Anda di halaman 1dari 14

1.

1 Peacemaking Sebagai Sebuah Pengalaman Baru

Sejak Perang Dingin telah ada perjanjian perdamaian lebih dari pada periode apapun setelah akhir Perang Dunia Kedua. Beberapa dari kesepakatan yang dibatasi oleh keberhasilan dan mengubah konflik ke dalam hubungan yang lebih konstruktif antara negara, masyarakat dan kelompok. Kegagalan lainnya adalah terkena efeknya terhadap manusia dalam sebuah

peperangan. Akibatnya, kebutuhan untuk memahami resolusi konflik dengan cara yang baru. Tidaklah cukup bagi dunia luar untuk meminta negosiasi dan kontak antara pihak yang bertikai. Adanya kebutuhan dari pihak-pihak yang terkait untuk menyarankan atau memberikan pendapat tentang apa yang harus di diskusikan, apakah mereka setuju, bagaimana persetujuan bisa dibuat secara nyata dan, paling tidak, bagaimana permukiman dapat dibuat agar bisa bertahan sehingga generasi baru dapat dinaikkan tanpa mengulangi pengalaman perang yang tidak baik. Lebih jauh lagi, hal ini penting untuk dipertanyakan tentang apa yang bisa dipelajari untuk pencegahan konflik yang efektif, dan yang memungkinkan untuk aspirasi tanpa adanya kekerasan yang sistematis dan disengaja. Di awal 1990, pengetahuan dalam hal resolusi konflik pada masa peperangan sangat terbatas. Ada wawasan yang cukup dalam negosiasi dalam urusan politik dalam negeri, seni dalam membuat kesepakatan dan keputusan (The Art of Deal-making). Pemahaman dihasilkan dari masyarakat dan lingkungan, yang melibatkan sedikit kekerasan dan peperangan. Hal ini disebut juga sebagai keadaan dalam nilai-nilai kebersamaan dan norma, dimana batas-batas budaya sedikit yang dilanggar. Namun, resolusi konflik mengambil dimensi yang sama sekali berbeda ketika pihak telah mencoba untuk membunuh satu sama lain. Dalam pengelolaan konflik antara perusahaan dan pekerja ada ancaman pemogokan dan larangan untuk bekerja. Ini tidak sama seperti ketika negosiator, keluarga, kerabat, teman dan rekan telah berada di bawah serangan bersenjata oleh pihak lain. Jika melibatkan masalah hidup dan mati, perang adalah sebagai bentuk kualitatif, dan berbeda dengan konflik. Negosiasi dan perdamaian pada saat berakhirnya peperangan bisa mengetahui atau mempelajari dari pengalaman lainnya dan menghadapi masalah yang cukup unik. Permasalahan-permasalahan yang tidak kompatibel justru sebagai pusat seperti analisis dan lebi cenderung memperhatikan pertanyaan umum dan perusahaannya.

Pada awal tahun 1990 setelah berakhirnya Perang Dingin, Dunia mulai serius untuk menjalani serta mengurus perdamaian dunia. Selama Perang Dingin, negosiasi dan kesepakatan tentang isu-isu yang melibatkan penggunaan senjata sangat sedikit dan terbatas. Ada kesepakatan damai di Indocina pada 1954, tetapi, seperti penggantinya pada tahun 1973, hal ini langsung kacau. Selain itu juga penyelesaian antara India dan Pakistan setelah perang di tahun 1965 dan 1971, pencapaian dalam hal ketegangan, tapi bukan akhir dari ketidakcocokan diantara keduanya. Penekanan dalam hal kekuatan konfrontasi waktu, Perang Dingin, adalah sebuah kemenangan, dan bukang berdasarkan kompromi. Komponen-komponen ideology dan catatan sejarah membuat Perang Dingin menjadikannya pejuangan yang eksistensial. Hal itu dilancarkan antara benar dan salah, demokrasi dan kediktatoran, kapitalisme dan sosialisme, kebebasan dan imperialisme. Kompromi dipandang sebagai moral yang dipertanyakan. Sikap yang sama juga tercermin dalam periode sengketa lainnya, baik yang berhubungan dengan Perang Dingin atau bukan. Ada alasan untuk keengganan atau ketidakmauan mengenai resolusi yang di negosiasikan. Peringatan mengenai perjanjian yang kurang sempurna dan mengalamai kegagalan di Munich pada tahun 1938 menghantui beberapa aktor-aktor Negara. Disaat itu juga, Negara demokratis (Inggris dan Perancis) menyetujui totalitarian one (kelompok Nazi, Jerman) terhadap putusannya, daripada perlindungan Negara-negara demokrasi yang kecil, Cekoslovakia. Meski begitu, Hitler memilih untuk tidak menghormati/merespon persetujuan tersebut. Hal ini menjadi serangkaian pembangunan yang berkepanjangan menjelang perang besar-besaran. Bagi pemimpin Negara barat, ini menunjukkan kompromi yang tidak ada gunanya dengan kediktatoran. Ketenangan menjadi sinonim untuk negosiasi. Para pemimpin Soviet dapat menarik kesimpulan serupa dari kesepakatan dengan Nazi Jerman pada Agustus 1939, perjanjian yang membuat Perang Dunia II tak terelakkan. Meskipun ini bertujuan untuk mencegah peperangan antara keduanya, dengan pemisahan pengaruh di Eropa Timur dan wilayah Baltic, Jerman menyerang wilayah Uni Soviet kurang dari dua tahun kemudian. Dengan demikian, kedua sisi pada Perang Dingin yang memutuskan bergabung untuk mengalahkan Nazi Jerman sangat setuju dengan bahaya dari pembuatan perdamaian dengan penentang. kesimpulannya adalah bahwa perdamaian abadi dibutuhkan kemenangan yang sempurna. Kemudian hal ini sangat luar biasa bahwa negosiasi masih mungkin ditemukan dalam lingkup tertentu: pengendalian senjata dan pelucutan senjata. Ada perjanjian yang melarang

