Anda di halaman 1dari 8

Tugas Ujian Pedodonsia

Oleh : R. Gracia Richata 160112100073

BAGIAN PEDODONSIA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

Hipoplasia email Hipoplasia email merupakan istilah untuk menunjukkan pembentukan defek sempuran pada email yang menghasilkan cacat dalam menyeluruh atau perubahan dalam bentuk. Hipoplasia email dapat mengenai gigi sulung dan gigi tetap. Etiologi dan patogenesis Penyakit sistemik disertai kelainandegeneratif sewaktu hamil,juga dapat herediter, dan terjadi kelinana degenratifpada sel ameloblas yang mengganggu pembentukan email. Bila sel ameloblas mengalami kerusakan selama perio pembentukan gigi, yaitu dalam pembentukan matriks email, gigi akan mengalami defek pada bentuknya. Banyak faktor yang diketahui maupun tidak diketahui dapat menimbulkan jejas sel ameloblas dan menyebabkan hipoplasia. Defisiensi vitamin A,C, dan D dapat menyebabkan hipoplasia sistemik. Penderita dengan riwayat riketsia (kekurangan vitamin D) seringkali menunjukkan hipoplasia berat. Hipokalsifikasi email (opasitas email) Hipokalsifikasi email adalah bercak putih opak yang tampak pada gigi-geligi tetapdan gigi-geligi sulung yang umum ditemukan dan terdapat pada 25% populasi. Insisivus sentral atas merupakan gigi yang paling sering terkena. Faktor lokal atau sistemik berperan seperti halnya dalam hipoplasia email, tetapi pada keadaan ini, penyebabnya adalah jejas pada benih gigi selama stadium kalsifikasi gigi.Kerusakan tampak sebagai bercak putih karena kekurangan kalsium pada saat serangan. Pada kelainan ini, bentuk gigi normal. Hipoplasia dan hipokalsifikasi dapat terlihat bersamaan, oleh karena itu sukar untuk dibedakan. Mottled Enamel Mottled enamel (enamel fluorosis, dental fluorosis) adalah salah satu bentuk dari hipoplasia enamel yaitu berupa berkurangnya jumlah matriks pembentuk enamel akibat adanya gangguan pada ameloblas selama tahap formatif perkembangan gigi, yang terjadi baik pada gigi desidui maupun gigi permanen. Penyebab terjadinya mottled enamel adalah fluorosis yaitu masuknya fluor dengan konsentrasi yang tinggi kedalam tubuh baik secara sistemik dan, atau lokal hingga mencapai lebih dari 1 ppm F. Gambaran klinis mottled enamel berupa kerusakan pada permukaan enamel yang dimulai dari adanya garis-garis putih kecil pada permukaan enamel sampai keadaan yang lebih parah

yaitu enamel menjadi putih seperti kapur dan opaque yang akhirnya gigi menjadi mudah patah (Harahap,2008).

Mottled Enamel CCP ACP CCP-ACP singkatan dari Complex of Casein Phophopeptides and Amorphous Calcium Phosphate (kompleks fosfopeptida kasein dan kalsium fosfat amorf).Fosfopeptida kasein (CPP) adalah kelompok peptida yang berasal dari kasein, bagian dari protein yang terjadi secara alami dalam susu. CCP dianggap memiliki bioavailabilitas tinggi kalsium dari susu dan produk susu lainnya dan memiliki kemampuan untuk mengikat dan menstabilkan kalsium dan fosfat dalam larutan, serta mengikat plak gigi dan enamel gigi . Kalsium fosfat biasanya larut, yaitu membentuk struktur kristal pada pH netral. Namun, CPP menjaga kalsium dan fosfat dalam keadaan, amorf non-kristalin. Dalam keadaan amorf ion kalsium dan fosfat dapat memasuki enamel gigi. Konsentrasi tinggi dari ion kalsium dan fosfat dalam plak gigi paparan berikut untuk CPP-ACP telah banyak diteliti dan terbukti mengurangi risiko demineralisasi enamel dan mempromosikan remineralisasi email gigi. Keuntungan: Mengembalikan keseimbangan mineral di lingkungan rongga mulut Memberikan perlindungan ekstra untuk gigi Membantu menetralkan asam dari bakteri asidogenik di plak dan sumber asam eksternal dan internal Rasanya yang enak dan membuat gigi terasa bersih

