Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Nasionalisme merupakan suatu bentuk ideologi, di mana tingkah laku seorang nasionalis didasarkan pada perasaan menjadi bagian dari suatu komunitas bangsa. Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai jawaban atas kolonialisme. Pengalaman penderitaan bersama sebagai kaum terjajah melahirkan semangat solidaritas sebagai satu komunitas yang mesti bangkit dan hidup menjadi bangsa merdeka. Semangat tersebut oleh para pejuang kemerdekaan dihidupi tidak hanya dalam batas waktu tertentu, tetapi terus-menerus hingga kini dan masa mendatang. Nasionalisme yang ada di Indonesia pada saat ini tentunya berbeda dengan nasionalisme pada saat penjajahan, dengan adanya beberapa factor yang dapat menurunkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Pemuda sebagai harapan bangsa merupakan pihak yang sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang ada di Indonesia ini. Seiring dengan berjalannya waktu, rasa nasionalisme bangsa Indonesia terutama pemuda semakin menurun, padahal rasa nasionalisme ini penting untuk mempertahankan identitas diri bangsa di mata dunia. Pada masa sekarang ini satu hal yang perlu dibenahi oleh bangsa Indonesia adalah mentalitas warga masyarakatnya, terutama rasa nasionalisme pemuda sebagai harapan bangsa. Oleh karena itu dalam makalah ini penulis membahas mengenai nasionalisme pemuda di Indonesia serta factor yang mempengaruhi dan solusi untuk meningkatkan rasa nasionalisme pemuda.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 Apakah yang disebut nasionalisme? Apa sajakah bentuk-bentuk nasionalisme? Bagaimanakah kondisi nasionalisme pemuda Indonesia saat ini? Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kondisi nasionalisme pemuda? 1.2.5 Bagaimana solusi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme bagi pemuda Indonesia?

1.3 Batasan Masalah Dalam makalah ini yang akan dibahas hanya mengenai nasionalisme pemuda di Indonesia, factor penyebab, dan solusinya saja.

1.4 Tujuan 1.4.1 1.4.2 1.4.3 1.4.4 1.4.5 Untuk mengetahui arti nasionalisme Untuk mengetahui bentuk-bentuk nasionalisme Untuk mengetahui kondisi nasionalisme pemuda Indonesia saat ini Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi kondisi nasionalisme Untuk mengetahui solusi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme pemuda Indonesia.

1.5 Manfaat 1.5.1 1.5.2 1.5.3 1.5.4 1.5.5 Dapat mengetahui arti nasionalisme Dapat mengetahui bentuk-bentuk nasionalisme Dapat mengetahui kondisi nasionalisme pemuda Indonesia saat ini Dapat mengetahui factor yang mempengaruhi kondisi nasionalisme Dapat mengetahui solusi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme pemuda Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Nasionalisme Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya", debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu. 2.1.1 Pengertian Nasionalisme Menurut Para Ahli 1. Menurut Ernest Renan: Nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara. 2. Menurut Otto Bauar: Nasionalisme adalah suatu persatuan perangai atau karakter yang timbul karena perasaan senasib. 3. Menurut Hans Kohn, Nasionalisme secara fundamental timbul dari adanya National Counciousness. Dengan perkataan lain nasionalisme adalah bentuk dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri. Dan kesadaran nasional inilah yang membentuk nation dalam arti politik, yaitu negara nasional. 4. Menurut L. Stoddard: Nasionalisme adalah suatu kepercayaan yang dimiliki oleh sebagian terbesar individu di mana mereka menyatakan rasa kebangsaan sebagai perasaan memiliki secara bersama di dalam suatu bangsa. 5. Menurut Dr. Hertz dalam bukunya yang berjudul Nationality in History and Politics mengemukakan empat unsur nasionalisme, yaitu: a. Hasrat untuk mencapai kesatuan. b. Hasrat untuk mencapai kemerdekaan. c. Hasrat untuk mencapai keaslian. d. Hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa.

6. Sedangkan menurut Louis Sneyder. Nasionalisme adalah hasil dari perpaduan faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, dan intelektual.

