Anda di halaman 1dari 16

DIAGNOSA DAN PENATALAKSANAAN OSTEOMIELITIS

OSTEOMIELITIS BAB I PENDAHULUAN Sistem muskuloskeletal manusia merupakan jalinan berbagai jaringan, baik itu jaringan pengikat, tulang maupun otot yang saling berhubungan, sangat khusus, dan kompleks. Fungsi utama sistem ini adalah sebagai penyusun bentuk tubuh dan alat untuk bergerak. Oleh karena itu, jika terdapat kelainan pada sistem ini maka kedua fungsi tersebut juga akan terganggu. Infeksi muskuloskeletal merupakan penyakit yang umum terjadi; dapat melibatkan seluruh struktur dari sistem muskuloskeletal dan dapat berkembang menjadi penyakit yang berbahaya bahkan membahayakan jiwa. Osteomielitis adalah infeksi tulang dan medulla tulang baik karena infeksi piogenik atau nonpiogenik misalnya mikobakterium tuberkulosa.Osteomielitis biasanya terjadi bersamaan dengan fraktur tulang terbuka. Tetapi osteomielitis juga bisa terjadi secara spontan, atau dampak dari adanya bakteri pada peredaran darah yang sering disebut sebagai osteomielitis hematogenik. Organisme penyebab yang paling umum adalah Staphylococcus, tetapi bakteri lainnya juga dapat menyebabkan osteomielitis. Infeksi lainnya yang jarang terjadi meliputi virus, jamur dan mikobakteria. Pada anak-anak tulang panjang yang sering terkena. Sedangkan pada dewasa, tulang belakang dan pelvis yang biasanya terinfeksi. Osteomielitis dibagi menjadi kategori akut dan kronis. Walaupun pembagian waktu antara kategori yang satu dengan lainnya belum begitu jelas, sebagai aturan, infeksi dengan durasi sampai 3 bulan termasuk dalam kategori akut dan lebih dari 3 bulan termasuk dalam kategori kronis. Pada umumnya, osteomielitis akut berhubungan dengan penemuan gejala infeksi sistemik seperti demam, malaise, perubahan jumlah sel darah putih, erythrocyte sedimentation rate (ESR), dan C-reactive protein (CRP). Pada lokasi infeksi melunak dan pasien biasanya tidak mau menggerakkan ekstremitas yang terkena. Pasien dengan osteomielitis kronis tidak menunjukkan gejala sistemik. Mereka menunjukkan dengan pengeringan sinus, tulang nekrotik (sekuestrum) dikelilingi dengan tulang reaktif (involukrum). Osteomielitis masih merupakan permasalahan di negara kita karena : Tingkat higienis yang masih rendah dan pengertian mengenai pengobatan yang belum baik. Diagnosis yang sering terlambat sehingga biasanya berakhir dengan osteomielitis kronis. Fasilitas diagnostic yang belum memadai di puskesmas-puskesmas.

Angka kejadian tuberculosis di Indonesia pada saat ini masih tinggi sehingga kasus-kasus tuberculosis tulang dan sendi juga masih tinggi. Pengobatan osteomielitis memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya yang tinggi. Banyaknya penderita dengan fraktur terbuka yang datang terlambat dan biasanya datang dengan komplikasi osteomielitis.