Indikasi: Digunakan untuk gigi primer dan permanen, aman untuk digunakan pada bayi gigi terutama anak-anak di bawah usia dua tahun dengan awal anak karies. Digunakan untuk pasien dengan kebutuhan khusus seperti yang dengan gangguan intelektual, gangguan perkembangan dan fisik,serebral palsi, sindrom Down dan mereka dengan masalah medis seperti terapi radiasi

Digunakan untuk tinggi berisiko karies pasien dalam upaya untuk remineralisasi awal lesi enamel, karies anak usia dini, menstabilkan karies lesi menunggu pengobatan dan karies akar permukaan. Digunakan dalam kasus-kasus hipomineralisasi insisif molar.Hal ini dilakukan untuk remineralisasi graham hipoplastik dan lesi white spot (keopakan enamel dan beberapa kasus fluorosis ringan). Digunakan dalam kasus-kasus erosi dimana ia menetralkan asam internal dan eksternal. Digunakan dalam pencegahan keausan gigi. Digunakan pada pasien dengan peralatan ortodontik untuk tujuan pencegahan karies dan remineralisasi lesi putih. Digunakan untuk mengurangi sensitivitas tubulus dentin olehoccluding paten. Digunakan sebagai pengganti pasta gigi pada mereka alergi terhadap pasta gigi konvensional

Kontra Indikasi: Bagi anak-anak atau pasien yang alergi terhadap susu. (Al-Batayneh, 2009) Cara penggunaan: Setelah membersihkan gigi, CCP-ACP diaplikasikan secara topikal dengan menguleskan sejumlah kecil krim keseluruh permukaan gigi yang rentan dengan menggunakan jari yang bersih atau menggunakan aplikator kapas setelah menyikat gigi. Ketika mengaplikasikan sebelum tidur, biarkan krim menempel pada permukaan gigi, jangan dibilas, sehingga dapat larut sepanjang malam. Cara lain mengaplikasikan adalah menggunakan sendok cetak individual. Perbedaan Serat Tomes pada Gigi sulung dan Gigi Tetap Sesuai arah enamel rods: sumbu panjang enamel rods umumnya tegak lurus ke persimpanganenamel dentin. Pada gigi permanen arah enamel rods dari DEJ ke arah apikal pada 1/3 servikal mahkota. Pada gigi sulung arah enamel rods dari DEJ ke arah oklusal pada 1/3 servikal mahkota.

Kandungan Kalsium Hidroksida (Calxyl) Kalsium hidroksida adalah basa kuat diperoleh melalui kalsinasi (pemanasan) kalsium karbonat sampai transformasi ke dalam oksida kalsium. Kalsium hidroksida diperoleh melalui hidrasi kalsium oksida dan reaksi kimia antara kalsium hidroksida dan karbon dioksida bentuk kalsium karbonat. Ini adalah bubuk putih dengan pH tinggi (12,6) dan sedikit larut dalam air (kelarutan 1,2 g / L, pada suhu 25C). Komposisi dan Setting Calxyl: Pasta Base: kalsium tungstat,tribasic calsium phosphate, zinc oxide dalam glycol salisilat Pasta Katalis: kalsium hidroksida,zinc oxide, zinc stearat dalam etilen toluende sulfonamid (efek antiseptik) Selama setting terbentuk:kalsium hidroksida+ salisilatkalsium sisalisilat

