Anda di halaman 1dari 48

STRATEGI PENERAPAN AKUNTANSI BASIS AKRUAL

Dimas Iwandanu Faisal Muhammad Lukman Toni S. Muhammad Khafid Yuli Trisnawati

PENDAHULUAN Reformasi pengelolaan keuangan negara masih terus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini dimaksudkan agar amanat yang tertuang dalam pasal 3 ayat (1) Undang-undang (UU) Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yang mengharuskan Keuangan Negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan, dapat semakin diwujudkan. Salah satu bentuk usaha berkelanjutan tersebut adalah dengan menetapkan Standar Akuntansi Berbasis Akrual yang ditetapkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) sebagai pengganti dari Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Penerapan PP No. 24 Tahun 2005 memang masih bersifat sementara, hal ini sesuai dengan amanat yang tertuang dalam pasal 36 ayat (1) UU No. 17 tahun 2003 yang menyatakan bahwa selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan maka digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Sementara itu untuk pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual menurut pasal 36 ayat (1) UU No. 17 tahun 2003 harus dilaksanakan selambat-lambatnya dalam 5 (lima) tahun. Dengan ditetapkanya PP No. 71 Tahun 2010 maka penerapan sistem akuntansi pemerintahan berbasis akrula telah mempunyai landasan hukum. Dan hal ini berarti juga bahwa Pemerintah mempunyai kewajiban untuk dapat segera menerapkan SAP yang baru yaitu SAP berbasis akrual. Hal ini sesuai dengan pasal 32 UU No. 17 tahun 2003 yang mengamanatkaan bahwa bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban pelaksanaan

APBN/APBD disusun dan disajikan sesuai dengan SAP. Dan hal ini ditegaskan dalam pasal 4 ayat (1) PP No. 71 Tahun 2010 menyebutkan bahwa Pemerintah menerapkan SAP Berbasis Akrual. SAP tersebut disusun oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) yang independen dan ditetpkan dengan PP setelah terlebih dahulu mendapat pertimbangan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Penerapan sistem akuntansi berbasis akrual di pemerintahan menyajikan tantangan baru, untuk itu agar proses penerapannya dapat berjalan dengan baik perlu dibuatkan suatu pedoman yang dapat menjelaskan proses pembangunan sistem akuntansi pemerintahan berbasis akrual ini secara lebih detil. Dan hal ini ditegaskan dalam pasal 6 PP No. 71 Tahun 2010, dimana ayat (2) - nya menyebutkan bahwa Sistem Akuntansi Pemerintahan Pada Pemerintah Pusat diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan yang mengacu pada pedoman umum Sistem Akuntansi Pemerintahan. Dan ayat (3) - nya menyebutkan bahwa Sistem Akuntansi Pemerintahan Pada Pemerintah Daerah diatur dengan Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota yang mengacu pada pedoman umum Sistem Akuntansi Pemerintahan. Sementara pedoman umum Sistem Akuntansi Pemerintahan tersebut ditetapkan dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan dan khusus untuk Pemerintah Daerah Peraturan Menteri Keuangan tersebut ditetapkan setelah Menteri Keuangan berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, hal ini sesuai dengan amanat yang tertuang dalam pasal 6 ayat (4) PP No. 71 Tahun 2010. Dengan telah ditetapkannya PP No. 71 tahun 2010 maka terjadi perubahan yang cukup signifikan, dalam unsur laporan keuangan yang harus disajikan oleh setiap entitas akuntansi dan entitas pelaporan di pemerintahan, jika dibandingkan dengan PP No. 24 tahun 2005, yaitu sebagai berikut :

Laporan operasi (LO) sejatinya adalah Laporan Realisasi Anggaran (LRA) yang disusun dengan basis akrual, sementara LRA yang merupakan bagian dari Laporan Pelaksanaan Anggaran (LPA) disusun dengan menggunakan basis kas. LO ini jika merujuk pada PP No. 24 tahun 2005 dapat dipersamakan dengan Laporan Kinerja Keuangan (LKK). Dan LO ini jika disandingkan dengan Laporan Keuangan di organisasi bisnis dapat dipersamakan dengan Laporan Laba (Rugi) (income statement). Penerapan basis akrual memang menyajikan tantangan yang cukup besar baik dari segi kesiapan peraturan teknis pelaksanaan, struktur dan infrastruktur organisasi pemerintahan, budaya, sistem dan prosedur, hingga kesiapan dari sumberdaya manusianya. Semua elemen tersebut perlu dilakukan perubahan atau pembaharuan sehingga basis akrual dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Makalah ini merupakan rangkaian dalam tema akuntansi basis akrual, yang akan mencoba menyajikan komparasi strategi penerapan Akuntansi berbasis Akrual di beberapa negara, termasuk di dalamnya Indonesia.

IMPLEMENTASI AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL DI NEW ZEALAND

Pendahuluan Reformasi keuangan yang dilakukan oleh Pemerintah New Zealand telah berlangsung pada akhir tahun 1980an dan awal 1990an. Reformasi ini mengubah manajemen keuangan pada sektor publik dari sistem yang berbasis pada ketaatan atas aturan dan batasan anggaran kas menjadi berbasis kepada performa dan akuntabilitas laporan keuangan. Implementasi yang sukses ini melibatkan usaha yang sangat kuat dan harmonis antara strategic level dan operasional level untuk menuju kepada perubahan yang fundamental tersebut. Pengalaman New Zealand memberikan gambaran bagaimana perubahan tersebut bukan hanya mungkin namun juga dapat diraih dengan kesuksesan yang sangat tinggi.

Makalah ini memfokuskan diri pada migrasi Pemerintah New Zealand dari akuntansi berbasis kas menjadi berbasis akrual, dan langkah-langkah yang dilakukan pemerintah New Zealand dalam menyusun laporan keuangan yang pertama kali berbasis akrual. Makalah ini juga ditulis dari sudut pandang perbendaharaan yang justru sangat berperan dalam perubahan ini.

Latar Belakang Situasi keuangan dan kejadian yang menyebabkan kesulitan Pemerintah New Zealand terdokumentasi dengan jelas pada pertengahan tahun 1980an, dan inilah sebagai dasar teori dalam reformasi keuangan tersebut. Hasil dari reformasi dapat dengan baik dilihat dari sudut pandang efisiensi manajemen. Wujud yang positif selama 20 tahun belakangan ini

dapat dengan jelas terlihat dari perubahan paradigma dari defisit anggaran menjadi surplus anggaran.

Improvisasi Manajemen Keuangan

Komitmen Untuk Perubahan Dukungan dari pemimpin suatu entitas publik, dalam hal ini adalah pemerintah, baik secara politis maupun birokrasi, adalah faktor kunci dalam rangka implementasi yang sukses atas migrasi basis akuntansi. Pada level stratejik, komponen dalam reformasi telah tersusun dalam jalur dan koridor tertentu sehingga dapat mendapat suatu benefit atau keuntungan dari para birokrat dan Kementerian, sebagai refleksi dari perbedaan pembayaran yang terasosiasi oleh elemen-elemen yang berbeda pula dalam reformasi ini.

Hubungan yang sangat erat antara perbendaharaan dan pelaksanaan pada sektor publik mengharuskan segala usaha dan upaya mendapat perhatian lebih untuk mempercepat dan mengakselerasi akuntabilitas pemerintah dalam perubahan ke arah akuntansi berbasis akrual secara penuh.

Manajemen Resiko Segala implementasi membawa resiko yang sangat signifikan. Manajemen pada resiko ini adalah elemen kunci pada implementasi reformasi. Hal ini dapat dicapai melalui kontrol yang dilaksanakan oleh salah satu bagian inti pada reformasi. Sebagai contoh, kontrol input atau masukan diperoleh melalui beberapa departemen sampai mereka berpindah kepada sistem yang baru.

Unsur-unsur lain dari manajemen risiko mencakup strategi komunikasi intensif, yang terdiri dari buklet "Putting is Simply", sebuah video "Setting a New Course", jurnal, majalah dan

artikel surat kabar dan konferensi tak terhitung, seminar dan presentasi. Upaya komunikasi sangat berhasil dalam menyampaikan pemahaman umum dari prinsip-prinsip kunci dari reformasi untuk khalayak luas. Juga, fungsi Manajemen Keuangan Jaminan pusat didirikan di Departemen Keuangan untuk memberikan peran strategis Audit internal, dan layanan konsultasi untuk departemen selama migrasi.

