Anda di halaman 1dari 38

BAB I SKENARIO 3

DIARE
Seorang pasien, perempuan, berusia 37 tahun, datang ke tempat praktik dr. Kaku diantar suaminya karena diare. Tetapi sesampai di tempat praktik, pasien merasa mules dan ingin BAB lagi, dok, maaf saya mau ke belakang dulu, WC nya dimana? dr. Kaku pun agak bingung, sebentar ya bu, mungkin di tetangga ada, ibu bisa langsung ke sebelah aja ya, tetapi sebelum sampai di sebelah sang pasien tidak bisa menahan, sehingga kotorannya bahkan muntahan pasien tersebut berceceran di lantai praktik sang dokter. dr. Kaku terlihat mangkel terhadap pasienny, pasien dan suaminya meminta maaf berkali kali kepada dokter tersebut. Setelah membersihkan memakai kain lab seadanya dr. Kaku melanjutkan menjalankan praktik seperti biasa walaupun aroma di ruang praktik tersebut kurang sedap.

BAB II KATA KUNCI


Pada skenario 3 ini, kami menemukan kata kunci yang akan kami bahas lebih lanjut, kata kunci tersebut antara lain sebagai berikut : 1. Diare 2. BAB 3. Mules 4. Muntah

BAB III IDENTIFIKASI ISTILAH


1. Diare : Apabila penderita buang air mengalami perubahan bentuk dan konsistensi

tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya (3 kali atau lebih dalam 24 jam). Wujud tinja merupakan ukuran yang lebih penting dibanding frekuensi buang air. Meski sering buang air, tapi wujud tinja lunak dan berisi, tidak dapat dikatakan diare. 2. Buang air besar (BAB) makhluk hidup. 3. Muntah 4. Mules : Muntah adalah aktivitas mengeluarkan isi perut melalui mulut : Mules adalah rasa sakit yang dirasakan pada daerah prut yang disebabkan oleh kerja motorik dari saluran pencernaan. : Adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup untuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah padat yang berasal dari pencernaan

BAB IV MINIMAL PROBLEM


Pada skenario 3 ini, kami menemukan problem yang akan kami bahas lebih lanjut, problem tersebut antara lain sebagai berikut : 1. Apa yang menyebabkan diare tersebut? 2. Apa yang menyebabkan penyakit ini timbul ? 3. Penyakit apa saja yang dapat menimbulkan diare ? 4. Pada kasus ini, bagaimana cara diagnosa pastinya ? 5. Bagaimana strategi / prinsip penatalaksanaan pada kasus tersebut ? 6. Tanda-tanda apa saja yang dijelaskan pada pasien dan keluarga untuk merujuk. Dan bagaimana cara menjelaskannya ? 7. Apa yang sebaiknya dijelaskan oleh dokter pada pasien dan keluarga tentang masalah ini ? 8. Dapatkah penyakit ini dicegah ?

BAB V PEMBAHASAN
A. Batasan Dalam laporan ini akan dibahas masalah B. Fisiologi / Patofisiologi/ Patomekanisme Apakah Diare Itu? Diare adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami yang sering dan masih memiliki kandungan air berlebihan. Kondisi ini dapat merupakan gejala dari luka, (fructose, lactose), penyakit dari makanan atau kelebihan dan biasanya disertai sakit perut, dan seringkali enek dan muntah. Ada beberapa kondisi lain yang melibatkan tapi tidak semua gejala diare, dan definisi resmi medis dari diare adalah yang melebihi 200 gram per hari. Hal ini terjadi ketika cairan yang tidak mencukupi diserap oleh "colon". Sebagai bagian dari proses atau karena masukan cairan, tercampur dengan sejumlah besar air. Oleh karena itu makanan yang dicerna terdiri dari cairan sebelum mencapai colon. Colon menyerap air, meninggalkan material yang lain sebagai kotoran yang setengah padat. Bila colon rusak atau "inflame", penyerapan tidak terjadi dan hasilnya adalah kotoran yang berair. Diare kebanyakan disebabkan oleh beberapa infeksi virus tetapi juga seringkali akibat dari racun. Dalam kondisi hidup yang bersih dan dengan makanan mencukupi dan air tersedia, pasien yang sehat biasanya sembuh dari infeksi virus umum dalam beberapa hari dan paling lama satu minggu. Namun untuk individu yang sakit atau kurang gizi, diare dapat menyebabkan yang parah dan dapat mengancam-jiwa bila tanpa perawatan.

Dia juga dapat merupakan gejala dari penyakit yang lebih serius, seperti, atau botulisme dan dapat juga merupakan tanda dari sindrom kronis seperti penyakit Crohn.Dia juga dapat disebabkan oleh konsumsi yang berlebihan, terutama dalam seseorang yang tidak cukup makan. Perawatan untuk diare melibatkan pasien mengkonsumsi sejumlah air yang mencukupi untuk menggantikan yang hilang, lebih baik bila dicampur dengan untuk menyediakan yang dibutuhkan dan sejumlah. Untuk banyak orang, perawatan lebih lanjut dan medikasi resmi tidak dibutuhkan Fisiologi sistem pencernaan Sistem pencernaan (mulai dari mulut sampai anus) berfungsi sebagai berikut :

menerima makanan (Mulut) memecah makanan menjadi zat-zat gizi (Mulut, Tenggorokan, Kerongkongan & Lambung) menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah (Usus) membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna dari tubuh

Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

Mulut, Tenggorokan & Kerongkongan Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.

