Anda di halaman 1dari 23

REGULASI DAN IMPLEMENTASI PENGADAAN TANAH BAGI KEPENTINGAN UMUM

(Analisis Sosio Yuridis tentang Pengadaan Tanah di Indonesia)

Karya Tulis Ilmiah

Oleh : Benny Sumardiana NIM. 3450405600

FAKUTAS HUKUM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2008

KATA PENGANTAR Puji syukur atas kehadirat Allah SWT limpahan rahmat dan berkah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis dengan judul Regulasi Dan Implementasi Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum (Analisis Sosio Yuridis tentang Pengadaan Tanah di Indonesia). Penulis menyadari bahwa penulisan karya tulis ini dapat terlaksana dengan baik atas bantuan dan dukungan banyak pihak sehingga penulis dengan segala kerendahan hati mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian karya tulis ini, terutama kepada : 1. Drs. Sartono Sahlan, M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum yang telah memberikan izin pada penulis untuk membuat karya tulis 2. Dra. Martitah, M.Hum selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum yang telah memberikan motivasi serta izin pada penulis untuk membuat karya tulis ini. 3. Dra. Indah Sri Utari. M. Hum selaku dosen pembimbing yang telah membimbing, mengarahkan, serta memotivasi penulis dalam pembuatan karya ilmiah tulis ini. 4. Ayah Bunda serta seluruh teman-teman yang senantiasa memberikan semangat serta motivasi yang luar biasa kepada penulis baik dalam suka maupun duka. 5. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian karya ilmiah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Tak lupa penulis mohon maaf apabila nantinya dalam penulisan karya tulis ilmiah ini ada kekurangan dan kesalahan itu semua semata-mata dari penulis sendiri sebagai manusia tempatnya salah dan lupa Semarang, 10 Januari 2008

Penulis ABSTRAK

Benny Sumardiana, Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, UNNES, 2008, Regulasi Dan Implementasi Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum (Analisis Sosio Yuridis tentang Pengadaan Tanah di Indonesia). Pembimbing Indah Sri Utari Indonesia merupakaan negara yang memiliki wilayah yang sangat luas. Dan wilayah-wilayah itu merupakkan milik seluruh rakyat Indonesia yang segala pengaturannya telah diatur dalam beberapa Undang-undang atau peraturan yang mengatur segala permasalahan yang berkaitan dengan tanah. Dan sejauh ini segala permasalahan yang berhubungan dengan tanah seringkali menimbulkan banyak sengketa dan kontroversi. Seperti yang kita ketahui sejauh ini masyarakat kadang sering berbenturan dengan pemerintah ketika sengketa tanah timbul karena bergesekan dengan kepentingan umum yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah. Kita sering mendengar ada beberapa rencana pemerintah untuk membuat sarana umum atau entah apapun itu, yang kemudian membutuhkan pengadaan tanah yang kadang harus mengambil lahan milik rakyat. Sebut saja dibeberapa kota besar seperti jakarta misalnya yang terganjal pembangunan banjir kanalnya karena permasalahan pengadaan tanah yang tersendat. Atau seperti pembebasan tanah yang rencananya akan digunakan untuk pembuatan jalan tol dibeberapa wilayah di Jawa tengah, dan kasus ganti rugi tanah yang terkena dampak melubernya lumpur sidoarjo di jawa timur. Permasalahan atau sengketa tanah saat ini seperti menjadi sebuah fenomena yang sangat menakutkan di masyarakat, bagaimana tidak kadang ketika mereka melakukan apapun yang sesuai dengan aturan seharusnya seperti membuat akta tanah dan sebagainya. Justru kadang malah disalahgunakan oleh oknum-oknum pemerintah yang korup. Sehingga sering terjadi kasus kepemilikan akta tanah yang ganda. Dan kadang pemerintah justru tampak seperti lepas tangan dengan segala permasalahan ini. Seperti saat penanggulangan kasus di daerah meruya selatan jakarta, pemerintah tampak seperti acuh dalam menanggapi masalah sengketa tanah ini. Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana Regulasi dan implementasinya di masyarakat segala peraturan perundang-undangan dalam menanggulangi penyelesaian sengketa agraria dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum di masyarakat. Dan juga untuk mengetahui perubahan apa yang perlu dilakukan pada Undang-Undang Agraria, juga solusi yang tepat agar mendapatkan titik tengah yang dapat digunakan sebagai upaya untuk menanggulangi sengketa agraria ini.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu negara multi-etnis dan memiliki Hukum adat yang mengatur tentang segala permasalahan agraria. Oleh karenanya sebuah problematika baru di masyarakat ketika pemerintah memberikan sebuah peraturan agraria yang mengatur segala permasalahan agraria yang menyeluruh atau nasional. Dan kadang aturan-aturan tersebut juga membabat semua norma-norma yang hidup dalam masyarakat. Karena dari berbagai permasalahan hukum, hukum tanah banyak menyentuh hajat hidup. Yaitu berkaitan dengan para petani di pedesaan, karena Negara kita yang bersifat agraris, namun demikian hak atas tanah menurut undang-undang no. 5 tahun 1960 (Undang-Undang Pokok Agraria) adalah mempunyai fungsi sosial, Sehingga kepemilikan hak atas tanah demi kepentingan umum dapat dicabut. Perlu pula diperhatikan, bahwa di samping derasnya pembangunan sehingga masalah pembebasan tanah sampai pada pencabutan hak atas tanah yang sifatnya sensitif sekali, disamping itu pemerintahan perlu pula pemberian hak atas tanah. Dalam menyelesaikan sengketa tanah yang terjadi dalam masyarakat

