.8.4. Break Even Point (BEP)

Analisis pulang pokok atau break even point adalah suatu alat analisis

yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara beberapa variabel di dalam

kegiatan

perusahaan,

seperti

luas

produksi

atau

tingkat

produksi

yang

dilaksanakan, biaya yang dikeluarkan, serta pendapatan yang diterima perusahaan

dari kegiatannya. Biaya operasi merupakan pengeluaran yang ada karena kegiatan

perusahaan. Biaya operasional terbagi menjadi tiga bagian, yaitu biaya tetap,

biaya variabel, dan biaya semi variabel (Umar, 2005).

34