Gbr: Anatomi Mulut

Lambung Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai, terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus dan antrum. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkonan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :

lendir asam klorida (HCl) prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)

Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung. Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.

Gbr: Anatomi Lambung

Usus Halus Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.

Gbr: Antomi Usus tablet

Pankreas Pankraes merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar :

Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan Pulau pankreas, menghasilkan hormon

Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung. Hati Hati merupakan sebuah organ yang besar dan memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah.

Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zatzat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum. Kandung Empedu & Saluran Empedu Empedu memiliki 2 fungsi penting :

membantu pencernaan dan penyerapan lemak berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel6 darah merah dan kelebihan kolesterol

Usus Besar Usus besar terdiri dari :


Kolon asendens (kanan) Kolon transversum Kolon desendens (kiri) Kolon sigmoid (berhubungan denga6n rektum)

Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.

10

Gbr: Anatomi Usus Besar

Rektum & Anus Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan li6mbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup.

Patofisiologi Diare Istilah diare digunakan jika feses kehilangan konsistensi normalnya yang padat. Hal ini biasanya berhubungan dengan peningkatan beratnya (pada laki-laki>235 g/hari dan perempuan>175g/hari) dan frekuensinya (>2 perhari). Diare dapat memiliki banyak penyebab - Diare osmotic : terjadi akibat asupan sejumlah makanan yang sukar diserap bahkan dalam

11

keadaan normal atau pada malabsorbsi. Termasuk dalam kelompok pertama adalah sorbitol(ada dalam obat bebas gula dan permen serte buah-buahan tertentu), fruktosa (jeruk, lemon, berbagai buah, madu), garam magnesium (antasida, laktasif) serta anion yang sukar diserap seperti sulfat, fosfat atau sitrat. Zat yang tidak diserap bersifat aktif secara osmotic pada usus halus sehingga menarik air ke dalam lumen. Dan hal ini tergambarkan dalam beberapa percobaan. Misalnya, asupan zat yang tidak diserap sebesar 150 mmol dalam 250 mL air akan memulai sekresi air secara osmitik di duodenum sehingga volumenya meningkat hingga 750 mL. Pada malabsorbsi karbohidrat, penurunan absorbsi Na di usus halus bagian atas menyebabkan penyerapan air menjadi berkurang . Aktivitas osmotic dari karbohidrat yang tidak diserap juga menyebabkan sekresi air. Akan tetapi, bakteri di dalam usus besar dapat memetabolisme karbohidrat yang tidak diserap hingga sekitar 80 g/hari menjadi asam organic yang berguna untuk menghasilkan energi, yang bersama-sama dengan air akan diserap di dalam kolon. Hanya gas yang dihasilkan dalam jumlah besar yang akan memberikan bukti terjadinya malabsorbsi karbohidrat. Namun, jika jumlah yang tidak diserap >80 g/hari atau bakteri usus dihancurkan oleh antibiotic , akan terjadi diare. Diare sekretorik : dalam pemahaman yang lebih sempit terjadi jika sekresi Cl di mukosa usus halus diaktifkan. Di dalam sel mukosa , Cl secara sekunder aktif diperkaya oleh pembawa simport Na-K-2Cl basolateral dan disekeresi melalui kanal Cl di dalam lumen. Kanal ini akan lebih sering membuka ketika konsentrasi cAMP intrasel meningkat. cAMP dibentuk dalam jumlah yang lebih besar jika terdapat misal laktasif dan toksin bakteri tertentu (kolera). Toksin kolera menyebabkan diare massif (hingga 1000mL/jan) yang dapat secara cepat mengancam nyawa akibat kehilangan air, K dan HCO3. Pembentukan VIP (vasoactive intestinal peptide) yang berlebihan oleh sel tumor pulau pancreas juga menyebabkan tingginya kadar cAMP di mukosa usus sehingga mengakibatkan diare yang berlebihan dan mengancam nyawa yang biasa disebut dengan kolera pankreatik. Terdapat beberapa alasan mengapa diare terjadi setelah reaksi ileum dan sebagian kolon. Garam empedu, yang normalnya diabsorbsi di ileum, akan mempercepat aliran yang melalui kolon(absorbsi air menurun). Selain itu, garam empedu yang tidak diserap akan dehidroksilasi oleh bakteri dikolon. Metabolit garam empedu yang terbentuk akan merangsang

12

sekresi NaCl dan H2O dikolon. Akhirnya, juga terjadi kekurangan absorbsi aktif Na pada segmen usus yang direseksi.

