Anda di halaman 1dari 93

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dam Pengendali Sedimen.
2.1.1. Uraian Umum.
Dalam booklet Tinjauan Umum Pengembangan Sabo di Indonesia (2002),
teknologi Sabo dirintis sejak zaman Belanda pada tahun 1935-an dengan membuat
bangunan Sabo sederhana berupa kantong lahar di Kali Woro akibat letusan besar
Gunung Merapi pada tahun 1931. Kata Sabo berasal dari bahasa Jepang yang
terdiri dari dua kata, yaitu Sa yang berarti pasir dan Bo yang berarti pengendali.
Secara utuh kata Sabo dapat diartikan sebagai pengendali erosi dan sedimen. Sistem
Sabo ini dimaksudkan untuk mengontrol aliran lahar serta mengurangi daya hancur
dari lahar tersebut.
Bagian-bagian dari sungai secara geografis dapat dikategorikan menjadi tiga
bagian/ruas (http://e-dukasi.net/index.php):
1. Bagian hulu.
Merupakan daerah dekat dengan mata air yang memiliki ciri-ciri: arusnya deras,
daya erosinya besar, arah erosinya (terutama daerah dasar sungai) vertikal, palung
sungai berbentuk V dan lerengnya cembung, kadang-kadang terdapat air terjun dan
relatif tidak terjadi pengendapan.
2. Bagian tengah.
Merupakan daerah antara bagian hulu dan hilir sungai yang memiliki ciri-ciri:
arusnya tidak begitu deras, daya erosinya mulai berkurang, arah erosi ke bagian
vertikal dan horisontal, palung sungai berbentuk U, dan mulai terjadi pengendapan.
3. Bagian hilir.
Merupakan daerah dekat dengan muara sungai yang memiliki ciri-ciri: arusnya
tenang, daya erosinya kecil ke arah horisontal, banyak terjadi pengendapan, di daerah
muara kadang terbentuk delta, dan bentuk palungnya lebar.



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
7

Ada tiga jenis bangunan Sabo Dam yang dikategorikan menurut fungsinya, yakni:
1. Dam Pengendali (Check Dam).
Dam Pengendali berfungsi untuk memperlambat kecepatan banjir lahar dengan
mengurangi kemiringan dasar sungai, menampung dan mengontrol material lahar,
terutama material yang berukuran besar, seperti batu.
2. Dam Pengarah.
Dam Pengarah berfungsi untuk mengarahkan aliran sedimen menuju kantong-
kantong lahar yang ada.
3. Dam Konsolidasi.
Dam Konsolidasi berfungsi untuk menstabilkan dan mencegah degradasi dasar
sungai.


















Gambar 2.1 Ilustrasi Jenis Bangunan Sabo Dam.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
8

Suplai sedimen akan berlangsung secara terus-menerus di daerah gunung berapi
yang masih aktif sehingga suatu saat akan tercapai suatu kondisi di mana deretan
Check Dam tersebut tidak mampu lagi menampung suplai sedimen yang ada. Untuk
mengatasi kondisi tersebut, di bagian hilir Check Dam perlu dilengkapi dengan
kantong pasir/lahar yang berfungsi menampung aliran sedimen. Selain kantong pasir,
di bagian hilir sistem Sabo juga perlu dibuat Dam Konsolidasi untuk mengurangi erosi
di dasar sungai.

2.1.2. Pola Penanggulangan Banjir Lahar Dingin.
Prinsip pengendalian banjir lahar dingin :
1. Membuat Dam Pengendali (Check Dam) untuk mengurangi kemiringan dasar
sungai sehingga kecepatan aliran sedimen menjadi rendah.
2. Membuat Dam Pengarah yang berfungsi mengarahkan aliran sedimen menuju
kantong-kantong lahar.
3. Membuat Dam Konsolidasi yang berfungsi menstabilkan dasar sungai di bagian
hilir.

2.1.3. Pemilihan Letak Bangunan.
Untuk menentukan lokasi Sabo Dam, terdapat beberapa ketentuan yaitu (Pedoman
Penyusunan Spesifikasi Teknis Pengaman Sungai Check Dam) :
1. Lokasi Sabo Dam harus direncanakan di tempat yang dasar sungainya
dikhawatirkan akan turun dan tidak stabil.
2. Lokasi Sabo Dam sebaiknya direncanakan di sisi hilir titik pertemuan kedua
sungai.
3. Lokasi Sabo Dam diletakkan di alur sungai yang lebar dengan tebing cukup
tinggi, dengan maksud agar volume tampungan sedimen besar.
4. Sumbu Sabo Dam didesain tegak lurus dengan alur sungai. Oleh sebab itu,
sebaiknya Sabo Dam diletakkan di alur sungai yang lurus agar tidak diperlukan
penambahan bangunan pengarah aliran debris (tanggul pengarah aliran).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
9

5. Sabo Dam direncanakan di tanah yang memiliki daya dukung cukup baik
sehingga bangunan akan stabil.
6. Untuk penampang memanjang sungai yang curam (kemiringan besar), maka
deretan Sabo Dam harus diletakkan secara berdekatan untuk mengurangi
kecuraman. Bila penampang memanjang sungai cukup landai, maka deretan Sabo
Dam diletakkan dengan jarak yang relatif jauh, sehingga mencapai kemiringan
rencana.
7. Pekerjaan Sabo Dam terletak di daerah kipas alluvial. Lokasi tempat dimulainya
pekerjaan Sabo disebut sebagai titik peninjauan Sabo (Sabo basic point). Daerah
kipas alluvial ditunjukkan pada gambar berikut.













2.2. Analisis Mekanika Tanah.
Analisis tanah digunakan untuk mengetahui jenis tanah dan daya dukung tanah di
daerah yang akan direncanakan. Analisis tanah dilakukan dengan pengambilan sampel
yang ada di lokasi.

Gambar 2.2 Skema Dasar Perencanaan Sabo Pada Daerah Kipas Alluvial.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
10

Adapun data tanah yang diperlukan untuk perencanaan Sabo Dam (Hary
Christady H., 2006) adalah sebagai berikut:

1. Berat Spesifik Tanah/Specific Gravity (G
s
).
Berat spesifik tanah adalah perbandingan antara berat volume butiran padat (
s
),
dengan berat volume air (
w
) pada temperatur 4. Pada umumnya, berat spesifik
berbagai jenis tanah berkisar antara 2,65 sampai 2,75.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :


Di mana : G
s
= berat spesifik tanah.

s
= berat jenis tanah (ton/m
3
).

w
= berat jenis air (ton/m
3
).

Tabel 2.1 Berat Spesifik Tanah.
Macam Tanah Berat Spesifik (G
s
)
Kerikil
Pasir
Lanau Organik
Lempung Organik
Lempung Anorganik
Humus
Gambut
2,65 2,68
2,65 2,68
2,62 2,68
2,58 2,65
2,68 2,75
1,37
1,25 1,80
(Sumber: Hary Christady H., 2006)

2. Berat Volume Kering Tanah (
d
).
Berat volume kering tanah adalah perbandingan antara berat butiran padat (W
s
)
dengan volume total (V) tanah.




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
11

Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut :


Di mana :
d
= berat volume kering tanah (ton/m
3
).
W
s
= berat butiran padat (ton).
V = volume total (m
3
).
Untuk tanah kering sempurna (volume air = 0 m
3
), berat volume kering tanah
dinyatakan oleh persamaan:



Di mana :
d
= berat volume kering tanah (ton/m
3
).
G
s
= berat spesifik tanah.

w
= berat jenis air (ton/m
3
).
e = angka pori.

3. Kadar air (w).
Kadar air (w) adalah perbandingan antara berat air (W
w
) dengan berat butiran
padat (W
s
), dinyatakan dalam persen.
Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut :


Di mana : W = kadar air optimum (%).
W
w
= berat air (ton).
W
s
= berat batuan padat (ton).

4. Kuat geser tanah (t).
Kuat geser tanah adalah gaya perlawanan yang dilakukan butir-butir tanah
terhadap desakan atau tarikan. Parameter kuat geser tanah diperlukan untuk


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
12

menganalisis kapasitas dukung tanah, stabilitas lereng, dan gaya dorong di dinding
Pengendali tanah.

Coulomb (1776) mendefinisikan variabel kuat geser tanah (t) dengan persamaan
sebagai berikut :

Di mana : t = kuat geser tanah (ton/m
2
).
c = kohesi tanah (ton/m
2
).
= sudut geser dalam tanah ().

5. Koefisien Permeabilitas (k).
Permeabilitas didefinisikan sebagai sifat bahan berpori yang memungkinkan
cairan berupa air atau minyak mengalir lewat rongga pori. Koefisien permeabilitas (k)
menunjukkan ukuran tahanan tanah terhadap aliran air. Nilai standar permeabilitas
dapat menggunakan angka rata-rata yaitu k = 0,9.10
-2
cm/det (Tim Proyek
Pengendalian Banjir Lahar Gunung Merapi Yogyakarta, 1998)
Apabila pengaruh sifat-sifat air diperhitungkan, maka persamaan yang digunakan
yakni :


Di mana : k = koefisien permeabilitas (cm/det).
K = koefisien absolut (cm
2
).

w
= rapat massa air (g/cm
3
).
g = percepatan gravitasi (cm/det
2
).
= koefisien kekentalan air (g/cm.det).






BAB II TINJAUAN PUSTAKA
13

2.3. Analisis Hidrologi.
Analisis hidrologi berguna untuk mengolah data curah hujan sehingga didapatkan
output berupa debit rencana. Besar kecilnya debit ini akan menentukan dimensi
hidrolis bangunan Sabo Dam.
Data-data yang diperlukan untuk menganalisis hidrologi yaitu data curah hujan
harian tahunan lokal dan luas daerah aliran sungai. Data tersebut sedapat mungkin
bersifat kontinyu dalam rentang waktu tertentu.

2.3.1. Curah Hujan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Curah hujan daerah adalah curah hujan di daerah aliran sungai (DAS) yang
diperoleh dari hasil analisis curah hujan lokal dengan menggunakan metode tertentu.
Data curah hujan lokal didapat dari pos-pos pengukuran yang berada di sekitar Kali
Kuning Merapi. Tercatat ada 3 buah pos yang digunakan untuk perencanaan Sabo
Dam Kali Kuning, yaitu Pos Bronggang (Kec. Cangkringan), Pos Pakem (Kec.
Pakem), dan Pos Dadapan (Kec. Turi).

A. Penentuan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Penentuan daerah aliran sungai (DAS) dilakukan dengan menggunakan bantuan
peta topografi. Luas DAS adalah area yang dibatasi oleh garis kontur tertinggi di sisi
kanan dan kiri sungai yang ditinjau.

B. Perhitungan Curah Hujan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Menurut Mori, dkk. (1976), curah hujan yang diperlukan untuk menentukan debit
rencana adalah curah hujan rata-rata DAS yang bersangkutan, bukan curah hujan di
suatu titik tertentu. Metode yang lazim digunakan pada perhitungan curah hujan yaitu
metode rata-rata aljabar, metode Thiessen, dan metode Isohyet.





BAB II TINJAUAN PUSTAKA
14

1. Metode Rata-Rata Aljabar.
Metode rata-rata aljabar merupakan metode yang paling mudah dilakukan. Prinsip
perhitungan metode ini yaitu dengan mencari nilai rata-rata curah hujan dari beberapa
pos pengamatan curah hujan yang ada. Metode ini umumnya digunakan untuk daerah
dengan area yang tidak terlalu luas dan topografi relatif datar. Persamaan yang
digunakan adalah sebagai berikut :

R = 1/n (R
1
+ R
2
+ . . .+R
n
)
Di mana :
R = curah hujan (mm).
R
1
, R
2
, . ,R
n
= curah hujan pos 1,2,, n (mm).
n = jumlah stasiun pengamatan.

2. Metode Thiessen.
Metode Thiessen efektif digunakan pada kondisi di mana letak pos pengamatan
tidak merata. Tidak meratanya letak pos tersebut mengakibatkan perbedaan luas
daerah pengaruh masing-masing pos pengamatan. Metode ini relatif lebih teliti dari
metode sebelumnya. Namun demikian, perlu diperhatikan apabila terdapat perubahan
baik jumlah maupun lokasi pos pengamatan maka jaring-jaring Thiessen akan
berubah.

Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut:




Di mana :
R = curah hujan (mm).
R
1
,R
2
, . ,R
n
= curah hujan pos 1,2,, n (mm).
A
1
,A
2
, . ,A
n
= luas daerah hujan 1,2,, n (km
2
).



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
15















Gambar 2.3 Sketsa Metode Thiessen.

3. Metode Isohyet.
Metode Isohyet dilakukan dengan cara membuat garis-garis yang menunjukkan
daerah dengan curah hujan yang sama pada peta topografi. Garis tersebut memiliki
interval 10 sampai 20 mm satu dengan lainnya. Metode ini memiliki ketelitian lebih
tinggi dibanding metode lainnya, namun besarnya variasi curah hujan dan banyaknya
pos pengamatan di daerah tersebut dapat menyebabkan rumitnya penggambaran peta
Isohyet. Oleh karena itu, pada pembuatan peta Isohyet diperlukan keahlian dan
pengalaman yang cukup.
Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut :




Di mana :
A
i
= luas daerah Isohyet antara R
i
dan R
i-1
(mm).
R
i
= besarnya curah hujan pada garis Isohyet R
i
(km
2
).
Pos Dadapan
Kec. Turi
Pos Pakem
Kec. Pakem
Pos Bronggang
Kec. Cangkringan
G. Merapi


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
16










Gambar 2.4 Sketsa Metode Isohyet.

Tahap perhitungan hujan maksimum harian tahunan rata-rata DAS, yaitu:
a. Tentukan metode perhitungan curah hujan daerah.
b. Tentukan curah hujan harian maksimum pada tahun pertama di salah satu pos
pengamatan. Pada waktu yang sama, tentukan pula curah hujan harian pada pos-
pos pengamatan lainnya.
c. Lakukah poin b untuk pos pengamatan lainnya.
d. Hitung curah hujan pada tahun pertama sesuai dengan metode yang telah dipilih.
e. Ulangi poin b, c, dan d untuk tahun berikutnya.

