Anda di halaman 1dari 8

Mengenal Al-Qur’an

Oleh: Rikza Maulan, M.Ag

dakwatuna.com - Ketika manusia mencoba


mengupas keagungan Al-Qur’an Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia
harus tunduk mengakui keagungaan dan kebesaran Allah swt. Karena dalam Al-
Qur’an terdapat lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang
tiada dapat dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terpikirkan
dalam jiwa manusia, dan berbagai lautan lainnya yang tidak terbayangkan oleh
indra kita.

Oleh karenanya, mereka-mereka yang telah dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an


sepenuh hati, dapat merasakan ‘getaran keagungan’ yang tiada bandingannya.
Mereka dapat merasakan sebuah keindahan yang tidak terhingga, yang dapat
menjadikan orientasi dunia sebagai sesuatu yang teramat kecil dan sangat kecil
sekali. Sayid Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil Qur’annya mengungkapkan,
“Hidup di bawah naungan Al-Qur’am merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan
yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka yang benar-benar telah
merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa, memberikan
keberkahan dan mensucikannya.”

Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an seperti yang diriwayatkan


oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri (Abu Syahbah, 1996 : I/312), “Bahwa suatu
ketika Abu Jahal, Abu Lahab, dan Akhnas bin Syariq secara sembunyi-sembunyi
mendatangi rumah Rasulullah saw. pada malam hari untuk mendengarkan
lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah saw. dalam shalatnya.
Mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang
lainnya. Hingga ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka
bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela
dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah
saw.

Namun pada malam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan
gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka
bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah
saw., dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika
Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka pun memergoki yang lainnya
di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang kemarin mereka
ucapkan.

Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka benar-benar tidak dapat
dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati
posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan manakala Rasulullah saw. usai
melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya
mereka bertiga membuat mu’ahadah (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali
ke rumah Rasulullah saw. guna mendengarkan Al-Qur’an.

Masing-masing mereka mengakui keindahan Al-Qur’an, namun hawa nafsu


mereka memungkiri kenabian Muhammad saw. Selain contoh di atas terdapat
juga ayat yang mengungkapkan keindahan Al-Qur’an. Allah mengatakan, “Kalau
sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu
akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan
perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka
berpikir.” (Al-Mujadilah: 21)

Definisi Al-Qur’an

Dari segi bahasa, Al-Qur’an berasal dari qara’a, yang berarti menghimpun dan
menyatukan. Sedangkan Qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata
yang satu dengan yang lainnya dengan susunan yang rapih (Al-Qattan, 1995:
20). Mengenai hal ini, Allah berfirman,”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila
Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Al-Qiyamah:
17)

Al-Qur’an juga dapat berarti bacaan, sebagai masdar dari kata qara’a. Dalam arti
seperti ini, Allah swt. mengatakan, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni
bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.” (Fushshilat: 3)

Adapun dari segi istilahnya, Al-Qur’an adalah Kalamullah yang merupakan


mu’jizat yang ditunjukan kepada Nabi Muhammad saw., yang disampaikan
kepada kita secara mutawatir dan dijadikan membacanya sebagai ibadah.

Keterangan dari definisi itu adalah sebagai berikut:

1. Kalam Allah.

Bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah yang Allah ucapkan kepada Rasulullah
saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril as. Firman Allah merupakan kalam
(perkataan), yang tentu saja tetap berbeda dengan kalam manusia, kalam hewan
ataupun kalam para malaikat. Allah berfirman, “Ucapannya itu tiada lain hanyalah
wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 4)

2. Mu’jizat.

Kemu’jizaan Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sudah terbukti dari semejak
zaman Rasulullah saw. hingga zaman kita dan hingga akhir zaman kelak. Dari
segi susunan bahasanya, sejak dahulu hingga kini, Al-Qur’an dijadikan rujukan
oleh para pakar-pakar bahasa. Dari segi isi kandungannya, Al-Qur’an juga sudah
menunjukkan mu’jizat, mencakup bidang ilmu alam, matematika, astronomi
bahkan juga ‘prediksi’ (sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Rum
mengenai bangsa Romawi yang mendapatkan kemenangan setelah kekalahan),
dan sebagainya.