seringkali pemerintah mengacu pada bukti hukum yang ada seperti sertifikat tanah. Namun ketika yang dihadapi adalah permasalahan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dengan pemerintah, terkadang masyarakat banyak dirugikan dengan pemberian ganti rugi yang cenderung tidak menguntungkan, sementara dilain pihak ketika pemerintah dalam posisi yang kuat karena memiliki kewenangan biasanya lebih mudah mempermainkan secara politik dalam hal memperoleh tanah yang dimiliki rakyat tersebut. Oleh karenanya Permasalahan atau sengketa tanah saat ini seperti menjadi sebuah fenomena yang sangat menakutkan di masyarakat, bagaimana tidak kadang ketika mereka melakukan apapun yang sesuai dengan aturan seharusnya, seperti membuat akta tanah dan sebagainya. Justru kadang malah disalahgunakan oleh oknum-oknum pemerintah yang korup. Sehingga sering terjadi kasus kepemilikan akta tanah yang ganda. Dalam kasus seperti itu BPN selaku lembaga pemerintah yang mengurusi pertanahan di Indonesia harus bertanggung jawab atas tumpang tindihnya sertifikat.

Secara prosedural BPN berkewajiban untuk melakukan penelitian ketika diketahui terdapat masalah/ tumpang tindih dalam penerbitan sertifikat. Beberapa hal yang diteliti oleh BPN diantaranya ialah data fisik dan data yuridis yang dalam pelaksanaannya biasanya dilakukan oleh suatu panitia yang dibentuk BPN. Setelah semua penelitian dilakukan, maka BPN berkewajiban untuk membatalkan salah satunya dan mengumumkannya kepada publik. Semestinya sengketa tanah bisa diputuskan dengan cepat, hal ini karena : 1) BPN sendiri memiliki badan dan mekanisme untuk menyelesaikan sengketa tanah. Akan tetapi dalam prakteknya seringkali masalah prosedur penyelesaiannya yang dipersulit. 2) terdapatnya mekanisme musyawarah dalam penyelesaian kasus sebelum berlanjut ke pengadilan. Akan tetapi dalam prakteknya para pihak seringkali mengabaikan proses tersebut. Akan tetapi, proses perdata di Pengadilan dari Pengadilan negeri sampai dengan Mahkamah Agung memang memakan waktu yang cukup lama, bukan karena jenis kasusnya yang berupa sengketa tanah, melainkan karena banyaknya kasus yang menumpuk di Pengadilan. Belum lagi ketika permasalahan-permasalahan ini dihadapkan pada permainan oknum yang bermain di dalam lembaga-lembaga pemerintahan. Kadang di kota-kota besar seperti jakarta banyak pengusaha yang bermain dengan pejabat pemerintahan yang berkedok pengadaan tanah untuk kepentingan umum justru digunakan untuk pembangunan rumah mewah, hotel, lapangan golf, dsb. Maka tak heran ketika masyarakat tidak mempercayai lagi pada apa yang menjadi kebijakan pemerintah mengenai permasalahan tanah yang cukup krusial ini. Kita tahu dalam faktanya dilapangan pengaturan akan tanah tidaklah semudah mengatur hal-hal lainnya. Karena biasanya kepemilikan tanah adalah sebuah hak milik yang didapatkan secara turun-temurun keluarga atau bahkan adat seperti pada tanahtanah ulayatnya. Sedangkan tidak dapat dipungkiri, semakin pesatnya pembangunan dalam tubuh negara Republik Indonesia semakin banyak pula lahan yang dibutuhkan untuk digunakan dalam pemanfaatan atau pembangunan yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi fasilitas yang diharapkan atau dibutuhkan oleh rakyat. Seperti

yang masih terngiang dalam pikiran kita misalnya saat pembebasan tanah untuk wilayah pembangunan waduk kedung ombo, bagaimana kerasnya perjuangan rakyat saat itu sehingga tanah yang kemudian menjadi sengketa itu dibiarkan berlarut-larut padahal waduk itu sangat dibutuhkan terutama untuk kota-kota yang mengelilingi area waduk tersebut untuk kebutuhan pengairan pertanian. Sampai-sampai untuk menyelesaikan sengketa tanah ini bahkan pemerintah sampai mengeluarkan isu politik bahwa masyarakat sekitar tanah sengketa tersebut sudah terkontaminasi oleh PKI sehingga pemerintah merasa harus berbuat tegas pada masyarakat sekitar waduk yang tanahnya menjadi sengketa saat itu.