Rancangan undang-undang juga merupakan elemen kunci dari reformasi. Sementara menghindari penggunaan undang-undang untuk mengatur proses administrasi yang rinci, State Sector Act 19883 dan Public Finance Act 1989 memberikan sinyal kuat untuk keseriusan niat Pemerintah, dan oleh karena itu kemungkinan yang sangat besar dan bersifat permanen atas reformasi. Setiap insentif untuk melakukan perubahan secara perlahan dihapuskan atau dengan cara yang akan memfasilitasi perubahan secara mudah ke sistem lama.

Implementasi Pada Departemen-Departemen Departemen-departemen secara individual menerima persetujuan untuk pindah ke sistem baru. Untuk masing-masing departemen, semua elemen struktural utama dari sistem baru, termasuk penganggaran akrual dan proses apropriasi, serta proses pelaporan diubah pada waktu yang sama. Adapun migrasi yang terlibat pada setiap departemen adalah: spesifikasi oleh setiap departemen (dalam konsultasi dengan pemerintah) kelas luas dari output, yang kemudian menjadi dasar bagi alokasi berbasis akrual; setiap departemen mengembangkan sistem akuntansi berbasis akrual yang memberikan dasar pelaporan bulanan untuk Menteri dan Pelaporan Keuangan dan tahunan untuk

Parlemen (dan publik). Pelaporan bulanan termasuk set lengkap laporan keuangan serta laporan pengeluaran terhadap apropriasi; pengembangan sistem alokasi biaya (termasuk di mana diperlukan waktu-biaya) untuk memungkinkan alokasi semua biaya input ke output departemen. Biaya yang dialokasikan termasuk biaya overhead, penyusutan dan biaya modal; pengembangan sistem manajemen kas, termasuk pembukaan rekening bank sebuah departemen; dan pimpinan departemen bertanggung jawab penuh atas manajemen keuangannya, termasuk integritas atas data yang diberikan kepada Menteri dan Perbendaharaan.

Treasury (Perbendaharaan) diberikan sedikit ruang dalam kapasitasnya sebagai penasihat atau penyedia layanan pelatihan sebagai upaya komunikasi dijelaskan sebelumnya. Penyediaan layanan tersebut akan menghambat pesan perubahan budaya, bahwa kepala eksekutif departemen yang sekarang bertanggung jawab untuk mempengaruhi perubahan, tetapi juga diikuti sebagian dari keterbatasan pada sumber daya dari lembaga pusat untuk menyediakan layanan-layanan serta membawa fungsi-fungsi prioritas yang lebih tinggi.

Disaat semakin diterimanya semangat dan kesepakatan dari reformasi pada setiap departemen, dan dididik untuk apa yang maksud dan tujuannya, momentum untuk migrasi menjadi semakin mapan. Tekanan peer group bisa dibawa untuk menanggung. Departemen tidak ingin terlihat menjadi lambat dalam menunjukkan bahwa mereka telah menentukan output dan menetapkan kebijakan manajemen yang memadai keuangan, prosedur dan kontrol yang dibutuhkan untuk mampu beroperasi di lingkungan baru. Bahkan, sementara undang-undang memberi waktu kepada departemen dua tahun untuk mengembangkan

sistem mereka sendiri berdasarkan akrual, ini dicapai oleh sebagian besar dalam satu tahun dan oleh semua departemen dalam delapan belas bulan.

Staff Akuntansi The Public Finance Act mensyaratkan bahwa laporan keuangan untuk Pemerintah New Zealand dan untuk setiap departemen pemerintah harus disusun sesuai dengan praktek akuntansi yang berlaku umum (GAAP). Penggunaan GAAP sangat difasilitasi pelaksanaan dengan memungkinkan aliran bakat sektor swasta dan pengalaman untuk sumber daya reformasi. Ini menjadi mungkin untuk membuat penggunaan terbaik dari orang yang berpengalaman, perangkat lunak dan sistem.

Hal tersebut juga membantu New Zealand memiliki satu tubuh akuntansi profesional meliputi akuntan pelatihan (pendidikan), akuntan perusahaan dan akuntan sektor publik. Institute of Chartered Accountant New Zealand (Institute) kemudian tertarik dan mendukung proses reformasi, dan anggota-anggota yang menjadi lebi energik dan memberi banyak waktu untuk konvensi mengorganisir dan sebaliknya memanfaatkan forum Institute dalam hal mendorong dan mendidik.

Sistem Akuntansi Aktivitas utama selama tahap reformasi adalah kontrak antara departemen dan perusahaan konsultan akuntansi dan pemasok perangkat lunak untuk menyediakan manajemen keuangan dan sistem informasi. Fitur dalam seleksi awal sistem perangkat lunak akuntansi adalah kehidupan mereka yang singkat. Sementara kebutuhan pengguna dalam hal pelaporan kepada Menteri dan Departemen Keuangan relatif mudah untuk ditentukan,

manajer internal tidak memiliki pengalaman pada sistem yang baru ini dan mengalami kesulitan dalam menentukan kebutuhan mereka dalam hal yang dituntut oleh industri TI. Dari empat puluh lima sistem akuntansi dilaksanakan pada tahun 1990 sampai dengan 1991, hanya sedikit yang masih digunakan sampai sekarang.

Salah satu keuntungan sistem akuntansi akrual adalah bahwa kegiatan seperti komitmen atau sistem pesanan pembelian, penggajian, aktiva tetap, kreditor dan debitor dapat diintegrasikan ke dalam satu sistem, sehingga mengurangi pemrosesan ganda dan masalah rekonsiliasi yang terkait dengan sistem yang berbeda. Hal ini dapat menghasilkan penghematan waktu yang signifikan.

Meskipun beberapa perubahan fungsi keuangan departemen pemerintah muncul dalam hal total staf melengkapi. Namun ada suatu peningkatan signifikan dalam keahlian keuangan sebagai petugas kepatuhan digantikan dengan staf profesional yang mampu negosiasi anggaran dan informasi pemasaran keuangan. Departemen Keuangan mampu membuat pengurangan staf yang bertanggung jawab untuk fungsi-fungsi akuntansi rutin, dari enam kantor besar Perbendaharaan regional untuk pelengkap hanya enam staf.

Sebuah implikasi yang sangat besar dari lingkungan yang baru ini bahwa sistem akuntansi yang tersentral telah termodularkan ke dalam sistem-sistem akuntansi individu. Hal ini sangat membantu fleksibilitas departemen karena tidak hanya menjamin bahwa sistem akuntansi yang tidak tertinggal teknologi tetapi mereka dapat terus memenuhi perubahan kebutuhan sebagai perubahan kegiatan departemen. Satu departemen sekarang dapat mengambil keuntungan dari fitur sistem nilai yang baru secara tertentu kepada organisasi

tanpa diperlukan referensi ke seluruh birokrasi. Apabila suatu sistem baru membutuhkan suntikan modal oleh pemilik (yang paling dalam kenyataannya didanai dari dalam neraca keuangan) maka pemilik akan berusaha untuk memastikan bahwa pembangunan sejalan dengan dan tujuan departemen, dan bahwa investasi yang tepat dikelola untuk memastikan efektivitas biaya dalam jangka panjang.

Neraca Awal Sebuah perhatian utama dalam implementasi ini adalah untuk memastikan bahwa neraca awal adalah lengkap dan seakurat mungkin. Tanpa disiplin saldo tahunan sebelumnya dan audit rekonsiliasi catatan aset untuk setiap buku besar keuangan, informasi tentang aset ditemukan dalam beberapa kasus menjadi sangat tidak memadai. Dalam beberapa kasus, titik awal yang terbaik adalah untuk manajer untuk melaksanakan pemeriksaan stok (stocktake) dan menyatakan bahwa daftar yang dihasilkan terdiri semua aset di bawah kendali mereka. Ini adalah daerah di mana auditor sangat membantu dan bersifat konstruktif dalam membantu departemen untuk mengumpulkan catatan yang dapat diaudit dan diproses.

Charging for Capital Kelemahan umum dalam sistem manajemen keuangan pemerintah adalah kecenderungan ke arah maksimalisasi anggaran dan tidak adanya pemeriksaan terhadap aset mengumpulkan utilitas rendah. Untuk mengatasi ini Pemerintah New Zealand melembagakan sistem pengisian departemen untuk modal yang mereka gunakan. Biaya modal ini diterapkan pada aktiva bersih dalam neraca masing-masing departemen. Melalui proses ini, setiap pengurangan modal dasar perusahaan yang departemen mampu

menawarkan Pemerintah dihargai dalam pengurangan biaya modal yang dikenakan (dengan alokasi yang dibiarkan tidak berubah).