Salah satu bukti bahwa Al-Qur’an itu merupakan mu’jizat adalah bahwa Al-
Qur’an sejak diturunkan senantiasa memberikan tantangan kepada umat
manusia untuk membuat semisal ‘Al-Qur’an tandingan’, jika mereka memiliki
keraguan bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah. Allah swt. berfirman, “Dan
jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan
kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al
Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang
yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak
akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya
manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 23-24)

Bahkan dalam ayat lainnya, Allah menantang mereka-mereka yang ingkar


terhadap Al-Qur’an untuk membuat semisal Al-Qur’an, meskipun mereka
mengumpulkan seluruh umat manusia dan seluruh bangsa jin sekaligus,
“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat
yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang
serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi
sebagian yang lain.” (Al-Isra’: 88)

3. Diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah swt. langsung kepada Rasulullah saw.
melalui perantaraan Malaikat Jibril a.s. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an,
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta
alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu
(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang
memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara: 192-195)

4. Diriwayatkan secara mutawatir.

Setelah Rasulullah saw. mendapatkan wahyu dari Allah swt., beliau langsung
menyampaikan wahyu tersebut kepada para sahabatnya. Di antara mereka
terdapat beberapa orang sahabat yang secara khusus mendapatkan tugas dari
Rasulullah saw. untuk menuliskan wahyu. Terkadang Al-Qur’an ditulis di pelepah
korma, di tulang-tulang, kulit hewan, dan sebagainya. Di antara yang terkenal
sebagai penulis Al-Qur’an adalah Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubai ibn Ka’b,
dan Zaid bin Tsabit. Demikianlah, para sahabat yang lain pun banyak yang
menulis Al-Qur’an meskipun tidak mendapatkan instruksi secara langsung dari
Rasulullah saw. Namun pada masa Rasulullah saw. ini, Al-Qur’an belum
terkumpulkan dalam satu mushaf sebagaimana yang ada pada saat ini.

Pengumpulan Al-Qur’an pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar
Al-Shidiq, atas usulan Umar bin Khatab yang khawatir akan hilangnya Al-Qur’an,
karena banyak para sahabat dan qari’ yang gugur dalam Peperangan Yamamah.
Tercatat dalam peperangan ini, terdapat tiga puluh sahabat yang syahid.
Mulanya Abu Bakar menolak, namun setelah mendapat penjelasan dari Umar,
beliaupun mau melaksanakannya. Mereka berdua menunjuk Zaid bin Tsabit,
karena Zaid merupakan orang terakhir kali membacakan Al-Qur’an di hadapan
Rasulullah saw. sebelum beliau wafat.

Pada mulanya pun Zaid menolak, namun setelah mendapatkan penjelasan dari
Abu Bakar dan Umar, Allah pun membukakan pintu hatinya. Setelah ditulis,
Mushaf ini dipegang oleh Abu Bakar, kemudian pindah ke Umar, lalu pindah lagi
ke tangan Hafshah binti Umar. Kemudian pada masa Utsman bin Affan ra, beliau
memintanya dari tangan Hafsah. (Al-Qatthan, 1995: 125 - 126).

Kemudian pada masa Utsman bin Affan, para sahabat banyak yang berselisih
pendapat mengenai bacaan (baca; qiraat) dalam Al-Qur’an. Apalagi pada masa
beliau kekuasan kaum muslimin telah menyebar sedemikian luasnya. Sementara
para sahabat terpencar-pencar di berbagai daerah, yang masing-masing
memiliki bacaan/ qiraat yang berbeda dengan qiraat sahabat lainnya (Qiraat
sab’ah). Kondisi seperti ini membuat suasana kehidupan kaum muslimin menjadi
sarat dengan perselisihan, yang dikhawatirkan mengarah pada perpecahan.

