Anda di halaman 1dari 3

EKONOMI MAKRO, RODA PEREKONOMIAN DAN ISLAM Ide ini muncul ketika aku mengingat pembicaraan dengan pembimbing

II ku setelah tamat dari Program Magister Manajemen Universitas Sumatera Utara. Padahal duluny a aku tidak pernah mendapat essensi dari Teori Makro yang aku pelajari - apa dan bagaimana bekerjanya roda perekonomian itu. Ketika itu kami sedikit membicarakan tentang Geladi Karyaku (setingkat thesis) y ang membahas mengenai kewirausahaan untuk menekan angka kemiskinan. Ekonomi Makro adalah bagaimana suatu Negara/perekonomian berputar menghasilkan l apangan kerja dan pada akhirnya mendapat income (pendapatan). Ada empat pilar utama dalam suatu Negara yang memutar roda perekonomian itu: PEM ERINTAH RUMAH TANGGA BANK PERUSAHAAN. Keempatnya bagaikan jari-jari roda yang dihubungkan oleh lingkar untuk membuat r oda bergelinding. Semakin aktif ia berputar dan menggelinding maka semakin besar roda tersebut itu terbentuk, layaknya fenomena bola salju (snowball phenomenon) . Begini lah roda perekonomian itu berputar: 1. PEMERINTAH memungut pajak dari RUMAH TANGGA (individu) sebagai imbalanny a pemerintah membangun sarana dan prasarana sosial / infrastruktur atau sebalikn ya. 2. RUMAH TANGGA memberikan tenaganya kepada PERUSAHAAN dengan imbalan gaji/ upah - Sementara agar perusahaan bisa berjalan ia melakukan produksi dan hasilny a dibeli oleh rumah tangga. 3. Sisa dari konsumsi RUMAH TANGGA ditabung di BANK, sebagai imbalannya ba nk memberikan bunga tabungan. 4. Agar BANK bisa berjalan dan membayar bunga tabungan, ia meminjamkan (kre dit) dana yang terkumpul kepada PERUSAHAAN, sehingga perusahaan bisa mengembang kan produksinya. Sebagai imbalannya perusahaan membayar bunga pinjaman kepada ba nk. 5. Hasil produksi PERUSAHAAN yang terjual kepada RUMAH TANGGA menghasilkan income bagi perusahaan. Karena perusahaan telah menikmati sarana dan prasarana s osial / infrastruktur yang dibangun oleh PEMERINTAH maka perusahaan wajib membay ar atau dikutip pajaknya oleh pemerintah. Selanjutnya pemerintah akan mengembang kan infrastruktur baru dan seterusnya. Dari penjelasan diatas adalah rumah tangga atau individu lah yang sebenarnya mem egang peranan penting dalam roda perekonomian dari suatu Negara. Kembali ke percakapanku dengan pembimbing II ku itu, karena kemiskinan berhubung an dengan roda perekonomian, bagaimana si miskin bisa berusaha dan menghasilkan pendapatan kemudian melakukan konsumsi. Tiba-tiba terlintas dipikiran ku mengenai ajaran Islam mengenai nafkah. Pak dalam Islam ada perkataan nafkahkanlah sebagian dari rezekimu kepada orang tu a, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang dalam perjalana (ibnu sabil), sebenarnya itulah roda perekonomian! ****

Allah berfiman : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang me nafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumb uhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ga njaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Ma ha Mengetahui." (QS. 2 : 261) Dalam ayat ini, tanpa kia sadari merupakan dasar pemikiran dari roda perekonomia n. Dan RODA PEREKONOMIAN ISLAM ITU ADALAH: 1. ALLAH menciptakan bumi dan isisnya dan memberikan rezeki kepada seseoran g HAMBA, maka yang pertama kali hamba itu lakukan adalah menunaikan keperluan-ke perluan hidupnya. Kemudian ia membayar zakatnya. 2. Dalam menunaikan keperluannya, HAMBA membeli keperluan kepada PEDAGANG/S AUDAGAR sehingga pedagang bisa menjalankan usahanya. Dalam menjalankan usahanya ia membutuhkan TENAGA KERJA dengan imbalan upah/gaji. 3. Sebagian dari rezeki itu, HAMBA infakkan kepada kepada orang tua, keraba t, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil agar mereka bisa memenuhi keb utuhan hidupnya berbelanja kepada PEDAGANG. 4. HAMBA yang masih memiliki sisa rezeki melakukan perjanjian bagi hasil ke pada PEDAGANG agar Pedagang bisa melakukan atau memperluas usahanya. 5. PEDAGANG yang sudah sampai pada hisabnya membayar zakat dan menginfakkan sebagian dari rezekinya kepada kepada orang tua, kerabat, anak-anak yatim, ora ng-orang miskin, ibnu sabil agar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan ke mudian ALLAH melapangkan rezeki pedagang tersebut dan seterusnya. Itulah yang dimaksud Allah, dari sebutir benih (nafkah) menumbuhkan tujuh bulir (hamba itu sendiri - pedagang -penghasil bahan baku- transportasi -pengumpul - p etani dan seterusnya) dan tiap tiap bulir seratus biji (keluarga hamba itu sendi ri - keluarga pedagang keluarga penghasil bahan baku keluarga pengusaha transpor tasi dan sterusnya), semua memperoleh dampak dari apa yang dibelanjakan. Mereka bertanya kepadamu berapa banyak harta yang harus diinfakan? Katakanlah, ap a yang lebih dari keperluan. (QS Al Baqarah (2) :219) Dari Abu Umamah r.a., Rasulullah saw. bersabda, Wahai Anak Adam, infakkanlah apa y ang melebihi keperluanmu, itu lebih baik bagimu. Jika kamu menggenggamnya, maka hal itu adalah buruk bagimu. Menyimpan sekadar keperluan tidaklah tercela. Pada waktu memberi infak, dahulukanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu. (HR Muslim -Misykat). Karena itulah Allah sangat membenci orang yang kikir, yaitu orang yang menahan afkahnya dan tidak mau berbagi kepada pihak yang membutuhkan, padahal ia mampu an berkelebihan. Karena hal itu memberi dampak terhadap roda perekonomian yang ada akhirnya bisa menumbuhkan kemiskinan, kefakiran, gap yang tajam antara si aya dan si miskin dan kekufuran. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Demi siang apabila terang benderang. Demi penciptaan laki-laki dan perempuan. Sungguh usahamu memang beraneka ragam. Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, n d p k

Dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga) Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Al lah), Serta mendustakan (pahala) yang terbaik, Maka akan Kami mudahkan bagianya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa. Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk. Dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia itu. (QS Al-Lail (92) : 1 13) Allahualam Medan, 23 Juli 2012 Dari Berbagai Sumber. DIS