Kabinet membentuk satuan tugas dengan modal muatan representasi departemen, yang mengawasi pelaksanaan sistem baru. Pemerintah mendorong departemen pendapatan yang diterima dari Pemerintah pada waktu yang sama dengan biaya modal diperkenalkan menghindari berkurangnya serius dalam sumber daya yang tersedia ke departemen. Untuk beberapa hal ini memiliki efek mematikan efek insentif di departemen. Namun, di mana departemen itu pengisian pengguna untuk layanan ini, insentif diciptakan untuk departemen yang baik untuk meningkatkan harga untuk mencerminkan biaya penuh atau untuk merasionalisasi struktur modal yang terkait dengan output.

Cost Allocations Sebuah kebutuhan yang diperlukan pemusatan sistem manajemen keuangan pada output adalah untuk membangun sistem akuntansi biaya yang mengalokasikan biaya ke output. Seperti biaya-biaya ini meliputi biaya modal adalah mungkin untuk membandingkan mereka dengan biaya serupa yang akan dikeluarkan oleh pemasok lain baik di sektor publik dan pribadi dan, pada waktunya, dengan catatan departemen yang sama di tahun-tahun sebelumnya.

Awalnya sistem alokasi biaya yang cukup dasar dikembangkan, mencerminkan kurangnya pengalaman dan keahlian di bidang ini, dan kurangnya permintaan oleh manajer output untuk informasi biaya rinci. Kemajuan dari tahap awal telah agak dihambat oleh pentingnya ditempatkan pada hidup di dalam perampasan. Stres ditempatkan pada alokasi memastikan

tidak dilanggar telah menyebabkan permintaan yang sistem alokasi biaya yang menghasilkan jumlah yang sangat diprediksi ketimbang hasil yang sangat sensitif terhadap perubahan biaya campuran.

Namun, kemajuan yang lebih besar di daerah ini sekarang muncul sebagai beberapa departemen yang mengidentifikasi biaya-biaya unit baik untuk tujuan perbandingan internal dan untuk pembandingan dengan organisasi lain.

Implementasi Laporan Keuangan Berbasis Akrual

Laporan Secara Akrual oleh Kerajaan Setelah departemen telah sepenuhnya bermigrasi ke sistem manajemen keuangan yang baru menjadi mungkin untuk fokus pada laporan keuangan gabungan dari Pemerintah. Produksi seri baru dari Laporan Keuangan berdasarkan GAAP Pemerintah dikelola sebagai proyek besar terdiri dari tujuh unsur: 1. membuat Kebijakan Akuntansi Kerajaan 2. mengumpulkan informasi dari setiap Departemen, Entitas Kerajaan dan Badan Usaha Milik Negara 3. konsolidasi data dan informasi 4. mendapatkan keyakinan atas kebenaran informasi 5. komentar dan analisis 6. presentasi dan publikasi 7. komunikasi dan marketing

Kebijakan Akuntansi Kerajaan Seperti yang telah dikemukakan, mengadopsi GAAP mengakibatkan proses pengaturan kebijakan akuntansi yang sangat sederhana. Di daerah pendekatan yang paling sama adalah bahwa sektor swasta dibutuhkan dapat digunakan tanpa kesulitan. Namun pendekatan ini tidak berarti bahwa tidak ada sejumlah isu kontroversial yang harus dihadapi. Juga, sebagai kebijakan akuntansi yang membangun Kerajaan metodologi untuk penyusunan laporan keuangan Pemerintah dan dampak semua organisasi dalam perawatan Pemerintah besar itu diambil alih pembangunan mereka. Mereka mengalami tinjauan eksternal yang luas oleh

para ahli akuntansi, dikeluarkan sebagai sebuah draft eksposur, sesi pengarahan ditahan petugas keuangan kepala departemen dan komentar dicari dari mereka.

Entitas Pelaporan Masalah penting dalam menentukan kebijakan akuntansi adalah membangun entitas pelaporan. Masalah ini adalah beberapa konsekuensi bagi Pemerintah berdaulat yang biasanya akan mengembangkan pengaturan kelembagaan untuk menyerahkan kekuasaan dan kontrol dan berusaha untuk jarak pusat Eksekutif dari lengan lain dari Pemerintah. Di Selandia Baru masalah mendefinisikan entitas pelapor tetap berlaku dalam bisnis yang belum selesai pada saat UU Keuangan Publik asli ketika diakui bahwa pemikiran kita memerlukan pengembangan lebih lanjut. Laporan Keuangan asli tertutup Menteri dan departemen pemerintah inti saja. Masalah ini diselesaikan melalui penyelidikan oleh subkomite dari Komite Keuangan dan Belanja pilih parlemen yang menetapkan serangkaian kriteria untuk memutuskan apakah suatu organisasi harus dimasukkan: 1. bahwa Kerajaan memiliki mayoritas saham dengan hak suara; 2. bahwa Kerajaan memiliki kekuasaan untuk membubarkan dan mengganti dewan pemerintahan atau eksekutif kepala; 3. bahwa Kerajaan memiliki hak untuk lebih dari 50% dari aset pada disestablishment, 4. bahwa Kerajaan bertanggung jawab untuk setiap kewajiban sisa pada

disestablishment; 5. bahwa Parlemen dianggap entitas yang dimiliki dan bahwa karena itu harus dimasukkan.

Komite merekomendasikan bahwa untuk menghapus ketidakpastian, entitas Kerajaan harus didefinisikan dengan mengacu pada jadwal dalam Public Finance Act. Selama periode dua belas bulan, Pemerintah meninjau semua kemungkinan entitas, mengukur mereka terhadap kriteria komite pilih, sebelum memperkenalkan perubahan yang diperlukan untuk Public Finance Act pada tahun 1992.

Pengunaan Akuntansi Ekuitas Pemerintah umumnya menciptakan entitas Kerajaan dan BUMN dengan struktur pemerintahan terpisah untuk membangun beberapa kemerdekaan dari pemerintah "inti". Juga, dianggap bahwa laporan keuangan oleh Pemerintah harus mencerminkan kinerja keuangan Pemerintah. Pelaporan keuangan entitas terpisah oleh Kerajaan dan BUMN mencerminkan kinerja manajerial papan eksternal mereka. Itu adalah hipotesis bahwa akuntabilitas pemerintah untuk entitas ini terbatas pada peran pengawasan dan kepatuhan dengan usaha mengandung keterlibatannya dengan batas yang disepakati. Karena basis yang berbeda untuk akuntabilitas itu tidak pantas untuk sepenuhnya mengkonsolidasikan laporan keuangan pemerintah "inti" dengan orang-orang dari BUMN dan entitas Kerajaan. Oleh karena itu, pendekatan yang diambil untuk akuntansi untuk entitas ini adalah "ekuitas akuntansi" metode mencerminkan bahwa "pengaruh signifikan" dan bukan "hari-hari kontrol operasi dan aktivitas pendanaan" lebih tepat menggambarkan sifat hubungan mereka dengan Kerajaan.

Informasi tambahan yang signifikan diberikan pada entitas dalam laporan keuangan sehingga pandangan keseluruhan dapat diperoleh hasil keuangan segmen dan posisi. Standar akuntansi saat ini pada kelompok kombinasi berisi pengecualian bagi Pemerintah.

Namun standar ini saat ini sedang ditinjau oleh Institute dan pendekatan masa depan untuk kombinasi entitas Crown dan BUMN adalah saat ini belum terselesaikan, tapi pindah ke konsolidasi penuh dari beberapa atau semua entitas adalah mungkin.

Penilaian Aset Salah satu warisan dari sistem akuntansi kas sebelumnya adalah tidak tersedianya informasi tentang biaya banyak aset bersejarah. Hal ini umumnya diselesaikan dengan menggunakan pendekatan nilai bersih saat ini untuk penilaian aset. Dimana nilai realisasi bersih tidak dapat diperoleh atau tidak pantas, seperti dalam kasus beberapa infrastruktur dan "warisan ketik" aset, konsep biaya pengganti terdepresiasi digunakan.