13

Pencegahan Diare Diare termasuk penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya (self limiting disease). Meskipun demikian, jangan remehkan diare karena dapat mengancam jiwa. Dua pembunuh terbesar anak-anak balita (bawah lima tahun) adalah diare dan radang paru-paru. Penyakit diare dapat ditularkan melalui: Pemakaian botol susu yang tidak bersih Menggunakan sumber air yang tercemar Buang air besar disembarang tempat Pencemaran makanan oleh serangga (lalat, kecoa, dll) atau oleh tangan yang kotor. Faktor kebersihan ternyata ikut andil dalam menyebabkan diare. Mulai dari kebersihan alat makan sampai kebersihan setelah buang air kecil/buang air besar. Semua yang dapat mengenai tangan atau langsung masuk ke dalam mulut harus diawasi. Ada cara yang mudah untuk mencegah terkena diare yaitu mencuci tangan dengan sabun. Kebiasaan sederhana mencuci tangan dengan sabun, jika diterapkan secara luas, akan menyelamatkan lebih dari satu juta orang di seluruh dunia, khususnya balita Tak kalah penting adalah pemberian ASI minimal 6 bulan. Sebab, di dalam ASI terdapat antirotavirus yaitu imunoglobulin. Makanya, anak-anak yang minum ASI eksklusif jarang menderita diare. Selain ASI, imunisasi campak ternyata bisa mencegah diare, tambah dr. Luszy Arijanty, Sp.A. Penyebab utama diare pada orang dewasa adalah bakteri yang mengkontaminasi makan dan minuman, sehingga mencegah diare pada orang dewasa adalah dengan memperhatikan kebersihan makanan dan minuman. Jadi pilihlah makanan yang tetap dalam keadaan baik, saran dr. Ari Fahrial Syam, SP.PD, KGEH, MMB. 1. Suntikan Vaksin Rotavirus Di Indonesia kematian anak mencapai 240.000 orang per tahun. Kematian anak karena diare 50.400 orang. Dari jumlah itu 10.088 anak di antaranya akibat rotavirus. Di Jakarta dan Surabaya sekitar 21-42 persen balita meninggal akibat diare dari rotavirus. Rotavirus ditemukan pertama kali oleh Ruth Bishop (Australia) tahun 1973. Di Indonesia rotavirus ditemukan pada 1976. Rotavirus kemungkinan masuk ke tubuh manusia bukan hanya lewat oral tapi juga melalui saluran pernafasan. Untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus, bisa diberikan vaksin rotavirus per-oral (melalui mulut). Sayangnya di Indonesia, vaksin rotavirus ini belum ada. Namun karena

14

rotavirus generasi awal itu strainnya sama dengan yang di dunia, G1, G2, G3, dan G4, maka vaksin yang sudah ada di negara lain bisa digunakan. Tahun 2005, strain rotavirus di Indonesia berubah menjadi G9. Jenis ini jarang meski sempat ditemukan di India. Saat ini Amerika, hampir di semua negara Eropa, Cina, India, Bangladesh dan Filipina, sudah menggunakan vaksin rotavirus. Bahkan di Filipina dan Amerika vaksinasi rotavirus termasuk diwajibkan. Sementara itu di Indonesia, vaksinasi rotavirus belum ada. Rotavirus diberikan 2-3 kali pada bayi usia 6-8 minggu. Harganya memang masih mahal Rp 300 ribu-500 ribu satu kali vaksin. Jika digunakan massal, bisa lebih murah sebagaimana hepatitis B. Saat ini vaksin rotavirus buatan Merck dan GSK sudah masuk proses izin di BPOM. Apabila disetujui Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan), selanjutnya menyiapkan delapan rumah sakit (enam rumah sakit pendidikan, RSUD Kodya Yogyakarta dan RSUD Purworejo) untuk post marketing surveillens vaksin rotavirus. Vaksin diharap bisa mengurangi diare akibat rotavirus.

Pengobatan Diare Diare adalah peningkatan volume, keenceran atau frekuensi buang air besar. Diare yang disebabkan oleh masalah kesehatan biasanya jumlahnya sangat banyak, bisa mencapai lebih dari 500 gram/hari. Orang yang banyak makan serat sayuran, dalam keadaan normal bisa menghasilkan lebih dari 500 gram, tetapi konsistensinya normal dan tidak cair. Dalam keadaan normal, tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai lebih dari 90%. Diare merupakan suatu gejala, pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Kebanyakan penderita diare hanya perlu menghilangkan penyebabnya, misalnya permen karet diet atau obat-obatan tertentu, untuk menghentikan diare. Kadang-kadang diare menahun akan sembuh jika orang berhenti minum kopi atau minuman cola yang mengandung cafein.Untuk membantu meringankan diare, diberikan obat seperti difenoksilat, codein, paregorik (opium tinctur) atau loperamide.Kadang-kadang, bulking agents yang digunakan pada konstipasi menahun (psillium atau metilselulosa) bisa membantu meringankan diare.Untuk membantu mengeraskan tinja bisa diberikan kaolin, pektin dan

15

attapulgit aktif.Bila diarenya berat sampai menyebabkan dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus. Selama tidak muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan yang mengandung air, gula dan garam.Untuk pemilihan golongan obat diare ini yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter. Uraian obat Diare 1. Racecordil Anti diare yang ideal harus bekerja cepat, tidak menyebabkan konstipasi, mempunyai indeks terapeutik yang tinggi, tidak mempunyai efek buruk terhadap sistem saraf pusat, dan yang tak kalah penting, tidak menyebabkan ketergantungan. Racecordil yang pertama kali dipasarkan di Perancis pada 1993 memenuhi semua syarat ideal tersebut. Berdasarkan uji klinis didapatkan bahwa anti diare ini memberikan hasil klinis yang baik dan dapat ditoleransi oleh tubuh. Produk ini juga merupakan anti diare pertama yang cara kerjanya mengembalikan keseimbangan sistem tubuh dalam mengatur penyebaran air dan elektrolit ke usus. Selain itu, Hidrasec pun mampu menghambat enkephalinase dengan baik. Dengan demikian, efek samping yang ditimbulkannya sangat minimal. 2. Loperamide Loperamide merupakan golongan opioid yang bekerja dengan cara emeperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Obat diare ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Efek samping yang sering dijumpai ialah kolik abdomen, sedangkan toleransi terhadap efek konstipasi jarang sekali terjadi. 3. Nifuroxazide Nifuroxazide adalah senyawa nitrofuran memiliki efek bakterisidal terhadap Escherichia coli, Shigella dysenteriae, Streptococcus, Staphylococcus dan Pseudomonas aeruginosa. Nifuroxazide bekerja lokal pada saluran pencernaan. Aktifitas antimikroba Nifuroxazide lebih besar dari obat anti infeksi intestinal biasa seperti kloroyodokuin. Pada konsentrasi encer (1 : 25.000) Nifuroxazide masih memiliki daya bakterisidal.

