Anda di halaman 1dari 8

PROSPEK PENGELOLAAN LAHAN AGROFORESTRY BERBASIS MANGGIS DI KABUPATEN LOMBOK BARAT

Muji Rahayu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Barat

ABSTRAK
Agroforestry bisa dibilang ilmu baru meskipun kenyataannya sudah lama dikenal dan dipraktekkan petani. Pada perkembangannya pengelolaan lahan system agroforestry tidak semata-mata untuk tujuan konservasi lahan, air dan kebutuhan subsisten petani di sekitar hutan tetapi juga berorientasi ekonomi skala semi komersial bahkan komersial. Salah satu bentuk usahatani yang dianalisis pada tulisan ini adalah Pengelolaan Lahan Sistem Agroforestry Berbasis Manggis di Kabupaten Lombok Barat. Tulisan ini merupakan review beberapa hasil penelitian/pengkajian yang mencakup aspek: budidaya, lingkungan, kesesuaian lahan, prospek pasar dan sosial masyarakat. Dari hasil analisis disimpulkan bahwa pengelolaan lahan sistem agroforestry berbasis manggis dapat memberikan pendapatan sebesar Rp,- 19.935.000 /hektar/tahun dan memberikan pendapatan sepanjang tahun. Penataan agroforestry berbasis buah-buahan (manggis) juga menghasilkan seresah dipermukaan tanah cukup besar yaitu sebesar 5,41 ton/ha. Hal ini tidak berbeda jauh dengan kondisi hutan alami yang menghasilkan seresah sebesar 6,03 ton/ha. Dengan demikian agroforestry berbasis manggis menjadi alternatif pilihan pengembangan lahan-lahan disekitar hutan karena dapat berperan tidak saja sebagai konservasi tetapi juga mempunyai peran dalam peningkatan pendapatan petani Kata kunci : agroforestry, manggis, lingkungan dan ekonomi.

LATAR BELAKANG Alih-guna lahan hutan menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal pertanian dan jumlah penduduk. Satu system pengelolaan lahan model agroforestry ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih-guna lahan sekaligus juga untuk mengatasi masalah pangan dan ekonomi masyarakat. Agroforestry, sebagai bentuk suatu cabang ilmu pengetahuan baru dibidang pertanian dan kehutanan, berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan system agroforestry yang telah dipraktekkan petani sejak dulu kala. Secara sederhana agroforestry berarti menanam pepohonan di lahan pertanian, dan harus diingat bahwa petani atau masyarakat adalah elemen pokoknya (subyek). Dalam implementasinya agroforestry terdiri dari berbagai bentuk. Berkaitan dengan potensi pasar buah-buahan khususnya untuk buah manggis maka wilayah Kabupaten Lombok Barat berpotensi besar untuk pengembangannya. Sebagian wilayah Lombok Barat khususnya yang berada di seputar sabuk Gunung Rinjani memiliki iklim yang sesuai untuk pertumbuhan manggis. Sampai saat ini sebagian besar manggis yang diperdagangkan dalam negeri maupun ekspor berasal dari hutan manggis maupun kebun campuran (agroforestry). Tanaman manggis yang berupa tanaman tahunan dapat dikombinasikan dengan tanaman tahunan (tegakan) lainnya serta tanaman semusim dan pakan ternak untuk mendukung usaha ternak petani. Model agroforestry dapat dikembangkan pada kebun milik petani ataupun lahan hutan yang dikelola oleh masyarakat di kawasan pinggiran hutan (Hutan Kemasyarakatan/HKm). MANFAAT AGROFORESTRY BERBASIS MANGGIS Agroforestry diharapkan dapat memecahkan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan kesalahan penggunaan lahan. Kesalahan penggunaan lahan ini timbul karena terutama disebabkan oleh desakan kebutuhan lahan garapan yang semakin terbatas akibat ledakan pertambahan penduduk. Secara konsepsional tiga manfaat dalam agroforestry yaitu: (1) kombinasi tanaman yamg terdiri dari 2 strata atau lebih dapat menutup tanah dan mengurangi erosi serta

