Anda di halaman 1dari 12

Teori Kriminologi

Menjelaskan Kejahatan Dari Perspektif Biologis Dan Psikologis

Menjelaskan Kejahatan Dari Prespektif Sosiologis

Menjelaskan Kejahatan Dari Prespektif Lainnya

I.

Menjelaskan Kejahatan Dari Perspektif Biologis Dan Psikologis Cesare Lombroso (Born Criminal) Enrico Ferri Raffaele Garofalo Charles Buchman Goring Body Types Theories Samuel Yochelson dan Stanton Samenov Mental Disorder Sigmund Freud (Teori Psikoanalisa) Dugdale dan Goddadrd (Personality Traits / Inherited Criminality) Moral Development Theory Social Learning Theory: Albert Bandura (Observation Learning) dan Gerard Petterson (Direct Experience)

Dari Perspektif Biologis

Dari Perspektif Psikologis

Dari Perspektif Biologis 1. Cesare Lombroso 1835-1909 (Born Criminal) Menggabungkan positivisme Aguste Comte (1798-1857), evolusi dari Charles Darwin (1809- 1882) serta banyak pioneer dalam studi tentang hubungan kejahatan dan tubuh manusia. Lombroso menggeserv konsep free will dengan determinisme. Born Criminal (penjahat yang dilahirkan) menyatakan bahwa penjahat adalah suatu bentuk yang lebih rendah dalam kehidupan, lebih endekati nenek moyang mereka yang mirip kera dalam hal sifat bawaan dan watak dibanding mereka yang bukan penjahat. Atavistic stigmata adalah ciri-ciri fisik dari makhluk pada tahap awal perkembangan, sebelum mereka benar-benar menjadi manusia. Yakni rahang yang besar dan gigi taring yang kuat, telinga yang tidak sesuai ukuran, dahi yang menonjol, tangan yang panjang, dan hidung bengkok. Meskipin dianggap sederhana, namun teori ini memberikan kontribusi yang signifikan bagi penelitian mengenai kejahatan hingga saat ini. 2. Enrico Ferri 1856-1929 Ferri adalah penerus warisan positivisme Lombroso. Ia berpendapat bahwa kejahatan dapat dijelaskan melalui studi pengaruh-pengaruh interaktif diantara faktor-faktor fisik (ras, gografis,temperatur), dan faktor-faktor sosial (umur, jenis kelamin, variabel-variabel psikologis) Kejahatan dapat dikontrol atau diatasi dengan perubahan-perubahan sosial (subsidi perumahan, kontrol kelahiran, kebebasan menikah dan bercerai, fasilitas rekreasi, dll)

Mengklasifikasikan lima kelompok penjahat: a. The born criminal atau insective criminal b. The insane criminal (secara klinis diidentifikasi sebagai sakit mental) c. The passion criminals (melakukan kejahatan sebagai akibat problem mental atau keadaan emosional yang panjang dan kronis) d. The occasional criminals (merupakan produk dari kondisi-kondisi kluarga dan sosial lebih dari problem fisik atau mental yang abnornal) e. The habitual criminals (memperoleh kebiasaan dari lingkungan sosial) 3. Raffaele Garofalo 1852-1934 (moral anomalies) Garofalo juga termasuk positivisme Lombroso. Moral anomalies theory (teori keganjilan-keganjilan moral) menyatakan bahwa kejahata-kejahatan alamiah (natural crimes) dite,ukan di seluruh masyarakat manusia, tidak perduli pandangan pembuat hukum, dan tidak ada masyarakat yang beradab dapat mengabaikannya. Probity / kejujuran (menghargai hak milik orang lain) dan piety (sentiment of revulsion against the vountary infliction of suffering on others). Mebbagi penjahat dalam lima kategori: a. Pembunuh b. Penjahat dalam kejahatan kekerasan c. Pencuri d. Penjahat seksual 4. Charles Buchman Goring 1870-1919 Goring mnolak klaim bahwa stigmata tertentu mengidentifikasi penjahat. Menurutnya kondisi fisik yang kurang ditambah keadaan mental yang cacat (tidak sempurna) merupakan faktor-faktor penentu dalam kepribadian kriminal. 5. Body Types Theories
Ernst Kretchmer