2.3.2. Analisis Curah Hujan Rencana.
Analisis curah hujan rencana berfungsi untuk mengolah data mentah berupa curah
hujan daerah menjadi curah hujan rencana. Menurut Kamiana (2011), hal-hal yang
perlu dilakukan dalam pengolahan data tersebut, yaitu:
a. Analisis Frekuensi.
b. Pengujian Seri Data.
c. Distribusi Probabilitas.
d. Uji Distribusi Probabilitas.

R
5
= 120 mm
R
0
= 20 mm
R
1
= 40 mm
R
3
= 80 mm
R
4
= 100 mm
120 mm
R
2
= 60 mm
A
1
A
2

A
3

A
4

A
5

123 mm
100 mm
80 mm
93 mm
74 mm
60 mm
57 mm
40 mm
40 mm
20 mm
20 mm


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
17

A. Analisis Frekuensi.
Pada analisis frekuensi curah hujan diperlukan sejumlah data (data series) selama
beberapa tahun. Pengambilan seri data dapat dilakukan dengan dua metode, yakni:
1. Seri parsial (partial duration series).
Metode ini digunakan apabila data yang tersedia kurang dari 10 tahun. Prinsip dari
metode ini ialah mengambil sejumlah data yang nilainya lebih besar dari batas bawah
yang telah ditentukan. Batas bawah diambil dengan sistem peringkat. Cara
pengambilan data tersebut yakni dengan mengambil semua besaran data yang cukup
besar kemudian diurut dari besar ke kecil. Data yang digunakan untuk analisis adalah
yang sesuai dengan panjang data dan diambil dari besaran yang paling besar.
Akibat dari metode pengambilan seri data parsial ini yaitu dimungkinkannya
dalam satu tahun diambil data lebih dari satu, sementara pada tahun lainnya tidak ada
data yang diambil karena data yang tersedia tersebut berada di bawah batas bawah.

2. Seri data maksimum tahunan (annual maximum series).
Metode ini dipakai apabila data yang tersedia lebih dari 10 tahun runtut waktu.
Untuk metode ini, data yang diambil hanya data maksimum setiap tahunnya, atau
dengan kata lain hanya ada satu data setiap tahun.
Akibat dari metode pengambilan seri data maksimum tahunan yaitu data terbesar
kedua dalam satu tahun yang lebih besar nilainya dari data terbesar pada tahun yang
lain tidak diperhitungkan dalam analisis.

B. Pengujian Seri Data.
Data curah hujan maksimum tahunan perlu diuji sebelum digunakan sebagai
masukan untuk tahap berikutnya. Pengujian yang dilakukan berupa uji konsistensi. Uji
konsistensi data berfungsi untuk mengetahui kebenaran data yang ada.





BAB II TINJAUAN PUSTAKA
18

Kebenaran data tersebut sangat tergantung dari beberapa faktor, seperti:
Berubahnya spesifikasi alat penakar hujan.
Berpindahnya tempat alat ukur hujan.
Perubahan lingkungan di sekitar alat penakar hujan.
Cara pengujian konsistensi data hujan dapat dilakukan dengan beberapa cara,
antara lain:
1. Metode Kurva Massa Ganda (Double Mass Curve).
Pada metode ini, nilai kumulatif sekumpulan data yang akan diuji (misal pos A),
dibandingkan dengan nilai kumulatif seri data pos referensi (pos referensi dapat berupa
satu pos atau rerata dari beberapa pos terdekat).
Langkah-langkah yang digunakan untuk membuat kurva massa ganda, yaitu:
a. Tentukan nilai curah hujan maksimum tiap tahun pada masing-masing pos
pengamatan curah hujan.
b. Tentukan salah satu pos yang akan diuji konsistensi datanya (misal pos A).
c. Hitung curah hujan pos referensi dengan mencari nilai rerata curah hujan
maksimum per tahun dari pos lainnya (pos B dan C).
d. Hitung nilai kumulatif curah hujan tahunan maksimum pos yang diuji (pos A) dan
pos referensi.
e. Plot data-data pada poin d ke dalam bidang kartesius dengan absis berupa seri data
pos yang diuji dan ordinat berupa seri data pos referensi.
f. Hubungkan titik-titik tersebut menjadi sebuah garis. Amati apabila terdapat
patahan pada garis tersebut.
g. Jika kurva yang terbentuk berupa garis lurus artinya data A konsisten. Sebaliknya,
jika terjadi perubahan kemiringan pada kurva artinya data A tidak konsisten dan
harus dilakukan koreksi.
h. Koreksi didapat dengan mengalikan/membagi data sebelum/setelah patahan
dengan faktor koreksi.




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
19

Faktor koreksi:


Di mana : f
k
= faktor koreksi.
= kemiringan kurva setelah patahan.
= kemiringan kurva sebelum patahan.










2. Metode Rescaled Adjusted Partial Sums (RAPS).
Pada metode ini, konsistensi data hujan ditunjukkan dengan nilai kumulatif
penyimpangannya terhadap nilai rata-rata, sesuai persamaan berikut:

dengan k = 1, 2, ... , N



Di mana : S
i
= nilai penyimpangan terhadap nilai rata-rata data ke-i.
Y
i
= data ke-i.
Seri Data Stasiun
Referensi
Seri Data Stasiun yang Diuji


Gambar 2.5 Sketsa Analisa Kurva Massa Ganda.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
20

= nilai rata-rata data.
S
k
*
= nilai kumulatif S
i
.
S
k
**
= Rescaled Adjusted Partial Sums (RAPS).
D
y
= nilai standar deviasi data.
N = banyaknya data.

Setelah seluruh nilai S
k
**
didapat, tentukan nilai Q dan R dengan rumus:
Q = | S
k
**
| maks atau R = S
k
**

maks - S
k
**
min

Tahap selanjutnya ialah membandingkan Q dan R dengan Q
kritis
dan R
kritis
sesuai
Tabel 2.2. Data dikatakan konsisten apabila nilai Q < Q
kritis
dan R < R
kritis
.

Tabel 2.2 Nilai Q
kritis
dan R
kritis.

N


90% 95% 99% 90% 95% 99%
10 1,05 1,14 1,24 1,21 1,28 1,38
20 1,10 1,22 1,42 1,34 1,43 1,38
30 1,12 1,24 1,46 1,40 1,50 1,70
40 1,13 1,26 1,50 1,42 1,53 1,74
50 1,14 1,27 1,52 1,44 1,55 1,78
100 1,17 1,29 1,55 1,50 1,62 1,86
~ 1,22 1,36 1,63 1,62 1,75 2,00
Sumber: Karmiana (2011)

C. Distribusi Probabilitas.
Pada analisis frekuensi data hujan maupun data debit, dikenal beberapa distribusi
probabilitas yang sering digunakan untuk memperoleh nilai hujan rencana atau debit
rencana, yaitu Distribusi Normal, Log-Normal, Gumbel, dan Log Pearson Type III.
Penentuan jenis distribusi yang sesuai dengan kondisi dilakukan dengan
mencocokkan parameter statistik data dengan syarat-syarat masing-masing jenis
distribusi seperti Tabel 2.3.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
21

Tabel 2.3 Persyaratan Parameter Statistik Distribusi.
No Distribusi Persyaratan
1 Normal
C
s
0 0,3
C
k
3
2 Log-Normal
C
s
C
v
3
+ 3.C
v
C
k
C
v
8
+ 6.C
v
6
+ 15.C
v
4
+ 16.C
v
2
+ 3
3 Gumbel
C
s
1,14
C
k
5,4
4 Log Pearson III
Selain nilai-nilai di atas
C
s
= 0
C
s
= 1,14
Sumber: Karmiana (2011)

Untuk mencari distribusi yang tepat, perlu diketahui beberapa parameter statistik
yakni sebagai berikut :
1. Standar Deviasi (S).
Standar deviasi merupakan ukuran besarnya sebaran yang mendominasi suatu seri
data. Semakin besar penyimpangan suatu datum dengan nilai rata-rata suatu seri data,
semakin besar pula standar deviasi yang terjadi.
Rumus standar deviasi adalah sebagai berikut:



Di mana : S = standar deviasi seri data (mm).
X
i
= besar data curah hujan tahun ke-i (mm).

= nilai rata-rata seri data curah hujan (mm).


n = banyaknya jumlah data.

2. Koefisien Kemencengan (Skewness) (C
s
).
Kemencengan (skewness) adalah nilai derajat ketidaksimetrian suatu bentuk
distribusi. Koefisien ini dapat bernilai positif dan negatif.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
22











Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :



Di mana : C
s
= koefisien kemencengan.
X
i
= besar data curah hujan tahun ke-i (mm).

= nilai rata-rata seri data curah hujan (mm).


n = banyaknya jumlah data.
S = standar deviasi seri data (mm).


3. Koefisien Kurtosis (C
k
).
Koefisien kurtosis ialah koefisien yang menunjukkan tingkat keruncingan kurva
distribusi dibandingkan dengan distribusi normal. Kepuncakan (peakedness) distribusi
digolongkan menjadi tiga jenis, C
k
= 3 dinamakan mesokurtik, Ck < 3 dinamakan
leptokurtik (berpuncak tajam), sedangkan Ck > 3 dinamakan platikurtik (berpuncak
datar).


Gambar 2.6 Sketsa Koefisien Kemencengan Skewness.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
23

Rumus koefisien kurtosis adalah sebagai berikut :



Di mana : C
k
= koefisien kurtosis.
n = banyaknya jumlah data.
X
i
= besar data curah hujan tahun ke-i (mm).

= nilai rata-rata seri data curah hujan (mm).










Gambar 2.7 Sketsa Koefisien Kurtosis.

4. Koefisien Variansi (C
v
).
Koefisien variansi merupakan hasil perbandingan antara standar deviasi dan nilai
rata-rata seri data. Koefisien ini didapat dengan persamaan sebagai berikut :



Di mana : C
v
= koefisien variansi.
S = standar deviasi.

= nilai rata-rata seri data curah hujan (mm).





BAB II TINJAUAN PUSTAKA
24

Setelah parameter-parameter tersebut ditentukan, dilanjutkan dengan menentukan
jenis distribusi probabilitas yang sesuai untuk menghitung curah hujan selama periode
tertentu.
1. Distribusi Probabilitas Normal.
Perhitungan hujan rencana dilakukan dengan persamaan berikut :


Di mana : X
T
= hujan rencana periode ulang T (mm).

= nilai rata-rata seri data (mm).


K
T
= variabel reduksi Gauss (Tabel 2.4).
S = standar deviasi seri data (mm).

Tabel 2.4 Nilai Variabel Reduksi Gauss.
No
Periode Ulang,
T (tahun)
K
T
1 1,001 -3,05
2 1,005 -2,58
3 1,010 -2,33
4 1,050 -1,64
5 1,110 -1,28
6 1,250 -0,84
7 1,330 -0,67
8 1,430 -0,52
9 1,670 -0,25
10 2,000 0
11 2,500 0,25
No
Periode Ulang,
T (tahun)
K
T
12 3,330 0,52
13 4,000 0,67
14 5,000 0,84
15 10,000 1,28
16 20,000 1,64
17 50,000 2,05
18 100,000 2,33
19 200,000 2,58
20 500,000 2,88
21 1000,000 3,09
Sumber: Karmiana (2011)

2. Distribusi Probabilitas Log Normal.
Perhitungan hujan rencana berdasarkan distribusi Log Normal dilakukan dengan
persamaan berikut :





BAB II TINJAUAN PUSTAKA
25

Di mana : X
T
= nilai logaritmis hujan rencana dengan periode ulang T.

= nilai rata-rata dari log X.


S = nilai standar deviasi dari log X.



K
T
= variabel reduksi Gauss (Tabel 2.4).
3. Distribusi Probabilitas Gumbel.
Perhitungan hujan rencana dengan distribusi Gumbel dilakukan dengan persamaan
berikut :

[ {(

)} ]
Di mana : X
TR
= hujan rencana periode ulang TR (mm).

= nilai rata-rata seri data (mm).


S = standar deviasi seri data (mm).
K
r
= faktor frekuensi Gumbel.

4. Distribusi Probabilitas Log Pearson Type III.
Perhitungan hujan rencana berdasarkan distribusi Log Pearson Type III dilakukan
dengan persamaan berikut :


Di mana : X
T
= nilai logaritmis hujan rencana dengan periode ulang T
.

= nilai rata-rata dari log X.




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
26

S = nilai standar deviasi dari log X.



C
s
= koefisien skewness (kemencengan).


K
T
= faktor frekuensi (lihat Tabel 2.5).