16

Obat diare ini diindikasikan untuk dire akut, diare yang disebabkan oleh E. coli & Staphylococcus, kolopatis spesifik dan non spesifik, baik digunakan untuk anak-anak maupun dewasa. Dioctahedral smectite Dioctahedral smectite (DS), suatu aluminosilikat nonsistemik berstruktur filitik, secara in vitro telah terbukti dapat melindungi barrier mukosa usus dan menyerap toksin, bakteri, serta rotavirus. Smectite mengubah sifat fisik mukus lambung dan melawan mukolisis yang diakibatkan oleh bakteri. Zat ini juga dapat memulihkan integritas mukosa usus seperti yang terlihat dari normalisasi rasio laktulose-manitol urin pada anak dengan diare akut. C. Pemeriksaan Fisik Penyakit Identitas Pasien Nama Umur Alamat Jenis Kelamin Anamnesa Keluhan utama Diare : : Ny. Ani : 37 tahun : Jln. Raya jamu no. 12 Surabaya : Perempuan

Riwayat penyakit sekarang : Diare sejak kemaren Diare seperti air, dengan volume yang banyak dan tidak terdapat ampas Diare 10 X/ hari Badan terasa lemas dan pusing disertai mual dan muntah Muntah lebih dari 5X (berupa air) Nyeri perut terasa dihampir seluruh perut dan tidak diketahui fokus nyerinya dimana Demam Menggigil

17

Riwayat penyakit dahulu -

Sebelumnya tidak pernah diare seperti ini Tidak pernah masuk RS (Rumah Sakit)

Riwayat Obat :

Tidak alergi obat sebelumnya

Riwayat penyakit keluarga

Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini. :

Riwayat Sosial-Ekonomi -

Jarang cuci tangan sebelum makan Suka tukar menukar makanan dengan teman sekantor

Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Mentis) Vital Sign Tensi Respiratory rate Suhu : 120/80 (Normal) : 18-20 x/menit (Normal) : Meningkat : Tampak sedang/ agak lemah. Kesadaran CM (Compour

Pemeriksaan Tanda-tanda dehidrasi a. Turgor b. Mata : Normal : Dehidrasi Ringan : Dehidrasi Sedang : Dehidrasi Berat (Normal : 4X/hari) (Cekung : 4-10X/hari) (Kering dan cekung : 10X/hari) (Tampak basah) (Kering)

c. Mulut dan Lidah

: Dehidrasi Ringan : Dehidrasi Sedang

18

: Dehidrasi Berat

(Sangat kering dan bibir pecah-pecah) (Normal) (Lebih cepat dari normal) (Sangat cepat dan dalam) (Normal ) (Sangat cepat) (Sangat cepat/lemah/tidak teraba)

d. Nafas e. Nadi
Kepala/leher Thoraks Abdomen Simetris Nyeri tekan (+) :

: Dehidrasi Ringan : Dehidrasi Sedang : Dehidrasi Berat : Dehidrasi Ringan : Dehidrasi Sedang : Dehidrasi Berat : Dalam batas normal : Dalam batas normal

Pembesaran organ vital (-) Meteorismus ( -) Bising usus meningkat : Akral hangat

Ekstremitas

Pemeriksaa Penunjang

Diagnosa ditegakkan dengan mengisolasi Vibrio cholera dari serogrup O1 atau

O139 dari tinja. Jika fasilitas laboratorium tidak tersedia, Cary Blair media transport dapat digunakan untuk membawa atau menyimpan spesimen apus dubur (Rectal Swab).

Untuk diagnosa klinis presumtif cepat dapat dilakukan dengan mikroskop

medan gelap atau dengan visualisasi mikroskopik dari gerakan vibrio yang tampak seperti shooting stars atau bintang jatuh, dihambat dengan antisera serotipe spesifik yang bebas bahan pengawet. Untuk tujuan epidemiologis, diagnosa presumtif dibuat berdasarkan adanya kenaikan titer antitoksin dan antibodi spesifik yang bermakna. Di daerah non-endemis, organisme yang diisolasi dari kasus indeks yang dicurigai sebaiknya dikonfirmasikan dengan pemeriksaan biokimiawi dan pemeriksaan

19

serologis yang tepat serta dilakukan uji kemampuan organisme untuk memproduksi toksin kolera atau untuk mengetahui adanya gen toksin. Pada saat terjadi wabah, sekali telah dilakukan konfirmasi laboratorium dan uji sensitivitas antibiotik, maka terhadap semua kasus yang lain tidak perlu lagi dilakukan uji laboratorium

20

BAB VI HIPOTESIS AWAL DAN DIFFERENTIAL DIAGNOSIS


A. Diagnosa Awal Diagnosa fisiologisnya adalah Kolera. Sedangkan diagnosa kausalnya adalah Infeksi bakteri vibrio cholerae. B. Diagnosa Banding 1. Amubiasis 2. Apendicitis Akut 3. Diare pelancong (bravellers diare) 4. Disentri basiler 5. Ecolai (Entamoeba coli) 6. Enteritis virus 7. Giardiasis 8. Food Intlerens 9. Lactosa intlerans 10. Gastritis

11.