Dengan diagnosis dini dan obat-obat antibiotic/tuberkulostatik yang ada pada saat ini, angka kejadian osteomielitis diharapkan berkurang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DEFINISI Osteomielitis (osteo berasal dari bahasa yunani, yang berarti tulang, mielo-yang berarti sumsum tulang, dan it is adalah inflamasi) yang berarti suatu infeksi dari tulang dan sumsum tulang. Osteomielitis dapat diklasifikasikan pada organisme penyebabnya (bakteri piogenik atau mikobakteria), durasi, dan anatomi lokasi infeksi .Berdasarkan kamus kedokteran Dorland, osteomielitis ialah radang tulang yang disebabkan oleh organisme piogenik, walaupun berbagai agen infeksi lain juga dapat menyebabkannya. Ini dapat tetap terlokalisasi atau dapat tersebar melalui tulang, melibatkan sum-sum, korteks, dan periosteum. 2.2 ETIOLOGI Walaupun system musculoskeletal dapat diinfeksi oleh berbagai macam agen, tetapi yang paling banyak disebabkan oleh infeksi bakteri. Staphylococcus aureus, Streptococcus, dan Haemophilus influenza adalah yang paling umum menyebabkan osteomielitis hematogen pada anak-anak. Organisme bakteri yang jarang menyebabkan osteomielitis termasuk Borrelia burgdorferi (penyakit Lyme), Mycobacterium tuberculosis, Brucella, dan bakteri anaerob Clostridium dan Bacteroides. Organisme yang tidak biasa menyebabkan infeksi secara umum tetapi bersimbiosis dengan penyakit immunocomprimesed seperti jamur (Blastomyces, Cryptococcus, Histoplasma, Sporotrichum, dan Coccidioidomycoses) dan atipikal mikobakteri (kansasii, aviumintracellulare, fortuitum, triviale, dan scrofulaceum). Peningkatan populasi immunocompromised karena penyebab iatrogenik (misalnya, transplantasi organ) dan penyakit lain (misalnya, AIDS dan rheumatoid arthritis) telah meningkatkan spektrum bakteri yang dapat menyebabkan infeksi muskuloskeletal. Beberapa bukti bahkan menunjukkan bahwa penyakit Paget merupakan manifestasi lambat suatu infeksi tulang. (curent)

2.3 PATOGENESIS Seluruh infeksi harus selalu adanya keterkaitan antara penyerangan mikroba dan pertahanan penjamu. Infeksi terjadi apabila jika organisme bersifat virulen dan jumlah inokulum yang besar. Bakeri dapat masuk kedalam tubuh secara langsung dengan adanya trauma tembus, dengan penyebaran secara hematogen dari sisi sampingnya atau suatu focus infeksi, atau paparan selama opeasi. Pada osteomielitis akut anak-anak, metafisis biasanya terlibat. Hal ini dikarenakan pembulh darah arteri nutrisi kosong sampai dengan vena-vena sinusoidal, menyebabkan aliran yang melambat dan turbulen pada perbatasan ini. Kondisi ini memudahkan bakteri berpindah ke endothelium dan menempel pada matrix. Juga, tekanan oksigen yang rendah pada daerah ini menurunkan aktivitas fagositik dari sel darah putih. Thrombosis menyebabkan daerah yang terkena menjadi nekrosis yang bisa menyebabkan terbentuknya abses. Kumpulan pus dan tekanan yang dihasilkan, dapat meembus korteks melalui system haversian dank anal Volkmann dan akan dikumpulkan dibawah periostium. Abses subperiostium dapat menstimulasi terbentuknya involucrum periosteal. Sekali mengenai korteks, pus dapat menembus jaringan lunak sampai permukaan kulit, membentuk sinus pengeluaran (draining sinus). 2.4 KLASIFIKASI

Ada beberapa system dalam mengklasifikasikan osteomielitis. System tradisional membagi infeksi tulang berdasarkan durasi gejala : akut, subakut, dan kronis. Osteomielitis akutdiidentifikasi dalam onset 7-14 hari. Infeksi akut seringkali berhubungan dengan penyebaran secara hematogen dari tulang pada anak-anak. Bagaimanapun, orang dewasa juga dapat menjadi infeksi akut hematogen, terutama pada sekeliling dari protesis metal implant dan fiksasi keras. Durasi dari osteomielitis subakut antara beberapa minggu dan beberapa bulan. Osteomielitis kronis adalah infeksi tulang yang terjadi paling tidak beberapa bulan. Ini berhubungan dengan nekrosis tulang epicenter atau yang disebut sequestrum yang secara umum menyebabkan pengaktifan kembali vaskularisasi yang disebut involucrum. System lainnya, dikembangkan oleh Waldyogel, mengkategorikan infeksi tulang berdasarkan etiologi dan kronisitas : hematoogen, penyebaran secara kontinyu (dengan atau tanpa keikut sertaan penyakit vaskular), dan kronis. Infeksi hematogen dan penyebaran kontinyu dapat tejadi secara akut, walaupun sebelumnya berhubungan dengan trauma atau infeksi jaringan lunak local seperti ulkus diabetes tungkai. Ciemy dan Mader mengembangkan system tahapan pada osteomielitis yang mengklasifikasikan berdasarkan luas anatomis dari infeksi dan status fisiologis host dibandingkan dengan kronisitas dan etiologi. Empat tahapan memiliki karakteristik berdasarkan pada keterlibatan tulang yang infeksi dalam meningkatkan kompleksitas : tahap 1 hanya sum-sum tulang, tahap 2 hanya korteks superficial, tahap 3 sum-sum tulang dan korteks local, dan tahap 4 sum-sum tulang dan korteks difus.