percobaan senjata nuklir, membatasi produksi rudal, dan bahkan menghilangkan kategori seluruh persenjataan. Negosiasi ini bertujuan untuk mengurangi risiko perang yang disengaja antara negara-negara besar, tanpa penyelesaian yang tidak kompatibel pada mereka. Ini adalah upaya pada pengelolaan konflik, memastikan hubungan antara negara-negara besar tidak akan keluar dari tangan. Meskipun demikian, Perang Dingin terus menyebabkan krisis baru. Dasar ketidakpercayaan dan konfrontasi, meskipun terkandung menjadi konflik nuklir, memandu kepemimpinan. Semua jenis konflik lainnya yang diperbolehkan: perang yang dilancarkan oleh proxy, secara rahasia, sebagai intervensi. Bahaya konflik lokal bereskalasi menjadi perang nuklir adalah sebuah elemen analisis yang paling utama. Sebuah pelajaran yang penting dalam Perang Dingin adalah bahwa pengurangan persenjataan memiliki nilai terbatas dalam resolusi konflik. Setelah semuanya ini, isu-isu 'politik' yang terlibat dalam membentuk konflik adalah dasarnya, dan senjata yang digunakan untuk mengejar kepentingan tersebut. Pengelolaan konflik dapat membantu dalam mengurangi bahaya krisis, menciptakan beberapa keyakinan dan berkurangnya (potensial atau aktual) penderitaan. Resolusi konflik lebih ambisius seperti mencoba untuk mempengaruhi isu-isu dasar, yang tidak kompatibel, yang mengarahkan para pihak yang bertentangan.

1.2 Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik

Pendekatan resolusi konflik berdasarkan pada wawasan dari penelitian kontemporer. Yang berarti menggambarkan konklusi dari studi mengenai penyebab perang, sejarah pelucutan senjata dan pengontrolan senjata atau dinamika konflik yang melibatkan studi kuantitatif dan kualitatif. Para ahli sekarang ini menggambarkan atau menjelaskan resolusi konflik berdasarkan sejarah. Studi perdamaian seperti bidang kaji lainnya yang berkaitan dengan masalah sosial, tentu saja didominasi oleh perubahan dan kejadian sejarah. Studi perdamaian yang ditujukan untuk memahami penyebab kekerasan dan menemukan solusi untuk mengurangi kekerasan merupakan hal penting terhadap perubahan-perubahan yang ada. Seringkali, perkembangan sejarah mempengaruhi agenda yang sekarang ada. Penelitian perdamaian telah mengembangkan agenda yang menjadi penyebab trauma dari kejadian yang sebelumnya terjadi, dan juga mengembangkan