2.2 Bentuk Nasionalisme Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegara, etnis, budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau semua elemen tersebut. 2.2.1 Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari

penyertaan aktif rakyatnya, "kehendak rakyat"; "perwakilan politik". Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahanbahan tulisan. Antara tulisan yang terkenal adalah buku berjudulk Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia "Mengenai Kontrak Sosial"). 2.2.2 Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme dimana negara

memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Dibangun oleh Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk "rakyat"). 2.2.3 Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh kebenaran politik secara semulajadi ("organik") hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang telah direka untuk konsep nasionalisme romantik. Misalnya "Grimm Bersaudara" yang dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman. 2.2.4 Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya "sifat keturunan" seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang terbaik

ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRT karena pemerintahan RRT berpaham komunisme. 2.2.5 Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. Penyelenggaraan sebuah national state adalah suatu argumen yang ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah Nazisme, serta nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk yang lebih kecil, Franquisme sayap kanan di Spanyol, seperti juga nasionalisme masyarakat Belgia, yang menentang demi mewujudkan hak kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan nasionalis Basque atau Korsika. Secara sistematis, bila mana nasionalisme kenegaraan itu kuat, akan wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan masyarakat, dan terhadap wilayah, seperti nasionalisme Turki dan penindasan kejamnya terhadap nasionalisme Kurdi, pembangkangan di antara pemerintahan pusat yang kuat di Spanyol dan Perancis dengan nasionalisme Basque, Catalan, dan Corsica. 2.2.6 Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme dimana negara

memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya nasionalisme etnis adalah dicampuradukkan dengan

nasionalisme keagamaan. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP bersumber dari agama Hindu. Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis

agama hanya merupakan simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya pada abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut agama Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkan teologi semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia. Justru itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan.

2.3 Wujud Nasionalisme Pemuda Indonesia 2.3.1 Wujud Nasionalisme Pemuda Zaman Kemerdekaan Rasa nasionalisme sudah ada sejak bangsa Indonesia dijajah. Penjarahan disana-sini membuat para pemuda Indonesia bertekad untuk mempertahankan bangsa Indonesia dari tangan penjajah demi mencapai cita-cita bangsa yaitu memproklamasikan kemerdekaan, sehingga sebagai generasi muda kita harus meneruskan hasil kemerdekaan dan

menerapkannya di segala bidang kehidupan. Namun bukti dari pembuktian rasa nasionalisme kini berbeda dengan yang dilakukan oleh para pejuang kita di masa lalu yang lebih mengedepankan kekuatan fisik sebagai bentuk nasionalisme. Masa sekarang adalah masa globalisasi. Dimana pembuktian nasionalisme dapat dilakukan dalam bentuk karya dan prestasi yang mampu menjadikan sebuah inspirasi bagi banyak orang. Mencapai prestasi baik akademik maupun non-akademik dengan membuktikan hasil yang memuaskan juga merupakan salah satu bentuk nasionalisme sebagai seorang pelajar. Khususnya sebagai seorang mahasiswa dituntut mampu membuat karya-karya yang dapat bermanfaat untuk masyarakat agar masa depan Indonesia lebih baik dengan para pemudanya yang cinta akan tanah air Indonesia. Nasionalisme boleh menonjolkan dirinya sebagai sebagian dari ideologi negara berdasarkan suku, budaya, agama, dan ideologi. Salah satu bentuk nasionalisme pada zaman dahulu yaitu adanya sumpah pemuda. Sumpah pemuda yang telah diucapkan oleh segenap perwakilan pemuda dari berbagai daerah yang ada di Indonesia memiliki sebuah makna yang

sangat dalam bagi bangsa indonesia. Bagi kalangan pemuda dalam hal ini, mahasiswa sebagai aktor intelektual dari bangsa memiliki sebuah arti penting yaitu adanya nasionalisme yang tinggi dikalangan pemuda. Sumpah pemuda ini telah melandaskan sebuah nasionalisme yaitu adanya sebuah pengakuan akan cinta tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu yang wajib dijunjung tinggi. Pengakuan ini selain berarti sebuah persatuan, juga dapat diartikan sebuah pengakuan yang bersifat nasional karena sudah tidak lagi mengangkat daerah, golongan, maupun agama. Namun telah mengangkat sebuah bangsa Indonesia. Pengakuan ini sebagai wujud semangat cinta tanah air yang mendalam bagi pemuda pada saat itu. Sumpah pemuda ini mengandung suatu keinginan bersama untuk hidup dan bernegara yang satu yaitu bangsa Indonesia yang harus sangat dicintai dan didambakan sejak zaman penjajahan. Sumpah pemuda ini merupakan sebuah landasan semangat