Pendekatan ini menjawab keprihatinan oleh beberapa analis dan ekonom fiskal sektor publik bahwa informasi biaya historis adalah sebagian besar tidak relevan dengan kebutuhan mereka. Para pengguna laporan keuangan sehingga diperoleh beberapa kenyamanan bahwa dengan mengadopsi pendekatan nilai bersih saat ini untuk penilaian aset yang paling, neraca lebih adil menggambarkan realitas ekonomi dari posisi keuangan. Pendekatan ini telah baru-baru ini disahkan oleh perkembangan kerangka akuntansi terbaru di Australia dan New Zealand.

Kekuatan Pajak Kekuatan untuk hak peraturan pajak dan lainnya adalah fitur dari pemerintah membedakan mereka dari sektor swasta. Ada beberapa perdebatan tentang apakah kekuatan untuk pajak harus dilaporkan sebagai aset dalam laporan keuangan. Kesimpulannya adalah bahwa mencapai kriteria untuk mengakui aset tidak benar puas, sebagai transaksi atau kejadian

yang menimbulkan manfaat itu tidak terjadi (misalnya, penghasilan dari penghasilan kena pajak), atau bisa nilainya diukur secara andal.

Kekuatan pajak dipandang sebagai analog dengan kekuatan-kekuatan yang saling organisasi atau co-operatif harus retribusi anggota mereka. Hal ini tidak diperlakukan sebagai aset sebagai anggota ingin mengetahui posisi keuangan organisasi sebelum pelaksanaan kekuatan untuk retribusi. Selanjutnya, adalah mustahil untuk nilai kekuatan untuk pajak "aset" dengan keandalan yang cukup dan upaya untuk melakukannya akan membanjiri informasi lain di neraca. Demikian pula, di sisi kewajiban, nilai masa depan kewajiban kesejahteraan sosial adalah barang yang sangat besar dalam hal yang kejadian yang menimbulkan kewajiban itu dianggap tidak telah terjadi, dimana pemerintah memiliki hak signifikan, dan yang sangat sulit untuk mengukur.

Non-pengakuan atas "kekuatan untuk pajak" dan hak kesejahteraan di neraca tidak berarti bahwa informasi mengenai kekuasaan dan kewajiban ini tidak penting dalam menentukan kondisi keuangan pemerintah yang berdaulat. Saat ini membutuhkan informasi yang terpenuhi di Selandia Baru melalui proyeksi fiskal dan pandangan termasuk dalam dokumentasi anggaran, yang memberikan proyeksi selama 10 tahun ke depan.

Kriteria Pengakuan Pajak Titik pengakuan yang sesuai untuk pelaporan pajak dan pendapatan daya lainnya yang berdaulat diperlukan musyawarah yang cukup. Sedangkan titik pengakuan yang paling tepat dari perspektif ekonomi adalah waktu bahwa kewajiban pembayar pajak muncul (misalnya, ketika pendapatan kena pajak diperoleh atau konsumsi kena pajak dinikmati oleh wajib

pajak), informasi yang cukup dapat diandalkan seringkali tidak tersedia secara tepat waktu. Oleh karena itu, terutama dalam hal pajak jangka panjang, kadang-kadang perlu untuk kompromi pada titik pengakuan kemudian ketika informasi yang dapat diandalkan tersedia. Misalnya, terminal pajak penghasilan diakui pada saat pengembalian pajak dinilai, sebagai informasi yang cukup dapat diandalkan tidak tersedia sebelumnya. Seiring waktu, perkembangan sistem akuntansi pajak telah menghasilkan informasi yang lebih berguna, memungkinkan perkiraan semakin handal kewajiban pajak yang belum dibayar harus dibuat. Akibatnya tidak hanya memiliki Pemerintah telah mampu memindahkan poin pajak pengakuan lebih dekat ke titik bahwa kewajiban timbul, tetapi juga mendapatkan manfaat dari perbaikan dalam peramalan penerimaan pajak dari pajak.

Manfaat, Bantuan dan Subsidi Pendekatan yang diambil untuk pembayaran manfaat, hibah dan subsidi adalah bahwa jika pembayaran diskresioner sampai pembayaran, maka biaya tersebut akan diakui pada saat pembayaran dilakukan. Jika biaya itu harus diakui apabila memenuhi kriteria tertentu telah terpenuhi dan pemberitahuan telah diberikan kepada Pemerintah.

Pendekatan ini mengharuskan adanya perubahan dalam pengobatan oleh beberapa badan distribusi bantuan yang sebelumnya diakui hibah ketika disetujui atau dilakukan oleh dewan pemerintahan, terlepas dari apakah kriteria yang ditentukan telah terpenuhi. Namun, pada tahap itu, tidak mungkin untuk mengatakan bahwa kewajiban telah terjadi, dan ada banyak contoh dicatat ketika hibah sebenarnya telah tidak maka telah dibuat. Ini bukan untuk mengatakan bahwa sistem komitmen tidak perlu atau diinginkan, melainkan pandangan

yang lebih jelas tentang posisi keuangan organisasi diperoleh jika kewajiban saat ini dan komitmen dilaporkan secara terpisah.

Pelajaran Yang Dipetik dan Kesimpulan

Pelajaran Yang Dipetik Pelaksanaan akuntansi akrual dalam pemerintahan adalah latihan utama, terutama jika hal itu dilakukan dengan cara yang akan memberikan manfaat maksimal kepada proses pengambilan keputusan dan akuntabilitas kepada pengguna eksternal. Pengalaman Pemerintah Selandia Baru memberikan begitu banyak pelajaran di tingkat makro dan mikro yang sulit untuk membedakan yang paling kritis.

Namun, mungkin pelajaran yang paling penting adalah bahwa hal itu dapat dilakukan. Tidak ada penghalang teoritis fundamental bagi pemerintah berdaulat yang mencegah pelaksanaan akuntansi akrual. Sebaliknya, ada banyak yang merekomendasikan pengembangan akuntansi akrual dalam pemerintahan saat ini diterapkan dalam konteks suatu rezim yang mendorong kinerja manajemen.

Hal ini menyebabkan pelajaran besar kedua. Akuntansi adalah penting dan menarik ketika menghasilkan informasi yang digunakan oleh pengambil keputusan. Sebaliknya, tanpa menuntut pengambil keputusan dan menggunakan informasi akrual maka upaya pelaksanaan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk berhasil. Sementara permintaan untuk informasi akuntansi akrual kemungkinan akan meningkat sebagai tren administrasi publik ke arah manajemen publik, pengembangan informasi akrual harus dilihat sebagai unsur integral dari reformasi ini dan tidak latihan berdiri sendiri.

Kesimpulan

Pelaksanaan sistem manajemen baru keuangan umumnya dianggap sebagai suatu keberhasilan. Pada awal pelaksanaan ada ketidakpuasan umum dengan status quo. Komitmen manajemen senior yang Berkelanjutan politik dan mendorong manajer sektor yang paling umum untuk menyambut perubahan. Penekanan pada komunikasi dan pemesanan hati-hati dari proses memastikan bahwa risiko telah dikelola dengan baik. Kekhawatiran tentang isu-isu akuntansi biaya, kebijakan dan kekhawatiran bahwa hasilnya akan disalahartikan, gagal terwujud sampai sejauh materi. Komentar berikut berasal dari survei terbaru dari manajer sektor publik:

Pengenalan metode akuntansi sektor swasta dinilai lebih positif dan negatif kurang dari setiap fitur lain perubahan sektor publik. . Perubahan. Keuangan dilihat oleh salah satu peserta sebagai disiplin diperlukan jika sektor publik adalah untuk membuat klaim untuk profesionalisme manajemen. . . Satu orang mengaku telah skeptis berubah mengkonversi, sebagai sistem baru telah menjelaskan biaya modal, perbedaan antara biaya dan uang tunai, dan beban overhead pada unit operasi.

Pelaksanaannya telah memastikan masing-masing elemen Sistem Manajemen Keuangan Pemerintah Selandia Baru memperkuat unsur-unsur lain untuk memberikan pendekatan yang komprehensif untuk menerapkan strategi pemerintah, memfasilitasi berkualitas tinggi pengambilan keputusan oleh manajemen, dan memungkinkan pengawasan yang efektif oleh Parlemen.

