Anda di halaman 1dari 35

BAB IV

PEMBORAN DAN PELEDAKAN


Kegiatan pembongkaran dilakukan dalam dua tahap, yaitu pemboran dan
peledakan. Adapun tujuan dari pada kegiatan pembongkaran yaitu untuk membebaskan
batuan dari batuan induknya dengan ukuran fragmentasi tertentu sehingga sesuai untuk
proses selanjutnya.
1. GEOMETRI PEMBORAN
Geometri pemboran meliputi diameter lubang bor, kedalaman lubang tembak,
kemiringan lubang tembak, tinggi jenjang, dan juga pola pemboran.
a. Diameter lubang tembak.
Di dalam menentukan diameter lubang tembak tergantung dari volume
massa batuan yang akan dibongkar, tinggi jenjang, tingkat fragmentasi yang
diinginkan, mesin bor yang dipergunakan, dan kapasitas alat muat yang akan
dipergunakan untuk kegiatan pemuatan material hasil pembongkaran..
Untuk diameter lubang tembak yang terlalu kecil, maka faktor energi yang
dihasilkan akan berkurang sehingga tidak cukup besar untuk membongkar batuan
yang akan diledakkan, sedang jika lubang tembak terlalu besar maka lubang tembak
tidak cukup untuk menghasilkan fragmentasi yang baik, terutama pada batuan yang
banyak terdapat kekar dengan jarak kerapatan yang tinggi. Ketika kekar membagi
burden dalam blok-blok yang besar, maka fragmentasi yang akan terjadi bila
masing-masing terjangkau oleh suatu lubang tembak. Hal seperti ini menghendaki
diameter lubang tembak yang kecil.
Diameter lubang tembak yang kecil juga memberikan patahan atau hancuran
yang lebih baik pada bagian atap jenjang. Hal ini berhubungan dengan stemming, di
mana lubang tembak yang besar maka panjang stemming juga akan semakin besar
dikarenakan untuk menghindari getaran dan batuan terbang, sedangkan jika
menggunakan lubang tembak yang kecil maka panjang stemming dapat dikurangi.
b. Kedalaman lubang tembak
IV-1
Kedalaman lubang tembak biasanya disesuaikan dengan tinggi jenjang yang
diterapkan. Dan untuk mendapatkan lantai jenjang yang rata maka hendaknya
kedalaman lubang tembak harus lebih besar dari tinggi jenjang, yang mana
kelebihan daripada kedalaman ini disebut dengan sub drilling.
c. Kemiringan lubang tembak (Arah pemboran)
Arah pemboran yang kita pelajari ada dua, yaitu arah pemboran tegak dan
arah pemboran miring. Arah penjajaran lubang bor pada jenjang harus sejajar untuk
menjamin keseragaman burden yang ingin didapatkan dan spasi dalam geometri
peledakan. Lubang tembak yang dibuat tegak, maka pada bagian lantai jenjang akan
menerima gelombang tekan yang besar, sehingga menimbulkan tonjolan pada lantai
jenjang, hal ini dikarenakan gelombang tekan sebagian akan dipantulkan pada
bidang bebas dan sebagian lagi akan diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang.
Sedangkan dalam pemakaian lubang tembak miring akan membentuk
bidang bebas yang lebih luas, sehingga akan mempermudah proses pecahnya batuan
karena gelombang tekan yang dipantulkan lebih besar dan gelombang tekan yang
diteruskan pada lantai jenjang lebih kecil (Gambar 1)
Adapun keuntungan dan kerugian dari masing-masing lubang adalah :
Untuk lubang tembak tegak (vertikal) adalah :
Keuntungannya :
Untuk tinggi jenjang yang sama panjang lubang ledak lebih pendek jika
dibandingkan dengan lubang ledak miring.
Kemungkinan terjadinya lontaran batuan lebih sedikit.
Lebih mudah dalam pengerjaannya.
Kerugiannya :
Penghancuran sepanjang lubang tidak merata
Fragmentasi yang dihasilkan kurang bagus terutama di daerah stemming.
Menimbulkan tonjolan-tonjolan pada lantai jenjang ( toe ).
Dapat menyebabkan retakan ke belakang jenjang ( backbreak ) dan getaran
tanah.
Untuk lubang tembak miring adalah :
Keuntungannya :
IV-2
Bidang bebas yang terbentuk semakin besar
Fragmentasi yang dihasilkan lebih bagus
Dapat mengurangi terjadinya backbreak dan permukaan jenjang yang dihasilkan
lebih rata.
Dapat mengurangi bahaya kelongsoran pada jenjang.
Kerugiannya :
Kesulitan untuk menempatkan sudut kemiringan yang sama antar lubang.
Biaya operasi semakin meningkat.
GAMBAR 1
PENGARUH ARAH LUBANG TEMBAK
d. Pola pemboran
Pola pemboran yang biasa diterapkan pada tambang terbuka biasanya
menggunakan dua macam pola pemboran yaitu :
Pola pemboran segi empat (square pattern)
Pola pemboran selang-seling (staggered)
IV-3
Pola pemboran segi empat adalah pola pemboran dengan penempatan
lubang-lubang tembak antara baris satu dengan baris berikutnya sejajar dan
membentuk segi empat ( Gambar 2). Pola pemboran segi empat yang mana
panjang burden dengan panjang spasi tidak sama besar disebut square rectangular
pattern (Gambar3). Sedangkan pola pemboran selang-seling adalah pola pemboran
yang penempatan lubang ledak pada baris yang berurutan tidak saling sejajar
(Gambar 4), dan untuk pola pemboran selang-seling yang mana panjang burden
tidak sama dengan panjang spasi disebut staggered rectangular pattern (Gambar 5).
Dalam penerapannya, pola pemboran sejajar adalah pola yang umum,
karena lebih mudah dalam pengerjaannya tetapi kurang bagus untuk meningkatkan
mutu fragmentasi yang diinginkan, maka penggunaan pola pemboran selang-seling
lebih efektif.
Bidang Bebas
B
S Baris 1