nasionalisme bagi bangsa Indonesia. Hal ini berkaitan dengan mahasiswa sebagai pelopor bagi setiap perubahan dalam kegiatan berbangsa dan bernegara. Peranan mahasiswa yang begitu penting ini haruslah dilandasi dengan semangat nassionalisme agar tidak membahayakan bangsa dan negara dan dapat membawa nama Indonesia yang memiliki kewibawaan yang tinggi dikalangan internasional. Guna mencapai hal tersebut hendaknya memenfaatkan potensi yang ada dalam dirinya. Potensi ini dapat berupa akademik, seni, maupun organisasi. Melalui potensi yang dimiliki oleh setiap mahasiswa diharapkan dapat mengharumkan nama bangsa dalam pergaulan internasional. Potensi ini hendaknya diiringi dengan semangat nasionalisme yang tinggi agar dalam membela bangsa lebih matang lagi.

2.3.2

Wujud Nasionalisme Pemuda Indonesia Saat Ini Rasa nasionalisme generasi muda seperti siswa maupun mahasiswa dewasa ini mulai terkuras. Nasionalisme adalah sebuah ideologi yang tergolong paling mutakhir dalam pemahaman standar nasional. Tidak dapat dimungkiri, bila hanya sekadar dilihat kondisi obyektif pergaulan

sosial manusia dan perkembangan ekonomi abad ke-21 gagasan nasionalisme menjadi suatu pokok masalah yang sering kontradiktif. Gagasan nasionalisme yang berkembang di Indonesia seharusnya tidak dipahami hanya dari sudut perkembangan obyektif semata melainkan latar belakang pembentukan negara republik dan kebutuhan survival sebuah negara baru dalam pergaulan kancah internasional. Jadi, sering sekali muncul beragamnya pikiran dan ideologi manusia Indonesia yang mengambil inspirasi dari gagasan-gagasan religius atau sekuler yang condong ke realita kehidupan. Akan tetapi, hal tersebut mendorong hasil positif yaitu dengan adanya pembentukan republik. Tetapi, jiwa nasionalisme yang dulunya ada, dan sekarang memudar hampir hilang terutama pada generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa. Nasionalisme lebih merupakan sebuah fenomena budaya daripada fenomena politik karena dia berakar pada etnisitas dan budaya pramodern. Kalaupun nasionalisme bertransformasi menjadi sebuah gerakan politik, hal tersebut bersifat superfisial karena gerakan-gerakan politik nasionalis pada akhirnya dilandasi oleh motivasi budaya, khususnya ketika terjadi krisis identitas kebudayaan. Pada sudut pandang ini, gerakan politik nasionalisme adalah sarana mendapatkan kembali harga diri etnik sebagai modal dasar dalam membangun sebuah negara berdasarkan kesamaan budaya (John Hutchinson, 1987). Dalam masalah ini, tanah air perlu disinggung karena diskursus nasionalisme awal sesungguhnya secara riil terkait dengan masalah tanah dan menjadi salah satu agenda penting di masa sekarang. Kesadaran bertanah dan mempertahankan tanahnya, dalam perspektif nasionalisme menjadi kesadaran bertanah air. Bangsa tanpa tanah air seperti pohon tanpa akar, tanpa pijakan. Negara sudah merdeka, tetapi apakah bangsa juga sudah merdeka. Itulah yang mungkin menjadi pertanyaan kita sesungguhnya. Bukan pada masih ada tidaknya nasionalisme tapi pada "kemerdekaan" yang menyertai semangat nasionalisme itu sendiri. Apa yang diperjuangkan rakyat Indonesia dulu adalah kemerdekaan diri, kedaulatan dirinya di tengah-