pemanfaatan sinar matahari lebih maksimal; (2) memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan; dan (3) dengan agroforestry didapatkan bentuk hutan yang serba guna. Realisasi pengembangan agroforestry sangatlah penting berhubung pada masa yang akan datang dengan perluasan industri menimbulkan permintaan sumberdaya air. Penanaman tanaman tahunan (tegakan) seperti manggis sifatnya investasi jangka panjang tetapi melihat manfaatnya yang dapat memberikan perlindungan dan keamanan seluruh sistem termasuk subsistem dibagian bawah maka tentunya hal ini menjadi alternatif pilihan. Oleh karenanya program agroforestry untuk tujuan pengawetan lahan yang optimal baik ditinjau oleh kemampuan petani maupum pemerintah untuk mencegah dari bahaya erosi dan rusaknya tata air harus dirancang secara cermat dengan didukung oleh penelitian yang mendasar. Tulisan tentang Potensi Pengelolaan Lahan Melaui Sistem Agriforestry Berbasis Manggis barangkali merupakan pilihan yang dapat dikembangkan di Kabupaten Lombok Barat, karena orientasinya bukan saja untuk konservasi tetapi juga berorientasi ekonomi komersial. Hanya dalam masalah ini bagaimana kita dapat mendesain dan mengkombinasikan usaha mengingat waktu tunggu untuk produksi manggis sangat lama, mungkin bantuan 3 5 awal kegiatan masih diperlukan agar petani tidak mengalami kesulitan untuk memulainya. POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN KOMODITAS MANGGIS a. Luasan Potensial Pengembangan Manggis dapat tumbuh dengan baik pada lahan-lahan yang hanya mengandalkan air hujan asal pada kondisi lembab (Tabel 1). Sehingga manggis sangat cocok sebagai tanaman alternative untuk dikombinasikan dengan tanaman lainnya pada bentuk wanatani (agroforestry). Tanaman manggis sejak pembibitan sampai umur dua tahun membutuhkan naungan, sehingga dengan kombinasi tanaman lain seperti model agroforestry maka kebutuhan lingkungan khususnya naungan untuk meningkatkan laju pertumbuhan manggis dapat terpenuhi. Realisasi pertanaman di Pulau Lombok diperkirakan sekitar 10 % dari luasan lahan potensial yang ada. Jumlah tanaman diprediksi 92. 000 pohon dengan kondisi 50 % berupa tanaman produktif. Rata-rata produktivitas tanaman 60 kg/ph. Lahan potensial untuk pengembangan 29.892, 1 ha di Kab. Lombok Barat. Lahan potensial untuk pengembangan manggis di Kabupaten Lombok Barat tertera pada Gambar 1 .

Gambar 1. Peta Pewilayahan Tanaman Manggis di Kabupaten Lombok Barat (Skala 1 : 50.000)

Tabel 1. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Manggis Persyaratan penggunaan/ karakteristik lahan Temperatur (tc) Temperatur rerata ( o C ) Ketersediaan air (wa) Curah hujan (mm) Ketersediaan oksigen (oa) Drainase Media perakaran (rc) Tekstur Bahan kasar (%) Kedalaman tanah (cm) Gambut : Ketebalan (cm) Ketebalan (cm), jika ada sisipan bahan mineral/pengkayaan Kematangan Retensi hara (nr) KTK liat (omol) Kejenuhan basa (%) pH H2O C-organik (%) Toksisitas (xc) Salinitas (ds/m) Sodisitas (xn) Alkalinitas/ESP (%) Bahaya sulfidik (cm) Kedalaman sulfidik (cm) Bahaya erosi (eh) Lereng (%) Bahaya erosi Bahaya banjir (fh) Genangan Penyiapan lahan (lp) Batuan di permukaan (%) Singkapan batuan (%)
Sumber : Djaenudin, D., dkk., 2003.

Kelas kesesuaian lahan S1 20 23 23 30 18 20 1.750 2.000 1.000 1.250 Agak terhambat S2 30 40 15 18 2.000 2.500 750 1.000 Terhambat, agak cepat Agak kasar 35 55 50 75 140 200 200 400 Hemik, Fibrik S3 > 40 < 15 > 2.500 <750 Sangat terhambat, cepat Kasar > 55 < 50 > 200 > 400 Febrik N

1.250 1.750

Baik, sedang

Halus, agak halus, sedang < 15 > 100 < 60 < 140 Saprik > 16 > 35 5,0 6,0 > 1,2 <4 < 15 > 125 <8 Sangat rendah F0 <5 <5

15 25 75 100 60 140 140 200 Saprik, Hemik < 16 20 - 35 4,5 5,0 6,0 7,5 0,8 1,2 46 15 20 100 125 8 16 Rendah sedang F1 5 15 5 15

< 4,5 > 8,0 < 0,8 68 20 25 60 100 16 30 Berat F2 15 40 15 25 >8 > 25 < 60 > 30 Sangat berat > F2 >40 > 25