2.5 JENIS OSTEOMIELITIS Osteomielitis Hematogen Akut Osteomielitis hematogen akut merupakan infeksi tulang dan sumsum tulang akut yang disebabkan oleh bakteri piogenik dimana mikro-organisme berasal dari focus di tempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah. Kelainan ini sering ditemukan pada anak-anak dan sangat jarang pada orang dewasa. Osteomielitis hematogen akut pada dasarnya adalah penyakit pada tulang yang sedang tumbuh. Diagnosis yang dini sangat penting oleh karena prognosis tergantung dari pengobatan yang tepat dan segera. Osteomielitis hematogen akut sering sekali mengenai metafisis tulang panjang pada anak-anak, tersering pada femur dan diikuti oleh tibia, humerus, radius, ulna, dan fibula. Secara klinis, pasien memiliki gejala seperti inflamasi yang akut. Rasa nyeri biasanya terlokalisir, tetapi bisa saja menjalar kebagian tubuh lainnya. Sebagai contoh, jika anak mengeluhkan nyeri pada lutut, sendi panggul harus juga dievaluasi untuk melihat kemungkinan adanya arthritis septic. Jika tulang pada kaki terinfeksi, anak akan mengalami kesulitan untuk berjalan atau berhenti berjalan. Pada pemeriksaan sering didapatkan terdapatnya nyeri local dan biasanya diikuti dengan pergerakan yang terbatas pada sendi sebelahnya, tetapi bengkak dan kemerahan agak jarang dijumpai. Tanda sistemik seperti demam dan menggigil biasanya ada, dan bayi biasanya menunjukkan irritable atau letargik dan tidak ada selera makan.

Faktor predisposisi osteomilitis akut adalah : o Umur, terutama mengenai bayi dan anak-anak o Jenis kelamin, lebih sering pada laki-laki dari pada wanita dengan perbandingan 4:1 o Trauma; hematoma akibat trauma pada daerah metafisis, merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya osteomielitis hematogen akut

o Lokasi; osteomielitis hematogen akut sering terjadi di daerah metafisis karena daerah ini merupakan daerah aktif tempat terjadinya pertumbuhan tulang. o Nutrisi, lingkungan dan imunitas yang buruk serta adanya focus infeksi sebelumnya (seperti bisul, tonsilitis) merupakan faktor predisposisi osteomielitis hematogen akut. Penyebaran osteomielitis melalui dua cara, yaitu : 1. Penyebaran umum o Melalui sirkulasi darah berupa bakteremia dan septicemia, o Melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi multifocal pada daerahdaerah lain. 2. Penyebaran local o Subperiosteal abses akibat penerobosan abses melalui periost, o Selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai di bawah kulit, o Penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi arthritis septic, o Penyebaran ke medulla tulang sekitarnya sehingga system sirkulasi dalam tulang terganggu. Hal ini menyebabkan kematian tulang local dengan terbentuknya tulang mati yang disebut dengan sekuestrum. Teori terjadinya infeksi pada daerah metafisis yaitu : o Teori vascular (Trueta) Pembuluh darah pada daerah metafisis berkelok-kelok dan membentuk sinus-sinus sehingga menyebabkan aliran darah menjadi lebih lambat. Aliran darah yang melambat pada daerah ini memudahkan bakteri berkembang biak. o Teori fagositosis (Rang) Daerah metafisis merupakan daerah pembentukan system retikulo-endotelial. Bila terjadiinfeksi, bakteri akan difagosit oleh sel-sel fagosit matur di tempat ini. Meskipun demikian di daerah ini terdapat juga sel-sel fagosit imatur yang tidak dapat memfagosit bakteri sehingga beberapa bakteri tidak difagosit dan berkembang biak di daerah ini. o Teori trauma Bila trauma artificial dilakukan pada binatang percobaan maka akan terjadi hematoma pada daerah lempeng epifisis. Dengan penyuntikan bakteri secara intravena, akan terjadi infeksi pada daerah hematoma tersebut. Patologi yang terjadi pada osteomielitis hematogen akut tergantung pada umur, daya tahan penderita, lokasi infeksi serta virulensi kuman. Infeksi terjadi melalui aliran darah dari focus tempat lain dalam tubuh pada fase bakteremia dan dapat menimbulkan septicemia. Embolus infeksi kemudian masuk ke dalam juksta epifisis pada daerah metafisis disertai pembentukan pus. Terbentuknya pus dalam tulang dimana jaringan tulang tidak dapat berekspansi akan menyebabkan tekanan dalam tulang bertambah. Peninggian tekanan dalam tulang mengakibatkan terganggunya sirkulasi darah dan timbulnya thrombosis pada pembuluh darah tulang yang akhirnya menyebabkan nekrosis tulang. Selain itu, pembentukan tulang baru yang ekstensif terjadi pada bagian dalam periosteum sepanjang diafisis (terutama anak-anak) sehingga terbentuk suatu lingkungan tulang seperti peti mati yang disebut involucrum dengan jaringan sekuestrum didalamnya. Proses ini terlihat jelas pada akhir minggu kedua. Apabila pus menembus tulang,