Baris 2
Baris 3
Baris 4
S = B
GAMBAR 2.
POLA PEMBORAN SEGIEMPAT (SQUARE PATTERN)
IV-4
Bidang Bebas
Baris 1
Baris 2
Baris 3
Baris 4
S B
GAMBAR 3.
POLA PEMBORAN SEGI EMPAT (SQUARE RECTANGULER PATTERN)
Bidang Bebas
B
Baris 1
S
Baris 2
Baris 3
Baris 4
S = B
GAMBAR 4.
POLA PEMBORAN SELANG-SELING (STAGGERED SQUARE PATTERN)
IV-5
Bidang Bebas
Baris 1
Baris 2
Baris 3
Baris 4
S B
GAMBAR 5.
POLA PEMBORAN SELANG-SELING (STAGGERED RECTANGULER PATTERN)
2. GEOMETRI PELEDAKAN
Geometri peledakan yang akan mempengaruhi tingkat fragmentasi batuan
dapat dinyatakan seperti pada (gambar 6). Sedangkan geometri peledakan terdiri dari:
a. Burden (B)
Burden adalah jarak dari lubang tembak dengan bidang bebas yang terdekat,
dan arah di mana perpindahan akan terjadi. Pada daerah ini energi ledakan adalah
yang terkuat dan yang pertama kali bereaksi pada bidang bebas. Jarak burden yang
baik adalah jarak yang memungkinkan energi secara maksimal dapat bergerak
keluar dari kolom isian menuju bidang bebas dan dipantulkan kembali dengan
kekuatan yang cukup untuk melampaui kuat tarik batuan sehingga akan terjadi
penghancuran.
Nilai burden yang optimum akan menghasilkan fragmentasi yang sesuai dan
perpindahan dari pecahan batuan sesuai dengan yang diinginkan. Jarak burden yang
terlalu kecil dapat menyebabkan terjadinya batuan terbang dan suara yang keras.
Sedangkan jarak burden yang terlalu besar akan menghasilkan fragmentasi yang
kurang baik, dan akan menyebabkan batuan di sekitar burden tidak akan hancur.
Menurut R.L. Ash, harga burden tergantung pada harga burden ratio dan diameter
lubang bor. Besarnya burden ratio antara 20 40 dengan harga Ks standard adalah
30. Sedangkan harga Ks standard sebesar 30 terjadi pada kondisi sebagai berikut :
IV-6
Densitas batuan = 160 lb/cuft
Specific gravity bahan peledak = 1,20
Kecepatan detonasi bahan peledak = 12.000 fps
Pada kondisi batuan yang berbeda dan penggunaan bahan peledak yang
berbeda, maka harga Ks turut berubah. Untuk mengatasi perubahan angka Ks perlu
dihitung terlebih dahulu harga faktor penyesuaian pada kondisi batuan dan bahan
peledak yang berbeda
1. Faktor penyesuaian terhadap bahan peledak (AF
1
) adalah :
Af
1
=
3 / 1
2
2
.
.
1
]
1

Vestd SGstd
Ve SG
Di mana :
SG = berat jenis bahan peledak yang digunakan
Ve = kecepatan detonasi bahan peledak yang digunakan
SG
std
= berat jenis bahan peledak standard, 1,20.
Ve
std
= kecepatan detonasi bahan peledak standard, 12.000 fps.
2. Faktor penyesuaian terhadap batuan (AF
2
) adalah :
Af
2
=
3 / 1
1
]
1