Mekanisme Pembentukan Dentin Reparatif oleh Calxyl Salah satu fungsi utama jaringan pulpa adalah formatif yang diperankan oleh odontoblas untuk membentuk dentin primer,sekunder maupun dentin reparatif. Dentin primer terbentuk di saat gigi dalam pertumbuhan, dentin sekunder terbentuk setelah gigi erupsi, sedangkan dentin tersier atau reparatif dibentuk sebagai repons terhadap rangsangan. Jaringan pulpa mudah merespon dengan adanya rangsangan, baik rangsangan fisis, kimia maupun bakteri. Jaringan pulpa membentuk dentin reparatif sebagai respon, selain itu juga menimbulkan rasa nyeri yang merupakan sinyal sebagai tanda bahwa jaringan pulpa dalam keadaan terancam. Oleh karena adanya hubungan timbal balik antara jaringan pulpa dan periapikal, maka jaringan pulpa yang mengalami keradangan dan tidak dirawat atau perawatannya kurang baik maka penyakit pulpa dapat menjalar ke daerah periapikal. Dentin reparatif, juga dikenal sebagai dentin iregular atau dentin tersier, disusun oleh pulpa sebagai suatu respon protektif terhadap rangsangan yang membahayakan. Rangsangan ini dapat diakibatkan karies, prosedur operatif, bahan restoratif, abrasi, erosi, atau trauma. Dentin reparatif ditumpuk pada daerah yang dipengaruhi dengan rata-rata kecepatan yang meningkat dengan ratarata 1,5 m tiap hari. Kecepatan, kualitas, dan kuantitas dentin reparatif yang ditumpuk tergantung dari keparahan dan lamanya injuri pada odontoblas dan biasanya dihasilkan oleh odontoblas pengganti.Jika suatu rangsangan ringan dikenakan pada odontoblas untuk periode waktu yang panjang, seperti abrasi, dentin reparatif mungkin ditumpuk pada suatu kecepatan lambat. Jaringan ini ditandai oleh tubuli yang agak tidak teratur. Sebaliknya, suatu lesi karies yang agresif atau suatu

rangsangan mendadak lain akan merangsang produksi dentin reparatif dengan tubuli yang lebih sedikit dan lebih tidak teratur. Sebaliknya, suatu lesi karies yang agresif atau suatu rangsangan mendadak lain akan merangsang produksi dentin reparatif dengan tubuli yang lebih sedikit dan lebih tidak teratur. Bila odontoblas terkena injuri yang tidak dapat diperbaharui, odontoblas yang hancur akan meninggalkan tubuli kosong, yang disebut dead tract kecuali kalau pulpa terlalu atrofik. Karena dentin reparatif mempunyai lebih sedikit tubuli, meskipun kurang bermineral, dentin reparatif mampu berfungsi sebagai lapisan yang akan merintangi masuknya produk atau zat yang membahayakan ke dalam pulpa. Bila karies berkembang dan bila lebih banyak odontoblast terkena injuri yang tidak dapat di perbaiki, lapisan dentin reparatif akan menjadi lebih lebih atubular dan dapat mempunyai inklusi ( inclusion) sel, yaitu odontoblast yang terjebak. Inklusi selular tidak umum pada gigi manusia. Pada penghilangan karies, sel mesenkim daerah kaya sel akan berkembang menjadi odontoblast untuk mengganti yang mengalami nekrosis. Odontoblast yang baru terbentuk ini dapat menghasilkan dentin yang teratur atau suatu dentin amorfus, pengapurannya jelek dan permeabel. Daerah demarkasi antara dentin sekunder dan dentin reparatif disebut garis kalsiotraumatik. Sepanjang hidup dentin akan dipengaruhi oleh perubahan lingkungan, termasuk keausan normal, karies, prosedur operatif, dan restorasi. Perubahan ini seringkali menyebabkan timbulnya respons protektif melalui terdepositnya dentin reparatif, tetapi pembentukan dentin ini akan terbatas pada tubulus yang berkaitan dengan daerah iritasi. Komposisi dentin reparatif dan dentin sekunder adalah sama, dan keduanya hanya berbeda pada lokasi deposisinya. Bila gangguan lingkungan cukup kuat, odontoblas dan prosesus tubularnya akan mati, sehingga tubulus akan menjadi kosong. Bila terjadi pengumpulan tubulus-tubulus yang kosong, tubulus akan kelihatan gelap pada gambaran mikroskopis dan disebut sebagai saluran yang mati. Ujung pulpa dari tubulus biasanya tertutup oleh dentin reparatif, dan setelah waktu tertentu tubulus akan terkalsifikasi dan pola tubular pada dentin yang terpotong akan tersumbat. Istilah lain yang digunakan untuk menyebut tubulus yang mengalami kalsifikasi adalah dentin sklerotik. Pertahanan terhadap karies yeng dalam berlanjut terjadi dalam bentuk dentin reparatif yang terdeposit dalam kamar pulpa dan tubulus dentin. Jika proses karies melebihi kecepatan dari respons pulpa, dasar dentin keras tidak akan terbentuk. Atau jika kondisi ini parah, dentin lunak berhubungan langsung dengan pulpa itu sendiri (Tarigan, 2006). Kalsium hidroksida memiliki kemampuan mengaktifkan enzim jaringan seperti alkaline fosfatase, yang mendukung restorasi jaringan melalui mineralisasi. Nilai pH optimum untuk aktivasi enzim ini berkisar 8, 6-10, 3, yang membuat pelepasan fosfat organik (ion fosfat) yang bereaksi dengan ion kalsium dari darah beredar lebih mudah, membuat sedimen kalsium fosfat pada matriks

