Anda di halaman 1dari 60

BAB I PENDAHULUAN

Setiap kegiatan penelitian sejak awal sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan/desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian, disamping pemahaman hasil penelitian yang akan lebih proporsional apabila pembaca mengetahui pendekatan yang diterapkan. Obyek dan masalah penelitian memang mempengaruhi pertimbanganpertimbangan mengenai pendekatan, desain ataupun metode penelitian yang akan diterapkan. Tidak semua obyek dan masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan, atau bahkan mungkin menggabungkannya. Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dari segi peristilahan para akhli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu pada hal yang sama, untuk itu guna menghindari kekaburan dalam memahami kedua pendekatan ini, berikut akan dikemukakan penamaan yang dipakai para akhli dalam penyebutan kedua istilah tersebut seperti terlihat dalam tabel 1 berikut ini :

Tabel 1. Quantitative and Qualitative Research : Alternative Labels Quantitative


Rasionallistic Inquiry from Outside functionalist Positivist Positivist the

Qualitative
Naturalistic Inquiry from the inside Interpretative Constructivist Naturalistic-ethnographic

Authors
Guba &Lincoln (1982) Evered & Louis (1981) Burrel & Morgan (1979) Guba (1990) Hoshmand (1989)

Sumber : Julia Brannen (Ed): 1992 : 58)

Sementara itu Noeng Muhadjir mengemukakan beberapa nama yang dipergunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif yaitu: grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik . perbedaan tersebut dimungkinkan karena perbedaan titik tekan dalam melihat permasalahan serta latar belakang disiplin ilmunya, istilah grounded research lebih berkembang dilingkungan sosiologi dengan tokohnya Strauss dan Glaser (untuk di Indonesia istilah ini diperkenalkan/dipopulerkan oleh Stuart A. Schleigel dari Universitas California yang pernah menjadi tenaga ahli pada Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu soaial Banda Aceh pada tahun 1970-an), ethnometodologi lebih berkembang di lingkungan antropologi dan ditunjang antara lain oleh Bogdan, interaksi simbolik lebih berpengaruh di pantai barat Amerika Serikat dikembangkan oleh Blumer, Paradigma naturalistik dikembangkan antara lain oleh Guba yang pada awalnya memperoleh pendidikan dalam fisika, matematika dan penelitian kuantitatif. Dalam perkembangannya, belakangan ini nampaknya istilah penelitian kualitatif telah menjadi istilah yang dominan dan baku, meskipun mengacu pada istilah yang berbeda dengan pemberian karakteristik yang berbeda pula, namun bila dikaji lebih jauh semua itu lebih bersifat saling melengkapi/memperluas dalam suatu bingkai metodologi penelitian kualitatif.

Oleh karena itu dalam wacana metodologi penelitian, umumnya diakui terdapat dua paradigma utama dalam metodologi penelitian yakni paradigma positivist (penelitian kuantitatif) dan paradigma naturalistik (penelitian kualitatif), ada ahli yang memposisikannya secara diametral, namun ada juga yang mencoba menggabungkannya baik dalam makna integratif maupun bersifat komplementer, namun apapun kontroversi yang terjadi kedua jenis penelitian tersebut memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam tataran filosofis/teoritis maupun dalam tataran praktis pelaksanaan penelitian, dan justru dengan perbedaan tersebut akan nampak kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga seorang peneliti akan dapat lebih mudah memilih metode yang akan diterapkan apakah metode kuantitatif atau metode kualitatif dengan memperhatikan obyek penelitian/masalah yang akan diteliti serta mengacu pada tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dalam setting tertentu

II.1.1 Pengertian Penelitian Kualitatif yang ada dalam kehidupan riil (alamiah) dengan maksud menginvestigasi dan memahami fenomena: apa yang terjadi, mengapa terjadi dan bagaimana terjadinya. Jadi riset kualitatif adalah berbasis pada konsep going exploring yang melibatkan in depth and caseoriented study atas sejumlah kasus atau kasus tunggal (Finlay 2006). Tujuan utama penelitian kualitatif adalah untuk memahami (to understand) fenomena atau gejala sosial dengan lebih menitik beratkan pada gambaran yang lengkap tentang fenomena yang dikaji daripada memerincinya menjadi variabelvariabel yang saling terkait. Harapannya ialah diperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena untuk selanjutnya dihasilkan sebuah teori. Karena tujuannya berbeda dengan penelitian kuantitatif, maka prosedur perolehan data dan jenis penelitian kualitatif juga berbeda. Jadi, tujuan utama penelitian kualitatif adalah membuat fakta mudah dipahami (understandable) dan kalau memungkinan (sesuai modelnya) dapat menghasilkan hipotesis baru. Metode penelitian kualitatif sering disebut sebagai metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) disebut juga sebagai metode etnographi, karena pada awalnya metode ini banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya, disebut juga sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Penelitian kualitatif

merupakan penelitiian yang dalam kegiatannya peneliti tidak menggunakan angka dalam mengumpulkan data dan dalam memberikan penafsiran terhadap hasilnya. Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Sedangkan kirk dan miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengtahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristilahannya. Objek penelitian kualitatif adalah seluruh bidang/aspek kehidupan manusia, yakni manusia dan segala sesuatu yang dipengaruhi manusia. Objek itu diungkapkan kondisinya sebagaimana adanya atau dalam keadaan sewajarnya (natural setting), mungkin berkenaan dengan aspek/bidang kehidupannya yang disebut ekonomi kebudayaan, hukum, administrasi, agama dan sebagainya. Data kualitatif tentang objeknya dinyatakan dalam kalimat, yang pengolahannya dilakukan melalui proses berpikir (logika) yang bersifat kritik, analitik/sintetik dan tuntas. Pada umumnya ada delapan jenis penelitian kualitatif, yakni etnografi (ethnography), studi kasus (case studies), studi dokumen/teks (document studies), observasi alami (natural observation), wawancara terpusat (focused interviews), fenomenologi (phenomenology), grounded theory, studi sejarah (historical research). Penelitian kualitatif menuntut keteraturan, ketertiban dan kecermatan dalam berpikir, tentang hubungan data yang satu dengan data yang lain dan konteksnya dalam masalah yang akan diungkapkan. Beberapa alasan mengenai maksud dilakukannya penelitian kualitatif:
A. Untuk menanggulangi banyaknya informasi yang hilang seperti yang

dialami oleh penelitian kuantitatif, sehingga intisari konsep yang ada dalam data dapat diungkap.

B. Untuk menanggulangi kecenderungan menggali data empiris dengan tujuan

membuktikan kebenaran hipotesis berdasarkan berpikir deduktif seperti dalam penelitian kuantitatif.
C. Untuk

menanggulangi

kecenderungan

pembatasan

variabel

yang

sebelumnya, seperti dalam penelitian kuantitatif, padahal permasalahan dan variabel dalam masalah sosial sangat kompleks.
D. Untuk menanggulangi adanya indeks-indeks kasar seperti dalam penelitian

kuantitatif yang menggunakan pengukuran enumirasi (perhitungan) empiris, padahal inti sebenarnya berada pada konsep-konsep yang timbul dari data.

II.1.2 Ciri dan Karakteristik Umum Penelitian Kualitatif Penelitian kualitatif memiliki beberapa ciri. Ciri tersebut dapat dikaitkan dengan peranan peneliti, hubungan yang dibangun, proses yang dilakukan, peran makna dan interpretasi serta hasil temuan. Ciri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Finlay 2006): A. Peranan Peneliti dalam membentuk pengetahuan Dalam proses pembentukan/konstruksi pengetahuan, peneliti merupakan figur utama yang mempengaruhi dan membentuk pengetahuan. Peran ini dilakukan melalui proses pengumpulan, pemilihan dan interpretasi data. Jadi, sangatlah tidak mungkin untuk melakukan penelitian, jika penelitian tidak terjun langsung pada obyek yang diteliti. Konsekuensinya, peneliti harus terlibat secara langsung dalam setiap tahap kegiatan penelitian dan harus berada langsung dalam setting penelitian yang dipilih. B. Arti penting hubungan peneliti dengan pihak lain

Penelitian kualitatif merupakan proses yang melibatkan peserta (yang diteliti), peneliti dan pembaca serta relationship yang mereka bangun. Jadi, peneliti dipengaruhi oleh lingkungan sosial, historis dan kultural dimana riset dilakukan. Konsekuensinya, ketika melakukan penelitian, peneliti harus mampu membangun hubungan yang baik dengan obyek penelitian dan mampu menyajikan hasil penelitian sehingga pembaca dapat mengikuti dengan jelas alur pemikiran peneliti dalam membangun suatu pengetahuan. C. Penelitian bersifat inductive, exploratory dan HypothesisGenerating Penelitian kualitatif selalu didasarkan pada fenomena yang menarik dan dimulai dengan pertanyaan terbuka (open question); bukan dimulai dengan hipotesis yang akan diuji kebenarannya. Jadi, penelitian bertujuan menginvestigasi dan memahami social world bukannya memprediksi perilaku. Penelitian dilakukan secara induktif dan exploratif dengan melihat apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan bagaimana terjadinya sehingga diharapkan dapat menghasilkan hipotesis baru. D. Peranan Makna (Meaning) dan Interpretasi Penelitian kualitatif difokusan pada bagaimana individu memahami dunianya dan bagaimana mereka mengalami peristiwa tertentu. Jadi, penelitian ini berusaha menginterpretasikan fenomena dari kacamata pelaku berdasarkan pada interpretasi mereka terhadap fenomena tersebut. E. Temuan sangat kompleks, rinci, dan komprehensif Penelitian kualitatif didasarkan pada deskripsi yang jelas dan detail, karena mejawab pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana. Oleh karena itu, penyajian atas temuan sangatlah kompleks, rinci dan komprehensif sesuai dangan fenomena yang terjadi pada setting penelitian. Jadi, ciri-ciri penelitian kualitatif, dapat dinyatakan sebagai berikut :

1. Lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung 2. Manusia merupakan alat (instrumen) utama pengumpulan data 3. Analisis data dilakukan secara induktif 4. Penelitian bersifat deskriptif analitik (data berupa kata-kata, gambar, perilaku) tidak dituangkan dalam bentuk bilangan/ angka statistik
5. Tekanan penelitian berada pada proses, penelitian kualitatif lebih banyak

mementingkan segi proses daripada hasil. 6. Pembatasan penelitian berdasarkan fokus 7. Perencanaan bersifat lentur dan terbuka 8. Hasil penelitian merupakan kesepakatan bersama 9. Pembentukan teori berasal dari dasar 10. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif 11. Teknik sampling cenderung bersifat purposive 12. Penelitian bersifat menyeluruh (holistik) 13. Makna sebagai perhatian utama penelitian Sedangkan dari hasil penelaahan pustaka yang dilakukan Moleong atas hasil dari mensintesakan pendapatnya Bogdan& Biklen dengan Lincoln & Guba ada sebelas ciri penelitian kualitatif, yaitu:
1. Penelitian kualitatif mennggunakan latar alamiah atau pada konteks dari

suatu keutuhan (enity) 2. 3. 4. 5. Penelitian kualitatif instrumennya adalah manusia, baik peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan teori subtantif yang berasal dari data
6. Penelitian kualitatif mengumpulkan data deskriptif (kata-kata, gambar)

bukan angka 7. Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses daripada hasil

8. Penelitian kualitatif menghendaki adanya batas dalam penelitiannya atas

dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian 9. Penelitian kualitatif meredefinisikan validitas, realibilitas dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik 10. Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan (bersifat sementara) 11. Penelitian kualitatif menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sumber data. II.1.3 Karakteristik Penelitian Kualitatif : 1) Latar alamiah Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan Peneliti memasuki dan melibatkan sebagian waktunya di sekolah, keluarga, tetangga dan lokasi lainnya untuk meneliti maslaah pendidikan atau sosiologi 2) Manusia sebagai alat (instrumen) Peneliti/ dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. 3) Metode kualitatif Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda Menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden Metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penyamaan pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi

4) Analisis data secara induktif Proses induktif lebih dapat menemukan kenyataan-kenyataan ganda sebagian yang terdapat dalam data Lebih dapatmenguraikan latar secara penuh dan dapat membuat keputusan-keputusan tentang dapat-tidaknya pengalihan kepada suatu latar lainnya Analisis induktif lebih dapat menemukan pengaruh bersama yang mempertajam hubungan-hubungan Dapat memperhitunngkan nilai-nilai secara eksplisit sehingga bagian dari struktur analitik 5) Teori dari dasar 6) Deskriptif 7) Lebih mementingkan proses daripada hasil 8) Adanya batas yang ditentukan oleh fokus 9) Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data 10) Desain yang bersifat sementara II.I.4 Tahap Tahap Penelitian Perencanaan Dalam bidang kedokteran, penelitian eksploratif biasanya diawali dengan ditemukannya kasus baru yang belum pernah ada sebelumnya. Perencanaan penelitian diawalai dengan pertanyaan penelitian kemudian ditentukan tujuan untuk menentukan apakah menggunakan kontrol atau tidak. Setelah itu disusul dengan menentukan populasi studi dan subjek studi untuk mengetahui ciri-ciri individu yang dijadikan sasaran penelitian dan variabel variabel penelitian yang berkaitan dengan penyakit yang dimaksud untuk diukur. Disamping itu, dipersiapkan juga instrumen pengumpulan data serta pemeriksaan yang dibutuhkan. Perencanaan Penelitian meliputi:

o Pertanyaan Penelitian o Tujuan o Subjek Studi o Variabel yang akan diukur Pelaksanaan Penelitian o Pengumpulan Data o Analisis Data II.1.5 Teknik Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif Kesehatan Berbagai teknik pengumpulan data untuk penellitian kualitatif terus berkembang, namun pada dasarnya ada 4 cara yang mendasar untuk mengumpulkan informasi yaitu : A. Observasi Observasi yaitu tindakan yang merupakan penafsiran dari teori (Karl Popper). Namun dalam penelitian, pada waktu memasuki ruang kelas dengan maksud mengobservasi, sebaiknya meninggalkan teori-teori untuk menjustifikasi sebuah teori / menyanggah. Observasi merupakan tindakan atau proses pengambilan informasi melalui media pengamatan. Observasi yaitu teknik pengumpulan yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, waktu, peristiwa, tujuan dan perasaan. Observasi yang paling efektif adlaah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. Metode observasi dibedakan menjadi: a. Observasi biasa

Menurut Prof. Parsudi Suparlan, dalam observasi biasa si peneliti tidak boleh terlibat dalam hubungan emosi pelaku yang menjadi sasaran penelitian b. Observasi terkendali Menurut Prof. Parsudi Suparlan, para pelaku yang akan diamati dan dikondisi-kondisi yang ada dalam tempat kegiatan. Pelaku diamati dan dikendalikan si peneliti c. Observasi terlibat Menurut Prof. Parsudi suparlan, observasi terlibat merupakan teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang di teliti untuk dapat melihat dan memahami gejala yang ada, sesuai maknanya dengan yang diberikan dipahami oleh para warga yang ditelitinya. Kegiatan observasi terlibat bukan hanya mengamati gejala yang ada dalam masyarakat yang diteliti, tetapi juga melakukan wawancara, mendengarkan, memahamidan dalam batas-batas tertentu mengikuuti kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang diteliti. Keterlibatan peneliti dapat dibedakan menjadi empat kelompok yaitu: a. Keterlibatan pasif: peneliti tidak terlibat dalam kegiatan yang dilakukan oleh pelaku yang diamati dan tidak terjadi interaksi sosial dengan pelaku yang diamati b. Keterlibatan setengah-setengah: peneliti mengambil sesuatu kedudukan yang berada dalam 2 hubungan struktural yang berbeda, yaitu antara struktur yang menjadi wadah bagi kegiatan yang diamati dan struktur dimana pelaku sebagai pendukung
c.

Keterlibatan aktif : peneliti ikut mengerjakan apa yang dilakukan para pelaku yang diamati dalam kehidupan sehari-hari

d. Keterlibatan penuh / lengkap: bila kegiatan peneliti telah menjadi bagian

dari kehidupan pelaku yang diamati.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan observasi: a. b. Memperhatikan fokus penelitian, kegiatan apa yang harus diamati apakah yang umum atau yang khusus. Menentukan kriteria yang diobservasi, dengan terlebih dahulu mendiskusikan ukuran-ukuran apa yang akan digunakan.

Fase-fase dalam observasi: a. b. c. Pertemuan perencanaan Observasi kelas Diskusi balikan

Ada beberapa keterbatasan observasi, yaitu sebagai berikut: a. b. Banyak kejadian yang tidak dapat dicapai dengan observasi langsung, misalnya kehidupan pribadi seseorang yang sangat rahasia Bila mengetahui bahwa dirinya diteliti, para observer mungkin dengan maksud-maksud tertentu dengan sengaja berusaha menimbulkan kesan yang menyenangkan atau sebaliknya pada observer. c. Timbul kejadian yang tidak selalu dapat diramalkan sehingga observer dapat hadir untuk mengobservasi kejadian itu. Jika penelitian dilakukan terhadap typical behavior, menunggu timbulnya behavior yang diharapkan itu secara spontan kerapkali memakan waktu yang panjang dan sangat membosankan. d. e. Tugas observasi menjadi terganggu pada waktu-waktu ada peristiwa yang tidak terduga-duga, misalnya keadaan cuaca. Terbatasi oleh lamanya kelangsungan suatu kejadian

Kelebihan observasi:

a.

Merupakan metode yang dapat langsung digunakan untuk meneliti bermacam-macam gejala. Banyak aspek tingkah laku manusia yang hanya dapat diteliti melalui observasi langsung.

b.

Untuk subjek yang diteliti, observasi ini lebih sedikit tuntutannya, orangorang yang selalu sibukpun mungkin tidak berkeberatan untuk diamatamati, walau dia mungkin keberatan menjawab kuesioner.

c. d. e. f.

Memungkinkkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya sesuatu gejala. Tidak tergantung kepada self-report Dengan metode observasi, peneliti dapat memperoleh pandangan yang holistik/ menyeluruh terhadap responden yang diteliti Peneliti dapat menggunakan variasi pendekatan termasuk pendekatan inductive discovery (yaitu pengamatan yang mendasarkan kepada kejadian spesifik mendalam dan realistik serta merefleksikan keadaan responden)

g. h.

Peneliti dapat melihat hal-hal yang tidak dapat diungkap dengan teknik lain termasuk perilaku biasa Peneliti dapat mengetahui dan melaporkan apa adanya tentang perilaku responden yang biasa maupun diluar konteks permasalahan yang hendak diteliti.

Hambatan-hambatan dalam pengamatan berasal dari 2sumber, yaitu: a. Hambatan dari dalam, termasuk diantaranya: o Kurangnya persiapan apa yang dilakukan sebelum berinteraksi dengan responden o Perasaan terasing dari peneliti terhadap responden o Kurang bisanya peneliti beradaptasi dengan kegiatan, kebiasaan,dan tata cara hidup responden o Tidak dapat memanfaatkan peran informan di lapangan.

b. Hambatan yang berasal dari luar, diantaranya: o Peneliti larut dengan responden dan kehilangan arah tentang informasi apa yang perlu diambil dari interaksi dengan responden o Peneliti tidak dapat mengidentifikasi gejala yang diinginkan karena adanya aturan yang harus ditaati di lapangan o Minimnya perlengkapan yang dimiliki peneliti dalam melakukan observasi di lapangan B. Wawancara Mendalam (Indepth Interview) Wawancara yaitu pertemuan yang langsung direncanakan antara pewawancara dan yang diwawancarai untuk memberikan/menerima informasi tertentu. Menurut Moleong, wawancara adalah kegiatan percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pewawancara dan yang diwawancarai. Dengan demikian, wawancara merupakan pertanyaan yang dilakukan secara verbal kepada orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi atau penjelasan hal-hal yang dipandang perlu. Wawancara mendalam merupakan kegiatan mengumpulkan data dari sumber/informan mengenai fenomena yang diteliti secara rinci dengan menggunakan pedoman semi terstruktur. Biasanya durasinya 1 jam hingga 1.5 jam. Ada tiga teknik wawancara yaitu: a. b. c. a. Wawancara baku dan terjadwal Wawancara baku dan tidak terjadwal Wawancara tidak baku Bersikaplah sebagai pewawancara yang simpatik, yang berperhatian dan pendengar baik, tidak berperan terlalu aktif, untuk menunjukkan bahwa anda menghargai pendapat anak b. Bersikaplah netral dalam relevansinya dengan pelajaran

Beberapa hal yang harus diperhatikan agar wawancara berlangsung efektik:

c. d.