D
Dstd
Di mana
D
std
= kerapatan batuan standard, 160 lb/cuft
D = kerapatan batuan yang diledakkan
Sehingga harga Kb yang terkoreksi adalah :
Kb = Kb
standard
x Af
1
x Af
2
Di mana :
Kb = burden ratio yang telah dikoreksi
Kb
std
= burden ratio standard
Untuk menentukan burden, maka menggunakan rumus :
Kb x De
B = meter
12
IV-7
Di mana :
B = burden
Kb = burden ratio
De = diameter lubang tembak, inchi
12 = faktor perubah kedalam satuan meter
b. Spasi (S)
Spasi dapat diartikan sebagai jarak terdekat antara antara dua lubang tembak
yang berdekatan dalam satu baris. Yang perlu diperhatikan dalam memperkirakan
spasi adalah apakah ada interaksi di antara isian yang saling berdekatan. Besar spasi
dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
S = B x Ks
Di mana :
S = spasi, meter.
B = burden, meter.
Ks = spacing ratio
Hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan spasi yaitu apakah ada
interaksi antar muatan yang berdekatan. Bila masing-masing lubang tembak
diledakkan sendiri-sendiri, dengan interval waktu yang panjang, maka tidak akan
terjadi interaksi gelombang energi antar muatan yang berdekatan sehingga
memungkinkan setiap lubang tembak akan meledak dengan sempurna. Jika interval
waktu diperpendek atau lubang tembak diledakkan secara serentak akan terjadi efek
ledakan yang kompleks.
Besar Ks menurut interval waktu yang dipergunakan adalah :
long interval delay Ks = 1
short interval delay Ks = 1 2
normal Ks = 1,2 1,8
Berdasarkan cara urutan peledakannya penentuan spasi adalah sebagai berikut
6)
:
Untuk pola peledakan serentak maka S = 2B
Untuk pola peledakan beruntun dengan delay interval lama maka S = B
Untuk pola peledakan dengan ms delay, maka S antara 1B sampai 2B
IV-8
Jika terdapat kekar yang tidak saling tegak lurus, maka S antara 1,2B sampai
1,8B
c. Stemming (T)
Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang bor di atas kolom
isian bahan peledak. Fungsi stemming adalah agar terjadi stress balance dan untuk
mengurung gas-gas hasil ledakan agar dapat menekan batuan dengan kekuatan yang
besar. Sedangkan di dalam penggunaan stemming yang perlu diperhatikan adalah
panjang stemming dan ukuran material stemming.
Panjang stemming
Stemming yang pendek dapat menyebabkan pecahnya batuan pada bagian atas,
tapi mengurangi fragmentasi keseluruhan karena gas hasil ledakan menuju
atmosfir dengan mudah dan cepat, juga akan menyebabkan terjadinya flyrock,
overbreak pada bagian permukaan dan juga akan menimbulkan airblast. Panjang
stemming dapat ditentukan dengan menggunakan rumus :
T = B x Kt
dimana :
T = stemming, meter
Kt = stemming ratio (0,75 1,00)
Ukuran material stemming
Ukuran material stemming sangat berpengaruh terhadap hasil peledakan, apabila
bahan stemming terdiri dari butiran-butiran halus hasil pemboran, kurang
memiliki gaya gesek terhadap lubang tembak sehingga udara yang bertekanan
tinggi akan dengan mudah mendorong material stemming tersebut, sehingga
energi yang seharusnya untuk menghancurkan batuan, banyak yang hilang keluar
melalui lubang stemming.
Untuk mencegahnya maka digunakan bahan yang berbutir kasar dan keras.
Bahan ini mempunyai karakteristik sebagai berikut :
o Mempunyai bentuk susunan butir yang saling berkait dengan kuat.
o Membentuk sambungan pasak dengan dinding lubang tembak, sehingga
mencegah keluarnya gas secara prematur.
IV-9
Adapun persamaan yang digunakan untuk menentukan ukuran material
stemming optimum
7)
adalah sebagai berikut :
Sz = 0,05 Dh
dimana :
Sz = ukuran material stemming optimum
Dh = diameter lubang tembak
d. Sub drilling (J)
Subdrilling adalah tambahan kedalaman dari lubang bor di bawah lantai
jenjang yang dibuat agar jenjang yang dihasilkan sebatas dengan lantainya dan
lantai yang dihasilkan rata. Bila jarak subdrilling terlalu besar maka akan
menghasilkan efek getaran tanah, sebaliknya bila subdrilling terlalu kecil maka
akan mengakibatkan problem tonjolan pada lantai jenjang (toe) karena batuan tidak
akan terpotong sebatas lantai jenjangnya. Panjang subdrilling dapat ditentukan
dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
J = B x Kj
di mana :
J = subdrilling, meter
Kj = subdrilling ratio (0,2 0,3)
e. Tinggi jenjang (L)
Secara spesifik tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh peralatan lubang
bor dan alat muat yang tersedia. Tinggi jenjang berpengaruh terhadap hasil
peledakan seperti fragmentasi batuan, ledakan udara, batu terbang, dan getaran
tanah. Penentuan ukuran tinggi jenjang berdasarkan pada stiffness ratio. Rumus
yang digunakan adalah :
L = 5 x De
Di mana,
L = Tinggi Jenjang minimum
De = Diameter lubang ledak
f. Kedalaman lubang tembak (H)
IV-10
Kedalaman lubang tembak biasanya ditentukan berdasarkan kapasitas
produksi yang diinginkan dan kapasitas dari alat muat. Sedangkan untuk
menentukan kedalaman lubang tembak dapat digunakan rumus sebagai berikut :
H = Kh x B
dimana :
H = kedalaman lubang tembak, meter
Kh = Hole depth ratio (1,5 4,0)
g. Kolom isian (PC)
Panjang kolom isian dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
PC = H T
dimana :
PC = panjang kolom isian, meter
H = kedalaman lubang tembak, meter
T = stemming, meter
Keterangan :
B = Burden
S S = Spasi
T = Stemming
B T PC = Kolom isian
J = Sub Drilling
L PC H = Kedalaman
H lubang tembak
L = Tinggi jenjang
J P = Primer
P
GAMBAR 7
GEOMETRI PELEDAKAN MENURUT R.L.ASH
3)
3. POLA PELEDAKAN
IV-11
Pola peledakan merupakan urut-urutan waktu peledakan antara lubang tembak
dalam satu baris dan antara satu dengan yang lainnya. Pola peledakan ditentukan
tergantung arah mana pergerakan material yang diharapkan. (Gambar 3.7)
Setiap baris lubang tembak yang akan diledakkan harus memiliki ruang yang
cukup di muka bidang bebas yang sejajar dengan lubang tembak untuk terdesak,
pecah, mengembang dan tidak terlontar keatas. Adapun macam-macam pola peledakan
adalah sebagai berikut :
Pola peledakan di mana lubang-lubang tembak diledakkan dengan waktu
penundaan atau beruntun dalam satu baris.
Pola peledakan serentak dalam satu baris dan beruntun antara baris satu
dengan baris yang lain.
Bidang bebas