Ernest A. Hooten

William H. Sheldon Body Types Theories Sheldon Glueck dan Eleanor Glueck Disfungsi Otak Dan Learning Disabilities Kriminalitas Dan Faktor Genetika

Twin Stidies

Adoption Studies

The XXY Syndrome

Body Types Theories (Teori-Teori Tipe Fisik) a. Ernst Kretchmer 1888-1964 Mengidentifikasi empat tipe fisik: Asthenic: Kurus, bertubuh ramping, berbahu kecil. Athletic: Menengah tinggi, kuat, berotot, bertulang kasar. Pyknic: Tinggi sedang, figure yang tegap, leher besar, wajah luas. Beberapa tipe campuran, tidak terklasifikasi. Kemudian ia menghubungkan tipe-tipe fisik tersebut dengan variasi-variasi ketidakteraturan fisik: pyknics berhubungan dengan depresi, athletic dan asthenic dengan schziophrenia, dll b. Ernest A. Hooten 1887-1954 Menurutnya para penjahat berbeda secara inferior dibanding anggotaanggota masyarakat lainnya dalam hampir semua ukuran tubuh/fisik mereka. in every population there are hereditary inferiors in mind and in body as well as physical and mental deficients ... Our information definitely proves that is from the physically inferior element of the population that native born criminals from native perentage are mainly derived c. William H. Sheldon 1898-1977 Memformulasikan sendiri kelompok somatotypes: The endomorph (memiliki tubuh gemuk) The mesomorph (berotot dan bertubuh atletis) The ectomorph (tinggi, kurus, fisik yang rapuh) d. Sheldon Glueck 1896-1980 dan Eleanor Glueck 1898-1972 Pria delinquent didapati memiliki wajah yang lebih sempit (kecil), dada yang lebih lebar, pinggang yang lebih besar dan luas, lengan bawah dan lengan atas yang lebih besar dibandingkan non-delinquent. e. Disfungsi otak dan learning disabilities Delinquent cenderung memiliki problem neurologis dibandingkan nondelinquent. Terdapat bukti yang bagus bahwa delinquency berhubungan dengan learning disabilities, yaitu kerusakan pada fungsi sensori dan motorik yang membawa penampilan menyimpang di ruang kelas, dan yang merupakan hasil dari beberapa kondisi fisik abnormal. Macam larning disabilities: Dyslexia (gagal enguasai skill berbahasa setaraf dengan kemampuan intelektual). Aphasia (suatu problem komunikasi verbal atau masalah dalam memahami pembicaraan orang lain). Hyperactive f. Kriminalitas dan faktor genetika Twin Stidies

Oleh Karl Cristiansen dan Sarnoff A. Mednick menemukan bahwa, pada identical twins jika pasangannya melakukan kejahatan maka 50% pasangannya juga melakukan. Sedangkan pada flaternal twins angka tersebut hanya 20%. Temuan ini mendukung hipotesa bahwa beberapa pengaruh genetika meningkatkan resiko kriminalitas. Adoption Studies Kriminalitas dari orang tua asli (orang tua biologis) memiliki pengaruh lebih besar terhadap anak dibandingkan kriminalitas dari orang tua angkat. The XXY Syndrome Merupakan kesalahan dalam memproduksi sperma atau sel telur menghasilkan abnormalitas genetika. Mereka yang memiliki kromosom XYY cenderung bertubuh tinggi, secara fisik agresif, sering bmelakukan kekerasan.