Iritable Bowel syndrome

12. Jamu pelangsing 13. Minum alkohol berlebihan 14. Keracunan makanan 15. Kethoacidosis diabetic 16. Kolera 17. Colitis kronis 18. Malabsorbsi 19. Pemakaian antibiotika 20. Pemakaian NSAD (Non Steroid Anti Inflamasi)

21

21. Pemakaian laksan berlebihan (obat pencahar) 22. Otitis media pada bayi 23. Hepatitis A 24. Paratyfus 25. Psikologis

BAB VII

22

ANALISIS DARI DIFFERENTIAL DIAGNOSIS


A. GEJALA KLINIS Amobiasis: Diagnosis pasti penderita amobiasis adalah menemukan parasit didalam tinja atau jaringan. Gejala-gejala klinik dari amobiasis tergantung daripada lokalisasi dan beratnya infeksi. Penyakit disentri yang ditimbulkannya hanya dijumpai pada sebagian kecil penderita tanpa gejala dan tanpa disadari merupakan sumber infeksi yang penting yang kita kenal sebagai "carrier", terutama didaerah dingin, yang dapat mengeluarkan berjuta-juta kista sehari. Penderita amobiasis intestinalis sering dijumpai tanpa gejala atau adanya perasaan tidak enak diperut yang samar-samar, dengan adanya konstipasi, lemah dan neurastenia. Infeksi menahun dengan gejala subklinis dan terkadang dengan eksaserbasi kadang-kadang menimbulkan terjadinya kolon yang "irritable" sakit perut berupa kolik yang tidak teratur. Amobiasis yang akut mempunyai masa tunas 1-14 minggu. Dengan adanya sindrom disentri berupa diare yang berdarah dengan mukus atau lendir yang disertai dengan perasaan sakit perut dan tenesmusani yang juga sering disertai dengan adanya demam. Amobiasis yang menahun dengan serangan disentri berulang terdapat nyeri tekan setempat pada abdomen dan terkadang disertai pembesaran hati. Penyakit menahun yang melemahkan ini mengakibatkan menurunnya berat badan Disentri basiler: Shigellosis: Shigella adalah penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. Organisme Shigella menyebabkan disentri basiler dan menghasilkan respons inflamasi pada kolon melalui enterotoksin dan invasi bakteri. Secara klasik, Shigellosis timbul dengan gejala adanya nyeri abdomen, demam, BAB berdarah, dan feses berlendir. Gejala awal terdiri dari demam, nyeri abdomen, dan diare cair tanpa darah, kemudian feses berdarah setelah 3 5 hari kemudian. Lamanya gejala rata-rata pada orang dewasa adalah 7 hari, pada kasus yang lebih parah menetap selama 3 4 minggu. Shigellosis kronis dapat menyerupai kolitis ulseratif, dan status karier kronis dapat terjadi.

23

Manifestasi ekstraintestinal Shigellosis dapat terjadi, termasuk gejala pernapasan, gejala neurologis seperti meningismus, dan Hemolytic Uremic Syndrome. Artritis oligoartikular asimetris dapat terjadi hingga 3 minggu sejak terjadinya disentri. Salmonella Salmonella enteriditis dan Salmonella typhimurium merupakan penyebab utama keracunan makanan. Awal penyakit dengan gejala demam, menggigil, dan diare, diikuti dengan mual, muntah, dan kejang abdomen. Occult blood jarang terjadi. Lamanya berlangsung biasanya kurang dari 7 hari. Pulasan kotoran menunjukkan sel darah merah dan sel darah putih. Kultur darah positip pada 5 10 % pasien kasus dan sering ditemukan pada pasien terinfeksi HIV. Campylobacter jejuni Spesies Campylobakter ditemukan pada manusia C. Jejuni dan C. Fetus, sering ditemukan pada pasien immunocompromised.. Patogenesis dari penyakit toksin dan invasi pada mukosa. Manifestasi klinis infeksi Campylobakter sangat bervariasi, dari asimtomatis sampai sindroma disentri. Masa inkubasi selama 24 -72 jam setelah organisme masuk. Diare dan demam timbul pada 90% pasien, dan nyeri abdomen dan feses berdarah hingga 50-70%. Gejala lain yang mungkin timbul adalah demam, mual, muntah dan malaise. Masa berlangsungnya penyakit ini 7 hari. Traveller diarrhea: Diare ini merupakan diare yang sering diderita oleh wisatawan yang sedang pergi ke suatu daerah.penyebab diare ini pada umumnya adalah E.coli.Bakteri ini menghasilkan enterotoxin yang akan meningkatkan tingkat CAMP usus dalam sel, dan ini menyebabkan peningkatan pengeluaran elektrolit dan air (diare). Karena enterotoxic E. coli strains are noninvasive, they do not cause inflammation or bloody diarrhea. coli adalah jenis non-invasi,

24

mereka tidak menyebabkan peradangan atau diare berdarah. Infection with ETEC can cause profuse watery diarrhea and abdominal cramping. Infeksi ETEC berlebihan dapat menyebabkan diare dan berair Cramping abdominal. Fever, nausea with or without vomiting, chills, loss of appetite, headache, muscle aches and bloating can also occur but are less common. Demam, mual dengan atau tanpa muntah, panas dingin, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, nyeri otot dan bloating juga dapat terjadi namun kurang umum. Kolera: Pada orang yang feacesnya ditemukan bakteri kolera mungkin selama 1-2 minggu belum merasakan keluhan berarti, Tetapi saat terjadinya serangan infeksi maka tiba-tiba terjadi diare dan muntah dengan kondisi cukup serius sebagai serangan akut yang menyebabkan samarnya jenis diare yg dialami. Akan tetapi pada penderita penyakit kolera ada beberapa hal tanda dan gejala yang ditampakkan, antara lain ialah : - Diare yang encer dan berlimpah tanpa didahului oleh rasa mulas atau tenesmus. - Feaces atau kotoran (tinja) yang semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan putih keruh (seperti air cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis, tetapi seperti manis yang menusuk. - Feaces (cairan) yang menyerupai air cucian beras ini bila diendapkan akan mengeluarkan gumpalan-gumpalan putih. Diare terjadi berkali-kali dan dalam jumlah yang cukup banyak.