maka terjadi pengaliran pus (discharge) dari involucrum keluar melalui lubang yang disebut kloaka atau melalui sinus pada jaringan lunak dan kulit. Pada tahap selanjutnya penyakit akan berkembang menjadi osteomielitis kronis. Pada daerah tulang kanselosa, infeksi dapat terlokalisir serta diliputi oleh jaringan fibrosa yang membentuk abses tulang kronis yang disebut abses bordie. Berdasarkan umur dan pola vaskularisasi pada daerha metafisis dan epifisis, Trueta membagi proses patologis pada osteomielitis akut atas tiga jenis, yaitu : 1. Bayi Adanya pola vaskularisasi foetal menyebabkan penyebaran infeksi dari metafisis dan epifisis dapat masuk ke dalam sendi, sehingga seluruh tulang termasuk persendian dapat terkena. Lempeng epifisis biasanya lebih resisten terhadap infeksi. 2. Anak Dengan terbentuknya lempeng epifisis serta osifikasi yang sempurna, resiko infeksi pada epifisis berkurang oleh karena lempeng epifisis merupakan barier terhadap infeksi. Selain itu, tidak ada hubungan vaskularisasi yang berarti antara metafisis dan epifisis. Infeksi pada sendi hanya dapat terjadi bila ada infeksi intra-artikuler. 3. Dewasa Osteomielitis akut pada orang dewasa sangat jarang terjadi oleh karena lempeng epifisis telah hilang. Walaupun infeksi dapat menyebar ke epifisis, namun infeksi intra-artikuler sangat jarang terjadi. Abses subperiosteal juga sulit terjadi karena periost melekat erat dengan korteks. Gambaran klinis osteomielitis hematogen tergantung dari stadium pathogenesis dari penyakit. Osteomielitis hematogen akut berkembang secara progresif dan cepat. Pada keadaan ini mungkin dapat ditemukan adanya infeksi bacterial pada kulit dan saluran napas bagian atas. Gejala lain dapat berupa nyeri yang konstan pada daerah infeksi, nyeri tekan dan terdapat gangguan fungsi anggota gerak yang bersangkutan. Gejala-gejala umum yang timbul akibat bakteremia dan septicemia berupa panas tinggi, malaise serta nafsu makan yang berkurang. Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan dan gangguan pergerakan sendi oleh karena pembengkakan sendi, gangguan akan semakin berat bila terjadi spasme local. Gangguan pergerakan sendi juga dapat disebabkan oleh efusi sendi atau infeksi sendi (arthritis septik). Pada orang dewasa lokalisasi infeksi biasanya pada daerah vertebra torako-lumbal yang terjadi akibat torakosintesis atau akibat prosedur urologis dan dapat ditemukan adanya riwayat kencing manis, malnutrisi, adiksi obat-obatan atau pengobatan dengan imunosupresif, oleh karena itu riwayat hal-hal yang tersebut di atas perlu ditanyakan. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan darah Sel darah putih meningkat sampai 30000, dengan peningkatan LED Pemeriksaan titer antibody anti-stafilokokus Kultur darah untuk menentukan jenis bakterinya dan uji sensitivitas Pemeriksaan feses, untuk dilakukan kultur atas kecurigaan infeksi oleh bakteri Salmonella. Biopsy, dilakukan pada tempat yang dicurigai untuk menyingkirkan dengan suatu tumor. Karena gambaran klinis dan radiologis yang diperlihatkan pada osteomielitis menyerupai beberapa

neoplasma inflamasi seperti leukemia akut limfositik, sarcoma Ewing, dan histiocitosis sel Langerhans (yang disebut juga dengan granuloma eosinofilik). Maka dari itu, biopsy dapat menyingkirkan sebuah tanda infeksi dari suatu tumor.

