Anda di halaman 1dari 4

BIROKRASI DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH

Oleh : Benny Sumardiana, S.H., M.H. Indonesia adalah sebuah negara majemuk yang memiliki banyak warga dan segala kebutuhan hidup yang berhubungan dengan birokrasi dalam pemerintahan. Sejak pada masa Orde baru yang lalu, pemerintah identik dengan sistem pemerintahan yang memiliki alur birokrasi yang sangat panjang dan ini cenderung sangat tidak efektif dan tidak efisien. Pemerintah yang kala itu belum menelurkan peraturan otonomi daerah. Mengatur agar semua permasalahan yang berhubungan dengan birokrasi seperti perizinan, dan apapun itu harus diatur sampai pada pemerintahan pusat di Jakarta, padahal dengan keadaan penduduk Indonesia dan kondisi geografisnya menyulitkan untuk hal itu apalagi semuanya harus melewati birokrasi yang sangat panjang mulai dari tataran kelurahan, kecamatan, kabupaten atau kota, kemudian sampai ke provinsi, lalu ke pusat. Ini diperparah lagi dengan birokrat yang cenderung korup dan kadang suka menyulitkan publik yang membutuhkan layanan tersebut. Para pejabat daerah yang memiliki tugas atau wewenang untuk melayani publik saat itu bagai menjadi momok bila masyarakat hendak membutuhkan mereka, sehingga ini banyak menyebabkan banyak masyarakat yang enggan mengatur atau menyerahkan permasalahan mereka kepada pemerintah karena memandang birokrasi yang seperti itu, dan ini juga menjadikan banyak masalah yang bersumber dari hal tersebut seperti usaha yang ilegal, warga yang tidak memiliki izin, atau surat-surat keterangan diri dan lainnya. Masyarakat merasa birokrasi justru akan menghalangi kepentingan untuk mencapai tujuan mereka. Era reformasi yang dimulai sejak tahun 1998 atau ketika jatuhnya rezim orde baru, telah merubah banyak tatanan yang ada di Indonesia, terutama pemerintah atau para penguasa yang dikenal dengan istilah birokrasi. Gonjang-ganjing ketidak adilan dari pemerintah pusat atas daerah saat itu santer terdengar, selain itu kondisi geografis Indonesia yang cukup sulit untuk menjangkau dari daerah menuju pusat pemerintahan yang terdapat di Jakarta juga menjadi permasalahan saat itu. Sehingga banyak khalayak

menginginkan adanya sebuah pengaturan atau kebijakkan yang dapat menjadikan segala persoalan dapat diselesaikan cukup di wilayah pemerintahan daerah saja. Beberapa tahun setelah itu lahirlah sebuah kebijakkan yang memberikan kekuasaan penuh kepada daerah untuk mengurus dan mengatur pemerintahannya sendiri, ini dikenal dengan istilah otonomi daerah. Otonomi daerah menyebabkan lahirnya kebebasan untuk mengatur pemerintahan daerah, kebijakkan ini pun sebenarnya cukup diterima walau saat itu pada prakteknya masih agak melenceng dari yang diharapkan namun hal ini biasa terjadi dalam sebuah peraturan yang baru saja diturunkan pemerintah. Selain semua masalah tersebut yang menjadi permasalahan utama adalah keuangan, waktu itu semua pendapatan yang berasal dari daerah harus diserahkan kepada pemerintah pusat yang kemudian dari pemerintah pusat akan didistribusikan kemasing-masing daerah. Hal ini yang kadang menjadi masalah karena dana yang diberikan dari pemerintah pusat kadang tidak sebanding dengan apa yang didapatkan dari daerah asal misalkan saja Papua daerah ini memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah bahkan disana terdapat tambang emas yang merupakkan salah satu terbesar di dunia. Tambang yang dieksploitasi oleh perusahaan asal Amerika itu memberikan banyak keuntungan kepada negara, namun sesuai peraturan saat itu dana yang didapatkan diserahkan pada pemerintah pusat kemudian didistribusikan kepemerintah papua, namun yang didapatkan oleh daerah papua bahkan tidak lebih dari 25% dari yang dihasilkan oleh tambang emas itu sedangkan sisanya untuk pemerintah pusat. Banyak kelebihan dari pelaksanaan otonomi daerah ini, diantarnya adalah kini segala permasalahan tidak diatur oleh pemerintah pusat mulai dari permasalahan pemerintah daerah, pendidikan bahkan pengaturan yang sepele sekalipun seperti pengurusan surat-surat kendaraan bermotor. Selain permasalahan tersebut dengan adanya otonomi daerah permasalahan keuangan pemerintah daerah telah terselesaikan dengan adanya perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Kini pemerintah daerah dapat dengan bebas untuk menggunakan keuangan daerah untuk mendanai daerahnya sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Dengan kata lain disini telah ada pengguntingan birokrasi yang semula panjang kini hanya cukup sampai tingkat pemerintah daerah saja.