Pada saat itulah, Hudzifah bin Al-Yaman melaporkan ke Utsman bin Affan, dan
disepakati oleh para sahabat untuk menyalin mushaf Abu Bakar dengan bacaan/
qiraat yang tetap pada satu huruf. Utsman memerintahkan kepada (1) Zaid bin
Tsabit, (2) Abdullah bin Zubair, (3) Sa’d bin ‘Ash, (4) Abdul Rahman bin Harits bin
Hisyam untuk menyalin dan memperbanyak mushaf. Dan jika te

Kekuatan Itu Ada Pada Al Qur’an

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

dakwatuna.com - “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:


“Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit.” (Al-Isra’: 85)
Terdapat lebih dari 19 ayat yang menyebut kata “ruh” dalam Al-Qur’an. Maksud
yang terkandung dari istilah ini tidak keluar dari arti malaikat Jibril yang biasanya
ditambah dengan istilah Ruhul Quds atau Ar-Ruhul Amin dan maksud yang
kedua adalah Al-Qur’an. Dan hanya satu ayat yang bermaksud roh dalam arti
yang sebenarnya, yaitu pada ayat ini. Meskipun demikian terdapat juga ulama
tafsir seperti yang dinukil oleh Imam Al-Qurthubi yang memahami ruh dalam arti
analogis yaitu Al-Qur’an. Maka pengertian ayat ini menurut Al-Qurtubi secara
analogis adalah:

“Dan mereka bertanya, “Darimanakah Al-Qur’an yang di tanganmu ini?”.


“Katakanlah: Sesungguhnya ia diturunkan sebagai mukjizat atas perintah Allah
swt.”

Analogi kedua makna ini sangat jelas. Roh merupakan alat kehidupan manusia
secara fisik materil. Manakala Al-Qur’an adalah roh yang bisa memberi kekuatan
dan kehidupan manusia secara psikologis ruhiyah. Hal ini bertepatan dengan
ungkapan Malik bin Dinar tentang roh Al-Qur’an:

“Wahai Ahlul Qur’an!, apa yang telah ditanam oleh Al-Qur’an ke dalam lubuk
hatimu?. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah penyubur hati sebagaimana hujan
yang menyuburkan bumi.”

Dalam konteks ruh yang memiliki pengertian Al-Qur’an, terdapat empat ayat
membahasnya, yaitu surah An-Nahl: 2, Ghafir: 15, Asy-Syura: 52 dan Surah Al-
Isra’: 58 yang dipahami secara analogis. Tentunya, penamaan Al-Qur’an dengan
ruh bukan kebetulan dan tanpa hikmah yang perlu digali oleh hamba-Nya yang
merindukan keberkahan dan kekuatan dari Al-Qur’an, seperti juga nama dan
sifat lain yang dimiliki oleh Al-Qur’an yang mencerminkan fungsi dan perannya
yang komprehensif dan universal. Betapa hanya Al-Qur’an yang bisa diandalkan
menyelesaikan masalah kemanusiaan dalam segala bentuknya.

Sayyid Qutb menyatakan pandangannya tentang penamaan Al-Qur’an dengan


ruh berdasarkan firman Allah: “(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang
mempunyai ‘Arsy, Yang memberi ruh dengan (membawa) perintahNya kepada
siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya, supaya dia
memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (Ghafir: 15)
bahwa ini merupakan kinayah tentang wahyu. Redaksi yang digunakan dalam
ayat ini mengisyaratkan dua hal: pertama, bahwa wahyu (Al-Qur’an) adalah ruh
dan kehidupan bagi manusia, tanpa ruh ini manusia tidak akan bisa hidup
dengan baik dan benar. Kedua, bahwa wahyu itu turun dari tempat yang tinggi
kepada siapa yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Redaksi ini bertepatan
dengan sifat Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Selanjutnya beliau juga menafsirkan ruh dalam ayat-ayat ini sebagai sebuah
kekuatan yang menggerakkan, mempertahankan kehidupan di dalam hati,
bahkan di dalam kehidupan nyata sehari-hari.
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dengan perintah
Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan
tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu
cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara
hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk
kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

Kekuatan besar dari sentuhan Al-Qur’an ini dirasakan benar oleh para sahabat
Rasulullah karena memang mereka menerima Al-Qur’an ini dengan segenap
hati, pikiran dan kemauan mereka. Seperti yang diriwayatkan oleh Ath-Thobroni
dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa ia berkata:

“Ketika turun surah Az-Zalzalah, maka serentak Abu Bakar yang sedang duduk
waktu itu menangis. Maka Rasulullah saw. pun menghampirinya dan bertanya,
“Apa yang membuat engkau menangis wahai Abu Bakar?”. Surah inilah yang
membuat aku menangis”. Maka Rasulullah menenangkan dengan sabdanya:

“Jika kalian tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka Allah akan
menciptakan kaum lain yang mereka itu melakukan salah dan dosa kemudian
mereka bertaubat dan Allah mengampuni mereka.”