tengah bangsa-bangsa di dunia. Nasionalisme adalah motif dan pembenaran atas Revolusi Indonesia. Kemerdekaanlah yang menjadi tujuannya. Merdeka dari segala bentuk penindasan. Nasionalisme kita bukanlah nasionalisme sempit yang membela bangsa apapun alasannya. "Right or wrong is my country" adalah sentimen berlebihan atas bangsa yang dapat berbuah rasialisme dan memperkosa kemanusiaan dan kebenaran. Nasionalisme kita tidak sekedar mengabdi pada sebentuk negara politis semata-mata, tapi lebih pada bangsanya, nasib warga di dalamnya. Dengan demikian kemanusiaan adalah panutannya, dan ke-Tuhanan adalah dasarnya. Nasionalisme tidak mati, dia hidup di hati rakyat Indonesia, termasuk pemudanya. Tiga poin pokok yang muncul (tanpa penindasan, keadilan, dan kebenaran) adalah nasionalisme masa kini yang menghadirkan kembali seruan kritis para pendahulu bangsa. Adalah betul bahwa para pemuda generasi sekarang tidak mengalami masa penjajahan dan revolusi, tapi adalah naif bila dikatakan bahwa mereka tidak dapat berempati atas pengalaman itu dan tercerabut dari nasionalisme. Tapi pengalaman nasionalisme dulu pun hadir di masa sekarang meski berbeda dalam wujud dan strukturnya. Perjuangan atas cita-cita nasionalisme belumlah berhenti, tapi disambut oleh generasi sekarang untuk meneruskannya. Saat ini, peran pemuda dalam mengisi semangat kemerdekaan kembali dipertanyakan. Daya kritis sebagai penggerak perubahan tidak terwujud. Ironisnya, semakin diperparah oleh kebiasaan pemuda yang cenderung menjadi penyambung lidah kekuasaan. Daya kritis hilang, diganti oleh kepentingan pragmatis kekuasaan. Image generasi muda kini lebih bersifat peyoratif ketimbang positif. Pemuda cenderung menjadi beban negara, ketimbang sebagai aset yang senantiasa memberikan input konstruktif dan suri tauladan yang baik. Di era reformasi, seiring dengan hegemoni gagasan demokrasi, justru peran pemuda semakin mengerdil. Sulit mencari sosok-sosok HOS. Cokroaminoto, Soekarno, atau Hatta muda yang baru. Yang berjuang dengan gigih melawan penjajah. Tidak hanya dengan revolusi fisik, namun

juga revolusi ide dan gagasan. Meninggalkan kemewahan duniawi untuk menjadi penyambung lidah rakyat dengan berbekal tenaga dan pikiran. Secara teoretis, gagasan kebangsaan (nasionalisme) di masa lalu muncul dari kehendak untuk merdeka dari penjajahan bangsa lain serta persamaan nasib bangsa yang bersangkutan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ernst Renan, Otto Bower, dan Peter Tomasoa. Namun, di era modern, konsep itu tidak lagi sepenuhnya bisa diterima. Gagasan nasionalisme awal hanya terpaku pada kehendak untuk merdeka, atau nasionalisme yang ingin mempunyai negara. Namun, bila kemerdekaan sudah tercapai, secara perlahan akan lenyaplah nasionalisme tersebut. Fenomena itulah yang sedang diidap oleh generasi muda. Semangat untuk berkorban, berbakti dan berjuang demi bangsa dan negara cenderung hilang, karena merasa sudah tidak ada lagi musuh yang mampu membangkitkan persatuan dan rasa kebangsaan. Mereka lupa, bahwa setelah revolusi fisik di masa lalu, justru musuh-musuh bangsa semakin banyak dan beragam. Memang, perjuangan tidak lagi sekedar dimaknai sebagai aksi memanggul senjata, namun, bukan berarti aksi lainnya kurang memiliki signifikansi. Di era modern, perjuangan lebih berat. Sebab musuh tidak sekedar berasal dari luar, tidak nyata, bahkan boleh jadi sosoknya adalah diri kita sendiri. Musuh tersebut bisa berbentuk kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, kemalasan, ketidakrelaan untuk berkorban terhadap sesama atau berempati pada kondisi sosial dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk menempatkan peran pemuda sebagai pengawal kemerdekaan, nasionalisme harus dikonsepsi sebagai sebuah proses yang senantiasa berkembang. Nasionalisme mengikuti dinamika sosial