IMPLEMENTASI AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL DI AMERIKA SERIKAT Sejarah Penetapan Standar Penyusunan standar secara formal dimulai pada tahun 1933 dengan pendirian National Committee on Municipal Accounting (NCMA). NCMA menerbitkan standar yang pertama pada pada Januari 1934. Pada tahun 1948 NCMA berubah menjadi National Committee on Governmental Accounting. Wewenang untuk menetapkan standar ini berada di tangan 50 negara bagian, bukan pada pemeintah federal. Selanjutnya komite tersebut bertemu secara ad-hoc untuk memutakhirkan standar akuntansi. Seluruh standar dan pemutakhiran atas standar dikodifikasikan dalam bentuk Governmental Accounting, Auditing and Financial Reporting (GAAFR atau lebih dikenal dengan sebutan the blue book). Edisi terakhir dikeluarkan oleh komite pada tahun 2005, namun blue book ini tetap menjadi sumber tidak resmi yang penting bagi pegawai keuangan pemerintah. GAAFR sekarang diterbitkan oleh Government Finance Officers Association of the United States and Canada (GFOA). Pada tahun 1973, National Council on Governmental Accounting (NCGA) dibentuk untuk mengevaluasi model pelaporan keuangan yang telah ada. NCGA mengubah basis penetapan standar dari ad-hoc menjadi terstruktur. Selama 11 tahun, NCGA menerbitkan 7 statement, 11 interpretasi, dan satu konsep statement. Kemudian pada tahun 1984 terbentuklah Governmental Accounting Standard Board (GASB). GASB didirikan di bawah pengawasan Financial Accounting Foundation (FAF). GASB bertugas untuk menyusun dan memutakhirkan standar akuntansi untuk pemerintah negara bagian dan lokal sampai saat ini.

Sampai dengan tahun 1990, pada pemerintah federal yang bertanggungjawab atas pelaporan keuangan adalah the General Accounting Office (GAO, sekarang the Government Accountability Office), the United States Treasury, dan the Office of Management and Budget. Lalu pada tahun 1990, didirikanlah Federal Accounting Standards Advisory Board (FASAB). FASAB dibentuk sebagai konsekuensi dari adanya undang-undang Chief Financial Officers Act yang mewajibkan pemerintah federal untuk menerbitkan laporan keuangan tahunan audited Pada awal pembentukannya, GASB melanjutkan proyek NCGA yang belum selesai yaitu , the Measurement Focus and Basis of Accounting (MFBA) dan the Financial Reporting Model. Kedua proyek tersebut menjadi dasar penyusunan model pelaporan keuangan pemerintah berbasis akrual. Kedua proyek tersebut selesai dikerjakan oleh GASB setelah 15 tahun kemudian. Dengan demikian, pada waktu itu pelaporan keuangan pemerintah negara bagian dan lokal berdasarkan current financial resource flows measurement focus dan modified accrual basis of accounting (modified cash basis) dalam akuntansi dananya. Pada basis ini, pendapatan diakui ketika pendapatan itu dapat melikuidasi kewjiban lancar dan pengeluaran/belanja diakui ketika terlikuidasi dengan financial resources yang tersedia untuk dibelanjakan. Selama 15 tahun penyusunan model pelaporan keuangan pemerintah berbasis akrual, banyak proses telah dilalui dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan. Secara ringkas, hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: o Tahun 1985, GASB menerbitkan GASB Research Report, The Needs of Users of

Governmental Financial Reports yang selanjutnya diikuti dengan pengajuan Concepts Statement 1.

o Tahun 1987, GASB menerbitkan Exposure Draft (ED) pertama mengenai total financial resources measurement focus and accrual basis of accounting for the governmental funds. ED ini tidak mendapat persetujuan dari para konstituen. o Tahun 1989, GASB menerbitkan ED kedua. ED kedua ini mengajukan proposal yang sama dengan ED pertama namun ED ini berusaha menghapus beberapa isu kontroversial pada ED pertama dengan cara membatasi lingkup penerapannya yaitu hanya pada laporan opersional governmental fund. o Tahun 1990, GASB menerbitkan GASB Statement No. 11, Measurement Focus and Basis of AccountingGovernmental Fund Operating Statements. Standar ini hanya berfokus pada laporan opersional. Standar ini baru akan diberlakukan setelah ada standar yang mengatur laporan neraca menggunakan basis akrual. Diharapkan kedua standar tersebut dapat mulai diberlakukan pada periode yang dimulai setelah tanggal 15 Juni 1994. o Tahun 1992, GASB menerbitkan preliminary views document (PV), Implementation of GASB Statement No. 11, Measurement Focus and Basis of AccountingGovernmental Fund Operating Statements,. PV ini mengetengahkan isu penyajian neraca. PV ini dimaksudkan untuk meminta pandangan dari kontituen mengenai isu tersebut. Dari hasil PV tersebut, mayoritas responden lebih memilih untuk menunda pemberlakuan Statement 11. o Tahun 1993, setelah melalui due process, GASB menyimpulkan bahwa pemberlakuan GASB Statement No. 11 harus ditunda setidaknya sampai 2 tahun setelah diterbitkannya standar yang mengatur laporan neraca. Oleh sebab itu, maka

diterbitkanlah GASB Statement No. 17, Measurement Focus and Basis of Accounting Governmental Fund Operating Statements: Amendment of the Effective Dates of GASB Statement No. 11 and Related Statements. Banyak pihak menganggap hal tersebut sebagai suatu kemunduran dalam usaha penyusunan standar yang mengatur mengenai basis akrual. o Tahun 1994, GASB menyetujui untuk mengembangkan alternatif model pelaporan keuangan dengan menerbitkan invitation to comment (ITC) tentang Governmental Financial Reporting Model. Dari dua alternative model yang disampaikan, perbedaannya antara lain pada fokus pengukuran dan basis akuntansi yang digunakan pada berbagai level pelaporan serta metode yang digunakan untuk melaporkan belanja modal, aset dan hutang untuk aktivitas pemerintahan. o Tahun 1995, berdasarkan analisis dari reaksi para kontituen dalam ITC tersebut, GASB mengembangkan persyaratan dasar dengan mengeluarkan PV Governmental Financial Reporting Model: Core Financial Statements. o Tahun 1997, setelah melalui due process, GASB menerbitkan ED mengenai Basic Financial Statementsand Managements Discussion and Analysisfor State and Local Governments. o Pada bulan Juni tahun 1999, akhirnya GASB menerbitkan GASB Statement No. 34, Basic Financial Statementsand Managements Discussion and Analysisfor State and Local Governments. Penerbitan standar tersebut menandai keberhasilan GASB dalam usahanya menyusun standar pelaporan keuangan pemerintah berbasis akrual.

Strategi Peralihan Dalam prosesnya, perubahan akuntansi berbasis kas menjadi akuntansi berbasis akrual, Amerika Serikat menggunakan pendekatan bertahap. Yang dimaksud dengan pendekatan bertahap ini adalah dimana proses penerapan akuntansi berbasis akrual tidak dilakukan serentak. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain : Kemampuan Sumber Daya Manusia yang terbatas, Komitmen politik yang masih diragukan, Dukungan sistem yang terbatas, serta Wilayah yang terlalu luas

Keuntungan pendekatan ini adalah dapat diketahuinya permasalahan yang mungkin timbul dan cara penyelesaiannya selama masa transisi, basis kas masih dapat dilakukan secara paralel untuk mengurangi resiko kegagalan. Sehingga diyakini mampu menghasilkan hasil pelaporan yang optimal.

Sedangkan kelemahannya adalah akan membutuhkan banyak sumber daya manusia. Karena menerapkan dua basis secara paralel, perubahan budaya organisasi tidak terjadi, dan hilangnya momentum penerapan akrual basis.

Hingga saat ini, pemerintah Amerika Serikat khususnya state and local government menggunakan basis akrual modifikasi, dimana pendapatan akan diakui apabila memenuhi kriteria measurable (dapat diukur) dan available (tersedia untuk digunakan).

IMPLEMENTASI AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL DI AUSTRALIA

Praktek akuntansi Australia lebih fokus pada informasi yang diperlukan oleh investor dibandingkan dengan keperluan pajak negara tersebut. Pada tahun 1991, the Australian Securities & Invesment Commission di bentuk untuk membantu peraturan dan menyelenggarakan hukum perusahaan untuk melindungi konsumen, investor dan kreditor. Standar akuntansi dibuat oleh Australian Accounting Standards Board (AASB). Aslinya, ASSB bekerja sama dengan Public Sector Accounting Standards Board untuk membuat standar akuntansi Australia. The Urgent Issues Group (UIG) dibangun pada tahun 1994 untuk membantu menangani isu mendesak dalam bidang akuntansi kebanyakan seperti yang dilakukan oleh Emergency Issues Task Force (EITF) di Amerika Serikat.