harapan yang merupakan bagian penting dari alur kejadian. Contohnya adalah sejarah Perang Dunia I yang meninggalkan trauma hilangnya krisis kontrol, yang kemudian dibuatlah League of Nations atau Liga Bangsa-Bangsa dengan harapan untuk menciptakan aturan agar dapat mengurangi agresi yang ada. Penelitian perdamaian muncul sebagai bidang untuk memahami penyebab perang dengan analisis yang sistematis melalui pengalaman sejarah perang. Penyebab perang tetap menjadi pertanyaan yang mendasar untuk penelitian perdamaian. Terdapat banyak jumlah pengalaman yang negative dan traumatis serta harapan untuk membentuk kemungkinan baru. Trauma berhubungan dengan penderitaan manusia dalam skala besar yang mempengaruhi banyak aspek di dunia. Begitu juga dengan harapan yang menarik perhatian masyarakat global. Keberadaan trauma dan harapan memunculkan tantangan terhadap pengetahuan konvensional, dan mengakibatkan perubahan paradigma. Studi perdamaian yang banyak menyinggung aspek perang dan damai, hubungan internasional, kebijakan luar negeri, sosiologi, ekonomi, hukum internasional, dan sebagainya banyak diaplikasikan dalam banyak disiplin ilmu. Studi perdamaian tidak memperhitungkan penggunaan kekerasan sebagai penyelesaian masalah. Ada pendapat ahli lain mengenai studi perdamaian. Menurut galtung, dalam terminologi perdamaian ada dua sub-terminologi didalamnya yaitu positive peace dan negative peace. Terminologi positive peacedapat dicapai jika perdamaian dicapai atas dasar koordinasi dan hubungan yang supportif antara pihak-pihak yang terkait di dalamnya. Sedangkan terminologi negative peace diartikan oleh Galtung sebagai absennya konflik. Baik konflik yang bernuansa kekerasan atau tidak. Terminologi mengenai Peace Research juga muncul dalam jurnal Galtung sebagai alat untuk menemukan inovasi-inovasi baru mengenai peace building dan resolusi konflik. Berbagai penulis juga mengkonfirmasikan pernyataan Galtung melalui tulisannya bahwa peace researchmengkonfrimasi akan inovasi-inovasi terbaru dalam

terminologi resolusi konflik, dengan demikian harapan idealisme dan utopisme akan terbentuknya suatu sistem global yang damai lama-kelamaan dengan munculnya orang-orang seperti Galtung, mengindikasikan bahwa sebenarnya impian kooperasi dari idealisme orangorang liberalisme bukanlah hal yang absurd dan irasional. Tetapi lebih menekankannya pada proses dimana konflik, sebenarnya dapat dipelajari secara obyektif dengan pendekatan yang noninterestual. Dengan demikian akan menghasilkan banyak alternatif-alternatif sesuai dengan

perkembangan evolusi teori konflik dan resolusinya, dan bagaimana peran peace research untuk terus berupaya untuk menemukan inovasi-inovasi dalam proses resolusi konflik.

1.3 Pendefinisian Resolusi Konflik

Sebelum membahas lebih jauh mengenai resolusi konflik, terlebih dahulu kita harus memiliki defenisi awal dari resolusi konflik itu sendiri. Telah kita ketahui mengenai perbedaan antara manajemen konflik dengan resolusi konflik. Fenomena baru perjanjian perdamaian telah terbentuk, dimana perjanjian perdamaian merupakan bagian integral dari sebuah resolusi konflik. Tanpa beberapa bentuk kesepakatan di antara para pihak yang saling bertentangan, sulit untuk berbicara tentang resolusi konflik. Namun, kesepakatan yang jika diterapkan, mungkin tidak cukup untuk membangun perdamaian yang bertahan cukup lama. Perdamaian membutuhkan lebih dari kesepakatan antar para pihak. Kesepakatan damai merupakan langkah yang diperlukan untuk memiliki sebuah pengaturan abadi. Dengan demikian, kita dapat mendefinisikan preliminarily resolusi konflik sebagai situasi di mana pihak yang bertikai masuk ke dalam perjanjian yang memecahkan ketidak kompatibel pusat mereka, menerima satu sama lain serta keberadaan sebagai pihak dan menghentikan semua tindakan kekerasan terhadap satu sama lain. Ini berarti, bahwa resolusi konflik adalah sesuatu yang selalu datang setelah konflik. Ini berarti bahwa pertama-tama kita harus memiliki konsep dan alat untuk analisis konflik. Mari kita meneliti unsur-unsur kunci dalam definisi ini. Perjanjian ini biasanya merupakan pemahaman yang bersifat formal, dimana suatu dokumen yang ditandatangani di bawah kondisi yang lebih atau kurang serius. Namun, ada dapat lebih informal, pemahaman implisit bekerja di antara para pihak. Perjanjian tersebut mungkin ada dalam dokumen rahasia, misalnya, janji penting dilakukan sebagai prakondisi untuk pengaturan formal, atau sebagai kesepakatan tentang mana para pihak telah lebih atau kurang eksplisit. Banyak kasus cenderung melihat sebagai sengketa banyak di sekitar pemahaman informal seperti sebagai atas dokumen diformalkan. Selanjutnya, informal pakta tersebut membutuhkan kepercayaan yang cukup besar antara para pihak. Mereka kemungkinan besar, tidak dibuat tanpa ada pengaturan formal.