Pemeriksaan radiologis Foto polos pada 10 hari pertama, tidak ditemukan kelainan radiologis yang berarti dan mungkin hanya ditemukan pembengkakan jaringan lunak. Gambaran destruksi tulang dapat terlihat setelah 10 hari (2 minggu) berupa rarefaksi tulang yang bersifat difus pada daerah metafisis dan pembentukan tulang baru di bawah periosteum yang terangkat. Akan terlihat gambaran lesi radiolusen dan perubahan dari periosteum. Pemeriksaan radioisotope dengan mtechnetium akan memperlihatkan penangkapan isotop pada daerah lesi. Dengan menggunakan teknik label leukosit dimana mindium menjadi positif Pemeriksaan ultrasonografi, dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi. Juga memperlihatkan suatu area radiolusen pada tulang kanseolus dan adanya perubahan pada periosteum. MRI (Magnetic Resonance Imaging), menunjukkan gambaran inflamasi awal dari sumsum tulang dengan inflamasi periosteum dan jaringan lunak sekelilingnya sebagai bentuk progresivitas infeksi. Pada tahap selanjutnya maka akan terbentuk abses yang akan terlihat sebagai suatu tanda dari gambaran kontras gadolinium . Komplikasi 1. Septicemia Dengan makin tersedianya obat-obat antibiotic yang memadai, kematian akibat septicemia pada saat ini jarang ditemukan. 2. Infeksi yang bersifat metastatic Infeksi dapat bermetastasis ke tulang/sendi lainnya, otak dan paru-paru, dapat bersifat multifocal dan biasanya terjadi pada penderita dengan status gizi yang jelek. 3. Arthritis supuratif Dapat terjadi pada bayi muda karena lempeng epifisis bayi (yang bertindak sebagai barier) belum berfungsi dengan baik. Komplikasi terutama terjadi pada osteomielitis hematogen akut di daerah metafisis yang bersifat intra-kapsuler (misalnya pada sendi panggul) atau melalui infeksi metastatic. 4. Gangguan pertumbuhan Osteomielitis hematogen akut pada bayi dapat menyebabkan kerusakan lempeng epifisis yang menyebabkan gangguan pertumbuhan, sehingga tulang yang terkena akan menjadi lebih pendek. Pada anak yang lebih besar akan terjadi hiperemi pada daerah metafisis yang merupakan stimulasi bagi tulang untuk tumbuh. Pada keadaan ini tulang tumbuh lebih cepat dan menyebabkan terjadinya pemanjangan tulang. 5. Osteomielitis kronis Apabila diagnosis dan terapi yang tepat tidak dilakukan, maka osteomielitis akut akan berlanjut menjadi osteomielitis kronis . Diagnosis banding

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Selulitis Arthritis supuratif akut Demam reumatik Krisis sel sabit Penyakit Gaucher Tumor Ewing

Pengobatan 1. Istirahat dan pemberian analgesic untuk menghilangkan rasa nyeri 2. Pemberian cairan intravena dan kalau perlu tranfusi darah 3. Istirahat local dengan bidai atau traksi 4. Pemberian antibiotic secepatnya sesuai dengan penyebab utama yaitu stafilokokus aureus sambil menunggu hasil biakan. Antibiotic diberikan 3-6 minggu dengan melihat keadaan umum dan laju endap darah penderita. Antibiotic tetap diberikan hingga 2 minggu setelah laju endap darah normal.

5. Drainase bedah. Apabila setelah 24 jam pengobatan local dan sistemik antibiotic gagal (tidak ada perbaikan keadaan umum), maka dapat dipertimbangkan drainase bedah. Pada drainase bedah, pus subperiosteal dievakuasi untuk mengurangi tekanan intra-oseus

kemudian dilakukan pemeriksaan biakan kuman. Drainase dilakukan selama beberapa hari dengan menggunakan cairan Nacl 0,9% dan dengan antibiotic.