Bersikaplah tenang, tidak terburu-buru atau ragu-ragu dan anak akan menunjukkan sikap yang sama. Secara khusus perhatikan bahasa yang anda gunakan untuk wawancara

Ada beberapa bentuk wawancara: a. b. c. Wawancara terstruktur yaitu apabila pewawancara sudah mempersiapkan bahan wawancara terrlebih dahulu Wawancara tidak terstruktur yaitu apabila prakarsa pemilihan topik bahasan diambil oleh orang yang di wawancarai Wawancara semi terstruktur yaitu bentuk wawancara yang sudah dipersiapkan, akan tetapi memberikan keleluasaan kepada responden untuk menerangkan agak panjang mungkin tidak langsung ke fokus bahasan/ pertanyaan, atau mungkin mengajukan topik bahasan sendiri selam wawancara berlangsung. C. Focus Group Discussion Focus Group Discussion atau diskusi kelompok terarah merupakan salah satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif. Pada Focus Group Discussion terdapat sekelompok orang yang berdiskusi dengan pengarahan dari moderator/fasilitator mengenai suatu topik. Prinsip focus group discussion, yaitu dilakukan dengan jumlah peserta 6-12 orang dan mempertimbangkan perbedaan geografis. Dimana peserta tidak saling mengenal, namun mereka homogen. Durasi focus group discussion sekitar 60-120 menit. Tempat dilakukannya diskusi yaitu pada tempay yang aman, mudah terjangkau, nyaman, pengamat tidak mengganggu, dan lingkungan netral. Penggunaan Focus Group Discussion : 1) Penelitian Merancang kuesioner survei

Informasi mendalam tentang PSP Membuat hipotesa penelitian 2) Program Pada saat Perencanaan (sebelum program) Pada saat Implementasi program Pada saat Evaluasi program 3) Media massa Untuk merancang suatu topik Sebagai Pre-test Prinsip-prinsip Focus Group Discussion dijabarkan sebagai skema berikut :

D.

Pemeriksaan Data/Dokumen Menurut Goetz dan Le compte (1984), dokumen yang menyangkut para

partisipan penelitian akan menyediakan kerangka bagi data yang mendasar, yang termasuk didalamnya: a. b. c. Koleksi dan analisis buku teks Kurikulum dan pedoman pelaksanaannya Arsip penerimaan murid baru

d. e.
f.

Catatan rapat Catatan tentang siswa Rencana pelajaran dan catatan guru Hasil karya siswa Kumpulan dokumen pemerintah Koleksi arsip guru berupa buku harian, catatan peristiwa penting (logs) dan kenang-kenangan dari siswa angkatan lama

g. h. i.

Macam-macam dokumen menurut Elliot (1991:78): a. Silabi dan rencana pembelajaran b. Laporan diskusi-diskusi tentang kurikulum c. Berbagai macam ujian dan tes d. Laporan rapat e. Laporan tugas siswa f. Bagian-bagian dari buku teks yang digunakan dalam pembelajaran g. Contoh essay yang ditulis siswa E. Triangulasi Merupakan teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada, tujuan dari triangulasi bukan untuk mencari kebenaran tentang beberapa fenomena, tetapi lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan. II.1.6 Validitas Dan Reliabilitas Validitas alat ukur diselidiki dengan (1) logika (2) statistik validitas ada macam-macam yaitu validitas isi, validitas prediktif dan validitas construct (konstruk) A. Validitas isi Dengan validitas isi dimaksud bahwa isi/bahan yang diuji atau dites relevan dengan kemampuan, pengetahuan, pelaksanaan, pengalaman dan latar belakang orang yang diuji. Validitas diperoleh dengan menagadakan sampling yang baik, yakni

memilih item-item yang representatif dari keseluruhan bahan yang berkenaan dengan hal yang mengenai bahan pelajaran mungkin tidka sukar dicapai. Kesulitan dengan validitas isi ialah pilihanitem dilakukan secara subjektif yakni berdasarkan logika si peneliti. a. Validitas prediktif Dengan validitas prediktif di maksudkan adanaya kesesuaian antara ramalan (prediksi) tentang kelakuan seseorang dengan kelakuannya yang nyata. b. Validitas konstruk Digunakan bila kita sangsikan apakah gejala yang dites hanya mengandung satu dimensi, bila ternyata gejala itu mengandung lebih dari satu dimensi, maka validitas itu dapat diragukan. Keuntungan validitas konstruk kita mengetahui komponen-komponen sikap/sifat yang diukur dengan tes itu. Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Jadi data yang valid adalah data yang tidak berbeda antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian. Validitas dibedakan menjadi: a. Validitas internal: berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai. b. Validitas eksternal: berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada objek penelitian. B. Reliabilitas Berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Suatu data dikatakan reliabel apabila dua atau lebih peneliti dalam objek yang sama atau peneliti sama dalam waktu yanng berbeda akan menghasilkan data yang sama atau sekelompok data apabila dipecah menjadi dua menjadi data yang tidak berbeda. Suatu data yang reliabel akan cenderung valid, walaupun belum tentu valid.

Suatu alat pengukur dikatakan reliable bila alat itu dalam mengukru suatu gejala pada waktu yang berlainan senantiasa menunjukkan hasil yang sama. Jadi alat yanng reliable secara konsisten memberi hasil ukuran yang sama. Reliabilitas merupakan syarat mutlak untuk menentukan pengaruh variabel yang satu terhadap variabel yangsatu lagi. Reliabilitas juga merupakan syarat bagi validitas satu tes, tes yang tidak reliable dengan sendirinya tidak valid. Pengujian validitas dan reliabilitas Dalam uji keabsahan data meliputi : 1) Uji kredibilitas Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian dapat dilakukan dengan; Perpanjangan pengamatan Meningkatkan ketekunan Triagulasi (pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu) Analisis kasus negatif Menggunakan bahan referensi Mengadakan member check (proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data). Tujuan dari member check adalah agar informasi yang diperoleh dan digunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yanng dimaksud sumber data atau informan. 2) 3) Pengujian transferability Transferability merupakan validitas eksternal Pengujian depenability Dilakukan denga melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. 4) Pengujian konfirmability

Uji konfirmability mirip dengan uji dependebility, sehingga pengujian dapat dilakukan secara bersamaan.

Uji konfirmability berarti menguji hasil penelitian dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Contoh Kasus; Penelitian untuk mengetahui pendapat masyarakat tentang keberadaan bidan desa di Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten OKI. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan teknik diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion). Hasil peneltian menunjukkan bahwa masyarakat pedesaaan merasakan manfaat adanya bidan desa khususnya ibu-bu. Disamping itu terungkap pula bahwa masih banyak bidan desa yang tidak berdomisii didesa tempat mereka ditugaskan terutama bidan desa yang berasal dari Kabupaten banyu Asin. II.2 Penelitian Kuantitatif Penelitian kuantitatif merupakan suatu penelitian yang analisisnya secara umum memakai analisis statistik. Penelitian kuantitatif dikembangkan oleh penganut positivisme yang dipelopori oleh Auguste Conte. Aliran ini berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu sosial, maka metode-metode IPA harus diadopsi ke dalam riset-riset ilmu sosial (Harahap, 1992). Karenanya dalam penelitian kuantitatif pengukuran terhadap gejala yang diamati menjadi penting, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan berstruktur (angket) yang disusun berdasarkan pengukuran terhadap variabel yang diteliti yang kemudian menghasilkan data kuantitatif. Suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktifinduktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun

II.2.1 Definisi

pemahaman

peneliti

berdasarkan

pengalamannya,

kemudian

dikembangkan

menjadipermasalahan-permasalahan beserta pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan.

II.2.2 Ciri dan Karakteristik Umum Penelitian Kuantitatif Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variable masing- masing. Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya. Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistic karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode scientific karena telah memenuhi kaidahkaidah ilmiah yaitu konkrit/ empiris, objektif, terukur, rasional dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery, Karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. II.2.3 Tahap Tahap Penelitian Kuantitatif Fase I: Analisis Masalah o Menentukan masalah operasional

o Mengadakan analisi yang lebih mendalam tentang berbagai hal yang dihadapi o Menentukan prioritas masalah Fase II: Mengembangkan rencana pemecahan masalah o Menentukan tujuan penelitian o Menentukan variabel yang diukur o Menentukan hambatan yang mungkin terjadi dengan tujuan tersebut o Mengembangkan model pemecahan masalah o Menentukan cara pengumpulan data o Rencana Analisis

Fase III:Validasi pemecahan masalah o Mengembangkan rancangan penelitian o Melaksanakan kegiatan o Mengadakan analisis untuk mengevaluasi hasil penelitian

II.2.4 Rancangan Penelitian Kuantitatif A. Rancangan Non-eksperimental Rancangan terlemah untuk mendeteksi hubungan sebab akibat karena pada umumnya penelitian noneksperimental tanpa menggunakan kelompok kontrol Macam: - Pascaintervensi Rancangan ini hanya terdiri dari satu kelompok studi tanpa kelompok kontrol dan intervensi telah dilakukan. Beberapa saat setelah intervensi

dilakukan pengamatan untuk mengetahui ciri-ciri demografis kelompok individu yang telah mendapatkan intervensi tersebut. Contoh: Penelitian mengenai pendapat masyarakat tentang pelayanan KIA di Puskesmas. - Pra dan Pasca intervensi Rancangan ini hampir sama dengan rancangan hanya pascaintervensi tanpa kelompok kontrol, tetapi pada rancangan ini dilakukan pengamatan sebelum intervensi dan dilakukan pengamatan ulang beberapa saat setelah intervensi. Perubahan yang terjadi setelah intervensi dicatat dan dibandingkan dengan keadaan sebelum intervensi.

- Perbandingan kelompok statik Rancangan ini merupakan rancangan non ekspremental yang menggunakan kelompok kontrol, tetapi kontrol yang digunakan tidak berasal dari populasi yang sama dengan intervensi. Alokasi intervensi pada kelompok studi dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random. B. Rancangan Eksperimental (Uji Klinis) Pemisahan subjek studi menjadi kelompok eksperimental dan kelompok kontrol dilakukan secara random kemudian kelompok eksperimental mendapatkan perlakuan dan diamati efek yang terjadi akibat intervensi dan hasilnya dibandingkan dengan kelompok kontrol. Secara skematis struktur rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Contoh Kasus: Penelitian tentang kursus penyegaran kader kesehatan. Misalkan, disuatu daerah terdapat 50 orang kader kesehatan. Dari 50 org tersebut diambil 25 secara random sebagai kelompok eksperimen dan sisanya 25 orang sebagai kelompok kontrol kemudian kelompok eksperimen dilakukan kursus penyegaran selama 5 hari. Setelah kursus dilakukan pengamatan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan kader sebagai hasil kursus dan dibandingkan hasilnya dengan kelompok kontrol untuk mengetahui efektifitas kursus yang dilakukan

C. Rancangan Eksperimental semu Rancangan eksperimental semu terdiri dari 3 rancangan sebagai berikut. 1. Rancangan dengan alokasi kelompok eksperimental dan kelompok kontrol tanpa randominasi.