Tabel 2.5 Faktor frekuensi K
T
Distribusi Log Pearson Type III.
1/T
C
s

0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0
0,9999
0,9995
0,9990
0,9980
0,9950
0,9900
0,9800
0,9750
0,9600
0,9500
0,9000
0,8000
0,7000
0,6000
0,5704
0,5000
0,4296
0,4000
0,3000
0,2000
0,1000
0,0500
0,0400
0,0250
0,0200
0,0100
0,0050
-2,7084
-2,5026
-2,3987
-2,2831
-2,1083
-1,9547
-1,7772
-1,7137
-1,5674
-1,4910
-1,2162
-0,8565
-0,5784
-0,3280
-0,2556
-0,0830
0,0948
0,1726
0,4581
0,8083
1,3231
1,7743
1,9102
2,1851
2,1851
2,6857
3,0410
-2,5251
-2,3555
-2,2678
-2,1688
-2,0164
-1,8803
-1,7203
-1,6625
-1,5283
-1,4576
-1,2003
-0,8572
-0,5876
-0,3420
-0,2705
-0,0995
0,0779
0,1559
0,4435
0,7995
1,3285
1,7970
1,9390
2,2270
2,2270
2,7551
3,1323
-2,3502
-2,2133
-2,1405
-2,0570
-1,9258
-1,8062
-1,6633
-1,6110
-1,4885
-1,4235
-1,1835
-0,8570
-0,5962
-0,3557
-0,3852
-0,1158
0,0610
0,1390
0,4285
0,7900
1,3329
1,8164
1,9666
2,2679
2,4067
2,8284
3,2228
-2,1845
-2,0766
-2,0174
-1,9481
-1,8366
-1,7327
-1,6060
-1,5591
-1,4481
-1,3886
-1,1657
-0,8561
-0,6041
-0,3689
-0,2995
-0,1320
0,0440
0,1220
0,4131
0,7799
1,3364
1,9392
1,9931
2,3076
2,4530
2,8910
3,3124
-2,0289
-1,9461
-1,8989
-1,8424
-1,7492
-1,6600
-1,5489
-1,5071
-1,4072
-1,3530
-1,1471
-0,8543
-0,6115
-0,3819
-0,3137
-0,1491
0,0269
0,1049
0,3973
0,7690
1,3389
1,8587
2,0185
2,3462
2,4981
2,9574
3,4011
-1,8841
-1,8224
-1,7857
-1,7406
-1,6639
-1,5884
-1,4919
-1,4551
-1,3658
-1,3168
-1,1276
-0,8516
-0,6182
-0,3943
-0,3274
-0,1640
0,0099
0,0876
0,3811
0,7575
1,3404
1,8768
2,0427
2,3836
2,5421
3,0226
3,4887


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
27

1/T
C
s

0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0
0,0020
0,0010
0,0005
0,0001
3,4874
3,8109
4,1244
4,8214
3,6087
3,9557
4,2931
5,0472
3,7296
4,1002
4,4619
5,2739
3,8498
4,2444
4,6306
5,5012
3,9693
4,3881
4,7990
5,7290
4,0880
4,5311
4,9670
5,9569
Sumber: Sri Eko Wahyuni, Bahan Kuliah Hidrologi Lanjut (2011)

D. Uji Distribusi Probabilitas.
Uji distribusi probabilitas dilakukan untuk mengetahui apakah persamaan
distribusi yang dipilih dapat mewakili sampel data yang dianalisis. Ada dua metode
pengujian, yaitu Metode Chi-Kuadrat (x
2
) dan Metode Smirnov-Kolmogorov.
1. Metode Chi-Kuadrat (x
2
).
Rumus yang digunakan pada perhitungan dengan metode ini, ialah:


Di mana : x
2
= parameter Chi-Kuadrat terhitung.
E
i
= banyaknya data rencana dalam kelas i.
Oi = banyaknya data pengamatan dalam kelas i.
K = banyaknya kelas distribusi.
Prosedur perhitungan dengan metode Chi-Kuadrat ini adalah sebagai berikut :
a. Urutkan data curah hujan maksimum rencana dari besar ke kecil.
b. Hitung jumlah kelas distribusi (K).

Di mana : K = banyaknya kelas distribusi.
n = banyaknya data.
c. Menghitung derajat kebebasan (DK) dan x
2
cr.


Di mana : DK = derajat kebebasan.
K = banyaknya kelas distribusi.
p = banyaknya parameter; Gumbel (p = 1) Normal (p = 2).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
28


Tabel 2.6 Nilai Parameter Chi-Kuadrat Kritis (x
2
cr
).
DK
Derajat Kepercayaan ()
0,995 0,99 0,975 0,95 0,05 0,025 0,01 0,005
1
2
3
4
5

6
7
8
9
10

11
12
13
14
15

16
17
18
19
20

21
22
23
24
25

26
27
28
29
30

0,0000393
0,0100
0,0717
0,207
0,412

0,676
0,989
1,344
1,735
2,156

2,603
3,074
3,565
4,075
4,601

5,142
5,697
6,625
6,844
7,434

8,034
8,643
9,260
9,886
10,520

11,160
11,808
12,461
13,121
13,787

0,000157
0,0201
0,115
0,297
0,554

0,872
1,239
1,646
2,088
2,558

3,053
3,571
4,107
4,660
5,229

5,812
6,408
7,015
7,633
8,260

8,897
9,542
10,196
10,856
11,524

12,198
12,879
13,565
14,256
14,953

0,000982
0,0506
0,216
0,484
0,831

1,237
1,690
2,180
2,700
3,247

3,816
4,404
5,009
5,629
6,262

6,908
7,564
8,231
8,907
9,591

10,283
10,982
11,689
12,401
13,120

13,844
14,573
15,308
16,047
16,791

0,00393
0,103
0,352
0,711
10145

1,635
2,167
2,733
3,325
3,940

4,575
5,226
5,892
6,571
7,261

7,962
8,672
9,390
10,117
10,851

11,591
12,338
13,091
13,848
14,611

15,379
16,151
16,928
17,708
18,493

3,841
5,991
7,815
9,488
11,070

12,592
14,067
15.507
16,919
18,307

19,675
21,026
22,362
23,685
24,996

26,296
27,587
28,869
30,114
31,410

32,671
33,924
36,172
36,415
37,652

38,885
40,113
41,337
42,557
43,733

5,024
7,378
9,348
11,143
12,832

14,449
16,013
17,535
19,023
20,483

21,920
23,337
24,736
26,119
27,448

28,845
30,191
31,526
32,852
34,170

35,479
36,781
38,076
39,364
40,646

41,923
43,194
44,461
45,722
46,979

6,635
9,210
11,345
13,277
15,086

16,812
18,475
20,090
21,666
23,209

24,725
26,217
27,388
29,141
30,578

32,000
33,409
34,805
36,191
37,566

38,932
40,289
41,638
42,980
44,314

45,642
46,963
48,278
49,588
50,892

7,879
10,597
12,838
14,860
16,750

18,548
20,278
21,955
23,589
25,188

26,757
28,300
29,819
31,319
32,801

34,267
35,718
37,156
38,582
39,997

41,401
42,796
44,181
45,558
46,928

48,290
49,645
50,993
52,336
53,672

Sumber: Karmiana (2011)



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
29

d. Menghitung peluang kelas distribusi.

; i = 1, 2, 3, ... , (K-1)


Di mana : P
i
= peluang kelas distribusi.
K = banyaknya kelas distribusi.
T = periode ulang (tahun).

e. Menghitung besar curah hujan tiap kelas masing-masing distribusi probabilitas.
f. Perhitungan nilai x
2
.
g. Bandingkan nilai x
2
terhadap x
2
cr.

Distribusi probabilitas yang dapat diterima dan layak digunakan adalah distribusi
yang mempunyai simpangan maksimum terkecil dan lebih lebih kecil dari simpangan
kritis yang ada sesuai dengan persamaan :



2. Metode Smirnov-Kolmogorov.
Langkah yang digunakan untuk melakukan pengujian metode Smirnov-
Kolmogorov adalah sebagai berikut :
a. Urutkan data (X
i
) dari besar ke kecil.
b. Tentukan peluang empiris (P
x
) masing-masing data dengan menggunakan salah
satu rumus berikut (Subarkah, 1978) :
California Method (1923)


Hazen (1930)


Weibull (1939)


Di mana : m = nomor urut data (setelah diurutkan) dan n = jumlah data.



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
30

c. Tentukan peluang teoritis (P
x
) berdasarkan distribusi probabilitas yang dipilih.
Peluang teoritis diartikan sebagai luas area di bawah kurva normal sesuai dengan
nilai variabel reduksi (K
t
), yang ditentukan dengan Tabel 2.7 (terlampir).

d. Hitung selisih (P
i
).



e. Distribusi probabilitas diterima jika nilai P
i
< P
kritis
(Nilai P
kritis
terdapat
pada Tabel 2.8.
Tabel 2.8 Nilai P
kritis
Smirnov-Kolmogorov.
N
(derajat kepercayaan)
0,20 0,10 0,05 0,01
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
0,45
0,32
0,27
0,23
0,21
0,19
0,18
0,17
0,16
0,15
0,51
0,37
0,30
0,26
0,24
0,22
0,20
0,19
0,18
0,17
0,56
0,41
0,34
0,29
0,27
0,24
0,23
0,21
0,20
0,19
0,67
0,49
0,40
0,36
0,32
0,29
0,27
0,25
0,24
0,23
N > 50


Sumber: Karmiana (2011)

(Pengujian secara grafis).
Pengujian metode Smirnov-Kolmogorov secara grafis memiliki prinsip yang serupa
dengan pengujian secara analitis. Perbedaan metode ini terletak pada media pengujian
yang digunakan. Pada pengujian secara analitis nilai P(X
i
) didapat dengan
menggunakan Tabel 2.8, sedangkan untuk pengujian secara grafis nilai P(X
i
) didapat
dengan menarik garis horizontal dari setiap titik koordinat P
x
yang telah diplot
sebelumnya ke kertas probabilitas menuju garis teoritis.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
31









Gambar 2.8 Kertas Probabilitas.


2.3.3. Perhitungan Debit Banjir Maksimum.
Berdasarkan Subarkah (1978), perhitungan debit banjir rencana Kali Kuning dapat
dilakukan dengan beberapa metode, antara lain metode rasional, metode Weduwen,
metode Hasper, metode Hidrograf Satuan Sistemik Gama I, dan metode Passing
Capacity.
A. Metode Rasional.
Metode rasional pertama kali dikenalkan oleh Mulvaney pada tahun 1847 di
Irlandia. Metode ini merupakan metode yang paling umum digunakan untuk
menentukan debit banjir rencana suatu sungai. Metode rasional efektif diterapkan di
daerah pengaliran yang terbatas. Menurut Departemen PU, SK SNI M-18-1989-F
(1989) dalam Karmiana (2011), dijelaskan bahwa metode rasional dapat digunakan
untuk daerah pengaliran < 5000 Ha.
Persamaan metode rasional yakni :

Di mana : Q = debit banjir (m
3
/det).
C = koefisien pengaliran.
I = intensitas curah hujan (mm/jam).
A = luas area (km
2
).
0,1 0,2 0,5 1 2 3 5 10 20 30 40 50 60 70 80 90 95 99 99,9
1.5
1.7
1.9
2.1
2.3
2.5
C
u
r
a
h

H
u
j
a
n

(
d
a
l
a
m

l
o
g
)

Nilai Probabilitas (%)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
32

Koefisien Pengaliran (C).
Koefisien pengaliran (C) diartikan sebagai korelasi antara puncak aliran
permukaan terhadap intensitas hujan. Nilai koefisien pengaliran dapat dilihat pada
Tabel 2.9.
Tabel 2.9 Koefisien Pengaliran untuk Rumus Rasional.
Kondisi daerah pengaliran dan sungai Harga C
Daerah pegunungan yang curam
Daerah pegunungan tersier
Tanah bergelombang dan hutan
Tanah dataran yang ditanami
Persawahan yang diairi
Sungai di daerah pegunungan
Sungai kecil di dataran
Sungai besar yang lebih dari setengah daerah
pengalirannya terdiri dari dataran
0,75 0,90
0,70 0,80
0,50 0,75
0,45 0,60
0,70 0,80
0,75 0,85
0,45 0,75
0,50 0,75

Sumber: Hidrologi untuk pengairan

Intensitas Curah Hujan (I).
Karmiana (2011) berpendapat, perhitungan curah hujan dilakukan dengan
beberapa metode terkait data hujan yang tersedia. Jika data hujan adalah data menitan,
maka perhitungan intensitas curah hujan dilakukan dengan Metode Talbot, Sherman,
dan Ishiguro. Namun jika data hujan berupa data harian, maka perhitungan intensitas
hujan digunakan Metode Mononobe dengan persamaan sebagai berikut:



Di mana : I = intensitas curah hujan (mm/jam).
X
24
= curah hujan harian maksimum tahunan (mm).
t
c
= waktu konsentrasi (rumus Kirpich) (jam).



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
33


Rumus Kirpich :



Di mana : t
c
= waktu konsentrasi (menit).
L = panjang lintasan air dari titik terjauh sampai titik yang
ditinjau (m).
S = kemiringan rata-rata daerah lintasan air.

B. Metode Weduwen.
Metode Weduwen dapat digunakan untuk daerah pengaliran (DAS) s 100 km
2
.
Tahap perhitungan debit banjir Metode Weduwen adalah sebagai berikut:
1. Asumsi nilai waktu konsentrasi (t
1
) dalam jam.
2. Hitung faktor reduksi ().






Di mana : = faktor reduksi.
t
1
= waktu konsentrasi (jam).
A = luas DAS (km
2
).

3. Hitung debit per satuan luas (Q
a
).
Nilai debit per satuan luas dengan kala ulang 70 tahun ditentukan dengan
rumus:






BAB II TINJAUAN PUSTAKA
34

Jika A 100 km
2
dan t 12 jam, maka nilai Q
a
dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut:



Di mana : Q
a
= debit per satuan luas (m
3
/det/km
2
).
R
24
= curah hujan harian maksimum tahunan (mm).
t
1
= waktu konsentrasi (jam).

4. Hitung koefisien pengaliran (C).




Di mana : C = koefisien pengaliran.
= faktor reduksi.
Q
a
= debit per satuan luas (m
3
/det/km
2
).

5. Hitung waktu konsentrasi (t
2
).


Di mana : t
2
= waktu konsentrasi (jam).
A = luas DAS (km
2
).
C = koefisien pengaliran.
= faktor reduksi.
Q
a
= debit per satuan luas (m
3
/det/km
2
).
S = kemiringan rata-rata dasar sungai.
*) catatan : nilai t
2
harus mendekati nilai t
1.

6. Hitung debit per satuan luas (Q
a
) dengan t = t
1
= t
2.





BAB II TINJAUAN PUSTAKA
35

7. Hitung debit banjir maksimum (Q).


Di mana :
Q = debit banjir maksimum (m
3
/det).
R
24
= curah hujan daerah setelah konversi (mm).
(dengan acuan Gambar 2.9).
C = koefisien pengaliran.
= faktor reduksi.
Q
a
= debit per satuan luas (m
3
/det/km
2
).
A = luas DAS (km
2
).