- Terjadinya muntah setelah didahului dengan diare yang terjadi, penderita tidaklah merasakan mual sebelumnya. Kejang otot perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat.

- Banyaknya cairan yang keluar akan menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan tanda-tandanya seperti ; detak jantung cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung, hypotensi dan lain-lain yang bila tidak segera mendapatkan penangan pengganti cairan tubuh yang hilang dapat mengakibatkan kematian.

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG Amoebiasis:

25

Diagnosis laboratorium dapat dibuat dengan pemeriksaan mikroskopis atau menemukan parasit dalam biakan tinja sering dijumpai Entamoeba histolytica bersama-sama dengan kristal Charcot-Leyden. Diagnosis tidak selalu mudah, maka perlu dilakukan pemeriksaan berulang teristimewa pada kasus menahun. Kegagalan dapat terjadi dengan teknik yang salah, mencari parasit tidak cukup teliti atau sering dikacaukan dengan protozoa lain dan sel-sel artefak. Pemeriksaan tinja dengan sediaan langsung dengan memakai air garam faal, atau lugol, dengan pengecatan trichrom, hematoksilin (sediaan permanen) atau dengan metode konsentrasi. Pada umumnya pada tinja encer akan di jumpai bentuk tropozoit disertai gejala klinik nyata, sedangkan pada tinja padat pada penderita tanpa gejala terutama pada penderita menahun "carrier" akan dijumpai terutama bentuk kista. Pemeriksaan serologis,test haemaglutinasi, test presipitin, pemeriksaan radiologis atau scalhing berperan pada penderita ekstra intestinal amobiasis. Aspirasi abses dapat dilakukan dengan menemukan cairan warna coklat dan pada akhir aspirasi akan ditemukan bentuk tropozoit. Gejala tersebut dapat dibedakan dari gejala penyakit disentri basilaris. Pada disentri basilaris terdapat sindrom disentri dengan diare yang lebih sering, kadang-kadang sampai lebih dari 10 kali sehari, terdapat juga demam dan lekositosis. Diagnosis laboratorium ditegakkan dengan menemukan Entamoeba histolytica bentuk histolytica dalam tinja. Disentri basiler: Shigellosis: Pulasan cairan feses menunjukkan polimorfonuklear dan sel darah merah. Kultur feses dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi dan sensitivitas antibiotik. Salmonella non typoid: Pulasan kotoran menunjukkan sel darah merah dan sel darah putih. Kultur darah positip pada 5 10 % pasien kasus dan sering ditemukan pada pasien terinfeksi HIV. Campylobakter: Pulasan feses menunjukkan lekosit dan sel darah merah. Kultur feses dapat ditemukan adanya kampilobakter. Traveller diarhea:

26

Pemeriksaan laboratorium tidak ada yang spesifik untuk E coli, lekosit feses jarang ditemui, kultur feses negatif dan tidak ada lekositosis. Kolera: Kimia darah terjadi penurunan elektrolit dan cairan dan harus segera digantikan yang sesuai. Kalium dan bikarbonat hilang dalam jumlah yang signifikan, dan penggantian yang tepat harus diperhatikan. Biakan feses dapat ditemukan V.cholerae.

BAB VIII TESIS AKHIR

27

Berdasarkan riwayat penyakit pemeriksaan fisik yang teliti maka dapat ditegakkan diagnosa akhir yaitu : Kolera. Kolera merupakan penyakit infeksi saluran usus bersifat akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae, bakteri ini masuk kedalam tubuh seseorang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bakteri tersebut mengeluarkan enterotoksin (racunnya) pada saluran usus sehingga terjadilah diare (diarrhoea) disertai muntah yang akut dan hebat, akibatnya seseorang dalam waktu hanya beberapa hari kehilangan banyak cairan tubuh dan masuk pada kondisi dehidrasi. Gejala klinis : Diare yang encer dan berlimpah tanpa didahului oleh rasa mulas atau tenesmus. - Feaces atau kotoran (tinja) yang semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan putih keruh (seperti air cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis, tetapi seperti manis yang menusuk. - Feaces (cairan) yang menyerupai air cucian beras ini bila diendapkan akan mengeluarkan gumpalan-gumpalan putih. Diare terjadi berkali-kali dan dalam jumlah yang cukup banyak.

- Terjadinya muntah setelah didahului dengan diare yang terjadi, penderita tidaklah merasakan mual sebelumnya. Kejang otot perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat.

- Banyaknya cairan yang keluar akan menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan tanda-tandanya seperti ; detak jantung cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung, hypotensi dan lain-lain yang bila tidak segera mendapatkan penangan pengganti cairan tubuh yang hilang dapat mengakibatkan kematian.