2. Rancangan deret berkala 3. Rancangan pra dan pascaintervensi dengan sampel terpisah II.3 Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Penelitian dalam bidang kedokteran seperti halnya pada ilmu-ilmu sosial budaya lainnya,selama ini terlalu menekankan pada pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif yang dilandasi faham positivisme empirik yang berintikan aktivitas penelitian eksperimental memang telah memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam berbagai bidang ilmu, dan bahkan pernah dipandang sebagai satu-satunya pendekatan penelitian yang benar dan ilmiah. Pandangan tersebut mampu menyeret para peneliti ilmu-ilmu kesehatan yang dalam perkembangan aktivitasnya semakin sering menghadapi beragam permasalahan yang tidak bisa dijawab secara tuntas. Dari kenyataan yang dihadapi tersebut para peneliti semakin manyadari bahwa manusia sebagai subyek dengan segala sifatnya yang subjektif tak mungkin dapat dikaji secara secara tepat dengan pendekatan ilmu obyektif. Pemaksaan ke arah itu akan menimbulkan bias fundamental dan mengakibatkan kekeliruan fatal yang menjadi sumber krisis ilmu-ilmu kesehatan dimasa kini. Masalah sosial yang kompleks tak mungkin untuk diuji dengan pandangan partial dan linear. Didalam ilmu alam berbagai masalah pokok didasarkan pada kenyataan obyek yang dapat dilihat di luar diri kita dan bebas sebagai fakta obyektif. Kenyataan itu sangat berbeda halnya dengan ilmu sosial budaya yang memusatkan studinya pada realitas sebagai produk pikir manusia dengan segala subyektivitas emosi serta nilai-nilai yang dianutnya. Fenomena sosial dan perilaku manusia pada dasarnya hanya ada dalam pikiran manusia. Realitas tersebut terikat oleh interaksi dialektis antara subyek dan obyek. Demikianlah dalam mempelajari metodologi penelitian sosial ini, anda diharapkan mengenal baik pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, karena pendekatan kualitatif sangat tepat bagi studi ilmu-ilmu sosial budaya, termasuk didalamnya ilmu kesehatan masyarakat. II.3.1 Pemahaman karakteristik metodologi

Mengenal ( perbedaan ) pendekatan kuantitatif dan kualitatif akan lebih mudah dan jelas bila kita memahami perbedaannya dengan beragam hal yang sangat mendasar didalam kedua metodologi tersebut. Penggunaan metodologi penelitian kualitatif berbeda dengan penggunaan metodologi penelitian kuantitatif bukan sekedar karena menghadapi perbedaan subjek matter , atau karena disiplin ilmu yang berbeda, tetapi secara mendasar karena perbedaan keyakinan keilmuan yang bersumber pada penggunaan paradigma berpikir yang berbeda ( smith, 1984 ). Bilamana kita bisa memahami perbedaan itu secara tepat maka kita akan mampu memisahkan kedua metdologi penelitian tersebut dengan penuh kesadaran dan berada pada penglihatan batas yang jelas. Dengan demikian didalam melakukan aktivitas penelitian, kita tak akan mudah tersesat atau dengan sangat gegabah mencampur-adukkan beragam pengertian dasar dari dua jenis metodologi tersebut. Guba dan Lincoln ( 1981 : 62 82 ) menyajikan uraian yang cukup panjang dan mempertentang-kan perbedaan paradigma kedua penelitian ini. Untuk penelitian kuantitatif digunakan istilah Scientific Paradigm ( paradigma ilmiah ), sedangkan penelitian kualitatif dinamakan Naturalistic Inquiry atau inkuiri alamiah. Pokok-pokok perbedaan kedua paradigma tersebut dapat disimak dalam tabel berikut :

Tabel. Perbedaan Paradigma Ilmiah dan Alamiah Poster tentang PARADIGMA Ilmiah Alamiah

Teknik yang digunakan Kriteria kualitas Sumber teori Persoalan kausalitas

Kuantitatif Rigor Apriori Dapatkah x menyebabkan y ?

Kualitatif Relevansi Dasar-dasar ( Grounded ) Apakah x menyebabkan y dlm. Latar alamiah Proposisional yang diketahui bersama

Tipe pengetahua n yang digunakan Pendirian Maksud Instrumen

Proposisional

Reduksionis Verifikasi Karakteristik Metodologis Kertas-pensil atau alat fisik lainnya

Ekspansionis Ekspansionis Orang sebagai peneliti

Waktu penetapan pengumpula n data dan analisis Desain Gaya Latar Perlakuan Satuan kajian Unsur kontekstual

Sebelum penelitian

Selama dan sesudah pengumpulan data

Pasti ( preordinate ) Intervensi Laboratorium Stabil Variabel Kontrol

Muncul-berubah Seleksi Alam Bervariasi Pola-pola Turut campur atas undangan

1. Teknik yang digunakan. Pada dasarnya, baik teknik kuantitatif maupun teknik kualitatif dapat digunakan bersama-sama. Namun, pada paradigma ilmiah memberi tekanan pada teknik kuantitatif, sedang paradigma alamiah memberi tekanan pada teknik kualitatif. 2. Kriteria kualitas. Untuk menialai baik/tidaknya penelitian, paradigma ilmiah sangat percaya pada kriteria Rigor, yaitu kesahihan eksternal dan internal, keandalan dan obyektivitas. Menurut Guba dan Lincoln ( 1981 : 66 ) penekanan pada kriteria tersebut membawa eksperimen pada penyusunan desain yang bagus, tetapi sering sempit cakupannya. Hal ini dikarenakan kebanyakan eksperimen memasukkan situasi yang kurang dikenal, buatan, dan masa hidupnya singkat dan hal itu membuat latar tidak biasa sukar digeneralisasikan pada latar lainnya. Sebaliknya, paradigma alamiah menggunakan kriteria relevansi. Relevansi ini adalah signifikasi dari pribadi terhadap lingkungan senyatanya. Usaha menemukan kepastian dan keaslian merupakan hal yang penting dalam penelitian alamiah. 3. Sumber teori. Paradigma ilmiah menekankan pada verifikasi hipotesis yang diturunkan dari teori a priori. Teori semacam ini disusun dengan logika deduktif dan logis. Sedangkan paradigma alamiah menemukan teori dengan berdasar pada data yang berasal dari dunia nyata. Metode yang digunakan adalah metode menemukan dengan menganalisis data yang diperoleh secara sistematis.

4. Pertanyaan tentang kausalitas. Penelitian biasanya dihadapkan pada penentuan hubungan sebab-akibat. Jawaban terhadap pertanyaan hubungan sebab akibat penting untuk keperluan meramalkan, kontrol disatu pihak, dan verstehen ( pemahaman ) dilain pihak. Kedua paradigma ilmiah maupun alamiah menggunakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun dengan cara yang berbeda. Paradigma ilmiah biasanya bertanya = dapatkah X menyebabkan Y ? untuk itu maka mereka mendemonstrasikan di laboratorium bahwa Y sesungguhnya dapat disebabkan oleh X. Di pihak lain paradigma alamiah kurang tertarik dengan apa yang diusahakan terjadi dalam situasi yang dirancang terlebih dahulu, namun lebih tertarik pada apa yang terjadi pada latar alamiah. 5. Tipe pengetahuan yang digunakan. Ada dua macam pengetahuan ; yaitu pengetahuan proposisional dan pengetahuan yang diketahui bersama, yang diketahui dan disepakati juga oleh subjek. Kedua tipe pengetahuan tersebut, dapat dijelaskan perbedaannya. Pengetahuan proposisional adalah pengetahuan yang dapat dinyatakan dalam bentuk bahasa. Pengetahuan yang diketahui bersama yang dalam hal-hal tertentu diketahui oleh subjek. Paradigma ilmiah membatasi diri pada pengetahuan proposisional. Pengetahuan demikian merupakan esensi metode untuk menyatakan proposisi secara eksplisit dalam bentuk hipotesa yang diuji untuk menentukan validitasnya. Teori-teori terdiri atas pengumpulan hipotesis semacam itu. Sebaliknya, paradigma alamiah mengizinkan dalam mendorong pengetahuan yang diketahui bersama guna dimunculkan untuk keperluan ( tacit knowledge ) ialah instuisi, pemahaman, atau perasaan yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata

membantu pembentukan teori dari dasar maupun untuk memperbaiki komunikasi kembali kepada sumber informasi dengan cara peristilahan mereka. 6. Pendirian. Paradigma ilmiah berpendirian Reduksionis. Mereka menyempitkan penelitian pada fokusyang relatif kecil dengan jalan membebankan kendalakendala, baik pada kondisi anteseden pada nikuiri ( untuk keperluan mengontrol ), maupun pada keluaran-keluaran. Jadi, pencari tahu ilmiah mulai dengan menyusun pertanyaan atau hipotesis, kemudian hanya mencari informasi yang akan memberikan jawaban pada pertanyaan atau menguji hipotesis-hipotesis itu. Sementara pencari tahu alamiah mempunyai pendirian ekspansionis. Mereka mencari perspektif yang akan mengarahkan pada deskripsi dan pengertian fenomena sebagai keseluruhan atau akhirnya dengan jalan menemukan sesuatu yang mencerminkan kerumitan gejala-gejala itu. Mereka memasuki lapangan, membangun dan melihat pembawaannya yang tampak dari arah manapun titik masuknya. Jadi pencari tahu ilmiah mengambil setiap struktur, terarah dan tunggal sedangkan pencari tahu alamiah berpendirian terbuka, menjajagi, dan kompleks. 7. Maksud. Paradigma ilmiah senantiasa bermaksud menemukan pengetahuan melalui verifikasi hipotesis yang dispesifikasikan secara apriori sementara pencari tahu alamiah, menitikberatkan upayanya pada usaha menemukan unsur-unsur atau pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku. 8. Instrumen.

