Anda di halaman 1dari 12

SIMULASI DEGRADASI LIMBAH ORGANIK PADA ALIRAN SUNGAI

Oleh : Kurnia Wijayanti (PTK/04988) Gde Pandhe Wisnu Suyantara (PTK/05951) Retno Sulistyo Dhamar Lestari (PTK/06888)
Deskripsi Masalah Limbah organik (CxHyOz) dibuang di titik tertentu pada sebuah sungai yang mengalir dengan kecepatan konstan (vx). Limbah organik akan bereaksi dengan oksigen (O2) yang terlarut di dalam air menghasilkan CO2 dan H2O serta bahan lain sesuai dengan persamaan reaksi berikut:
Cx HyOz + O2 m i c Cr o 2 + b HO2i Oa + le t c
en zym es

I.

B + A C+ D

Reaksi limbah organik dengan oksigen terlarut merupakan reaksi order satu terhadap limbah.

rB = k BC
Sistem sungai dan udara digambarkan pada gambar 1.

Gambar . Sistem sungai dan udara

Ingin ditentukan bagaimana profil konsentrasi limbah organik sebagai fungsi posisi dan nilai konsentrasi limbah organik yang boleh dibuang ke dalam sungai agar sungai tidak tercemar. Tujuan Tujuan dari simulasi ini adalah :
1. Menentukan perubahan konsentrasi bahan organik di sepanjang aliran sungai. 2. Menentukan posisi konsentrasi oksigen minimum pada aliran sungai. 3. Menentukan konsentrasi limbah maksimum yang boleh dibuang ke badan sungai agar

II.

sungai tidak tercemar.

III. Model Matematis


Asumsi-asumsi yang digunakan pada pembuatan model matematis pada sistem pembuangan limbah ke dalam sungai adalah sebagai berikut :
1. Reaksi terjadi pada fase cair 2. Suhu sungai tetap (Isotermis) 3. Hanya ada reaksi biokimia dan transfer massa oksigen (NA) dengan NA = kcA (CA* - CA)

1. Neraca Massa A (O2) pada elemen volume


I np u O u tp ut re a k s=i a k u m u la si t d N A. A 0 ( rB ) V = (V .C A ) . dt d CA (1) dt d U d CA = dt dt p e rsa m a a n)m e n ja d i (1 : dU k c.U .A k B .CB .V = V . dt k c( C A * C A ) . A k B.C B .V = V . m i sal = C A* C A U

A = x.l V = x.l.h d i m : al = nlea bs au rn g a i =x j a r da akt ri it pi ke m b ul iamn bg a hn h = k e d a lsau mn ga an i dU U = kB.CB k .c dt h (2)

2. Neraca Massa B (limbah organik) pada elemen volume


In p ut O u tp u tre a k s=i a k u m u l a s i d 0 0 ( rB ) .V = ( V .CB ) dt d CB dV +C dt B d t k a r e nV k o n s tam a k p e rs am ate n e b u te n ja:d i a n a a rs m d CB = kBC B dt D e n gakno n dib iat asse b a ga e ri k u t s bi t = 0 CB = CB0 t = t CB = C B kB .CB.V = V

I n t e g pr ea sr si a m e ar a ensbeub ta bg ea ri i k u t t s dC C B = kB d t
B

C l n B = k B .t C B0 CB = CB0 .e( kB .t) (3)

Substitusi persamaan (3) ke (2)


d U kB .t k c = kB.CB.e U dt h d U k c kB.t + U = kB .CB .e d th

(4)

Penyelesaian persamaan (4) dengan solusi umum : U= Uc + Up Fungsi Komplementer (Uc)


dUc kc + Uc = 0 dt h Uc = C1.emt dUc = C1.m.e mt dt k C1.m.emt + A C1.emt = 0 h

Obj108

Penyelesaian khusus Up
d Up k c + U p = k B.CB .e kB .t dt h U p = C2.e k B .t d Up = C2.kB.e kB .t dt kc C2.k B.e k B .t + C2.e k B .t = k B.CB .e kB .t h

kc C2 k B = k B.CB h k .C C2 = B B kc kB h J a d i U p= k B .CB k B .t e kc kB h ...(6)

U = U c + Up U = C1.e kB .CB h + .e k B .t kc kB h In itialcond itio n, = t 0 U = U 0 t


t kA

...( 7)

m akaU 0 = C1 +

k B .C B kc kB h k .C C1 = U 0 B B kc kB h

P e r ( s 7ma ) me: na ja a n d i U(t) =


kc kc kB .CB kB.t h t h t e e + U0.e . . . ( 8 ) k c kB h

Dari persamaan umum mekanika gerak

t=

x = t.vx apab ila iny atak an dap m ak a d terha t, x vx x dt = d ( ) vx un tu k v y an g on stan aka k m x 1 dt = d x vx

U ( x) =

x kc x kc x kB .C B k B .vx h vx e e + U .e h vx 0 kc kB h

...(9 )

Persamaan (8) dan persamaan (9) digunakan untuk mensimulasi konsentrasi oksigen dan limbah di dalam air sungai.