Dengan demikian, dokumen formal penting untuk setiap proses perdamaian. Pembicaraan definisi tentang pihak-pihak yang saling menerima keberadaan satu sama lain, sebagai sebuah bagian. Ini merupakan elemen penting, karena dimaksudkan untuk

membedakan kesepakatan perdamaian dari perjanjian kapitulasi. Perjanjian kapitulasi adalah ekspresi terkuat dari sebuah kesetujuan mengenai suatu kemenangan dan kekalahan. Artinya bahwa satu sisi menetapkan perjuangannya, melarutkan organisasinya, berangkat dari wilayah yang disengketakan itu dan berhenti menjadi aktor yang berpengaruh dan signifikansi. Contohnya adalah perjanjian penarikan, ini adalah suatu perjanjian di mana satu sisi setuju untuk menarik pasukan dari wilayah sengketa dan ini adalah hanya merupakan materi perjanjian yang mengatur. Meskipun esensi perjanjian ini adalah untuk mengakhiri partisipasi pihak dalam konflik. Contoh adalah penarikan Soviet dari Afghanistan yang disepakati pada tahun 1988 dan dilaksanakan oleh 1989. Itu berakhir peran dominan dari Uni Soviet pada urusan intern Afghanistan. Contoh lain adalah pengunduran diri seorang pemimpin partai dari pemerintah, di mana idia juga meninggalkan negara itu. Hal ini terjadi dengan kepergian General Raoul Cedras dari Haiti pada tahun 1994, berakhirnya aturan militer dan memungkinkan kembalinya pemerintah yang dipilih secara demokratis oleh Mr. Aristide. Namun, kesepakatan kepentingan resolusi konflik di sini lebih kompleks dari pengaturan tersebut. Perjanjian perdamaian melihat situasi dimana para pihak memerangi ataupun menerima satu sama lain juga sebagai pihak dalam transaksi masa depan satu sama lain. Ini berarti bahwa tidak ada yang memenangkan semua yang ada untuk dapat menang, dan tidak ada pula satu kekalahan merupakan kekalahan semua. Tentu saja, kata 'menerima' dalam definisi tersebut tidak berarti bahwa para pihak sepakat untuk segalanya atau bahwa mereka saling menyukai. Ini hanya berarti bahwa mereka menerima yang lain sebanyak yang mereka butuhkan untuk perjanjian yang akan dilaksanakan oleh pihak lawan. Perumusan bahwa para pihak menghentikan semua tindakan kekerasan terhadap satu sama lain merupakan hal yang paling penting. Hal ini biasanya merupakan bagian dari perjanjian yang sama tetapi dapat dilakukan sebagai persyaratan yang terpisah. Seringkali penghentian kekerasan dibuat publik di rentang waktu yang sama dengan perjanjian damai disimpulkan. Kepada masyarakat luas, perang berarti berakhir dan bahaya akan dibunuh berkurang. Terkadang, perjanjian gencatan senjata dapat mendahului kesimpulan perjanjian yang sebenarnya, yang dimana mengatur ketidak kompatibelan antara para pihak. Ada perdebatan apakah gencatan senjata harus mendahului, bersamaan, atau setelah politis perjanjian. Ada sejumlah perjanjian gencatan senjata yang berlangsung lama, tanpa menghasilkan kesepakatan damai. Garis gencatan senjata ditarik pada tahun 1949 dimana memisahkan Israel dari tetangga

Arabnya yang digunakan dalam perjanjian dengan Mesir 30 tahun kemudian. Pembagian teritorial yang sama dan relevan untuk kesepakatan akhir antara Israel dan Palestina. Garis berdiri lebih dari 50 tahun. Garis-garis pemisahan antara dua negara Korea yang pada tahun 1953 akan segera mencapai usia yang sama. Mungkin kesepakatan sebelumnya akan dicapai di Siprus, di mana wilayah divisi yang merupakan referensi untuk diskusi hari ini dari perang di tahun 1974. Perjanjian gencatan senjata, dengan kata lain, lebih dekat dengan manajemen konflik, cara membekukan status quo militer, dan tidak selalu menghasilkan upaya perdamaian. Dan lebih aman untuk menyimpulkan bahwa perjanjian perdamaian, pemecahan yang tidak kompatibel pusat antara para pihak, yang tidak termasuk usaha simultan untuk menghentikan pertempuran, adalah tidak mungkin menjadi kredibel. Dengan demikian, perjanjian dimasukkan sebagai ukuran resolusi konflik mereka yang baik memecahkan ketidak kompatibelan dan mengakhiri sebuah pertempuran.