Untuk mengumpulkan data, paradigma ilmiah memanfaatkan kuesioner atau alat bantu fisik lainnya. Sedang pencari tahu alamiah dalam pengumpulan datanya lebih banyak bergantung pada dirinya sendiri sebagai alat pengumpulan data. Orang sebagai instrumen memililki senjata dapat memutuskan yang secara luwes dapat digunakannya. Ia senantiasa dapat menilai keadaan dan dapat mengambil keputusan. 9. Waktu untuk mengumpulkan data dan aturan analisis.Pencari tahu ilmiah dapat menetapkan semua aturan pengumpulan dan analisis data sebelumnya. Mereka sudah mengetahui hipotesis yang akan diuji dan dapat mengembangkan instrumen yang cocok dengan variabel. Instrumen ditetapkan sebelumnya tentang ukuran terhadap ciri yang diketahui sehingga memungkinkan menetapkan waktu melakukan analisis. Paradigma alamiah sebaliknya, tidak diperkenenkan memformulasikan secara a priori. Datanya dikumpulkan serta dikategorikan dalam bentuk kasar dan diunitkan oleh peneliti/analisis. 10.Desain. Bagi paradigma ilmiah, desain harus disusun secara pasti sebelum fakta dikumpulkan. Sekali desain digunakan, maka tidak boleh mengubahnya dalam bentuk apapun. Bagi paradigma alamiah, desain dapat disusun sebelumnya secara tidak lengkap. Apabila sudah digunakan, desain senantiasa dilengkapi dan disempurnakan. 11.Gaya. Paradigma ilmiah menggunakan gaya menerapkan intervensi. Variabel bebas dan terikat diisolasikan dari konteksnya, diatur sedemikian rupa sehingga

hanya variabel ini yang muncul untuk diukur dan kemudian dikonfirmasikan dengan hipotesisnya. Sebaliknya, paradigma alamiah bergantung pada seleksi. Dari pelbagai peristiwa yang terjadi secara alamiah akhirnya dipilih sesuatu gejala tanpa mengadakan intervensi. Jadi pencari tahu alamiah tidak mengelola situasi, tetapi memanfaatkannya. 12.Latar. Pencari tahu ilmiah bersandar pada latar laboratorium untuk keperluan mengadakan kontrol, mengelola intervensi dan sebagainya. Sebaliknya, pencari tahu alamiah cenderung mengadakan penelitian dalam latar alamiah. 13.Perlakuan. Bagi paradigma ilmiah, konsep perlakuan sangat penting. Bagi setiap eksperimen, perlakuan itu harus stabil dan tidak bervariasi. Jika tidak demikian, maka sukar menentukan pengaruh yang berkaitan dengan suatu penyebab tertentu. Untuk paradigma alamiah, konsep perlakuan tersebut asing karena perlakuan menyertakan beberapa cara manipulasi atau intervensi. 14.Satuan kajian. Pada paradigma ilmiah adalah variabel dan semua hubungannya yang dinyatakan diantara variabel dan sistem variabel. Sebaliknya, pada paradigma alamiah berlaku pendirian agar satuan kajian lebih sederhana. Selain itu mereka lebih menekankankemurnian sistem pola yang diamati secara alamiah. 15.Unsur-unsur kontekstual.

Peneliti ilmiah senantiasa berusaha mengontrol seluruh unsur yang menggaggu yang dapat mengaburkan unsur-unsur itu dari fenomena yang menjadi pusat perhatian atau yang mengacau pada pengaruh terhadap fenomena itu. Peneliti alamiah bukan hanya tidak tertarik pada kontrol, melainkan malah mengundang adanya ikut campur sehingga mereka secara lebih baik dapat mengerti peristiwa dalam dunia nyata dan merasakan pola-pola yang ada di dalamnya. II.3.2 Validitas dan Reliabilitas Validitas merupakan built in control mechanism dalam metode penelitian yang menggunakan instrumen secara eksplisit. Validitas mempersoalkan instrument yang digunakan dalam mengukur atribut ; apakah alat ukur benar-benar mengukur atribut yang dimaksud. Mengapa masalah validitas senantiasa dipertanyakan dalam penelitian sosial ? Karena atribut semisal psikologis, pemahaman ilmiah, tingkat konservatisme, dll sangat sulit diukukr/dicari, meski demikian peneliti ilmiah harus mampu mengukur. Reliabilitas : kemampuan, ketepatan, keajegan, homogenitas alat ukur. Suatu alat ukkur dikatakan mantap bila dipergunakan berulang kali hasilnya tetap sama. Catatan : suatu data yang punya reliabilitas belum tentu punya validitas, sedang data yang punya validitas sudah tentu punya reliabilitas. Beberapa metode menguji reliabilitas. 1. Metode ulang : mengulangi pengukuran berdasar selang waktu ttt. 2. Metode belah dua : membegi dua butir pertanyaan ke dalam dua kelompok. 3. Metode parabel : butir-butir pertanyaan mewakili suatu variabel yang satu dan butir pertanyaan yang sama mewakili variabel yang lain yang punya kesamaan sifat, diukur secara bersamaan. Jenis-jenis Validitas.

1. Validitas logis : mempersoalkan apakah pola hubungan variabel/konsep dapat diterima akal sehat. Misal : kita akan menganggap logis bila Org meneliti pengaruh usia terhadap suatu hal bukan sebaliknya. 2. Validitas tampang : menyangkut atribut kongkrit, bila kita ingin mengukur mencek huruf kita akan meminta orang membaca. 3. Validitas lintas budaya : mempersoalkan apakah alat ukur yang digunakan pada masyarakat ttt juga berlaku didalam masyarakat yang lain. 4. Validitas internal : menyangkut tentang internal psikologis khalayak/responden. Misal : kalau kita ingin mengamati sikap petani terhadap kredit usaha tadi maka kuesioner yang diajukan harus benar-benar menggali psikologis internal petani, bagaimana tanggapannya thd program kredit tsb. 5. Validitas eksternal : mempersoalkan apakah alat ukur yang dikenakan pada komunitas ttt juga berlaku pada komunitas yang lain. Misal : mangamati konsep belajar jarak jauh ( UT ), apakah siaran-siaran pendidikan program UT bisa memacu belajar mahasiswa, bagaimana antara mahasiswa fisip dibanding dengan mahasiswa fakultas lain. 6. Validitas konstruk : mempersoalkan seberapa jauh suatu alat ukur punya persamaan dengan alat ukur yang lain pada waktu mengukur konstruk/konsep yang sama. 7. Validitas isi : menyankut derajad keterwalian substansi suatu alat ukur. Pengukuran kategorisasi dalam content analysis, kategori yang dibuat peneliti itu mampu disepakati oleh pengkoding/pembaca. 8. Validitas prediktif : mempersoalkan seberapa jauh suatu alat ukur mampu meramalkan perilaku sekarang maupun yang akan datang. II.3 Penyusunan Proposal Penelitian Terdapat dua hal pokok yang harus benar-benar difahami ketika hendak menyusun atau membuat proposal penelitian. Dua hal tersebut adalah : 1) Logika penelitian, dan 2) Format proposal yang dikehendaki.

1) Logika penelitian. Yang dikenal dengan logika penelitian disini adalah struktur fikiran berkenaan dengan proses penelitian, yang dalam hal ini terdapat perbedaan antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. A. Pada penelitian kuantitatif, logika penelitian memiliki struktur kurang lebih sebagai berikut :

Struktur logika penelitian sebagaimana dikutip dari pemikiran Bryman diatas berpola siklus mulai dari teori hipotesa observasi analisis data temuan-temuan, kemudian berakhir kembali pada teori. Posisi masalah/problem yang dirumuskan oleh peneliti ( eksplisit dinyatakan dalam proposal ) dalam hal ini dapat dikatakan mendahului posisi teori. Perlu diperhatikan benar disisni adalah, bahwa masalah penelitian tidak akan pernah

nampak/kelihatan tanpa dilihat melalui teori. Artinya, masalah penelitian hanya ada kalau orang memiliki bekal teori untuk melihatnya. Mempertentengkan gejala atau fakta ( sebagian dari perilaku manusian dalam kebersamaannya dengan sesama atau mungkin dalam kebersamaannya dengan alam dan pencipta disuatu fihak ) dengan fikiran-fikiran tertentu ( teori-teori ) difihak lain dapat menghasilkan apa yang disini kita sebut-sebut sebagai masalah penelitian. Masalah penelitian ini nanti harus dapat dijawab/dipecahkan dengan atau lewat penelitian bersangkutan. Peneliti sangat mungkin tertarik untuk menjawab secara tentatif ( menduga-duga ) atas masalah tadi. Kalau demikian halnya orang harus mendeduksikan teori-teori tertentu, memberlakukan pernyataan asumtif yang tadinya dianggap umum atau luas sifat kebenarannya kedalam gejala atau beberapa gejala yang saling dikaitkan secara khusus/sempit. Jawaban yang bersifat dugaan ( yang masih harus dibuktikan kebenarannya dengan data empiris/lapangan ) itulah hipotesa. Hipotesa umumnya terdiri dari dua atau lebih variabel yang dikaitkan satu dengan yang lain ( dikorelasikan, dicari hubungan kausalitasnya, dibandingkan, dst ) Contoh hipotesa : sikap a-politis generasi muda perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan sikap apolitis generasi muda pedesaan contoh hipotesa di atas mengandung dua variabel (a) Sikap a-politis generasi muda perkotaan, dan (b) Sikap a-politis generasi muda pedesaan. Kedua variabel ini hendak dibandingkan dan diduga yang pertama lebih tinggi dibanding yang kedua. Tetapi untuk bisa dibandingkan maka konsep pokok dalam variabel harus diberi arti khusus, yakni dengan memilih aspek tertentu sehingga memberikan peluang untuk pengukuran dan kategorisasi. Inilah yang disebut operasionalisasi.