masyarakat. Antara keyakinan, harapan, dan tujuan di satu pihak, dengan lahirnya nasionalisme di lain pihak, terdapat keintiman konseptual yang mendalam. Nasionalisme akan tumbuh jika ditopang oleh harapan, tujuan, dan keyakinan serta cita-cita hidup yang diperjuangkan bersama. Image penjajahan tidak melulu bersifat fisik. Penjajahan juga bermakna mental. Dengan menatap kondisi sosial kita, agaknya tidak sukar menduga bahwa

10

musuh utama dewasa ini adalah kemiskinan, ketidakadilan, penderitaan, neo-feodalisme, etnosetrisme, fundamentalisme, dan fanatisme. Membangkitkan kembali nasionalisme di kalangan generasi muda tidak mungkin tercapai tanpa mengenal siapa generasi muda, dan melihat realitas sosial yang kini terjadi di masyarakat. Menatap sepenuhnya landasan ideal dan cita-cita mereka yang hendak menciptakan dunia yang sejahtera, bebas dari rasa takut, kemiskinan, kesewenangan, dan kebodohan. Bagi generasi muda sekarang, cita-cita kemerdekaan itu digeser oleh harapan tersebut. Cita-cita kemerdekaan generasi muda bukanlah sekedar menghalau penjajah, lalu menggantikan peranan mereka dalam pemerintahan. Bukan sekedar menciptakan rasa bangga pada taraf nasional belaka, tetapi meliputi terciptanya jaminan bagi masa depan pendidikan, peningkatan taraf hidup masyarakat, ketentraman bagi seluruh warga negara Indonesia, kebebasan mengutarakan pemikiran dan pendapat, dan sebagainya. Nasionalisme generasi muda dapat dibangkitkan dengan menjadikan kemiskinan dan ketidakadilan sebagai musuh nasional. Sehingga cita-cita realitas sosial yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, penghormatan kebebasan menyatakan pendapat, adanya distribusi pendapatan yang merata, kehidupan yang layak, adanya rasa bebas dari teror dan rasa takut, serta tegaknya hukum dalam segala dimensi kehidupan yang merata dan setara, tidaklah menjadi cita-cita utopis belaka. Di balik kegelisahan dalam mengamati riuh-rendah peran pemuda, peran ideal meraka pada dasarnya masih bisa dibangkitkan kembali. Apalagi jika kita kembali merenungkan perjuangan mereka di era pergantian rezim kekuasaan, mulai pergantiang Orde Lama ke Orde Baru dan Orde Baru ke Reformasi. Pemuda menunjukan posisi tawar menawar (bargaining positions) yang jelas dan tegas, yakni menjaga idealismenya bagi kepentingan seluruh bangsa. Dengan konsep seperti itu, tidak perlu lagi dikhawatirkan adanya sebagian besar pemuda yang belum memahami hakikat nasionalisme serta rasa solidaritas kebangsaan yang mampu menumbuhkan semangat

11

perjuangan untuk membangun bangsa, dalam rangka mengisi cita-cita kemerdekaan. Lakon sejarah pergerakan pemuda menunjukan bahwa pemuda memiliki konsistensi untuk merawat dan menguatkan karakter bangsa (nation and character building). Konsistensi pemuda dalam menjaga idealismenya bagi kebaikan negeri sesungguhnya merupakan pengejawantahan atau manifestasi dari sprit of the nation yang sesungguhnhya. Pembangunan tipikal dan karakter kebangsaan tidak akan lupa pada peran dan sumbangsih generasi muda. Bahkan warna dan polaritas mereka menunjukkan nilai sejati bangsa itu sendiri. Di saat kondisi bangsa sedang terpuruk, harapan tetap tertumpu pada mereka.

