Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Perdagangan internasional terwujud karena adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli yang mereka tuangkan dalam kontrak. Dalam kontrak ini biasanya mereka juga cantumkan bagaimana cara, sistem atau klausul pembayarannya. Sistem pembayaran ini merupakan salah satu hal yang penting dalam transaksi perdagangan. Dalam transaksi dagang yang sifatnya terbatas di mana penjual dan pembeli berada dalam wilayah atau tempat yang sama, pembayaran dan penyerahan barang dapat dilakukan secara langsung. Lain halnya dengan

perdagangan internasional. Para pihak mungkin kurang begitu saling kenal. Domisili mereka berjauhan. Di samping sistem pembayaran, sistem pembiayaannya pun akan sangat berpengaruh terhadap kelancaran perdagangan internasional. Karena itu pula dapat dinyatakan bahwa perdagangan Internasional akan lebih berjalan lancar dengan tersedianya fasilitas pembiayaan (kredit) bagi jual-beli barang dalam perdagangan internasional. Dalam perdagangan internasional, pembeli dan penjual terpisah oleh jarak yang jauh. Mereka juga acap kali memiliki praktek pembiayaan yang berbeda di masing-masing negara. Di samping itu pula, terdapat kepentingan para pihak yang berbeda dalam perdagangan internasional. Penjual berupaya dan berkepentingan untuk menguasai dan mengontrol barangnya sampai ia menerima harga yang disepakati dalam kontrak. Selain itu penjual juga berkepentingan agar pembayaran (proceeds atau dana hasil ekspor) dapat segera diterimanya tanpa harus menunggu berbulan- bulan lamanya tatkala barangnya masih dalam perjalanan di kapal (in transit). Di pihak lain, pembeli berkepentingan untuk tidak segera membayar sejumlah uang yang dia janjikan sesuai kontrak selama ia

belum memeriksa barangnya apakah sesuai dengan spesifikasi yang dicantumkan dalam kontrak, atau setidaknya ada bukti tertulis bahwa barangnya telah dikapalkan. Hal ini berarti menimbulkan kesulitan bagi penjual untuk menentukan cara pembayaran yang akan digunakan oleh pembeli asing. Demikian juga bagi pembeli mengalami kesulitan untuk mempercayai reputasi dan integritas penjual asing. Dalam hal demikian, bank memainkan peran penting yang dapat menjembatani kedua kepentingan yang berbeda antara penjual dan pembeli. Dalam hal ini bank memberi jaminan kelaikan kredit sebagai jaminan untuk transaksi jual beli barang tersebut. Peran bank ini tampak pula pada upayanya dalam

mengembangkan sistem pembiayaan, pembayaran, dan jaminan selama bertahun-tahun lamanya dengan semakin meningkatnya permintaan kredit bagi perdagangan internasional. Di antara berbagai sistem yang cukup banyak tersebut, berikut adalah sistem-sistem yang umum digunakan: 1. 2. Kredit berdokumen (Documentary Credit); Kredit komersial jangka pendek, menengah dan panjang (Short, Medium and Long term commercial credit); 3. Bentuk-bentuk pembiayaan khusus (Particular Financing Techniques), terutama: (i) (ii) (iii) 4. Intenasional Factoring; Forfaiting; dan, International Leasing.

Jaminan Bank (Bank Guarantee atau Auotonomous Guarantee).1

Siswanto Sutojo, Membiayai Perdagangan Ekspor Impor: International Trade Financing, Damar Mulia Pustaka, Jakarta, 2001, hlm. 46.

Dalam paper ini, pembahasan hanya akan dikonsentrasikan pada ad. 1 di atas, yaitu kredit berdokumen atau lebih dikenal dengan letter of credit. Alasan utama dan alasan praktis adalah kredit berdokumen ini lebih banyak digunakan (penting) dan telah lama mengalami perkembangan pengaturannya. B. Identifikasi Masalah Bagaimanakah mekanisme L/C sebagai sistem pembayaran? Bagaimana L/C sebagai sistem jaminan?

