Anda di halaman 1dari 2

Bom Phosphor Putih, dari Falujah ke Gaza

[ 10/01/2009 - 04:12 ]

Kairo – Infopalestina: Para dokter Palestina dan Norwegia mengungkapkan Israel menggunakan senjata yang dilarang
internasional dalam agresinya ke Jalur Gaza. Yang paling mencolok adalah penggunaan “Bom Panas Pembakar” dan
bom “Phosphor Putih” yang pernah digunakan Israel dalam perang Libanon terakhir di musim panas tahun 2006 lalu,
juga pernah digunakan penjajah Amerika secara meluas saat membombardir kota Falujah, Irak. Demikian menurut
koran Inggris “Times” edisi Senin (05/01).

Times mengutip utusan dokter Norwegia di Gaza yang mengatakan, “Sejumlah korban meninggal dan terluka selama
serangan Israel ke Gaza sejak 27 Desember bulan lalu, jasad dan tubuh mereka menunjukan tanda-tanda yang aneh.
Sebagian jasad dan tubuh mereka terbakar akibat phosphor putih dan sebagian terkoyak bagian-bagian dalamnya akibat
penggunaan bom panas yang membakar.”

Utusan medis Norwegia ini menyatakan bahwa sebagian korban ada bekas uranium yang sudah mengalami pengayaan
dan yang belum mengalami pengayaan. Uranium adalah bahan utama yang digunakan untuk menghasilkan senjata
nuklir.

Sejak dimulainya genosida di Gaza, yang hingga Selasa (06/01) malam telah mengkibatkan sekitar 700 orang gugur dan
lebih 3000 lainnya terluka, pasukan militer Israel menggunakan bom yang menimbulkan asap putih tebal di atas daerah
yang menjadi target serangan. Belakangan, ungkap Times, diketahui bahwa itu adalah “bom phosphor putih”, yang
mengakibatkan kerusakan sangat parah pada tubuh korban.

Dampak Kehancuran

Kepada Times, pejabat militer Israel berupaya untuk memberikan dalih justifikasi atas tindakannya menggunakan bom
tersebut dengan mengatakan bahwa “bom tersebut digunakan untuk penyamaran gerakan pasukan darat. Dengan bom
tersebut membuat musuh tidak bisa melihat pasukan yang datang. Selanjutnya memberikan tabir yang bisa melindungi
para serdadu kami.”

Namun departemen kesehatan di Gaza dalam laporan yang dirilis belakangan menyebutkan bahwa “dampak kehancuran
yang ditimbulkan oleh bom tersebut melampaui penggunaannya sebagai bom penyamaran. Bom ini mengakibatkan luka
bakar yang luar biasa pada korban dan membakar tulang-tulang mereka serta meninggalkan bau busuk pada jasad
korban yang meninggal.”
Koran Inggris The Independent mengutip dari Direktur Hubungan Umum Rumah Sakit as Shifa di Gaza, Jumah Elsaqa,
yang mengatakan, “Korban-korban luka yang sampai ke rumah sakit sejak dimulai agresi sangat aneh.”

Jumah menambahkan, “Di antara korban yang luka ada yang terbakar seluruh bagian tubuhnya hingga tulang. Demikian
juga sebagian anggota tubuh bagian dalam tercabik-cabik dan pecah tanpa ada luka pasti dan parah di tubuh korban
yang terluka atau meninggal.”

Sejumlah kantor berita melansir penuturan salah seorang korban luka Palestina di rumah sakit as Shifa, Gaza, bernama
Gasan, yang mengatakan, “Saya merasa terkena efek bahan kimia dan saya merasa sangat panas sekali, serta sangat
sakit setelah terkena serangan.”

Seperti ditulis analis politik di islamonline, Muhammad Jamal Irfah, Lembaga kajian Amerika (Global Security) dalam
laporannya beberapa hari yang lalu menegaskan bahwa Israel menggunakan phosphor putih di Gaza selama aksi
serangan yang berkelanjutan. Menurutnya, phosphos putih bisa menimbulkan sakit teramat sangat dan efek bakar
kimiawi yang nampik kekuningan di badan dan menimbulkan bau sangat tidak enak.

Itu bukan kali pertama Israel menggunakan jenis bom yang dilarang secara internasional. Karena departemen kesehatan
Palestina pernah menegaskan penemuannya dalam serangan-serangan Israel ke Gaza sebelumnya sejak tahun 2006.
Pada Maret 2008, setelah terjadi serangan udara yang menewaskan dan melukai puluhan korban Palestina, departemen
kesehatan Palestina menemukan pecahan bom yang tertulis “percobaan”. Yakni uji coba senjata ini untuk orang-orang
Palestina.

Phosphor Putih atau White Phosphorus (WP) adalah semacam materi asap kimiawi yang menembus kulit dan daging
serta membakarnya. Dia berubah menjadi materi yang menyala begitu terkena oksigen, meninggalkan awan putih tebal.
Dan itulah yang nampak di televisi saat serangan Israel ke Jalur Gaza.

Phosphor putih bisa mengakibatkan luka bakar yang mematikan. Jasad korban yang terkena tertutupi abu hitam dan
kulit cenderung ke warna hitam pekat.

Pernah Digunakan

Menurut Jamal Irfah, Israel sebelumnya pernah menggunakan senjata ini dalam agresinya ke Libanon tahun 2006 lalu.
Organisasi medis Jerman meneropong kondisi luka bakar hebat dan luka yang sangat parah diakibatkan oleh senjata ini.

Amerika Serikat juga pernah menggunakan bom phosphor ini, yang disebut dengan "Mark 77”, dalam agresi ke Irak
tahun 2003. Kemudian Amerika menggunakannya dalam sekup luas dalam serangannya ke kota Falujah di utara Irak
pada 8 November 2004, dengan dalih untuk menghabisi para pengikut Abu Mushab al Zarqawi, pemimpin “jaringan al
Qaidah di negera Irak” kala itu.

Kantor berita-kantor berita internasional memuat gambar-gambar mengerikan yang menunjukan luka bakar hebat pada
jasad korban yang terluka di Irak. Bekas luka itu belum bisa disembuhkan hingga sekarang.

Bom phosphor ini digunakan pertama kali dalam perang dunia kedua. Juga pernah digunakan dalam perang Amerika di
Vietnam.

Dilarang

Kesepakatan internasional Jenewa melarang penggunaan senjata phosphor putih dalam peperangan, khususnya
ditujukan terhadap warga sipil. Namum belum ada sanksi untuk Israel atau Amerika Seerikat atas kejahatan yang
mereka lakukan itu.

Adapun bom panas kosong (Thermo Baric) yang dilarang secara internasional, terdiri atas amunisi dari bahan padat
yang membakar dengan sangat cepat berubah menjadi gas atau percikan yang menyala-nyala dan menghasilkan panas
sangat tinggi serta tekanan tinggi melahap oksigen di daerah yang menjadi serangan.

Bom tersebut tidak menimbulkan luka yang tampak pada badan. Namun secara pasti menimbulkan koyakan pada
gendang telingan, merusak bagian dalam telinga, mencabik-cabik paru-paru dan jantung serta anggota tubuh bagian
dalam. Bisa juga menimbulkan kebutaan. Demikian menurut The Independent. (seto)