2.4 Kondisi Nasionalisme Pemuda Indonesia Saat Ini Sejumlah aktivis pemuda menilai prinsip nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia umumnya telah mengalami degradasi lantaran terus menerus tergerus oleh nilai-nilai dari luar. Jika kondisi dilematis itu tetap dibiarkan, bukan tidak mustahil degradasi nasionalisme akan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Hery Haryanto Azumi mengatakan, degradasi nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia muncul karena kegagalan dalam merevitalisasi dan

mendefinisikan pemahaman nasionalisme. Pemuda Indonesia umumnya belum sadar akan ancaman arus global yang terus menerus menggerogoti identitas bangsa. Kondisi semakin parah karena masih kurang maksimalnya distribusi keadilan pembangunan yang dilakukan pemerintah sehingga semakin menumbuhkan semangat etnonasionalisme yang jika dibiarkan akan mengancam eksistensi NKRI. Fakta yang terjadi sentimen etnosenasionalisme juga kerap disuarakan sejumlah pemuda Aceh, Riau, Papua dan beberapa daerah lainnya. Menurut beberapa kalangan , kepentingan yang bersifat kedaerahan itu bermuara dari ketidakadilan

pembangunan. Dengan demikian, dia mendesak agar pemerintah memaksimalkan percepatan pembangunan di setiap daerah. Jika tidak etnonasionalisme akan semakin parah. Para pemuda di sejumlah daerah akan mempertanyakan sejauh mana kontribusi negara bagi keadilan rakyat di daerah.

12

Eddy Setiawan, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI), menilai degradasi nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia kondisinya semakin parah karena belum adanya pembaharuan atas pemahaman dan prinsip nasionalisme dalam diri pemuda. Kegagalan meredefinisi nilai-nilai nasionalisme telah menyebabkan hingga kini belum lahir sosok pemuda Indonesia yang dapat menjadi teladan. Akibatnya peran orang tua masih sangat mendominasi segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Runtuhnya nasionalisme tidak terlepas dari ekspansi tanpa henti dari pengaruh globalisasi. Saat ini, pemuda Indonesia seperti kehilangan akar yang kuat sebagai bagian dari elemen bangsa. Tergerusnya akar tradisi sebagai bangsa Indonesia akibat ekspansi globalisasi bisa menjadi ancaman besar bagi eksistensi NKRI. Perlu adanya redefinisi atas pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia. Tantangan pemuda saat ini berbeda dengan era tahun 1928 atau 1945. Jika dulu nasionalisme pemuda diarahkan untuk melawan penjajahan, kini nasionalisme diposisikan secara proporsional dalam menyikapi kepentingan pasar yang diusung kepentingan global, dan nasionalisme yang diusung untuk kepentingan negara. Untuk mewujudkan nasinalisme dapat dilakuakan dengan terus memaksimalkan forum pertemuan pemuda yang bersifat kebangsaan karena forum kebangsaan yang dihadiri sejumlah elemen mahasiswa dan pemuda sering kali digelar. Salah satu agenda yang tak henti-hentinya dibahas adalah persoalan degradasi nasionalisme dalam diri pemuda. Nasionalisme nasional telah berubah menjadi nasionalisme regional.

Indikatornya adalah muncul berbagai konflik sosial dan politik, baik dalam bentuk konflik vertical maupun konflik horizontal di beberapa daerah. Realitas tersebut membuktikan telah terjadi penurunan nilai nasionalisme di tingkat local, meskipun hanya dikumandangkan oleh sebagian kecil masyarakat.

2.5 Faktor Yang Menyebabkan Turunnya Rasa Nasionalisme Pemuda Di Indonesia 2.5.1 Efek Ekonomi 1. Meningkatnya tingkat kemiskinan di Indonesia.

