Anda di halaman 1dari 2

Pencurian kekayaan laut Indonesia setiap tahun terus saja terjadi.

Sementara kebijakan pemerintah terhadap masyarakat pesisir selama ini belum menunjukkan keberpihakan. Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) lantang bersuara mengenai pencurian kekayaan laut dan nasib nelayan. Mirisnya, KIARA pun sempat mengendus aksi pat gulipat aparat penjaga laut dengan para pencuri ikan. Berikut petikan penjelasan Abdul Halim, Pelaksana Tugas Sekjen KIARA pada awak Prioritas, Rabu pekan lalu:

Pengamanan laut masih banyak dikeluhkan kendati punya Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) yang dananya didukung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2005 mengenai Bakorkamla disebutkan ada 13 instansi terlibat didalamnya. Bahkan sangat ironis ketika dua tahun lalu ada tujuh nelayan Malaysia di tangkap, kemudian ditukar dengan tiga petugas pengawas perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ironis karena sudah jelas ada pelanggaran illegal fishing oleh nelayan Malaysia tapi justru tukar guling.

Abdul Halim | Pelaksana Tugas Sekjen KIARA

Kenapa ini masih terjadi, apa karena kita tak punya ocean policy yang jelas?

Presiden itu membentuk Dewan Kelautan Indonesia (Dekin) tapi Dekin di sub ordinasi oleh kementeriankementeriaan sektoral. Setiap tahunnya Dekin ini mengeluarkan ocean policy yang diharapkan menjadi rujukan tapi oleh presiden tidak dianggap. Padahal ketuanya langsung presiden, anggotanya semua kemeterian teknis sektoral, tapi dokumen hanya dokumen saja. Banyak kapal lewat alur Selat Malaka tapi kita hanya dapat pencemarannya saja. Strategi pengelolaan gak ada, koordinasinya seperti tadi yang masing-masing kementerian. Sedih lihat laut kita ini.

Bagaimana dengan political will pemerintah?

Negara kita gak punya political will untuk menyejahterakan nelayan. Jika ada hal yang merugikan nelayan peme rintah terkesan abai dan tak peduli dengan tindakan itu. Pengelolaan pesisir pantai dan nelayan yang masih ter pingirkan. Termasuk dalam hal dukungan pemerintah untuk nelayan baik dalam kebijakan atau infrastruktur.

Menurut KIARA berapa negara dirugikan akibat illegal fishing?

Sejak 2008 kami sudah me langsir mengenai illegal fishing yang jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat. Di tahun 2008 ada 116 kapal asing, yang kita sinyalir dari sepuluh negara. Diantaranya Vietnam, Filipina, Thailand, China, Malaysia, Panama, Taiwan. Kerugian yang diakibatkan oleh praktek illegal fi shing ini kalau kita hitung itu ada Rp 30 triliun tiap tahun.

Daerah mana saja yang jadi illegal fishing ?

Illegal fishing yang paling ramai diambil ikannya itu di Laut Arafura, kemudian Laut Natuna dan Laut Sulawesi Utara.

Kiara pernah menemukan keterlibatan aparat ?

Kalau dari keterangan di Bengkulu tidak secara langsung kami temukan, mereka me ngatakan itu ada. Mereka mendatangi kapal asing itu, minta fee, lalu aparat menyuruh mereka pulang. Tidak ada penegakan hukum.

Aparat mana yang terlibat?

Bisa aparat siapa saja termasuk Bakorkamla. Baru-baru ini kami mengadvokasi 88 nelayan dari Jawa Tengah yang ditangkap oleh kapal pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan di Selat Makassar. Mereka ditangkap kurang lebih dua minggu tanpa hukum yang jelas. Mereka diperas oleh oknum Bakorkamla sebesar Rp 60 juta agar bebas, juga mengalami pemerasan oleh oknum dinas KKP dengan nominal Rp 30 juta. Total Rp 90 juta yang harus dibayarkan oleh nelayan.