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Hanthob bahwa Rasulullah saw. pernah
membacakan surah ini dalam satu majlis di mana seorang Arab Badui ikut serta
duduk bersama. Setelah mendengar ini, lelaki itu lantas keluar sambil menyesali
dirinya “alangkah buruknya aku”. Maka Rasulullah mengatakan kepada para
sahabatnya, “sungguh iman telah masuk ke dalam hati lelaki badui tadi.”

Maka sangat tepat ungkapan Dr. Yusuf Al-Qaradlawi yang menegaskan bahwa:

“Al-Qur’an adalah “ruh Rabbani” kekuatan Rabbani yang akan mampu


menghidupkan dan menggerakkan akal fikiran dan hati. Sebagaimana Al-Qur’an
juga undang-undang Allah yang mengatur kehidupan manusia sebagai individu
dan bangsa secara kolektif.”

Syekh Muhammad Al-Ghazali menyebutkan:

“Al-Qur’an inilah kitab yang membentuk jiwa, membangun umat dan kebudayaan
mereka. Inilah sesungguhnya kekuatan Al-Qur’an. Namun yang sangat
disayangkan bahwa cahaya ini tidak nampak di depan umat Islam karena mata-
mata mereka sudah tertutup sehingga aib dalam konteks sekarang ini bukan aib
Al-Qur’an, tetapi aib pandangan manusia yang lebih mengagungkan kekuatan
lain selain Al-Qur’an. Padahal Allah sudah berfirman, “Hai Ahli Kitab,
sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu
banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang)
dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan
Kitab yang menerangkan, dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang
mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula)
Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-
Ma’idah: 15-16)

Karenanya esensi seluruh perintah dan petunjuk Al-Qur’an adalah dalam rangka
memelihara kehidupan manusia, baik secara fisik maupun psikis. Tanpa panduan
dan pedoman ini, kehidupan manusia semakin tidak menentu dan jelas arahnya.

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul
apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada
kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan
hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Al-Anfal:
24)

Kekuatan lain yang seharusnya kita sadari dari Al-Qur’an yang mulia ini bahwa
Al-Qur’an merupakan sistem hidup yang mengarahkan orang-orang yang
beriman untuk mewujudkan kehidupan dalam bingkai keimanan. Sebuah hakikat
kehidupan yang meliputi segenap komponen yang ada pada diri manusia;
menghidupkan fisik, perasaan, getaran jiwa, kemauan, pikiran dan kehendaknya.

“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup


(hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.”
(Yaasin: 70)

Ibnu Qutaibah dalam kitab “Tafsir Gharibil Qur’an” memahami kalimat “Hayyan”
di dalam ayat ini dengan pengertian seorang mukmin yang hidup karena
memperoleh petunjuk Allah swt. demikian juga dengan firman Allah swt.:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami
berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat
berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang
keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari
padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa
yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 122).

Yang dimaksud dengan orang yang hidup dalam ayat ini adalah orang yang
beriman dan orang yang mati adalah orang kafir. Makanya Allah membedakan
keduanya dengan menggunakan istilah ini juga di dalam firman-Nya: “Dan tidak
(pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.” (Fathir: 22)

Sesungguhnya, berbagai ujian yang mengejutkan bangsa ini semakin


membuktikan hakikat yang tidak terbantahkan akan kelemahan manusia dan
hajat mereka akan pertolongan Allah swt. bahwa sesungguhnya sumber
kekuatan satu-satunya adalah Allah yang menciptakan segalanya dan kita akan
meraih kekuatan itu dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber
kehidupan dan kekuatan kita.

Sekali lagi, Allah swt. mengingatkan kita akan kekuatan Al-Qur’an.

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) ruh (Al-Qur’an) dengan


perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya,
yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak)
melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” (An-Nahl: 2)

Memang sudah saatnya bagi kita untuk menerima Al-Qur’an dengan segenap
perasaan, pikiran dan kehendak kita dan tidak mengharap atau menggantungkan
kekuatan lain di luar dari kekuatan firman-Nya.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati
mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada
mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas
mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka
adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16).

Selama kita masih mengharap datangnya kekuatan lain, maka selama itu pula
kita tidak akan meraih kehidupan yang mulia di bawah bimbingan dan naungan
Al-Qur’an.