Anda di halaman 1dari 3

Kurnia Y.

Abdussamad, Founder of Denia Ponti Tertantang Mengadu Nasib, Kini Sukses Kembangkan Fashion Industry Company
Tak banyak yang bisa bertahan hidup ditengah kerasnya kota Jakarta. Namun ini tak berlaku bagi Kurnia Y. Abdussamad yang dikenal dengan Denia Pontinya. Mencicipi kehidupan sukses sudah menjadi target hidupnya sejak muda. Berbekal semangat, kreatifitas, dan kejelian membaca peluang membuat wanita cantik asal Pontianak ini bisa membuktikan ketangguhannya membangun usaha meskipun dengan modal seadanya. Bermula dari usaha sepatu, kini Denia Ponti yang dibangunnya sudah berekspansi menjadi Fashion Industry Company yang merambah all fashion needs of woman.

DELIANA, Pontianak.
Usaha yang Anda geluti dan telah memiliki nama di kalangan masyarakat ini tentu memiliki kisah. Bagaimana ceritanya? Semua bermula ketika saya mengikuti ajang Miss Indonesia dan mewakili Kalimantan Barat pada tahun 2006. Saat menjelang karantina, saya bingung mencari sepatu high heels untuk kegiatan disana selama berhari-hari. Kalau ingin membeli, sepatu high heels yang memang nyaman dipakai itu harganya mahal sekali, rata-rata bisa mencapai 1 jutaan. Ketika itu saya masih berstatus sebagai seorang karyawan di sebuah stasiun TV swasta, bekerja sebagai presenter tetapi bukan presenter tetap dan pendapatan saya juga masih terbatas. Sponsor dari pemerintah daerah dalam bentuk materi pun tidak ada. Sepatu high heels seperti itu tidak dapat terbeli. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat sepatu sendiri, 3 pasang, yang dapat menunjang aktivitas selama 10 hari karantina dengan budget yang lebih ringan. Desain sendiri, bawa ke tukang sepatu, dengan modal Rp 150.000,-. Ternyata, sepatu yang saya buat itu tahan banting, bisa dipakai di segala suasana dan nyaman dipakai berhari-hari. Teman-teman seperjuangan di karantina pun bertanya-tanya tentang sepatu yang saya pakai. Setelah mereka tahu sepatu itu adalah hasil buatan sendiri, mereka pun memesan dengan saya. Setelah ada respon seperti itu dari teman-teman satu karantina, apa yang Anda pikirkan untuk lakukan? Lalu muncul ide bisnis dalam pikiran saya, mengapa tidak saya ciptakan brand untuk sepatu itu saja? Saya melihat peluang bisnis disitu. Orang-orang bisa menggilai produk buatan luar negeri dan rela membeli dengan harga mahal, padahal saya lihat produk buatan dalam negeri juga banyak yang tak kalah kreatif dan bagus-bagus. Sejak itulah brand Denia Ponti dan usaha sepatu mulai saya geluti. Awalnya saya berpikir untuk menggunakan nama brand yang agak kebarat-baratan, tapi kemudian saya berpikir kembali jika saya menggunakannya, tidak akan ada value added pada produk sepatu buatan

saya dong? Nama Denia Ponti itu dirumuskan dari nama saya sendiri, Denia, dan tempat kelahiran saya di Pontianak. Apakah Anda memang bercita-cita menjadi seorang pengusaha? Sedari kecil, saya mengalir saja. Tidak pernah memaksakan diri untuk jadi apapun. Yang utama sih sebenarnya saya ingin menjadi orang yang berguna untuk orang lain di lingkungan saya selain menjadi mapan secara finansial. Saya memiliki target dalam hidup, di umur 25 tahun saya harus sudah punya mobil sendiri dan mampu membiayai kebutuhan sandang, pangan, papan untuk diri saya, tak lagi bergantung pada orangtua. Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya memilih jalan menjadi wirausaha untuk mencapai target hidup yang saya buat. Alhasil, target tersebut bisa saya capai di umur 25 tahun atas kerja keras, kerja keras, dan kerja ikhlas. Saya sangat bersyukur. Orangtua Anda juga mendukung langkah tersebut? Mulanya mereka kurang mendukung langkah saya untuk meniti karir menjadi seorang wirausaha. Mungkin pada saat itu kedua orangtua saya khawatir, apalagi di kota Jakarta dengan segala macam godaannya. Dengan modal yang berasal dari tabungan sendiri, saya berusaha meyakinkan kepada mereka bahwa saya cukup tangguh untuk membangun sebuah usaha. Saya mengawalinya dari usaha sepatu itu. Ditengah kerasnya kehidupan kota Jakarta, tidak takutkah Anda bersaing? Perasaan takut bersaing pasti pernah ada. Tetapi semangat untuk berkompetisi harus bisa mengalahkan rasa takut itu. Kalau kita sudah paham kunci suksesnya, dapat menguasai situasi, jeli melihat peluang, menjadi lebih kreatif lagi, saya yakin apa yang kita buat tak akan kalah saing. Terlebih jika kita memiliki ciri khas. Seperti ciri khas Denia Ponti yang colorful, comfort, dan affordable for everyone. Seperti apa progress usaha Anda yang sudah dirintis sejak 2006? Di tahun 2006 saya memulainya, di tahun 2009-2010 saya sudah memiliki 5 stockist sepatu Denia Ponti, 4 di Jakarta dan 1 di Bali. Namun seiring berjalannya waktu saya menutup 1 stockist di Tanah Abang Jakarta dan 1 stockist di Bali karena tidak begitu berkembang. Sekarang stockist saya tinggal 3. Sistem pemasaran yang dilakukan Denia Ponti saat ini mengandalkan sistem penjualan direct sale. Tak hanya itu, promosi produk via online di website www.deniaponti.com juga terus dilakukan. Saat ini Denia Ponti telah memiliki lebih dari 500 member, jadinya seperti punya 500 cabang. Usaha saya pernah agak sedikit stagnan saat mendampingi suami pilkada di Jambi dan turut pergi ke daerah. Pernah kewalahan? Kewalahan? Kalau sudah punya perencanaan dan sistem yang jelas saya yakin tidak akan kewalahan. Saya juga sudah cukup banyak belajar 5 tahun ini. Jika

kita ingin memulai sebuah usaha atau cita-cita yang besar, maka kita harus memulainya dengan langkah yang mapan juga, salah satunya adalah sistem yang jelas, harus well prepared. Apa harapan Anda kedepan? Kedepannya saya berharap untuk kemajuan dan kelancaran usaha saya. Saya memiliki target mencapai 10.000 member dan memiliki stockist di seluruh Indonesia. Sejak akhir tahun 2010 lalu sebenarnya saya sudah mulai membaca peluang baru untuk mengekspansi usaha ini menjadi fashion industry company, jadi kedepannya Denia Ponti tidak lagi fokus pada sepatu saja tetapi merambah ke all fashion needs of woman dengan konsep general direct selling marketing. Tahun 2012 awal tadi sudah dilakukan soft launchingnya penjualan via katalog. Habis lebaran rencananya launching untuk Denia Ponti. Selain itu, saya ingin terus menginspirasi kaum hawa, agar mereka mampu memberdayakan dirinya sendiri disamping dapat mencukupi kebutuhan finansialnya tanpa meninggalkan kodrat sebagai seorang wanita dan ibu rumah tangga.**