A. Perumusan Masalah Adapun permasalahan yang akan dibahas berdasarkan pemaparan latar belakang diatas adalah:

1. Sejauh mana Implementasi peraturan Perundang-Undangan tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum di Indonesia? 2. Bagaimanakah formulasi yang tepat untuk memecahkan permasalahan sengketa agraria yang timbul dalam pengadaan tanah bagi kepentingan umum di Indonesia? B. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan ini adalah : 1. Memperoleh gambaran ilmiah Implementasi / pelaksanaan dalam masyarakat peraturan perUndang-Undangan tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum di Indonesia. 2. Memperoleh gambaran tentang bentuk formulasi yang cocok dan efektif untuk dapat memecahkan permasalahan sengketa agraria yng timbul dalam pengadaan tanah bagi kepentingan umum di Indonesia. C. Manfaat Penulisan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk menciptakan lingkungan sosial yang sehat demi perkembangan masyarakat. Selain itu penulisan ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran dan manfaat bagi para aparat penegak hukum dalam arti luas, baik dari tingkat pengambil / pembuat kebijakan sampai aparat pelaksana di lapangan. Serta memberikan pengetahuan dan pemaham mengenai implementasi di masyarakat tentang pengadaan tanah untuk sarana umum dan segala problematika yang ditimbulkannya juga terutama mendapatkan apa yang kemudian menjadi solusi melalui regulasi yang jelas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengadaan Tanah

Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti kerugian kepada yang berhak atas tanah tersebut. Ketentuan tentang pengadaan tanah ini semata-mata hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum, dan pembangunan yang dilakukan dan selanjutnya dimiliki oleh pemerintah tidak digunakan untuk mencari keuntungan. Yang kemudian harus diperhatikan yaitu Surat Edaran Dirjen Agraria tanggal 3 Februari 1975 No. Ba. 12/108/12/1975 tentang pelaksanaan pembebasan tanah. Dalam surat edaran ini disebutkan dengan pertimbangan bahwa pada akhirakhir ini dirasakan adanya peningkatan tanah untuk keperluan berbagai macam pembangunan, sedang tanah negara yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan tersebut sangat terbatas. Sehingga satu-satunya jalan yang dapat ditempuh untuk memenuhi kebutuhan tersebut ialah dengan cara pembebasan tanah milik rakyat atau tanah yang dikuasai oleh masyarakat hukum adat. Di dalam surat edaran ini disebutkan pula bahwa yang dimaksud dengan pembebasan tanah adalah setiap perbuatan yang bermaksud langsung atau tidak langsung melepaskan hubungan hukum yang ada di antara pemegang hak / penguasa atas tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang berhak / penguasa atas tanah tersebut. Pengadaan tanah untuk kepentingan umum biasanya digunakan untuk : Jalan umum, saluran pembuangan air Waduk, bendungan, dan bangunan pengairan lainnya termasuk saluran irigasii Rumah sakit umum dan pusat-pusat kesehatan masyarakat Pelabuhan atau Bandar udara, atau terminal Peribadatan, dsb Pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah yang dibentuk oleh gubernur Kepala Daerah Tingkat I, selain itu panitia pengadaan tanah juga dibentuk disetiap kabupaten atau Kotamadya Daerah Tingkat II B. Perihal Kepentingan Umum

Mengutip pendapat Huybers dalam bukunya Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah mendefinisikan kepentingan umum sebagai kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan yang memiliki cirri-ciri tertentu, antara lain menyangkut perlindungan hak-hak individu sebagai warga Negara dan menyangkut pengadaan serta pemeliharaan saran publik dan pelayanan publik. Kepentingan umum dapat dijabarkan melalui dua cara, pertama, berupa pedoman umum yang menyebutkan bahwa pengadaan tanah dilakukan berdasarkan alasan kepentingan umum melalui berbagai macam istilah. Karena berupa pedoman hal ini dapat mendorong eksekutif secara bebas menyatakan suatu proyek memenuhi syarat kepentingan umum, kedua, penjabaran kepentingan umum dalam daftar kegiatan. Dalam praktik kedua cara itu sering ditempuh secara bersamaan. Di Indonesia kata kepentingan umum disebutkan dalam pasal 18 UUPA dan di dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 1961 tentang pencabutan hak-hak atas tanah dan denda-denda yang di atasnya sebagai pelaksanaan pasal 18 UUPA, kata kepentingan umum ditambah dengan kepentingan pembangunan. Kedua Undang-Undang ini mengatur kepentingan umum dalam suatu pedoman umum. Dalam perkembangannya Inpres No 9 tahun 1973 sebagai peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 tahun 1961 menggunakan dua pendekatan yakni pedoman umum (pasal 1 Ayat (1)) dan 13 daftar kegiatan I Pasal 1 Ayat (2) Lampiran Impres. Pengertian kepentingan umum dikhawatirkan bakal diartikan secara luas sehingga dapat melanggar hak milik atas tanah di Indonesia yang belum sepenuhnya dilindungi oleh sistem hukum. Demikian juga selain perangkat aturan yang ada saat ini dilihat belum mengakomodasi keperluan kepentingan pembangunan. Wadahnya pun disorot tidak layak, lantaran persoalan tanah yang terkait hak asasi manusia hanya dihimpun dalam Peraturan Presiden. C. Konflik Agraria Sebagaimana dikatakan oleh Christodolau seperti dikutip oleh Gunawan Wiradi, reforma agraria adalah anak kandung konflik agraria (Agraria reform is