Tabel 2. Sebaran Potensi Wilayah Pengembangan Manggis di Kab. Lombok Barat, 2001 Lokasi Desa 1. Tanjung Barat 2. Duman 3. Sigerongan 4. Lembuak 5. Selat 6. Sedau 7. Sesaot 8. Pemenang Timur 9. Sokong 10. Tanjung 11. Jenggala 12. Bentek 13. Sekotong Barat 14. Pemenang Barat 15. Kekait 16. Dasan Geria 17. Duman 18. Segerongan 19. Lingsar 20. Lembuak 21. Selat 22. Lembuak 23. Sesaot 24. Sesaot 25. Batukumbung/Batumekar Total
Sumber : Wisnu dkk, 2001

Kecamatan Tanjung Narmada Narmada Narmada Narmada Narmada Narmada Tanjung Tanjung Tanjung Tanjung Tanjung Sekotong Tanjung Gunungsari Narmada Narmada Narmada Narmada Narmada Narmada Narmada Narmada Narmada Narmada

Zona II a y Agak sesuai

Luas (Ha) 3. 794,2

II a y i

5.220,2

1.582,4

1.762,4

III b 1 y III b 1 x III b 1 x

Sesuai Sesuai Sesuai

415, 1 2.581,3 29.892,1

b. Musim Panen Manggis Musim panen manggis di Pulau Lombok hampir bersamaan dengan daerah lain di Indonesia, yaitu berlangsung berlangsung pada bulan November - April dengan puncak produksi pada bulan Februari - Maret, hal ini berbeda dengan Thailand yang berlangsung pada bulan April Juni. Negara yang menghasilkan manggis pada waktu yang sama dengan Indonesia adalah Australia, India, Ivory Cost dan Madagaskar (Tabel 3). Karena produksi negara-negara yang musim panennya berbarengan dengan Indonesia masih sedikit, persaingan ekspor manggis masih rendah, Namun demikian kebun-kebun manggis di Australia tidak lama lagi akan berproduksi, sehingga Australia akan menjadi saingan Indonesia dalam ekspor manggis.
Tabel 3. Produktivitas dan Waktu Panen Manggis di Beberapa Negara, 1995 Negara Indonesia Thailand Malaysia India Srilangka Puerto Rico Philipina Myanmar Australia Ivory Cost Madagaskar Trinidad Produktivitas (kg/pohon) 30 50 30 200 300 200 300 15 60 40 - 120 Bulan 1 2 3 4 5 6 Panen 7 8 9 10 11 12

Sumber Yacob & Tindal. 1995 Mangosteen Cultivation. FAO

c. Potensi dan Pengembangan Pasar Manggis sebagai salah satu generic product sampai saat ini dapat diterima dengan baik oleh pasar internasional. Permintaan pasar global terhadap manggis terus meningkat karena keunikan rasa buah dan sifat self - life dari manggis yang dapat mencapai 1 bulan. Eksport manggis terus meningkat, dari hanya 425 ton pada tahun 1991 menjadi 3,2 juta kg pada tahun 1995 dan dan terus meningkat sampai sekarang (Tabel.4).
Tabel 4. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Buah Manggis Indonesia, 1991 - 2000 Tahun 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000
Sumber: BPS, diolah,

Ekspor Manggis Volume (kg) 452.030 1.905.052 1.047.040 2.687.408 3.283.847 1.981.421 1.808.221 147.231 4.743.493 7.182.098 Nilai (US$) 530.614 2.143.969 1.120.433 2.484.246 2.688.666 1.523.770 2.286.016 147.896 3.887.816 5.885.038

Persentase Kenaikan Volume (kg) 26.43 321.44 - 45.02 156.67 22.19 - 39.66 - 8.74 - 91.86 3.212.80 51.41 Nilai (US$) - 11.46 304.05 - 47.74 121.72 8.23 - 43.33 50.02 - 93.53 2.528.75 51.27