Gambar 2.9 Grafik Koefisien Curah Hujan.



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
36

C. Metode Haspers.
Metode Haspers layak digunakan di daerah dengan luas daerah pengaliran (DAS)
200 km
2
. Tahap-tahap perhitungan pada metode Haspers, yaitu :
1. Hitung koefisien pengaliran (C).


Di mana : C = koefisien pengaliran.
A = luas DAS (km
2
).

2. Hitung waktu konsentrasi (t).


Di mana : t = waktu konsentrasi (jam).
L = panjang sungai (km).
S = kemiringan sungai.

3. Cari nilai faktor reduksi ().


Di mana : = faktor reduksi.
t = waktu konsentrasi (jam).
A = luas DAS (km
2
).

4. Hitung Intensitas hujan rencana (I).
Untuk t < 2 jam.


Di mana : I = Intensitas hujan rencana (mm/jam).
t = waktu konsentrasi (jam).
R
24
= curah hujan harian maksimum (mm).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
37

Untuk 2 jam < t < 19 jam.



Di mana : I = intensitas hujan rencana (mm/jam).
t = waktu konsentrasi (jam).
R
24
= curah hujan harian maksimum (mm).

Untuk 19 jam < t < 30 hari.


Di mana : I = intensitas hujan rencana (mm/jam).
t = waktu konsentrasi (hari).
R
24
= curah hujan harian maksimum (mm).

5. Hitung debit per satuan luas rencana (Q
a
).



Di mana : Q
a
= debit per satuan luas rencana (m
3
/det/km
2
).
I = intensitas hujan rencana (mm/jam).
t = waktu konsentrasi (jam).

6. Hitung debit maksimum (Q).


Di mana : Q = debit banjir maksimum (m
3
/det).
C = angka pengaliran.
= faktor reduksi.
Q
a
= debit per satuan luas (m
3
/det/km
2
).
A = luas DAS (km
2
).



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
38

D. Metode Hidrograf Satuan Sistemik Gama I (HSS Gama I).
Berdasarkan Linsley (1989) dalam Karmiana (2011), dijelaskan bahwa
penggunaan hidrograf satuan tidak boleh lebih dari 5000 km
2
. Metode ini digunakan
apabila data hujan berupa data jam-an. Unsur-unsur HSS Gama I meliputi waktu
puncak (T), debit puncak (Q
p
), dan waktu dasar (T
b
).









Gambar 2.10 Bagian-Bagian Metode HSS Gama I.

Langkah-langkah perhitungan HSS Gama I yakni sebagai berikut :
1. Hitung nilai faktor sumber (SF).


Di mana : SF = nilai faktor sumber.
L
1
= panjang sungai tingkat 1 (km).
LN = panjang semua sungai tingkat (km).
Menurut Stahler, tingkat sungai dikategorikan dengan cara berikut :
a. Sungai paling hulu disebut sungai tingkat 1.
b. Jika dua sungai yang sama tingkatannya bertemu, maka terbentuk sungai dengan
tingkatan yang lebih tinggi.
c. Jika sungai dengan suatu tingkatan tertentu bertemu dengan sungai yang
tingkatannya lebih rendah, maka tingkatan sungai tidak berubah.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
39

2. Hitung nilai faktor lebar (WF).


Di mana : WF = nilai faktor lebar.
WU = lebar DAS di titik 0,75 L dari outlet (km).
WL = lebar DAS di titik 0,25 L dari outlet (km).








Gambar 2.11 Bagian-Bagian Metode HSS Gama I.

3. Hitung nilai perbandingan antara luas daerah hulu dengan luas total DAS (RUA).


Di mana : RUA = nilai perbandingan luas DAS.
AU = luas DAS daerah hulu (km
2
).
A = luas DAS total (km
2
).

4. Hitung nilai faktor simetri (SIM).

Di mana : SIM = nilai faktor simetri.
WF = nilai faktor lebar.
RUA = nilai perbandingan luas DAS.


WU
WL
0,75 L
0,25 L
Outlet


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
40

5. Hitung nilai frekuensi sumber (SN).


Di mana : SN = nilai frekuensi sumber.
P
1
= jumlah sungai tingkat 1.
PN = jumlah sungai semua tingkat.

6. Hitung nilai kerapatan jaringan drainase (D).


Di mana : D = nilai kerapatan jaringan drainase.
LN = panjang semua sungai tingkat (km).
A = luas DAS total (km
2
).

7. Hitung waktu puncak (T
r
).


Di mana : T
r
= waktu puncak (jam).
SF = nilai faktor sumber.
SIM = nilai faktor simetri.

8. Hitung waktu dasar (T
b
).


Di mana : T
b
= waktu dasar (jam).
T
r
= waktu puncak (jam).
S = kemiringan dasar sungai.
SN = nilai frekuensi sumber.
RUA = nilai perbandingan luas DAS.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
41

9. Hitung debit puncak hidrograf (Q
p
).


Di mana : Q
p
= debit puncak hidrograf (m
3
/det).
A = luas DAS total (km
2
).
T
r
= waktu puncak (jam).
JN = jumlah pertemuan sungai.

10. Hitung tampungan (K).


Di mana : K = tampungan (jam).
A = luas DAS total (km
2
).
S = kemiringan dasar sungai.
SF = nilai faktor sumber.
D = nilai kerapatan jaringan drainase.

11. Hitung debit aliran dasar (Q
b
).


Di mana : Q
b
= debit aliran dasar (m
3
/det).
A = luas DAS total (km
2
).
D = nilai kerapatan jaringan drainase.

12. Hitung debit pada bagian turun hidrograf (Q
t
).


Di mana : Q
t
= debit pada bagian turun hidrograf (m
3
/det).
Q
p
= debit puncak hidrograf (m
3
/det).
t = waktu ke-... (1, 2, 3, ..., dst).
K = tampungan (jam).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
42

E. Metode Passing Capacity.
Metode Passing Capacity adalah suatu metode untuk mencari debit banjir
rencana dengan memperhitungkan kecepatan aliran dan luas penampang basah sungai.
Langkah-langkah perhitungan metode ini yakni sebagai berikut :
1. Hitung luas penampang basah sungai (A).


Di mana : A = luas penampang bawah sungai (m
2
).
B = lebar penampang sungai bagian bawah (m).
m = kemiringan tepi saluran.
H
w
= tinggi air di atas penampang sungai (m).
(H
w
diperoleh dari hasil wawancara dengan penduduk setempat).









Gambar 2.12 Penampang Trapesium Sungai.

2. Hitung keliling penampang basah sungai (P).


Di mana : P = keliling penampang basah sungai (m).
B = lebar penampang sungai bagian bawah (m).
H
w
= tinggi air di atas penampang sungai (m).
(H
w
diperoleh dari hasil wawancara dengan penduduk setempat).
m = kemiringan tepi saluran.
H
w



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
43

3. Hitung jari-jari hidrolis penampang (R).


Di mana : R = jari-jari hidrolis penampang (m).
A = luas penampang bawah sungai (m
2
).
P = keliling penampang basah sungai (m).

4. Hitung debit banjir rencana (Q).


Di mana : Q = volume banjir rencana (m
3
/det).
n = koefisien kekasaran Manning (Tabel 2.10).
R = jari-jari hidrolis penampang (m).
I = kemiringan dasar saluran.
A = luas penampang bawah sungai (m
2
).

Tabel 2.10 Koefisien Kekasaran Manning.
Kondisi dan Tipe Alur
Harga
Min Normal Maks
Mengalir pada dataran rendah
1. Alur bersih, lurus, elevasi muka air penuh, tidak ada celah atau
bagian yang dalam (kedung)
2. Sama seperti di atas tetapi lebih banyak batu dan rumput/tanaman
3. Alur bersih, melingkar, dengan bagian dalam dan dangkal
4. Sama seperti di atas, tetapi lebih banyak batu dan
rumput/tanaman
5. Sama seperti di atas, tetapi elevasi muka air lebih rendah, dan
lebih banyak perubahan kemiringan dan lebar
6. Sama seperti di atas, tetapi lebih banyak batu
7. Penggal sungai dengan aliran pelan, penuh rumput, dengan
kolam yang dalam
8. Alur banyak rumput, alur-alur yang dalam, atau lintasan banjir
dengan tegakan pohon dan semak

Sungai pegunungan, pada alur tidak ada vegetasi, tebing sungai
curam, pohonan semak pada tebing tenggelam saat muka air tinggi.
1. Dasar sungai : kerikil. Kerakal. Dengan beberapa batu besar
2. Dasar sungai : kerakal dengan batu-batu besar

0,025

0,030
0,033
0,035

0,040

0,045
0,050

0,075



0,030
0,040

0,030

0,035
0,040
0,045

0,048

0,050
0,070

0,100



0,040
0,050

0,033

0,040
0,045
0,050

0,055

0,060
0,080

0,150



0,050
0,070
Sumber: SNI 2830 : 2008 (Tata Cara Perhitungan Tinggi Muka Air Sungai dengan Pias Berdasarkan
Rumus Manning)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
44

2.4. Perencanaan Sabo Dam.
2.4.1. Perhitungan Debit Banjir Rencana Sabo Dam.
Debit banjir rencana harus didesain berdasarkan curah hujan dengan periode ulang
100 tahun atau curah hujan maksimum yang terjadi di masa lalu (diambil yang
terbesar) (Technical Standarts and Guidelines For Sabo Engineering, 2010). Debit
rencana pada perencanaan Sabo Dam sedikit berbeda dengan debit banjir untuk
perencanaan pekerjaaan saluran. Perbedaan tersebut terjadi karena adanya faktor rasio
dari konsentrasi sedimen ().



Di mana: Q
d
= debit banjir rencana Sabo Dam (m
3
/det).
Q = debit banjir maksimum (m
3
/det).
= rasio konsentrasi sedimen dalam persen.

2.4.2. Perencanaan Main Dam.
Perencanaan Main Dam meliputi hal-hal sebagai berikut :
- Tinggi efektif Main Dam.
- Lebar dasar pelimpah Main Dam.
- Tinggi air di atas pelimpah.
- Tinggi jagaan.
- Mercu pelimpah Main Dam.
- Kedalaman pondasi Main Dam.
- Kemiringan badan Main Dam.
- Jarak sayap Main Dam.

A. Tinggi Efektif Main Dam.
Tinggi efektif Main Dam (h
m
) adalah ketinggian dam yang dibutuhkan untuk
mendapatkan volume tampungan sedimen sesuai dengan rencana dan aman digunakan.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
45

Ketinggian tersebut harus disesuaikan dengan kondisi topografi sungai, dimana tinggi
efektif Main Dam tidak melebihi elevasi tertinggi tebing sungai.

B. Lebar Dasar Pelimpah Main Dam.
Pelimpah Main Dam sebaiknya didesain berbentuk trapesium dengan lebar harus
lebih kecil dari lebar sungai. Berdasarkan Salamun (2010), untuk menghitung lebar
dasar pelimpah Main Dam digunakan persamaan sebagai berikut :
B
1
= o .


Di mana :
B
1
= lebar Pelimpah bagian bawah (m).
Q
d
= debit banjir rencana (m
3
/det).
o = koefisian limpasan (Tabel 2.11).

Tabel 2.11 Nilai Koefisien Limpasan ().
Luas Daerah Aliran
Koefisien
Limpasan
A 1 km
2

1 km
2
A 10 km
2

10 km
2
A 100 km
2

A 100 km
2

2 3
2 4
3 5
3 6
Sumber: Salamun, 2010


C. Tinggi Air Di Atas Pelimpah (h
w
).
Untuk menentukan tinggi air di atas pelimpah, dapat diketahui dengan persamaan
berikut:



Di mana : Q
d
= debit banjir rencana (m
3
/det).
h
w
= tinggi air di atas pelimpah (m).
B
1
= lebar dasar pelimpah (m).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
46








Gambar 2.13 Potongan Melintang Pelimpah.

D. Tinggi Jagaan (w).
Tinggi jagaan diperlukan untuk menghindari terjadinya luapan air ke samping
ketika debit yang terjadi lebih besar dari debit banjir rencana. Oleh karena itu
sebaiknya tinggi banjir rencana berada di bawah elevasi sayap. (Technical Standarts
and Guidelines For Sabo Engineering, 2010).

Tabel 2.12 Tinggi Jagaan.
Debit Rencana
(m
3
/det)
Tinggi Jagaan
(m)
Q
d
< 200
200 Q
d
500
Q
d
> 500
0,60
0,80
1,00
Sumber: Technical Standarts and Guidelines For Sabo Engineering, 2010








Gambar 2.14 Ilustrasi Tinggi Jagaan.



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
47

E. Mercu Pelimpah Main Dam.
Lebar mercu pelimpah ditentukan berdasarkan material dasar sungai, kondisi
aliran sedimen, dan debit banjir rencana. Selain itu, lebar mercu pelimpah juga harus
diperhitungkan stabilitasnya terhadap kemungkinan kerusakan akibat aliran debris.
Tabel 2.13 Lebar Mercu Pelimpah Main Dam.
Lebar Mercu (b
a
) b
a
= 1,5 2,0 m b
a
= 3,0 4,0 m
Sedimen
Pasir dan kerikil atau kerikil
dan batu-batu kecil
Batu-batu besar
Sifat Hidraulik Aliran
Gerakan mandiri
(lepas)
Gerakan massa
(debris flow)
Sumber: Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Pengaman Sungai Check Dam

Bentuk mercu pelimpah Main Dam didesain dengan menggunakan dasar mercu
pelimpah tipe Schoklitsch dengan perhitungan sebagai berikut :

*((



Di mana :
H
en
= tinggi energi di atas pelimpah Main Dam (m).
h
w
= tinggi air di atas pelimpah (m).
V
o
= kecepatan air di atas pelimpah Main Dam (m).
g = gaya gravitasi (9,81 m/det
2
).
Q
d
= debit banjir rencana (m
3
/det).
B
1
= lebar dasar pelimpah (m).
R
1
,R
2
= jari-jari mercu pelimpah Main Dam (m).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
48








Gambar 2.15 Sketsa Mercu Pelimpah Main Dam.