PATOMEKANISME

Diare Akut Penyebab

28

Protozoa Produksi Toksin

Kuman Enterik NonInvasif Bakteri pada Lumen Usus

Kuman Enterik Entero Invasif Bakteri pada lumen usus Kerusakan dinding kolon dan villi pada Menempel, menembus dan merusak mukosa usus secara langsung juga memproduksi Toksin usus halus

Toksin menempel pada mukosa usus (tapi tidak merusak) Toksin akan meningkatkan cAMP intrasel cAMP akan meningkatkan sekresi Cl-, Na+, HCO3-, dan air

Feses mengandung darah, lendir, kadang lemak (Disentri Amuba)

Kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulcerasi

Feses mengandung lendir dan darah (Disentri Basiler)

Feses cair seperti air cucian beras (Watery RPS : Diarrhea) a. Sejak kemarin = Diare Akut -> Diare Kronis (-) : - malabsorbsi (-) - gastritis (-) - Hepatitis (-) b. frekuensi BAB 10x/hari c. Non periodik d. Tidak Sedang stress= Diare Psikogenik (-)

BAB IX
Pemeriksaan Penunjang: 1. Direct Mikroskopis: Bacill gram negatif/ bentuk koma Diare 2. Kultur: - Medium pengayaan: kaldu selenit & kaldu gram negatif - Medium selektif dan differensial: a. Encer >Diare Akut Darah & > Disentri (-) TSI, Mc Conkey, (-) TCBS

MEKANISME DIAGNOSIS
Riwayat Penyakit Dahulu/Keluarga: Penyerta: a. Riwayat Diabetes a. mual (-) > Ketoasidosis b. muntah Diabetik (-) c. Lemas -> tanda dehidrasi b. tidak ada d. Tenesmus pemakaian NSAID e. Sakit hampir di seluruh perut -> c. Ketidakcocokan Apendicitis akut thd. Lactosa (-) Vibrio cholerae (-)

29

e. Tidak ada b. Ampas (-) 3. Uji Biokimiawi: pemakaian c. Volume -Uji Oksidase (+) laksan/pencahar dalam KOLERA DIARE AKUTd. Tak berbau ETIOLOGI DENGAN jumlah berlebih

Diare sejak kemaren Diare seperti air, dengan volume yang banyak dan tidak terdapat ampas

Anamnesa

Diare 10 X/ hari Badan terasa lemas dan pusing disertai mual dan muntah Muntah lebih dari 5X (berupa air) Nyeri perut terasa dihampir Diare seluruh perut dan tidak 30 nyerinya dimana diketahui fokus

DD: a. Amoebiasis b. Disentri basiler c. Diare pelancong d. Kolera

Keluhan Utama

Demam Menggigil

Riwayat Penyakit Sekarang

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Obat

Sebelumnya tidak pernah diare seperti ini Tidak pernah masuk RS (Rumah Sakit) Tidak alergi obat sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini.

Jarang cuci tangan sebelum makan Suka tukar menukar makanan dengan teman sekantor

Riwayat Sosialekonomi Pemeriksaan Fisik

Vital Sign Tensi Respiratory rate Suhu Kepala/leher : 120/80 (Normal) : 18-20 x/menit (Normal) : Meningkat : Dalam batas normal

31

Thoraks

: Dalam batas normal

Abdomen Simetris

Nyeri tekan (+) Pembesaran organ vital (-) Meteorismus ( -)

Ekstremitas

: akral hangat

BAB X METODE TERAPI


Tujuan Penatalaksanaan Tujuan utama pengobatan adalah mencegah terjadinya dehidrasi pada penderita,selain itu pengobatan ini juga bertujuan untuk menyembuhkan penderita dari infeksi yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholera .Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mandapatkan penaganan segera, yaitu dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal. Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian antibiotik/antimikrobial seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan Vibramicyn. Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi.

32

Pada kondisi tertentu, terutama diwilayah yang terserang wabah penyakit kolera pemberian makanan/cairan dilakukan dengan jalan memasukkan selang dari hidung ke lambung (sonde). Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolang berat tidak dapat diatasi (meninggal dunia), sedangkan sejumlah 1% penderita kolera yang mendapat penanganan kurang adekuat meninggal dunia. (massachusetts medical society, 2007 : Getting Serious about Cholera). A. Prinsip Tindakan Medis Pengobatan spesifik : Ada tiga cara pengobatan bagi penderita Kolera : 1). Terapi rehidrasi agresif. 2). Pemberian antibiotika yang efektif. 3). Pengobatan untuk komplikasi. Dasar dari terapi kolera adalah rehidrasi agresif melalui oral dan intravena yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan cairan dan elektrolit, juga untuk mengganti cairan akibat diare berat yang sedang berlangsung. Antibiotika yang tepat adalah terapi tambahan yang sangat penting terhadap pemberian cairan, karena pemberian antibiotika dapat mengurangi volume dan lamanya diare dan dengan cepat mengurangi ekskresi dari vibrio sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penularan sekunder. Akhirnya pada saat terapi rehidrasi cukup efektif, dan penderita tertolong dari renjatan hipovolemik dan tertolong dari dehidrasi berat, penderita dapat mengalami komplikasi seperti hipoglikemi yang harus di ketahui dan di obati dengan segera. Jika hal diatas dilakukan dengan baik maka angka kematian (CFR) bahkan pada ledakan KLB di negara berkembang dapat ditekan dibawah 1 %. Untuk memperbaiki dehidrasi, asidosis dan hipokalemia pada penderita dengan dehidrasi ringan hingga sedang cukup dengan hanya memberikan larutan rehidrasi oral (Oralit) yang mengandung glukosa 20g/l (atau sukrosa 40 gr/l atau dengan air tajin 50g/L), NaCl (3.5 g/L), KCl (1.5 g/L); dan trisodium sitrat dihidrat (2.9 g/L) atau NaHCO3 (2.5 g/L). Kehilangan cairan pada penderita dengan dehidrasi ringan hingga sedang di perbaiki dengan rehidrasi oral sebagai pengganti cairan, diberikan lebih dari 4 6 jam, agar jumlah yang diberikan dapat mengganti cairan yang diperkirakan hilang (kira-kira 5 % dari berat badan untuk dehidrasi ringan dan 7 % pada dehidrasi sedang). Kehilangan cairan yang berlangsung terus dapat digantikan