BAB II LETTER OF CREDIT SEBAGAI SISTEM PEMBAYARAN DAN SISTEM JAMINAN A. Pengertian Letter of Credit Hans van Houtte mendefinisikan Letter of Credit sebagai berikut: ... an arrangement in which the bank, acting for and on behalf of the buyer (customer), undertakes to pay the seller (beneficiary) a sum of money or to accept a bill of exchange drawn by the seller, or to authorize another bank to do so on presentation by the seller of specified document and on condition that all other credit terms are met. Amir M.S. menggambarkan L/C sebagai berikut: L/C adalah suatu surat yang dikeluarkan oleh bank devisa atas permintaan importir nasabah bank devisa bersangkutan dan ditujukan kepada eksportir di luar negara yang menjadi relasi dari importir tersebut. Isi surat itu menyatakan bahwa eksportir penerma L/C diberi hak oleh importir untuk menarik wewel (surat perintah untuk melunasi utang) atas importir bersangkutan untuk sejumlah uang yang disebut dalam surat itu. Bank yang bersangkutan menjamin untuk megnakseptir atau

menghonorir wesel yang ditarik tersebut asal sesuai dan memenuhi semua syarat yang tercantum di dalam surat itu. UCP (Pasal 2 UCP 600) memberi definisi L/C sebagai berikut: .. any arrangement, however named or described, that is irrevocable and thereby constitutes a definite undertaking of the issuing bank to honour a complying presentation. Beberapa hal penting dari definisi di atas, yaitu: a. Bank yang memberikan jaminan pembayaran tersebut adalah bank yang menerbitkan Kredit Dokumenter L/C tersebut (bank penerbit atau Issuing Bank).

b.

Dokumen-dokumen

yang

disyaratkan

dapat

berupa

dokumen perdagangan ataupun dokumen yang diterbitkan instansi-instansi pengangkutan. c. Karena L/C merupakan Jaminan bersyarat, maka pemerintah, asuransi maupun

pembayaran sudah tentu dilakukan atas nama Buyer (pembeli), dan pembayaran itu dilaksanakan bila dokumendokumen yang disyaratkan telah diserahkan. d. Karena dokumen-dokumen tersebut mewakili barang, maka penyerahan dokumen itu berarti memberikan hak kepada buyer (pembeli) atas pemilikan barang-barang yang dikapalkan tersebut. e. Karena L/C merupakan jaminan bank, maka segera setelah pengapalan barang, Seller akan meminta

pembayaran dari Bank, bukan mengandalkan kemampuan dan kesediaan Buyer (pembeli) untuk membayar. Namun sekalipun demikian, berhubung jaminan tersebut adalah jaminan bersyarat, maka seller (penjual) hanya berhak meminta pembayaran apabila dia sudah memenuhi semua syarat yang telah ditetapkan dalam L/C tersebut. f. Untuk kelancaran pembayaran atas dasar L/C diperlukan paling tidak dua buah bank, yaitu Bank pembeli sebagai penerbit L/C (Issuing Bank atau bank penerbit) dan Bank penjual yang terletak di negara penjual itu sendiri2.

B.

Mekanisme Letter of Credit sebagai Sistem Pembayaran Pada umumnya, para pihak yang terlibat dalam pembukaan transaksi L/C adalah: 1. Applicant (buyer atau pembeli): adalah pihak yang meminta kepada sebuah bank untuk membuka L/C atas namanya (sebagai pembeli).

Ramlan Ginting, Letter of Credit: Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis, Salemba Empat, Jakarta, 2000, hlm. 7.

2.

Penerima (Beneficiary) adalah pihak yang disebutkan dalam L/C (sebagai penjual).

3.

Bank penerbit (Opening Bank atau issuing bank) adalah bank yang membuka atau menerbitkan L/C (Bank pembeli).

4.

Bank penerus atau Advising Bank adalah Bank yang meneruskan L/C yang diterima dari opening bank kepada beneficiary (bisa Bank penjual).