Suatu variabel sering kedapatan mengandung banyak konsep, dan semua konsep selayaknya didefinisikan secara khusus, yakni dengan memilih aspek-aspek tertentu dari suatu konsep. Konsep pokok dalam variabel-variabel seperti dicontohkan di atas adalah sikap a-politis. Sikap a-politis misalnya didefinisikan sebagai kecenderungan perasaan tidak suka atau tidak tertarik kepada masalah-masalah politis yang akan dilihat/diukur dari ( sebagian, seluruh, atau masih akan ditambah lagi ) penggunaan media massa ( rubrik, acara apa yang paling diminati ), aktivitas diluar bangku kuliah/sekolah ( menjadi anggota,ikut menyumbang, duduk dalam kepengurusan organisasi yang punya aset terhadap pengambilan keputusan politis dsb. Setelah ada operasionalisasi konsep/variabel maka peneliti dapat pergi ke lapangan guna mengumpulkan data. Data direkam/dicatat kemudian diproses untuk kemudian dianalisis. Dalam penelitian kuantitatif, data berupa kuantum ( bilangan ), yakni menunjuk intensitas dan atau ekstensitas dari gejala yang diamati. Karena data lebih banyak merupakan bilangan, maka peneliti sering kali berfikir tentang satuan-satuan untuk menunjuk intensitas dan ekstensitas tadi : usia berapa tahun, datang rapat berapa kali, menyumbang berapa rupiah untuk organisasi dan atau mengongkosi kegiatan-kegiatan yang memiliki keterkaitan dengan politik dsb. Dalam pengolahan data, maka persoalan utama adalah mentransformasikan jawaban responden ( kalau yang diteliti kebetulan adalah manusia entah individu atau kelompok ) ke dalam bentuk tabel-tabel atau grafik. Dengan memperhatikan ukuran-ukuran bagi kategorisasi yang dibuat peneliti bisa memasukkan responden mana masuk dalam kategori mana. Analisis data dalam pada itu adalah membaca kecenderungan angka-angka atau tepatnya data-data yang ada. Dalam hubungan ini sangat mungkin peneliti membutuhkan teknik analisis statistik, terutama untuk mengetahui ada atau tidaknya keterkaitan suatu variabel dengan variabel lainnya tadi ( ada korelasinya tidak, ada

perbedaannya atau tidak, apakah variabel menjadi penyebab munculnya variabel y atau tidak, dsb ). Hasil analisis inilah sebenarnya temuan-temuan penelitian, yakni setalah peneliti menafsirkannya dengan cara menunjukkan konsekuensi-konsekuensi dari hasil analisis. Termasuk disini adalah : jawaban apa atas masalah penelitian, hipotesa diterima atau ditolak dalam tingkat signifikasi tertentu, teori-teori mana yang mendapat penguatan dan teori-teori mana yang ditambah. Dengan kata lain penegasan-penegasan apa yang bisa dibuat, saran-saran apa yang bisa dikemukakan dst. Temuan-temuan ini, terutama yang berupa proposisi-proposisi akan bermakna kontributif bagi pengembangan ilmu khususnya khazanah ilmu. B. Logika penelitian kualitatif dalam pada itu memiliki struktur yang agak berbeda.

Dalam pola siklus logika penelitian kualitatif terstruktur kurang lebih sebagai berikut:

Gambar di atas menunjukan pada kita bahwa penelitian kualitatif cenderung tidak kurang berminat terhadap hipotesa. Kalaupun dalam suatu penelitian kualitatif dikemukakan suatu hipotesa, maka hipotesa ini sama sekali tidak mengikat. Artinya ia

dapat diubah rumusannya setelah peneliti pergi ke lapangan atau mungkin ia akan dibuang sama sekali. Setelah peneliti memiliki topik atau persoalan tertentu untuk diteliti, maka tahap yang harus segera dilakukan berikutnya adalah menyusun pertanyaan-pertanyaan untuk kepentingan ini peneliti memperhatikan betul fokus dari minat sebenarnya yang hendak diteliti. Sesudah ini peneliti lalu pergi ke lapangan untuk mengumpulkan data. Karena penelitian kualitatif umumnya bersifat deskriptif, yakni berusaha hendak melukiskan gejala atau hubungan gejala-gejala yang dijumpai dalam masyarakat yang diteliti sekarang maka pertanyaan lebih banyak bagaimana . Ketika peneliti mulai melakukan observasi dilapangan inilah peneliti mulai mengetahui pertanyaanpertanyaan apa yang benar-benar relevan dengan maksud dan tujuan penelitian dan mana yang tidak relevan. Dari sini peneliti bisa merubah, membuang, menambah pertanyaan penelitian yang dalam berbagai hal sebenarnya ini merupakan penyimpangan dari proposal yang telah dibuat. Yang unik dalam penelitian kualitatif adalah ketidak terpisahan antara pengumpulan data, pengolahan data, dengan analisis data. Artinya data diolah dan dianalisis tanpa menunggu terkumpulnya seluruh data. Pengolahan / penyusunan data dan analisis data dilakukan sammbil terus melakukan pengumpulan data yang karenanya peneliti memiliki kesempatan untuk terus-menerus memperbaiki/menyempurnakan pertanyaan-pertanyaan. Dalam proses melingkar begini peneliti malahan disarankan untuk terus pula menjelajahi literatur yang relevan dengan persoalan-persoalan yang dihadapi. Hal ini penting untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ; apa yang telah ditemukan oleh peneliti lain berkenaan dengan masalah-masalah yang kini sedang diteliti. Apa yang telah diabaikan dalam literatur ? Bagaimana peneliti berbeda perspektif dengan penulis/peneliti lain sebagaimana kelihatan dalam literatur yang dibaca ? Hal-hal ini justru akan sangat berarti ketika peneliti hendak menuliskan atau menegaskan temuan-temuannya. Dengan kata lain, hasil penelitian orang lain ( penulisan etnografik ) sangat kontributif

sepanjang penelitian masih dalam proses. Dan proses penelitian siklis begini akan kelihatan jelas bahwa peneliti sangat dituntut untuk sesnantiasa mengulang/memperbaharui pertanyaan-pertanyaan, mengumpulkan data, mengolah data, menganalisis data sekaligus sambil terus pula memeriksa literatur-literatur sesuatu yang tak terjadi dalam penelitian kuantitatif. Kegiatan atau proses ini akan berhenti pada titik tertentu, yakni ketika peneliti telah merasa cukup memperoleh atau mencapai tujuan-tujuannya. Dalam hal demikian hasil penelitian berupa laporan akan merupakan sumbangan dalam khazanah keilmuan khususnya penulisan etnografi. Dari pemaparan kedua struktur logika penelitian seperti di atas, kita lalu dapat melihat beberapa perbedaan diantara keduanya ( kualitatif & kuantitatif ) sbb :
No 1. Perihal Peran penelitian Kuantitatif Sebagai persiapan/pendah uluan Kualitatif Sangat bermanfaat untuk eksplorasi interpretasi Dekat Insider

2. 3.

Hubungan peneliti dengan Memiliki jarak subjek Posisi peneliti Outsider

4.

Hubungan teori/konsep Konfirmasi dengan penelitian Strategi penelitian Cakupan temuan Terstruktur Dalil/hukumhukum/asumsi teoritis

Urgan, menampilkan pandangan baru Tidak Ideografik (keadaan kekinian)

5. 6.

7.

Kesan realitas sosial

Statis dan tak Sbg. Proses di dipengaruhi aktor- tentukan oleh

aktor 8. Keadaan/sifat data Sukar penetrasi

aktor-aktor dibuat Kaya, mendalam shg. nampak substantif

Dipetik dari : Bryman,Alan ( 1988, hal 94 )

2)

Format Proposal ( Usulan Penelitian ) Format proposal penelitian yang diajukan untuk kepentingan penulisan Skripsi

Sarjana Universitas Jenderal Soedirman termasuk Jurusan Ilmu Komunikasi adalah sbb : A. Judul Penelitian. Judul penelitian adalah nama topik penelitian dalam sebuah struktur kalimat tunggal yang substansial, singkat, padat dan jelas inti isi pokok masalah, dan kalau perlu menyebut tempat dan waktu penelitian. B. Latar belakang masalah. Memuat antara lain ; issu sentral yang berhubungan dengan topik ; apa yang mendorong peneliti tertarik sehingga memilih masalah ini ; arti penting ( urgensi ) dari masalah yang hendak diteliti ; pemanfaatan data empirik ; pengungkapan variabel-variabel yang berhubungan dengan issu sentral tersebut. C. Perumusan masalah. Mengungkap resume diskusi pada latar belakang, resume dipertajam, diakhiri dengan formulasi pertanyaan penelitian. D. Tujuan penelitian. Memuat tujuan yang ingin dicapai dari hasil penelitian yaitu : mengetahui, memahami, menjelaskan, membedakan, menghubungkan dan menganalisis yang dikaji dalam penelitian.

E. Manfaat penelitian. Manfaat teoritis yaitu mengembangkan ilmu yang bersangkutan. Manfaat praktis yaitu untuk rekomendasi terapan kebijakan.

F. Tinjauan pustaka dan kerangka teoritik 1) Tinjauan pustaka. Memuat dan merangkum telaah pustaka yang berkaitan dengan topik penelitian. Artinya, kita mempelajari hasil-hasil penelitian terdahulu ( yang tema atau kajiannya hampir sama ), menelaah literatur yang relevan, mengkaji jurnaljurnal penelitian dan sebagainya. Langkah selanjutnya adalah membuat catatan seperlunya mengenai penelitianpenelitian yang pernah dilakukan atau perkembangan teori yang ada. Dengan tinjauan pustaka ini pembaca bisa mengetahui posisi penelitian yang kita lakukan. Apakah bersifat pengulangan dengan penekanan pada aspek yang lain, apakah melanjutkan penelitian terdahulu guna menjawab masalah yang belum terpecahkan, atau, membuat penelitian yang benar-benar baru dalam arti belum pernah dilakukan sebelumnya. 2) Kerangka teoritik. Di bagian ini peneliti diminta mengemukakan teori-teori tertentu, pendapatpendapat atau pandangan-pandangan mengenai persoalan dan atau gejala-gejala yang hendak diteliti. Proposisi-proposisi asumtif serta keterangan-keterangan atau pemikiran-pemikiran lain, termasuk yang berasal dari peneliti sendiri sangat berguna, dalam hal ini tidak perduli apakah penelitian ini bersifat kuantitatif dengan maksud penggalian, penggambaran ataukah penjelasan hubungan antar gejala ( pengujian hipotesa ). Dalam penelitian bersifat kualitatif maka seyogyanya peneliti mengemukakan temuan penelitian yang sudah ada sebelumnya dengan mengemukakan beberapa catatan/komentar

seperlunya. Pemanfaatan buku-buku atau sumber-sumber lain yang relevan sangat penting untuk kepentingan ini. Sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam penyusunan kerangka teori adalah berusaha semaksimal mungkin mencoba memberikan arahan/kerangka yang nantinya berguna untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian, dan atau mencapai tujuan-tujuan seperti yang dikemukakan sebelumnya. Bagi penelitian yang dimaksudkan untuk menguji hipotesa maka akhir atau kesimpulan uraian tentang kerangka teori ini adalah hipotesa itu sendiri. G. Hipotesis. Dalam suatu penelitian, hipotesa tidak harus selalu ada, tetapi apabila oleh peneliti dirasakan perlu ada ( jenis eksplanatif ), maka hipotesis ini tidak lain adalah jawaban teoritis, dugaan dengan berdasar teori dan atau pemikiran-pemikiran tertentu sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian terutama masalah yang telah dirumuskan. Sudah pasti hipotesa ini nantinya akan diadu/diuji dengan data empirik yang merupakan bukti temuan lapangan. Tidak menjadi persoalan apakah hipotesa ini diterima ( diperkuat dengan bukti/data lapangan ) ataukah ditolak ( tidak memperoleh penguatan/bukti data lapangan ), yang lebih dipentingkan dalam hubungan ini adalah kejelasan tentang tingkat signifikasi dari penerimaan/penolakan tersebut serta keterangan atau catatan peneliti walau agak bersifat spekulatif tentang alasan kenapa hipotesa tersebut diterima atau ditolak.