Pada tahun 1999, pengaturan standar Australia melakukan reorganisasi melalui The Corporate Law Economic Reform Program Act. Reorganisasi ini membuat Financial Reporting Council (FRC) mengatur tindakan AASB. FRC dapat memberikan AASB pengarahan tapi tidak akan bisa mempengaruhi isi dari standar akuntansi. AASB sekarang mempunyai tanggung jawab untuk membuat standar baik sektor publik maupun sektor pribadi dan bebas untuk mencari tim dan staf. UIG terus memberikan panduan mengenai isu akuntansi yang mendesak. Australia mengadopsi IFRS pada tahun 2005.

Basis akuntansi yang digunakan oleh pemerintah Australia adalah basis akrual sesuai dengan kerangka kerja dalam the Accrual Uniform Presentation Framework (UPF) yang periode akuntansinya adalah selama satu tahun penuh yang dimulai dari 1 Juli dan berakhir 30 Juni. Sedangkan reporting entity dari laporan keuangan pemerintah Australia adalah

Australian Government general government sector (GGS), the public non-financial corporations sector (PNFC) dan the total non-financial public sector (NFPS).

Charter of

Budget Honesty Act 1998 mengharuskan pemerintah Australia untuk

mendasarkan Laporan Keuangan dan Ekonomi Tahunan (Mid-Year Economic and Fiscal Outlook / MYEFO) kepada standar pelaporan eksternal dan penyimpangan dari standar eksternal tersebut harus diungkapkan. Pemerintah menyusun laporan keuangan yang tunduk pada peraturan Australian Bureau of Statistics (ABS) accrual Government Finance Statistics (GFS) dan Australian Accounting Standards (AAS).

IMPLEMENTASI AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL DI INDONESIA Gambaran Umum Reformasi keuangan pemerintah yang ditandai dengan diterbitkannya paket UndangUndang Keuangan Negara membawa banyak konsekuensi, salah satunya adalah keharusan penerapan akuntansi berbasis akrual pada setiap instansi pemerintahan, yang dimulai tahun anggaran 2008. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dalam Pasal 36 ayat (1) yang berbunyi sebagai berikut: Ketentuan mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13, 14, 15, dan 16 undang-undang ini dilaksanakan selambat-lambatnya dalam 5 (lima) tahun. Selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan, digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Penerapan akuntansi berbasis akrual dipercaya dapat menghasilkan informasi yang lebih akuntabel dan transparan dibandingkan dengan akuntansi berbasis kas. Basis akrual dapat mengatasi kelemahan basis kas yang dapat menyembunyikan hasil operasi yang sebenarnya maupun informasi atas hutang karena nilai biaya pelayanan publik yang dihasilkan mencakup seluruh beban yang terjadi, tidak hanya jumlah yang telah dibayarkan namun juga memasukkan seluruh beban, baik yang sudah dibayar maupun yang belum dibayar sehingga Akuntansi berbasis akrual mampu mendukung terlaksanakannya perhitungan biaya pelayanan publik dengan lebih wajar. Selain itu, akuntansi berbasis akrual dapat menyediakan pengukuran yang lebih baik, pengakuan yang tepat waktu, dan pengungkapan kewajiban di masa mendatang. Dalam rangka pengukuran kinerja, informasi berbasis akrual dapat menyediakan informasi mengenai penggunaan sumber daya ekonomi yang

sebenarnya. Oleh karena itu, akuntansi berbasis akrual merupakan salah satu sarana pendukung yang diperlukan dalam rangka transparansi dan akuntabilitas pemerintah. Akuntansi berbasis akrual telah berhasil diterapkan di berbagai negara maju dan membawa manfaat. Manfaat akuntansi berbasis akrual antara lain (Van Der Hoek, 2005): 1. Mendukung manajemen kinerja. 2. Menfasilitasi manajemen keuangan yang lebih baik. 3. Memperbaiki pengertian akan biaya program. 4. Memperluas dan meningkatkan informasi alokasi sumber daya. 5. Meningkatkan pelaporan keuangan. 6. Memfasilitasi dan meningkatkan manajemen aset (termasuk kas). Dalam salah satu penelitiannya, ADB menyimpulkan bahwa penerapan akuntansi berbasis akrual di negara-negara berkembang harus direncanakan secara realistis dan praktis sesuai dengan kemampuan sumber daya dan kapasitas yang tersedia. Banyak penelitian menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mendukung keberhasilan penerapan akuntansi berbasis akrual adalah strategi implementasi yang direncanakan dengan baik, komitmen, tujuan yang dikomunikasikan secara jelas, sumber daya manusia yang andal, dan sistem informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Studi Penerapanan Akrual Basis Internasional International Monetary Fund (IMF) sebagai lembaga kreditur menyusun Government Finance Statistics (GFS) yang di dalamnya menyarankan kepada negara-negara debiturnya

untuk menerapkan akuntansi berbasis akrual dalam pembuatan laporan keuangan. Disisi lain IMF menyatakan dalam makalah yang berjudul Transition to Accrual Accounting menyimpulkan beberapa isu terkait dengan penerapan basis akrual, diantaranya : 1. Perumusan kebijakan akutansi. Kemudahan pelaksanaan basis kas dibanding akrual basis yang kompleks memerlukan persyaratan kemampuan teknis dan judgement yang lebih tinggi karena mengandung risiko kesalahan dan salah saji yang tinggi. Selain itu, untuk keperluan sinkronisasi dengan kebijakan internasional menjadikan pemerintah perlu memfokuskan pada materi pilihan kebijakan akuntansi mana yang paling tepat yang konsisten dengan standar akuntansinya. 2. Ada gap dengan standar internasional. Standar akuntansi pemerintah internasional yang diterbitkan oleh The International Public Sector Accounting Standards Board (IPSASB) dirancang untuk memfasilitasi penerapan umum pelaporan keuangan pemerintah yang dapat diperbandingkan secara internasional. Namun demikian, masih terdapat gap antara standar internasional dengan standar yang dikembangkan suatu negara. Pemerintah suatu negara perlu memformulasikan standarnya sendiri atau pedoman atas aspek tertentu. 3. Informasi kas dalam kerangka kerja akrual. Penerapan basis akuntansi menuju basis akrual bukan berarti menghilangkan basis kas, tetapi pengelolaan kas merupakan bagian yang integral dari kerangka manajemen keuangan berbasis akrual. Basis akrual yang modern mempunyai fungsi-fungsi untuk mendukung basis akuntansi dan pelaporan secara kas. 4. Sinkronisasi antara akuntansi akrual dengan anggaran. Sering diargumentasikan bahwa konsep akuntansi dan anggaran haruslah disamakan agar terdapat basis yang

jelas dan transparan dalam pembandingan antara apa yang direncanakan pemerintah dan hasil keuangan yang aktual. Namun demikian, pertanyaannya adalah apa perbedaan antara basis akuntansi akrual dan basis akrual dalam anggaran? Akuntansi berkaitan dengan pelaporan transaksi ex post, sementara anggaran merupakan perencanaan ex ante dalam basis akrual. Secara teknik, pemerintah dapat saja menerapkan basis akuntansi akrual tanpa membuat perubahan kerangka penganggaran yang berbasis kas, dan, dengan demikian, dalam pelaporan akuntansi berbasis akrual, pertanggungjawaban anggaran berbasis kas akan tetap disusun. 5. Klasifikasi anggaran dan akun standar. Apabila pemerintah menerapkan basis akrual pada akuntansi dan anggarannya secara simultan, akun standar dan klasifikasi anggaran sebaiknya disamakan, akan tetapi jika pemerintah menerapkan basis akrual hanya pada akuntansi dengan masih menerapkan basis kas pada anggarannya, akan ada perbedaan antara akun standar dan klasifikasi anggaran. 6. Neraca awal. Neraca awal dari penerapan basis akrual harus didukung dengan informasi dan penjelasan yang cukup untuk kepentingan audit. Pada titik ini, kegiatan tersebut akan merupakan proses yang memakan waktu dan sangat riskan. Konsep materialitas mungkin dapat digunakan untuk membuat pertimbanganpertimbangan tentang aset dan kewajiban mana yang harus dijadikan perhatian utama selama penerapan basis akrual. 7. Proses keuangan yang tersentralisasi atau terdesentralisasi. Pertimbangan proses keuangan yang lebih detail tentang sentralisasi atau desentralisasi menyangkut apakah tingkat kementerian atau agency (satuan kerja) dipersyaratkan melaporkan secara harian operasinya atau tidak. Jika ya, pemerintah perlu melakukan penilaian skala dan kompleksitas transaksi yang tercakup dalam identifikasi dan pengukuran