Persiapan kesepakatan

yang

harus Seller

ada dan

untuk Buyer

terbitnya untuk

L/C

adalah dan

antara

membuat

menandatangani sebuah sales contract (kontrak penjualan). Yang mendasari terbitnya sebuah L/C adalah kontrak jual beli atau sales contract yang sudah disepakati bersama dan kemudian disahkan dengan penandatanganan oleh masing-masing pihak antara penjual dan pembeli. Kontrak penjualan tersebut biasanya mencantumkan pula

bagaimana barang tersebut akan dikirim: apakah melalui darat, laut atau udara; dan pihak mana yang akan menutup asuransi. Mekanisme L/C akan dijabarkan sebagai berikut: MEKANISME LETTER OF CREDIT

Penjelasan mekanisme: 1. Penjual dan pembeli membuat sales contract. Salah satu syarat yang disepakati adalah pembayaran dilaksanakan dengan L/C. 2. Atas dasar syarat pembayaran yang telah disepakati di dalam kontrak, maka pihak pembeli mengajukan

permohonan penerbitan L/C kepada Bank. 3. Issuing bank selanjutnya menerbitkan L/C atas dasar permintaan pembeli sebagai Applicant untuk keuntungan penjual sebagai Beneficiary yang disampaikan melalui bank penerus (advising bank) di tempat penjual. 4. Advising bank menyampaikan asli L/C kepada penjual (beneficiary) setelah dilakukan verifikasi atau autentikasi terhadap L/C itu. 5. Setelah menerima L/C dari advising bank, beneficiary melakukan pengiriman barang sesuai dengan syarat penyerahan barang (terms of delivery) yang disepakati di dalam sales contract, serta menyiapkan dokumen yang diminta oleh L/C. 6. Beneficiary menyerahkan satu set dokumen yang

disyaratkan L/C kepada bank yang ditunjuk atau diberi kuasa (nominated bank) oleh issuing bank yang

disebutkan dalam L/C. 7. Berdasarkan penyerahan dokumen dari beneficiary,

nominated bank selanjutnya melakukan pemeriksaan kesesuaian dokumen dengan syarat dan kondisi L/C dan ketentuan yang berlaku. Jika dokumen telah memenuhi syarat complying presentation, maka nominated bank dapat memutuskan bertindak sebagai negotiating bank dengan melakukan pembayaran terlebih dahulu sepanjang L/C mensyaratkan by negotiation. 8. Nominated bank meneruskan dokumen kepada issuing bank, terlepas apakah nominated bank telah membayar terlebih dahulu atau belum. Penerusan dokumen ke bank

penerbit ini dalam rangka melakukan penagihan akseptasi, pembayaran, atau pembayaran kembali (reimbursement) dalam hal dokumen telah dinegosiasi. 9. Setelah menerima penerusan dokumen dari nominated bank, issuing bank melakukan pemeriksaan dokumen tersebut apakah memenuhi syarat complying presentation atau tidak. Jika dokumen dinyatakan clean, maka issuing bank wajib melakukan akseptasi, pembayaran, atau reimbursement kepada nominated/ negotiating bank.

Namun jika terjadi penyimpangan pada dokumen terhadap syarat dan kondisi L/C (discrepancy), maka issuing bank tidak wajib melakukan akseptasi, pembayaran, atau reimbursement. Yang dilakukan issuing bank adalah menghubungi dokumen penegasan Applicant sehubungan tersebut, dengan dan kondisi meminta adanya

yang

discrepant

Applicant

apakah

menerima

discrepancy tersebut atau menolak kondisi penyimpangan dokumen. 10. Issuing bank menyerahkan dokumen original kepada Applicant setelah ia menyelesaikan kewajiban dana pembayarannya. Selanjutnya, Applicant melakukan

pengeluaran barang dari maskapai pelayaran dengan memenuhi kewajiban kepabeanan (import clearance)3.

C.

Jenis-Jenis Letter of Credit 1. Revocable L/C Revocable L/C adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan oleh penerbit secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak penerima.

Edwin Prasetio, Mekanisme Perdagangan melalui L/C http://www.sectoredwin. net/2009/05/mekanisme-perdagangan-menggunakan-lc_03.html, diakses 1 Agustus 2012 pukul 10.00 WIB.