33

dengan memberikan, selama lebih dari 4 jam, cairan per oral sebanyak 1.5 kali dari volume tinja yang hilang selama 4 jam sebelumnya. Penderita yang menderita renjatan sebaiknya diberi rehidrasi intra vena cepat dengan larutan multielektrolit seimbang yang mengandung kira-kira 130 mEq/L Na+, 25 - 48 mEq/L bikarbonat, asetat atau ion laktat, dan 10-15 mEq/L K+. Larutan yang sangat bermanfaat antara lain Ringers laktat atau Larutan Pengobatan Diare dari WHO (4 gr NaCl, 1 g KCl, 6.5 gr natrium asetat dan 8 gr glukosa/L) dan Larutan Dacca (5 g NaCL, 4 gr NaHCO3, dan 1 g KCL/L), yang dapat dibuat ditempat pada keadaan darurat. Penggantian cairan awal sebaiknya diberikan 30ml/kg BB pada jam pertama untuk bayi dan pada 30 menit pertama untuk penderita berusia diatas 1 tahun, dan sesudahnya pasien harus di nilai kembali. Sesudah dilakukan koreksi terhadap sistem cairan tubuh yang kolaps, kebanyakan penderita cukup diberikan rehidrasi oral untuk melengkapi penggantian 10 % defisit awal cairan dan untuk mengganti cairan hilang yang sedang berlangsung. Antibiotika yang tepat dapat memperpendek lamanya diare, mengurangi volume larutan rehidrasi yang dibutuhkan dan memperpendek ekskresi vibrio melalui tinja. Orang dewasa diberi tetrasiklin 500 mg 4 kali sehari dan anak anak 12.5 mg/kg 4 kali sehari selama 3 hari. Pada saat Strain V. cholerae yang resisten terhadap tetrasiklin sering ditemukan, maka pengobatan dilakukan dengan pemberian antimikroba alternatif yaitu TMP-SMX (320 mg trimethoprim dan 1600 mg sulfamethoxazol dua kali sehari untuk orang dewasa dan 8 mg/kg trimethoprim dan 40 mg/kg sulfamethoxazol sehari dibagi dalam 2 dosis untuk anak-anak, selama 3 hari); furazolidon (100 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan 1.25 mg/kg 4 kali sehari untuk anak-anak, selama 3 hari); atau eritromisin (250 mg 4 kali sehari untuk orang dewasa dan 10 mg/kg 3 kali sehari untuk anak-anak selama 3 hari). Siprofloksasin, 250 mg sekali sehari selama 3 hari, juga merupakan regimen yang baik untuk orang dewasa. V. cholerae strain O139 resisten terhadap TMP-SMX. Oleh karena ditemukan strain O139 atau O1 yang mungkin resisten terhadap salah satu dari antimikroba ini, maka informasi tentang sensitivitas dari strain lokal terhadap obat-obatan ini perlu diketahui, jika fasilitas untuk itu tersedia, informasi ini digunakan sebagai pedoman pemilihan terapi antibiotika yang tepat. Mekanisme Kerja

34

TMP-SMX(trimethoprim dan sulfamethoxazol),serta eritromisin merupakan obat antibiotik.eritromisin bekerja dengan cara berikatan dengan bagian 50S dan mencegah translokasi ribosom sepanjang mRNA.sedangkan trimethoprin bekerja dengan cara menginhibisi metabolit essensial yaitu inhibisi sintesis asam folat.dengan demikan maka pertumbuhan mikroorganisme akan terhenti. Upaya Suportif yang Direkomendasikan Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik, cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan), hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang. Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan secepatnya mendapatkan pengobatan. Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di sterilisasi, searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas. Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita.

35

BAB XI PROGNOSA DAN KOMPLIKASI

Prognosis Dengan penggantian Cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius hasilnya sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Komplikasi: Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama, terutama pada usia lanjut dan anak-anak. Pada diare akut karena kolera kehilangan cairan secara mendadak sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat. Kehilangan elektrolit melalui feses potensial mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolic. Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis, sehingga syok hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul Tubular Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ. Komplikasi ini dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat sehingga tidak tecapai rehidrasi yang optimal.

36

KEPUSTAKAAN
Burnside, Mc Glynn. 1995. Adams Diagnosis Fisik. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Elizabeth J.Corwin. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Guyton, Arthur C., Hall, John E. 2007. Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Laboratorium Anatomi FK UWKS. 2008. Anatomi 2. Fakultas Kedokteran UWKS : Surabaya. Mansjoer, Arif M. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi Ketiga. Media Aesculapius : Jakarta. Sacher, Ronald A. dan Mc Pherson Richard A. 2007. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium edisi 11. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. www.google.com

37

38