Volume ekspor manggis segar di dunia sebanding dengan volume eksport manggis dari Thailand. ( Wagiono, Y. 2002 ). Melihat fenomena tersebut diharapkan pemerintah daerah setempat dapat memberikan perhatian terhadap pembangunan permanggisan di Pulau Lombok. Dengan demikian, nantinya manggis di Pulau Lombok dapat meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan petani dan secara tidak langsung memberikan kesempatan kerja terutama di pedesaan baik di tingkat on farm maupun off farm. Manggis dari Pulau Lombok sudah memasuki pangsar eksport sekitar 6 tahun yang lalu (Wiajaya, komunikasi pribadi). Kegiatan eksport tersebut melalui eksportir yang berada di Propinsi Bali. Volume eksport diperkirakan mencapai + 70 ton pada musim panen tahun 2002 yang lalu (Gede Wija, komunikasi pribadi). ASPEK LINGKUNGAN YANG DIHASILKAN DARI SINERGISME PADA KOMBINASI TANAMAN Pada system agroforestry dimana tanaman tahunan dan semusim diusahakan dalam lahan yang sama atau mixed cropping (manggis atau pohon lainnya dengan tanaman semusim ataupun dengan pakan ternak), maka setiap jenis tanaman dapat mengubah lingkungannya dengan caranya sendiri. Sebagai contoh, kombinasi berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata atau ukuran kanopi yang berbeda akan mempunyai efek naungan terhadap tanaman lainnya. Sehingga beberapa tanaman yang jaraknya tidak terlalu dekat akan memperoleh keuntungan. Contohnya pada kelapa akan memberikan keuntungan naungan yang menguntungkan pada manggis pada awal pertumbuhan. Untuk memanfaatkan lahan seefisien mungkin diantara barisan manggis dapat ditanam tanaman rimpang yang kebutuhan akan cahaya dapat tercukupi oleh kebutuhan cahaya difuse atau tak langsung. Hasil penelitian Rahayu et al., (2002) pertumbuhan awal bibit manggis pada berbagai persentase naungan memberikan laju pertumbuhan yang berbeda (Tabel 5).

Tabel 5. Pengaruh naungan terhadap laju pertumbuhan bibit manggis. Perlakuan Tanpa naungan Naungan 25 % Naungan 50 %, tanpa seresah Naungan 50 % + seresah
Sumber : Rahayu, et al., 2002.

Pertambahan Tinggi tanaman (cm) 4,81 cm 5,25 cm 9,84 cm 11,67 cm

Pertambahan diameter batang (cm) 1,78 cm 2,71 cm 3,10 cm 3,16 cm

Pada Tabel 5 juga terlihat bahwa pertumbuhan awal manggis membutuhkan naungan dan seresah yang cukup besar. Nampaknya seresah ini diperlukan bukan hanya untuk pertumbuhan manggis saja tetapi juga untuk berbagai komoditas lainnya, seresah yang melapuk dalam tanah menambah jumlah dan jenis biota dan mikroorganisme dalam tanah yang tentu akan menambah kandungan hara tanah sekaligus dapat memperbaiki struktur tanah. Struktur tanah yang baik akan memberikan pertumbuhan akar tanaman yang sempurna akibat kebutuhan air, oksigen dan energi lainnya tercukupi sehingga kombinasi antar tanaman memberkan efek komplemneter yang saling menguntungkan seperti tertera pada Gambar 2
Gambar 2. Sistem Integrasi Komplementer dalam Pola Agroforestry dengan Baris Tanaman Manggis.

Manggis

Tan. semusim

c
Seresah e
Keterangan :

a : Penataan tanaman manggis dan semusim yang berbeda strata tidak menimbulkan kompetisi yang negatif dalam mendapatkan cahaya matahari. b : Perbedaan perakaran pada tanaman tahunan dan semusim tidak menimbulkan kompetisi dalam memperebutkan kebutuhan hara dan air c : Daun dan ranting yang kering menghasilkan seresah yang sangat bermanfaat bagi lingkungan pertumbuan tanaman

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wasrin dalam Wasrin dalam Suprayogo, et al., (2003) menginformasikan pada berbagai pengelolaan lahan yaitu dari tanaman buah monokultur, tanaman perkebunan monokultur, agroforestryt dan penataan hutan alami menghasilkan produksi seresah yang berbeda. Nampaknya kombinasi berbagai tanaman pada penataan hutan dan agroforestry menghasilkan seresah total lebih besar, secara rinci kotribusi seresah dari tanaman non-pohon justru lebih besar dibanding pohonnya (Tabel 6).

Tabel 6. Produksi Seresah pada Berbagai Sistem Penggunaan Lahan Sistem Penggunaan lahan Hutan Primer di Rantau Pandan Hutan bekas tebangan HTI Monokultur (sengon) Agroforest karet (20 th) Kebun durian dan manggis Kebun karet muda (5 th) Hutan alami
Sumber : Wasrin dalam Suprayogo, et al., 2003.