offspring of the agrarian conflict). Artinya lahirnya gagasan tentang perombakkan struktur pemilihan atau penguasaan tanah (kemudian disebut landreform) berkembang menjadi agrarian reform dan sekarang dengan istilah reforma agrarian merupakkan respon terhadap situasi konflik dalam masalah pertanahan. Oleh karena itu untuk memahami seluk beluk Reforma Agraria perlu juga dipahami konflik agrarian. Sebagai suatu gejala sosial, konflik agraria adalah suatu situasi proses, yaitu proses interaksi antara dua atau lebih orang atau kelompok yang masing-masing memperjuangkan kepentingannya atas objek yang sama, yaitu tanah dan bendabenda lain yang bersangkutan dengan tanah seperti air, tanaman, tambang dan juga udara yang berada diatas ranah yang bersangkutan. Pada tahapan saling, berlomba untuk mendahului mencapai objek itu sifatnya masih dalam batas persaingan. Tetapi pada saat mereka saling berhadapan untuk memblokir jalan lawan, terjadilah situasi konflik, seperti yang dimaksud Maria SW Soemardjono di atas. Kunci utama memahami konflik agraria adalah kesadaran kita sendiri, yaitu sejauh mana kita menyadari bahwa tanah merupakkaan sumber daya alam yang sangat vital, yang mengatur hampir semua aspek kehidupan. Bukan saja sekadar aset, tetapi juga merupakkan basis bagi teraihnya kuasa-kuasa ekonomi, sosial dan politik. D. Berlakunya hukum di masyarakat Salah satu pendapat yang sampai kini masih sering dikutip sebagai suatu model adalah dari Savigny yang mengatakan bahwa antara hukum dan keaslian serta watak rakyat terdapat suatu pertalian yang organis. Tali yang mempersatukan keduanya sehingga menjadi suatu kesatuan adanya kepercayaan yang sama dari seluruh rakyat serta sentiment yang sama pula tentang apa yang merupakan keharusan, yang semua itu menolak adanya gagasan yang bersifat aksidental dan arbitrer (Satjipto Rahardjo,1980:105). Begitu juga dengan pembuatan suatu produk hukum yang mengikatkan diri individu-individu dalam suatu masyarakat. Hukum dilihat sebagai karya manusia, maka pembicaraannya juga sudah harus dimulai

10

sejak pembuatan hukum. Jika masalah pembuatan hukum itu hendak dilihat dalam hubungan dengan bekerjanya hukum sebagai suatu lembaga sosial, maka pembuatan hukum itu dilihat sebagai suatu fungsi kemasyarakatannya. Perlu dianalisa secara lebih mendalam tentang model kemasyarakatan dalam pembuatan hukum. Chambliss dan Seidman membuat perbedaan antara dua model masyarakat, yakni : Pertama, masyarakat yang mempunyai basis kesepakatan akan nilai-nilai (value concensus). Model masyarakat yang pertama berdasarkan pada basis kesepakatan akan nilai-nilai (value concensus). Masyarakat yang demikian itu akan sedikit sekali mengenal adanya konflik-konflik atau tegangan di dalamnya sebagai akibat dari adanya kesepakatan mengenai nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupannya. Tidak terdapat perbedaaan diantara para anggota masyarakat mengenai apa yang seharusnya diterima sebagai nilai-nilai yang harus dipertahankan di dalam masyarakat. Unsur-unsur yang menjadi pendukung kehidupan sosial disitu dapat terangkum dalam satu kesatuan yang laras (well integrated). Di dalam masyarakat yang demikian itu maka masalah yang dihadapi oleh pembuat hukum hanyalah menetapkan nilai-nilai apakah yang berlaku didalam masyarakat itu pembuatan hukum disitu merupakan pencerminan nilai-nilai yang disepakati oleh warga masyarakat. Berlainan halnya dengan model yang pertama itu, mayarakat kedua adalah masyarakat dengan model konflik, disini bukanlah kemantapan dan kelestarian yang menjadi tanda ciri masyarakat, melainkan perubahan serta konflik-konflik sosial. Berlawanan dengan yang pertama, dimana berdirinya masyarakat bertumpu pada kesepakatan para warganya, maka pada model yang kedua ini masyarakat dilihat sebagai suatu perhubungan Perubahan dan konflik-konflik disini merupakan kejadian yang umum. Berbeda dengan pembuatan hukum pada model yang pertama, maka disini kita tidak dapat mengatakan, bahwa pembuatan hukum adalah penetapan nilai-nilai yang disepakati oleh masyarakat. Nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat berada dalam situasi konflik satu sama lain, sehingga keadaan ini juga akan tercermin dalam pembuatan hukumnya.