Pasal 7 UCP 600 menyatakan: A revocable credit may be amended or cancelled by the Issuing Bank at any moment and without prior notice to the Beneficiary. Dalam hal ini, kedudukan penerima lemah. Ia menanggung resiko yang tidak ringan. Hal ini antara lain karena sifatnya, maka L/C tersebut tiba-tiba dibatalkan atau diubah oleh penerbit. Namun demikian UCP tetap melindungi penerima (bank penerima) yang beritikad baik. Bank penerima (negotiating bank) yang telah membayar L/C kepada penerima sebelum ia diberitahu adanya pembatalan sepihak dari penerbit, ia tetap berhak atas

pembayaran dari penerbit. Pembayaran L/C dapat dilakukan dengan cara pembayaran secara unjuk (sight payment), akseptasi (acceptance), negosiasi (negotiation), dan pembayaan kemudian (deferred payment). Pasal 7 UCP 600 menyatakan: ...the Issuing Bank must: i. reimburse another bank with which revocable Credit has been made available for sight payment, acceptance or negotiation for any payment, acceptance or negotiation made by such bank prior to receipt by it of notice of amendment or cancellation against documents which appear on their face to be in compliance with the terms and conditions of the Credit; reimburse another bank with which a revocable Credit has been made available for deferred payment, if such a bank has, prior to receipt by it of notice of amendment or cancellation, taken up documents which appear on their face to be in compliance with the terms and conditions of the Credit. 2. Irrevocable L/C Disebutkan di atas bahwa para pihak harus menegaskan jenis L/C-nya. Dalam hal tidak ada penegasan tersebut, maka suatu L/C dianggap sebagai Irrevocable L/C. Contoh klausul Irrevocable L/C memuat ketentuan atau bunyi klausul berikut:

We undertake to honour such drafts on presentation provided that they are drawn and presented in conformity with the terms of this credit. Irrevocable L/C adalah L/C yang tidak dapat dibatalkan atau diubah secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi L/C yaitu penerima dan bank penerbit. Kedudukan penerima lebih terjamin dari risiko. Tiap-tiap perubahan harus ada persetujuannya. Karena sifatnya yang tidak dapat diubah secara sepihak, maka jenis L/C ini yang paling banyak disukai oleh penerima dan bank (bank penerima yang menyediakan kredit ekspor). 3. Irrevocable Confirmed L/C Jenis L/C adalah Irrevocable apabila L/C tersebut mendapatkan konfirmasi sebuah bank pengkonfirmasi (Confirming Bank). Dalam hal ini bank pengkonfirmasi turut menjamin kewajiban bank penerbit dengan memberikan konfirmassi atau janjinya untuk membayar L/C. Tampak bahwa jenis L/C ini memberi kepastian jaminan kepada penerima. atas Jika barang bank yang penerbit tidak melakukan maka bank

pembayaran

dikapalkan,

pengkonfirmasi akan membayar barang yang telah dikapalkan. Permintaan demikian demikian biasanya dituliskan dengan katakata sebagai berikut dalam L/C: Please advice beneficiary with adding your confirmation. Yang dapat menjadi bank pengkonfirmasi bisa bank penerus atau bank lain yang diminta oleh bank penerbit. Dengan adanya permohonan korfirmasi tersebut, dan jika bank yang diminta confirm L/C tersebut menyepakatinya, maka ia akan menambahkan konfirmasinya dalam L/C, sebelum L/C diserahkan kepada penerima. 4. Sight (Payment) L/C

10

Jenis

Sight

L/C

(Payment

L/C)

adalah

L/C

yang

pembayaranya dilakukan secara tunai segera setelah dokumendokumen yang disyaratkan diajukan atau diserahkan. Setelah penerima mengapalkan barang, maka dia dapat langsung minta pembayaran kepada negotiating bank dengan menyerahkan dokoumen-dokumen pengapalan yang diperlukan disertai dengan wesel/draf-nya. Atas pembayaran yang dilakukan, maka bank penegosiasi (negotiating bank) segera melakukan penagihan/reimbursement kepada bank penerbit (opening/issuing bank). Bank penerbit akan segera pula melakukan pembayaran pada saat menerima dokumen- dokumen tersebut. 5. Acceptance L/C Jenis Acceptance L/C atau L/C berjangka adalah L/C yang pembayarannya dilakukan pada suatu jangka waktu tertentu setelah wesel diunjukan atau setelah barang dikapalkan.