Osteomielitis Hematogen Subakut Kelainan ini dapat ditemukan di beberapa negara dengan insiden yang hampir sama dengan osteomielitis akut. Gejala osteomielitis subakut lebih ringan oleh karena organisme penyebabnya kurang purulen dan penderita lebih resisten. Osteomielitis hematogen subakut biasanya di sebabkan oleh stafilokokus aureus dan umumnya berlokasi di bagian distal femur dan proksimal tibia. Patologi. Biasanya terdapat kavitas dengan batas tegas pada tulang kanselosa dan mengandung cairan seropurulen. Kavitas dilingkari oleh jaringan granulasi yang terdiri atas sel-sel inflamasi akut dan kronis dan biasanya terdapat penebalan trabekula Gambaran klinis. Osteomielitis hematogen subakut biasanya ditemukan pada anak-anak dan remaja. Gambaran klinis yang ditemukan adalah atrofi otot, nyeri local, sedikit pembengkakan dan dapat pula penderita menjadi pincang. Terdapat rasa nyeri pada daerah sekitar sendi selama beberapa minggu atau mungkin berbulan-bulan. Suhu tubuh penderita biasanya normal. Pemeriksaan laboratorium. Leukosit umumnya normal, tetapi laju endap darah meningkat. Diagnosis: Dengan foto rontgen biasanya ditemukan kavitas berdiameter 1-2 cm terutama pada daerah metafisis dari tibia dan femur atau kadangkadang pada daerah diafisis tulang panjang Pengobatan. Pengobatan yang dilakukan berupa pemberian antibiotic yang adekuat selama 6 minggu. Apabila diagnosis ragu-ragu, maka dapat dilakukan biopsy dan kuretase. Osteomielitis Kronis Osteomielitis kronis umumnya merupakan lanjutan dari osteomielitis akut yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati dengan baik. Osteomielitis kronis dapat juga terjadi setelah fraktur terbuka atau setelah Tindakan operasi pada tulang.

Bakteri penyebab osteomielitis kronis terutama oleh Stafilokokus aureus (75%), atau E. colli, Proteus, atau Pseudomonas. Stafilokokus epidermidis merupakan penyebab utama osteomielitis kronis pada operasi-operasi ortopedi yang menggunakan implant. Patologi dan Pathogenesis Infeksi tulang dapat menyebabkan terjadinya sekuestrum yang menghambat terjadinya resolusi dan penyembuhan spontan yang normal pada kulit. Sekuestrum ini merupakan benda asing bagi tulang dan mencegah terjadinya penutupan kloaka (pada tulang) dan sinus (pada kulit). Sekuestrum diselimuti oleh invoucrum yang tidak dapat keluar/dibersihkan dari medulla tulang kecuali dengan tindakan operasi. Proses selanjutnya terjadi destruksi dan sklerosis tulang yang dapat terlihat pada foto rontgen. Gambaran Klinis Penderita sering mengeluhkan adanya cairan yang keluar dari luka/sinus setelah operasi, yang bersifat menahun. Kelainan kadang-kadang disertai dengan demam dan nyeri local yang hilang timbul di daerah anggota gerak tertentu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya sinus, fistel atau sikatriks bekas operasi dengan nyeri tekan. Mungkin dapat ditemukan sekuestrum yang menonjol keluar melalui kulit. Biasanya terdapat riwayat fraktur terbuka atau osteomelitis pada penderita. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya peningkatan LED, leukositosis, serta peningkatan titer antibody anti-stafilokokus. Pemeriksaan kultur dan uji sensitivitas diperlukan untuk menentukan organism penyebabnya. Pemeriksaan Radilogis 1. Foto polos Pada foto rontgen dapat ditemukan adanya tanda-tanda porosis dan sklerosis tulang, penebalan periost, elevasi periosteum dan mungkin adanya sekuestrum. 2. Radioisotope scanning Radioisotop scanning dapat membantu menegakkan diagnosis osteomielitis kronis dengan memakai 99mTCHDP. 3. CT dan MRI Pemeriksaan ini bermanfaat untuk membuat rencana pengobatan serta untuk melihat sejauh mana kerusakan tulang yang terjadi. Pengobatan 1. Pemberian antibiotic