F. Kedalaman Pondasi Main Dam.
Konstruksi Main Dam sedapat mungkin direncanakan terletak di atas tanah keras,
namun berdasarkan Technical Standarts and Guidelines For Sabo Engineering (2010),
kedalaman penanaman pondasi Main Dam disarankan mengikuti standar berikut:






Gambar 2.16 Penanaman Pondasi Sabo Dam.

Tabel 2.14 Kedalaman Minimum Penanaman Pondasi Main Dam
Material Pondasi
Kedalaman Minimum
Penanaman Pondasi (D)
Pasir dan Kerikil Minimum 2,0 m
Batuan/Tanah
Lunak 2,0 m
Keras 1,0 m
Sumber: Technical Standarts and Guidelines For Sabo Engineering, 2010
Bottom of Sabo Dam
D
D
Bottom of Sabo Dam
In case of sand and gravel In case of rock
R
1
R
1
H
en

h
w

(V
o
)
2

/2g
R
2
R
2


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
49

Di daerah dengan dasar sungai yang sangat curam, penanaman pondasi dapat
dilakukan dengan cut-off method.








Gambar 2.17 Penanaman Pondasi Dengan Cut-Off Method.

Tabel 2.15 Kedalaman Dan Lebar Pondasi Main Dam.
Kegunaan H b
1
b
2

Kebutuhan perencanaan longitudinal < 2 m 2 m B/3
Pencegahan dari erosi hilir 1 m 2 m B/3
Perencanaan ekonomis Sabo Dam Minimum 0,5 m
Minimum
B/2
-
Sumber: Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering, 2010

Selain menggunakan tabel, dapat digunakan pula persamaan berikut (Pedoman
Penyusunan Spesifikasi Teknis Pengaman Sungai Check Dam) :


Di mana :
h
w
= tinggi air di atas pelimpah (m).
h
m
= tinggi efektif Main Dam (m).
h
p
= kedalaman pondasi Main Dam (m).




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
50












Gambar 2.18 Sketsa Kedalaman Pondasi Main Dam.

G. Kemiringan Badan Main Dam.
Kemiringan badan Main Dam memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap
kestabilan bangunan, baik kemiringan di bagian hulu maupun hilir.
Pada umumnya kemiringan bagian hilir Main Dam lebih kecil daripada bagian
hulu. Hal ini dimaksudkan agar batuan yang melimpas tidak menyusuri permukaan
dan menyebabkan abrasi di hilir Main Dam.

Kemiringan hilir (n).
Kemiringan standar badan Main Dam bagian hilir yaitu 1 : 0,2 mengingat
kemungkinan terjadinya tumbukan dan abrasi akibat aliran air dan material. Apabila
aliran dan ukuran butiran sedimen kecil, maka kemiringan badan Main Dam bagian
hilir dapat disesuaikan kelandaiannya (Technical Standards and Guidelines For Sabo
Engineering, 2010).





Gambar 2.19 Tipikal Kemiringan Badan Main Dam.
b
a



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
51

Kemiringan hulu (m).
Kemiringan badan Main Dam bagian hulu harus ditentukan berdasarkan syarat
stabilitas bangunan, dengan nilai minimal m sebesar 0,2. Kemiringan badan Main Dam
bagian hulu yaitu 1 : m, dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut (Sabo
Engineering, 1987) :
1. Untuk H < 15 m :

[ ]



2. Untuk H 15 m :
[

[ {

} ]



Dengan :
o =
s
/
w
= h
w
/ H

H = h
p
+ h
m

= b
a
/ H
=
c
/
w

c = h
e
/ H


Di mana :

s
= berat jenis sedimen (ton/m
3
).

w
= berat jenis air (ton/m
3
).

c
= berat jenis volume bahan dam (ton/m
3
).
c
e
= koefisien tekanan tanah aktif, biasanya diambil 0,3.
= koefisien uplift, biasanya diambil 0,3 1,0.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
52

n = kemiringan di hilir badan Main Dam.
m = kemiringan di hulu badan Main Dam.
h
p
= kedalaman pondasi (m).
h
m
= tinggi efektif Main Dam (m).
H = tinggi total Main Dam (m).
h
e
= tinggi endapan sedimen (m).
h
w
= tinggi air di atas pelimpah (m).
b
a
= lebar mercu pelimpah Main Dam (m).
















Gambar 2.20 Sketsa Bagian-Bagian Sabo Dam.


H. Jarak Sayap Main Dam.
Sayap Main Dam direncanakan sebagai sayap yang tidak dilimpasi air dan
mempunyai kemiringan ke arah dalam dari kedua sisi Main Dam. Sisi hulu sayap
harus dibuat tegak, sedangkan sisi hilir sayap boleh tegak atau miring dengan
kemiringan sisi hilir Main Dam.


b
a



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
53

Konstruksi sayap Main Dam harus memenuhi ketentuan sebagai berikut
(Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Pengaman Sungai Check Dam) :
- Kemiringan sayap ke arah tebing minimum sama dengan kemiringan dasar sungai
di hulu bendung dan maksimum 10%.
- Panjang sayap sebelah kiri dan kanan boleh tidak sama, dan ditentukan
berdasarkan letak sumbu aliran.
- Sayap harus direncanakan masuk ke dalam tebing karena tanah di bagian tebing
sungai mudah tergerus oleh aliran air.
- Sisi hulu sayap harus dibuat tegak, sedangkan sisi hilir sayap boleh tegak atau
miring. Apabila sisi hilir dibuat miring, kemiringannya sama dengan kemiringan
sisi hilir Main Dam.
- Lebar mercu sayap bagian atas maksimum sama dengan lebar mercu pelimpah,
lebar minimum ditentukan berdasarkan gaya-gaya akibat benturan.

Desain kemiringan sayap Main Dam berdasarkan kemiringan sungai (Technical
Standards and Guidelines For Sabo Engineering, 2010) :



















p : 1
p : 1
h
1
5,0 m


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
54































Gambar 2.21 Kemiringan Mercu Sayap














Gambar 2.22 Lebar Mercu Sayap.
H
c
5,0 m H
c
5,0 m
p : 1
p : 1
p : 1 p : 1
h
1
5,0 m
h
1
5,0 m


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
55

Pada umumnya, gaya tumbuk yang bekerja di sayap Main Dam terjadi akibat
besarnya aliran banjir dan aliran debris. Untuk mengurangi kerusakan akibat gaya
tumbuk tersebut perlu dilakukan analisis mengenai desain penanaman sayap Main
Dam.

1. Tipe tanah berpasir dan berkerikil.
Metode standar penanaman sayap Main Dam tipe tanah ini dilakukan dengan
membuat lereng sungai berundak-undak.
a. Kemiringan lereng lebih curam dari 1 : 1,0.









Gambar 2.23 Penanaman Sayap Untuk Tanah Tipe Berpasir Dan Berkerikil
Dengan kemiringan lebih curam dari 1:1,0.

Keterangan Gambar :
I
1
= panjang penanaman sayap bagian samping (4,0 m).
I
2
= kedalaman penanaman sayap (2,5 3,5 m).
b
1
= jarak dari kaki sayap bagian samping (minimum 1,0 m).
b
2
= lebar undakan (minimum 2,0 m).
h
1
= tinggi undakan (maksimum 5,0 m).
m = kemiringan undakan (minimum 0,6 atau tergantung dari keadaan
geologi tanah).
p = kemiringan sayap ke arah tebing.
p : 1


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
56

b. Kemiringan lereng lebih landai dari 1 : 1,0.








Gambar 2.24 Penanaman Sayap Tanah Tipe Berpasir Dan Berkerikil
Dengan Kemiringan Lebih Landai Dari 1:1,0.

Keterangan Gambar :
I
1
= panjang penanaman sayap bagian samping (4,0 m).
I
2
= kedalaman penanaman sayap (2,5 3,5 m).
b
1
= jarak dari kaki sayap bagian samping (minimum 1,0 m).
b
2
= lebar undakan (minimum 2,0 m).
m = kemiringan undakan (minimum 0,6 atau tergantung dari keadaan
geologi tanah).
p = kemiringan sayap ke arah tebing.

2. Tipe tanah berbatu.











Gambar 2.25 Penanaman Sayap Untuk Tipe Tanah Berbatu.
p : 1
p : 1


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
57

Keterangan Gambar :
I
1
= Panjang penanaman sayap bagian samping (Untuk tanah lunak 2,0 m
dan tanah keras 1,0 m).
I
2
= Kedalaman penanaman sayap (Untuk tanah lunak 1,5 2,5 m dan
tanah keras 1,0 m).
b
1
= Jarak dari kaki sayap bagian samping (minimum 0,5 m).
b
2
= Lebar undakan (minimum 1,0 m).
m
1
= kemiringan undakan bawah sesuai dengan penampang sungai.
m
2
= kemiringan undakan tengah (minimum 0,6 atau tergantung dari
keadaan geologi tanah).
m
3
= kemiringan undakan atas (0,5).
p = kemiringan sayap ke arah tebing.

2.4.3. Perencanaan Sub Sabo Dam dan Lantai Terjun (Apron).
Untuk mencegah kemungkinan gerusan yang terjadi di kaki Main Dam, perlu
dibuat adanya sistem perlindungan bagian muka Main Dam. Sistem perlindungan
tersebut terdiri atas Sub Sabo Dam dan Apron.
Kriteria sistem perlindungan yang diperlukan oleh suatu Main Dam dapat
dilihat pada tabel berikut (Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering,
2010) :
Tabel 2.16 Kriteria Pemilihan Sistem Perlindungan.
Geologi Bangunan yang disarankan Kriteria
Pasir dan
kerikil
Apron dengan dinding vertikal dan
dinding samping

Apron dengan Sub Sabo Dam Apabila tebal dari Apron melebihi 2,0 m
Batu
- Apabila tanah dasarnya merupakan bebatuan
Apron atau Sub Sabo Dam
Apabila terdapat banyak retakan/patahan di dasar
sungai
Apron dengan Sub Sabo Dam
Apabila tebal Apron melebihi 2,0 m atau kondisi
dasar sungai tidak stabil
Sumber: Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering (2010)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
58

Perencanaan Sub Sabo Dam dibagi menjadi beberapa bagian, yakni lebar dan
tebal pelimpah, tinggi, kemiringan badan, konstruksi sayap, dan perhitungan pondasi
Sub Sabo Dam. Sedangkan untuk perencanaan Apron terbagi menjadi perhitungan
tebal Apron dan panjang Apron.

A. Perencanaan Sub Sabo Dam.
Perencanaan Sub Sabo Dam dilakukan dengan menggunakan parameter sebagai
berikut (Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Pengaman Sungai Check Dam) :
1. Bentuk mercu dan kemiringan hilir Sub Sabo Dam sama dengan bentuk mercu
Main Dam.
2. Dimensi Sub Sabo Dam disesuaikan dengan gaya-gaya yang bekerja.
3. Kedalaman Pondasi Sub Sabo Dam (H
ps
).
Pondasi Sub Sabo Dam didesain dengan kedalaman sesuai dengan tabel berikut :
Tabel 2.17 Kedalaman Pondasi Sub Sabo Dam.
Material Pondasi Kedalaman Minimum Penanaman Pondasi (D)
Pasir dan Kerikil 1,5 m
Batuan/Tanah
Lunak 1,0 m
Keras 0,5 m
Sumber: Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering (2010)

4. Tinggi Sub Sabo Dam direncanakan dengan persamaan empiris sebagai berikut :


Di mana :
H
2
= tinggi pelimpah Sub Sabo Dam dari dasar Main Dam (m).
H
1
= tinggi pelimpah Main Dam dari lantai Apron (m).
H
ps
= kedalaman pondasi Sub Sabo Dam dari dasar Main Dam (m).
(Tabel 2.17)
H
sb
= tinggi total Sub Sabo Dam (m).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
59










Gambar 2.26 Sketsa Sub Sabo Dam.

B. Perencanaan Lantai Terjun (Apron).
Apron seharusnya direncanakan stabil dari tekanan uplift, karena Apron berperan
sebagai stabilitas pondasi dan juga untuk mencegah keruntuhan dari Sabo Dam. Apron
pada umumnya datar, namun apabila dasar sungai curam, kemiringan Apron
direncanakan kali lebih landai dari kemiringan dasar sungai. Langkah perencanaan
lantai terjun (Apron) yakni sebagai berikut :
1. Perhitungan Tebal Lantai Terjun/Apron
Tebal lantai direncanakan berdasarkan daya erosi yang terjadi dan ukuran sedimen
yang melimpas. diperhitungkan dengan persamaan sebagai berikut (Pedoman
Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering, 2010) :
a. Untuk tanah berpasir dan berkerikil.
(i) Tebal Apron tanpa Sub Sabo Dam,


(ii) Tebal Apron dengan Sub Sabo Dam,


Di mana : t = tebal Apron (m)
h
m
= tinggi efektif Main Dam (m)
h
w
= tinggi air di atas pelimpah Main Dam (m)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
60

b. Untuk tanah berbatu, tebal Apron sebesar 70% dari tebal Apron tanah berkerikil
dan berpasir.
Tebal Apron minimum sebesar 1 m (tanah pasir) dan 0,7 m (tanah batuan) dan
maksimum setebal 3 m.












Gambar 2.27 Tebal Apron.