H. Definisi konsepsional dan operasional. 1) Definisi konsepsional adalah pernyataan yang dapat mengartikan atau memberikan makna suatu variabel yang hendak diteliti. Tujuan dari perumusan definisi konsepsional adalah agar terdapat kesamaan persepsi tentang suatu variabel antara peneliti dan pembaca proposal penelitian. Rumusan variabel ini

hendaknya yang telah umum di pakai dengan menunjuk pada kamus, ensikopedi, atau penelitian-penelitian yang telah terdahulu. Contoh, definisi konsepsional untuk variabel status sosial ekonomi adalah suatu kedudukan yang diatur secara sosial menempatkan seseorang pada posisi tertentu di dalam struktur sosial masyarakat. Pemberian posisi ini disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban yang harus dimainkan oleh pembawa status. 2) Definisi operasional merupakan cara penulisan taktis agar konsep bisa berhubungan dengan praktek, dengan kenyataan, atau dengan fakta, sesuai dengan namanya, tulisan definisi ini menyatakan kesiapan untuk dioperasikan ( operasionalisasi ). Contoh definisi operasional untuk variabel status sosial ekonomi di atas adalah suatu kedudukan seseorang dalam struktur masyarakat yang dilihat dari pendidikan, pekerjaan, dan penghasilannya . I. Metodologi. Terdapat dua format metodologi, yang pertama format metodologi dengan pendekatan penelitian kuantitatif yang kedua format metodologi dengan pendekatan penelitian kualitatif. 1. Metodologi ( Kuantitatif ) a) Metode penelitian Sasaran penelitian, menunjukan unit analisis atau responden Lokasi penelitian, menunjukan tempat penelitian itu yang dipakai dalam pelaksanaan penelitian. dilaksanakan. Metode penelitian, menjelaskan metode yang akan digunakan dalam penelitian bersangkutan.

Variabel yang akan diteliti, memuat uraian mengenai macam Teknik pengambilan sampel, memuat cara atau metode Metode pengumpulan data, menjelaskan bagaimana cara/metode Sumber data, menjelaskan dari mana data penelitian tersebut

dan jumlah variabel yang akan digunakan dalam penelitian tersebut. pengambilan sampel. data dalam penelitian tersebut dikumpulkan. diperoleh dan jenis data apa yang digunakan. b) Metode analisis, memuat rumus-rumus, model-model analisis yang akan digunakan dalam penelitian, cara pengujian hipotesis dan kriteria penerimaan hipotesis. 2. Metodologi ( kualitatif ) a) Model penelitian. Jelaskan model penelitian kualitatif yang akan diterapkan. secara garis besar model penelitian kualitatif meliputi : Etnografi, memusatkan pada kajian latar ( setting ) penelitian tunggal, yaitu budaya atau konteks yang asing atau bukan konteks penelitinya. Dalam perkembangannya muncul Etnometodologi, yaitu etnografi yang diarahkan pada studi mengenal masyarakat yang juga bagian dari masyarakat modern seperti yang dimiliki penelitinya. Mikroetnografi, merupakan pendekatan etnografi tetapi sasarannya sangat terbatas, misalnya pada konteks yang sangat kecil atau khusus. Studi kasus, membatasi studi pada kekhususan konteks dengan ( wilayah ). karakteristik dan keterbatasannya

Model ini terbagi dalam dua model utama dengan dua variasi. Dikenal model studi kasus tunggal ( bilamana kasusnya hanya satu ) dan kasus ganda ( bila kasusnya lebih dari satu ). Kedua model kasus tersebut masih dibedakan lagi dalam dua variasi, yaitu bentuk holistik dan pendekatan terpancang. Dengan demikian, secara lengkap bisa dikatakan : Kasus tunggal holistik dan kasus tunggal terpancang. Kasus ganda holistik dan kasus ganda terpancang. Perbedaan antara holistik dan terpancang. Bilamana kita sudah menentukan variabel utama yang akan menjadi fokus studi pada saat menyusun proposal maka studi tersebut merupakan kasus terpancang. Pada kasus holistik, fokus studi akan ditentukan setelah peneliti menelusuri cukup lama di lapangan studi dan menemukan hal yang sangat menarik dan dipandang sebagai sangat penting untuk dijadikan fokus dalam laporannya. Bentuk pendekatan kritik, yaitu studi yang mengungkap makna ( karya, peristiwa, atau kondisi sesuatu ), dengan sesuatu

menggunakan pendekatan yang menggunakan struktur kritik seni. b) Teknik pengumpulan data. Jenis data : Data kualitatif yang mampu mendeskripsikan suatu proses. Data kuantitatif bisa dimanfaatkan bilamana memang diperlukan sebagai dukungan deskripsi. Karena penelitian ini mementingkan proses dan makna, maka rumusan pertanyaan, selain menanyakan mengenai apa, juga cenderung mementingkan pertanyaan mengenai mengapa dan bagaimana.

Rumusan mengenai beragam sumber data yang akan di

manfaatkan didalam penelitian yang meliputi : peristiwa, benda, orang ( informan ) dan tempat serta dokumen atau arsip. Teknik pengumpulan data yang terpenting meliputi : observasi berperan ( spradley, 1980 ), interview mendalam dan dilengkapi dengan catatan dokumen ( conten analysis ). Pengembangan validitas datanya biasanya menggunakan triangulasi yang meliputi triangulasi sumber metode dan teori informant check. Model analysis penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Analysis biasanya dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data, atau dilakukan dilapangan. Model analysis yang biasanya digunakan meliputi : Analysis mengalir ( jalinan ), dimana tiga komponen analysis (reduksi data, sajian data, dan penerikan kesimpulan) dilakukan saling menjalin dalam proses pengimpulan data. Analysis interaktif, reduksi dan sajian sementara dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data, dan bila pengumpulan data sudah berakhir maka tiga komponen analysis tersebut berinteraksi dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus. ( Miles & Huberman, 1984 ) J. Daftar pustaka. ( Susunan daftar pustaka bisa dilihat tekniknya pada petunjuk tata tulis ). ( data ), peneliti,

( patton, 1980 ). Disamping itu masih terdapat

beberapa cara lain guna meningkatkan validitas data. Antara lain,

K. Lampiran. Berupa rancangan Kuesioner bila menggunakan metode survei ( kuantitatif ) atau berupa rancangan daftar pertanyaan bila menggunakan pendekatan kualitatif sebagai alat dalam interview mendalam. Perbedaan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif menurut Suharsini Arikunto Penelitian kuantitatif Penelitian kualitatif 1. Kejelasan unsur: tujuan, pendekatan, subjek 1. Kejelasan unsur: subjek sampel, sumber sumber data sudah mantap dan rinci sejak awal. 2. Langkah penelitian: sampai segala matang sesuatu direncanakan data tidak mantap dan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan (emergent). penelitian: mantap dan baru jelas diketahui setelah dengan sampel dan ketika 2. Langkah

persiapan disusun. 3. Dapat menggunakan

penelitian selesai. hasil 3. Tidak dapat menggunakan pendekatan populasi dan sampel. Dengan kata lain, dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi dan sampel. Istilah yang digunakan adalah setting. Hasil penelitian hanya berlaku bagi setting yang bersangkutan. 4. Hipotesis: (jika memang perlu) penelitian
b. Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan

penelitiannya diberlakukan untuk populasi.

4. Hipotesis: sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung (tentatif) b. Hasil penelitian terbuka

a. Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam a. Tidak mengemukakan hipotesis

(a priori)

5. Desain: dalam desain jelas langkah-langkah 5. Desain: desain penelitiannya adalah

penelitian dan hasil yang diharapkan. 6. Pengumpulan diwakilkan. terkumpul data: kegiatan

fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dippastikan sebelumnya. dalam 6. Pengumpulan sendiri oleh peneliti data: dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. data: kegiatan

pengumpulan data memungkinkan untuk

pengumpulan data selalu harus dilakukan

7. Analisis data: dilakukan sesudah semua data 7. Analisis

Perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif menurut hamid potilima Penelitian kualitatif Penelitian kuantitatif 1. Satuan-satuan individual tidak dipilah-pilah 1. Satuan individu digolongkan ke dalam dalam variabel-variabel 2. Tidak ada konsep sampel 3. Data dalam bentuk narasi atau angka 4. Analisis dibuat 5. Instrumen penelitian adalah diri sendiri data dijadikan bukti mendukung kebenaran dari hipotesa yang variabel-variabel dengan ciri tertentu sesuai kepentingan panalitian. 2. Karena besarnya populasi maka dalam penelitian kuantitatif digunakan sampel 3. Data dalam bentuk angka untuk 4. Analisis data dijadikan pembuktian yang dapat digunakan untuk menerima atau menolak hiipotesa yang dibuat 5. Instrumen penelitian adalah kuisioner

Perbedaan istilah dalam pengujian keabsahan data antara metode kualitatif dan kuantitatif

Aspek 1. Nilai kebenaran 2. Penerapan 3. Konsistensi 4. Netralisasi

Metode kualitatif Validitas internal Validitas eksternal / generalisasi Reliabilitas Objektivitas

Metode kuantitatif Kreadibilitas (credibility) Transferability/ keteralihan Auditability dependability Confirmability (dapat di konfirmasi)