1

2

2

2

2

2

3
Pola peledakan tunda antar baris dan serentak dalam satu baris
Bidang bebas

3

2

1

0

1

2

3

4

3

2

1

2

3

4

5

4

3

2

3

4

5
Pola peledakan tunda dalam satu baris
GAMBAR 7.
POLA PELEDAKAN
IV-12
Menurut R.L. Ash dengan adanya tiga bidang bebas, kuat tarik batuan dapat
dikurangi sehingga akan dapat meningkatkan jumlah retakan dengan syarat lokasi dua
bidang bebasnya mempunyai jarak yang sama terhadap lubang tembak.
a. Waktu tunda
Pemakaian delay detonator sebagai waktu tunda untuk peledakan secara
beruntun. Keuntungan dari peledakan dengan memakai delay detonator adalah :
Dapat menghasilkan fragmentasi yang lebih baik
Dapat mengurangi timbulnya getaran tanah
Dapat menyediakan bidang bebas untuk baris berikutnya.
Bila waktu tunda antar baris terlalu pendek maka beban muatan pada baris
depan menghalangi pergeseran baris berikutnya, material pada baris kedua akan
tersembur kearah vertikal dan membentuk tumpukan. Tetapi bila waktu tundanya
terlalu lama, maka produk hasil bongkaran akan terlempar jauh kedepan serta
kemungkinan besar akan mengakibatkan flyrock. Hal ini disebabkan karena tidak
ada dinding batuan yang berfungsi sebagai penahan lemparan batuan di
belakangnya.
Untuk menentukan interval tunda antar baris tidak kurang dari 2 ms/ft dan
tidak lebih dari 6 ms/ft dari ukuran burden. Persamaan di bawah ini dapat
digunakan untuk menentukan besarnya interval waktu antar baris.
tr = Tr x B
Di mana :
tr = interval waktu antar baris, ms
Tr = konstanta waktu antar baris (Tabel 3.1)
B = burden, m
Tabel I
Interval Waktu Antar Baris
7)
Tr Constant (ms / m ) Result
7 Violent excessive airblast, backbreak, etc.
7 10 High pile close to face, moderate airblast, backbreak
10 20 Average pile height, average airblast and backbreak.
20 23 Scattered pile with minimum backbreak.
23 42 Blast casting
IV-13
b. Pengisian bahan peledak
Fragmentasi batuan sangat tergantung pada jumlah bahan peledak yang
digunakan. Powder factor adalah suatu bilangan yang menyatakan berat bahan
peledak yang digunakan untuk menghancurkan batuan (kg/m
3
). Nilai powder factor
sangat dipengaruhi oleh jumlah bidang bebas, geometri peledakan, pola peledakan,
dan struktur geologi.
Bila pengisian ANFO terlalu banyak maka jarak stemming semakin kecil
sehingga akan mengakibatkan terjadinya flyrock dan airblast, sedang bila pengisian
ANFO kurang maka jarak stemming semakin besar sehingga akan menyebabkan
boulder dan backbreak di sekitar dinding jenjang.
Untuk mendapatkan powder factor, lebih dulu mengetahui jumlah bahan
peledak yang akan digunakan untuk setiap lubang tembak.
1. Loading density dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
de = 0,508 De
2
(SG)
dimana :
de = loading density, kg/m
De = diameter lubang tembak, inchi.
SG = berat jenis bahan peledak yang digunakan.
2. Jumlah bahan peledak yang digunakan dihitung menggunakan rumus :
E = de Pc N
Di mana :
de = loading density, kg / m.
Pc = panjang muatan/ panjang kolom isian lubang tembak, m.
N = jumlah lubang tembak.
E = jumlah bahan peledak yang digunakan, kg.
c. Powder Factor dan Volume Setara
Powder factor (Pf) adalah suatu bilangan untuk menyatakan jumlah material
yang diledakkan atau dibongkar oleh bahan peledak dalam jumlah tertentu, dapat
dinyatakan dalam ton/kg atau kg/ton. Untuk menghitung powder factor harus
diketahui luas daerah yang diledakkan (A), tinggi jenjang (L), panjang muatan dari
IV-14
seluruh lubang ledak (Pc), loading density (de), dan densitas batuan (dr). Rumus
untuk menentukan powder factor adalah :
Pf = W / E
dimana :
Pf = powder factor, ton / kg.
W = jumlah batuan yang diledakkan, ton.
E = jumlah bahan peledak yang digunakan, kg.
Sedangkan jumlah batuan yang diledakkan dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
W = A L dr
Di mana :
A = luas batuan yang akan diledakkan, m
3
.
L = tinggi jenjang, meter.
dr = densitas batuan, ton / m
3
.
Volume setara adalah suatu angka yang menyatakan setiap meter atau feet
pemboran setara dengan sejumlah volume material atau batuan yang diledakkan,
yang dinyatakan dalam m
3
/meter, cuft/ft, atau ton.meter, ton/ft. Volume setara
sangat berguna untuk memperkirakan kemampuan dari alat bor yang digunakan
untuk membuat lubang tembak. Volume setara dihitung dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :
Veq =
H n
L A

dimana :
Veq = volume setara, m
3
/m
A = luas daerah yang akan diledakkan, m
2
L = tinggi jenjang, m
n = jumlah lubang tembak dalam pola peledakan
H = kedalaman lubang tembak, m
W = batuan yang akan diledakkan
IV-15
Tabel III
Harga Powder Factor untuk beberapa jenis batuan
4)
Type of Rock Powder Factor (kg/m
3
)
Massive high strength rocks 0,6 1,5
Medium strength rock 0,3 0,6
Highly fissured rocks, weathered or soft 0,1 0,3
d. Arah peledakan
Dalam suatu operasi peledakan, maka fragmentasi batuan yang dihasilkan
akan dipengaruhi oleh arah peledakannya. Sedangkan arah peledakan dipengaruhi
oleh struktur batuan yang ada. Struktur batuan yang banyak dijumpai di lapangan
biasanya adalah kekar.
Perambatan gelombang energi pada struktur batuan yang mengandung kekar
sebagian dipantulkan dan sebagian diteruskan. Dengan demikian energi yang
digunakan untuk memecah batuan akan berkurang sehingga fragmentasi batuan
akan menjadi tidak seragam.
Menurut R.L. Ash arah peledakan yang baik untuk menghasilkan
fragmentasi yang seragam yaitu arah peledakan menuju sudut tumpul yang
merupakan perpotongan antara arah umum, dengan demikian penggunaan energi
bahan peledak akan lebih baik karena tidak terjadi penerobosan energi. (Gambar 8)
Apabila arah penerobosan menuju kearah sudut runcing maka akan terjadi
penerobosan energi peledakan dari bahan peledak yang melalui rekahan-rekahan
yang ada. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya pengurangan energi peledakan
untuk menghancurkan batuan, sebagai akibatnya akan terbentuk fragmentasi yang
berbentuk blok-blok
IV-16
Arah Peledakan
Free face