2. Panjang Lantai Terjun/Apron.
Panjang lantai terjun adalah jarak antara Main Dam dan Sub Sabo Dam,
ditentukan dengan persamaan sebagai berikut (Technical Standards and Guidelines
For Sabo Engineering, 2010) :
- Untuk Apron datar,



Di mana : L
ap
= panjang Apron (m)
h
m
= tinggi efektif Main Dam (m)
h
w
= tinggi muka air di atas pelimpah Main Dam (m)
n = kemiringan sisi hilir Main Dam (m)
H = ketinggian Main Dam (m)




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
61









Gambar 2.28 Sketsa Apron Datar.

- Untuk Apron miring (kemiringan dasar sungai besar),

}


Di mana : L
ap
= panjang Apron (m)
i = 1/s
s = kemiringan dasar sungai
h
m
= tinggi efektif Main Dam (m)
h
w
= tinggi muka air di atas pelimpah Main Dam (m)
n = kemiringan sisi hilir Main Dam (m)
H = ketinggian Main Dam (m)









Gambar 2.29 Sketsa Apron Miring.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
62

Atau dapat juga menggunakan rumus teoretis berikut :


Di mana : L
ap
= panjang Apron (m).
Q
d
= debit banjir rencana (m
3
/det).
B
1
= lebar dasar pelimpah Main Dam (m).
V
1
= kecepatan air di atas pelimpah Main Dam (m/det).
q
1
= debit per meter lebar pelimpah Main Dam (m
3
/det/m).
H
1
= tinggi pelimpah Main Dam dari lantai Apron (m).
h
w
= tinggi air di atas pelimpah Main Dam (m).
g = percepatan gravitasi (m/det
2
).
L
w
= panjang terjunan (m).



H
2
= tinggi pelimpah Sub Sabo Dam dari dasar Main Dam (m).
t = tebal Apron (m).
b
2
= [tebal Sub Sabo Dam + {(m.(H
2
- t))+(n. (H
2
- t))}] (m).
B
Lw1
= lebar bawah Apron pada jarak L
w
(m).
B
Lw2
= lebar atas Apron pada jarak L
w
(m).
q
wf
= debit pada titik jatuh terjunan per meter lebar (m
3
/det/m).






BAB II TINJAUAN PUSTAKA
63

v
wf
= kecepatan terjunan pada titik jatuhnya (m/det).


h
wf
= tinggi air pada titik jatuhnya terjunan (m).


Fr = angka Froud pada aliran pada titik jatuhnya terjunan.


h
j
= tinggi loncatan air dari permukaan Apron sampai mercu
pelimpah Sub Sabo Dam (m).

*(

) +
X = panjang loncatan air (m).


m = kemiringan sisi badan Sub Sabo Dam bagian hulu = 0,5.
n = kemiringan sisi badan Sub Sabo Dam bagian hilir = 0,2.















Gambar 2.30 Sketsa Panjang Terjunan dan Loncatan Air.
H
2



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
64

Parameter tambahan yang perlu diketahui dalam perencanaan Sabo Dam ini yakni
sebagai berikut :
1. Tinggi muka air di atas pelimpah Sub Sabo Dam



Di mana :
h
ws
= tinggi air di atas pelimpah Sub Sabo Dam (m).
h
j
= tinggi loncatan air dari permukaan Apron sampai mercu
pelimpah Sub Sabo Dam (m).
H
2
= tinggi pelimpah Sub Sabo Dam dari dasar Main Dam (m)..
t = tebal Apron (m).

2. Elevasi muka air di atas Main Dam.



Di mana :
ELH
w
= elevasi muka air di atas Main Dam (m).
EL
pm
= elevasi pelimpah Main Dam (m).
h
w
= tinggi air di atas pelimpah Main Dam (m).

3. Elevasi muka air di atas Sub Sabo Dam.



Di mana :
ELH
ws
= elevasi muka air di atas Sub Sabo Dam (m).
EL
ps
= elevasi pelimpah Sub Sabo Dam (m).
h
ws
= tinggi air di atas pelimpah Sub Sabo Dam (m)..





BAB II TINJAUAN PUSTAKA
65

4. Ketinggian loncatan air yang terjadi di hilir Sub Sabo Dam.

*(

) +

Di mana :
h
j hilir
= tinggi loncatan air dari dasar Riverbed Protection (m).
Q
d
= debit banjir rencana (m
3
/det).
H
1s
= tinggi pelimpah Sub Sabo Dam dari lantai Riverbed Protection (m)..
h
ws
= tinggi air di atas pelimpah Sub Sabo Dam (m).
g = percepatan gravitasi (9,81 m/det
2
).
B
Lws
= lebar Riverbed Protection pada jarak L
ws
(m
3
/det/m).
q
wfs
= debit pada titik jatuh terjunan per meter lebar.


v
wfs
= kecepatan terjunan pada titik jatuhnya (m/det).


h
wfs
= tinggi air pada titik jatuhnya terjunan (m).


F
rs
= angka Froud pada aliran pada titik jatuhnya terjunan.



5. Panjang terjunan di hilir Sub Sabo Dam.




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
66



Di mana :
L
ws
= panjang terjunan di hilir Sub Sabo Dam (m).
Q
d
= debit banjir rencana (m
3
/det).
B
1s
= lebar dasar pelimpah Sub Sabo Dam (m).
h
ws
= tinggi air di atas pelimpah Sub Sabo Dam (m).
H
1s
= tinggi pelimpah Sub Sabo Dam dari lantai Riverbed Protection (m).
V
1s
= kecepatan air di atas pelimpah Sub Sabo Dam (m/det).
q
1s
= debit per meter lebar pelimpah Sub Sabo Dam (m
3
/det/m).
g = percepatan gravitasi (9,81 m/det
2
).

6. Elevasi muka air di hilir Sub Sabo Dam.



Di mana :
Q
d
= debit banjir rencana (m
3
/det).
h
w
= tinggi air di atas pelimpah (m).
B
1
= lebar dasar pelimpah (m).
ELh
whilir
= elevasi muka air di hilir Sabo Dam (m).
EL
br
= elevasi batu bronjong (m).
h
wh
= tinggi air di atas pelimpah Sub Sabo Dam (m).



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
67

2.4.4. Bangunan Pelengkap.
Bangunan pelengkap Sabo Dam terdiri dari konstruksi dinding tepi dan lubang
drainase (drip hole).
A. Konstruksi Dinding Tepi (Sidewall Revetment).
Konstruksi dinding tepi Sabo Dam dilakukan dengan tujuan mengendalikan erosi
dan longsoran di daerah antara Main Dam dan Sub Sabo Dam, serta meningkatkan
kestabilan struktur.







Gambar 2.31 Sketsa Dinding Tepi (Side Wall).


Syarat yang harus diperhatikan pada perencanaan dinding tepi (Technical
Standarts and Guidelines For Sabo Engineering, 2010) :
1. Posisi dinding tepi harus diletakkan minimum sejauh 0,5 m dari tepi-tepi
pelimpah Main Dam.










Gambar 2.32 Lokasi Dinding Tepi (Tampak Muka)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
68

2. Tinggi dinding tepi sebaiknya didesain sama dengan tinggi pelimpah pada Sub
Sabo Dam seperti tampak pada Gambar berikut :












Gambar 2.33 Tinggi Dinding Tepi.




B. Lubang Drainase (Drip Hole).
Lubang drainase adalah lubang yang diletakkan di bagian bawah dekat dengan
dasar sungai eksisting dengan tujuan untuk mengalirkan air pada kondisi debit normal
agar tampungan sedimen tidak cepat penuh serta untuk mengurangi gaya tekan air dan
sedimen setelah tampungan di hulu Main Dam penuh. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan pada perencanaan lubang drainase adalah sebagai berikut :
1. Lokasi lubang drainase bagian bawah sebaiknya dekat dengan dasar sungai untuk
mengalirkan air banjir.
2. Jarak vertikal pipa drainase dari sumbu pipa ke dasar pelimpah sebaiknya
sebanding dengan lebar mercu pelimpah.
3. Jarak antar sumbu lubang drainase baik secara hotisontal maupun vertikal
sebaiknya 2,0 m.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
69

4. Lubang drainase sebaiknya dibuat simetris terhadap garis vertikal pada bagian
tengah pelimpah.
5. Lubang drainase sebaiknya terletak selebar pelimpah.
6. Ukuran minimum dari lubang drainase berbentuk persegi yakni 0,5 m dan
lingkaran 0,6 m.
Lubang drainase di Main Dam direncanakan dengan menggunakan persamaan
berikut:



Di mana :
Q
d
= debit rencana (m
3
/det).
C = koefisien debit = 0,6.
A = luas lubang drainase (m
2
).
g = percepatan gravitasi (9,81 m/det
2
).

h = jarak pelimpah Main Dam sampai titik tengah lubang drainase 6,0 m.












BAB II TINJAUAN PUSTAKA
70


















Gambar 2.34 Sketsa Lubang Drainase (Drip Hole).


C. Pelindung Dasar Sungai (Riverbed Protection Works).
Pelindung dasar sungai berfungsi mengurangi efek gerusan di bagian hilir Sabo
Dam. Material yang digunakan sebagai pelindung dasar sungai harus memenuhi
ketentuan sebagai berikut (Pedoman Pengamanan Bangunan Sabo Dari Gerusan
Lokal, 2004) :
- Mampu melawan gaya seret aliran.
- Tidak menggelinding.
- Mampu mengendalikan benturan.
- Tahan terhadap kandungan kimia aliran yang bersifat merusakkan.
- Berdiameter di atas 30 cm.



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
71

Jenis material pelindung dasar sungai meliputi:
- Batu berukuran besar dan berat.
- Bronjong kawat yang diisi dengan batu berukuran minimum 10 cm.
- Pasangan batu dengan menggunakan batu berukuran di atas 30 cm.
- Blok beton (beehive, tetra/hexapod, atau blok-blok beton berangkur).

Langkah yang dilakukan dalam perencanaan pelindung dasar sungai di bagian
hilir, yakni sebagai berikut (Salamun) :
1. Menentukan kedalaman gerusan lokal (local scouring).
Kedalaman gerusan lokal ditentukan dari Rumus Schotklist sebagai berikut :
(

) (

)
Di mana :
R = kedalaman gerusan (m).
h
w
= tinggi muka air di atas pelimpah Main Dam = 2,0 m.
q = debit spesifik (q = Q
d
/B
1
) (m
3
/det/m).
D
90
= diameter butiran material pelindung yang lolos 90% = 0,009 m.










Gambar 2.35 Sketsa Gerusan Lokal (Local Scouring).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
72

2. Menentukan panjang pelindung dasar sungai.
Panjang ke arah hilir bangunan pelindung dasar sungai dapat ditentukan dengan
mengambil nilai L
rp
terbesar dari beberapa rumus berikut :
Rumus Hokkaido :



Rumus Graaf :



Di mana :
L
rp
= panjang pelindung dasar sungai ke hilir (m).
R

= kedalaman gerusan di bawah permukaan air banjir (m).
c = koefisien Bray (Tabel 2.18).
Q
d
= debit banjir rencana (m
3
/det).
B
1
= lebar dasar pelimpah Main Dam (m).
q = debit spesifik (q = Q
d
/B
1
) (m
3
/det/m).

Tabel 2.18 Koefisien Bray.
Material Dasar Pondasi C
Pasir dan lumpur (diameter 0.1~ 0.05mm atau 0.05~ 0.005mm) 18
Pasir diameter 0.25~ 0.1mm 15
Pasir diameter 0.5~ 0.25mm 12 - 15
Pasir diameter 1.0~ 0.5mm 12
Campuran pasir dan kerikil 9
Pasir, kerikil, dan berangkal 4 ~ 6
Sumber: Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering (2010)





BAB II TINJAUAN PUSTAKA
73









Gambar 2.36 Sketsa Perlindungan Dasar Sungai (Riverbed Protection).

2.4.5. Volume Tampungan Sedimen.
Berdasarkan Technical Standarts and Guidelines For Sabo Engineering (2010),
volume tampungan sedimen pada sistem Sabo dengan fungsi pengendali sedimen
dapat ditentukan berdasarkan persamaan berikut :
1. Volume tampungan sedimen (V).
- Untuk dam penampung sedimen.
[


- Untuk dam pengontrol sedimen.
[


Di mana :
V = volume tampungan sedimen (m
3
).
i = 1/s
s = kemiringan dasar sungai.
h
m
= tinggi efektif Main Dam (m).
B
s
= lebar penampang sungai (m).

2. Panjang daerah tampungan sedimen (Lc).




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
74

Di mana :
L
c
= panjang daerah tampungan sedimen (m).
i = 1/s
s = kemiringan dasar sungai.
h
m
= tinggi efektif Main Dam (m).

























Gambar 2.37 Ilustrasi Hubungan Geometris Sedimen Sabo Dam.
2 h
m


3 h
m


h
m

L

= 2i * h
m

L

= i * h
m

L

= 3i * h
m

i =1/s
i =1/s
n
c 1
= 1/2 * i
n
c2
= 2/3 * i
Gambar 2.38 Sketsa Tampungan Sedimen Di Hulu Sabo Dam.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
75

2.4.6. Perhitungan Stabilitas Main Dam.
A. Gaya Yang Bekerja Pada Main Dam.
Gaya-gaya yang bekerja pada Main Dam dapat dilihat pada tabel berikut :
1. Ketinggian Main Dam < 15,0 m.
Tabel 2.19 Gaya yang Bekerja Pada Main Dam dengan ketinggian < 15,0 m.
Kondisi Gaya yang Bekerja
Pada kondisi aliran debris
Gaya berat (W), Tekanan hidrostatik (P), Tekanan statis
sedimen (P
e
), dan Tekanan aliran debris (P
d
)
Pada kondisi banjir Gaya berat (W) dan Tekanan hidrostatik (P)
Sumber: Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering (2010)
2. Ketinggian Main Dam 15,0 m.
Tabel 2.20 Gaya yang Bekerja Pada Main Dam dengan ketinggian 15,0 m.
Kondisi Gaya yang Bekerja
Pada kondisi normal
Gaya berat (W), Tekanan hidrostatik (P), Tekanan statis
sedimen (P
e
), Gaya Uplift, Gaya akibat gempa
Pada kondisi aliran debris
Gaya berat (W), Tekanan hidrostatik (P), Tekanan statis
sedimen (P
e
), Gaya Uplift, dan Gaya tekan aliran debris (P
d
)
Pada kondisi banjir
Gaya berat (W), Tekanan hidrostatik (P), Tekanan statis
sedimen (P
e
), dan Gaya Uplift
Sumber: Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering (2010)

B. Perhitungan Gaya Yang Bekerja Pada Main Dam.
Gaya yang bekerja pada Main Dam dihitung dengan menggunakan persamaan-
persamaan sebagai berikut :
1. Beban Mati Main Dam.