11

Dari uraian diatas, dapat terlihat betapa rumitnya pembuatan hukum yang dalam proses awal pembuatannya saja membutuhkan pemetaan masyarakat yang jelas dan akurat sehingga dapat memberikan social engeenering yang baik dan mampu memanifestasikan rasa keadilan. Kebijakan publik yang kemudian menjadi ketentuan mengikat dan mencakup tiga hal pokok, yakni pertama adalah didalamnya ada aturan hukum atau peraturan yang legitimate. Kemudian yang kedua adalah aspek prosedural yang harus diikuti, yaitu mulai dari tatanan pembuatannya hingga implementasinya harus melalui prosedur atau aturan main yang telah ada, dan tidak boleh menyimpang dari prosedur yang sudah ada. Terakhir yang ketiga adalah adanya substansi yang betulbetul memihak pada kepentingan publik. Dari ketiga prinsip tersebut dapat dilihat bagaimana hukum dan kebijakan publik itu terdapat pertalian yang sangat erat. Bahkan bisa diartikan bahwa hukum adalah kebijakan publik yang berlaku dalam sebuah wilayah hukumnya

BAB III METODE PENULISAN Untuk memperoleh data dan informasi yang akurat tentang permasalahan yang dibahas sehingga hasilnya memuaskan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak perlu diadakan kajian-kajian dan penelitian serta pengamatan terhadap objek penelitian. Oleh karena itu diperlukan metode-metode yang tepat

12

dan sesuai dengan apa yang dilakukan dalam memperoleh data-data baik secara kualitas maupun kuantitas. Metode disini diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam proses penelitian. Sedangkan penelitian itu sendiri diartikan sebagai sebagai upaya dalam bidang Ilmu Pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran (Mardalis, 2004 : 24) A. Metode Pendekatan Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi kedalam variabel atau hipotesis, tetapi memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 1990 : 3) Metode penelitian kualitatif ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan langsung antara peneliti dengan respondendan lebih peka serta lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola pola nilai yang dihadapi. Analisis yang digunakan metode ini adalah analisis data secara induktif yang dapat membuat hubungan peneliti responden menjadi eksplisit, dapat dikenal, dan akontable. Selain itu analisis ini dapat memperhitungkan nilai nilai secara eksplisit sebagai bagian dari struktur analitik. Penelitian kualitatif memberi batasan dalam penelitiannya atas dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian. Penetapan fokus sebagai masalah penelitian penting artinya dalam usaha menemukan batas penelitian, sehingga peneliti dapat menemukan lokasi penelitian. Selain itu penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada

13

manusia dalam kawasnnya sendiri dan berhubungan dengan orang orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya. B. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan suatu proses dimana peneliti mencari data yang dibutuhkan guna menunjang penelitian yang tengah dikerjakan. Kegiatan pengumpulan data ini penting sekali karena kegiatan ini mencari data dari berbagai sumber yang dianggap berkompeten untuk menunjang hasil penelitian yang dikehendaki dan menghasilkan data yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Untuk itu maka diperlukan penyusunan instrumen pengumpulan data dan penanganan yang serius agar diperoleh hasil yang sesuai dengan kegunaannya yaitu pengumpulan variabel yang tepat. Berdasar pendekatan yang dipergunakan dalam memperoleh data, maka teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah : 1. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Dokumentasi dibedakan menjadi dua (Irawan Soehartono, 2000:70), yaitu: a. Dokumentasi primer, jika dokumentasi ini ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa b. Dokumentasi skunder, jika peristiwa dilaporkan kepada orang lain yang selanjutnya ditulis oleh orang lain. Dokumentasi bisa berupa buku harian, surat kabar,transkip, tesis, desertasi, majalah, laporan, catatan kasus (case records), dan dokumen lainnya 2. Observasi

memberikan data khususnya data kualitatif. Pengamatan tersebut disesuaikan dengan tema yang Dalam penelitian ini, penulis berusaha mengamati objek-

14

objek yang dapat dimbil sehingga data yang diperoleh merupakan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. C. Metode Penyajian Data Data-data yang telah terkumpul, baik data kualitatif maupun kuantitatif diklasifikasikan sesuai dengan jenis-jenis datanya. Setelah itu hasil penelitian disusun secara sistematis dan runtut dengan menggunakan metode induktif, yaitu dengan berdasarkan pada kajian-kajian pesoalan yang bersifat khusus untuk mengambil dasar-dasar pengetahuan yang bersifat umum. Kesimpulan akan ditarik sebagai jawaban atas permasalahan yang ada.

