Anda di halaman 1dari 1

Foto me.

MENYAMBUT RAMADHAN
Oleh : HAMDHANI S.IP
Anggota DPD RI Kalteng.

Bulan Ramadhan segera menjelang Rahmat dan ampunan Allah Swt pun akan datang,
lengkap dengan pahala-Nya yang menjulang. Disaat seperti ini Rasulullah SAW telah
memberi sunnah.
Pertama, memperbanyak puasa sunat di bulan Sya’ban (HR.Bukhari). Secara ekplisit,
Rasul mengajak membiasakan puasa sunat sebagai latihan menghadapi medan
pertempuran melawan hawa napsu yang sesungguhnya, puasa Fardhu.
Secara Implisit, disunahkan fisik dan kejiwaan kita dikondisikan. Kesehatan dijaga, hati
ditautkan. Pelan-pelan kerinduan kepada bulan suci dibangkitkan hingga ketika malam
pertama Ramadhan menghampiri, kerinduan itu langsung diwujudkan dengan
menegakkan perintah dan anjuran-Nya saat Ramadhan, persis pelampiasan kerinduan
seseorang kepada kekasihnya yang setahun tak bersua.
Kedua, begembira secara terbuka dan menyebarkannya kepada kaum muslimin. Rasul
menunjukan keriangannya dan berkali2 memompa perasaan yang sama kepada para saha
bat dengan menyampaikan warta gembira, seperti dibukakannya pintu surga, pintu neraka
ditutup, dan dibelenggunya para setan (HR.Ahmad dan Nasaai).
Juga adanya suatu malam yang bila beramal saat itu akan diganjar lebih baik dari amal
selama seribu bulan (QS.Al Qadr) Allah pun berjanji mengampuni dosa-dosa kita dimasa
lalu jika benar-benar berpuasa dan menegakkan malam-malam Ramadhan (HR.Tarmidzi,
Abu Daud, Nasaai dan Ibnu Majah).
Tentu saja, kecuali dosa syirik, dosa-dosa besar yang memerlukan tobat khusus seperti
Zina, serta dosa2 penganiayaan manusia lain yang membutuhkan pemaafan korban lebih
dulu, seperti pembunuhan (penzhaliman phisik), atau korupsi dan kejahatan perdagangan
(penzhaliman harta).
Bergembiralah setiap hari karena Rasul SAW bersabda bahwa seseorang yang berpuasa
bergembira dua kali, yakni saat berbuka dan bertemu Allah HR.Muslim. Karenanya, tiada
tempat rasa sedih dan gelisah. Juga bayangan akan kelaparan, atau kesulitan berdagang
makanan/minuman disiang hari, serta godaan tidak mampu bekerja jika berpuasa. Hanya
orang2 kafir dan munafik yang bermuram durja setiap Ramadhan menyapa.
Ketiga, di akhir bulan Sya’ban Rasul SAW mengumpulkan orang-orang serta berpidato
tentang keutamaan bulan Ramadhan dan dorongan memperbanyak amal (HR.Ibnu
Khuzaimah)
Termasuk penghidupan sunnah Nabi jika ada acara khusus berupa khutbah, seminar, atau
diskusi apapun untuk memperkuat semangat ibadah kaum Muslimin yang dilakukan para
pejabat pemerintah dan swasta, juga para kepala keluarga.
Semoga Ramadhan menjadi titik tolak perubahan pemikiran, perasaan, dan tindakan
manusia hingga tiada lagi kaum muslimin yang menderita dan kekurangan.