atas transaksi dan saldo-saldo rekening basis akrual. Untuk negara sedang berkembang, kendala kapasitas seperti itu tidak mungkin dicapai dalam jangka pendek. 8. Konsolidasi. Apapun sentralisasi atau desentralisasi - yang akan diterapkan oleh pemerintah, konsolidasi laporan untuk pemerintah secara keseluruhan tetap merupakan titik penting sehingga identifikasi akun entitas untuk kepentingan eliminasi dapat dilakukan. Sistem dan prosedur harus dirancang agar tercapai efisiensi. Penerapan basis akrual dalam sistem akuntansi pemerintahan suatu negara bukanlah suatu hal yang mudah. ADB (Asian Development Bank) secara khusus menyoroti masalah

penerapan akrual baisi bagi negara berkembang yang dituangkan dalam makalah berjudul Accrual Budgeting and Accounting in Government and its Relevance for Developing Member Countries memberikan tujuh rekomendasi penerapan akrual basis bagi negara berkembang, yaitu: 1. Kehati-hatian dalam memilih strategi penerapan akrual basis. Terdapat dua model utama dalam menerapkan akrual basis yakni model big bang dan model bertahap. Keuntungan pendekatan big bang adalah mendukung terjadinya perubahan budaya organisasi, cepat mencapai tujuan, dan dapat menghindari risiko kepentingan, meskipun mengandung kelemahan, seperti beban kerja menjadi tinggi, tidak ada waktu untuk menyelesaikan masalah yang mungkin timbul, dan komitmen politik yang mungkin bisa berubah. Sedangkan, Keuntungan pendekatan bertahap adalah dapat diketahuinya permasalahan yang mungkin timbul dan cara penyelesaiannya

selama masa transisi, basis kas masih dapat dilakukan secara paralel untuk mengurangi resiko kegagalan. 2. Komitmen politik merupakan salah satu kunci penting. Komitmen politik dalam penerapan basis akrual bagi negara berkembang menjadi sangat esensial, sehingga komitmen politik ini diperlukan untuk menghilangkan adanya kepentingan yang tidak sejalan. 3. Tujuan yang ingin dicapai harus dikomunikasikan. Hasil dan manfaat yang ingin dicapai dengan penerapan basis akrual harus secara intens dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang bersangkutan. 4. Perlunya tenaga akuntan yang andal. Tenaga akuntan yang profesional akan sangat diperlukan untuk rekruitmen dan pelatihan yang cukup. Kekurangan tenaga akuntan akan menyebabkan penundaan penerapan akrual basis pada akuntansi pemerintah.. 5. Sistem informasi akuntansi harus memadai. Informasi akuntansi berbasis kas merupakan titik penting dalam pergantian basis ke akrual. Jika suatu negara belum memiliki sistem akuntansi berbasis kas yang dapat diandalkan, maka negara tersebut terlebih dahulu berkonsentrasi pada peningkatan sistem dan proses yang telah ada, sebelum mempertimbangkan perpindahan ke akuntansi akrual. 6. Badan audit tertinggi harus memiliki sumberdaya yang tepat. Badan Audit memegang kunci yang sangat penting dalam penerapan basis akrual. Dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk melakukan profesionalisme tenaga audit seperti yang dilakukan di Negara Fiji dan Selandia Baru. 7. Penerapan basis akrual harus merupakan bagian dari reformasi birokrasi Penerapan basis akrual tidak boleh hanya dilihat sebagai masalah teknik akuntansi saja, tetapi

penerapan ini membutuhkan perubahan budaya organisasi dan harus merupakan bagian dari reformasi birokrasi secara menyeluruh.

Studi atas keberhasilan Pendekatan model big bang seperti yang telah dicontohkan oleh negara Selandia Baru untuk seluruh unit pemerintahan - dilakukan dalam jangka waktu yang sangat singkat adalah karena tiga faktor yang mendukung yakni adanya krisis fiskal, dukungan dari para politisi dan adanya reformasi birokrasi yang memberikan fleksibiltas kepada SDM. Sedangkan, menurut Heather Thompson Faktor kunci keberhasilan penerapan basis akuntansi akrual diantaranya mencakup independensi dari sebuah proses penyusunan standar akuntansi, komunikasi yang efektif, keberhasilan menangani isu-isu terkait, kemampuan mengembangkan perubahan akuntansi, selain faktor pendukung dari politisi dan lembaga audit.

Masalah- masalah dalam Peralihan Basis Akrual di Indonesia penerapan basis akrual sebagai penganti basis kas pada pemerintah Indonesia sebagai amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dalam Pasal 36 ayat (1) telah berada pada pada posisi wajib dan tidak bisa lagi diundur, karena secara perundangan jangka waktu yang ditetapakan dalam undang-undang telah jatuh tempo dan permohonan pelaksanaan secara bertahap dari Menteri Keuangan kepada DPR telah ditolak oleh DPR, serta KSAP sebagai pihak yang diberikan wewenang oleh peraturan perundangan untuk menyusun Standar Akuntansi Pemerintah telah selesai menyusun draft standar

berbasis akrual. Terlebih terdapat konsensus negara-negara yang tergabung dalam OECD secara nyata telah menyatakan kesepakatan untuk implementasi basis akuntansi akrual. Permasalahan yang diperkirakan mungkin timbul dari penerapan basis akuntansi pada akuntansi pemerintah Indonesia dapat mencakup antara lain sebagai berikut:
1. Pendekatan perancangan akuntansi berbasis akrual.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya terdapat dua model pendekatan yakni big bang dan bertahap. Dengan segala keuntungan dna kelemahannya. Menurut Bambang Widjajarso dalam makalah Penerapan Basis Akrual Pada Akuntansi Pemerintah Indonesia: Sebuah Kajian Pendahuluan , menyatakan bahwa pendekatan segera

merupakan pendekatan paling pas untuk kondisi di Indonesia. Hal yang mendasari adalah bahwa momentum penerapan basis akuntansi akrual tidak boleh hilang tertelan waktu. Dimana saat ini, KSAP secara proaktif telah dan sedang melakukan penyusunan konsep-konsep secara intensif untuk menghasilkan standar akuntansi berbasis akrual dan juga diikuti dengan berbagai hearing diskusi basis akrual, termasuk berinteraksi dengan Departemen Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan dan Dewan Perwakilan Rakyat. Dukungan politik dari semua lini tersebut tentunya harus merupakan dorongan tersendiri agar standar akuntansi berbasis akrual segera diimplementasikan. Ditambah dengan kondisi keanggotaan di KSAP yang sebagian mungkin seluruhnya merupakan profesional paruh waktu, penundaan penerapan basis akrual untuk akuntansi akan sangat memakan biaya yang tidak sedikit.

2. Jenis laporan keuangan.

Secara peraturan perundangan Undang Undang Keuangan Negara dan Undang Undang Perbendaharaan, memang hanya mensyaratkan adanya empat laporan

keuangan yakni Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan. Namun, penerapan basis akrual menimbulkan pertanyaan apakah keempat jenis laporan tersebut mencukupi karena Konsep Publikasi Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual juga memerlukan laporan baru yakni Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas.

3. Anggaran berbasis akrual

Pembahasan akuntansi berbasis akrual hampir selalu diiringi dengan penganggaran berbasis akrual. Pertanyaannya adalah apakah international best practices dalam basis akuntansi akrual juga selalu diikuti oleh sistem penganggaran berbasis akrual? Ternyata tidak! Mungkin hanya negara Selandia Baru dan Inggeris yang menerapkan anggaran berbasis akrual yang merupakan bagian yang melekat pada basis akuntansi akrual. Amerika Serikat dan Perancis adalah contoh negara yang menerapkan basis akuntansi akrual tanpa diikuti dengan penerapan anggaran berbasis akrual. Bahkan Australia merasa menyesal mengimplementasikan anggaran berbasis akrual dan kembali ke basis kas.

Untuk Indonesia penerapan anggaran berbasis akrual bukanlah suatu keharusan dengan alasan sulitnya politisi/ legislatif memahami anggaran berbasis akrual, selain itu dalam administrasinya penganggaran akrual akan sulit diterapkan jika kementerian teknis sebagai Chief Operating Officers tidak diberikan kewenangan yang mandiri untuk

melaksanakan anggarannya serta tidak terdesentralisasinya anggaran karena dokumen anggaran merupakan dokumen yang kaku dan harus diikuti bahkan sampai pada input terkecil.