13

2. Kesibukan mencari uang bagi dirinya dan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 3. Kualitas sumber daya manusia yang masih rendah disebabkan pendidikan di Indonesia masih kurang merata. 4. Masih banyak pengangguran disebabkan masih kurangnya penyediaan lapangan kerja oleh pemerintah. 5. Tertinggalnya Indonesia dengan Negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat para pemuda tidak bangga lagi menjadi bangsa Indonesia. 2.5.2 Efek Globalisasi 1. Bidang Sosial Globalisasi telah membawa manusia hidup dalam dunia dengan arus informasi yang semakin mengglobal dan melahirkan masyarakat yang lebih menghargai kualitas individu. Dari situ akan terformat masyarakat kompetitif, sehingga persaingan antar individu akan memuncak. Namun tumbuhnya sikap individualisme tersebut telah mengakibatkan

kemampuan berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat pada sebagian besar masyarakat Indonesia semakin jauh menurun. Bukti nyata dari keadaan ini adalah bentuk-bentuk kegiatan gotong royong, terutama pada generasi muda, yang sudah sangat jauh menurun bila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Semangat kebersamaan yang dahulu sangat terjalin erat dalam lingkungan sosial masyarakat Indonesia seolah sudah tidak relevan lagi pada saat ini. 2. Bidang Ekonomi 1. Hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dan lain-lain) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme generasi muda kita terhadap bangsa Indonesia. 2. Globalisasi dengan arus informasi yang semakin mengglobal telah membawa angin segar bagi konsumerisme untuk tumbuh subur

14

pada masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Tingkat konsumsi menjadi meningkat dan kemampuan produksi

(produktifitas) semakin menurun. Di lain pihak, pasar bebas yang menjadi salah satu perwujudan globalisasi akan menuntut manusia yang kreatif, mampu berkreasi atau singkatnya disebut manusia produktif. Disinilah terjadi tension, dimana masyarakat Indonesia menjadi semakin tidak mampu memenuhi tuntutan zaman karena sudah teracuni konsumerisme sehingga hanya ahli dalam mengkonsumsi. Bukti nyata dari keadaan ini adalah perbandingan persentasi penemu dan peneliti di Indonesia yang sangat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Produktifitas yang semakin menurun tersebut merupakan sebuah ancaman bagi negara kita dan apabila tidak segera diatasi akan mengakibatkan negara kesatuan ini semakin terpuruk. 3. Bidang Budaya a. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia khususnya generasi muda bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang. b. Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat. 2.5.3 Efek sosial budaya Nasionalisme akan semakin tertanam dengan baik jika munculnya didasari dari hati masing-masing warga negara khusunya generasi muda. Rasa kesatuan merupakan wujud awal dari nasionalisme, tetapi jika rasa kesatuan ini hanya meliputi suatu kawasan atau wilayah misalnya pada kasus rasa kesukuan yang tinggi yang selanjutnya dipupuk terus menerus dalam lingkungan tersebut dapat menyebabkan rasa tidak peduli terhadap

15

suku yang lain sehingga menyebabkan rasa nasionalisme berkurang karena tidak tercipta kesatuan bangsa. 2.5.4 Efek politik 1. Pemerintahan pada zaman reformasi yang jauh dari harapan para pemuda, sehingga membuat mereka kecewa pada kinerja pemerintah saat ini. Terkuaknya kasus-kasus korupsi, penggelapan uang Negara, dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para pejabat negara membuat para pemuda enggan untuk memerhatikan lagi pemerintahan. 2. Demokratisasi yang melewati batas etika dan sopan santun dan maraknya unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan pemuda dan hilangnya optimisme, sehingga yang ada hanya sifat malas, egois dan, emosional.

2.5 Upaya Untuk Menumbuhkan Kembali Nasionalisme Dan Patriotisme Di Kalangan Pemuda 2.5.1 Peran Keluarga 1. Memberikan pendidikan sejak dini tentang sikap nasionalisme dan patriotisme terhadap bangsa Indonesia. 2. Memberikan contoh atau tauladan tentang rasa kecintaan dan penghormatan pada bangsa. 3. Memberikan pengawasan yang menyeluruh kepada anak terhadap lingkungan sekitar. 4. Selalu membiasakan anak untuk cinta dan menggunakan produk dalam negeri. 5. Menanamkan dan memberikan banyak ilmu tentang ajaran agama dengan sebaik- baiknya. 2.5.2 Peran Pendidikan 1. Menanamkan sikap cinta tanah air dan menghormati jasa pahlawan dengan mengadakan upacara setiap hari senin. 2. Memberikan pendidikan moral, sehingga para pemuda tidak mudah menyerap hal-hal negatif yang dapat mengancam ketahanan nasional.