1.4. Batasan Dalam Resolusi Konflik

Resolusi konflik tidak selalu identik dengan perdamaian. Ada cukup tumpang tindih antara definisi keduanya, namun diduga definisi perdamaian didasarkan pada tidak adanya atau akhir dari sebuah perang. Dalam pengertian tersebut, tersirat bahwa sebuah konflik tidak terselesaikan selama pertentangan bersenjata belum berakhir. Namun di sisi lain, resolusi dari konflik tidak cukup apabila hanya berisi berakhirnya perang fisik saja. Resolusi konflik lebih dari sebuah definisi perdamaian yang terbatas. Hal ini lebih dari sekedar tidak adanya perang dimana pihak pihak yang terkait setuju untuk saling menghormasti satu sama lain dan mempersiapkan diri mereka untuk hidup bersama antara satu dengan yang lainnya. Bagaimanapun ada pengertian yang lebih luas lagi mengenai perdamaian, seperti adanya kerjasama, keadilan, dan integrasi. Resolusi konflik mungkin saja mengandung nilai nilai besar tersebut, tapi mungkin juga tidak. Hal ini tergantung kepada situasi yang terjadi pada saat konflik berlangsung. Kadang terdapat tetidaksesuaian antara teori yang ada dengan kenyataan yang terjadi. Artinya, yang sering terjadi adalah terkadang keputusan tergantung kepada keinginan pihak pihak yang terlibat. Ini berarti mungkin saja resolusi tersebut berisi aspek yang luas atau bahkan sebaliknya.

Dalam situasi terburuk, persetujuan damai mungkin dapat meniadakan nilai nilai yang dianut masyarakat luas. Persetujuan yang dimaksud merupakan sebuah kesimpulan antara kelompok kelompok yang berkepentingan dengan pihak militer. Mereka secara militer lebih kuat dibandingkan kelompok kelompok lainnya di masyarakat. Dengan demikian, terdapat bentuk kesepakatan berbahaya dari resolusi konflik yang dapat memuat hak hak istimewa bagi pihak bersenjata yang nantinya akan mengorbankan kepentingan kepentingan pihak lain dalam masyarakat. Ada banyak contoh dari kasus tersebut, bahkan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas banyak kerusakan yang telah diperbuat dapat mengambil alih posisi pemerintah, kemudian menjadi pemegang kekuasaan yang legal. Kejadian tersebut menciptakan ketakuan pada sebagian masyarakat. Menurut perspektif resolusi konflik, diperlukan adanya tindakan untuk melawan kesepakatan seperti itu. Kesepakatan seperti itu dapat menimbulkan benih benih baru dalam konflik atau bahkan dapat menginisiasi dinamika konflik secara keseluruhan. Menurut perspektif sebagian orang, kesepakatan akan memberikan hak istimewa yang dapat menghentikan perang. Harapannya, mungkin hak - hak istimewa tersebut dapat menjadi sebuah teguran kepada pihak yang mempunyai power yang lebih kuat seketika perang berakhir. Keadaan damai akan membutuhkan tipe baru dalam kepemimpinan, sehingga harapan akan muncul kembali. Kesimpulannya, paling tidak adalah untuk memastikan bahwa perjanjian damai tidak ditentang, posisi terbaik adalah semua pihak dapat mendukung perjanjian damai tersebut. Hal yang penting untuk dipertanyakan adalah isu kejahatan saat perang berlangsung, sebagai bagian dari peperangan atau yang harus dilindungi pada saat perang. Pengadilan kejahatan dalam perang internasional digelar pada tahun 1993 atas konflik yang terjadi di Yugoslavia. Setelah itu pengadilan serupa digelar kembali setahun kemudian atas kasus Rwanda. Pada musim panas tahun 1998, sebuah pengadilan penuh atas kejahatan perang telah digelar. Akhir tahun 2000 Amerika Serikat, Israel, dan Iran, telah menandatangani konvensi tersebut. Hal itu merupakan perkembangan terbaru yang sangat dramatis. Setelah Perang Dunia ke-2, pengadilan kejahatan dalam perang digelar untuk aktor yang harus bertanggung jawab di Jerman dan Jepang. Tidak ada institusi permanen dan kejahatan - kejahatan dalam peperangan jarang digelar secara internasional dalam decade decade tersebut. Satu satunya upaya konsisten dilakukan oleh beberapa Negara dan beberapa organisasi non pemerintah, mereka mengajukan pihak yang terlibat dalam kasus Holocaust tersebut untuk diadili. Ketidakadaan institusi