Acceptance L/C merupakan pemberian kredit kepada pembeli oleh penjual sebab pembeli di luar negeri akan menerima barangbarang tanpa melakukan pembayaran pada saat yang sama melainkan pada jangka waktu tertentu sesuai dengan yang ditetapkan dalam L/C. Terdapat pula bentuk-bentuk khusus L/C, yaitu: 1. Standby L/C Jenis Standby L/C lebih dikenal sebagai alat atau sarana penjamin. Jenis L/C ini acapkali disebut pula sebagai Guarantee L/C. Jenis ini cenderung digunakan di wilayah suatu negara di mana isu jaminan itu tidak dimungkinkan atau tidak dibolehkan. Jenis L/C ini dimaksudkan untuk melindungi penerima jika pihak lainnya wanresptasi (berdasarkan kontrak).

11

Menurut Ginting, jenis L/C ini adalah bahwa bank penerbit bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya dalam hal pemohon wanprestasi. Perlu pula dinyatakan di sini bahwa Standby L/C dalam hal tertentu berbeda dengan bank guarantee (garansi bank).

Perbedaan tersebut Standby L/C merupakan kewajiban utama dari bank penerbit. Yang membedakan jenis L/C ini dengan jaminan bank adalah bahwa Standby L/C tunduk pada UCP. Sedangkan Bank garansi tunduk pada hukum nasional. Di samping itu, dalam hal adanya default (non-performance), pencairan dana langsung dilaksanakan oleh Bank berdasarkan klaim yang diterima. Sedangkan pada bank garansi, bank penerbit garansi bank baru mencairkan dana atau membayar penerima (beneficiary) setelah berhasil dibuktikan adanya default (non performance). 2. Transferable L/C Transferable L/C adalah jenis L/C yang dapat dialihkan dari penerima I kepada satu atau lebih penerima lainnya. Kredit yang dialihkan dapat seluruh atau sebagiannya. Dalam permohonan. hal Ia ini tidak penerima dapat hanya dapat mengajukan untuk

memerintah

bank-nya

mengalihkan kredit. Keputusan untuk mengahlihkan atau tidak tetap berada pada keputusan bank penerus (atau bank

pengkonfirmasi). Jenis L/C ini diatur dalam pasal 48 UCP. Pasal ini menyatakan: A transferable Credit is a Credit under which the Beneficiary (First Beneficiary) may request the bank authorised to pay, incur a deferred payment undertaking, accept or negotiate (the Transferring Bank or in the case of a freely negotiable Credit, the bank specifically authorised in the Credit as a

12

Transferring Bank, to make the Credit available in whole or in part to one or more other Beneficiary(ies) (Second Beneficiary(ies)). 3. Back to Back L/C Back to Back L/C adalah L/C yang dibuka oleh penerima I dari sebuah L/C kepada penerima lainnya. Di dalam jenis ini, transaksi L/C melibatkan dua L/C, L/C induk (Master L/C) dan L/C anak (Baby L/C). Dalam L/C back to Back penerima I semata-mata bertindak sebagai pemohon. Ia bertanggung jawab penuh terhadap pembayarannya kepada penerima II. Kewajiban penerima II adalah memenuhi ketentuan-ketentuan sesuai dengan yang ditetapkan dalam Back to Back L/C, tanpa melihat syarat dan ketentuan yang ada pada L/C induknya (Master L/C). L/C induk dan L/C anak masing-masing terpisah, meskipun persyaratannya sama. Yang berbeda adalah nilai L/C dan tanggal jatuh tempo L/C. L/C induk lainnya relatif lebih besar daripada L/C anak. L/C Induk memiliki jatuh tempo yang lebih lama

dibandingkan jatuh tempo L/C anak. Jenis L/C ini lebih banyak digunakan jika kredit yang ditransfer tidak dapat digunakan karena berbagai alasan. Misalnya adanya perbedaan dalam nilai mata uang pembelian dan nilai mata uang penjualan barang dan dokumen-dokumen pengapalan barang yang harus diubah atau diganti. 4. Revolving L/C Revolving L/C adalah L/C yang secara otomatis berlaku secara berulang-ulang oleh penerima dalam jumlah tertentu selama jangka waktu tertentu, tanpa harus memasukkan

permohonan penerbitan L/C baru atau memohon perubahan terhadap L/C.