4.

Pengakuan pendapatan. Dalam Memorandum Pembahasan Penerapan Basis Akrual dalam Akuntansi Pemerintahan di Indonesia yang dijadikan bahan bahasan limited hearing KSAP tahun 2006 mengungkap masalah pengakuan pendapatan. Jika basis akrual diterapkan, pendapatan diakui pada saat timbul hak dari pemerintah. Masalahnya adalah dalam hak pajak yang menganut self assessment dimana wajib pajak menghitung sendiri kewajiban pajaknya, hak tersebut menjadi belum final karena masih dimungkinkan adanya restitusi - meskipun sudah ada SPT, sehingga dokumen yang dijadikan dasar penentuan hak tagih pajak menjadi masalah.

Menurut Bambang Widjajarso dalam Penerapan Basis Akrual Pada Akuntansi Pemerintah Indonesia: Sebuah Kajian Pendahuluan meskipun prinsip akrual basis adalah pendapatan harus diakui jika telah muncul hak sehingga pencatatan pendapatan dilakukan setiap kali ada transaksi munculnya hak, standar akuntansi pemerintah nantinya harus menciptakan kriteria yang jelas atas pengakuan pendapatan tersebut. Misalnya, seperti yang diterapkan oleh State and Local Governments di Amerika, pendapatan diakui jika terpenuhinya kriteria measurable dan available. Dengan demikian, pendapatan pajak yang harus diakui adalah jika dapat diukur dan tersedia untuk operasi entitas pelaporan. Contoh jenis pajak tersebut adalah PBB dan Pajak Kendaraan Bermotor. Sedangkan untuk jenis pajak yang lain seperti pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai kriteia dapat diukur dan tersedia harus tetap diberlakukan dnegan mengakui pendapatan pajak sesuai dengan dasar SPT Masa.
5. Pengakuan belanja/ beban.

Dalam Memorandum Pembahasan Penerapan Basis Akrual dalam Akuntansi Pemerintahan di Indonesia juga diungkap masalah pada pengakuan belanja. Permasalahan yang timbul yakni Jika basis akrual diterapkan makapenggunaan istilah belanja menjadi tidak tepat, sehingga istilah yang lebih tepat adalah beban atau biaya.

Menurut Bambang Widjajarso terdapat hubungan terkait dengan aspek lain yakni jenisjenis laporan keuangan. Untuk Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, terminologi belanja sudah tepat dan hal ini juga sesuai dengan peraturan perundangan yang berkaitan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sedangkan untuk laporan lain, yakni, Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas, terminologi beban atau biaya harus menggantikan terminologi belanja. Bahasan ini akan konsisten dengan bahasan tentang jenis laporan keuangan diatas. Dan, dengan demikian, biaya non kas seperti biaya depresiasi akan tercantum dalam Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas dan Neraca, karena tidak tidak ada arus kas keluar seperti pada belanja.

Rekomendasi dalam Penerapan Basis Akrual Bambang Widjajarso dalam makalah Penerapan Basis Akrual Pada Akuntansi Pemerintah Indonesia: Sebuah Kajian Pendahuluan memberikan beberapa usulan dalam penerapan basis akrual pada pemerintah. Usulan tersebut dibagi dalam dua pokok bahasan, yakni : 1. Usulan Pengembangan Standar. Pengembangan Standar Akuntansi Pemerintah oleh KSAP telah dimulai dan telah sampai pada draft Publikasi Standar Pemerintahan Berbasis Akrual. Suatu due process yang perlu diapresiasi dan dikembangkan terus menerus. Namun, dalam

masalah komunikasi masih diperkuat yakni keterlibatam BPK, perwakilan kementerian teknis dan pemerintah daerah pada saat mereka menjadi peserta hearing dan diskusi kurang membawa konsep tandingan yang dapat dijadikan argumentasi yang hidup dan dinamis. Untuk mencapai kondisi yang dinamis dalam argumentasi konsep-konsep akuntansi, mungkin dapat dilakukan dengan cara lain yakni dengan menyelenggarakan kunjungan kepada para stakeholders utama secara proaktif dari perwakilan tim kerja KSAP dengan menyiapkan suatu checklist atau questionnaires secara lengkap agar aspirasi mereka secara nyata dapat terserap oleh komite standar. Hasil dari penyaringan aspirasi inilah yang nantinya dapat dibawa kedalam proses lebih lanjut misalnya dalam hearing atau diskusi. Dengan demikian, bahan diskusi telah merupakan rumusan bersama antar para pemangku kepentingan. Selanjutnya, perlu dipertimbangkan kemungkinan bahwa Kerangka Konseptual yang merupakan hasil dari penyusun standar dari due process - dapat di prioritaskan untuk disetujui oleh pemangku kepentingan dan diselesaikan terlebih dahulu, yang dapat diterbitkan dengan peraturan perundangan yang terpisah dari peraturan perundangan tentang pernyataan standar karena Pernyataan standar akan mempunyai karakteristik yang lebih dinamis dibandingkan dengan kerangka konseptual sehingga perlu diantisipasi kemungkinan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi sepanjang penerapan basis akrual. 2. Usulan Implementasi. Implementasi standar akuntansi pemerintahan yang nantinya tertuang dalam sistem akuntansi pemerintah dengan pendekatan pemahaman umum insan akuntansi yang sudah terpola dengan kesisteman yang dikembangkan pada akuntansi bisnis atau komersial. Ada baiknya sub sistem dari sebuah sistem akuntansi pemerintah pusat

dan daerah, didesain dengan menggabungkan pola sistem yang telah ada dengan pola sistem yang telah dikembangkan oleh sektor swasta hanya dengan satu target agar mudah dipahami. Mengacu pada salah satu referensi sistem akuntansi misalnya dari Buku Sistem Akuntansi karangan Mulyadi, sebuah sistem akuntansi terdiri dari sistem akuntansi pokok dan sistem akuntansi di luar sistem akuntansi pokok.

Sistem akuntansi pokok mencakup formulir, jurnal dan buku besar. Dengan demikian, setiap sub sistem dari akuntansi pusat, mungkin Sistem Akuntansi Bendahara Umum dan Sistem Akuntansi Instansi termasuk segala sub sistem yang berkaitan harusnya disamakan persepsinya terlebih dahulu dalam hal formulir, jurnal dan buku besar. Dengan begitu, siapa pun pelaku sistem dan dimana pun bertugas dapat dengan mudah memahami konsep sistem tersebut.

Bukan hal mudah bagi pelaksana sistem di lingkungan pemerintah daerah untuk mencerna isi yang terkandung dalam Permendagri yang mengatur sistem akuntansi pemerintah. Belum lagi, ada kemungkinan penyusun Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat dan penyusun Pedoman Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah bisa jadi menafsirkan secara berbeda Standar Akuntanasi Pemerintahan.

Kemudian, sistem di luar pokok dapat mencakup karena entitas pemerintah bergerak dalam sektor jasa sistem akuntansi pendapatan dan piutang, sistem akuntansi biaya dan hutang, sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas, sistem akuntansi persediaan, sistem akuntansi aktiva tetap, dan tentunya dapat

ditambahkan sistem akuntansi belanja dan transfer. Hal yang ingin ditunjukkan oleh penulis bukan pada jenis sub sistem yang ada, tetapi hanya meletakkan pola kesisteman yang identik dengan pola kesisteman pada entitas swasta, agara supaya pemahaman atas standar dan implementasinya dilakukan dengan kerangka berpikir yang tidak jauh berbeda.

Akhirnya, implementasi standar akuntansi pemerintahan mensyaratkan adanya sinkronisasi antara praktek akuntansi pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah, mengingat acuan yang digunakan sama persis, yakni Standar Akuntansi Pemerintahan. Kedua penyusun sistem, Departemen Keuangan untuk pemerintah pusat dan Departemen Dalam Negeri untuk pemerintah daerah, haruslah memulai dengan langkah-langkah koordinasi dalam setiap proses pengembangan sistem, termasuk koordinasi dengan badan audit yakni Badan Pemeriksa Keuangan yang memang mempunyai wewenang untuk melaksanakan audit berdasar peraturan perundangan. Bila koordinasi dapat terjadi dengan efektif, Badan Pemeriksa Keuangan tidak akan mendapatkan laporan audit yang berbeda antara laporan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, mengingat keduanya harus diberikan opini yang didasarkan pada standar akuntansi yang sama.