permanen dan pengadilan atas kejahatan perang tersebut dikarenakan oleh Perang Dingin yang telah menghalangi konensus internasional dalam pengejaran kasus kejahatan kejahatan perang. Pasca Perang Dingin pemahaman bersama terkait kejahatan perang, prosedur utama peperangan, dan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan dalam peperangan dapat kembali dikembangkan. Meskipun demikian, ada beberapa perjanjian damai yang memuat berbagai bentuk ketentuan terkait pengampunan atau amnesty atas para pemimpin dan para pembuat keputusan. Berkat para negosiator, amnesty ini telah dinilai penting untuk disertakan dalam setiap kesepakatan. Dengan adanya amnesty ini, dapat dikatakan bahwa para pemimpin dapat melindungi dirinya dari prosedur pidana. Perkembangan selama tahun 1990an membuat perjanjian perjanjian seperti itu semakin tidak disetujui. Perjanjian perjanjian tersebut tidak dapat mudah diterima secara internasional. Dalam hal ini, resolusi konflik pasca Perang Dingin kini telah menjadi suatu tuntutan. Efek yang dihasilkan dapat menjadi suatu bahan diskusi. Beberapa pihak menganggap bahwa hal tersebut dapat memperpanjang konflik, pihak yang merasa takut diajukan ke pengadilan memiliki insentif untuk menyetujui apapun yang dapat membahayakan mereka. Yang lainnya berpendapat bahwa hal tersebut menghalangi mereka untuk dapat terlibat mendapatkan tempat utama dalam perang. Mereka berpendapat bahwa setiap perang dapat meningkatkan kemungkinan kejahatan perang, dan ini akan berguna untuk mengetahui prosedur pengadilan di masa yang akan datang. Dalam jangka panjang, hal tersebut akan berfungsi untuk mencegah terjadinya perang baru. Kita harus mencatat bahwa resolusi konflik tidak sama dengan melakukan pelucutan senjata. Pelucutan senjata memungkinkan para pihak untuk menyimpan senjata tertentu. Sangat mungkin apabila pelucutan senjata akan menjadi lebih buruk dari apa yang telah digunakan dalam perang itu sendiri. Bagaimanapun, pihak yang terlibat dapat mempertahankan perlindungan khusus yang mereka butuhkan. Semakin tinggi tingkat perlindungan yang dikehendaki dan disetujui, maka semakin besar kemungkinan bahwa ini akan menciptakan suatu kondisi ketidakamanan yang baru dalam masyarakat. Besar kemungkinan perjanjian perdamaian akan bertahan apabila disertai pelucutan senjata, meskipun pelucutan senjata secara keseluruhan tidak diperlukan. Untuk sebagian pihak, biaya pengeluaran yang rendah untuk kebutuhan militer menjadi pilihan. Hal tersebut dikarenakan mereka menyadari bahwa pada akhirnya perdamaian mengharuskan persenjataan dibatasi dan hanya disimpan dibawah pengawasan pihak yang bertanggung jawab, pemerintah, dan pemegang otoritas yang dapat dipercaya.

Terdapat aspek lain dalam perdamaian. Resolusi konflik menemukan bentuknya sendiri diantara konsep damai yang sangat sempit yaitu tidak adanya perang, dan konsep yang luas yaitu keadilan. Terlepas dari definisi berbagai pihak mengenai resolusi konflik, situasi satu dengan lainnya akan sulit untuk dibandingkan. Namun, dalam kenyataannya norma norma semakin ditegakkan dalam perjanjian perdamaian yang diakui secara internasional semakin meningkat. Hukum internasional telah menetapkan beberapa standar resolusi konflik antar Negara. Akhir Perang Dingin juga telah menetapkan beberapa rambu rambu untuk penyelesaian konflik internal, diantaranya prinsip demokrasi, hak asasi manusia, peradilan pidana, dan kerjasama ekonomi juga termasuk di dalamnya. Pemahaman internasional akan resolusi konflik sedang mengalami perkembangan. Resolusi konflik berkontribusi dalam mendorong konsep perdamaian lebih jauh ke arah keadilan, bukan hanya sebatas penghentian kekerasan.