Namun pada prakteknya kini terdapat beberapa hal yang menimbulkan masalah seperti adanya otonomi khusus bagi DI Aceh, dengan otonomi ini aceh dapat mengatur daerahnya sendiri tanpa campur tangan pemerintah pusat otonomi ini melebihi dari apa yang didapatkan pemerintah daerah lain-lainnya bahkan di Aceh kini telah berjalan suatu peraturan hakum yang berbeda dengan hukum yang berlaku di wilayah Indonesia lainnya yaitu hukum islam. Daerah yang dikenal dengan sebutan serambi mekah itu telah beberapa tehun ini menggunakan hukum islam. Dengan berlakunya hukum islam itu sendiri menyebabkan ada dua hukum yang berlaku di wilayah Indonesia ini artinya tidak adanya unifikasi hukum di Indonesia tentunya menjadi rancu apabila dalam sebuah negara terdapat dua buah peraturan hukum, kejanggalan ini disebabkan karena praktek otonomi daerah yang berlebihan. Di sektor pemerintahan sendiri otonomi daerah yang memberikan kewenangan dan kebebasan tersebut kini telah banyak menimbulkan lahirnya daerah-daerah pemerintahan baru dan tentunya juga para birokrat-birokrat baru. Seperti wilayah provinsi-provinsi dan kabupaten atau kota yang baru, lahirnya pemerintahan daerah baru ini justru ketika otonomi daerah dijalankan yaitu ketika pemerintah daerah dengan kewenangannya dapat mengatur daerah atau wilayahnya sendiri. Harusnya jika demikian tentunya akan lebih makmur suatu daerah karena lebih diperhatikan oleh pemerintah daerah ketimbang dahulu ketika diatur secara langsung oleh pemerintah pusat. Dibidang lainnya seperti ekonomi misalnya ternyata jerat otonomi juga mencengkram bidang ini, kini dengan adanya otonomi daerah pemda dapat mengarahkan haluan ekonominya bahkan suatu daerah kini dapat melakukan kerjasama dengan luar negeri. Dahulu ketika birokrasi masih berbentuk panjang atau sebelum otonomi daerah para investor asing kesulitan untuk mengurusi perizinan untuk berinvestasi di Indonesia bahkan salah satu perusahaan elektronika besar menutup usahanya di Indonesia yaitu perusahaan elektronika SONY yang kemudian beralih ke Singapura. Sekarang dengan berkurangnya sistem birokrasi yang panjang para investor asing cukup melakukan perjanjian dan mengurus perizinan sampai tingkat pemerintah daerah saja, misal yang baru-baru ini terjadi adalah Pemprov Papua yang bekerjasama dengan China yang kemudian mendapatkan dana senilai 800 juta dollar AS, yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan lainnya, jadi kini masyarakat bisa lebih kompeten selain ditunjang denga perijinan yang lebih

mudah karena yang dihadapi hanya birokrasi pemerintah daerah tanpa harus kepemerintah pusat. Selain disektor ekonomi otonomi daerahpun mencakup bidang pendidikan, walaupun dalam hal kurikulum serta pengaturan ujian masih satu dengan pusat namun untuk kebijakkan sekolah, Perguruan tinggi dan lainnya kini diberikan kebebasan sebesarbesarnya mengatur rumah tangganya sendiri bahkan ada beberapa Perguruan Tinggi Negeri yang cukup besar merubah statusnya menjadi Universitas yang mandiri baik dalam pembiayaan maupun lainnya, tentunya baik dibidang ekonomi maupun pendidikan dapat menimbulkan persaingan yang sangat ketat. Indonesia dengan kemajemukan masyarakatnya dengan adanya otonomi daerah tentunya akan menimbulkan banyak persepsi yang berbeda, apalagi di daerah yang jauh dari jangkauan pusat dan perhatian tidak akan sampai kesana. Oleh karena itu untuk mendapatkan sebuah sistem dan birokrasi pemerintahan daerah yang efektif dan efesien dalam pelayanan publik, maka harus adanya kesadaran dan peraturan yang jelas untuk mengatur birokrat pada masa otonomi daerah tersebut. Para birokrat harus profesional dalam menjalankan tugasnya dalam melindungi masyarakat, serta adanya pengawasan yang ketat dalam menjalankan peraturan tersebut sehingga tidak adanya birokrat yang melakukan tugasnya dengan sewenang-wenang. Selain itu perlu adanya settingan ulang dalam penjaringan pegawai yang hendak menjadi pelayan masyarakat kita harus memiliki birokrat yang bermoral yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadinya saja. Jika berkaca di pulau jawa saja misalnya banyak permasalahan yang ditimbulkan atas ketidaksiapan para birokrat dalam penyelenggaraan otonomi daerah misalnya lahirnya Provinsi baru dan kabupaten baru. Dengan fenomena-fenomena seperti ini tidak menutup kemungkinan akan adanya perpecahan yang dapat ditimbulkan oleh otonomi daerah ini. Dibidang ekonomi misalnya setiap daaerah tentunya memiliki jumlah pendapatan yang berbeda hal ini tentunya akan menimbulkan perbedaan kemajuan yang didapatkan daerah satu dengan lainnya. Maka dari itu tampaknya pemerintah masih sangat perlu membenahi birokratnya dalam menjalankan otonomi daerah ini, tentunya untuk menghindari permasalahan seperti yang dibayangkan selama ini dan tentunya akan menjadi pekerjaan yang sangat berat untuk kita sebagai mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa yang kelak akan melahirkan para birokrat-birokrat baru.