16

3.

Memberikan

pelajaran

tentang

pendidikan

pancasila

dan

kewarganegaraan dan juga bela Negara. 2.5.3 Peran Pemerintah 1. Menggalakan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme kebudayaan. 2. Mewajibkan pemakaian batik kepada pegawai negeri sipil maupun masyarakat setiap hari jumat. Hal ini dilakukan karena batik merupakan sebuah kebudayaan asli Indonesia, yang diharapkan dengan kebijakan tersebut dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan patrotisme bangsa. 3. Lebih mendengarkan dan menghargai aspirasi pemuda untuk membangun Indonesia agar lebih baik lagi. 4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya. 5. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan cara dan patrotisme, seperti seminar dan pameran

memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.

17

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan 3.1.1 Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. 3.1.2 Beberapa bentuk nasionalisme, diantaranya adalah 3.1.2.1 Nasionalisme kewarganegaraan 3.1.2.2 Nasionalisme etnis 3.1.2.3 Nasionalisme romantik 3.1.2.4 Nasionalisme Budaya 3.1.2.5 Nasionalisme kenegaraan 3.1.2.6 Nasionalisme agama 3.1.3 Nasionalisme pemuda di Indonesia saat ini semakin menurun bila dibandingkan dengan pada zaman penjajahan. 3.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi nasionalisme di Indonesia adalah: 3.1.4.1 Efek Ekonomi 3.1.4.2 Efek Globalisasi 3.1.4.3 Efek sosial budaya 3.1.4.4 Efek politik 3.1.5 Solusi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dapat dilaksanakan melalui beberapa pihak, yaitu: 3.1.5.1 Peran Keluarga 3.1.5.2 Peran Pendidikan 3.1.5.3 Peran Pemerintah 3.2 Saran 3.2.1 Untuk menggerakan pembangunan, nasionalisme bertindak sebagai modal awal pembangunan, karena yang akan membangun bangsa dan negara Indonesia adalah warga negara Indonesia sendiri.

18

3.2.2

Nasionalisme hendaknya ditumbuhkan sejak dini lewat pembekalan pembelajaran kewarganegaraan dan sejarah pada sektor pendidikan baik secara formal maupun informal.

3.2.3

Warga negara khususnya generasi muda diharapkan lebih menjiwai, menghargai, dan melestarikan identitas national bangsa Indonesia (seperti bahasa, adat istiadat, lagu kebangsaan, dll) demi menumbuhkan semangat nasionalisme dan tidak terbawa arus negatif globalisasi yang mampu mengikis seamangat nasionalisme.

19

DAFTAR PUSTAKA
2010. Revitalisasi Semangat Nasionalisme. (Online) http://ispckmipb2010.blogspot.com/2010/06/revitalisasi-semangatnasionalisme.html diakses 24 Mei 2011

2011. Jiwa Nasionalisme Generasi Muda Indonesia Terkikis Ironis. (Online) http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/30/jiwa-nasionalisme-generasimuda-indonesia-terkikis-ironis/ diakses 24 Mei 2011

2010. Nasionalisme Mahasiswa. (Online) http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/01/nasionalisme-mahasiswa/ diakses 24 Mei 2011

2010. Makalah. (Online) www.scribd.com/doc/3304118/MAKALAH diakses 23 Mei 2011

2011. Pengertian Nasionalisme. (Online) bangsaku-indonesiaku.blogspot.com/.../pengertian-nasionalisme.html diakses 23 Mei 2011

2007. Merenungi Peran Pemuda. (Online)


http://utankayu.blogspot.com/2007/02/merenungi-peran-pemuda.html diakses 31 Mei 2011

2010. Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-Nilai Nasionalisme http://surabaya-metropolis.com/serba-kota/gaya-hidup/pengaruh-globalisasiterhadap-nilai-nilai-nasionalisme.html diakses 27 Mei 2011

2011. Tugas Nasionalisme (Online) http://www.scribd.com/doc/48192741/tugas-nasionalisme diakses 27 Mei 2011

20