IV.

Simulasi

Nilai-nilai parameter yang digunakan pada simulasi ini adalah : Konsentrasi awal O2 di dalam air, CA0=7,6 mgO2/L Kadar DO minimum untuk air sungai kelas 2 sesuai PP No.82 Tahun 2001, CAm=4 mgO2/L Konsentrasi jenuh O2 di dalam air, CA*=7,6 mgO2/L (30 oC) Konsentrasi limbah awal, CB0=10 mg O2/L dan 30 mg O2/L; Konstanta kecepatan degradasi bahan organik, k=0,15 hari-1

Obj114

Koefisien transfer massa O2 dari udara ke air, (Thibodeaux,1987) dengan =1,07;=1;=0,5 dan h merupakan kedalaman sungai yang nilainya dipilih 0.5 dan 5 m Kecepatan linier aliran sungai, vx=0,1 m/s dan 10 m/s

V.

Hasil Simulasi dan Pembahasan

Variasi dilakukan terhadap tiga variabel yaitu konsentrasi limbah awal (CB0), kecepatan aliran sungai (vx) dan kedalaman sungai (h). Hasil simulasi berupa waktu (tmin) ketika konsentrasi O2 minimum (CAmin) dan konsentrasi limbah yang diijinkan dibuang ke sungai pada kondisi simulasi yang ditampilkan pada daftar 1 sementara hasil uji dengan menggunakan analisis varian (ANOVA) diberikan pada gambar 2. Daftar . Hasil simulasi No
1 2

Kondisi simulasi CB0, vx, mgO2/L m/s


10 10 0.1 0.1

h, m
0.5 5

kc, 1/s

tmin, hari

CAmin hitungan, mgO2/L


3.9373 1.7446

CAmin standar, mgO2/L


4 4

CB0 yang diijinkan, mgO2/L


9.8289 6.1482

0.15 6.637 13 5 0.04 11.18

3 4 5 6 7 8

10 10 30 30 30 30

1 1 0.1 0.1 1 1

0.5 5 0.5 5 0.5 5

79 1.51 32 0.47 85 0.15 13 0.04 79 1.51 32 0.47 85

5 1.695 5 3.531 2 6.637 5 11.18 5 1.695 5 3.531 2

6.8313 5.7543 -3.388 -9.9662 5.294 2.063

4 4 4 4 4 4

46.8342 19.505 9.8289 6.1482 46.8342 19.505

Dari daftar 1 dapat dilihat bagaimana pengaruh dari masing-masing variabel yaitu konsentrasi limbah awal (CB0), kecepatan aliran sungai (vx), dan kedalaman sungai terhadap konsentrasi O2 minimum (CAmin) di dalam sungai. Selain itu, dapat pula diamati nilai konsentrasi limbah yang diijinkan dibuang ke lingkungan untuk setiap kondisi yang disimulasikan. Meningkatnya konsentrasi limbah yang dibuang menyebabkan CAmin semakin rendah (simulasi no. 1 dan 5 serta gambar 4 dan 5) sehingga air sungai tercemar karena CA min lebih rendah dari CAmin untuk baku mutu air yang diijinkan (4 ppm). Tanda minus pada CAmin disebabkan karena simulasi yang dilakukan tidak dilengkapi dengan batas jika konsentrasi oksigen mencapai 0. Debit sungai yang semakin tinggi, dalam hal ini direpresentasikan dengan kecepatan aliran sungai, menyebabkan transfer massa oksigen ke dalam air semakin baik sehingga meningkatkan nilai CAmin (simulasi no. 1 dan 3 serta gambar 6 dan 7). Turbulensi yang dihasilkan dari aliran sungai menyebabkan hambatan transfer massa menjadi semakin kecil sehingga oksigen dengan mudah melarut di dalam air sungai. Hal ini dapat dilihat dari semakin besarnya nilai koefisien transfer massa oksigen dari udara ke air yang merupakan invers dari hambatan (simulasi no. 1 dan 3). Sementara itu, konsentrasi oksigen akan semakin rendah dengan bertambahnya kedalaman air sungai (simulasi No. Hal ini berarti proses degradasi limbah organik lebih efektif pada permukaan sungai.