Di mana :
W = berat Main Dam per unit lebar (kg).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
76

c
= berat jenis beton (2200 kg/m
3
).
V = volume Main Dam per unit lebar (m
3
).

2. Tekanan Hidrostatik.


Di mana :
P = tekanan hidrostatik (kg/m
2
).

w
= berat jenis air.
Untuk tinggi Main Dam 15 m
w
= 980 kg/m
3
.
Untuk tinggi Main Dam < 15 m
w
= 1180 kg/m
3
.
h
w
= kedalaman air (m).

3. Gaya Tekan Aliran Debris.



Di mana :
F = gaya tekan aliran debris (kg).
h
d
= kedalaman aliran debris rencana (m).
U
d
= kecepatan rata-rata aliran debris (m/det).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
77

g = percepatan gravitasi (9,81 m/det
2
).
n = koefisien kekasaran Manning.
R = jari-jari hidrolis penampang sungai (asumsi R = h
d
).
Q = debit banjir rencana (m
3
/det).
Q
df
= debit puncak aliran debris (m
3
/det).
B = lebar penampang sungai di lokasi rencana Sabo Dam (m).
C
*
= koefisien konsentrasi sedimen pada sedimen tertampung.
(umumnya C
*
= 0,6).
C
d
= koefisien konsentrasi sedimen pada aliran debris.
Maksimal C
d
= 0,9 * C
*

Minimal C
d
= 0,3

w
= berat jenis air (
w
= 1180 kg/m
3
).

b
= berat jenis batu (
b
= 2550 kg/m
3
).

d
= berat jenis aliran debris (kg/m
3
).
u = sudut kemiringan dasar sungai ().
| = sudut geser dalam sedimen tertampung (| = 30 ~ 40).

4. Gaya Tekan Akibat Sedimen.


Di mana :
P
ev
= tekanan sedimen arah vertikal (kg/m
2
).
P
eh
= tekanan sedimen arah horisontal (kg/m
2
).

s
= berat jenis material sedimen (kg/m
3
).
h
e
= kedalaman sedimen (m).
C
e
= koefisien tekan tanah.
I
stabil
= kemiringan stabil sedimen (I
stabil
= 2/3 . i).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
78

i = 1 / s
s = kemiringan rata-rata dasar sungai di hulu Sabo Dam.
| = sudut geser dalam sedimen tertampung (| = 30 ~ 40).

5. Gaya Gempa.
Berdasarkan SNI Gempa (2002), Propinsi Jawa Tengah, khususnya wilayah
Sleman termasuk dalam wilayah gempa zona 3 (tiga), dengan koefisien gempa dengan
besar 0,15g (g =9,81 m/det
2
).
Gaya gempa yang bekerja dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

Di mana : E = gaya gempa (ton).
K = koefisien gempa = 0,15 * 9,81 m/det
2
.
W = berat konstruksi (ton).

6. Gaya Uplift.
Persamaan yang digunakan untuk mengetahui besarnya gaya uplift yang terjadi
adalah sebagai berikut :



Di mana :
U
x
= gaya uplift di titik x (kg).
h
1
= tinggi air di hulu bangunan (m) (h
1
= H
m
+ h
w
).
H
m
= tinggi efektif Main Dam (m).
h
w
= tinggi air di atas pelimpah (m).
Lx = jarak horisontal rembesan dari hulu sampai titik yang ditinjau (m).
L = panjang garis rembesan total (m).
H = beda tinggi muka air di hulu dan hilir dam (m).



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
79

C. Kombinasi Gaya Yang Bekerja Pada Main Dam.
Gaya yang bekerja pada Main Dam dibagi menjadi beberapa kondisi, antara lain :
1. Kondisi Banjir.














Gambar 2.39 Sketsa Gaya Yang Bekerja Pada Kondisi Banjir.


2. Kondisi Aliran Debris.
Aliran debris adalah aliran campuran antara air hujan dengan sedimen dalam
konsentrasi yang besar yang meluncur ke bawah akibat pengaruh gravitasi melalui
lereng atau dasar alur sungai.







BAB II TINJAUAN PUSTAKA
80














3. Kondisi Gempa.
Gaya yang bekerja ketika terjadi gempa dapat dilihat pada gambar sebagai
berikut:












Gambar 2.41 Sketsa Gaya Yang Bekerja Pada Kondisi Gempa.
Gambar 2.40 Sketsa Gaya Yang Bekerja Pada Kondisi Aliran Debris.

P
v2



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
81

D. Momen Akibat Gaya Yang Bekerja Pada Main Dam.
Momen akibat gaya-gaya yang terjadi pada Main Dam dapat dilihat pada tabel
berikut:

Tabel 2.21 Perilaku Gaya dan Momen Yang Bekerja Pada Main Dam
(Kondisi Banjir).


Jenis
Pembebanan
Simbol Perhitungan
Gaya yang
Bekerja
Panjang
Lengan
Momen
Ver Hor Mt (+) Mg (-)
Beban Mati
W
1

c
m H
2
(+)
nH + b
a
+
1/3 mH
(+)

W
2

c
b
a
H (+) nH + 1/2 b
a
(+)

W
3

c
n H
2
(+) 2/3 nH (+)

Tekanan
Hidrostatik
P
V1

w
m H
2
(+)
nH + b
a
+
2/3 mH
(+)

P
V2

w
h
w
m H (+)
nH + b
a
+
1/2 mH
(+)

P
V3

w
b
a
h
w
(+) nH + 1/2 b
a
(+)

P
H1

w
H
2
(-) 1/3 H (-)
P
H2

w
h
w
H (-) 1/2 H (-)
Tekanan Uplift
P
U2

[h
w

(L
x
/L)H]
(mH +b
a
+nH)

(-)

(mH
+b
a
+nH)
(-)
P
U1

{[h
w

(L
x
/L)H]-
U
2
} (mH
+b
a
+nH)

(-)
2/3
(mH
+b
a
+nH)
(-)
Total V H Mt Mt
Sumber: Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering (2010)



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
82

Tabel 2.22 Perilaku Gaya dan Momen yang Bekerja Pada Main Dam
(Kondisi Aliran Debris).
Jenis
Pembebanan
Simbol Perhitungan
Gaya yang
Bekerja
Panjang
Lengan
Momen
Ver Hor Mt (+) Mg (-)
Beban Mati
W
1

c
m H
2
(+)
nH + b
a
+ 1/3
mH
(+)

W
2

c
b
a
H (+) nH + 1/2 b
a
(+)

W
3

c
n H
2
(+) 2/3 nH (+)

Tekanan
Hidrostatik
P
V1


w
m
(H-h
d
)
2

(+)
nH + b
a
+
mH - 1/3 m
(H
e
)
(+)

P
V2

w
m hd
(H-h
d
)
(+)
nH + b
a
+
mH - 0,5 m
(H
e
)
(+)
P
H1
w
(H-h
d
)
2
(-) 1/3 H
e
(-)
P
H2

w
h
d
(H-h
d
) (-) 0,5 H
e
(-)
Tekanan Statis
Sedimen
P
eh1

Ce
s

(H-h
d
)
2

(-) 1/3 H
e
(-)
P
eh2

d
' Ce h
d

(H-h
d
)
(-) 0,5 H
e
(-)
P
ev


s
m
(H-h
d
)
2

(+)
nH + b
a
+
mH - 1/3 m
(H
e
)
(+)

Tekanan Aliran
Debris
F (
d
/g) h
d
(U
d
)
2
(-) H - h
d
(-)
Berat Aliran
Debris
P
d1

d
h
d
m
(H-h
d
)
(+)
nH + b
a
+
mH - 0,5 m
(H
e
)
(+)

P
d2

d
m h
d
2
(+)
nH + b
a
+2/3
h
d

(+)

Tekanan Uplift
P
U2
[h
w

(L
x
/L)H]
(mH+b
a
+n.H)
(-)

(mH+b
a
+nH)
(-)
P
U1
{[h
w

(L
x
/L)H]-U
2
}
(mH+b
a
+n.H)
(-)
2/3
(mH+b
a
+nH)
(-)
Total V H Mt Mg
Sumber: Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering (2010)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
83

Tabel 2.23 Perilaku Gaya dan Momen yang Bekerja Pada Main Dam
(Kondisi Gempa).
Jenis
Pembebanan
Simbol Perhitungan
Gaya yang
Bekerja
Panjang
Lengan
Momen
Ver Hor Mt (+) Mg (-)
Beban Mati
W
1

c
m H
2
(+)
nH + b
a
+ 1/3
mH
(+)

W
2

c
b
a
H (+) nH + 1/2 b
a
(+)

W
3

c
n H
2
(+) 2/3 nH (+)

Tekanan
Hidrostatik
P
V1

w
m H
2
(+)
nH + b
a
+ mH
- 1/3 mH
(+)

P
H1

w
H
2
(-) 1/3 H (-)
Tekanan Statis
Sedimen
P
eh

s
H
2
Ka (-) 1/3 H (-)
P
ev

s
m H
2
(+)
nH + b
a
+ mH
- 1/3 mH
(+)

Gaya Gempa
E
1
0,15 . 9,81 W
1
(-) 1/3 H

(-)
E
2
0,15 . 9,81 W
2
(-) H (-)
E
3
0,15 . 9,81 W
3
(-) 1/3 H (-)
Tekanan Uplift
P
U2
[h
w

(L
x
/L)H]
(mH+b
a
+nH)
(-)

(mH+b
a
+nH)
(-)
P
U1
{[h
w

(L
x
/L)H]-
U
2
}
(mH+b
a
+nH)
(-)
2/3
(mH+b
a
+nH)
(-)
Total V H Mt Mg
Sumber: Technical Standards and Guidelines For Sabo Engineering (2010)





BAB II TINJAUAN PUSTAKA
84

E. Kontrol Stabilitas Main Dam.
Akibat pengaruh gaya-gaya di atas, maka badan Main Dam harus aman terhadap
guling, geser dan penurunan (settlement). Berdasarkan Pedoman Penyusunan
Spesifikasi Teknis Pengaman Sungai Check Dam, syarat keamanan yang harus
dipenuhi adalah sebagai berikut:
1. Stabilitas Terhadap Guling.
Persamaan yang digunakan untuk mengontrol stabilitas Main Dam terhadap
guling adalah sebagai berikut :



Di mana :
S
f
= faktor keamanan (S
f
2).
M
t
= momen tahan (kgm).
M
g
= momen guling (kgm).

2. Stabilitas Terhadap Geser.
Persyaratan yang digunakan untuk mengontrol stabilitas Main Dam terhadap geser
adalah sebagai berikut :



Di mana :
S
f
= faktor keamanan (1,2 ~ 1,5).
V = jumlah gaya-gaya vertikal (kg).
H = jumlah gaya-gaya horizontal (kg).
f = koefisien geser = 0,6.




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
85

3. Kontrol Terhadap Eksentrisitas.
Persyaratan yang digunakan untuk mengontrol eksentrisitas Main Dam adalah
sebagai berikut :



Syarat :



Di mana :
V = jumlah gaya-gaya vertikal (ton).
M
t
= momen tahan (tonm).
M
g
= momen guling (tonm).
e = eksentrisitas antara as sampai titik tangkap resultan gaya Main Dam(m).
b
b
= lebar dasar Main Dam (m).
X = jarak tumit bendung tepi (hulu) sampai titik tangkap resultan gaya (m).

4. Kontrol Terhadap Daya Dukung Dasar Pondasi.
Tegangan pada dasar pondasi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan di
bawah ini :
o

)
o

)

Di mana :
o = tegangan yang terjadi di dasar Main Dam (ton/m
2
).
V = jumlah gaya-gaya vertikal (ton).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
86

e = eksentrisitas dari as sampai titik tangkap resultan gaya Main Dam (m).
b
b
= lebar dasar Main Dam (m).

Daya dukung Main Dam dikontrol dengan menggunakan persamaan Terzaghi
sebagai berikut :


Syarat : o q
all
Di mana :
q
ult
= daya dukung ultimate tanah (ton/m
2
).
c = nilai kohesi tanah (ton/m
2
).
H
p
= kedalaman pondasi Main Dam (m).
b
b
= lebar dasar Main Dam (m).
= berat jenis tanah efektif (ton/m
3
).
q
all
= daya dukung allowable tanah (ton/m
2
).
SF = faktor keamanan (1,5 ~ 2,5).
N
c
, N
q
, N

= koefisien Terzaghi (terlampir Tabel 2.24).



2.4.7. Perhitungan Stabilitas Sub Sabo Dam.
A. Perhitungan Gaya Yang Bekerja Pada Sub Sabo Dam.
Gaya yang bekerja pada Sub Sabo Dam dihitung dengan menggunakan
persamaan-persamaan sebagai berikut :
1. Beban Mati Sub Sabo Dam.







BAB II TINJAUAN PUSTAKA
87

Di mana :
W = berat Sub Sabo Dam per unit lebar (kg).

c
= berat jenis beton (2200 kg/m
3
).
V = volume Sub Sabo Dam per unit lebar (m
3
).

2. Tekanan Hidrostatik.


Di mana :
P = tekanan hidrostatik (kg/m
2
).

w
= berat jenis air.
Untuk tinggi Sub Sabo Dam 15 m
w
= 980 kg/m
3
.
Untuk tinggi Sub Sabo Dam < 15 m
w
= 1180 kg/m
3
.
h
w
= kedalaman air (m).