Dari Perspektif Psikologis 1. Samuel Yochelson dan Stanton Samenov Kejahatan disebabkan oleh konflik internal, tetapi juga para penjahat memiliki pola pikir yang abnornal. Mereka mndapati bahwa penjahat adalah orang yang marah, yang merasa suatu sense superioritas, menyangka tidak bertanggung jawab atas tindakan yang mereka ambil, dan mempunyai harga diri yang sangat melambung. 2. Mental Disorder (kekacauan mental) Psychopathy atau antisocial personality yaitu suatu kepribadian yang ditandai oleh suatu ketidakmampuan belajar dari pengalaman, kurang kehangatan/keramahan, dan tidak merasa bersalah. Para psychopath terlihat memiliki kesehatan mental yang sangat bagus, tetapi apa yang kita saksikan itub sebenarnya hanyalah suatu mask of sanitiy atau topeng kewarasan. 3. Sigmund Freud (Teori Psikoanalisa) Menurutnya kriminalitas merupakan hasil an overactive conscience yang menghasilkan perasaan bersalah yang berlebih. Seseorang melakukan perilaku yang terlarang karena hati nurani, atau superego-nya begitu lemah atau tidak sempurna sehingga ego-nya (yang berperan sebagai suatu penengah antara superego dan id) tidak mampu mengontrol dorongan-dorongan dari id (bagian dari kepribadian yang mengandung keinginan kuat untuk dipuaskan dan dipenuhi). Pendekatan psychoanalytic masih tetap menonjol dalam menjelaskan fungsi nrmal maupun asosial.meski dikritik,tiga prinsip dasarnya menarik kalangan psikolgis yang mempelajari kejahatan,yaitu: 1. Tindakan dan tingkah laku orang dewasa dapat dipahami dengan melihat perkembangan masa kanak-kanak. 2. Tingkah laku dan motif motif bawah sadar adalah jalin-menjalin, dan interaksi itu mesti di uraikan bila kita ingin mengerti kjahatan.

3. Kejahatan pada dasarnya merupakan representasi dari psiklogis. 4. Dugdale dan Goddadrd (Personality Traits / Inherited Criminaliti) Menurut dugdale, kriminalitas merupakan sifat bawaan yang diwariskan melalui gengen. Dalam bukunya, dugale (dan penganut teori lain) menelusuri riwayat atau sejarah keluarga melalui beberapa generasi. Dugdale sendiri lebih dari seribu anggota satu keluarga yang disebutnya jukes. 5. Moral Development Theory Psikolog Lawrence Kohlberg, pioner dari teori perkembangan moral , menemukan bahawa pemikiran moral tumbuh dalam tiga tahap. Pertama, preconventional stage, conventional level, postconventional level. Psikolog John Bowlby mengajukan theory of attachment (teori kasih sayang). Yang terdiri dari tujuh hal penting, yaitu: Specifity Duration Engagement of emotion Ontogeny Learning Organization Biological function 6. Social Learning Theory: Albert Bandura (Observation Learning) dan Gerard Petterson (Direct Experience) Albert Bandura berpendapat bahwa individu-individu mempelajari kekerasan dari agresi melalui behavioral modeling. Melalui observational learning, satu lingkaran kekerasan mungkin telah dialirkan terus-menerus melalui generasi k generasi. Gerard Petterson berpendapat bahwa anak-anak sebagaimana orang dewasa dapat belajar agresif, bahkan kekerasan, melalui trial dan error. Ernest Burgess dan Ronald Akers menggabungkan learning theory dan differential association, menjadi satu teori Differential association-reinforcement. Menurut teori ini, berlangsung terusnya tingkah laku kriminal tergantung pada apakah ia diberi penghargaan atau diberi hukuman.

II.

Teori-Teori Yang Menjelaskan Kejahatan Dari Perspektif Sosiologis

Anomie Kejahatan Dari Perspektif Sosiologis Emile Durkheim Strain Theory

Robert K. Merton

Modes Adoption

Anomie (Emile Durkheim) Anomie: Hancurnya keteraturan sosial sebagai akibat dari hilangnya patokan-patokan dan nilai-nilai. Menurut Durkheim, jika sebuah masyarakat sederhana berkembang menuju satu masyarakat yang modern dan kota maka kedekatan (intimacy) yang dibutuhkan untuk melanjutkan satu set norma-norma umum (a comon set of rules) akan merosot. Strain Theory (Robert K. Merton) Menurut Merton, masalah sesungguhnya tidak diciptakan oleh sudden social (perubahan sosial yang cepat) tetapi oleh social structure (struktur sosial) yang menawarkan tujuantujuan yang sama untuk semua anggotanya tanpa memberi sarana yang merata untuk mencapainya. disparity between goals and means fosters frustation, which leads to starin Modes of Adoption, ada empat mode adaptasi: comformity (menyesuaikan diri), innovation (meyakini sukses itu berharga), retreatism (tertekan oleh harapanharapan sosial yang ditunjukan oleh gaya hidup konventional), dan ribellion (adaptasi orang-orang yang tidak hanya menolak tetapi juga brkeinginan untuk mengubah sistem yang ada).