KESIMPULAN

Masyarakat dan konflik merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan bersifat alamiah. Konflik itu normal dan tidak dapat dielakkan sepanjang ada interaksi dan kerjasama antar manusia. Konflik pada dasarnya memiliki beberapa unsur yaitu ada dua pihak yang terlibat, ada tujuan yang dijadikan sasaran, ada tindakan dan ada situasi yang melahirkan sebuah pertentangan. Hal ini sering dianggap sebagai sesuatu yang negatif, merugikan dan menciptakan suatu kondisi yang tidak stabil. Tetapi pada dasarnya konflik mempunyai sisi lain yang berdaya positif yaitu sebagai sebuah proses menuju perubahan. Sehingga konflik harus diakui keberadaannya, diolah, dimanajemen dan diubah menjadi kekuatan untuk menuju perubahan yang baik. Secara teoritis konflik berpotensi timbul dalam setiap interaksi sosial, tidak hanya disebabkan karena adanya perjuangan untuk bertahan hidup dengan keterbatasan ruang/sumber daya, tetapi dikarenakan adanya insting agresif dan kompetitif yang dimiliki oleh manusia. Miall di sini menyebutkan, jika konflik adalah pengejaran tujuan yang saling bertentangan dari kelompok yang berbeda (Miall, 1999). Menurut penulis, hal ini seakan-akan jika ada pengejaran tujuan yang saling bertentangan baru di sebut konflik, padahal ada kalanya seseorang atau kelompok mengalami konflik tanpa tujuan dan alasan yang jelas. Selain itu bisa juga terjadi karena masalah persepsi atas tujuan dan kepentingan yang berbeda. Berdasarkan sumbernya, ada lima tingkatan konflik di era kontemporer yaitu mulai dari individu atau elit, masyarakat social, negara, regional, global. Sebagai respon dari konflik ini, studi resolusi konflik menawarkan wacana solusi berupa pencegahan dan mengakhiri konflik (Miall, 1999). Pencegahan ini membutuhkan preventor yang berbeda berdasarkan tingkatan konflik, dengan tujuan mencegah terjadinya konflik sekaligus mencegah agar konflik yang sudah ada agar tidak semakin besar dan menjadi konflik kekerasan. Salah satu konsep yang terkait dengan proses atau kerangka kerja resolusi konflik di negara-negara yang mengalami ditawarkan konflik oleh adalah konseppeacekeeping, peacemaking, (Galtung, 1975). Galtung

dan peacebuilding yang

Johan

Galtung

mendefinisikan peacekeeping sebagai proses penghentian atau pengurangan aksi kekerasan melalui intervensi militer yang menjalankan peran sebagai penjaga perdamaian yang netral. Kemudian peacemaking mempertemukan atau merekonsiliasi sikap politik dan strategis dari

pihak- pihak yang bertikai melalui mediasi, negosiasi, arbitrasi terutama pada level elit atau pimpinan. Selanjutnya, peacebuilding diartikan sebagai proses implementasi perubahan atau rekonstruksi sosial, politik dan ekonomi demi terciptanya perdamaian dalam artian positive peace di mana pihak-pihak yang terlibat dalam konflik internal, khususnya masyarakat merasakan adanya keadilan sosial, kesejahteraan ekonomi, dan keterwakilan politik yang efektif. Hal ini bisa juga ditambahkan dengan penggunaan multi-track diplomacy yang berguna dalam membantu meningkatkan fleksibilitas pengaruh dan perundingan dengan pihak-pihak yang terlibat, seperti inisiator, mediator, fasilitator, rekonsiliator dan determinator non Negara. Aktor non negara tersebut bisa berupa institusi atau masyarakat. Berangkat dari para pemikir transformasi konflik yang berargumen bahwa konflik kontemporer memerlukan lebih dari memposisikan kembali identifikasi win-win tapi lebih kepada mengubah (atau mentransformasi) hubungan, minat, wacana, dan jika perlu mengubah konstitusi yang melanggengkan konflik. Ini berarti perdamaian diciptakan dari mentransformasi potensi yang ada untuk berkontribusi pada usaha perdamaian. Kompleksitas konflik setelah Perang Dingin tidak dapat dipahami semata-mata sebagai produk dari perbedaan kepentingan ataupun identitas. Seperti yang ditunjukkan oleh Galtung (1969), misalnya konflik yang terjadi karena interaksi dari tiga komponen, yaitu: kontradiksi (perbedaan), sikap dan perilaku. Kompleksitas konflik setelah Perang Dingin juga muncul dalam karakternya yang lebih khas, yaitu cenderung berkepanjangan, berulang-ulang dan disertai dengan kekerasan. Konflik dengan karakter ini dikenal dengan protracted social conflict. Karakter seperti ini tidak semata-mata disebabkan oleh perbedaan ataupun kontradiksi, melainkan juga oleh upaya-upaya dari kelompok-kelompok komunal untuk memperjuangkan kebutuhan-kebutuhan dasar mereka seperti keamanan, pengakuan, akses terhadap institusiinstitusi politik serta untuk partisipasi ekonomi . Dalam kaitannya dengan upaya-upaya untuk menangani konflik, berkembang berbagai strategi atau pendekatan yang berbeda, yang disebabkan oleh perbedaan asumsi dan pemahaman tentang konflik, yaitu: pencegahan konflik, resolusi konflik, manajemen konflik. Pencegahan konflik adalah strategi yang paling sederhana diantara strategi-strategi yang ada. Strategi ini menekankan pada pentingya upaya-upaya untuk mencegah munculnya konflik. Namun, strategi ini dianggap terlalu menyederhanakan makna dan pengertian konflik dan sulit diterapkan dalam konteks konflik seperti yang berkembang setelah Perang Dingin. Namun , pencegahan