13

Revolving L/C dapat bersifat Kummulatif atau Nonkummulatif. Dalam hal Revolving L/C kumulatif, bila nilai L/C tidak direalisasi seluruhnya, maka sisa nilai L/C tersebut akan ditambahkan dengan nilai L/C semula untuk pengapalan periode berikutnya. Dalam hal Non-kummulatif, sisa L/C yang tidak direalisasi dihapus, dan untuk masa berlaku/ periode berikutnya adalah sebesar nilai L/C semula. 5. Red Clause L/C Red Clause L/C adalah jenis L/C yang dibayar di muka setelah terpenuhinya syarat-syarat tertentu. Misalnya, dengan diperlihatkannya tanda terima yang sederhana (yang ada), invoice dan dokumen pengapalan. Nilai pembayaran di muka ini dinyatakan dalam L/C. misalnya, 30 % atau 40 % dari nilai barang. Jenis L/C ini memuat klausul khusus yang memberi wewenang kepada bank penerus (advising bank) untuk melakukan

pembayaran sejumlah uang muka kepada penerima sebelum dokumen-dokumen diserahkan atau pun sebelum barang

dikapalkan. Klausul Red Clause yang dicantumkan dan dicetak dengan warna merah (red clause) yang isinya memungkinkan penerima menarik pembayaran L/C di muka. D. Letter of Credit Sebagai Sistem Pembayaran dan Sistem Jaminan Masih teringat dalam benak penulis Letter of Credit (L/C) fiktif yang menimpa Bank BNI kita beberapa tahun yang lalu. Mekanisme sederhana L/C telah diuraikan diatas, sehingga telah dapat dipahami bahwa L/C merupakan suatu kebiasaan atau praktek yang biasa dilakukan dalam suatu perdagangan internasional. Pertanyaan selanjutnya dan terutama bila dikaitkan dengan apa yang telah dialami oleh BNI adalah bila L/C sebenarnya adalah semacam jaminan pembayaran yang dikeluarkan oleh issuing bank kepada eksportir melalui negotiating bank atau corresponding bank, maka bagaimana L/C bisa digunakan sebagai jaminan atau mendapatkan

14

pencairan terlebih dahulu bahkan sebelum issuing bank mentransfer atau membayarkan sejumlah uang kepada corresponding bank-nya? Pada dunia perbankan hal yang terutama mendasari atau yang menjadi pilar usaha perbankan adalah kepercayaan dan pelayanan. Banyak hal dalam praktek yang berdasarkan kepercayaan tersebut bank bisa memberikan pelayanan kepada nasabahnya meskipun ada berbagai persyaratan yang maish belum dipenuhi oleh nasabah penerima pelayanan tersebut. Praktek seperti ini, sekali lagi, timbul karena kepercayaan. Sehingga bank sedikit melonggarkan prinsip 5C mereka. Selain L/C sebagai jaminan kita juga biasa mendengar mengenai pinjaman overdraft dari bank kepada nasabahnya. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa dengan

diterbitkannya L/C oleh issuing bank sebenarnya telah ada jaminan bahwa eksportir akan menerima pembayaran sejumlah uang yang tertera di dalam L/C. Dan pembayaran tersebut tidak dilakukan oleh importir secara langsung namun oleh issuing bank. Walaupun sebenarnya pada akhirnya issuing ban akan mengkreditkan pembayaran L/C tersebut kepada importir ditambah biaya fee. Dan pencairan L/C tersebut masih digantungkan pada sejumlah ketentuan atau persyaratan seperti kelangkapan dokuman-dokumen yang diminta. Pada prakteknya, eksportir juga masih membutuhkan sejumlah dana untuk melakukan pengiriman (ekspor) barang kepada importir dan untuk mendapatkan sejumlah dana tersebut, maka nasabah meminta pencairan L/C terlebih dahulu kepada corresponding bank walaupun ketentuan atau pra-syarat yang diminta oleh issuing bank belum dilengkapi atau diberikan oleh eksportir kepada corresponding bank. Karena adanya kepercayaan antara corresponding bank dengan eksportir yang biasanya juga deposan atau nasabahnya, maka corresponding bank menalangi pencairan sejumlah uang yang diminta oleh eksportir. Hal ini adalah murni diskresi dari corresponding bank sendiri karena pada kenyataannya issuing bank belum melakukan