= Arah peledakan menuju sudut tumpul
GAMBAR 8
ARAH PELEDAKAN MENUJU SUDUT TUMPUL
e. Fragmentasi Batuan
Fragmentasi hasil peledakan merupakan salah satu petunjuk untuk dapat
mengetahui keberhasilan dari suatu peledakan selain powder factor. Karena apabila
dalam suatu peledakan, powder factor tercapai tetapi tidak menghasilkan ukuran
fragmentasi yang diinginkan, maka peledakan tersebut belum bisa dikatakan berhasil.
Berdasarkan KUZNETZOV, 1973, ukuran fragmentasi, TNT, dan struktur
geologi batuan dapat digunakan untuk mencari powder factor. Dalam percobaannya
pada batuan di Kimberlite dengan berbagai ukuran diameter lubang tembak, pola
peledakan dan kecermatan pemboran. Persamaannya sebagai berikut :
X = A .
63 , 0
167 , 0
8 , 0
115

,
_

,
_

E
Q
Q
V
Di mana :
X = ukuran rata-rata fragmentasi batuan, cm
A = faktor batuan (lampiran P)
V = volume batuan yang terbongkar, m
3
IV-17
Q = berat bahan peledak tiap lubang ledak, kg
E = relatif weight strenght (ANFO = 100)
Didalam persamaan yang dikemukakan oleh KUZNETZOV (1973), yang
dimodifikasi oleh CUNNINGHAM (1983), ada batasan-batasan yang harus
diperhatikan. Adapun batasan-batasan tersebut sebagai berikut :
1. Penerapan nisbah S/B untuk pemboran, tanpa ada waktu tunda tidak boleh
lebih dari dua.
2. Penyalaan dan pengaturan waktu tunda peledakan harus disusun sedemikian
rupa, sehingga upaya untuk mendapatkan hasil peledakan (fragmentasi) yang baik,
dan tidak terjadi misfire.
3. Bahan peledak harus menghasilkan energi yang cukup serta dalam
perhitungan menggunakan relative weight strength.
4. Perlu dilakukannya penyelidikan terhadap bidang ketidakmenerusan secara
teliti. Hal ini disebabkan karena tingkat fragmentasi sangat tergantung pada bidang
ketidakmenerusan, khususnya pada bidang ketidakmenerusan yang lebih rapat
dibandingkan dengan pola pemborannya.
Dalam berbagai penerapan yang lebih luas, persamaan KUZNETZOV (1973),
membuktikan sebagai metode yang mudah dan cukup realistis untuk dipakai di industri
pertambangan dengan berbagai perubahan ukuran lubang tembak dan jenis bahan
peledak. Ukuran rata-rata fragmentasi itu sendiri tidak cukup, sehingga perlu
kemampuan untuk memperoleh secara perkiraan kasar suatu kisaran untuk fragmentasi
yang dibutuhkan tanpa menjalankan program analisis pecah. Kurva ROSIN
RAMMLER secara umum telah diakui sebagai rujukan penggambaran tingkat
fragmentasi batuan hasil peledakan. Suatu titik pada kurva tersebut, yaitu ukuran mesh
dengan 50% kelolosan diberikan oleh persamaan KUZNETZOV (1973). Faktor-faktor
yang diperlukan untuk menentukan kurva ROSIN RAMMLER adalah eksponen n
dalam persamaan :
Xc =
n
x
/ 1
) 693 , 0 (
R = e
- (x / Xc)n
Di mana :
R = perbandingan dari material yang tertinggal pada ayakan.
IV-18
x = ukuran ayakan, mesh
Xc = x / (0,693)
1/ n
n = indeks keseragaman
Untuk mendapatkan nilai tersebut, hasil perhitungan dengan persamaan
LOWNDS yang dianalisis dan digambarkan berdasarkan persamaan regresinya dan
nilai n sangat tergantung pada ketepatan pemboran, nisbah burden dan ukuran
lubang tembak, pola pemboran, nisbah spasi dan burden serta nisbah panjang isian dan
tinggi jenjang.
n = ( 2,2 14 B / d ) ( 1 W / B ) ( 1 + ((S / b ) 1 ) / 2 ) L / H
dimana :
d = diameter isian (mm)
B = burden (mm)
W = standar deviasi pemboran (m)
S = spacing (m)
H = tinggi jenjang
Peledakan dikatakan berhasil apabila banyaknya batuan hasil peledakan
(fragmentasi) lebih besar dari batuan hasil peledakan yang berupa bongkahan
(boulder), dimana jumlah bongkah batuan yang dihasilkan harus dibawah 15 %. (Mc.
Gregor, 1967).