Berat kering seresah,(t/ha) Pohon 0,98 2,88 3,09 0,74 2,25 1,56 2,96 Non-pohon 1,80 3,06 4,14 1,80 3,16 2,38 3,07

Total (t/ha) 2,78 5,94 7,23 2,54 5,41 3,94 6,03

STRUKTUR PENDAPATAN PETANI Kombinasi berbagai tanaman yang berada di kebun petani di Desa Batumekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu contoh pengelolaan lahan dengan system agroforestry yang orientasi ekonominya lebih besar. Hal tersebut karena kombinasi tanaman yang diusahakan didominasi tanaman yang mempunyai nilai jual cukup tinggi. Meskipun demikian penataan model agroforestry tersebut tetap menganut konsep konservasi lahan dan air. Pendapatan dari kombinasi tanaman tersebut serta kontribusi pendapatan dari masing-masing komoditas tertera pada Tabel 7.
Tabel 7. Waktu Panen, dan Produksi Serta Kontribusi Pendapatan dari Masing-Masing Komoditas pada Pengelolaan Lahan Berbasis Manggis di Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Th. 2003. Tanaman 1. Manggis (94 ph) 2. Pisang (60 rumpun) Waktu Berbuah Produksi/ha 7.332 kg 120 tandan 300 buah 600 butir 250 buah 150 kg 700 kg Harga/ satuan (Rp/kg) 2500 10.000 1000 700 3000 400 3000 Nilai produksi (Rp) 18.305.000 1.200.000 300.000 420.000 750.000 60.000 2.100.000 Kontribusi Pendapatan (%) 79,00 5,00 1.30 1,80 3,70 0,20 9,00

Desember-Maret Setiap saat (seminggu sekali) 3. Pepaya (20 ph) Setiap saat (seminggu sekali) 4. 4. Kelapa (20 ph) Setiap saat (sebulan sekali) 5. 5. Durian ( 5 ph) Desember-Pebruari 6. 6. Ubi jalar (+ Mei 5 are) 7. Empon-empon Agustus (kencur dan jahe,8 are) Total nilai produksi Biaya saprodi dan tenaga kerja Pendapatan

23.135.000 3.200.000 19.935.000

Keterangan : Produksi tanaman kayu (timber) dan pakan ternak belum dihitung Sumber : Rahayu, et al., 2003.

Tabel 7 tersebut menggambarkan bahwa kontribusi pendapatan tertinggi (79,0 %) disumbangkan oleh tanaman manggis, meskipun demikian keberadaan tanaman lainnya khususnya pisang dan papaya yang dapat dipanen setiap saat merupakan kontribusi pendapatan harian yang sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup keseharian petani. Sedangkan tanaman pembatas dan pagar lahan yang biasanya terdiri dari kayu-kayuan (timber) seperti mahoni dan gamal hasilnya tidak pernah dijual karena untuk keperluan bangunan dan keseharian rumah tangga sendiri.

KESIMPULAN 1. Prospek pengelolaan lahan dengan sistem agroforestry berbasis manggis di Kabupaten Lombok Barat sangat baik karena didukung oleh potensi lahan khususnya di sekitar sabuk Gunung Rinjani dan sekitarnya yang mencapai luasan 29. 892 ha. 2. Pengembangan manggis dengan penataan sistem agroforestry memberikan multi efek, yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial yang tentu merupakan modal harapan untuk bisa berkembang dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2003. Geliat Manggis dari Tasikmalaya, Majalah Hortikultura, Edisi : Mei 2004. Djaenudin, D., H. Marwan, H. Subagjo dan A. Hidayat., 2003. Evaluasi Lahan Untuk Komoditas Pertanian. Balai Penelitian Tanah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Rahayu, M. dan H. Sembiring, 2001. Studi Potensi Wilayah dan Keragaman Manggis di Pulau Lombok. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi dan Pertanian, Mataram 30 31 Desember 2001. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor. Rahayu, M., H. Sembiring, D. Praptomo dan Sudar, 2002. Laporan Pengkajian Adaptasi Teknologi Perbanyakan Rambutan, Durian dan Manggis. IPPTP Mataram. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Rahayu, M., Sudjudi, Erawati , Puspadi dan Mashur, 2003. Laporan Pengkajian Sistem Usahatani Berbasis Manggis di Sentra Produksi Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Rahayu, M., Sudjudi, Erawati , Puspadi dan Mashur,2003. Laporan Pengkajian Agribisnis Manggis pada Sentra Produksi di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Wasrin dalam Suprayogo, D., K. Hairiyah, N.Wijayanto, Sunaryo, dan Van Noordwijk Meine., 2003. Peran Agroforestry pada Skala Plot. World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor. Yacob dan Tindal, 1995. Mangosteen Cultivation. FAO.