Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Masalah Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, 1889 - 1959) (dalam Waw an Junaidi: 2010) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan umum nya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan bathin) , pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatny a . Selain itu, John Stuart Mill (filosof Inggris, 1806-1873 M) juga menjabarkan bah wa Pendidikan itu meliputi segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang untuk d irinya atau yang dikerjakan oleh orang lain untuk dia, dengan tujuan mendekatkan dia kepada tingkat kesempurnaan Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan pembentuk an keterampilan saja, namun diperluas sehingga mencakup usaha untuk mewujudkan k einginan, keutuhan dan kemampuan individu sehingga tercapai pola hidup pribadi d an sosial yang memuaskan. Pendidikan juga bukan semata mata sebagai sarana untuk p ersiapan kehidupan yang akan datang, tetapi untuk kehidupan anak sekarang yang s edang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaannya. Hamalik (2010 : 170) menyatakan bahwa siswa adalah suatu organisme yang hidup, d i dalam dirinya beraneka ragam kemungkinan dan potensi yang hidup yang sedang be rkembang. Di dalam dirinya terdapat prinsip aktif, keinginan untuk berbuat dan b ekerja sendiri. Prinsip aktif inilah yang mengendalikan tingkah laku siswa. Pend idikan perlu mengarahkan tingkah laku dan perbuatan itu menuju ke tingkat perkem bangan yang diharapkan. Namun kenyataannya, pendidikan yang ada saat ini merupakan pendidikam tradisiona l, seperti yang diungkapkan Hamalik (2010 : 170) juga bahwa pendidikan tradision al dengan sekolah dengar -nya tidak mengenal bahkan sama sekali tidak menggunakan asas aktivitas dalam proses belajar mengajar. Para siswa hanya mendengarkan hal hal yan g dipompakan guru. Kegiatan mandiri dianggap tidak ada maknanya, karena guru ada lah orang yang serba tahu dan menentukan segala hal yang dianggap penting bagi s iswa. Sistem penuangan lebih mudah pelaksanaannya bagi guru dan tidak ada masala h atau kesulitan. Guru cukup mempelajari materi dari buku, lalu disampaikan kepa da siswa. Di sisi lain, siswa hanya bertugas menerima dan menelan, mereka diam d an bersikap pasif. Padahal pada hakikatnya, proses pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia yan g cerdas, memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup serta diarahkan untuk memb entuk manusia yang kreatif dan inovatif. Cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui pendidikan matematika. Hal ini sangat dimungkinkan karena matematika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstraksi, idealisasi, ge neralisasi untuk suatu studi ataupun pemecahan masalah. Cornelius (dalam Abdurra hman : 2009) mengemukakan lima alasan perlunya siswa belajar matematika karena m atematika merupakan (1) sarana berfikir jelas dan logis, (2) sarana untuk memeca hkan masalah kehidupan sehari hari, (3) sarana mengenal pola pola hubungan dan gener alisasi pengalaman, (4) sarana untuk mengembangkan kreativitas, dan (5) sarana u ntuk meningkatan kesadaran terhadap perkembangan budaya. Namun pada kenyataannya, berdasarkan penelitian yang dilakuakan oleh The Third I nternational Mathematic and Science Study Repeat (TIMMSR) bahwa Indonesia berada pada urutan ke-34 dari 38 negara untuk prestasi siswa di bidang matematika Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti terhadap 36 orang siswa kela s VIII-A SMP Negeri 3 Lubuk Pakam pada tanggal 23 Juli 2012, peneliti memperoleh data sebagai berikut: 1. Menurut angket yang peneliti sebar, didapat data bahwa ada 33 siswa yang menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya mencatat dan mengerjakan soal, sebagian besar siswa yang menyatakan bahwa selama ini gur u menerangkan materi dengan banyak memberi catatan, dan menganggap Matematika me rupakan pelajaran yang sulit dan memiliki banyak rumus. Haspandi (2009) menunjukkan beberapa faktor yang menyebabkan minat belajar siswa rendah, yaitu (1) banyaknya materi atau konsep matematika yang harus dipelajari , (2) banyaknya istilah dalam matematika yang harus diketahui dan diingat, (3) k

egiatan belajar mengajar yang kurang menarik perhatian, (4) pembelajaran lebih t erfokus pada guru sebagai pemberi informasi, daripada Matematika melibatkan sisw a, dan (5) metode mengajar yang diterapkan tidak membangkitkan minat siswa untuk menyenangi matematika. Agar pemahaman konsep matematika berkembang maka siswa perlu dilibatkan secara a ktif dalam proses belajar matematika. Keberhasilan siswa dalam belajar tergantun g pada cara penyajian materi pembelajaran termasuk media pembelajaran dan metode mengajar yang digunakan oleh guru pada proses belajar mengajar. Banyak macam mo del dan media pembelajaran yang dapat digunakan dalam menyajikan suatu materi pe lajaran. Salah satu diantaranya adalah model Team Game Tournament (TGT). Pembelajaran Kooperatif model Team Game Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh sisw a tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan. Pembelajaran model Team Game Tournament (TGT) me mungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab , kerja sama, persaingan sehat dalam keterlibatan dalam belajar. Model pembelaja ran ini termasuk model belajar kelompok yang merupakan variasi guru dalam melaks anakan pembelajaran selain yang konvensional dalam bentuk ceramah. Berdasarkan uraian di atas, dan pola judul dalam PTK, maka penulis menetapkan ju dul berikut: Penerapan Pembelajaran Kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) Un tuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Babal an T. A 2012/2013 . 1.2. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, terdapat beberapa masalah yang dapat diident ifikasi, yaitu: 1. Rendahnya keaktifan siswa dalam belajar matematika 2. Anggapan siswa bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit 3. Pembelajaran yang digunakan selama ini masih berpusat pada guru 4. Rendahnya hasil belajar matematika siswa 1.3. Batasan Masalah Bedasarkan permasalahan yang telah disebutkan dalam identifikasi masalah maka pe nelitian ini dibatasi pada penggunaan Pembelajaran Kooperatif tipe Team Game Tou rnament (TGT) sebagai upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Babalan Tahun Ajaran 2012/2013. 1.4. Rumusan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan akt ivitas belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Babalan T.A 2012/2013 dalam pelajar an matematika? 2. Apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan has il belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Babalan T.A 2012/2013 dalam pelajaran m atematika? 1.5. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa? 2. Untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa? 1.6. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut: 1. Sebagai informasi umum bagi pelaksana pembelajaran matematika 2. Memacu perbaikan kualitas pembelajaran matematika di SMP Negeri 1 Babala n khususnya.

3. Menambah pengetahuan dan informasi kepada peneliti tentang strategi pemb elajaran yang dapat mewujudkan kegiatan belajar yang variatif, efektif dan inova tif.