Osteomielitis kronis tidak dapat diobati dengan antibiotic semata-mata. Pemberian antibiotic ditujukan untuk : Mencegah terjadinya penyebaran infeksi pada tulang sehat lainnya, Mengontrol eksaserbasi akut 2. Tindakan operatif Tindakan operatif dilakukan bila fase eksaserbasi akut telah reda setelah pemberian dan pemayungan antibiotic yang adekuat. Operasi dilakukan dengan tujuan : Mengeluarkan seluruh jaringan nekrotik, baik jaringan lunak maupun jaringan tulang (sekuestrum) sampai ke jaringan sehat sekitarnya. Selanjutnya dilakukan drainase dan dilanjutkan irigasi secara kontinyu selama beberapa hari. Adakalanya diperlukan penanaman rantai antibiotic di dalam bagian tulang yang terinfeksi. Sebagai dekompresi pada tulang dan memudahkan antibiotic mencapai sasaran dan mencegah penyebaran osteomielitis lebih lanjut. Komplikasi 1. Kontraktur sendi 2. Penyakit amiloid 3. Fraktur patologis 4. Perubahan menjadi keganasan pada jaringan epidermis (karsinoma epidermoid, ulkus Marjolin) 5. Kerusakan epifisis sehingga terjadi gangguan pertumbuhan

Osteomielitis Sklerosing Osteomielitis sklerosing atau osteomielitis Garre adalah suatu osteomielitis subakut dan terdapat kavitas yang dikelilingi oleh jaringan sklerotik pada daerah metafisis dan diafisis tulang panjang. Penderita biasanya remaja dan orang dewasa, terdapat rasa nyeri dan mungkin sedikit pembengkakan tulang. Pemeriksaan radiologis. Pada foto rontgen terlihat adanya kavitas yang difus dan dikelilingi oleh jaringan tulang yang sklerotik. Pengobatan. Pengobatan osteomielitis sklerosing berupa eksisi dan kuretase lesi.

Osteomielitis Akibat Fraktur Terbuka Osteomielitis akibat fraktur terbuka merupakan osteomielitis yang sering ditemukan pada orang dewasa. Pada suatu fraktur terbuka dapat ditemukan kerusakan jaringan, kerusakan pembuluh darah, edema, hematoma dan hubungan antara fraktur dengan dunia luar sehingga pada fraktur terbuka umumnya terjadi infeksi. Osteomielitisakibat fraktur terutama disebabkan oleh stafilokokus aureus, B. colli, Pseudomonas dan kadang-kadang oleh bakteri anaerobic seperti klostridium, streptokokus anaerobic, dan Bakteroides. Pada fraktur terbuka perlu dilakukan pemeriksaan biakan kuman guna menentukan organism penyebabnya. Gambaran klinis. Pada osteomielitis akibat fraktur terbuka biasanya berupa demam, nyeri, pembengkakan pada daerah fraktur dan sekresi pus pada luka. Pada pemeriksaan darah ditemukan leukositosis dan peningkatan LED. Pengobatan. Prinsip penanganan pada kelainan ini sama dengan osteomielitis lainnya. Pada fraktur terbuka

sebaiknya dilakukan pencegahan infeksi melalui pembersihan dan debridement luka. Luka dibiarkan terbuka dan diberikan antibiotic yang adekuat.

Osteomielitis Pasca Operasi Osteomilelitis jenis ini terjadi setelah suatu operasi tulang (terutama pada operasi yang menggunakan implan), yang disebabkan oleh kontaminasi bakteri pada pembedahan. Gejala infeksi dapat timbul segera setelah operasi atau beberapa bulan kemudian. Osteomielitis pasca operasi yang paling ditakuti adalah osteomielitis setelah suatu operasi artroplasti. Pada keadaan ini pencegahan osteomielitis lebih penting dari pada pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA 1. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Penerbit Yarsif Watampone. 2003. Halaman 132-141. 2. Skinner, Harry B, MD, PhD. Current Diagnosis and Treatment in Orthopedics, Fourth Edition. Chapter 8 : Orthopedic Infections. The McGraw Hill Companies, Inc. 2006. 3. Swiontkowski, Marc F, MD; Stovitz, Steven D, MD. Manual of Orthopaedics, 6th Edition. Lipponcott Williams and Wilkins. 2001. Chapter 3 : Prevention and Management of Acut Musculoskeletal Infections. 4. www.wikipedia.com 5. Kumar, Vinay; Abbas, Abul K.; Fausto, Nelson; & Mitchell, Richard N. (2007). Robbins Basic Pathology (8th ed.). Saunders Elsevier. pp. 810811.