organik. Sedimen ini adalah unit molekul hidroksiapatit. Beberapa studi menunjukkan bahwa kalsium hidroksida berpartisipasi dalam pembentukan jaringan keras jembatan. Mekanisme kerja kalsium hidroksida pada mikroorganisme dapat dijelaskan dengan pengaruh pH dan pertumbuhan metabolisme dan penyebaran sel bakteri. Estrela et. al meneliti efek biologis dari pH terhadap aktivita enzimatik pada bakteri anaerob. Penulis percaya bahwa ion hidroksil dari kalsium hidroksida membentuk mekanisme kerja dalam membran sitoplasma sebab reseptor enzim terletak pada membran sitoplasma. Membran responsit terhadap fungsi esensial seperti metabolisme, pembelahan sel dan pertumbuhan, dan merupakan bagian pada tingkat akhir dari formasi dinding sel. Biosintesis lipid, transfer elektron dan oksidasi phosporylation. Enzim ekstraseluler bekerja pada nutrisi, karbohidrat, protein, dan lipid melalui hidrolisis, menyerupai pencernaan. Enzim intraseluler berlokasi dalam sel seperti aktivitas pernapasan dari struktur dinding sel. Derajat pH membran sitoplasma diubah oleh konsentrasi tinggi ion hidroksil dari kalsium hidroksida, bekerja pada protein membran (denaturasi protein). Efek dari tingginya pH kalsium hidroksida mengubah integritas membran sitoplasma artinya jejas kimia pada komponen organik dan transportasi nutrisi, atau artinya penyesuaian phospolipid atau tak tersaturassinya asam lemak pada membran sitoplasma dilihat dalam proses peroksidasi yang berupa reaksi saponifikasi.

REFERENSI

Al-Batayneh, Ola. 2009. The Clinical Applications of Tooth MousseTM and other CPP-ACP Products in Caries Prevention:Evidence-Based Recommendations. Smile Dental Journal Volume 4, Issue 1 . Estrela et al. 2009. Calcium Hydroxide: STUDY BASED ON SCIENTIFIC EVIDENCES. Universitas Federal Gois, Goinia, GO, Brasil. Harahap, Sri C. 2008. Mottled Enamel .USU Library 2008-2012. Tarigan, Rasinta. 2006. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti). Jakarta : EGC.