B. Kombinasi Gaya Yang Bekerja Pada Sub Sabo Dam.
Gaya yang bekerja pada Sub Sabo Dam, antara lain sebagai berikut :













Gambar 2.42 Sketsa Gaya Yang Bekerja Pada Sub Sabo Dam.
PH
3

2/5 (H
2
t)
Horizontal
Hidrodinamic Pressure


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
88

C. Momen Akibat Gaya Yang Bekerja Pada Sub Sabo Dam.
Tabel 2.25 Perilaku Gaya dan Momen yang Bekerja Pada Sub Sabo Dam.
Jenis
Pembebanan
Simbol Perhitungan
Gaya yang
Bekerja
Panjang
Lengan
Momen
Ver Hor Mt (+) Mg (-)
Beban Mati
W
1

c
m H
sb
2
(+)
n H
sb
+ b
sa
+
1/3 m H
sb

(+)

W
2

c
b
sa
H
sb
(+)
n H
sb
+ 1/2
b
sa

(+)

W
3

c
n H
sb
2
(+) 2/3 n H
sb
(+)

Tekanan
Hidrostatik
P
V1

w
m H
sb
2
(+)
n H
sb
+ b
sa
+
2/3 m H
sb

(+)

P
V2

w
h
w
m H
sb
(+)
n H
sb
+ b
sa
+
1/2 m H
sb

(+)

P
V3

w
b
sa
h
w
(+)
n H
sb
+ 1/2
b
sa

(+)

P
H1

w
H
sb
2
(-) 1/3 H
sb
(-)
P
H2

w
h
w
H
sb
(-) 1/2 H
sb
(-)
Tekanan
Hidrodinamik
P
H3

w
(h
j
- h
ws
)
{2/5(H
2
-t) + 0,5
3/5(H
2
-t)}
(-)
{2/5 (H
2
-t)}
+ t + H
ps

(-)
Total V H Mt Mg
Sumber: Pedoman Perencanaan Teknis Bendungan Pengendali Dasar Sungai (2004)

D. Kontrol Stabilitas Sub Sabo Dam.
Akibat pengaruh gaya-gaya di atas, maka badan Sub Sabo Dam harus aman
terhadap guling, geser dan penurunan (settlement). Berdasarkan Pedoman Penyusunan
Spesifikasi Teknis Pengaman Sungai Check Dam, syarat keamanan yang harus
dipenuhi adalah sebagai berikut:
1. Stabilitas Terhadap Guling.
Persamaan yang digunakan untuk mengontrol stabilitas Sub Sabo Dam terhadap
guling adalah sebagai berikut :




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
89

Di mana :
S
f
= faktor keamanan (S
f
2).
M
t
= momen tahan (kgm).
M
g
= momen guling (kgm).

2. Stabilitas Terhadap Geser.
Persyaratan yang digunakan untuk mengontrol stabilitas Sub Sabo Dam terhadap
geser adalah sebagai berikut :


Di mana :
S
f
= faktor keamanan (1,2 ~ 1,5).
V = jumlah gaya-gaya vertikal (kg).
H = jumlah gaya-gaya horizontal (kg).
f = koefisien geser = 0,6.

3. Kontrol Terhadap Eksentrisitas.
Persyaratan yang digunakan untuk mengontrol eksentrisitas Sub Sabo Dam adalah
sebagai berikut :


Syarat :


Di mana :
V = jumlah gaya-gaya vertikal (ton).
M
t
= momen tahan (tonm).
M
g
= momen guling (tonm).
e = eksentrisitas antara as sampai titik tangkap resultan gaya Sub Sabo Dam(m).



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
90

b
sb
= lebar dasar Sub Sabo Dam (m).
X = jarak tumit bendung tepi (hulu) sampai titik tangkap resultan gaya (m).

4. Kontrol Terhadap Daya Dukung Dasar Pondasi.
Tegangan pada dasar pondasi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan di
bawah ini :
o

)
o

)
Di mana :
o = tegangan yang terjadi di dasar Sub Sabo Dam (ton/m
2
).
V = jumlah gaya-gaya vertikal (ton).
e = eksentrisitas dari as sampai titik tangkap resultan gaya Sub Sabo Dam (m).
b
sb
= lebar dasar Sub Sabo Dam (m).

Daya dukung Sub Sabo Dam dikontrol dengan menggunakan persamaan Terzaghi
sebagai berikut :


Syarat : o q
all

Di mana :
q
ult
= daya dukung ultimate tanah (ton/m
2
).
c = nilai kohesi tanah (ton/m
2
).
H
ps
= kedalaman pondasi Sub Sabo Dam (m).
b
sb
= lebar dasar Sub Sabo Dam (m).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
91

= berat jenis tanah efektif (ton/m
3
).
q
all
= daya dukung allowable tanah (ton/m
2
).
SF = faktor keamanan (1,5 ~ 2,5).
N
c
, N
q
, N

= koefisien Terzaghi (terlampir Tabel 2.24).



2.4.8. Perhitungan Stabilitas Dinding Tepi (Side Wall).
A. Perhitungan Gaya Yang Bekerja Pada Dinding Tepi.
Gaya yang bekerja pada dinding tepi dihitung dengan menggunakan persamaan-
persamaan sebagai berikut :
1. Beban Mati Dinding Tepi (G).


Di mana :
G = berat dinding tepi per unit panjang (kg).
H
sw
= tinggi Side Wall (m).
a
1
= lebar atas dinding tepi (m), minimal 0,5 m.
a
2
= lebar bawah dinding tepi (m).

c
= berat jenis beton (2200 kg/m
3
).

2. Tekanan Tanah (P
a
).


Di mana :
C
e
= koefisien tekanan tanah.
= sudut geser tanah ( ).
o = kemiringan tanah ( ).
P
a
= tekanan tanah aktif (ton).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
92

soil
= berat jenis tanah (ton/m
3
).
H
sw
= tinggi Side Wall (m).

B. Kombinasi Gaya Yang Bekerja Pada Dinding Tepi.
Gaya yang bekerja pada dinding tepi, antara lain sebagai berikut :










C. Momen Akibat Gaya Yang Bekerja Pada Dinding Tepi.
Tabel 2.26 Perilaku Gaya dan Momen yang Bekerja Pada Dinding Tepi.
Jenis
Pembebanan
Simbol Perhitungan
Gaya yang
Bekerja
Panjang Lengan Momen
Ver Hor
Beban Mati
G
1

0,5 (H
sw
)
2

c

(+) 2/3 0,5 H
sw
(+)
G
2
(a
2
0,5 H
sw
)
c
(+)
0,5 H
sw
+
((a
2
- 0,5 H
sw
)/2)
(+)
G
3
. 0,3 (H
sw
)
2

c
(+)
0,5 H
sw
+ a
1

- 2/3 0,3 H
sw

(+)
Tekanan Tanah
P
av

C
e

soil
(H
sw
)
2

sin o
(+) 1/3 H
sw
(+)
P
ah

C
e

soil
(H
sw
)
2

cos o
(+) 1/3 H
sw
(+)
Total V H M
Sumber: Pedoman Perencanaan Teknis Bendungan Pengendali Dasar Sungai (2004)
Gambar 2.43 Sketsa Gaya Yang Bekerja Pada Dinding Tepi.



BAB II TINJAUAN PUSTAKA
93

D. Kontrol Stabilitas Dinding Tepi.
Akibat pengaruh gaya-gaya di atas, maka dinding tepi harus aman terhadap
guling, geser dan penurunan (settlement). Berdasarkan Pedoman Perencanaan Teknis
Bendungan Pengendali Dasar Sungai (2004), syarat keamanan yang harus dipenuhi
adalah sebagai berikut:
1. Stabilitas Terhadap Guling.
Persamaan yang digunakan untuk mengontrol stabilitas dinding tepi terhadap
guling adalah sebagai berikut :



Di mana :
X = jarak tumit Side Wall sampai titik tangkap resultan gaya (m).
M
t
= momen tahan (kgm).
M
g
= momen guling (kgm).

2. Stabilitas Terhadap Geser.
Stabilitas geser dinding tepi di uji dengan menggunakan persamaan berikut :



Di mana :
S
f
= faktor keamanan (1,2 ~ 1,5).
V = jumlah gaya-gaya vertikal (kg).
H = jumlah gaya-gaya horizontal (kg).
f = koefisien geser = 0,6.






BAB II TINJAUAN PUSTAKA
94

3. Kontrol Terhadap Eksentrisitas.
Persyaratan yang digunakan untuk mengontrol eksentrisitas Side Wall adalah
sebagai berikut :


Di mana :
V = jumlah gaya-gaya vertikal (ton).
M
t
= momen tahan (tonm).
M
g
= momen guling (tonm).
e = eksentrisitas antara as sampai titik tangkap resultan gaya Side Wall
(m).
a
2
= lebar bawah dinding tepi (m).
X = jarak tumit Side Wall tepi sampai ke titik tangkap resultan gaya (m).

4. Kontrol Terhadap Daya Dukung Dasar Pondasi.
Tegangan pada dasar pondasi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
berikut ini :
o

)
o

)
Di mana :
o = tegangan yang terjadi di dasar Side Wall (ton/m
2
).
V = jumlah gaya-gaya vertikal (ton).
e = eksentrisitas dari as sampai titik tangkap resultan gaya Side Wall (m).
a
2
= lebar bawah dinding tepi (m).


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
95

Daya dukung Side Wall dikontrol dengan menggunakan persamaan Terzaghi
sebagai berikut :


Syarat : o q
all
Di mana :
q
ult
= daya dukung ultimate tanah (ton/m
2
).
c = nilai kohesi tanah (ton/m
2
).
H
ps
= kedalaman pondasi Sub Sabo Dam (m).
a
2
= lebar bawah dinding tepi (m).
= berat jenis tanah efektif (ton/m
3
).
q
all
= daya dukung allowable tanah (ton/m
2
).
SF = faktor keamanan (1,5 ~ 2,5).
N
c
, N
q
, N

= koefisien Terzaghi (terlampir Tabel 2.24).



2.4.9. Kontrol Terhadap Gerusan, Rembesan Dan Uplift.
A. Kontrol Terhadap Gerusan.
Untuk mengontrol pengaruh gerusan dilakukan dengan menggunakan persamaan
berikut :



Di mana :
h
wh
= tinggi muka air hilir (m).
R
desain
= kedalaman gerusan (m) (Subbab 5.4.3).





BAB II TINJAUAN PUSTAKA
96

B. Kontrol Terhadap Rembesan.
Untuk mengontrol pengaruh rembesan pada Sabo Dam digunakan persamaan
Lane sebagai berikut (Sutarto Edhisono):


Di mana :
C
L
= koefisien rembesan Lane (Tabel 2.27).
ELH
w
= Elevasi muka air di atas Main Dam (m) (Subbab 5.3.2).
ELH
whilir
= Elevasi muka air di hilir Sub Sabo Dam (m) (Subbab 5.3.2).
h = beda tinggi muka air di hulu dan hilir Sabo Dam (m).


L
h
= panjang rembesan arah horizontal (m).


L
v
= panjang rembesan arah vertikal (m).










Tabel 2.27 Koefisien Rembesan Lane.
Jenis Tanah Koefisien Lane
Pasir sangat halus atau lanau 8,5
Pasir halus 7,0
Pasir sedang 6,0
Gambar 2.44 Sketsa Panjang Rembesan .


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
97

Jenis Tanah Koefisien Lane
Pasir kasar 5,0
Kerikil halus 4,0
Kerikil sedang 3,5
Kerikil kasar termasuk berangkal 3,0
Bongkah dengan sedikit berangkal dan kerikil 2,5
Lempung lunak 3,0
Lempung sedang 2,0
Lempung keras 1,8
Lempung sangat keras 1,6

C. Kontrol Terhadap Gaya Uplift Pada Lantai Apron.
Gaya Uplift yang bekerja pada lantai Apron dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut (Petunjuk Perencanaan Irigasi, 1986) :

A)
Di mana : U
x
= gaya Uplift pada titik x (kg/m).
H
x
= Tinggi Air di hulu Main Dam dari titik X (Lantai Apron) (m).
L = Panjang garis rembesan (m).
L
x
= Panjang garis rembesan sampai titik x (m).
EL = Panjang total garis rembesan (m).







Gambar 2.45 Sketsa Panjang Rembesan Gaya Uplift.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
98

Tabel 2.28 Perhitungan Gaya Uplift Pada Lantai Apron.
Jenis
Beban
Simbol
Gaya yang Bekerja (ton)
Panjang
Lengan (m)
Momen
Perhitungan V (+) V (-)

Perhitungan M (+) M (-)
Beban
Mati
G t L gc (+)

1/2 L (+)
Beban Air Pv hwa L gw (+)

1/2 L (+)
Gaya
Uplift
Pu1 U6 L

(-) 1/2 L (-)
Pu2 1/2 (U5-U6) L

(-) 2/3 L (-)
Total (+) (-) (+) (-)

Keterangan :
= koefisien uplift (0,3 ~ 1,0).
L
ap
= panjang lantai apron (m).
U
x
= gaya uplift (ton/m
2
).
t = tebal apron (m).

c
= berat jenis beton (ton/m
3
).
H
wa
= kedalaman air di atas apron (m).
L = panjang lengan (m).

Kontrol terhadap gaya Uplift yang bekerja pada Lantai Apron dapat dilakukan
dengan menggunakan persamaan berikut :
Stabilitas Terhadap Gaya Angkat


Di mana : S
f
= faktor keamanan (S
f
2).
V
(+)
= jumlah gaya vertikal searah gravitasi (ton).
V
(-)
= jumlah gaya uplift (ton).

Stabilitas Terhadap Guling


Di mana : S
f
= faktor keamanan (S
f
2).
M
(+)
= jumlah momen yang menahan (ton meter).
M
(-)
= jumlah momen yang menggulingkan (ton meter).