Sedangkan didalam perhitungan tingkat fragmentasi dilapangan, dapat
dilakukan dengan beberapa metode perhitungan, yang antara lain adalah, sebagai
berikut ( Jimeno C.L 1987) :
1. Metode photography
2. Metode photogrametry
3. Metode photography berkecepatan tinggi
4. Analisa produktifitas alat muat alat angkut
5. Analisa volume material pada pemecahan ulang
6. Analisa visual komputer
7. Analisa kenampakan kuantitatif
8. Analisa ayakan
IV-19
9. Analisa produktifitas alat peremuk
Untuk pengukuran fragmentasi hasil peledakan, dilakukan dengan analisa
produktivitas alat muat dan alat angkut, dengan cara sebagai berikut :
Wp
Fr = x 100%
Wi
Di mana :
Fr = tingkat fragmentasi batuan hasil peledakan < 80 cm
Wp = berat batuan yang berukuran < 80 cm dalam satu kali peledakan (ton)
Wi = berat keseluruhan batuan yang diledakkan (ton)
Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut :
1. Mengukur volume batuan hasil peledakan yang berukuran kurang dari 80 cm (Wp).
Hal ini dilakukan dengan cara batuan yang lebih kecil dari 80 cm kemudian
diangkut ke dump truck menuju ke unit peremuk batuan. Sedangkan untuk batuan
yang lebih dari 80 cm atau bongkah batuan dipisahkan untuk dilakukan pemecahan
ulang dengan menggunakan rock breaker. Berat batuan yang masuk yang masuk ke
unit peremuk batuan, dihitung dengan mengalikan jumlah rit pengangkutan, dan
berat rata-rata muatan truk.
2. Mengukur volume batuan yang diledakkan (Wi)
3. Tingkat fragmentasi batuan.
Dari pengukuran tersebut di atas maka volume batuan yang tidak dapat
diangkut oleh alat muat dan alat angkut, maka dianggap sebagai bongkah batuan
(boulder). Boulder tersebut kemudian dikumpulkan pada suatu tempat kemudian
dilakukan pemecahan ulang dengan menggunakan rock breaker. Kemudian batuan
tersebut setelah di breaker dan mempunyai ukuran kurang dari 80 cm, maka bisa
diangkut oleh dump truck menuju ke unit peremuk, kemudian dilakukan pencatatan
berapa kali dump truck tersebut melakukan pengangkutan terhadap batuan hasil
pemecahan ulang.
4. ARAH PEMBORAN TERHADAP STRUKTUR BATUAN
Struktur geologi yang banyak dijumpai baik pada batuan beku, batuan sedimen,
maupun batuan metamorf adalah kekar. Kekar adalah suatu rekahan pada batuan yang
IV-20
tidak mengalami pergeseran pada bidang rekahan dan merupakan bidang lemah.
Rangkaian bidang kekar biasanya sejajar dengan jurus dan kemiringan formasi batuan.
Dalam suatu operasi peledakan, maka fragmentasi batuan yang dihasilkan akan
dipengaruhi oleh arah peledakannya. Sedangkan arah peledakan dipengaruhi oleh
struktur batuan yang ada. Menurut Stig O. Olofson, arah penempatan lubang tembak
ada dua macam, yaitu :
a. Bila peledakan dilakukan searah dengan kemiringan bidang perlapisan (dip) maka
kemungkinan yang akan terjadi adalah :
Timbulnya backbreak yang lebih banyak
Pemakaian energi bahan peledak lebih baik, karena kemiringan perlapisan
searah dengan bidang runtuhan.
Pergeseran batuan dari face lebih mudah dan banyak, sehingga dihasilkan
tumpukan material yang lebih rendah.
Lantai jenjang lebih rata.
Fragmentasi dapat sesuai dengan yang diharapkan.
b. Bila peledakan dilakukan berlawanan dengan kemiringan bidang perlapisan (dip)
maka kemungkinan yang akan terjadi adalah :
Kemungkinan timbulnya backbreak lebih kecil.
Kemungkinan timbulnya toe lebih besar.
Pergeseran batuan dari face lebih sulit dan sedikit sehingga dihasilkan
tumpukan material yang lebih tinggi.
Lantai jenjang lebih kasar.
Fragmentasi dapat berubah-ubah dan sangat tergantung pada susunan dari
perlapisan
IV-21
GAMBAR 9
ARAH LUBANG TEMBAK SEARAH DENGAN DIP