15

pembayaran atau pencairan sejumlah uang sebagamana tertera pada L/C tersebut. Hal seperti ini juga terjadi pada pinjaman overdraft dimana bank memberikan pinjaman kepada nasabah tanpa didahului adanya akad kredit. Jaminan yang dipegang oleh corresponding bank dalam hal pencairan sejumlah dana yang tertera pada L/C sebelum adanya pembayaran oleh issuing bank adalah adanya dokumen L/C itu sendiri ditambah dengan kepercayaan corresponding bank kepada eksportir. Mengapa sorresponding bank cukup puas dengan adanya dokumen L/C walaupun diminta, eksportir yakni belum melakukan kewajibannya dokumen-dokumen sebagaimana melakukan

menyerahkan

dan

pengiriman barang atau komoditi karena sifat dari L/C itu sendiri yang sebagai sarana pembayaran yang telah diakui secara internasional. Praktek sebagaimana diulas di atas sebenarnya belaku bagaikan pedang bermata dua bagi corresponding bank. Karena di satu sisi bila corresponding bank tidak memberikan layanan sebagaiman dijelaskan di atas, maka ada kemungkinan eksportir akan memindahkan simpanan dan kerja samanya kepada bank lain. Di sisi lain bila corresponding bank memberikan layanan sebagaimana di atas, sebenarnya tidak ada jaminan bahwa issuing bank akan membayarkan atau mencairkan sejumlah uang sebagaimana tertera pada L/C karena adanya pra-syarat yang

digantungkan terhadap pembayaran, yakni kelengkapan dokumen dan pengiriman barang atau komoditi yang diminta berdasarkan perjanjian atau kontrak antara eksportir dan importir. Namun, kembali lagi bahwa persaingan layanan perbankan semakin tajam dan kompetitif sehingga hal sebagaimana dijelaskan di atas maih marak terjadi. Namun sangat diharapkan bahwa corresponding bank sebelum memberikan layanan semacam ini mengetahui dengan betul kharakter eksportir karena bila yang terjadi sebaliknya, dimana eksportir melakukan transaksi fiktif, maka corresponding bank yang akan dirugikan. Bila corresponding bank yang dirugikan sebenarnya yang

16

paling rugi adalah para deposan atau pemberi dana pihak ketiga yang menyimpan uang pada bank tersebut4.

Thomas Hengky P., Letter of Credit sebagai Jaminan, http://www.wealthindonesia. com/commercial-bank/letter-of-credit-sebagai-jaminan.html, diakses 1 Agustus 2012 pukul 10.00 WIB.

17

BAB III SIMPULAN Dari uraian di atas dapat dikemukakan beberapa catatan berikut: 1. Letter of Credit (L/C) merupakan salah satu instrumen pembayaran yang lahir dari praktek kebiasaan yang sangat dibutuhkan oleh para pihak (penjual dan pembeli). 2. Letter of Credit merupakan salah satu instrumen yang lahir karena peran perbankan dalam memfasilitasi transaksi perdagangan internasional. Peran inilah yang menjadikan indikasi mengapa dalam hukum

perdagangan internasional bank dipandang pula sebagai salah satu subyek hukum yang cukup penting. 3. Sebagai sarana pembayaran, salah satu keunikan dari L/C ini adalah sifatnya yang independen atau terlepas dari kontrak penjualan. Dengan sifatnya ini, ketidakabsahan suatu kontrak penjualan tidak mengakibatkan tidak sahnya pembayaran yang dilakukan melalui L/C. 4. Pada dasarnya L/C merupakan jaminan dari suatu bank atas permintaan pihak lain (pembeli) yang diberikan kepada penjual untuk membayar atau memberikan janji bayar kepada penjual dengan syarat dipenuhinya persyaratan dalam L/C. Dengan diterbitkannya L/C oleh issuing bank sebenarnya telah ada jaminan bahwa eksportir akan menerima pembayaran sejumlah uang yang tertera di dalam L/C. Dan pembayaran tersebut tidak dilakukan oleh importir secara langsung, namun oleh issuing bank.

18