BAB IV PEMBAHASAN A.Implementasi Peraturan Perundang-Undangan Tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Di Indonesia (Kajian Sosio-Yuridis) Sekarang ini peranan pembangunan, sangatlah dirasakan adanya aspek dalam menumbuhkan kebutuhan akan tanah untuk keperluan berbagai macam aspek dalam menumbuhkan pembangunan yang merata bagi lapisan masyarakat, terutama

15

pembangunan fisik baik di desa maupun kota. Tanah sebagai modal dasar pembangunan, seperti pelebaran jalan, mendirikan gedung sekolah dan sebagainya. Akan tetapi banyaknya tanah yang tersedia untuk keperluan pembangunan sangatlah terbatas. Banyaknya sengketa mengenai tanah diantara kelompok-kelompok yang ada di masyarakat yang sangat mengharap suatu keadilan, adapun ukuran keadilan itu subyektif dan relatif. Subyektif karena ditentukan oleh manusia (hakim) yang mempunyai wewenang untuk memutuskan, namun tidak mungkin memiliki kesempurnaan yang absolut. Relatif karena bagi seseorang dirasa sudah adil. Dalam sengketa tanah masalah yang sering terjadi biasanya disebabkan oleh faktor tarik menarik kepentingan yang ada di dalam masyarakat, untuk menentukan siapa yang paling berhak dalam memanfaatkan fungsi tanah demi kepentingan masing-masing kelompok marjinal, kelompok pengusaha atau pemilik modal dan kelompok struktur pemerintah. Adapun dalam pelaksanaan pembangunan, salah satu jalan yang ditempuh oleh pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan akan tanah yang digunakan untuk pembangunan tersebut dapat dilakukan dengan cara mengambil rakyat yang ditentukan dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada pasal 6 telah disebutkan bahwa semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial. Ini berarti, bahwa hak atas tanah apapun yang ada pada seseorang, tidaklah dapat dibenarkan, bahwa tanahnya itu akan dipergunakan (atau tidak dipergunakan) semata-mata untuk kepentingan pribadinya, apalagi kalau hal itu menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Penggunaan tanah harus disesuaikan dengan keadaannya dan sifat daripada haknya, sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan dan kebahagiaan yang mempunyai maupun bermanfaat pula bagi masyarakat dan negara. Tetapi dalam ketentuan sama sekali oleh kepentingan umum (masyarakat). Kepentingan masyarakat dan kepentingan perseorangan haruslah saling mengimbangi hingga pada akhirnya akan tercapailah tujuan pokok kemakmuran, keadilan dan kebahagiaan bagi rakyat seluruhnya. Berhubungan dengan fungsi sosialnya, maka adalah suatu hal yang sewajarnya bahwa tanah itu harus dipelihara baik-baik, agar bertambah kesuburannya serta dicegah kerusakannya. Kewajiban memelihara tanah ini tidak saja dibebankan kepada pemiliknya atau pemegang haknya yang

16

bersangkutan, melainkan menjadi beban pula dari setiap orang badan hukum atau instansi yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah itu. Dalam melaksanakan ketentuan ini akan diperhatikan kepentingan fihak yang ekonomi lemah (Arif S,1994;45). Jelaslah bahwa pertimbangan yang amat arif diperlukan dalam menghadapi persoalan mengenai pengadaan tanah yang berakibat munculnya konflik tanah. Bagaimanapun juga yang akan rugi adalah rakyat serta pembangunan bilamana kasus tersebut tidak dapat terselesaikan, bukan hanya yuridis tetapi lebih utama secara manusiawi sebab kalau tuntutan yuridis yang dikedepankan apalagi dimutlakkan dalam soal konflik tanah sering kali rakyatlah yang terpuruk dalam kekalahan, sebab pada umumnya pada soal-soal bukti kepemilikan dan penguasaan tanah mereka belum atau bahkan tidak memilikinya. 1. Dampak Sosial Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Semenjak maraknya pembebasan tanah untuk kepentingan umum di Indonesia, masyarakat Indonesia tampak seperti memiliki phobia kepada pemerintah dalam mengurus segala permasalahan tanah. Ini dikarenakan dengan mudahnya pemerintah mempermainkan kepemilikan tanah seseorang dalam hal pembebasan tanah untuk kepentingan umum. Bolehlah jika kita menggaris bawahi tanah tersebut untuk kepentingan umum, namun hak yang dimiliki oleh rakyat yang memiliki pun harus diperhatikan. Sejauh ini praktek pengadaan tanah yang dilakukan oleh pemerintah terkadang dilakukan secara semena-mena. Kita menyadari bahwa tanah sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia yang kehidupannya bercorak agraris, oleh karenanya pemerintah harus dapat menghargai hak kepemilikan tanah tersebut. Karena yang sering terjadi dilapangan, jika ada pembebasan lahan atau tanah untuk kepentingan umum biasanya memang diberikan uang ganti rugi, atau kepemilikan tanah dipindahkan ke lahan lain, namun pemerintah seringkali hanya menilai hanya dari tanahnya saja, pemerintah tidak menilai bangunan yang berdiri diatasnya, atau produktivitas tanaman yang ditanam di lahan tersebut. Ini tentunya akan sangat merugikan masyarakat yang tanahnya dibebaskan untuk kepentingan umum. Sementara masyarakat yang enggan dirugikan oleh pemerintah tentang hak