GAMBAR 10
ARAH LUBANG TEMBAK BERLAWANAN DENGAN DIP
IV-22
PERENCANAAN PEMBORAN
Kegiatan pemboran merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk membuat
lubang tembak pada aktivitas peledakan.
a. Alat bor
Pembuatan lubang tembak direncanakan dengan menggunakan alat bor jenis PCR 200
merk furukawa (gambar) sebanyak 1 buah dan kompressor model Airman PDS-655
sebanyak 1 buah. Sistem pemboran dari alat bor yang digunakan adalah dengan cara
putar tumbuk.Diameter lubang yang dibuat sebesar 3 inch sedangkan untuk batang
bor digunakan batang bor dengan panjang masing-masing batang 3 meter.
b. Arah pemboran dan pola pemboran
Arah pemboran yang direncanakan sesuai dengan kondisi lapangan adalah arah
vertikal dengan kedalaman maksimal 6 meter, sedangkan pola pemboran yang
digunakan adalah pola pemboran selang-seling (staggered pattern)
c. Kecepatan pemboran
Kecepatan pemboran adalah besaran yang menyatakan kedalaman pemboran yang
dicapai setiap menit.Untuk mengetahui kecepatan pemboran pada alat bor yang
digunakan maka kita harus mengetahui terlebih dahulu waktu yang dibutuhkan oleh
alat bor untuk membuat satu lubang tembak pada kedalaman tertentu (Cycle Time).
d. Waktu edar pemboran
Waktu edar pemboran adalah waktu yang dibutuhkan oleh alat bor untuk melakukan
serangkaian kegiatan pemboran satu lubang bor. Alat bor yang diteliti menggunakan
dua batang bor, sehingga berdasarkan siklus kerja alat bor dilapangan, waktu daur
pemboran dihitung dengan menjumlahkan setiap bagian waktu dari bagian-bagian
gerakan saat pemboran, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ct = Pt + Bt
1
+ St
1
+St
2
+ Bt
2
+ Dt
Dimana :
Ct = Waktu edar pemboran, detik
Pt = Waktu pindah posisi, detik
Bt
1,2
=Waktu pengeboran, detik
St
12
= Waktu untuk menyambung batang bor, detik
Dt = Waktu mengatasi hambatan, detik
IV-23
TABEL 3
WAKTU EDAR PEMBORAN
No Pt Bt 1 St 1 Bt 2 St 2 Dt
Total
CT
1 32.59 44.00 36.85 64.00 31.73 65.75 274.92
2 28.07 47.00 40.34 58.00 32.43 - 205.84
3 60.19 49.00 30.71 66.00 31.75 - 237.65
4 63.24 51.00 42.11 60.00 34.65 - 251.00
5 58.66 55.00 32.84 63.00 33.51 - 243.01
6 20.12 40.00 41.56 63.00 30.98 - 195.66
7 11.82 58.00 32.60 57.00 30.06 - 189.48
8 12.45 55.00 34.37 66.00 32.53 23.97 224.32
9 46.17 59.00 44.03 52.00 33.21 59.96 294.37
10 25.22 57.00 36.22 68.00 32.84 - 219.28
11 29.13 56.00 38.48 67.00 31.47 - 222.08
12 21.92 55.00 36.55 68.00 32.83 19.84 234.14
13 46.37 59.00 38.40 53.00 31.47 - 228.24
14 17.65 56.00 34.75 59.00 29.87 - 197.27
15 23.47 60.00 37.81 59.00 30.12 - 210.40
16 19.35 62.00 39.23 60.00 33.47 - 214.05
17 20.76 55.00 31.03 70.00 31.35 - 208.14
18 23.47 58.00 43.18 61.00 37.44 - 223.09
19 25.19 53.00 39.44 69.00 39.34 47.64 273.61
20 43.41 50.00 41.81 67.00 30.53 - 232.75
a. Perhitungan kelas (K)
Jumlah kelas = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 20
= 1 + 4,29
= 5,29
= 6 (dibulatkan)
b. Cyle time rata rata
Nilai interval kelas= X Max X min
K
= 294.37 189.48
6
= 17.48 detik
= 18 detik
IV-24
No Interval Xi Fi Xi x Fi
1
189 -
207 198 4 792
2
208 -
226 217 7 1519
3
227 -
245 236 5 1180
4
246 -
264 255 1 255
5
265 -
283 274 2 548
6
284 -
302 293 1 293
Jumlah 20 4587
Cycle Time rata rata untuk 1 lubang = 4587 / 20
= 229,35 detik
= 3,82 menit
Maka kecepatan pemboran adalah = 6 meter / 3,82 menit
= 1,57 m / menit
e. Efisiensi Pemboran
Waktu kerja produktif = waktu kerja tersedia waktu kerja tidak produktif
= 600 145 menit
= 455 menit
Maka efisiensi alat bor = 455 / 600 * 100 %
= 76 %
f. Produksi alat bor
Produksi mesin bor tergantung kecepatan pemboran, mesin bor, volume setara,
dan penggunaan efektif mesin bor. Produksi mesin bor dinyatakan dalam m
3
/jam.
Maka persamaan produksi mesin bor adalah :
P = Dr x Veq x EK x 60
Dimana :
P = Produksi mesin bor, m
3
/jam
Dr = Kecepatan pemboran, m/menit
IV-25
Veq = Volume setara, m
3
/m
EK = Efesiensi waktu pemboran, %
1. Kecepatan pemboran (Dr)
Kecepatan pemboran (Dr) adalah nilai yang menayatakan kedalaman pemboran
yang dicapai untuk setiap satuan waktu tertentu. Untuk menghitung kecepatan
pemboran digunakan persamaan sebagai beikut :
CT
H
Dr
dimana :
Dr = Kecepatan pemboran, m/menit
H = Kedalaman lubang bor yang ditempuh, meter
CT = Waktu edar pemboran, menit
2. Volume setara (Veq)
Volume serata (Veq) merupakan besarnya volume batuan yang terbongkar
karena peledakan untuk setiap meter kedalaman lubang ledak yang dinyatakan
dalam m
3
/m. Volume setara dapat dihitumg dengan persamaan :
H x N
V
Veq
dimana :
Veq = Volume setara, m
3
/m
V = Volume batuan yang diledakkan, m
3
N = Kedalaman lubang ledak, meter
H = Jumlah lubang ledak dalam satu kali peledakan
Secara umum volume batuan yang diledakkan (V) dapat dihitung menggunakan
persamaan sebagai berikut :
V = A x L x dr
Dimana :
IV-26
V = Volume batuan yang diledakkan, m
3
A = Luas daerah yang diledakkan, m
2
L = Tinggi jenjang, meter, (6.3 meter)
dr = Densitas batuan, ton/m
3
Luas daerah yang diledakkan adalah :
A = P x L
Dimana :
A = Luas daerah yang diledakkan, m
2
P = Panjang jenjang yang diledakkan, meter
= 22 lubang bor x jarak antara spasi lubang bor
= 22 lubang bor x 4 meter
= 88 meter
L = Lebar jenjang yang diledakkan
= Jumlah burden x jarak antar burden
= 1 buah x 2.5 meter
= 2.5 meter
Sehingga luas daerah yang diledakkan adalah :
A = P x L
= 88 meter x 2.5 meter
= 220 m
2
dengan demikian maka dapat dihitung harga dari Volume batuan yang diledakkan
V = A x L x dr
V = 220 m
2
x 6.75 m x 1.95
= 2895.75 m
3
sehingga dapat dihitung volume setara :
IV-27
m m
m x
m
H x N
V
Veq
/ 875 . 4
75 . 6 88
75 . 2895
3
3