Hamidi menjelaskan setidaknya terdapat 12 perbedaan pendekatan kualitatif dengan kualitatif seperti berikut ini: 1. Dari segi perspektifnya penelitian kuantitatif lebih menggunakan pendekatan etik, dalam arti bahwa peneliti mengumpulkan data dengan menetapkan terlebih dahulu konsep sebagai variabel-variabel yang berhubungan yang berasal dari teori yang sudah ada yang dipilih oleh peneliti. Kemudian variabel tersebut dicari dan ditetapkan indikator-indikatornya. Hanya dari indikator yang telah ditetapkan tersebut dibuat kuesioner, pilihan jawaban dan skor-skornya. Sebaliknya penelitian kualitaif lebih menggunakan persepektif emik. Peneliti dalam hal ini mengumpulkan data berupa cerita rinci dari para informan dan diungkapkan apa adanya sesuai dengan bahasa dan pandangan informan. 2. Dari segi konsep atau teori, penelitian kuantitatif bertolak dari konsep (variabel) yang terdapat dalam teori yang dipilih oleh peneliti kemudian dicari datanya, melalui kuesioner untuk pengukuran variabel-variabelnya. Di sisi lain penelitian kualitatif berangkat dari penggalian data berupa pandangan responden dalam bentuk cerita rinci atau asli mereka, kemudian para responden bersama peneliti meberi penafsiran sehingga menciptakan konsep sebagai temuan. Secara sederhana penelitian kuantitatif berangkat dari konsep,

teori atau menguji (retest) teori, sedangkan kualitatif mengembangkan ,menciptakan, menemukan konsep atau teori. 3. Dari segi hipotesis, penelitian kuantitatif merumuskan hipotesis sejak awal, yang berasal dari teori relevan yang telah dipilih, sedang penelitian kualitatif bisa menggunakan hipotesis dan bisa tanpa hipotesis. Jika ada maka hipotesis bisa ditemukan di tengah penggalian data, kemudian dibuktikan melalui pengumpulan data yang lebih mendalam lagi. 4. Dari segi teknik pengumpulan data, penelitian kuantitatif mengutamakan penggunaan kuisioner, sedang penelitaian kualitatif mengutamakan penggunaan wawancara dan observasi. 5. Dari segi permasalahan atau tujuan penelitian, penelitian kuantitatif menanyakan atau ingin mengetahui tingkat pengaruh, keeretan korelasi atau asosiasi antar variabel, atau kadar satu variabel dengan cara pengukuran, sedangkan penelitian kualitatif menanyakan atau ingin mengetahui tentang makna (berupa konsep) yang ada di balik cerita detail para responden dan latar sosial yang diteliti. 6. Dari segi teknik memperoleh jumlah (size) responden (sample) pendekatan kuantitatif ukuran (besar, jumlah) sampelnya bersifat representatif (perwakilan) dan diperoleh dengan menggunakan rumus, persentase atau tabel-populasisampel serta telah ditentukan sebelum pengumpulan data. Penelitian kualitatif jumlah respondennya diketahui ketika pengumpulan data mengalami kejenuhan. Pengumpulan datanya diawali dari mewawancarai informan-awal atau informan-kunci dan berhenti sampai pada responden yang kesekian sebagai sumber yang sudah tidak memberikan informasi baru lagi. Maksudnya berhenti sampai pada informan yang kesekian

ketika informasinya sudah tidak berkualitas lagi melalui teknik bola salju (snow-ball), sebab informasi yang diberikan sama atau tidak bervariasi lagi dengan para informan sebelumnya. Jadi penelitian kualitatif jumlah responden atau informannya didasarkan pada suatu proses pencapaian kualitas informasi. 7. Dari segi alur pikir penarikan kesimpulan penelitian kuantitatif berproses secara deduktif, yakni dari penetapan variabel (konsep), kemudian pengumpulan data dan menyimpulkan. Di sisi lain, penelitian kualitatif berproses secara induktif, yakni prosesnya diawali dari upaya memperoleh data yang detail (riwayat hidup responden, life story, life sycle, berkenaan dengan topik atau masalah penelitian), tanpa evaluasi dan interpretasi, kemudian dikategori, diabstraksi serta dicari tema, konsep atau teori sebagai temuan. 8. Dari bentuk sajian data, penelitian kuantitatif berupa angka atau tabel, sedang penelitian kualitatif datanya disajikan dalam bentuk cerita detail sesuai bahasa dan pandangan responden. 9. Dari segi definisi operasional, penelitian kuantitatif menggunakannya, sedangkan penelitian kualitatif tidak perlu menggunakan, karena tidak akan mengukur variabel (definisi operasional adalah petunjuk bagaimana sebuah variabel diukur). Jika penelitian kualitatif menggunakan definisi operasional, berarti penelitian telah menggunakan perspektif etik bukan emik lagi. Dengan menetapkan definisi operasional, berarti peneliti telah menetapkan jenis dan jumlah indikator, yang berarti telah membatasi subjek penelitian mengemukakan pendapat, pengalaman atau pandangan mereka. 10. Dari segi analisis data penelitian kuantitatif dilakukan di akhir pengumpulan data dengan menggunakan perhitungan statistik, sedang penelitian kualitatif analisis datanya dilakukan sejak awal turun ke lokasi melakukan pengumpulan

data, dengan cara mengangsur atau menabung informasi, mereduksi, mengelompokkan dan seterusnya sampai terakhir memberi interpretasi. 11. Dari segi instrumen, penelitian kualitatif memiliki instrumen berupa peneliti itu sendiri. Karena peneliti sebagai manusia dapat beradaptasi dengan para responden dan aktivitas mereka. Yang demikian sangat diperlukan agar responden sebagai sumber data menjadi lebih terbuka dalam memberikan informasi. Di sisi lain, pendekatan kuantitatif instrumennya adalah angket atau kuesioner. 12. Dari segi kesimpulan, penelitian kualitatif interpretasi data oleh peneliti melalui pengecekan dan kesepakatan dengan subjek penelitian, sebab merekalah yang yang lebih tepat untuk memberikan penjelasan terhadap data atau informasi yang telah diungkapkan. Peneliti memberikan penjelasan terhadap interpretasi yang dibuat, mengapa konsep tertentu dipilih. Bisa saja konsep tersebut merupakan istilah atau kata yang sering digunakan oleh para responden. Di sisi lain, penelitian kuantitatif sepenuhnya dilakukan oleh peneliti, berdasarkan hasil perhitungan atau analisis statistik.

BAB III KESIMPULAN Kedua pendekatan penelitian kuantitatif maupun kualitatif tersebut masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pendekatan kualitatif banyak memakan waktu, reliabiltasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil

penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti. Pendekatan kuantitaif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sample, pengambilan data dan penentuan alat analisanya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Arif Didik Kurniawan, Much Fuad Saifuddin, dkk. 2008. Penelitian Kualitatif.

Jurusan Pendidikan Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 2. Hamid potilima. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Alfabeta www.mudjiarahardjo.com. diakses 13 April 2011.
3. Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si. Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif dalam

4.

Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta Rosdakarya

5. Moleong, Lexy J. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

6. 7.

Nawawi, Hadari. 2005. Penelitian Terapan. Jogjakarta: UGM Press Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta Penerbit Usaha Keluarga

8. Sukardi. 2006. Penelitian Kualitatif-Naturalistik dalam Pendidikan. Jogjakarta:

9.

Sutrisno, Hadi. 2007. Metodologi Research. Jogjakarta: Penerbit Andi

DISKUSI 1. Organisasi data dalam Penelitian Kualitatif Organisasi data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk: o Memperoleh kualitas data yang baik, o Mendokumentasikan analisis yang dilakukan,

o Menyimpan data dan analisis yang berkaitan dengan penyelesaian penelitian Hal-hal penting untuk disimpan/diorganisir o Data mentah (catatan lapangan, kaset hasil rekaman). o Data yang sebagian sudah diproses (transkrip wawancara, catatan refleksi peneliti). o Data yang sudah diberi kode-kode spesifik. o Penjabaran kode-kode dan kategori secara luas melalui skema.
o

Memo dan draft untuk analisis data (refleksi konsepsual peneliti mengenai arti konsepsual data). Catatan pencarian dan penemuan (search and retrieval records).

o Display data melalui skema atau jaringan informasi. o Dokumentasi langkah-langkah kegiatan penelitian. o Daftar indeks laporan o Draft Laporan Langkah-Langkah dalam koding:
o

Pertama, peneliti menyusun transkrip kata demi kata atau catatan lapangan, memberi kolom kosong di sisi kanan-kiri catatan, memungkinkan dilakukan koding.

Kedua, peneliti secara urut dan kontinu melakukan penomoran pada barisbaris transkrip. Ketiga, peneliti memberikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu. Gunakanlah kode yang sesuai dengan catatan penelitian tersebut.

o Membaca transkrip untuk mengidentifikasi kemungkinan tema-tema yang muncul. Tema ini dapat memodifikasi proses pengambilan data berikutnya.

o Membaca transkrip berulang-ulang sebelum melakukan koding untuk memperoleh ide umum tentang tema, sekaligus menghindari kesulitan mengambil kesimpulan o Selalu membawa buku catatan, komputer atau tape recorder untuk mencatat pemikiran-pemikiran analitis yang muncul secara spontan. o Membaca kembali data dan catatan analisis secara teratur, dan segera menuliskan tambahan-tambahan pemikiran, pertanyaan- pertanyaan dan ide tambahan begitu hal itu muncul. 2. Kepekaan Teoritis dalam menganalisis pada penelitan kuantitatif Dalam melakukan analisis data dibutuhkan adanya kepekaan teoritis, karena dalam analisis data peneliti sebenarnya sedang melakukan upaya pengembangan teori. Sumber Kepekaan Teoritis: Literatur. Kekayaan bahan bacaan tentang teori, penelitian, berbagai jenis dokumen (laporan, biografi, koran, majalah). Pengalaman Profesi. Semakin banyak seorang peneliti melakukan penelitian dan terjun ke lapangan, semakin baik baik memperoleh gambaran tentang bagaimana segala sesuatu berlangsung, mengapa, dan bagaimana sesuatu akan terjadi pada kondisi tertentu. Pengalaman Pribadi. Mengalami langsung dan bersentuhan dengan masalah-masalah yang kita teliti akan memperkaya kemampuan analisis kita, dibanding hanya membaca atau mendengar dari orang lain. Proses Analisis Wawasan dan pemahaman tentang fenomena akan meningkat ketika penelitia berinteraksi dengan data.

Manfaat Kepekaan Teoritis: Memungkinkan peneliti keluar dari keterbatasan pemikiran (baik karena keterbatasan pustaka atau pengalaman personal). Membantu peneliti terhindari dari kecenderungan berpikir standar mengenai gejala tertentu. Merangsang proses induktif. Menghindari kemungkinan perlakukan data yang kurang hatihati (sembarangan). Memungkinkan klarifikasi dan upaya-upaya mengungkap fakta di balik asumsiasumsi Membantu peneliti mendengar apa yang disampaikan subyek yang diteliti, dan berbagai kemungkinan makna yang terkandung dalam jawaban-jawaban responden. Menghindarkan peneliti dari kecenderungan terlalu cepat mengambil kesimpulan (merasa bahwa pertanyaan penelitian sudah terjawab). Memaksa terus berkembangnya pertanyaan-pertanyaan serta kemungkinan jawaban, yang memungkinkan pendalaman pemahaman terhadap data. Memungkinkan dilakukannya eksplorasi dan klarifikasi terhadap dugaan-dugaan dan kesimpulan-kesimpulan yang dikembangkan.