17

kepemilikan tanahnya akibatnya tentu saja mereka melakukan perlawanan. Inilah kemudian masalah yang ditimbulkan akibat pengadaan tanah oleh pemerintah, beberapa kasus kemudian timbul kepermukaan akibat pelaksanaan pembebasan tanah yang tidak adil sebut saja kasus pengadaan tanah yang berbuntut sengketa di proyek jalan tol lingkar luar Jakarta di jalur Hankam-Cikunir. Sampai sekarang proyek itu terhambat karena penduduk enggan melepas tanah dan minta bayaran ganti rugi lebih tinggi lagi. Tidak hanya itu Penyambungan ruas jalan tol Bintaro Pondok Pinang yang cuma tinggal beberapa puluh meter juga baru rampung setelah mangkrak 20 bulan. Pemilik tak kunjung melepaskan tanahnya karena ingin mendapat ganti rugi yang lebih tinggi lagi. "Kami rugi sekitar Rp 30 miliar lebih karena keterlambatan itu", keluh Syarifuddin Alambai, Direktur Utama PT Jasa Marga, si pemilik proyek. Memang permasalahan tanah selamanya akan selalu menjadi dilematis terutama bagi pemerintah yang dari awal memang menekankan bahwa di setiap hak atas tanah itu memiliki fungsi sosial. Implementasi pengadaan tanah untuk kepentingan umum di Indonesia dipandang tidak adil terutama oleh masyarakat. Apalagi ketika diadakannya Pertemuan Infrastructur Summit di Jakarta yang telah melahirkan kolonialisme dengan wajah yang baru. Akibat kesepakatan dalam pertemuan infrastrukstur tersebut sebuah kebijakan anti rakyat dilahirkan yaitu Perpres 36/2005. Kepentingan Rakyat Alasan pembangunan untuk kepentingan umum ini pada dasarnya sangat merugikan kepentingan rakyat, khususnya bagi tanah-tanah rakyat yang terkena program pengadaan tanah. Alasan pembangunan mestinya diarahkan untuk peningkatan kualitas manusia, dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berlandaskan kemampuan nasional dengan tantangan perkembangan global. Untuk itu, dalam pelaksanaannya mengacu kepada kepribadian bangsa dan nilai-nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju dan kukuh kekuatan moral serta etikanya. Sedangkan alasan untuk kepentingan umum mestinya mengacu kepada kepentingan seluruh rakyat Indonesia dengan tetap juga harus memperhatikan perlindungan terhadap hak dan kepentingan pihak-pihak yang terkena dampak pengadaan tanah, khususnya terkait dengan kesejahteraan sosial ekonominya agar nantinya tidak menjadi lebih miskin dari sebelum tanahnya

18

dibebaskan. Dalam prakteknya, alasan ini sering kali digunakan oleh pemerintah untuk mengambil tanah-tanah rakyat dan memberi ganti rugi yang sangat tidak memadai. Penyelesaian konflik cenderung dilakukan melalui mekanisme musyawarah yang semu dan manipulatif dikarenakan lemahnya posisi tawar rakyat yang tanahnya terkena proyek pengadaan tanah tersebut terhadap keinginan pemerintah 2. Regulasi Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum di Indonesia Cita-cita reformasi untuk mengedepankan demokratisasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia telah ternodai. Di tengah harapan adanya pembaruan dan perubahan di segala aspek kehidupan bernegara, muncullah Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Atas nama pembangunan dan kepentingan umum, setiap warga siap-siap untuk diusir dari tanah yang ditempatinya. DI masa Orde Baru, pengaturan seperti ini pernah ada, yaitu Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 55 Tahun 1993 (selanjutnya disingkat Keppres). Tetapi, dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun 2005 (selanjutnya disingkat Perpres) pada bagian Menimbang disebutkan bahwa Keppres sudah tidak sesuai lagi sebagai landasan hukum dalam rangka pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. Padahal, isi Perpres ini mengatur hal yang sama, baik judul, isi, maupun sistematikanya. Lalu mengapa harus diganti?

Jika ditinjau lebih jauh, satu-satunya alasannya adalah karena Keppres tersebut terlalu lunak, alias kurang galak atau kurang represif di tengah masyarakat yang mulai melek terhadap hak-hak mereka. Oleh karena itu, Keppres tersebut perlu diganti dengan peraturan yang lebih represif dan galak serta siap menggigit. Pengaturan yang menyebabkan Perpres lebih represif dibandingkan dengan Keppres di antaranya adalah mengenai alasan pengadaan tanah, cara pengadaan tanah, pembangunan macam apa yang diperkenankan, dan penyelesaian ganti rugi melalui musyawarah.