3. Produksi Pemboran
Dari perhitungan diatas, maka dapat dihitung produksi mesin bor :
Untuk produksi mesin bor tipe PCR 200
P = Vt x Veq x EK x 60
= 1,57 meter/menit x 4.87 m
3
/m x 76 % x 60
= 348,65 m
3
/jam
PERENCANAAN PELEDAKAN OVERBUDEN
Dengan asumsi 4 kali peledakan selama satu bulan (1 kali seminggu), maka
volume batuan yang harus diledakkan untuk 1 kali peledakan adalah sebagai berikut:
Perhitungan Geometri Peledakan Menurut Teori R.L. Ash
IV-28
Data-data diketahui :
1. Density overburden, kurang lebih 70 % merupakan sandstone/batu pasir dengan
density = 2200 3250 lb/cuyd. Maka dapat diasumsikan harga density yang paling
tinggi yaitu 3250 lb/cuyd = 120 lb/cuft agar didapat hasil yang paling baik.
2. Diameter lubang ledak = 3 inch
3. ANFO
a. Specific Gravity = 0,85
b. Velocity of Detonation = 11.803 Fps
Oleh karena density overburden, specific gravity bahan peledak dan Velociy of
Detonation bahan peledak tidak sama dengan standar, maka perlu disesuaikan dengan
menggunakan Adjustment Factor, yaitu AF
1
dan AF
2
untuk menghitung Kb terkoreksi.
Berdasarkan parameter-parameter di atas maka Adjusment Factor untuk bahan peledak
ANFO dan overburden adalah :
Adjusment Factor terhadap Bahan Peledak (AF
1
)
Adjusment Factor terhadap densitas batuan (AF
2
)
Maka,
Geometri Peledakan
1. Burden (B)
IV-29
Maka jika dibandingkan dengan diameter lubang, burden dapat diambil 2,5 meter.
2. Spasi (S)
Dimana nlai Ks untuk detonator jenis ms delay = 1,0 2,0
a. Alternatif 1
Harga Ks ditetapkan sebesar 1,2 sehingga :
b. Alternatif 2
Harga Ks ditetapkan sebesar 1,4 sehingga :
c. Alternatif 3
Harga Ks ditetapkan sebesar 1,6 sehingga :
3. Stemming (T)
Di mana Kt = 0,5 1,0
a. Alternatif 1
Harga Kt ditetapkan sebesar 0,5
b. Alternatif 2
Harga Kt ditetapkan sebesar 0.75
c. Alternatif 3
Harga Kt ditetapkan sebesar 1.0
IV-30
4. Tinggi Jenjang (L)
Tinggi jenjang digunakan dalam perhitungangeometri peledakan ini berdasarkan
pada jangkauan Excavator Back Hoe dan kemampuan alat bor yang digunakan.
Dalam hal ini tinggi jenjang yang disarankan 6 meter.
5. Subdrilling (J)
Di mana nilai Kj = 0,2 0,3
Besarnya nilai KJ yang ditetapkan untuk mendapatkan fragmentasi yang baik pada
material sandstone ini adalh sebesar 0,3. Sehingga,
6. Kedalaman Lubang Tembak (H)
Dimana
L = Tinggi Jenjang nilainya sebesar 6 meter
J = Subdrilling nilainya sebesar 0,75 meter
Maka :
7. Kolom Isian Bahan Peledak (PC)
a. Alternatif 1
b. Alternatif 2
c. Alternatif 3
= 4.25 meter
8. Jumlah Lubang Ledak
Diketahui target produksi blasting untuk tahun 2007 adalah sebesar 2500 BCM
untuk sekali peledakan. Sehingga jumlah lubang ledak yang dibutuhkan (dalam hal
ini pola peledakan yang digunakan adalah Box Cut) dicari dengan persamaan :
IV-31
Dimana;
P
min
= Panjang jenjang Minimum (meter)
n = Jumlah baris dalam sekali peledakan (direncanakan 4 baris)
B = Burden yang digunakan yaitu 2.5 meter
Sp = Sasaran produksi dalam seklai peledakan ( direncanakan 2500 BCM)
L = Tinggi jenjang (meter)
N = Jumlah lubang ledak yang dibutuhkan
S = Spasi (meter)
a. Alternatif 1
Dengan dimensi burden 2,5 meter, spasi 3 meter dan tinggi jenjang 6 meter,
maka dapat dihitung besarnya panjangjenjang minimum berdasarkan pendekatan
sasaran produksi, yaitu :
Maka jumlah lubang ledak yang dibutuhkan pada pola peledakan box cut
adalah :
b. Alternatif 2
Dengan dimensi burden 2,5 meter, spasi 3 meter dan tinggi jenjang 6 meter,
maka dapat dihitung besarnya panjangjenjang minimum berdasarkan pendekatan
sasaran produksi, yaitu :
Maka jumlah lubang ledak yang dibutuhkan pada pola peledakan box cut
adalah :
IV-32
c. Alternatif 3
Dengan dimensi burden 2,5 meter, spasi 3 meter dan tinggi jenjang 6 meter,
maka dapat dihitung besarnya panjangjenjang minimum berdasarkan pendekatan
sasaran produksi, yaitu :
Maka jumlah lubang ledak yang dibutuhkan pada pola peledakan box cut
adalah :
9. Powder Factor
Di mana untuk enentukan jumlah bahan peledak yang digunakan maka harus
diketahi terlebih dahulu jumlah bahan peledak/lubang. Harga powder factor yang
disarankan untuk peledakan lapisan penutup (overburden) pada tambang batubara
adalah berkisar antara 0,2 kg/BCM 0,3 kg/BCM.
-
a. Alternatif 1


Sehingga
IV-33
b. Alternatif 2

Sehingga
c. Alternatif 3

Sehingga
Dari ketiga alternative yang didapat di atas hanya alternative ketiga yang sesuai dengan
powder factor yang disarankan yaitu 0,301 kg/BCM. Jadi dapat dipastikan geometri
peledakan yang ideal untuk diterpakan pada operasional peledakan sandstone adalah
alternative yang ketiga, yaitu :
Burden = 2.5 meter
Spasi = 4 meter
Stemming = 2.5 meter
Subdrilling = 0.75 meter
Tinggi jenjang = 6 meter
Kedalaman lubang = 6.75 meter
Kolom isian = 4.25 meter
Jumlah Lubang Ledak = 46 lubang
IV-34
IV-35