1. Parameter yang berpengaruh

Gambar . Hasil Uji dengan menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) terhadap CAmin Dari hasil uji ANOVA terhadap nilai CAmin, parameter yang sangat berpengaruh adalah kecepatan aliran sungai, kemudian diikuti oleh nilai dari konsentrasi limbah awal dan kedalaman sungai. Selain itu interaksi kuat terjadi antara CB0 dengan vx sedangkan interaksi CB0 dengan h dan h dan vx terhadap nilai CAmin tidak sekuat pada interaksi CB0 dengan vx. Hasil uji ANOVA ini menunjukkan bahwa untuk menjaga mutu sungai sesuai dengan standar baku mutu sungai, maka dapat dilakukan dengan membatasi nilai CB0 dan dengan meningkatkan kecepatan aliran air sungai. Hal ini secara teknis dapat dilakukan dengan aerasi air limbah sehingga kadar oksigen di dalam air menjadi cukup tinggi.

Gambar . Hasil Uji dengan menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) terhadap CB0 Secara umum, nilai CB0 yang diijinkan lebih banyak dipengaruhi oleh nilai konstanta transfer massa O2 (kc) dari udara ke air. Hal ini ditunjukkan pada hasil uji ANOVA terhadap nilai CB0 yang diijinkan dibuang ke air sungai pada gambar 3. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa parameter kecepatan aliran (vx) dan kedalaman sungai (h) sangat mempengaruhi nilai CB0 yang diijinkan dibuang ke air sungai. Selain itu interaksi antara h dan vx juga sangat kuat. Semakin besar nilai kc maka semakin tinggi konsentrasi limbah yang boleh dibuang ke sungai. Hasil simulasi menunjukkan nilai CB0 yang diijinkan dibuang ke sungai terbesar adalah sekitar 47 ppm saat kecepatan sungai 1 m/s dan kedalaman sungai 0,5 m.

2. Pengaruh konsentrasi limbah awal (CB0)

Gambar . Profil konsentrasi terhadap waktu pada berbagai nilai CB0 (konsentrasi CxHyOz awal) dengan vx=0.1 m/s, h=0.5 m

Gambar . Profil konsentrasi terhadap panjang sungai pada berbagai nilai CB0 (konsentrasi CxHyOz awal) dengan vx=0.1 m/s, h=0.5 m

3. Pengaruh kecepatan aliran sungai (vx)

Gambar . Profil konsentrasi terhadap waktu pada berbagai nilai vx (kecepatan aliran sungai) dengan CB0=10 mg O2/L, h=0,5 m Pengaruh kecepatan aliran sungai pada gambar 6 dan 7 menunjukkan bahwa dengan meningkatnya kecepatan aliran sungai maka profil konsentrasi oksigen semakin landai. Hal ini berarti bahwa oksigen yang digunakan untuk mereduksi konsentrasi limbah organik cukup kecil karena suplai oksigen dari udara ke air cukup baik. Sementara kecepatan aliran sungai yang semakin tinggi menyebabkan semakin panjangnya jarak yang bisa ditempuh limbah organik untuk mencapai konsentrasi tereduksi yang sama (gambar 8).

Gambar . Profil konsentrasi terhadap panjang sungai pada berbagai nilai vx (kecepatan aliran sungai) dengan CB0=10 mg O2/L, h=0,5 m

4. Pengaruh kedalaman sungai (h)


Pada gambar 8 dan 9 ditunjukkan profil konsentrasi oksigen yang semakin rendah dengan semakin dalamnya sungai untuk nilai CB0 yang tetap. Hal ini berarti kemampuan sungai untuk mereduksi limbah organik semakin rendah dengan semakin meningkatnya kedalaman sungai. Hal ini ditunjukkan profil CB0 yang diijinkan pada gambar 8 dan gambar 9. Semakin dalam sungai, semakin rendah konsentrasi limbah yang boleh dibuang ke sungai agar sungai tidak tercemar.

Gambar . Profil konsentrasi terhadap waktu pada berbagai nilai h (kedalaman sungai) dengan vx=0.1 m/s, CB0=10 mg O2/L

Gambar . Profil konsentrasi terhadap panjang sungai pada berbagai nilai h (kedalaman sungai) dengan vx=0.1 m/s, CB0=10 mg O2/L

VI. Kesimpulan dan saran


Kesimpulan yang dapat diambil dari simulasi ini adalah :
1. Parameter yang berpengaruh terhadap CAmin adalah konsentrasi awal limbah, kecepatan

aliran sungai, dan kedalaman sungai.


2. Untuk meningkatkan suplai oksigen ke dalam air sungai dan meningkatkan kemampuan

sungai untuk mereduksi limbah organik, secara teknis dapat dilakukan dengan meningkatkan kecepatan sungai melalui aerasi.
3. Hanya bagian permukaan sungai yang efektif sebagai tempat untuk mengurangi konsentrasi

limbah.
4. Setelah konsentrasi oksigen mencapai titik minimumnya, konsentrasi oksigen akan

meningkat dan lebih tinggi dari konsentrasi limbah. Apabila konsentrasi oksigen sudah cukup tinggi maka limbah dapat dibuang kembali ke sungai