19

Dalam Keppres disebutkan bahwa pengadaan tanah hanya digunakan semata-mata untuk pemenuhan kebutuhan tanah bagi pelaksanaan pembangunan (Pasal 2 Ayat 1), sedangkan dalam Perpres hal ini tidak jelas. Ini berarti pengadaan tanah tidak saja semata-mata untuk pembangunan, tetapi juga untuk hal lain yang dianggap pemerintah sebagai kepentingan umum. Padahal, pengertian kepentingan umum dalam Perpres telah dimodifikasi, yaitu untuk sebagian lapisan masyarakat, sementara dalam Keppres disebut untuk semua lapisan masyarakat. Sampai sekarang tidak pernah jelas apa yang dimaksud dengan kepentingan umum. Dalam Keppres hanya dikenal satu cara untuk pengadaan tanah, yaitu melalui pelepasan hak atas tanah (Pasal 2 Ayat 2). Sementara dalam Perpres terdapat dua cara untuk memperoleh tanah, yaitu melalui pelepasan hak atas tanah dan melalui pencabutan hak atas tanah, seperti yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 1961. Pencabutan hak atas tanah seperti yang diatur dalam UU tersebut adalah dalam hal keadaan memaksa (Pasal 1). Sedangkan dalam Perpres ini pencabutan dilakukan apabila tidak ada kesepakatan mengenai ganti rugi sementara pembangunan tidak dapat dialihkan (Pasal 18). Dalam Keppres telah dibatasi pembangunan yang dibangun, yaitu pembangunan yang dilakukan dan selanjutnya dimiliki pemerintah serta tidak digunakan untuk mencari keuntungan (Pasal 5). Sedangkan dalam Perpres pengaturan ini tidak ada lagi. Hal ini berarti bisa saja pembangunan yang akan digunakan untuk mencari keuntungan. Tidak jelas juga apakah bangunan yang dibangun tersebut akan dimiliki oleh pemerintah atau tidak, asal pembangunan itu dilaksanakan oleh pemerintah, maka dapat memperoleh pengadaan tanah (Pasal 5 Perpres). Saat ini, Kepala BPN baru menerbitkan Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007 yang mengatur tahapan pengadaan tanah yang harus dilakukan oleh tim Pembebasan tanah P2T pemerintah kota dan kabupaten. Peraturan ini juga memasukkan pembebasan tanah yang harus dilakukan oleh tim P2T yang lokasinya

20

terletak di dua kabupaten/kota dalam satu provinsi. Tahapan ini yang seharusnya dipelajari dan segera dipahami oleh tim P2T dalam setiap pelaksanaan pembebasan tanah, karena akan menjadi dasar hukum jika terjadi sengketa di kemudian hari, jelasnya. Secara umum, peraturan yang merupakan revisi dari Peraturan Kepala BPN No. 1 Tahun 1994 tersebut sudah memuat masalah pertanahan secara rinci dan detil. Peraturan Kepala BPN ini merupakan peraturan operasional dari Peraturan Presiden (Perpres) No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum yang telah diubah menjadi Perpres No. 65 Tahun 2006. Kesulitan yang sering dihadapi oleh tim P2T Pemerintah Kota dan Kabupaten adalah adanya perbedaan harga pasar dan harga yang telah ditetapkan dalam nilai jual objek pajak (NJOP). Dalam berbagai kasus, sering terjadi harga tanah merupakan hasil musyawarah antara tim P2T dan pemilik tanah yang meminta harga lebih tinggi dari NJOP.

DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Abu. H.Drs. 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta Arikunto, Suharsimi, Prof.Dr. 2002. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Hatta, Mohammad. H. SH. Mkn. 2005. Hukum Tanah Nasional, Dalam Perspektif Negara Kesatuan. Yogyakarta : Media Abadi

21

Kartono, Kartini. Dr. 1999. Patologi Sosial, Jilid 1. Edisi Baru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Mardalis, Drs. 2004. Metode Penelitian, Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara Murad, Rusmadi, S.H. 1991. Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah. Bandung: Alumni Sitorus, Oloan. 2006. Hukum Agraria di Indonesi, Konsep Dasar dan Implementasi. Yogyakarta: Mitra Kebijakan Tanah Indonesia Soimin, Soedharyo. SH. 2004. Status dan Hak Pembebasan Tanah. Jakarta : Sinar Grafika Suandra, I Wayan, S.H.1991. Hukum Pertanahan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1989, Psikologi Perkembangan, IKIP Semarang Press, Semarang. www. Kompas. Com www. Pikiran Rakyat.com www. Pontianak Post. com www. Suara Merdeka. com

BIODATA Nama Lengkap Jenis Kelamin Alamat NIM HP Program Studi Fakultas : Benny Sumardiana : Laki-laki : Jl. Dahlia No. 46 gandasuli Brebes 52212 : 3450405600 : 085640477275 : Ilmu Hukum (S1) : Fakultas Hukum

Tempat/tanggal lahir : Kuningan, 06 oktober 1987

22

Karya Tulis yang pernah dibuat: 1. Mengungkap Dampak Penayangan Berita Kriminal dan Tayangan Kekerasan di Televisi Terhadap Perilaku Anak Pengalaman Organisasi 1. Hima HKn Tahun 2005-2006 2. LSO Fiat Justitia Tahun 2005-2006 3. Koordinator jurusan KLAIM FIS UNNES 4. PARAS FIS UNNES 5. Pemantauan PILKADA 6. KMDB daerah Brebes Pelatihan Yang Pernah di Ikuti 1. 2. 3. 4. : :

Orientasi Manajemen Mahasiswa Tahun 2005 BEM FIS UNNES Pelatihan dan Workshop LKTM Tahun 2006 FIS UNNES Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa Tahun 2005

Hima HKn FIS UNNES Training Advokasi FIS UNNES

23