konflik dinilai tertalu sederhana dan dirasa sulit untuk memecahkan konflik yang terjadi di dunia yang semakin rumit. Maka selanjutnya dilakukan resolusi konflik sebagai strategi lain untuk memecahkan permasalahan tersebut. Resolusi konflik adalah strategi yang didasarkan pada asumsi dan pemahaman yang relatif lebih komprehensif terhadap konflik. Strategi ini berangkat dari asumsi bahwa seringkali, perbedaan ataupun ketidak sesuaian kepentingan antara pihak-pihak yang berkonflik dan tidak dapat dinegosiasikan. Ini terjadi terutama dalam kaitannya dengan konflik-konflik yang bersumber pada isu-isu yang fundamental, seperti nilai dan hak asasi manusia. Konflik dalam artian ini tidak bisa diselesaikan dengan memenuhi tuntutan kedua belah pihak semata, melainkan harus didasarkan pada upaya-upaya penyelesaian jangka panjang dengan tetap memperhatikan dan menghargai nilai-nilai dan identitas masing-masing pihak. Dengan kata lain, resolusi konflik adalah sebuah penanganan konflik yang dilakukan dengan

mengidentifikasi sumber-sumber utama terjadinya konflik itu sendiri dan menemukan caracara untuk mengatasi sumber-sumber terjadinya konflik tersebut. Resolusi konflik merupakan suatu proses penyelesaian masalah dalam konflik. Pengambilan keputusan adalah bagian yang penting dalam resolusi konflik. Sebelum meyimpulkan analisis pengambilan keputusan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, seperti mengenai perbedaan persepsi pihak yang bertikai, perselisihan yang dinegosiasikan, isuisu yang krusial untuk mencari penyelesaian. Resolusi konflik sebagai alternatif untuk menyelesaikan permasalahan dalam konflik dengan tidak adanya pemaksaan dan kekerasan dalam mengkontrol konflik. Hal ini berkaitan dengan efisiensi dalam resolusi konflik dalam mengurangi konflik yang telah mengakar dalam. Menurut Peter Wallensen definisi resolusi konflik mengandung tiga unsur penting. Pertama, adanya kesepakatan yang biasanya dituangkan dalam sebuah dokumen resmi yang ditandatangani dan menjadi pegangan selanjutnya bagi semua pihak. Kedua, setiap pihak menerima atau mengakui eksistensi dari pihak lain sebagai subyek. Sikap ini sangat penting karena tanpa itu mereka tidak bisa bekerjasama selanjutnya untuk menyelesaikan konflik secara tuntas. Ketiga, pihak-pihak yang bertikai juga sepakat untuk menghentikan segala aksi kekerasan sehingga proses pembangunan rasa saling percaya bisa berjalan sebgai landasan untuk transformasi sosial, ekonomi dan politik yang didambakan.

Ada banyak pendekatan yang sering dilakukan untuk melakukan penyelesaian konflik, misalnya model penyelesaian berdasarkan sumber konflik, model boulding, model posisi kepentingan dan kebutuhan, model intervensi pihak ketiga dan banyak model yang lainnya. Dalam resolusi konflik biasanya menggunakan pendekatan-pendekatan teori universal dan mengadopsi dari luar, sehingga berakibat pada tidak munculnya penyelesaian yang berkelanjutan, akhirnya konflik menjadi perulangan yang tidak memberikan perubahan positif bagi masyarakat. Resolusi konflik seharusnya disesuaikan dengan konteks dan latar atau setting dimana konflik itu terjadi, dalam hal ini pendekatan yang universal sebenarnya kurang relevan diterapkan dalam menangani masalah konflik. Selain itu juga adanya kepentingan pihak pihak yang memiliki power seringkali menghambat proses resolusi konflik. Kunci dari resolusi konflik sebenarnya adalah terletak pada kemauan pihak pihak yang terlibat untuk mengesampingkan kepentingan pribadinya demi kepentingan bersama. Pemahaman internasional saat ini sedang berkembang menuju proses tersebut. Kontribusi resolusi konflik cukup besar dalam pergeseran pemahaman internasional mengenai konsep perdamaian dari yang sebelumnya hanya berarti tidak adanya perang, menuju ke konsep perdamaian yang lebih mengarah kepada keadilan.