Cultural Deviance Theories

W.I. Thomas dan Florian Znaniecki Robert Park dan Ernest Burgess Clifford Shaw dan Henry McKay Cultural Deviance Theories Differential Association Theory

Social Disorganization Theory

Edwin H. Sutherland

Subcultural Theories Culture Conflict Theory Albert Cohen

Cultural Dviance Theories Memandang kejahatan sebagai seperangkat nilai-nilai yang khas pada lower class (kelas bawah). 1. Social Disorganization Theory W.I. Thomas dan Florian Znaniecki Norma-norma masyarakat dari suatu masyarakat yang stabil dan homogen tidak ditransmisikan ke dalam lingkungan perkotaan yang anonymous (tanpa nama) dan berorientasi kepada materi. Robert Park dan Ernest Burgess (Natural Urban Areas) Mereka mengembangkan pemikiran tentang natural urban areas, yang terdiri atas zona-zona konsentrasi yang memanjang keluar dari distrik pusat bisnis di tengah kota (downtown contral business district) sampai ke commuter zone di pinggiran kota. Setiap zona memiliki struktur dan organisasinya sendiri, karakteristik serta penghuni yang unik. Clifford Shaw dan Henry McKay (Cultural Transmittion) delinquency was socially learned behavior, transmitted from on generation to the next disorganized urban areas. Inilah yang kemudian dianggap sebagai cultural transmittion. 2. Differential Association Theory Edwin H. Sutherland Mnurutnya, setiap orang mungkin saja melakukan kontak dengan definitions favorable to violation of law atau dengan definitions unfavorable of law. Differential association didasarkan pada sembilan dalil, yaitu: a. Criminal behavior is learned

b. Criminal behavior is learned in interaction with other person in a process of comunication c. The principal part of the learning of criminal behavior occurs within intimate personal groups d. When criminal behavior is learned, the learning includes (a) technique of comitting the crime, which are sometimes very complicated, sometimes very simple and (b) the specific direction of motives, drives, rationalization, and attitudes. e. The specific dirction of motives and drives is learned from definitions of the legal codes as favorable or unfavorable f. A person becomes delinquent because of an excess of definitions favorable to violation of law over definitions unfavorable to violation of law g. Differential association may vary in frequency, duration, priority, and intencity h. The process of learning criminal behavior by association with criminal and anticriminal patterns involves all of the mecanism that are involved in any other larning i. While criminal behavior is an expression of general needs and values, its not explained by those general needs and values, since noncriminal behavior is an expression of the same needs and values 3. Culture Conflict Theory Menurut Thortsen Sellin, conduct norms merupakan aturan-aturan yang merefleksikan sikap-sikap dari kelompok-kelompok yang asing-masing dari kita memilikinya Subcultural Theories Adalah satu subdivisi di dalam budaya dominan yang memiliki norma-norma, keyakinan-keyakinan, dan nilai-nilainya sendiri. System nilai dari bebrapa sub-budaya menurut penggunaan kekerasan secara berlebihan dalam situasi tertentu. Albert Cohen Menurut Cohen, delinquent subculture muncul di daerah-daerah kumuh dari kota-kota besar. Posisi relatif keluarga-keluarga muda dalam struktur sosial menentukan problem-problem yang akan dihadapi anak-anak sepanjang hidupnya.

Control Social
Travis Hirschi Social Bons
Michael Gotfredson dan Travis Hirschi Self-control Theory

Control Social

David Matza Techniques of Netralization

Albert J. Reiss Personal And Social Control

Walter C. Reckless Containment Theory

Travis Hirschi (Social Bons) Empat social bonds yang mendorong socialization dan comformity: 1. Attachment 2. Commitment 3. Involvement 4. Belief Semakin kuat ikatan-ikatan tersebut, semakin kecil kemungkinan terjadi delinquency. Michael Gotfredson dan Travis Hirschi (Self-control Theory) Kontrol mrupakan keadaan intrnal dan permanen dibanding hasil dari perjalanan faktor sosiologis. Jadi self-control merupakan pencegah yang membuat orang menolak kejahatan dan pemuasan sesaat lainnya. David Matza (Techniques of Netralization) Ada lima teknik netralisasi: 1. Denial of responsibility 2. Denial of injury 3. Denial of the victim 4. Condemnation of th condemner 5. Appeal to higher loyalties Albert J. Reiss (Personal And Social Control) Personal control didfinisikan sebagai kemampuan individu untuk menolak memenuhi kebutuhan dengan cara yang berlawanan dengan norma-norma dan aturan-aturan

masyarakat. Social control didefinisikan sebagai kemapuan kelompok-kelompok atau lembaga-lembaga social untuk membuat norma-norma atau aturan-aturannya dipatuhi. Walter C. Reckless (Containment Theory) Adalah untuk menjelaskan mengapa ditengah berbagai dorongan dan tarikan-tarikan kriminologenik yang beraneka macam, apapun itu bentuknya, comformity tetaplah menjadi sikap yang umum.

III.

Teori-Teori Dari Prespektif Lainnya

Coley, Thomas, dan Mead (Social Interaction) Frrank Tannebeum (Dramatization Of Evil) Labeling Theory Edwin Lemert Teori-Teori Dari Prespektif Lainnya Conflict Theories John Braithwaite (Reintegrative Shaming)

Radical (Critical) Criminology

Labeling Theory Memandang para kriminal bukan sebagai orang yang bersifat jahat (evil) yang terlibat dalam perbuatan-perbuatan bersifat salah tetapi mereka adalah individu-individu yang sebelumnya pernah berstatus jahat sebagai pemberian sistem peradilan pidana maupun masyarakat secara luas. Coley, Thomas, dan Mead (Social Interaction) Lebeling memisahkan yang baik dari yang buruk, yang berlaku biasa dengan yang menyimpang. Frrank Tannebeum (Dramatization Of Evil) Menjelaskan satu proses terjadinya kejahatan.brawal dari tindakan yang dianggap menganggu, kemudian menerima suatu label (cap) kriminal, mereka secara bertahap mulai berfikir tentang diri mereka sendiri sebagaimana difinisi yang secara resmi telah diberikan kepada mereka. Edwin Lemert

Lemert membedakan dua jenis tindakan menyimpang, yakni penyimpangan primer dan sekunder. Menurutnya, penyimpangan sekunder terjadi setelah masyarakat menjadi tahu penyimpangan primer si individu. John Braithwaite (Reintegrative Shaming) Shaming: inti dari control sosial. Didefinisikan sebagai semua proses mengekpresikan ketidak setujuan yang memiliki kesengajaan atau pengaruh dari meminta penysalan mndalam pada diri orang yang mendapat malu atau disalahkan pihak lain yang tahu tentang itu. Disintegrative shaming menstigmatisasi dan meniadakan, jadi menciptakan suatu class of outcats. Akibatnya terjadi jurang yang kian jauh dalam kejahatan. Reintergrative Shaming memberi label dan dibarengi dengan community respons yang tujuannya untuk menarik kembali pelaku dengan ketertiban social. Conflict Theories Mempertanyakan eksistensi dari siste itu sendiri. Individu-individu terikat bersama dalam kelompok karena mereka social animals dengan kebutuhan-kebutuhan yang sebaiknya dipenuhi melalui tindakan kolektif (George B. Vold). Konflik dapat bersifat destruktif maupun konstruktif tergantung apakah ia membawa hancurnya struktur sosial atau perubahan positif dalam ketertiban sosial (Ralf Dahrendorf). Radical (Critical) Criminology Hanya ada satu segment yang mendominasi, yaitu the capitalist ruling class, yangb mnggunakan hukum pidana untuk mmaksakan moralitasnya kepada semua orang di luar mereka dengan tujuan untuk melindungi harta kekayaan mereka dan mendefinisikan setiap perbuatan yang mengancam status quo ini sebagai kejahatan.